Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Peperangan dan Ekspedisi pada Tahun Kedua Hijriah

Gambar
Perang Abwā’ atau Waddān Ini adalah perang pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun kedua Hijriah. Nabi ﷺ berangkat bersama sebagian sahabatnya setelah menunjuk Sa‘d bin ‘Ubādah dari kaum Khazraj sebagai pengganti beliau di Madinah. Tujuan keberangkatan itu adalah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Panji perang dibawa oleh paman beliau, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, Singa Allah, yang panjinya berwarna putih. Ketika mereka sampai di Waddān, ternyata kafilah Quraisy telah lebih dahulu lolos. Di sana Nabi ﷺ mengadakan perjanjian damai dengan Makhsyī bin ‘Amr ad-Dhamrī, pemimpin Bani Dhamrah. Isinya: masing-masing pihak aman atas diri mereka, saling menolong bila diserang, dan Bani Dhamrah berkewajiban membantu kaum Muslimin bila diminta. Perjanjian ini merupakan perjanjian pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ dengan selain Yahudi Madinah, dan menjadi kemenangan strategis bagi kaum Muslimin. ________________________________________ Pera...

Rihlah Ibnu Bathutah #46 : Di Bursa–Iznik, Bertemu Sultan Orhan, Tersesat di Salju, Diselamatkan Zawiyah

Gambar
Jejak Perjalanan di Negeri Sultan Bursa Di negeri Bursa, yang memegang tampuk kekuasaan adalah Sultan Ikhtiyâruddin Urkhân Bek, putra Sultan ‘Utsmân—leluhur yang kelak dinisbatkan kepada para sultan Bani ‘Utsmân (Utsmani). Urkhân dikenal sebagai raja terbesar di kalangan Turkmen: paling luas wilayahnya, paling banyak hartanya, dan paling kuat pasukannya. Konon, ia memiliki hampir seratus benteng. Namun ia tidak menjadikan istana sebagai tempat menetap lama. Hampir setiap waktu ia berkeliling dari benteng ke benteng, tinggal beberapa hari di tiap tempat untuk menata urusan, memeriksa keadaan, lalu berpindah lagi. Orang-orang bahkan berkata: ia tidak pernah tinggal genap sebulan penuh di satu tempat. Ia terus bergerak, memerangi pihak-pihak yang dianggap kafir, mengepung kota demi kota. Ayahnya, Sultan ‘Utsmân, ialah orang yang merebut Bursa dari tangan Romawi (Bizantium). Makamnya ada di masjid Bursa—dan masjid itu, pada masa sebelumnya, adalah gereja orang Nasrani. Dikisahkan pula bahw...

Rihlah Ibnu Bathutah #45 : Perjalanan di Anatolia, Magnisia, Bergama, Balıkesir hingga Bursa

Gambar
Di Maghnisiyyah: Hari Raya di Sisi Makam Aku tiba di negeri Maghnisiyyah dan mendapati sultannya, Sarukhan, sedang duduk di sisi turbah putranya. Anak itu wafat beberapa bulan sebelumnya, dan pada malam hari raya serta pagi harinya, sang sultan bersama ibu si anak tetap berada di dekat makam, seolah-olah mereka belum sanggup berpisah dari kesedihan. Yang kulihat di sana membuatku tertegun. Anak itu telah dikuburkan, tetapi jasadnya ditempatkan dalam peti kayu yang dibungkus besi bertimah, lalu peti itu digantung di dalam sebuah kubah tanpa atap. Mereka melakukan itu agar baunya hilang lebih dahulu. Setelah beberapa waktu, barulah kubah itu diberi atap. Petinya dibiarkan tampak di atas permukaan tanah, dan pakaian-pakaiannya diletakkan di atasnya. Aku pun menyaksikan, beberapa raja lain di negeri-negeri sekitar melakukan kebiasaan yang serupa. Kami memberi salam kepada Sultan Sarukhan di tempat itu, lalu kami menunaikan salat Id bersamanya. Seusai salat, kami kembali ke zawiyah, berhara...

Puasa, Zakat, dan Idulfitri: Jalan Islam Mewujudkan Keadilan Sosial

Gambar
Puasa, Fitrah, dan Idulfitri sebagai Pilar Keadilan Sosial dalam Islam Dengan disyariatkannya puasa, zakat fitrah, dan hari raya, Islam telah menetapkan tiga sumber utama kebajikan, empati, dan solidaritas sosial. Puasa sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya mendidik jiwa agar memiliki sifat dermawan, rela berkorban, dan gemar memberi. Ketika orang yang berpuasa merasakan lapar yang menusuk, ia menyadari dengan perasaan dan nuraninya penderitaan kaum fakir, miskin, dan orang-orang yang kekurangan. Kesadaran ini mendorongnya untuk berbuat baik dan menunjukkan empati atas dasar keyakinan dan keinsafan batin. Hal ini diperkuat dengan berbagai riwayat tentang keutamaan berbuat kebajikan, bersedekah, dan bermurah hati di bulan Ramadan, serta sabda Nabi ﷺ bahwa siapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka ia memperoleh pahala yang sama. Inilah salah satu sisi luas dari hikmah disyariatkannya puasa. Kemudian datanglah zakat fitrah, yang dengan penunaiannya menjadi bukti kejujur...

Pensyariatan Puasa, Zakat Fitrah, dan Salat Id

Gambar
Kisah Pensyariatan Puasa, Zakat Fitrah, dan Salat Id Pada bulan Sya‘ban tahun kedua hijriah, turunlah sebuah ketetapan besar yang kelak menjadi salah satu tiang utama agama Islam. Pada waktu itulah Allah ﷻ mensyariatkan puasa Ramadan, sebuah ibadah agung yang bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi jalan menuju ketakwaan dan penyucian jiwa. Ketika Rasulullah ﷺ baru tiba di Madinah, beliau mendapati masyarakat Yahudi di sana berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu tanggal sepuluh bulan Muharram. Dengan penuh hikmah, Nabi ﷺ bertanya kepada mereka tentang alasan puasa tersebut. Mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa عليه السلام dan kaumnya dari kejaran Fir‘aun. Sebagai ungkapan syukur, Nabi Musa berpuasa pada hari itu. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas namun penuh makna, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka beliau pun berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk ikut berpua...

Rihlah Ibnu Bathutah #44 : Bertemu Sultan Muhammad bin Aydin di Anatolia

Gambar
Di Negeri Sultan Barkah Di antara raja-raja yang pernah kutemui, termasuk salah satu yang paling mulia dan dermawan adalah Sultan Muhammad bin Aydin, penguasa wilayah Barkah dan sekitarnya. Panggilan dari Sultan dan Perjuangan Sang Guru Kedatanganku di negerinya terlebih dahulu diketahui oleh seorang guru dan faqih yang mulia, Muhyiddin – semoga Allah membalas kebaikannya. Dialah yang mengirim kabar kepada Sultan tentang kehadiranku. Begitu menerima berita itu, Sultan segera mengutus wakilnya untuk memintaku datang menghadap. Namun sang guru memberi isyarat kepadaku agar aku tetap tinggal dulu, menunggu panggilan kedua. Saat itu beliau sedang menderita borok di kakinya, hingga tidak mampu menunggang kuda dan terpaksa berhenti mengajar. Tak lama kemudian, datang lagi utusan Sultan yang kedua kalinya, memintaku menghadap. Hal itu membuat sang guru merasa berat. Ia berkata kepadaku, “Aku tidak bisa menunggang kuda, padahal keinginanku adalah ikut bersamamu agar aku dapat menjelaskan kepad...

Peristiwa Pada Tahun ke-2 H : Pengalihan Kiblat ke Ka'bah

Gambar
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, kaum muslimin mulai membangun kehidupan baru. Di tengah suasana itu, Allah memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitul Maqdis (di arah Syam) ketika salat. Perintah ini mengandung hikmah besar. Salah satunya adalah sebagai bentuk pendekatan kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya, agar hati mereka luluh dan mereka mau menerima kebenaran Islam. Nabi pun taat dan salat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Namun, kenyataannya, orang-orang Yahudi tidak juga lembut hatinya. Bukan semakin dekat, mereka malah menjadikan arah kiblat Nabi sebagai bahan ejekan. Mereka berkata sinis: “Dia menentang kami, tapi mengikuti kiblat kami?!” Ucapan-ucapan seperti ini membuat Nabi bersedih. Di dalam hati beliau, ada kerinduan agar kiblatnya kembali kepada Ka'bah di Makkah, rumah ibadah pertama di bumi, kiblat Nabi Ibrahim, dan kebanggaan para leluhur beliau. Beliau sering mene...

Rihlah Ibnu Bathutah #43 Perjalanan di Negeri Rum: Dari Milas hingga Bergama

Gambar
Di negeri Rum yang tanahnya hijau dan kota-kotanya bertabur zawiyah, aku berjumpa dengan banyak penguasa, ulama, serta para pemuda akhī yang menjadikan memuliakan tamu sebagai kehormatan. Perjalanan ini bermula dari Milas, lalu mengalir melewati Konya, Larandah, Aqsara, Nigde, Kayseri, Sivas, Amasya, Gümüşhane, Erzincan, Erzurum, hingga berakhir di Bergama. ________________________________________ Sultan Milas dan Ulama di Pintu Gerbang Sultan yang kutemui di wilayah Milas adalah seorang raja yang mulia: Syuja’uddin Urkhan Bey bin Mentesha. Wajahnya rupawan, akhlaknya baik, dan majelisnya dekat dengan para ulama. Bahkan, di pintu gerbang kediamannya selalu ada sekelompok ulama yang menunggu, seakan istana itu memang dibangun bukan hanya untuk kekuasaan, tetapi juga untuk ilmu. Di antara mereka ada seorang faqih dari Khawarizm. Ia dikenal menguasai banyak ilmu dan termasuk pribadi yang utama. Namun saat aku tiba, suasana tidak sepenuhnya tenang. Sultan sedang kesal kepada sang faqih. Ru...