Postingan

Jejak Kabilah ‘Akk dan Perebutan Nasab Anak-Anak Ma‘add

Gambar
Di antara hamparan sejarah suku-suku Arab awal, ada nama-nama yang hari ini nyaris tenggelam, tetapi dulu sangat kuat gaungnya. Salah satunya adalah kabilah  ‘Akk , yang sering dikelompokkan bersama rumpun besar  Bani ‘Adnān  dan ditempatkan berdekatan dengan suku-suku keturunan  Ma‘add . ‘Akk: Antara Adnani dan Yamani Dalam narasi para ahli sejarah klasik, kabilah ‘Akk menempati wilayah selatan tanah Ma‘add. Ada kisah yang menyebut bahwa ketika raja Babilonia, Bukhtanashar, menyerbu daerah “Ḥaḍurā” di Yaman, kabilah ‘Akk meninggalkan negeri mereka dan pindah ke Yaman. Di sana mereka menetap, berbaur, dan perlahan-lahan  nasab mereka bercampur dengan masyarakat Yaman . Lama-kelamaan, orang-orang ‘Akk mendiami jalur pesisir Tihāmah, dari wilayah Yaman hingga mendekati Jeddah. Dari sisi bahasa, kata “‘akk” sendiri di antara maknanya adalah “panas yang sangat menyengat”, seolah menggambarkan betapa keras dan teriknya alam yang mereka huni. Sebagian ahli nas...

Perang Badar al-Akhirah: Keteguhan Hati di Tengah Tipu Daya

Gambar
Janji yang Harus Ditepati Bulan Sya'ban tahun keempat Hijriah menjadi saksi sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa teguhnya kaum Muslimin memegang janji. Setahun telah berlalu sejak Perang Uhud, ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraisy, menantang Rasulullah ﷺ untuk bertemu kembali di medan Badar. Kini saatnya tiba. Rasulullah ﷺ keluar dari Madinah bersama seribu lima ratus orang sahabat. Beliau menunjuk  Abdullah bin Abdullah bin Ubay  — putra pemimpin kaum munafik — untuk mengurus kota Madinah selama ketiadaannya. Sebuah pilihan yang menunjukkan bahwa Rasul tidak pernah membeda-bedakan berdasarkan keyakinan seseorang. Tujuan mereka adalah Badar, sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi. Di sinilah setahun sebelumnya Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum Muslimin. Namun kali ini Badar bukan hanya medan pertempuran potensial, tetapi juga pasar tahunan yang ramai. Setiap bulan Sya'ban, para pedagang dari berbagai penjuru berdatangan ke Badar untuk mengadakan transa...

Menuju Singgasana Delhi: Petualangan Ibnu Battuta di Multan

Gambar
Perubahan Kebijakan Sang Sultan Dua tahun telah berlalu sejak kedatanganku di India. Kemudian terjadilah peristiwa besar: Sultan Muhammad Syah mengangkat sumpah setia kepada Khalifah Abu al-Abbas al-Abbasi. Seiring dengan itu, beliau mengeluarkan kebijakan baru yang menggembirakan rakyat. Seluruh pajak yang memberatkan dihapuskan. Kini, tidak ada lagi pungutan kecuali zakat dan 'usyur (sepersepuluh) sebagaimana yang disyariatkan Islam. Di saat kami hendak menyeberangi lembah besar menuju Multan, petugas-petugas kerajaan memeriksa seluruh barang bawaan para pelintas dengan teliti. Hatiku cemas bukan kepalang. Meskipun barang-barangku tidak seberapa, namun di mata orang banyak aku tampak seperti orang besar. Aku khawatir mereka akan membongkar seluruh isi bawaanku dan melihat betapa sederhananya harta yang kupunya. Namun Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya. Seorang perwira tinggi dari pasukan Quthb al-Mulk, penguasa Multan, tiba-tiba datang. Ia memerintahkan agar aku tidak diper...

Dari Ma‘add ke ‘Adnān – Jejak Sebuah Nama Besar

Gambar
Di balik istilah besar seperti “Arab Qaḥṭāniyyah” dan “Arab ‘Adnaniyyah” yang sering kita dengar, ternyata tersimpan satu nama lain yang pada masa awal justru jauh lebih populer:  Ma‘add . Nama ini melintas di syair-syair jahiliah, muncul dalam catatan sejarawan Arab, bahkan disebut oleh seorang sejarawan Bizantium, Procopius, dalam bahasa Latin-Yunani. Baru belakangan sosok  ‘Adnān  naik ke panggung sebagai leluhur besar, menggantikan Ma‘add dalam kesadaran umum. Nizār, Ma‘add, dan ‘Adnān: Mengapa Kakek Hilang dari Panggung? Dalam salah satu syair Imru’l-Qays, kita mendapati nama  Nizār  disebut sebagai nama kabilah. Padahal, menurut sistem nasab yang dibangun ulama-ulama kemudian, Nizār adalah putra  Ma‘add , dan Ma‘add adalah cucu  ‘Adnān . Menariknya, di syair itu tak ada jejak nama ‘Adnān sama sekali. Hal kecil ini membuat para peneliti curiga: jangan-jangan gagasan tentang ‘Adnān sebagai “leluhur besar orang utara” belum dikenal luas di mas...

Peristiwa Bi'r Ma'unah: Keteguhan Iman di Tengah Pengkhianatan

Gambar
Utusan dari Bani Amir Pada bulan Shafar tahun keempat hijriah, seorang utusan datang menghadap Rasulullah ﷺ di Madinah. Ia adalah  Abu Barra' Amir bin Malik , yang dijuluki  "Mula'ib al-Asinnah"  (Pemain Tombak), seorang pemuka besar Bani Amir. Rasulullah ﷺ mengajaknya memeluk Islam, namun ia tidak masuk Islam, namun juga tidak menolak dengan keras. Abu Barra' berkata, "Wahai Muhammad, seandainya engkau mengutus beberapa orang sahabatmu kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada agamamu, aku berharap mereka akan menyambut seruanmu." Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh kehati-hatian, "Aku khawatirkan keselamatan mereka dari (kejahatan) penduduk Najd." Maka Abu Barra' menjamin, "Aku akan melindungi mereka. Mereka berada dalam jaminan keamananku." Keberangkatan Para Penghafal Al-Qur'an Atas jaminan itu, Rasulullah ﷺ mengirimkan  Al-Mundzir bin 'Amr  bersama tujuh puluh orang sahabat pilihan. Mereka diken...

Mengarungi Sungai Indus: Dari Armada Mewah hingga Kota Membatu

Gambar
Berlayar bersama Sang Hakim Setelah melewati masa-masa mencekam di Siyustan, takdir membawaku bertemu dengan seorang pria mulia. Ia adalah  Ala al-Mulk al-Khurasani , seorang hakim yang adil dan utama, yang lebih dikenal dengan julukan  Fakhruddin . Di masa lalu, ia pernah menghadap Raja India dan kemudian diangkat sebagai penguasa di Kota Lahri beserta wilayah sekitarnya di negeri Sind. Kini, ia datang bersama pasukan  Imad al-Mulk Sartiz  dalam ekspedisi penumpasan pemberontakan. Aku pun bertekad untuk ikut bersamanya menuju Kota Lahri. Ia memiliki lima belas buah kapal yang telah lebih dulu berlayar di Sungai Indus membawa seluruh barang bawaannya. Maka aku pun turut serta dalam armada megah ini. Di antara kapal-kapal itu, ada satu yang paling istimewa, bernama  al-Ahawrah . Bentuknya seperti sejenis kapal perang di negeri kami, namun lebih lebar dan lebih pendek. Di tengah kapal terdapat sebuah ruang kayu bertingkat yang bisa dinaiki melalui tangga. Di...

Arab Musta‘ribah: Keturunan Ismail dan Misteri Nama Adnan

Gambar
Para penulis sejarah Arab klasik membagi bangsa Arab ke dalam beberapa lapisan. Teks ini membicarakan lapisan ketiga, yang mereka sebut al-‘Arab al-musta‘ribah atau al-mut‘arribah, yaitu “Arab yang menjadi Arab”. Mereka juga dikenal dengan beberapa nama lain: al-‘Adnaniyyūn (kaum Adnan), al-Nizāriyyūn (keturunan Nizār), atau al-Ma‘diyyūn (keturunan Ma‘d). Menurut tradisi, mereka adalah keturunan langsung Nabi Ismail bin Ibrahim dan istrinya yang bernama Ra‘lah binti Muḍāḍ bin ‘Amr al-Jurhumī. Disebut “Arab musta‘ribah” karena pada asalnya mereka bukan penutur Arab. Mereka hidup bersama Arab ‘āribah (Arab asli), lalu belajar bahasa dan budaya Arab dari kelompok itu. Dari kabilah-kabilah inilah, Ismail — yang dianggap kakek besar bagi orang Arab musta‘ribah — mempelajari bahasa Arab, hingga keturunannya kemudian diakui sebagai bagian dari bangsa Arab dan melebur di tengah mereka. Para ahli berita (ahl al-akhbār) menyimpulkan bah...