Postingan

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Gambar
Masa Baru, Musuh Baru Tahun ketiga setelah hijrah ke Madinah adalah tahun yang berbeda bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin. Pada tahun-tahun sebelumnya, musuh utama mereka adalah Quraisy di Mekah dan beberapa kabilah yang berdekatan. Namun kini, medan dan bentuk permusuhan mulai berubah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjalin perjanjian dengan banyak suku yang tinggal di sebelah barat Madinah, mulai dari sekitar kota hingga ke pesisir pantai. Dengan perjanjian itu, jalur perdagangan utama Quraisy dari Mekah ke Syam menjadi hampir terputus. Jalur ini adalah urat nadi ekonomi mereka; tanpa perdagangan, hidup mereka terancam. Quraisy pun mencari jalan lain. Mereka memikirkan jalur gurun yang memutar: dari Mekah menuju wilayah Nejd, lalu naik ke arah Irak dan Syam. Di jalur ini, ada dua suku besar yang sangat penting: Bani Sulaim dan Ghathafan. Keduanya adalah sekutu Quraisy dan diharapkan dapat menjaga keamanan kafilah dagang mereka. Qura...

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Gambar
Di Pasar Buku Kerajaan Romawi Setelah aku berpisah dari raja pertapa yang telah kuceritakan sebelumnya, aku berjalan menyusuri kota dan memasuki pasar bukunya. Di sana berjajar para penjual kitab, para penyalin, dan pelajar. Suasana pasar itu tenang namun hidup, penuh dengan lembaran-lembaran ilmu. Di tengah keramaian itu, Hakim kota melihatku. Ia duduk di sebuah kubah yang tinggi, tempat ia mengurus berbagai urusan. Ia tidak memanggilku langsung, melainkan mengutus salah seorang pembantunya untuk menanyai siapa diriku. Pembantu itu mendatangi orang Romawi yang menyertaiku dan bertanya tentangku. Kawanku itu menjawab bahwa aku adalah seorang penuntut ilmu Muslim yang datang dari negeri-negeri jauh. Ketika kabar itu sampai kepada sang hakim, ia mengutus salah seorang pembantunya yang lain, yang mereka panggil hakim Najasyi Kafali, kepadaku. Najasyi Kafali mendatangiku dan berkata lembut, “Hakim memanggilmu.” Aku pun mengikutinya. Kami naik ke kubah yang telah kusebutkan. Di sana...

Peristiwa di Tahun Kedua Hijriah : Pernikahan Ali dan Fathimah, Wafatnya Ruqayyah dan Utsman bin Mazh'un, serta para syuhada Badar

Gambar
Pada tahun kedua Hijriah, Madinah menyaksikan peristiwa-peristiwa besar yang penuh haru: ada kebahagiaan, ada juga kesedihan yang mendalam. Di tahun inilah rumah tangga mulia antara Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimulai. Di tahun yang sama pula, beberapa sahabat utama wafat dan syahid, meninggalkan jejak yang kuat dalam sejarah Islam. ________________________________________ Pernikahan Ali dan Fathimah Abul Hasan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, adalah sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia dibesarkan di rumah beliau, hidup dalam kesederhanaan, iman, dan kecintaan yang tulus. Di tahun kedua Hijriah, setelah Perang Badar, datanglah saat yang sangat agung dalam hidupnya: pernikahannya dengan putri Rasulullah, Fathimah radhiyallahu ‘anha. Menurut sebagian ulama sirah, seperti Al-Bukhari, pernikahan itu berlangsung tidak lama setelah Perang Badar. Sementara Al-Waqidi berpendapat bahwa Ali mulai serum...

Rihlah Ibnu Bathutah #55 : Biara dan Raja Rahib di Konstantinopel

Gambar
Manastar-Manastar di Kota Konstantinopel Di kota Konstantinopel, yang kini dikenal sebagai Istanbul, aku mendapati sebuah dunia yang penuh dengan biara dan tempat-tempat ibadah Nasrani. Mereka menyebut biara itu  manastar , sebuah kata yang bunyinya hampir mirip dengan  maristan , hanya saja letak huruf-hurufnya berbeda. Bagi mereka, manastar kurang lebih seperti zawiyah di kalangan kaum Muslim, yakni tempat orang mengasingkan diri untuk beribadah dan berzikir. Di kota ini, manastar begitu banyak jumlahnya. Salah satunya adalah manastar yang dibangun oleh Raja Jirjis, ayah Raja Konstantinopel saat itu. Biara ini terletak di luar kota Istanbul, menghadap ke kawasan Galata, di tepi pantai. Nanti, aku akan menceritakan pertemuanku dengan raja yang telah bertapa ini. Di dekat gereja agung kota itu—gereja terbesar dan paling dimuliakan—terdapat beberapa manastar lain. Di luar gereja, di sebelah kanan pintu masuk, ada dua manastar yang berdiri di dalam sebuah kebun yang indah. Sebua...

Pelajaran dari Perang Badar

Gambar
Di lembah sunyi bernama Badar, pasir menghampar dan angin gurun berhembus pelan. Di sanalah, pada hari yang agung itu, dua pasukan bertemu: satu kecil dan tampak lemah, satu lagi besar dan angkuh dengan jumlah dan perlengkapannya. Namun Allah menjadikan hari itu bukan sekadar pertempuran, melainkan sebuah “sekolah besar” tempat mukmin belajar tentang iman, takwa, keberanian, dan rahmat Allah. Allah menggambarkan peristiwa itu dalam Al-Qur’an: ﴿قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ﴾ “Sungguh, telah ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur): segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang mukmin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Ny...

Rihlah Ibnu Bathutah #54 Konstantinopel: Kisah Menakjubkan dari Jantung Kekaisaran Romawi Timur

Gambar
  Perjalanan Menuju Kota di Tepi Laut Pada keesokan hari, kami sampai di sebuah kota besar yang terletak di tepi laut. Aku tidak menyebutkan namanya sekarang, tetapi kota itu memiliki sungai-sungai yang mengalir dan pepohonan yang rimbun. Kami singgah di luar kota. Tidak lama kemudian, datanglah saudara laki-laki sang khātūn, yaitu putra mahkota kerajaan. Ia tiba dengan iring-iringan yang sangat megah: sepuluh ribu prajurit berbaju zirah, tertata rapi dan berwibawa. Di kepalanya terpasang mahkota kerajaan. Di sisi kanannya berdiri sekitar dua puluh putra raja, dan di sisi kirinya jumlah yang sama. Pasukan berkudanya disusun sebagaimana yang dilakukan oleh saudaranya terdahulu, hanya saja kali ini perayaannya lebih besar dan orang-orang yang hadir jauh lebih banyak. Ia bertemu dengan saudara perempuannya, sang khātūn, yang mengenakan pakaian kebesaran seperti sebelumnya. Keduanya turun dari kendaraan. Sebuah kemah sutra pun dipasang, dan sang khātūn masuk ke dalamnya. Aku tidak m...

Tawanan Perang Badar: Nilai Tebusan, Janji Allah, dan Keutamaan Ahli Badar

Gambar
Di padang Badar, debu pertempuran baru saja reda. Mayat-mayat musyrik Quraisy bergelimpangan, sementara di tangan kaum Muslimin ada sekitar tujuh puluh orang tawanan. Inilah saat-saat awal setelah perang besar pertama dalam sejarah Islam, perang yang akan mengubah wajah Arabia dan perjalanan dakwah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Malam itu, para sahabat berkumpul di sekitar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka bermusyawarah: apa yang harus dilakukan dengan para tawanan? Sebagian berpendapat, “Mereka dibunuh saja. Mereka adalah orang-orang yang paling keras memusuhi kita.” Di barisan ini ada ‘Umar bin Al-Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu, yang melihat bahwa menumpas tokoh-tokoh kekafiran akan lebih melemahkan musuh di masa depan. Sebagian lagi, di antaranya Abū Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu ‘anhu, mengusulkan agar mereka diberi tebusan. “Mereka adalah kerabat kita juga,” kata Abū Bakr. “Ambil tebusan dari mereka; harta itu akan menguatkan kaum Muslimin yang masih mis...