Postingan

Mengarungi Sungai Indus: Dari Armada Mewah hingga Kota Membatu

Gambar
Berlayar bersama Sang Hakim Setelah melewati masa-masa mencekam di Siyustan, takdir membawaku bertemu dengan seorang pria mulia. Ia adalah  Ala al-Mulk al-Khurasani , seorang hakim yang adil dan utama, yang lebih dikenal dengan julukan  Fakhruddin . Di masa lalu, ia pernah menghadap Raja India dan kemudian diangkat sebagai penguasa di Kota Lahri beserta wilayah sekitarnya di negeri Sind. Kini, ia datang bersama pasukan  Imad al-Mulk Sartiz  dalam ekspedisi penumpasan pemberontakan. Aku pun bertekad untuk ikut bersamanya menuju Kota Lahri. Ia memiliki lima belas buah kapal yang telah lebih dulu berlayar di Sungai Indus membawa seluruh barang bawaannya. Maka aku pun turut serta dalam armada megah ini. Di antara kapal-kapal itu, ada satu yang paling istimewa, bernama  al-Ahawrah . Bentuknya seperti sejenis kapal perang di negeri kami, namun lebih lebar dan lebih pendek. Di tengah kapal terdapat sebuah ruang kayu bertingkat yang bisa dinaiki melalui tangga. Di...

Arab Musta‘ribah: Keturunan Ismail dan Misteri Nama Adnan

Gambar
Para penulis sejarah Arab klasik membagi bangsa Arab ke dalam beberapa lapisan. Teks ini membicarakan lapisan ketiga, yang mereka sebut al-‘Arab al-musta‘ribah atau al-mut‘arribah, yaitu “Arab yang menjadi Arab”. Mereka juga dikenal dengan beberapa nama lain: al-‘Adnaniyyūn (kaum Adnan), al-Nizāriyyūn (keturunan Nizār), atau al-Ma‘diyyūn (keturunan Ma‘d). Menurut tradisi, mereka adalah keturunan langsung Nabi Ismail bin Ibrahim dan istrinya yang bernama Ra‘lah binti Muḍāḍ bin ‘Amr al-Jurhumī. Disebut “Arab musta‘ribah” karena pada asalnya mereka bukan penutur Arab. Mereka hidup bersama Arab ‘āribah (Arab asli), lalu belajar bahasa dan budaya Arab dari kelompok itu. Dari kabilah-kabilah inilah, Ismail — yang dianggap kakek besar bagi orang Arab musta‘ribah — mempelajari bahasa Arab, hingga keturunannya kemudian diakui sebagai bagian dari bangsa Arab dan melebur di tengah mereka. Para ahli berita (ahl al-akhbār) menyimpulkan bah...

Tahun Keempat Hijriah: Mengembalikan Keperkasaan di Tengah Duka

Gambar
Setelah Badai Uhud Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Madinah dari ekspedisi Hamra' al-Asad. Meski luka-luka di tubuh para sahabat belum sembuh total, setidaknya wibawa kaum Muslimin mulai pulih kembali di kota Madinah dan sekitarnya. Namun di luar sana, beberapa kabilah Badui yang bermukim di sekitar Madinah tergoda oleh kekalahan kaum Muslimin di Uhud. Mereka berpikir inilah saat yang tepat untuk menyerang. Apalagi hasutan dari Quraisy terus mengalir, memicu mereka untuk memerangi Rasulullah. Namun Rasulullah ﷺ tidak pernah lengah. Beliau memiliki mata-mata dan intelijen yang selalu melaporkan gerak-gerik musuh sebelum mereka sempat bertindak. Atas izin Allah, beliau selalu bergerak cepat untuk memadamkan api permusuhan sebelum berkobar menjadi kebakaran besar. Di sinilah dimulainya rangkaian ekspedisi militer di tahun keempat hijriah. Ekspedisi Abu Salamah bin Abdul Asad: Harta Rampasan di Tengah Duka Pada bulan Muharram tahun keempat hijriah, sampailah berita kepada Ras...

Menyusuri Negeri Indus: Perjumpaan dengan Badak, Kota Kuno, dan Kisah Berdarah di Siyustan

Gambar
Mengarungi Sungai dan Berjumpa Makhluk Raksasa Setelah kami menyeberangi Sungai Indus yang terkenal dengan sebutan Banj Ab — "Lima Air" — kami memasuki sebuah hutan tebu yang sangat lebat. Jalan setapak terletak di tengah-tengah hutan itu, sehingga kami harus melaluinya. Di situlah tiba-tiba seekor  badak  (al-karkadan) muncul menghadang kami. Badak adalah hewan berwarna hitam dengan tubuh raksasa. Kepalanya sangat besar, tak sebanding dengan badannya. Bahkan ada perumpamaan yang menyebutkan, "Badak itu kepala tanpa badan." Meskipun secara keseluruhan tubuhnya lebih kecil daripada gajah, kepalanya berkali-kali lipat lebih besar daripada kepala gajah. Di antara kedua matanya tumbuh satu tanduk sepanjang kira-kira tiga hasta dan selebar satu jengkal. Ketika hewan itu keluar menghadang kami, seorang prajurit berkuda mencoba menghadangnya. Namun badak itu menyodok kuda yang ditunggangi dengan tanduknya, menembus paha kuda, dan menjatuhkannya. Kemudian ia kembali m...

Arab Aribah dan Musta'ribah

Gambar
Bangsa Arab dalam kisah para ahli nasab selalu dibagi ke dalam beberapa lapisan. Pada bab sebelumnya telah diceritakan tentang al-‘Arab al-Bā’idah, yaitu bangsa-bangsa Arab purba yang punah sebelum datangnya Islam; mereka hanya tinggal nama dan jejak dalam cerita: seperti ‘Ād, Ṯamūd, dan selainnya. Kini kisah berpindah ke dua lapisan berikutnya: al-‘Arab al-‘Āribah dan al-‘Arab al-Musta‘ribah. Kedua golongan inilah yang masih hidup hingga masa munculnya Islam, dan dari merekalah mayoritas orang Arab di masa Nabi berasal. Para ahli nasab menyebut: al-‘Arab al-‘Āribah sebagai  Arab Qaḥṭaniyyūn al-‘Arab al-Musta‘ribah sebagai  Arab ‘Adnāniyyūn Seluruh Arab yang nasabnya dianggap “murni” pada masa munculnya Islam biasanya dihubungkan kepada dua rumpun besar ini: Qaḥṭān dan ‘Adnān. Qaḥṭān: Leluhur Besar Arab Selatan Para ahli nasab sepakat bahwa lapisan kedua bangsa Arab setelah kelompok yang punah (al-Bā’idah) adalah...