Postingan

Tasm dan Jadis: Dua Kabilah yang Hilang dari al-Yamāmah

Gambar
Dalam kisah-kisah kuno Arab, nama  Ṭasm  dan  Jadis  selalu muncul berpasangan. Keduanya digolongkan sebagai bagian dari  “al-‘Arab al-bā’idah”  – suku-suku Arab purba yang dianggap telah lenyap sebelum masa Islam. Sekalipun hari ini tak ada lagi jejak hidup mereka, bayangannya masih hadir dalam cerita, peribahasa, puisi, dan nama-nama tempat yang bertahan sampai masa kemudian. Siapakah Kabilah Tasm? Para ahli berita (ahl al-akhbār) memberikan beberapa versi nasab untuk  Ṭasm . Di antara yang paling sering disebut: Ṭasm bin Lāūdz bin Iram, atau Ṭasm bin Lāūdz bin Sām, atau Ṭasm bin Kāṯir. Semua versi ini ingin menegaskan bahwa mereka adalah suku tua yang disambungkan ke garis  Sām bin Nūḥ  lewat Iram dan Lāūdz. Menariknya,  nama Tasm sama sekali tidak muncul dalam Al-Qur’an . Kita mengenalnya hanya melalui kisah-kisah yang dicatat dalam buku-buku sejarah dan adab pada masa Islam. Sebagian ahli bahasa bahkan menganggap bahwa b...

Kisah Qazman, Mutilasi Hamzah, dan Turunnya Ayat Larangan Balas Dendam di Perang Uhud

Gambar
Qazman: Pejuang Tangguh yang Berakhir di Neraka Di tengah barisan kaum Muslimin yang berperang di jalan Allah, ada pula mereka yang berperang karena motivasi duniawi. Di antara mereka adalah seorang lelaki asing yang tidak diketahui asal-usulnya. Ia bernama Qazman. Rasulullah ﷺ pernah menyebutnya ketika namanya diutarakan di hadapan beliau: « إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ » "Sesungguhnya ia termasuk penghuni neraka." Para sahabat tentu terkejut mendengar ini. Qazman dikenal sebagai pejuang tangguh. Pada Perang Uhud, ia bertempur dengan sangat gagah berani. Sendirian, ia berhasil membunuh delapan atau tujuh orang musyrikin. Keberaniannya luar biasa. Namun luka-luka berat menghampirinya. Ia tergeletak, lalu dibawa ke perkampungan Bani Zhafar. Para sahabat datang menjenguk dan berkata, "Demi Allah, sungguh engkau telah berjuang dengan gemilang hari ini, wahai Qazman. Berbahagialah!" Qazman justru menjawab dengan nada sinis, "Dengan apa aku harus berba...

Dari Samarkand ke Herat: Menelusuri Jejak Para Wali dan Reruntuhan Kejayaan

Gambar
Kabar Duka dari Multan Saat aku masih berada di Samarkand, sebuah kabar sedih datang dari jauh.  Shadr al-Jahan , qadhi Samarkand yang pernah menyambutku dengan hangat, telah berpulang ke rahmatullah di kota  Multan , ibu kota wilayah Sind. Ia meninggal dalam perjalanan menuju istana Raja India. Belum sempat menghadap, ajal lebih dulu menjemput. Namun begitulah Raja India—Sultan Muhammad bin Tughluq—memperlakukan orang-orang terhormat. Ketika kabar kematian qadhi itu sampai kepadanya, ia memerintahkan agar putra-putra almarhum diberi ribuan dinar (jumlah persisnya tak kuingat). Dan lebih dari itu, ia memerintahkan agar para sahabat yang menemani qadhi itu diberikan apa yang seharusnya mereka terima seandainya ia masih hidup dan tiba di istana. Sungguh, ini adalah kebiasaan Raja India yang menakjubkan. Di setiap kota di negerinya, ia menempatkan seorang  ṣāḥib al-khabar —kepala intelijen—yang bertugas mencatat segala peristiwa penting dan melaporkannya langsung ke ...

Kaum Tsamud: Dari Kisah Al-Qur’an hingga Jejak Arkeologi

Gambar
Nama  Tsamud ( ثمود )  hampir selalu muncul beriringan dengan  ‘Ād  dalam literatur Arab klasik. Keduanya menjadi lambang bangsa-bangsa purba yang dibinasakan, dan kisah mereka dihidupkan kembali oleh Al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia. Dalam sumber-sumber Arab sebelum dan sesudah Islam, hampir tidak ada sejarah rinci tentang kehidupan politik Tsamud. Yang justru banyak kita temukan adalah  cerita-cerita ibrah  yang berkembang di sekitar ayat-ayat Al-Qur’an. Jejak mereka juga tampak dalam  syair jahiliyyah , yang menunjukkan bahwa orang Arab sebelum Islam sudah mengenal nama dan nasib kaum ini. Tsamud dalam Al-Qur’an dan Tradisi Arab Jahiliah Al-Qur’an menyebut Tsamud berkali-kali. Kadang nama mereka berdiri sendiri, kadang digandengkan dengan kaum lain seperti  Nuh ,  ‘Ād , dan  kaum Lūṭ . Dalam beberapa ayat, urutannya: Nuh, ‘Ād, lalu Tsamud; di tempat lain Tsamud didahulukan. Salah satu ayat penting yang menunjukkan bah...

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Gambar
Keberanian Legendaris dalam Membela Rasul Di hari yang penuh ujian itu, saat badai kekalahan menerpa dan musuh mengitari dari segala penjuru, segelintir sahabat pilihan justru menunjukkan keberanian yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia kecuali pada diri para pengikut Nabi Muhammad ﷺ . Mereka adalah para pecinta sejati, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, yang menjadikan diri mereka sebagai perisai hidup bagi Rasulullah. Thalhah bin Ubaidillah: Tangan yang Lumpuh demi Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq jika menyebut hari Uhud, ia akan berkata: "Hari itu seluruhnya milik Thalhah." Demikianlah riwayat-riwayat sepakat bahwa Thalhah termasuk salah satu yang paling teguh pada hari itu. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir, bahwa saat Rasulullah ﷺ mendaki bukit bersama sekelompok Anshar dan Thalhah, pasukan musuh mendekati mereka. Rasulullah ﷺ bersabda: « أَلَا رَجُلٌ لِهَؤُلَاءِ؟ » "Adakah seorang yang siap menghadapi mereka?" Thalhah segera...