Postingan

Rihlah Ibnu Bathutah #62 Di Balik Takhkta Sultan: Sebuah Pelajaran tentang Keteguhan, Kudeta, dan Penyesalan

Gambar
Seorang Syaikh yang Istiqamah Di tengah hiruk-pikuk perkemahan Sultan, aku bertemu dengan seorang lelaki yang membuatku merenung. Ia adalah seorang syaikh—salah satu hamba Allah yang saleh—namun pakaiannya sangat memprihatinkan. Setiap hari kulihat ia mengenakan  qabā  (jubah) dari katun yang telah usang, robek di sana-sini, hanya berlapis kapas tipis. Di kepalanya, sebuah  qalansuwah  (topi) dari kain kempa yang nilainya tak lebih dari satu qirath, tanpa sorban. Suatu hari, aku tak tahan lagi. "Wahai Tuanku," kataku, "jubah yang Tuan kenakan ini sungguh tidak layak. Izinkanlah aku memberi Tuan pakaian yang lebih baik." Ia menatapku dengan mata teduh. "Wahai anakku," jawabnya lembut, "jubah ini bukan milikku. Ia milik putriku." Aku terkejut. Ia melanjutkan, "Aku telah berjanji kepada Allah sejak lima puluh tahun lalu untuk tidak menerima pemberian siapa pun. Seandainya aku mau menerima, tentu darimu lah pertama-tama akan aku terima....

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Gambar
Nabi Hūd dan Kaum ‘Ād dalam Al-Qur’an Dalam kisah-kisah tentang kaum ‘Ād, para ulama sejarah Arab menyebut seorang nabi yang diutus dari kalangan mereka sendiri: Nabi Hūd. Al-Qur’an menamainya sebagai “saudara kaum ‘Ād” dan juga menyebut kaum ‘Ād sebagai “kaum Hūd”. Allah berfirman tentang pengutusan Hūd kepada kaum ‘Ād: ﴿وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾ ( سورة الأعراف، الآية ٦٥ ) “Dan kepada (kaum) ‘Ād Kami utus saudara mereka, Hūd. Ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah; tidak ada bagi kalian tuhan selain Dia. Maka tidakkah kalian bertakwa?’” Di tempat lain, Allah menyebut kehancuran kaum ‘Ād dan menyebut mereka sebagai “kaum Hūd”: ﴿وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ﴾ ( سورة هود، الآية ٦٠ ) “Dan mereka diikuti di dunia ini dengan laknat, dan (begitu pula) pada har...

Perang Uhud: Pelanggaran Perintah Pasukan Pemanah, Isu Kematian Nabi, dan Keteguhan Anas bin Nadhr

Gambar
Pelanggaran Perintah Rasul Di puncak bukit Uhud, lima puluh pasukan pemanah berjaga. Rasulullah ﷺ telah berpesan tegas: « انْضَحُوا بِالنَّبْلِ عَنَّا لَا نُؤْتَيَنَّ مِنْ قِبَلِكُمْ، وَالْزَمُوا مَكَانَكُمْ، إِنْ كَانَتِ النَّوْبَةُ لَنَا أَوْ عَلَيْنَا، وَإِنْ رَأَيْتُمُونَا تَخَطَّفُنَا الطَّيْرُ فَلَا تَبْرَحُوا مَكَانَكُمْ » "Lindungi kami dengan anak panah kalian, jangan sampai musuh mendatangi kami dari arah kalian. Tetaplah di tempat kalian, baik saat kami menang maupun kalah. Dan jika kalian melihat kami seperti diterkam burung (kalah telak), jangan sekali-kali kalian tinggalkan posisi ini." Namun ketika Quraisy mundur dan kaum Muslimin sibuk mengumpulkan harta rampasan, sebagian besar pasukan pemanah tergoda. "Tidak ada gunanya kita diam di sini! Musuh sudah lari!" seru mereka. Abdullah bin Jubair, komandan mereka, berteriak mengingatkan: "Apakah kalian lupa pesan Rasulullah ﷺ ? Aku tidak akan meninggalkan tempatku!" Hanya sepuluh ora...

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup

Gambar
Penguasa Negeri Seberang Dari perkemahan itu, aku mulai mendengar nama agung yang disebut dengan penuh hormat oleh setiap musafir dan pedagang:  Sultan Alauddin Tharmasyirin , penguasa seluruh negeri di seberang Sungai Jaihun. Namanya asing di telingaku saat pertama kali terdengar. Namun kini aku tahu: ia adalah raja besar, disegani oleh empat penguasa terkuat di dunia— Raja Cina, Raja India, Raja Irak, dan Sultan Uzbak . Mereka semua segan kepadanya. Bukan karena pasukannya yang tak terbilang jumlahnya, bukan pula karena luas kerajaannya yang membentang. Mereka segan karena keadilannya. Karena caranya memerintah bukan dengan pedang, melainkan dengan hati. Tharmasyirin naik takhta setelah kakaknya,  Jakatay . Dan Jakatay naik setelah kakak mereka,  Kebek . Dua raja sebelumnya adalah kafir. Namun anehnya, rakyat justru mengenang Kebek sebagai pemimpin yang adil. Ia melindungi kaum Muslimin, menghormati ulama, dan tak pernah menzalimi siapa pun. Dan aku pun mendenga...

Perang Uhud: Kegagalan Pasukan Pemanah, Syahidnya Hamzah, dan Awal Kekalahan Muslimin

Gambar
  Pertarungan Satu Lawan Satu Pertempuran Uhud dimulai dengan tradisi yang sudah mengakar di Jazirah Arab: duel satu lawan satu. Talhah bin Abu Thalhah al-Abdari, pembawa bendera musyrikin, maju ke depan barisan. Ia menantang siapa pun dari barisan Muslimin untuk melawannya. Para sahabat terdiam sejenak. Maka majulah Az-Zubair bin Al-Awwam. Dengan sekali loncatan, Az-Zubair sudah berada di atas unta bersama Talhah. Ia membanting lawannya ke tanah, lalu menghunus pedang. Talhah bin Abu Thalhah tewas di tempat. Melihat keberanian itu, Rasulullah ﷺ bersabda: « إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيِّي الزُّبَيْرُ » "Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (pembela setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair." Nabi ﷺ kemudian menambahkan: « لَوْ لَمْ يَبْرُزْ إِلَيْهِ أَحَدٌ لَبَرَزْتُ أَنَا إِلَيْهِ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ إِحْجَامِ النَّاسِ عَنْهُ » "Seandainya tidak ada seorang pun yang maju kepadanya, sungguh aku sendiri yang akan maju. Karena kulihat bet...

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Gambar
Reruntuhan yang Bercerita Aku berdiri di tengah Bukhara, kota yang pernah menjadi mercu ilmu dunia. Kini, yang tersisa hanyalah bisu reruntuhan dan luka yang mengering. Di sekelilingku, masjid-masjid agung hanya menyisakan dinding retak, madrasah-madrasah megah berubah menjadi sarang laba-laba, dan pasar-pasar ramai kini sunyi sepi. Penduduknya hidup dalam kehinaan, bahkan kesaksian mereka tak lagi diterima di negeri-negeri lain. Ah, Bukhara... kota Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, ahli hadits teragung sepanjang masa. Kini engkau jatuh begitu dalam. Dan aku pun bertanya-tanya: bagaimana bisa negemilau ini sirna dalam telapak tangan sang perusak? Maka kumulai kisah ini—bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi juga pengingat akan kejayaan yang pernah tumbuh, dan malapetaka yang meratakannya dengan tanah. Kisah Sang Penguasa Step*a: Awal Mula Bencana Konon, sebelum menjadi badai yang menghancurkan separuh dunia,  Tengiz Khan  hanyalah seorang tuka...