Postingan

Surat Al-Fath: Ketika Kemenangan Datang Tanpa Pedang

Gambar
Peristiwa Hudaibiyah telah usai. Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah dengan perasaan campur aduk. Ada yang lega, ada pula yang masih menyimpan tanya di hati. Namun di tengah perjalanan pulang, langit Madinah kembali disinari wahyu. Turunlah Surat Al-Fath, sebuah surat yang mengubah cara pandang para sahabat tentang apa yang baru saja mereka alami. Surat ini bukan sekadar bacaan, melainkan penjelasan Ilahi bahwa apa yang tampak sebagai kemunduran ternyata adalah kemenangan yang nyata. Al-Fath: Kemenangan yang Sesungguhnya Allah memulai surat ini dengan kabar yang menggembirakan: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (QS. Al-Fath: 1) Para ulama sepakat bahwa "kemenangan yang nyata" ( fathan mubina ) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah kesepakatan da...

Bai'atur Ridwan: Ketika Allah Meridhai Para Mukmin di Bawah Pohon

Gambar
Perjalanan menuju umrah kali ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Quraisy yang keras kepala tetap bersikeras menghalangi rombongan kaum Muslimin untuk memasuki Mekah. Namun di balik kebuntuan ini, Allah menyimpan sebuah kejutan besar yang akan menjadi titik balik sejarah. Sebuah baiat (janji setia) yang membuat Allah sendiri meridhai mereka, dan sebuah perjanjian damai yang oleh para sejarawan disebut sebagai  Al-Fathul Mubin  (Kemenangan yang Nyata). Kabar yang Menggetarkan: Utsman Diduga Dibunuh Saat utusan Rasulullah, Utsman bin Affan, tertahan di Mekah lebih lama dari perkiraan, tersiar kabar yang menghentak seluruh pasukan: Utsman telah dibunuh Quraisy! Kabar ini bagaikan petir di siang bolong. Darah para sahabat mendidih. Rasulullah ﷺ yang mendengar kabar ini bersabda dengan tegas: "Kita tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum kita memerangi kaum itu." Baiat di Bawah Pohon Samurah Seruan untuk berperang pun dikumandangkan. Rasulullah ﷺ mengajak pa...

Hudaibiyah: Perjalanan Cinta yang Berbuah Kemenangan

Gambar
Tahun keenam hijriah hampir berlalu. Kaum Muslimin telah menjelma menjadi kekuatan yang disegani di Jazirah Arab. Meski belum terjadi pertempuran besar, berbagai ekspedisi kecil (sariyyah) yang dilancarkan berhasil menunjukkan kekuatan kaum Muslimin dan menebar rasa takut di hati kaum musyrikin. Namun di tengah gemerlap kekuatan itu, ada satu kerinduan yang membuncah di dada setiap mukmin: rindu untuk kembali mengunjungi Baitullah, Kakbah. Rumah para leluhur, tempat beribadah, dan kiblat mereka. Enam tahun telah berlalu, namun mereka belum juga bisa menjejakkan kaki di tanah suci itu. Mimpi yang Membuncahkan Asa Kerinduan itu semakin menjadi-jadi setelah Rasulullah ﷺ menceritakan mimpi beliau. Dalam mimpinya, beliau bersama para sahabat memasuki Masjidil Haram dengan aman, sebagian bercukur dan sebagian lagi bergunting rambut. Mimpi ini adalah kabar gembira yang menguatkan harapan. Namun bagaimana mungkin mereka bisa masuk ke Mekah sementara kaum musyrikin Quraisy begitu gigih men...

Tahun Keenam Hijriah: Antara Keadilan, Strategi Perang, dan Hidayah

Gambar
1. Pasukan Muhammad bin Maslamah: Saat Pembesar Musuh Masuk Islam Di bulan Muharram tahun keenam hijriah, Rasulullah ﷺ mengirim Muhammad bin Maslamah bersama tiga puluh orang berkuda untuk menyerang Bani Bakr bin Kilab. Mereka bergerak dengan siasat perang yang cerdik: bersembunyi di siang hari dan berjalan di malam hari. Dalam keheningan malam, mereka tiba-tiba menyerang musuh yang sedang lengah. Sepuluh orang berhasil dibunuh, sisanya melarikan diri. Kabilah itu kehilangan unta dan kambing mereka yang kemudian dibawa pulang ke Madinah sebagai rampasan perang. Di tengah perjalanan pulang, mereka bertemu dengan seorang pria yang tidak mereka kenal. Tanpa tahu siapa dia, mereka menangkapnya dan membawanya ke Madinah. Pria itu adalah Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, pembesar Bani Hanifah yang sangat terpandang. Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ mengenalinya. Beliau tidak memperlakukannya seperti tawanan biasa. Selama tiga hari, beliau memperlakukannya dengan baik, memberinya ma...