Postingan

Tahun Keenam Hijriah: Antara Keadilan, Strategi Perang, dan Hidayah

Gambar
1. Pasukan Muhammad bin Maslamah: Saat Pembesar Musuh Masuk Islam Di bulan Muharram tahun keenam hijriah, Rasulullah ﷺ mengirim Muhammad bin Maslamah bersama tiga puluh orang berkuda untuk menyerang Bani Bakr bin Kilab. Mereka bergerak dengan siasat perang yang cerdik: bersembunyi di siang hari dan berjalan di malam hari. Dalam keheningan malam, mereka tiba-tiba menyerang musuh yang sedang lengah. Sepuluh orang berhasil dibunuh, sisanya melarikan diri. Kabilah itu kehilangan unta dan kambing mereka yang kemudian dibawa pulang ke Madinah sebagai rampasan perang. Di tengah perjalanan pulang, mereka bertemu dengan seorang pria yang tidak mereka kenal. Tanpa tahu siapa dia, mereka menangkapnya dan membawanya ke Madinah. Pria itu adalah Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, pembesar Bani Hanifah yang sangat terpandang. Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ mengenalinya. Beliau tidak memperlakukannya seperti tawanan biasa. Selama tiga hari, beliau memperlakukannya dengan baik, memberinya ma...

Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz

Gambar
Pensyariatan Haji: Panggilan Abadi dari Nabi Ibrahim Di tahun yang diperselisihkan ulama—ada yang mengatakan tahun keenam, kedelapan, atau kesembilan Hijriah—Allah SWT mewajibkan ibadah haji atas hamba-Nya. Ayat yang menjadi landasan utama kewajiban ini adalah firman Allah: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana."  (QS. Ali Imran: 97) Ada pula yang berpendapat bahwa dasar kewajiban haji adalah firman Allah: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ "Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah."  (QS. Al-Baqarah: 196) Namun, pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama, karena perintah menyempurnakan (itmam) datang setelah suatu ibadah ditetapkan. Kewajiban haji telah ditetapkan oleh Al-Qur'an, Sunnah, dan ijma' (konsensus ulama), sehingga menjad...

Ummu Habibah: Putri Musuh Quraisy yang Menjadi Ibu Kaum Beriman

Gambar
Sang Putri di Tengah Dua Kutub Namanya adalah Ramlah, dan ada pula yang mengatakan namanya Hindun. Namun, pendapat yang lebih kuat menyebut namanya adalah Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Ibunya adalah Shafiyyah binti Abil 'Ash bin Umayyah. Ia dilahirkan sekitar 17 tahun sebelum masa kenabian (pra-570 M), sehingga ia tumbuh dalam lingkungan keluarga Quraisy yang terpandang, karena ayahnya, Abu Sufyan, adalah salah satu pembesar Quraisy yang sangat disegani. Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ , Ummu Habibah adalah istri dari 'Ubaidullah bin Jahsy. Keduanya termasuk orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Mereka berdua pun ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) untuk menyelamatkan iman mereka dari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Ditinggal di Negeri Asing Di Habasyah, Ummu Habibah melahirkan seorang putri yang diberi nama Habibah. Dari putri inilah ia kemudian dikenal dengan kunyah (panggilan) Ummu Habibah (ibu dari Habibah). Ada juga yang ber...

Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat

Gambar
1. Ketika Seorang Budak Meminang Putri Bangsawan Kisah ini bermula dari sebuah perintah Allah yang sulit diterima akal manusia. Rasulullah ﷺ diminta untuk menikahkan sepupunya sendiri, Zainab binti Jahsy, dengan Zaid bin Haritsah, seorang mantan budak yang telah dimerdekakan dan diangkat sebagai anak angkat beliau. Zainab dan keluarganya awalnya keberatan. Mereka adalah keluarga terhormat dari Bani Abdul Muthallib. Namun ketika tahu bahwa ini adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, Zainab pun tunduk. Ia menikah dengan Zaid, bukan karena cinta, tetapi karena iman. Namun pernikahan ini tidak berlangsung harmonis. Zaid, meskipun seorang mukmin yang saleh, merasa tidak nyaman hidup dengan Zainab yang berasal dari kalangan bangsawan Quraisy. Perbedaan latar belakang sosial membuat rumah tangga mereka goyah. Zaid beberapa kali datang kepada Rasulullah ﷺ mengeluhkan keadaannya, dan setiap kali itu pula Rasulullah berpesan, "Pertahankan istrimu dan bertakwalah kepada Allah." H...

Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung

Gambar
Sepanjang sejarah, tidak ada tokoh yang paling gigih difitnah selain para nabi. Nabi Muhammad ﷺ , sebagai penutup para rasul, menjadi sasaran utama kebohongan para musuh Islam. Di antara serangan yang paling tua dan terus diulang-ulang adalah tuduhan keji seputar kehidupan rumah tangga beliau. Para orientalis dan misionaris dengan sengaja memotret Nabi ﷺ seolah-olah seorang lelaki yang tak punya tujuan hidup kecuali mengejar perempuan. Tuduhan ini bukanlah kritik ilmiah, melainkan busur panah beracun yang sejak dulu dilontarkan untuk meruntuhkan kemuliaan akhlak beliau. Mari kita bedah bersama, bagaimana Al-Qur'an dan sejarah yang otentik membantah tuntas fitnah ini, serta mengungkap hikmah luar biasa di balik setiap pernikahan suci Rasulullah ﷺ . 1. Ketika Orientalis Berimajinasi: Antara Fakta dan Dongeng Para orientalis dan misionaris profesional gemar sekali mengumbar imajinasi liar mereka saat membicarakan kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad ﷺ . Mereka melukiskan pema...