Postingan

Arab Aribah dan Musta'ribah

Gambar
Bangsa Arab dalam kisah para ahli nasab selalu dibagi ke dalam beberapa lapisan. Pada bab sebelumnya telah diceritakan tentang al-‘Arab al-Bā’idah, yaitu bangsa-bangsa Arab purba yang punah sebelum datangnya Islam; mereka hanya tinggal nama dan jejak dalam cerita: seperti ‘Ād, Ṯamūd, dan selainnya. Kini kisah berpindah ke dua lapisan berikutnya: al-‘Arab al-‘Āribah dan al-‘Arab al-Musta‘ribah. Kedua golongan inilah yang masih hidup hingga masa munculnya Islam, dan dari merekalah mayoritas orang Arab di masa Nabi berasal. Para ahli nasab menyebut: al-‘Arab al-‘Āribah sebagai  Arab Qaḥṭaniyyūn al-‘Arab al-Musta‘ribah sebagai  Arab ‘Adnāniyyūn Seluruh Arab yang nasabnya dianggap “murni” pada masa munculnya Islam biasanya dihubungkan kepada dua rumpun besar ini: Qaḥṭān dan ‘Adnān. Qaḥṭān: Leluhur Besar Arab Selatan Para ahli nasab sepakat bahwa lapisan kedua bangsa Arab setelah kelompok yang punah (al-Bā’idah) adalah...

Tiga Peristiwa Agung dalam Setahun: Pernikahan, Persahabatan, dan Kelahiran

Gambar
Di penghujung tahun kedua hijriah, setelah Perang Badar yang agung, rangkaian peristiwa penuh berkah menghiasi lembaran sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Dalam tahun yang sama, terjadi tiga peristiwa besar yang menunjukkan betapa eratnya jalinan kasih sayang dalam keluarga Nabi, serta tingginya penghargaan Islam terhadap para sahabat utama. Pernikahan Utsman dengan Ummu Kultsum: Gelar Dzun Nurain Di tahun ini, Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menikah dengan Sayyidah Ummu Kultsum, putri Rasulullah ﷺ . Pernikahan ini terjadi setelah wafatnya kakak Ummu Kultsum, yaitu Ruqayyah, yang juga merupakan istri Utsman sebelumnya. Ruqayyah wafat tepat saat Perang Badar berlangsung. Dengan demikian, Utsman mendapat kehormatan menjadi menantu Rasulullah dua kali berturut-turut. Akad nikah dengan Ummu Kultsum dilangsungkan pada bulan Rabi'ul Awwal, dan Rasulullah ﷺ masuk menemui istrinya itu pada bulan Jumadil Akhir. Ketika Utsman melamar Ummu Ku...

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Gambar
Menyusuri Bengawan Lima Air Pada awal bulan Muharram tahun 734 Hijriah, tibalah kami di Lembah Sind yang terkenal dengan sebutan "Banj Ab" — sebuah ungkapan yang bermakna "lima air". Sungai ini merupakan salah satu lembah terbesar di dunia. Airnya meluap di musim panas, dan penduduk setempat bercocok tanam memanfaatkan luapan tersebut, persis seperti yang dilakukan penduduk Mesir dengan luapan Sungai Nil. Lembah ini adalah wilayah pertama Kekuasaan Sultan Agung Muhammad Syah, Raja India dan Sind. Ketika kami tiba di sungai ini, para petugas intelijen yang bertugas segera datang menemui kami. Mereka mencatat kedatangan kami dan mengirimkan laporannya kepada Quthb al-Mulk, Gubernur Kota Multan. Sistem Birokrasi dan Pos di Negeri India Pada masa itu, penguasa tertinggi di wilayah Sind adalah seorang budak (mamluk) Sultan bernama Sartiz. Nama "Sartiz" memiliki arti unik: "Sar" berarti kepala, sedangkan "Tiz" berarti tajam. Jadi nama...

Musnahnya Arab Bā’idah

Gambar
Di hamparan panjang Jazirah Arab, jauh sebelum datangnya Islam, pernah hidup suku-suku tua yang kini hanya tersisa namanya di dalam cerita dan buku-buku sejarah. Mereka dikenal sebagai  Arab Bā’idah  – kelompok-kelompok Arab yang telah punah, yang jejaknya hilang ditelan zaman. Bencana yang Mengusir Manusia dari Tanahnya Kehancuran suku-suku ini, menurut para ahli sejarah, bukan terutama karena peperangan, tetapi banyak disebabkan oleh  bencana alam . Bayangkan bertahun-tahun hujan tak kunjung turun. Tanah retak, rerumputan mati, hewan ternak satu per satu tumbang. Ketika hewan mati dan manusia kelaparan, tidak ada pilihan lain selain meninggalkan tanah leluhur, betapapun beratnya, dan mencari tempat baru yang masih punya air dan tanaman. Dalam pengembaraan itu, kadang mereka menemukan suatu wilayah yang subur, dengan sungai atau mata air, dan penduduk yang sudah lebih dulu menetap di sana. Di titik inilah terjadi berbagai kemungkinan. Kadang para pendatang data...

Ekspedisi Hamra' al-Asad: Mengembalikan Keperkasaan Umat Islam

Gambar
Duka Uhud dan Sorak Kaum Munafik Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Madinah dengan hati yang berat. Di bukit Uhud, tujuh puluh syuhada telah terbujur kaku, meninggalkan duka yang mendalam di hati kaum Muslimin. Sementara itu, para sahabat yang selamat pulang dengan tubuh berlumur luka, ada yang tertusuk pedang, ada pula yang patah tulang. Namun di sudut-sudut Madinah, berbeda suasana yang terjadi. Kaum munafik dan Yahudi tidak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka. Kota Madinah bagaikan mendidih oleh kebahagiaan palsu mereka yang melihat musibah menimpa Rasulullah dan para pengikutnya. Tidak puas hanya dengan kegembiraan dalam hati, mereka melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Kaum Yahudi berkata dengan nada menghina, "Seandainya dia benar-benar seorang nabi, tentu mereka tidak akan terkalahkan dan tidak akan menderita luka seperti ini. Ia hanyalah seorang yang memperebutkan kekuasaan, kadang menang kadang kalah!" Mereka lupa bahwa para nabi Bani Israel pun pernah dibunu...

Menembus Bahaya Afghan dan Bertemu Manusia Berusia 350 Tahun

Gambar
Perjalanan Menuju Negeri Para Sufi dan Pegunungan Menakjubkan Perjalanan kami lanjutkan menuju sebuah tempat bernama Anbar. Dulu, di sinilah pernah berdiri sebuah kota besar, namun kini hanya tinggal nama dan puing-puing kenangan. Kami singgah di sebuah desa besar yang di sana terdapat  zawiyah  (tempat pertapaan) milik seorang mulia, bernama Muhammad Al-Mahrawi. Beliau menyambut kami dengan sangat hormat dan memuliakan kami sebagai tamu. Ada satu hal dari Syekh Muhammad Al-Mahrawi yang membuatku takjub. Setiap kali kami selesai makan dan membasuh tangan, beliau akan meminum air bekas cucian tangan kami itu. Bukan karena kehausan, melainkan karena keyakinannya yang tulus akan keberkahan dari orang-orang shaleh. Begitu agungnya akhlak dan kerendahan hati beliau. Beliau pun ikut bepergian bersama kami hingga tiba di lereng Pegunungan Hindu Kush yang terkenal itu. Mata Air Aneh di Puncak Gunung Di pegunungan Hindu Kush, kami menemukan sebuah mata air panas yang unik. Kare...

Kaum Hadhur dan Kisah Ashab al-Rass: Jejak Bangsa Purba yang Terlupakan

Gambar
Dalam lembaran sejarah Arab sebelum Islam, kita mengenal nama-nama kaum yang hanya tinggal sebagai cerita: tidak ada lagi sisa-sisa kekuasaan mereka, dan jejak fisiknya pun hampir lenyap. Di antara kaum-kaum itu, para ahli sejarah klasik menyebut  Ḥaḍhur  (atau Ḥaḍhurā’) dan  Ashḥāb ar-Rass . Kisah mereka bercampur antara riwayat Arab, isyarat Al-Qur’an, dan pengaruh kuat cerita dari kitab-kitab Bani Israil. Artikel ini berusaha menceritakan kembali kisah mereka dengan bahasa yang mengalir, sambil tetap menjaga isi pokok riwayat yang disebut para ulama. Kaum Ḥaḍhur dan Negeri al-Rass Para ahli berita (ahl al-akhbār) meriwayatkan kisah tentang kaum yang disebut  Ḥaḍhur . Mereka diceritakan tinggal di suatu kawasan bernama  al-Rass , hidup sebagai penyembah berhala dan jauh dari petunjuk tauhid. Allah mengutus kepada mereka seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, bernama  Syu‘aib bin Dzi Mehr‘a . Namun, sebagaimana banyak kaum yang diceritaka...