Postingan

Kekhalifahan Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu (23 - 35 H)

Gambar
Bab Pertama: Biografi Beliau Nasab dan Kedudukannya: Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Kunyah beliau adalah Abu Amr dan Abu Abdullah. Beliau berasal dari suku Quraisy keturunan Umayyah, seorang Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman), Dzu Al-Nurain (pemilik dua cahaya), orang yang melakukan dua kali hijrah, dan suami dari dua putri Rasulullah. Ibunya bernama Arwa binti Kuriz bin Rabi'ah bin Habib bin Abdi Syams. Sementara nenek dari pihak ibunya bernama Ummu Hakim, yang dikenal sebagai Al-Baidha binti Abdul Muthalib, bibi kandung Rasulullah SAW. Beliau merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, salah satu dari enam anggota dewan syura, dan salah satu dari tiga orang yang akhirnya disaring dari enam anggota tersebut untuk memegang kekhalifahan. Pada akhirnya, kepemimpinan mutlak diserahkan kepada beliau berdasarkan kesepakatan (ijmak) kaum Muhajirin dan Anshar radhiyallahu 'anhum . B...

Arab dan Ibrani: Dua Saudara yang Terpisah

Gambar
Mengapa "Arab" Tidak Disebut dalam Silsilah Nuh? Saat membaca Kitab Taurat, kita akan menemukan satu keanehan. Dalam daftar keturunan  Nuh  — anak-anaknya:  Sam, Ham, dan Yafits  — nama "Arab" tidak pernah disebut. Padahal, banyak nama suku yang jelas-jelas berasal dari Arab dan tinggal di Jazirah Arab justru disebutkan. Mengapa? Penulis kitab  Al-Mufashshal  memberikan jawaban yang menarik.  Kata "Arab" pada zaman itu belum berarti "bangsa"  . Ia hanya berarti  "badui"  — penduduk padang pasir yang hidup nomaden. Sementara Taurat hanya mencatat  bangsa-bangsa yang menetap  (hadharah) seperti orang Kanaan, Fenisia, Mesir, dan lain-lain. Orang badui yang tidak memiliki satu nenek moyang tunggal dan terus berpindah-pindah tidak masuk dalam kategori "bangsa" menurut cara berpikir para penulis Taurat. Oleh karena itu, ketika Taurat ingin menyebut orang Arab badui, mereka tidak menggunakan kata "Arab" sebagai nama...

Penjelajahan di Negeri Asing (Ajam)

Gambar
Penjelajahan di Negeri Asing (Ajam) Fase Kelima Penaklukan di Wilayah Timur Setelah kemenangan kaum muslimin dalam Peristiwa Nahawand, kekuatan bangsa Persia tidak lagi bangkit. Kaum muslimin pun mulai menjelajahi negeri-negeri asing setelah Umar bin Khattab memberikan izin kepada mereka. Setelah peristiwa Nahawand, kaum muslimin menaklukkan Kota Jay, yaitu Kota Ashbahan, setelah melalui pertempuran yang sengit dan proses yang panjang. Penduduk kota tersebut akhirnya berdamai dengan kaum muslimin, dan Abdullah bin Abdullah menuliskan surat jaminan keamanan serta perjanjian damai untuk mereka. Sementara itu, ada tiga puluh orang dari mereka yang melarikan diri ke Kirman dan menolak untuk berdamai dengan kaum muslimin. Pada tahun 21 Hijriah, Abu Musa menaklukkan Qum dan Qasyan, sedangkan Suhail bin Adi menaklukkan Kota Kirman. Penaklukan Hamadzan Kedua Kali, Tahun 22 Hijriah: Telah disebutkan sebelumnya bahwa setelah kaum muslimin menyelesaikan urusan di Nahawand, mereka menak...