Postingan

Perang Badar Kubra Bagian 5

Gambar
Angin gurun Badar belum lama reda ketika Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah para sahabat. Hari itu, kaum muslimin bersiap menghadapi pasukan besar Quraisy yang datang dari Makkah. Beliau mengobarkan semangat para sahabat untuk berperang di jalan Allah, namun di saat yang sama, beliau tidak lupa akan sebuah hak: hak orang-orang yang pernah berbuat baik kepadanya, meskipun mereka ketika itu masih berada di barisan musyrikin. Wasiat Nabi tentang Sebagian Orang Quraisy Rasulullah mengetahui bahwa tidak semua orang Quraisy yang datang ke Badar benar-benar suka memeranginya. Sebagian dipaksa keluar karena fanatisme kabilah dan tekanan kaumnya. Di antara mereka ada orang-orang yang dulu pernah melindungi beliau di Makkah, membela beliau ketika dizalimi, dan berdiri di pihak kebenaran saat kezaliman memuncak. Di hadapan para sahabat, beliau menyampaikan wasiat yang lembut namun tegas: «إِنِّي قَدْ عَرَفْتُ رِجَالًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَغَيْرِهِمْ قَدْ أُخْرِجُوا كُرْهًا...

Rihlah Ibnu Bathutah #51 Bertemu Sultan Uzbeg Khan: Kemegahan Golden Horde, Khatun, dan Tata Istana Saray

Gambar
Dalam Bayang-bayang Sultan Agung Uzbeg Aku, Ibnu Bathutah, mendengar banyak kabar tentang seorang raja besar di negeri padang rumput itu. Namanya Muhammad Uzbeg. Di kalangan mereka, gelar “Khan” berarti sultan. Dan memang, sultan ini bukan penguasa biasa: kerajaannya luas, tenteranya kuat, wibawanya tinggi, dan kedudukannya menjulang di mata bangsa-bangsa. Orang-orang menceritakan kepadaku bahwa ia termasuk salah satu dari tujuh raja besar yang dianggap sebagai pembesar dunia pada masa itu. Di antara mereka ada tuanku—Amirul Mukminin Sultan Abu ‘Inan Faris al-Marini—lalu Sultan Mesir dan Syam, Sultan Irak, Sultan Uzbeg ini, Sultan Turkistan dan Ma Wara’ an-Nahr, Sultan India, dan Sultan Cina. Wilayah Sultan Uzbeg amat lebar. Kota-kotanya besar, dan namanya sering disebut oleh para pedagang dan musafir: Kaffa, Krimea, Majar, Azak, Suradak, Khawarizm. Adapun ibu kotanya bernama Saray, tempat pusat pemerintahan dan berkumpulnya para pembesar. Yang paling menonjol dari dirinya adal...

Perang Badar Kubra Bagian 4

Gambar
Wasiat Nabi ﷺ Menjelang Pertempuran Pagi itu, di dataran Badar yang sunyi, dua pasukan sudah saling mendekat. Debu berterbangan di cakrawala, sementara detak jantung para prajurit terdengar dalam diam. Di satu sisi, pasukan Quraisy datang dengan jumlah besar, perlengkapan lengkap, dan kuda-kuda yang gagah. Di sisi lain, kaum muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit, hampir tanpa kuda, berdiri teguh di posisi mereka, menanti perintah Rasulullah ﷺ. Sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah ﷺ berpesan kepada para sahabat dengan strategi yang sangat matang. Beliau bersabda: «لَا تَحْمِلُوا حَتَّى آمُرَكُمْ، وَإِنِ اكْتَنَفَكُمُ الْقَوْمُ فَانْضَحُوهُمْ بِالنَّبْلِ، وَلَا تَسُلُّوا السُّيُوفَ حَتَّى يَغْشُوكُمْ» “Janganlah kalian menyerang hingga aku perintahkan. Jika musuh telah mengepung kalian, hujani mereka dengan panah. Janganlah kalian menghunus pedang hingga mereka menyerbu kalian.” Dengan jumlah yang sedikit dan hampir tanpa kavaleri, kaum muslimin tidak mungkin melakukan serangan t...

Rihlah Ibnu Bathutah #50, Dari Krimea ke Azāq hingga Perkemahan Sultan: Kota Berjalan, Kuda Turki, dan Kemuliaan Tamu

Gambar
Dari Krimea Menuju Azāq: Hari-hari Menyeberangi Air dan Lumpur Aku meninggalkan kota di negeri al-Qرم (Krimea) setelah menempuh delapan belas etape perjalanan. Di hadapanku terbentang rintangan yang melelahkan: hamparan air luas yang harus kami seberangi seharian penuh. Air itu tampak “biasa” dari jauh, tetapi ketika rombongan hewan tunggangan dan kereta terus-menerus melintas, dasarnya berubah menjadi lumpur berat. Semakin banyak yang lewat, semakin pekat beceknya, dan semakin sulit kaki-kaki hewan melangkah. Melihat keadaan itu, amir yang memimpin perjalanan—Amir Taktamūr—mendatangiku. Ia menempatkanku di depan, dekat dirinya, bersama beberapa pelayan. Lalu ia menuliskan sebuah surat untukku kepada Amir Azāq: isinya menjelaskan bahwa aku hendak menghadap raja, serta memintanya agar memuliakanku. Surat itu seperti jembatan kehormatan; aku merasa perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga berpindah dari satu lingkaran kekuasaan ke lingkaran lainnya. Kami terus berjalan ...

Perang Badar Kubra Bagian 3

Gambar
Musyawarat-Musyawarat Bijak di Medan Badar Angin gurun berhembus pelan ketika pasukan kecil kaum Muslimin berhenti di sebuah lembah yang kelak dikenal dengan nama Badar. Mereka datang dari Madinah, lelah oleh perjalanan jauh, sementara di hadapan mereka, tanpa mereka lihat, pasukan besar Quraisy sedang berjalan mendekat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan pasukan berhenti di suatu titik. Di sanalah mereka menurunkan barang-barang, menyiapkan tenda-tenda sederhana, dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Di tengah kesibukan itu, datanglah seorang sahabat yang dikenal sangat cerdas dalam urusan perang, Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Khazraji. Ia mendekati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan penuh adab dan bertanya dengan hati-hati. “Wahai Rasulullah,” ujarnya, “bagaimana pendapat Anda tentang tempat singgah ini? Apakah ini tempat yang Allah tunjukkan kepada Anda, sehingga kita tidak boleh maju atau mundur darinya? Ataukah ini hanyalah pendapat,...