Rihlah Ibnu Bathutah #62 Di Balik Takhkta Sultan: Sebuah Pelajaran tentang Keteguhan, Kudeta, dan Penyesalan
Seorang Syaikh yang Istiqamah Di tengah hiruk-pikuk perkemahan Sultan, aku bertemu dengan seorang lelaki yang membuatku merenung. Ia adalah seorang syaikh—salah satu hamba Allah yang saleh—namun pakaiannya sangat memprihatinkan. Setiap hari kulihat ia mengenakan qabā (jubah) dari katun yang telah usang, robek di sana-sini, hanya berlapis kapas tipis. Di kepalanya, sebuah qalansuwah (topi) dari kain kempa yang nilainya tak lebih dari satu qirath, tanpa sorban. Suatu hari, aku tak tahan lagi. "Wahai Tuanku," kataku, "jubah yang Tuan kenakan ini sungguh tidak layak. Izinkanlah aku memberi Tuan pakaian yang lebih baik." Ia menatapku dengan mata teduh. "Wahai anakku," jawabnya lembut, "jubah ini bukan milikku. Ia milik putriku." Aku terkejut. Ia melanjutkan, "Aku telah berjanji kepada Allah sejak lima puluh tahun lalu untuk tidak menerima pemberian siapa pun. Seandainya aku mau menerima, tentu darimu lah pertama-tama akan aku terima....