Peristiwa Pada Tahun ke-2 H : Pengalihan Kiblat ke Ka'bah
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, kaum muslimin mulai membangun kehidupan baru. Di tengah suasana itu, Allah memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitul Maqdis (di arah Syam) ketika salat.
Perintah ini mengandung hikmah besar. Salah satunya adalah sebagai bentuk pendekatan kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya, agar hati mereka luluh dan mereka mau menerima kebenaran Islam. Nabi pun taat dan salat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan.
Namun, kenyataannya, orang-orang Yahudi tidak juga lembut hatinya. Bukan semakin dekat, mereka malah menjadikan arah kiblat Nabi sebagai bahan ejekan. Mereka berkata sinis:
“Dia menentang kami, tapi mengikuti kiblat kami?!”
Ucapan-ucapan seperti ini membuat Nabi bersedih. Di dalam hati beliau, ada kerinduan agar kiblatnya kembali kepada Ka'bah di Makkah, rumah ibadah pertama di bumi, kiblat Nabi Ibrahim, dan kebanggaan para leluhur beliau.
Beliau sering menengadah ke langit, berdoa dan berharap kepada Allah agar kiblat dipindahkan ke Ka'bah. Hingga datanglah jawaban dari langit. Allah menurunkan firman-Nya:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah diberi Kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat itu) adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 144)
Dengan ayat ini, doa Nabi dikabulkan. Kiblat salat pun dipindah dari Baitul Maqdis ke Ka'bah.
Para ulama berbeda pendapat tentang kiblat Nabi sebelum hijrah ketika di Makkah. Ada yang mengatakan beliau sudah menghadap Baitul Maqdis, tetapi tidak membelakangi Ka'bah; beliau berdiri di sisi Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara beliau dan arah Baitul Maqdis. Ada juga yang berpendapat bahwa di Makkah kiblat beliau hanya Ka'bah, lalu setelah hijrah baru diperintah menghadap Baitul Maqdis. Banyak ulama besar, di antaranya Ibn ‘Abdil Barr, menguatkan pendapat kedua ini. Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadis tentang Jibril yang mengimami Nabi pada pagi hari setelah malam Isra’ dan Mi'raj, ketika keduanya berdiri di depan pintu Ka'bah; posisi itu tidak memungkinkan menghadap Ka'bah dan Baitul Maqdis sekaligus.
Kapan Kiblat Dipindahkan?
Peristiwa pengalihan kiblat ini terjadi, menurut pendapat yang paling kuat, pada pertengahan bulan Rajab. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama dan diriwayatkan dengan sanad sahih dari Ibn ‘Abbas oleh Imam al-Hakim. Ada juga yang berpendapat bahwa perpindahan itu terjadi pada pertengahan Sya'ban, namun pendapat ini dinilai lemah.
Para ulama juga berbeda pendapat tentang salat apa yang pertama kali dikerjakan dengan menghadap Ka'bah: ada yang mengatakan Zuhur, ada yang mengatakan Asar. Jika berbagai riwayat dikumpulkan, lahirlah gambaran peristiwa yang indah dan utuh.
Di Masjid Dua Kiblat
Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari Madinah dan mengunjungi Ummu Basyir binti al-Barra’ bin Ma'rur di perkampungan Bani Salimah. Tuan rumah menyiapkan makanan untuk Nabi dan para sahabat. Ketika waktu Zuhur tiba, mereka pun berdiri untuk salat di masjid kecil di daerah itu.
Nabi mengimami salat dan para sahabat berada di belakang beliau, menghadap ke Baitul Maqdis sebagaimana biasa. Setelah dua rakaat pertama berlalu, tiba-tiba turunlah Jibril membawa wahyu dengan perintah baru: kiblat harus dipindahkan ke Ka'bah di Makkah.
Di tengah salat itu, Nabi langsung taat. Beliau berputar menghadap ke arah Ka'bah. Barisan sahabat di belakang beliau pun ikut berputar mengikuti imam mereka, masih dalam keadaan salat. Arah saf yang semula ke utara (Baitul Maqdis), berbalik menghadap selatan (Ka'bah).
Masjid itu kemudian terkenal dengan nama Masjid Dzul Qiblatain – “Masjid Dua Kiblat”. Hingga hari ini, masjid itu masih ada di dekat Madinah, dan di dalamnya ada penanda arah dua kiblat yang pernah dihadap para sahabat.
Menyebar ke Seluruh Kota
Setelah itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali ke Madinah. Ketika waktu Asar tiba, beliau salat di Masjid Nabawi dengan menghadap Ka'bah.
Seorang laki-laki yang ikut salat bersama Nabi lalu keluar dari masjid. Ia melewati sebuah masjid milik Bani Haritsah. Saat itu, mereka sedang salat dan masih menghadap ke Baitul Maqdis. Laki-laki itu berseru kepada mereka bahwa ia baru saja salat bersama Rasulullah dengan menghadap Ka'bah.
Tanpa menunggu lama, mereka langsung berputar dalam salat, mengubah arah dari Baitul Maqdis ke Ka'bah, sementara salat terus berlanjut. Pemandangan itu sangat mengesankan: seluruh jamaah berputar serentak, taat pada perintah Allah begitu berita sampai kepada mereka.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki — orang yang sama atau orang lain — pergi ke Masjid Quba, di pinggir Madinah. Ketika ia tiba, kaum muslimin di Quba sedang menunaikan salat Subuh dan masih menghadap ke Baitul Maqdis. Ia mengabarkan kepada mereka bahwa telah turun ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk menghadap Ka'bah. Seperti yang terjadi sebelumnya, mereka pun langsung memutar arah dalam keadaan salat, menghadap ke Ka'bah.
Dengan rangkaian peristiwa ini, seluruh riwayat yang datang dari berbagai sahabat dapat dipahami saling melengkapi. Di Bani Salimah terjadi perubahan kiblat di tengah salat Zuhur, di Masjid Nabawi pada salat Asar, lalu kabar itu menyebar ke masjid-masjid lain di Madinah dan sekitarnya.
Ejekan Orang Yahudi dan Jawaban Al-Qur'an
Sayangnya, orang-orang Yahudi tidak menerima perintah baru itu dengan lapang dada. Mereka justru memperbanyak celaan. Mereka berkata dengan nada merendahkan:
“Kenapa mereka berpaling dari kiblat yang dulu mereka pakai?”
Padahal di dalam kitab-kitab mereka sendiri telah ada kabar bahwa Nabi terakhir akan berpaling ke Ka'bah dan bahwa menghadap ke Baitul Maqdis hanyalah sementara.
Allah lalu menurunkan firman-Nya untuk menjawab ejekan ini, sekaligus mengangkat kedudukan umat Islam:
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ. وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا...
*“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, ‘Apa yang memalingkan mereka dari kiblat yang dahulu mereka berada di atasnya?’ Katakanlah, ‘Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.’
Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (wahai umat Islam) sebagai umat yang pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...”* (QS. Al-Baqarah: 142–143, bagian awal)
Di ayat berikutnya, Allah menjelaskan bahwa perubahan kiblat ini bukan tanpa tujuan. Ia adalah ujian untuk membedakan siapa yang benar-benar taat kepada Rasul dan siapa yang ragu dan berbalik ke belakang:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) engkau berada di atasnya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh (perintah memindahkan kiblat) itu terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143, bagian akhir)
Kata “iman” dalam ayat ini dijelaskan oleh para sahabat sebagai “salat kalian yang dulu dilakukan menghadap Baitul Maqdis”. Dengan ayat ini, hati kaum muslimin menjadi tenang. Mereka yang meninggal sebelum kiblat dipindahkan dan salat seumur hidupnya menghadap Baitul Maqdis tidaklah sia-sia. Semua tetap tercatat sebagai ibadah yang sah dan diterima di sisi Allah.
Penegasan Berulang tentang Kiblat Baru
Karena pengalihan kiblat ini adalah kasus penghapusan hukum (nasakh) pertama dalam Islam, dan karena orang-orang Yahudi serta kaum munafik berusaha menimbulkan keraguan di tengah kaum muslimin, Allah menegaskan perintah menghadap Ka'bah beberapa kali dalam ayat-ayat yang berdekatan.
Perintah pertama sudah kita baca dalam ayat:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ... (QS. Al-Baqarah: 144)
Kemudian Allah menegaskannya lagi:
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Dan dari mana saja engkau keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu benar-benar (datangnya) dari Tuhanmu. Dan Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 149)
Dan sekali lagi, untuk menghilangkan segala keraguan dan menutup pintu hujah para penentang:
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۚ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan dari mana saja engkau keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada alasan bagi manusia terhadapmu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, dan agar Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 150)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa arah kiblat bukanlah permainan manusia. Timur dan barat milik Allah. Dialah yang berhak menentukan ke mana wajah-wajah hamba-Nya diarahkan dalam ibadah.
Kesaksian Para Sahabat
Peristiwa agung ini juga diriwayatkan secara jelas oleh para sahabat. Di antaranya oleh al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. Ia bercerita bahwa ketika Nabi pertama kali tiba di Madinah, beliau tinggal di rumah kerabat dari pihak ibu beliau di kalangan Anshar.
Al-Bara’ menuturkan bahwa Nabi salat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Di dalam hati beliau, ada keinginan kuat agar kiblatnya adalah Ka'bah.
Ia juga menyebutkan bahwa salat pertama yang secara terang-terangan beliau salatkan menghadap Ka'bah di Madinah adalah salat Asar. Setelah beliau salat bersama para sahabat, seorang laki-laki keluar dari masjid dan melewati masjid Bani Haritsah. Di sana, jamaah sedang rukuk menghadap Baitul Maqdis.
Laki-laki itu berseru, “Demi Allah, aku baru saja salat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menghadap Ka'bah!” Maka jamaah masjid itu berputar seketika dalam keadaan salat, mengikuti arah kiblat baru.
Al-Bara’ juga menceritakan bahwa sebelum pemindahan kiblat, ada sahabat-sahabat yang gugur di medan perang atau wafat dalam keadaan masih menghadap Baitul Maqdis. Para sahabat yang hidup kemudian merasa bingung: bagaimana status salat mereka? Apakah Allah menerimanya? Kebingungan itu hilang ketika turun ayat:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143, bagian akhir)
Para sahabat memahami bahwa “iman” di sini maksudnya adalah salat-salat yang mereka kerjakan menghadap Baitul Maqdis. Dengan begitu, mereka yakin bahwa semua ketaatan yang telah dilakukan tidak ada yang hilang, karena Allah Maha Penyayang kepada para hamba-Nya.
Penutup: Karunia Menjadi Umat Berkiblat ke Ka'bah
Demikianlah, Allah menghendaki agar Nabi-Nya dan umat ini mendapatkan kemuliaan: pernah menghadap dua kiblat, lalu akhirnya dimantapkan menghadap ke Ka'bah, rumah pertama yang dibangun untuk manusia, penuh berkah dan petunjuk bagi seluruh alam, di dalamnya ada maqam Ibrahim, dan siapa pun yang memasukinya mendapatkan keamanan.
Penggalan kisah ini menunjukkan bagaimana Allah:
– Menguji ketaatan kaum muslimin.
– Mengangkat derajat mereka sebagai “umat pertengahan” yang menjadi saksi bagi manusia.
– Menjaga seluruh amal mereka, hingga tidak ada satu salat pun yang sia-sia.
Pada akhirnya, kita memuji Allah yang telah memilihkan bagi kita kiblat terbaik, dan menjadikan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai umat terbaik, meski orang-orang kafir dan Yahudi membencinya.
Sumber kisah:
As-Sîrah An-Nabawiyyah fî Dhau’il-Qur’ân was-Sunnah

Komentar
Posting Komentar