Rihlah Ibnu Bathutah #43 Perjalanan di Negeri Rum: Dari Milas hingga Bergama

Sultan Badruddin bin Qaraman turun dari kuda untuk menyambut musafir di luar gerbang kota Karaman, dengan rombongan pengawal dan suasana sore.

Di negeri Rum yang tanahnya hijau dan kota-kotanya bertabur zawiyah, aku berjumpa dengan banyak penguasa, ulama, serta para pemuda akhī yang menjadikan memuliakan tamu sebagai kehormatan. Perjalanan ini bermula dari Milas, lalu mengalir melewati Konya, Larandah, Aqsara, Nigde, Kayseri, Sivas, Amasya, Gümüşhane, Erzincan, Erzurum, hingga berakhir di Bergama.

________________________________________

Sultan Milas dan Ulama di Pintu Gerbang

Sultan yang kutemui di wilayah Milas adalah seorang raja yang mulia: Syuja’uddin Urkhan Bey bin Mentesha. Wajahnya rupawan, akhlaknya baik, dan majelisnya dekat dengan para ulama. Bahkan, di pintu gerbang kediamannya selalu ada sekelompok ulama yang menunggu, seakan istana itu memang dibangun bukan hanya untuk kekuasaan, tetapi juga untuk ilmu.

Di antara mereka ada seorang faqih dari Khawarizm. Ia dikenal menguasai banyak ilmu dan termasuk pribadi yang utama. Namun saat aku tiba, suasana tidak sepenuhnya tenang. Sultan sedang kesal kepada sang faqih. Rupanya, faqih itu pernah pergi ke kota Ayasuluk (Ephesus), mendatangi penguasanya, dan menerima hadiah darinya. Di mata Sultan, itu menimbulkan ganjalan.

Faqih itu memintaku menjadi perantara. Maka ketika aku bertemu Sultan, aku memuji faqih tersebut, menyebutkan ilmu dan keutamaannya sebagaimana yang kuketahui. Aku terus membujuk, hingga amarah itu pelan-pelan padam. Sultan pun kembali tenang. Setelah itu, ia berbuat baik kepada kami, memberi kendaraan dan bekal perjalanan—sebuah kebaikan yang membuat langkah kami terasa lebih ringan.

Tempat tinggal Sultan berada di kota Barcin, sebuah desa di wilayah Milas, hanya berjarak sekitar dua mil. Kota itu berdiri di bukit yang masih baru, bangunannya rapi, masjid-masjidnya indah. Di sana Sultan sedang membangun sebuah masjid jami’, tetapi bangunannya belum rampung.

Kami singgah di zawiyah milik seorang pemuda akhī bernama Akhi Ali. Setelah mendapat kebaikan Sultan seperti yang kusebutkan, kami pun bersiap melanjutkan perjalanan menuju Konya.

________________________________________

Konya: Kota Luas, Air Melimpah, dan Kisah Maulana

Konya adalah kota yang menyejukkan mata. Bangunannya indah, airnya banyak, sungai dan kebun tersebar di mana-mana, buah-buahan melimpah. Di sana ada aprikot yang disebut Qamaruddin, buah yang bukan hanya dinikmati penduduk setempat, tetapi juga diangkut hingga ke Mesir dan Syam.

Jalan-jalannya sangat luas, pasar-pasarnya tertata, dan para pengrajin memiliki kawasan masing-masing. Orang-orang menyebut kota ini dibangun oleh Iskandar (Alexander). Saat itu Konya termasuk wilayah Sultan Badruddin bin Qaraman, meskipun pernah juga dikuasai penguasa Irak (Ilkhanat) karena letaknya yang dekat.

Di Konya kami singgah di zawiyah qadhi kota itu, yang dikenal sebagai Ibnu Qalam Shah. Ia termasuk golongan pemuda akhī, dan zawiyahnya tergolong yang terbesar. Murid-muridnya banyak, dan mereka memiliki silsilah futuwwah yang bersambung hingga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Pakaian khas mereka berupa celana panjang (sirwal), sebagaimana para sufi memakai khirqah. Pelayanan sang qadhi juga sangat besar: ia bahkan mengutus putranya menemani kami masuk pemandian umum—sebuah bentuk penghormatan yang terasa hangat dan tulus.

Di kota ini pula ada makam seorang wali besar: Syaikh al-Imam ash-Shalih, Qutb Jalaluddin yang dikenal dengan panggilan Maulana. Makamnya dimuliakan. Di tanah Rum, ada orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya dan dikenal sebagai Al-Jalaliah. Di atas makamnya berdiri zawiyah besar yang menyediakan makanan bagi para pendatang.

Orang-orang bercerita tentang awal perjalanan Maulana. Konon, mulanya ia seorang faqih dan mudarris yang mengajar di madrasah Konya. Hingga suatu hari, seorang penjual manisan masuk membawa talam berisi potongan manisan, dijual sepotong demi sepotong.

Di tengah majelis pengajaran, sang Syaikh berkata, “Berikan talammu!”

Penjual itu pun memberikan sepotong. Syaikh mengambilnya dengan tangan dan memakannya. Penjual manisan itu keluar tanpa memberi orang lain sedikit pun. Yang mengejutkan, sang Syaikh justru bangkit, meninggalkan pengajaran, dan mengikuti penjual itu pergi. Para penuntut ilmu menunggu lama—dan ia tak kembali. Mereka mencarinya, tetapi bahkan tempat tinggalnya pun tak ditemukan.

Bertahun-tahun kemudian, ia datang kembali. Namun ia tidak mengajar seperti dulu. Ia mulai mengucapkan syair-syair Persia yang penuh hikmah dan sulit dipahami. Para murid mengikutinya, mencatat ucapannya, lalu menyusunnya menjadi kitab yang dinamakan Al-Matsnawi. Penduduk negeri itu sangat memuliakan kitab tersebut: mereka mempelajarinya, menganggapnya berharga, dan membacanya di zawiyah-zawiyah pada malam Jumat.

Di Konya juga ada makam Faqih Ahmad, yang disebut-sebut sebagai guru Jalaluddin.

Dari Konya, kami melanjutkan perjalanan menuju Al-Larandah.

________________________________________

Larandah: Sultan Badruddin dan Adab Para Raja

Al-Larandah (Karaman) adalah kota indah, airnya banyak, kebunnya luas. Penguasanya adalah Raja Badruddin bin Qaraman.

Diceritakan bahwa kota itu sebelumnya milik saudaranya, Musa. Lalu Musa menyerahkannya kepada Raja An-Nashir (Mamluk) sebagai ganti rugi, dan Raja mengirim amir beserta pasukan. Tetapi kemudian Sultan Badruddin menguasainya kembali, membangun istana, dan kekuasaannya pun stabil.

Aku bertemu Sultan Badruddin di luar kota ketika ia pulang berburu. Begitu aku turun dari tunggangan sebagai bentuk penghormatan, ia pun turun membalas penghormatan itu. Aku memberi salam, dan ia menghadapku dengan baik.

Di negeri itu ada kebiasaan yang kuat: bila pendatang turun dari kendaraannya untuk menghormati raja, maka raja juga turun untuknya. Itu dianggap memuliakan tamu. Tetapi bila seseorang memberi salam sambil tetap menunggang, para raja tidak menyukainya, bahkan bisa menjadi sebab tertutupnya pintu kebaikan.

Sultan Badruddin menanyakan kabar dan maksud kedatanganku. Aku masuk bersamanya ke kota. Ia memerintahkan agar aku ditempatkan di penginapan terbaik. Makanan, buah-buahan, dan manisan datang dalam jumlah banyak di atas nampan perak, bersama lilin. Ia juga memberikan pakaian, kendaraan, dan berbagai kebaikan lainnya. Kami tidak lama tinggal, lalu berangkat menuju Aqsara.

________________________________________

Aqsara, Nigde, dan Kayseri: Kota Air, Karpet, Tambang, dan Seorang Khatun Mulia

Aqsara adalah salah satu negeri Rum yang paling indah. Mata air mengalir dari segala penjuru, kebun melingkupi kota, dan tiga sungai membelahnya. Air bahkan mengalir ke rumah-rumah. Pohon-pohon dan tanaman anggur tumbuh subur.

Di kota ini dibuat permadani dari bulu domba yang sangat terkenal. Dari Aqsara karpet-karpet itu diangkut hingga Syam, Mesir, Irak, India, Cina, dan negeri-negeri Turki. Aqsara berada di bawah kekuasaan Raja Irak. Kami singgah di zawiyah As-Syarif Husain, wakil Amir Artana, yang memuliakan kami dengan kehormatan tinggi.

Dari sana kami menuju Nigde, kota besar yang sebagian bangunannya rusak. Sungai besar bernama An-Nahr Al-Aswar (Sungai Hitam) membelahnya, dengan tiga jembatan: satu di dalam kota, dua di luar. Noria-noria (roda air) mengairi kebun-kebun. Buah-buahan melimpah. Kami singgah di zawiyah Akhi Jaruq, yang juga seorang amir, dan tinggal tiga hari.

Lalu kami tiba di Kayseri, salah satu kota besar wilayah penguasa Irak, tempat pasukan Irak berada. Di sana tinggal salah seorang istri Amir Ala’uddin Artana: seorang khatun mulia yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Irak. Ia dipanggil Agha, artinya “yang besar”. Namanya Taghay Khatun.

Kami menemui Taghay Khatun. Ia berdiri menyambut, mengucapkan salam, berkata baik, lalu memerintahkan makanan. Setelah kami makan dan hendak pergi, ia mengirim seekor kuda lengkap bersadel, pakaian kehormatan, dan sejumlah dirham melalui pelayannya, sambil menyampaikan permintaan maaf—seolah pemberiannya masih kurang.

Di Kayseri kami juga singgah di zawiyah Akhi Amir Ali, seorang amir besar dari kalangan akhī. Zawiyahnya sangat baik: alas duduk rapi, lampu-lampu banyak, makanan melimpah. Para pembesar kota berkumpul setiap malam. Di negeri-negeri yang tidak memiliki sultan, akhī-lah yang memerintah: memberi kendaraan, pakaian, menetapkan perintah dan larangan, bahkan tata cara berkendara mereka teratur seperti raja.

________________________________________

Sivas: Dua Kelompok Akhī, Dar As-Siyadah, dan Pertemuan dengan Amir Artana

Kami lalu menuju Sivas, kota terbesar di wilayah Raja Irak, tempat tinggal para amir dan pejabat. Kota ini indah, jalan-jalannya luas, pasar-pasarnya penuh manusia.

Di Sivas ada bangunan seperti madrasah bernama Dar As-Siyadah, khusus untuk para syarif (keturunan Nabi). Naqib mereka tinggal di sana. Selama tinggal, semua kebutuhan disediakan: alas duduk, makanan, lilin, dan lainnya. Bahkan ketika hendak berangkat, mereka diberi tambahan.

Saat kami memasuki kota, pengikut pemuda Akhi Bıçakçı menyambut. Jumlah mereka banyak, ada yang berkuda, ada yang berjalan kaki. Setelah itu datang lagi pengikut Akhi Çelebi, akhī yang lebih tinggi kedudukannya. Mereka meminta agar aku singgah pada mereka, tetapi aku tidak bisa, karena yang pertama telah lebih dulu menyambut dan “mengikat” kami sebagai tamu. Kami masuk kota bersama rombongan-rombongan itu, masing-masing saling membanggakan diri. Kelompok pertama sangat gembira karena kami singgah pada mereka. Kami pun dijamu, dimandikan, diberi tempat tinggal, dan tinggal tiga hari dengan jamuan terbaik.

Kemudian qadhi kota datang bersama penuntut ilmu, dan bersama mereka Amir Ala’uddin Artana—wakil Raja Irak di negeri Rum. Kami berkendara bersamanya. Ia menyambut di serambi rumah, fasih berbahasa Arab, dan bertanya banyak hal tentang Irak, Isfahan, Shiraz, Kirman, Sultan Atabak, Syam, Mesir, serta para sultan Turkmen. Maksudnya seolah ingin mendengar pujian bagi yang dermawan dan celaan bagi yang kikir, tetapi aku tidak mengikuti itu. Aku memuji semuanya. Ia senang dan berterima kasih.

Ia menyuguhkan makanan dan berkata, “Kalian akan menjadi tamuku.” Namun Akhi Çelebi berkata, “Mereka belum singgah di zawiyahku. Biarkan mereka bersamaku, jamuanmu akan sampai kepada mereka.” Amir menyetujui. Maka kami pindah ke zawiyah Akhi Çelebi dan tinggal enam hari sebagai tamu zawiyah dan tamu Amir sekaligus.

Saat hendak berangkat, Amir mengirim kuda, pakaian, dirham, serta menulis surat kepada para wakilnya di berbagai negeri agar menjamu, memuliakan, dan memberi bekal kepada kami. Surat semacam itu seperti “kunci” yang membuka banyak pintu keramahan di sepanjang jalan.

________________________________________

Amasya dan Sunisa: Jejak Keturunan Ar-Rifa’i

Kami menuju Amasya, kota besar yang indah. Sungai-sungai mengalir di dalamnya, kebun dan pepohonan rindang, buah-buahan banyak. Noria-noria mengangkat air, mengairi taman dan rumah-rumah. Pasarnya luas, jalannya lapang. Kota ini juga berada di bawah penguasa Irak.

Di dekatnya ada kota Sunisa, milik penguasa Irak juga. Di sana tinggal keturunan wali Allah Abu Al-‘Abbas Ahmad Ar-Rifa’i. Di antara mereka ada Syaikh ‘Izzuddin yang memegang sajadah Ar-Rifa’i dan menjadi syaikh ar-riwaq, bersama saudara-saudaranya: Syaikh Ali dan Syaikh Yahya, putra-putra Syaikh Ahmad Kucuk bin Tajuddin Ar-Rifa’i. Kami singgah di zawiyah mereka dan menyaksikan keutamaan yang nyata pada diri mereka.

________________________________________

Gümüşhane: Kota Tambang Perak dan Jalan Menuju Timur

Perjalanan membawa kami ke Gümüşhane, kota besar milik Raja Irak yang ramai dan dikunjungi pedagang dari Irak dan Syam. Di sana ada tambang perak. Pada jarak dua hari ada gunung-gunung tinggi terjal yang tidak kudatangi. Kami singgah di zawiyah Akhi Majduddin dan tinggal tiga hari. Wakil Amir Artana datang mengirim jamuan serta bekal.

Dari sana kami tiba di Erzincan, kota besar yang ramai, juga wilayah penguasa Irak. Mayoritas penduduknya Armenia, sedangkan kaum Muslimin berbicara bahasa Turki. Pasar tertata baik. Di sana dibuat pakaian-pakaian indah yang terkenal. Ada tambang tembaga, dan mereka membuat peralatan serta biasis yang bentuknya menyerupai menara kecil seperti di negeri kami. Kami singgah di zawiyah Akhi Nizamuddin, salah satu zawiyah terindah, dan dijamu dengan sebaik-baiknya.

Kemudian kami menuju Erzurum. Kota ini luas lapangannya, tetapi banyak bagian rusak akibat fitnah antara dua kelompok Turkmen. Tiga sungai membelahnya. Di banyak rumah terdapat kebun, pepohonan, dan tanaman anggur.

Di sana kami singgah di zawiyah Akhi Tuman, seorang tua yang sangat lanjut usia. Dikatakan umurnya lebih dari seratus tiga puluh tahun. Aku melihatnya masih berjalan dengan kedua kaki, bertumpu pada tongkat, pikirannya tajam, shalat tepat waktu. Hanya satu yang melemah: ia tak sanggup berpuasa. Yang menggetarkan hatiku, ia sendiri melayani kami dalam urusan makanan. Anak-anaknya melayani kami ke pemandian.

Kami berniat berangkat pada hari kedua, tetapi ia menolak dan tampak berat hati. Ia berkata, “Jika kalian lakukan, kalian mengurangi hak penghormatanku. Setidaknya jamuan itu tiga hari.” Maka kami pun tinggal tiga hari, agar ia tenang dan haknya sebagai tuan rumah tetap utuh.

________________________________________

Bergama: Tamu di Kebun, lalu Kemuliaan Seorang Mudarris

Setelah itu kami berangkat menuju Bergama dan tiba setelah Ashar. Kami bertemu seorang lelaki penduduk setempat. Kami bertanya tentang zawiyah akhī di kota itu. Ia berkata akan menunjukkan, tetapi ternyata ia membawa kami ke rumahnya sendiri, yang berada di kebun miliknya.

Karena saat itu musim panas sangat terik, ia menempatkan kami di bagian atas atap rumah, di bawah keteduhan pepohonan. Ia membawakan aneka buah, menjamu dengan baik, memberi makan hewan tunggangan kami, dan kami pun bermalam di sana. Kebaikannya datang tanpa banyak tanya, seakan tamu memang harus dilayani, apa pun keadaan.

Kami mendengar di kota itu ada seorang mudarris yang utama bernama Muhyiddin. Ternyata tuan rumah kami adalah penuntut ilmu. Ia pun membawa kami ke madrasah.

Di sana, Mudarris Muhyiddin datang menunggang bagal gemuk, diapit mamluk dan pelayan di sisi-sisinya, serta para penuntut ilmu berjalan di depannya. Ia mengenakan pakaian indah bersulam emas. Kami mengucapkan salam. Ia menyambut baik, memegang tanganku, dan mendudukkanku di sampingnya.

Kemudian datang Qadhi ‘Izzuddin Farashtai—gelar yang berarti “raja”, karena agama, kesucian diri, dan keutamaannya. Ia duduk di sebelah kanan sang mudarris dan mengajar ilmu ushul dan furu’. Setelah selesai, ia membawaku ke sebuah ruangan di madrasah, memerintahkan agar disediakan alas, menempatkanku di sana, lalu mengirim jamuan yang lengkap.

Seusai Maghrib, seseorang diutus menjemputku. Aku mendatangi sang mudarris dan mendapati ia berada dalam majelis di kebunnya. Ada kolam air dengan aliran dari coran marmer putih, dipasangi ubin keramik qashani. Di hadapannya duduk para penuntut ilmu, sedangkan mamluk dan pelayan berdiri di kedua sisi. Ia duduk di atas permadani berhias pola-pola indah. Saat melihatnya, aku sempat mengira ia seorang raja.

Namun ia berdiri menyambutku, memegang tanganku, dan mendudukkanku di sampingnya. Makanan dihidangkan, kami makan, lalu kembali ke madrasah. Sebagian penuntut ilmu mengatakan kepadaku bahwa semua yang hadir malam itu memang tamu sang mudarris, karena kebiasaan mereka adalah datang setiap malam untuk makan malam di rumahnya.

Mudarris Muhyiddin kemudian menulis surat kepada Sultan tentang berita kedatangan kami dan memujiku di dalamnya. Sultan saat itu berada di sebuah gunung, menghabiskan musim panas di tempat yang sejuk, karena terik di bawah begitu menyengat. Begitulah kisah ini sampai di ujungnya: dari istana Sultan Milas yang penuh ulama, hingga kebun seorang mudarris di Bergama yang memuliakan tamu seperti memuliakan raja.

________________________________________

Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #43

Sumber Kisah

Rihlah Ibn Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi