Rihlah Ibnu Bathutah #45 : Perjalanan di Anatolia, Magnisia, Bergama, Balıkesir hingga Bursa
Di Maghnisiyyah: Hari Raya di Sisi Makam
Aku tiba di negeri Maghnisiyyah dan mendapati sultannya, Sarukhan, sedang duduk di sisi turbah putranya. Anak itu wafat beberapa bulan sebelumnya, dan pada malam hari raya serta pagi harinya, sang sultan bersama ibu si anak tetap berada di dekat makam, seolah-olah mereka belum sanggup berpisah dari kesedihan.
Yang kulihat di sana membuatku tertegun. Anak itu telah dikuburkan, tetapi jasadnya ditempatkan dalam peti kayu yang dibungkus besi bertimah, lalu peti itu digantung di dalam sebuah kubah tanpa atap. Mereka melakukan itu agar baunya hilang lebih dahulu. Setelah beberapa waktu, barulah kubah itu diberi atap. Petinya dibiarkan tampak di atas permukaan tanah, dan pakaian-pakaiannya diletakkan di atasnya. Aku pun menyaksikan, beberapa raja lain di negeri-negeri sekitar melakukan kebiasaan yang serupa.
Kami memberi salam kepada Sultan Sarukhan di tempat itu, lalu kami menunaikan salat Id bersamanya. Seusai salat, kami kembali ke zawiyah, berharap hari raya berjalan tenang.
Namun sebelum sore, sebuah urusan mengusik kami. Budak yang biasa menangani kuda-kudaku pergi bersama budak milik salah seorang sahabat untuk memberi minum hewan tunggangan. Mereka terlambat pulang. Menjelang sore, keduanya tidak juga tampak.
Di kota itu ada seorang fakih, guru, dan tokoh terpandang bernama Mushlih ad-Din. Ia menemaniku menghadap sultan, lalu kami melaporkan hilangnya dua budak itu. Sultan segera mengutus orang untuk mencari, tetapi hasilnya nihil. Orang-orang tengah sibuk dengan perayaan, dan suasana hari raya membuat urusan pencarian seakan terseret oleh keramaian.
Belakangan kami mengetahui, kedua budak itu ternyata menuju sebuah kota milik orang-orang kafir di tepi laut bernama Fūjah, kira-kira sehari perjalanan dari Maghnisiyyah. Negeri itu berbenteng kuat. Setiap tahun mereka mengirim hadiah kepada Sultan Maghnisiyyah, dan sang sultan menerimanya karena kokohnya pertahanan mereka.
Menjelang setelah zuhur, beberapa orang Turki datang membawa kedua budak itu beserta kuda-kudanya. Mereka mengatakan bahwa keduanya sempat lewat pada sore hari. Orang-orang Turki itu menekan dan memperkeras sikap kepada mereka, hingga akhirnya kedua budak itu mengaku: mereka memang berniat melarikan diri.
Aku menghela napas panjang. Di tanah rantau, kadang ujian datang bukan dari musuh yang terlihat, melainkan dari kelengahan orang-orang yang kita percaya.
________________________________________
Malam Bersama Kaum Turkmen: Bacaan Al-Baqarah dan Seekor Kuda yang Hilang
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Kami bermalam di tempat singgah suatu kaum Turkmen di padang gembalaan mereka. Malam itu kami bahkan tidak memperoleh pakan yang cukup untuk hewan tunggangan. Karena khawatir pencurian, para sahabat berjaga secara bergiliran.
Giliran jaga jatuh kepada fakih ‘Afif ad-Din at-Tūzarī. Aku mendengarnya membaca Surah Al-Baqarah dalam gelap malam, suaranya menembus sunyi. Aku berkata kepadanya, “Jika engkau hendak tidur, beritahukan aku agar aku melihat siapa yang berjaga.”
Aku pun terlelap. Tetapi saat fajar menyingsing dan aku bangun, ternyata para pencuri telah membawa lari seekor kuda—kuda yang biasa ditunggangi ‘Afif ad-Din—bersama pelana dan kekangnya. Kuda itu termasuk yang bagus; dulu aku membelinya di Ayāsulūq.
Saat itu aku merasakan getir yang khas dalam perjalanan jauh: kita bisa menjaga doa dan kewaspadaan, tetapi tak semua yang hilang bisa kembali.
________________________________________
Barghamah: Kota Rusak di Bawah Benteng Gunung
Keesokan harinya kami berangkat dan sampai di kota Barghamah (Bergama). Kota itu tampak rusak dan sepi, tetapi memiliki benteng besar yang sangat kokoh di puncak gunung—seolah-olah benteng itu tetap berdiri menjaga sesuatu yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.
Orang-orang mengatakan kepadaku bahwa Plato sang filsuf berasal dari kota ini, dan rumahnya masih dikenal dengan namanya sampai sekarang.
Kami singgah di zawiyah seorang fakir dari golongan Ahmadiyyah. Lalu salah seorang pembesar kota datang dan memindahkan kami ke rumahnya. Ia memuliakan kami dengan penghormatan besar, sebagaimana kebiasaan orang-orang mulia yang memuliakan tamu walau kota mereka sendiri sedang lesu.
________________________________________
Sultan Barghamah dan Jalan Pegunungan Menuju Balī Kasrī
Sultan Barghamah bernama Yakhshī Khān. Mereka menyebut kata Khān sebagai “sultan”, sedangkan Yakhshī bermakna “baik”.
Kami berjumpa dengannya di tempat peristirahatan musim panas. Ketika ia mendengar kabar kedatangan kami, ia mengirim jamuan, dan juga sehelai kain qudsī dari Barghamah menuju Kīnūk.
Sesudah itu kami menyewa seorang penunjuk jalan, lalu menempuh rute yang melewati pegunungan tinggi dan terjal, hingga akhirnya kami tiba di kota Balī Kasrī (Balıkesir).
Balī Kasrī adalah kota yang indah, bangunannya banyak, pasarnya bagus. Namun ada sesuatu yang mengherankan: kota itu tidak memiliki masjid jami‘ tempat orang berkumpul. Mereka hendak membangun masjid jami‘ di luar kota, masih tersambung dengannya. Dinding-dindingnya sudah berdiri, tetapi atapnya belum dibuat. Mereka salat di sana di bawah naungan pepohonan, seakan alam menjadi serambi sementara bagi rumah Allah yang belum sempurna.
Kami singgah di zawiyah al-fatā akhī Sinān, seorang tokoh terbaik di sana. Qadhi kota itu dan khatibnya—fakih Mūsā—datang menemui kami.
________________________________________
Sultan Balī Kasrī: Pakaian Sutra dan Seorang Budak Perempuan Rum
Sultan Balī Kasrī bernama Damūr Khān. Aku menyaksikan bahwa tidak tampak kebaikan padanya. Ayahnya yang membangun kota itu, dan pada masa anak ini kota itu semakin ramai—tetapi keramaian tidak selalu berarti keberkahan. Aku menemuinya, dan ia mengirim kepadaku sehelai pakaian sutra.
Di kota ini pula aku membeli seorang budak perempuan Rum (Bizantium) bernama Marghalīzhah. Setelah urusan itu selesai, aku bersiap melanjutkan perjalanan menuju kota yang lebih besar.
________________________________________
Bursa: Pemandian Air Panas, Zawiyah Musafir, dan Malam ‘Asyūrā’
Kami berjalan hingga sampai di kota Bursā (Bursa). Kota ini besar dan agung. Pasarnya bagus, jalan-jalannya lapang, dan kebun-kebun mengelilinginya dari segala arah. Air mengalir dari mata-mata air, membuat kota itu terasa hidup.
Di luar kota ada sungai dengan air yang sangat panas, mengalir ke sebuah kolam besar. Di atasnya dibangun dua bangunan: satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Orang-orang sakit berobat dengan pemandian air panas itu; mereka datang dari berbagai pelosok negeri. Di sana juga ada zawiyah untuk para pendatang: musafir dapat menginap dan diberi makan selama tiga hari. Zawiyah itu dibangun oleh salah seorang raja Turkmen—sebuah kebaikan yang tetap mengalir meski sang pembangun telah lama berlalu.
Kami singgah di Bursa di zawiyah al-fatā akhī Syams ad-Dīn, seorang pemuka para fityān. Kami tiba tepat pada hari ‘Asyūrā’. Pada malamnya, Syams ad-Dīn memasak makanan sangat banyak dan mengundang para pemuka tentara serta penduduk kota. Mereka berbuka puasa di tempatnya. Para qari membaca dengan suara indah, dan suasana malam menjadi penuh getar.
Hadir pula seorang fakih penceramah bernama Majd ad-Dīn al-Qūnawī. Nasihatnya tajam namun menyejukkan; ia memperingatkan tanpa mematahkan, dan mengajak tanpa menghardik. Orang-orang menyebutnya termasuk orang saleh: ia berpuasa terus-menerus dan hanya berbuka setiap tiga hari sekali; ia tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya sendiri. Bahkan dikatakan ia tak pernah memakan makanan pemberian siapa pun. Ia tak memiliki rumah, tak memiliki harta selain penutup tubuhnya, dan ia tidak tidur kecuali di pekuburan. Banyak orang bertobat melalui perantara nasihatnya.
Setelah malam itu, aku berusaha mencarinya tetapi tidak menemukan. Aku juga mendatangi pekuburan, tetap tidak menemukannya. Orang-orang berkata, ia biasa datang ke sana setelah semua terlelap.
Pada malam ‘Asyūrā’ itulah terjadi peristiwa yang mengguncang hati. Majd ad-Dīn berceramah menjelang akhir malam. Tiba-tiba seorang fakir berteriak sangat keras hingga pingsan. Mereka menyiramnya dengan air mawar, tetapi ia tidak sadar. Mereka ulangi lagi, namun tetap tak sadar. Orang-orang berselisih: ada yang mengatakan ia telah meninggal, ada yang berkata ia hanya pingsan.
Majd ad-Dīn meneruskan ucapannya. Para qari tetap membaca. Kami salat Subuh, matahari terbit. Ketika mereka memeriksa orang itu, ternyata ia benar-benar telah wafat—semoga Allah merahmatinya.
Mereka segera memandikan dan mengafaninya. Aku termasuk yang menghadiri salat jenazahnya dan pemakamannya. Fakir itu bernama as-Sayyāḥ, artinya “si penjerit”. Mereka menceritakan bahwa ia beribadah di sebuah gua di gunung dekat sana. Setiap kali ia mendengar Majd ad-Dīn akan berceramah, ia turun dan menghadirinya. Ia tidak pernah memakan makanan pemberian siapa pun. Bila mendengar nasihat itu, ia berteriak lalu pingsan; setelah sadar, ia berwudu dan salat dua rakaat. Lalu ketika mendengar lagi, ia berteriak lagi—berulang pada malam yang sama. Karena itulah ia dijuluki “penjerit”.
Ia juga cacat pada tangan dan kakinya sehingga tak sanggup bekerja. Ia memiliki seorang ibu yang menafkahinya dari hasil pintalannya. Setelah ibunya wafat, ia hidup dari tumbuh-tumbuhan bumi. Kisahnya membuatku mengingat betapa ragamnya jalan orang-orang menuju Allah: ada yang tenang, ada yang berguncang; ada yang tertahan air mata, ada yang pecah dalam teriakan.
Di Bursa pula aku bertemu seorang syekh saleh bernama ‘Abdullāh al-Miṣrī as-Sā’iḥ, seorang pengembara. Ia telah menjelajahi banyak negeri, hanya saja ia tidak memasuki Cina, tidak pula Pulau Sarandīb, tidak pula Maghrib, Andalusia, dan negeri-negeri Sudan. Dalam hal luasnya perjalanan, aku melebihinya karena aku telah memasuki wilayah-wilayah itu.
Dan aku pun kembali menyadari: panjangnya langkah tidak selalu berarti tingginya derajat, tetapi setiap perjalanan—jika dijaga niatnya—bisa menjadi jalan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah pada manusia, kota, dan zaman.
________________________________________
Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #45
Sumber kisah
Tuhfat an-Nuzzār fī Gharā’ib al-Amṣār wa ‘Ajā’ib al-Asfār

Komentar
Posting Komentar