Rihlah Ibnu Bathutah #46 : Di Bursa–Iznik, Bertemu Sultan Orhan, Tersesat di Salju, Diselamatkan Zawiyah
Jejak Perjalanan di Negeri Sultan Bursa
Di negeri Bursa, yang memegang tampuk kekuasaan adalah Sultan Ikhtiyâruddin Urkhân Bek, putra Sultan ‘Utsmân—leluhur yang kelak dinisbatkan kepada para sultan Bani ‘Utsmân (Utsmani). Urkhân dikenal sebagai raja terbesar di kalangan Turkmen: paling luas wilayahnya, paling banyak hartanya, dan paling kuat pasukannya.
Konon, ia memiliki hampir seratus benteng. Namun ia tidak menjadikan istana sebagai tempat menetap lama. Hampir setiap waktu ia berkeliling dari benteng ke benteng, tinggal beberapa hari di tiap tempat untuk menata urusan, memeriksa keadaan, lalu berpindah lagi. Orang-orang bahkan berkata: ia tidak pernah tinggal genap sebulan penuh di satu tempat. Ia terus bergerak, memerangi pihak-pihak yang dianggap kafir, mengepung kota demi kota.
Ayahnya, Sultan ‘Utsmân, ialah orang yang merebut Bursa dari tangan Romawi (Bizantium). Makamnya ada di masjid Bursa—dan masjid itu, pada masa sebelumnya, adalah gereja orang Nasrani. Dikisahkan pula bahwa ‘Utsmân pernah mengepung sebuah kota bernama Bartîk hampir dua puluh tahun, tetapi wafat sebelum kota itu terbuka. Setelah itu, Urkhân melanjutkan pengepungan selama dua belas tahun, sampai akhirnya kota itu jatuh.
Di kota yang baru dikuasainya itulah Ibnu Battutah bertemu Sultan Urkhân. Sang sultan mengirim kepadanya uang dirham dalam jumlah besar. Lalu, perjalanan pun berlanjut menuju sebuah kota lain.
________________________________________
Kota di Tengah Danau: Yaznîk
Dari sana rombongan bergerak ke Yaznîk (Iznik). Sebelum sampai, mereka bermalam di sebuah desa bernama Karla, di zawiyah (semacam rumah singgah) milik seorang pemuda dari kelompok Akhiyyah. Keesokan harinya mereka menempuh perjalanan sehari penuh, menyusuri aliran-aliran air yang di kanan-kirinya tumbuh pohon delima—ada yang manis, ada yang masam.
Lalu tampak sebuah danau yang dipenuhi tumbuhan gelagah. Danau itu kira-kira berjarak delapan mil dari Yaznîk. Yang membuatnya menakjubkan, danau itu hampir tidak bisa dimasuki kecuali melalui satu jalan sempit seperti jembatan, yang bahkan hanya muat untuk satu penunggang kuda. Danau mengelilingi kota dari segala arah, menjadi pelindung alami.
Namun kota itu sendiri seperti kota yang ditinggalkan. Penduduknya hanya sedikit—kebanyakan pelayan sultan. Di sana tinggal istri sultan, Bayûn Khâtûn, yang memegang pemerintahan setempat. Ia digambarkan sebagai perempuan yang salehah dan utama.
Kota itu memiliki empat lapis tembok. Di antara dua tembok selalu ada parit berisi air. Pintu masuknya melalui jembatan-jembatan kayu yang bisa diangkat kapan saja, sehingga kota mudah ditutup rapat bila ada ancaman.
Meski penduduknya jarang, bagian dalam kota terasa “hidup” untuk ukuran tempat yang sepi: ada kebun, rumah, lahan, dan ladang. Setiap orang memiliki rumah dan kebun yang berdekatan, airnya dari sumur-sumur yang dekat. Buah-buahan melimpah, walnut banyak, kastanye sangat murah dan berlimpah, dan anggur ‘Ażârî disebut luar biasa: manis sekali, besar, jernih warnanya, kulitnya tipis, dan tiap butir hanya berbiji satu.
Ibnu Battutah tinggal di rumah seorang fakih bernama ‘Alâ’uddin as-Sulthânîyûkî, seorang yang amat dermawan. Setiap kali dikunjungi, ia selalu menyajikan makanan. Ia juga ikut mengantar Ibnu Battutah menemui Bayûn Khâtûn, dan sang khâtûn menyambut dengan jamuan dan penghormatan.
Beberapa hari kemudian, Sultan Urkhân sendiri datang ke Yaznîk. Ibnu Battutah menetap sekitar empat puluh hari di sana karena seekor kudanya sakit. Ketika sakit kuda itu tak kunjung membaik, ia terpaksa meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan bersama tiga sahabat, seorang jariyah, dan dua pemuda pelayan. Masalah besar muncul: penerjemah mereka sudah berpisah di Yaznîk. Mereka melangkah tanpa orang yang bisa menjembatani bahasa Turki.
________________________________________
Musibah di Lembah Suqri dan Penyeberangan Aneh
Rombongan keluar dari Yaznîk dan bermalam di desa Makjâ, di rumah seorang fakih yang memuliakan mereka. Setelah itu, mereka berjalan mengikuti jejak seorang perempuan Turki yang menunggang kuda bersama seorang pelayan. Perempuan itu menuju kota Yinjah, dan rombongan memilih mengikuti arah yang sama.
Di tengah jalan mereka tiba di lembah besar bernama Suqri. Perempuan itu mencoba menyeberang. Saat sudah di tengah, kudanya nyaris tenggelam, ia terlempar. Pelayan yang bersamanya masuk untuk menolong, tetapi arus menyeret keduanya. Orang-orang di seberang nekat berenang mengejar. Mereka berhasil mengangkat sang perempuan—napasnya masih tersisa tipis—tetapi si pelayan ditemukan sudah wafat.
Orang-orang memberi tahu bahwa tempat penyeberangan ada lebih ke bawah. Ketika mereka sampai, penyeberangannya ternyata sangat sederhana: hanya empat papan kayu yang diikat kuat. Di atas papan itu diletakkan pelana dan barang. Lalu papan itu ditarik dari seberang oleh para lelaki, sementara orang-orang menumpang di atasnya. Adapun hewan-hewan menyeberang dengan berenang. Begitulah mereka melewati sungai.
Malam itu mereka sampai ke Kâwiyah dan menginap di zawiyah Akhiyyah. Di sana kesulitan bahasa membuat mereka seperti orang tersesat di tengah keramaian. Mereka bicara Arab, tak dipahami. Tuan rumah bicara Turki, mereka pun tak mengerti. Akhirnya dipanggillah seorang “fakih” yang katanya mengerti Arab. Ternyata ia tidak mengerti juga.
Anehnya, fakih itu menutup rasa malunya dengan akal: ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Persia yang kira-kira bermakna, “Mereka ini bicara Arab lama, sedangkan aku hanya tahu Arab baru.” Pemuda Akhiyyah percaya begitu saja. Dampaknya justru menguntungkan: mereka diperlakukan sangat mulia, sebab dianggap membawa “bahasa Arab lama”, bahasa Nabi dan para sahabat.
Ibnu Battutah menuturkan, saat itu ia belum paham kalimat Persia tersebut. Namun ia menghafalnya, dan setelah kelak ia mempelajari bahasa Persia, barulah ia menangkap maksud sebenarnya: itu hanya alasan untuk menyelamatkan muka.
________________________________________
Kota Yinjah, Kabnûk, dan Musim Salju yang Menghapus Jalan
Dari Kâwiyah mereka dikirim menuju Yinjah. Mereka mencari zawiyah Akhiyyah di sana, dan bertemu seorang fakir yang tampak “mabuk rohani”. Ia hanya bisa menjawab satu kata Arab: “na‘am” (ya). Mereka sempat senang karena mengira akhirnya menemukan orang yang paham Arab, namun segera sadar: hanya itu yang ia tahu.
Mereka tetap menginap di zawiyah. Seorang pelajar datang membawa makanan, walau sang Akhî tidak ada di tempat. Pelajar itu baik hati: ia berbicara kepada wakil penguasa setempat, lalu menyediakan seorang penunggang kuda untuk mengantar rombongan ke Kabnûk.
Kabnûk adalah kota kecil yang penduduknya orang-orang Romawi non-Muslim yang hidup dalam perlindungan pemerintahan Muslim. Di sana hanya ada satu rumah Muslim—mereka menjadi penguasa setempat. Saat itu musim dingin dan salju turun. Rombongan menginap di rumah seorang perempuan tua non-Muslim. Mereka bersikap baik kepadanya, dan ia menyambut dengan membawa safron dalam jumlah banyak, mengira mereka pedagang yang hendak membelinya.
Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Muṭarnî (Matrani). Malam sebelumnya salju turun lebat sampai menghapus jejak jalan, sehingga arah menjadi sulit dibaca. Mereka sempat singgah di kampung Turkmen dan makan, lalu seorang lelaki menuntun mereka melewati jalur yang berat: bukit-bukit, tempat terjal, dan sungai yang harus diseberangi berulang kali—lebih dari tiga puluh kali.
Setelah keluar dari medan berat itu, penuntun meminta upah dirham. Ibnu Battutah berkata akan membayar ketika sampai kota. Si penuntun tidak mau—entah karena tidak setuju atau karena tidak paham. Ia sempat mengambil busur salah seorang sahabat sebagai tekanan, lalu mengembalikannya setelah diberi sedikit uang. Namun setelah menerima uang itu, ia justru kabur meninggalkan rombongan di tengah hamparan salju.
Mereka tersesat. Dalam sisa cahaya senja, mereka mencari-cari tanda jalan yang tertimbun salju. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah bagian gunung berbatu; di situ jalan sedikit terlihat karena batu-batu menonjol. Ibnu Battutah dilanda ketakutan: jika salju turun lagi pada malam hari, tak ada permukiman, tak ada arah. Turun dari tunggangan berarti membeku, tapi berjalan malam tanpa tahu arah juga berarti mempertaruhkan nyawa.
Ia punya seekor kuda yang sangat bagus. Ia memutuskan keluar mencari pertolongan. Dalam hatinya ia berharap: bila ia selamat dan menemukan orang, ia bisa kembali menolong sahabat-sahabatnya. Ia pun menitipkan mereka kepada Allah dan berangkat seorang diri.
Di wilayah itu, ada kebiasaan yang membuatnya berkali-kali tertipu: penduduk membangun bangunan kayu di atas kuburan. Dari jauh tampak seperti rumah, tetapi saat didekati ternyata makam. Malam makin pekat. Setelah Isya, ia melihat sekumpulan bangunan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini tempat yang benar-benar berpenghuni.” Ketika didekati, ternyata memang ada orang.
Ia menemukan pintu sebuah rumah, dan ada seorang syekh di sana. Ia berbicara Arab, syekh menjawab Turki dan mempersilahkannya masuk. Ibnu Battutah mencoba menjelaskan keadaan sahabat-sahabatnya, tetapi syekh tidak mengerti. Ternyata rumah itu adalah zawiyah untuk para fakir, dan syekh itu pemimpinnya.
Ketika para fakir di dalam mendengar ucapannya, beberapa keluar—dan di antara mereka ada yang mengenal Ibnu Battutah. Dengan cepat ia meminta bantuan. Mereka segera bergerak menjemput sahabat-sahabatnya yang tertinggal di tengah dingin, lalu membawa semuanya ke zawiyah. Mereka memuji Allah atas keselamatan itu.
Malam itu adalah malam Jumat. Warga desa berkumpul, menghidupkan malam dengan zikir, dan masing-masing membawa makanan semampunya. Beban perjalanan yang tadi mencekik, mendadak terasa ringan karena kehangatan manusia dan pertolongan yang datang tepat waktu.
________________________________________
Muṭarnî dan Penerjemah yang “Aneh”
Keesokan paginya, rombongan berangkat dan tiba di Muṭarnî bertepatan dengan waktu salat Jumat. Mereka singgah di zawiyah Akhiyyah; banyak musafir berkumpul di sana. Namun mereka kebingungan karena tidak menemukan tempat mengikat hewan. Salju dan dingin membuat mereka gelisah.
Di situlah mereka bertemu seorang haji setempat yang bisa bahasa Arab. Ibnu Battutah gembira—akhirnya ada jembatan bahasa. Haji itu menjelaskan bahwa pintu-pintu rumah di kota tersebut kecil, sehingga hewan tak bisa dimasukkan. Ia lalu menunjukkan sebuah serambi beratap di pasar tempat para musafir biasa mengikat hewan. Mereka mengikat hewan di sana, dan salah seorang sahabat menjaga di kios kosong yang berhadapan.
Ada kejadian lucu. Ibnu Battutah menyuruh seorang pelayan membeli jerami, dan seorang lagi membeli samin (mentega cair). Yang pertama pulang membawa jerami. Yang kedua pulang tanpa apa-apa sambil tertawa. Ia bercerita: di pasar mereka meminta “samin”, penjual meminta mereka menunggu, menerima uang, lalu datang membawa jerami—dan menganggap itulah “samin”. Ternyata dalam bahasa Turki setempat, jerami disebut “samin”, sementara mentega cair disebut “rabâgh”.
Karena merasa sangat membutuhkan penerjemah, mereka membujuk si haji untuk ikut bersama menuju Qasṭamûnîyah. Ibnu Battutah memakaikannya baju Mesir, memberinya bekal untuk keluarga, menyediakan tunggangan, dan menjanjikan kebaikan.
Namun perjalanan bersama haji ini berubah menjadi ujian akhlak. Dari luar ia tampak berharta dan punya piutang pada banyak orang, tetapi tabiatnya rendah. Ia suka mengambil keuntungan dari uang belanja rombongan: dari sisa roti ia membeli bumbu dan sayuran, lalu menyimpan selisihnya untuk diri sendiri. Ia bahkan mengaku mencuri dari uang nafkah. Karena rombongan tidak mengerti bahasa Turki, mereka terpaksa menahannya.
Lama-lama ia “ketahuan”. Mereka mulai menyindirnya setiap sore, “Wahai haji, berapa yang kau curi hari ini dari belanja?” Ia menjawab apa adanya, mereka menertawakan, dan perjalanan pun tetap berjalan—dengan rasa jengkel yang dipaksa ditelan.
Kelakuannya makin keterlaluan. Di suatu tempat, seekor kuda rombongan mati. Haji itu sendiri yang menguliti kulitnya dan menjualnya. Di tempat lain mereka menginap di rumah saudara perempuannya. Perempuan itu menjamu makanan dan buah kering: pir, apel, aprikot, dan persik—semua direndam dulu sampai lembut, lalu dimakan, dan air rendamannya diminum.
Rombongan ingin membalas kebaikannya dengan memberi sesuatu. Tetapi si haji berkata, “Jangan beri dia apa pun. Berikan itu padaku.” Mereka memberinya agar suasana tidak rusak, tetapi diam-diam mereka tetap memberi sang perempuan, tanpa sepengetahuan haji tersebut.
Begitulah kisah itu berakhir: sebuah perjalanan yang penuh jamuan dan pertolongan, tetapi juga sarat salah paham bahasa, tersesat di salju, diselamatkan para fakir di zawiyah, dan diuji oleh penerjemah yang ternyata tidak amanah.
________________________________________
Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #46
Sumber kisah:
Tuhfat an-Nuzzār fī Gharā’ib al-Amṣār wa ‘Ajā’ib al-Asfār

Komentar
Posting Komentar