Rihlah Ibnu Bathutah #44 : Bertemu Sultan Muhammad bin Aydin di Anatolia

Ilustrasi majelis Sultan Muhammad bin Aydin di istana Turki abad ke-14, dengan kolam tengah berjaga patung singa tembaga dan Ibnu Battutah duduk bersama para ulama serta pembesar istana.

Di Negeri Sultan Barkah

Di antara raja-raja yang pernah kutemui, termasuk salah satu yang paling mulia dan dermawan adalah Sultan Muhammad bin Aydin, penguasa wilayah Barkah dan sekitarnya.

Panggilan dari Sultan dan Perjuangan Sang Guru

Kedatanganku di negerinya terlebih dahulu diketahui oleh seorang guru dan faqih yang mulia, Muhyiddin – semoga Allah membalas kebaikannya. Dialah yang mengirim kabar kepada Sultan tentang kehadiranku. Begitu menerima berita itu, Sultan segera mengutus wakilnya untuk memintaku datang menghadap.

Namun sang guru memberi isyarat kepadaku agar aku tetap tinggal dulu, menunggu panggilan kedua. Saat itu beliau sedang menderita borok di kakinya, hingga tidak mampu menunggang kuda dan terpaksa berhenti mengajar. Tak lama kemudian, datang lagi utusan Sultan yang kedua kalinya, memintaku menghadap.

Hal itu membuat sang guru merasa berat. Ia berkata kepadaku,

“Aku tidak bisa menunggang kuda, padahal keinginanku adalah ikut bersamamu agar aku dapat menjelaskan kepada Sultan apa saja hakmu yang pantas engkau terima.”

Lalu ia memaksakan diri. Ia membalut kakinya dengan kain, kemudian menunggang kuda tanpa memasukkan kakinya ke sanggurdi. Aku pun menunggang bersama beliau, demikian pula para sahabatku dan sahabat-sahabatnya. Kami mendaki sebuah gunung melalui jalan yang telah dipahat dan diratakan, sampai akhirnya kami tiba di tempat Sultan pada waktu zuhur.

Kami berhenti di tepi sebuah sungai, di bawah naungan pohon-pohon kenari yang rindang. Di sana aku mengetahui bahwa Sultan sedang diliputi kegelisahan, karena putra bungsunya, Sulaiman, telah melarikan diri menuju iparnya, Sultan Urkhan Bey. Namun meski dalam keadaan sibuk dan risau, ketika berita tentang kedatangan kami sampai kepadanya, beliau tetap menunjukkan kemuliaan akhlaknya.

Ia mengutus dua orang pembesarnya, Khidhr Bey dan ‘Umar Bey, untuk datang kepada kami. Keduanya menyampaikan salam kepada sang faqih atas perintah Sultan, dan juga salam khusus untukku. Mereka menanyakan keadaanku dan tujuan perjalananku, lalu mereka pun kembali.

Rumah Tamu di Atas Gunung dan Malam yang Sangat Dingin

Sultan kemudian mengutus sebuah “rumah” untukku, yang mereka sebut khirqah (kerkha). Rumah itu terbuat dari rangka kayu yang disusun menyerupai kubah, dilapisi kain felt (kain wol tebal). Di bagian atasnya ada lubang untuk masuknya cahaya dan udara, mirip tenda badhanj, dan bisa ditutup bila diperlukan.

Mereka membawa alas, membentangkannya, lalu sang faqih duduk di dalam bersama aku. Para sahabatku dan sahabat sang faqih duduk di luar, di bawah naungan pohon kenari. Udara di tempat itu sangat dingin. Malam itu, karena dingin yang begitu menusuk, salah satu kudaku mati.

Keesokan harinya, sang guru, meskipun sakit, tetap menunggang kuda menemui Sultan dan membicarakan urusanku sesuai dengan kebiasaan beliau yang dermawan dan membela tamunya. Setelah beberapa lama, ia kembali kepadaku dan mengabarkan bahwa Sultan ingin kami menghadap bersama.

Pertemuan Pertama dengan Sultan Muhammad bin Aydin

Kami pun mendatangi kediaman Sultan. Kami mendapati beliau sedang berdiri. Kami memberi salam, lalu sang faqih duduk di sebelah kanannya, dan aku duduk di sebelah sang faqih. Sultan menanyakan keadaanku, tujuan perjalananku, dan bertanya tentang negeri-negeri yang telah kulalui: Hijaz, Mesir, Syam, Yaman, dua Irak (Irak ‘Arab dan ‘Ajam), serta negeri-negeri Ajam lainnya.

Setelah itu, makanan dihidangkan. Kami makan bersama. Saat berpisah, beliau mengirimkan kepada kami beras, tepung, dan minyak samin yang diletakkan di dalam perut kambing sebagai wadah. Demikianlah kebiasaan orang-orang Turki. Dalam keadaan seperti itu kami tinggal beberapa hari; setiap hari Sultan mengutus orang untuk mengundang kami ke jamuan makannya.

Pada suatu hari, setelah waktu zuhur, Sultan justru datang kepada kami di tempat kami. Sang faqih duduk di tempat paling depan majelis, aku di sebelah kirinya, dan Sultan duduk di sebelah kanan sang faqih. Demikianlah tingginya kedudukan para fuqaha (ahli fikih) di mata orang Turki.

Di majelis itu Sultan memintaku menuliskan beberapa hadis Rasulullah ﷺ untuknya. Aku pun menuliskannya pada saat itu. Sang faqih langsung memperlihatkan tulisan itu kepada Sultan, lalu beliau memerintahkan agar dijelaskan dan diterangkan maknanya dalam bahasa Turki.

Ketika beliau bangkit dan keluar, beliau melihat para pelayannya sedang memasak makanan untuk kami di bawah naungan pohon kenari, tetapi tanpa lauk dan sayuran yang layak. Seketika itu juga beliau memerintahkan agar bendaharanya dihukum, dan beliau mengirimkan rempah-rempah serta minyak samin untuk memperbaiki hidangan kami.

Bosan di Atas Gunung dan Pemberian Sultan

Kami tinggal cukup lama di gunung itu, hingga aku mulai diliputi kebosanan dan ingin melanjutkan perjalanan. Sang faqih pun merasakan hal yang sama. Ia kemudian mengirim kabar kepada Sultan bahwa aku ingin berangkat.

Keesokan harinya, Sultan mengutus wakilnya datang kepadaku. Ia berbicara dengan sang guru dalam bahasa Turki—saat itu aku belum memahami bahasa tersebut. Setelah percakapan itu selesai, utusan itu pergi. Sang guru lalu menoleh kepadaku dan berkata,

“Tahukah kamu apa yang baru saja dikatakannya?”

Aku menjawab, “Aku tidak tahu.”

Beliau berkata, “Sultan mengutusnya untuk bertanya kepadaku, ‘Apa yang harus kuberikan kepadanya (Ibnu Battutah)?’ Lalu aku menjawab, ‘Dia sudah memiliki emas, perak, kuda, dan budak. Berikan saja apa yang engkau suka dari semua itu.’”

Utusan itu kembali menghadap Sultan, lalu datang lagi kepada kami dan berkata,

“Sultan memerintahkan agar kalian tetap tinggal di sini hari ini. Besok kalian akan turun bersamanya ke rumahnya di kota.”

Keesokan harinya, Sultan mengirimkan kepadaku seekor kuda yang bagus dari tunggangannya sendiri. Lalu beliau turun dari gunung, dan kami ikut bersamanya menuju kota. Penduduk keluar menyambutnya; di antara mereka ada qadi yang telah kusebut di tempat lain dan para tokoh lainnya. Sultan masuk ke rumahnya, dan kami menyertainya hingga di depan pintunya.

Aku dan sang guru kemudian menuju madrasah, tetapi Sultan memanggil kami dan memerintahkan kami untuk masuk bersamanya ke dalam rumahnya.

Para Pemuda Rum dan Majelis Singa Tembaga

Ketika kami sampai di serambi rumah, aku melihat sekitar dua puluh pelayan dengan rupa sangat tampan. Mereka mengenakan pakaian sutra, rambut mereka rapi terbelah di tengah, dan warna kulit mereka putih bercahaya bercampur kemerahan.

Aku bertanya kepada sang faqih, “Siapa wajah-wajah tampan ini?”

Beliau menjawab, “Mereka adalah pemuda-pemuda Rum (Bizantium).”

Kami kemudian naik bersama Sultan melalui banyak anak tangga sampai ke sebuah majelis yang sangat indah. Di tengah majelis itu ada sebuah kolam air. Di setiap sudutnya terdapat patung singa dari tembaga yang memancarkan air dari mulutnya. Di sekeliling majelis berjajar dipan-dipan yang saling bersambung dan telah dialasi dengan indah. Di atas salah satu dipan itulah terdapat tempat duduk khusus untuk Sultan.

Namun ketika kami sampai di sana, Sultan menggeser sendiri tempat duduknya dengan tangannya, lalu duduk bersama kami di atas dipan yang sama. Sang faqih duduk di sebelah kanannya, qadi di sebelah sang faqih, dan aku duduk di sebelah qadi. Para qari’ (pembaca Al-Qur’an) duduk di bagian bawah dipan. Para qari’ ini tidak pernah meninggalkan Sultan di mana pun majelisnya berada. Di mana beliau duduk, di situ pula suara Al-Qur’an dilantunkan.

Jamuan Jullah dan Pujian kepada Sang Faqih

Setelah kami duduk, para pelayan membawa nampan-nampan dari emas dan perak yang penuh dengan jullah, yaitu minuman manis yang telah dilarutkan, dicampur perasan air lemon, dan di dalamnya ditaburkan potongan-potongan kecil kue. Di dalam nampan itu terdapat sendok-sendok emas dan perak.

Mereka juga membawa nampan-nampan lain dari porselen Tiongkok berisi minuman yang sama, tetapi sendoknya terbuat dari kayu. Orang yang ingin lebih berhati-hati dan menjauh dari kemewahan menggunakan nampan porselen dan sendok kayu itu.

Di hadapan Sultan, aku pun berbicara, mengucapkan terima kasih kepadanya, dan memuji sang faqih dengan sungguh-sungguh, menyebutkan keutamaannya. Pujian itu membuat Sultan kagum dan senang.

Tabib Yahudi dan Amarahku

Ketika kami sedang duduk bersama Sultan, datanglah seorang syekh yang mengenakan sorban dengan untaian di atasnya. Ia memberi salam kepada Sultan. Qadi dan sang faqih berdiri untuk menyambutnya. Ia naik dan duduk di hadapan Sultan di atas dipan, sedangkan para qari’ tetap duduk di bawah.

Aku bertanya kepada sang faqih, “Siapa syekh ini?”

Beliau tertawa dan diam. Aku mengulang pertanyaanku. Lalu beliau berkata,

“Ini seorang Yahudi, tabib. Kita semua membutuhkannya. Karena itu kamu lihat kami berdiri untuk menghormatinya.”

Mendengar itu, hatiku dipenuhi rasa marah dan jijik. Aku berkata kepada si Yahudi,

“Wahai yang terkutuk, anak dari yang terkutuk! Bagaimana engkau berani duduk di atas para pembaca Al-Qur’an, padahal engkau seorang Yahudi?!”

Aku mencacinya dengan suara keras. Sultan heran dan bertanya apa maksud ucapanku. Sang faqih pun menjelaskan kepada beliau. Si Yahudi pun marah dan keluar dari majelis dalam keadaan paling hina.

Ketika kami hendak beranjak pergi, sang faqih berkata kepadaku,

“Bagus, semoga Allah memberkatimu. Tidak ada orang selainmu yang berani menegurnya seperti itu. Sungguh engkau telah membuatnya sadar diri.”

Batu dari Langit

Di majelis ini pula, Sultan bertanya kepadaku,

“Pernahkah kamu melihat batu yang jatuh dari langit?”

Aku menjawab, “Aku belum pernah melihatnya dan belum pernah mendengar tentang itu.”

Beliau berkata, “Sungguh, di luar negeri kami ini pernah jatuh sebuah batu dari langit.”

Beliau memanggil beberapa orang dan memerintahkan mereka membawa batu itu. Mereka pun datang membawa sebuah batu hitam pekat, sangat keras, berkilau, dan berat. Aku memperkirakan beratnya sekitar satu qintar.

Sultan kemudian memerintahkan agar didatangkan para pemotong batu. Empat orang tukang batu hadir. Beliau menyuruh mereka memukul batu itu dengan palu besi, dan mereka memukulnya bersamaan dengan empat pukulan keras. Namun batu itu tidak memperlihatkan sedikitpun bekas pukulan! Aku sangat heran melihatnya. Sultan lalu memerintahkan agar batu itu dikembalikan ke tempat semula.

Jamuan Besar, Bacaan Al-Qur’an, dan Hadiah-hadiah

Pada hari ketiga sejak kami masuk kota bersama Sultan, beliau mengadakan sebuah jamuan besar. Beliau mengundang para fakir, para syekh, para pembesar pasukan, dan tokoh-tokoh penduduk kota. Mereka semua makan bersama. Para qari’ membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan menyentuh hati.

Setelah jamuan, kami kembali ke tempat kami di madrasah. Setiap malam, Sultan mengirimkan makanan, buah-buahan, manisan, dan lilin kepada kami.

Suatu hari, beliau mengirimkan kepadaku seratus mitsqal emas, seribu dirham perak, satu set pakaian lengkap, seekor kuda, dan seorang budak Rum bernama Mikhail. Kepada setiap sahabatku, beliau juga mengirimkan pakaian dan dirham.

Semua itu sampai kepadaku melalui perantaraan sang guru, Muhyiddin – semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Setelah itu, kami pun berpamitan dan berangkat melanjutkan perjalanan. Masa tinggal kami bersama Sultan, baik di gunung maupun di kota, adalah empat belas hari.

Kota Tirah dan Pemuda yang Selalu Berpuasa

Dari Barkah, kami menuju kota Tirah, sebuah kota di wilayah kekuasaan Sultan ini. Tirah adalah kota yang bagus, memiliki sungai-sungai, kebun-kebun, dan buah-buahan yang melimpah.

Kami singgah di sebuah zawiyah milik seorang pemuda bernama Muhammad, salah satu orang shaleh terkenal di kota itu. Ia dikenal sebagai orang yang senantiasa berpuasa dan memiliki banyak pengikut yang berjalan di atas jalannya. Ia menjamu kami dengan baik dan mendoakan kami.

Ayasluk dan Masjid yang Indahnya Tiada Tanding

Perjalananku kemudian berlanjut menuju kota Ayasluk, sebuah kota besar yang kuno, diagungkan oleh orang-orang Rum. Di dalam kota ini terdapat sebuah gereja besar yang dibangun dari batu-batu besar, panjang salah satunya bisa mencapai sekitar sepuluh hasta atau kurang, dipahat dengan pahatan yang sangat indah.

Masjid Jami’ di kota ini termasuk salah satu masjid terindah di dunia. Menurut penglihatanku, tidak ada tandingannya dalam hal keindahan. Dahulu bangunan ini adalah gereja agung milik orang-orang Rum yang mereka agungkan dan mereka datangi dari berbagai penjuru negeri. Setelah kota ini ditaklukkan oleh kaum Muslimin, bangunan itu dijadikan masjid jami’.

Dindingnya terbuat dari marmer berwarna-warni, lantainya dari marmer putih, dan atapnya dilapisi timah. Di dalamnya ada sebelas kubah yang bentuknya beragam. Di tengah setiap kubah terdapat sebuah kolam air. Sebuah sungai kecil membelah masjid itu, dan di kedua sisinya tumbuh berbagai jenis pepohonan, tanaman anggur yang merambat, dan pergola melati. Masjid ini memiliki lima belas pintu.

Penguasa kota Ayasluk adalah Khidhr Bey, putra Sultan Muhammad bin Aydin. Aku pernah melihatnya ketika ia bersama ayahnya di Barkah. Lalu aku menemuinya lagi di luar kota Ayasluk. Ketika itu aku memberi salam kepadanya dalam keadaan masih berada di atas kudaku. Rupanya ia tidak menyukai hal itu. Kebiasaan mereka, jika seorang pendatang turun dari kendaraannya untuk menghormati mereka, maka mereka juga akan turun menyambutnya, dan itu yang mereka sukai.

Karena aku tidak turun dari kuda, ia tidak terlalu memerhatikanku. Ia hanya mengirim satu helai pakaian dari sutra bersulam emas, yang mereka sebut nakh. Di kota ini aku membeli seorang budak perempuan Rum yang masih perawan dengan harga empat puluh dinar emas.

Yazmir, Zawiyah Syaikh Ya’qub, dan Kedermawanan ‘Umar Bey

Setelah itu, kami berjalan menuju Yazmir (Izmir), sebuah kota besar di tepi pantai. Sebagian besar kotanya adalah reruntuhan. Kota ini memiliki sebuah benteng yang bagian atasnya saling terhubung satu sama lain.

Kami singgah di zawiyah Syaikh Ya’qub, seorang dari tarekat Ahmadiyah, lelaki yang shaleh dan utama. Di luar kota, kami bertemu dengan Syaikh ‘Izzuddin bin Ahmad ar-Rifa’i, bersama seorang syekh besar bernama Zad al-Akhlathi, dan sekitar seratus orang fakir dari kalangan muwallahin, yaitu orang-orang yang diliputi cinta kepada Allah.

Amir Ikhya’, semacam pemimpin sosial, telah menyediakan jamuan untuk mereka. Syaikh Ya’qub juga mengadakan jamuan yang aku hadiri, dan aku duduk bersama mereka dalam majelis dzikir dan makan bersama.

Penguasa kota Yazmir adalah ‘Umar Bey bin Sultan Muhammad bin Aydin, yang telah kusebutkan sebelumnya. Ia tinggal di bentengnya. Ketika kami datang, ia sedang bersama ayahnya. Setelah lima hari kami tinggal di Yazmir, barulah ia tiba.

Di antara kemuliannya, ia datang sendiri menemuiku di zawiyah, memberi salam kepadaku, dan meminta maaf karena keterlambatannya. Ia mengirimkan sebuah jamuan besar untuk kami. Setelah itu ia memberiku seorang budak Rum berusia lima tahun bernama Niqula, serta dua helai pakaian dari kamkha, sejenis pakaian sutra mewah yang dibuat di Baghdad, Tabriz, Naisabur, dan Tiongkok.

Faqih yang menjadi imam dan pendamping amir itu memberitahuku bahwa amir ‘Umar tidak memiliki budak lagi selain budak yang ia berikan kepadaku itu, karena begitu dermawannya ia – semoga Allah merahmatinya.

Kepada Syaikh ‘Izzuddin, amir memberikan tiga ekor kuda yang lengkap dengan perlengkapannya, sebuah bejana besar dari perak yang mereka sebut misyrabah (wadah minuman) yang penuh berisi dirham, pakaian dari malf (kain wol tipis), mar’az (kain dari bulu domba), qasi (kain sutra halus), kamkha, serta beberapa budak perempuan dan pelayan.

‘Umar Bey adalah seorang amir yang dermawan, shaleh, dan banyak berjihad. Ia memiliki armada kapal-kapal perang yang digunakannya untuk menyerang wilayah-wilayah sekitar Konstantinopel Agung. Ia menawan banyak orang dan mendapat ghanimah (harta rampasan perang), lalu ia habiskan harta itu karena kedermawanan dan kemurahan hatinya, kemudian kembali lagi berjihad. Serangannya sangat memberatkan orang-orang Rum.

Mereka pun melaporkan hal itu kepada Paus. Lalu Paus memerintahkan orang-orang Nasrani dari Genoa dan Prancis untuk memeranginya. Mereka mempersiapkan pasukan dari Romawi dan menyerang kotanya pada malam hari dengan banyak kapal perang. Mereka berhasil menguasai pelabuhan dan kota.

Amir ‘Umar turun dari bentengnya dan bertempur melawan mereka hingga gugur syahid bersama sekelompok pengikut setianya. Orang-orang Nasrani pun menetap di kota itu, tetapi mereka tidak sanggup menguasai benteng karena sangat kuat dan kokoh.

Mughnisiyah di Senja Hari Arafah

Dari Yazmir kami berangkat menuju kota Mughnisiyah. Kami tiba di sana pada petang hari Arafah dan singgah di zawiyah milik seorang lelaki dari kalangan fityan (para pemuda). Mughnisiyah adalah sebuah kota besar dan indah, terletak di kaki gunung. Datarannya dipenuhi sungai-sungai kecil, mata air, kebun-kebun, dan aneka buah-buahan.

Di sana aku kembali merenungi perjalanan panjangku, betapa Allah membukakan untukku pintu-pintu negeri, perjumpaan dengan para raja, para ulama, dan para wali-Nya, serta berbagai keajaiban yang tidak akan pernah kulupakan sepanjang hayatku.

________________________________________

Peta Rihlah Ibnu Bathutah #44

Sumber Kisah

Tuhfatu an-Nuẓẓār fī Gharāʾibi al-Amṣār wa ʿAjāʾibi al-Asfār


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi