Menelusuri jejak emas Sejarah Peradaban Islam. Kisah inspiratif Nabi dan Rasul, Sirah Nabawiyah, Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, hingga kejayaan Daulah Islamiyah.
Daftar Isi
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Klik tombol panah untuk melihat daftar isi selengkapnya.
Sebuah Bantahan atas “Fitnah Besar” Isu bahwa “Islam disebarkan dengan pedang” telah lama menjadi senjata retoris musuh-musuh Islam. Mereka menuduh bahwa orang masuk Islam bukan karena pilihan dan keyakinan, tetapi karena paksaan dan ancaman senjata. Mereka menjadikan konsep jihad sebagai bukti, lalu menyimpulkan: Islam adalah agama kekerasan. Lebih jauh lagi, sebagian misionaris dan orientalis membandingkannya dengan Kristen. Mereka berkata: “Lihat, Muhammad menyeru kepada perang dan jihad, artinya memaksa manusia dengan pedang agar masuk Islam. Sedangkan agama Kristen menolak perang, membenci pertumpahan darah, menyeru kepada damai dan kasih.” Tulisan ini hendak menelusuri, benarkah tuduhan itu? Ataukah ia hanyalah sebuah fitnah besar yang diulang-ulang hingga tampak seolah-olah kebenaran? ________________________________________ Jihad Bukan Paksaan Masuk Islam Hal pertama yang perlu diluruskan adalah perbedaan antara jihad dan pemaksaan agama. Jihad dalam Islam disyariatkan bukan un...
Kisah Sultan Lar dan Perjalanan Panjang Sang Pengelana Di sebuah kota, aku singgah di negeri yang dipimpin seorang sultan bernama Jalaluddin, seorang Turkmen. Dari kejauhan aku mendengar kabar tentangnya: ia mengirimkan jamuan untuk kami, seakan ingin memuliakan musafir yang lewat. Namun anehnya, meski jamuan itu sampai, aku tidak sempat bertemu dengannya, bahkan tidak melihat wajah sang sultan sama sekali. Seperti angin: jejaknya terasa, tetapi sosoknya tak tampak. Tak lama kemudian rombongan yang kuikuti kembali bergerak. Kami menuju sebuah kota bernama Khunjubal. Di sana ada seorang tokoh yang menjadi tujuan utama kunjunganku: Syaikh Abu Dalf. Kami pun menginap di zawiyah miliknya, sebuah tempat singgah bagi orang-orang yang mencari ilmu, ketenangan, dan barakah. Zawiyah yang Sederhana, Tuan yang Luar Biasa Saat pertama kali aku masuk, mataku langsung menangkap sosok seorang syaikh yang duduk menyendiri di salah satu sudut, langsung di atas tanah. Pakaiannya sederhana: jubah wol hij...
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, kaum muslimin mulai membangun kehidupan baru. Di tengah suasana itu, Allah memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitul Maqdis (di arah Syam) ketika salat. Perintah ini mengandung hikmah besar. Salah satunya adalah sebagai bentuk pendekatan kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya, agar hati mereka luluh dan mereka mau menerima kebenaran Islam. Nabi pun taat dan salat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Namun, kenyataannya, orang-orang Yahudi tidak juga lembut hatinya. Bukan semakin dekat, mereka malah menjadikan arah kiblat Nabi sebagai bahan ejekan. Mereka berkata sinis: “Dia menentang kami, tapi mengikuti kiblat kami?!” Ucapan-ucapan seperti ini membuat Nabi bersedih. Di dalam hati beliau, ada kerinduan agar kiblatnya kembali kepada Ka'bah di Makkah, rumah ibadah pertama di bumi, kiblat Nabi Ibrahim, dan kebanggaan para leluhur beliau. Beliau sering mene...