Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain

Gambar
Tanah Suci di Tengah Teluk Di tengah perairan biru Teluk Persia, tersembunyi sebuah kepulauan yang oleh bangsa Sumeria dan Akkadia kuno disebut  Dilmun  (atau Tilmun). Namun, Dilmun bukan sekadar titik di peta. Ia adalah  tanah yang diselimuti aura kesucian , tempat di mana para dewa bersemayam, dan surga dalam imajinasi manusia Mesopotamia kuno. Apa yang membuat Dilmun begitu istimewa? Mari kita telusuri jejaknya. Dilmun dalam Catatan Kerajaan Mesopotamia Nama Dilmun muncul berulang kali dalam prasasti kerajaan-kerajaan besar Mesopotamia. Penguasa  Gudea  dari Lagash (sekitar 2100 SM) menyebut Dilmun bersama Magan sebagai sumber kayu untuk pembangunan kuil. Raja  Sargon dari Akkadia  (sekitar 2300 SM) mencantumkan Dilmun dalam daftar wilayah taklukannya.  Raja Sanherib  (Sanharib) dari Asyur, setelah menghancurkan Babilonia, mengirim utusan ke raja Dilmun dengan dua pilihan: tunduk kepada Asyur atau mengalami kehancuran. Raja D...

Penaklukan Baitul Maqdis

Gambar
Perjalanan Umar bin Khattab ke Syam Tahun 15 H   Abu Ja'far bin Jarir menyebutkan peristiwa ini pada tahun ini berdasarkan riwayat Saif bin Umar. Ringkasan dari apa yang ia dan sejarawan lainnya sebutkan adalah bahwa setelah Abu Ubaidah selesai dengan urusan Damaskus, ia menulis surat kepada penduduk Ilia (Baitul Maqdis). Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam, membayar jizyah (pajak perlindungan), atau jika menolak, maka akan dilakukan perang. Mereka menolak ajakan tersebut, sehingga Abu Ubaidah berangkat bersama pasukannya dan menunjuk Said bin Zeid sebagai wakilnya di Damaskus. Abu Ubaidah kemudian mengepung Baitul Maqdis dan mempersempit ruang gerak mereka hingga akhirnya mereka bersedia untuk berdamai, dengan syarat bahwa yang menerima penyerahan tersebut haruslah Amirul Mukminin Umar bin Khattab sendiri. Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar mengenai hal ini. Umar kemudian bermusyawarah dengan para sahabat. Utsman bin Affan menyarankan agar Umar tidak pergi agar penduduk Il...

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Gambar
Perdagangan Kuno antara Bahrain dan Mesopotamia Sekitar tahun  2000 sebelum Masehi , para pedagang dari kota kuno  Ur  (di Mesopotamia, Irak selatan) sudah menjalin hubungan dagang yang erat dengan  Bahrain . Mereka bahkan membangun armada kapal khusus untuk mengangkut barang dagangan. Namun, hubungan ini sebenarnya sudah berlangsung lebih awal.  Raja Sargon dari Akkadia  (sekitar 2300 SM) dikabarkan telah menguasai Bahrain dan Qatar. Kemudian sekitar tahun 1750 SM, Bahrain berada di bawah kekuasaan sebuah suku bernama  Agarum  (atau Ajarum)—sebuah nama yang mirip dengan "Ajaram" atau "Hajar", yang oleh sebagian peneliti dihubungkan dengan kota  Hajar  (kawasan Al-Ahsa di Arab Saudi timur). Suku ini membayar upeti kepada raja Asyur  Esarhaddon . Mengapa Bahrain begitu penting? Karena kepulauan ini—yang dalam sumber-sumber Mesopotamia kuno disebut  Dilmun —merupakan  pusat transit perdagangan  antara India, Afrik...

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Gambar
BAB KETIGA: PENAKLUKAN PADA MASA PEMERINTAHANNYA Penaklukan di Syam Tahap Kedua Penaklukan di negeri Syam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab merupakan tahap kedua dari rangkaian penaklukan di wilayah tersebut. Adapun tahap pertama terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Berikut adalah perinciannya: Pemberhentian Khalid dari Jabatan Panglima: Umar menulis surat mengenai wafatnya Ash-Shiddiq kepada para panglima di Syam melalui Syaddad bin Aus bin Tsabit al-Anshari dan Mahmiyah bin Zanim. Keduanya tiba saat kaum muslimin sedang berhadapan dengan pasukan Romawi dalam Perang Yarmuk. Umar menetapkan Abu Ubaidah sebagai panglima tertinggi angkatan perang saat ia menjabat sebagai khalifah dan memberhentikan Khalid bin Walid. Salama bin al-Fadhl meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq bahwa Umar memberhentikan Khalid dikarenakan adanya ucapan yang sampai kepadanya mengenai Khalid, serta terkait masalah Malik bin Nuwairah dan metode yang ia gunakan dalam peperangan. Maka, ...

Jejak Peradaban Kuno di Jazirah Arab: Menelusuri Zaman Batu hingga Perunggu

Gambar
Mengapa Peninggalan Kuno Sulit Bertahan? Bayangkan Anda meninggalkan sebuah alat rumah tangga di tengah padang pasir yang panas terik, diterpa angin kencang, dan tanpa perlindungan. Berapa lama alat itu akan bertahan? Tidak lama. Itulah tantangan terbesar para arkeolog yang ingin mengungkap sejarah kuno Jazirah Arab. Sebagian besar wilayah Arab adalah  dataran terbuka dan gurun . Tanahnya tidak ramah bagi pelestarian benda-benda kuno. Tulang belulang manusia dan hewan cepat hancur. Benda-benda dari kayu, kulit, atau anyaman lenyap ditelan zaman. Maka, tidak heran jika peneliti  tidak boleh berharap banyak  menemukan "harta karun" berupa artefak kuno di dataran rendah yang terbuka. Harapan mereka justru tertuju pada: Lembah-lembah  yang menyimpan air dan kehidupan Dataran rendah yang dialiri sungai kecil, mata air, dan sumur Dataran tinggi dan pegunungan  yang memiliki gua-gua, curah hujan, dan bebatuan yang dapat menyimpan jejak...