Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain

Lukisan pemandangan pulau Bahrain kuno (Dilmun) sekitar tahun 2500 SM. Di latar depan, sebuah kuil batu megah dengan dinding kokoh dan sumur suci berbentuk persegi di tengah halaman. Beberapa orang berpakaian tradisional Mesopotamia dan Arab Timur berdiri dengan tenang di dekat sumur, membawa bejana tanah liat untuk mengambil air berkah. Di latar belakang, tampak beberapa kapal kayu bersandar di dermaga, laut biru kehijauan, serta gundukan makam berbentuk setengah lingkaran (tumuli) yang tersebar di padang pasir. Pohon palem dan langit cerah dengan awan putih. Suasana tenang, sakral, dan penuh kemegahan sejarah.

Tanah Suci di Tengah Teluk

Di tengah perairan biru Teluk Persia, tersembunyi sebuah kepulauan yang oleh bangsa Sumeria dan Akkadia kuno disebut Dilmun (atau Tilmun). Namun, Dilmun bukan sekadar titik di peta. Ia adalah tanah yang diselimuti aura kesucian, tempat di mana para dewa bersemayam, dan surga dalam imajinasi manusia Mesopotamia kuno.

Apa yang membuat Dilmun begitu istimewa? Mari kita telusuri jejaknya.


Dilmun dalam Catatan Kerajaan Mesopotamia

Nama Dilmun muncul berulang kali dalam prasasti kerajaan-kerajaan besar Mesopotamia. Penguasa Gudea dari Lagash (sekitar 2100 SM) menyebut Dilmun bersama Magan sebagai sumber kayu untuk pembangunan kuil. Raja Sargon dari Akkadia (sekitar 2300 SM) mencantumkan Dilmun dalam daftar wilayah taklukannya. Raja Sanherib (Sanharib) dari Asyur, setelah menghancurkan Babilonia, mengirim utusan ke raja Dilmun dengan dua pilihan: tunduk kepada Asyur atau mengalami kehancuran. Raja Dilmun memilih tunduk dan mengirim upeti yang berharga. Demikian pula, Raja Asyurbanipal mencantumkan Dilmun sebagai salah satu daerah yang tunduk kepadanya.

Dari prasasti-prasasti ini, jelas bahwa Dilmun bukanlah kerajaan yang lemah—ia cukup disegani sehingga para penguasa besar merasa perlu menaklukkannya atau setidaknya menerima upeti darinya.


Dilmun sebagai Tempat Suci dan Surga dalam Mitos

Yang lebih menarik daripada politik adalah dimensi spiritual Dilmun. Prasasti-prasasti Sumeria menggambarkan Dilmun sebagai tanah yang suci, murni, dan abadi. Dalam mitos Enki dan Ninhursag, Dilmun digambarkan sebagai tempat di mana:

  • Tidak ada penyakit dan kematian
  • Burung gagak tidak bersuara
  • Singa tidak menerkam
  • Serigala tidak memangsa anak domba
  • Tidak ada kesedihan dan duka

Ini adalah gambaran surga dalam kepercayaan Sumeria. Bahkan, beberapa ahli menghubungkan konsep "Taman Eden" (Jannah 'Adn) dalam Taurat dengan Dilmun—terletak di wilayah timur Jazirah Arab, di pesisir Teluk Persia.

Para arkeolog menemukan kuil-kuil kuno di Bahrain yang berasal dari sekitar 3000 SM (atau lebih tua). Salah satu yang terkenal adalah Kuil Barbar (Bar Bar) di Bahrain. Ciri khas kuil ini adalah adanya sumur suci yang digunakan untuk mengambil air berkah, membersihkan diri, dan melakukan ritual keagamaan. Tradisi sumur suci ini mirip dengan sumur Zamzam di Makkah—menunjukkan bahwa konsep air suci sudah mengakar sejak ribuan tahun sebelum Islam.


Dewa Inzak: Tanda Hubungan Erat dengan Mesopotamia

Salah satu dewa utama Dilmun adalah Inzak (atau Enzak). Menariknya, dewa ini juga disembah di Mesopotamia selatan, dan kuil-kuil didirikan atas namanya. Ini adalah bukti kuat adanya migrasi budaya dari Dilmun ke Irak, atau sebaliknya.

Selain itu, mitos Gilgames (raja Uruk yang mencari keabadian) juga menyebutkan perjalanannya ke "tanah kehidupan" yang sering dikaitkan dengan Dilmun. Hubungan budaya antara Mesopotamia dan Bahrain sudah terjalin sangat erat sejak milenium ketiga SM.


Apakah Dilmun Hanya Bahrain? Atau Lebih Luas?

Sebagian besar ahli sepakat bahwa Dilmun adalah Kepulauan Bahrain (kini Negara Bahrain). Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Dilmun mencakup juga pantai timur Jazirah Arab yang berhadapan dengan Bahrain (sekitar Al-Ahsa dan Qatar). Mengapa?

  • Jarak yang disebut dalam prasasti Sargon hampir sama dengan jarak Bahrain dari muara Sungai Efrat.
  • Pliny the Elder (penulis Romawi) menyebut pulau Tylos (Tylus) sebagai pusat mutiara, dengan kota bernama sama. Tylos adalah nama Yunani-Romawi untuk Bahrain. Di dekatnya ada pulau kecil Aradus (mungkin Muharraq). Pantai di seberangnya dihuni oleh suku Gerrha (Gerhaens), yang kotanya Gerrha terletak di sekitar Al-Ahsa atau dekat Teluk.
  • Deskripsi ini tepat menggambarkan Bahrain dan pantai timur Saudi saat ini.

Sebagian kecil ahli berpendapat Dilmun adalah Pulau Qesym di Iran, tetapi pendapat mayoritas tetap pada Bahrain.


Perdagangan: Tembaga, Kayu, Mutiara, dan Rempah

Dilmun bukan hanya tanah suci, tetapi juga pusat perdagangan dunia pada zamannya. Apa saja komoditas yang diperdagangkan?

  • Tembaga dari Oman (disebut Magan) —tembaga Oman sangat terkenal dan diekspor ke seluruh Mesopotamia.
  • Kayu dari India dan Afrika—kayu langka untuk membangun istana dan kuil.
  • Mutiara dari perairan Teluk—Bahrain sudah terkenal dengan mutiaranya sejak ribuan tahun lalu.
  • Emas, perak, batu mulia, rempah, dan wewangian.

Para pedagang dari Ur (kota di Irak selatan) membentuk armada kapal yang secara rutin berlayar ke Dilmun. Mereka membawa hasil bumi Irak (gandum, kurma, wol, kerajinan) dan juga barang-barang dari Suriah, Anatolia, bahkan Yunani dan Eropa. Di Dilmun, mereka menukarnya dengan komoditas dari India, Afrika, dan Arab selatan. Kemudian mereka kembali ke Ur dengan keuntungan besar.

Dalam prasasti ditemukan kontrak bisnis antara pedagang Ur dan Dilmun. Pemerintah Ur memungut pajak sepersepuluh (zakat atau 'ushr) atas perdagangan ini. Bahkan ada istilah "mikil" atau "makkas" yang merujuk pada petugas bea cukai—sama seperti istilah dalam bahasa Arab kemudian.

Salah satu komoditas paling berharga yang diimpor dari Dilmun adalah "kain biru" (mungkin woad atau indigo) dan "mata ikan" yang diduga mutiara.


Apakah Penduduk Dilmun Adalah Bangsa Fenisia?

Salah satu teori paling kontroversial—namun populer di kalangan sejarawan abad 19–20—adalah bahwa penduduk Dilmun adalah bangsa Fenisia (Phoenicians) sebelum mereka bermigrasi ke Libanon.

Apa buktinya?

  • Strabo (sejarawan Yunani-Romawi) menulis bahwa penduduk pulau Tylos dan Aradus memiliki makam yang mirip dengan makam Fenisia, dan mereka sendiri percaya bahwa nama pulau dan kota mereka berasal dari bahasa Fenisia.
  • Herodotus mengatakan bahwa orang Fenisia menurut keyakinan zamannya berasal dari Laut Merah. Namun para ahli modern berpendapat yang dimaksud Herodotus adalah Teluk Persia (Sinus Persicus), bukan Laut Merah.
  • Para arkeolog menemukan makam-makam berbentuk tumulus (gundukan batu) di Bahrain yang sangat mirip dengan makam Fenisia di Mediterania.
  • Teori migrasi: Bangsa Fenisia meninggalkan Bahrain, menyusuri pantai Teluk, lalu masuk ke Irak, menyusuri Sungai Efrat hingga ke Suriah, kemudian turun ke pantai Libanon, di mana mereka mendirikan kota-kota seperti Tirus, Sidon, dan Byblos.

Meskipun menarik, teori ini belum terbukti secara pasti dan masih menjadi perdebatan. Yang jelas, ada hubungan budaya yang kuat antara Bahrain dan peradaban maritim di Mediterania timur.


Arkeologi Bahrain: Kota Bertembok, Kuil, dan Ratusan Ribu Makam

Ekspedisi arkeologi Denmark (1950-an dan seterusnya) telah mengungkap banyak rahasia Bahrain:

1. Kota Qal'at al-Bahrain (Kota Dilmun)

Di bawah gundukan Tel Qal'at al-Bahrain (Benteng Bahrain), ditemukan sisa-sisa kota kuno yang diperkirakan sebagai ibukota Dilmun. Kota ini berdiri sekitar 2500 SM, dikelilingi tembok batu setinggi 16 kaki (sekitar 5 meter) dengan benteng untuk perlindungan. Gerbang kota dihiasi dengan pilar persegi.

Raja Sargon dari Akkadia dikabarkan telah membakar kota ini sekitar 2300 SM, sehingga menjadi reruntuhan. Kota ini tetap terbengkalai sepanjang masa dinasti Kass (milenium kedua SM), lalu dibangun kembali pada abad ke-7 SM. Kota ini berkembang pesat pada masa Akhemeniyah (Persia) dan Seljuk, tetapi mengalami kemunduran dan akhirnya ditinggalkan.

2. Kuil Barbar (Barbar Temple)

Kuil besar yang berasal dari sekitar 3000 SM atau lebih tua. Ciri khasnya adalah adanya sumur suci berbentuk persegi yang diyakini sebagai sumber air suci untuk ritual pemurnian. Konsep sumur suci ini mirip dengan Zamzam di Masjidil Haram. Di sekitar kuil ditemukan altar pengorbanan dengan lubang-lubang untuk mengalirkan darah hewan kurban ke dalam lubang penampungan.

3. Ratusan Ribu Gundukan Makam (Tumuli)

Diperkirakan ada 50.000 hingga 100.000 gundukan makam di Bahrain. Beberapa makam sangat besar dengan diameter dasar hingga 45 meter dan tinggi 24 meter. Makam-makam ini umumnya menghadap ke barat, yang diyakini memiliki makna religius (mungkin terkait dengan perjalanan matahari terbenam sebagai simbol kematian). Di dalamnya ditemukan:

  • Kerangka manusia dan hewan yang dikubur bersama (hewan dipersembahkan untuk menemani tuannya di akhirat)
  • Perhiasan emas, manik-manik, batu mulia, dan peralatan rumah tangga
  • Tembikar yang mirip dengan tembikar modern Bahrain, menunjukkan kontinuitas budaya

Beberapa ahli mengaitkan makam-makam ini dengan bangsa Fenisia berdasarkan kesamaan bentuk dengan makam Fenisia di Mediterania.


Apakah Bangsa Sumeria dan Kasdim Berasal dari Bahrain?

Ada teori yang menyatakan bahwa bangsa Sumer—yang membangun peradaban pertama di Mesopotamia sekitar 3100 SM—berasal dari wilayah Bahrain/Dilmun. Teori ini didasarkan pada kemiripan nama tempat, dewa, dan beberapa kosakata. Namun, sebagian besar ahli modern meragukannya.

Teori yang lebih diterima adalah bahwa bangsa Kasdim (Chaldeans)—yang mendiami selatan Irak pada milenium pertama SM—berasal dari Arab timur (pesisir Teluk). Beberapa prasasti Kasdim kuno memiliki huruf yang mirip dengan aksara Musnad (aksara Arab Selatan kuno). Hal ini menunjukkan bahwa para migran dari Oman atau Bahrain membawa aksara mereka ke Irak, kemudian kehilangannya karena terpengaruh budaya Mesopotamia.

Strabo juga menyebutkan bahwa kota Gerrha (di pesisir Arab timur, dekat Al-Ahsa) dulunya adalah pemukiman bangsa Kasdim. Gerrha adalah kota dagang yang makmur, terkenal dengan kekayaannya.


Era Helenistik dan Sesudahnya: Nama Tylos

Pada zaman Yunani (setelah Alexander Agung), Dilmun dikenal sebagai Tylos (Tylus). Penulis seperti Pliny dan Strabo menyebut Tylos sebagai penghasil mutiara terbaik. Pulau ini masih menjadi pusat perdagangan penting, menghubungkan India dengan Mediterania.

Pada masa Kekaisaran Seleucid dan Parthia,Kekuasaan atas Bahrain bergantian antara penguasa lokal dan kekuatan luar. Namun. semangat maritim penduduknya tidak pernah padam.


Penutup: Dilmun, Jendela ke Masa Lalu Arab yang Terlupakan

Apa yang telah kita pelajari tentang Dilmun?

  1. Dilmun bukanlah mitos, melainkan kerajaan nyata yang berdiri ribuan tahun sebelum Masehi di wilayah Bahrain dan pantai timur Arab.
  2. Dilmun memiliki dimensi spiritual yang kuat—dianggap sebagai "tanah suci" dan "surga" oleh bangsa Sumeria.
  3. Dilmun adalah pusat perdagangan maritim yang menghubungkan Mesopotamia, India, Afrika, dan bahkan Mediterania. Komoditas utamanya: tembaga (dari Oman), kayu, rempah, mutiara, dan tekstil.
  4. Budaya Dilmun sangat maju, dengan kuil-kuil megahsistem sumur sucipembuatan kapalpelayaran jarak jauh, dan pemakaman massal dalam gundukan batu.
  5. Ada kemungkinan bahwa bangsa Fenisia—pelaut ulung yang kemudian mendominasi Mediterania—berasal dari wilayah Dilmun. Meski belum terbukti, hubungan budaya antara Bahrain dan Fenisia sangat kuat.
  6. Keberadaan bangsa Kasdim (Chaldeans) di selatan Irak kemungkinan juga berakar dari migrasi dari Arab timur.

Penelitian arkeologi masih terus berlangsung. Ekspedisi Denmark, Inggris, AS, dan Bahrain sendiri terus mengungkap lapisan-lapisan peradaban yang terkubur. Setiap artefak baru membuka jendela ke masa lalu yang sebelumnya gelap.

Dilmun mengajarkan kita bahwa Jazirah Arab bukanlah wilayah yang terisolasi. Ribuan tahun sebelum Islam, penduduknya sudah menjadi pelaut ulung, pedagang kaya, dan penyembah dewa-dewa yang rumit. Mereka adalah penghubung antara Timur dan Barat, antara Lembah Indus dan Lembah Eufrat.


Sumber :

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan di Negeri Irak

Asal-Usul Pemberian Nama pada Bangsa Arab: Antara Keanehan dan Kearifan

Nasab Arab: Bukan Hanya Darah, Tapi Juga Perjanjian!