Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Lukisan pemandangan pelabuhan kuno di kepulauan Bahrain (Dilmun) sekitar tahun 2000 SM. Di tepi pantai berair biru kehijauan, beberapa kapal layar kayu bersandar di dermaga sederhana. Para pedagang dengan pakaian khas Mesopotamia dan Arab Timur sedang menurunkan barang dari kapal: peti kayu, karung, dan bejana tanah liat. Di latar depan, seorang pedagang menunjuk ke sebuah papan kayu yang bertuliskan aksara paku (simbol perdagangan dan administrasi). Di latar belakang, bukit pasir yang landai dan pohon palem di bawah langit biru dengan awan putih.

Perdagangan Kuno antara Bahrain dan Mesopotamia

Sekitar tahun 2000 sebelum Masehi, para pedagang dari kota kuno Ur (di Mesopotamia, Irak selatan) sudah menjalin hubungan dagang yang erat dengan Bahrain. Mereka bahkan membangun armada kapal khusus untuk mengangkut barang dagangan.

Namun, hubungan ini sebenarnya sudah berlangsung lebih awal. Raja Sargon dari Akkadia (sekitar 2300 SM) dikabarkan telah menguasai Bahrain dan Qatar. Kemudian sekitar tahun 1750 SM, Bahrain berada di bawah kekuasaan sebuah suku bernama Agarum (atau Ajarum)—sebuah nama yang mirip dengan "Ajaram" atau "Hajar", yang oleh sebagian peneliti dihubungkan dengan kota Hajar (kawasan Al-Ahsa di Arab Saudi timur). Suku ini membayar upeti kepada raja Asyur Esarhaddon.

Mengapa Bahrain begitu penting? Karena kepulauan ini—yang dalam sumber-sumber Mesopotamia kuno disebut Dilmun—merupakan pusat transit perdagangan antara India, Afrika, Teluk Persia, dan Mesopotamia. Dari India dan Afrika, mereka mengimpor kayu, emas, rempah-rempah, dan batu mulia. Dari Oman, mereka mengangkut tembaga yang sangat berharga. Semua komoditas ini kemudian dijual ke Mesopotamia selatan, bahkan diangkut melalui Sungai Efrat hingga ke Suriah dan Laut Mediterania, lalu dijual kepada bangsa Yunani dan Eropa.

Sumber dari dinasti kedua Ur (sekitar 2200–2100 SM) menyebutkan bahwa kapal-kapal sudah melakukan pelayaran rutin antara Bahrain dan Ur, mengangkut tembaga, batu mulia dari Oman, serta emas, kayu, dan rempah dari India.


Dewa Inzak: Bukti Migrasi dan Pengaruh Budaya

Orang-orang Mesopotamia tidak hanya berdagang dengan Bahrain. Koloni-koloni warga Irak pernah menetap di Bahrain. Sebaliknya, penduduk Bahrain juga bermigrasi ke Irak dan tinggal di sana.

Bukti paling kuat adalah pemujaan terhadap dewa Inzak. Dewa ini disembah di selatan Irak, dan kuil-kuil didirikan atas namanya. Padahal, Inzak adalah dewa asli Bahrain—dewa utama bagi penduduk Dilmun. Masuknya dewa ini ke Mesopotamia menunjukkan bahwa para migran dari Bahrain membawa kepercayaan mereka ke tanah baru, dan orang Irak pun terpengaruh oleh budaya Bahrain.


Catatan Asyur: Penyebutan "Arab" Pertama dalam Sejarah

Sekarang kita sampai pada pertanyaan penting: **Kapan bangsa "Arab" pertama kali disebut dalam catatan sejarah? **

Jawabannya: dalam prasasti-prasasti Asyur. Inilah catatan tertua yang tidak diragukan lagi yang menyebut "Arab" di wilayah luas yang membentang dari Sungai Efrat hingga perbatasan Syam. Namun, penting untuk dipahami: "Arab" dalam sumber Asyur berarti "badui" (nomaden penggembala)—bukan bangsa Arab dalam pengertian modern. Mereka adalah kaum pengembara yang bergerak mencari air dan padang rumput, serta kadang mencari nafkah dengan menyerang wilayah Asyur atau lainnya.

Justru karena serangan-serangan itulah orang Asyur terpaksa mencatat keberadaan mereka. Jika tidak ada konflik, mungkin mereka tidak akan pernah disebut. Tentu saja, bangsa Arab (dalam arti badui) sudah ada di wilayah itu jauh sebelum catatan Asyur dibuat. Suatu saat mungkin ditemukan prasasti yang lebih tua yang menyebut mereka.


Riwayat Islam tentang Masuknya Arab ke Irak

Sumber-sumber Islam—seperti yang diriwayatkan oleh Hisyam bin Muhammad al-Kalbi dan dicatat oleh ath-Thabari—juga berbicara tentang masuknya orang Arab ke Irak, tetapi cara perhitungan waktunya berbeda dan kacau, karena banyak diambil dari kisah-kisah Israiliyat (cerita-cerita Yahudi).

Salah satu riwayat dari al-Kalbi menyebutkan bahwa orang Arab sudah ada di Irak pada zaman Nebukadnezar (Bukhtanashshar) , raja Babilonia. Mereka adalah pedagang yang datang ke Irak. Konon, ketika Nebukadnezar hendak menyerang Arab di semenanjung mereka, ia mendapat wahyu dari Allah melalui nabi Barkhiya (mungkin Yeremia?). Maka ia membangun benteng di Najaf bernama Hira (al-Hirah), menempatkan orang Arab di sana, lalu membangun pula kota Anbar. Inilah, menurut riwayat, awal mula kedatangan orang Arab ke Irak.

Riwayat lain dari al-Kalbi mengatakan bahwa yang membawa Arab ke Irak adalah seorang raja Yaman bernama Tubba' (Tubba' As'ad). Ia keluar dari Yaman, tiba di Hira pada malam hari, bingung lalu berhenti—maka tempat itu dinamai al-Hirah. Ia meninggalkan beberapa suku di sana (seperti Azd, Lakhm, Judzam, 'Amilah, dan Qudha'ah), lalu melanjutkan perjalanan ke Anbar, Mosul, Azerbaijan, dan kembali ke Yaman. Sejak itu, orang Arab menetap di Irak.

Riwayat ketiga dari al-Kalbi (juga dicatat ath-Thabari) menceritakan bahwa setelah Nebukadnezar wafat, orang Arab di Hira bergabung dengan penduduk Anbar, dan Hira menjadi kosong. Kemudian perselisihan terjadi antara suku-suku Arab di Tihamah, memaksa mereka bermigrasi ke Bahrain, di mana sudah ada suku Azd. Kelompok-kelompok Arab yang berkumpul di Bahrain membentuk persekutuan (hilf) dengan nama Tanukh. Mereka kemudian mengincar daerah pertanian Irak, memanfaatkan perselisihan internal di antara "raja-raja faksi" (penguasa lokal) di Irak. Mereka masuk ke Irak secara bergelombang, menguasai Hira, Anbar, dan tempat lainnya.

Riwayat-riwayat ini—meskipun menarik—tidak bisa diandalkan sebagai sumber sejarah yang pasti karena berasal dari tradisi lisan dan cerita Israiliyat, bukan dari prasasti Arab kuno.


Dinamika Hubungan Arab dengan Kekaisaran: Antara Penjaga Perbatasan dan Pengganggu

Keberadaan orang Arab (badui) di padang pasir Suriah dan tepi Efrat jauh lebih tua dari catatan Asyur. Wilayah padang pasir Suriah adalah perpanjangan alami dari Jazirah Arab; tidak ada batas yang memisahkan. Jadi pertanyaan "kapan Arab mulai tinggal di sana?" tidak bisa dijawab secara pasti.

Yang jelas, sejak zaman kuno, kerajaan-kerajaan di Mesopotamia dan Syam sangat khawatir terhadap orang Arab. Mereka takut dengan serangan badui yang kerap melakukan serangan mendadak ke daerah perbatasan. Oleh karena itu, kebijakan mereka adalah mencegah orang badui masuk ke wilayah dalam peradaban. Namun, mereka juga membutuhkan orang badui sebagai penjaga perbatasan—mencegah suku badui lain mendekat, dan membantu militer dalam perang.

Para penguasa memberikan upeti tahunan, hadiah, dan tunjangan yang besar kepada para pemimpin suku yang setia menjadi "penjaga". Mereka juga menempatkan perwira militer untuk mengawasi para pemimpin suku ini dan membantu mereka ketika muncul pesaing kuat yang mengancam.

Para pemimpin suku juga bermain politik. Ketika mereka melihat pemerintah pusat lemah, mereka mengajukan tuntutan baru: hak mengambil air dari sumur, hak menggembala ternak di lahan pertanian, atau hak istimewa lainnya. Jika tidak dipenuhi, mereka mengancam akan menyerang, atau bahkan membelot ke musuh. Pemerintah biasanya terpaksa menerima karena lebih murah daripada berperang.

Untuk mengendalikan badui, pemerintah Mesopotamia dan Syam mendirikan pos-pos militer (masalih) di padang pasir—benteng-benteng yang dijaga pasukan reguler dengan sumur, senjata, dan perbekalan. Para perwira pos-pos ini menjadi "penguasa" wilayah padang pasir, menyelesaikan sengketa suku, menjaga keamanan, dan memantau pergerakan badui. Mereka juga membagikan makanan kepada badui saat paceklik. Pos-pos ini tetap berfungsi hingga masa penaklukan Islam.

Orang Arab tidak diizinkan masuk ke pedalaman peradaban. Paling jauh hanya sampai tepi barat Sungai Efrat dan batas luar padang pasir Suriah (yang disebut "Badiah al-Ulya"). Hanya individu atau kelompok kecil yang meninggalkan cara hidup badui—beralih ke pertanian dan kerajinan—yang diizinkan lebih dalam. Mayoritas tetap menjadi badui yang percaya bahwa merantau dan menyerang adalah mata pencaharian mulia.

Mengapa mereka tidak bercocok tanam? Karena air langka dan keamanan tidak terjamin. Seorang badui yang menanam tanaman akan segera diserang oleh badui lain yang merampas hasilnya. Sementara itu, seorang pemimpin suku yang harus selalu waspada terhadap pesaing tidak akan bisa memerintahkan pengikutnya untuk menetap.


"Arab" di Semenanjung Sinai dan Mesir: Jejak yang Samar

Sejak zaman kuno, suku-suku Arab telah merambah ke Semenanjung Sinai. Dari sana, mereka pasti juga masuk ke Mesir—siapa yang mencapai Sinai, sudah berada di pintu gerbang Mesir. Mereka membawa serta dupa, mur, dan komoditas lain yang terkenal.

Namun, sayangnya kita tidak memiliki teks sejarah yang meyakinkan tentang hubungan awal antara Arab dan Mesir. Memang ada gambar dan prasasti Mesir dari dinasti-dinasti awal yang menggambarkan badui (disebut 'amu dalam bahasa Mesir). Tetapi kita tidak bisa memastikan apakah badui itu berasal dari Sinai, atau dari dalam Mesir sendiri, atau dari Jazirah Arab. Para penulis yang berbicara tentang hubungan kerajaan Mesir kuno dengan Arab saat ini hanya berspekulasi, karena tidak ada dokumen yang secara eksplisit menyebut "Arab" atau "tanah Arab".

Meskipun begitu, sangat masuk akal bahwa hubungan antara Mesir dan Arab sudah terjalin sangat awal. Secara geografis, Mesir terhubung darat dengan Jazirah Arab melalui Sinai, dan juga berseberangan di seberang Laut Merah. Pasti ada hubungan darat dan laut kuno.

Para penulis klasik seperti Herodotus dan Pliny menyebutkan bahwa wilayah timur Mesir (berbatasan dengan Sinai) sudah dihuni suku-suku Arab. Mereka mencatat nama beberapa suku. Suku-suku ini sudah menetap jauh sebelum zaman mereka. Dan orang Yunani-Romawi menamai Laut Merah dengan "Sinus Arabicus" (Teluk Arab)—yang menunjukkan dominasi Arab di laut itu.


Dilmun, Magan, dan Meluhha: Misteri Nama Tiga Wilayah

Dalam sumber-sumber Mesopotamia kuno (Sumer, Akkadia, Babilonia, Asyur), sering disebut tiga nama wilayah yang berhubungan dengan Arab timur dan Teluk Persia: Dilmun, Magan, dan Meluhha. Para ahli masih berbeda pendapat tentang lokasi tepatnya.

Dilmun

Sebagian besar ahli sepakat bahwa Dilmun adalah Bahrain (atau mungkin juga mencakup pant timur Arab Saudi). Dalam mitologi Sumeria, Dilmun digambarkan sebagai tanah yang suci dan murni, tempat di mana tidak ada kematian, penyakit, kesedihan; burung gagak tidak pernah berbunyi; singa tidak menerkam; serigala tidak memakan anak domba. Ini semacam surga dalam imajinasi Sumeria—sebuah gambaran ideal yang diproyeksikan ke pulau Bahrain yang damai di tengah Teluk.

Magan

Apa itu Magan (dibaca juga Makkan, Majan)? Ada banyak teori:

  • Sebagian berpendapat Magan adalah Oman (terkenal dengan tambang tembaga).
  • Sebagian lain mengatakan Magan adalah Al-Hasa (Ahsa) di pesisir Teluk, atau daerah sekitar Gerrha (kota kuno di pesisir).
  • Ada yang menghubungkan dengan gunung di selatan Bahrain, atau dengan suku Majan.
  • Raja Naram-Sin dari Akkadia (sekitar 2291–2255 SM) mengklaim telah menguasai Magan, menangkap rajanya yang bernama Manium atau Mannu-Dannu.
  • Gudea (penguasa Lagash) mengimpor batu untuk patung dari Magan, juga kayu dari Magan dan Dilmun.
  • Kaisar Asyur Sargon II dan Tukulti-Ninurta juga menyebut Magan sebagai wilayah taklukan.

Alois Musil berpendapat bahwa lokasi Magan berubah sepanjang zaman. Pada milenium ketiga SM, Magan berada di Arab timur (pesisir Teluk). Pada milenium pertama SM, istilah Magan meluas hingga mencakup Sinai dan sebagian Mesir. Sementara Meluhha (dibaca Meluhha) pada periode awal mungkin merujuk pada Afrika Timur (Etiopia/Somalia), lalu kemudian meluas ke Arab selatan.

Glaser menghubungkan Magon Kolpos (disebut Ptolemy) dengan Magan, terletak di pesisir Teluk, mungkin di daerah Qatan (Qatar?). Sementara O'Leary berpendapat Magan adalah Gerrha (Ahsa), dan Meluhha adalah Oman di selatan Ahsa.

Bukti Arkeologi dan Perdagangan

Raja Manishtusu dari Akkadia (2306–2292 SM) mengirim ekspedisi militer laut yang menyeberangi Teluk dari pantai barat daya Iran (daerah yang sekarang disebut 'Arabistan atau Khuzestan) ke pantai seberang—yaitu pantai timur Jazirah Arab. Di sana ia menghadapi 32 raja kota. Setelah menang, ia menguasai wilayah itu hingga pegunungan di selatan "Laut Bawah". Sebagian besar ahli meyakini pegunungan yang dimaksud adalah Pegunungan Oman (kaya akan tembaga dan batu mulia).

Prasasti Raja Naram-Sin (putra Manishtusu) juga berbicara tentang penaklukan Magan.

Penemuan meterai dan artefak bergaya India di Ur, Kish, Bahrain, dan situs lain di pesisir Arab, membuktikan bahwa perdagangan laut antara Mesopotamia, Teluk, dan India sudah berlangsung pada milenium ketiga SM. Bahrain adalah salah satu pelabuhan persinggahan utama.

Dari sumber-sumber ini setidaknya kita tahu bahwa orang Arab timur—penduduk Bahrain, Oman, Ahsa, dan pantai Teluk—telah berinteraksi intensif dengan peradaban Mesopotamia sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Mereka bukanlah masyarakat yang terisolasi, melainkan bagian dari jaringan perdagangan global kuno yang menghubungkan India, Afrika, dan Mesopotamia.


Penutup: Jembatan Antara Tiga Benua

Apa yang bisa kita petik dari sejarah panjang ini?

  • Bahrain (Dilmun) bukan sekadar pulau kecil, melainkan pusat perdagangan dunia pada zamannya, tempat bertemunya peradaban Lembah Indus, Mesopotamia, dan Afrika.
  • Istilah "Arab" pada awalnya hanya berarti "badui" —para penggembala nomaden yang kerap mengganggu perbatasan kerajaan-kerajaan besar. Namun, nenek moyang bangsa Arab yang menetap di selatan dan timur (seperti penduduk Bahrain, Oman, Ahsa) sudah membangun peradaban maju dengan teknologi pembuatan kapal, pertukangan, dan perdagangan internasional.
  • Hubungan antara Jazirah Arab dan Mesopotamia sudah ada sejak milenium ketiga SM—bahkan mungkin lebih awal. Secara geografis, keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
  • Nama Magan dan Meluhha masih menyimpan misteri hingga kini, namun bukti arkeologi menunjukkan bahwa wilayah Arab timur memiliki peran penting dalam rantai pasokan tembaga, batu mulia, kayu, dan rempah-rempah ke pusat-pusat peradaban di utara.

Sejarah kuno Jazirah Arab adalah sejarah tentang konektivitas—bukan isolasi. Gurun pasir bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan manusia melintasi benua.


Sumber :

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Qahthani dan 'Adnani: Konflik Identitas yang Lahir di Masa Islam

Penumpasan Orang-Orang Mrtad oleh Khalid bin Al Walid

Gerakan Murtad dan Penumpasannya