Penaklukan Baitul Maqdis

Ilustrasi sinematik realistis ultra detail yang menggambarkan suasana damai penyerahan Kota Baitul Maqdis pada abad ke-7 M kepada Khalifah Umar bin Khattab. Tampak kota Yerusalem kuno dengan tembok batu besar, gerbang Romawi Timur, jalan berbatu, dan bangunan ibadah sederhana bercahaya keemasan. Umar bin Khattab bersama para sahabat seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Khalid bin Walid, dan Amr bin al-Ash memasuki kota dengan pakaian sederhana sambil berdialog damai dengan penduduk dan pemuka agama setempat. Wajah para tokoh tampak samar atau membelakangi kamera. Suasana penuh ketenangan, penghormatan, keadilan, dan nuansa spiritual sejarah Islam klasik tanpa unsur kekerasan.

Perjalanan Umar bin Khattab ke Syam Tahun 15 H
 

Abu Ja'far bin Jarir menyebutkan peristiwa ini pada tahun ini berdasarkan riwayat Saif bin Umar. Ringkasan dari apa yang ia dan sejarawan lainnya sebutkan adalah bahwa setelah Abu Ubaidah selesai dengan urusan Damaskus, ia menulis surat kepada penduduk Ilia (Baitul Maqdis). Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam, membayar jizyah (pajak perlindungan), atau jika menolak, maka akan dilakukan perang. Mereka menolak ajakan tersebut, sehingga Abu Ubaidah berangkat bersama pasukannya dan menunjuk Said bin Zeid sebagai wakilnya di Damaskus.

Abu Ubaidah kemudian mengepung Baitul Maqdis dan mempersempit ruang gerak mereka hingga akhirnya mereka bersedia untuk berdamai, dengan syarat bahwa yang menerima penyerahan tersebut haruslah Amirul Mukminin Umar bin Khattab sendiri. Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar mengenai hal ini. Umar kemudian bermusyawarah dengan para sahabat. Utsman bin Affan menyarankan agar Umar tidak pergi agar penduduk Ilia merasa lebih hina dan rendah, namun Ali bin Abi Thalib menyarankan agar Umar berangkat karena itu akan lebih meringankan beban kaum Muslimin dalam pengepungan tersebut. Umar akhirnya lebih memilih pendapat Ali daripada pendapat Utsman.

Saif menceritakan dalam riwayatnya bahwa Umar r.a. berangkat dari Madinah dengan menunggang kuda agar perjalanannya lebih cepat setelah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya di Madinah. Umar menempuh perjalanan hingga tiba di Al-Jabiya. Sebelumnya, ia telah menulis surat kepada para panglima tentara agar menemuinya di Al-Jabiya pada hari tertentu, dan mereka semua berkumpul di sana pada hari itu. Orang pertama yang menemuinya adalah Yazid bin Abi Sufyan, kemudian Abu Ubaidah, lalu Khalid bin Walid yang memimpin kavaleri Muslim dengan mengenakan pakaian sutra (dibaj). Umar sempat ingin melempar mereka dengan batu kecil sebagai teguran, namun mereka beralasan bahwa itu adalah pakaian perang yang mereka butuhkan, sehingga Umar pun diam. Seluruh panglima berkumpul setelah meninggalkan wakil-wakil di wilayah masing-masing, kecuali Amr bin al-Ash dan Syurahbil yang masih menghadapi Artabun di Ajnadin.

Saat Umar berada di Al-Jabiya, tiba-tiba muncul sekelompok pasukan Romawi yang menghunus pedang. Kaum Muslimin segera bersiap dengan senjata mereka, namun Umar berkata: "Mereka adalah orang-orang yang meminta jaminan keamanan". Ternyata mereka memang utusan dari Baitul Maqdis yang meminta jaminan keamanan dan perdamaian dari Amirul Mukminin setelah mendengar kedatangannya, dan Umar pun mengabulkan permintaan mereka.

Khutbah Umar di Al-Jabiya 

Umar menyampaikan khutbah yang panjang dan sangat menyentuh di Al-Jabiya, di antaranya ia berkata:

"Wahai manusia, perbaikilah urusan batin kalian, niscaya Allah akan memperbaiki urusan lahiriah kalian. Beramallah untuk akhirat kalian, niscaya Allah akan mencukupi urusan dunia kalian. Ketahuilah bahwa tidak ada hubungan kekerabatan antara seseorang dengan Allah kecuali melalui ketaatan kepada-Nya. Maka siapa yang menginginkan tengah-tengahnya surga, hendaklah ia berpegang teguh pada jamaah, karena setan bersama orang yang sendirian dan ia lebih jauh dari dua orang. Janganlah sekali-kali seorang pria berduaan dengan seorang wanita karena setan adalah pihak ketiganya. Siapa yang merasa senang dengan amal baiknya dan merasa sedih dengan amal buruknya, maka ia adalah seorang mukmin."

Ini adalah khutbah yang panjang namun telah diringkas.

Penulisan Perjanjian Damai dan Penyerahan Baitul Maqdis 

Kemudian Umar bin Khattab berangkat hingga ia berdamai dengan orang-orang Nasrani di Baitul Maqdis. Ia mensyaratkan agar orang-orang Romawi meninggalkan kota dalam waktu tiga malam, kemudian ia memasukinya. Beliau masuk ke dalam masjid melalui pintu yang dimasuki Rasulullah pada malam Isra'.

Dikatakan bahwa saat memasuki Baitul Maqdis, beliau mengucap talbiyah lalu mendirikan salat tahiyatul masjid di Mihrab Daud. Beliau memimpin kaum Muslimin untuk salat subuh di sana; pada rakaat pertama beliau membaca surat Shaad dan melakukan sujud (tilawah) bersama kaum Muslimin, dan pada rakaat kedua beliau membaca surat Bani Israil (Al-Isra').

Umar menuliskan surat jaminan keamanan dan perdamaian bagi penduduk Baitul Maqdis, menetapkan jizyah atas mereka, serta memberikan syarat-syarat tertentu yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. Saksi dalam surat tersebut adalah Khalid bin Walid, Amr bin al-Ash, Abdurrahman bin Auf, dan Muawiyah bin Abi Sufyan yang juga bertindak sebagai penulis surat pada tahun 15 Hijriah tersebut.

Kemudian Umar menulis surat perjanjian lain untuk penduduk Lod dan sekitarnya, menetapkan jizyah atas mereka sesuai dengan perdamaian penduduk Ilia. Artabun sendiri melarikan diri ke Mesir dan menetap di sana sampai Mesir ditaklukkan oleh Amr bin al-Ash. Setelah itu ia melarikan diri ke laut dan memimpin beberapa ekspedisi perang melawan Muslim, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pria dari kabilah Qais yang memotong tangannya dan kemudian membunuhnya. Terkait hal ini, penyair berkata:

فَإِنْ يَكُنْ أَرْطَبُونُ الرُّومِ أَفْسَدَهَا ... فَإِنَّ فِيهَا بِحَمْدِ اللهِ مُنْتَفَعَا

وَإِنْ يَكُنْ أَرْطَبُونُ الرُّومِ قَطَعَهَا ... فَقَدْ تَرَكْتُ بِهَا أَوْصَالَهُ قِطَعَا

Jika Artabun Romawi telah merusak (tangan)nya, maka padanya -segala puji bagi Allah- masih terdapat manfaat.

Dan jika Artabun Romawi telah memotongnya, maka sungguh aku telah meninggalkan anggota tubuhnya terpotong-potong.

Tindakan Umar di Baitul Maqdis 

Ibnu Katsir berkata: Diriwayatkan bahwa saat Umar memasuki Baitul Maqdis, ia bertanya kepada Ka'ab al-Ahbar tentang letak Batu Suci (Ash-Shakhrah). Ka'ab menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, ukurlah dari Lembah Jahanam sekian dan sekian hasta, maka ia ada di sana". Mereka pun mengukurnya dan menemukannya. Ternyata orang-orang Nasrani telah menjadikannya tempat pembuangan sampah sebagai bentuk penghinaan, sebagaimana kaum Yahudi dahulu menghina tempat sampah di lokasi tersebut.

Setelah menemukan lokasi tersebut, Umar memerintahkan untuk membersihkan sampah yang ada di atasnya. Dikatakan bahwa beliau bahkan ikut membersihkannya dengan menggunakan jubahnya sendiri. Beliau kemudian bermusyawarah dengan Ka'ab tentang di mana posisi masjid sebaiknya dibangun. Ka'ab menyarankan untuk membangunnya di belakang Batu Suci agar kiblatnya searah dengan batu tersebut, namun Umar menolak seraya berkata: "Engkau masih menyerupai Yahudi, wahai putra Ummi Ka'ab!" Umar kemudian memerintahkan pembangunan masjid di bagian depan Baitul Maqdis (arah kiblat saat ini).

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa saat Umar berada di Jabiya dan menyebutkan tentang penaklukan Baitul Maqdis, beliau bertanya kepada Ka'ab: "Di mana menurutmu aku harus salat?" Ka'ab menjawab: "Jika engkau mengikuti saranku, salatlah di belakang Batu Suci sehingga seluruh Al-Quds berada di hadapanmu." Umar berkata: "Engkau menyerupai Yahudi. Tidak, tetapi aku akan salat di tempat Rasulullah salat." Beliau pun maju ke arah kiblat dan melakukan salat, kemudian menghampiri dan membentangkan jubahnya serta ikut membersihkan tempat itu bersama orang-orang.

Berikut adalah terjemahan lengkap dari dokumen yang terakhir diunggah (halaman 196-198) ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dipahami:


Pengepungan Romawi terhadap Abu Ubaidah di Homs Tahun 17 H

Peristiwa ini terjadi ketika sekumpulan pasukan Romawi bertekad untuk mengepung Abu Ubaidah di Homs. Mereka meminta bantuan dari penduduk Al-Jazirah dan sejumlah besar orang dari wilayah tersebut untuk menyerang Abu Ubaidah. Abu Ubaidah kemudian mengirim pesan kepada Khalid bin Walid, yang segera datang menemuinya dari Qinnasrin, serta melaporkan hal tersebut kepada Khalifah Umar.

Abu Ubaidah bermusyawarah dengan kaum Muslimin apakah harus keluar menghadapi Romawi atau bertahan di dalam kota sampai perintah Umar datang. Seluruh sahabat menyarankan untuk bertahan, kecuali Khalid yang menyarankan untuk keluar menyerang. Namun, Abu Ubaidah lebih memilih pendapat mayoritas dan bertahan di dalam Homs hingga dikepung oleh Romawi. Saat itu, setiap kota di Syam sedang sibuk dengan urusannya masing-masing; jika mereka meninggalkan pos mereka untuk membantu Homs, dikhawatirkan stabilitas di seluruh Syam akan terganggu.

Umar kemudian menulis surat kepada Saad bin Abi Waqqas di Irak agar segera mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Al-Qa'qa' bin Amr menuju Homs sebagai bantuan. Umar juga memerintahkan pembentukan pasukan lain untuk menyerang penduduk Al-Jazirah yang telah membantu Romawi, dengan Iyad bin Ghanm sebagai panglimanya.

Kedua pasukan tersebut berangkat bersama-sama dari Kufah. Umar sendiri juga berangkat dari Madinah untuk membantu Abu Ubaidah dan sampai di Al-Jabiya (sebagian riwayat menyebutkan beliau sampai di Sargh). Ketika penduduk Al-Jazirah yang sedang mengepung Homs mendengar bahwa pasukan Muslim telah memasuki wilayah asal mereka, mereka segera mundur dan meninggalkan pasukan Romawi. Pasukan Romawi pun menjadi sangat lemah karena mendengar kabar kedatangan Amirul Mukminin Umar untuk membantu pasukannya.

Khalid menyarankan Abu Ubaidah untuk segera keluar menyerang musuh yang sedang goyah, dan Abu Ubaidah melakukannya. Allah memberikan kemenangan dan pasukan Romawi berhasil dikalahkan dengan telak, tiga malam sebelum pasukan bantuan dari Kufah tiba. Abu Ubaidah melaporkan kemenangan ini kepada Umar dan bertanya apakah pasukan bantuan yang datang terlambat itu berhak mendapatkan bagian harta rampasan.

Umar menjawab bahwa mereka tetap berhak mendapatkan bagian, karena musuh menjadi lemah dan mundur justru setelah mendengar kabar kedatangan pasukan bantuan tersebut. Umar pun memuji penduduk Kufah dengan berkata: "Semoga Allah membalas kebaikan penduduk Kufah yang telah menjaga wilayah mereka dan membantu kota-kota lainnya".

Penaklukan Al-Jazirah Al-Furatiah

Menurut Saif bin Umar dan Ibnu Jarir, penaklukan Al-Jazirah terjadi pada tahun 17 H, sedangkan Ibnu Ishaq menyebutkan tahun 19 H. Pasukan dipimpin oleh Iyad bin Ghanm yang didampingi oleh Abu Musa Al-Asy'ari dan Utsman bin Abi Al-Ash. Mereka sampai di Edessa (Al-Ruha) dan penduduknya setuju untuk berdamai dengan membayar jizyah; hal yang sama juga dilakukan oleh penduduk Harran.

Iyad kemudian mengutus Abu Musa Al-Asy'ari ke Nisibis dan Umar bin Saad ke Ras al-Ayn, sementara ia sendiri memimpin pasukan ke Dara hingga kota-kota tersebut takluk. Utsman bin Abi Al-Ash dikirim ke Armenia dan sempat terjadi pertempuran di mana sahabat Safwan bin Al-Mu'aththal Al-Sulami gugur sebagai syahid. Akhirnya, Utsman berdamai dengan penduduk setempat dengan syarat jizyah sebesar satu dinar untuk setiap rumah.

Peperangan Melawan Romawi

Ibnu Jarir menyebutkan bahwa pada tahun 20 H, Abu Bahriyah Abdullah bin Qais Al-Kindi memimpin serangan ke wilayah Romawi dan merupakan orang pertama yang memasukinya. Ia pulang dengan selamat dan membawa banyak harta rampasan. Namun, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa orang pertama yang memasuki wilayah tersebut adalah Maysarah bin Masruq Al-Absi.

Serangan ke Habasyah (Etiopia)

Pada tahun 20 H, Umar mengutus Alqamah bin Mujazziz Al-Mudliji ke Habasyah melalui jalur laut. Namun, pasukan tersebut mengalami musibah (tenggelam/kalah), sehingga Umar bersumpah untuk tidak lagi mengirim pasukan melalui jalur laut setelah peristiwa itu. Al-Waqidi berbeda pendapat dan menyatakan bahwa serangan ke Habasyah ini baru terjadi pada tahun 31 H di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Serangan Musim Panas Muawiyah

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa pada tahun 23 H, Muawiyah memimpin serangan musim panas (As-Sha'ifah) hingga mencapai wilayah Amorium. Dalam pasukan tersebut turut serta para sahabat besar seperti Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Ayyub Al-Anshari.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penumpasan Para Murtadin di Bahrain dan Oman

Qahthani dan 'Adnani: Konflik Identitas yang Lahir di Masa Islam

Penaklukan di Negeri Irak