Penaklukan Baitul Maqdis
Perjalanan Umar bin Khattab ke Syam Tahun 15 H
Abu
Ja'far bin Jarir menyebutkan peristiwa ini pada tahun ini berdasarkan riwayat
Saif bin Umar. Ringkasan dari apa yang ia dan sejarawan lainnya sebutkan adalah
bahwa setelah Abu Ubaidah selesai dengan urusan Damaskus, ia menulis surat
kepada penduduk Ilia (Baitul Maqdis). Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam,
membayar jizyah (pajak perlindungan), atau jika menolak, maka akan dilakukan
perang. Mereka menolak ajakan tersebut, sehingga Abu Ubaidah berangkat bersama
pasukannya dan menunjuk Said bin Zeid sebagai wakilnya di Damaskus.
Abu Ubaidah kemudian mengepung Baitul Maqdis dan
mempersempit ruang gerak mereka hingga akhirnya mereka bersedia untuk berdamai,
dengan syarat bahwa yang menerima penyerahan tersebut haruslah Amirul Mukminin
Umar bin Khattab sendiri. Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar mengenai hal
ini. Umar kemudian bermusyawarah dengan para sahabat. Utsman bin Affan
menyarankan agar Umar tidak pergi agar penduduk Ilia merasa lebih hina dan
rendah, namun Ali bin Abi Thalib menyarankan agar Umar berangkat karena itu
akan lebih meringankan beban kaum Muslimin dalam pengepungan tersebut. Umar
akhirnya lebih memilih pendapat Ali daripada pendapat Utsman.
Saif menceritakan dalam riwayatnya bahwa Umar r.a. berangkat
dari Madinah dengan menunggang kuda agar perjalanannya lebih cepat setelah
menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya di Madinah. Umar menempuh
perjalanan hingga tiba di Al-Jabiya. Sebelumnya, ia telah menulis surat kepada
para panglima tentara agar menemuinya di Al-Jabiya pada hari tertentu, dan
mereka semua berkumpul di sana pada hari itu. Orang pertama yang menemuinya
adalah Yazid bin Abi Sufyan, kemudian Abu Ubaidah, lalu Khalid bin Walid yang
memimpin kavaleri Muslim dengan mengenakan pakaian sutra (dibaj). Umar sempat
ingin melempar mereka dengan batu kecil sebagai teguran, namun mereka beralasan
bahwa itu adalah pakaian perang yang mereka butuhkan, sehingga Umar pun diam. Seluruh
panglima berkumpul setelah meninggalkan wakil-wakil di wilayah masing-masing,
kecuali Amr bin al-Ash dan Syurahbil yang masih menghadapi Artabun di Ajnadin.
Saat Umar berada di Al-Jabiya, tiba-tiba muncul sekelompok
pasukan Romawi yang menghunus pedang. Kaum Muslimin segera bersiap dengan
senjata mereka, namun Umar berkata: "Mereka adalah orang-orang yang
meminta jaminan keamanan". Ternyata mereka memang utusan dari Baitul
Maqdis yang meminta jaminan keamanan dan perdamaian dari Amirul Mukminin
setelah mendengar kedatangannya, dan Umar pun mengabulkan permintaan mereka.
Khutbah Umar di Al-Jabiya
Umar menyampaikan khutbah
yang panjang dan sangat menyentuh di Al-Jabiya, di antaranya ia berkata:
"Wahai manusia, perbaikilah urusan batin kalian,
niscaya Allah akan memperbaiki urusan lahiriah kalian. Beramallah untuk akhirat
kalian, niscaya Allah akan mencukupi urusan dunia kalian. Ketahuilah bahwa
tidak ada hubungan kekerabatan antara seseorang dengan Allah kecuali melalui
ketaatan kepada-Nya. Maka siapa yang menginginkan tengah-tengahnya surga,
hendaklah ia berpegang teguh pada jamaah, karena setan bersama orang yang
sendirian dan ia lebih jauh dari dua orang. Janganlah sekali-kali seorang pria
berduaan dengan seorang wanita karena setan adalah pihak ketiganya. Siapa yang
merasa senang dengan amal baiknya dan merasa sedih dengan amal buruknya, maka
ia adalah seorang mukmin."
Ini adalah khutbah yang panjang namun telah diringkas.
Penulisan Perjanjian Damai dan Penyerahan Baitul Maqdis
Kemudian Umar bin Khattab berangkat hingga ia berdamai dengan orang-orang
Nasrani di Baitul Maqdis. Ia mensyaratkan agar orang-orang Romawi meninggalkan
kota dalam waktu tiga malam, kemudian ia memasukinya. Beliau masuk ke dalam
masjid melalui pintu yang dimasuki Rasulullah ﷺ pada malam Isra'.
Dikatakan bahwa saat memasuki Baitul Maqdis, beliau mengucap
talbiyah lalu mendirikan salat tahiyatul masjid di Mihrab Daud. Beliau memimpin
kaum Muslimin untuk salat subuh di sana; pada rakaat pertama beliau membaca
surat Shaad dan melakukan sujud (tilawah) bersama kaum Muslimin, dan pada
rakaat kedua beliau membaca surat Bani Israil (Al-Isra').
Umar menuliskan surat jaminan keamanan dan perdamaian bagi
penduduk Baitul Maqdis, menetapkan jizyah atas mereka, serta memberikan
syarat-syarat tertentu yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. Saksi dalam surat
tersebut adalah Khalid bin Walid, Amr bin al-Ash, Abdurrahman bin Auf, dan
Muawiyah bin Abi Sufyan yang juga bertindak sebagai penulis surat pada tahun 15
Hijriah tersebut.
Kemudian Umar menulis surat perjanjian lain untuk penduduk
Lod dan sekitarnya, menetapkan jizyah atas mereka sesuai dengan perdamaian
penduduk Ilia. Artabun sendiri melarikan diri ke Mesir dan menetap di sana
sampai Mesir ditaklukkan oleh Amr bin al-Ash. Setelah itu ia melarikan diri ke
laut dan memimpin beberapa ekspedisi perang melawan Muslim, hingga akhirnya ia
bertemu dengan seorang pria dari kabilah Qais yang memotong tangannya dan
kemudian membunuhnya. Terkait hal ini, penyair berkata:
فَإِنْ
يَكُنْ أَرْطَبُونُ الرُّومِ أَفْسَدَهَا ... فَإِنَّ فِيهَا بِحَمْدِ اللهِ
مُنْتَفَعَا
وَإِنْ
يَكُنْ أَرْطَبُونُ الرُّومِ قَطَعَهَا ... فَقَدْ تَرَكْتُ بِهَا أَوْصَالَهُ
قِطَعَا
Jika Artabun Romawi telah merusak (tangan)nya, maka
padanya -segala puji bagi Allah- masih terdapat manfaat.
Dan jika Artabun Romawi telah memotongnya, maka sungguh
aku telah meninggalkan anggota tubuhnya terpotong-potong.
Tindakan Umar di Baitul Maqdis
Ibnu Katsir berkata:
Diriwayatkan bahwa saat Umar memasuki Baitul Maqdis, ia bertanya kepada Ka'ab
al-Ahbar tentang letak Batu Suci (Ash-Shakhrah). Ka'ab menjawab: "Wahai
Amirul Mukminin, ukurlah dari Lembah Jahanam sekian dan sekian hasta, maka ia
ada di sana". Mereka pun mengukurnya dan menemukannya. Ternyata
orang-orang Nasrani telah menjadikannya tempat pembuangan sampah sebagai bentuk
penghinaan, sebagaimana kaum Yahudi dahulu menghina tempat sampah di lokasi
tersebut.
Setelah menemukan lokasi tersebut, Umar memerintahkan untuk
membersihkan sampah yang ada di atasnya. Dikatakan bahwa beliau bahkan ikut
membersihkannya dengan menggunakan jubahnya sendiri. Beliau kemudian
bermusyawarah dengan Ka'ab tentang di mana posisi masjid sebaiknya dibangun.
Ka'ab menyarankan untuk membangunnya di belakang Batu Suci agar kiblatnya
searah dengan batu tersebut, namun Umar menolak seraya berkata: "Engkau
masih menyerupai Yahudi, wahai putra Ummi Ka'ab!" Umar kemudian
memerintahkan pembangunan masjid di bagian depan Baitul Maqdis (arah kiblat
saat ini).
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa saat Umar berada di Jabiya dan
menyebutkan tentang penaklukan Baitul Maqdis, beliau bertanya kepada Ka'ab:
"Di mana menurutmu aku harus salat?" Ka'ab menjawab: "Jika
engkau mengikuti saranku, salatlah di belakang Batu Suci sehingga seluruh
Al-Quds berada di hadapanmu." Umar berkata: "Engkau menyerupai
Yahudi. Tidak, tetapi aku akan salat di tempat Rasulullah ﷺ salat." Beliau
pun maju ke arah kiblat dan melakukan salat, kemudian menghampiri dan
membentangkan jubahnya serta ikut membersihkan tempat itu bersama orang-orang.
Berikut adalah terjemahan lengkap dari dokumen yang terakhir
diunggah (halaman 196-198) ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah
dipahami:
Pengepungan Romawi terhadap Abu Ubaidah di Homs Tahun 17 H
Peristiwa ini terjadi ketika sekumpulan pasukan Romawi
bertekad untuk mengepung Abu Ubaidah di Homs. Mereka meminta bantuan dari
penduduk Al-Jazirah dan sejumlah besar orang dari wilayah tersebut untuk
menyerang Abu Ubaidah. Abu Ubaidah kemudian mengirim pesan kepada Khalid bin
Walid, yang segera datang menemuinya dari Qinnasrin, serta melaporkan hal
tersebut kepada Khalifah Umar.
Abu Ubaidah bermusyawarah dengan kaum Muslimin apakah harus
keluar menghadapi Romawi atau bertahan di dalam kota sampai perintah Umar
datang. Seluruh sahabat menyarankan untuk bertahan, kecuali Khalid yang
menyarankan untuk keluar menyerang. Namun, Abu Ubaidah lebih memilih pendapat
mayoritas dan bertahan di dalam Homs hingga dikepung oleh Romawi. Saat itu,
setiap kota di Syam sedang sibuk dengan urusannya masing-masing; jika mereka
meninggalkan pos mereka untuk membantu Homs, dikhawatirkan stabilitas di
seluruh Syam akan terganggu.
Umar kemudian menulis surat kepada Saad bin Abi Waqqas di
Irak agar segera mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Al-Qa'qa' bin Amr menuju
Homs sebagai bantuan. Umar juga memerintahkan pembentukan pasukan lain untuk
menyerang penduduk Al-Jazirah yang telah membantu Romawi, dengan Iyad bin Ghanm
sebagai panglimanya.
Kedua pasukan tersebut berangkat bersama-sama dari Kufah. Umar
sendiri juga berangkat dari Madinah untuk membantu Abu Ubaidah dan sampai di
Al-Jabiya (sebagian riwayat menyebutkan beliau sampai di Sargh). Ketika
penduduk Al-Jazirah yang sedang mengepung Homs mendengar bahwa pasukan Muslim
telah memasuki wilayah asal mereka, mereka segera mundur dan meninggalkan
pasukan Romawi. Pasukan Romawi pun menjadi sangat lemah karena mendengar kabar
kedatangan Amirul Mukminin Umar untuk membantu pasukannya.
Khalid menyarankan Abu Ubaidah untuk segera keluar menyerang
musuh yang sedang goyah, dan Abu Ubaidah melakukannya. Allah memberikan
kemenangan dan pasukan Romawi berhasil dikalahkan dengan telak, tiga malam
sebelum pasukan bantuan dari Kufah tiba. Abu Ubaidah melaporkan kemenangan ini
kepada Umar dan bertanya apakah pasukan bantuan yang datang terlambat itu
berhak mendapatkan bagian harta rampasan.
Umar menjawab bahwa mereka tetap berhak mendapatkan bagian,
karena musuh menjadi lemah dan mundur justru setelah mendengar kabar kedatangan
pasukan bantuan tersebut. Umar pun memuji penduduk Kufah dengan berkata:
"Semoga Allah membalas kebaikan penduduk Kufah yang telah menjaga wilayah
mereka dan membantu kota-kota lainnya".
Penaklukan Al-Jazirah Al-Furatiah
Menurut Saif bin Umar dan Ibnu Jarir, penaklukan Al-Jazirah
terjadi pada tahun 17 H, sedangkan Ibnu Ishaq menyebutkan tahun 19 H. Pasukan
dipimpin oleh Iyad bin Ghanm yang didampingi oleh Abu Musa Al-Asy'ari dan
Utsman bin Abi Al-Ash. Mereka sampai di Edessa (Al-Ruha) dan penduduknya setuju
untuk berdamai dengan membayar jizyah; hal yang sama juga dilakukan oleh
penduduk Harran.
Iyad kemudian mengutus Abu Musa Al-Asy'ari ke Nisibis dan
Umar bin Saad ke Ras al-Ayn, sementara ia sendiri memimpin pasukan ke Dara
hingga kota-kota tersebut takluk. Utsman bin Abi Al-Ash dikirim ke Armenia dan
sempat terjadi pertempuran di mana sahabat Safwan bin Al-Mu'aththal Al-Sulami
gugur sebagai syahid. Akhirnya, Utsman berdamai dengan penduduk setempat dengan
syarat jizyah sebesar satu dinar untuk setiap rumah.
Peperangan Melawan Romawi
Ibnu Jarir menyebutkan bahwa pada tahun 20 H, Abu Bahriyah
Abdullah bin Qais Al-Kindi memimpin serangan ke wilayah Romawi dan merupakan
orang pertama yang memasukinya. Ia pulang dengan selamat dan membawa banyak
harta rampasan. Namun, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa orang pertama
yang memasuki wilayah tersebut adalah Maysarah bin Masruq Al-Absi.
Serangan ke Habasyah (Etiopia)
Pada tahun 20 H, Umar mengutus Alqamah bin Mujazziz
Al-Mudliji ke Habasyah melalui jalur laut. Namun, pasukan tersebut mengalami
musibah (tenggelam/kalah), sehingga Umar bersumpah untuk tidak lagi mengirim
pasukan melalui jalur laut setelah peristiwa itu. Al-Waqidi berbeda pendapat
dan menyatakan bahwa serangan ke Habasyah ini baru terjadi pada tahun 31 H di
masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Serangan Musim Panas Muawiyah
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa pada tahun 23 H, Muawiyah
memimpin serangan musim panas (As-Sha'ifah) hingga mencapai wilayah Amorium. Dalam
pasukan tersebut turut serta para sahabat besar seperti Ubadah bin Ash-Shamit
dan Abu Ayyub Al-Anshari.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar