Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab
BAB KETIGA: PENAKLUKAN PADA MASA PEMERINTAHANNYA
Penaklukan di Syam Tahap Kedua
Penaklukan di negeri Syam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab merupakan tahap kedua dari rangkaian penaklukan di wilayah tersebut. Adapun tahap pertama terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Berikut adalah perinciannya:
Pemberhentian Khalid dari Jabatan Panglima:
Umar menulis surat mengenai wafatnya Ash-Shiddiq kepada para
panglima di Syam melalui Syaddad bin Aus bin Tsabit al-Anshari dan Mahmiyah bin
Zanim. Keduanya tiba saat kaum muslimin sedang berhadapan dengan pasukan Romawi
dalam Perang Yarmuk. Umar menetapkan Abu Ubaidah sebagai panglima tertinggi
angkatan perang saat ia menjabat sebagai khalifah dan memberhentikan Khalid bin
Walid.
Salama bin al-Fadhl meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq
bahwa Umar memberhentikan Khalid dikarenakan adanya ucapan yang sampai
kepadanya mengenai Khalid, serta terkait masalah Malik bin Nuwairah dan metode
yang ia gunakan dalam peperangan. Maka, ketika Umar menjabat, hal pertama yang
ia bicarakan adalah pemberhentian Khalid.
Wasiat Umar kepada Abu Ubaidah:
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Shalih bin Kaisan bahwa surat
pertama yang ditulis oleh Umar kepada Abu Ubaidah ketika mengangkatnya dan
memberhentikan Khalid adalah sebagai berikut:
"Aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah,
yang kekal dan akan binasa segala sesuatu selain-Nya. Dialah yang telah memberi
kita petunjuk dari kesesatan dan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju
cahaya. Aku telah mengangkatmu memimpin pasukan Khalid bin Walid, maka
laksanakanlah urusan mereka sesuai kewajibanmu. Janganlah engkau menjerumuskan
kaum muslimin ke dalam kebinasaan demi mengharap harta rampasan (ganimah).
Janganlah engkau menempatkan mereka di suatu tempat sebelum engkau melakukan
pengintaian untuk mereka dan mengetahui bagaimana jalan masuknya. Janganlah
engkau mengirim satu pasukan kecil (sariyah) kecuali dalam jumlah yang besar.
Waspadalah agar tidak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam kebinasaan. Allah
telah mengujimu denganku dan mengujiku denganmu. Palingkanlah pandanganmu dari
dunia dan jauhkanlah hatimu darinya. Waspadalah agar dunia tidak membinasakanmu
sebagaimana ia telah membinasakan orang-orang sebelummu, padahal engkau telah
melihat tempat-tempat kejatuhan mereka."
Kemudian Umar memerintahkan mereka untuk bergerak menuju
Damaskus. Hal itu terjadi setelah berita kemenangan di Yarmuk sampai kepadanya,
kabar gembira itu tiba, dan harta seperlima (khumus) telah diserahkan
kepadanya.
Penaklukan Damaskus:
Saif bin Umar berkata: Abu Ubaidah berangkat dari Yarmuk
lalu turun bersama pasukannya di Marj ash-Saffar dengan niat mengepung
Damaskus. Kemudian datang berita kepadanya tentang kedatangan bantuan musuh
dari Homs. Datang pula berita bahwa sekelompok besar pasukan Romawi telah
berkumpul di Fahl, wilayah Palestina. Abu Ubaidah bimbang perkara mana yang
harus didahulukan, maka ia menulis surat kepada Umar menanyakan hal tersebut.
Jawaban dari Umar pun datang: "Mulailah dengan
Damaskus, karena ia adalah benteng Syam dan pusat kerajaan mereka. Seranglah
kota itu. Sibukkanlah penduduk Fahl agar tidak mengganggu kalian dengan
mengirim pasukan berkuda untuk menghadapi mereka. Jika Allah membukanya (Fahl)
sebelum Damaskus, itulah yang kami sukai. Namun jika Damaskus terbuka
sebelumnya, maka pergilah engkau dan orang-orang bersamamu serta angkatlah
seorang wakil untuk memimpin Damaskus. Jika Allah telah memberikan kemenangan
di Fahl, pergilah engkau bersama Khalid menuju Homs, dan tinggalkan Amr serta
Syurahbil untuk menjaga Yordania dan Palestina."
Saif berkata: Maka Abu Ubaidah mengutus sepuluh pemimpin ke
Fahl, di mana setiap pemimpin membawahi lima pemimpin lainnya, dan seluruh
pasukan dipimpin oleh Ammarah bin Makhsyi, seorang sahabat Nabi. Mereka
berangkat dari Marj ash-Saffar menuju Fahl. Mereka mendapati pasukan Romawi di
sana berjumlah sekitar delapan puluh ribu orang. Pasukan Romawi telah
mengalirkan air di sekitar mereka sehingga tanah menjadi becek berlumpur,
karena itulah tempat tersebut dinamakan ar-Radghah (tanah berlumpur).
Abu Ubaidah juga mengirimkan pasukan untuk berjaga di antara
Damaskus dan Palestina, serta mengirim pasukan "Dzul Kila'" untuk
berjaga di antara Damaskus dan Homs guna menghalau bala bantuan yang mungkin
datang dari arah Heraklius.
Setelah itu, Abu Ubaidah bergerak dari Marj ash-Saffar
menuju Damaskus. Ia menempatkan Khalid bin Walid di posisi jantung pertahanan
(tengah). Abu Ubaidah dan Amr bin al-Ash berada di dua sisi sayap. Pasukan
berkuda dipimpin oleh Iyadh bin Ghanm, sedangkan pasukan pejalan kaki dipimpin
oleh Syurahbil bin Hasanah. Mereka tiba di Damaskus yang saat itu dipimpin oleh
Nastas bin Nasturus.
Khalid bin Walid berkemah di Gerbang Timur (Bab ash-Syarqi)
dan juga Gerbang Kaisan. Abu Ubaidah berkemah di Gerbang Jabiyah Besar. Yazid
bin Abi Sufyan di Gerbang Jabiyah Kecil. Sedangkan Amr bin al-Ash dan Syurahbil
bin Hasanah berada di gerbang-gerbang kota lainnya. Mereka memasang manjanik
dan mesin-mesin perang. Abu Ubaidah juga menugaskan Abu Darda bersama satu
pasukan di Barzah sebagai pendukung. Mereka mengepung Damaskus dengan sangat
ketat selama tujuh puluh malam—ada yang mengatakan empat bulan, ada pula yang
mengatakan enam bulan.
Penduduk Damaskus bertahan dengan sangat gigih. Mereka
mengirim pesan kepada raja mereka, Heraklius—yang saat itu berada di Homs—untuk
meminta bantuan. Namun, bantuan tersebut tidak dapat menjangkau mereka karena
adanya pasukan Dzul Kila' yang telah disiagakan Abu Ubaidah di antara Damaskus
dan Homs. Ketika penduduk Damaskus yakin bahwa bantuan tidak akan sampai,
mereka mulai putus asa, lemah, dan jatuh mentalnya. Sebaliknya, kaum muslimin
semakin kuat dan pengetatan kepungan semakin hebat. Musim dingin pun tiba
dengan udara yang sangat menusuk, menambah kesulitan dalam peperangan.
Lalu Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, Pemilik
Kemuliaan dan Keagungan, menetapkan takdir-Nya. Pemimpin (Patriark) Damaskus
dikaruniai seorang anak pada malam-malam tersebut, lalu ia mengadakan jamuan
makan dan memberi mereka minuman keras. Mereka bermalam di sana untuk berpesta,
makan, minum, dan merasa kelelahan, sehingga mereka tertidur dan meninggalkan
pos penjagaan mereka.
Hal ini disadari oleh panglima perang Khalid bin Walid.
Khalid adalah sosok yang tidak tidur dan tidak membiarkan seorang pun (dari
pasukannya) lengah; ia terus mengawasi musuh siang dan malam. Ia memiliki
mata-mata dan utusan yang melaporkan kondisi para pejuang musuh setiap pagi dan
petang. Ketika ia melihat kesunyian pada malam itu dan menyadari tidak ada
seorang pun yang berjaga di atas benteng, ia segera menyiapkan tangga-tangga
dari tali.
Ia datang bersama para pahlawan pilihannya dan berkata
kepada mereka: "Jika kalian mendengar takbir kami dari atas benteng, maka
susullah kami." Kemudian ia dan kawan-kawannya menyerbu dengan berenang
menyeberangi parit. Mereka memasang tangga-tangga tersebut, mengaitkan bagian
atasnya pada celah-celah benteng, dan memperkuat bagian bawahnya di luar parit,
lalu mereka memanjat.
Begitu mereka sampai di atas benteng, mereka mengeraskan
suara takbir. Kaum muslimin lainnya pun datang dan memanjat tangga-tangga
tersebut. Khalid bersama kawan-kawannya yang pemberani turun dari benteng
menuju para penjaga pintu gerbang dan membunuh mereka. Khalid dan
kawan-kawannya memotong palang-palang pintu dengan pedang lalu membuka gerbang
tersebut secara paksa. Maka masuklah pasukan Khalid melalui Gerbang Timur.
Ketika penduduk kota mendengar suara takbir, mereka bangkit
dan berlarian menuju pos-pos mereka di benteng tanpa mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi. Setiap kali ada penjaga Gerbang Timur yang datang, mereka
dibunuh oleh pasukan Khalid. Khalid memasuki kota dengan kekuatan fisik dan
membunuh siapa saja yang ia temui. Sementara itu, penduduk di gerbang-gerbang
lainnya mendatangi panglima muslim yang ada di luar gerbang masing-masing untuk
meminta perdamaian. Sebelumnya, kaum muslimin telah mengajak mereka untuk
berbagi (wilayah/upeti) namun mereka menolak, tetapi saat itu mereka
menerimanya.
Para sahabat yang lain tidak mengetahui apa yang dilakukan
oleh Khalid. Kaum muslimin masuk dari segala penjuru dan gerbang, lalu mereka
bertemu dengan Khalid yang sedang menyerang siapa saja yang ia temui. Mereka
berkata kepadanya: "Sesungguhnya kami telah memberikan jaminan keamanan
kepada mereka." Khalid menjawab: "Sesungguhnya aku membukanya dengan
paksa."
Para panglima tersebut bertemu di tengah kota, di dekat
Gereja al-Maqsalat, dekat jalan ar-Raihan saat ini. Demikianlah yang disebutkan
oleh Saif bin Umar dan lainnya, dan inilah riwayat yang masyhur, bahwa Khalid
membuka gerbang dengan paksa. Sebagian ahli sejarah lain mengatakan bahwa Abu
Ubaidah-lah yang membukanya secara paksa, ada pula yang menyebut Yazid bin Abi
Sufyan, sementara Khalid-lah yang melakukan perdamaian dengan penduduk
kota—namun ini berkebalikan dengan riwayat yang masyhur dan dikenal.
Berikut adalah terjemahan lengkap dari dokumen tersebut ke
dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dipahami:
Apakah Penaklukan Secara Damai atau Paksa?
Para sahabat Nabi berbeda pendapat mengenai status
penaklukan ini. Sebagian berpendapat bahwa penaklukan terjadi secara damai
(sulh), yaitu berdasarkan perjanjian damai yang dibuat oleh panglima Abu
Ubaidah dengan penduduk kota.
Sebagian lainnya berpendapat bahwa penaklukan terjadi secara
paksa (anwah), karena Khalid bin Walid berhasil menembus kota dengan pedang
terlebih dahulu. Ketika penduduk menyadari hal itu, mereka segera menemui
panglima lainnya, termasuk Abu Ubaidah, untuk meminta perdamaian.
Akhirnya, para sahabat sepakat untuk menetapkan status kota
tersebut menjadi setengah damai dan setengah paksa. Dengan demikian, penduduk
tetap memiliki setengah dari apa yang mereka kuasai, sementara setengah lainnya
menjadi milik kaum Muslimin. Hal ini diperkuat oleh riwayat Saif bin Umar yang
menyebutkan bahwa awalnya penduduk menolak tawaran damai dengan bagi hasil,
namun setelah mereka putus asa, mereka segera menerima tawaran tersebut tanpa
diketahui oleh Khalid.
Para ulama pun berbeda pendapat mengenai status Damaskus
mengikuti perbedaan riwayat tersebut. Namun, mayoritas ulama cenderung
menetapkan statusnya sebagai wilayah damai demi kehati-hatian karena adanya
keraguan mana yang terjadi lebih dulu: apakah penaklukan paksa yang kemudian
beralih ke damai, ataukah terjadi secara bersamaan. Pendapat yang menyatakan
setengah damai dan setengah paksa juga terlihat dari tindakan para sahabat
terhadap Gereja Agung (rumah ibadah terbesar mereka), di mana kaum Muslimin mengambil
setengahnya dan meninggalkan setengah lainnya untuk penduduk.
Pendapat Mengenai Tanggal Penaklukan Damaskus
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa meskipun riwayat Saif bin Umar
mengisyaratkan penaklukan terjadi pada tahun 13 Hijriah, Saif sendiri akhirnya
menegaskan pendapat mayoritas bahwa penaklukan terjadi pada pertengahan bulan
Rajab tahun 14 Hijriah. Banyak ulama lain seperti Said bin Abdul Aziz, Abu
Ma’syar, Muhammad bin Ishaq, dan Ibnu al-Kalbi juga menyatakan bahwa Damaskus
takluk pada tahun 14 Hijriah.
Sebagian berpendapat penaklukan terjadi pada bulan Syawal
tahun 14 Hijriah. Sementara itu, Khalifah bin Khayyat menyebutkan bahwa Abu
Ubaidah mengepung mereka selama bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan, dan Syawal,
hingga akhirnya perdamaian tercapai pada bulan Dzulqa'dah.
Abu Hudzaifah Ishaq bin Bisyr menyebutkan bahwa Abu Bakar
Ash-Shiddiq wafat sebelum Damaskus takluk. Umar kemudian menulis surat kepada
Abu Ubaidah untuk menyampaikan belasungkawa dan mengangkatnya sebagai pengganti
pemimpin di Syam, serta memerintahkannya untuk tetap berkonsultasi dengan
Khalid dalam urusan perang. Abu Ubaidah sempat merahasiakan surat itu dari
Khalid selama sekitar dua puluh malam hingga Damaskus takluk agar tidak
mengganggu konsentrasi Khalid dalam memimpin perang. Abu Ubaidah berkata,
"Aku tidak menginginkan kekuasaan duniawi, karena kita semua adalah
saudara".
Persiapan Penaklukan Setelah Damaskus
Setelah Damaskus takluk, Abu Ubaidah mengutus Khalid bin
Walid ke wilayah Al-Biqa' dan berhasil menaklukkannya. Ia juga mengirim pasukan
yang kemudian bertemu musuh di Ain Maisanun. Di sana banyak kaum Muslimin yang
gugur syahid, sehingga tempat tersebut dinamakan "Ain al-Syuhada"
(Mata Air Para Syuhada).
Abu Ubaidah menunjuk Yazid bin Abi Sufyan sebagai gubernur
Damaskus. Yazid kemudian mengutus Dihyah bin Khalifah ke Tadmur untuk menata
wilayah tersebut. Abu al-Zahra al-Qusyairi juga diutus ke Butsaniah dan Hauran,
di mana penduduknya setuju untuk berdamai.
Syurahbil bin Hasanah berhasil menaklukkan seluruh wilayah
Yordania secara paksa, kecuali Thabariyah yang memilih berdamai. Sementara itu,
penduduk Baalbek juga berdamai dengan Khalid bin Walid dengan syarat berbagi
tempat tinggal, gereja, dan membayar pajak bumi (kharaj). Muhammad bin Ishaq
menyebutkan bahwa Homs dan Baalbek takluk secara damai di tangan Abu Ubaidah
pada bulan Dzulqa'dah tahun 14 Hijriah.
Perang Fahl Tahun 14 H
Banyak ahli sejarah menempatkan perang ini sebelum
penaklukan Damaskus, namun Ibnu Jarir menempatkannya setelah penaklukan
Damaskus. Abu Ubaidah meninggalkan Yazid bin Abi Sufyan di Damaskus lalu
bergerak menuju Fahl. Pasukan Muslim dipimpin oleh Syurahbil bin Hasanah,
dengan Khalid bin Walid di barisan depan, Amr bin al-Ash di sayap kiri, dan
Dhirar bin al-Azwar memimpin kavaleri.
Pasukan Romawi mundur ke Baisan dan mengalirkan air ke
lahan-lahan sekitar hingga menjadi lumpur untuk menghambat kaum Muslimin. Namun,
kaum Muslimin tetap waspada. Pasukan Romawi mencoba menyerang secara mendadak
pada suatu malam, namun kaum Muslimin menghadapi mereka dengan gigih hingga
fajar menyingsing. Pasukan Romawi akhirnya kalah dan terjebak di lumpur yang
mereka buat sendiri. Sekitar 80.000 pasukan musuh tewas, dan kaum Muslimin
mendapatkan harta rampasan yang sangat banyak.
Penaklukan Baisan dan Thabariyah
Setelah kemenangan di Fahl, Syurahbil bin Hasanah dan Amr
bin al-Ash mengepung Baisan. Setelah pertempuran hebat, penduduknya menyerah
dan sepakat berdamai dengan syarat membayar upeti (jizyah) dan pajak bumi
(kharaj), sama seperti perjanjian di Damaskus. Begitu pula yang dilakukan
penduduk Thabariyah kepada Abu al-A'war al-Sulami.
Perang Homs Pertama Tahun 15 H
Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid bergerak mengepung Homs
pada musim dingin yang sangat ekstrem. Penduduk Homs bertahan dengan harapan
kaum Muslimin tidak kuat menghadapi cuaca dingin. Meskipun banyak tentara
Romawi yang menderita kedinginan hingga kaki mereka terluka, kaum Muslimin
tetap bersabar meski hanya beralaskan sandal.
Setelah musim dingin berakhir, kepungan semakin ketat. Diriwayatkan
bahwa kaum Muslimin bertakbir dengan sangat keras hingga bumi berguncang dan
beberapa tembok serta rumah di kota itu runtuh. Hal ini membuat penduduk
ketakutan dan akhirnya meminta perdamaian. Mereka setuju untuk berbagi tempat
tinggal dan membayar jizyah serta kharaj sesuai tingkat kekayaan mereka.
Perang Qinnasrin Tahun 15 H
Setelah Homs takluk, Abu Ubaidah mengutus Khalid bin Walid
ke Qinnasrin. Penduduk setempat dan orang-orang Nasrani Arab melakukan
perlawanan sengit, namun Khalid berhasil mengalahkan mereka dan membunuh
pemimpin Romawi bernama Minas. Khalid berkata kepada penduduk yang bersembunyi
di benteng: "Seandainya kalian berada di atas awan, niscaya Allah akan
membawa kami kepada kalian atau menurunkan kalian kepada kami". Akhirnya,
kota tersebut berhasil ditaklukkan.
Pujian Umar kepada Khalid
Ketika berita keberhasilan Khalid di Qinnasrin sampai ke
telinga Umar bin Khattab, ia berkata: "Semoga Allah merahmati Abu Bakar,
ia lebih tahu tentang kemampuan orang-orang daripada aku. Demi Allah, aku tidak
memberhentikan Khalid karena adanya keraguan (terhadap integritasnya), namun
aku khawatir orang-orang akan terlalu bergantung kepadanya".
Perang Kaisarea Tahun 15 H
Pada tahun ini, Umar menunjuk Muawiyah bin Abi Sufyan untuk
memimpin pasukan ke Kaisarea. Umar menulis pesan: "Mintalah pertolongan
kepada Allah dan perbanyaklah mengucap Laa hawla wa laa quwwata illa
billahil 'aliyyil 'azhim".
Teks asli: لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم Terjemahan:
"Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi
Maha Agung."
Muawiyah mengepung kota tersebut dan menghadapi perlawanan
berkali-kali. Akhirnya, setelah pertempuran yang sangat hebat, Allah memberikan
kemenangan bagi kaum Muslimin. Sekitar 80.000 hingga 100.000 pasukan musuh
tewas atau melarikan diri dari medan perang. Muawiyah kemudian mengirimkan
berita kemenangan dan harta rampasan kepada Khalifah Umar bin Khattab.
Perang Ajnadin Tahun 15 H
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pada tahun ini, Umar bin Khattab
menulis surat kepada Amr bin al-Ash untuk bergerak menuju Ilia (Baitul Maqdis)
dan menghadapi pemimpinnya. Di tengah perjalanan, tepatnya di wilayah Ramlah,
ia berpapasan dengan sekelompok pasukan Romawi sehingga pecahlah Perang Ajnadin.
Amr bin al-Ash memimpin pasukannya dengan menempatkan putranya, Abdullah bin
Amr, di sayap kanan, dan Junadah bin Tamim al-Maliki bersama Syurahbil bin
Hasanah di sayap kiri. Sementara itu, ia menunjuk Abu al-A’war al-Sulami
sebagai wakilnya di Yordania.
Sesampainya di Ramlah, Amr mendapati kumpulan besar pasukan
Romawi yang dipimpin oleh Artabun, seorang panglima Romawi yang paling cerdik,
ahli strategi, dan paling berbahaya. Artabun telah menempatkan pasukan besar di
Ramlah dan pasukan besar lainnya di Ilia. Amr melaporkan situasi ini kepada
Umar, lalu Umar berkata: "Kita telah benturkan Artabun Romawi dengan
Artabun Arab (Amr bin al-Ash), maka lihatlah bagaimana hasilnya nanti".
Amr bin al-Ash mengutus Alqamah bin Hakim dan Masruq bin
Bilal untuk memerangi penduduk Ilia, serta Abu Ayub al-Maliki untuk menghadapi
pasukan di Ramlah agar mereka sibuk dan tidak mengganggu pasukan utama Amr. Setiap
kali Umar mengirimkan bantuan pasukan, Amr membaginya untuk memperkuat
posisi-posisi tersebut.
Amr tetap berada di Ajnadin, namun ia tidak dapat menemukan
celah kelemahan Artabun, dan informasi dari utusan-utusannya pun tidak
memuaskan hatinya. Akhirnya, Amr memutuskan untuk turun tangan sendiri. Ia
menyamar sebagai seorang utusan dan masuk menemui Artabun. Ia menyampaikan apa
yang ia inginkan, mendengarkan ucapan Artabun, serta mengamati keadaan di sana
secara saksama hingga ia paham apa yang harus dilakukan. Artabun sempat
bergumam dalam hati: "Demi Allah, orang ini adalah Amr sendiri atau orang
yang pendapatnya selalu diikuti oleh Amr; aku tidak akan bisa mengalahkan kaum
ini jika aku melewatkan kesempatan membunuhnya".
Amr menyadari bahaya itu, lalu ia berkata kepada Artabun:
"Wahai pemimpin, aku telah mendengar ucapanmu. Sesungguhnya aku adalah
salah satu dari sepuluh orang yang diutus oleh Umar bin Khattab untuk
mendampingi panglima ini dan menyaksikan urusannya. Aku ingin membawakan mereka
kepadamu agar mereka juga mendengar ucapanmu dan melihat apa yang aku
lihat". Artabun setuju dan membiarkan Amr pergi untuk menjemput mereka.
Setelah Amr pergi, barulah Artabun yakin bahwa itu adalah
Amr bin al-Ash. Ia berkata: "Laki-laki itu telah menipuku, demi Allah dia
adalah orang Arab yang paling cerdik". Kabar ini sampai kepada Umar bin
Khattab, lalu ia memuji: "Amr telah mengalahkannya, hebat sekali
Amr!".
Setelah itu, Amr menyerang mereka dan terjadilah pertempuran
dahsyat di Ajnadin yang serupa dengan Perang Yarmuk hingga memakan banyak
korban jiwa. Pasukan Muslim lainnya kemudian bergabung dengan Amr setelah
pemimpin Ilia bertahan di dalam benteng kotanya dengan pasukan yang sangat
banyak. Artabun kemudian menulis surat kepada Amr yang isinya: "Engkau
adalah setara denganku, kedudukanmu di kaummu seperti kedudukanku di kaumku.
Demi Allah, engkau tidak akan bisa menaklukkan wilayah Palestina sedikit pun
setelah Ajnadin ini. Maka kembalilah dan jangan tertipu, atau engkau akan
mengalami kekalahan seperti orang-orang sebelummu".
Amr kemudian mengirim utusan yang bisa berbahasa Romawi
untuk mencari informasi lebih lanjut. Amr juga membalas suratnya: "Suratmu
telah sampai. Engkau memang setara denganku di kaummu. Jika engkau salah
menilainya, berarti engkau mengabaikan kelebihanku. Ketahuilah bahwa aku adalah
orang yang akan menaklukkan negeri ini. Bacalah suratku ini di depan
sahabat-sahabat dan para menterimu".
Setelah membaca surat itu di depan para menterinya, mereka
bertanya kepada Artabun: "Bagaimana engkau tahu bahwa dia bukan orang yang
akan menaklukkan negeri ini?". Artabun menjawab: "Penakluk negeri ini
adalah orang yang namanya terdiri dari tiga huruf dan sifatnya begini dan
begitu," lalu ia menyebutkan sifat-sifat Umar bin Khattab. Kabar ini pun
disampaikan kepada Amr. Akhirnya, Amr menulis surat kepada Umar meminta
bantuannya dan mengatakan: "Aku sedang menghadapi perang yang sangat berat
dan wilayah-wilayah yang sepertinya telah dipersiapkan (kemenangannya) untukmu,
maka sampaikanlah pendapatmu". Mendengar hal itu, Umar memutuskan untuk
berangkat sendiri ke Syam guna membebaskan Baitul Maqdis.
Kepergian Heraklius dari Negeri Syam
Pada tahun ke-15 (atau tahun ke-16 menurut riwayat lain),
Heraklius meninggalkan Syam menuju negeri Romawi. Dikatakan bahwa setiap kali
Heraklius selesai berziarah ke Baitul Maqdis dan hendak keluar, ia selalu
berkata: "Keselamatan bagimu wahai Suriah, salam perpisahan dari orang
yang belum puas bersamamu namun akan kembali lagi".
Namun, ketika ia sudah benar-benar memutuskan untuk pergi
dan sampai di wilayah Edessa (Al-Ruha), ia meminta penduduknya ikut bersamanya
ke Romawi. Penduduknya menolak dan berkata: "Keberadaan kami di sini lebih
bermanfaat bagimu daripada kami ikut pergi bersamamu". Maka ia
meninggalkan mereka. Sesampainya di Samosata (Syumsyath), ia naik ke tempat
yang tinggi, menoleh ke arah Baitul Maqdis, dan berkata: "Keselamatan
bagimu wahai Suriah, sebuah salam yang tidak akan ada pertemuan lagi
setelahnya".
Heraklius terus berjalan hingga menetap di Konstantinopel. Ia
sempat bertanya kepada seorang pria yang pernah ditawan oleh kaum Muslimin:
"Ceritakan padaku tentang kaum itu". Pria itu menjawab: "Aku
akan ceritakan hingga seolah-olah engkau melihat mereka sendiri. Mereka adalah
ksatria di siang hari dan ahli ibadah di malam hari. Mereka tidak makan kecuali
dengan membayar, dan tidak masuk ke suatu tempat kecuali dengan mengucap salam.
Mereka akan terus melawan siapa pun yang memerangi mereka sampai mereka
menang". Heraklius pun berkata: "Jika apa yang engkau katakan itu
benar, niscaya mereka akan menguasai tempat di mana kedua kakiku ini
berpijak".
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa kaum Muslimin pernah mengepung
Konstantinopel pada masa Bani Umayyah namun belum berhasil menaklukkannya. Namun,
kaum Muslimin akan menaklukkannya di akhir zaman sebelum keluarnya Dajjal,
sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits sahih dalam Shahih Muslim dan
kitab-kitab imam lainnya.
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi bangsa Romawi
untuk menguasai negeri Syam secara keseluruhan hingga akhir zaman. Hal ini
berdasarkan hadits dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu
Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِذَا
هَلَكَ كِسْرَى فَلاَ كِسْرَى بَعْدَهُ، وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرَ فَلاَ قَيْصَرَ
بَعْدَهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفَقَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ
اللهِ عَزَّوَجَلَّ
Artinya: "Jika Kisra telah binasa, maka tidak ada Kisra
lagi setelahnya. Dan jika Kaisar telah binasa, maka tidak ada Kaisar lagi
setelahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh harta simpanan
keduanya akan infakkan di jalan Allah Azza wa Jalla".
Apa yang dikabarkan oleh beliau ﷺ telah terjadi, dan tidak akan pernah
kembali kekuasaan Kaisar ke negeri Syam selamanya.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar