Jejak Peradaban Kuno di Jazirah Arab: Menelusuri Zaman Batu hingga Perunggu
Mengapa Peninggalan Kuno Sulit Bertahan?
Bayangkan Anda meninggalkan sebuah alat rumah tangga di
tengah padang pasir yang panas terik, diterpa angin kencang, dan tanpa
perlindungan. Berapa lama alat itu akan bertahan? Tidak lama.
Itulah tantangan terbesar para arkeolog yang ingin
mengungkap sejarah kuno Jazirah Arab. Sebagian besar wilayah Arab adalah dataran
terbuka dan gurun. Tanahnya tidak ramah bagi pelestarian benda-benda kuno.
Tulang belulang manusia dan hewan cepat hancur. Benda-benda dari kayu, kulit,
atau anyaman lenyap ditelan zaman.
Maka, tidak heran jika peneliti tidak boleh berharap
banyak menemukan "harta karun" berupa artefak kuno di
dataran rendah yang terbuka. Harapan mereka justru tertuju pada:
- Lembah-lembah yang
menyimpan air dan kehidupan
- Dataran
rendah yang dialiri sungai kecil, mata air, dan sumur
- Dataran
tinggi dan pegunungan yang memiliki gua-gua, curah hujan, dan
bebatuan yang dapat menyimpan jejak peradaban
Di tempat-tempat itulah peradaban tumbuh, dan di situlah
artefak-artefak berharga mungkin masih terpendam.
Zaman Batu di Arab: Jejak yang Tersebar Namun Langka
Sayangnya, hingga saat ini, para peneliti belum bisa
berbicara banyak tentang zaman es (glacial periods) di Jazirah
Arab—karena tidak ada penelitian ilmiah yang memadai. Demikian pula
dengan zaman batu (Stone Ages), kita kekurangan bukti yang
cukup.
Namun, beberapa penemuan menarik telah berhasil diungkap:
Penemuan di Ad-Dawadmi
Di sebuah tempat bernama Ad-Dawadmi, sekitar 375
mil dari Teluk (sekitar 600 km), para arkeolog menemukan alat-alat batu yang
terkubur di dalam tanah. Di antaranya adalah sebuah kapak genggam
sepanjang 7,5 ruas jari, berwarna kehijauan.
Penemuan di Al-Ahsa dan Hadhramaut
Di Al-Ahsa (timur Saudi) dan Hadhramaut (Yaman
selatan), juga ditemukan alat-alat batu. Yang menarik, batu-batu yang digunakan
di Al-Ahsa bukan berasal dari daerah setempat—ada batu vulkanik,
kuarsa, dan jenis batuan lain yang mustahil ditemukan di sana.
Kesimpulan para peneliti: alat-alat itu diimpor dari
Arab bagian barat!
Sementara itu, alat-alat batu yang ditemukan di Yaman dan
Hadhramaut ternyata mirip dengan alat-alat batu dari Palestina dan Syam (Levant).
Artinya, ada hubungan dagang atau migrasi antara Arab Selatan dengan wilayah
utara.
Kualitas Alat Batu: Mengapa Hadhramaut
"Terbelakang"?
Menariknya, alat-alat batu dari Hadhramaut tidak
begitu halus dan presisi dibandingkan dengan temuan di Palestina,
Syam, atau Afrika. Ada dua penjelasan yang diajukan para ahli:
- Karena
sifat batuan di Hadhramaut yang sulit dibentuk
- Karena
peradaban penduduk Hadhramaut pada masa itu memang lebih
"tertinggal" dibandingkan peradaban di utara
Peneliti berpendapat bahwa Hadhramaut relatif
terisolasi dari pusat-pusat kemajuan di utara. Sebaliknya, hubungan
mereka lebih erat dengan Afrika (melintasi Laut Merah dan
Teluk Aden). Akibatnya, alat-alat mereka lebih primitif dibandingkan dengan
temuan di Arab bagian utara yang dekat dengan Mesopotamia dan Levant.
Hubungan Kuno dengan Afrika: Jejak dari Zaman Paleolitik
Bukti paling kuat tentang hubungan erat antara Arab Selatan
dan Afrika berasal dari penemuan kapak genggam khas Afrika di
Hadhramaut. Kapak-kapak ini termasuk dalam industri batu khas yang ditemukan di
Afrika Timur.
Para arkeolog juga menemukan obsidian (kaca
vulkanik) yang dibentuk menjadi geometris—segitiga, bulan sabit,
persegi—yang merupakan ciri khas industri bilah (Blade Industries).
Obsidian ini didatangkan dari pantai timur Afrika. Industri ini berkembang
pesat di cekungan Mediterania dan Eropa sebelum milenium ketiga SM. Di Arab
Selatan, obsidian ini diperkirakan berasal dari milenium pertama SM.
Penemuan Penting di Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Arab
Saudi
Tim arkeolog juga menemukan alat-alat batu dari zaman
Paleolitik dan Neolitik di:
- Al-Hamlah dan Ra's
'Uwaynat 'Ali di semenanjung Qatar
- Selatan
Dukhan di Qatar
- Kuwait dan Bahrain
- Tel
Al-Hibr di Saudi
Temuan berupa kapak, alat pengupas, mata panah, dan
batu api dalam jumlah besar. Para pemburu zaman prasejarah
berpindah-pindah mengikuti lembah-lembah yang saat itu kondisinya lebih baik
daripada sekarang. Mereka meninggalkan jejak-jejak yang hingga kini ditemukan
oleh para wisatawan dan peneliti dari perusahaan minyak Aramco.
Gua-Gua: Rumah, Tempat Ibadah, dan Makam Manusia Purba
Di Arab barat dan selatan, terdapat pegunungan yang dihiasi
gua-gua. Manusia purba telah mendiami gua-gua ini ribuan tahun sebelum
Masehi—meski kita tidak bisa menentukan kapan tepatnya.
Sebagian gua dijadikan tempat tinggal, sebagian
menjadi tempat ibadah dan ritual keagamaan, sebagian lagi
menjadi makam untuk meletakkan jenazah leluhur dan keluarga.
Sayangnya, banyak gua telah dijarah oleh tangan-tangan jahil atau dirusak oleh
alam. Tulang-belulang, sisa-sisa hunian, dan karya seni yang seharusnya bisa
bercerita banyak tentang kehidupan manusia purba telah lenyap.
Penulis klasik (Yunani-Romawi) pernah menyebutkan
adanya penghuni gua di tanah Arab. Hingga kini, di Hadhramaut
dan beberapa wilayah lain, masih ada orang yang tinggal di gua—mungkin gua yang
sama yang telah dihuni leluhur mereka ribuan tahun lalu.
Harapan peneliti: Suatu hari nanti, akan ditemukan gua yang
masih utuh dengan dinding yang penuh dengan lukisan, tulisan, dan ornamen,
serta tumpukan tulang di bawah lapisan tanah yang bisa mengungkap misteri
kehidupan manusia purba di Arab.
Peradaban di Bahrain pada Zaman Es
Beberapa peneliti berpendapat bahwa Kepulauan
Bahrain sudah dihuni manusia pada zaman es akhir di Eropa,
yaitu sekitar 50.000 tahun yang lalu!
Pada masa itu, iklim Bahrain mirip dengan iklim
Yunani sekarang—cenderung sejuk. Tanah Bahrain subur dan hijau, ditutupi
hutan. Kemungkinan besar, Bahrain saat itu masih tersambung dengan
daratan utama Jazirah Arab (belum terpisah oleh laut).
Penduduk Bahrain adalah pemburu ikan dan hewan
buruan. Mereka menggunakan alat-alat batu api untuk berburu dan memotong
daging. Temuan alat-alat ini berlimpah di berbagai lokasi di Bahrain,
menandakan bahwa tempat-tempat itu dulunya adalah pemukiman padat.
Para ahli memperkirakan alat-alat itu berasal dari pertengahan
zaman Paleolitik, karena kemiripannya dengan temuan di Irak utara,
Palestina, dan India barat laut.
Senjata dan Alat Panen: Jejak Peralihan ke Pertanian
Di Bahrain juga ditemukan mata tombak dan pisau dari
batu api. Umurnya diperkirakan 10.000–12.000 tahun—berada pada
peralihan antara zaman berburu-meramu ke zaman bercocok tanam dan
menetap.
Di antara alat-alat itu, terdapat batu-batu yang
diasah dan dibentuk yang berfungsi sebagai sabit untuk memanen
tanaman dan memotong rerumputan. Tanda-tanda awal pertanian mulai
muncul.
Makam-makam Raksasa: Pusara Para Bangsawan?
Salah satu penemuan paling mengagumkan di Bahrain
adalah ratusan ribu gundukan makam (tumuli). Para peneliti
memperkirakan jumlahnya mencapai 50.000 hingga 100.000 gundukan—sebuah
kota mati yang sangat luas!
Makam-makam ini berbentuk tumpukan batu yang disusun
menjadi satu atau dua ruangan (seringkali bertingkat, ruangan di atas
ruangan). Atap ruangan terbuat dari lempengan batu. Setelah jenazah dimasukkan
dan pintu ditutup, seluruh struktur ditimbun tanah sehingga membentuk bukit
kecil.
Beberapa makam memiliki diameter dasar hingga 50
yard (45 meter) dan tinggi 80 kaki (24 meter)—sebesar
gedung 8 lantai! Di dalamnya ditemukan sisa-sisa kayu, menandakan bahwa kayu
juga digunakan dalam konstruksi.
Yang menarik, manusia dan hewan dikubur bersama—hewan
ditemani tuannya ke alam baka. Keyakinan ini mirip dengan kepercayaan Mesir
kuno dan bangsa-bangsa lain bahwa hewan peliharaan akan berguna di akhirat.
Di dalam makam juga ditemukan bejana tanah liat,
perhiasan, permata, tembikar, dan peralatan rumah tangga—bekal untuk
kehidupan setelah mati.
Bukti Kemajuan Teknologi Tembikar
Bejana-bejana tanah liat yang ditemukan mirip dengan
bejana yang masih digunakan penduduk Bahrain saat ini! Ini menunjukkan
bahwa tradisi pembuatan tembikar di Bahrain telah berlangsung selama ribuan
tahun tanpa perubahan berarti.
Para pembuat tembikar kuno sudah menggunakan roda
putar yang digerakkan dengan kaki—teknologi yang cukup maju untuk zamannya.
Warna tembikar cenderung kemerahan.
Juga ditemukan cangkang telur burung unta yang
dipotong rapi menjadi cangkir minum—kreativitas yang luar biasa.
Sayangnya, tidak ada satu pun tulisan yang
ditemukan di makam-makam ini. Jadi kita tidak tahu siapa pemiliknya dan dari
peradaban mana mereka berasal.
Batu Nisan Bergambar Perempuan: "Galalat binti
Mufaddat"
Salah satu temuan yang sangat menarik adalah sebuah batu
nisan yang di atasnya terukir gambar seorang perempuan.
Pada batu itu tertulis dalam aksara Arab Selatan:
"Galalat binti Mufaddat" (Galalat
putri Mufaddat—kata "binti" ditulis "bt" sebagaimana lazim
dalam bahasa Arab Selatan kuno).
Di bawahnya, terdapat doa kutukan kepada
dewi 'Ashtar (Asytoret/Ishtar) agar menimpakan kebinasaan
kepada siapa pun yang berani memindahkan batu nisan ini dari tempatnya.
Ini adalah bukti bahwa masyarakat Arab Selatan kuno
memiliki sistem kepercayaan yang terorganisasi, dengan dewa-dewi
yang dipuja dan dimintai perlindungan.
Jejak Peradaban di Jantung Arab: Al-Kharj, Al-Faw, dan
Lainnya
Para penjelajah seperti Philby dan Thesiger menemukan
ribuan makam di berbagai wilayah pedalaman Saudi, seperti:
- Al-Kharj (sekitar
150 km selatan Riyadh)—ribuan gundukan di daerah Farzan, As-Sulaimiyyah,
Ad-Dalam
- Ar-Ruwayq,
pegunungan Al-'Alam al-Abyad dan Al-'Alam
al-Aswad
- Wadi
al-Faw dan Al-Qaryah (ditemukan oleh Aramco)
Di Al-Qaryah, Philby menemukan situs
kota kuno yang dikelilingi tembok, dengan reruntuhan rumah dan makam. Di
antara reruntuhan makam, ada batu-batu bertulis yang diduga sebagai batu
nisan. Tidak jauh dari situ, terdapat lukisan batu bergambar
burung unta, rusa, dan manusia.
Keberadaan makam-makam ini di tengah padang pasir yang
sekarang tandus menunjukkan bahwa wilayah itu dulu subur dan
berpenduduk—kemungkinan terkait dengan bangsa Fenisia kuno (menurut
teori Philby, orang Fenisia berasal dari wilayah Al-Aflaj dan Al-Kharj di Najd,
lalu hijrah ke Bahrain, dan kemudian ke pantai Levant).
Siapa Pemilik Makam Raksasa Bahrain?
Sebagian peneliti percaya bahwa makam-makam Bahrain
adalah pusara para pemimpin dan bangsawan Fenisia yang pernah berkuasa
di Bahrain. Mereka memperkirakan makam-makam ini berasal dari periode 3000–1500
SM (zaman perunggu hingga awal zaman besi).
Ada juga teori bahwa makam-makam di dataran rendah adalah
milik petani menetap, sedangkan makam-makam di dataran tinggi
adalah milik pemburu dan penggembala nomaden.
Ekspedisi Denmark pada 1959 menemukan empat makam di selatan
jalan Al-Badi' (Bahrain) yang ternyata berasal dari zaman batu.
Yang menarik, pintu makam-makam Bahrain menghadap ke
barat. Ini kemungkinan terkait dengan kepercayaan agama mereka—mungkin
matahari terbenam melambangkan kematian, sehingga wajah jenazah menghadap ke
arah terbenamnya matahari.
Pulau Umm an-Nar: Saksi Peradaban Milenium Ketiga SM
Di lepas pantai Abu Dhabi, terdapat pulau Umm an-Nar.
Di sini ditemukan makam-makam dari milenium ketiga SM. Di dalamnya terdapat
rangka manusia, manik-manik, dan tembikar bergambar.
Yang istimewa: dinding luar makam dilapisi batu-batu
pahatan yang menggambarkan banteng, unta, ular, dan hewan
lainnya. Pahatan ini sangat halus dan artistik, menunjukkan peradaban yang
sudah maju dan memiliki kontak dengan pusat-pusat seni di wilayah lain.
Pulau Failaka: Pos Dagang Internasional Kuno
Ekspedisi Denmark juga melakukan penggalian di Pulau
Failaka (Kuwait). Mereka menemukan sisa-sisa bangunan dan pemukiman
dari milenium ketiga SM. Ternyata, pulau ini dan pulau-pulau lain di Teluk
berfungsi sebagai tempat persinggahan kapal-kapal dagang untuk
beristirahat, membeli perbekalan, air, dan berdagang dengan penduduk setempat.
Karena pentingnya pos ini, kerajaan-kerajaan besar
Mesopotamia seperti Akkadia, Asyur, dan Yunani berusaha
menguasai pulau ini dan pesisir sekitarnya.
Ditemukan juga beberapa benda besi dari zaman besi, tetapi
jumlahnya masih terlalu sedikit untuk memberi gambaran utuh tentang zaman besi
di Jazirah Arab.
Manusia Purba Arab: Sambungan antara Afrika, Mesopotamia,
dan India
Penemuan-penemuan ini—meskipun masih sedikit—telah membuka
mata kita bahwa Jazirah Arab sejak zaman purba tidak pernah terisolasi.
Penduduk Arab sudah berhubungan dengan:
- Mesopotamia (Irak
sekarang)—ada bukti pengaruh Akkadia, Asyur
- Syam
dan Levant (Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah)
- Lembah
Mediterania
- Afrika
Timur (Somalia, Kenya, Tanzania)
- India (barat
laut)
Mereka melakukan impor barang (batu mulia,
obsidian, logam) dan ekspor (mungkin rempah, dupa, atau hasil
laut). Jazirah Arab berfungsi sebagai jembatan antara tiga benua:
Asia, Afrika, dan Eropa.
Arab dan Bulan Sabit Subur: Satu Kesatuan Geografis
Para ahli geografi modern menyebut wilayah yang meliputi
Irak dan Syam dengan istilah "Bulan Sabit Subur" (Fertile
Crescent)—istilah yang dipopulerkan oleh James Henry Breasted.
Nah, tahukah Anda bahwa Bulan Sabit Subur ini secara
alami tidak terpisah dari Jazirah Arab? Padang pasir Suriah (Badiyat
asy-Syam) hanyalah perpanjangan dari padang pasir Jazirah Arab.
Tidak ada batasan alam yang jelas antara keduanya. Jika Anda berjalan dari
padang pasir Suriah ke padang pasir Saudi, Anda tidak akan merasakan perbedaan
alam.
Karena itu, sejak zaman purba, manusia bebas
berpindah antara utara dan selatan, antara Arab dan Mesopotamia/Syam.
Mereka bermigrasi mengikuti air, padang rumput untuk ternak, atau melarikan
diri dari peperangan.
Kapan "Arab" Mulai Dikenal?
Satu masalah besar dalam sejarah kuno adalah: Kata
"Arab" pada masa pra-Kristen tidak berarti "bangsa Arab"
seperti yang kita pahami sekarang. Kata itu, pada masa itu, hanya
berarti "badui" (nomaden, penggembala). Jadi, ketika
prasasti atau penulis klasik menyebut "Arab", yang mereka maksud
hanyalah "orang badui"—bukan seluruh bangsa Arab.
Akibatnya, banyak suku-suku menetap di Arab (seperti
Saba', Ma'in, Qataban, Hadhramaut) yang jelas-jelas Arab tidak disebut
sebagai "Arab" dalam sumber-sumber kuno, karena gaya hidup
mereka sudah menetap (hadharah). Mereka disebut dengan nama spesifik
kerajaan/suku mereka.
Hal ini telah membuat para sejarawan modern bingung dalam
mengidentifikasi siapa saja yang termasuk "Arab" pada ribuan tahun
lalu. Banyak nama suku dalam Taurat (Kitab Kejadian) yang jelas-jelas suku
Arab, tetapi Taurat sendiri tidak menyebut mereka "Arab", karena
mereka bukan badui.
Kesimpulan penulis: Kata "Arab" sebagai
nama untuk suatu bangsa (etnonim) belum dikenal sebelum Masehi. Yang
dikenal hanya makna "badui". Oleh karena itu, kita tidak bisa
memaksakan identitas "Arab" secara modern pada masyarakat kuno
Jazirah Arab.
Teori "Arab sebagai Tempat Lahir Bangsa Semit"
Jika kita menerima teori bahwa Jazirah Arab adalah
tempat asal (madia) bangsa Semit (teori yang populer di kalangan
orientalis abad 19-20), maka kita harus mengakui bahwa:
Sebagian besar penduduk Bulan Sabit Subur dan padang pasir
Suriah adalah "produk" dari pabrik pembiakan bangsa Semit
yang berlokasi di Jazirah Arab.
Dengan kata lain, pabrik itu telah memasok
gelombang demi gelombang migran Semit ke wilayah yang membentang dari Iran
hingga Laut Mediterania. Hubungan Arab dengan Bulan Sabit Subur sudah
berlangsung sejak awal keberadaan bangsa Semit—bahkan mungkin lebih awal dari
itu.
Dan para peneliti modern melihat bukti bahwa sejak milenium
ketiga SM (atau bahkan sebelumnya), penguasa Mesopotamia telah
menguasai wilayah Arab timur (termasuk Bahrain dan pulau-pulau Teluk),
dan bahwa bangsa Fenisia berasal dari Bahrain—dari situlah mereka
berlayar ke pantai "Phoenicia" (Libanon sekarang).
Mustahil semua itu terjadi jika Jazirah Arab terisolasi dari
Bulan Sabit Subur. Sebaliknya, mereka adalah kesatuan geografis,
ekonomi, dan kultural.
Penutup: Masih Banyak Misteri yang Menanti
Apa yang telah kita ketahui tentang sejarah kuno Jazirah
Arab hanyalah setitik air di tengah lautan. Ribuan makam masih
belum digali. Ribuan gua masih menunggu peneliti. Prasasti-prasasti masih
terkubur di bawah pasir.
Namun, dari bukti-bukti yang tersebar ini, kita bisa
menyimpulkan:
- Jazirah
Arab telah dihuni manusia sejak zaman Paleolitik kuno (mungkin
50.000 tahun lalu atau lebih).
- Penduduk
Arab kuno memiliki hubungan erat dengan Afrika timur,
Mesopotamia, Syam, dan India.
- Mereka
membangun makam-makam raksasa yang menunjukkan
kepercayaan akan kehidupan setelah mati dan struktur sosial yang
terstratifikasi.
- Mereka
telah mengenal teknologi tembikar, metalurgi (perunggu, besi), dan
perdagangan jarak jauh.
- Namun,
identitas "Arab" sebagai suatu bangsa belum dikenal pada
masa pra-Kristen.
Wallahu a'lam.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar