Kekhalifahan al-Mustakfi Billah Abdullah bin al-Muktafi (333 – 334 H)


Biografi dan Kekhalifahannya

Nasabnya

Beliau adalah al-Mustakfi Billah Abdullah bin Ali al-Muktafi Billah bin al-Mu'tadid al-Hasyimi.

Sifat-sifatnya

Al-Mustakfi adalah seorang yang tampan, bertubuh sedang, memiliki postur dan wajah yang bagus, kulitnya putih kemerah-merahan, matanya seolah bercelak, hidungnya mancung, dan cambangnya tipis.

Wafatnya

Khalifah al-Mustakfi dilengserkan dan kedua matanya dicungkil pada tahun 334 H. Beliau wafat pada tahun 338 H saat berada dalam tahanan di rumahnya, dalam usia empat puluh enam tahun dua bulan.

Pengangkatannya

Ketika Tuzun melengserkan dan mencungkil mata al-Muttaqi Lillah, ia memanggil Abdullah bin Khalifah Ali al-Muktafi Billah, lalu membaiatnya sebagai khalifah dan memberinya gelar al-Mustakfi Billah. Peristiwa ini terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Safar tahun 333 H.

Usianya saat dibaiat sebagai khalifah adalah empat puluh satu tahun. Masa kekhalifahannya berlangsung selama satu tahun empat bulan.

Khalifah sebelumnya, al-Muttaqi Lillah, dihadirkan di hadapannya. Ia membaiat al-Mustakfi dan menyerahkan jubah (burdah) serta tongkat kebesaran. Tuzun duduk di hadapan khalifah baru, dan al-Mustakfi memberinya jubah kehormatan yang megah. Al-Mustakfi kemudian memerintahkan agar khalifah (sebelumnya), al-Muttaqi, dipenjara.

Pada bulan Muharram tahun 334 H, Khalifah al-Mustakfi menambahkan gelar "Imam al-Haq" pada gelarnya. Gelar ini dicetak pada mata uang dan diucapkan oleh para khatib di atas mimbar pada hari Jumat.


 

Pelengserannya

Pada hari kedua puluh dua bulan Jumadil Akhir tahun 334 H, Mu'izz al-Dawlah al-Buwaihi datang ke istana kekhalifahan setelah menguasai Baghdad. Ia duduk di atas singgasana di hadapan khalifah. Lalu, datanglah dua orang dari suku Daylam, mereka mengulurkan tangan kepada khalifah, menurunkannya dari kursinya, dan menyeretnya. Sorban khalifah melilit lehernya. Kemudian Mu'izz al-Dawlah bangkit dan pergi. Suasana di istana kekhalifahan menjadi kacau hingga (penjarahan) mencapai area harim (kediaman wanita), dan keadaan menjadi semakin parah.

Khalifah digiring berjalan kaki ke rumah Mu'izz al-Dawlah, lalu ditahan di sana. Kedua mata al-Mustakfi dicungkil dan ia dijebloskan ke penjara. Ia terus dipenjara hingga wafat pada tahun 338 H.

Lalu, Abu al-Qasim al-Fadhl bin al-Muqtadir dihadirkan, kemudian dibaiat sebagai khalifah dan diberi gelar al-Muti' Lillah.


 

Peristiwa-Peristiwa pada Masanya

Pengangkatan Abu al-Faraj as-Samiri sebagai Wazir

Khalifah al-Mustakfi mengangkat Abu al-Faraj Muhammad bin Ali as-Samiri sebagai wazir. Namun, ia tidak memiliki kekuasaan apa pun. Urusan pemerintahan sebenarnya dipegang oleh Ibnu Syirzad.

Wafatnya al-Qa'im al-Fathimi dan Pengangkatan Putranya, al-Mansur

Pada bulan Syawal tahun 334 H, al-Qa'im bi-Amrillah al-Qasim bin al-Mahdi wafat. Ia telah menunjuk putranya, al-Mansur Isma'il, sebagai penerusnya. Al-Mansur menyembunyikan kematian ayahnya selama beberapa waktu hingga posisinya stabil, baru kemudian ia mengumumkannya.

Peperangan Fatimiyah Melawan Kaum Khawarij di Afrika

Abu Yazid al-Khariji telah memerangi Dinasti Ubaidiyah al-Fathimiyah dan merebut kota-kota besar dari mereka. Mereka (pasukan Fatimiyah) telah berulang kali dikalahkan, namun ia (Abu Yazid) selalu memberontak kembali, mengumpulkan orang-orang, dan memerangi mereka dengan siapa saja yang mampu ia kumpulkan. Maka, al-Mansur al-Fathimi turun tangan sendiri untuk memerangi Abu Yazid pada tahun 333 H. Ia memimpin pasukan, dan terjadilah pertempuran panjang di antara mereka, yang telah dijelaskan secara rinci oleh Ibnu al-Atsir dalam kitabnya, Al-Kamil.

Pada suatu kesempatan, pasukan al-Mansur pernah terpukul mundur, dan ia hanya tersisa bersama dua puluh orang. Namun, ia bertempur dengan gagah berani dan berhasil mengalahkan Abu Yazid al-Khariji setelah nyaris membunuhnya. Al-Mansur menunjukkan keteguhan yang luar biasa dan berhasil merebut kembali wilayah Qayrawan darinya. Al-Mansur terus memeranginya hingga berhasil menangkap dan membunuhnya. Ketika kepala Abu Yazid dibawa kepadanya, ia bersujud syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Abu Yazid ini berpenampilan buruk, pincang, pendek, dan seorang Khawarij yang ekstrem. Ia meyakini pengkafiran terhadap seluruh umat Islam. Semoga Allah menjelekkannya di dunia dan di akhirat.


 

Runtuhnya Dinasti al-Baridi

Pada tahun 333 H, Abu al-Husain al-Baridi datang ke Baghdad untuk meminta bantuan Tuzun dan Abu Ja'far bin Syirzad untuk melawan keponakannya. Mereka menjanjikan bantuan. Namun, ia kemudian mulai merusak hubungan antara Tuzun dan Ibnu Syirzad. Ibnu Syirzad mengetahui hal ini, lalu memerintahkan agar ia dipenjara dan dipukuli. Ibnu Syirzad mendatangkan beberapa ahli fikih yang memberikan fatwa yang telah ditandatangani oleh para ahli fikih lainnya tentang kehalalan darahnya. Dengan fatwa itu, ia merasa punya pembenaran, lalu memerintahkan agar al-Baridi dibunuh dan disalib. Kemudian, pada bulan Zulhijah tahun itu, jasadnya dibakar. Berakhirlah masa dinasti al-Baridi dan runtuhlah kekuasaan mereka. Semoga Allah tidak menyatukan barisan mereka.

Konflik antara Dinasti Hamdaniyah dan Ikhsyidiyah

Pada tahun 333 H, Saif al-Dawlah Ali bin Abi al-Haija' Abdullah bin Hamdan berangkat ke Aleppo dan mengambil alih kota itu dari Yanis al-Mu'nisi. Kemudian, ia bergerak menuju Homs untuk merebutnya. Pasukan al-Ikhsyid, Muhammad bin Thughj, yang dipimpin oleh maulanya, Kafur, datang menghadapinya. Mereka bertempur, dan Kafur al-Ikhsyidi pun kalah. Saif al-Dawlah menguasai Homs, lalu menuju Damaskus dan mengepungnya, namun penduduknya tidak membukakan kota untuknya, sehingga ia mundur. Al-Ikhsyid kemudian mendatanginya dengan pasukan besar, dan mereka bertemu di Qinnasrin. Tidak ada yang menang di antara keduanya. Saif al-Dawlah kembali ke al-Jazirah, lalu kembali lagi ke Aleppo dan memantapkan kekuasaannya di sana.

Invasi Romawi ke Wilayah al-Jazirah

Pada tahun 333 H, pasukan Romawi menyerbu wilayah al-Jazirah dengan kekuatan yang sangat besar. Saif al-Dawlah bin Hamdan menghadapi mereka, lalu berhasil mengalahkan mereka dan membunuh banyak sekali dari mereka.

Pengangkatan Ibnu Syirzad sebagai Amir al-Umara

Pada bulan Muharram tahun 334 H, Tuzun at-Turki wafat di kediamannya di Baghdad. Masa jabatannya sebagai amir berlangsung selama dua tahun, empat bulan, dan sepuluh hari. Saat itu, Ibnu Syirzad sedang berada di kota Hit untuk mengumpulkan pajak. Ketika kabar kematian Tuzun sampai kepadanya, ia bermaksud untuk membaiat Nashir al-Dawlah bin Hamdan. Akibatnya, para prajurit menjadi resah, dan kepemimpinan pun diserahkan kepadanya (Ibnu Syirzad).


 

Ibnu Syirzad memasuki Baghdad pada awal bulan Safar. Seluruh prajurit keluar menemuinya dan bersumpah setia kepadanya. Khalifah, para hakim, dan para pembesar juga bersumpah setia kepadanya. Ia menghadap khalifah, dan khalifah menyapanya dengan gelar Amir al-Umara.

Ia menaikkan gaji para prajurit dan mengirim utusan kepada Nashir al-Dawlah untuk menuntut pembayaran kharaj (pajak). Nashir al-Dawlah mengirimkan lima ratus ribu dirham dan bahan makanan, yang kemudian ia bagikan kepada rakyat. Ia memerintah dan melarang, mengangkat dan memberhentikan, menghukum dan memberi hadiah. Ia menikmati kekuasaannya selama tiga bulan dua puluh hari.

Kemudian, datang kabar bahwa Mu'izz al-Dawlah bin Buwaih sedang bergerak dengan pasukannya menuju Baghdad. Ibnu Syirzad dan juga khalifah pun bersembunyi. Sebagian besar tentara Turki pergi menuju Mosul untuk bergabung dengan Nashir al-Dawlah bin Hamdan.


Kepemimpinan Ibadah Haji

Pada tahun 333 H, yang memimpin ibadah haji adalah Qadi (hakim) Mekkah: Umar bin al-Hasan bin Abdil Aziz.


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Al-Muqtadir Billah Ja'far bin Al-Mu'tadhid (295 - 320 H)

Kekhalifahan Muhammad ar-Radhi billah bin al-Muqtadir billah (322 - 329 H)

Kekhalifahan Muhammad Al-Qahir Billah bin Ahmad Al-Mu'tadhid (320 – 322 H)