Pendahuluan

Sebuah lukisan sejarah bergaya klasik epik yang menggambarkan suasana malam di wilayah Khurasan kuno pada abad ke-8. Seorang pemimpin Arab terlihat dari belakang mengangkat sebuah panji hitam besar di atas tiang kayu yang tinggi di puncak bukit berbatu. Di sekelilingnya, sekelompok orang berjubah dan bersorban hitam berdiri dengan khidmat menghadap sebuah pemukiman kuno yang diterangi cahaya lampu di kejauhan. Langit malam dihiasi bulan sabit dan ribuan bintang, menciptakan pencahayaan dramatis yang memperkuat nuansa historis, penuh harapan, dan sinematik.

Dakwah Abbasiyah dan Pengorganisasiannya

Pada tahun 100 H, dakwah Abbasiyah dimulai. Hal itu berawal ketika Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas yang tinggal di wilayah Asy-Syarah mengutus seorang pria bernama Maysarah ke Irak. Beliau juga mengirim sekelompok orang lainnya ke Khurasan, yaitu:

  1. Muhammad bin Khunais
  2. Abu Muhammad Ash-Shadiq
  3. Hayyan Al-Attar

Pengutusan tersebut dilakukan pada bulan Ramadan. Beliau memerintahkan mereka untuk mengajak masyarakat mendukung dirinya dan keluarganya (Ahlulbait). Mereka pun menemui orang-orang yang dapat ditemui, kemudian kembali membawa surat-surat dari orang-orang yang menerima ajakan tersebut untuk diberikan kepada Maysarah yang berada di Irak. Maysarah lalu mengirimkan surat-surat itu kepada Muhammad bin Ali, dan beliau sangat senang serta gembira menerimanya.

Ibnu Katsir berkata: "Ini adalah permulaan dari suatu urusan yang telah Allah tetapkan penyelesaiannya, dan gagasan awal yang telah Allah kokohkan ketentuannya. Hal itu terjadi karena pada dinasti Bani Umayyah telah tampak tanda-tanda kelemahan dan kemunduran, terutama setelah wafatnya Umar bin Abdul Aziz."

Dakwah ini menyebar secara sembunyi-sembunyi hingga berhasil menarik respons dari cukup banyak orang. Kemudian Abu Muhammad Ash-Shadiq mengorganisasi mereka dan memilih 12 orang pemimpin (naqib), yaitu:

  1. Sulaiman bin Katsir Al-Khuza'i
  2. Lahir bin Quraith At-Tamimi
  3. Qahtabah bin Syabib At-Ta'i
  4. Musa bin Ka'ab At-Tamimi
  5. Khalid bin Ibrahim dari Bani Amr bin Syaiban
  6. Al-Qasim bin Mujasyi' At-Tamimi
  7. Imran bin Ismail (bekas hamba sahaya keluarga Abu Mu'aith)
  8. Malik bin Al-Haitsam Al-Khuza'i
  9. Thalhah bin Zuraiq Al-Khuza'i
  10. 'Amr bin A'yan Al-Khuza'i (bekas hamba sahaya mereka)
  11. 'Isa bin A'yan Al-Khuza'i (bekas hamba sahaya mereka)
  12. Syibl bin Thahman Al-Hanafi (bekas hamba sahaya mereka)

Selain itu, beliau juga memilih 70 orang pria dan menetapkan mereka sebagai para dai untuk mengarah pada keridaan bagi keluarga Muhammad . Muhammad bin Ali menuliskan sebuah surat bagi mereka yang dijadikan sebagai acuan, pedoman, dan panduan hidup yang mereka ikuti.

Pada tahun 105 H, gerakan dakwah Bani Abbasiyah secara rahasia semakin kuat di tanah Irak dan wilayah timur. Para dai mereka berhasil memperoleh dana yang sangat besar untuk membantu pergerakan dan tujuan yang sedang mereka perjuangkan.

Pada tahun 113 H, rombongan dai Bani Abbasiyah berangkat ke Khurasan dan menyebar di sana. Namun, penguasa Khurasan menangkap salah seorang dari mereka lalu membunuhnya, serta mengancam yang lainnya dengan hukuman serupa.

Pada tahun 124 H, sekelompok dai Bani Abbasiyah dari Khurasan pergi menuju Mekkah. Ketika melewati Kufah, mereka mendapat kabar bahwa di dalam penjara terdapat sejumlah pejabat (para wakil Khalid bin Abdullah Al-Qasri) yang dipenjarakan oleh Yusuf bin Umar. Para dai itu menemui mereka di penjara dan mengajak mereka untuk berbaiat kepada Bani Abbasiyah, dan ajakan tersebut diterima.

Di dalam penjara tersebut, mereka juga bertemu dengan Abu Muslim Al-Khurasani yang saat itu melayani 'Isa bin Ma'qil Al-'Ijli yang sedang dipenjara. Para dai kagum dengan keberanian, kekuatan, serta kesiapannya bersama tuannya untuk bergabung dalam urusan dakwah ini. Bukair bin Mahan kemudian membelinya seharga 400 dirham. Mereka membawa Abu Muslim pergi bersama mereka dan menugaskannya untuk urusan dakwah ini. Ke mana pun dia diutus, dia selalu melaksanakannya dengan baik dan membuahkan hasil.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 125 H, empat orang pemimpin (naqib) dakwah Abbasiyah—yaitu Sulaiman bin Katsir, Malik bin Al-Haitsam, Lahir bin Quraith, dan Qahtabah bin Syabib—datang ke Mekkah pada musim haji. Mereka menemui Muhammad bin Ali dan mengabarkan perihal Abu Muslim.

Kemudian mereka menyerahkan uang sebesar 200.000 dirham dan pakaian senilai 30.000 dirham kepada Muhammad bin Ali. Beliau berkata kepada mereka: "Mungkin kalian tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini. Jika aku wafat, maka pemimpin kalian adalah Ibrahim bin Muhammad (yaitu putranya), dan aku titipkan pesan kepada kalian untuk mengikutinya." Muhammad bin Ali kemudian meninggal dunia pada awal bulan Dzulqa'dah di tahun tersebut.

Pada tahun 128 H, Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas mengutus Abu Muslim Al-Khurasani ke Khurasan untuk bertanggung jawab atas gerakan dakwah. Beliau menitipkan surat kepada para pengikutnya di sana: "Ini adalah Abu Muslim, maka dengarkanlah dan taatilah dia. Sungguh aku telah mengangkatnya menjadi pemimpin atas wilayah Khurasan yang berhasil dikuasai."

Ketika Abu Muslim tiba di Khurasan dan membacakan surat tersebut kepada teman-temannya, mereka tidak mempedulikannya dan berpaling darinya. Abu Muslim kemudian kembali menemui Ibrahim bin Muhammad pada musim haji dan mengadukan sikap penolakan serta perlawanan mereka. Ibrahim berkata kepadanya: "Wahai Abdul Rahman, engkau adalah bagian dari kami, Ahlulbait. Kembalilah kepada mereka, dekatilah suku Yaman ini, tinggallah di tengah-tengah mereka, dan bergabunglah dengan syekh ini (Sulaiman bin Katsir) serta jangan mendurhakainya."

Penguasaan atas Khurasan

Pada tahun 129 H, datang surat dari Ibrahim bin Muhammad (Imam Abbasiyah) yang meminta Abu Muslim Al-Khurasani untuk menghadap bersama 70 orang naqib. Mereka pun berangkat. Setiap kali melewati suatu daerah dan ditanya: "Ke mana kalian akan pergi?", Abu Muslim menjawab: "Kami hendak menunaikan ibadah haji." Apabila Abu Muslim melihat ada kecenderungan positif dari seseorang, beliau mengajak orang tersebut masuk ke dalam pergerakan mereka, dan sebagian dari mereka menerima ajakan itu.

Ketika Abu Muslim masih di tengah perjalanan, datang surat kedua dari Imam Ibrahim: "Aku telah mengirimkan kepadamu bendera kemenangan, maka kembalilah ke Khurasan dan nyatakan dakwah secara terbuka." Abu Muslim mematuhi perintah tersebut. Beliau memerintahkan Qahtabah bin Syabib untuk membawa semua harta dan hadiah yang ada padanya kepada Imam Ibrahim dan menyerahkannya pada musim haji.

Abu Muslim kembali membawa surat Sang Imam dan memasuki Khurasan pada hari pertama bulan Ramadan tahun 129 H. Beliau menyerahkan surat itu kepada Sulaiman bin Katsir, yang isinya perintah untuk menyatakan dakwah secara terbuka dan tidak menunda-nunda lagi.

Abu Muslim lalu menyebarkan para dainya ke seluruh wilayah Khurasan dan sekitarnya. Sementara itu, Gubernur Khurasan, Nasr bin Sayyar Al-Kinani, sedang sibuk berperang melawan Al-Karmani dan Syaiban bin Salamah Al-Haruri.

Maka gerakan Abu Muslim muncul secara terbuka dan orang-orang berbondong-bondong datang mendukungnya dari segala penjuru. Bahkan dalam satu hari saja, penduduk dari 60 desa datang bergabung, dan banyak wilayah berhasil dikuasai olehnya.

Pada malam Kamis, tersisa lima hari dari bulan Ramadan tahun 129 H, Abu Muslim mengibarkan bendera yang dikirim oleh Sang Imam—yang diberi nama Azh-Zhill (Naungan)—pada tombak setinggi 14 hasta. Beliau juga mengibarkan bendera lain yang juga dikirim oleh Sang Imam—yang diberi nama As-Sahab (Awan)—pada tombak setinggi 13 hasta. Kedua bendera tersebut berwarna hitam. Saat itu beliau membaca firman Allah Ta'ala:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Artinya: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu." (QS. Al-Hajj: 39)

Abu Muslim, Sulaiman bin Katsir, dan semua orang yang menyambut ajakan dakwah ini mengenakan pakaian berwarna hitam, dan warna hitam ini menjadi simbol/identitas mereka. Orang-orang terus berdatangan kepada Abu Muslim dari berbagai penjuru sehingga pasukannya menjadi sangat banyak.

Ketika hari Raya Idulfitri tiba, Abu Muslim memerintahkan Sulaiman bin Katsir untuk memimpin salat Id bersama masyarakat dan membuatkan mimbar untuknya. Beliau memerintahkan untuk menyelisihi kebiasaan Bani Umayyah dalam pelaksanaan salat tersebut. Maka dilantunkan panggilan salat: "As-Shalatu Jami'ah".

Pelaksanaan salat didahulukan sebelum khotbah, dengan bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama sebelum membaca surah (bukan empat kali), dan lima kali pada rakaat kedua (bukan tiga kali), berbeda dengan yang dilakukan Bani Umayyah. Selesai salat Id, orang-orang pulang dan Abu Muslim telah menyiapkan hidangan makanan yang disajikan di hadapan mereka.

Abu Muslim kemudian menulis surat kepada Nasr bin Sayyar yang diawali dengan namanya sendiri, lalu tertulis:

"Kepada Nasr bin Sayyar. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Amma ba'du, sesungguhnya Allah—Maha Suci nama-nama-Nya—telah mencela suatu kaum dalam Kitab-Nya melalui firman-Nya:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِن جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَّيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَّا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا ﴿٤٢﴾ اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا ﴿٤٣﴾

Artinya: "Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sungguh jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tetapi ketika datang kepada mereka pemberi peringatan, hal itu tidak menambah kepada mereka melainkan makin jauh (dari kebenaran), karena menyombongkan diri di bumi dan karena rencana yang jahat. Padahal rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Maka tidak ada yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku kepada) orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapati perubahan bagi sunnah Allah, dan tidak (pula) akan mendapati penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (QS. Fathir: 42-43)

Ibnu Jarir berkata: Kemudian Nasr bin Sayyar Al-Kinani mengirimkan pasukan berkuda yang sangat besar untuk memerangi Abu Muslim, yaitu 18 bulan setelah pemunculan terbuka gerakan Abu Muslim (pada akhir tahun 130 H). Abu Muslim mengutus Malik bin Al-Haitsam Al-Khuza'i untuk menghadapi mereka.

Ketika kedua pasukan bertemu di sana, Malik mengajak mereka untuk menerima keridaan dari keluarga Rasulullah , namun mereka menolaknya. Kedua pasukan berhadapan dan bertempur dari pagi hingga waktu asar. Kemudian datang pasukan bantuan bagi Malik sehingga posisinya semakin kuat, berhasil unggul, dan memperoleh kemenangan. Ini merupakan pertempuran pertama yang mempertemukan para dai Bani Abbasiyah melawan pasukan Bani Umayyah.

Setelah itu, jumlah pasukan Abu Muslim semakin bertambah dan kekuasaannya semakin besar. Beliau membentuk serta mengangkat pejabat untuk kepolisian, pengawal, kearsipan/surat-menyurat, dewan pemerintahan, dan urusan-urusan lain yang dibutuhkan dalam suatu kekuasaan. Beliau menunjuk Al-Qasim bin Mujasyi' At-Tamimi—yang merupakan salah seorang naqib—sebagai hakim (qadhi). Al-Qasim juga mengimami salat bersama Abu Muslim dan menyampaikan nasihat/ceramah setelah waktu asar, dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan Bani Hasyim serta mencela Bani Umayyah.

Kekuasaannya terus berkembang hingga berhasil menguasai kota demi kota satu per satu, sampai akhirnya menguasai seluruh wilayah Khurasan dan mengusir Nasr bin Sayyar dari sana. Nasr kabur menuju Hamadzan, lalu meninggal dunia di Sawah pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 131 H dalam usia 85 tahun.

Penguasaan atas Irak

Pada tahun 131 H, panglima Abbasiyah, Qahthabah bin Syabib, berangkat dari Khorasan menuju Irak membawa pasukan yang sangat besar. Ketika ia semakin dekat, gubernur Irak untuk Bani Umayyah, Yazid bin Umar bin Hubairah, melarikan diri hingga menyeberangi Sungai Efrat.

Pada bulan Muharram tahun 132 H, Qahthabah menyeberangi Sungai Efrat bersama para prajurit dan pasukan berkuda. Sementara itu, Ibnu Hubairah berkemah di muara Sungai Efrat dekat wilayah Fallujah bersama pasukan dalam jumlah yang sangat banyak.

Akan tetapi, Qahthabah bin Syabib berbelok menuju Kufah untuk menguasainya. Ibnu Hubairah pun membuntutinya. Pada malam Rabu tanggal 8 Muharram, pertempuran sengit terjadi di antara kedua belah pihak dan memakan banyak korban jiwa. Pasukan dari Syam akhirnya mundur dan kalah. Pada malam tersebut, sejumlah pemimpin utama gugur, di antaranya adalah Qahthabah bin Syabib.

Kedudukannya kemudian digantikan oleh putranya, Al-Hasan bin Qahthabah, yang segera bergerak menuju Kufah. Di Kufah, Muhammad bin Khalid bin Abdullah Al-Qasri telah melakukan perlawanan, menyerukan dukungan untuk Bani Abbasiyah, dan mengibarkan bendera hitam. Perlawanan tersebut terjadi pada malam Asyura di bulan Muharram. Ia berhasil mengusir gubernur Kufah yang diangkat oleh Ibnu Hubairah, lalu Al-Hasan bin Qahthabah masuk ke Kufah.

Sebelumnya, Qahthabah telah berwasiat agar urusan kementerian (pemerintahan) kekhalifahan diserahkan kepada Abu Salamah Hafs bin Sulaiman Al-Khallal yang berada di Kufah. Ketika mereka menemuinya, Abu Salamah menyarankan agar Al-Hasan bin Qahthabah pergi bersama sekelompok panglima untuk memerangi Ibnu Hubairah di Wasith, sedangkan saudaranya, Humaid bin Qahthabah, pergi ke Al-Madain. Ia juga mengirimkan pasukan ke berbagai penjuru wilayah tersebut untuk menaklukkannya.

Sementara itu, Ibrahim bin Muhammad Al-Imam (pemimpin gerakan Abbasiyah) telah berwasiat kepada keluarganya agar saudaranya, Abu Al-Abbas As-Saffah, menjadi khalifah setelahnya. Ia memerintahkan mereka untuk berangkat ke Kufah. Mereka pun segera berangkat bersama-sama. Ketika tiba di Kufah, Abu Salamah Al-Khallal menempatkan mereka di rumah Al-Walid bin Sa'd. Ia menyembunyikan keberadaan mereka dari para komandan dan panglima selama sekitar 40 malam. Setelah itu, ia memindahkan mereka ke tempat lain hingga seluruh wilayah berhasil ditaklukkan, lalu dibaiatlah As-Saffah sebagai khalifah.

Pertempuran Az-Zab

Ketika berita mengenai gerakan Abu Muslim dan para pengikutnya di tanah Khorasan serta kekacauan di Irak sampai kepada Marwan bin Muhammad, ia pindah dari Harran dan berkemah di tepi sungai dekat Mosul yang bernama Sungai Zab di wilayah Al-Jazirah. Kemudian, ketika mendengar bahwa As-Saffah telah dibaiat di Kufah, didukung oleh banyak prajurit, dan kekuasaannya semakin kuat, Marwan merasa sangat terancam lalu mengumpulkan seluruh pasukannya.

As-Saffah mengutus pamannya, Abdullah bin Ali, untuk memerangi Marwan seraya berkata: "Berangkatlah dengan keberkahan Allah." Maka Abdullah berangkat membawa pasukan yang sangat besar. Ia maju bersama pasukannya hingga berhadapan langsung dengan pasukan Marwan. Marwan pun bersiap bersama prajurit dan pendukungnya, lalu kedua belah pihak membentuk barisan di awal hari. Jumlah pasukan Marwan saat itu mencapai 150.000 prajurit, sedangkan pasukan Abdullah bin Ali berjumlah 20.000 prajurit.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Sabtu, tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 132 H. Musa bin Ka'ab berkata kepada Abdullah bin Ali: "Perintahkan orang-orang untuk turun dari tunggangan mereka!" Maka diserukanlah perintah tersebut. Para prajurit turun ke tanah, mengarahkan tombak, berlutut, dan bertempur sengit. Pasukan Syam mulai terdesak dan mundur perlahan, sementara Abdullah dan pasukannya terus maju.

Pertempuran berlangsung sangat sengit. Marwan mengirim pesan kepada suku Qudha'ah agar turun bertempur, namun mereka menjawab: "Katakan kepada Bani Sulaim agar mereka turun terlebih dahulu!" Ia lalu mengirim pesan kepada suku Sakasik untuk menyerang, namun mereka menjawab: "Katakan kepada Bani Amir agar mereka menyerang terlebih dahulu!" Ia juga mengirim pesan kepada suku Sakun untuk menyerang, namun mereka menjawab: "Katakan kepada suku Ghathafan agar mereka menyerang terlebih dahulu!" Akibatnya, pasukan Marwan mengalami krisis kekompakan dan saling menjatuhkan meskipun jumlah mereka sangat banyak. Pasukan Syam akhirnya menderita kekalahan dan melarikan diri, sementara pasukan Khorasan terus mengejar sambil membunuh dan menawan mereka. Jumlah pasukan Syam yang tewas tenggelam jauh lebih banyak daripada yang terbunuh dalam pertempuran.

Abdullah bin Ali kemudian memerintahkan untuk membangun jembatan dan mengangkat jasad orang-orang yang tenggelam, lalu ia menetap di lokasi pertempuran selama tujuh hari.

Ia menulis surat kepada Amirul Mukminin Abu Al-Abbas As-Saffah untuk mengabarkan kemenangan yang telah dikaruniakan Allah serta harta rampasan yang berhasil diperoleh. Menerima kabar tersebut, As-Saffah melakukan sujud/shalat dua rakaat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Ia memberikan hadiah sebesar 500 dirham kepada setiap prajurit yang ikut serta dalam pertempuran dan menaikkan gaji rutin mereka menjadi 80 dirham.

Pertempuran ini menjadi akhir dari era Dinasti Umayyah yang saat itu telah terbebani oleh berbagai perselisihan dan permasalahan. Banyaknya pemberontakan membuat kekuatan mereka terpecah belah hingga memaksa sang khalifah melarikan diri. Sungguh, ketetapan Allah itu pasti terjadi. Allah Ta'ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'" (QS. Ali 'Imran: 26)


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Yazid bin Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan Tahun 126 H (Enam Bulan)

Kekhalifahan Ibrahim bin al-Walid bin Abdul Malik (Dzulhijjah 126 H hingga Shafar 127 H)

Kekhalifahan Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik (125 – 126 H)