Pendahuluan
Dakwah Abbasiyah dan Pengorganisasiannya
Pada tahun 100 H, dakwah Abbasiyah dimulai. Hal itu berawal
ketika Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas yang tinggal di wilayah
Asy-Syarah mengutus seorang pria bernama Maysarah ke Irak. Beliau juga mengirim
sekelompok orang lainnya ke Khurasan, yaitu:
- Muhammad
bin Khunais
- Abu
Muhammad Ash-Shadiq
- Hayyan
Al-Attar
Pengutusan tersebut dilakukan pada bulan Ramadan. Beliau
memerintahkan mereka untuk mengajak masyarakat mendukung dirinya dan
keluarganya (Ahlulbait). Mereka pun menemui orang-orang yang dapat ditemui,
kemudian kembali membawa surat-surat dari orang-orang yang menerima ajakan
tersebut untuk diberikan kepada Maysarah yang berada di Irak. Maysarah lalu
mengirimkan surat-surat itu kepada Muhammad bin Ali, dan beliau sangat senang
serta gembira menerimanya.
Ibnu Katsir berkata: "Ini adalah permulaan dari suatu
urusan yang telah Allah tetapkan penyelesaiannya, dan gagasan awal yang telah
Allah kokohkan ketentuannya. Hal itu terjadi karena pada dinasti Bani Umayyah
telah tampak tanda-tanda kelemahan dan kemunduran, terutama setelah wafatnya
Umar bin Abdul Aziz."
Dakwah ini menyebar secara sembunyi-sembunyi hingga berhasil
menarik respons dari cukup banyak orang. Kemudian Abu Muhammad Ash-Shadiq
mengorganisasi mereka dan memilih 12 orang pemimpin (naqib), yaitu:
- Sulaiman
bin Katsir Al-Khuza'i
- Lahir
bin Quraith At-Tamimi
- Qahtabah
bin Syabib At-Ta'i
- Musa
bin Ka'ab At-Tamimi
- Khalid
bin Ibrahim dari Bani Amr bin Syaiban
- Al-Qasim
bin Mujasyi' At-Tamimi
- Imran
bin Ismail (bekas hamba sahaya keluarga Abu Mu'aith)
- Malik
bin Al-Haitsam Al-Khuza'i
- Thalhah
bin Zuraiq Al-Khuza'i
- 'Amr
bin A'yan Al-Khuza'i (bekas hamba sahaya mereka)
- 'Isa
bin A'yan Al-Khuza'i (bekas hamba sahaya mereka)
- Syibl
bin Thahman Al-Hanafi (bekas hamba sahaya mereka)
Selain itu, beliau juga memilih 70 orang pria dan menetapkan
mereka sebagai para dai untuk mengarah pada keridaan bagi keluarga Muhammad ﷺ.
Muhammad bin Ali menuliskan sebuah surat bagi mereka yang dijadikan sebagai
acuan, pedoman, dan panduan hidup yang mereka ikuti.
Pada tahun 105 H, gerakan dakwah Bani Abbasiyah secara
rahasia semakin kuat di tanah Irak dan wilayah timur. Para dai mereka berhasil
memperoleh dana yang sangat besar untuk membantu pergerakan dan tujuan yang
sedang mereka perjuangkan.
Pada tahun 113 H, rombongan dai Bani Abbasiyah berangkat ke
Khurasan dan menyebar di sana. Namun, penguasa Khurasan menangkap salah seorang
dari mereka lalu membunuhnya, serta mengancam yang lainnya dengan hukuman
serupa.
Pada tahun 124 H, sekelompok dai Bani Abbasiyah dari
Khurasan pergi menuju Mekkah. Ketika melewati Kufah, mereka mendapat kabar
bahwa di dalam penjara terdapat sejumlah pejabat (para wakil Khalid bin
Abdullah Al-Qasri) yang dipenjarakan oleh Yusuf bin Umar. Para dai itu menemui
mereka di penjara dan mengajak mereka untuk berbaiat kepada Bani Abbasiyah, dan
ajakan tersebut diterima.
Di dalam penjara tersebut, mereka juga bertemu dengan Abu
Muslim Al-Khurasani yang saat itu melayani 'Isa bin Ma'qil Al-'Ijli yang sedang
dipenjara. Para dai kagum dengan keberanian, kekuatan, serta kesiapannya
bersama tuannya untuk bergabung dalam urusan dakwah ini. Bukair bin Mahan
kemudian membelinya seharga 400 dirham. Mereka membawa Abu Muslim pergi bersama
mereka dan menugaskannya untuk urusan dakwah ini. Ke mana pun dia diutus, dia
selalu melaksanakannya dengan baik dan membuahkan hasil.
Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 125 H, empat orang pemimpin
(naqib) dakwah Abbasiyah—yaitu Sulaiman bin Katsir, Malik bin Al-Haitsam, Lahir
bin Quraith, dan Qahtabah bin Syabib—datang ke Mekkah pada musim haji. Mereka
menemui Muhammad bin Ali dan mengabarkan perihal Abu Muslim.
Kemudian mereka menyerahkan uang sebesar 200.000 dirham dan
pakaian senilai 30.000 dirham kepada Muhammad bin Ali. Beliau berkata kepada
mereka: "Mungkin kalian tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun
ini. Jika aku wafat, maka pemimpin kalian adalah Ibrahim bin Muhammad (yaitu
putranya), dan aku titipkan pesan kepada kalian untuk mengikutinya."
Muhammad bin Ali kemudian meninggal dunia pada awal bulan Dzulqa'dah di tahun
tersebut.
Pada tahun 128 H, Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah
bin Abbas mengutus Abu Muslim Al-Khurasani ke Khurasan untuk bertanggung jawab
atas gerakan dakwah. Beliau menitipkan surat kepada para pengikutnya di sana:
"Ini adalah Abu Muslim, maka dengarkanlah dan taatilah dia. Sungguh aku
telah mengangkatnya menjadi pemimpin atas wilayah Khurasan yang berhasil
dikuasai."
Ketika Abu Muslim tiba di Khurasan dan membacakan surat
tersebut kepada teman-temannya, mereka tidak mempedulikannya dan berpaling
darinya. Abu Muslim kemudian kembali menemui Ibrahim bin Muhammad pada musim
haji dan mengadukan sikap penolakan serta perlawanan mereka. Ibrahim berkata
kepadanya: "Wahai Abdul Rahman, engkau adalah bagian dari kami, Ahlulbait.
Kembalilah kepada mereka, dekatilah suku Yaman ini, tinggallah di tengah-tengah
mereka, dan bergabunglah dengan syekh ini (Sulaiman bin Katsir) serta jangan
mendurhakainya."
Penguasaan atas Khurasan
Pada tahun 129 H, datang surat dari Ibrahim bin Muhammad
(Imam Abbasiyah) yang meminta Abu Muslim Al-Khurasani untuk menghadap bersama
70 orang naqib. Mereka pun berangkat. Setiap kali melewati suatu daerah dan
ditanya: "Ke mana kalian akan pergi?", Abu Muslim menjawab:
"Kami hendak menunaikan ibadah haji." Apabila Abu Muslim melihat ada
kecenderungan positif dari seseorang, beliau mengajak orang tersebut masuk ke
dalam pergerakan mereka, dan sebagian dari mereka menerima ajakan itu.
Ketika Abu Muslim masih di tengah perjalanan, datang surat
kedua dari Imam Ibrahim: "Aku telah mengirimkan kepadamu bendera
kemenangan, maka kembalilah ke Khurasan dan nyatakan dakwah secara
terbuka." Abu Muslim mematuhi perintah tersebut. Beliau memerintahkan
Qahtabah bin Syabib untuk membawa semua harta dan hadiah yang ada padanya
kepada Imam Ibrahim dan menyerahkannya pada musim haji.
Abu Muslim kembali membawa surat Sang Imam dan memasuki
Khurasan pada hari pertama bulan Ramadan tahun 129 H. Beliau menyerahkan surat
itu kepada Sulaiman bin Katsir, yang isinya perintah untuk menyatakan dakwah
secara terbuka dan tidak menunda-nunda lagi.
Abu Muslim lalu menyebarkan para dainya ke seluruh wilayah
Khurasan dan sekitarnya. Sementara itu, Gubernur Khurasan, Nasr bin Sayyar
Al-Kinani, sedang sibuk berperang melawan Al-Karmani dan Syaiban bin Salamah
Al-Haruri.
Maka gerakan Abu Muslim muncul secara terbuka dan
orang-orang berbondong-bondong datang mendukungnya dari segala penjuru. Bahkan
dalam satu hari saja, penduduk dari 60 desa datang bergabung, dan banyak
wilayah berhasil dikuasai olehnya.
Pada malam Kamis, tersisa lima hari dari bulan Ramadan tahun
129 H, Abu Muslim mengibarkan bendera yang dikirim oleh Sang Imam—yang diberi
nama Azh-Zhill (Naungan)—pada tombak setinggi 14 hasta. Beliau juga
mengibarkan bendera lain yang juga dikirim oleh Sang Imam—yang diberi nama As-Sahab
(Awan)—pada tombak setinggi 13 hasta. Kedua bendera tersebut berwarna hitam.
Saat itu beliau membaca firman Allah Ta'ala:
أُذِنَ
لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ
نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
Artinya: "Telah diizinkan (berperang) bagi
orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan
sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu." (QS.
Al-Hajj: 39)
Abu Muslim, Sulaiman bin Katsir, dan semua orang yang
menyambut ajakan dakwah ini mengenakan pakaian berwarna hitam, dan warna hitam
ini menjadi simbol/identitas mereka. Orang-orang terus berdatangan kepada Abu
Muslim dari berbagai penjuru sehingga pasukannya menjadi sangat banyak.
Ketika hari Raya Idulfitri tiba, Abu Muslim memerintahkan
Sulaiman bin Katsir untuk memimpin salat Id bersama masyarakat dan membuatkan
mimbar untuknya. Beliau memerintahkan untuk menyelisihi kebiasaan Bani Umayyah
dalam pelaksanaan salat tersebut. Maka dilantunkan panggilan salat: "As-Shalatu
Jami'ah".
Pelaksanaan salat didahulukan sebelum khotbah, dengan
bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama sebelum membaca surah (bukan
empat kali), dan lima kali pada rakaat kedua (bukan tiga kali), berbeda dengan
yang dilakukan Bani Umayyah. Selesai salat Id, orang-orang pulang dan Abu
Muslim telah menyiapkan hidangan makanan yang disajikan di hadapan mereka.
Abu Muslim kemudian menulis surat kepada Nasr bin Sayyar
yang diawali dengan namanya sendiri, lalu tertulis:
"Kepada Nasr bin Sayyar. Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Amma ba'du, sesungguhnya Allah—Maha Suci nama-nama-Nya—telah mencela suatu kaum
dalam Kitab-Nya melalui firman-Nya:
وَأَقْسَمُوا
بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِن جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَّيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ
مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَّا زَادَهُمْ إِلَّا
نُفُورًا ﴿٤٢﴾ اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ
الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ
الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَن تَجِدَ
لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا ﴿٤٣﴾
Artinya: "Dan mereka bersumpah dengan nama Allah
dengan sekuat-kuat sumpah; sungguh jika datang kepada mereka seorang pemberi
peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu
umat-umat (yang lain). Tetapi ketika datang kepada mereka pemberi peringatan,
hal itu tidak menambah kepada mereka melainkan makin jauh (dari kebenaran),
karena menyombongkan diri di bumi dan karena rencana yang jahat. Padahal
rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.
Maka tidak ada yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah
yang telah berlaku kepada) orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan
mendapati perubahan bagi sunnah Allah, dan tidak (pula) akan mendapati
penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (QS. Fathir: 42-43)
Ibnu Jarir berkata: Kemudian Nasr bin Sayyar Al-Kinani
mengirimkan pasukan berkuda yang sangat besar untuk memerangi Abu Muslim, yaitu
18 bulan setelah pemunculan terbuka gerakan Abu Muslim (pada akhir tahun 130
H). Abu Muslim mengutus Malik bin Al-Haitsam Al-Khuza'i untuk menghadapi
mereka.
Ketika kedua pasukan bertemu di sana, Malik mengajak mereka
untuk menerima keridaan dari keluarga Rasulullah ﷺ, namun mereka menolaknya. Kedua pasukan
berhadapan dan bertempur dari pagi hingga waktu asar. Kemudian datang pasukan
bantuan bagi Malik sehingga posisinya semakin kuat, berhasil unggul, dan
memperoleh kemenangan. Ini merupakan pertempuran pertama yang mempertemukan
para dai Bani Abbasiyah melawan pasukan Bani Umayyah.
Setelah itu, jumlah pasukan Abu Muslim semakin bertambah dan
kekuasaannya semakin besar. Beliau membentuk serta mengangkat pejabat untuk
kepolisian, pengawal, kearsipan/surat-menyurat, dewan pemerintahan, dan
urusan-urusan lain yang dibutuhkan dalam suatu kekuasaan. Beliau menunjuk
Al-Qasim bin Mujasyi' At-Tamimi—yang merupakan salah seorang naqib—sebagai
hakim (qadhi). Al-Qasim juga mengimami salat bersama Abu Muslim dan
menyampaikan nasihat/ceramah setelah waktu asar, dengan menyebutkan
kebaikan-kebaikan Bani Hasyim serta mencela Bani Umayyah.
Kekuasaannya terus berkembang hingga berhasil menguasai kota
demi kota satu per satu, sampai akhirnya menguasai seluruh wilayah Khurasan dan
mengusir Nasr bin Sayyar dari sana. Nasr kabur menuju Hamadzan, lalu meninggal
dunia di Sawah pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 131 H dalam usia 85 tahun.
Penguasaan atas Irak
Pada tahun 131 H, panglima Abbasiyah, Qahthabah bin Syabib,
berangkat dari Khorasan menuju Irak membawa pasukan yang sangat besar. Ketika
ia semakin dekat, gubernur Irak untuk Bani Umayyah, Yazid bin Umar bin
Hubairah, melarikan diri hingga menyeberangi Sungai Efrat.
Pada bulan Muharram tahun 132 H, Qahthabah menyeberangi
Sungai Efrat bersama para prajurit dan pasukan berkuda. Sementara itu, Ibnu
Hubairah berkemah di muara Sungai Efrat dekat wilayah Fallujah bersama pasukan
dalam jumlah yang sangat banyak.
Akan tetapi, Qahthabah bin Syabib berbelok menuju Kufah
untuk menguasainya. Ibnu Hubairah pun membuntutinya. Pada malam Rabu tanggal 8
Muharram, pertempuran sengit terjadi di antara kedua belah pihak dan memakan
banyak korban jiwa. Pasukan dari Syam akhirnya mundur dan kalah. Pada malam
tersebut, sejumlah pemimpin utama gugur, di antaranya adalah Qahthabah bin
Syabib.
Kedudukannya kemudian digantikan oleh putranya, Al-Hasan bin
Qahthabah, yang segera bergerak menuju Kufah. Di Kufah, Muhammad bin Khalid bin
Abdullah Al-Qasri telah melakukan perlawanan, menyerukan dukungan untuk Bani
Abbasiyah, dan mengibarkan bendera hitam. Perlawanan tersebut terjadi pada
malam Asyura di bulan Muharram. Ia berhasil mengusir gubernur Kufah yang
diangkat oleh Ibnu Hubairah, lalu Al-Hasan bin Qahthabah masuk ke Kufah.
Sebelumnya, Qahthabah telah berwasiat agar urusan
kementerian (pemerintahan) kekhalifahan diserahkan kepada Abu Salamah Hafs bin
Sulaiman Al-Khallal yang berada di Kufah. Ketika mereka menemuinya, Abu Salamah
menyarankan agar Al-Hasan bin Qahthabah pergi bersama sekelompok panglima untuk
memerangi Ibnu Hubairah di Wasith, sedangkan saudaranya, Humaid bin Qahthabah,
pergi ke Al-Madain. Ia juga mengirimkan pasukan ke berbagai penjuru wilayah
tersebut untuk menaklukkannya.
Sementara itu, Ibrahim bin Muhammad Al-Imam (pemimpin
gerakan Abbasiyah) telah berwasiat kepada keluarganya agar saudaranya, Abu
Al-Abbas As-Saffah, menjadi khalifah setelahnya. Ia memerintahkan mereka untuk
berangkat ke Kufah. Mereka pun segera berangkat bersama-sama. Ketika tiba di
Kufah, Abu Salamah Al-Khallal menempatkan mereka di rumah Al-Walid bin Sa'd. Ia
menyembunyikan keberadaan mereka dari para komandan dan panglima selama sekitar
40 malam. Setelah itu, ia memindahkan mereka ke tempat lain hingga seluruh
wilayah berhasil ditaklukkan, lalu dibaiatlah As-Saffah sebagai khalifah.
Pertempuran Az-Zab
Ketika berita mengenai gerakan Abu Muslim dan para
pengikutnya di tanah Khorasan serta kekacauan di Irak sampai kepada Marwan bin
Muhammad, ia pindah dari Harran dan berkemah di tepi sungai dekat Mosul yang
bernama Sungai Zab di wilayah Al-Jazirah. Kemudian, ketika mendengar bahwa
As-Saffah telah dibaiat di Kufah, didukung oleh banyak prajurit, dan
kekuasaannya semakin kuat, Marwan merasa sangat terancam lalu mengumpulkan
seluruh pasukannya.
As-Saffah mengutus pamannya, Abdullah bin Ali, untuk
memerangi Marwan seraya berkata: "Berangkatlah dengan keberkahan
Allah." Maka Abdullah berangkat membawa pasukan yang sangat besar. Ia maju
bersama pasukannya hingga berhadapan langsung dengan pasukan Marwan. Marwan pun
bersiap bersama prajurit dan pendukungnya, lalu kedua belah pihak membentuk
barisan di awal hari. Jumlah pasukan Marwan saat itu mencapai 150.000 prajurit,
sedangkan pasukan Abdullah bin Ali berjumlah 20.000 prajurit.
Peristiwa tersebut terjadi pada hari Sabtu, tanggal 11
Jumadil Akhir tahun 132 H. Musa bin Ka'ab berkata kepada Abdullah bin Ali:
"Perintahkan orang-orang untuk turun dari tunggangan mereka!" Maka
diserukanlah perintah tersebut. Para prajurit turun ke tanah, mengarahkan
tombak, berlutut, dan bertempur sengit. Pasukan Syam mulai terdesak dan mundur
perlahan, sementara Abdullah dan pasukannya terus maju.
Pertempuran berlangsung sangat sengit. Marwan mengirim pesan
kepada suku Qudha'ah agar turun bertempur, namun mereka menjawab: "Katakan
kepada Bani Sulaim agar mereka turun terlebih dahulu!" Ia lalu mengirim
pesan kepada suku Sakasik untuk menyerang, namun mereka menjawab: "Katakan
kepada Bani Amir agar mereka menyerang terlebih dahulu!" Ia juga mengirim
pesan kepada suku Sakun untuk menyerang, namun mereka menjawab: "Katakan
kepada suku Ghathafan agar mereka menyerang terlebih dahulu!" Akibatnya,
pasukan Marwan mengalami krisis kekompakan dan saling menjatuhkan meskipun
jumlah mereka sangat banyak. Pasukan Syam akhirnya menderita kekalahan dan
melarikan diri, sementara pasukan Khorasan terus mengejar sambil membunuh dan
menawan mereka. Jumlah pasukan Syam yang tewas tenggelam jauh lebih banyak
daripada yang terbunuh dalam pertempuran.
Abdullah bin Ali kemudian memerintahkan untuk membangun
jembatan dan mengangkat jasad orang-orang yang tenggelam, lalu ia menetap di
lokasi pertempuran selama tujuh hari.
Ia menulis surat kepada Amirul Mukminin Abu Al-Abbas
As-Saffah untuk mengabarkan kemenangan yang telah dikaruniakan Allah serta
harta rampasan yang berhasil diperoleh. Menerima kabar tersebut, As-Saffah
melakukan sujud/shalat dua rakaat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Ia
memberikan hadiah sebesar 500 dirham kepada setiap prajurit yang ikut serta
dalam pertempuran dan menaikkan gaji rutin mereka menjadi 80 dirham.
Pertempuran ini menjadi akhir dari era Dinasti Umayyah yang
saat itu telah terbebani oleh berbagai perselisihan dan permasalahan. Banyaknya
pemberontakan membuat kekuatan mereka terpecah belah hingga memaksa sang
khalifah melarikan diri. Sungguh, ketetapan Allah itu pasti terjadi. Allah
Ta'ala berfirman:
قُلِ
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ
تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ
تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhan
pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau
kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun
yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan. Sungguh, Engkau
Mahakuasa atas segala sesuatu.'" (QS. Ali 'Imran: 26)
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar