Kekhalifahan Muhammad Al-Mu'tazz bin Al-Mutawakkil Ja'far bin Al-Mu'tasim Billah (252-255 H)


Biografinya

Nasabnya
Abu Abdillah Al-Mu'tazz Muhammad bin Ja'far Al-Mutawakkil bin Muhammad Al-Mu'tasim bin Harun Ar-Rasyid bin Muhammad Al-Mahdi bin Abu Ja'far Al-Mansur. Dikatakan bahwa nama Al-Mu'tazz adalah Ahmad. Ada juga yang mengatakan: Az-Zubair. Pendapat inilah yang dipegang oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir dan beliau menuliskan biografinya dalam kitab Tarikh-nya.

Sifat-sifatnya
Ia adalah seorang yang berpostur tinggi, bertubuh besar, berparas tampan, hidungnya mancung, wajahnya bulat, senyumnya indah, berkulit putih, berambut hitam keriting dan lebat, berjanggut lebat, memiliki mata dan wajah yang rupawan, dahinya sempit, serta kedua pipinya kemerah-merahan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah memuji kecerdasannya, pemahamannya yang baik, serta adabnya, ketika beliau menemuinya pada masa hidup ayahnya, Al-Mutawakkil, di Samarra.

Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan bahwa ketika Al-Mu'tazz telah mahir Al-Qur'an pada masa hidup ayahnya (Al-Mutawakkil), ayahnya sangat menaruh perhatian pada hal tersebut. Para pembesar dan pemimpin berkumpul di Surra Man Raa (Samarra), dan mereka merayakan momen itu selama berhari-hari dengan perayaan yang sangat meriah.

Wafatnya
Ketika Al-Mu'tazz dilengserkan dari jabatan khalifah, ia dipenjara dan tidak diberi makan maupun minum hingga ia meninggal dunia. Peristiwa itu terjadi pada hari kedua bulan Sya'ban tahun 255 H. Al-Muhtadi Billah menyalatkannya, dan ia dimakamkan bersama saudaranya, Al-Muntashir. Usianya saat wafat adalah 24 tahun.

Masa kekhalifahannya berlangsung selama empat tahun, enam bulan, dan dua puluh tiga hari.


Kekhalifahannya

Baiatnya
Tahun 252 H dimulai ketika kekhalifahan telah stabil di tangan Al-Mu'tazz. Di mana Al-Musta'in telah mengundurkan diri dari kekhalifahan dan memberikan baiatnya kepada Al-Mu'tazz. Para khatib pada hari Jumat tanggal 4 Muharram di tahun ini mendoakan Khalifah Al-Mu'tazz Billah di atas mimbar-mimbar masjid jami di Baghdad. Al-Mu'tazz mengambil burdah (mantel nabi), tongkat, dan cincin (stempel) dari Al-Musta'in. Sementara itu, Al-Musta'in menetap di kota Wasith.

Ibnu Jarir telah menyebutkan banyak sekali pujian dari para penyair kepada Al-Mu'tazz sekaligus luapan kepuasan mereka atas lengsernya Al-Musta'in. Di antaranya adalah syair dari Muhammad bin Marwan bin Abul Janub bin Marwan yang memuji Al-Mu'tazz dan mencela Al-Musta'in sebagaimana kebiasaan para penyair:

إِنَّ الْأُمُورَ إِلَى الْمُعْتَزِّ قَدْ رَجَعَتْ ... وَالْمُسْتَعِينُ إِلَى حَالَاتِهِ رَجَعَا
وَكَانَ يَعْلَمُ أَنَّ الْمُلْكَ لَيْسَ لَهُ ... وَأَنَّهُ لَكَ لَكِنْ نَفْسَهُ خَدَعَا
إِنَّ الْخِلَافَةَ كَانَتْ لَا تُلَائِمُهُ ... كَانَتْ كَذَاتِ حَلِيلٍ زُوِّجَتْ مُتْعَا
مَا كَانَ أَقْبَحَ عِنْدَ النَّاسِ بَيْعَتَهُ ... وَكَانَ أَحْسَنَ قَوْلِ النَّاسِ قَدْ خُلِعَا

Sungguh segala urusan telah kembali kepada Al-Mu'tazz ... dan Al-Musta'in telah kembali ke keadaannya semula
Dia (Al-Musta'in) tahu bahwa kekuasaan itu bukanlah miliknya ... dan bahwa itu adalah milikmu, namun ia menipu dirinya sendiri
Sungguh kekhalifahan itu tidaklah pantas untuknya ... ibarat wanita bersuami yang dinikahkan secara mut'ah
Betapa buruknya baiatnya di mata manusia ... dan betapa indahnya perkataan orang-orang saat mengatakan: ia telah dilengserkan

Pencopotan Ibrahim dari Status Putra Mahkota dan Pembunuhannya
Pada bulan Rajab tahun 252 H, Al-Mu'tazz mencopot saudaranya, Ibrahim yang bergelar Al-Mu'ayyad, dari status putra mahkota lalu memenjarakannya. Ia memerintahkannya untuk menulis surat pernyataan yang menyudutkan dirinya sendiri. Ibrahim akhirnya meninggal di dalam penjara lima belas hari kemudian. Al-Mu'tazz kemudian menghadirkan para hakim dan tokoh masyarakat agar mereka bersaksi bahwa Ibrahim meninggal secara wajar (bukan dibunuh). Setelah itu, jenazahnya dibawa di atas seekor keledai beserta kain kafannya, lalu dikirimkan kepada ibunya untuk dimakamkan.

Pelengseran Khalifah Al-Mu'tazz Billah
Tiga hari menjelang akhir bulan Rajab tahun 255 H, Khalifah Al-Mu'tazz Billah dilengserkan. Sebab pelengserannya adalah: para tentara berkumpul dan menuntut gaji mereka kepadanya, namun ia tidak memiliki uang untuk diberikan kepada mereka. Ia pun meminta kepada ibunya agar meminjaminya uang untuk membayar mereka, tetapi ibunya menolak memberikannya.

Maka para tentara Turki bersepakat untuk melengserkannya. Sebagian komandan masuk menemuinya lalu memukulinya dengan gada. Mereka mengeluarkannya dalam keadaan mengenakan kemeja yang robek dan berlumuran darah. Mereka lalu mendirikannya di tengah-tengah halaman istana di bawah terik matahari yang sangat menyengat, hingga ia harus mengangkat kakinya bergantian karena saking panasnya. Mereka terus menerus menyiksanya dengan berbagai macam siksaan sampai ia mengundurkan diri.

Mereka kemudian mendatangkan Muhammad bin Al-Watsiq dari Baghdad, yang sebelumnya telah diasingkan oleh Al-Mu'tazz. Al-Mu'tazz lalu menyerahkan tampuk kekhalifahan kepadanya. Mereka membaiatnya dan memberinya gelar Al-Muhtadi Billah.

Ad-Dzahabi berkata: Al-Mu'tazz diangkat menjadi khalifah saat ia berusia dua puluh tahun, atau kurang dari itu, dan pemerintahan Al-Mu'tazz sangatlah lemah di bawah kendali orang-orang Turki.


Peristiwa-peristiwa pada Masanya

Kementerian Ahmad bin Abu Israil
Pada awal tahun 252 H, Al-Mu'tazz mengangkat Ahmad bin Abu Israil sebagai menteri (wazir), memberinya pakaian kebesaran, dan memakaikan mahkota di kepalanya.

Pembunuhan Al-Musta'in Billah
Pada bulan Syawal tahun 252 H, Al-Mu'tazz menulis surat kepada wakilnya di Baghdad, Muhammad bin Abdullah bin Thahir, memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan menuju Wasith guna membunuh Al-Musta'in yang menetap di sana. Ahmad bin Thalun At-Turki pun bersiap dan mendatanginya di Wasith. Ia mengeluarkannya dari rumahnya lalu membunuhnya. Dikatakan bahwa ia dipukuli hingga tewas. Ada yang mengatakan: ia ditenggelamkan di sungai Dujail. Ada pula yang mengatakan: lehernya dipenggal saat ia sedang sujud terakhir dalam salatnya. Jenazahnya dimakamkan di tempat ia salat, jejaknya dihilangkan, dan kepalanya dibawa kepada Al-Mu'tazz yang kemudian memerintahkan agar dikuburkan.

Pemberontakan Abu Dulaf di Daerah Hamadan
Pada bulan Rajab tahun 253 H, Al-Mu'tazz menugaskan Musa bin Bugha Al-Kabir untuk memimpin pasukan yang berjumlah sekitar empat ribu orang, untuk pergi memerangi Abdul Aziz bin Abu Dulaf di daerah Hamadan. Hal itu dikarenakan Abdul Aziz telah memberontak (keluar dari ketaatan), dengan membawa sekitar dua puluh ribu pasukan. Pasukan khalifah kemudian berhasil mengalahkan Abdul Aziz pada akhir bulan ini dengan kekalahan yang sangat telak.

Kemudian terjadi pertempuran kedua antara mereka pada bulan Ramadhan di daerah Karaj. Abdul Aziz kembali dikalahkan, dan banyak dari pasukannya yang terbunuh. Pasukan khalifah menawan banyak keluarga, bahkan menawan ibu dari Abdul Aziz. Mereka lalu mengirimkan kepada khalifah tujuh puluh pikulan kepala manusia dan banyak bendera rampasan, serta mengambil kembali wilayah kekuasaan khalifah yang sebelumnya dikuasai oleh Abdul Aziz.

Kemunculan Khawarij di Al-Bawazij
Pada hari raya Idul Fitri tahun 253 H, terjadi pertempuran dahsyat di dekat Al-Bawazij. Hal ini bermula ketika seorang pria bernama Musawir bin Abdul Hamid menguasai wilayah tersebut dan sekitar tujuh ratus orang Khawarij berkumpul bergabung bersamanya. Ia kemudian diserang oleh seorang pria bernama Bundar Ath-Thabari bersama sekitar tiga ratus pasukannya. Mereka bertemu pada hari itu dan bertempur dengan sengit. Sekitar lima puluh orang Khawarij terbunuh, sementara dari pihak Bundar tewas dua ratus orang, dan Bundar termasuk di antara yang terbunuh, rahimahullah (semoga Allah merahmatinya). Kemudian Musawir bergerak menuju Hulwan dan penduduknya memeranginya, penduduk dibantu oleh jamaah haji dari Khurasan. Musawir berhasil membunuh sekitar empat ratus orang dari mereka, qabbahahullah (semoga Allah memburukkannya). Banyak pula kelompok dari pihak Musawir yang terbunuh.

Terbunuhnya Washif At-Turki
Tiga hari menjelang akhir bulan Syawal tahun 253 H, Washif At-Turki dibunuh di tangan para prajurit dari kalangan Turki, Faraghanah, dan Asyrusaniyyah. Masyarakat awam berniat untuk menjarah rumahnya di Samarra serta rumah anak-anaknya, tetapi hal itu berhasil dicegah. Khalifah Al-Mu'tazz kemudian menyerahkan jabatan yang dipegang Washif kepada Bugha Asy-Syarabi.

Wafatnya Wakil Irak di Baghdad
Pada malam keempat belas bulan Dzulqa'dah tahun 253 H, Muhammad bin Abdullah bin Thahir, wakil Irak di Baghdad, meninggal dunia. Penyakit yang merenggut nyawanya adalah bisul-bisul yang tumbuh di kepala dan tenggorokannya. Ketika kabar ini sampai kepada Al-Mu'tazz, ia mengutus pakaian kebesaran dan surat pengangkatan sebagai gubernur kepada saudara almarhum, yaitu Ubaidillah bin Abdullah bin Thahir.

Pemberontakan Al-Husain Al-Kaukabi di Qazwin
Pada bulan Dzulqa'dah tahun 253 H, Musa bin Bugha Al-Kabir berhadapan dengan Al-Husain bin Ahmad Al-Kaukabi Ath-Thalibi, yang telah memberontak pada tahun 251 H, di dekat Qazwin. Keduanya bertempur dengan sengit, kemudian Al-Kaukabi berhasil dikalahkan. Musa bin Bugha merebut Qazwin, sementara Al-Kaukabi melarikan diri ke Dailam.

Pembunuhan Bugha Asy-Syarabi
Pada tahun 254 H, Khalifah Al-Mu'tazz memerintahkan pembunuhan Bugha Asy-Syarabi. Kepalanya dipancangkan di Samarra kemudian di Baghdad. Jenazahnya dibakar, sementara harta benda dan kekayaannya disita.

Korupsi para Penulis Departemen
Pada tahun 255 H, Shalih bin Washif menangkap Ahmad bin Israil (penulis pribadi Al-Mu'tazz), Al-Hasan bin Makhlad (penulis pribadi Qabihah ibu Al-Mu'tazz), dan Abu Nuh Isa bin Ibrahim. Mereka telah bersekongkol dengan para pegawai/penulis diwan (departemen pemerintahan) untuk memakan harta Baitul Mal. Shalih memukuli mereka dan mengambil pengakuan tertulis mereka atas penyalahgunaan harta dalam jumlah yang sangat besar. Tindakan penangkapan ini sebenarnya dilakukan secara diam-diam tanpa persetujuan dari Al-Mu'tazz. Harta benda, kekayaan, serta tanah perkebunan mereka disita, dan mereka dijuluki sebagai "Para Penulis Pengkhianat". Khalifah lalu terpaksa mengangkat orang lain untuk menggantikan mereka (tanpa kerelaannya).

Ekspansi Ya'qub bin Al-Laits
Pada tahun 255 H, terjadi pertempuran sengit antara Ya'qub bin Al-Laits (penguasa Sijistan) dan Ali bin Al-Husain bin Quraisy bin Syibl (penguasa Karman). Ali bin Al-Husain mengutus Thauq bin Al-Mughallis untuk menghadapi Ya'qub Al-Laits. Ia bertahan bertempur melawannya selama lebih dari sebulan, namun kemudian Ya'qub berhasil mengalahkan Thauq, lalu menawan dirinya beserta para komandan pasukannya. Setelah itu Ya'qub bergerak menuju Ali bin Al-Husain, dan berhasil menawannya pula. Ya'qub mengambil alih wilayah Karman, lalu menggabungkannya ke dalam wilayah kerajaannya di Sijistan. Setelah itu, Ya'qub bin Al-Laits mengirimkan hadiah yang sangat berharga kepada Al-Mu'tazz Billah.

Wilayah Mesir
Pada tahun 254 H, Ahmad bin Thalun diangkat menjadi gubernur wilayah Mesir. Dialah tokoh yang membangun masjid jami yang sangat terkenal di sana.

Wilayah Baghdad
Pada tahun 255 H, Khalifah mengangkat Sulaiman bin Abdullah bin Thahir sebagai wakilnya di wilayah Baghdad dan As-Sawad pada bulan Rabiul Awal di tahun tersebut.


Tokoh-tokoh Terkenal yang Wafat pada Masanya:

  • Abu Al-Hasan Ali Al-Hadi bin Muhammad Al-Jawad bin Ali Ar-Ridha bin Musa Al-Kazhim bin Ja'far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain Asy-Syahid bin Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah salah satu dari dua belas imam (Imam Kesebelas), dan beliau merupakan ayah dari Al-Hasan bin Ali Al-Askari (sosok yang diyakini dan ditunggu-tunggu kedatangannya oleh kelompok sesat, jahil, pendusta, dan keliru tersebut).
    Beliau (Ali Al-Hadi) adalah seorang ahli ibadah yang zuhud. Al-Mutawakkil telah memindahkannya ke Samarra, lalu ia menetap di sana selama dua puluh tahun lebih beberapa bulan, dan wafat di sana pada tahun 254 H.

Kepemimpinan Haji

  • Yang memimpin jamaah haji pada tahun 252 H adalah Muhammad bin Ahmad bin Isa bin Al-Mansur sebagai utusan dari Al-Mu'tazz.
  • Yang memimpin jamaah haji pada tahun 253 H adalah Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman Az-Zainabi.
  • Yang memimpin jamaah haji pada tahun 254 H adalah Ali bin Al-Husain bin Ismail bin Al-Abbas bin Muhammad.

Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Al-Mutawakkil 'Alallah Ja'far bin Al-Mu'tasim Billah (232 - 247 H)

Kekhalifahan Ahmad Al-Musta'in Billah bin Muhammad bin Al-Mu'tasim (248 - 251 H)

Kekhalifahan Muhammad Al-Muntasir Billah bin Al-Mutawakkil 'Ala Allah (247-248 H)