Kekhalifahan Muhammad Al-Muntasir Billah bin Al-Mutawakkil 'Ala Allah (247-248 H)
Biografinya
Nasabnya:
Muhammad bin Ja'far (Al-Mutawakkil) bin Al-Mu'tasim bin Harun bin Muhammad
Al-Mahdi bin Abi Ja'far Al-Mansur. Ibunya adalah seorang hamba sahaya (ummul
walad) bernama Habasyiyyah, keturunan Romawi.
Sifat-sifatnya:
Al-Muntasir memiliki mata yang lebar dan indah, hidung yang mancung, bertubuh
agak pendek, berwibawa, dan memiliki perawakan yang bagus.
Di antara perkataannya yang sangat baik adalah: "Demi
Allah, orang yang berada di atas kebatilan tidak akan pernah mulia sedikit pun,
meskipun bulan terbit dari dahinya. Dan orang yang berada di atas kebenaran
tidak akan pernah hina sedikit pun, meskipun seluruh dunia sepakat untuk
menentangnya."
Wafatnya:
Al-Muntasir pernah bermimpi seolah-olah ia sedang menaiki anak tangga, lalu ia
sampai pada anak tangga yang ke dua puluh lima. Ia pun menceritakan mimpi
tersebut kepada seorang penafsir mimpi. Penafsir itu berkata kepadanya:
"Ini berarti engkau akan memegang kekhalifahan selama dua puluh lima
tahun." Namun ternyata, itu adalah sisa jatah umurnya yang telah ia
sempurnakan pada tahun tersebut (ia wafat pada usia 25 tahun).
Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai penyakit yang
menyebabkan kematiannya. Ada yang mengatakan bahwa ia terkena penyakit di
kepalanya. Ada pula yang mengatakan bahwa lambungnya membengkak, lalu
pembengkakan itu menjalar hingga ke jantungnya, sehingga ia pun wafat.
Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ibu khalifah menjenguknya
ketika ia sedang menderita penyakit yang merenggut nyawanya. Ibunya bertanya:
"Bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab: "Telah hilang dariku dunia
dan akhirat."
Dikatakan bahwa ketika ia merasa ajalnya telah dekat, putus
asa dari kehidupan, dan berada dalam keadaan sakaratul maut, ia melantunkan
syair:
فَمَا
فَرِحَتْ نَفْسِي بِدُنْيَا أَصَبْتُهَا
وَلَكِنْ إِلَى
الرَّبِّ الْكَرِيمِ أَصِيرُ
Maka jiwaku tidaklah bergembira dengan dunia yang telah kuraih,
Akan tetapi, kepada Tuhan Yang Maha Mulia lah aku akan kembali.
Ia wafat pada hari Ahad, tanggal 5 Rabiul Akhir tahun 248 H,
pada usia dua puluh lima tahun. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa ia memegang
tampuk kekhalifahan hanya selama enam bulan.
Ibnu Katsir berkata: "Ia adalah khalifah pertama dari
Bani Abbas yang kuburannya ditampakkan (ditinggikan/diberi tanda khusus), dan
hal itu dilakukan atas saran dari ibunya yang keturunan Romawi."
Kekhalifahannya
Baiatnya:
Muhammad Al-Muntasir bersama sekelompok amir (pejabat militer) telah
bersekongkol untuk membunuh ayahnya. Ketika Khalifah Al-Mutawakkil terbunuh, ia
dibaiat sebagai khalifah pada malam hari itu juga. Ketika pagi tiba, pada hari
Rabu tanggal 4 Syawal tahun 247 H, baiat diambil dari masyarakat umum untuknya.
Ia lalu mengutus seseorang kepada saudaranya, Al-Mu'tazz,
dan menghadirkannya. Al-Mu'tazz pun berbaiat kepadanya dengan terpaksa karena
sebelumnya Al-Mu'tazz lah yang menjadi putra mahkota. Setelah baiat diambil
untuknya, hal pertama yang ia ucapkan adalah menuduh Al-Fath bin Khaqan sebagai
pembunuh ayahnya, lalu ia pun menghukum mati Al-Fath. Kemudian, ia mengirimkan
perintah baiat untuk dirinya ke seluruh penjuru negeri.
Baiat untuknya dilaksanakan di kota Al-Mutawakkiliyyah, yang
juga dikenal sebagai Al-Mahuzah. Ia menetap di sana selama sepuluh hari,
kemudian ia bersama seluruh panglima dan pengiringnya pindah ke Samarra.
Pencopotan Kedua Saudaranya dari Posisi Putra Mahkota:
Pada malam Sabtu, tersisa tujuh hari dari bulan Safar tahun 248 H, Muhammad
Al-Mu'tazz dan saudaranya Ibrahim Al-Mu'ayyad—keduanya adalah saudara Amirul
Mukminin dan berstatus sebagai putra mahkota—mengundurkan diri dari pencalonan
kekhalifahan. Hal ini terjadi setelah saudara mereka, Al-Muntasir, mengancam
dan menakut-nakuti mereka dengan pembunuhan jika mereka tidak melakukannya,
agar ia dapat mengangkat putranya, Abdul Wahhab, sebagai penerusnya.
Ia lalu menulis surat mengenai pencopotan itu ke seluruh
penjuru negeri dan provinsi. Al-Muntasir bermaksud merampas kekuasaan dari
kedua saudaranya dan menjadikannya hak keturunannya sendiri, namun takdir
mendustakan dan menyelisihinya. Sebab, ia tidak bertahan hidup setelah membunuh
ayahnya kecuali hanya selama enam bulan. Pada akhir bulan Safar tahun tersebut,
ia diserang penyakit yang menjadi penyebab kematiannya.
Peristiwa-peristiwa pada Masa Pemerintahannya dan
Pengurusan Haji
Kepemimpinan Mahkamah Mazhalim:
Pada hari kedua kekhalifahannya, Al-Muntasir menyerahkan kepemimpinan Mahkamah
Mazhalim (pengadilan untuk menindak kezaliman pejabat) kepada Abu 'Amrah Ahmad
bin Sa'id, seorang maula (mantan hamba sahaya) dari Bani
Hasyim. Maka seorang penyair pun melantunkan syair:
يَا
ضَيْعَةَ الْإِسْلَامِ لَمَّا وَلِي
مَظَالِمَ
النَّاسِ أَبُو عَمْرَهْ
صُيِّرَ
مَأْمُونًا عَلَى أُمَّةٍ
وَلَيْسَ
مَأْمُونًا عَلَى بَعْرَهْ
Betapa tersia-sianya Islam ketika yang mengurus
Kezaliman manusia adalah Abu 'Amrah.
Ia dijadikan orang kepercayaan atas umat ini,
Padahal ia tidak bisa dipercaya bahkan untuk mengurus sekotoran unta.
Ekspedisi Militer Musim Panas:
Pada tahun 248 H, Al-Muntasir mengutus Wasif At-Turki untuk memimpin pasukan
ekspedisi musim panas memerangi bangsa Romawi. Hal ini dikarenakan raja Romawi
bermaksud menyerang wilayah Syam. Saat itulah Al-Muntasir mempersiapkan Wasif
dan membekalinya dengan pasukan tempur yang sangat besar, para prajurit, dan
perlengkapan perang.
Ia memerintahkan Wasif agar setelah selesai memerangi
Romawi, ia harus menetap menjaga perbatasan selama empat tahun. Al-Muntasir
juga menulis sepucuk surat yang sangat penting yang ditujukan kepada Muhammad
bin Abdullah bin Tahir, wakil gubernur wilayah Irak. Surat tersebut berisi
banyak ayat-ayat Al-Qur'an untuk memotivasi dan mendorong masyarakat agar ikut
pergi berperang.
Pengurusan Haji
Yang memimpin masyarakat melaksanakan ibadah haji pada tahun
247 H adalah Muhammad bin Sulaiman Az-Zainabi.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar