Kekhalifahan Al-Mu'tashim Billah bin Harun Ar-Rasyid (218 - 226 H)


Bab Pertama:

Biografi dan Kekhalifahannya

Biografi

Nasabnya

Abu Ishaq Muhammad al-Mu'tashim bin Harun bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas. Ibunya adalah seorang ummu walad (ibu dari anak khalifah) yang bernama Maridah. Ia dijuluki Al-Muthamman (Yang Kedelapan), karena ia adalah keturunan kedelapan dari Al-Abbas dalam garis nasab, khalifah kedelapan dari keturunannya, dan berhasil menaklukkan delapan wilayah: wilayah Babak di bawah pimpinan Al-Afshin, Ammuriyah (Amorium) yang dipimpinnya sendiri, kaum Zutt oleh Ujayf, Pelabuhan Basra, Benteng Al-Ajraf, kaum Arab Badui dari diyar Rabi'ah, kaum Syari, dan menaklukkan Mesir setelah memberontak.

Ia juga membunuh delapan musuh: Babak, Mazayar, Yatas ar-Rumi, Al-Afshin, Ujayf, Qarin, dan pemimpin kaum Rafidhah. Ia memerintah sebagai khalifah selama delapan tahun, delapan bulan, dan delapan hari.

Ia lahir pada hari Senin, sepuluh hari terakhir dari bulan Sya'ban tahun 180 H.

Sifat-sifatnya

Al-Mu'tashim berkulit putih, janggutnya kemerahan dan panjang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya kemerah-merahan, ia adalah seorang yang pemberani, memiliki semangat juang yang tinggi dalam perang, dan sangat disegani. Dikatakan bahwa ia buta huruf dan tidak pandai menulis. Ada juga yang mengatakan ia bisa menulis, tetapi tulisannya jelek.

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Mu'tashim bahwa Raja Romawi pernah menulis surat kepadanya yang berisi ancaman. Maka, Al-Mu'tashim berkata kepada penulisnya, "Tulislah:

قَدْ قَرَأْتُ كِتَابَكَ، وَسَمِعْتُ خِطَابَكَ، وَالْجَوَابُ مَا تَرَى لَا مَا تَسْمَعُ
"Aku telah membaca suratmu dan mendengar ucapanmu. Jawabannya adalah apa yang akan kau lihat, bukan apa yang kau dengar."

وَسَيَعْلَمُ الْكَافِرُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ
"Dan orang-orang kafir kelak akan mengetahui, siapa yang akan mendapat tempat kesudahan (yang baik)."

Al-Mu'tashim menyerbu wilayah Romawi pada tahun 223 H dan memberikan pukulan telak kepada musuh. Ia memasang manjanik (alat pelontar batu) di sekitar Ammuriyah dan terus mengepungnya hingga berhasil menaklukkan dan memasukinya, lalu membawa gerbangnya ke Irak.

Al-Khathib menyebutkan bahwa Al-Mu'tashim memasang gerbang tersebut di salah satu pintu Darul Khilafah (Istana Kekhalifahan) yang bersebelahan dengan Masjid Jami' di dalam istana, dan gerbang itu tetap ada hingga masanya.

Al-Mu'tashim mempekerjakan banyak sekali orang Turki. Ia memiliki hampir dua puluh ribu tentara Mamluk dari Turki, dan ia juga berhasil mengumpulkan perlengkapan perang dan hewan tunggangan yang tidak pernah dimiliki oleh penguasa lain sebelumnya.

Wafatnya

Ia wafat di Samarra pada hari Kamis, tanggal delapan belas Rabiul Awal tahun 227 H. Itulah tanggal wafatnya Abu Ishaq Muhammad al-Mu'tashim Billah.

Ketika ajal hendak menjemputnya, ia mulai berkata:

حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ
"Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am: 44)

Ia juga berkata, "Seandainya aku tahu umurku pendek, aku tidak akan melakukan apa yang telah aku lakukan." Ia juga berkata, "Sungguh aku telah diambil dari antara seluruh makhluk ini," dan ia terus mengucapkan:

ذَهَبَتِ الْحِيَلُ فلا حِيلَةٌ
"Semua siasat telah sirna, maka tiada lagi siasat."


Kekhalifahannya

Baiatnya

Ia dibaiat sebagai khalifah pada hari wafatnya saudaranya, Al-Ma'mun, di Tarsus, yaitu pada hari Kamis, tanggal delapan belas Rajab tahun 218 H. Dialah yang menyalatkan jenazah saudaranya, Al-Ma'mun. Sebagian pasukan sempat membuat keributan karena mereka ingin mengangkat Al-Abbas bin Al-Ma'mun sebagai khalifah. Al-Abbas pun keluar menemui mereka dan berkata, "Cinta dingin macam apa ini? Aku telah membaiat pamanku, Al-Mu'tashim." Seketika, orang-orang pun tenang dan fitnah mereda.

Kemudian, Al-Mu'tashim menunggangi kudanya di antara para prajurit menuju Baghdad. Ia didampingi oleh Al-Abbas bin Al-Ma'mun dan memasuki kota itu pada hari Sabtu di awal bulan Ramadhan dengan kemegahan dan kemewahan yang luar biasa.


Bab Kedua:

Peristiwa-Peristiwa dan Kepemimpinan Haji

Peristiwa-Peristiwa di Masanya

Perang Melawan Kaum Khurramiyah

Pada tahun 218 H, banyak penduduk dari Hamadan, Asbahan, Masabadzan, dan Mihrajan masuk ke dalam ajaran Khurramiyah. Mereka berkumpul dalam jumlah yang sangat besar. Al-Mu'tashim kemudian mengirim Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab untuk menghadapi mereka dengan pasukan besar dan mengangkatnya sebagai gubernur wilayah Jibal. Ia berangkat dari Baghdad pada bulan Dzulqa'dah. Surat kemenangan tiba pada hari Tarwiyah, mengabarkan bahwa ia telah mengalahkan kaum Khurramiyah, membunuh banyak dari mereka, dan sisanya melarikan diri ke wilayah Romawi. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

Pada tahun 220 H, Al-Mu'tashim mengangkat Al-Afshin Haydar bin Kawus sebagai komandan pasukan besar untuk memerangi Babak al-Khurrami. Urusannya saat itu sudah sangat genting, kekuatannya semakin besar, dan para pengikutnya menyebar di wilayah Azerbaijan dan sekitarnya. Kemunculan pertamanya adalah pada tahun 201 H. Dia adalah seorang zindik besar dan setan yang terkutuk. Al-Afshin pun berangkat dengan penguasaan yang mumpuni dalam seni perang, seperti pengintaian, pembangunan benteng, dan pengiriman bantuan. Al-Mu'tashim Billah mengirimkan harta yang melimpah kepadanya melalui Bugha al-Kabir. Ia dan Babak akhirnya bertemu pada tahun ini (220 H) dan bertempur dengan sengit. Al-Afshin berhasil membunuh banyak sekali pengikut Babak, dan Babak melarikan diri ke kotanya dalam keadaan kalah.

Inilah awal mula runtuhnya kekuasaan Babak.

Kemudian, pada tahun 221 H, terjadi pertempuran dahsyat antara Bugha al-Kabir dan Babak al-Khurrami. Bugha berhasil mengalahkan Babak dan membunuh banyak pengikutnya.

Kekalahan dan Pembunuhan Babak

Ketika kaum muslimin berhasil menguasai istana dan pusat kekuasaannya, Babak melarikan diri bersama keluarga dan anak-anaknya. Ia menyendiri bersama sekelompok kecil pelayannya. Mereka kehabisan makanan, lalu melewati seorang petani. Ketika petani itu mengenalinya, ia pun membuat siasat.

Al-Afshin diberitahu mengenai hal ini, lalu ia mengirim dua orang amir (pemimpin) untuk menangkapnya. Mereka datang dan membawa Babak beserta saudaranya kepada Al-Afshin. Ketika mereka mendekati wilayah Al-Afshin, ia keluar untuk menemuinya dan memerintahkan orang-orang untuk berbaris dalam dua saf. Ia juga memerintahkan agar Babak berjalan kaki di antara barisan orang-orang. Ia pun melakukan hal itu, dan hari itu menjadi hari yang bersejarah.

Kemudian, Al-Afshin menulis surat kepada Al-Mu'tashim untuk memberitahukan bahwa Babak dan saudaranya telah berada dalam tawanannya. Al-Mu'tashim membalas surat itu dan memerintahkannya untuk membawa keduanya ke Baghdad.

Pada tahun 222 H, Al-Mu'tashim mengirim pasukan besar sebagai bala bantuan untuk Al-Afshin dalam perang melawan Khurramiyah. Ia mengirim tiga puluh juta dirham sebagai biaya untuk pasukan dan pengikutnya. Al-Afshin dan kaum Khurramiyah pun bertempur dengan sengit. Al-Afshin berhasil menaklukkan Al-Badz, kota Babak, dan menjarah isinya pada hari Jumat, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, setelah pengepungan, pertempuran dahsyat, dan peperangan yang sengit.

Intinya, ia berhasil menaklukkan negeri itu dan merampas semua harta yang bisa ia kuasai.

Pada hari Kamis, tanggal tiga Shafar tahun 223 H, Al-Afshin menghadap Al-Mu'tashim di Samarra bersama Babak al-Khurrami dan saudaranya, Abdullah, dalam sebuah arak-arakan yang megah. Al-Mu'tashim telah memerintahkan agar orang-orang berbaris di kedua sisi jalan. Ia juga memerintahkan Babak untuk dinaikkan ke atas seekor gajah agar semua orang dapat melihat dan mengenalinya. Babak mengenakan jubah sutra dan topi qalansuwah. Gajah itu telah dipersiapkan, ujung-ujungnya dicat, dan dipakaikan kain sutra serta perhiasan.

Kemudian Al-Mu'tashim memerintahkan agar kedua tangan dan kakinya dipotong, kepalanya dipenggal, dan perutnya dibelah. Lalu, ia memerintahkan agar kepalanya dibawa ke Khurasan dan tubuhnya disalib di atas tiang kayu di Samarra.

Orang terlaknat ini telah membunuh lebih dari dua ratus lima puluh ribu kaum muslimin selama masa kemunculannya, yaitu selama dua puluh tahun, dan menawan orang dalam jumlah yang tak terhitung.

Pemberontakan Muhammad bin Al-Qasim At-Thalibi

Pada tahun 219 H, Muhammad bin Al-Qasim bin Umar bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib muncul di Thalaqan, Khurasan. Ia menyeru kepada Ar-Ridha min Aali Muhammad (orang yang diridhai dari keluarga Muhammad). Banyak orang berkumpul di sekelilingnya.

Ia diperangi berkali-kali oleh para panglima Abdullah bin Thahir. Akhirnya, mereka berhasil mengalahkannya, dan ia melarikan diri, lalu tertangkap. Ia kemudian dikirim kepada Abdullah bin Thahir, yang lalu mengirimnya kepada Al-Mu'tashim. Al-Mu'tashim memerintahkan agar ia dipenjara di sebuah tempat sempit berukuran tiga hasta kali dua hasta. Ia terus dipenjara di sana hingga malam Idul Fitri, lalu ia berhasil melarikan diri dari penjara dan tidak diketahui lagi ke mana perginya.

Perang Melawan Kaum Zutt di Basra

Pada tahun 219 H, Al-Mu'tashim mengirim Ujayf bin Anbasah dengan pasukan besar untuk memerangi kaum Zutt, yang telah berbuat kerusakan di wilayah Basra, memblokade jalan, dan menjarah hasil panen. Ia memerangi mereka selama sembilan bulan hingga berhasil mengalahkan, menundukkan, dan memadamkan kejahatan mereka. Pemimpin mereka adalah seorang pria bernama Muhammad bin Utsman, dan bersamanya ada seorang lagi bernama Samlaq, yang merupakan ahli siasat dan setan mereka. Allah pun menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatan mereka. Dua puluh tujuh ribu dari mereka ditawan, lalu mereka dibawa dengan jaminan keamanan kepada khalifah pada bulan Muharram tahun 220 H. Mereka ditempatkan di sisi timur kota, kemudian khalifah mengasingkan mereka ke Ain Zarbah. Pasukan Romawi menyerang mereka dan memusnahkan mereka semua hingga tak ada seorang pun yang selamat. Itulah akhir riwayat mereka.

Pencopotan Al-Fadhl bin Marwan dari Jabatan Wazir

Pada tahun 220 H, Al-Mu'tashim marah kepada Al-Fadhl bin Marwan setelah memberinya kedudukan yang agung. Ia mencopotnya dari jabatan wazir, memenjarakannya, dan mengambil hartanya. Ia menggantikannya dengan Muhammad bin Abdul Malik bin Az-Zayyat.

Serangan Pasukan Romawi ke Malatya

Pada tahun 223 H, Raja Romawi, Theophilus bin Michael, melancarkan serangan besar-besaran terhadap penduduk Malatya dan sekitarnya dari kaum muslimin. Ia membunuh banyak sekali kaum muslimin dan menawan wanita dalam jumlah yang tak terhitung. Di antara yang ia tawan adalah seribu wanita muslimah. Ia juga menyiksa kaum muslimin yang jatuh sebagai tawanan dengan memotong telinga dan hidung mereka serta mencongkel mata mereka. Semoga Allah menjelekkannya.

Theophilus datang dengan seratus ribu pasukan, ditambah dengan pasukan Al-Muhammirah (pasukan berbaju merah) yang telah keluar dari pegunungan. Mereka sebelumnya telah diperangi oleh Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab namun tidak mampu dikalahkan, dan mereka berlindung di pegunungan tersebut. Ketika Raja Romawi datang, mereka bergabung bersamanya untuk melawan kaum muslimin. Mereka sampai di Zibathrah dan membunuh banyak penduduk laki-lakinya serta menawan banyak wanita.

Al-Mu'tashim mengirim Ujayf bin Anbasah dan sekelompok amir lainnya beserta pasukan untuk membantu penduduk Zibathrah. Mereka bergegas berangkat, namun mereka mendapati Raja Romawi telah melakukan perbuatannya dan kembali ke negerinya. Tidak mungkin lagi untuk mengejarnya. Mereka pun kembali kepada khalifah untuk melaporkan apa yang telah terjadi.

Penaklukan Ammuriyah (Amorium) oleh Al-Mu'tashim

Ketika Al-Mu'tashim mengetahui serangan pasukan Romawi ke Malatya, ia sangat gusar. Ia memerintahkan mobilisasi umum dan persiapan pasukan. Ia berangkat dari Baghdad dan berkemah di sebelah barat Sungai Tigris pada hari Senin, dua malam sebelum akhir Jumadil Ula tahun 223 H. Ia bertanya kepada para amir, "Negeri Romawi manakah yang paling kuat?" Mereka menjawab, "Ammuriyah. Belum pernah ada seorang pun yang menyerangnya sejak zaman Islam, dan kota itu lebih terhormat bagi mereka daripada Konstantinopel." Maka, ia memutuskan untuk bergerak menuju Ammuriyah dengan pasukan yang laksana gunung.

Ia mengirim Al-Afshin Khaydar bin Kawus dari arah Saruj. Khalifah mempersiapkan pasukannya dengan persiapan yang belum pernah terdengar sebelumnya dan menempatkan para amir yang terkenal ahli dalam perang di barisan depan. Dalam perjalanannya, ia sampai di Sungai Lamis, yang dekat dengan Tarsus, pada bulan Rajab.

Raja Romawi juga telah berangkat dengan pasukannya untuk menghadapi Al-Mu'tashim. Keduanya saling mendekat hingga jarak antara kedua pasukan sekitar empat farsakh. Al-Afshin memasuki wilayah Romawi dari arah lain. Dari belakang Raja Romawi, ia datang. Raja Romawi bingung dan merasa terdesak oleh situasi ini; jika ia menyerang khalifah, Al-Afshin akan datang dari belakang, dan mereka akan mengepungnya hingga binasa. Jika ia bergerak menuju salah satunya dan meninggalkan yang lain, maka yang lain akan menyerangnya dari belakang. Kemudian, Al-Afshin mendekatinya, dan Raja Romawi pun bergerak menemuinya dengan sebagian pasukannya.

Ia menunjuk kerabatnya untuk memimpin sisa pasukannya. Ia dan Al-Afshin bertemu pada hari Kamis, lima hari terakhir bulan Sya'ban tahun itu. Al-Afshin bertahan pada kesempatan kedua, membunuh banyak pasukan Romawi, dan melukai yang lainnya. Raja Romawi berhasil melarikan diri. Ia mendapat kabar bahwa sisa pasukannya telah meninggalkan kerabatnya, membubarkan diri, dan berpencar. Maka, ia segera kembali. Ternyata, barisan pasukannya telah hancur. Ia marah kepada wakilnya dan memenggal lehernya. Kabar ini sampai kepada Al-Mu'tashim, dan ia pun senang.

Al-Mu'tashim segera berangkat dan tiba di Ankara. Ia mendapati penduduknya telah melarikan diri dan meninggalkan kota. Pasukannya mendapatkan bekal makanan dan pakan ternak yang banyak. Setiap kali mereka melewati desa-desa, mereka membakarnya, menawan penduduknya, dan merampas harta benda.

Ia bergerak menuju Ammuriyah. Jarak antara Ammuriyah dan Ankara adalah tujuh hari perjalanan. Pasukan pertama yang tiba di sana adalah Ashnas, amir sayap kiri, pada waktu dhuha hari Kamis, lima hari sebelum akhir bulan Ramadhan tahun itu.

Kemudian, Al-Mu'tashim tiba pada pagi hari Jumat setelahnya, lalu Al-Afshin tiba pada hari Sabtu.

Penduduk Ammuriyah telah membentengi diri. Mereka memenuhi menara-menara mereka dengan para prajurit dan senjata. Ammuriyah adalah kota yang sangat besar dan megah, dengan tembok yang kokoh dan menara-menara yang tinggi dan besar. Al-Mu'tashim membagi-bagikan menara-menara itu kepada para amir. Setiap amir menempati posisi di depan bagian yang telah ditentukan untuknya.

Al-Mu'tashim memasang manjanik (alat pelontar batu) di sekitar Ammuriyah. Ketika ia terus menggempurnya dengan manjanik, tembok itu tidak terpengaruh. Namun, tembok di salah satu sisi runtuh dan retak. Kemudian Al-Mu'tashim memerintahkan untuk memperbarui penjagaan dan waspada terhadap serangan mendadak dari pasukan Romawi. Pasukan Romawi pun merasa terdesak dan kaum muslimin terus menekan mereka dalam pengepungan.

Ketika orang-orang sedang berjaga, tiba-tiba manjanik meruntuhkan satu bagian tembok. Ketika bagian di antara dua menara itu runtuh, orang-orang mendengar suara gemuruh yang dahsyat. Mereka yang tidak melihatnya mengira bahwa pasukan Romawi telah keluar menyerang secara tiba-tiba. Al-Mu'tashim pun mengirim juru bicara untuk mengumumkan kepada orang-orang, "Itu hanyalah suara tembok yang runtuh." Kaum muslimin pun sangat bergembira.

Kemudian mereka menyerbu dan memasuki kota dengan paksa. Kaum muslimin terus-menerus masuk sambil bertakbir. Pasukan Romawi tercerai-berai dari posisi mereka. Pasukan muslim mulai membunuh mereka di setiap tempat di mana pun mereka menemukannya. Mereka telah mengepung musuh di sebuah gereja besar. Mereka membukanya dengan paksa, membunuh semua yang ada di dalamnya, dan membakar pintu gereja hingga semua yang ada di dalamnya terbakar habis. Tidak ada lagi tempat yang dibentengi kecuali tempat di mana Amir Yatas berada, di sebuah benteng yang kokoh. Al-Mu'tashim menaiki kudanya dan datang hingga berhenti di depan benteng tempat Yatas berada. Juru bicara berteriak, "Celakalah engkau, wahai Yatas! Ini Amirul Mukminin berdiri di hadapanmu." Yatas berkata, "Yatas tidak ada di sini," sebanyak dua kali.

Al-Mu'tashim marah karena itu dan memerintahkan agar tangga dipasang di benteng. Para utusan naik menemuinya dan berkata, "Celakalah engkau! Turunlah atas perintah Amirul Mukminin." Ia menolak, kemudian turun. Ia dibawa hingga dihadapkan kepada Al-Mu'tashim. Al-Mu'tashim memukul kepalanya dengan cambuk, dan ia pun ditawan.

Kaum muslimin mengambil harta yang melimpah dan rampasan perang yang banyak dari Ammuriyah. Mereka membawa semua yang bisa mereka bawa. Al-Mu'tashim memerintahkan agar sisanya dibakar agar tidak bisa dimanfaatkan oleh pasukan Romawi untuk berperang melawan kaum muslimin. Ia kemudian kembali menuju Tarsus pada akhir bulan Syawal tahun 223 H. Ia menetap di Ammuriyah selama lima puluh lima hari.

Wafatnya Al-Abbas bin Al-Ma'mun

Pada tahun 223 H, Al-Abbas bin Al-Ma'mun berada bersama pamannya, Al-Mu'tashim, dalam penyerbuan ke Ammuriyah. Ujayf bin Anbasah telah menghasutnya karena tidak mengambil alih kekhalifahan setelah ayahnya, Al-Ma'mun, wafat di Tarsus. Ia menyalahkannya karena membaiat pamannya, Al-Mu'tashim. Ia terus membujuknya hingga Al-Abbas setuju untuk membunuh pamannya, Al-Mu'tashim. Ia mengambil baiat dari para amir untuk dirinya sendiri dan mempersiapkan seorang pria bernama Al-Harits As-Samarqandi, yang merupakan teman minumnya. Al-Abbas mengambil baiat untuknya dari sekelompok amir secara rahasia dan mengikat janji dengan mereka. Ia memerintahkan mereka bahwa begitu ia berhasil membunuh pamannya, masing-masing dari mereka harus membunuh siapa pun yang mereka bisa dari para pemimpin pendukung Al-Mu'tashim, seperti Al-Afshin, Ashnas, dan para pembesar lainnya. Ketika Al-Mu'tashim mengetahui rencana ini, ia bertindak tegas dan bertekad kuat.

Kemudian Al-Mu'tashim memerintahkan penangkapan keponakannya, Al-Abbas. Ia dibelenggu dan diserahkan kepada Al-Afshin. Ia juga memerintahkan penangkapan Ujayf dan para amir lainnya yang disebutkan. Mereka semua ditangkap dan dikepung. Kemudian ia mulai menjatuhkan berbagai jenis hukuman kepada mereka. Setiap orang dari mereka dibunuh dengan cara yang berbeda. Al-Abbas bin Al-Ma'mun meninggal di penjara di kota Manbij.

Pemberontakan Maziyar di Amul, Tabaristan

Pada tahun 224 H, seorang pria dari Amul, Tabaristan, bernama Maziyar bin Qarin, memberontak. Ia tidak mau membayar pajak (kharaj) kepada wakil gubernur Khurasan, Abdullah bin Thahir bin Al-Husain. Ia ingin mengirimkannya langsung kepada khalifah agar khalifah yang menerimanya. Khalifah pun mengirim utusan untuk mengambilnya, lalu menyerahkannya kepada gubernur Khurasan.

Kemudian urusannya berkembang hingga ia secara terang-terangan menentang Al-Mu'tashim. Maziyar ini adalah salah satu orang yang surat-menyurat dengan Babak al-Khurrami dan menjanjikannya kemenangan.

Al-Mu'tashim mengirim Muhammad bin Ibrahim bin Mush'ab, saudara Ishaq bin Ibrahim, dengan pasukan besar untuk menghadapinya. Terjadilah pertempuran panjang di antara mereka yang dicatat secara rinci oleh Ibnu Jarir. Akhir dari kisahnya, ia ditawan dan dibawa ke hadapan Abdullah bin Thahir, yang kemudian mengirimnya ke Al-Mu'tashim. Ia dicambuk hingga mati dan disalib di samping Babak al-Khurrami di jembatan Baghdad. Para mata-mata dan pengikutnya juga dibunuh.

Pemberontakan Al-Usyrusani di Azerbaijan

Pada tahun 224 H, Mankajur al-Usyrusani, kerabat Al-Afshin, memberontak di Azerbaijan dan menolak untuk taat. Hal ini terjadi karena Al-Afshin telah mengangkatnya sebagai wakilnya di wilayah Azerbaijan setelah ia selesai dengan urusan Babak. Mankajur menemukan harta karun besar milik Babak di salah satu kota, lalu ia menyembunyikannya untuk dirinya sendiri dan merahasiakannya dari khalifah. Khalifah mengirim Bugha al-Kabir untuk memeranginya. Bugha berhasil menangkapnya dengan jaminan keamanan dan membawanya ke hadapan khalifah.

Kemarahan Al-Mu'tashim terhadap Al-Afshin

Pada tahun 225 H, Al-Mu'tashim marah kepada Al-Afshin dan memerintahkan agar ia dipenjara. Dibangunlah sebuah tempat untuknya yang menyerupai menara di dalam Darul Khilafah, yang disebut Al-Kauwah, yang hanya cukup untuknya seorang. Hal ini terjadi setelah khalifah yakin bahwa Al-Afshin berencana untuk menentang dan memberontak terhadapnya, dan bahwa ia berniat pergi ke negeri Khazar untuk meminta bantuan mereka melawan kaum muslimin. Khalifah segera menangkapnya. Al-Mu'tashim mengadakan sebuah sidang untuknya yang dihadiri oleh hakimnya, Ahmad bin Abi Du'ad al-Mu'tazili, wazirnya Muhammad bin Abdul Malik bin Az-Zayyat, dan wakilnya Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab. Dalam sidang ini, Al-Afshin dituduh dengan berbagai hal yang menunjukkan bahwa ia masih menganut agama nenek moyangnya, yaitu Persia.

Atas dasar itu, Al-Mu'tashim memerintahkan Bugha al-Kabir untuk memenjarakannya dalam keadaan terhina dan rendah. Al-Afshin pun berkata, "Aku sudah menduga hal ini dari kalian."

Wafatnya Al-Afshin di Penjara

Pada tahun 226 H, Al-Afshin meninggal di penjara. Al-Mu'tashim memerintahkan agar jenazahnya disalib, kemudian dibakar, dan abunya dihanyutkan di Sungai Tigris. Harta dan kekayaannya disita. Mereka menemukan di dalamnya berhala-berhala yang dihiasi dengan emas dan permata, serta buku-buku tentang keutamaan agama Majusi, dan banyak hal lain yang menguatkan tuduhan terhadapnya, yang membuktikan kekafiran dan kesesatannya, serta menegaskan afiliasinya dengan agama nenek moyangnya, kaum Majusi.

Pemberontakan Abu Harb Al-Mubarqa' Al-Yamani

Pada tahun 227 H, seorang pria dari Lembah Syam bernama Abu Harb al-Mubarqa' al-Yamani memberontak. Ia menolak ketaatan dan menyeru untuk dirinya sendiri. Penyebab pemberontakannya adalah seorang prajurit ingin tinggal di rumahnya saat ia tidak ada. Istrinya melarang, lalu prajurit itu memukul tangan istrinya. Ketika Abu Harb datang dan diberitahu, ia pergi menemui prajurit itu yang sedang lengah, lalu memukul dan membunuhnya. Ia kemudian berlindung di puncak gunung sambil mengenakan cadar (burqa'). Jika ada orang yang datang, ia akan mengajaknya untuk beramar ma'ruf nahi munkar dan mencela penguasa. Banyak orang dari kalangan petani dan lainnya mengikutinya. Mereka berkata, "Inilah As-Sufyani yang disebutkan akan menguasai Syam." Urusannya menjadi besar, dan ia diikuti oleh sekitar seratus ribu orang. Khalifah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Raja' bin Ayyub. Ketika Raja' tiba, ia mendapati banyak sekali orang telah berkumpul di sekeliling Abu Harb, sehingga ia takut untuk melawannya dalam kondisi seperti itu.

Ia menunggu hingga tiba waktu membajak sawah. Orang-orang pun meninggalkan Abu Harb untuk kembali ke ladang mereka. Ia hanya tersisa dengan sekelompok kecil pengikutnya. Raja' pun menyerangnya, menangkapnya, dan membawanya sebagai tawanan ke hadapan Al-Mu'tashim. Al-Mu'tashim berterima kasih padanya atas hal itu.


Kepemimpinan Haji

  • Yang memimpin haji pada tahun 218 H adalah Shalih bin Al-Abbas bin Muhammad. Penduduk Mekkah berkurban pada hari Jumat, sedangkan penduduk Baghdad berkurban pada hari Sabtu.
  • Yang memimpin haji pada tahun 219 H dan 220 H adalah Shalih bin Ali bin Muhammad.
  • Yang memimpin haji pada tahun 221 H, 222 H, 223 H, 224 H, 225 H, dan 226 H adalah wakil gubernur Mekkah, Muhammad bin Dawud bin Isa bin Musa bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas.

Tokoh Masyhur yang Wafat di Masanya

1.      Bisyir bin Ghiyats bin Abi Karimah Al-Marisi, Abu Abdurrahman, seorang ahli kalam (teolog), syaikh kaum Mu'tazilah, dan salah satu orang yang menyesatkan Al-Ma'mun. Awalnya, orang ini mempelajari fikih dan mengambil ilmu dari Qadhi Abu Yusuf, serta meriwayatkan hadits darinya, dan juga dari Hammad bin Salamah, Sufyan bin 'Uyainah, dan lainnya. Kemudian, ia lebih didominasi oleh ilmu kalam. Imam Syafi'i pernah melarangnya untuk mempelajari dan mendalami ilmu tersebut, tetapi ia tidak mau menerimanya. Imam Syafi'i berkata, "Sungguh, jika seorang hamba bertemu Allah dengan segala dosa selain syirik, itu lebih aku sukai daripada ia bertemu-Nya dengan ilmu kalam."

Ibnu Khallikan berkata: Ia secara terang-terangan mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, dan diriwayatkan darinya ucapan-ucapan yang keji. Ia adalah seorang Murji'ah, dan kepadanyalah dinisbatkan aliran Al-Marisiyyah dari kalangan Murji'ah. Ia berpendapat bahwa sujud kepada matahari dan bulan bukanlah kufur, melainkan hanya tanda kekufuran.

Ia tinggal di Darb al-Maris di Baghdad. Al-Maris menurut mereka adalah roti tipis yang diremas dengan minyak samin dan kurma. Saya katakan: Kemudian, Bisyir al-Marisi menjadi populer di mata Al-Ma'mun dan mendapat tempat di sisinya. Ia diunggulkan di hadapannya, pasarannya yang tadinya lesu menjadi laku, dan pemikirannya yang dingin dianggap bagus. Ia wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 218 H.

2.      Ibnu Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam bin Ayyub Al-Himyari Al-Ma'afiri. Ia adalah perawi kitab As-Sirah dari Ziyad bin Abdullah Al-Bakka'i, dari Muhammad bin Ishaq, penyusun aslinya. Kitab ini dinisbatkan kepadanya dan dikenal sebagai Sirah Ibnu Hisyam karena ia telah menyuntingnya, menambah, mengurangi, mengoreksi beberapa bagian, dan melengkapi hal-hal lainnya.

Ia adalah seorang imam dalam bidang bahasa dan nahwu, dan ia tinggal di Mesir. Imam Syafi'i pernah bertemu dengannya ketika tiba di sana, dan keduanya saling bertukar syair-syair Arab.

Ia wafat di Mesir pada bulan Rabiul Akhir tahun 218 H.

3.      Abu 'Ubaid Al-Qasim bin Sallam bin Abdullah Al-Baghdadi, salah satu imam dalam bidang bahasa, fikih, hadits, Al-Qur'an, sejarah, dan kisah-kisah umat manusia. Ia memiliki karya-karya terkenal yang tersebar di kalangan ulama. Dikatakan bahwa Imam Ahmad menulis kitabnya, Al-Gharib, dengan tangannya sendiri. Ketika Abdullah bin Thahir melihat karyanya, ia menetapkan gaji bulanan lima ratus dirham untuknya dan melanjutkannya untuk keturunannya setelah ia wafat.

Ia menghabiskan waktu empat puluh tahun untuk menyusun kitab ini.

Hilal bin Al-'Ala' Ar-Raqqi berkata: "Allah telah menganugerahkan kepada kaum muslimin empat orang ini: dengan Asy-Syafi'i, mereka memahami hadits; dengan Ahmad bin Hanbal, mereka teguh dalam ujian (mihnah); dengan Yahya bin Ma'in, kebohongan disingkirkan dari hadits; dan dengan Abu 'Ubaid, ia menafsirkan kata-kata asing dalam hadits. Kalau bukan karena itu, niscaya orang-orang akan terjerumus dalam kesalahan."

Ishaq bin Rahawaih berkata, "Kami membutuhkannya, sedangkan ia tidak membutuhkan kami." Ia datang ke Baghdad dan orang-orang mendengar karya-karyanya darinya.

4.      Sa'id bin Mas'adah, Abu Al-Hasan Al-Akhfasy Al-Bashri An-Nahwi. Ia belajar ilmu nahwu dari Sibawaih dan menyusun banyak kitab, di antaranya kitab tentang Ma'ani Al-Qur'an, kitab Al-Ausath dalam ilmu nahwu, dan lain-lain.

Ia juga memiliki kitab tentang 'Arudh (ilmu tentang metrum syair Arab), di mana ia menambahkan bahr (jenis metrum) Al-Khabab yang tidak ada pada Al-Khalil. 

Ia dijuluki Al-Akhfasy karena matanya yang kecil dan penglihatannya yang lemah. Awalnya, ia disebut Al-Akhfasy Ash-Shaghir (yang kecil), untuk membedakannya dari Al-Akhfasy Al-Kabir (yang besar), yaitu Abu Al-Khaththab Abdul Hamid bin Abdul Majid Al-Hajari, guru Sibawaih dan Abu 'Ubaidah. Ketika Ali bin Sulaiman muncul dan juga dijuluki Al-Akhfasy, maka Sa'id bin Mas'adah menjadi Al-Akhfasy Al-Ausath (yang tengah), Al-Hajari menjadi Al-Akbar (yang terbesar), dan Ali bin Sulaiman menjadi Al-Ashghar (yang terkecil). Ia wafat pada tahun 225 H.

Ibrahim Al-Harbi berkata, "Ia seolah-olah gunung yang ditiupkan ruh ke dalamnya, ia menguasai segala sesuatu."

Ahmad bin Kamil Al-Qadhi berkata: Abu 'Ubaid adalah seorang yang mulia, agamis, saleh, dan alim dalam berbagai cabang ilmu Islam, mulai dari Al-Qur'an, fikih, bahasa Arab, hingga sejarah. Riwayatnya baik, dan nukilannya sahih. Aku tidak mengetahui seorang pun yang mencelanya dalam hal ilmu dan kitab-kitabnya. Ia memiliki kitab Al-Amwal, kitab Fadhail Al-Qur'an wa Ma'anihi, dan kitab-kitab bermanfaat lainnya. Ia wafat, semoga Allah merahmatinya, pada tahun 224 H.

5.      Abu Dulaf Al-Qasim bin Isa bin Idris bin Ma'qil Al-'Ijli, salah satu panglima Al-Ma'mun dan Al-Mu'tashim. Kepadanyalah dinisbatkan Amir Abu Nashr bin Makula, penulis kitab Al-Ikmal. Qadhi Jalaluddin Al-Qazwini, khatib Damaskus, mengklaim bahwa ia adalah keturunannya dan menyebutkan silsilahnya hingga kepadanya. Abu Dulaf ini adalah seorang yang sangat dermawan, pemurah, murah hati, dipuji, pemberani, dan ahli membunuh musuh. Para penyair dari berbagai penjuru datang kepadanya. Ia juga menyusun beberapa kitab, di antaranya Siyasah Al-Muluk (Politik Para Raja), Ash-Shaid wa Al-Buzah (Perburuan dan Elang), dan As-Silah (Senjata), serta lainnya. Ia wafat pada tahun 226 H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Muhammad Al Amin bin Harun Ar Rasyid (193-198 H)

Kekhalifahan Abdullah Al-Ma'mun bin Harun Ar-Rasyid (198 - 218 H)

Kekhalifahan Harun Ar-Rasyid putra Al-Mahdi (170 – 193 H)