Penaklukan-Penaklukan (Ekspansi) Pada Masa Yazid bin Muawiyah
Penaklukan Wilayah Turki
Pada tahun 61 Hijriah, Yazid bin Muawiyah mengangkat Salm
bin Ziyad sebagai gubernur wilayah Sijistan dan Khorasan ketika Salm datang
menghadapnya. Saat itu, Salm baru berusia dua puluh empat tahun. Yazid pun
mencopot kedua saudara Salm, yaitu Abbad dan Abdul Rahman, dari jabatan
tersebut. Kemudian Salm berangkat menuju daerah tugasnya, lalu ia mulai memilih
tokoh-tokoh terkemuka dan para penunggang kuda ulung, serta mengobarkan
semangat masyarakat untuk berjihad.
Setelah itu, ia keluar memimpin pasukan yang sangat besar
untuk menaklukkan wilayah Turki didampingi oleh istrinya, Ummu Muhammad binti
Abdullah bin Utsman bin Abi al-Ash. Istrinya merupakan wanita Arab pertama yang
menyeberangi sungai (Sungai Jajhun/Oxus), dan ia melahirkan seorang anak
laki-laki di sana yang mereka beri nama "Sughdi". Istri dari penguasa
wilayah Sughd pun mengirimkan hadiah berupa mahkotanya yang terbuat dari emas
dan mutiara kepada Ummu Muhammad. Sebelum peristiwa itu, kaum muslimin tidak
pernah tinggal menetap selama musim dingin di wilayah tersebut, maka Salm bin Ziyad
menjadi orang pertama yang melewatkan musim dingin di sana bersama pasukannya.
Penaklukan Khwarazm
Salm bin Ziyad mengutus Al-Muhallab bin Abi Sufrah ke kota
bangsa Turki, yaitu Khwarazm. Al-Muhallab mengepung mereka hingga mereka
bersedia berdamai dengan membayar lebih dari dua puluh juta dirham. Al-Muhallab
menerima komoditas atau barang dagangan sebagai gantinya, di mana ia mengambil
barang-barang tersebut dengan setengah dari nilai aslinya, sehingga nilai total
dari apa yang ia ambil dari mereka mencapai lima puluh juta dirham.
Karena keberhasilan ini, Al-Muhallab mendapatkan kedudukan
dan tempat yang tinggi di sisi Salm bin Ziyad. Kemudian Salm mengirimkan
sebagian harta pilihan dari hasil penaklukan tersebut kepada Yazid bin Muawiyah
melalui seorang Marzuban (utusan khusus) bersama sebuah delegasi. Dalam
perang ini, Salm juga mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Samarkand
dengan imbalan harta yang sangat banyak.
Para Gubernurnya di Berbagai Wilayah
Wilayah Kekuasaan Hijaz
Pada bulan Ramadan tahun 60 Hijriah, Yazid bin Muawiyah
mencopot Al-Walid bin Utbah dari jabatan gubernur Madinah, dan menggabungkannya
ke dalam wilayah kekuasaan Amr bin Said bin Al-Ash, gubernur Makkah. Amr pun
tiba di Madinah pada bulan Ramadan tersebut.
Dan pada tahun 61 Hijriah, Yazid mencopot Amr bin Said dari
kepemimpinan dua tanah suci (Al-Haramain), lalu mengembalikan jabatan tersebut
kepada Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan serta mengangkatnya kembali sebagai
gubernur Madinah.
Ibnu Katsir tidak menyebutkan adanya perubahan gubernur di
wilayah-wilayah lainnya pada masa pemerintahan Yazid.
Kepemimpinan Ibadah Haji
Orang yang memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada
tahun 60 Hijriah adalah Amr bin Said, ketika Yazid mengangkatnya sebagai
gubernur Makkah pada bulan Ramadan.
Abu Ma'syar berkata: "Tidak."
Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli sejarah
bahwa Al-Walid bin Utbah memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 61
Hijriah saat ia menjabat sebagai gubernur Al-Haramain, dan ia juga memimpin
ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 62 Hijriah.
Al-Waqidi meriwayatkan dari Abdullah bin Ja'far, dari Ibnu
Auf, ia berkata: "Dan yang memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada
tahun 63 Hijriah adalah Abdullah bin Al-Zubair. Mereka menjulukinya sebagai Al-A'id
(orang yang berlindung kepada Kakbah), dan mereka memandang bahwa urusan
kepemimpinan ini harus diputuskan melalui syura (musyawarah)."
Begitu pula pada tahun 64 Hijriah.
Abu Bakar bin Ayyasy berkata: "Yazid bin Muawiyah
memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 51 Hijriah dan 52 Hijriah
pada masa kekhalifahan ayahnya (Muawiyah)."
Tokoh-Tokoh Terkenal yang Wafat pada Masa Kekhalifahannya
- Al-Husain
bin Ali bin Abi Thalib (radhiyallahu 'anhu), kisah dan
biografinya telah dijelaskan sebelumnya.
- Jabir
bin Atik bin Qais, Abu Abdullah al-Anshari. Beliau ikut serta dalam
Perang Badar dan perang-perang setelahnya, serta menjadi pembawa bendera
Bani Muawiyah pada hari penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah).
- Hamzah
bin Amr al-Aslami, seorang sahabat yang mulia kedudukannya. Disebutkan
dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim)
dari Aisyah, bahwasanya ia berkata: Hamzah bin Amr pernah bertanya kepada
Rasulullah ﷺ
, ia berkata: "Sesungguhnya aku adalah orang yang sering berpuasa,
apakah boleh aku berpuasa saat melakukan perjalanan (safar)? "
Maka Rasulullah ﷺ
bersabda kepadanya:
"Jika kamu mau maka
berpuasalah, dan jika kamu mau maka berbukalah."
Al-Waqidi berkata: "Dialah
orang yang menyampaikan kabar gembira kepada Ka'b bin Malik tentang diterimanya
tobatnya oleh Allah, lalu Ka'b memberikan kedua pakaiannya kepadanya sebagai
hadiah."
- Syaibah
bin Utsman bin Abi Thalhah al-Abdari al-Hajabi, pemegang kunci Kakbah.
Syaibah menampakkan keislamannya pada hari penaklukan kota Makkah (Fathu
Makkah), dan ikut serta dalam Perang Hunain dalam keadaan hatinya
masih menyimpan keraguan. Ia sempat berniat untuk mencelakai (membunuh)
Rasulullah, namun Allah memberitahukan niat tersebut kepada Rasul-Nya,
lalu Rasulullah memberi tahu Syaibah tentang apa yang ada di dalam hatinya
itu. Akhirnya, ia masuk Islam secara lahir dan batin, keislamannya menjadi
sangat baik, dan ia ikut berperang pada hari itu serta menunjukkan
ketabahan bersama orang-orang yang tabah. Beliau memegang jabatan sebagai
penjaga/kunci Kakbah (Al-Hijabah) setelah Utsman bin Thalhah, dan
jabatan tersebut terus menetap pada anak keturunan dan keluarganya. Kepada
dialah dinisbatkan silsilah Bani Syaibah, dan mereka adalah para penjaga
Kakbah.
- Ummu
Salamah, Ummul Mu'minin, yang bernama Hindun binti Abi Umayyah
Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum al-Qurasyiyah
al-Makhzumiyah. Pada awalnya, beliau menjadi istri dari sepupunya, Abu
Salamah bin Abdul Asad. Ketika Abu Salamah wafat, Rasulullah menikahinya
dan membangun rumah tangga bersamanya pada bulan Syawal tahun 2 Hijriah
setelah Perang Badar. Beliau termasuk wanita yang paling cantik dan paling
tekun beribadah, dan wafat pada tahun 61 Hijriah.
- Buraidah
bin Al-Hushaib al-Aslami. Beliau masuk Islam ketika Rasulullah ﷺ
melewatinya saat sedang berhijrah menuju Madinah. Buraidah menyambut
Rasulullah bersama delapan puluh orang dari keluarganya, lalu mereka semua
masuk Islam. Rasulullah ﷺ
mengimami mereka melaksanakan shalat Isya, dan pada malam itu beliau
mengajarkan bagian awal dari Surah Maryam kepada Buraidah. Kemudian,
Buraidah datang menemui Rasulullah ﷺ di Madinah
setelah Perang Uhud, lalu ikut serta dalam seluruh peperangan yang
tersisa. Setelah itu, ia keluar untuk ikut serta dalam penaklukan Khorasan
dan wafat di kota Marw pada masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah.
- Ar-Rabi'
bin Khutsaim, Abu Yazid ats-Tsauri al-Kufi, salah seorang sahabat
dekat Ibnu Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud pernah berkata kepadanya:
"Tidaklah aku melihatmu melainkan aku teringat
kepada orang-orang yang tunduk dan khusyuk kepada Allah (al-mukhbitin), dan
andaikata Rasulullah ﷺ
melihatmu, niscaya beliau akan mencintaimu."
- Alqamah
bin Qais, Abu Syibl an-Nakha'i al-Kufi. Beliau termasuk di antara
sahabat-sahabat senior Ibnu Mas'ud serta ulama di kalangan mereka, dan
beliau sering diserupakan dengan Ibnu Mas'ud dalam hal perangai dan ilmu.
Alqamah telah meriwayatkan hadits dari sekelompok sahabat, dan darinya
banyak sekali generasi Tabi'in yang meriwayatkan hadits.
- Uqbah
bin Nafi' al-Fihri. Muawiyah mengutusnya ke Afrika bersama sepuluh
ribu pasukan, lalu ia berhasil menaklukkannya dan merintis pembangunan
kota Kairouan. Tempat berdirinya kota tersebut dulunya merupakan hutan
lebat yang tak dapat ditembus karena dipenuhi oleh binatang buas, ular,
dan serangga. Maka ia berdoa kepada Allah Ta'ala, sehingga
binatang-binatang tersebut mulai keluar membawa anak-anak mereka dari
sarang dan lubang-lubangnya. Kemudian ia membangun kota itu, dan kelak
beliau gugur sebagai syahid (radhiyallahu 'anhu).
- Amr
bin Hazm, seorang sahabat yang mulia. Rasulullah ﷺ mengangkatnya
sebagai gubernur di Najran ketika usianya baru tujuh belas tahun, dan ia
tinggal di sana selama beberapa waktu, serta sempat mendapati masa-masa
pemerintahan Yazid bin Muawiyah.
- Maslamah
bin Mukhallad al-Anshari az-Zuraqi. Lahir pada tahun Hijrah dan
mendengar langsung hadits dari Rasulullah ﷺ. Beliau ikut
serta dalam penaklukan Mesir, memimpin pasukan di sana untuk Muawiyah dan
Yazid, dan wafat pada bulan Zulkaidah tahun 62 Hijriah.
- Naufal bin Muawiyah ad-Dili, seorang sahabat yang mulia. Beliau menyaksikan Perang Badar, Uhud, dan Khandaq bersama orang-orang musyrik, serta sempat menimbulkan kerugian di kalangan kaum muslimin. Namun kemudian ia masuk Islam dan keislamannya menjadi sangat baik. Ia ikut serta dalam penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) dan Perang Hunain, menunaikan ibadah haji bersama Abu Bakar pada tahun 9 Hijriah, serta menyaksikan Haji Wada'. Beliau diberi umur panjang, yaitu hidup selama enam puluh tahun pada masa Jahiliyah dan enam puluh tahun pula dalam Islam. Hal ini dikemukakan oleh Al-Waqidi.
Pemerintahan Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah
Dia adalah Abu Abdurrahman, dan dikatakan pula: Abu Laila
al-Qurasyi al-Umayyah. Ibunya bernama Ummu Hasyim binti Abi Hasyim bin Utbah
bin Rabi'ah. Ia dibaiat setelah kematian ayahnya, di mana sebelumnya ia
merupakan putra mahkota yang ditunjuk setelahnya, yaitu pada tanggal empat
belas Rabiul Awal tahun 64 Hijriah. Ia adalah seorang pria yang saleh serta
tekun beribadah, dan masa pemerintahannya tidak berlangsung lama.
Dikatakan bahwa ia memegang kekuasaan hanya selama empat
puluh hari. Selama masa jabatannya tersebut, ia berada dalam keadaan sakit
sehingga tidak pernah keluar menemui masyarakat. Oleh karena itu, Adh-Dhahhak
bin Qais-lah yang memimpin shalat berjamaah bersama masyarakat sekaligus
mengurusi berbagai urusan pemerintahan. Muawiyah bin Yazid ini wafat pada usia
dua puluh satu tahun, dan ada pula yang mengatakan pada usia dua puluh tiga
tahun delapan belas hari.
Orang yang menshalati jenazahnya adalah Al-Walid bin Utbah
karena Muawiyah telah berwasiat demikian kepadanya, sedangkan proses
pemakamannya disaksikan oleh Marwan bin Al-Hakam. Setelah wafatnya Muawiyah,
Adh-Dhahhak bin Qais tetap memimpin shalat bersama masyarakat hingga urusan
pemerintahan di wilayah Syam menjadi stabil di bawah kendali Marwan. Ia
dimakamkan di pemakaman Babush Shaghir di Damaskus.
Ketika kematiannya sudah dekat, dikatakan kepadanya:
"Apakah engkau tidak ingin berwasiat (untuk menunjuk penggantimu)?"
Maka ia menjawab: "Aku tidak ingin membawa kepahitannya sebagai bekal (ke
akhirat) sementara aku meninggalkan kemanisannya untuk Bani Umayyah." Ia
pun menyerahkan urusan kekuasaan tersebut melalui syura (musyawarah). Ibnu Hazm
menyebutkan bahwa Muawiyah bin Yazid tidak memiliki keturunan.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar