Penaklukan-Penaklukan (Ekspansi) Pada Masa Yazid bin Muawiyah

Sebuah ilustrasi dengan aspek rasio 16:9 yang menggambarkan suasana pagi hari yang tenang di alun-alun kota kuno Marw, Khorasan, pada masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah. Di latar belakang, terlihat arsitektur kota kuno dengan bangunan-bangunan bata merah dan menara masjid yang sederhana, dengan perbukitan gersang dan pohon palem yang menghiasinya. Di bagian depan, sekelompok pria berjubah dan bersorban duduk berkumpul di atas permadani, mendengarkan seorang pria paruh baya, Buraidah bin Al-Hushaib al-Aslami, yang sedang berbicara di depan mereka di atas mimbar kayu kecil sambil memegang gulungan kertas. Suasana tampak damai dan khusyuk, diterangi oleh cahaya hangat matahari pagi yang baru terbit. Beberapa penonton tampak menulis di atas tablet kayu, sementara yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian. Sebuah spanduk hijau dengan motif geometris tergantung di dinding masjid di sebelah kanan.

Penaklukan Wilayah Turki

Pada tahun 61 Hijriah, Yazid bin Muawiyah mengangkat Salm bin Ziyad sebagai gubernur wilayah Sijistan dan Khorasan ketika Salm datang menghadapnya. Saat itu, Salm baru berusia dua puluh empat tahun. Yazid pun mencopot kedua saudara Salm, yaitu Abbad dan Abdul Rahman, dari jabatan tersebut. Kemudian Salm berangkat menuju daerah tugasnya, lalu ia mulai memilih tokoh-tokoh terkemuka dan para penunggang kuda ulung, serta mengobarkan semangat masyarakat untuk berjihad.

Setelah itu, ia keluar memimpin pasukan yang sangat besar untuk menaklukkan wilayah Turki didampingi oleh istrinya, Ummu Muhammad binti Abdullah bin Utsman bin Abi al-Ash. Istrinya merupakan wanita Arab pertama yang menyeberangi sungai (Sungai Jajhun/Oxus), dan ia melahirkan seorang anak laki-laki di sana yang mereka beri nama "Sughdi". Istri dari penguasa wilayah Sughd pun mengirimkan hadiah berupa mahkotanya yang terbuat dari emas dan mutiara kepada Ummu Muhammad. Sebelum peristiwa itu, kaum muslimin tidak pernah tinggal menetap selama musim dingin di wilayah tersebut, maka Salm bin Ziyad menjadi orang pertama yang melewatkan musim dingin di sana bersama pasukannya.

Penaklukan Khwarazm

Salm bin Ziyad mengutus Al-Muhallab bin Abi Sufrah ke kota bangsa Turki, yaitu Khwarazm. Al-Muhallab mengepung mereka hingga mereka bersedia berdamai dengan membayar lebih dari dua puluh juta dirham. Al-Muhallab menerima komoditas atau barang dagangan sebagai gantinya, di mana ia mengambil barang-barang tersebut dengan setengah dari nilai aslinya, sehingga nilai total dari apa yang ia ambil dari mereka mencapai lima puluh juta dirham.

Karena keberhasilan ini, Al-Muhallab mendapatkan kedudukan dan tempat yang tinggi di sisi Salm bin Ziyad. Kemudian Salm mengirimkan sebagian harta pilihan dari hasil penaklukan tersebut kepada Yazid bin Muawiyah melalui seorang Marzuban (utusan khusus) bersama sebuah delegasi. Dalam perang ini, Salm juga mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Samarkand dengan imbalan harta yang sangat banyak.

Para Gubernurnya di Berbagai Wilayah

Wilayah Kekuasaan Hijaz

Pada bulan Ramadan tahun 60 Hijriah, Yazid bin Muawiyah mencopot Al-Walid bin Utbah dari jabatan gubernur Madinah, dan menggabungkannya ke dalam wilayah kekuasaan Amr bin Said bin Al-Ash, gubernur Makkah. Amr pun tiba di Madinah pada bulan Ramadan tersebut.

Dan pada tahun 61 Hijriah, Yazid mencopot Amr bin Said dari kepemimpinan dua tanah suci (Al-Haramain), lalu mengembalikan jabatan tersebut kepada Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan serta mengangkatnya kembali sebagai gubernur Madinah.

Ibnu Katsir tidak menyebutkan adanya perubahan gubernur di wilayah-wilayah lainnya pada masa pemerintahan Yazid.

Kepemimpinan Ibadah Haji

Orang yang memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 60 Hijriah adalah Amr bin Said, ketika Yazid mengangkatnya sebagai gubernur Makkah pada bulan Ramadan.

Abu Ma'syar berkata: "Tidak."

Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli sejarah bahwa Al-Walid bin Utbah memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 61 Hijriah saat ia menjabat sebagai gubernur Al-Haramain, dan ia juga memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 62 Hijriah.

Al-Waqidi meriwayatkan dari Abdullah bin Ja'far, dari Ibnu Auf, ia berkata: "Dan yang memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 63 Hijriah adalah Abdullah bin Al-Zubair. Mereka menjulukinya sebagai Al-A'id (orang yang berlindung kepada Kakbah), dan mereka memandang bahwa urusan kepemimpinan ini harus diputuskan melalui syura (musyawarah)."

Begitu pula pada tahun 64 Hijriah.

Abu Bakar bin Ayyasy berkata: "Yazid bin Muawiyah memimpin ibadah haji bersama masyarakat pada tahun 51 Hijriah dan 52 Hijriah pada masa kekhalifahan ayahnya (Muawiyah)."

Tokoh-Tokoh Terkenal yang Wafat pada Masa Kekhalifahannya

  1. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (radhiyallahu 'anhu), kisah dan biografinya telah dijelaskan sebelumnya.
  2. Jabir bin Atik bin Qais, Abu Abdullah al-Anshari. Beliau ikut serta dalam Perang Badar dan perang-perang setelahnya, serta menjadi pembawa bendera Bani Muawiyah pada hari penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah).
  3. Hamzah bin Amr al-Aslami, seorang sahabat yang mulia kedudukannya. Disebutkan dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Aisyah, bahwasanya ia berkata: Hamzah bin Amr pernah bertanya kepada Rasulullah , ia berkata: "Sesungguhnya aku adalah orang yang sering berpuasa, apakah boleh aku berpuasa saat melakukan perjalanan (safar)? " Maka Rasulullah bersabda kepadanya:

"Jika kamu mau maka berpuasalah, dan jika kamu mau maka berbukalah."

Al-Waqidi berkata: "Dialah orang yang menyampaikan kabar gembira kepada Ka'b bin Malik tentang diterimanya tobatnya oleh Allah, lalu Ka'b memberikan kedua pakaiannya kepadanya sebagai hadiah."

  1. Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah al-Abdari al-Hajabi, pemegang kunci Kakbah. Syaibah menampakkan keislamannya pada hari penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah), dan ikut serta dalam Perang Hunain dalam keadaan hatinya masih menyimpan keraguan. Ia sempat berniat untuk mencelakai (membunuh) Rasulullah, namun Allah memberitahukan niat tersebut kepada Rasul-Nya, lalu Rasulullah memberi tahu Syaibah tentang apa yang ada di dalam hatinya itu. Akhirnya, ia masuk Islam secara lahir dan batin, keislamannya menjadi sangat baik, dan ia ikut berperang pada hari itu serta menunjukkan ketabahan bersama orang-orang yang tabah. Beliau memegang jabatan sebagai penjaga/kunci Kakbah (Al-Hijabah) setelah Utsman bin Thalhah, dan jabatan tersebut terus menetap pada anak keturunan dan keluarganya. Kepada dialah dinisbatkan silsilah Bani Syaibah, dan mereka adalah para penjaga Kakbah.
  2. Ummu Salamah, Ummul Mu'minin, yang bernama Hindun binti Abi Umayyah Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum al-Qurasyiyah al-Makhzumiyah. Pada awalnya, beliau menjadi istri dari sepupunya, Abu Salamah bin Abdul Asad. Ketika Abu Salamah wafat, Rasulullah menikahinya dan membangun rumah tangga bersamanya pada bulan Syawal tahun 2 Hijriah setelah Perang Badar. Beliau termasuk wanita yang paling cantik dan paling tekun beribadah, dan wafat pada tahun 61 Hijriah.
  1. Buraidah bin Al-Hushaib al-Aslami. Beliau masuk Islam ketika Rasulullah melewatinya saat sedang berhijrah menuju Madinah. Buraidah menyambut Rasulullah bersama delapan puluh orang dari keluarganya, lalu mereka semua masuk Islam. Rasulullah mengimami mereka melaksanakan shalat Isya, dan pada malam itu beliau mengajarkan bagian awal dari Surah Maryam kepada Buraidah. Kemudian, Buraidah datang menemui Rasulullah di Madinah setelah Perang Uhud, lalu ikut serta dalam seluruh peperangan yang tersisa. Setelah itu, ia keluar untuk ikut serta dalam penaklukan Khorasan dan wafat di kota Marw pada masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah.
  2. Ar-Rabi' bin Khutsaim, Abu Yazid ats-Tsauri al-Kufi, salah seorang sahabat dekat Ibnu Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud pernah berkata kepadanya:

"Tidaklah aku melihatmu melainkan aku teringat kepada orang-orang yang tunduk dan khusyuk kepada Allah (al-mukhbitin), dan andaikata Rasulullah melihatmu, niscaya beliau akan mencintaimu."

  1. Alqamah bin Qais, Abu Syibl an-Nakha'i al-Kufi. Beliau termasuk di antara sahabat-sahabat senior Ibnu Mas'ud serta ulama di kalangan mereka, dan beliau sering diserupakan dengan Ibnu Mas'ud dalam hal perangai dan ilmu. Alqamah telah meriwayatkan hadits dari sekelompok sahabat, dan darinya banyak sekali generasi Tabi'in yang meriwayatkan hadits.
  2. Uqbah bin Nafi' al-Fihri. Muawiyah mengutusnya ke Afrika bersama sepuluh ribu pasukan, lalu ia berhasil menaklukkannya dan merintis pembangunan kota Kairouan. Tempat berdirinya kota tersebut dulunya merupakan hutan lebat yang tak dapat ditembus karena dipenuhi oleh binatang buas, ular, dan serangga. Maka ia berdoa kepada Allah Ta'ala, sehingga binatang-binatang tersebut mulai keluar membawa anak-anak mereka dari sarang dan lubang-lubangnya. Kemudian ia membangun kota itu, dan kelak beliau gugur sebagai syahid (radhiyallahu 'anhu).
  3. Amr bin Hazm, seorang sahabat yang mulia. Rasulullah mengangkatnya sebagai gubernur di Najran ketika usianya baru tujuh belas tahun, dan ia tinggal di sana selama beberapa waktu, serta sempat mendapati masa-masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah.
  4. Maslamah bin Mukhallad al-Anshari az-Zuraqi. Lahir pada tahun Hijrah dan mendengar langsung hadits dari Rasulullah . Beliau ikut serta dalam penaklukan Mesir, memimpin pasukan di sana untuk Muawiyah dan Yazid, dan wafat pada bulan Zulkaidah tahun 62 Hijriah.
  5. Naufal bin Muawiyah ad-Dili, seorang sahabat yang mulia. Beliau menyaksikan Perang Badar, Uhud, dan Khandaq bersama orang-orang musyrik, serta sempat menimbulkan kerugian di kalangan kaum muslimin. Namun kemudian ia masuk Islam dan keislamannya menjadi sangat baik. Ia ikut serta dalam penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) dan Perang Hunain, menunaikan ibadah haji bersama Abu Bakar pada tahun 9 Hijriah, serta menyaksikan Haji Wada'. Beliau diberi umur panjang, yaitu hidup selama enam puluh tahun pada masa Jahiliyah dan enam puluh tahun pula dalam Islam. Hal ini dikemukakan oleh Al-Waqidi. 

Pemerintahan Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah

Dia adalah Abu Abdurrahman, dan dikatakan pula: Abu Laila al-Qurasyi al-Umayyah. Ibunya bernama Ummu Hasyim binti Abi Hasyim bin Utbah bin Rabi'ah. Ia dibaiat setelah kematian ayahnya, di mana sebelumnya ia merupakan putra mahkota yang ditunjuk setelahnya, yaitu pada tanggal empat belas Rabiul Awal tahun 64 Hijriah. Ia adalah seorang pria yang saleh serta tekun beribadah, dan masa pemerintahannya tidak berlangsung lama.

Dikatakan bahwa ia memegang kekuasaan hanya selama empat puluh hari. Selama masa jabatannya tersebut, ia berada dalam keadaan sakit sehingga tidak pernah keluar menemui masyarakat. Oleh karena itu, Adh-Dhahhak bin Qais-lah yang memimpin shalat berjamaah bersama masyarakat sekaligus mengurusi berbagai urusan pemerintahan. Muawiyah bin Yazid ini wafat pada usia dua puluh satu tahun, dan ada pula yang mengatakan pada usia dua puluh tiga tahun delapan belas hari.

Orang yang menshalati jenazahnya adalah Al-Walid bin Utbah karena Muawiyah telah berwasiat demikian kepadanya, sedangkan proses pemakamannya disaksikan oleh Marwan bin Al-Hakam. Setelah wafatnya Muawiyah, Adh-Dhahhak bin Qais tetap memimpin shalat bersama masyarakat hingga urusan pemerintahan di wilayah Syam menjadi stabil di bawah kendali Marwan. Ia dimakamkan di pemakaman Babush Shaghir di Damaskus.

Ketika kematiannya sudah dekat, dikatakan kepadanya: "Apakah engkau tidak ingin berwasiat (untuk menunjuk penggantimu)?" Maka ia menjawab: "Aku tidak ingin membawa kepahitannya sebagai bekal (ke akhirat) sementara aku meninggalkan kemanisannya untuk Bani Umayyah." Ia pun menyerahkan urusan kekuasaan tersebut melalui syura (musyawarah). Ibnu Hazm menyebutkan bahwa Muawiyah bin Yazid tidak memiliki keturunan.

Beliau (semoga Allah merahmatinya) berkulit sangat putih, berambut lebat, bermata besar, berhidung mancung (dengan sedikit lengkungan di tengahnya), berwajah tampan, dan memiliki bentuk tubuh yang bagus. Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi mengatakan: "Muawiyah, Abdul Rahman, dan Khalid adalah saudara kandung (seayah seibu), dan mereka termasuk di antara orang-orang saleh dari kaum tersebut."

Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan : Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya

Nasihat Para Sahabat Kepada Al-Husain bin Ali Radhiyallahu 'Anhu Agar Tidak Keluar Menuju Irak

Peristiwa Karbala : Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu