Kekhalifahan Abu Ja'far Abdullah Al-Mansur (136 – 158 H)
Bab Pertama:
Biografi dan Masa Kekhalifahannya
Nasab dan Keluarganya
Dialah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas
bin Abdul Muthalib bin Hasyim, Abu Ja'far Al-Mansur. Ia lebih tua dari
saudaranya, Abu al-Abbas As-Saffah. Ibunya adalah seorang Ummu Walad
(budak wanita yang melahirkan anak tuanya) bernama Salamah al-Barbariyyah.
Ia lahir pada tahun 95 H menurut pendapat yang masyhur,
yaitu pada bulan Safar di Humaimah.
Anak-anaknya antara lain: Muhammad Al-Mahdi (yang menjadi
putra mahkota setelahnya) dan Ja'far Al-Akbar (meninggal sewaktu Al-Mansur
masih hidup), ibu mereka berdua adalah Arwa binti Mansur. Kemudian Isa, Ya'qub,
dan Sulaiman, ibu mereka adalah Fatimah binti Muhammad dari keturunan Talhah
bin Ubaidillah. Lalu Ja'far Al-Ashghar dari ibu Ummu Walad berkebangsaan
Kurdi, Salih Al-Miskin dari ibu Ummu Walad berkebangsaan Romawi, serta
Al-Qasim yang juga dari ibu Ummu Walad. Selain itu ada Al-Aliyah dari
seorang wanita bani Umayyah.
Sifat-sifatnya
Ia berkulit sawo matang, berambut lebat, berjenggot tipis,
berjidat luas, berhidung mancung, dan bermata lebar seolah-olah kedua matanya
adalah dua lidah yang berbicara. Wibawa kekuasaan terpancar dari dirinya dengan
pakaian menyerupai para ahli ibadah. Hati menerima kehadirannya dan pandangan
mata mengikutinya. Kemuliaan terlihat dalam ketawadukannya, keagungan tercermin
pada parasnya, dan kecerdasan tampak pada cara berjalannya. Demikianlah ia
digambarkan oleh sebagian orang yang pernah melihatnya.
Imam Adz-Dzahabi berkata:
"Ia adalah sosok pemberani dan pemimpin tangguh dari
Bani Abbas, memiliki wibawa, keberanian, pemikiran yang tajam, ketegasan,
kecerdikan, dan kekuasaan yang kuat. Ia sangat gemar mengumpulkan harta dan
hemat/berhati-hati, meninggalkan perbuatan sia-sia dan permainan. Akalnya
sempurna, pemikirannya sangat dalam, serta memiliki pemahaman yang baik dalam
bidang fikih, sastra, dan ilmu pengetahuan."
Ia membinasakan banyak tokoh besar hingga kekuasaannya
menjadi kokoh dan bangsa-bangsa tunduk kepadanya, meskipun di dalam dirinya
terdapat kezaliman dan ketegasan sikap. Namun demikian, keislamannya sah,
secara umum taat beragama, menjaga diri dari perbuatan tercela, rajin shalat,
dan memiliki kebaikan, disertai fasih berbicara, penyampaian yang lugas, serta
kedudukan yang agung.
Dikatakan bahwa paman beliau, Abdul Samad, pernah berkata
kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, engkau begitu cepat menjatuhkan hukuman
seolah-olah engkau belum pernah mendengar tentang pemaafan." Al-Mansur
menjawab: "Karena sisa-sisa peninggalan Bani Umayyah belum hancur
sepenuhnya, dan pedang-pedang keluarga Ali belum disarungkan. Sementara kita
berada di tengah-tengah kaum yang kemarin melihat kita sebagai rakyat biasa.
Wibawa kita tidak akan kokoh di dalam dada mereka kecuali dengan melupakan
sifat pemaaf."
Keutamaan dan Jasa-jasanya
Al-Mansur memimpin pelaksanaan ibadah haji bagi kaum
muslimin pada tahun 136 H saat ia masih menjadi putra mahkota. Kemudian pada
tahun 140 H ia berihram dari Hirah, lalu memimpin haji lagi pada tahun 144 H,
147 H, 152 H, dan pada tahun wafatnya yaitu 158 H. Namun pada tahun tersebut ia
tidak sempat menyelesaikan ibadah haji karena wafat pada tanggal 6 Dzulhijjah
di pinggiran kota Mekkah.
Ia mendirikan Madinat us-Salam (Kota Baghdad), Kota
Ar-Rafiqah, dan Istana Al-Khuld.
Imam Malik berkata: Al-Mansur berkata kepadaku:
"Siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ?" Aku menjawab: "Abu Bakar dan
Umar." Ia berkata: "Engkau benar, dan itu juga merupakan pandangan
Amirul Mukminin."
Seorang ahli zuhud pernah menemui Al-Mansur lalu berkata:
"Sesungguhnya Allah telah memberikan kepadamu seluruh dunia ini, maka
belilah dirimu dengan sebagian harta itu. Ingatlah suatu malam saat engkau
dibaringkan di dalam kubur, yang belum pernah engkau lalui malam seperti itu
sebelumnya. Dan ingatlah suatu malam yang akan melahirkan hari tanpa ada malam
setelahnya." Perkataan itu membuat Al-Mansur bungkam dan tertunduk, lalu
ia memerintahkan agar memberikan sejumlah harta kepadanya. Namun ahli zuhud itu
berkata: "Jika aku membutuhkan hartamu, niscaya aku tidak akan
menasihatimu."
Di masa mudanya, Al-Mansur menuntut ilmu dari
sumber-sumbernya, mempelajari hadits dan fikih, sehingga ia memperoleh bagian
yang sangat baik dan pemahaman yang memadai darinya.
Ibnu Jarir menyebutkan dari Al-Haitsam bahwa pada suatu hari
Al-Mansur memberikan hadiah kepada salah seorang pamannya sebesar satu juta
dirham. Pada hari yang sama, ia juga membagikan sepuluh ribu dirham kepada
keluarganya. Tidak diketahui ada khalifah lain yang membagikan harta sebanyak
itu dalam satu hari.
Diriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas:
"Bahwa Rasulullah ﷺ biasa memakai cincin di tangan kanannya."
Diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir dari jalur Muhammad bin Ibrahim
As-Sulami, dari Al-Ma'mun, dari Ar-Rasyid, dari Al-Mahdi, dari ayahnya (yaitu
Al-Mansur).
Di Antara Khotbah dan Perkataannya
Dari Ismail Al-Fihri, ia berkata: Saya mendengar Al-Mansur
berkhotbah di atas mimbar Arafah pada hari Arafah, ia berkata:
"Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah penguasa dari
Allah di bumi-Nya, aku mengurus kalian dengan taufik dan petunjuk-Nya. Aku
adalah penjaga harta-Nya, aku membagikannya dengan kehendak-Nya dan
memberikannya dengan izin-Nya. Allah telah menjadikanku sebagai kunci atas
harta itu; jika Dia berkehendak membuka diriku untuk memberi kalian dan
membagikan rezeki kalian, Dia akan membukaku. Dan jika Dia berkehendak
mengunciku, Dia akan mengunciku. Maka memohonlah kepada Allah, wahai manusia!
Mintalah kepada-Nya pada hari yang mulia ini—hari di mana Dia memberikan
karunia-Nya kepada kalian sebagaimana yang Dia beritahukan dalam kitab-Nya
ketika Dia berfirman:
أَلْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا
(Artinya: 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu
agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam
itu jadi agama bagimu.' [QS. Al-Ma'idah: 3])
—agar Dia memberiku taufik menuju kebenaran, membimbingku
kepada petunjuk, mengilhamkan rasa kasih sayang dan kebaikan kepada kalian di
dalam hatiku, serta membuka diriku untuk memberi kalian dan membagikan rezeki
kalian dengan adil. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan
doa."
Al-Mansur juga pernah berpesan kepada putranya, Al-Mahdi:
"Sesungguhnya seorang khalifah tidak akan menjadi baik
kecuali dengan ketakwaan, seorang penguasa tidak akan menjadi baik kecuali
dengan ketaatan (rakyatnya), dan rakyat tidak akan menjadi baik kecuali dengan
keadilan. Orang yang paling berhak memberikan maaf adalah orang yang paling
mampu untuk memberikan hukuman, dan orang yang paling kurang akalnya adalah
orang yang menzalimi orang yang berada di bawah kedudukannya."
Dan beliau juga berkata: "Wahai anakku, jagalah
kelanggengan nikmat dengan bersyukur, kekuasaan dengan memberi maaf, ketaatan
dengan merangkul, dan kemenangan dengan bertawaduk (rendah hati) serta
menyayangi sesama manusia. Janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia dan
bagianmu dari rahmat Allah."
Dan beliau berkata: "Wahai anakku, orang yang berakal
bukanlah orang yang mencari-cari tipu daya untuk keluar dari masalah yang sudah
terlanjur menimpanya. Akan tetapi, orang yang berakal adalah orang yang
menggunakan akalnya terhadap perkara yang membayanginya agar tidak jatuh ke
dalamnya."
Dan beliau berkata: "Wahai anakku, janganlah kamu duduk
di suatu majelis melainkan di sisimu ada ahli ilmu yang berbicara kepadamu.
Sesungguhnya Az-Zuhri pernah berkata: 'Ilmu hadis ini tidak disukai kecuali
oleh laki-laki yang jantan (tangguh) dan tidak dibenci kecuali oleh laki-laki
yang bersifat kewanitaan.' Dan benarlah apa yang dikatakan oleh saudaranya
Zuhrah tersebut."
Keseriusan dan Pengelolaannya
Al-Manshur pada awal siang (pagi hari) senantiasa
mendedikasikan waktunya untuk menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari
yang mungkar, urusan pengangkatan dan pemberhentian pejabat, serta
memperhatikan kemaslahatan umum. Apabila beliau telah melaksanakan salat
Dzuhur, beliau masuk ke rumahnya dan beristirahat setelah itu hingga waktu
Asar.
Apabila telah melaksanakan salat Asar, beliau duduk bersama
keluarganya untuk mengurus kemaslahatan khusus mereka. Apabila telah
melaksanakan salat Isya, beliau memeriksa surat-surat dan pesan-pesan yang
masuk dari berbagai penjuru wilayah, dan duduk bersama orang-orang yang
berbincang dengannya hingga sepertiga malam.
Kemudian beliau bangun menuju keluarganya dan tidur di
peraduannya hingga sepertiga malam yang terakhir. Lalu beliau bangun untuk
berwudu dan salat hingga fajar menyingsing. Setelah itu beliau keluar untuk
menyalati manusia (menjadi imam), kemudian masuk dan duduk di balai naungannya
(ruang audiensinya).
Suatu ketika beliau pernah mengangkat seorang gubernur di
suatu daerah, lalu sampai berita kepadanya bahwa pejabat tersebut sibuk berburu
serta menyiapkan anjing-anjing dan burung-burung pemangsa untuk keperluan itu.
Maka Al-Manshur menulis surat kepadanya: "Ibumu kehilanganmu dan kaummu
kehilanganmu! Celaka kamu! Sesungguhnya kami hanya menyerahkan urusan kaum
muslimin kepadamu dan tidak menyerahkan urusan binatang liar kepadamu. Maka
serahkanlah tugas yang kamu pegang kepada si Fulan, dan kembalilah ke keluargamu
dalam keadaan tercela dan terbuang."
Wasiatnya untuk Putranya Al-Mahdi
Ketika Al-Manshur bertekad untuk menunaikan ibadah haji pada
tahun (158 H), beliau memanggil putranya, Al-Mahdi, selaku putra mahkota
setelahnya. Beliau berwasiat kepadanya agar berbuat baik pada dirinya sendiri,
keluarganya, dan seluruh kaum muslimin. Beliau mengajarinya tata cara mengelola
berbagai hal dan menjaga perbatasan-perbatasan dengan wasiat-wasiat yang sangat
panjang jika diuraikan.
Beliau juga memintanya dengan sangat agar tidak membuka
sedikit pun dari kas/perbendaharaan harta kaum muslimin sampai kematiannya
benar-benar terbukti. Sebab, di dalamnya terdapat harta yang cukup untuk
kebutuhan kaum muslimin selama sepuluh tahun meskipun tidak ada satu dirham pun
pajak (kharaj) yang dipungut untuk mereka. Beliau juga berwasiat agar ia
melunasi utang yang ditanggungnya sebesar tiga ratus ribu dinar, karena beliau
tidak memandang pantas untuk melunasinya dari kas negara (baitul mal). Al-Mahdi
pun mematuhi seluruh wasiat tersebut.
Beliau berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku
dilahirkan pada bulan Dzulhijjah, dan terbesit dalam firasatku bahwa aku akan
wafat pada bulan Dzulhijjah pula. Hal inilah yang mendorongku untuk menunaikan
ibadah haji pada tahunku ini." Kemudian beliau berpamitan kepadanya dan
berangkat.
Pembaiatannya
Ketika As-Saffah meninggal dunia, saudaranya yaitu Abu
Ja'far Abdullah bin Muhammad sedang berada di Hijaz. Maka paman beliau, Isa bin
Ali, mengambil baiat untuknya di Irak. Berita kematian saudaranya (As-Saffah)
sampai kepadanya saat beliau sedang perjalanan pulang dari haji di Dzatu 'Irq,
maka beliau bergegas mempercepat perjalanannya. Saat itu Abu Muslim
Al-Khurasani sedang bersamanya, lalu Abu Muslim membaiatnya di tengah jalan dan
menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya saudara beliau, Amirul Mukminin
As-Saffah.
Ketika Abu Ja'far Al-Manshur kembali dari haji, beliau
memasuki Kufah dan berkhotbah di hadapan penduduknya pada hari Jumat. Kemudian
beliau berangkat darinya menuju Al-Anbar. Baiat untuk beliau telah diambil dari
penduduk Irak, Khurasan, dan seluruh negeri selain Syam. Isa bin Musa telah
menjaga perbendaharaan harta dan simpanan untuk Al-Manshur hingga beliau tiba,
lalu ia menyerahkan kepemimpinan kepadanya.
Beliau dibaiat pada bulan Dzulhijjah tahun (136 H), dan
usianya pada hari itu adalah empat puluh satu tahun.
Putra Mahkota
Pada tahun (147 H), Abu Ja'far Al-Manshur ingin mencopot Isa
bin Musa dari kedudukan putra mahkota dan mendahulukan putranya, Muhammad
Al-Mahdi. Beliau mendudukkan putranya di atas posisi Isa di sebelah kanannya,
dan tidak menoleh kepada Isa bin Musa, serta merendahkannya dalam hal izin,
musyawarah, saat masuk menghadapnya, maupun saat keluar darinya. Kemudian
beliau terus mengesampingkan dan menjauhkannya hingga Isa mencopot dirinya
sendiri, lalu membaiat Muhammad Al-Mahdi putra Al-Manshur. Atas hal itu, Al-Manshur
memberinya sekitar dua belas juta dirham. Pembaiatan Al-Mahdi pun tersebar ke
seluruh penjuru penjuru timur dan barat, dan Al-Manshur sangat bergembira atas
hal tersebut.
Ibnu Katsir berkata: "Dan kekhalifahan pun menetap pada
keturunannya hingga zaman kita ini, maka tidak ada seorang khalifah pun dari
Bani Abbasiyah melainkan dari keturunannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui."
Wafatnya
Al-Manshur berihram untuk haji dan umrah dari Rusyafah pada
tahun (158 H) dan membawa hewan kurbannya. Namun, beliau ditimpa sakit yang
membawanya pada kematian di tengah perjalanan, sehingga beliau tidak memasuki
Mekkah melainkan dalam keadaan sakit yang sangat berat.
Sebelum itu, beliau pernah bermimpi di istananya (Istana
Al-Khuld) yang beliau bangun dan perindah, sebuah mimpi yang mengejutkannya.
Beliau berkata kepada Ar-Rabi': "Celaka kamu wahai Rabi'! Aku telah
melihat mimpi yang mengerikan. Aku melihat seseorang berdiri di pintu istana
ini seraya berkata:
كَأَنِّي
بِهَذَا الْقَصْرِ قَدْ بَادَ آهِلُهُ ... وَعُرِّيَ مِنْهُ أَهْلُهُ
وَمَنَازِلُهُ
وَصَارَ
رَئِيسُ الْقَوْمِ مِنْ بَعْدِ بَهْجَةٍ ... إِلَى جَدَثٍ تُبْنَى عَلَيْهِ
جَنَادِلُهُ
Seolah-olah aku melihat istana ini telah binasa
penghuninya ... dan telah kosong dari keluarga serta tempat tinggalnya
Dan pemimpin kaum itu setelah segala kemegahannya ...
berpindah ke liang kubur yang ditimbun dengan batu-batu besar diatasnya.
Dan wafatnya terjadi pada malam Sabtu, ketika telah berlalu
enam hari dari bulan Dzulhijjah, di dekat Sumur Maimun.
Dan perkataan terakhir yang diucapkannya adalah: «اللَّهُمَّ
بَارِكْ لِي فِي لِقَائِكَ» ("Ya Allah, berkahilah aku dalam
pertemuan dengan-Mu").
Dan ia berkata: «يَا رَبِّ، إِنْ كُنْتُ عَصَيْتُكَ فِي أُمُورٍ كَثِيرَةٍ فَقَدْ
أَطَعْتُكَ فِي أَحَبُّ الْأَشْيَاءِ إِلَيْكَ؛ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ مُخْلِصًا» ("Ya Rabb, jika aku bermaksiat
kepada-Mu dalam banyak hal, maka sungguh aku telah taat kepada-Mu dalam perkara
yang paling Engkau cintai; yaitu kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah
dengan ikhlas").
Kemudian ia wafat, dan ukiran pada cincin stempelnya adalah:
«اللَّهُ ثِقَةٌ
عَبْدِ اللَّهِ، وَبِهِ يُؤْمِنُ» ("Allah adalah kepercayaan hamba
Allah, dan kepada-Nya ia beriman").
Usianya pada hari wafatnya adalah enam puluh tiga tahun
menurut pendapat yang masyhur; di antaranya dua puluh dua tahun dalam masa
kekhalifahan.
Al-Mansur dimakamkan di Tsaniyah al-Mu'alla dekat pintu
Makkah, dan kuburnya tidak diketahui karena kuburnya disamarkan. Sesungguhnya
Ar-Rabi' menggali seratus kubur, dan memakamkannya di selain kubur-kubur
tersebut agar tidak diketahui.
Ar-Rabi' menyembunyikan kematiannya hingga ia mengambil
bai'at untuk Al-Mahdi dari para panglima dan para tokoh Bani Hasyim. Dan yang
menshalatkannya adalah: Ibrahim bin Yahya bin Muhammad bin Ali.
BAB KEDUA:
JIHAD, PEKERJAAN, DAN PERISTIWA-PERISTIWA
Jihad pada Masa Pemerintahannya
Masuknya Raja Romawi ke Malathiyah
- Pada
tahun 138 H, Konstantin (Kaisar), Raja Romawi, memasuki wilayah Malathiyah
secara paksa, lalu merubuhkan bentengnya, dan mengampuni para prajurit
perang yang berhasil ia kuasai.
- Pada
tahun 141 H, Muhammad bin Ibrahim Al-Imam berjaga-jaga (ber-ribath) di
wilayah Malathiyah.
Perdamaian dengan Raja Romawi
- Pada
tahun 155 H, Raja Romawi mengajukan permohonan perdamaian kepada Abu
Ja'far Al-Manshur dengan syarat ia akan membayar jizyah (pajak
perlindungan) kepada Al-Manshur.
Ekspedisi Musim Panas (As-Sawa'if)
- Pada
tahun 138 H, Shalih bin Ali, gubernur Mesir, memimpin ekspedisi perang
musim panas, lalu ia membangun kembali benteng Malathiyah yang telah
dihancurkan oleh Raja Romawi.
- Pada
tahun 139 H, Shalih bin Ali menyelesaikan pembangunan Malathiyah, kemudian
memimpin ekspedisi perang musim panas melalui jalur Al-Hadats, lalu masuk
jauh ke wilayah Romawi. Turut berperang bersamanya dua saudara
perempuannya, yaitu Umm Isa dan Lubabah (keduanya putri Ali), yang mana
mereka berdua pernah bernazar jika kekuasaan Bani Umayyah runtuh, mereka
akan berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla.
- Pada
tahun 141 H, pembangunan kembali kota Al-Mashishah selesai di tangan
Jabra'il bin Yahya Al-Khurasani.
- Pada
tahun 146 H, Ja'far bin Hanzhalah Al-Bahrani memimpin ekspedisi perang
musim panas ke wilayah Romawi.
- Pada
tahun 149 H, Al-Abbas bin Muhammad memimpin ekspedisi perang musim panas,
ia memasuki wilayah Romawi didampingi oleh Al-Hasan bin Qahtabah dan
Muhammad bin Al-Asy'ath. Namun, Muhammad bin Al-Asy'ath meninggal dunia di
tengah perjalanan.
- Pada
tahun 151 H, Abdul Wahhab bin Ibrahim bin Muhammad memimpin ekspedisi
perang musim panas.
- Pada
tahun 153 H, Ma'yuf bin Yahya Al-Hujuri memimpin ekspedisi perang musim
panas, ia berhasil menawan banyak prajurit Romawi hingga mencapai lebih
dari 6.000 tawanan, serta memperoleh harta rampasan perang (ghanimah)
yang sangat banyak.
- Pada
tahun 154 H, Zufar bin Ashim Al-Hilali memimpin ekspedisi perang musim
panas.
- Pada
tahun 155 H, Yazid bin Asad As-Sulami memimpin ekspedisi perang musim
panas.
- Pada
tahun 157 H, Yazid bin Asid As-Sulami memimpin ekspedisi perang musim
panas dan masuk jauh ke wilayah Romawi. Ia mengutus Sinan, bekas hamba
sahaya Al-Baththal, di garda depan. Sinan berhasil menaklukkan beberapa
benteng, menawan musuh, dan mengambil ghanimah.
Penebusan Tawanan
- Pada
tahun 139 H, terjadi proses penebusan tawanan antara Al-Manshur dan Raja
Romawi, sehingga sebagian tawanan dari kaum muslimin dapat dibebaskan.
Penyerangan ke Tabaristan
- Ketika
Al-Mahdi telah mantap menjabat sebagai gubernur di Khurasan, ayahnya
memerintahkannya untuk memerangi Tabaristan pada tahun 141 H dan memerangi
Isfahbadh (penguasa Tabaristan) bersama pasukan yang bersamanya. Ayahnya
memperkuat pasukannya dengan mengirim bala bantuan di bawah pimpinan Umar
bin Al-Alaa', yang merupakan salah satu orang yang paling paham tentang
perang di Tabaristan.
- Ketika
kedua pasukan berhadapan di Tabaristan, pasukan muslim berhasil
menaklukkannya dan mengepung Isfahbadh hingga ia terdesak masuk ke dalam
bentengnya. Isfahbadh kemudian mengajukan perdamaian dengan menyerahkan
perbekalan/harta simpanan yang ada di dalamnya. Al-Mahdi lalu menulis
surat melaporkan hal tersebut kepada ayahnya. Setelah itu, Isfahbadh
melarikan diri ke wilayah Ad-Dailam dan meninggal di sana. Pasukan muslim
juga berhasil mengalahkan raja bangsa Turk yang dijuluki Al-Masmughan,
serta menawan banyak anak-anak dan wanita. Inilah penaklukan Tabaristan
yang pertama.
Isfahbadh Melanggar Perjanjian
- Pada
tahun 142 H, Isfahbadh (penguasa Tabaristan) melanggar perjanjian yang
telah disepakati antara dirinya dan kaum muslimin, serta membunuh
sekelompok orang muslim yang berada di Tabaristan. Maka Khalifah
menyiapkan pasukan di bawah pimpinan Khazim bin Khuzaimah dan Rauh bin
Hatim, serta didampingi oleh Marzuq Abu Al-Khashib (bekas hamba sahaya
Al-Manshur). Mereka mengepungnya dalam jangka waktu yang lama.
- Ketika
mereka merasa kesulitan untuk menaklukkan benteng tempat Isfahbadh
bertahan, mereka membuat suatu siasat. Abu Al-Khashib berkata kepada
pasukannya: "Pukullah aku, lalu cukurlah rambut dan
janggutku." Mereka pun melakukannya. Kemudian Abu Al-Khashib
pergi menemui Isfahbadh seolah-olah ia sedang marah dan membenci kaum
muslimin, lalu ia masuk ke dalam benteng.
- Isfahbadh
merasa gembira dengannya, memuliakannya, dan mendekatkannya. Abu
Al-Khashib terus berpura-pura menunjukkan kesetiaan dan pelayanannya
hingga berhasil memperdayanya dan mendapatkan kedudukan yang sangat
dipercaya. Isfahbadh bahkan menjadikannya salah satu petugas yang
bertanggung jawab membuka dan menutup pintu benteng.
- Setelah
posisinya kuat, Abu Al-Khashib berkirim surat secara rahasia kepada kaum
muslimin dan memberi tahu mereka bahwa pada malam tertentu ia yang
mendapat giliran menjaga benteng. Ia meminta mereka mendekati pintu
benteng agar ia bisa membukakannya. Ketika malam itu tiba, ia membukakan
pintu untuk kaum muslimin. Pasukan muslim masuk dan membunuh para prajurit
di dalamnya serta menawan keturunan mereka. Sementara itu, Isfahbadh
mengisap cincin beracun hingga ia tewas.
- Di
antara putri-putri raja yang ditawan pada hari itu adalah ibu dari
Al-Manshur dan ibu dari Ibrahim, yang keduanya merupakan putra dari
Al-Mahdi.
Penyerangan ke Ad-Dailam
- Pada
tahun 143 H, Al-Manshur menyeru masyarakat untuk memerangi kaum Dailam
karena mereka telah membunuh banyak kaum muslimin. Ia memerintahkan
penduduk Bashrah dan Kufah—barang siapa di antara mereka yang memiliki
kemampuan finansial sepuluh ribu (dirham) atau lebih—untuk berangkat
bersama pasukan menuju Ad-Dailam. Maka banyak orang merespons seruan
tersebut.
- Pada
tahun 144 H, Muhammad bin Abi Al-Abbas As-Saffah bergerak atas perintah
pamannya, Al-Manshur, menuju wilayah Ad-Dailam dengan membawa pasukan dari
penduduk Kufah, Bashrah, Wasith, Mosul, dan Al-Jazirah.
Serangan Kaum Nasrani ke Tiflis
- Pada
tahun 147 H, Istar Khan Al-Khawarizmi bersama pasukan dari bangsa Turk
melancarkan serangan ke wilayah Armenia. Mereka memasuki kota Tiflis,
membunuh banyak orang, serta menawan banyak kaum muslimin dan Ahluz
Dzimmah (warga non-Muslim yang dilindungi). Di antara yang terbunuh
pada hari itu adalah Harb bin Abdullah Ar-Rawandi (yang namanya diabadikan
menjadi nama daerah Al-Harbiyyah di Baghdad). Sebelumnya ia tinggal di
Mosul bersama dua ribu pasukan untuk menghadapi kaum Khawarij, lalu
Al-Manshur memerintahkannya berangkat untuk membantu kaum muslimin di
wilayah Armenia.
Penyerangan terhadap Bangsa Turk
- Pada
tahun 148 H, Al-Manshur mengutus Humaid bin Qahtabah untuk memerangi
bangsa Turk yang telah membuat kerusakan di wilayah Tiflis. Namun, ia
tidak menemukan seorang pun dari mereka karena mereka telah melarikan diri
kembali ke negeri mereka.
Karya-Karya pada Masa Pemerintahannya
Perluasan Masjidil Haram
Pada tahun 139 H, Al-Mansur memperluas Masjidil Haram. Tahun
ini merupakan tahun yang sangat subur dan makmur, sehingga dinamakan
"Tahun Kesuburan" (Sanatul Khishb).
Pembangunan Kota Kedamaian (Baghdad)
Pada tahun 145 H, Abu Ja'far Al-Mansur mulai membangun Kota
Kedamaian (Madinatussalam), dan ada yang mengatakan pada tahun 144 H.
Pada tahun 146 H, pembangunan Kota Kedamaian (Baghdad) telah selesai dengan
sempurna. Al-Mansur selaku pendirinya mulai menempati kota tersebut pada bulan
Safar di tahun tersebut. Sebelum itu, beliau tinggal di Al-Hasyimiyah yang
berbatasan dengan Kufah.
Alasan utama yang mendorong beliau membangun kota ini adalah
ketika kelompok Rawandiyah menyerang beliau di Kufah dan Allah menyelamatkan
beliau dari kejahatan mereka, masih ada sisa-sisa dari kelompok tersebut.
Beliau mengkhawatirkan keselamatan pasukannya dari mereka, sehingga beliau
keluar dari Kufah untuk mencari lokasi baru guna membangun kota. Beliau
menjelajahi wilayah hingga sampai di Al-Jazirah, dan beliau tidak menemukan
tempat yang lebih baik untuk membangun kota melebihi lokasi Baghdad.
Lafal kata "Baghdad" memiliki empat cara
pengucapan: Baghdad (بَغْدَادُ),
Baghdadz (بَغْدَاذُ)
dengan huruf dzal titik di atas, Baghdadn (بَغْدَانُ) dengan huruf nun di
akhir, serta Maghdan (مَغْدَانُ)
dengan huruf mim di awal.
Kata ini merupakan kata non-Arab (A'jami). Ada yang
mengatakan bahwa kata ini terdiri dari suku kata Bagh dan Dadz.
Dikatakan bahwa Bagh berarti kebun/taman, dan Dadz adalah nama
seorang laki-laki. Ada juga yang berpendapat Bagh adalah nama berhala
—atau setan— dan Dadz berarti pemberian; sehingga maknanya adalah
"Pemberian Berhala".
Oleh karena itu, Abdullah bin Al-Mubarak, Al-Asma'i, dan
ulama lainnya tidak menyukai penyebutan nama "Baghdad", melainkan
menyebutnya "Madinatussalam" (Kota Kedamaian). Begitu pula
pendirinya, Abu Ja'far Al-Mansur, menamainya demikian karena Sungai Tigris (Dijlah)
saat itu dinamakan "Wadi As-Salam" (Lembah Kedamaian).
Keunggulan Lokasi Baghdad
- Berada
di posisi tengah yang strategis, mudah dijangkau pagi dan petang dengan
segala kelimpahan hasil bumi dan laut dari daerah sekitarnya.
- Terbentengi
oleh Sungai Tigris dan Eufrat, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat
mencapai kediaman Khalifah kecuali melalui jembatan.
- Udara
di wilayah tersebut sangat segar. Al-Mansur pernah bermalam di sana
sebelum pembangunannya dan merasakan hembusan angin yang nyaman siang dan
malam.
Perencanaan dan Pembangunan
Al-Mansur memerintahkan untuk membuat denah kota tersebut,
lalu mereka menggambarkannya menggunakan abu di atas tanah. Beliau kemudian
berjalan menyusuri jalan-jalan dan lorong-lorongnya dan merasa sangat kagum.
Setelah itu, beliau menyerahkan setiap seperempat wilayah kota kepada seorang
pangeran/pejabat untuk mengawasi pembangunannya. Beliau mengumpulkan para
pekerja, pengrajin, dan arsitek dari berbagai negeri, hingga berkumpulah ribuan
tenaga ahli di sana.
Kemudian beliaulah orang pertama yang meletakkan batu bata
pertama dengan tangannya sendiri, seraya mengucapkan kutipan ayat Al-Qur'an:
«بِسْمِ
اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالْأَرْضُ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ
عِبَادِهِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ»
Artinya: "Dengan nama Allah, dan segala puji
bagi Allah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang
Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi
orang-orang yang bertakwa."
Kemudian beliau berkata: "Baitlah/Bangunlah atas
keberkahan Allah."
Beliau memerintahkan agar kota itu dibangun berbentuk
lingkaran. Ketebalan dinding bentengnya dari bagian bawah adalah 50 hasta, dan
dari bagian atas 20 hasta. Beliau membuat dua lapis benteng: pada benteng
bagian luar terdapat delapan pintu, dan begitu pula pada benteng bagian dalam.
Pintu-pintu tersebut tidak dibuat sejajar berhadapan lurus satu sama lain. Oleh
karena itulah Baghdad juga dinamakan Az-Zawra' (yang miring/bengkok)
karena letak pintu-pintunya yang saling miring satu sama lain.
Beliau membangun istana pemerintahan di tengah kota agar
posisinya sama jauhnya bagi seluruh rakyat. Beliau juga merancang Masjid Jami'
di samping istana tersebut. Orang yang menentukan arah kiblat masjid itu adalah
Al-Hajjaj bin Arthah. Ibn Jarir mengatakan: Ada yang berpendapat bahwa pada
kiblatnya terdapat sedikit kemiringan, sehingga orang yang shalat di sana perlu
agak menyerong ke arah Pintu Basrah (Bab Al-Bashrah).
Ibn Jarir menyebutkan bahwa Al-Mansur pernah menawarkan
jabatan hakim (qadhi) dan penanganan perkara kezaliman (al-mazhalim)
kepada Imam Abu Hanifah, namun beliau menolaknya. Al-Mansur pun bersumpah tidak
akan melepaskannya sampai beliau mau bekerja. Ketika hal itu disampaikan kepada
Abu Hanifah, beliau meminta sebuah tongkat kayu lalu menghitung batu bata
pembangunan kota demi membebaskan sumpah Abu Ja'far tersebut.
Ibn Jarir juga menyebutkan bahwa Khalid bin Barmak adalah orang
yang memberi saran kepada Al-Mansur untuk membangun kota tersebut dan ia sangat
giat mendorongnya. Al-Mansur sempat bermusyawarah dengan para pangeran/pejabat
mengenai pembongkaran Istana Putih (Al-Qashr Al-Abyadh) di Al-Mada'in
untuk dipindahkan ke Baghdad guna membangun istana pemerintahan. Khalid
menasihatkan: "Jangan lakukan itu, karena istana tersebut adalah keajaiban
dunia dan di dalamnya terdapat tempat shalat Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib." Namun Al-Mansur tidak mengindahkan nasihat itu dan memindahkan
banyak material darinya. Ternyata, hasil material yang diperoleh tidak
sebanding dengan biaya pengangkutannya, sehingga beliau pun menghentikannya.
Beliau juga memindahkan pintu-pintu kota Wasith untuk
dijadikan pintu-pintu kota Baghdad. Padahal sebelumnya, Al-Hajjaj pernah
memindahkan pintu-pintu tersebut dari sebuah kota di sana yang konon merupakan
bangunan peninggalan Nabi Sulaiman bin Daud.
Dahulu, pasar-pasar terletak dekat dengan istana
pemerintahan, sehingga suara para pedagang dan kebisingan pasar terdengar
sampai ke dalam istana. Maka pada tahun 157 H, Al-Mansur memerintahkan untuk
memindahkan pasar-pasar tersebut ke Bab Al-Karkh, Bab Ash-Sya'ir, dan Bab
Al-Muhawwal. Beliau juga memerintahkan pelebaran jalan-jalan menjadi 40 hasta,
dan barangsiapa yang membangun sesuatu di area jalan tersebut, bangunannya
dibongkar.
Biaya Pembangunan
Ada yang mengatakan bahwa beliau menghabiskan biaya untuk
pembangunan Kota Kedamaian, Masjid Jami'-nya, Istana Emas (Qashr adz-Dzahab),
pasar-pasar, dinding pembatas, parit-parit, kubah-kubah, dan pintu-pintunya
sebanyak 4.833.000 (empat juta delapan ratus tiga puluh tiga ribu) dirham.
Adapun upah seorang kepala tukang bangunan setiap harinya adalah satu qirath
perak, sedangkan upah pekerja biasa berkisar antara dua hingga tiga habbah.
Al-Khatib Al-Baghdadi berkata: "Saya telah melihat hal
tersebut dalam sebagian kitab." Beliau juga meriwayatkan dari sebagian
ulama bahwa beliau berkata: "Beliau menghabiskan biaya untuknya sebanyak
18.000.000 (delapan belas juta) dirham." Wallahu a'lam (Allah yang
lebih mengetahui).
Beliau juga berkata: "Beliau membangunnya dalam bentuk
lingkaran, dan tidak diketahui ada kota berbentuk lingkaran di seluruh penjuru
dunia selain kota tersebut."
Al-Khatib mengutip dari sebagian ulama: Bahwa jarak antara
setiap dua pintu dari delapan pintunya adalah satu mil, dan ada yang mengatakan
kurang dari itu.
Harga-Harga Barang di Baghdad
Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan bahwa pada masa Al-Mansur
di Baghdad, seekor domba jantan dijual seharga satu dirham, seekor anak domba
seharga empat daniq. Diumumkan pula bahwa harga daging kambing adalah
setiap 60 rithl seharga satu dirham, daging sapi setiap 90 rithl
seharga satu dirham, kurma setiap 60 rithl seharga satu dirham, minyak
setiap 16 rithl seharga satu dirham, mentega/minyak samin setiap 8 rithl
seharga satu dirham, dan madu setiap 10 rithl seharga satu dirham.
Karena kondisi keamanan dan kemurahan harga ini, penduduknya
menjadi sangat banyak dan berkembang pesat, hingga orang yang melintas di sana
hampir tidak bisa lewat di pasar-pasar karena saking padatnya penduduk.
Istana-Istana Kota Kedamaian (Baghdad)
Istana Al-Imarah (Istana Pemerintahan)
Al-Khatib menyebutkan gambaran tentang Istana Al-Imarah,
bahwa di sana terdapat Al-Qubbah Al-Khadhra’ (Kubah Hijau) yang
tingginya delapan puluh hasta. Di puncaknya terdapat patung kuda yang
ditunggangi seorang penunggang kuda yang memegang tombak yang dapat berputar.
Ke arah mana saja patung itu menghadap dan terus menunjuk, maka diketahui bahwa
di arah itulah telah terjadi suatu peristiwa (pemberontakan atau gangguan),
sehingga khalifah dapat langsung memeriksa dan menangani urusannya.
Kubah ini berada di atas sebuah ruang majelis yang terletak
di bagian depan Balai Pengadilan, dengan panjang tiga puluh hasta dan lebar dua
puluh hasta. Kubah ini runtuh pada suatu malam yang sangat dingin, disertai
hujan, guruh, dan kilat, yaitu pada malam Selasa, tanggal tujuh Jumadil Akhir
tahun 329 Hijriah.
Nasib Dar Al-Khilafah (Istana Kekhalifahan)
Adapun Dar Al-Khilafah yang ada di Baghdad, pada
awalnya adalah milik Al-Hasan bin Sahl. Setelah meninggalnya Al-Hasan, istana
tersebut berpindah kepada putrinya, Bauran, yang telah dinikahi oleh Khalifah
Al-Ma'mun. Kemudian Khalifah Al-Mu'tadhid —dan ada yang mengatakan Khalifah
Al-Mu'tamid— meminta istana itu darinya, lalu Bauran mengabulkannya.
Bauran meminta waktu beberapa hari kepadanya agar ia bisa
berpindah dari tempat tersebut. Setelah itu, Bauran mulai merenovasi,
memutihkan (mengecat), dan memperindahnya. Ia memamparkan berbagai jenis
permadani, menggantungkan bermacam-macam tirai, dan menyiapkan para budak
wanita serta pelayan lengkap dengan berbagai pakaian yang pantas untuk seorang
khalifah. Ia juga mengisi gudang-gudang penyimpanan dengan berbagai jenis
makanan dan santapan. Kemudian ia mengirimkan kunci-kunci istana tersebut
kepada Khalifah. Ketika Khalifah memasukinya dan melihat apa yang telah ia
persiapkan, Khalifah merasa takjub dan sangat mengaguminya.
Istana Al-Khuld
Pada tahun 157 Hijriah, dimulailah pembangunan istana yang
dinamakan Al-Khuld. Khalifah Al-Manshur terus-menerus memperluas dan
memperindah bangunannya hingga selesai pada tahun 158 Hijriah. Namun, bersamaan
dengan selesainya pembangunan tersebut, beliau wafat.
Urusan pembangunannya diserahkan kepada seorang pria bernama
Al-Wadhdhah, maka ia membangun Qashr Al-Wadhdhah (Istana Al-Wadhdhah),
dan ia juga membangun sebuah masjid jamik untuk masyarakat umum agar mereka
tidak perlu masuk ke masjid jamik di Kota Al-Manshur.
Pembangunan Istana At-Taj
Adapun Istana At-Taj, dibangun oleh Khalifah
Al-Muktafi di tepi sungai Tigris. Di sekelilingnya terdapat kubah-kubah,
ruang-ruang majelis, lapangan, At-Thurayya (aula/istana kecil), dan Hayr
Al-Wuhush (taman penangkaran hewan liar).
Istana Dar Ash-Shajarah
Al-Khatib menyebutkan gambaran tentang Dar Ash-Shajarah
(Istana Pohon) yang ada pada masa Khalifah Al-Muqtadir Billah, serta perabotan,
tirai-tirai, pelayan, hamba sahaya, dan kemewahan yang sangat megah di
dalamnya. Di sana terdapat sebelas ribu kasim (pelayan istana) dan tujuh ratus
pengawal/pembantu, sedangkan jumlah hamba sahayanya mencapai ribuan hingga tak
terhitung banyaknya.
Istana Dar Al-Mulk
Al-Khatib juga menyebutkan tentang Dar Al-Mulk yang
terletak di daerah Al-Mukharram.
Selain itu, Al-Khatib menyebutkan tentang masjid-masjid
jamik yang digunakan untuk pelaksanaan shalat Jumat, serta sungai-sungai dan
jembatan-jembatan yang ada di sana. Beliau menjelaskan keadaan semua itu pada
masa Al-Manshur dan hal-hal baru yang dibangun setelahnya hingga pada zamannya.
Ia melantunkan bait syair dari salah seorang penyair
mengenai jembatan-jembatan Baghdad yang membentang di atas sungai Tigris:
أَيَا
حَبَّذَا جِسْرٌ عَلَى مَتْنِ دِجْلَةٍ ... بِإِثْقَانِ تَأْسِيسٍ وَحُسْنٍ
وَرَوْنَقِ
جَمَالٌ
وَحَسَنٌ لِلْعِرَاقِ وَنُزْهَةٌ ... وَسَلْوَةُ مَنْ أَضْنَاهُ فَرْطُ
التَّشَوُّقِ
Betapa indahnya jembatan di atas permukaan sungai Tigris,
dibangun dengan pondasi yang kokoh, keindahan, dan
kemegahan.
Menjadi perhiasan dan keindahan bagi Irak, tempat
rekreasi,
serta penawar bagi mereka yang letih oleh kerinduan yang
mendalam.
Gambaran Tentang Apa yang Ada di Kota Kedamaian (Baghdad)
Ahmad bin Abi Thahir menyebutkan dalam kitabnya (Baghdad)
bahwa luas wilayah Baghdad dari kedua sisinya adalah 53.750 jarib. Sisi
timurnya seluas 26.750 jarib. Jumlah pemandian umumnya (hammam)
mencapai enam puluh ribu pemandian. Paling sedikit, di setiap pemandian
terdapat lima orang pekerja: pemilik pemandian, pengawas/pengelola, pembersih
sampah, penyala api, dan penyedia air.
Di setiap pemandian umum terdapat lima buah masjid. Dengan
demikian, jumlahnya mencapai tiga ratus ribu masjid. Paling sedikit, di setiap
masjid terdapat lima orang, yaitu imam, pengelola masjid, muazin, dan dua orang
makmum.
Namun kemudian, jumlah tersebut semakin berkurang setelah
masa itu, hingga akhirnya hancur dan menjadi seperti reruntuhan, baik secara
wujud fisik maupun maknanya.
Al-Khatib berkata: "Baghdad tidak memiliki tandingan di
dunia ini dalam hal keagungan kedudukannya, kemegahan urusannya, banyaknya
ulama dan tokoh-tokoh utamanya, keunggulan kalangan khusus
(bangsawan/terpelajar) maupun masyarakat umumnya, besarnya wilayah-wilayahnya,
luas batas-batasnya, banyaknya rumah dan pemukimannya, lorong-lorong dan
jalan-jalan utamanya, kawasan dan pasar-pasarnya, gang-gang kecilnya,
masjid-masjidnya, pemandian-pemandiannya, penginapan-penginapannya, kesejukan
udaranya, kesegaran airnya, keredupan naungannya, serta keseimbangan musim
panas dan musim dinginnya, dan kesahatan musim semi dan musim gugurnya. Puncak
kejayaan dan kepadatan penduduknya terjadi pada masa Khalifah Harun
Ar-Rasyid."
Kemudian beliau menyebutkan penurunan kemajuannya setelah
masa tersebut, dan seterusnya hingga sampai pada zamannya.
Ibnu Katsir berkata: "Begitu pula setelah masanya
hingga pada zaman kita sekarang ini, terlebih lagi pada masa Hulagu bin Tolui
bin Jengkis Khan At-Turki, yang meratakan tanda-tanda peradabannya, membunuh
khalifahnya dan para ulamanya, menghancurkan rumah-rumahnya, merubuhkan
istana-istananya, serta membinasakan kalangan khusus dan rakyat umum dari
penduduknya pada tahun 656 Hijriah. Ia merampas harta benda dan kekayaan,
meninggalkan duka mendalam yang terus ditangisi pagi dan petang, serta
menjadikannya sebagai contoh kehancuran di berbagai belahan dunia dan pelajaran
bagi setiap orang yang berakal lagi berilmu."
Dan kota itu diganti, setelah sebelumnya dihiasi dengan
lantunan bacaan Al-Qur'an, menjadi nada-nada dan nyanyian. Setelah mendengar
hadits-hadits Nabi, diganti dengan pelajaran filsafat Yunani, metode-metode
ilmu kalam, dan penafsiran-penafsiran ajaran Qaramithah. Setelah dipenuhi para
ulama, diganti dengan para filsuf. Setelah dipimpin oleh Khalifah Abbasiyah, diganti
oleh seburuk-buruknya penguasa dari manusia. Dan setelah sibuk dengan berbagai
bidang ilmu agama seperti tafsir, fikih, hadits, dan takwil mimpi, diganti
dengan nyanyian zajal, muwashshah, dan mawaliya. Tidaklah
musibah itu menimpa mereka melainkan disebabkan oleh sebagian dosa-dosa mereka
sendiri, dan Tuhanmu sama sekali tidak pernah berbuat zalim kepada
hamba-hamba-Nya.
Kebaikan-Kebaikan Kota Kedamaian
Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan riwayat-riwayat yang
menjelaskan tentang kota Baghdad beserta peringatan atas lemahnya
riwayat-riwayat tersebut. Kemudian beliau membuat satu bab khusus mengenai
kebaikan-kebaikan dan keunggulan kota Baghdad, di antaranya:
Yunus bin Abdil A'la Ash-Shadafi berkata: Asy-Syafi'i pernah
bertanya kepadaku: "Apakah engkau pernah melihat Baghdad?" Aku
menjawab: "Tidak." Maka beliau berkata: "Berarti engkau belum
pernah melihat dunia."
Sebagian ulama berkata: Di antara keindahan dan keagungan
Islam ada tiga hal: Hari Jumat di Baghdad, Shalat Tarawih di Makkah, dan Hari
Raya (Idul Fitri/Adha) di Tharsus.
Al-Khatib berkata: "Barangsiapa yang menghadiri shalat
Jumat di Kota Kedamaian (Baghdad), maka Allah akan mengagungkan kedudukan Islam
di dalam hatinya; karena guru-guru kami dahulu pernah berkata: 'Hari Jumat di
Baghdad terasa seperti hari raya di kota-kota lainnya.'"
Dari Sulaiman bin Musa, ia berkata: "Jika ilmu
seseorang adalah ilmu ahli Hijaz, akhlaknya adalah akhlak penduduk Irak, dan
ketaatannya adalah ketaatan penduduk Syam, maka sungguh telah sempurna
kebaikannya."
Zubaidah pernah berkata kepada Manshur An-Namari:
"Buatlah bait syair yang dapat membuat Ar-Rasyid mencintai dan merindukan
Baghdad, karena beliau lebih memilih untuk tinggal di Ar-Rafiqa." Maka ia
melantunkan syair:
مَاذَا
بِبَغْدَادَ مِنْ طِيبِ الْأَفَانِينِ ... وَمِنْ مَنَازِلَ لِلْدُّنْيَا
وَلِلْدِّينِ
تُحْيِي
الرِّيَاحُ بِهَا الْمَرْضَى إِذَا نَسَمَتْ ... وَجَوَّشَتْ بَيْنَ أَغْصَانِ
الرَّيَاحِينِ
Betapa banyaknya kenikmatan dan keindahan yang beraneka
ragam di Baghdad,
serta tempat-tempat tinggal yang memenuhi kebaikan dunia
dan agama.
Angin sepoi-sepoinya dapat menyegarkan kembali orang yang
sakit ketika berembus,
dan berdesir lembut di antara ranting-ranting tumbuhan
yang harum.
Maka Zubaidah memberinya hadiah uang sebanyak dua ribu
dinar.
Qadhi Abdul Wahhab Al-Maliki berkata menggambarkan
keadaannya ketika ia berada di Baghdad:
بغداد
دار لأهل المال طيبة
وللمفاليس
دار الضنك والضيق
ظللت
حيران أمشي في أزقتها كأنني مصحف في بيت زنديق
Baghdad adalah negeri yang menyenangkan bagi orang-orang
kaya,
namun bagi orang-orang miskin, ia adalah negeri yang
penuh kesempitan dan kesukaran.
Aku berjalan di gang-gangnya dengan perasaan bingung,
seolah-olah aku adalah lembaran Mushaf Al-Qur'an yang
berada di rumah seorang zindik.
Pembangunan Kota Ar-Rusafah
Pada tahun 151 Hijriah, Khalifah Al-Manshur mulai membangun
kota Ar-Rusafah untuk putranya, Al-Mahdi, sekembalinya dari Khurasan.
Ar-Rusafah terletak di bagian timur kota Baghdad. Beliau membuatnya dikelilingi
tembok (benteng) dan parit, serta membuat lapangan dan kebun di dekatnya, lalu
mengalirkan air ke sana dari Sungai Al-Mahdi.
Pembangunan Ar-Rafiqa
Pada tahun 155 Hijriah, Khalifah Al-Manshur memerintahkan
putranya, Al-Mahdi, untuk membangun kota Ar-Rafiqa dengan rancangan yang serupa
dengan pembangunan kota Baghdad.
Pembangunan Tembok Benteng Kufah
Pada tahun 155 Hijriah, Khalifah Al-Manshur memerintahkan
pembangunan tembok benteng dan pembuatan parit di sekeliling kota Kufah. Beliau
menarik biaya pembangunannya dari harta penduduknya yang berkecukupan/kaya,
yaitu sebanyak empat puluh dirham dari setiap orang.
Peristiwa-peristiwa pada Masa Pemerintahannya
Pemberontakan Abdullah bin Ali
Paman beliau, Abdullah bin Ali, sebelumnya pernah mendatangi
As-Saffah di Al-Anbar. As-Saffah kemudian mengangkatnya sebagai panglima
pasukan tempur musim panas (Ash-Sha'ifah). Ia pun berangkat memimpin
pasukan yang sangat besar menuju negeri Romawi.
Ketika di tengah perjalanan, sampai kepadanya kabar kematian
As-Saffah pada bulan Dzulhijjah tahun 136 H. Ia lantas berputar balik dan
menyerukan kepemimpinan untuk dirinya sendiri. Ia mengklaim bahwa As-Saffah
telah berwasiat kepadanya ketika mengutusnya ke Syam bahwa dialah yang menjadi
putra mahkota setelahnya. Beberapa panglima dari Khurasan bersaksi membenarkan
klaim tersebut, lalu mereka bangkit membaikatnya, hingga akhirnya berkumpullah
pasukan yang sangat besar di sekelilingnya.
Ia kembali ke Haran dan merebutnya dari wakil Al-Manshur
setelah mengepungnya selama empat puluh malam. Ketika kabar tentang tindakan
pamannya (Abdullah bin Ali) sampai kepada Al-Manshur, Al-Manshur mengutus Abu
Muslim Al-Khurasani kepadanya bersama sekelompok panglima. Abu Muslim pun
berangkat dengan Malik bin Al-Haitsam Al-Khuza'i di posisi pasukan terdepan.
Ketika Abdullah bin Ali memastikan kedatangan Abu Muslim
kepadanya, ia merasa takut terhadap pasukan Khurasan yang bersamanya
kalau-kalau mereka tidak setia kepadanya. Maka, ia membunuh 17.000 orang dari
pasukan Khurasan tersebut. Ia juga berniat membunuh Humaid bin Quhtubah, namun
Humaid berhasil melarikan diri darinya menuju Abu Muslim.
Ketika Abu Muslim tiba, ia memulai pertempuran dan memerangi
mereka selama lima atau enam bulan. Di antara mereka terjadi beberapa
peperangan, dan banyak kelompok dari mereka yang terbunuh pada hari-hari yang
penuh kemalangan. Akhirnya, Abdullah bin Ali mengalami kekalahan setelah sempat
bertahan. Abu Muslim berhasil menguasai harta dan perlengkapan yang ada di kamp
pasukan mereka. Abu Muslim memberikan jaminan keamanan kepada sisa-sisa
pahlawan/rakyat dan tidak membunuh seorang pun dari mereka, lalu ia menuliskan
surat melaporkan hal itu kepada Al-Manshur.
Kemudian Al-Manshur mengutus pelayannya (maula), Abu
Al-Khasib, untuk menghitung apa saja yang ditemukan di kamp pasukan Abdullah.
Hal itu membuat Abu Muslim Al-Khurasani marah. Kerajaan pun menjadi stabil di
bawah kekuasaan Abu Ja'far Al-Manshur, baik di wilayah timur maupun barat.
Adapun Abdullah bin Ali, ia pergi menemui saudaranya,
Sulaiman bin Ali, di Bashrah dan tinggal bersamanya secara tersembunyi dalam
jangka waktu tertentu. Namun kemudian Al-Manshur mengetahuinya, lalu mengutus
utusan untuk menangkap dan memenjarakannya. Ia mendekam di dalam penjara selama
sembilan tahun, hingga akhirnya rumah yang ditempatinya roboh menimpanya dan ia
pun meninggal.
Terbunuhnya Abu Muslim Al-Khurasani
Pada tahun 137 H, ketika Abu Ja'far mengutus pelayannya, Abu
Al-Khasib Yaqthin, untuk mendata harta benda, permata berharga, dan
barang-barang lainnya yang didapatkan dari kamp pasukan Abdullah, Abu Muslim
marah. Ia memaki Abu Ja'far dan hampir saja membunuh Abu Al-Khasib, hingga
orang-orang membujuknya dan berkata: "Dia hanyalah seorang utusan."
Maka ia membiarkannya.
Abu Al-Khasib pun kembali dan memberitahukan kepada
Al-Manshur tentang apa yang terjadi, serta niat Abu Muslim yang sempat ingin
membunuhnya. Al-Manshur menjadi marah dan khawatir jika Abu Muslim pergi ke
Khurasan sehingga akan sulit baginya untuk menundukkannya setelah itu. Maka
Al-Manshur menulis surat kepadanya yang dibawa oleh Yaqthin:
"Sesungguhnya aku telah mengangkatmu menjadi
penguasa Syam dan Mesir, dan keduanya lebih baik daripada Khurasan. Maka
utuslah ke Mesir siapa saja yang engkau kehendaki, dan tinggallah engkau di
Syam agar engkau lebih dekat dengan Amirul Mukminin jika beliau ingin bertemu
denganmu."
Abu Muslim marah dengan keputusan itu. Ia kembali dari Syam
menuju Khurasan dengan tekad bulat untuk membangkang terhadap Al-Manshur. Maka
Al-Manshur keluar dari Al-Anbar menuju Al-Madain, lalu menulis surat kepada Abu
Muslim agar datang menghadapnya.
Abu Muslim menulis balik kepadanya saat ia bertekad bulat
untuk masuk ke Khurasan:
"Sesungguhnya tidak ada lagi musuh bagi Amirul
Mukminin melainkan telah Allah tundukkan untuknya. Kami dahulu pernah
meriwayatkan dari raja-raja dinasti Sasan bahwa hal yang paling ditakuti oleh
para wazir adalah ketika rakyat sudah tenang/aman. Oleh karena itu, kami
menjauh dari dekatmu, namun kami sangat menjaga untuk menepati janji kepadamu
selama engkau menepatinya, serta patut untuk mendengar dan taat tetapi dari
jarak jauh yang disertai keselamatan. Jika hal itu membuatmu ridha, maka aku
adalah sebaik-baik hamba/abdimu. Namun jika engkau menolak dan tetap menuruti
keinginan dirimu, maka aku akan membatalkan perjanjian yang telah aku teguhkan
demi menjaga keselamatan diriku."
Ketika surat itu sampai kepada Al-Manshur, Al-Manshur
menulis balasan kepada Abu Muslim:
"Aku telah memahami suratmu. Sifatmu bukanlah
seperti sifat para wazir yang curang kepada raja-raja mereka. Amirul Mukminin
telah menitipkan pesan kepada Isa bin Musa agar hatimu menjadi tenang jika
engkau mendengarkannya. Dan aku memohon kepada Allah agar Menghalangi antara
syaitan dan dirimu."
Al-Manshur mengutus Jarir bin Yazid bin Jarir bin Abdullah
Al-Bajali kepadanya bersama sekelompok panglima. Al-Manshur berkata kepadanya: "Bicarakah
kepada Abu Muslim dengan perkataan paling lembut yang engkau mampu, dan katakan
padanya: 'Sesungguhnya Amirul Mukminin ingin mengangkat dan meninggikan
derajatmu. Namun jika engkau membelot dan tetap pergi menuruti kemauanmu ini,
beliau sungguh akan mengejarmu sendiri, bahkan jika engkau menyelam ke dalam
laut sekalipun hingga beliau menyusulmu lalu membunuhmu atau beliau mati
sebelum itu'."
Ketika mereka merasa putus asa darinya, mereka menyampaikan
perkataan tersebut kepadanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Manshur.
Ketika mendengar hal itu, nyalinya sangat jatuh. Kemudian ia mempercepat
perjalanannya datang menghadap Sang Khalifah. Ketika ia sudah dekat dengan
Al-Madain, Khalifah memerintahkan para komandan dan panglima untuk
menyambutnya.
Ketika Abu Muslim masuk menemui Al-Manshur di sore hari,
Khalifah berkata: "Pergilah dan istirahatkan dirimu, masuklah ke kamar
mandi (pemandian umum), dan besok pagi datanglah kepadaku." Ia pun
keluar dari hadapannya, dan orang-orang datang mengucapkan salam kepadanya.
Abu Ja'far telah memilih empat orang pengawal terpilih, lalu
mengobarkan semangat mereka untuk membunuhnya. Beliau berkata: "Berdirilah
kalian di balik tirai/ruangan. Jika aku bertepuk tangan, maka keluarlah kalian
kepadanya dan bunuhlah dia."
Kemudian beliau mengirim utusan untuk memanggil Abu Muslim.
Abu Muslim datang hingga masuk menemui Khalifah dalam keadaan tersenyum. Ketika
ia berdiri di hadapannya, Al-Manshur mulai mencelanya atas perbuatan yang telah
ia lakukan satu per satu. Abu Muslim pun menyampaikan alasan atas semua
tindakan yang telah terlanjur ia lakukan dengan terburu-buru itu.
Kemudian Abu Muslim berkata: "Wahai Amirul Mukminin,
aku berharap hatimu telah ridha/senang kepadaku."
Al-Manshur menjawab: "Demi Allah, hal ini tidaklah
menambah bagiku melainkan kemarahan kepadamu."
Kemudian beliau bertepuk tangan, maka keluarlah para
pengawal lalu menebasnya dengan pedang hingga mereka membunuhnya. Mereka
membungkusnya dengan kain jubah ('aba'ah), kemudian Khalifah
memerintahkan untuk melemparkannya ke Sungai Tigris (Dijlah).
Terbunuhnya Abu Muslim terjadi pada hari Rabu, tersisa empat
malam dari bulan Sya'ban tahun 137 H.
Al-Manshur berkhotbah di hadapan manusia setelah terbunuhnya
Abu Muslim, beliau berkata:
"Wahai manusia, janganlah kalian menjauhkan
nikmat-nikmat yang ada dengan sedikit bersyukur, sehingga hukuman/azab menimpa
kalian. Dan janganlah kalian menyembunyikan kecurangan terhadap para pemimpin,
karena tidaklah seseorang dari kalian menyembunyikan sesuatu melainkan akan
tampak pada keterlanjuran lidahnya, raut wajahnya, dan sorot matanya.
Sesungguhnya kami tidak akan mengabaikan hak-hak kalian selama kalian mengakui
hak kami, dan kami tidak akan melupakan kebaikan kepada kalian selama kalian
mengingat keutamaan kami. Barangsiapa yang memperebutkan pakaian (kekuasaan)
ini dari kami, maka kami akan menginjak bagian atas kepalanya dengan tebasan
pedang ini. Sesungguhnya Abu Muslim dahulu berbaiat bahwa barangsiapa yang
merusak baiat kita dan menampakkan kecurangan kepada kita, maka ia telah
menghalalkan darahnya bagi kita. Dan dia sendiri telah merusak janji,
berkhianat, berbuat dosa, serta kufur. Maka kami menjatuhkan hukuman kepadanya
atas nama diri kami sebagaimana hukuman yang ia berlakukan kepada orang lain
demi membela kami. Sesungguhnya Abu Muslim telah berbuat baik pada awalnya
namun berbuat jahat pada akhirnya. Ia mengambil dari manusia atas nama kami
lebih banyak daripada apa yang ia berikan kepada kami, dan keburukan batinnya
lebih berat daripada kebaikan lahiriahnya. Kami mengetahui kebusukan hatinya
dan kefasihan niat jahatnya yang sekiranya orang yang mencela kami tentangnya
mengetahuinya, niscaya ia akan memaklumi kami dalam membunuhnya."
Kemudian Al-Manshur mulai merangkul para pengikut Abu Muslim
dengan pemberian, iming-imingan, dan ancaman.
Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Abu Muslim dalam
peperangan-peperangannya dan apa yang dilakukannya demi menegakkan Daulah
Abbasiyah telah membunuh 600.000 orang secara eksekusi (shabran).
Abu Muslim Al-Khurasani, nama lengkapnya adalah Abdurrahman
bin Muslim, Abu Muslim tokoh propaganda/seruan (da'wah) Daulah
Abbasiyah. Ia pernah dijuluki: Amiinu Aali Baiti Rasulillah (Kepercayaan
Keluarga Baitan Rasulullah ﷺ).
Nama aslinya adalah Ibrahim bin Utsman bin Yasar, dan
julukannya (kunyah) adalah Abu Ishaq.
Ia dilahirkan di Ashbahan (Isfahan) dan tumbuh besar di
Kufah. Ayahnya pernah berwasiat kepada Isa bin Musa As-Sarraj, lalu ia
membawanya ke Kufah saat ia berusia tujuh tahun. Ketika Ibrahim bin Muhammad
mengutusnya ke Khurasan, ia berkata kepadanya: "Ubah nama dan
julukanmu!" Maka ia menamai dirinya Abdurrahman bin Muslim dan
berjuluk Abu Muslim.
Ia berangkat ke Khurasan pada usia sembilan belas tahun.
Ibrahim bin Muhammad memberinya bekal nafkah dari dirinya, lalu ia bepergian ke
Khurasan. Hingga akhirnya keadaannya berkembang sampai-sampai seluruh kendali
dan urusan Khurasan berada di tangannya.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa ia pernah tertawan pada
masa kecilnya, dan dibeli oleh sebagian penyeru (da'i) Daulah Abbasiyah
seharga 400 dirham. Kemudian Imam Ibrahim bin Muhammad meminta atau membelinya,
lalu ia menyandarkan nasab/hubungannya kepadanya. Ibrahim bin Muhammad
mengawinkannya ketika mengutusnya ke Khurasan dengan putri dari Abu An-Najm
Imran bin Ismail Ath-Tha'i, salah seorang penyeru Daulah Abbasiyah, dan
memberikan mahar atas namanya sebesar 400 dirham. Abu Muslim dikaruniai dua
orang putri: salah satunya Asma' (yang memiliki keturunan) dan Fathimah (yang
tidak memiliki keturunan).
Al-Khathib berkata: "Dia adalah seorang yang nekat,
pemberani, memiliki pemikiran, akal, strategi, dan keteguhan."
Ia memiliki kewibawaan, ketegasan, keberanian, dan sifat
tergesa-gesa. Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Mus'ab bin Bishr, dari
ayahnya, ia berkata: Seorang lelaki berdiri mendatangi Abu Muslim ketika ia
sedang berkhotbah, lalu berkata: "Pakaian hitam apa ini yang aku lihat
padamu?"
Abu Muslim menjawab: "Abu Az-Zubair menceritakan
kepadaku, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ masuk ke Makkah pada
hari Pembebasan Makkah (Fathu Makkah) dan beliau mengenakan sorban berwarna
hitam."
عَنْ
جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ
الْفَتْحِ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ
Terjemah: "Dari Jabir bin Abdullah, bahwa
Rasulullah ﷺ
masuk ke Makkah pada hari Pembebasan Makkah dan beliau mengenakan sorban
berwarna hitam."
"Dan ini adalah pakaian kewibawaan serta pakaian
negara. Wahai pelayan, pugar lehernya (penggal kepalanya)!"
Ibrahim bin Maimun Ash-Sha'igh dahulu merupakan salah
seorang sahabat dan teman duduknya pada masa propaganda (da'wah). Abu
Muslim pernah berjanji kepadanya jika kekuasaan telah tegak, ia akan menegakkan
hukum-hukum حد
(hudud) dan keadilan. Namun ketika Abu Muslim telah memiliki kekuasaan,
Ibrahim bin Maimun terus-menerus mendesaknya untuk melaksanakan apa yang
dijanjikan kepadanya hingga membuat Abu Muslim menyudutkannya. Lalu Abu Muslim
memenggal lehernya setelah Ibrahim berkata kepadanya: "Mengapa engkau
tidak mengingkari Nasr bin Sayyar ketika ia membuat bejana-bejana khamar dari
emas lalu mengirimkannya kepada Bani Umayyah?!" Abu Muslim berkata
kepadanya: "Sesungguhnya mereka itu tidak pernah menjanjikan kepadaku
dari diri mereka apa yang telah engkau janjikan kepadaku."
Sebagian orang pernah bermimpi melihat tempat-tempat yang
tinggi di surga bagi Ibrahim (bin Maimun); karena kesabarannya dalam amar
makruf nahi munkar, semoga Allah merahmatinya.
Al-Baihaqi telah meriwayatkan dari Al-Hakim dengan sanadnya,
bahwa Abdullah bin Al-Mubarak pernah ditanya tentang Abu Muslim; apakah ia
lebih baik ataukah Al-Hajjaj? Beliau menjawab: "Aku tidak mengatakan
bahwa Abu Muslim lebih baik dari siapa pun, tetapi Al-Hajjaj lebih buruk
darinya."
Ibnu Katsir berkata: "Sebagian orang menuduhnya ragu
terhadap Islam dan menuduhnya zindik. Namun, saya tidak melihat dalam apa yang
mereka sebutkan sesuatu yang menunjukkan hal itu. Sebaliknya, hal itu
menunjukkan bahwa ia termasuk orang yang takut kepada Allah atas dosa-dosanya.
Ia pun telah mengaku bertobat dari darah yang telah ia tumpahkan dalam
menegakkan Daulah Abbasiyah, dan Allah lebih mengetahui urusannya."
Penuntutan Balas atas Darah Abu Muslim
Sunbad keluar menuntut balas atas kematian Abu Muslim
al-Khurasani setelah ia terbunuh pada tahun 137 H. Sunbad adalah seorang
penganut Majusi yang berhasil menguasai Qumis, Isfahan, dan Rayy, serta
dijuluki dengan sebutan Fairuz Isfahbad.
Maka Abu Ja'far al-Manshur mengirimkan pasukan kepadanya
sejumlah sepuluh ribu prajurit berkuda di bawah pimpinan Jahwar bin Marrar
al-Ijli. Kedua pasukan bertemu di antara Hamadzan dan Rayy di tepi padang
pasir. Jahwar berhasil mengalahkan Sunbad, membunuh enam puluh ribu
pengikutnya, serta menawan anak-anak dan istri-istri mereka. Sunbad terbunuh
setelah peristiwa itu, dan masa pemberontakannya hanya berlangsung selama tujuh
puluh hari. Seluruh harta Abu Muslim di Rayy yang sempat dikuasai oleh Sunbad
pun berhasil diambil kembali.
Pemberontakan Kelompok Rawandiyah
Pada tahun 141 H, keluar sekelompok orang yang disebut
kelompok Rawandiyah memberontak terhadap al-Manshur di Al-Hasyimiyah, Kufah.
Asal mereka dari Khurasan dan mereka berpegang pada pemikiran Abu Muslim
al-Khurasani, di mana mereka meyakini paham reinkarnasi (penitisan jiwa).
Atas keyakinan tersebut, mereka mengepung istana al-Manshur,
mengelilinginya, seraya berkata: "Ini adalah istana Tuhan kami." Maka
al-Manshur mengirim utusan kepada pemimpin-pemimpin mereka dan memenjarakan dua
ratus orang di antara mereka. Mereka pun marah atas tindakan itu dan berkata:
"Atas dasar apa engkau memenjarakan mereka?"
Kemudian mereka mengambil sebuah keranda mayat kosong tanpa
ada jenazah di atasnya lalu memikulnya di atas bahu-bahu mereka. Mereka
berkumpul di sekeliling keranda itu, lalu mendobrak masuk ke dalam penjara
secara paksa dan mengeluarkan teman-teman mereka yang dipenjara. Setelah itu,
mereka yang berjumlah sekitar enam ratus orang bergerak menuju ke arah
al-Manshur. Orang-orang pun saling berteriak minta tolong dan pintu-pintu kota
segera ditutup.
Masyarakat berdatangan dari berbagai penjuru, begitu pula
Ma'n bin Za'idah. Ketika Ma'n melihat Amirul Mukminin (al-Manshur), ia turun
dari kudanya lalu memegang tali kekang hewan tunggangan al-Manshur dan berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, kembalilah, kami yang akan mengatasi mereka
untukmu." Namun al-Manshur menolak. Warga pasar pun bangkit melawan dan
memerangi kelompok tersebut. Pasukan kerajaan berdatangan dan mengepung mereka
dari segala penjuru hingga membinasakan mereka sampai tak tersisa seorang pun.
Pemberontakan Kelompok Khawarij
Pada tahun 137 H, seorang laki-laki bernama Mulabbad keluar
memimpin seribu orang dari kaum Khawarij di wilayah Al-Jazirah. Al-Manshur
menyiapkan beberapa pasukan besar untuk menghadapinya, tetapi pasukan-pasukan
tersebut selalu dapat dipukul mundur oleh Mulabbad. Kemudian Humaid bin
Qahtabah (gubernur Al-Jazirah) memeranginya, namun Humaid juga berhasil
dikalahkan oleh Mulabbad sehingga Humaid harus berlindung di salah satu
benteng. Akhirnya, Humaid bin Qahtabah berdamai dengan Mulabbad dengan membayar
uang sebesar seratus ribu. Mulabbad menerima uang tersebut dan beranjak
meninggalkannya.
Terbunuhnya Mulabbad al-Khariji
Pada tahun 138 H, Mulabbad al-Khariji terbunuh di tangan
Khazim bin Khuzaimah yang memeranginya bersama delapan ribu prajurit. Lebih
dari seribu orang pengikut Mulabbad tewas, dan sisanya melarikan diri. Segala
puji dan karunia hanya milik Allah.
Pemberontakan Al-Ijli
Pada tahun 138 H, Jahwar bin Marrar al-Ijli melepaskan
kesetiaannya dari Khalifah al-Manshur. Hal itu terjadi setelah ia berhasil
mengalahkan Sunbad dan menguasai harta kekayaan serta aset Abu Muslim yang ada
pada Sunbad. Hal tersebut membuat dirinya merasa kuat dan menyangka bahwa ia
mampu menentang Khalifah dengan modal harta tersebut.
Khalifah al-Manshur kemudian mengutus Muhammad bin
al-Asy'ats al-Khuza'i dengan membawa pasukan yang sangat besar. Pertempuran
sengit pun terjadi hingga Jahwar berhasil dikalahkan dan sebagian besar
pengikutnya tewas. Seluruh harta dan aset yang dibawanya berhasil direbut
kembali, kemudian pasukan mengejarnya hingga ia berhasil dibunuh.
Kekuasaan Ad-Dakhil di Andalusia
Pada tahun 138 H, dimulailah kekhalifahan Ad-Dakhil atas
wilayah Andalusia. Ia adalah Abdurrahman bin Mu'awiyah bin Hisyam bin Abdul
Malik bin Marwan al-Hisyami. Sebelumnya, ia memasuki wilayah Maghrib (Afrika
Utara) dan melintas bersama para pengikutnya melewati sekelompok orang yang
sedang saling berperang karena fanatisme kesukuan antara kelompok Yamaniyah dan
Mudhariyah.
Lalu Abdurrahman mengutus pelayannya yang bernama Badr
kepada mereka untuk merangkul dan menarik simpati mereka. Mereka pun
membaiatnya, lalu Abdurrahman bergerak bersama mereka hingga berhasil
membebaskan serta menguasai tanah Andalusia. Ia merebut kekuasaan dari tangan
gubernurnya, Yusuf bin Abdurrahman bin Habib bin Abi Ubaidah bin Uqbah bin
Nafi' al-Fihri, dan membunuhnya.
Abdurrahman kemudian tinggal di Kordoba dan terus memegang
kekhalifahan di wilayah tersebut hingga wafat pada tahun 172 H. Masa
kekuasaannya berlangsung selama tiga puluh empat tahun beberapa bulan.
- Setelahnya,
putranya yang bernama Hisyam memegang kekuasaan selama enam tahun
beberapa bulan, lalu meninggal.
- Kemudian
putranya, Al-Hakam bin Hisyam, memegang kekuasaan selama dua puluh
enam tahun beberapa bulan.
- Kemudian
setelahnya, putranya Abdurrahman bin Al-Hakam memegang kekuasaan
selama tiga puluh tiga tahun.
- Kemudian
setelahnya, Muhammad bin Abdurrahman bin Al-Hakam memegang
kekuasaan selama dua puluh enam tahun.
- Kemudian
putranya, Al-Mundzir bin Muhammad.
- Kemudian
saudaranya, Abdullah bin Muhammad.
- Kemudian
cucunya, Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin
Al-Mundzir, dan masa kekuasaannya terjadi cukup lama setelah tahun
tiga ratus Hijriah.
Kemudian dinasti tersebut runtuh sebagaimana akan kami
sebutkan. Tahun-tahun itu pun berlalu beserta orang-orang di dalamnya,
seolah-olah mereka telah berjanji untuk pergi bersama.
(Mengenai hal ini, penyair Abu Tammam berkata dalam
syairnya):
تُـمَّ
انْقَضَتْ تِلْكَ السُّنُونَ وَأَهْلُهَا ... فَكَأَنَّهَا وَكَأَنَّهُمْ
أَحْلَامُ
Artinya: "Kemudian berlalulah tahun-tahun itu
bersama para penghuninya ... seolah-olah tahun-tahun itu dan mereka hanyalah
mimpi belaka."
Pemberontakan Sebagian Prajurit
Pada tahun 140 H, sekelompok prajurit memberontak terhadap
Abu Dawud, gubernur Khurasan, lalu mereka mengepung rumahnya. Abu Dawud melihat
ke arah mereka dari atas rumahnya sambil berteriak meminta bantuan kepada
pasukan lainnya agar datang membantunya. Ketika ia bersandar pada sepotong batu
bata di dinding, batu tersebut patah. Ia pun jatuh tersungkur hingga tulang
punggungnya patah lalu meninggal dunia—semoga Allah merahmatinya. Posisi
gubernur Khurasan kemudian digantikan oleh 'Isam, kepala kepolisian setempat.
Pelarian Ibrahim dan Muhammad, Dua Putra Abdullah bin
Hasan
Dahulu, Muhammad bin Abdullah bin Hasan telah dibaiat
sebagai khalifah oleh sekelompok warga Hijjaz pada akhir masa pemerintahan
Marwan, dan mereka mencopot Marwan dari kekhalifahan. Di antara orang-orang
yang membaiatnya saat itu adalah Abu Ja'far al-Manshur sendiri, yaitu sebelum
kekuasaan beralih ke tangan Bani Abbasiyah.
Ketika kekhalifahan jatuh ke tangan Abu Ja'far al-Manshur,
Muhammad bin Abdullah bin Hasan dan saudaranya, Ibrahim, merasa sangat
ketakutan kepadanya. Mereka berdua melarikan diri dan bersembunyi di berbagai
negeri yang jauh; pergi ke Yaman, lalu ke India, kemudian kembali ke Madinah
dan bersembunyi di sana.
Ketika Abu Ja'far al-Manshur datang ke Madinah setelah
menunaikan ibadah haji pada tahun 144 H, masyarakat menyambut al-Manshur di
tengah perjalanan menuju Mekkah. Di antara orang yang menyambutnya adalah
Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Al-Manshur memintanya
duduk bersama di atas permadani / hidangan makanannya, lalu mengajaknya
berbincang-bincang dan menyambutnya dengan sangat hangat. Namun ketika
al-Manshur bertanya tentang kedua putranya, Abdullah bersumpah bahwa ia tidak
mengetahui keberadaan mereka berdua.
Al-Manshur berusaha keras dengan segala cara untuk menemukan
keduanya, tetapi tidak berhasil. Al-Manshur terus mendesak Abdullah untuk
menyerahkan kedua putranya. Hal itu membuat Abdullah marah lalu berkata: "Demi
Allah, sekiranya mereka berdua ada di bawah telapak kakiku pun, aku tidak akan
menunjukkan keberadaan mereka kepadamu!"
Mendengar hal itu al-Manshur murka, lalu memerintahkan agar
Abdullah dipenjarakan serta budak-budak dan hartanya dijual. Abdullah mendekam
di penjara selama tiga tahun. Orang-orang kemudian menyarankan al-Manshur untuk
memenjarakan seluruh keturunan Bani Hasan, maka ia memenjarakan mereka semuanya.
Ia sangat sungguh-sungguh mencari Ibrahim dan Muhammad, padahal keduanya hampir
setiap tahun menghadiri ibadah haji dan sering kali bersembunyi di Madinah
tanpa ada seorang pun pembocor yang menyadari keberadaan mereka.
Al-Manshur mengeluarkan banyak harta untuk mencari keduanya,
namun takdir Allah menghalanginya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki
hal yang lain.
Salah seorang panglima al-Manshur yang bernama Abu al-Asakir
Khalid bin Hassan ternyata diam-diam bersekongkol mendukung kedua putra
Abdullah tersebut. Pada salah satu musim haji, mereka sempat merencanakan untuk
membunuh Abu Ja'far al-Manshur di antara Shafa dan Marwah, namun Abdullah bin
Hasan melarang mereka karena mengagungkan kesucian tempat tersebut.
Al-Manshur akhirnya mengetahui rencana itu dan mengetahui
persekongkolan panglimanya. Ia pun menyiksa panglima tersebut hingga ia
mengakui rencana pembunuhan yang telah mereka sepakati.
Al-Manshur meminta saran dari para panglima dan menterinya
yang bijaksana mengenai urusan kedua putra Abdullah bin Hasan ini. Ia juga
mengirim para mata-mata dan utusan rahasia untuk melacak mereka berdua, tetapi
mereka tidak menemukan berita, jejak, maupun tanda-tanda keberadaan keduanya.
Teks Al-Qur'an terkait takdir Allah:
وَاللَّهُ
غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ
Artinya:
"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya." (QS.
Yusuf: 21)
Pada tahun 144 H, keturunan Bani Hasan dipindahkan dari
penjara Madinah ke penjara di Irak dengan kaki terbelenggu dan leher terantai.
Ketika sampai di Irak, mereka dipenjarakan di Al-Hasyimiyah.
Di antara mereka terdapat Muhammad bin Ibrahim bin Hasan, seorang pemuda yang
sangat tampan hingga orang-orang sengaja datang hanya untuk melihat
ketampanannya, dan ia dijuluki Ad-Dibaj al-Ashfar (Sutra Kuning).
Al-Manshur menghadapkannya ke hadapannya lalu berkata: "Demi Allah, aku
akan membunuhmu dengan cara pembunuhan yang belum pernah dilakukan oleh seorang
pun!" Kemudian al-Manshur memasukkannya ke celah di antara dua tiang
bangunan lalu menutup dindingnya rapat-rapat hingga ia mati lemas di dalamnya.
Banyak di antara mereka yang tewas di dalam penjara hingga akhirnya sisanya
dibebaskan di kemudian hari.
Pemberontakan Muhammad di Madinah dan Terbunuhnya Dialah
Pada awal bulan Rajab tahun 145 H, Muhammad bin Abdullah bin
Hasan memimpin pemberontakan di Madinah.
Sebelumnya, ia dan saudaranya (Ibrahim) telah membuat
kesepakatan mengenai waktu tertentu untuk muncul bersama secara terbuka;
Muhammad di Madinah dan Ibrahim di Bashrah. Namun ketika keadaan semakin
mendesak dan sulit baginya, Muhammad menentukan satu malam tertentu kepada para
pengikutnya untuk mulai muncul.
Ketika malam itu tiba, seorang pembocor datang kepada
Gubernur Madinah dan memberitahukan rencana tersebut. Gubernur menjadi sangat
cemas dan gelisah, lalu ia berkeliling kota Madinah dan sekitarnya untuk
mencari keberadaan Muhammad bin Abdullah bin Hasan, namun ia tidak berhasil
menemukannya.
Setelah kembali ke rumahnya, Gubernur mengutus orang untuk
memanggil keturunan Husain bin Ali dan mengumpulkan mereka bersama para tokoh
dan pemimpin Quraisy serta yang lainnya. Gubernur menasihati dan menegur mereka
dengan keras seraya berkata:
"Wahai warga Madinah, Amirul Mukminin mencari orang
ini di belahan bumi timur dan barat, padahal ia berada di tengah-tengah kalian!
Tidak cukupkah kalian menyembunyikannya hingga kalian membaiatnya untuk
mendengar dan taat kepadanya? Demi Allah, tidak ada berita yang sampai kepadaku
tentang salah seorang dari kalian yang keluar bersamanya melainkan pasti akan
kupenggal lehernya!"
Maka mereka mengingkari hal itu dan berkata: "Kami akan
membawakan untukmu orang-orang bersenjata yang akan berperang membela dan
melindungimu jika terjadi sesuatu dari hal tersebut." Kemudian, tidak ada
yang mengejutkan masyarakat melainkan para pengikut Muhammad bin Abdullah yang
telah muncul dan mengumandangkan takbir secara terang-terangan, sehingga
masyarakat terkejut di tengah malam.
Lalu Muhammad bin Abdullah bin Hasan datang bersama 250
penunggang kuda. Ia melewati penjara dan mengeluarkan siapa saja yang ada di
dalamnya, lalu mendatangi rumah pemerintahan (Dar al-Imarah), mengepungnya, dan
berhasil menguasainya. Ia menangkap Riyah bin Utsman, wakil penguasa Madinah,
lalu memenjarakannya di rumah Marwan. Memasuki pagi hari, Muhammad bin Abdullah
bin Hasan telah menguasai Madinah dan penduduknya tunduk kepadanya. Ia pun
memimpin shalat Subuh bersama masyarakat dan membaca ayat:
﴿
إِ نَّ ا فَ تَ حْ نَ ا لَ كَ فَ تْ
حً ا مُّ بِ ي نً ا ﴾
"Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan
yang nyata." (QS. Al-Fath: 1).
Pada hari itu, Muhammad bin Abdullah bin Hasan berkhotbah di
hadapan penduduk Madinah. Ia berbicara mengenai Bani Abbas dan menyebutkan
hal-hal yang mencela mereka. Ia mengabarkan bahwa tidaklah ia mendatangi suatu
negeri melainkan penduduknya telah membaiatnya untuk mendengar dan taat, maka
seluruh penduduk Madinah pun membaiatnya kecuali sebagian kecil.
Diriwayatkan dari Imam Malik bahwasanya beliau memberikan
fatwa untuk membaiatnya. Lalu dikatakan kepada beliau: "Sesungguhnya di
leher-leher kami terdapat baiat kepada Al-Manshur." Beliau menjawab:
"Sesungguhnya kalian dahulu dipaksa, dan tidak ada baiat bagi orang yang
dipaksa." Maka orang-orang pun membaiatnya saat itu berdasarkan perkataan
Malik, sedangkan Malik tetap berdiam di rumahnya. Akan tetapi, dikatakan dari
sekelompok imam bahwa mereka cenderung pada kemunculan keduanya (yaitu Muhammad
bin Abdullah dan saudaranya, Ibrahim). Namun hal ini masih perlu ditinjau
kembali.
Ismail bin Abdullah bin Ja'far pernah berkata kepadanya
ketika ia mengundangnya untuk berbaiat: "Wahai putra saudaraku,
sesungguhnya engkau akan terbunuh." Maka sebagian orang urung
mengikutinya, sedangkan mayoritas dari mereka tetap bersamanya.
Kemudian Muhammad bin Hasan mengangkat Utsman bin Muhammad
bin Khalid bin Az-Zubair sebagai wakilnya di Madinah, Abdul Aziz bin
Al-Muththalib bin Abdullah Al-Makhzumi sebagai qadhi (hakim), Utsman bin
Ubaidillah bin Umar bin Al-Khattab sebagai kepala kepolisian, serta Abdullah
bin Ja'far bin Abdurrahman bin Al-Miswar bin Makhramah sebagai kepala bagian
pengagihan tunjangan (Diwan al-'Atha').
Lalu Abu Ja'far menulis surat balasan kepadanya, yang
intinya adalah:
"Amma ba'du: Sungguh telah sampai kepadaku perkataanmu,
dan aku telah membaca suratmu. Ternyata sebagian besar kebanggaanmu adalah
dengan kekerabatan dari jalur perempuan, padahal Allah tidak menjadikan kaum
perempuan sederajat dengan para paman dari pihak ayah, para ayah, serta tidak
pula seperti kerabat patrilineal ('ashabah) dan para wali... Sungguh telah ada
sunnah/ketetapan yang tidak ada perselisihan di dalamnya di antara kaum
muslimin bahwa kakek (ayah dari ibu), paman dari pihak ibu, dan bibi dari pihak
ibu tidak mendapat warisan..." — dalam pembahasan yang panjang yang memuat
kajian, perdebatan, kefasihan, serta keindahan bahasa.
Muhammad bin Abdullah bin Hasan mengutus utusan kepada
penduduk Syam untuk mengajak mereka membaiatnya dan mengakui kekhalifahannya,
namun mereka menolak hal tersebut dan berkata: "Kami telah bosan dengan
peperangan dan jenuh dengan pertempuran."
Ia juga mengutus Al-Hasan bin Mu'awiyah bersama 70 orang
pria ke Makkah, di mana ia akan menjadi penguasanya jika berhasil memasukinya.
Mereka pun berangkat ke sana. Ketika penduduk Makkah mendengar kedatangan
mereka, ribuan pasukan tempur keluar menghadapi mereka. Al-Hasan bin Mu'awiyah
berkata kepada mereka: "Atas dasar apa kalian berperang padahal Abu Ja'far
Al-Manshur telah meninggal?" As-Sari bin Abdullah, pemimpin penduduk
Makkah, menjawab: "Sesungguhnya surat-surat kurirnya telah sampai kepada
kami sejak empat malam yang lalu, dan aku telah mengirim utusan kepadanya, maka
aku sedang menunggu balasannya hingga empat hari."
Al-Hasan bin Mu'awiyah menolak untuk menunggu dan tidak mau
selain penyelesaian dengan pertempuran. Ia mengirim pesan kepada As-Sari agar
keluar dari tanah haram menuju tanah halal supaya tidak ada darah yang
tertumpah di tanah haram. Namun ia tidak mau keluar, maka mereka maju dan
membentuk barisan. Al-Hasan dan pengikutnya menyerang mereka dengan sekali
serangan yang serentak, lalu menundukkan mereka dan berhasil memasuki Makkah.
Al-Hasan bin Mu'awiyah kemudian berkhotbah di hadapan
manusia, menyampaikan belasungkawa atas (kabar) Abu Ja'far, dan menyeru untuk
membaiat Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang bergelar Al-Mahdi.
Abu Ja'far menyiapkan pasukan untuk menghadapi Muhammad di
bawah pimpinan Isa bin Musa bersama sekelompok orang-orang pemberani.
Al-Manshur telah meminta pendapat mengenai hal ini, lalu dikatakan kepadanya:
"Panggillah siapa saja yang engkau kehendaki dari para pembebas budakmu
yang engkau percayai, lalu hendaknya ia singgah di Wadi Al-Qura untuk
menghadang pasokan bahan makanan dari Syam, sehingga dia (Muhammad) dan
pengikutnya mati kelaparan, karena ia berada di negeri yang tidak memiliki
harta, pasukan, hewan tunggangan, maupun senjata."
Abu Ja'far Al-Manshur menulis surat bersama Isa bin Musa
yang ditujukan kepada para pemimpin Quraisy dan Anshar dari penduduk Madinah,
untuk diserahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi, yang berisi ajakan
agar mereka kembali tunduk dan taat. Ketika Isa bin Musa mendekati Madinah, ia
mengutus seorang pria untuk membawanya, namun penjaga keamanan Muhammad
menangkapnya dan menemukan surat-surat tersebut. Mereka menyerahkannya kepada
Muhammad, lalu Muhammad menghadirkan sekelompok orang-orang tersebut dan
menghukum mereka dengan pukulan yang keras.
Kemudian Muhammad meminta pendapat para pengikutnya mengenai
apakah tetap bertahan di Madinah atau menghadapi musuh di luar kota.
Disepakatilah pendapat untuk tetap bertahan di Madinah. Ia ikut menggali parit
bersama masyarakat dengan tangannya sendiri demi meneladani Rasulullah ﷺ.
Tampak oleh mereka batu bata bekas parit yang dahulu digali oleh Rasulullah ﷺ,
maka mereka bergembira, bersuka cita, bertakbir, dan memberinya kabar gembira
akan kemenangan.
Ketika Isa bin Musa mendekati Madinah, Muhammad bin Abdullah
bin Hasan naik ke atas mimbar lalu berkhotbah di hadapan manusia dan
menyemangati mereka untuk berjihad. Ia berkata: "Sesungguhnya aku
membebaskan kalian dari ikatan baiatku, barangsiapa yang ingin tetap berada di
atasnya maka lakukanlah, dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya maka
lakukanlah." Maka banyak dari mereka yang pergi diam-diam dan tidak
tersisa melainkan sedikit saja dari manusia.
Kemudian Isa bin Musa datang dan singgah di Al-Jarf di
tempat penampungan air Sulaiman bin Abdul Malik, yang berjarak empat mil dari
Madinah. Hal itu terjadi pada hari Sabtu tanggal 12 Ramadan tahun 145 H.
Lalu Isa mengutus utusan kepada Muhammad yang mengajaknya
untuk mendengar, taat, dan kembali kepada jamaah; serta bahwasanya ia
memberikan jaminan keamanan untuknya dan keluarganya jika ia menyambut hal
tersebut. Maka Muhammad berkata kepada utusan itu: "Kalau bukan karena
utusan tidak boleh dibunuh, niscaya aku telah membunuhmu."
Kemudian para utusan saling bolak-balik di antara keduanya
selama tiga hari. Di dalamnya Isa bin Musa terus mengajaknya untuk mendengar,
taat, dan kembali kepada jamaah. Pada setiap hari dari tiga hari tersebut, Isa
berdiri di atas bukit di dekat Sal' lalu berseru: "Wahai penduduk Madinah,
sesungguhnya darah kita haram bagi kita. Barangsiapa yang datang dan berdiri di
bawah panji kami maka ia aman, barangsiapa yang memasuki masjid Rasulullah ﷺ maka ia aman, dan barangsiapa yang memasuki rumahnya
maka ia aman. Barangsiapa yang keluar dari kota Madinah, maka ia aman. Dan
barangsiapa yang meletakkan senjatanya, maka ia aman. Kami tidak memiliki
keinginan untuk berperang melawan kalian, kami hanya menginginkan Muhammad
seorang diri untuk kami bawa kepada Khalifah."
Namun, mereka (penduduk) justru mencaci maki dan mencelanya.
Ketika memasuki hari ketiga, ia (Isa bin Musa) mendatangi
mereka membawa pasukan berkuda, pasukan berjalan kaki, perlengkapan perang, dan
tombak-tombak yang belum pernah terlihat tandingannya. Lalu ia menyeru
kepadanya:
"Wahai Muhammad, sesungguhnya Amirul Mukminin
memerintahkanku untuk tidak berperang melawanimu hingga aku mengajakmu untuk
mendengar dan taat. Jika engkau menerimanya, beliau akan memberimu jaminan
keamanan, melunasi utang-utangmu, serta memberimu harta dan tanah. Namun jika
engkau menolak, aku akan berperang melawanimu. Sungguh, aku telah mengajakmu
tidak hanya sekali."
Maka Muhammad menyeru kepadanya: "Tidak ada pilihan
lain antara aku dan kalian kecuali peperangan."
Maka pecahlah pertempuran di antara kedua belah pihak saat
itu. Jumlah pasukan Isa bin Musa lebih dari empat ribu orang dengan
perlengkapan yang belum pernah terlihat tandingannya. Sementara Muhammad dan
para pengikutnya berjumlah sejumlah ahli Badr (pasukan Perang Badar). Kedua
kelompok bertempur dengan sangat sengit. Pertempuran terus berkecamuk di antara
mereka sejak pagi hari hingga usai shalat Asar.
Kondisi perang saat itu menjadi sangat memanas, hingga
akhirnya penduduk Irak (pasukan Isa) berada di atas angin. Kemudian orang-orang
mengepung Muhammad dalam jumlah besar. Seseorang maju mendekatinya, lalu
menebasnya dengan pedang tepat di bawah cuping telinga kanannya, hingga
Muhammad tersungkur. Humaid bin Qahtabah kemudian maju mendekatinya lalu
memenggal kepalanya, dan membawanya kepada Isa bin Musa, lalu meletakkannya di
hadapannya.
Terbunuhnya Muhammad terjadi di dekat Ahjar az-Zait pada
hari Senin setelah waktu Asar, tanggal empat belas Ramadan tahun 145 H.
Isa kemudian mengirimkan kabar gembira (kemenangan) tersebut
kepada Al-Mansur bersama Al-Qasim bin Al-Hasan, serta membawa kepalanya bersama
Ibn Abi al-Kiram. Setelah itu, ia mengizinkan pemakaman jasad Muhammad, lalu
jasadnya dimakamkan di pemakaman Baqi. Pengumuman jaminan keamanan pun
diserukan kepada penduduk Madinah, sehingga masyarakat dapat kembali
beraktivitas di pasar-pasar mereka.
Setelah itu, Isa bin Musa berangkat menuju Mekkah dan
mengangkat Kutsair bin Hushain sebagai wakilnya di Madinah, dan ia menjabat
selama satu bulan.
Pemberontakan Orang-orang Sudan di Madinah
Al-Mansur mengutus Abdullah bin Ar-Rabi' untuk memimpin
pemerintahan Madinah. Namun, pasukannya membuat kerusakan di sana. Mereka
membeli barang-barang dari masyarakat tanpa membayar harganya, dan jika
ditagih, mereka justru memukul orang yang menagihnya serta mengancam akan
membunuhnya.
Maka bangkitlah sekelompok orang-orang Sudan (orang-orang
kulit hitam) melakukan perlawanan. Mereka berkumpul dan meniup trompet milik
mereka. Mendengar suara trompet tersebut, berkumpullah seluruh orang kulit
hitam di Madinah, lalu mereka melakukan serangan serentak terhadap pasukan
penguasa saat orang-orang sedang berjalan untuk melaksanakan shalat Jumat,
tepatnya tersisa tujuh malam dari bulan Dzulhijjah tahun 145 H. Mereka berhasil
membunuh sejumlah besar dari pasukan penguasa.
Gubernur Madinah, Abdullah bin Ar-Rabi', melarikan diri dan
meninggalkan shalat Jumat. Kemudian ia menunggangi kudanya bersama pasukannya
dan bertempur melawan orang-orang Sudan, namun mereka berhasil mengalahkannya.
Ia melarikan diri dan mereka mengejarnya sampai ke Baqi. Lalu ia melemparkan
dirham (uang perak) kepada mereka untuk mengalihkan perhatian, hingga ia
berhasil menyelamatkan dirinya beserta para pengikutnya. Ia kemudian melarikan
diri sampai ke Batn Nakhl, sebuah tempat yang berjarak dua malam perjalanan
dari Madinah.
Orang-orang Sudan tersebut menemukan bahan makanan yang
tersimpan di Rumah Marwan di Madinah, berupa tepung, adonan gandum, dan minyak
zaitun. Mereka menjarahnya lalu menjualnya dengan harga yang sangat murah.
Kabar tentang peristiwa pemberontakan orang-orang Sudan ini
sampai kepada Al-Mansur. Penduduk Madinah merasa khawatir akan dampak buruk
dari kejadian tersebut. Maka mereka berkumpul di masjid, dan Ibn Abi
Sabrah—yang saat itu berada dalam penjara—berkhotbah di hadapan mereka. Ia naik
ke atas mimbar dalam keadaan kedua kakinya terbelenggu rantai. Ia mengimbau
mereka untuk tetap mendengar dan taat kepada Amirul Mukminin Al-Mansur, serta
menakut-nakuti mereka akan dampak buruk dari perbuatan yang dilakukan oleh
budak-budak/pengikut mereka.
Maka mereka sepakat untuk menahan dan membubarkan para
budak/pengikut mereka. Mereka juga sepakat untuk menemui gubernur mereka agar
kembali menjalankan tugasnya. Mereka pun melaksanakan hal itu, sehingga keadaan
menjadi tenang, masyarakat kembali tenteram, dan segala kerusuhan berhasil
dipadamkan.
Abdullah bin Ar-Rabi' akhirnya kembali ke Madinah, lalu ia
memotong tangan para pemimpin pemberontakan dari orang-orang Sudan tersebut.
Pemberontakan Ibrahim di Basrah dan Terbunuhnya Beliau
Ibrahim bin Abdullah bin Hasan melakukan pemberontakan di
Basrah pada awal bulan Ramadan tahun 145 H, setelah pemberontakan saudaranya,
Muhammad. Ketika kurir pembawa berita tiba di Madinah mengabarkan hal tersebut,
Muhammad merasa sangat gembira dan bersuka cita. Setelah shalat Subuh dan
Maghrib, Muhammad selalu berkata kepada orang-orang: "Berdoalah kepada
Allah untuk saudara-saudara kalian penduduk Basrah dan untuk Al-Hasan bin
Mu'awiyah di Mekkah, serta mohonlah pertolongan-Nya atas musuh-musuh
kalian."
Ibrahim sebelumnya telah singgah di Basrah di rumah
Al-Harits bin Isa. Kedatangannya ke kota tersebut terjadi pada tahun 143 H,
setelah para jamaah haji kembali. Ia mengajak orang-orang secara rahasia untuk
mendukung saudaranya. Namun ketika saudaranya terbunuh, ia secara
terang-terangan menyerukan gerakan untuk dirinya sendiri dan menentang
Al-Mansur pada bulan Syawal tahun 145 H.
Urusannya menjadi semakin besar, banyak kelompok orang yang
membaiatnya, dan kekuatannya kian menguat. Berita tentang dirinya sampai kepada
Abu Ja'far Al-Mansur, sehingga menambah kesedihan di atas kesedihan yang
dialaminya akibat pemberontakan saudaranya, Muhammad.
Al-Mansur kemudian berpindah dari Baghdad—yang saat itu baru
saja ia mulai pembangunannya—menuju Kufah. Setiap kali ia mencurigai seseorang
dari penduduk Kufah terlibat dalam urusan Ibrahim, ia mengutus orang untuk
membunuhnya di rumahnya pada malam hari.
Masyarakat dari berbagai penjuru mulai menuju ke Basrah
untuk membaiat Ibrahim. Al-Mansur menempatkan pasukan penjaga di pos-pos
pemeriksaan. Mereka membunuh orang-orang tersebut di jalanan dan membawa kepala
mereka kepada Al-Mansur, lalu Al-Mansur menyalib kepala-kepala itu di Kufah
agar menjadi iktibar (peringatan) bagi masyarakat.
Pada malam Senin awal bulan Ramadan tahun 145 H, Ibrahim
keluar pada malam hari menuju pemakaman Bani Yashkur bersama belasan penunggang
kuda. Pada malam yang sama, Abu Hammad Al-Abras tiba membawa dua ribu
penunggang kuda sebagai bantuan untuk Gubernur Basrah, Sufyan bin Mu'awiyah.
Gubernur menempatkan mereka di istana. Ibrahim beserta para pengikutnya
bergerak menuju hewan-hewan tunggangan dan persenjataan pasukan bantuan
tersebut, lalu mereka mengambil semuanya. Ini adalah rampasan pertama yang
berhasil didapatkannya. Ketika pagi hari tiba, kekuatannya telah menjadi sangat
unggul. Ia lalu memimpin shalat Subuh bersama orang-orang di Masjid Jami'.
Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, baik yang sekadar
melihat maupun yang berniat membantu.
Sufyan bin Mu'awiyah memilih berlindung di dalam istana
pemerintahan bersama para pasukannya. Ibrahim beserta pengikutnya kemudian
mengepung mereka. Sufyan bin Mu'awiyah memohon jaminan keamanan, dan Ibrahim
pun memberikannya. Ibrahim kemudian memasuki istana pemerintahan, lalu
dibentangkan tikar baginya untuk duduk di bagian depan teras istana.
Ia memerintahkan untuk memenjarakan Sufyan bin Mu'awiyah
dalam keadaan terbelenggu—ia pura-pura memihak—dengan maksud agar Sufyan dapat
membersihkan namanya di hadapan Abu Ja'far Al-Mansur. Ibrahim kemudian
menguasai harta yang ada di dalam kas negara (baitulmal), yang berjumlah enam
ratus ribu, atau dikatakan dua juta (dirham). Hal itu membuat posisinya menjadi
sangat kuat.
Ibrahim lalu mengutus pasukannya kepada penduduk Ahvaz, maka
mereka membaiatnya dan taat kepadanya. Ia mengutus dua ratus penunggang kuda
yang dipimpin oleh Al-Mughirah untuk menemui wakil gubernur di sana. Muhammad
bin Al-Hushain, wakil gubernur wilayah tersebut, keluar menghadapinya membawa
empat ribu pasukan. Namun Al-Mughirah berhasil mengalahkannya dan menguasai
wilayah tersebut. Ibrahim juga mengutus pasukan ke wilayah Persia dan berhasil
menguasainya, begitu pula Wasit, Al-Mada'in, dan As-Sawad. Kekuasaannya menjadi
semakin besar.
Namun, ketika berita kematian saudaranya (Muhammad) sampai
kepadanya, ia merasa sangat terpukul. Ia melaksanakan shalat Id bersama
masyarakat, lalu dalam khotbahnya ia menyampaikan berita duka atas wafatnya
saudaranya, Muhammad. Hal itu membuat masyarakat semakin marah kepada
Al-Mansur. Pada pagi harinya, ia menyiapkan pasukannya dan mengangkat seorang
wakil untuk memimpin Basrah.
Ketika berita tersebut sampai kepada Al-Mansur, ia menulis
surat kepada Isa bin Musa yang saat itu berada di Hijaz setelah membunuh
Muhammad bin Abdullah bin Hasan: "Jika engkau telah membaca suratku ini,
bersegeralah datang saat ini juga, dan tinggalkanlah semua urusan yang sedang
engkau jalani." Maka tidak lama kemudian, Isa bin Musa pun datang
menghadapnya.
Al-Mansur berkata kepadanya: "Pergilah menemui Ibrahim
di Basrah. Janganlah engkau gentar dengan banyaknya orang yang bersamanya.
Salurkanlah kekuatanmu, dan percayalah pada kemampuan yang engkau miliki.
Engkau akan mengingat apa yang aku katakan kepadamu ini." Maka
kenyataannya terjadi tepat seperti yang dikatakan oleh Al-Mansur.
Al-Mansur juga menulis surat kepada putranya, Al-Mahdi, yang
berada di Rayy, agar mengutus Khazim bin Khuzaimah bersama empat ribu pasukan
menuju Ahvaz. Khazim pun berangkat ke sana, lalu mengusir wakil Ibrahim dari
wilayah tersebut, melegalkan penjarahan di sana selama tiga hari, serta
mengutus pasukan ke setiap daerah dari daerah-daerah yang melakukan
pembangkangan ini untuk mengembalikan mereka ke dalam ketaatan.
Khalifah Al-Manshur terus berada di tempat shalatnya (untuk
berdo'a dan beribadah), beliau tidak meninggalkannya baik siang maupun malam.
Beliau terus melakukan hal itu selama lima puluh sekian hari, hingga Allah
memberikan kemenangan kepadanya.
Pernah dikatakan kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya istri-istrimu telah merasa gelisah dan bersedih karena engkau lama
meninggalkan mereka."
Maka beliau memarahi orang yang mengatakan hal itu dan
bersabda: "Celaka kamu! Ini bukanlah saatnya untuk urusan wanita, sampai
aku melihat kepala Ibrahim berada di hadapanku, atau kepalaku yang dibawakan
kepadanya."
Ibrahim berangkat dari Basrah menuju Kufah bersama 100.000
pasukan. Maka Al-Manshur mengutus Isa bin Musa untuk menghadapinya dengan
membawa 15.000 pasukan, dan di garis depannya dipimpin oleh Humaid bin Qahtabah
dengan 3.000 pasukan.
Kedua pasukan pun saling berhadapan, membentuk barisan, dan
bertempur dengan sangat sengit. Pasukan garis depan yang dipimpin Humaid bin
Qahtabah sempat terdesak dan kalah. Isa bin Musa pun memohon kepada mereka demi
Allah agar kembali bertempur, namun tidak ada seorang pun yang memikirkannya.
Isa bin Musa tetap bertahan bersama 100 orang dari
keluarganya. Lalu dikatakan kepadanya: "Sebaiknya engkau menyelamatkan
diri dari tempatmu ini agar tidak dihancurkan oleh pasukan Ibrahim."
Beliau menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan bergeser
dari sini sampai Allah memberikan kemenangan kepadaku atau aku terbunuh di
sini."
Pasukan yang melarikan diri terus berjalan hingga sampai di
sebuah sungai di antara dua gunung. Mereka tidak dapat menyeberanginya,
sehingga mereka semua berbalik kembali. Orang pertama yang kembali adalah
Humaid bin Qahtabah.
Kemudian mereka bertempur kembali dengan sengit melawan
pasukan Ibrahim. Banyak sekali korban yang gugur dari kedua belah pihak. Hingga
akhirnya pasukan Ibrahim berhasil dikalahkan, dan Ibrahim tetap bertahan
bersama 500 orang. Ia terus bertempur sampai akhirnya terbunuh di antara
korban-korban lainnya. Kepala Ibrahim terampur dengan kepala prajuritnya yang
lain. Humaid pun membawa kepala-kepala tersebut dan memperlihatkannya kepada
Isa bin Musa hingga mereka mengenali kepala Ibrahim. Lalu mereka mengirimkan
kepala tersebut bersama pembawa kabar gembira kepada Al-Manshur.
Ketika kepala tersebut dibawakan, Al-Manshur bersyair dengan
bait puisi karya Mu'aqqir bin Himar Al-Bariqi:
فَأَلْقَتْ
عَصَاهَا وَاسْتَقَرَّ بِهَا النَّوَى ... كَمَا قَرَّ عَيْنًا بِالْإِيَابِ
الْمُسَافِرُ
"Maka ia meletakkan tongkatnya dan menetaplah ia di
tempat tujuan,
sebagaimana bahagianya mata seorang musafir yang telah
kembali pulang."
Abu Nu'aim Al-Fadhl bin Dukain berkata: Kejadian itu terjadi
pada malam Selasa, tersisa lima hari dari bulan Dzulqa'dah tahun 145 H.
Wafatnya Paman Al-Manshur, Abdullah bin Ali
Pada tahun 147 H, wafatlah Abdullah bin Ali, paman dari
Al-Manshur. Dialah yang dahulu merebut wilayah Syam dari tangan Bani Umayyah,
lalu menguasainya hingga Al-Saffah meninggal. Kemudian ia mengajak orang-orang
untuk mendukung dirinya menjadi khalifah. Maka Al-Manshur mengutus Abu Muslim
Al-Khurasani kepadanya dan berhasil mengalahkannya.
Abdullah lari ke tempat saudaranya, Sulaiman bin Ali, di
Basrah dan bersembunyi di sana beberapa waktu. Namun kemudian Al-Manshur
mengetahui keberadaannya, lalu memanggilnya dan memenjarakannya hingga ia
meninggal dunia.
Pemberontakan Ustadz Sis
Pada tahun 150 H, keluar seorang kafir bernama Ustadz Sis di
negeri Khurasan. Ia berhasil menguasai sebagian besar wilayah tersebut dan
berkumpul bersamanya sekitar 300.000 orang. Mereka membunuh banyak kaum
muslimin di sana, mengalahkan pasukan-pasukan kerajaan di daerah tersebut,
menawan banyak orang, serta membuat kerusakan dan kekacauan yang semakin parah.
Maka Al-Manshur memerintahkan Khazim bin Khuzaimah untuk
menemui putranya, Al-Mahdi, agar menyerahkan kepemimpinan perang di wilayah
tersebut kepadanya, serta membekalinya dengan pasukan yang sanggup menghadapi
mereka. Al-Mahdi pun bangkit menjalankan tugas itu dengan penuh keberanian
sebagai seorang keturunan Hasyim. Beliau menyerahkan kepemimpinan seluruh
pasukan kepada Khazim bin Khuzaimah dan mengutusnya bersama sekitar 40.000
prajurit.
Khazim pun berangkat menghadapi mereka. Ia terus mengatur
strategi, memperdaya, dan menjalankan tipu muslihat perang hingga ia bisa
menyerang mereka secara tiba-tiba. Khazim berhasil membunuh sekitar 70.000
orang dari mereka dan menawan 14.000 orang. Sementara raja mereka, Ustadz Sis,
melarikan diri dan berlindung di sebuah gunung.
Khazim lalu datang ke kaki gunung tersebut dan menghukum
mati seluruh tawanan dengan memenggal leher mereka. Beliau terus mengepung
Ustadz Sis hingga akhirnya ia menyerahkan diri dan tunduk pada keputusan salah
seorang panglima. Panglima tersebut memutuskan agar Ustadz Sis beserta
keluarganya dibelenggu dengan besi, sedangkan sisa prajuritnya yang berjumlah
30.000 orang dibebaskan. Khazim melaksanakan seluruh keputusan tersebut,
memberi setiap prajurit yang dibebaskan dua helai pakaian, lalu menulis surat
tentang kemenangan ini kepada Al-Mahdi. Kemudian Al-Mahdi menyampaikannya
kepada ayahnya, Al-Manshur.
Kedatangan Al-Mahdi dari Khurasan
Pada tahun 151 H, Al-Mahdi datang menemui ayahnya dari
negeri Khurasan. Ayahnya beserta para pejabat dan tokoh-tokoh penting
menyambutnya di tengah jalan. Para wakil daerah dari Syam dan wilayah lainnya
juga datang untuk mengucapkan salam dan selamat atas keselamatan serta ketaatan
kemenangan tersebut.
Pemberontakan Kaum Khawarij dari Kelompok Sufriyah di
Afrika
Pada tahun 153 H, kelompok Khawarij dari aliran Sufriyah dan
lainnya melakukan pemberontakan di negeri Afrika. Berkumpul bersama mereka
sebanyak 350.000 orang, terdiri dari pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki.
Mereka dipimpin oleh Abu Hatim Al-Ibadhi dan Abu 'Ad. Kemudian bergabung pula
Abu Qurrah Al-Shufri bersama 40.000 orang.
Meskipun begitu, mereka memusuhi gubernur Afrika, berhasil
mengalahkan pasukannya, dan membunuhnya. Gubernur tersebut bernama Umar bin
Hafs bin Utsman bin Abi Sufrah, yang dulunya merupakan gubernur Sindh sebelum
akhirnya dicopot oleh Al-Manshur dan dipindahkan menjadi gubernur Afrika. Ia
dibunuh oleh kaum Khawarij—semoga Allah merahmatinya. Kaum Khawarij banyak
membuat kerusakan di negeri tersebut, membunuh kaum wanita dan anak-anak, serta
menyakiti masyarakat umum.
Perang Melawan Khawarij di Afrika
Ketika Khalifah Al-Manshur berada di negeri Syam, beliau
menyiapkan Yazid bin Hatim bersama 50.000 pasukan. Beliau melantiknya menjadi
gubernur Afrika dan memerintahkannya untuk memerangi kaum Khawarij. Beliau
menghabiskan dana untuk pasukan ini sekitar 63.000.000 dirham.
Pada tahun 155 H, Yazid bin Hatim memasuki negeri Afrika dan
berhasil merebutnya kembali dari awal. Ia membunuh para pemimpin Khawarij yang
menguasai daerah tersebut, merendahkan kedudukan mereka, menghancurkan kekuatan
mereka yang beribu-ribu, serta mengubah rasa takut penduduk setempat menjadi
rasa aman, dan kehinaan menjadi kemuliaan.
Di antara pemimpin Khawarij yang berhasil terbunuh adalah
Abu Hatim dan Abu Abbad. Maka urusan pemerintahan di kota-kota kembali stabil.
Beliau memasuki kota Kairouan, menatanya, memperkuat keamanannya, menenangkan
penduduknya, serta menghilangkan ancaman bahaya dari mereka.
Kunjungan Khalifah ke Baitul Maqdis (Yerusalem)
Pada tahun 154 H, Al-Manshur memasuki negeri Syam dan
mengunjungi Baitul Maqdis.
Hukuman Mati Hammad sang Zindiq
Pada tahun 155 H, Hammad 'Ajrad dihukum mati atas tuduhan
zindiq (penyimpangan/keluar dari ajaran Islam). Ia adalah Hammad bin Umar bin
Yusuf bin Kulaib Al-Kufi, dan ada yang mengatakan ia berasal dari Wasith, bekas
hamba sahaya Bani Suwa'ah. Ia adalah seorang penyair yang jenaka, cerdas, dan
suka bersenang-senang, namun ia dituduh meragukan ajaran Islam. Ia mengalami
dua masa pemerintahan, yaitu Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, tetapi ia baru
terkenal pada masa Dinasti Abbasiyah. Ia wafat pada tahun 155 H.
Ibnu Qutaibah berkata dalam kitab (Thabaqat ash-Syu'ara'):
"Ada tiga orang bernama Hammad di Kufah yang dituduh zindiq: Hammad
Ar-Rawiyah, Hammad 'Ajrad, dan Hammad bin Az-Zibriqan sang ahli nahu. Mereka
bertiga sering bergaul dan saling bersendau gurau bersama."
BAB KETIGA:
PEMERINTAHAN WILAYAH-WILAYAH DAN HAJI
PEMERINTAHAN WILAYAH-WILAYAH
Pemerintahan Mekkah
- Pada
tahun (136 H), Abu Ja'far al-Manshur mengangkat Ziyad bin Ubaidillah
sebagai penguasa Mekkah, setelah sebelumnya as-Saffah mencopotnya dan
menggantikannya dengan al-Abbas bin Abdullah bin Ma'bad bin Abbas.
- Pada
tahun (146 H), al-Manshur mencopot as-Sari bin Abdullah dari jabatan
penguasa Mekkah dan mengangkat Abdul Shamad bin Ali sebagai penggantinya.
Pemerintahan Hijaz
- Jabatan
wakil pemerintahan di Hijaz pada tahun (137 H) dipegang oleh Ziyad bin
Ubaidillah bin Abdul Madan al-Haritsi.
- Pada
tahun (141 H), Ziyad bin Ubaidillah bin Abdul Madan al-Haritsi dicopot
dari jabatan pemerintahan Hijaz.
- Kemudian
Muhammad bin Khalid bin Abdullah al-Qasri diangkat menjadi penguasa Hijaz,
dan ia tiba di sana pada bulan Rajab.
Pemerintahan Madinah
- Pada
tahun (144 H), al-Manshur mengangkat Riyah bin Utsman al-Murri sebagai
penguasa Madinah dan mencopot Muhammad bin Khalid bin Abdullah al-Qasri
dari jabatan tersebut.
- Wakil
pemerintahan Madinah pada tahun (145 H) adalah Abdullah bin ar-Rabi'
al-Haritsi.
- Pada
tahun (146 H), Abdullah bin ar-Rabi' dicopot dari jabatan penguasa
Madinah, dan Ja'far bin Sulaiman diangkat sebagai penggantinya. Kemudian
pada tahun (150 H), Khalifah mencopot Ja'far bin Sulaiman dari jabatan
penguasa Madinah dan mengangkat al-Hasan bin Zaid bin al-Hasan bin Ali bin
Abi Thalib.
- Pada
tahun (151 H), al-Hasan bin Zaid masih menjabat sebagai penguasa Madinah.
- Pada
tahun (155 H), al-Manshur mencopot al-Hasan bin Zaid dari Madinah dan
mengangkat pamannya, Abdul Shamad bin Ali, serta menunjuk Fulaih bin
Sulaiman sebagai pengawas (pendamping) baginya.
Pemerintahan Kufah
- Jabatan
wakil pemerintahan di Kufah pada tahun (137 H) hingga tahun (145 H)
dipegang oleh Isa bin Musa.
- Pada
tahun (151 H), Muhammad bin Sulaiman diangkat sebagai penguasa Kufah.
- Pada
tahun (155 H), al-Manshur mencopot Muhammad bin Sulaiman bin Ali dari
jabatan penguasa Kufah karena adanya laporan mengenai tindakan mungkar dan
hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pejabat.
Pemerintahan Bashrah
- Jabatan
wakil pemerintahan di Bashrah pada tahun (137 H) dipegang oleh Sulaiman
bin Ali, lalu ia dicopot pada tahun (139 H).
- Wakil
pemerintahan Bashrah pada tahun (145 H) adalah Salm bin Qutaibah.
- Ibn
Jarir mengatakan: Pada tahun (146 H), al-Manshur mengangkat Muhammad bin
Sulaiman bin Ali sebagai penguasa Bashrah. Ia membuat kerusakan di sana
dan merobohkan banyak rumah.
- Pada
tahun (151 H), Jabir bin Taubah al-Kilabi diangkat sebagai penguasa
Bashrah.
- Pada
tahun (152 H), Jabir bin Taubah al-Kilabi dicopot dari jabatan penguasa
Bashrah dan digantikan oleh Yazid bin Manshur. Pada tahun (154 H), Abdul
Malik bin Ayyub bin Dhabyan diangkat sebagai penguasa Bashrah.
- Pada
tahun (156 H), al-Manshur mencopot al-Haitsam bin Mu'awiyah dari Bashrah
dan mengangkat hakimnya, Suwar bin Abdullah, dengan menggabungkan jabatan
hakim dan imam shalat kepadanya. Ia juga menunjuk Sa'id bin Da'laj sebagai
kepala kepolisian dan keamanan.
Pemerintahan Khurasan
- Jabatan
wakil pemerintahan di Khurasan pada tahun (137 H) dipegang oleh Abu Daud
Khalid bin Ibrahim.
- Pada
tahun (140 H), Abdul Jabbar bin Abdurrahman al-Azdi menjabat sebagai
penguasa Khurasan. Ia membunuh sejumlah panglima di sana karena mendapat
laporan bahwa mereka menyeru untuk mendukung kekhalifahan keluarga Ali bin
Abi Thalib. Ia juga memenjarakan yang lainnya dan memerintahkan para wakil
Abu Daud untuk memungut tunggakan harta dari mereka.
- Pada
tahun (141 H), al-Manshur mengangkat putranya, Muhammad al-Mahdi, sebagai
penguasa Khurasan dan mencopot Abdul Jabbar bin Abdurrahman. Hal itu
disebabkan Abdul Jabbar telah membunuh banyak pengikut Khalifah, sehingga
ia membangkang hingga diserang dan ditangkap. Kemudian ia dihadapkan
kepada al-Manshur bersama putra dan sekelompok keluarganya. Al-Manshur
lalu menghukum mati Abdul Jabbar dan mengasingkan putra beserta
keluarganya ke Pulau Dahlak di perbatasan Yaman.
- Pada
tahun (151 H), Humaid bin Qahtabah diangkat sebagai penguasa Khurasan.
Pemerintahan Azerbaijan
- Pada
tahun (158 H), al-Manshur mengangkat Yahya bin Khalid sebagai penguasa
Azerbaijan.
Pemerintahan Sind dan Hind (India)
- Pada
tahun (142 H), Uyainah bin Musa bin Ka'b, wakil pemerintahan Sind,
membelot dari Khalifah. Maka Khalifah menyiapkan pasukan di bawah pimpinan
Umar bin Hafsh bin Abi Shufrah dan mengangkatnya sebagai penguasa Sind dan
Hind. Umar bin Hafsh memeranginya, menaklukkannya di wilayah tersebut, dan
mengambil alih kekuasaan darinya.
- Pada
tahun (151 H), Khalifah al-Manshur mencopot Umar bin Hafsh dari Sind dan
mengangkat Hisham bin 'Amr at-Taghlibi sebagai penggantinya.
- Pada
tahun (157 H), Hisham bin 'Amr dicopot dari Sind dan digantikan oleh
Ma'bad bin al-Khalil.
Pemerintahan Sijistan
- Al-Waqidi
berkata: Al-Manshur mengangkat Ma'n bin Za'idah sebagai penguasa Sijistan
pada tahun (151 H).
Pemerintahan Al-Jazirah
- Jabatan
wakil pemerintahan di al-Jazirah pada tahun (137 H) dipegang oleh Humaid
bin Qahtabah. Pada tahun (155 H), al-Manshur mencopot saudaranya, al-Abbas
bin Muhammad, dari al-Jazirah dan mengenakan denda harta yang sangat besar
kepadanya.
Pemerintahan Mosul
- Pada
tahun (158 H), al-Manshur mengangkat Khalid bin Barmak sebagai penguasa
Mosul ketika sampai kabar kepadanya bahwa wilayah Mosul memberontak dan
suku Kurdi menyebar di sana. Al-Manshur bermusyawarah dengan para panglima
mengenai siapa yang layak memimpin Mosul, lalu sebagian dari mereka
menyarankan Khalid bin Barmak. Al-Manshur pun mengangkatnya dan
membebaskan sisa tuntutan harta darinya.
Pemerintahan Mesir
- Jabatan
wakil pemerintahan di Mesir pada tahun (137 H) dipegang oleh Shalih bin
Ali.
- Pada
tahun (141 H), Muhammad bin al-Asy'ats menjabat sebagai penguasa Mesir
lalu dicopot, kemudian digantikan oleh Naufal bin al-Furat.
- Pada
tahun (142 H), al-Manshur mencopot Naufal bin al-Furat dari pemerintahan
Mesir dan mengangkat Humaid bin Qahtabah.
- Wakil
pemerintahan Mesir pada tahun (145 H) hingga tahun (151 H) adalah Yazid
bin Hatim. Kemudian ia dicopot pada tahun (152 H) dan digantikan oleh
Muhammad bin Sa'id.
Kepemimpinan Ibadah Haji
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (137
H) oleh paman Khalifah, yaitu Ismail bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yang saat
itu menjabat sebagai gubernur Mosul.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (138
H) oleh Al-Fadhl bin Salih bin Ali.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (139
H) oleh Al-Abbas bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (140
H) oleh Khalifah Abu Ja'far al-Mansur; beliau berihram di Al-Hirah, dan setelah
selesai menunaikan haji, beliau kembali ke Madinah, kemudian berangkat ke
Baitul Maqdis (Yerusalem) untuk berziarah dan shalat di sana, lalu menempuh
jalur Syam menuju Ar-Raqqah, dan melanjutkan perjalanan ke Al-Hasyimiyah
(Hasyimiyah Kufah).
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (141
H) oleh Salih bin Ali, yang merupakan gubernur Qinnasrin, Hims, dan Damaskus.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (142
H) oleh Ismail bin Ali.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (143
H) oleh Isa bin Musa, gubernur Kufah dan wilayah-wilayah kekuasaannya.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (144
H) oleh Khalifah Abu Ja'far al-Mansur.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (145
H) oleh As-Sari bin Abdullah bin Al-Harits bin Abbas bin Abdul Mutthalib,
gubernur Mekkah.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (146
H) oleh Abdul Wahhab bin Ibrahim bin Muhammad bin Ali. Hal ini disampaikan oleh
Al-Waqidi dan lainnya.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (147
H) oleh Amirul Mukminin Abu Ja'far al-Mansur.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (148
H) oleh Ja'far putra Abu Ja'far al-Mansur.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (149
H) oleh Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad bin Ali.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (150
H) oleh Abdus Samad bin Ali, paman Khalifah.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (151
H) oleh Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad bin Ali, yang merupakan gubernur
Mekkah dan Thaif.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (152
H) oleh Amirul Mukminin Abu Ja'far al-Mansur.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (153
H) oleh Al-Mahdi putra Al-Mansur.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (154
H) dan tahun (155 H) oleh Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad bin Ali, yang
merupakan gubernur Mekkah dan Thaif.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (156
H) oleh Al-Abbas bin Muhammad, saudara laki-laki Amirul Mukminin.
Orang-orang dipimpin menunaikan ibadah haji pada tahun (157
H) dan tahun (158 H) oleh Ibrahim bin Yahya bin Muhammad bin Ali.
Tokoh-Tokoh Terkenal yang Wafat pada Masa Pemerintahannya
1 - Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Abbas, paman
Khalifah dan gubernur Basrah. Beliau wafat pada hari Sabtu, tersisa tujuh hari
dari bulan Jumadil Akhir, dalam usia lima puluh sembilan tahun. Shalat
jenazahnya dipimpin oleh saudaranya, Abdus Samad. Beliau adalah sosok yang
sangat dermawan, pemurah, dan selalu dipuji. Setiap tahun pada petang hari
Arafah, beliau memerdekakan seratus orang budak. Pemberian/hadiahnya kepada
Bani Hasyim, seluruh kaum Quraisy, dan kaum Anshar mencapai lima juta dirham.
Beliau termasuk di antara orang-orang terbaik dari Bani Abbas. Wafat pada tahun
(142 H).
2 - Khalid al-Haddza', wafat pada tahun (142 H).
3 - 'Amr bin 'Ubaid bin Bab al-Qadari, At-Tamimi
(bekas budak mereka), Abu Utsman al-Bashri, keturunan Persia, tokoh utama
pemikiran Qadariyah dan Mu'tazilah. Beliau meriwayatkan hadits dari Al-Hasan
al-Bashri. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Ia tidak layak untuk
diriwayatkan hadits darinya." Ibnu Ma'in berkata: "Ia adalah orang
yang buruk, termasuk kelompok Dahriyah yang berpendapat bahwa manusia itu sama
seperti tanaman (tumbuh lalu binasa)." Al-Fallas berkata: "Haditsnya
ditinggalkan (matruk) dan ia adalah ahli bid'ah." Ibnu al-Mubarok berkata:
"Masyarakat meninggalkan haditsnya karena ia mengajak kepada paham
Qadariyah." Banyak imam ulama jarh wa ta'dil (penilai periwayat
hadits) yang melemahkannya, namun sebagian ulama lain memuji ibadah,
kesederhanaan, dan kehidupannya yang prihatin.
Ibnu Hibban berkata: "Ia termasuk orang yang warak dan
ahli ibadah sampai ia memunculkan pemikiran baru yang diadakannya, lalu ia
bersama sekelompok orang memisahkan diri dari majelis Al-Hasan sehingga mereka
dinamakan Mu'tazilah. Ia suka mencela para sahabat dan berdusta dalam hadits
karena keliru (kekhilafan), bukan karena kesengajaan."
Ibnu 'Adi berkata: "Ia memperdaya orang-orang dengan
kesederhanaan hidupnya, ia tercela, haditsnya sangat lemah, dan terang-terangan
dalam berbuat bid'ah."
Al-Khathib al-Baghdadi berkata: "Ia pernah duduk
bermajelis dengan Al-Hasan dan terkenal sebagai sahabat dekatnya. Kemudian
Washil bin 'Atha' memalingkannya dari mazhab Ahlus Sunnah, lalu ia berpendapat
dengan paham Qadariyah serta mengajak kepadanya, dan memisahkan diri dari
murid-murid Al-Hasan. Ia memiliki kebiasaan baik dan menampakkan kesederhanaan
hidup. Ia mendapat kedudukan khusus di sisi Abu Ja'far al-Mansur, karena ketika
ia datang bersama para ahli Al-Qur'an (pembaca Al-Qur'an), Al-Mansur memberikan
pemberian kepada mereka dan mereka mencukupkan diri darinya, namun 'Amr tidak
mau menerima apa pun darinya. Hal itu membuat Al-Mansur kagum padanya hingga
beliau bersyair:
كُلُّكُمْ
يَمْشِي رُوَيْدٌ ... كُلُّكُمْ يَطْلُوبُ صَيْدٌ ... غَيْرَ عَمْرِو بْنِ
عُبَيْدٌ
(Kalian semua berjalan dengan pelan-pelan (perlahan) ...
kalian semua mencari mangsa/buruan ... kecuali 'Amr bin 'Ubaid)
Ibnu Katsir berkata: "Seandainya Al-Mansur mau
mengamati dengan jernih, tentu beliau mengetahui bahwa setiap orang dari para
ahli Al-Qur'an tersebut lebih baik daripada seisi bumi yang serupa 'Amr bin
'Ubaid. Kesederhanaan hidup (zuhud) tidak selalu menunjukkan
kebaikan/keshalehan, karena sebagian rahib pun terkadang memiliki tingkat
kesederhanaan yang tidak mampu ditandingi oleh kebanyakan umat Islam pada
zamannya." Beliau wafat pada tahun (142 H).
4 - Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib
al-Qurasyi al-Hasyimi, seorang tabi'in yang agung. Beliau sangat dihormati
dan dimuliakan di kalangan para ulama, serta merupakan seorang ahli ibadah yang
berkedudukan tinggi. Yahya bin Ma'in berkata: "Beliau adalah orang yang
terpercaya (tsiqah) lagi amanah."
Beliau pernah datang menemui Umar bin Abdul Aziz lalu beliau
memuliakannya, dan pernah menemui As-Saffah lalu beliau mengagungkannya serta
memberinya uang sejuta dirham. Ketika putranya melakukan pemberontakan melawan
Al-Mansur, Al-Mansur menangkapnya bersama sejumlah keluarga Ali bin Abi Thalib
dan membawanya ke Irak, lalu dipenjarakan hingga wafat. Ada yang mengatakan
bahwa beliau dibunuh dengan sengaja, wallahu a'lam (hanya Allah yang
lebih mengetahui). Beliau terbunuh pada tahun (145 H), dan usianya pada hari
wafatnya adalah 75 tahun. Shalat jenazahnya dipimpin oleh saudaranya, Al-Hasan
bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali.
5 - Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin
Abi Thalib, beliau meriwayatkan hadits dari ayahnya, Nafi', dan Abu
Az-Zinad, serta diriwayatkan darinya oleh sekelompok ulama.
Beliau adalah seorang yang berpostur tinggi, gemuk, berkulit
cokelat, berbadan besar, berwibawa, memiliki cita-cita yang tinggi, serta
pengaruh yang kuat. Beliau terbunuh di Madinah pada pertengahan bulan Ramadhan
tahun seratus empat puluh lima (145 H), dalam usia empat puluh lima tahun.
6 - Ibrahim bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin
Abi Thalib, kemunculannya (pemberontakannya) terjadi di Basrah setelah
kemunculan saudaranya di Madinah. Wafatnya terjadi setelah wafat saudaranya
pada bulan Dzulqa'dah tahun (145 H). Beliau tidak memiliki riwayat hadits dalam
Kitab Induk Hadits yang Enam (Al-Kutub As-Sittah).
Ibnu Katsir berkata: "Diriwayatkan dari sekelompok imam
bahwa mereka cenderung berpendapat tentang kemunculan keduanya. Namun hal ini
masih perlu ditinjau kembali. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui)."
[Nama-Nama Tokoh]
Al-Ablaj bin Abdullah, Ismail bin Abi Khalid, Habib bin
Ash-Shahid, Abdul Malik bin Abi Sulaiman, Umar maula 'Afrah, Yahya bin
Al-Harits Adz-Dzamari, Yahya bin Said Abu Hayyan At-Taimi, dan Ru'bah bin
Al-'Ajjaj — Al-'Ajjaj adalah julukan, sedangkan nama aslinya adalah Abu
Ash-Sya'tsa' Abdullah bin Ru'bah — Abu Muhammad At-Tamimi Al-Bashri, seorang
penyair rajaz anak dari seorang penyair rajaz. Masing-masing dari
keduanya memiliki antologi puisi (diwan rajaz), ahli dan sangat mahir di
bidangnya, tidak ada yang menandingi maupun mendebatnya, serta sangat menguasai
ilmu bahasa. Beliau wafat pada tahun 145 H.
- Abdullah
bin Al-Muqaffa'
Seorang penulis (katib) yang sangat fasih dan pandai
berbicara. Ia masuk Islam di hadapan Isa bin Ali, paman dari As-Saffah dan
Al-Manshur, lalu bekerja sebagai penulisnya. Ia memiliki karya berupa
surat-surat dan ungkapan-ungkapan yang sangat indah. Ia pernah dituduh Zindiq (menyimpang
dari ajaran Islam). Dialah yang menyusun buku Kalilah wa Dimnah, namun
ada pula yang mengatakan bahwa dialah yang menerjemahkannya dari bahasa Majusi
(Pahlavi/Persia Kuno) ke dalam bahasa Arab.
Al-Mahdi bin Al-Manshur berkata: "Tidaklah aku
menemukan buku zindiq melainkan bersumber dari Ibnu Al-Muqaffa'."
Al-Jahizh berkata: "Orang zindiq itu ada tiga: Ibnu
Al-Muqaffa', Muthi' bin Iyas, dan Yahya bin Ziyad." Para ulama berkata:
"Al-Jahizh lupa pada dirinya sendiri, padahal dialah orang yang
keempat." Meskipun demikian, Ibnu Al-Muqaffa' adalah seorang yang utama,
mahir, dan sangat fasih.
Al-Asma'i berkata: Ibnu Al-Muqaffa' pernah ditanya,
"Siapa yang mendidik dan mengajarimu adab?" Ia menjawab: "Diriku
sendiri. Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku menjauhinya; dan jika
aku melihat kebaikan, aku meniru dan melakukannya."
Ia dibunuh oleh Sufyan bin Mu'awiyah bin Yazid bin
Al-Muhallab bin Abi Sufrah, gubernur Basra, atas perintah Abu Ja'far Al-Manshur
pada tahun 145 H.
9. Isa bin Umar Abu Umar Al-Bashri
Seorang ahli tata bahasa (nahwu) dan guru dari
Sibawaih. Ia adalah seorang imam besar dan agung dalam bidang bahasa, nahwu,
serta ilmu qira'at (pembacaan Al-Qur'an). Ia menimba ilmu tersebut dari
Abdullah bin Katsir, Ibnu Muhaisin, dan Abdullah bin Abi Ishaq, serta berguru
kepada Al-Hasan Al-Bashri dan lain-lain. Murid-muridnya antara lain Al-Khalil
bin Ahmad, Al-Asma'i, dan Sibawaih. Sibawaih berguru secara intensif kepadanya,
dikenal melaluinya, serta mengambil manfaat ilmu darinya. Sibawaih mengambil
buku karya Isa bin Umar yang berjudul Al-Jami', lalu menambah dan
memperluas pembahasannya, hingga menjadi buku karya Sibawaih yang dikenal saat
ini (Kitab Sibawaih).
Sibawaih sering menanyakan hal-hal yang rumit dalam buku
tersebut kepada gurunya, Al-Khalil bin Ahmad. Suatu hari, Al-Khalil pernah
bertanya kepada Sibawaih tentang karya-karya yang telah ditulis oleh Isa bin
Umar. Sibawaih menjawab: "Beliau menyusun lebih dari 70 buku. Semuanya
telah hilang kecuali bukunya yang berjudul Al-Ikmal yang berada di
negeri Persia, dan bukunya Al-Jami', yaitu buku yang sedang saya
pelajari dan saya tanyakan kepada Anda tentang hal-hal yang sulit di
dalamnya."
Isa bin Umar adalah orang yang sering menggunakan kata-kata
asing (asing/jarang terdengar) dan sangat rumit dalam berbahasa. Al-Jauhari
menceritakan tentangnya dalam kitab Ash-Shihah bahwa pada suatu hari Isa
jatuh dari keledainya, lalu orang-orang berkumpul mengelilinginya. Ia pun
berkata:
مَا
لَكُمْ تَكَأْكَأْتُمْ عَلَيَّ تَكَأْكُؤَكُمْ عَلَى ذِي جِنَّةٍ ؟! افْرَنْقِعُوا
عَنِّي.
(Mengapa kalian berkerumun mengelilingiku seperti
berkerumun mengelilingi orang gila?! Bubarlah kalian dariku!)
Ia wafat pada tahun 149 H.
10. Ja'far bin Amirul Mukminin Abu Ja'far Al-Manshur
Ia dimakamkan pada malam hari di pemakaman Bani Hasyim di
Baghdad. Ia wafat pada tahun 150 H.
11. Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij
Salah satu imam penduduk Hijaz. Dikatakan bahwa dialah orang
pertama yang mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits Nabi (As-Sunan).
Ia wafat pada tahun 150 H.
12. Imam Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit At-Taimi
Mantan hamba sahaya (maula) suku At-Taimi Al-Kufi,
seorang ahli fikih dari Irak, salah satu imam besar Islam, dan salah satu dari
empat imam mazhab yang diikuti. Beliau adalah imam yang paling awal wafat di
antara keempatnya, karena beliau sempat mendapati masa sahabat Nabi dan pernah
melihat Anas bin Malik. Beliau meriwayatkan hadits dari sekelompok Tabi'in, di
antaranya Al-Hakam, Hammad bin Abi Sulaiman, Salamah bin Kuhail, 'Amir
Asy-Sya'bi, dan 'Ikrimah.
Banyak ulama yang meriwayatkan hadits darinya, di antaranya
putranya sendiri yaitu Hammad, Ibrahim bin Thahman, dan Ishaq bin Yusuf
Al-Azraq.
Yahya bin Ma'in berkata: "Beliau adalah orang yang
terpercaya (tsiqah), termasuk orang yang jujur, dan tidak pernah dituduh
berdusta. Ibnu Hubairah pernah memukulnya agar beliau mau menjadi hakim (qadhi),
namun beliau tetap menolak."
Abdullah bin Al-Mubarak berkata: "Jikalau Allah tidak
menolongku melalui Abu Hanifah dan Sufyan At-Tsauri, niscaya aku akan menjadi
seperti orang biasa pada umumnya."
Imam Asy-Syafi'i berkata: "Barangsiapa yang ingin
mendalami fikih, maka ia membutuhkan Abu Hanifah. Barangsiapa yang ingin
mendalami sejarah perjalanan hidup Nabi (sirah), maka ia membutuhkan
Muhammad bin Ishaq. Barangsiapa yang ingin mendalami hadits, maka ia
membutuhkan Malik. Dan barangsiapa yang ingin mendalami tafsir Al-Qur'an, maka
ia membutuhkan Muqatil bin Sulaiman."
Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya dari
Asad bin 'Amr, bahwa Abu Hanifah selalu mengerjakan shalat di malam hari,
membaca seluruh Al-Qur'an setiap malam, dan menangis hingga para tetangganya
merasa kasihan kepadanya. Beliau wafat pada bulan Rajab tahun 150 H. Beliau
lahir pada tahun 80 H, sehingga usianya genap 70 tahun. Beliau dishalatkan di
Baghdad sebanyak enam kali karena sangat banyaknya lautan manusia yang
bertakziyah, dan makamnya berada di sana. Semoga Allah merahmatinya.
13. Muhammad bin Ishaq bin Yasar
Penulis kitab Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi
Muhammad) yang mengumpulkannya dan menjadikannya sebagai ilmu pedoman serta
cahaya penerang. Seluruh manusia membutuhkan karyanya dalam bidang tersebut,
sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i dan para imam
Islam lainnya. Beliau wafat pada tahun 151 H.
14. Asy'ab Ath-Thamma' (Asy'ab si Tamak)
Nama aslinya adalah Ibn Jubair Abu Al-'Ala Al-Madani, dan
dipanggil juga Ibnu Ummi Humaidah. Ayahnya adalah mantan hamba sahaya (maula)
milik Ibn Az-Zubair yang dibunuh oleh Al-Mukhtar. Asy'ab adalah paman dari
Al-Waqidi.
Ia adalah seorang yang jenaka, suka bercanda, dan disukai
oleh orang-orang pada zamannya karena sifatnya yang kekanak-kanakan, jenaka,
dan tamak. Ia juga sangat pandai bernyanyi.
Ia pernah datang menemui Al-Walid bin Yazid di Damaskus.
Ibnu Asakir menulis biografinya dengan kisah-kisah yang menggelikan dan
meriwayatkan dua hadits darinya.
Diriwayatkan bahwa suatu hari ia diminta untuk menyampaikan
hadits, lalu ia berkata: "Ikrimah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas
bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
خَصْلَتَانِ
مَنْ عَمِلَ بِهِمَا دَخَلَ الْجَنَّةَ...
(Ada dua perkara yang barangsiapa mengamalkannya maka ia
akan masuk surga...)
Kemudian ia diam. Lalu ditanyakan kepadanya, "Apa dua
perkara itu?" Ia menjawab: "Ikrimah lupa yang satu, dan aku lupa yang
satunya lagi."
Salim bin Abdullah bin Umar sering mengajaknya bercanda,
bersantai, tertawa bersamanya, dan membawanya pergi ke hutan. Demikian pula
tokoh-tokoh besar lainnya melakukan hal yang sama kepadanya. Ia wafat pada
tahun 154 H.
15. Abu 'Amr bin Al-'Ala'
Salah satu imam ahli qira'at (pembacaan Al-Qur'an). Nama
panggilannya (kunyah) sekaligus menjadi namanya. Ia adalah ulama besar
pada zamannya dalam bidang bahasa, nahwu, dan ilmu Al-Qur'an, serta
termasuk jajaran ulama besar yang mengamalkan ilmunya. Dikatakan bahwa ia
pernah menulis ucapan-ucapan orang Arab hingga memenuhi satu rumah. Kemudian ia
memilih hidup zuhud, lalu membakar seluruh catatannya itu. Setelah itu ia
kembali seperti semula, sehingga ia tidak memiliki catatan lagi selain apa yang
ada dalam hafalan ingatannya tentang ucapan orang Arab. Ia pernah bertemu
dengan banyak orang Arab Badui dari zaman Jahiliyah, dan menjadi tokoh
terkemuka pada masa Al-Hasan Al-Bashri dan setelahnya.
Diceritakan bahwa apabila memasuki bulan Ramadan, ia tidak
pernah menyanyikan atau mengucapkan satu bait puisi pun hingga bulan Ramadan
berakhir. Al-Asma'i pernah berguru dan mendampinginya selama kurang lebih
sepuluh tahun. Beliau wafat pada tahun 154 H.
16. Hammad Ar-Rawiyah
Ia adalah Hammad bin Abi Laila Maisarah — ada yang
menyebutkan: Shabur — bin Al-Mubarak bin Ubaid Ad-Dailami Al-Kufi. Ia termasuk
orang yang paling berilmu tentang sejarah pertempuran orang Arab (Ayyamul
Arab), kisah-kisah mereka, puisi-puisi, dan bahasa mereka. Dialah yang
mengumpulkan tujuh puisi panjang terpilih (Al-Mu'allaqat As-Sab'). Ia
dijuluki Ar-Rawiyah (sang perawi) karena sangat banyaknya meriwayatkan
puisi dari bangsa Arab. Beliau wafat pada tahun 155 H.
17. Hamzah Az-Zayyat
Salah satu imam ahli qira'at yang terkenal dan ahli ibadah
yang ternama. Kepadanyalah dinisbatkan bacaan-bacaan mad yang panjang dalam
qira'at Al-Qur'an. Sebagian imam sempat mengkritiknya karena hal tersebut.
Beliau wafat pada tahun 156 H.
18. Imam Abu 'Amr Abdul Rahman bin 'Amr Al-Auza'i
Ahli fikih negeri Syam. Penduduk Syam dan daerah-daerah di
sekitarnya mengikut mazhabnya selama kurang lebih dua ratus tahun. Beliau wafat
pada tahun 157 H.
Beliau lahir di Baalbek, dan tumbuh besar di Lembah Bika
sebagai seorang anak yatim dalam asuhan ibunya. Ibunya selalu membawanya
berpindah dari satu kota ke kota lain. Beliau mendidik dirinya sendiri dengan
adab yang baik, sehingga tidak ada di antara anak-anak raja maupun menteri yang
lebih berakal, lebih warak, lebih berilmu, lebih fasih, lebih berwibawa, lebih
penyabar, dan lebih banyak diam daripada beliau. Setiap kali beliau mengucapkan
suatu kalimat, orang yang duduk bersamanya pasti merasa harus mencatatnya
karena indahnya ucapan tersebut. Beliau juga menguasai bidang korespondensi dan
seni menulis surat.
Lalu ia mendengar (mempelajari) hadis dari Yahya bin Abi
Katsir dan berguru kepadanya. Yahya kemudian mengarahkannya untuk melakukan
perjalanan ke Basrah agar bisa belajar langsung dari Al-Hasan al-Bashri dan Ibn
Sirin. Ia pun berangkat ke sana, namun mendapati bahwa Al-Hasan telah wafat dua
bulan sebelumnya, dan menemukan Ibn Sirin dalam keadaan sakit. Setelah itu, ia
datang dan tinggal di Damaskus, tepatnya di wilayah Al-Auza' di luar Bab
al-Faradis. Ia menjadi pemimpin/tokoh bagi penduduk di zamannya serta seluruh
negeri dalam bidang fikih, hadis, sejarah peperangan (maghazi), dan ilmu-ilmu
Islam.
Ia sempat bertemu dengan sangat banyak generasi Tabi'in dan
selain mereka. Banyak kelompok dari kalangan pemuka kaum muslimin yang
meriwayatkan hadis darinya, seperti Malik bin Anas, Ats-Tsauri, dan
Az-Zuhri—yang juga merupakan salah satu gurunya.
Suatu ketika ia pernah menunaikan ibadah haji dan memasuki
Mekkah. Saat itu, Sufyan ats-Tsauri memegang tali penuntun untanya, sedangkan
Malik menuntunnya dari belakang. Ats-Tsauri berkata kepada orang-orang,
"Berilah jalan untuk Syekh ini!"
Yahya bin Ma'in berkata, "Ulama itu ada empat, yaitu:
Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Malik, dan Al-Auza'i."
Al-Auza'i rahimahullah adalah seorang yang sangat
tekun beribadah dan bagus shalatnya. Ia pernah berkata, "Barangsiapa yang
memanjangkan berdiri dalam shalat malam, maka Allah akan meringankan baginya
lamanya berdiri pada hari kiamat." Seolah-olah ia mengambil pemahaman
tersebut dari Al-Qur'an, yaitu firman Allah Ta'ala:
﴿وَمِنَ
الَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا إِنَّ هَؤُلَاءِ
يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا﴾
"Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah
kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.
Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan
meninggalkan hari yang berat (hari kiamat) di belakang mereka." (QS.
Al-Insan: 26-27)
Al-Auza'i juga berkata, "Pegang teguhlah atsar
(ajaran/jejak) orang-orang terdahulu (para sahabat dan Tabi'in) meskipun
orang-orang menolakmu. Dan jauhilah pemikiran/pendapat manusia meskipun mereka
menghiasinya dengan kata-kata yang indah; karena sesungguhnya perkara itu akan
menjadi jelas sedangkan engkau berada di atas jalan yang lurus."
Ia juga berkata, "Bersabarlah di atas Sunnah,
berhentilah di mana orang-orang (para sahabat) berhenti, katakanlah apa yang
mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa yang mereka tahan, dan lapangkanlah
dirimu dengan apa yang melapangkan mereka."
Ia sering berkata, "Ilmu adalah apa yang datang dari
para sahabat Muhammad. Adapun apa yang tidak datang dari mereka, maka itu
bukanlah ilmu."
Ia juga berkata, "Tidak akan bersatu rasa cinta kepada
'Ali dan 'Utsman melainkan di dalam hati seorang mukmin."
"Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu
kaum, Allah akan membuka bagi mereka pintu perdebatan dan menutup dari mereka
pintu amal."
Para ulama berkata: Ia adalah salah seorang yang paling
pemurah dan dermawan. Ia memiliki hak penerimaan dari kas negara (baitul mal)
atas keputusan para khalifah, sehingga ia menerima dari Bani Umayyah dan Bani
Abbasiyah sekitar tujuh puluh ribu dinar. Namun, ia tidak menyimpan sedikit pun
dari uang tersebut dan tidak meninggalkan apa pun pada hari wafatnya kecuali
tujuh dinar saja, karena ia selalu menginfakkannya di jalan Allah dan untuk
orang-orang fakir.
Al-Auza'i berpindah dari Damaskus lalu tinggal di Beirut
untuk bertugas menjaga perbatasan (murabit) bersama keluarga dan anak-anaknya.
Suatu hari, Al-Auza'i keluar dari pintu masjid Beirut. Di
sana terdapat sebuah toko yang menjual nathif (sejenis kue manis), dan
di sampingnya ada seorang pria yang menjual bawang bombay sambil berkata,
"Wahai bawang yang lebih manis daripada nathif!" Al-Auza'i pun
berkata, "Subhanallah! Apakah orang ini tidak menganggap kebohongan
sebagai suatu masalah?"
Ia pernah menulis surat kepada salah seorang saudaranya: "Amma
ba'du, sesungguhnya engkau telah dikepung dari segala penjuru, dan sesungguhnya
engkau sedang dijalankan (menuju kematian) setiap siang dan malam. Maka
takutlah kepada Allah dan takutlah saat berdiri di hadapan-Nya, serta
waspadalah jangan sampai itu menjadi akhir perjalananmu dengan-Nya.
Wassalamu'alam."
Al-Auza'i pernah bertemu dengan Khalifah Al-Manshur ketika
sang khalifah memasuki wilayah Syam, lalu ia memberinya nasihat. Al-Manshur
menyukainya dan mengagungkannya. Ketika Al-Auza'i hendak pamit, ia meminta izin
agar tidak mengenakan pakaian berwarna hitam (pakaian kebesaran Abbasiyah), dan
khalifah pun mengizinkannya. Setelah ia keluar, Al-Manshur berkata kepada
Ar-Rabi' (pengawal pintu): "Kejarlah dia dan tanyakan kepadanya mengapa ia
tidak menyukai pakaian hitam! Tapi jangan beri tahu dia bahwa aku yang
menyuruhmu." Ar-Rabi' pun menanyakannya, lalu Al-Auza'i menjawab:
"Karena aku tidak pernah melihat orang yang berihram menggunakannya, tidak
ada mayat yang dikafani dengannya, dan tidak ada pengantin wanita yang dihiasi
dengannya. Karena itulah aku membencinya."
Al-Auza'i di wilayah Syam sangat dihormati dan dimuliakan;
perintahnya bagi mereka lebih dipatuhi daripada perintah penguasa. Pernah ada
seorang penguasa yang berniat buruk kepadanya, maka para pengikut penguasa itu
berkata: "Biarkanlah dia, demi Allah jika dia memerintahkan penduduk Syam
untuk membunuhmu, niscaya mereka akan membunuhmu."
Ibn Katsir berkata: "Tidak ada perbedaan pendapat bahwa
ia meninggal di Beirut dalam keadaan bertugas menjaga perbatasan (murabit),
dan ia wafat pada tahun 157 H menurut pendapat mayoritas ulama."
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar