Pemerintahan Abdullah Bin Az-Zubair R.A : Wilayah Kekuasaan Negeri-Negeri dan Urusan Haji
Wilayah Madinah
- Pada
tahun (64 H), gubernur Madinah adalah saudaranya sendiri, yaitu Ubaidah
bin al-Zubair.
- Pada
tahun (65 H), ia mengangkat Mus'ab bin al-Zubair sebagai
gubernur Madinah.
- Pada
tahun (68 H), ia mengangkat Jabir bin al-Aswad al-Zuhri
sebagai gubernur Madinah dan mencopot Abdurrahman bin al-Asy'ats
dari jabatan tersebut. Alasan pencopotannya adalah karena Abdurrahman
telah memukul Sa'id bin al-Musayyib sebanyak 60 kali cambukan. Hal
itu terjadi karena Abdurrahman menginginkan Sa'id untuk membaiat Ibnu
al-Zubair, namun Sa'id menolak, sehingga ia dipukul dan akhirnya
Abdurrahman dicopot oleh Ibnu al-Zubair.
- Pada
tahun (... H), Ibnu al-Zubair mencopot Jabir bin al-Aswad dari
Madinah dan mengangkat Talhah bin Abdullah bin Auf. Talhah
merupakan amir terakhirnya di Madinah, hingga akhirnya Tariq bin Amr
(bekas budak Utsman) datang menguasai Madinah atas perintah dari Abdul
Malik bin Marwan.
Wilayah Kufah
- Pada
tahun (64 H), ia mengangkat Abdullah bin Yazid al-Khatmi
sebagai gubernur Kufah, dan Sa'id bin Nimran sebagai hakim (qadi).
Sementara itu, Syuraih menolak untuk menjadi hakim pada masa fitnah
(kekacauan) tersebut.
- Pada
tahun (65 H), ia mengangkat Abdullah bin Muti' sebagai
gubernur Kufah.
- Pada
tahun (68 H), ia menunjuk Al-Harits bin Abdullah bin Abi Rabi'ah
al-Makhzumi yang dijuluki (Qubā') sebagai pelaksana tugas
(gubernur) Kufah.
Wilayah Basrah
- Pada
tahun (64 H), ia mengangkat Umar bin Ubaidillah bin Ma'mar
al-Taimi sebagai gubernur Basrah, dan Hisyam bin Hubairah
sebagai hakimnya.
- Pada
tahun (65 H), ia mengangkat Al-Harits bin Abdullah bin Abi
Rabi'ah al-Makhzumi sebagai gubernur Basrah.
- Pada
akhir tahun (67 H), Ibnu al-Zubair mencopot saudaranya, Mus'ab,
dari Basrah dan mengangkat putranya sendiri, Hamzah bin Abdullah bin
al-Zubair. Namun, karena Hamzah tidak memimpin dengan rekam jejak yang
baik, ia dicopot pada tahun (68 H).
- Pada
tahun (68 H), Abdullah mengembalikan saudaranya, Mus'ab,
untuk memimpin Basrah, lalu Mus'ab datang dan menetap di sana.
Wilayah Khorasan
- Pada
tahun (64 H), ia mengangkat Abdullah bin Khazim sebagai
gubernur Khorasan.
Wilayah Pelaksanaan Haji
- Ibnu
Jarir menyebutkan: Bahwa Abdullah bin al-Zubair memimpin
pelaksanaan haji bersama orang-orang pada tahun (64 H) dan
tahun-tahun setelahnya.
- Pada
tahun (68 H), pelaksanaan wukuf di Arafah dihadiri oleh empat
bendera yang berbeda-beda, di mana satu sama lain tidak saling
mengikuti. Yang pertama kali bergerak maju adalah bendera Ibnu
al-Hanafiyyah, kemudian bendera Najdah, lalu bendera Bani
Umayyah, dan barulah kemudian Ibnu al-Zubair bergerak maju
sehingga orang-orang ikut bergerak bersamanya.
Khotbah Ibnu al-Zubair pada Hari Ketujuh Dzulhijjah
Al-Thabarani berkata: Telah menceritakan kepada kami Zakaria
al-Saji, menceritakan kepada kami Hawtsarah bin Muhammad, menceritakan kepada
kami Abu Usamah, menceritakan kepada kami Sa'id bin al-Marzuban Abu Sa'id
al-Absi, menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Thaqafi, ia berkata:
Aku menghadiri khotbah Ibnu al-Zubair pada musim haji.
Beliau keluar menemui kami sehari sebelum hari Tarwiyah (tanggal 7 Dzulhijjah)
dalam keadaan berihram, lalu beliau bertalbiah dengan talbiah paling indah yang
pernah aku dengar. Kemudian beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu
berkata:
"Amma ba'du. Sesudah itu, sesungguhnya kalian telah
datang dari berbagai penjuru yang jauh sebagai utusan-utusan menuju Allah 'Azza
wa Jalla. Maka sudah menjadi hak bagi Allah untuk memuliakan utusan-Nya. Barang
siapa di antara kalian yang mencari apa yang ada di sisi Allah, maka
sesungguhnya orang yang mencari apa yang ada di sisi Allah tidak akan kecewa.
Oleh karena itu, buktikanlah ucapan kalian dengan perbuatan, karena inti dari
ucapan adalah perbuatan. Jagalah niat kalian, jagalah hati kalian! Bertakwalah
kepada Allah, bertakwalah kepada Allah di hari-hari kalian ini! "
"Sebab, ini adalah hari-hari di mana dosa-dosa
diampuni. Kalian telah datang dari berbagai penjuru yang jauh bukan untuk
berdagang, bukan untuk mencari harta, dan bukan pula untuk urusan dunia yang
kalian harapkan di sini."
Kemudian beliau bertalbiah dan orang-orang pun ikut
bertalbiah, maka aku tidak pernah melihat orang yang menangis lebih banyak
daripada hari itu.
Tokoh-Tokoh Terkenal yang Wafat pada Masa Pemerintahan Abdullah bin al-Zubair
1. Adh-Dhahhak bin Qais bin Khalid Abu Anis al-Fihri
- Termasuk
salah satu sahabat Nabi menurut pendapat yang sahih. Beliau pernah
mendengar langsung dari Nabi $\rho$ dan meriwayatkan beberapa hadis
darinya, serta diriwayatkan pula oleh sekelompok generasi tabi'in.
- Beliau
adalah saudara kandung Fatimah binti Qais yang berusia sepuluh tahun lebih
tua darinya, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah pamannya. Beliau juga
ikut menyaksikan pembebasan kota Damaskus.
- Kemudian
Mu'awiyah mengangkatnya sebagai wakil di Damaskus, dan beliau terus berada
di sana hingga Mu'awiyah wafat, lalu berlanjut pada masa putranya (Yazid),
kemudian putra Yazid (Mu'awiyah bin Yazid).
- Imam
Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Affan bin Muslim, menceritakan
kepada kami Hammad bin Salamah, mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid, dari
Al-Hasan, bahwa Adh-Dhahhak bin Qais menulis surat kepada Qais bin
al-Haitham ketika Yazid bin Mu'awiyah wafat: "Salamun 'alaika.
Amma ba'du, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ
بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، فِتَنًا
كَقِطَعِ الدُّخَانِ، يَمُوتُ فِيهَا قَلْبُ الرَّجُلِ كَمَا يَمُوتُ بَدَنُهُ،
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ
كَافِرًا، يَبِيعُ أَقْوَامٌ خَلَاقَهُمْ وَدِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
قَلِيلٍ»
Artinya: "Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat
akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita,
fitnah-fitnah seperti gumpalan asap. Pada masa itu, hati seseorang mati
sebagaimana tubuhnya mati. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di
sore hari menjadi kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari
menjadi kafir. Kaum-kaum menjual akhlak dan agama mereka dengan kesenangan
dunia yang sedikit." Dan sesungguhnya Yazid bin Mu'awiyah telah wafat. Kalian
adalah saudara-saudara kami dan karib kerabat kami, maka janganlah kalian
mendahului kami sampai kami memilih yang terbaik untuk diri kami."
- Adh-Dhahhak
—semoga Allah merahmatinya— terbunuh pada Perang Marj Rahit di
pertengahan bulan Dzulhijjah tahun (64 H).
2. An-Nu'man bin Basyir bin Sa'd al-Anshari
- Ibunya
adalah Amrah binti Rawahah. Beliau adalah bayi pertama dari kalangan kaum
Ansar yang lahir di Madinah setelah peristiwa hijrah, tepatnya pada bulan
Jumadil Ula tahun 2 H. Ibunya membawanya kepada Nabi ﷺ,
lalu beliau mentahniknya dan memberi kabar gembira kepada ibunya bahwa
anaknya akan hidup terpuji, terbunuh sebagai syahid, dan masuk surga.
- Beliau
hidup dalam kebaikan dan kelapangan hidup. Beliau pernah menjabat sebagai
wakil gubernur Kufah untuk Mu'awiyah selama sembilan bulan, kemudian
menetap di Syam dan menjabat sebagai hakim di sana setelah Fadhalah bin
Ubaid.
- Di
antara hadisnya yang sahih lagi Hasan adalah apa yang beliau dengar dari
Rasulullah ﷺ
yang bersabda:
«إِنَّ
الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَ ذَلِكَ أُمُورٌ
مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى
الشُّبَهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي
الشُّبُهَاتِ وَوَقَعَ فِي الْحَرَامِ»
Artinya: "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang
haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar)
yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa yang menjaga diri
dari perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan
barang siapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat, maka ia telah jatuh ke dalam
perkara yang haram." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
- Ketika
wilayah Homs beralih kekuasaan kepada Bani Marwan, beliau keluar dari
sana. Beliau kemudian dikejar oleh Khalid bin Khalli al-Kala'i lalu
membunuhnya pada tahun (64 H).
3. Al-Miswar bin Makhramah bin Naufal al-Zuhri
- Seorang
sahabat Nabi yang berusia muda. Beliau terkena lemparan batu manjanik di
Makkah pada tahun (64 H) ketika sedang berdiri melaksanakan salat
di dalam Hijr Ismail.
- Beliau
termasuk tokoh utama yang gugur dalam pengepungan Makkah yang pertama.
- Beliau
memiliki status persahabatan dengan Nabi (suhbah) dan meriwayatkan hadis,
serta pernah berkunjung kepada Mu'awiyah. Beliau juga termasuk orang yang
selalu mendampingi Umar bin al-Khattab. Ibunya bernama Atikah, saudara
perempuan Abdurrahman bin Auf. Al-Miswar lahir di Makkah dua tahun setelah
peristiwa hijrah.
4. Marwan bin al-Hakam bin Abi al-Ash bin Umayyah bin
Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Qurasyi al-Umawi (Abu Abdul Malik)
- Beliau
dianggap sebagai sahabat Nabi oleh sekelompok besar ulama karena lahir
pada masa hidup Nabi ﷺ.
Al-Bukhari meriwayatkan hadis tentang Perdamaian Hudaibiyah dari jalur
Marwan dan Al-Miswar. Sementara Ibnu Sa'd menyebutkannya dalam kelompok
Tabi'in angkatan pertama.
- Marwan
termasuk salah satu tokoh terhormat dan utama di kalangan Quraisy. Utsman
bin Affan dahulu sangat memuliakannya, membimbingnya, serta menjadikannya
sebagai penulis resmi (sekretaris) keputusan di hadapannya.
- Ibnu
Abdul Hakam berkata: Aku mendengar Asy-Syafi'i berkata: Ali pada hari
Perang Jamal, ketika orang-orang telah kalah, sering kali menanyakan
tentang keadaan Marwan. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, Ali menjawab:
"Sesungguhnya jalinan kekerabatan yang erat membuatku berbelas
kasih kepadanya."
- Mu'awiyah
telah mengangkatnya sebagai wakil di Madinah lebih dari sekali; ia
mencopotnya kemudian mengembalikannya lagi ke jabatan tersebut. Beliau
juga memimpin pelaksanaan haji bagi orang-orang selama bertahun-tahun.
- Hanbal
meriwayatkan dari Imam Ahmad, ia berkata: Dikatakan bahwa Marwan memiliki
kecakapan dalam bidang peradilan, dan ia sering mengikuti
keputusan-keputusan hukum dari Umar bin al-Khattab.
- Ketika
menjabat sebagai wakil di Madinah, apabila terjadi suatu masalah yang
pelik, ia mengumpulkan para sahabat Nabi yang ada di sekitarnya lalu
meminta masukan (bermusyawarah) dengan mereka mengenai masalah tersebut.
- Para
ulama berkata: Dialah yang mengumpulkan berbagai ukuran gantang (sha'),
lalu mengambil ukuran yang paling adil, sehingga takaran sha' tersebut
dinisbatkan kepadanya dan disebut dengan: Sha' Marwan.
- Marwan
wafat di Damaskus ketika bulan Ramadan tersisa tiga hari (27 Ramadan) pada
tahun (65 H), dalam usia 63 tahun. Ia disalatkan oleh putranya,
Abdul Malik. Masa pemerintahannya berlangsung selama sembilan bulan
delapan belas hari, sedangkan yang lain mengatakan: sepuluh bulan.
5. Abdullah bin Yazid al-Awsi
- Beliau
ikut menyaksikan Peristiwa Hudaibiyah, dan wafat pada tahun (68 H).
6. Abdurrahman bin Zaid bin al-Khattab al-Adawi
- Keponakan
dari Umar bin al-Khattab. Beliau sempat mendapati masa hidup Nabi ﷺ
dan wafat di Madinah pada tahun (68 H) dalam usia sekitar 70 tahun.
7. Abdurrahman bin Hassan bin Tsabit al-Anshari
- Seorang
penyair seperti ayahnya, wafat pada tahun (68 H).
8. Zaid bin Arqam bin Zaid
- Seorang
sahabat Nabi yang mulia, wafat pada tahun (68 H).
9. Abu Syuraih al-Khuza'i al-Adawi al-Ka'bi
- Wafat
pada tahun (68 H).
10. Abu Waqid al-Laitsi
- Wafat
pada tahun (68 H).
11. Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin
Abdi Manaf bin Qushai (Abu al-Abbas al-Hasyimi)
- Beliau
adalah putra paman Rasulullah ﷺ, ulama besar (habr)
umat ini, serta ahli tafsir dan penerjemah Kitabullah. Beliau sering
dijuluki sebagai Al-Habr (sang ulama) dan Al-Bahr (lautan
ilmu). Beliau meriwayatkan banyak sekali hadis dari Rasulullah ﷺ
dan dari sekelompok sahabat. Banyak sekali dari kalangan sahabat dan
tabiin yang mengambil ilmu dari beliau. Beliau memiliki pendapat-pendapat
hukum mandiri (mufaradat) yang tidak dimiliki oleh sahabat lain
karena keluasan ilmu, kedalaman pemahaman, kesempurnaan akal, keutamaan
yang luas, serta kemuliaan asal-usulnya —semoga Allah meridai dan
membuatnya rida.
- Telah
sahih dari beliau di dalam kitab Al-Shahih bahwa beliau berkata: "Aku
dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas (mustadh'afin); ibuku dari
golongan wanita dan aku dari golongan anak-anak." Beliau
berhijrah bersama ayahnya sebelum peristiwa pembebasan kota Makkah (Fathu
Makkah).
- Sejak
saat itu, beliau mendampingi Nabi ﷺ, selalu
menyertai beliau, mengambil ilmu, menjaga, serta menghafal dengan kuat
setiap perkataan, perbuatan, maupun keadaan Nabi. Beliau juga mengambil
ilmu yang sangat besar dari para sahabat, didukung oleh pemahaman yang
tajam, balagah (gaya bahasa yang indah), kefasihan bicara, ketampanan,
keramahan, keluhuran budi, serta penjelasan yang gamblang, dan beliau
telah didoakan langsung oleh Rasul utusan Yang Maha Pengasih.
- Imam
Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan: telah menceritakan kepada kami Hasyim
bin al-Qasim, menceritakan kepada kami Warqa', aku mendengar Ubaidillah
bin Abi Yazid menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah
ﷺ
mendatangi tempat buang hajat, lalu aku menyediakan air wudu untuk beliau.
Ketika beliau keluar, beliau bertanya: 'Siapa yang meletakkan ini?' Lalu
dikatakan: 'Ibnu Abbas.' Maka beliau bersabda:
«اللَّهُمَّ
فَقُهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلَّمْهُ التَّأْوِيلَ»
Artinya: 'Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan
ajarkanlah kepadanya takwil (tafsir Al-Qur'an).'" Beliau telah
menyandarkan (meriwayatkan) sebanyak 1.670 hadis.
- Beliau
wafat di Thaif pada tahun (68 H), dan disalatkan oleh Muhammad bin
al-Hanafiyyah.
12. Ashim bin Umar bin al-Khattab al-Qurasyi al-Adawi
- Beliau
wafat pada tahun (70 H). Ibunya bernama Jamilah binti Tsabit bin
Abi al-Aqlah. Beliau lahir pada masa hidup Rasulullah ﷺ, dan tidak
meriwayatkan hadis kecuali satu hadis saja dari ayahnya, yaitu hadis: "Jika
malam telah datang dari arah sini..."
13. Qabishah bin Jabir bin Wahb al-Asadi al-Kufi (Abu
al-Ala')
- Termasuk
salah seorang tabiin senior. Beliau menghadiri khotbah Umar bin al-Khattab
di Al-Jabiyah, merupakan saudara sepersusuan Mu'awiyah, dan termasuk orang
yang sangat fasih lagi balig bicaranya. Beliau wafat pada tahun (70 H).
14. Qais bin Dzarih (Abu Yazid al-Laitsi)
- Seorang
penyair terkenal dari pedalaman Hijaz, wafat pada tahun (70 H).
15. Yazid bin Ziyad bin Rabi'ah al-Himyari
- Seorang
penyair yang banyak menimbulkan keburukan dan gemar mencela (hajo),
wafat pada tahun (70 H).
16. Basyir bin An-Nadhr
- Seorang
hakim (qadi) di Mesir, tunjangan tahunannya mencapai seribu dinar. Wafat
di Mesir pada tahun (70 H).
17. Malik bin Yakhamir as-Saksaki al-Alhani al-Himshi
- Seorang
tabiin yang mulia dan termasuk sahabat paling dekat dengan Mu'adz bin
Jabal —semoga Allah meridainya. Beliau wafat pada tahun (70 H).
18. Mus'ab bin al-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin
Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab (Abu Abdullah al-Qurasyi —dan
dikatakan pula Abu Isa— al-Asadi)
- Ibunya
bernama Ar-Rabab binti Unaif al-Kalbiyyah. Beliau termasuk manusia yang
paling tampan wajahnya, paling berani hatinya, serta paling dermawan
tangannya. Beliau wafat pada tahun (71 H).
19. Ibrahim bin al-Asytar an-Nakha'i
- Ayahnya,
Al-Asytar, adalah salah satu panglima besar Ali bin Abi Thalib. Ali pernah
menunjuk ayahnya untuk memimpin Khorasan, dan ayahnya termasuk orang yang
ikut menentang Utsman. Ibrahim sendiri termasuk panglima yang terkenal
dengan keberaniannya dan memiliki kedudukan yang terhormat. Dialah orang
yang berhasil membunuh Ubaidillah bin Ziyad, dan beliau wafat pada tahun (71
H).
20. Abdurrahman bin Abza al-Khuza'i
- Beliau
memiliki status persahabatan dengan Nabi (suhbah) dan meriwayatkan hadis.
Ali pernah menunjuknya memimpin Khorasan. Beliau tinggal di Kufah dan
sempat memimpin kota tersebut sekali, lalu wafat pada tahun (71 H)
di Kufah.
21. Abdurrahman bin Usailah (Abu Abdullah al-Muradi
ash-Shunabihi)
- Beliau
adalah seorang ulama yang utama dan termasuk orang-orang yang saleh.
Beliau wafat pada tahun (71 H) di Damaskus.
22. Umar bin Abi Salamah al-Makhzumi al-Madani
- Anak
tiri Nabi ﷺ
(anak bawaan dari istrinya, Ummu Salamah). Beliau lahir di tanah Habasyah
(Etiopia) dan diasuh oleh ibunya, Ummu Salamah. Beliau memiliki
riwayat-riwayat hadis dari Nabi dan dari sekelompok sahabat —semoga Allah
merida mereka. Beliau wafat pada tahun (71 H).
23. Safinah (bekas budak Rasulullah, Abu Abdurrahman)
- Dahulu
beliau adalah budak milik Ummu Salamah, kemudian Ummu Salamah
memerdekakannya dengan syarat ia harus berkhidmat (membantu) Rasulullah ﷺ.
Maka Safinah berkata: "Aku akan senantiasa berkhidmat kepada
Rasulullah ﷺ,
seandainya engkau tidak memerdekakanku pun aku akan tetap berkhidmat
kepadanya seumur hidupku." Beliau wafat pada tahun (71 H).
24. Amr bin Akhtab (Abu Zaid al-Anshari al-A'raj)
- Beliau
ikut berperang bersama Nabi ﷺ sebanyak tiga
belas kali peperangan. Nabi pernah mengusap kepalanya dan berdoa: "Ya
Allah, indahkanlah dia." Berkat doa itu, usia beliau mencapai
seratus tahun namun rambutnya tidak memutih. Beliau wafat pada tahun (71
H) di Basrah.
25. Ghudhaif bin al-Harits bin Zunaim as-Sakuni
- Para
ulama berbeda pendapat mengenai status persahabatannya dengan Nabi, namun
beliau memiliki riwayat-riwayat dari para sahabat. Beliau tinggal di Homs
dan pernah mengimami salat Jumat sebagai wakil dari Khalid bin Yazid.
Beliau termasuk orang yang saleh dan wafat pada tahun (71 H).
26. Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi as-Sakuni
- Beliau
adalah seorang ahli ibadah, zuhud, lagi saleh yang menetap di Syam.
Mu'awiyah dan Adh-Dhahhak bin Qais pernah meminta berkah doa istisqa
(meminta hujan) melaluinya. Beliau wafat pada tahun (71 H).
27. Amr bin al-Aswad (Abu Iyadl al-Ansi al-Himshi)
- Termasuk
jajaran ulama tabiin senior di wilayah Syam. Beliau adalah orang yang
zuhud, ahli ibadah, dan bersungguh-sungguh dalam agama, serta sedikit
sekali kecenderungannya pada Syiah. Beliau wafat pada tahun (71 H)
di Homs.
28. Abdullah bin Khazim bin Asma' as-Sulami (Abu Shalih
al-Bashri)
- Gubernur
Khorasan dan merupakan salah satu pemberani yang namanya disebut-sebut
serta penunggang kuda yang dipuji, wafat pada tahun (72 H).
29. Al-Ahnaf bin Qais bin Mu'awiyah bin Hushain
(al-Tamimi as-Sa'di, Abu Bahr al-Bashri)
- Beliau
adalah seorang pemimpin yang terhormat, dipatuhi, beriman, dan fasih
bicaranya. Sifat santunnya (hilm) sering dijadikan sebagai
perumpamaan. Beliau wafat di Kufah pada tahun (72 H).
30. Al-Bara' bin Azib bin al-Harits al-Anshari al-Awsi
- Seorang
sahabat Nabi yang mulia, dan ayahnya juga seorang sahabat. Beliau
meriwayatkan banyak hadis dari Rasulullah ﷺ, dan wafat pada
tahun (72 H) di Kufah.
31. Ubaidah bin Amr as-Salmani al-Muradi (Sang Hakim)
- Beliau
meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Ali, dan Ibnu al-Zubair. Sekelompok tabiin
meriwayatkan darinya, dan Asy-Sya'bi berkata: "Beliau dahulu mampu
menyamai Syuraih dalam urusan peradilan." Beliau wafat pada tahun
(72 H).
32. Abdullah bin as-Sa'ib bin Shaifi al-Makhzumi
- Ahli
qira'ah penduduk Makkah. Beliau memiliki status persahabatan dengan Nabi
dan meriwayatkan hadis. Beliau belajar qira'ah kepada Ubay bin Ka'b, dan
Mujahid serta yang lainnya belajar qira'ah kepadanya. Beliau wafat pada
tahun (72 H).
33. Athiyyah bin Busr al-Mazini
- Beliau
memiliki status persahabatan dengan Nabi dan meriwayatkan hadis, wafat
pada tahun (72 H) di Madinah.
34. Ubaid bin Nadhlah (Abu Mu'awiyah al-Khuza'i al-Kufi)
- Ahli
qira'ah penduduk Kufah yang terkenal dengan kebaikan dan ibadahnya, wafat
pada tahun (... H) di Kufah.
35. Ubaidillah bin Qais ar-Ruqayyat al-Qurasyi al-Amiri
- Salah
seorang penyair, wafat pada tahun (72 H).
36. Abdullah bin Hammam (Abu Abdurrahman as-Saluli)
- Salah
seorang penyair yang fasih bahasa dan sastranya, wafat pada tahun (72 H).
37. Abdullah bin Shafwan bin Umayyah bin Khalaf al-Jumahi
- Beliau
termasuk di antara orang-orang yang teguh bertahan bersama Ibnu al-Zubair
ketika dikepung oleh Al-Hajjaj, hingga akhirnya gugur terbunuh pada tahun
(73 H).
38. Abdullah bin Muti' bin al-Aswad bin Haritsah
al-Qurasyi al-Adawi al-Madani
- Beliau
lahir pada masa hidup Rasulullah ﷺ, lalu beliau
mentahniknya dan mendoakan keberkahan untuknya. Beliau wafat pada tahun (73
H).
39. Auf bin Malik bin Abi Auf al-Asyja'i al-Ghathafani
- Seorang
sahabat Nabi yang mulia. Beliau menyaksikan Perang Mu'tah dan Fathu
Makkah, di mana pada hari itu beliau membawa bendera kaumnya. Beliau juga
menyaksikan pembebasan wilayah Syam dan meriwayatkan beberapa hadis dari
Rasulullah ﷺ.
Beliau wafat pada tahun (73 H).
40. Asma' binti Abi Bakar Ash-Shiddiq
- Ibunda
dari Abdullah bin al-Zubair, yang dijuluki sebagai Dzātun Nithāqain
(pemilik dua ikat pinggang). Beliau dinamai demikian pada tahun hijrah
karena merobek ikat pinggangnya menjadi dua untuk mengikat perbekalan Nabi
ﷺ
dan Abu Bakar ketika keduanya keluar menuju Gua Tsur untuk berhijrah.
Ibunya bernama Qutailah binti Abdul Uzza dari Bani Amir bin Lu'ay.
- Asma'
masuk Islam sejak masa-masa awal di Makkah pada permulaan Islam, lalu
beliau berhijrah bersama suaminya, Az-Zubair. Asma' diberikan umur yang
panjang, namun matanya mengalami kebutaan di akhir hayatnya. Beliau
mendapati peristiwa terbunuhnya sang putra pada tahun (73 H), lalu
hidup selama seratus hari setelahnya menurut pendapat yang paling masyhur,
hingga usianya mencapai seratus tahun.
41. Zainab binti Abi Salamah al-Makhzumiyyah
- Anak
tiri Nabi ﷺ
(anak bawaan dari Ummu Salamah). Ibunya melahirkannya di tanah Habasyah.
Beliau memiliki riwayat hadis dan status persahabatan dengan Nabi, serta
wafat pada tahun (73 H).
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar