Pemerintahan Abdullah Bin Az-Zubair R.A : Peristiwa-Peristiwa Pada Masa Pemerintahannya
Penentangan Marwan bin al-Hakam dan Baiatnya di Syam
Sebab terjadinya hal tersebut adalah ketika Hushain bin
Numair kembali dari wilayah Hijaz, Ubaidullah bin Ziyad pergi dari Bashrah
menuju Syam, dan Bani Umayyah pindah dari Madinah ke Syam. Mereka berkumpul
menemui Marwan bin al-Hakam setelah wafatnya Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah.
Padahal sebelumnya, Marwan telah bertekad untuk memberikan
baiat kepada Ibnu az-Zubair di Damaskus. Penduduk Damaskus sendiri telah
membaiat Adh-Dhahhak bin Qais dengan syarat agar ia mendamaikan urusan di
antara mereka dan memimpin mereka sampai umat Muhammad bersatu pada satu
pemimpin.
Namun, Ubaidullah bin Ziyad dan Hushain bin Numair
terus-menerus memengaruhi Marwan bin al-Hakam hingga mereka berhasil
memalingkannya dari niat semula. Mereka memperingatkannya akan bahaya masuknya
kekuasaan dan kerajaan Ibnu az-Zubair ke wilayah Syam.
Mereka berkata kepadanya: "Engkau adalah orang tua
(tokoh senior) dan pemimpin kaum Quraisy, maka engkau lebih berhak atas urusan
kekhalifahan ini." Akhirnya Marwan membatalkan niatnya untuk membaiat Ibnu
az-Zubair. Orang-orang tersebut beserta kaumnya dari Bani Umayyah dan penduduk
Yaman bersatu mendukungnya, lalu Marwan menyetujui mereka seraya berkata:
"Belum ada kesempatan yang hilang."
Pertempuran Marj Rahit
Suku-suku dari kelompok Qaisy telah bersepakat dengan
Adh-Dhahhak untuk mengumumkan baiat kepada Ibnu az-Zubair. Maka Adh-Dhahhak
menetap di Damaskus bersama pasukan setianya dari golongan Qaisy dan
kelompok-kelompok yang bergabung dengannya. Ia juga mengirim utusan kepada para
panglima pasukan, lalu masyarakat pun membaiat Ibnu az-Zubair. Adh-Dhahhak
kemudian menulis surat kepada Ibnu az-Zubair untuk memberitahukan hal tersebut.
Ibnu az-Zubair menyampaikan kabar tersebut kepada penduduk Makkah, berterima kasih
atas tindakannya, dan menulis surat keputusan yang menunjuk Adh-Dhahhak sebagai
wakil gubernurnya di wilayah Syam.
Di sisi lain, Marwan telah dibaiat di al-Jabiyah pada hari
Rabu, ketika bulan Dzulqa'dah tersisa tiga hari pada tahun 64 Hijriah, dan
sesudahnya mandat kepemimpinan diberikan kepada Khalid bin Yazid bin Muawiyah.
Setelah urusan pemerintahan Marwan mulai stabil, ia bergerak
bersama pasukannya menuju tempat Adh-Dhahhak bin Qais. Keduanya pun bertemu di
Marj Rahit. Marwan bin al-Hakam berhasil mengalahkannya, lalu membunuh
Adh-Dhahhak serta membantai kaum Qaisy dengan pembantaian besar yang belum
pernah terdengar tandingannya.
Al-Laits bin Sa'ad berkata: "Pertempuran Marj Rahit
terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun ini, tepatnya dua hari setelah Hari Raya
Idul Adha."
Diriwayatkan bahwasanya Marwan menangisi dirinya sendiri
pada hari pertempuran Marj Rahit tersebut, lalu ia berkata:
أَبَعْدَ
مَا كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ صِرْتُ إِلَى أَنْ أَقْتُلَ النَّاسَ بِالسُّيُوفِ عَلَى
الْمُلْكِ ؟!.
"Apakah setelah aku berumur tua dan melemah, aku
harus sampai membunuh orang-orang dengan pedang demi sebuah kekuasaan?!"
Kemandirian Marwan dalam Menguasai Syam dan Mesir
Setelah kekuasaan Marwan bin al-Hakam kukuh di wilayah Syam,
ia ingin merebut Mesir dari wilayah kekuasaan Ibnu az-Zubair. Maka ia
memasukinya pada tahun 65 H bersama Amr bin Said al-Asydaq. Keduanya berhasil
merebut Mesir dari tangan wakil Abdullah bin az-Zubair yang bertugas di sana,
yaitu Abdurrahman bin Jahdam.
Sebab terjadinya hal tersebut adalah ketika Marwan menuju ke
sana, wakilnya yaitu Ibnu Jahdam keluar untuk menghadapinya. Marwan pun
menghadapinya untuk bertempur, dan ketika perhatian Ibnu Jahdam teralihkan oleh
pertempuran tersebut, Amr bin Said berhasil meloloskan diri bersama sekelompok
pasukan dari arah belakang Abdurrahman bin Jahdam lalu memasuki Mesir.
Abdurrahman pun melarikan diri, sehingga Marwan bisa memasuki Mesir,
menguasainya, dan menunjuk anaknya, Abdul Aziz bin Marwan, sebagai penguasa di
sana.
Ketika kekuasaannya telah stabil di negeri-negeri ini, ia
mengalihkan baiat masa depan untuk anaknya, Abdul Malik, kemudian setelahnya
untuk anaknya yang lain, Abdul Aziz—yaitu ayah dari Umar bin Abdul Aziz. Ia
membatalkan baiat yang sebelumnya dijanjikan untuk Khalid bin Yazid bin
Muawiyah; karena ia menilai Khalid belum layak untuk memegang kekhalifahan.
Hal itu disetujui oleh Hassan bin Malik, meskipun ia adalah
paman dari pihak ibu bagi Khalid bin Yazid, dan dialah yang memikul tanggung
jawab pelaksanaan baiat untuk Abdul Malik. Kemudian, ibu dari Khalid mengatur
siasat terhadap Marwan lalu meracuninya. Ada pula yang mengatakan: justru sang
ibu meletakkan bantal di atas wajah Marwan ketika ia sedang tidur, sehingga
Marwan wafat dalam keadaan lemas kehabisan napas pada bulan Ramadan tahun 65 H.
Setelah itu, sang ibu bersama para pelayan wanitanya berpura-pura histeris dan
berteriak: "Amirul Mukminin wafat secara mendadak."
Fitnah (Kekacauan) di Wilayah Timur
Pada tahun 64 H, setelah wafatnya Yazid dan anaknya
Muawiyah, terjadi banyak peperangan dan fitnah yang meluas di wilayah-wilayah
Timur. Wilayah Khurasan dikuasai oleh seorang lelaki bernama Abdullah bin
Khazim. Ia menundukkan para gubernur di sana dan mengusir mereka, sebelum
kekuasaan Ibnu az-Zubair bisa stabil di wilayah-wilayah tersebut. Antara
Abdullah bin Khazim dengan Amr bin Martsad serta para penguasa Timur lainnya
terjadi peperangan panjang yang membutuhkan waktu lama untuk disebutkan dan
dirinci secara mendetail. Oleh karena itu, kami cukup menyebutkannya secara
garis besar saja, karena tidak banyak faedah besar dalam perinciannya.
Peristiwa tersebut merupakan perang fitnah dan pertempuran antarpemberontak
satu sama lain, dan hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.
Pembangunan Ka'bah pada Masa Ibnu az-Zubair pada Tahun 64 H
Al-Waqidi berkata: Ketika Ibnu az-Zubair hendak meruntuhkan
Baitullah (untuk dibangun kembali), ia meminta pendapat orang-orang mengenai
pembongkaran tersebut. Jabir bin Abdullah dan Ubaid bin Umair menyetujui
langkah itu.
Namun, Ibnu Abbas berkata: "Aku khawatir akan datang
penguasa setelahmu yang akan meruntuhkannya kembali, sehingga Ka'bah akan
terus-menerus diruntuhkan hingga manusia meremehkan kehormatannya. Tetapi aku
berpendapat sebaiknya engkau memperbaiki bagian yang rapuh saja, dan membiarkan
bangunan tempat manusia masuk Islam serta batu-batu tempat Rasulullah ﷺ
diutus."
Maka Ibnu az-Zubair berkata: "Jika rumah salah seorang
dari kalian terbakar, ia tidak akan rida sampai ia memperbaruinya, maka
bagaimana dengan rumah Tuhan kalian?!"
Kemudian Ibnu az-Zubair melakukan salat istikharah memohon
petunjuk kepada Allah selama tiga hari. Pada hari keempat, ia memulai
pembongkaran dari bagian rukun (sudut) sampai ke fondasi. Ketika mereka sampai
pada fondasi asli, mereka menemukan dasar batu terikat kuat saling mengunci
seperti jari-jari kedua tangan. Ibnu az-Zubair lalu memanggil lima puluh orang
lelaki dan menjadikan mereka sebagai saksi atas hal tersebut.
Kemudian ia membangun kembali Baitullah dan memasukkan
bagian Hijr (Ismail) ke dalamnya. Ia membuat dua pintu untuk Ka'bah yang
posisinya sejajar dengan tanah; satu pintu untuk masuk dan satu pintu untuk
keluar. Ia juga memasang Hajar Aswad dengan tangannya sendiri dan memperkuatnya
dengan perak karena batu tersebut telah retak. Ia menjadikan tinggi Ka'bah dua
puluh tujuh hasta, yang mana sebelumnya tingginya hanya tujuh belas hasta
sehingga ia menganggapnya terlalu pendek, serta menambah luas Ka'bah sebanyak
sepuluh hasta. Ia melumuri dinding-dindingnya dengan minyak kesturi dan
menutupinya dengan kain sutra (dibaj). Sebelumnya, bagian atas hingga bawah
Ka'bah memang telah rapuh akibat hantaman batu-batu manjanik (alat pelempar
batu), sudutnya menghitam, dan Hajar Aswad retak akibat api yang berkobar di
sekitar Ka'bah.
Sebab tindakan Ibnu az-Zubair dalam memperbarui bangunan
Ka'bah tersebut adalah berdasarkan riwayat yang telah sahih dalam kitab Shahih
Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab musnad dan sunan lainnya
melalui berbagai jalur dari Aisyah Ummul Mukminin, bahwasanya Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لَوْلَا
حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِكُفْرٍ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلَأَدْخَلْتُ فِيهَا
الْحِجْرَ ، فَإِنَّ قَوْمَكِ قَصَّرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ، وَلَجَعَلْتُ لَهَا
بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا، يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْ أَحَدِهِمَا
وَيَخْرُجُونَ مِنَ الْآخَرِ، وَلَأَلْصَقْتُ بَابَهَا بِالْأَرْضِ، فَإِنَّ
قَوْمَكِ رَفَعُوا بَابَهَا لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا».
"Seandainya kaummu bukan karena baru saja
meninggalkan kekafiran, niscaya aku akan meruntuhkan Ka'bah dan memasukkan Hijr
(Ismail) ke dalamnya, karena sesungguhnya kaummu kekurangan dana (ketika
membangunnya). Dan niscaya aku akan membuatkan untuknya pintu timur dan pintu
barat, yang mana manusia bisa masuk melalui salah satunya dan keluar melalui
yang lain. Serta niscaya aku akan merapatkan pintunya ke tanah, karena
sesungguhnya kaummu sengaja meninggikan pintunya agar mereka bisa memasukkan
siapa saja yang mereka kehendaki dan menghalangi siapa saja yang mereka
kehendaki."
Maka Ibnu az-Zubair membangunnya berdasarkan petunjuk
tersebut sebagaimana yang dikabarkan oleh bibinya, Aisyah Ummul Mukminin, dari
Rasulullah ﷺ,
semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.
Kemudian ketika Al-Hajjaj bin Yusuf mengalahkannya pada
tahun 73 H, Al-Hajjaj meruntuhkan dinding sebelah utara dan mengeluarkan
kembali bagian Hijr seperti semula pada bentuk pertamanya, serta memasukkan
batu-batu yang diruntuhkannya ke dalam rongga lantai Ka'bah lalu meratakannya
di dalam. Akibatnya, posisi pintu kembali meninggi dan ia menutup pintu sebelah
barat. Jejak-jejak perbuatan tersebut masih ada hingga sekarang. Hal itu
dilakukan Al-Hajjaj atas perintah dari Abdul Malik bin Marwan kepadanya, yang
mana saat itu hadits tersebut belum sampai ke telinga Abdul Malik. Ketika
hadits tersebut sampai kepadanya di kemudian hari, ia berkata: "Kami
sangat berharap seandainya kami membiarkannya sesuai apa yang diatur oleh Ibnu
az-Zubair."
Khalifah Al-Mahdi bin al-Manshur al-Abbasi sebenarnya sempat
berniat untuk mengembalikan bangunan Ka'bah sesuai dengan apa yang pernah
dibangun oleh Ibnu az-Zubair, lalu ia meminta pendapat Imam Malik bin Anas
mengenai rencana tersebut. Namun, Imam Malik berkata: "Sesungguhnya aku
tidak suka jika Baitullah dijadikan tempat permainan oleh para raja."
Maksud beliau adalah mereka akan mempermainkan bangunannya sesuai dengan
pendapat mereka masing-masing; raja yang ini mengikuti pendapat Ibnu az-Zubair,
sedangkan raja yang itu mengikuti pendapat Abdul Malik bin Marwan.
Berkumpulnya Kaum Syiah di Sekitar Sulaiman bin Shurad dan Perpecahan Mereka
Pada tahun 65 H, para tokoh Syiah berkumpul menemui Sulaiman
bin Shurad di Kufah, dan mereka menyepakati wilayah an-Nukhailah sebagai tempat
berkumpul untuk menuntut balas atas kematian Al-Husain bin Ali radhiyallahu
'anhu. Mereka terus-menerus bersungguh-sungguh dan bertekad kuat dalam
urusan tersebut sejak terbunuhnya Al-Husain di Karbala pada tanggal sepuluh
Muharram tahun 61 H.
Setelah melalui berbagai khotbah dan nasihat, mereka semua
sepakat untuk mengangkat Sulaiman bin Shurad sebagai pemimpin mereka. Mereka
saling berjanji, mengikat sumpah setia, dan menetapkan waktu berkumpul di
an-Nukhailah pada tahun 65 H. Kemudian mereka mengumpulkan harta dan senjata
mereka dalam jumlah yang sangat banyak serta menyiapkannya untuk keperluan
tersebut. Mereka sangat berambisi mengambil kesempatan setelah wafatnya Yazid
dan anaknya Muawiyah, serta meyakini bahwa penduduk Syam telah melemah. Maka
mereka mendatangi Sulaiman dan meminta pendapatnya untuk segera melakukan
gerakan sebelum waktu yang ditentukan, namun Sulaiman melarang mereka.
Ketika peristiwa yang menimpa Muslim bin Aqil terjadi hingga
ia dibunuh oleh Ibnu Ziyad, Al-Mukhtar bin Abi Ubaid pada hari itu berada di
Kufah. Kabar sampai kepada Ibnu Ziyad bahwasanya Al-Mukhtar berkata: "Aku
benar-benar akan bangkit untuk membela Muslim dan menuntut balas atas
kematiannya."
Maka Ibnu Ziyad menghadirkannya ke hadapannya, memukulnya,
dan memerintahkan agar ia dipenjara. Ibnu Umar kemudian menulis surat kepada
Yazid bin Muawiyah untuk memberikan syafaat (bantuan) agar Al-Mukhtar
dikeluarkan dari penjara. Yazid pun mengirim surat kepada Ibnu Ziyad yang
memerintahkannya untuk mengeluarkannya dari penjara. Ibnu Ziyad mengeluarkannya
lalu mengusirnya. Al-Mukhtar keluar menuju Hijaz seraya berkata: "Demi
Allah, aku benar-benar akan memotong jari-jemari Ubaidullah bin Ziyad, dan aku
benar-benar akan membunuh demi membalas Al-Husain bin Ali sebanyak jumlah orang
yang terbunuh demi membalas darah Yahya bin Zakaria."
Ketika kabar wafatnya Yazid bin Muawiyah serta terjadinya
pergolakan penduduk Irak sampai kepadanya, ia keluar dari Hijaz menuju Kufah.
Ia memasuki masjid lalu salat di dekat salah satu tiang di sana hingga salat
berjamaah didirikan. Ia melanjutkan salat sunah setelah salat wajib selesai
sampai waktu salat Asar didirikan. Setelah selesai, ia berpaling lalu
orang-orang mengucapkan salam kepadanya, menyambutnya, dan mengagungkannya.
Ia mulai menyerukan dakwah untuk pemimpinnya yang dianggap
sebagai Al-Mahdi, yaitu Muhammad ibnul Hanafiyyah, serta menampakkan pembelaan
bagi Ahlul Bait. Ia berkata kepada orang-orang Syiah yang telah berkumpul di
sekitar Sulaiman bin Shurad—karena ia khawatir mereka akan terburu-buru keluar
melakukan gerakan bersama Sulaiman: "Sesungguhnya aku datang kepada kalian
dari pihak waliyul amri (pemimpin urusan), sumber keutamaan, wasiat dari sang
penerima wasiat, serta imam yang mendapat petunjuk (Al-Mahdi)." Akhirnya,
banyak sekali massa dari kaum Syiah yang berbalik mendukungnya, meskipun
mayoritas dari mereka tetap bertahan bersama Sulaiman bin Shurad.
Tuntutan Balas Dendam terhadap Pembunuh Al-Husain
Pada tahun 65 H, sekitar tujuh belas ribu orang berkumpul
menemui Sulaiman bin Shurad, yang mana semuanya menuntut untuk membalas darah
Al-Husain dari orang-orang yang telah membunuhnya. Sulaiman bin Shurad
menyampaikan khotbah di hadapan mereka ketika mereka keluar dari Kufah pada
bulan Rabiul Awal tahun ini di wilayah an-Nukhailah, guna membakar semangat
mereka untuk berjihad dalam urusan tersebut. Pasukan ini dinamakan sebagai Pasukan
Tawwabun (Orang-orang yang bertobat).
Sebabnya adalah dahulu kaum Syiah biasa berkumpul di rumah
Sulaiman bin Shurad pada masa hidup Al-Husain radhiyallahu 'anhu, dan
merekalah yang menulis surat kepadanya meminta agar ia datang kepada mereka.
Namun, ketika Al-Husain datang, mereka justru menelantarkannya (tidak
membantunya). Akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka dan bertobat. Mereka
memandang bahwa bentuk tobat mereka adalah dengan membunuh orang yang telah
membunuhnya serta orang yang memerintahkan pembunuhannya. Oleh karena itulah
mereka keluar menuju Syam dengan tujuan memerangi Ubaidullah bin Ziyad.
Ibnu Katsir berkata: "Seandainya tekad dan perkumpulan
ini terjadi sebelum sampainya Al-Husain ke kedudukan tersebut, niscaya hal itu
akan lebih bermanfaat baginya dan lebih menolongnya daripada perkumpulan mereka
untuk membelanya setelah berlalu empat tahun."
Pertempuran Ainul Wardah
Sulaiman bin Shurad berjalan bersama para pengikutnya menuju
Syam hingga mereka sampai di suatu tempat yang bernama Ainul Wardah, lalu
mereka bertemu dengan pasukan penduduk Syam. Pasukan Syam menyeru para pengikut
Sulaiman agar masuk ke dalam ketaatan kepada Marwan bin al-Hakam, sedangkan
para pengikut Sulaiman menyeru pasukan Syam agar menyerahkan Ubaidullah bin
Ziyad kepada mereka untuk mereka bunuh sebagai balasan atas kematian Al-Husain.
Kedua belah pihak sama-sama menolak untuk memenuhi apa yang
diserukan oleh pihak lawan, sehingga mereka pun terlibat pertempuran sengit
selama berhari-hari. Sulaiman bin Shurad beserta sebagian besar pengikutnya
gugur dalam pertempuran tersebut. Para panglima pasukan Syam kemudian menulis
surat kepada Abdul Malik bin Marwan mengenai kemenangan yang telah Allah
berikan kepada mereka atas musuh mereka. Abdul Malik lalu berkhotbah di hadapan
manusia, memberitahukan kepada mereka tentang apa yang terjadi pada pasukan dan
siapa saja yang terbunuh dari penduduk Irak.
Ia berkata: "Allah telah membinasakan para tokoh
kesesatan; yaitu Sulaiman bin Shurad dan para pengikutnya." Kemudian ia
menggantung kepala-kepala mereka di Damaskus.
Ketika sisa-sisa Pasukan Tawwabun yang kalah kembali ke
Irak, Al-Mukhtar bin Abi Ubaid menulis surat kepada Rifa'ah bin Syaddad—yang
menjadi pemimpin Pasukan Tawwabun setelah wafatnya Sulaiman bin Shurad—untuk
menyampaikan belasungkawa atas orang-orang yang gugur di antara mereka,
mendoakan rahmat untuk mereka, serta merasa iri atas karunia mati syahid dan
pahala besar yang mereka dapatkan.
Ia berkata: "Selamat datang kepada orang-orang yang
telah Allah agungkan pahala mereka dan Allah rida kepada mereka. Demi Allah,
tidaklah salah seorang dari mereka melangkahkan satu kaki melainkan pahala
Allah untuknya di dalam langkah tersebut lebih agung daripada dunia dan
seisinya. Sesungguhnya Sulaiman telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya,
Allah telah mewafatkannya dan menjadikan ruhnya berada di antara ruh para nabi,
orang-orang yang mati syahid, serta orang-orang saleh. Selanjutnya, akulah pemimpin
yang diperintahkan, orang kepercayaan yang diberi amanah, pembunuh orang-orang
yang berbuat sewenang-wenang dan para perusak insya Allah, maka
bersiap-siaplah, bersiagalah, dan bergembiralah. Aku menyeru kalian kepada
Kitabullah, Sunah Rasul-Nya, serta menuntut darah Ahlul Bait."
Padahal sebelum kedatangan sisa pasukan tersebut, ia telah
mengabarkan kepada orang-orang mengenai kebinasaan mereka berdasarkan
penglihatan yang datang kepadanya dari golongan setan. Sebab, dahulu memang ada
setan yang mendatanginya lalu membisikkan wahyu (bisikan) kepadanya, yang mana
bentuknya mirip dengan apa yang dahulu dibisikkan oleh setan kepada Musailamah
al-Kadzdzab.
Bangkitnya Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Thaqafi sang Pendusta di Kufah
Ketika memasuki bulan Muharam tahun 66 H, Al-Mukhtar
bertekad untuk keluar menuntut balas atas kematian Al-Husain—sebagaimana yang
dia klaim. Setelah dia membulatkan tekad tersebut, orang-orang Syiah berkumpul
menemuinya dan menahannya agar tidak keluar sekarang, melainkan menundanya
hingga waktu yang lain. Kemudian mereka mengutus sekelompok orang dari kalangan
mereka kepada Muhammad ibnul Hanafiyyah untuk bertanya tentang urusan
Al-Mukhtar dan apa yang dia serukan kepada mereka. Ketika mereka bertemu dengannya,
kesimpulan dari apa yang dikatakan ibnul Hanafiyyah kepada mereka adalah:
"Kami tidak membenci jika Allah memenangkan kami melalui siapa saja yang
Dia kehendaki dari makhluk-Nya."
Kabar tentang keberangkatan mereka kepada Muhammad ibnul
Hanafiyyah sebenarnya telah sampai kepada Al-Mukhtar. Dia membenci hal itu dan
khawatir ibnul Hanafiyyah akan mendustakan apa yang telah dia kabarkan atas
namanya, karena gerakan itu sebenarnya bukan atas izin Muhammad ibnul
Hanafiyyah. Namun, ketika utusan tersebut kembali dan mengabarkan apa yang
dikatakan oleh ibnul Hanafiyyah, maka sejak saat itulah posisi Syiah semakin
kuat untuk keluar berjuang bersama Al-Mukhtar bin Abi Ubaid.
Sementara itu, pemimpin Kufah, Abdullah bin Muthi', telah
mengetahui rencana kaum tersebut dan apa yang mereka musyawarahkan. Maka dia
mengirim pasukan keamanan ke setiap penjuru Kufah, dan mewajibkan setiap
komandan untuk menjaga wilayahnya agar tidak ada seorang pun yang keluar.
Ketika waktu yang dijanjikan tiba, Ibrahim bin Al-Asytar keluar menuju rumah
Al-Mukhtar bersama seratus orang dari kaumnya dengan memakai baju besi di balik
jubah mereka. Di jalan, dia berpapasan dengan Iyas bin Mudharib yang langsung
menegurnya: "Mau ke mana kamu wahai Ibnu Al-Asytar pada jam seperti ini?
Sungguh urusanmu ini sangat mencurigakan. Demi Allah, aku tidak akan
membiarkanmu sampai aku membawamu ke hadapan gubernur agar dia memutuskan
perkara tentangmu."
Mendengar hal itu, Ibrahim bin Al-Asytar langsung mengambil
tombak dari tangan seorang pria lalu menusukkannya ke pangkal leher Iyas hingga
dia tersungkur. Ibrahim kemudian memerintahkan seorang pria untuk memenggal
kepalanya, lalu membawanya kepada Al-Mukhtar dan melemparkannya di hadapannya.
Al-Mukhtar pun berkata: "Semoga Allah memberikan kabar gembira kepadamu
dengan kebaikan, ini adalah pertanda yang baik."
Setelah itu, Ibrahim meminta Al-Mukhtar agar mereka langsung
keluar menyerang pada malam itu juga. Al-Mukhtar lalu memerintahkan agar api
dinyalakan dan agar slogan kelompok mereka diserukan, yaitu: "Ya
Manshur, amit!" (Wahai orang yang mendapat pertolongan, matilah
musuh!) dan "Ya Tsaratil Husain!" (Wahai para penuntut balas
kematian Al-Husain!).
Al-Mukhtar kemudian bangkit mengenakan baju besi dan
senjatanya. Ibrahim bin Al-Asytar berjalan di depannya dan mulai mengincar para
komandan yang ditugaskan menjaga penjuru kota, mengusir mereka dari tempatnya
satu per satu, sambil terus meneriakkan slogan Al-Mukhtar.
Maka orang-orang pun berkumpul kepadanya dari sana-sini, dan
kaum Syiah berdatangan dari setiap pelosok menuju Al-Mukhtar. Di tengah malam
itu, terkumpullah sekitar empat ribu orang. Ketika pagi tiba, Al-Mukhtar telah
menyusun pasukannya dan mengimami mereka salat Subuh. Di sisi lain, Ibnu Muthi'
juga telah menyiapkan pasukan; tiga ribu pasukan dipimpin oleh Syabats bin
Rib'i, dan empat ribu pasukan lainnya bersama Rasyid bin Iyas bin Mudharib.
Kedua pihak saling berperang sengit hingga akhirnya Al-Mukhtar berhasil
menguasai istana gubernur.
Setelah itu, Al-Mukhtar mengutus para komandan ke berbagai
wilayah, kota, daerah, dan pelosok di tanah Irak serta Khurasan, sekaligus
menyerahkan panji-panji kepemimpinan. Dia menetapkan struktur pemerintahan dan
wilayah kekuasaan, serta mulai duduk menemui masyarakat setiap pagi dan sore
untuk memutuskan perkara di antara mereka. Ketika tugas ini dirasa mulai
menyita banyak waktunya, dia kemudian mengangkat para hakim khusus.
Pengejaran Al-Mukhtar terhadap para Pembunuh Al-Husain
Al-Mukhtar mulai melacak keberadaan para pembunuh Al-Husain,
baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, lalu membunuh mereka. Hal
ini membuat sebagian penduduk Kufah menyebarkan desas-desus buruk tentang
Al-Mukhtar. Mereka berkata: "Dia adalah seorang pendusta. Dia telah
mendahulukan para budak merdeka (mawali) di atas para bangsawan kita. Dia juga
mengklaim bahwa Muhammad ibnul Hanafiyyah telah memerintahkannya untuk menuntut
balas atas kematian Al-Husain, padahal beliau tidak memerintahkan apa pun
kepadanya; dia hanyalah mengada-ada atas nama beliau."
Penduduk Kufah yang tidak suka ini menunggu kesempatan untuk
memberontak saat Ibrahim bin Al-Asytar keluar dari Kufah, karena Al-Mukhtar
telah menugaskan Ibrahim memimpin tujuh ribu pasukan untuk menghadapi Ibnu
Ziyad. Begitu Ibrahim bin Al-Asytar keluar, para pemuka masyarakat berkumpul di
rumah Syabats bin Rib'i dan menyepakati rencana untuk memerangi Al-Mukhtar.
Mereka langsung bergerak, di mana setiap suku menunggangi kuda bersama
pemimpinnya di salah satu sudut Kufah dan mengepung istana gubernur.
Al-Mukhtar segera mengirim Amr bin Taubah sebagai kurir
kilat kepada Ibrahim bin Al-Asytar agar dia segera kembali. Di saat yang sama,
Al-Mukhtar mengirim pesan kepada para pengepungnya dengan berkata: "Apa
yang membuat kalian murka? Aku akan mengabulkan semua tuntutan kalian."
Dia terus mengulur waktu dan bernegosiasi dengan mereka sampai akhirnya Ibrahim
bin Al-Asytar datang setelah tiga hari. Setelah itu, pertempuran besar pecah di
berbagai sudut Kufah, menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak dalam
berbagai babak peperangan yang panjang jika dirinci.
Hari pertempuran ini dikenal dengan nama Hari Jabbanah
As-Sabi'. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu, sisa enam hari dari bulan
Zulhijah tahun 66 H. Kemenangan akhirnya berada di pihak Al-Mukhtar. Dia
berhasil menawan lima ratus orang, sementara para bangsawan Kufah melarikan
diri ke Basrah menuju Mush'ab bin Az-Zubair. Di antara mereka yang melarikan
diri adalah Syamir bin Dzil Jausyan—semoga Allah melaknatnya—namun Al-Mukhtar
mengirim pasukan untuk mengejarnya hingga berhasil membunuhnya.
Dikisahkan bahwa Al-Mukhtar kemudian berkhotbah di hadapan
para pengikutnya, membakar semangat mereka untuk terus melacak siapa saja
pembunuh Al-Husain dari penduduk Kufah yang masih tinggal di sana. Orang-orang
tersebut ditangkap dan dihadapkan kepadanya, lalu dia memerintahkan agar mereka
dieksekusi dengan berbagai cara; di antara mereka ada yang dibakar dengan api,
ada yang dipotong anggota tubuhnya lalu dibiarkan hingga mati, dan ada pula
yang dihujani anak panah sampai tewas.
Kematian Khawli sang Pemenggal Kepala Al-Husain
Al-Mukhtar mengutus Abu Amrah, komandan pengawalnya, untuk
menyergap rumah Khawli. Dia pun ditangkap dan dibawa ke hadapan Al-Mukhtar,
yang kemudian memerintahkan agar dia dieksekusi di dekat rumahnya lalu mayatnya
dibakar setelah itu.
Al-Mukhtar juga mengirim pasukan kepada Hakim bin Fudhail
As-Sinbisi lalu membunuhnya. Begitu pula dengan Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqas,
komandan pasukan yang dahulu memerangi Al-Husain, beserta anak laki-lakinya;
keduanya pun dieksekusi mati.
Surat Al-Mukhtar kepada Muhammad ibnul Hanafiyyah
Al-Mukhtar mengirim utusan kepada Muhammad ibnul Hanafiyyah
dengan membawa sepucuk surat yang isinya:
"Bismillahirrahmanirrahim. Kepada Al-Mahdi Muhammad bin
Ali, dari Al-Mukhtar bin Abi Ubaid. Keselamatan bagimu wahai Al-Mahdi. Sungguh,
aku memuji Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia di
hadapanmu. Amma ba'du: Sesungguhnya Allah telah mengutusku sebagai bencana bagi
musuh-musuhmu; maka mereka kini ada yang terbunuh, tertawan, Terusir, dan
luntang-lantung. Segala puji bagi Allah yang telah membunuh pembunuhmu dan
menolong para pembelamu. Aku telah mengirimkan kepadamu kepala Umar bin Sa'ad
beserta anaknya. Kami pun telah membunuh setiap orang yang terlibat dalam
penumpahan darah Al-Husain dan keluarganya, sejauh yang mampu kami jangkau, dan
Allah tidak akan pernah melemahkan mereka yang tersisa. Aku tidak akan pernah
berhenti mengejar mereka sampai tidak ada lagi satu pun dari mereka yang
tersisa di atas muka bumi ini. Maka tulislah pendapatmu kepadaku wahai
Al-Mahdi, aku akan mengikuti dan memegangnya. Wassalamu 'alaika wahai Al-Mahdi,
warahmatullah wabarakatuh."
Ibnu Katsir berkata: "Ibnu Jarir (At-Thabari) tidak
menyebutkan bahwa Muhammad ibnul Hanafiyyah membalas suratnya, padahal Ibnu
Jarir telah meneliti bab ini dan memperpanjang penjelasannya. Oleh karena itu,
dia memperluas pembahasannya dengan membawakan riwayat-riwayat dari Abu
Mikhnaf, Luth bin Yahya, padahal dia adalah perawi yang tertuduh (lemah) dalam
apa yang diriwayatkannya, terlebih lagi dalam masalah Syiah. Ditambah lagi,
momentum penuntutan balas ini adalah hal yang sangat digandrungi oleh orang-orang
Syiah, karena di dalamnya terdapat aksi pembalasan atas darah Al-Husain dan
keluarganya dari para pembunuh mereka."
Tidak diragukan lagi bahwa membunuh para pembunuh Al-Husain
adalah sebuah keniscayaan, dan bersegera melakukannya adalah sebuah keuntungan
besar. Akan tetapi, Allah menakdirkan hal itu terjadi lewat tangan Al-Mukhtar
sang pendusta, yang mana karena klaimnya bahwa wahyu turun kepadanya, dia telah
menjadi kafir. Rasulullah ﷺ
telah bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ لِيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ»
Artinya: "Sesungguhnya Allah benar-benar akan
menguatkan agama ini dengan perantara orang yang fajar (berbuat
dosa/jahat)."
Dan Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam kitab-Nya yang
merupakan sebaik-baik apa yang ditulis oleh para penulis:
﴿وَكَذَلِكَ
نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
Artinya: "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian
orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa
yang mereka usahakan." (QS. Al-An'am: 129)
Sebagian penyair berkata dalam syairnya:
وَمَا
مِنْ يَدٍ إِلَّا يَدُ اللَّهِ فَوْقَهَا ... وَلَا ظَالِمٍ إِلَّا سَيُبْلَى
بِظَالِمِ
Artinya: "Dan tidak ada satu tangan pun melainkan
tangan Allah di atasnya... dan tidak ada orang zalim melainkan kelak akan diuji
dengan orang zalim lainnya."
Kelak dalam biografi Al-Mukhtar akan disebutkan hal-hal yang
menunjukkan kedustaan, kebohongan, serta klaim palsunya dalam membela Ahlul
Bait. Padahal, dalam kenyataannya dia hanya menggunakan slogan tersebut sebagai
kedok untuk mengumpulkan massa dari kalangan Syiah jelata yang ada di Kufah;
agar dia bisa mendirikan kekuasaan bagi mereka serta melakukan serangan dan
dominasi yang kuat terhadap para penentangnya.
Kemudian Allah Ta'ala menguasakan atasnya orang yang
membalas tindakannya. Dialah sang pendusta yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ
dalam hadis Asma' binti As-Siddiq, bahwa beliau bersabda: "Kelak di
kabilah Thaqif akan muncul seorang pendusta (kadzab) dan seorang pembinasa
(mubir)." Maka Al-Mukhtar inilah sang pendusta yang menampakkan paham Syiah,
sedangkan sang pembinasa adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Thaqafi.
Upaya Al-Mukhtar Mengambil Hati Ibnu az-Zubair dengan Maksud Mengelabuinya
Ketika Al-Mukhtar mengetahui bahwa Ibnu az-Zubair tidak
tinggal diam terhadap mereka, dan bahwa pasukan Syam dari pihak Abdul Malik bin
Marwan sedang mengincarnya bersama Ubaidullah bin Ziyad dalam jumlah pasukan
sangat besar yang tidak tertandingi, ia mulai mencoba mengambil hati Ibnu
az-Zubair dengan maksud untuk mengelabui dan menyiasatinya.
Ia menulis surat kepada Ibnu az-Zubair: "Sesungguhnya
dahulu aku telah membaiatmu untuk mendengar, taat, dan bersikap setia kepadamu.
Namun, ketika aku melihatmu berpaling dariku, aku pun menjauh darimu. Jika
engkau masih memegang teguh janji yang aku ketahui darimu, maka aku tetap
berada dalam ketaatan dan kepatuhan kepadamu." Al-Mukhtar menyembunyikan
hal ini rapat-rapat dari kaum Syiah. Jika ada seseorang yang menyebutkan hal
itu kepadanya, ia akan menampakkan di hadapan mereka bahwa ia adalah orang yang
paling jauh dari perkara tersebut.
Kemudian Al-Mukhtar menulis surat kepada Muhammad ibnul
Hanafiyyah yang dititipkan melalui Shalih bin Mas'ud al-Khaths'ami. Di dalam
surat tersebut ia menyebutkan bahwa ia telah mengirimkan sepasukan tentara ke
Madinah untuk menolongnya, namun pasukan Ibnu az-Zubair berkhianat kepada
mereka. Ia menambahkan: "Jika engkau setuju agar aku mengirimkan pasukan
lain ke Madinah dan engkau mengirimkan utusan-utusan dari pihakmu kepada
mereka, maka lakukanlah."
Maka ibnul Hanafiyyah membalas suratnya: "Amma ba'du.
Sesungguhnya perkara yang paling aku cintai dari segalanya adalah perkara yang
di dalamnya aku menaati Allah. Maka bertakwalah kepada Allah dalam apa yang
kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan. Ketahuilah, seandainya aku
menghendaki peperangan, niscaya aku akan mendapati manusia bersegera
mendatangiku dan para pembelaku akan sangat banyak. Akan tetapi, aku memilih
untuk menjauh dari mereka dan bersabar." Beliau juga berkata kepada Shalih
bin Mas'ud: "Katakanlah kepada Al-Mukhtar agar ia bertakwa kepada Allah
dan menahan diri dari pertumpahan darah."
Mitos Kursi Al-Mukhtar
Ibnu al-Kalbi menyebutkan bahwa Al-Mukhtar pernah meminta
kepada keluarga Ja'dah bin Hubairah sebuah kursi yang dahulu sering diduduki
oleh Ali bin Abi Thalib. Namun mereka menjawab: "Kami tidak memiliki apa
pun dari apa yang dikatakan oleh amir (pemimpin)."
Ia terus-menerus mendesak mereka hingga akhirnya mereka
menyadari bahwa seandainya mereka membawa kursi apa saja, Al-Mukhtar pasti akan
menerimanya. Maka mereka pun membawakannya sebuah kursi dari salah satu rumah,
lalu mereka berkata: "Inilah kursi itu." Kemudian kabilah Syibam,
Syakir, dan para pembesar pengikut Al-Mukhtar lainnya keluar membawa kursi
tersebut dalam keadaan telah mereka hiasi dengan kain sutra dan kain dibaj.
Diriwayatkan bahwasanya Al-Mukhtar berpura-pura seolah-olah
ia tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh para pengikutnya terhadap kursi
tersebut.
Mengenai kursi ini, A'sya Hamdan berkata dalam syairnya:
شَهِدْتُ
عَلَيْكُمْ أَنَّكُمْ سَبَئِيَّةٌ ... وَإِنِّي بِكُمْ يَا شُرْطَةَ الشِّرْكِ
عَارِفُ
وَأُقْسِمُ
مَا كُرْسِيُّكُمْ بِسَكِينَةٍ ... وَإِنْ كَانَ قَدْ لُفَّتْ عَلَيْهِ
اللَّفَائِفُ
وَأَنْ
لَيْسَ كَالتَّابُوتِ فِينَا وَإِنْ سَعَتْ ... شِبَامٌ حَوَالَيْهِ وَنَهْدٌ
وَخَارِفُ
وَإِنِّي
امْرُؤٌ أَحْبَبْتُ آلَ مُحَمَّدٍ ... وَتَابَعْتُ وَحْيًا ضُمِّنَتْهُ
الْمَصَاحِفُ
تَابَعْتُ
عَبْدَ اللهِ لَمَّا تَتَابَعَتْ ... عَلَيْهِ قُرَيْشُ شُمْطُهَا وَالْغَطَارِفُ
Aku bersaksi atas kalian bahwa kalian adalah pengikut
Sabaiyyah... dan sesungguhnya aku mengenali kalian, wahai pasukan kesyirikan.
Dan aku bersumpah bahwa kursi kalian bukanlah pembawa ketenangan
(sakinah)... meskipun bungkusan-bungkusan kain telah dililitkan di atasnya.
Dan kursi itu tidaklah seperti Tabut di tengah-tengah kita... meskipun
kabilah Syibam, Nahd, dan Kharif berusaha menjaganya di sekelilingnya. Dan
sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang mencintai keluarga Muhammad... dan
aku mengikuti wahyu yang terkandung di dalam mushaf-mushaf. Aku
mengikuti Abdullah (Ibnu az-Zubair) ketika kaum Quraisy... baik yang tua maupun
para pemukanya, bersekongkol untuk menyerangnya.
Ibnu Katsir berkata: "Hal ini dan yang seumpamanya
menunjukkan betapa dangkalnya akal Al-Mukhtar beserta para pengikutnya, serta
menunjukkan kelemahannya, minimnya ilmu, besarnya kejahilan, buruknya
pemahaman, tindakannya yang melariskan kebatilan kepada para pengikutnya, serta
penyerupaan kebatilan dengan kebenaran demi menyesatkan orang-orang bodoh dan
mengumpulkan orang-orang awam yang jahil di sekelilingnya."
Terbunuhnya Ubaidullah bin Ziyad
Pada tahun 67 H, terjadilah peristiwa terbunuhnya Ubaidullah
bin Ziyad di tangan Ibrahim bin al-Asytar an-Nakha'i.
Hal itu bermula ketika Ibrahim bin al-Asytar keluar dari
Kufah pada hari Sabtu, tersisa delapan hari dari bulan Dzulhijjah pada tahun
sebelumnya. Kemudian masuklah tahun ini (67 H) dalam keadaan ia sedang berjalan
dengan tujuan mengincar Ibnu Ziyad di wilayah Mosul. Pertemuan kedua pasukan
terjadi di suatu tempat yang bernama al-Khazir, yang berjarak lima farsakh dari
Mosul.
Ibrahim kemudian merapikan barisan pasukannya, mengatur
batalion-batalionnya, dan memimpin para pengikutnya salat Subuh di awal waktu. Setelah
itu ia menunggangi kudanya lalu bergerak maju menghadapi pasukan Ibnu Ziyad. Ia
berjalan perlahan bersama pasukan pejalan kaki hingga berhasil memantau pasukan
Ibnu Ziyad dari atas sebuah bukit. Ternyata pasukan musuh belum ada yang
bergerak. Namun ketika pasukan musuh melihat kedatangan mereka, mereka langsung
bergegas menuju kuda-kuda dan senjata mereka dalam keadaan terkejut.
Ibrahim bin al-Asytar menunggangi kudanya lalu berdiri di
dekat panji-panji kabilah seraya membakar semangat mereka untuk memerangi Ibnu
Ziyad. Ia berseru: "Inilah orang yang telah membunuh putra dari putri
Rasulullah ﷺ.
Allah telah mendatangkannya kepada kalian dan memberikan kesempatan kepada
kalian hari ini untuk mengalahkannya, maka seranglah dia!"
Ibnu Ziyad pun maju membawa pasukan yang sangat besar. Ia
menempatkan Hushain bin Numair di posisi sayap kanan, Umayr bin al-Hubab
as-Sulami di sayap kiri, dan Syurahbil bin Dzi al-Kala' memimpin pasukan
berkuda, sementara Ibnu Ziyad sendiri berjalan kaki bersama pasukan pejalan
kaki.
Begitu kedua belah pihak berhadapan, Hushain bin Numair
langsung memimpin sayap kanan pasukan Syam menyerang sayap kiri pasukan
penduduk Irak hingga berhasil memukul mundur mereka dan membunuh panglimanya.
Namun, Ibnu al-Asytar segera merangsek maju bersama orang-orang yang bersamanya
sambil berseru kepada pembawa panjinya: "Bawalah panjimu masuk ke
tengah-tengah mereka!"
Pada hari itu ia bertempur dengan sangat hebat. Tidaklah ia
menebaskan pedangnya kepada seorang musuh melainkan musuh tersebut pasti
tersungkur. Korban tewas pun berjatuhan dalam jumlah banyak di antara mereka,
hingga akhirnya pasukan Syam kocar-kacir di hadapannya.
Ubaidullah bin Ziyad tetap bertahan di posisinya hingga
akhirnya Ibnu al-Asytar melewatinya lalu membunuhnya, tanpa ia sadari siapa
orang yang dibunuhnya tersebut. Namun ia berkata kepada para pengikutnya:
"Carilah di antara korban tewas seorang pria yang telah kupukul dengan
pedang, lalu tercium olehku aroma minyak kesturi darinya." Mereka pun
mencarinya, dan ternyata pria tersebut adalah Ubaidullah bin Ziyad. Mereka
kemudian memenggal kepalanya lalu mengirimkannya kepada Al-Mukhtar di Kufah bersama
kabar gembira mengenai kemenangan dan keberhasilan mengalahkan penduduk Syam.
Di antara para pembesar penduduk Syam yang ikut terbunuh adalah Hushain bin
Numair dan Syurahbil bin Dzi al-Kala'. Penduduk Kufah terus mengejar pasukan
Syam yang melarikan diri lalu membantai mereka dengan pembantaian yang sangat
besar. Bahkan, jumlah musuh yang tewas tenggelam jauh lebih banyak daripada
yang terbunuh lewat senjata. Mereka juga berhasil merampas harta benda, kuda,
serta seluruh logistik yang ada di dalam perkemahan musuh.
Sebelum kabar kemenangan tersebut sampai, Al-Mukhtar
sebenarnya telah menyampaikan kabar gembira kepada para pengikutnya mengenai
kemenangan ini. Kita tidak tahu apakah hal itu merupakan bentuk optimisme
darinya, kebetulan belaka, ataukah sebuah praktik perdukunan. Adapun mengenai
klaim para pengikutnya bahwa wahyu telah diturunkan kepadanya tentang hal itu,
maka jawabannya adalah sama sekali tidak. Barangsiapa yang meyakini hal itu
maka ia telah kafir, dan barangsiapa yang membenarkan klaim mereka maka ia juga
kafir. Lagipula, Al-Mukhtar sempat berkata: "Sesungguhnya pertempuran
tersebut terjadi di Nashibin." Dengan kata lain, tebakannya salah tempat,
karena pertempuran tersebut sebenarnya terjadi di wilayah Mosul.
Abu Ahmad al-Hakim berkata: "Peristiwa terbunuhnya
Ubaidullah bin Ziyad terjadi pada hari Asyura (10 Muharram) tahun 67
Hijriah."
Terbunuhnya Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Thaqafi sang Pendusta
Pada tahun 67 H, Abdullah bin az-Zubair mencopot Al-Harits
bin Abdullah bin Abi Rabi'ah al-Makhzumi—yang dikenal dengan julukan
al-Quba'—dari jabatannya sebagai gubernur Basrah. Beliau kemudian menyerahkan
jabatan tersebut kepada saudaranya, Mush'ab bin az-Zubair, agar ia bisa menjadi
lawan yang sepadan dan tangguh untuk menghadapi Al-Mukhtar. Masyarakat pun
berkumpul mendukungnya dan menyambut gembira kedatangannya.
Kemudian, ketika Al-Mukhtar keluar dari kota untuk menyambut
kedatangan Ibnu al-Asytar setelah mendengar kabar bahwa ia berhasil membunuh
Ibnu Ziyad, musuh-musuh Al-Mukhtar yang masih tersisa di Kufah memanfaatkan
kesempatan atas ketidakhadirannya tersebut. Mereka melarikan diri menuju Basrah
untuk menjauh dari Al-Mukhtar karena tipisnya pemahaman agama Al-Mukhtar,
kekafirannya, serta klaim palsunya bahwa wahyu turun kepadanya.
Kebetulan pula setelah Ibnu al-Asytar berhasil membunuh Ibnu
Ziyad, ia memilih berkuasa secara mandiri di wilayah-wilayah yang dikuasainya
dan mulai meremehkan Al-Mukhtar. Kondisi ini membuat Mush'ab berambisi untuk
mengalahkannya. Muhammad bin al-Asy'ats bin Qais segera mengirim surat melalui
kurir kilat kepada Al-Muhallab bin Abi Sufrah—yang merupakan wakil mereka di
Khurasan. Al-Muhallab pun datang membawa kemegahan yang luar biasa, harta,
pasukan, perlengkapan persenjataan, serta tentara yang sangat besar.
Kedatangannya membuat penduduk Basrah gembira dan posisi Mush'ab semakin kuat.
Mush'ab kemudian memimpin penduduk Basrah beserta orang-orang dari Kufah yang
mengikutinya untuk bergerak menuju Kufah.
Mush'ab menempatkan Abbad bin al-Hushain di barisan depan
pasukannya, Umar bin Ubaidullah bin Ma'mar di sayap kanan, dan Al-Muhallab bin
Abi Sufrah di sayap kiri. Ia juga mengatur para panglima berdasarkan
panji-panji dan kabilah masing-masing. Di pihak lain, Al-Mukhtar keluar bersama
pasukannya lalu berkemah di al-Madzar. Ia menyampaikan khotbah di hadapan
orang-orang dan membakar semangat mereka untuk maju berperang. Ia mengirim
barisan pasukan di depannya, lalu ia sendiri berkuda bersama sejumlah besar
pengikutnya seraya menjanjikan kemenangan kepada mereka.
Ketika Mush'ab sudah berada di dekat Kufah, pasukan tempur
Al-Mukhtar menyambut mereka. Pasukan berkuda dari pihak pengikut Ibnu az-Zubair
langsung melancarkan serangan hebat. Pasukan Al-Mukhtar tidak mampu bertahan
lama hingga akhirnya mereka kocar-kacir dan mengalami kekalahan, dan sisa-sisa
pasukan yang kalah tersebut mundur sampai ke tempat Al-Mukhtar.
Al-Waqidi berkata: "Ketika pasukan garis depan
Al-Mukhtar yang kalah telah kembali menemuinya, Mush'ab datang lalu
menyeberangi Sungai Tigris menuju Kufah. Al-Mukhtar segera memperkuat
pertahanan di dalam istana dan menyerahkan komando penjagaan istana kepada
Abdullah bin Syaddad. Kemudian Al-Mukhtar keluar bersama orang-orang yang masih
tersisa bersamanya lalu berkemah di Harura'. Ketika pasukan Mush'ab semakin
dekat dengannya, Al-Mukhtar menyiapkan satu batalion pasukan untuk menghadapi
setiap kabilah musuh. Ia mengutus Sa'id bin Munqid untuk menghadapi kabilah
Bakr bin Wa'il; Malik bin al-Mundzir untuk kabilah Abdul Qais; Abdullah bin
Ja'dah untuk kabilah al-Aliyah; Musafir bin Sa'id untuk kabilah al-Azd; Sulaim
bin Yazid al-Kindi untuk kabilah Bani Tamim; dan as-Sa'ib bin Malik untuk
menghadapi Muhammad bin al-Asy'ats. Al-Mukhtar sendiri berdiri bersama sisa
para pengikutnya, lalu mereka terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit
hingga malam hari.
Akibatnya, para tokoh inti pengikut Al-Mukhtar gugur. Pada
malam itu, Muhammad bin al-Asy'ats dan Ubaidullah bin Ali bin Abi Thalib turut
terbunuh.
Melihat situasi tersebut, para pengikut Al-Mukhtar mulai
tercerai-berai meninggalkannya, lalu dikatakan kepadanya: "Masuklah ke
dalam istana! Masuklah ke dalam istana!"
Namun Al-Mukhtar menjawab: "Demi Allah, tidaklah aku
keluar dari istana tersebut dengan niat untuk kembali lagi ke dalamnya, akan
tetapi ini sudah menjadi ketetapan Allah."
Meski demikian, ia akhirnya berjalan menuju istana lalu
memasukinya. Mush'ab pun datang lalu menyebarkan pasukan kabilah-kabilah di
berbagai penjuru Kufah. Mereka memutus jalur logistik dan pasokan air bagi
Al-Mukhtar. Al-Mukhtar sempat beberapa kali keluar untuk memerangi mereka lalu
kembali lagi ke dalam istana. Ketika pengepungan dirasa semakin menyulitkan
posisinya, ia berkata kepada para pengikutnya: "Sesungguhnya pengepungan
ini tidak akan menambah bagi kita melainkan kelemahan, maka turunlah bersamaku
agar kita bisa bertempur!"
Maka ia bersama orang-orang yang bersamanya bertempur hingga
akhirnya mereka semua terbunuh. Al-Mukhtar tewas dibunuh oleh dua orang
laki-laki yang merupakan saudara kandung, yaitu Tharafah dan Tharraf, anak dari
Abdullah bin Dajajah dari kabilah Bani Hanifah. Keduanya membunuhnya di suatu
tempat yang bernama az-Zayyatin di Kufah. Mereka memenggal kepalanya lalu
membawanya kehadapan Mush'ab bin az-Zubair yang saat itu telah memasuki istana
gubernur. Kepala Al-Mukhtar diletakkan di hadapan Mush'ab, sebagaimana dahulu
kepala Ibnu Ziyad pernah diletakkan di hadapan Al-Mukhtar, dan sebagaimana dahulu
kepala Al-Husain diletakkan di hadapan Ibnu Ziyad —serta sebagaimana kelak
kepala Mush'ab sendiri akan diletakkan di hadapan Abdul Malik bin Marwan.
Ketika kepala Al-Mukhtar diletakkan di hadapan Mush'ab, ia menghadiahkan uang
sebanyak tiga puluh ribu kepada kedua orang tersebut.
Mush'ab juga mengeksekusi mati sejumlah kelompok dari
pengikut Al-Mukhtar serta menawan lima ratus orang di antara mereka, yang mana
semuanya dipenggal lehernya hingga habis dalam satu hari yang sama. Di pihak
lain, tokoh dari pengikut Mush'ab yang gugur dalam pertempuran tersebut adalah
Muhammad bin al-Asy'ats bin Qais.
Setelah itu lenyaplah kekuasaan Al-Mukhtar seolah-olah tidak
pernah ada sebelumnya, dan demikian pulalah akhir dari seluruh kekuasaan di
dunia. Kaum muslimin pun merasa gembira dengan lenyapnya kekuasaan tersebut,
hal itu dikarenakan Al-Mukhtar pada hakikatnya bukanlah orang yang jujur,
melainkan seorang pendusta dan dukun. Ia senantiasa mengklaim bahwa wahyu
diturunkan kepadanya melalui perantara Malaikat Jibril yang datang menemuinya.
Imam Ahmad berkata: Yahya bin Sa'id al-Qatthan menceritakan
kepada kami, dari Hammad bin Salamah, Abdul Malik bin Umair menceritakan
kepadaku, dari Rifa'ah bin Syaddad, ia berkata: "Dahulu aku pernah berdiri
mengawal di dekat kepala Al-Mukhtar. Namun ketika aku mengetahui kedustaannya,
aku sempat berniat untuk menghunus pedangku lalu memenggal lehernya. Akan
tetapi, aku teringat sebuah hadits yang diceritakan kepada kami oleh Umar bin
al-Hamiq, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَمَّنَ رَجُلًا عَلَى نَفْسِهِ فَقَتَلَهُ أُعْطِيَ لِوَاءَ غَدْرٍ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ»
"Barangsiapa yang memberikan jaminan keamanan kepada
seorang pria atas dirinya (nyawanya) lalu ia justru membunuhnya, maka akan
diberikan kepadanya panji pengkhianatan pada hari kiamat."
Pernah dikatakan kepada Ibnu Umar: "Sesungguhnya
Al-Mukhtar mengklaim bahwasanya wahyu datang kepadanya." Maka beliau
menjawab: "Dia benar," karena Allah Ta'ala telah berfirman:
﴿وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ﴾
"Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan (wahyu)
kepada kawan-kawannya." (QS. Al-An'am: 121)
Para ulama menyebutkan bahwa sosok "sang pendusta"
(al-kadzdzab) tersebut adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid. Ia selalu menampakkan
paham Syiah namun menyembunyikan praktik perdukunan di dalam hatinya, serta
membisikkan secara rahasia kepada orang-orang dekatnya bahwa wahyu diturunkan
kepadanya. Akan tetapi, aku tidak tahu pasti apakah ia sampai mengklaim dirinya
sebagai nabi atau tidak.
Dahulu pernah dibuatkan sebuah kursi khusus untuknya yang
diagung-agungkan, dikelilingi oleh para pengawal, ditutupi dengan kain sutra,
serta ditandu di atas bagal (bastar). Ia menyamakan kursi tersebut dengan Tabut
milik Bani Israil yang disebutkan di dalam Al-Qur'an. Tidak diragukan lagi
bahwa ia adalah seorang yang sesat lagi menyesatkan. Allah telah memberikan
ketenteraman kepada kaum muslimin dari gangguannya setelah Allah menjadikannya
sebagai alat untuk membalas kaum kelaliman yang lain, sebagaimana firman-Nya:
﴿وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ﴾
"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang
yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka
usahakan." (QS. Al-An'am: 129)
Adapun sosok "sang pembinasa" (al-mubir) yang
dimaksud dalam hadits, dialah sang pembantai, yaitu Al-Hajjaj bin Yusuf
ats-Thaqafi, gubernur wilayah Irak dari pihak Abdul Malik bin Marwan yang
berhasil merebut Irak dari tangan Mush'ab bin az-Zubair.
Urusan Kaum Khawarij dalam Daulah Ibnu az-Zubair
Sikap Kaum Khawarij terhadap Baiat Ibnu az-Zubair
Dahulu ada sekelompok kaum Khawarij yang berkumpul di
sekitar Abdullah bin az-Zubair untuk membelanya; di antaranya adalah Nafi' bin
al-Azraq, Abdullah bin Ibad, serta beberapa tokoh pemuka mereka. Namun, setelah
kedudukan Ibnu az-Zubair sebagai khalifah mulai stabil, mereka saling berkata
satu sama lain: "Sesungguhnya kalian telah berbuat salah; karena kalian
telah berperang bersama lelaki ini, padahal kalian belum mengetahui
pandangannya tentang Utsman bin Affan."
Kaum Khawarij adalah orang-orang yang merendahkan (mencela)
Utsman. Maka mereka pun berkumpul menemui Ibnu az-Zubair lalu bertanya
kepadanya tentang Utsman. Ibnu az-Zubair menjawab pertanyaan mereka dengan
jawaban yang tidak mereka sukai; beliau menyebutkan sifat-sifat mulia yang
dimiliki Utsman, mulai dari keimanan, pembenaran terhadap kebenaran, keadilan,
kebaikan, rekam jejak kehidupan yang baik, hingga sikapnya yang selalu kembali
kepada kebenaran apabila kebenaran itu telah jelas baginya.
Mendengar hal tersebut, kaum Khawarij pun menjauhinya,
memisahkan diri darinya, lalu bertolak menuju wilayah Irak dan Khurasan. Di
sana mereka mencerai-beraikan diri secara fisik, agama, mazhab, serta jalan
hidup yang berbeda-beda, meluas, dan tidak teratur ataupun terbatas; hal itu
dikarenakan paham mereka bercabang dari kejahilan, ego yang kuat, serta
keyakinan yang rusak. Walaupun demikian, mereka sempat menguasai banyak kota
dan wilayah, hingga akhirnya kekuasaan tersebut direbut kembali dari tangan mereka
di kemudian hari.
Pemberontakan Kelompok Al-Azariqah di Wilayah Faris
Pada tahun 68 Hijriah, terjadi pemberontakan kelompok
Al-Azariqah (salah satu sekte Khawarij) di wilayah Faris. Peristiwa itu bermula
ketika Mush'ab bin az-Zubair mencopot Al-Muhallab bin Abi Sufrah—yang awalnya
sangat tangguh dalam menundukkan mereka—dari jabatannya di wilayah tersebut,
lalu menyerahkan kekuasaan Faris kepada Umar bin Ubaidullah bin Ma'mar.
Kelompok Khawarij pun bangkit memberontak melawannya. Umar bin Ubaidullah
menghadapi mereka dalam peperangan, hingga berhasil menundukkan dan memukul mundur
mereka. Saat itu, mereka dipimpin oleh amir mereka yang bernama Az-Zubair bin
al-Mahuwz. Mereka melarikan diri ke daerah Istakhr, namun Umar terus mengejar
mereka hingga berhasil membantai mereka dalam jumlah yang sangat besar,
meskipun dalam pertempuran tersebut putra Umar ikut terbunuh.
Kemudian Umar berhasil mengalahkan mereka sekali lagi,
hingga mereka melarikan diri ke wilayah Isfahan dan sekitarnya. Di tempat baru
tersebut, mereka kembali menghimpun kekuatan, sehingga jumlah personel serta
perlengkapan persenjataan mereka semakin bertambah banyak.
Tujuan Mereka ke Basrah
Setelah itu, kaum Khawarij bergerak maju dengan tujuan
mengincar Basrah. Mereka melewati beberapa wilayah Faris dan meninggalkan Umar
bin Ubaidullah bin Ma'mar di belakang mereka. Ketika Mush'ab mendengar kabar
kedatangan mereka, ia segera berkuda memimpin pasukan masyarakat seraya
menyalahkan Umar bin Ubaidullah karena membiarkan orang-orang tersebut
melintasi wilayah kekuasaannya menuju Basrah. Di sisi lain, Umar bin Ubaidullah
sebenarnya telah berkuda mengejar jejak mereka dari belakang. Ketika kaum Khawarij
mengetahui bahwa Mush'ab berada di depan mereka sedangkan Umar bin Ubaidullah
berada di belakang mereka, mereka berbelok arah menuju Al-Madain. Di sana
mereka mulai membantai kaum wanita dan anak-anak, merobek perut wanita yang
sedang hamil, serta melakukan tindakan-tindakan keji yang belum pernah
dilakukan oleh orang lain selain mereka.
Mendengar kekejaman itu, wakil gubernur Kufah, Al-Harits bin
Abdullah bin Abi Rabi'ah, segera bergerak mengincar mereka bersama penduduk
Kufah dan sekelompok pemuka masyarakatnya, termasuk di antaranya Ibnu al-Asytar
dan Syabats bin Rib'i. Ketika pasukan Kufah sampai di dekat mereka di Jembatan
Ash-Sharath, kaum Khawarij langsung memutuskan jembatan tersebut agar
menghalangi jarak antara mereka dengan pasukan masyarakat. Namun sang amir
memerintahkan untuk menyambungnya kembali, dan setelah berhasil disambung, kaum
Khawarij pun lari kocar-kacir. Abdurrahman bin Mikhnaf kemudian mengejar mereka
memimpin enam ribu pasukan melewati Kufah hingga sampai ke tanah Isfahan,
setelah itu ia kembali dan tidak melanjutkan peperangan dengan mereka.
Di kemudian hari, kaum Khawarij kembali datang lalu
mengepung 'Attab bin Warqa' selama satu bulan di kota Jubba, hingga membuat
kondisi masyarakat sangat terhimpit. Pasukan kota akhirnya turun menghadapi
mereka untuk berperang, berhasil memporak-porandakan barisan mereka, membunuh
amir mereka yaitu Az-Zubair bin al-Mahuwz, serta merampas seluruh harta
logistik yang ada di perkemahan mereka.
Penyerahan Mandat Perang Kaum Khawarij kepada Al-Muhallab
Kaum Khawarij kemudian mengangkat Qathari bin al-Fuja'ah
sebagai amir baru mereka, lalu mereka berjalan menuju wilayah Al-Ahwaz. Melihat
pergerakan ini, Mush'ab bin az-Zubair menulis surat kepada Al-Muhallab bin Abi
Sufrah—yang saat itu sedang bertugas di Mosul—memerintahkannya agar berjalan
memimpin pasukan untuk memerangi kaum Khawarij; sebab Al-Muhallab adalah orang
yang paling ahli dan berpengalaman dalam menghadapi mereka. Sebagai gantinya,
Mush'ab mengutus Ibrahim bin al-Asytar untuk menjaga wilayah Mosul. Al-Muhallab
pun bertolak menuju Al-Ahwaz dan memerangi kaum Khawarij di sana selama delapan
bulan dengan peperangan sengit yang belum pernah terdengar tandingannya.
Pemberontakan Ubaidullah bin al-Hurr (Tahun 68 H)
Ibnu al-Hurr adalah seorang lelaki yang sangat pemberani,
yang mana kondisi, perjalanan waktu, serta pandangan-pandangan politiknya terus
mengalami pasang surut. Hingga pada akhirnya, ia berpandangan untuk tidak
memberikan ketaatan kepada siapapun, baik kepada Bani Umayyah maupun kepada
keluarga Az-Zubair. Ia berkata kepada para pengikutnya: "Urusan
kepemimpinan ini tidak layak kecuali dipimpin oleh orang-orang yang seumpama
dengan para khalifah masa lalu kalian. Kita tidak melihat adanya orang yang
sepadan atau mirip dengan mereka di tengah-tengah kita saat ini untuk kita
serahkan kendali kepemimpinan kita dan kita berikan nasihat yang tulus
kepadanya. Jika urusan kekuasaan ini hanyalah sebatas: 'barangsiapa yang kuat
dialah yang menang', maka atas dasar apa kita mengikat sumpah setia (baiat) di
leher kita untuk mereka? Padahal mereka tidak lebih berani dari kita dan tidak
lebih besar kontribusinya daripada kita. Sungguh Rasulullah ﷺ telah berpesan kepada
kita bahwa:
«لَا
طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ»
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat
kepada Sang Pencipta."
Dan kita tidak melihat lagi adanya imam yang saleh maupun
menteri yang bertakwa setelah empat khalifah yang telah berlalu."
Dalam gerakannya, ia sering melewati para petugas penarik
pajak di wilayah Irak dan wilayah lainnya, lalu merebut paksa seluruh isi
baitulmal yang ada di tangan mereka. Ia kemudian menuliskan surat pembebasan
tanggung jawab bagi petugas tersebut, lalu pergi membagikan harta tersebut
kepada para pengikutnya. Para amir berulang kali mengirimkan pasukan tentara
untuk menghadapinya, namun ia selalu berhasil mengusir dan mematahkan
perlawanan mereka, baik jumlah pasukan musuh itu sedikit maupun banyak. Hal ini
terus berlangsung hingga akhirnya Mush'ab bin az-Zubair beserta para
gubernurnya berhasil mempersempit ruang geraknya di tanah Irak. Setelah
posisinya terdesak, ia pergi menemui Abdul Malik bin Marwan, lalu Abdul Malik
mengutusnya kembali menuju Kufah bersama sepuluh orang pengikutnya.
Kedatangannya diketahui oleh amir Kufah, Al-Harits bin
Abdullah. Sang amir segera mengirimkan sepasukan tentara kepadanya, lalu mereka
berhasil membunuhnya di tempat ia berada. Kepalanya kemudian dipenggal dan
dibawa ke Kufah, lalu setelah itu dibawa ke Basrah, sehingga masyarakat pun
bisa beristirahat dengan tenang dari gangguannya.
Pengelolaan Urusan Wilayah Irak oleh Mush'ab
Setelah Mush'ab bin az-Zubair menetap di Kufah
pascakekalahan dan terbunuhnya Al-Mukhtar, ia mengirim utusan kepada Ibrahim
bin al-Asytar agar datang menghadap kepadanya. Padahal saat itu, Ibnu al-Asytar
telah menguasai urusan wilayah Mosul secara mandiri setelah ia berhasil
membunuh Ubaidullah bin Ziyad.
Di sisi lain, Abdul Malik bin Marwan juga sempat mengirim
utusan kepada Ibnu al-Asytar agar datang berpihak kepadanya. Hal ini sempat
membuat Ibnu al-Asytar kebingungan dalam menentukan sikap, sehingga ia meminta
pendapat dari para pengikutnya mengenai pihak mana yang harus ia datangi. Pada
akhirnya, keputusan mereka sepakat untuk pergi menuju kota asal mereka, yaitu
Kufah. Maka Ibnu al-Asytar datang menemui Mush'ab bin az-Zubair, lalu Mush'ab
menyambutnya dengan sangat mulia, mengagungkannya, serta menaruh rasa hormat
yang besar kepadanya.
Mush'ab kemudian mulai mengirimkan para gubernur pilihan
untuk memimpin berbagai wilayah; ia menunjuk Al-Muhallab bin Abi Sufrah sebagai
gubernur di wilayah Mosul, Al-Jazirah, Azerbaijan, dan Armenia.
Sebelumnya, ketika Mush'ab hendak keluar meninggalkan
Basrah, ia telah menunjuk Ubaidullah bin Abdullah bin Ma'mar sebagai wakilnya
untuk memimpin kota tersebut, sementara ia sendiri menetap di Kufah. Ia juga
menunjuk Umar bin Ubaidullah bin Ma'mar sebagai gubernur di wilayah Faris.
Kepemimpinan Hamzah bin Abdullah di Basrah
Pada akhir tahun 67 Hijriah, Abdullah bin az-Zubair mencopot
saudaranya, Mush'ab bin az-Zubair, dari jabatan gubernur Basrah, lalu
menyerahkan jabatan tersebut kepada anaknya sendiri yang bernama Hamzah bin
Abdullah bin az-Zubair. Hamzah adalah seorang lelaki yang pemberani dan murah
hati, namun gaya kepemimpinannya kurang konsisten; adakalanya ia memberi hadiah
dalam jumlah yang sangat banyak hingga tidak menyisakan apa pun di baitulmal,
namun adakalanya ia menahan pemberian yang seharusnya tidak patut ditahan.
Mulai tampaklah sikapnya yang kurang bijaksana, kekurangmatangan berpikir,
serta ketergesa-gesaan dalam memutuskan urusan.
Melihat kondisi ini, Al-Ahnaf mengirim surat melaporkan
perihalnya kepada Abdullah bin az-Zubair. Beliau pun langsung mencopot anaknya
tersebut, lalu mengembalikan jabatan gubernur Basrah kepada saudaranya, Mush'ab
bin az-Zubair, digabungkan dengan wilayah kekuasaan Kufah yang telah ada di
tangannya. Kisah menyebutkan bahwa ketika Hamzah bin Abdullah keluar
meninggalkan Basrah, ia membawa harta yang sangat banyak dari baitulmal kota
tersebut. Malik bin Misma' menghadang jalannya lalu berkata: "Kami tidak
akan membiarkanmu pergi membawa harta yang merupakan hak tunjangan kami."
Ubaidullah bin Abdullah bin Ma'mar kemudian memberikan jaminan atas tunjangan
tersebut bagi Malik, sehingga akhirnya Malik membiarkan Hamzah pergi.
Terjadinya Wabah Penyakit di Mesir
Pada tahun 70 Hijriah, terjadi wabah penyakit yang melanda
Mesir. Abdul Aziz bin Marwan melarikan diri dari wabah tersebut menuju wilayah
Asy-Syarqiyah, lalu ia menetap di Helwan—sebuah daerah yang berjarak satu
marhalah (jarak perjalanan satu hari) dari Kairo. Ia menjadikannya sebagai
tempat tinggal, membelinya dari orang-orang Koptik seharga sepuluh ribu dinar,
lalu membangun gedung pemerintahan (darul imarah) serta sebuah masjid jami' di
sana, kemudian menempatkan pasukan tentaranya di kota tersebut.
Ambisi Bangsa Romawi terhadap Tanah Syam
Pada tahun 70 Hijriah, bangsa Romawi bangkit melakukan
pergolakan dan menghimpun pasukan untuk menyerang orang-orang yang ada di Syam.
Mereka menilai posisi penduduk Syam berada dalam kondisi yang lemah karena
melihat adanya perselisihan besar yang sedang terjadi antara Abdul Malik bin
Marwan dengan Abdullah bin az-Zubair. Demi menjaga keamanan tanah Syam dari
ancaman serangan tersebut, Abdul Malik bin Marwan akhirnya memilih jalan damai
dengan raja Romawi; ia mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan syarat
Abdul Malik harus membayar upeti kepadanya sebanyak seribu dinar pada setiap
pekan.
Kunjungan Mush'ab ke Makkah
Pada tahun 70 Hijriah, Mush'ab bin az-Zubair melakukan
perjalanan berkuda dari Basrah menuju Makkah dengan membawa harta benda yang
sangat melimpah. Sesampainya di sana, ia membagikan dan menyalurkan harta
tersebut kepada masyarakat, serta menyembelih seribu ekor unta dan dua puluh
ribu ekor kambing di dekat Ka'bah. Tindakannya ini berhasil mencukupi kebutuhan
para penduduk Makkah. Setelah itu ia kembali ke Irak, dan ia juga sempat
memberikan hadiah serta mencurahkan harta yang banyak kepada sekelompok pemuka
masyarakat yang ada di wilayah Hijaz.
Pertemuan Pasukan antara Mush'ab bin az-Zubair dengan Abdul Malik
Pada tahun 71 Hijriah, terjadilah peristiwa terbunuhnya
Mush'ab bin az-Zubair. Peristiwa itu bermula ketika Abdul Malik bin Marwan
bergerak memimpin pasukan tentara yang sangat besar dari Syam dengan tujuan
mengincar Mush'ab bin az-Zubair yang berada di Irak. Ia mengirim
pasukan-pasukan garis depan sebelum kedatangan dirinya. Sebagian dari utusan
yang dikirimnya berhasil memasuki Basrah lalu mengajak penduduknya secara
rahasia untuk beralih mendukung Abdul Malik, dan sebagian dari mereka pun
menerima ajakan tersebut.
Ketika Abdul Malik sampai di wilayah Maskin, ia menulis
surat kepada para pendukung keluarga Marwan (Marwaniyah) yang telah menerima
ajakan utusannya. Mereka membalas surat tersebut dengan mengajukan syarat agar
Abdul Malik kelak mengangkat mereka sebagai penguasa di wilayah Isfahan. Abdul
Malik menyetujuinya seraya berkata: "Ya." Mereka yang mengajukan
syarat ini adalah sebuah kelompok yang terdiri dari banyak panglima. Dalam
barisan tempurnya, Abdul Malik menempatkan saudaranya, Muhammad bin Marwan bin
al-Hakam, untuk memimpin pasukan garis depan; Abdullah bin Yazid bin Muawiyah
di posisi sayap kanan; dan Khalid bin Yazid bin Muawiyah di posisi sayap kiri.
Di pihak lain, Mush'ab bin az-Zubair keluar memimpin pasukan
dalam keadaan penduduk Irak telah berselisih pandang dengannya serta
menelantarkannya (tidak mau membantunya). Ketika ia memperhatikan orang-orang
yang bertahan bersamanya, ia menyadari bahwa jumlah mereka tidak akan mampu
untuk menandingi kekuatan musuh-musuhnya. Akhirnya, ia memantapkan jiwanya dan
bersiap diri untuk bertempur hingga mati demi mempertahankan kedudukannya.
Sebelum pertempuran itu terjadi, sebagian panglima Abdul
Malik sebenarnya telah memberikan saran agar Abdul Malik tetap tinggal di Syam
saja dan cukup mengirimkan sepasukan tentara untuk menghadapi Mush'ab. Namun
Abdul Malik menolak saran tersebut seraya berkata: "Bisa jadi aku mengutus
seorang lelaki yang pemberani namun tidak memiliki kematangan strategi, atau
mengutus orang yang memiliki strategi namun tidak memiliki keberanian.
Sedangkan aku mendapati diri ini memiliki keahlian dalam taktik perang sekaligus
keberanian. Sungguh Mush'ab lahir dari keluarga yang penuh keberanian; ayahnya
(Az-Zubair) adalah orang Quraisy yang paling berani, keberanian saudaranya
(Abdullah) tidak diragukan lagi, dan ia sendiri pun seorang yang pemberani,
hanya saja ia kurang menguasai taktik perang serta dikelilingi oleh orang-orang
yang menentangnya, sedangkan aku dikelilingi oleh orang-orang yang setia
memberikan nasihat kepadaku." Maka Abdul Malik memilih untuk memimpin
langsung pasukannya sendiri.
Abdul Malik Mengambil Hati para Panglima Mush'ab
Ketika kedua pasukan sudah saling mendekat, Abdul Malik bin
Marwan mengirimkan surat-surat kepada para panglima pasukan Mush'ab. Di dalam
surat tersebut, ia mengajak mereka untuk berpihak kepadanya dan menjanjikan
wilayah kekuasaan bagi mereka.
Panglima Ibrahim bin al-Asytar kemudian datang menemui
Mush'ab lalu menyerahkan sebuah surat yang masih tersegel seraya berkata,
"Surat ini datang kepadaku dari Abdul Malik." Ketika Mush'ab
membukanya, ternyata isinya adalah ajakan dari Abdul Malik agar Ibrahim
berpihak kepadanya dengan imbalan kekuasaan atas seluruh wilayah Irak.
Ibrahim lalu berkata kepada Mush'ab, "Wahai Amir
(pemimpin), sesungguhnya tidak ada seorang pun dari panglimamu melainkan telah
mendapatkan surat yang serupa dengan ini. Jika engkau menuruti saranku, biarkan
aku memenggal leher mereka semua." Namun, Mush'ab tidak menyetujui saran
tersebut. Ia justru berkata, "Semoga Allah merahmati Abu Bahr—yaitu
Al-Ahnaf bin Qais —dahulu ia selalu mengingatkanku akan potensi pengkhianatan
penduduk Irak. Seolah-olah ia bisa melihat apa yang sedang kita alami saat
ini."
Pertempuran Dair al-Jatsaliq di Maskin
Setelah itu, kedua pasukan saling berhadapan di Dair
al-Jatsaliq, wilayah Maskin. Ibrahim bin al-Asytar langsung memimpin serangan
ke arah pasukan Muhammad bin Marwan hingga berhasil mendesak dan menggeser
posisinya. Melihat hal itu, Abdul Malik bin Marwan segera mengirimkan pasukan
bantuan yang dipimpin oleh Abdullah bin Yazid bin Muawiyah. Mereka membalas
serangan tersebut dan menggempur habis-habisan Ibrahim bin al-Asytar beserta
pasukannya hingga mencerai-beraikannya.
Dalam pertempuran sengit tersebut, Ibrahim bin al-Asytar
gugur—semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya—bersama dengan
sejumlah panglima lainnya. Sementara itu, Attab bin Warqa' yang awalnya
memimpin pasukan berkuda Mush'ab justru melarikan diri dan memilih membelot ke
pihak Abdul Malik bin Marwan.
Di sisi lain, Mush'ab bin az-Zubair yang bertahan di posisi
inti pasukan terus berusaha membangkitkan semangat para pembawa panji. Ia
menyeru para pahlawan dan pemberani agar merangsek maju menghadapi musuh, namun
tidak ada satu pun dari pasukannya yang bergerak maju. Dalam kondisi itu,
Mush'ab mulai berseru, "Wahai Ibrahim! Namun tidak ada lagi Ibrahim bagiku
hari ini!"
Situasi pun semakin memburuk, pertempuran kian berkecamuk
hebat, orang-orang mulai saling berkhianat dan menelantarkannya, keadaan
semakin terhimpit, dan duel satu lawan satu semakin banyak terjadi. Abdul Malik
sempat mengirim utusan kepada Mush'ab untuk menawarkan jaminan keamanan
(ampunan), namun Mush'ab menolaknya mentah-mentah. Ia menegaskan, "Orang
sepertiku tidak akan mundur dari medan laga ini kecuali sebagai pemenang atau
gugur sebagai yang kalah."
Mush'ab kemudian terus bertempur dengan gigih hingga
akhirnya ia gugur—semoga Allah merahmatinya. Di hadapannya, putranya yang
bernama Isa bin Mush'ab juga telah gugur terlebih dahulu, dan Mush'ab
mengikhlaskan pahala kematian anaknya di sisi Allah. Setelah itu, seorang
prajurit memenggal kepala Mush'ab lalu membawanya ke hadapan Abdul Malik. Melihat
kepala tersebut, Abdul Malik langsung bersujud syukur dan menghadiahkan uang
sebanyak seribu dinar kepada prajurit itu.
Dikisahkan bahwa ketika kepala Mush'ab diletakkan di hadapan
Abdul Malik, ia menangis dan berkata, "Demi Allah, dahulu karena saking
cintanya aku kepadanya, aku merasa tidak sanggup berpisah dengannya walau
sesaat pun, hingga akhirnya pedang memisahkan kita. Akan tetapi, kekuasaan itu
memang mandul (kejam)!"
"Sungguh rasa cinta dan kehormatan di antara kita telah
terjalin sejak lama. Kapankah kaum wanita akan melahirkan sosok yang seumpama
dengan Mush'ab lagi?" Abdul Malik kemudian memerintahkan agar jenazahnya
diurus, lalu ia memakamkan Mush'ab, putranya, serta Ibrahim bin al-Asytar dalam
kuburan-kuburan di wilayah Maskin yang letaknya dekat dengan kota Kufah.
Al-Madaini mengatakan, "Peristiwa terbunuhnya Mush'ab
bin az-Zubair terjadi pada hari Selasa, tanggal tiga belas Jumadil Ula tahun 71
Hijriah menurut pendapat mayoritas ulama."
Penguasaan Abdul Malik atas Irak
Setelah Abdul Malik berhasil membunuh Mush'ab, ia bertolak
menuju Kufah lalu berkemah di wilayah An-Nukhailah. Di tempat tersebut,
datanglah delegasi-delegasi yang terdiri dari para kepala suku dan pemuka
bangsa Arab untuk menemuinya. Abdul Malik menyambut mereka dan berpidato di
hadapan mereka dengan bahasa yang sangat fasih, balagah (retorika yang indah),
serta menyisipkan bait-bait syair yang bagus. Penduduk Irak pun akhirnya
menyatakan baiat (sumpah setia) kepadanya, dan ia mulai membagikan jabatan-jabatan
pemerintahan kepada orang-orang.
Suatu hari, Abdul Malik berpidato di Kufah dan berkata,
"Seandainya Abdullah bin az-Zubair adalah seorang khalifah yang sah
sebagaimana yang diklaimnya, niscaya ia akan keluar langsung mempertaruhkan
nyawanya, dan tidak akan menyembunyikan ekornya di tanah suci (Makkah)."
Ia kemudian melanjutkan pidatonya, "Sesungguhnya aku
telah mengangkat saudaraku, Bisyr bin Marwan, sebagai pemimpin atas kalian. Aku
telah memerintahkannya untuk berbuat baik kepada orang-orang yang taat dan
bertindak tegas kepada orang-orang yang bermaksiat, maka dengarkanlah ia dan
patuhilah."
Para perawi mengisahkan bahwa Abdul Malik juga memerintahkan
agar disediakan makanan dalam jumlah yang sangat banyak untuk dihidangkan
kepada penduduk Kufah, lalu mereka pun makan bersama dari hidangan tersebut.
Saat itu, Amr bin Huraits sedang duduk bersama Abdul Malik di atas dipan
kerajaan. Abdul Malik lalu berkata kepadanya, "Alangkah indahnya kehidupan
kita andai saja segala sesuatu itu bisa kekal abadi, namun nasib kita tidak
lain adalah seperti apa yang dikatakan oleh penyair masa lalu:"
وَكُلُّ
جَدِيدٍ يَا أُمَيْمَ إِلَى بِلَى ... وَكُلُّ امْرِئٍ يَوْمًا يَصِيرُ إِلَى
كَانْ
Dan setiap hal yang baru, wahai Umaimah, pasti akan
menjadi usang... dan setiap orang suatu hari kelak pasti akan tinggal kenangan.
Setelah itu, Abdul Malik bin Marwan mengutus Khalid bin
Abdullah bin Khalid bin Usaid untuk menjadi gubernur di wilayah Basrah , lalu
ia sendiri kembali pulang menuju tanah Syam.
Pengepungan Al-Hajjaj terhadap Makkah
Ibnu Jarir (At-Thabari) mengatakan, "Pada tahun 72
Hijriah, Abdul Malik bin Marwan mengutus Al-Hajjaj bin Yusuf at-Thaqafi untuk
mendatangi Abdullah bin az-Zubair guna mengepungnya di kota Makkah."
Dikisahkan bahwa alasan utama mengapa Abdul Malik memilih
untuk mengutus Al-Hajjaj dan bukan orang lain adalah karena ketika Abdul Malik
hendak kembali ke Syam pascamembunuh Mush'ab dan menguasai Irak, ia sempat
mengumpulkan masyarakat dan menyeru mereka untuk pergi memerangi Abdullah bin
az-Zubair di Makkah, namun tidak ada seorang pun yang menyambut seruan
tersebut. Di tengah keheningan itu, bangkitlah Al-Hajjaj seraya berkata,
"Wahai Amirul Mukminin, akulah orang yang akan menghadapinya."
Al-Hajjaj juga menceritakan kepada Abdul Malik tentang mimpi
yang ia yakini telah dilihatnya. Ia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, aku
bermimpi seolah-olah aku berhasil menangkap Abdullah bin az-Zubair lalu
mengulitinya. Oleh karena itu, utuslah aku kepadanya karena akulah yang akan
membunuhnya."
Mendengar hal itu, Abdul Malik akhirnya melepaskannya
bersama sepasukan tentara yang sangat besar dari penduduk Syam, serta
membekalinya dengan surat jaminan keamanan (ampunan) bagi penduduk Makkah
apabila mereka mau tunduk dan patuh.
Para sejarawan mengisahkan bahwa Al-Hajjaj berangkat pada
bulan Jumada di tahun tersebut bersama dua ribu penunggang kuda dari penduduk
Syam. Ia menempuh jalur Irak dan sengaja tidak melewati Madinah, hingga
akhirnya ia sampai dan berkemah di kota Thaif. Dari Thaif, ia mulai mengirimkan
pasukan-pasukan kecil menuju wilayah Arafah. Di sisi lain, Ibnu az-Zubair juga
mengirimkan pasukan berkudanya sehingga kedua belah pihak saling terlibat
pertempuran kecil. Dalam beberapa kali bentrokan tersebut, pasukan Ibnu
az-Zubair mengalami kekalahan sedangkan pasukan Al-Hajjaj berhasil menang.
Melihat situasi tersebut, Al-Hajjaj menulis surat kepada
Abdul Malik untuk meminta izin agar diperbolehkan memasuki kawasan tanah suci
(Haram) dan mengepung Ibnu az-Zubair secara langsung , sebab kekuatan Ibnu
az-Zubair sudah mulai melemah dan sebagian besar pengikutnya telah
meninggalkannya. Ia juga meminta agar dikirimi pasukan bantuan tambahan.
Abdul Malik kemudian menulis surat kepada Tariq bin Amr
memerintahkannya agar segera membawa pasukannya untuk bergabung dengan
Al-Hajjaj. Saat itu, Tariq bertugas mengawasi wilayah Madinah untuk Abdul
Malik, dan sebelumnya ia diperintahkan untuk berjaga di Wadi al-Qura bersama
sekitar lima ribu pasukan dari tentara Madinah dan sekitarnya.
Al-Hajjaj pun bergerak meninggalkan Thaif lalu berkemah di
dekat Sumur Maimun , dan mulai mengepung Ibnu az-Zubair yang bertahan di dalam
Masjidil Haram. Ketika memasuki bulan Dzulhijjah, Al-Hajjaj memimpin manusia
untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut dalam keadaan ia beserta
para pengikutnya mengenakan senjata lengkap. Mereka melaksanakan wukuf di
Arafah serta di tempat-tempat manasik lainnya dengan kondisi siaga. Sementara
itu, Ibnu az-Zubair yang sedang terkepung sama sekali tidak memiliki kemampuan
untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun itu , ia hanya bisa menyembelih hewan
kurban (unta) pada hari Idul Adha.
Begitu pula dengan mayoritas pengikutnya, mereka tidak bisa
melaksanakan haji. Bahkan, banyak dari pasukan Al-Hajjaj dan Tariq bin Amr yang
juga tidak bisa melakukan tawaf di Ka'bah. Akibatnya, mereka tetap berada dalam
kondisi berihram dan tidak bisa melakukan tahalul yang kedua. Al-Hajjaj beserta
pasukannya memilih menetap di antara wilayah Al-Hajun dan Sumur Maimun. Inna
lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Pengetatan Pengepungan dan Terbunuhnya Abdullah bin az-Zubair Radhiyallahu 'Anhu
Ketika memasuki tahun 73 Hijriah, pasukan Syam masih terus
mengepung penduduk Makkah. Al-Hajjaj bahkan telah memasang alat pelontar batu
(manjanik) yang diarahkan ke kota Makkah untuk menghimpit penduduknya agar
mereka terpaksa keluar demi mencari jaminan keamanan dan menyatakan tunduk
kepada Abdul Malik.
Bersama Al-Hajjaj, ada sekelompok orang yang didatangkan
dari tanah Habasyah (Etiopia) yang bertugas mengoperasikan manjanik tersebut.
Mereka terus-menerus melontarkan batu dalam jumlah besar menggunakan lima alat
manjanik dari segala arah hingga menewaskan banyak orang. Al-Hajjaj juga
memutus jalur pasokan makanan bagi penduduk Makkah sehingga mereka mengalami
kelaparan yang sangat hebat, dan mereka bertahan hidup hanya dengan meminum air
zamzam. Batu-batu dari manjanik tersebut bahkan mulai berjatuhan mengenai
bangunan Ka'bah. Di tengah situasi itu, Al-Hajjaj terus berseru kepada
pasukannya, "Wahai penduduk Syam, demi Allah, jagalah ketaatan
kalian!"
Pasukan Syam berulang kali mencoba menyerbu pertahanan Ibnu
az-Zubair. Dikisahkan bahwa meskipun pengepungan itu sangat ketat, Ibnu
az-Zubair kerap kali maju menerjang barisan musuh seorang diri tanpa ditemani
oleh siapa pun, hingga berhasil memukul mundur mereka keluar dari Pintu Bani
Syaibah. Ketika musuh kembali menyerangnya, ia kembali menerjang mereka
sendirian. Ia melakukan hal tersebut berulang kali dan berhasil menewaskan
sejumlah tentara Syam seraya berseru, "Rasakanlah tebasanku ini, dan
akulah putra dari Al-Hawari (Zubair bin al-Awwam)!"
Pernah ada yang menyarankan kepada Ibnu az-Zubair,
"Mengapa engkau tidak mengajak mereka berunding untuk berdamai?"
Namun ia menjawab, "Demi Allah, seandainya mereka menemukan kalian di
dalam lubang Ka'bah sekalipun, niscaya mereka akan menyembelih kalian semua.
Demi Allah, aku tidak akan pernah meminta perdamaian kepada mereka
selama-lamanya."
Pengepungan yang berkepanjangan membuat penduduk Makkah
perlahan-lahan keluar menemui Al-Hajjaj demi mendapatkan jaminan keamanan dan
meninggalkan Ibnu az-Zubair. Jumlah orang yang keluar diperkirakan mencapai
hampir sepuluh ribu orang, dan Al-Hajjaj memberikan ampunan kepada mereka.
Akibatnya, jumlah pengikut yang bertahan bersama Ibnu az-Zubair menjadi sangat
sedikit. Bahkan, dua putra kandungnya sendiri, yaitu Hamzah dan Khubaib, ikut
keluar menemui Al-Hajjaj untuk meminta jaminan keselamatan bagi diri mereka
sendiri, dan Al-Hajjaj pun mengabulkannya.
Melihat situasi tersebut, Abdullah bin az-Zubair masuk
menemui ibundanya (Asma' binti Abi Bakr). Ia mengadukan perihal orang-orang
yang telah menelantarkannya dan membelot ke pihak Al-Hajjaj, termasuk anak-anak
dan keluarganya sendiri. Ia berkata bahwa yang tersisa bersamanya hanyalah
segelintir orang yang tidak akan mampu bertahan lama lagi. Ia juga menambahkan
bahwa pihak musuh sebenarnya menawarkan dunia (harta dan kedudukan) apa saja
yang ia kehendaki jika ia mau menyerah. Ia lalu bertanya, "Bagaimana pendapatmu,
wahai Ibu?"
Ibunda Asma' menjawab, "Wahai anakku, engkau lebih tahu
tentang dirimu sendiri. Jika engkau yakin bahwa dirimu berada di atas kebenaran
dan menyeru kepada kebenaran, maka bertahanlah dengan sabar di atasnya , karena
para sahabatmu pun telah gugur demi membela kebenaran itu. Jangan biarkan
lehermu diserahkan begitu saja untuk menjadi mainan bagi anak-anak budak Bani
Umayyah. Namun, jika engkau melakukan ini semua hanya demi mengincar dunia,
maka seburuk-buruk hamba adalah engkau ; sebab engkau telah membinasakan dirimu
sendiri dan membinasakan orang-orang yang gugur bersamamu. Jika engkau berada
di atas kebenaran, maka kematian tidak akan melemahkan agama, dan sampai kapan
pulakah kalian akan hidup kekal di dunia ini? Gugur terbunuh (syahid) itu jauh
lebih baik." Mendengar kata-kata ibunya, Abdullah mendekat lalu mencium
kepala ibundanya seraya berkata, "Demi Allah, inilah yang menjadi prinsip
dan pandanganku."
Ia kemudian berkata, "Demi Allah, aku sama sekali tidak
pernah condong kepada dunia dan tidak pernah mencintai kehidupan di dalamnya.
Tidak ada yang mendorongku untuk bangkit melakukan perlawanan ini melainkan
karena rasa marahku demi Allah ketika kesucian-kesucian-Nya dilecehkan. Akan
tetapi, aku hanya ingin mendengar bagaimana pendapatmu, dan engkau kini telah
menambah kekuatan pandanganku di atas pandangan yang telah ada. Maka ketahuilah
wahai Ibu, sesungguhnya aku akan terbunuh pada hari ini. Janganlah engkau
terlalu larut dalam kesedihan, dan pasrahkanlah segalanya kepada ketetapan
Allah. Sesungguhnya anakmu ini tidak pernah sengaja melakukan kemungkaran,
tidak pernah berbuat keji, tidak pernah berbuat curang dalam hukum Allah, tidak
pernah mengkhianati jaminan keamanan, dan tidak pernah sengaja menzalimi
seorang muslim maupun kafir mu'ahad (yang terikat perjanjian). Setiap kali ada
kabar kezaliman yang dilakukan oleh petugas pemungut pajaku, aku selalu
mengingkarinya dan tidak pernah merestuinya. Di dalam hatiku, tidak ada yang
lebih utama melainkan mencari keridhaan Tuhanku Yang Mahaperkasa lagi
Mahamulia. Ya Allah, aku mengatakan ini semua bukan untuk menyucikan diriku,
karena Engkau lebih tahu tentang diriku daripada aku sendiri maupun orang lain,
melainkan aku mengatakannya sebagai penghibur bagi ibuku agar ia bisa merelakan
kepergianku."
Ibunya lalu berkata, "Sesungguhnya aku berharap kepada
Allah agar aku bisa memiliki kesabaran yang baik dalam menerima takdirmu, baik
jika engkau mendahuluiku (wafat terlebih dahulu) ataupun aku yang mendahuluimu.
Keluarlah, wahai anakku, sampai aku bisa melihat bagaimana akhir dari urusanmu
ini." Abdullah menjawab, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan,
wahai Ibu. Jangan pernah putus untuk mendoakanku, baik sebelum maupun sesudah
kematianku." Ibunya menegaskan, "Aku tidak akan pernah berhenti
mendoakanmu. Barangsiapa yang terbunuh di atas kebatilan maka ia rugi,
sedangkan engkau terbunuh di atas kebenaran."
Asma' kemudian berdoa, "Ya Allah, rahmatilah lamanya ia
berdiri melakukan salat di malam-malam yang panjang, ratapan tangisnya, serta
rasa haus yang ia rasakan di tengah teriknya siang hari di Madinah dan Makkah,
serta baktinya kepada ayahnya dan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyerahkan
dirinya kepada keputusan-Mu, dan aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan. Maka
berikanlah kepadaku pahala orang-orang yang sabar dan bersyukur atas takdir
yang menimpa Abdullah bin az-Zubair." Setelah itu, ia berkata kepada
anaknya, "Mendekatlah kepadaku agar aku bisa melepas kepergianmu."
Abdullah pun mendekat lalu mencium ibunya. Sang ibu kemudian
merangkul dan memeluknya untuk mengucapkan selamat tinggal, dan Abdullah pun
balas memeluk ibunya. Di akhir hayatnya, penglihatan ibunda Asma' sudah mulai
rabun. Ketika meraba tubuh anaknya, ia mendapati Abdullah mengenakan baju besi.
Ia pun berkata, "Wahai anakku, ini bukanlah pakaian orang yang
menginginkan mati syahid sebagaimana yang engkau inginkan." Abdullah
menjawab, "Wahai Ibu, aku mengenakannya hanya untuk menyenangkan hatimu
dan menenangkan pikiranmu." Ibunya berkata, "Tidak, wahai anakku,
lepaskanlah pakaian itu."
Abdullah kemudian melepaskan baju besi tersebut lalu
merapikan pakaiannya yang lain dengan mengencangkan ikat pinggangnya ,
sementara ibunya terus berpesan, "Singsingkanlah pakaianmu." Abdullah
juga mengikat bagian bawah pakaiannya dengan kuat agar auratnya tidak terbuka
apabila ia gugur nanti. Sang ibu mulai mengingatkannya akan kemuliaan ayahnya
(Az-Zubair), kakeknya (Abu Bakar as-Siddiq), neneknya (Shafiyyah binti Abdul
Muthalib), serta bibinya (Aisyah, istri Rasulullah ﷺ). Ia memberikan harapan gembira bahwa
Abdullah akan segera berkumpul bersama mereka jika ia gugur sebagai syahid.
Setelah itu, Abdullah keluar dari hadapan ibunya, dan itulah momen terakhir
kebersamaannya dengan sang ibu —semoga Allah meridhai mereka berdua, ayahnya,
serta kakeknya. Ibunya melepasnya dengan berkata, "Majulah di atas jalan
kebenaran yang engkau yakini." Abdullah mengucapkan selamat tinggal sambil
bersenandung syair:
وَلَسْتُ
بِمُبْتَاعِ الْحَيَاةِ بِسُبَّةٍ ... وَلَا مُرْتَةٍ مِنْ خَشْيَةِ الْمَوْتِ
سُلَّمَا
Aku tidak akan membeli kehidupan dunia dengan bayaran
aib... dan aku tidak akan mencari tangga keselamatan karena takut akan
kematian.
Saat itu, gerbang-gerbang tanah suci (Masjidil Haram) sudah
sangat sepi dari penjagaan para pengikut Ibnu az-Zubair. Pasukan dari wilayah
Himsh ditugaskan mengepung gerbang yang berhadapan langsung dengan pintu
Ka'bah, pasukan Damaskus di Pintu Bani Syaibah, pasukan Yordania di Pintu
As-Safa, pasukan Palestina di Pintu Bani Jumah, dan pasukan Qinnasrin di Pintu
Bani Sahm. Di setiap gerbang tersebut terdapat seorang komandan yang memimpin
pasukan dari daerah masing-masing, sedangkan Al-Hajjaj dan Tariq bin Amr
mengambil posisi di wilayah Al-Abtah.
Setiap kali Ibnu az-Zubair keluar menyerbu salah satu
gerbang, ia selalu berhasil mencerai-beraikan barisan musuh hingga mendesak
mereka mundur sampai ke wilayah Al-Abtah. Setelah itu ia berseru,
"Seandainya lawanku sebanding satu lawan satu, niscaya aku sendirian sudah
cukup untuk menghadapinya!"
Bahkan, pernah ada batu manjanik yang jatuh mengenai ujung
pakaiannya, namun ia sama sekali tidak bergeming atau panik. Ia kembali keluar
menerjang musuh dan bertempur seperti layaknya seekor singa yang lapar, hingga
membuat orang-orang takjub melihat keberanian dan kenekatannya.
Ketika malam Selasa tanggal tujuh belas Jumadil Ula di tahun
tersebut tiba, Ibnu az-Zubair menghabiskan sepanjang malamnya dengan melakukan
salat. Setelah selesai, ia duduk bertumpu pada sarung pedangnya lalu sempat
tertidur sejenak. Begitu fajar menyingsing, ia terbangun seperti biasanya lalu
berkata, "Kumandangkanlah azan, wahai Sa'd."
Sa'd kemudian mengumandangkan azan di dekat Makam Ibrahim.
Ibnu az-Zubair berwudu lalu melaksanakan salat sunah fajar dua rakaat. Ketika
salat wajib ditegakkan, ia mengimami salat Subuh dengan membaca surah Nun
(Al-Qalam) ayat demi ayat secara perlahan (tartil) hingga selesai. Setelah
mengucapkan salam, ia membaca tahmid dan memuji Allah, lalu berkata kepada para
pengikutnya, "Aku merasa bahwa hari ini aku akan terbunuh. Di dalam
mimpiku, aku melihat seolah-olah langit terbuka untukku lalu aku memasukinya.
Demi Allah, aku benar-benar telah bosan dengan kehidupan dunia ini, dan usiaku
kini telah melewati tujuh puluh dua tahun. Ya Allah, sesungguhnya aku
merindukan pertemuan dengan-Mu, maka cintailah pertemuanku."
Ia lalu berkata, "Bukalah penutup wajah kalian agar aku
bisa melihat kalian." Mereka pun membuka penutup wajah mereka yang berada
di balik pelindung kepala. Ibnu az-Zubair kembali membakar semangat mereka
untuk bertempur dengan penuh kesabaran. Ia kemudian memimpin serangan bersama
pasukannya hingga berhasil mendesak musuh mundur sampai ke wilayah Al-Hajun.
Namun di tengah pertempuran itu, sebuah pecahan batu bata
melayang dan mengenai tepat di wajahnya hingga membuatnya terhuyung. Ketika
merasakan hangatnya darah yang mengalir di wajahnya, ia bersenandung dengan
bait syair berikut:
وَلَسْنَا
عَلَى الْأَعْقَابِ تَدْمَى كُلُومُنَا ... وَلَكِنْ عَلَى أَقْدَامِنَا تَقْطُرُ
الدِّمَا
Luka-luka kami tidak pernah meneteskan darah di tumit
kami (karena lari mundur)... melainkan darah kami menetes di atas kaki-kaki
kami (karena maju menerjang).
Ia kemudian mencoba bergerak mundur, namun tiba-tiba sebuah
batu manjanik datang dari arah belakang dan mengenai tengkuknya dengan sangat
keras hingga membuatnya fatal. Ia pun tersungkur jatuh ke tanah dengan wajah
menghadap ke bawah. Ia berusaha untuk bangkit kembali namun sudah tidak
memiliki kekuatan lagi. Pasukan musuh segera mengepungnya. Di saat-saat
terakhirnya, seorang prajurit Syam mendekat, namun Abdullah yang sedang
bertumpu pada siku kirinya masih sempat menebaskan pedang hingga memotong kedua
kaki prajurit tersebut. Ia terus mengayunkan pedangnya meskipun dalam kondisi
tidak bisa berdiri, sampai akhirnya pasukan musuh mengeroyoknya dengan sabetan
pedang hingga ia gugur—semoga Allah meridhainya.
Para prajurit segera pergi menemui Al-Hajjaj untuk
menyampaikan kabar kematian tersebut. Mendengar kabar itu, Al-Hajjaj langsung
tersungkur bersujud—semoga Allah memburukkan tindakannya. Ia kemudian bangkit
bersama Tariq bin Amr lalu berjalan mendatangi jasad Abdullah bin az-Zubair
yang telah terbujur kaku. Melihat jasadnya, Tariq berkata, "Kaum wanita
belum pernah melahirkan sosok lelaki yang lebih perkasa daripada orang
ini."
Al-Hajjaj langsung menegurnya, "Apakah engkau memuji
orang yang telah membangkang dari ketaatan kepada Amirul Mukminin?" Tariq
menjawab, "Benar, dan hal itu justru menjadi alasan kuat bagi kita
(mengapa pertempuran ini begitu sulit). Kita telah mengepungnya padahal ia
tidak berlindung di dalam benteng yang kokoh, tidak di dalam parit pertahanan,
dan tidak memiliki perlindungan yang kuat untuk menahan serangan kita.
Sebaliknya, ia justru selalu mampu mendominasi kita di setiap medan
pertempuran." Ketika perkataan Tariq ini sampai ke telinga Abdul Malik, ia
membenarkan dan menyetujui pendapat Tariq tersebut.
Al-Hajjaj kemudian menulis surat kepada Abdul Malik untuk
melaporkan peristiwa yang terjadi. Ia mengirimkan kepala Ibnu az-Zubair bersama
dengan kepala Abdullah bin Safwan dan Umarah bin Hazm menuju hadapan Abdul
Malik. Ia memerintahkan para utusan tersebut agar memamerkan kepala-kepala itu
di kota Madinah terlebih dahulu ketika mereka melewatinya, baru kemudian
membawanya ke tanah Syam. Para utusan pun melaksanakan apa yang diperintahkan
kepadanya.
Setelah itu, Al-Hajjaj memerintahkan agar jasad Ibnu
az-Zubair disalib di atas bukit Tsaniyyah Kada' yang terletak di dekat wilayah
Al-Hajun. Ada yang menyebutkan bahwa jasadnya disalib dalam posisi terbalik.
Jasad tersebut terus dibiarkan tergantung di sana sampai suatu hari Abdullah
bin Umar melewatinya. Beliau berhenti lalu berkata, "Semoga rahmat Allah
tercurah kepadamu, wahai Abu Khubaib. Demi Allah, dahulu engkau adalah seorang
yang sangat rajin berpuasa dan rajin mendirikan salat malam." Beliau kemudian
menambahkan, "Apakah belum tiba saatnya bagi penunggang ini untuk turun
dari tunggangannya?" Mendengar perkataan Ibnu Umar tersebut, Al-Hajjaj
akhirnya mengirimkan petugas untuk menurunkan jasadnya dari tiang salib lalu
memakamkannya di tempat itu.
Al-Hajjaj kemudian memasuki kota Makkah lalu mengambil
sumpah setia (baiat) dari seluruh penduduknya untuk Amirul Mukminin Abdul Malik
bin Marwan. Al-Hajjaj terus menetap di Makkah hingga ia memimpin pelaksanaan
ibadah haji bagi masyarakat pada tahun itu juga. Saat itu, ia diserahi mandat
kekuasaan atas wilayah Makkah, Al-Yamamah, dan Yaman.
Al-Waqidi mengatakan, "Ibnu az-Zubair mulai dikepung
sejak malam hilal bulan Dzulhijjah tahun 72 Hijriah, dan ia gugur terbunuh
setelah lewat tujuh belas malam dari bulan Jumadil Ula tahun 73 Hijriah. Dengan
demikian, durasi pengepungan yang dilakukan oleh Al-Hajjaj terhadap dirinya
adalah selama lima bulan dan tujuh belas malam."
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar