Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz (99-101H)
Bab Pertama
Biografi dan Kekhalifahannya
Silsilah dan Keluarganya
Beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam
bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf, Abu Hafs al-Qurasyi
al-Umawi, Amirul Mukminin.
Ibunya adalah Ummu Ashim Laila binti Ashim bin Umar bin
al-Khattab. Beliau dijuluki sebagai Asyaqq Bani Marwan (orang yang
memiliki luka/bekas luka di wajah dari keturunan Marwan).
Beliau lahir pada tahun 61 H di Mesir, sedangkan Muhammad
bin Saad berpendapat bahwa beliau lahir pada tahun 63 H.
Beliau memiliki beberapa saudara laki-laki, namun yang
kandung seayah dan seibu dengannya adalah Abu Bakar, Ashim, dan Muhammad.
Beliau juga memiliki banyak anak, dan yang paling utama di
antara mereka adalah putranya yang bernama Abdul Malik, namun ia meninggal
dunia saat Umar masih hidup di masa kekhalifahannya.
Ciri-Ciri Fisiknya
Beliau rahimahullah berkulit sawo matang, berwajah
tirus dan rupawan, bertubuh ramping, berjanggut bagus, bermata cekung, dan di
dahinya terdapat bekas luka robek. Beliau sudah beruban dan mewarnai
rambut/janggutnya, rahimahullah.
Masa Tumbuh Kembangnya
Beliau tumbuh besar di Madinah al-Munawwarah dan telah
menghafal Al-Qur'an sejak masih kecil.
Dhahhak bin Utsman al-Hizami menceritakan: Ayah Umar
menitipkannya kepada Shalih bin Kaisan untuk mendidik adabnya. Ketika ayahnya
pergi berhaji, ia melewati Madinah dan bertanya kepada Shalih tentang keadaan
putranya. Shalih berkata: "Aku tidak pernah mengetahui ada seseorang yang
keagungan Allah di dalam dadanya lebih besar daripada anak ini."
Ya'qub bin Sufyan meriwayatkan: Suatu hari Umar bin Abdul
Aziz terlambat melaksanakan shalat berjamaah. Shalih bin Kaisan bertanya
kepadanya, "Apa yang membuatmu sibuk?"
Umar menjawab, "Pelayan wanitaku tadi sedang merapikan
rambutku." Shalih berkata, "Apakah kamu mendahulukan hal itu daripada
shalat?"
Shalih pun menyurati ayah Umar yang berada di Mesir untuk
memberitahukan kejadian tersebut. Maka ayahnya mengirim seorang utusan, dan
utusan itu tidak berbicara sepatah kata pun kepada Umar sampai ia mencukur
habis rambutnya.
Umar bin Abdul Aziz juga sering mendatangi Ubaidullah bin
Abdullah untuk menimba ilmu darinya. Suatu ketika, sampai kabar kepada
Ubaidullah bahwa Umar merendahkan atau mencela Ali. Saat Umar datang
menemuinya, Ubaidullah berpaling darinya dan langsung berdiri melaksanakan
shalat. Umar pun duduk menunggunya. Setelah mengucapkan salam, Ubaidullah
menghadap ke arah Umar dengan wajah marah seraya berkata, "Sejak kapan
kamu tahu bahwa Allah murka kepada ahli Badar setelah Dia rida kepada
mereka?"
Umar langsung memahami maksudnya, lalu berkata, "Aku
memohon ampun kepada Allah, kemudian memohon maaf kepadamu. Demi Allah, aku
tidak akan mengulanginya lagi." Setelah kejadian itu, Umar tidak pernah
terdengar menyebut nama Ali melainkan dengan kebaikan.
Zubair bin Bakkar meriwayatkan dari Al-Utabi yang berkata:
Hal pertama yang terlihat jelas dari Umar bin Abdul Aziz adalah kesungguhannya
dalam menuntut ilmu dan kecintaannya pada adab. Ketika ayahnya diangkat menjadi
gubernur Mesir, Umar masih sangat muda dan diragukan apakah sudah baligh.
Ayahnya ingin membawanya serta ke Mesir, namun Umar berkata, "Wahai
ayahku, atau bagaimana jika ada pilihan lain yang barangkali lebih bermanfaat
bagiku dan bagimu? Engkau mengembalikanku ke Madinah agar aku bisa duduk belajar
bersama para fukaha di sana dan mengambil adab dari mereka." Maka ayahnya
mengirimnya ke Madinah, lalu ia duduk belajar bersama para tetua Quraisy dan
menjauhi pergaulan anak-anak mudanya. Hal itu terus menjadi kebiasaannya hingga
namanya dikenal luas.
Ketika ayahnya meninggal dunia, pamannya yang merupakan
Amirul Mukminin, Abdul Malik bin Marwan, mengambilnya dan menggabungkannya
bersama anak-anaknya sendiri. Sang paman mendahulukannya di atas banyak anaknya
yang lain, serta menikahkannya dengan putrinya yang bernama Fatimah. Fatimah
inilah yang digambarkan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:
بِنْتُ
الْخَلِيفَةِ وَالْخَلِيفَةُ جَدُّهَا ... أُخْتُ الْخَلائِفِ وَالْخَلِيفَةُ
زَوْجُهَا
"Seorang putri khalifah, dan khalifah adalah
kakeknya... Saudari para khalifah, dan khalifah adalah suaminya."
Keutamaan-Keutamaannya
Umar adalah seorang Tabi'in yang agung. Beliau meriwayatkan
hadits dari Anas bin Malik, al-Sa’ib bin Yazid, dan Yusuf bin Abdullah bin
Salam (Yusuf adalah seorang sahabat Nabi yang masih kecil saat berjumpa
beliau). Beliau juga meriwayatkan dari banyak tokoh Tabi'in, dan hadits-hadits
darinya diriwayatkan oleh sekelompok Tabi'in serta generasi lainnya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku tidak memandang
pendapat seorang pun dari kalangan Tabi'in sebagai hujah, kecuali pendapat Umar
bin Abdul Aziz."
Telah syah dari beberapa jalur periwayatan bahwa Anas bin
Malik berkata: "Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang
shalatnya paling mirip dengan shalat Rasulullah ﷺ daripada pemuda ini," yaitu Umar bin
Abdul Aziz ketika beliau menjadi gubernur Madinah. Para perawi menjelaskan
bahwa Umar menyempurnakan rukuk dan sujud, serta meringankan (tidak terlalu
lama) saat berdiri dan duduk.
Abdullah bin Katsir bercerita: Aku bertanya kepada Umar bin
Abdul Aziz, "Apakah yang menjadi awal mula pertobatan dan kepasrahanmu
(kepada Allah)?"
Umar menjawab, "Dulu aku pernah ingin memukul seorang
budakku, lalu budak itu berkata kepadaku: 'Ingatlah akan suatu malam yang
subuhnya adalah hari kiamat!'"
Ketika kekhalihan telah ditetapkan atas namanya, beliau
pulang dalam keadaan bersorban dan tampak didera kegundahan serta kesedihan
yang mendalam. Pelayan setianya bertanya, "Mengapa engkau tampak begitu
berduka dan gundah, padahal ini bukanlah saat untuk bersedih?"
Umar menjawab, "Celaka kamu! Bagaimana mungkin aku
tidak gundah, sementara tidak ada seorang pun dari umat ini, baik di ujung
timur maupun barat bumi, melainkan ia akan menuntut haknya kepadaku agar aku
menunaikannya, baik ia menulis surat kepadaku tentang hal itu atau tidak, dan
baik ia memintanya langsung dariku ataupun tidak."
Para sejarawan menceritakan: Kemudian Umar memberikan
pilihan kepada istrinya, Fatimah, antara tetap tinggal bersamanya dengan
konsekuensi bahwa Umar tidak lagi memiliki waktu luang untuk menggaulinya, atau
ia boleh kembali kepada keluarganya. Fatimah pun menangis, dan para budak
wanitanya ikut menangis karena tangisannya hingga terdengar suara riuh di dalam
rumahnya. Namun pada akhirnya, Fatimah memilih untuk tetap tinggal bersamanya
dalam kondisi apa pun, rahimahallah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdul Razzaq, dari ayahnya,
dari Wahb bin Munabbih bahwa ia berkata: "Jika di antara umat ini ada
seorang Mahdi (pemimpin yang mendapat petunjuk), maka dialah Umar bin Abdul
Aziz." Ucapan senada juga disampaikan oleh Qatadah, Said bin al-Musayyib,
dan banyak ulama lainnya.
Sufyan al-Tsauri berkata: "Khalifah itu ada lima: Abu
Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz." Hal yang sama juga
diriwayatkan dari Abu Bakar bin Ayyasy, al-Syafi'i, dan banyak ulama lainnya.
Umar bin Abdul Aziz Pembaharu Pertama
Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ
يُجَدِّدُ لَهَا أَمْرَ دِينِهَا»
"Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini
pada setiap penghujung seratus tahun, orang yang akan memperbaharui
(kejayaan/urusan) agama mereka."
Sebagian ulama—di antaranya Ahmad bin Hanbal sebagaimana
disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dan yang lainnya—menyatakan: "Sesungguhnya
Umar bin Abdul Aziz berada di penghujung seratus tahun yang pertama."
Ulama lainnya berpendapat: Beliau termasuk salah satu dari
sekian banyak orang yang Allah jadikan sebagai pembaharu agama di penghujung
seratus tahun pertama, walaupun beliau adalah orang yang paling utama dan
paling berhak untuk masuk dalam kategori tersebut. Hal itu dikarenakan
kepemimpinannya, kelayakan wilayah kekuasaannya yang menyeluruh, kesungguhan
ijtihadnya, serta ketegasannya dalam menegakkan kebenaran. Rekam jejak
kehidupannya sangat menyerupai rekam jejak kehidupan Umar bin al-Khattab, dan beliau
sendiri memang sering meneladani kakek buyutnya tersebut.
Ibnu Katsir berkata: Dan para ulama secara keseluruhan telah
sepakat bahwa beliau termasuk di antara imam-imam yang adil, serta merupakan
salah satu dari Khulafaur Rasyidin dan pemimpin yang mendapat petunjuk.
Musyawarah Umar Bersama Orang-Orang Saleh
Sufyan bin Uyainah menceritakan: Ketika Umar bin Abdul Aziz
memegang nakhoda kekhalifahan, beliau mengirim utusan untuk mengundang Muhammad
bin Ka'ab, Raja' bin Haiwah, dan Salim bin Abdullah. Beliau berkata kepada
mereka, "Sungguh kalian telah melihat ujian yang ditimpakan kepadaku dan
perkara besar yang menimpaku ini, maka bagaimana pendapat kalian?"
Muhammad bin Ka'ab memberikan nasihat, "Jadikanlah
orang yang lebih tua sebagai ayahmu, orang yang sebaya sebagai saudaramu, dan
yang lebih muda sebagai anakmu. Maka berbaktilah kepada ayahmu, sambunglah
silaturahmi dengan saudaramu, dan berkasih sayanglah kepada anakmu."
Raja' berkata, "Ridailah untuk manusia apa yang engkau
ridai untuk dirimu sendiri, dan apa yang engkau benci menimpa dirimu maka
jangan engkau lakukan kepada mereka. Serta ketahuilah, bahwa engkau adalah
khalifah pertama yang akan mati."
Salim berkata, "Jadikanlah urusan (dunia) ini seperti
satu hari saja, yang mana engkau berpuasa di dalamnya dari syahwat-syahwat
dunia, dan jadikanlah ajal kematian sebagai waktu berbuka puasamu. Maka
seolah-olah hal itu telah terjadi."
Mendengar hal itu, Umar mengucapkan, "La hawla wa la
quwwata illa billah" (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan
Allah).
Khotbah-Khotbah Beliau Rahimahullah
Zubair bin Bakkar meriwayatkan: Muhammad bin Salam
menceritakan kepadaku, dari Salam bin Sulaim, ia berkata:
Ketika Umar bin Abdul Aziz memimpin, beliau naik ke atas
mimbar. Dalam khotbah pertama yang beliau sampaikan, beliau memuji Allah dan
menyanjung-Nya, kemudian berkata: "Wahai sekalian manusia, barang siapa
yang ingin bersahabat mendampingi kami, maka hendaklah ia mendampingi kami
dengan membawa lima perkara, jika tidak maka berpisahlah dari kami:
- Menyampaikan
kepada kami kebutuhan orang yang tidak mampu menyampaikannya sendiri.
- Membantu
kami dalam kebaikan dengan segenap kemampuannya.
- Menunjukkan
kepada kami jalan kebaikan yang belum kami ketahui.
- Tidak
menggunjing (ghibah) rakyat di hadapan kami.
- Tidak
ikut campur dalam urusan yang tidak penting bagi dirinya."
Mendengar hal itu, para penyair dan ahli pidato yang mencari
keuntungan pun menjauh dari beliau. Sementara yang tetap bertahan mendampingi
beliau adalah para ahli fikih dan ahli zuhud. Mereka berkata, "Tidak ada
alasan bagi kita untuk meninggalkan pria ini sampai perbuatannya menyelisihi
perkataannya."
Ismail bin Ayyash meriwayatkan dari Amru bin Muhajir, ia
berkata: Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, beliau berdiri
di hadapan manusia, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata:
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada kitab
suci setelah Al-Qur'an, dan tidak ada nabi setelah Muhammad 'Alaihis Salam.
Ketahuilah, aku bukanlah seorang pembuat hukum (yang memutuskan sendiri),
melainkan aku hanyalah pelaksana hukum. Aku bukanlah seorang pembuat bidah,
melainkan aku hanyalah seorang pengikut sunah. Sesungguhnya seseorang yang lari
dari pemimpin yang zalim bukanlah orang yang zalim, ketahuilah bahwa pemimpin
yang zalim itulah yang bermaksiat. Ingatlah, tidak ada ketaatan kepada makhluk
dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta Azza wa Jalla."
Ahmad bin Marwan meriwayatkan dari seorang putra Said bin
al-Ash, ia berkata: Khotbah terakhir yang disampaikan oleh Umar bin Abdul Aziz,
beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: "Amma ba'du:
Sesungguhnya kalian tidaklah diciptakan dengan sia-sia, dan
kalian tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Sesungguhnya
kalian memiliki hari kebangkitan, tempat Allah akan turun untuk memberikan
keputusan di antara kalian serta mengadili kalian. Maka sungguh merugi dan
celakalah orang yang keluar dari rahmat Allah, serta diharamkan dari surga yang
luasnya seluas langit dan bumi. Tidakkah kalian tahu bahwa tidak ada yang akan
mendapatkan rasa aman esok hari (di akhirat) kecuali orang yang waspada dan
takut akan Hari Akhir pada hari ini (di dunia), serta orang yang menjual
sesuatu yang fana demi sesuatu yang kekal, menjual yang sedikit demi yang
banyak, dan menjual rasa takut demi mendapatkan rasa aman?
Tidakkah kalian melihat bahwa kalian berada di tempat
tinggal orang-orang terdahulu yang telah binasa, dan tempat ini kelak akan
dihuni oleh orang-orang setelah kalian, begitu seterusnya hingga kita semua
dikembalikan kepada Sebaik-baik Pemberi Warisan (Allah)?"
Di Antara Perkataan Beliau yang Indah
Maimun bin Mihran berkata: Umar bin Abdul Aziz mengangkatku
untuk memegang suatu jabatan wilayah, kemudian beliau berpesan kepadaku,
"Jika datang kepadamu sepucuk surat dariku yang isinya tidak di atas
kebenaran, maka lemparkanlah surat itu ke tanah."
Beliau juga pernah menulis surat kepada sebagian
gubernurnya: "Jika kekuasaanmu atas manusia mendorongmu untuk berbuat
zalim kepada mereka, maka ingatlah kekuasaan Allah atas dirimu, serta ingatlah
akan lenyapnya apa yang engkau timpakan kepada mereka (keberadaan dunia) dan
akan kekalnya apa yang mereka bawa kepadamu (pertanggungjawaban di
akhirat)."
Beliau sering berkata: "Sesungguhnya perkara yang
paling dicintai oleh Allah adalah sikap pertengahan (tidak berlebihan) di saat
bersungguh-sungguh, memberikan maaf di saat mampu membalas, dan bersikap lemah
lembut dalam kepemimpinan. Tidaklah seorang hamba bersikap lemah lembut kepada
hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan bersikap lemah lembut kepadanya
kelak di hari kiamat."
Raja' bin Haiwah menceritakan: Suatu malam aku
berbincang-bincang di rumah Umar bin Abdul Aziz, lalu lampu minyak di ruangan
itu mulai redup. Aku berkata, "Apakah perlu aku membangunkan pelayan ini
agar dia memperbaikinya?"
Beliau menjawab, "Jangan, biarkan dia tidur." Aku
berkata lagi, "Kalau begitu, bagaimana jika aku saja yang berdiri untuk
memperbaikinya?"
Beliau menjawab, "Jangan, bukan termasuk kehormatan
seorang pria jika ia mempekerjakan tamunya." Kemudian beliau bangkit
sendiri lalu memperbaiki lampu tersebut dan menuangkan minyak ke dalamnya.
Setelah itu beliau kembali dan berkata, "Aku bangkit tadi dalam keadaan
aku adalah Umar bin Abdul Aziz, dan aku kembali pun dalam keadaan aku tetap
Umar bin Abdul Aziz."
Beliau juga pernah berkata, "Perbanyaklah mengingat
nikmat, karena mengingat-ingat nikmat itu merupakan bentuk kesyukurannya."
Beliau juga berkata, "Sesungguhnya yang menghalangiku dari banyak bicara
adalah rasa takut akan munculnya sifat pamer (bangga diri)."
Beliau sering berdoa: "Ya Allah, perbaikilah
(jadikanlah saleh) orang yang di dalam kesalehannya terdapat kebaikan bagi umat
Muhammad, dan binasakanlah orang yang di dalam kebinasaannya terdapat kebaikan
bagi umat Muhammad."
Beliau juga berkata: "Dunia adalah musuh bagi para
kekasih Allah sekaligus musuh bagi musuh-musuh Allah. Adapun bagi para kekasih
Allah, dunia ini membuat mereka gundah (karena takut akan fitnahnya), sedangkan
bagi musuh-musuh Allah, dunia ini telah memperdaya mereka."
Keadilannya dan Pengembalian Harta yang Diambil Secara Zalim
Beliau telah mengembalikan seluruh harta yang diambil secara
zalim. Suatu hari, beliau mengumpulkan para pemuka masyarakat lalu berkhotbah
di hadapan mereka seraya berkata: "Sesungguhnya tanah Fadak dulunya berada
di tangan Rasulullah ﷺ,
dan beliau memanfaatkannya sebagaimana yang diperlihatkan Allah kepada beliau.
Kemudian tanah itu dikelola oleh Abu Bakar, dan Umar pun melakukan hal yang
sama." Al-Ashma'i berkata: Aku tidak tahu apa yang beliau katakan tentang
Utsman. Umar melanjutkan: "Kemudian Marwan menjadikannya sebagai tanah
milik pribadi (feodal), lalu aku mendapatkan bagian darinya, serta Al-Walid dan
Sulaiman pun memberikan bagian mereka kepadaku. Tidak ada harta milikku yang
lebih ingin aku kembalikan daripada tanah ini, dan sungguh aku telah mengembalikannya
ke Baitul Mal sebagaimana keadaannya pada zaman Rasulullah ﷺ." Perawi
berkata: Sejak saat itu, orang-orang pun merasa putus asa untuk bisa
mempertahankan harta yang diambil secara zalim (karena pasti akan diambil
kembali oleh Umar).
Kemudian beliau mengambil harta milik sekelompok orang dari
keturunan Bani Umayyah lalu mengembalikannya ke Baitul Mal, dan beliau
menamakannya sebagai harta kezaliman (amwal al-mazhalim). Orang-orang
Bani Umayyah tersebut meminta bantuan perantara masyarakat untuk membujuk Umar,
bahkan mereka menjadikan bibi Umar, yaitu Fatimah binti Marwan, sebagai utusan
mereka. Namun usaha itu sama sekali tidak membuahkan hasil bagi mereka, dan
tidak ada sesuatu pun yang dapat memalingkan Umar dari kebenaran.
Ibnu Katsir berkata: Beliau rahimahullah telah
bersungguh-sungguh di masa pemerintahannya yang singkat hingga berhasil
mengembalikan harta-harta yang diambil secara zalim, serta menyerahkan hak
kepada setiap pemiliknya. Setiap hari, petugas beliau selalu berseru: "Di
mana orang-orang yang terlilit utang? Di mana orang-orang yang ingin menikah?
Di mana orang-orang miskin? Di mana anak-anak yatim?" Sampai akhirnya
beliau berhasil mencukupi kebutuhan mereka semua.
Pernah suatu hari, seorang putra beliau yang masih kecil
pergi bermain bersama anak-anak lainnya, lalu salah seorang anak melukai
(merobek) dahi putra beliau tersebut. Orang-orang kemudian mengamankan anak
yang melukai putra khalifah tersebut dan membawanya menghadap Umar. Mendengar
suara riuh, Umar keluar menemui mereka. Tiba-tiba ada seorang wanita tua (ibu
dari anak tersebut) berkata dengan cemas: "Dia adalah anakku, dan dia
seorang anak yatim." Umar lalu bertanya kepada wanita itu: "Apakah
dia mendapatkan bagian santunan di lembaga diwan?" Wanita itu menjawab:
"Tidak." Umar berkata: "Kalau begitu, catatlah namanya ke dalam
daftar anak-anak penerima santunan."
Mendengar keputusan tersebut, istri Umar yang bernama
Fatimah berkata: "Semoga Allah membalas perbuatannya jika dia tidak
melukai anakmu untuk kedua kalinya!" Umar lalu berkata kepada istrinya:
"Celaka kamu, sesungguhnya kalian semua telah membuat anak yatim ini
ketakutan."
Para sejarawan menceritakan: Umar juga melonggarkan dan
memperluas nafkah (gaji) untuk para gubernur dan pegawainya. Beliau memberi
seseorang di antara mereka gaji sebesar seratus dinar hingga dua ratus dinar
setiap bulan. Beliau berijtihad bahwa jika kebutuhan hidup mereka telah
tercukupi, maka mereka akan fokus dan mencurahkan seluruh waktu untuk mengurus
urusan kaum muslimin.
Padahal, pendapatan beliau sendiri setiap tahunnya sebelum
menjabat sebagai khalifah mencapai empat puluh ribu dinar, namun beliau
meninggalkan itu semua hingga tidak ada lagi pendapatan yang tersisa bagi
beliau kecuali hanya empat ratus dinar saja setiap tahunnya. Bahkan, sisa uang
yang beliau miliki secara riil selama masa kekhalifahannya hanyalah tiga ratus
dirham.
Kezuhudan dan Sikap Wara'-Nya
Malik bin Dinar berkata: Orang-orang mengatakan bahwa Malik
adalah seorang yang zahid (ahli zuhud). Kezuhudan apa yang ada padaku!
Sesungguhnya orang yang zahid itu adalah Umar bin Abdul Aziz; dunia datang
kepadanya dalam keadaan menganga (siap memberikan segalanya), namun beliau
justru meninggalkannya.
Suatu hari, beliau menemui istrinya dan meminta sang istri
untuk meminjamkannya uang satu dirham atau beberapa keping fulus agar beliau
bisa membeli buah anggur. Namun, sang istri tidak mendapati sesuatu pun pada
dirinya, lalu berkata kepada Umar: "Engkau adalah Amirul Mukminin, tetapi
di dalam perbendaharaanmu tidak ada uang yang bisa digunakan untuk membeli
anggur?!" Umar menjawab: "Hal ini (menahan diri di dunia) jauh lebih
mudah daripada harus menghadapi belenggu-belenggu dan rantai-rantai siksaan
besok di dalam neraka Jahanam."
Beliau memiliki sebuah lampu minyak pribadi yang digunakan
saat menulis kebutuhan dirinya sendiri, dan sebuah lampu minyak milik Baitul
Mal yang digunakan saat menulis untuk kemaslahatan kaum muslimin. Beliau tidak
pernah menulis satu huruf pun untuk kepentingan pribadinya dengan menggunakan
cahaya lampu milik Baitul Mal tersebut.
Pernah ada seorang pria dari kalangan keluarganya
menghadiahi beliau buah apel. Beliau mencium aroma apel tersebut, kemudian
mengembalikannya lagi bersama sang utusan seraya berkata: "Katakan
kepadanya bahwa hadiahmu telah sampai pada tempatnya (maksudnya beliau
menghargai niatnya tetapi menolak fisiknya)."
Seorang pria lalu bertanya kepada beliau: "Wahai Amirul
Mukminin, sesungguhnya Rasulullah ﷺ dahulu selalu menerima hadiah, dan pria ini adalah salah
seorang dari anggota keluargamu." Umar menjawab: "Sesungguhnya hadiah
bagi Rasulullah ﷺ
adalah benar-benar sebuah hadiah, sedangkan bagi kami (para penguasa setelah
beliau), hadiah itu adalah suap."
Muqatil bin Hayyan menceritakan: Aku pernah shalat di
belakang Umar bin Abdul Aziz, lalu beliau membaca ayat:
وَقِفُوهُمْ
ۖ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
"Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian), karena
sesungguhnya mereka akan ditanya." (QS. Ash-Shaffat: 24)
Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut dan tidak sanggup
untuk melanjutkannya ke ayat berikutnya (karena menangis).
Beliau tidak pernah membangun satu bangunan pun selama
hari-hari kekhalifahannya. Beliau selalu melayani dirinya sendiri tanpa bantuan
pelayan, dan beliau pernah berkata: "Tidaklah aku meninggalkan sesuatu pun
dari perkara dunia, melainkan Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang
jauh lebih baik darinya."
Beliau juga selalu memakan makanan yang kasar, tidak peduli
dengan segala macam bentuk kemewahan, tidak membiarkan jiwanya mengejar
kemewahan tersebut, dan tidak pula menginginkannya.
Sikapnya terhadap Para Penyair
Hammad ar-Rawiyah meriwayatkan dari Kuthayyir 'Azzah, ia
berkata:
"Aku, al-Ahwas, dan Nusaib pergi menemui Umar bin Abdul
Aziz ketika beliau menjabat sebagai khalifah. Kami mengandalkan hubungan
persahabatan dan kebersamaan kami dengan beliau sewaktu beliau masih di
Madinah. Kami pun menempuh perjalanan dengan perasaan bangga di atas tunggangan
kami. Ketika kami sampai di Khunasirah dan tanda-tanda wilayahnya mulai
terlihat, kami bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik. Ia bertanya, 'Apa yang
membawa kalian ke sini?' "
"Apakah kalian tidak tahu bahwa sahabat kalian (Umar
bin Abdul Aziz) tidak menyukai puisi?' "
Kuthayyir berkata: "Kami pun terdiam seribu bahasa
mendengar hal itu. Maslamah lalu menjamu kami di tempatnya, menanggung biaya
hidup kami, dan memberi makan tunggangan kami. Kami tinggal di sana selama
empat bulan, dan ia tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk memohonkan izin
bagi kami agar bisa menemui Umar. Pada suatu hari Jumat, aku mendekati Umar
untuk mendengarkan khotbahnya dan berniat mengucapkan salam kepadanya setelah
salat. Aku mendengarnya berkata dalam khotbahnya: "
'Setiap perjalanan pasti membutuhkan bekal. Maka berbekallah
untuk perjalanan kalian dari dunia menuju akhirat dengan takwa. Jadilah seperti
orang yang menyaksikan langsung azab dan pahala yang telah Allah siapkan,
sehingga kalian memiliki rasa harap dan cemas. Jangan sampai waktu yang panjang
membuat hati kalian membatu sehingga kalian tunduk kepada musuh kalian. Demi
Allah, tidaklah panjang angan-angan orang yang tidak tahu apakah ia masih hidup
di waktu sore setelah paginya, atau hidup di waktu pagi setelah sorenya. Boleh
jadi, di antara waktu tersebut maut menjemputnya secara tiba-tiba. Sesungguhnya
ketenangan hanyalah milik orang yang yakin akan keselamatan dari azab Allah dan
kedahsyatan hari kiamat.' Kemudian beliau menangis hingga kami mengira beliau
akan mengembuskan napas terakhirnya. Suasana masjid dan sekitarnya pun
bergemuruh oleh suara tangisan dan rintapan.
Kuthayyir berkata: "Aku lalu kembali kepada kedua
sahabatku dan berkata, '...Dia adalah orang yang fokus pada akhirat, bukan
orang yang mengejar dunia.' "
Ia melanjutkan: "Kemudian Maslamah memohonkan izin bagi
kami untuk menemuinya pada hari Jumat. Ketika kami masuk, aku mengucapkan salam
kepadanya, lalu berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, masa tinggal kami sudah
terlalu lama, sementara hasil yang didapat sangat sedikit, dan utusan-utusan
Arab mulai membicarakan sikap dinginmu kepada kami.' "
Umar lalu menjawab:
﴿إِنَّمَا
الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ...﴾
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin...” (QS. At-Taubah: 60) — beliau membaca ayat tersebut —
"Jika kalian termasuk golongan mereka, aku akan memberikannya kepada
kalian. Jika tidak, maka kalian tidak memiliki hak sama sekali atas harta
ini."
Aku berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku
adalah orang miskin, musafir, dan kehabisan bekal." Beliau bertanya,
"Bukankah kalian bertamu di tempat Abu Said (yaitu Maslamah bin Abdul
Malik)?" Kami menjawab, "Benar." Beliau bersabda,
"Sesungguhnya tidak ada istilah kehabisan bekal bagi orang yang bertamu di
tempat Abu Said."
Aku berkata, "Izinkan aku wahai Amirul Mukminin untuk
melantunkan syair." Beliau menjawab, "Boleh, dan jangan berkata
kecuali yang benar." Maka aku melantunkan sebuah qasidah pujian untuknya:
وَلَيْتَ
فَلَمْ تَشْتِمْ عَلِيًّا وَلَمْ تُخِفْ بَرِيًّا وَلَمْ تَقْبَلْ إِشَارَةَ
مُجْرِمِ
Engkau memimpin namun tidak mencaci Ali, tidak menakuti
orang yang tak bersalah, dan tidak menerima bisikan orang yang berdosa.
وَصَدَّقْتَ
بِالْفِعْلِ الْمَقَالَ مَعَ الَّذِي أَتَيْتَ فَأَمْسَى رَاضِيًا كُلُّ مُسْلِمٍ
Engkau membuktikan ucapanmu dengan perbuatan nyata,
sehingga setiap muslim kini merasa rida.
وَقَدْ
لَبِسَتْ تَسْعَى إِلَيْكَ ثِيَابُهَا تَرَاءَى لَكَ الدُّنْيَا بِكَفِّ
وَمِعْصَمِ
Dunia telah bersolek dan datang berlari menuju kepadamu,
menampakkan dirinya lewat telapak dan pergelangan tangan.
وَتُومِضُ
أَحْيَانًا بِعَيْنِ مَرِيضَةٍ وَتَبْسِمُ عَنْ مِثْلِ الْجُمَانِ الْمُنَظَّمِ
Terkadang ia mengerlingkan matanya yang manja, dan
tersenyum memperlihatkan gigi bagai mutiara yang tersusun rapi.
فأَعْرَضْتَ
عَنْهَا مُشْمَئِزًا كَأَنَّمَا سَقَتْكَ مَدُوفًا مِنْ سِمَامٍ وَعَلْقَمِ
Namun engkau berpaling darinya dengan rasa muak,
seolah-olah ia menuangkan racun dan empedu yang pekat untukmu.
وَمَا
زِلْتَ تَوَّاقًا إِلَى كُلِّ غَايَةٍ بَلَغْتَ بِهَا أَعْلَى الْبِنَاءِ
الْمُقَدَّمِ
Engkau selalu merindukan setiap puncak kemuliaan, hingga
engkau berhasil mencapai kedudukan bangunan tertinggi yang terhormat.
فَلَمَّا
أَتَاكَ الْمُلْكُ عَفْوًا وَلَمْ تَكُنْ لِطَالِبِ دُنْيَا بَعْدَهُ فِي
تَكَلُّمِ
Maka ketika kekuasaan itu datang kepadamu tanpa kau
minta, engkau tidak lagi membicarakan dunia setelahnya.
تَرَكْتَ
الَّذِي يَفْنَى وَإِنْ كَانَ مُونِقًا وَآثَرْتَ مَا يَبْقَى بِرَأْيِ مُصَمِّمِ
Engkau tinggalkan apa yang fana meskipun tampak indah,
dan engkau utamakan apa yang kekal dengan ketetapan hati yang bulat.
وَمَا
لَكَ إِذْ كُنْتَ الْخَلِيفَةَ مَانِعُ سِوَى اللَّهِ مِنْ مَالِ رَغِيبٍ وَلَا
دَمِ
Ketika engkau menjadi khalifah, tidak ada yang
menghalangimu selain Allah, baik dari mengambil harta orang yang tamak maupun
menumpahkan darah.
فَمَا
بَيْنَ شَرْقِ الْأَرْضِ وَالْغَرْبِ كُلِّهَا مُنَادٍ يُنَادِي مِنْ فَصِيحٍ
وَأَعْجَمِ
Maka tidak ada di antara ujung timur bumi dan baratnya,
seorang penyeru pun yang berseru, baik yang fasih maupun yang ajam (non-Arab),
يَقُولُ
أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ظَلَمْتَنِي بِأَخْذِكَ دِينَارِي وَلَا أَخْذِ دِرْهَمِي
Yang mengatakan: "Amirul Mukminin telah menzalimiku
karena mengambil satu dinarku atau sepeser dirhamku."
وَلَوْ
يَسْتَطِيعُ الْمُسْلِمُونَ لَقَسَّمُوا لَكَ الشَّطْرَ مِنْ أَعْمَارِهِمْ غَيْرَ
نُدَّمِ
Seandainya kaum muslimin mampu, niscaya mereka akan
membagi setengah dari umur mereka untukmu tanpa ada rasa penyesalan.
Kuthayyir berkata: Umar bin Abdul Aziz lalu memandangku dan
berkata, "Sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentang
ucapanmu ini pada hari kiamat."
Kemudian al-Ahwas meminta izin kepada beliau dan melantunkan
qasidah yang lain, lalu Umar berkata, "Sesungguhnya engkau akan dimintai
pertanggungjawaban tentang ucapanmu ini pada hari kiamat."
Setelah itu Nusaib meminta izin kepada beliau, namun Umar
tidak mengizinkannya. Beliau kemudian memerintahkan agar masing-masing dari
mereka diberi seratus lima puluh dirham saja.
Al-Haitsam bin Adi meriwayatkan dari Awanah bin al-Hakam, ia
berkata: Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penyair
datang berbondong-bondong menemui beliau. Mereka tinggal di depan pintunya
selama berhari-hari tanpa diizinkan masuk dan tanpa dipedulikan sama sekali.
Hal itu membuat mereka merasa sedih dan berniat untuk pulang kembali ke negeri
mereka. Kebetulan, Raja' bin Haiwah lewat di depan mereka, lalu Jarir
menyapanya seraya bersyair:
يَا
أَيُّهَا الرَّجُلُ الْمُرْخِي عِمَامَتَهُ هَذَا زَمَانُكَ فَاسْتَأْذِنْ لَنَا
عُمَرَا
Wahai pria yang menjulurkan sorbannya, inilah saat
kejayaanmu, maka mintakanlah izin bagi kami untuk menemui Umar.
Namun Raja' masuk dan sama sekali tidak menyebutkan urusan
mereka kepada Umar.
Kemudian Adi bin Artha'ah lewat di depan mereka, lalu Jarir
melantunkan syair kepadanya:
يَا
أَيُّهَا الرَّاكِبُ الْمُزْجِي مَطِيَّتَهُ هَذَا زَمَانُكَ إِنِّي قَدْ مَضَى
زَمَنِي
Wahai pengendara yang memacu tunggangannya, inilah
zamanmu, sementara zamanku telah berlalu.
أَبْلِغْ
خَلِيفَتَنَا إِنْ كُنْتَ لَاقِيَهُ أَنِّي لَدَى الْبَابِ كَالْمَصْفُودِ فِي
قَرَنِ
Sampaikanlah kepada khalifah kita jika engkau menemuinya,
bahwa aku di depan pintu ini bagaikan tawanan yang terikat rantai.
لَا
تَنْسَ حَاجَتَنَا لَاقَيْتَ مَغْفِرَةٌ قَدْ طَالَ مُكْثِيَ عَنْ أَهْلِي وَعَنْ
وَطَنِي
Jangan lupakan kebutuhan kami—semoga engkau mendapat
ampunan—sungguh telah lama aku terpisah dari keluarga dan tanah airku.
Maka Adi menemui Umar bin Abdul Aziz dan berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, para penyair telah berada di
depan pintumu, anak panah mereka sangat beracun (tajam kritiknya), dan
ucapan-ucapan mereka sangat menusuk." Umar menjawab, "Celaka engkau,
wahai Adi! Apa urusanku dengan para penyair?"
Adi berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya
Rasulullah ﷺ
dahulu pernah mendengarkan syair dan memberikan imbalan atasnya. Al-Abbas bin
Mirdas pernah melantunkan syair pujian di hadapan beliau, lalu beliau
memberinya sehelai pakaian indah."
Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau menghafal bait
syairnya?" Adi menjawab, "Ya." Lalu ia melantunkannya:
رَأَيْتُكَ
يَا خَيْرَ الْبَرِيَّةِ كُلِّهَا نَشَرْتَ كِتَابًا جَاءَ بِالْحَقِّ مُعْلَمَا
Aku melihatmu, wahai sebaik-baik seluruh makhluk, engkau
membentangkan kitab yang membawa kebenaran sebagai tanda yang jelas.
شَرَعْتَ
لَنَا دِينَ الْهُدَى بَعْدَ جَوْرِنَا عَنِ الْحَقِّ لَمَّا أَصْبَحَ الْحَقُّ
مُظْلِمَا
Engkau syariatkan bagi kami agama petunjuk setelah kami
menyimpang dari kebenaran, di saat kebenaran itu tampak gelap gulita.
وَنَّوَرْتَ
بِالْبُرْهَانِ أَمْرًا مُدَلَّسًا وَأَطْفَأْتَ بِالْقُرْآنِ نَارًا تَضَرَّمَا
Engkau terangi urusan yang samar dengan bukti yang nyata,
dan engkau padamkan api fitnah yang berkobar dengan Al-Qur'an.
فَمَنْ
مُبْلِغُ عَنِّي النَّبِيَّ مُحَمَّدًا أَقَمْتَ سَبِيلَ الْحَقِّ بَعْدَ
اعْوِجَاجِهِ Maka siapakah yang akan menyampaikan pesanku kepada Nabi
Muhammad? Engkau telah menegakkan jalan kebenaran setelah kebengkokannya.
وَكُلُّ
امْرِئٍ يُجْزَى بِمَا كَانَ قَدَّمَا وَكَانَ قَدِيمًا رُكْنُهُ قَدْ تَهَدَّمَا
Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang
telah ia lakukan, sementara dahulu pilar kebenaran itu telah runtuh.
تَعَالَى
عُلُوًّا فَوْقَ عَرْشِ إِلَهُنَا وَكَانَ مَكَانُ اللَّهِ أَعْلَى وَأَعْظَمَا
Maha Tinggi Tuhan kami di atas Arsy-Nya, dan kedudukan
Allah senantiasa Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Mendengar hal itu, Umar berkata, "Celaka engkau, wahai
Adi! Siapa saja yang ada di depan pintu?"
Adi menjawab, "Umar bin Abi Rabi'ah, Hammam bin Ghalib
(yakni Al-Farazdaq), Al-Akhtal, dan Jarir." Umar berkata, "Jika
memang harus, maka izinkanlah Jarir." Maka Jarir pun diizinkan masuk, dan
ia masuk seraya melantunkan bait syair:
إِنَّ
الَّذِي بَعَثَ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا جَعَلَ الْخِلَافَةَ لِلْإِمَامِ الْعَادِلِ
Sesungguhnya Dzat yang mengutus Nabi Muhammad, telah
menetapkan kekhalifahan ini untuk pemimpin yang adil.
وَسِعَ
الْخَلَائِقَ عَدْلُهُ وَوَفَاؤُهُ حَتَّى ارْعَوى وَأَقَامَ مَيْلَ الْمَائِلِ
Keadilan dan kesetiaannya meliputi seluruh makhluk,
hingga orang yang menyimpang kembali sadar dan tegaklah yang bengkok.
إِنِّي
لَأَرْجُوَ مِنْكَ خَيْرًا عَاجِلًا وَالنَّفْسُ مُولَعَةٌ بِحُبِّ الْعَاجِلِ
Sesungguhnya aku sangat mengharapkan kebaikan yang segera
darimu, sementara jiwa manusia memang sangat menyukai hal yang bersegera.
Umar lalu berkata kepadanya, "Celaka engkau, wahai
Jarir! Bertakwalah kepada Allah atas apa yang kau ucapankan."
Kemudian Jarir meminta izin kepada Umar untuk melantunkan
syairnya yang penuh. Umar tidak mengizinkannya namun tidak pula melarangnya.
Maka Jarir pun melantunkan sebuah qasidah panjang yang berisi pujian untuk
beliau. Setelah selesai, Umar berkata kepadanya, "Celaka engkau, wahai
Jarir! Aku tidak melihat dirimu memiliki hak sedikit pun atas harta ini."
Jarir menjawab, "Sesungguhnya aku adalah orang miskin dan seorang
musafir."
Umar berkata, "Sesungguhnya ketika kami diserahi urusan
(kekhalifahan) ini, kami hanya memiliki uang sebesar tiga ratus dirham saja.
Ummu Abdullah (istri Umar) mengambil seratus dirham, putranya mengambil seratus
dirham, dan sekarang tersisa seratus dirham lagi."
Beliau pun memerintahkan agar sisa seratus dirham itu
diberikan kepada Jarir.
Setelah itu, Jarir keluar menemui para penyair lainnya.
Mereka bertanya, "Kabar apa yang engkau bawa, wahai Jarir?"
Jarir menjawab, "Kabar yang buruk bagi kalian! Aku baru
saja keluar dari hadapan Amirul Mukminin, dia adalah orang yang memberi kepada
orang-orang miskin dan menolak para penyair, namun sungguh aku rida
kepadanya."
Kemudian ia mulai bersyair:
رَأَيْتُ
رُقَى الشَّيْطَانِ لَا تَسْتَفِزُّهُ وَقَدْ كَانَ شَيْطَانِي مِنَ الْجِنِّ
رَاقِيَا
Aku melihat bahwa jampi-jampi setan tidak mampu
menggoyahkannya, padahal setanku dari golongan jin adalah ahli jampi yang
ulung.
Wafatnya Beliau Semoga Allah Merahmatinya
Penyebab wafatnya beliau adalah penyakit TBC. Ada pula yang
mengatakan bahwa penyebabnya adalah seorang budak miliknya telah meracuninya
melalui makanan atau minuman, dan budak tersebut diberi imbalan seribu dinar
untuk melakukan hal itu.
Akibat kejadian tersebut, beliau jatuh sakit. Ketika
diberitahu bahwa dirinya telah diracun, beliau berkata: "Sungguh, aku
sudah mengetahui hari di saat aku diberi minum racun itu."
Beliau kemudian memanggil budak yang telah memberi minum
racun tersebut, lalu bertanya kepadanya: "Celaka engkau, apa yang
mendorongmu melakukan perbuatan ini?" Budak itu menjawab: "Uang
seribu dinar yang diberikan kepadaku."
Beliau berkata: "Bawa ke mari uang itu!" Setelah
uang itu dibawa, beliau memasukkannya ke dalam Baitul Mal. Kemudian beliau
berkata kepada budak tersebut: "Pergilah ke tempat di mana tidak ada
seorang pun yang melihatmu, agar engkau tidak celaka."
Ketika sakitnya semakin parah, dikatakan kepada beliau:
"Mereka ini adalah anak-anakmu—yang berjumlah dua belas orang—apakah
engkau tidak ingin mewasiatkan sesuatu untuk mereka? Karena sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang miskin."
Beliau menjawab:
﴿إِنَّ
وَلِيَّ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَبَ وَهُ _وَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ﴾
“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah
menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-A'raf: 196)
"Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepada mereka
apa yang menjadi hak orang lain. Keadaan mereka berada di antara dua pilihan :
bisa jadi mereka menjadi orang yang saleh, maka Allah-lah yang melindungi
orang-orang saleh ; atau mereka menjadi orang yang tidak saleh, maka aku tidak
sudi membantu mereka dalam berbuat kefasikan." Setelah itu, beliau
memanggil anak-anaknya, lalu mengucapkan selamat tinggal, menghibur mereka
dengan nasihat ini, serta memberikan wasiat kepada mereka. Kemudian beliau
berkata: "Pergilah kalian, semoga Allah menjaga kalian dan memberikan
pengganti pemimpin yang baik untuk kalian."
Perawi kisah ini berkata: "Sungguh, kami kemudian
melihat sebagian anak Umar bin Abdul Aziz mampu menyumbangkan delapan puluh
ekor kuda untuk perjuangan di jalan Allah. Sementara itu, sebagian anak
Sulaiman bin Abdul Malik—meskipun sang ayah meninggalkan harta yang melimpah
untuk mereka—justru hidup luntang-lantung dan meminta-minta kepada anak-anak
Umar bin Abdul Aziz. Hal itu terjadi karena Umar memasrahkan anak-anaknya
kepada Allah Azza wa Jalla , sedangkan Sulaiman dan yang lainnya hanyalah memasrahkan
anak-anak mereka kepada harta benda dunia yang akan sirna. Akibatnya, mereka
terlantar dan harta mereka habis tersedot untuk melayani hawa nafsu anak-anak
mereka."
Para sejarawan mengatakan: Beliau wafat di Khunasirah ,
bagian dari wilayah Dair Sim'an di tanah Hims pada hari Kamis —ada yang
mengatakan hari Jumat —ketika bulan Rajab tersisa lima hari , pada tahun 101
Hijriah. Masa sakit beliau berlangsung selama dua puluh hari. Umur beliau pada
hari wafatnya adalah tiga puluh sembilan tahun beberapa bulan , sedangkan masa
kekhalifahannya berlangsung selama dua tahun, lima bulan, dan empat hari.
Ketika detik-detik kematiannya tiba, beliau berkata:
"Dudukkanlah aku!" Orang-orang di sekitarnya pun mendudukkannya.
Beliau lalu berucap: "Ya Tuhanku, Akulah orang yang Engkau perintah namun
aku banyak melalaikannya, dan Engkau larang namun aku sempat
mendurhakainya," beliau mengucapkannya tiga kali, "akan tetapi, tidak
ada sembahan yang berhak disembah selain Allah."
Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan menajamkan
pandangannya, lalu beliau wafat pada saat itu juga. Telah diriwayatkan bahwa
ukiran pada cincin stempel beliau adalah kalimat: Lailaha illallah wahdahu
la syarika lah (Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah
semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), dan dalam riwayat lain ukirannya berbunyi: Amantu
billah (Aku beriman kepada Allah).
Kekhalifahannya
Pembaiatannya sebagai Khalifah
Beliau dibaiat sebagai khalifah pada hari Jumat, sepuluh
hari setelah bulan Safar—ada yang mengatakan ketika Safar tersisa beberapa
hari—pada tahun 99 Hijriah , yaitu pada hari wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik
berdasarkan wasiat darinya.
Raja' bin Haiwah menceritakan: "Aku membacakan surat
wasiat Sulaiman kepada para pangeran dari Bani Marwan. Begitu aku sampai pada
penyebutan nama Umar bin Abdul Aziz, wajah-wajah Bani Marwan langsung berubah.
Namun ketika aku melanjutkan membaca bagian: 'Dan sesungguhnya Yazid bin Abdul
Malik menjadi khalifah setelahnya,' mereka menjadi agak tenang kembali.
Orang-orang pun segera beranjak menuju Umar bin Abdul Aziz yang saat itu berada
di bagian belakang masjid. Ketika beliau menyadari hal tersebut, beliau
berucap: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami milik
Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
Kedua kaki beliau sampai tidak kuat menopang tubuhnya hingga
orang-orang harus memegang kedua lengannya untuk membantu beliau naik ke atas
mimbar. Setelah berada di atas mimbar, beliau terdiam sejenak.
Raja' bin Haiwah melanjutkan: "Aku lalu berseru kepada
hadirin: 'Mengapa kalian tidak segera bangkit menuju Amirul Mukminin untuk
membaiatnya?' Maka orang-orang pun bangkit dan langsung membaiat beliau."
Setelah itu, beliau berdiri dan menyampaikan khotbah di
hadapan manusia dengan khotbah yang sangat menyentuh dan fasih. Di antara
kalimat yang beliau sampaikan dalam khotbahnya adalah:
"Wahai sekalian manusia: Aku bukanlah orang yang
membuat ajaran baru (bid'ah), melainkan aku hanyalah seorang pengikut ajaran
yang telah ada (muttabi'). Sesungguhnya orang-orang di sekitar kalian dari
berbagai pelosok daerah dan kota, jika mereka taat sebagaimana kalian telah
taat, maka aku adalah pemimpin kalian. Namun jika mereka menolak, maka aku
bukanlah pemimpin bagi kalian."
Beliau kemudian turun dari mimbar. Setelah itu, orang-orang
mulai mengurus jenazah Sulaiman.
Al-Auza'i menceritakan: "Mereka belum selesai
mengurusnya hingga masuk waktu magrib. Umar lalu mengimami orang-orang untuk
salat magrib, kemudian beliau menyalatkan jenazah Sulaiman, dan proses
pemakaman selesai setelah magrib."
Begitu selesai dari pemakaman, kendaraan dinas kemegahan
kekhalifahan didekatkan kepada Umar, namun beliau menolak untuk menungganginya.
Beliau memilih menunggangi hewan tunggangannya sendiri, lalu berjalan bersama
masyarakat hingga sampai di kota Damaskus. Orang-orang mengarahkannya menuju
istana kekhalifahan, namun beliau menolak dan berkata: "Aku tidak akan
tinggal kecuali di rumahku sendiri sampai rumah Abu Ayyub kosong." Sikap
bersahaja beliau ini dinilai sangat mulia oleh masyarakat.
Umar kemudian memanggil seorang sekretaris, lalu beliau
mulai mendiktekan naskah surat pembaiatan yang akan dikirimkan ke berbagai
wilayah.
Raja' berkata: "Aku belum pernah melihat orang yang
lebih fasih gaya bahasanya daripada beliau."
Tanda-tanda sifat wara', ketaatan beragama, hidup sederhana,
menjaga diri dari hal syubhat, serta kesucian jiwa telah tampak jelas pada diri
beliau sejak gerakan pertama yang beliau tunjukkan , yaitu ketika beliau dengan
tegas berpaling dan menolak untuk menunggangi kendaraan dinas kemegahan
kekhalifahan.
Beliau juga pernah berkhotbah di hadapan manusia dan
menyampaikan dalam khotbahnya tersebut:
"Wahai sekalian manusia: Sesungguhnya aku memiliki jiwa
yang penuh dengan cita-cita tinggi (jiwa yang selalu merindukan kemuliaan).
Tidaklah jiwa ini diberikan sesuatu melainkan ia akan mendambakan hal lain yang
lebih tinggi darinya. Dan sesungguhnya, ketika aku telah diberikan jabatan
kekhalifahan ini, jiwaku kini mendambakan sesuatu yang jauh lebih tinggi
darinya, yaitu surga. Oleh karena itu, bantulah aku untuk meraihnya, semoga
Allah merahmati kalian."
Bab Kedua: Amal Perbuatan dan Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya
Perintahnya untuk Menarik Kembali Pasukan yang Mengepung
Konstantinopel
Di antara tindakan cepat yang dilakukan oleh Umar pada tahun
99 H adalah mengirim utusan kepada Maslamah bin Abdul Malik dan para muslimin
yang bersamanya di negeri Romawi saat mengepung Konstantinopel, di mana kondisi
mereka saat itu sudah sangat sulit dan ruang gerak mereka pun semakin sempit.
Maka Umar menulis surat kepada mereka yang isinya
memerintahkan agar mereka kembali ke Syam ke rumah mereka masing-masing. Umar
juga mengirimkan banyak makanan dan kuda-kuda pilihan yang banyak jumlahnya,
dikatakan sekitar 500 ekor kuda, sehingga orang-orang pun merasa gembira dengan
hal tersebut.
Menghalau Serangan Bangsa Turki di Azerbaijan
Pada tahun 99 H, bangsa Turki melancarkan serangan ke
Azerbaijan dan membunuh banyak sekali umat Islam. Maka Umar bin Abdul Aziz
mengutus Hatim bin Al-Nu'man Al-Bahili untuk menghadapi mereka. Hatim berhasil
menumpas orang-orang Turki tersebut hingga tidak ada yang lolos kecuali
sedikit, dan ia mengirimkan tawanan dari mereka kepada Umar yang saat itu
berada di Khunasirah.
Perintahnya untuk Menunaikan Salat Tepat pada Waktunya
Ibnu Asakir meriwayatkan dalam biografi Hariz bin Utsman
Al-Rahbi Al-Himsi, ia berkata: "Saya melihat para muazin Umar bin Abdul
Aziz mengucapkan salam kepadanya untuk urusan salat: 'Semoga keselamatan,
rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Mari
menuju salat, mari menuju kemenangan, waktu salat telah dekat.'"
Dan termasuk salah satu kebaikan Sulaiman bin Abdul Malik
adalah ia mengembalikan pelaksanaan salat ke awal waktunya, berbeda dengan
orang-orang sebelum dirinya, lalu hal ini diteruskan oleh Umar bin Abdul Aziz.
Keluarnya Sekelompok Kaum Khawarij
Pada tahun 100 H, sekelompok kaum Khawarij dari golongan
Haruriyah memberontak di Irak. Maka Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz
mengirim surat kepada Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab,
wakil gubernur Kufah, memerintahkannya untuk menyeru mereka kepada kebenaran,
bersikap lemah lembut kepada mereka, dan tidak memerangi mereka sampai mereka
membuat kerusakan di bumi. Namun ketika mereka tetap melakukan kerusakan, Umar
mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, tetapi pasukan tersebut dikalahkan
oleh kaum Haruriyah. Umar pun menyuratinya dan menegurnya atas kekalahan
pasukannya tersebut. Kemudian Umar mengutus sepupunya, Maslamah bin Abdul
Malik, dari wilayah Jazirah untuk memerangi mereka, dan Allah memberikan
kemenangan kepadanya atas mereka.
Dialog (Debat) Umar dengan Kaum Khawarij
Umar mengirim pesan kepada pemimpin kaum Khawarij yang
bernama Bistham, dengan mengatakan kepadanya: "Apa yang membuatmu
memberontak melawanku? Jika kamu keluar karena marah demi Allah, maka aku lebih
berhak untuk itu daripada kamu, dan kamu tidak lebih utama dalam hal itu
dariku. Kemarilah, mari kita berdialog. Jika kamu melihat sebuah kebenaran pada
diriku, maka ikutilah ia, dan jika kamu memaparkan sebuah kebenaran, kami akan
mempertimbangkannya."
Maka Bistham mengirim sekelompok sahabatnya kepada Umar,
lalu Umar memilih dua orang pria dari mereka dan bertanya kepada keduanya:
"Apa yang kalian benci (dari pemerintahanku)?" Kedua orang itu
menjawab: "Keputusanmu yang mengangkat Yazid bin Abdul Malik sebagai
khalifah setelahmu."
Umar menjawab: "Sesungguhnya bukan aku yang
mengangkatnya, melainkan orang lain (khalifah sebelumku) yang
menetapkannya." Kedua orang itu bertanya lagi: "Lalu bagaimana bisa
kamu rida dia menjadi pemimpin yang tepercaya bagi umat setelahmu?"
Umar berkata: "Berilah aku waktu tiga hari." Maka
dikatakan bahwa Bani Umayyah kemudian menyusupkan racun kepadanya (Umar) lalu
membunuhnya; karena mereka takut kekuasaan akan keluar dari tangan mereka dan
Umar akan menghalangi mereka dari harta kekayaan. Wallahu a'lam (Dan Allah
lebih mengetahui).
Namun, surat-menyurat Umar bin Abdul Aziz untuk menasihati
dan berdialog dengan mereka adalah perkara yang tetap dan sahih.
Umar telah menjelaskan kepada mereka tentang kebodohan
mereka terhadap Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah, dan bahwa karena kebodohan
itulah orang yang merasa takut di masa Rasulullah ﷺ justru merasa aman di tempat mereka, dan
orang yang merasa aman justru ketakutan di tempat mereka... Umar berkata kepada
salah seorang dari mereka:
"Celaka kamu! Sesungguhnya kalian adalah kaum yang
bodoh. Kalian menginginkan suatu perkara namun kalian salah dalam caranya.
Kalian menerima dari manusia apa yang ditolak oleh Rasulullah ﷺ, dan kalian menolak
dari mereka apa yang diterima oleh beliau. Orang yang ketakutan di masa
Rasulullah ﷺ
merasa aman di tempat kalian, dan orang yang aman justru ketakutan di tempat
kalian. Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah ﷺ diutus kepada manusia saat mereka
menyembah berhala, lalu beliau menyeru mereka untuk meninggalkan
berhala-berhala dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah. Barangsiapa yang melakukannya, maka terjagalah
darahnya dan ia merasa aman di sisi beliau serta menjadi bagian dari kaum
muslimin, dan barangsiapa yang menolak, beliau memeranginya."
Maka kedua pria itu pun mengakuinya. Umar berkata:
"Bukankah kalian hari ini berlepas diri dari orang yang telah meninggalkan
berhala dan orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, bahkan kalian melaknatnya, membunuhnya,
menghalalkan darahnya, sementara kalian membiarkan orang yang menolak hal
tersebut dari umat-umat lainnya seperti Yahudi dan Nasrani sehingga kalian
mengharamkan darahnya dan ia merasa aman di tempat kalian?"
Beliau telah mendebat mereka dengan ilmu dan fikih sehingga
tidak menyisakan argumen lagi bagi mereka. Dalam hal ini, beliau meneladani
metode orang yang mendahuluinya, yaitu Khalifah yang Terbimbing Ali bin Abi
Thalib dan Abdullah bin Abbas, sang penerjemah Al-Qur'an dan ahli fikih umat
ini.
Perang Syaifah (Perang Musim Panas)
Pada tahun 100 H, Umar bin Al-Walid bin Hisyam Al-Mu'aithi
dan Amru bin Qais Al-Kindi, yang merupakan penduduk Himsh, memimpin Perang
Syaifah (ekspedisi militer di musim panas).
Penangkapan Yazid bin Al-Muhallab dan Penyerahannya
kepada Umar bin Abdul Aziz
Pada tahun 100 H, Yazid bin Al-Muhallab dibawa dari Irak ke
hadapan Umar bin Abdul Aziz. Ia dikirim oleh Adi bin Artha'ah, wakil gubernur
Basrah, setelah sebelumnya Yazid menunjukkan pembangkangan bersama Musa bin
Wajih. Umar sendiri membenci Yazid bin Al-Muhallab dan keluarganya, dan beliau
sering berkata: "Mereka adalah orang-orang yang sombong (diktator) dan aku
tidak menyukai orang-orang seperti mereka."
Ketika Yazid masuk menemui Umar, Umar menuntut harta
kekayaan yang ada pada dirinya, yang dulu pernah ia tulis dalam surat kepada
Sulaiman bahwa harta tersebut ada padanya. Yazid berkata: "Sesungguhnya
aku menulis surat itu hanya untuk menakut-nakuti musuh saja, dan tidak ada
apa-apa antara aku dan Sulaiman, dan kamu pun tahu kedudukanku di
sisinya."
Umar berkata kepadanya: "Aku tidak mau mendengar alasan
ini darimu, dan aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu mengembalikan harta
kaum muslimin." Lalu Umar memerintahkan agar ia dipenjara.
Kemudian anak Yazid yang bernama Makhlad bin Yazid bin
Al-Muhallab datang menemui Umar bin Abdul Aziz dan berkata: "Wahai Amirul
Mukminin, sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan karunia kepada
umat ini dengan kepemimpinanmu atas mereka, maka janganlah jadikan kami orang
yang paling sengsara karenamu. Atas dasar apa engkau menahan orang tua ini,
sementara aku bersedia menanggung apa yang engkau sepakati denganku sebagai
gantinya?"
Umar menjawab: "Aku tidak akan berdamai dengannya
kecuali jika kamu melunasi seluruh apa yang dituntut darinya."
Makhlad berkata: "Wahai Amirul Mukminin, jika engkau
memiliki bukti atas apa yang engkau tuduhkan kepadanya, tunjukkanlah. Jika
tidak, maka terimalah sumpahnya, atau berdamailah denganku untuk
menyelesaikannya."
Umar menegaskan: "Aku tidak akan mengambil darinya
kecuali seluruh harta yang ada padanya." Maka Makhlad bin Yazid keluar
dari hadapan Umar, dan tidak lama kemudian Makhlad meninggal dunia. Umar pun
pernah berkata tentangnya: "Dia lebih baik daripada ayahnya."
Kemudian Umar memerintahkan agar Yazid bin Al-Muhallab
dipakaikan jubah dari wol kasar, dinaikkan ke atas unta, dan dibawa ke Pulau
Dahlak, tempat yang biasa digunakan untuk mengasingkan orang-orang fasik. Namun
orang-orang memberikan syafaat (pembelaan) untuknya, sehingga Umar
mengembalikannya ke dalam penjara. Ia terus berada di sana sampai Umar jatuh
sakit yang membawa pada kematiannya pada tahun 101 H. Yazid pun melarikan diri
dari penjara karena ia tahu bahwa Umar akan wafat dalam sakitnya tersebut, dan
saya mengira ia mengetahui bahwa Umar telah diberi minum racun.
Pemecatan Gubernur Khurasan karena Memungut Jizyah dari
Orang yang Masuk Islam
Pada tahun 100 H di bulan Ramadan, Umar bin Abdul Aziz
memecat Al-Jarrah bin Abdullah Al-Hakami dari jabatan gubernur Khurasan setelah
menjabat selama satu tahun lima bulan. Umar memecatnya tidak lain karena ia
tetap memungut jizyah (pajak perlindungan) dari orang-orang kafir yang telah
masuk Islam, dengan dalih berkata kepada mereka: "Kalian masuk Islam
hanyalah untuk lari dari membayar jizyah."
Akibat tindakan tersebut, orang-orang enggan masuk Islam,
tetap bertahan pada agama mereka, dan memilih membayar jizyah.
Maka Umar menulis surat kepadanya yang berisi:
"Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai seorang penyeru (ke jalan Allah)
dan tidak mengutusnya sebagai seorang pemungut pajak."
Umar pun memecatnya dan mengangkat Abdurrahman bin Nu'aim
Al-Qushairi sebagai penggantinya untuk urusan militer (perang), serta
Abdurrahman bin Abdullah untuk urusan kharaj (pendapatan tanah/pajak).
Pemberian Santunan untuk para Penuntut Ilmu
Umar —rahimahullah (semoga Allah merahmatinya)— memberikan
santunan kepada orang-orang yang mengabdikan dirinya di masjid jami', baik dari
penduduk negerinya maupun dari luar negeri, untuk mempelajari fikih,
menyebarkan ilmu, dan membaca Al-Qur'an, sebesar 100 dinar dari Baitul Mal
setiap tahunnya.
Beliau juga sering menulis surat kepada para gubernurnya
agar membimbing manusia dengan As-Sunnah, dan beliau berkata: "Jika mereka
tidak bisa diperbaiki oleh As-Sunnah, maka Allah tidak akan memperbaiki
mereka."
Beliau juga menulis surat: "Janganlah mengangkat
pegawai untuk mengurus pekerjaan (pemerintahan) kecuali dari kalangan ahli
Al-Qur'an. Jika pada diri mereka saja tidak ada kebaikan, maka orang selain
mereka tentu lebih tidak memiliki kebaikan."
Penerapan Syarat-Syarat Umariyah terhadap Ahli Dzimmiah
Beliau menulis surat ke seluruh wilayah negeri:
"Janganlah seorang kafir dzimmi dari kalangan Yahudi, Nasrani, maupun
lainnya menunggangi kuda dengan pelana, jangan memakan jubah (qaba'), jangan
memakai selendang besar (thailasan), jangan memakai celana panjang, dan
janganlah salah seorang dari mereka berjalan kecuali dengan memakai ikat
pinggang dari kulit (zunnar), serta rambut ubun-ubunnya dicukur pendek. Dan
barangsiapa di antara mereka yang ditemukan menyimpan senjata di rumahnya, maka
senjata itu harus disita."
Nasihat-Nasihat dan Surat-Suratnya kepada para Gubernur
Beliau sering menulis surat kepada para gubernurnya:
"Hindarilah berbagai kesibukan ketika waktu salat telah tiba. Sesungguhnya
barangsiapa yang menyia-nyiakan salat, maka ia akan lebih menyia-nyiakan
syariat Islam lainnya."
Beliau pernah menulis surat berisi nasihat kepada salah
seorang gubernurnya, lalu hati gubernur tersebut bergetar karenanya. Bahkan,
sebagian dari mereka ada yang mencopot dirinya sendiri dari jabatan karena
mendalamnya pengaruh nasihat tersebut pada dirinya. Hal itu karena nasihat yang
keluar dari hati seorang pemberi nasihat akan langsung masuk ke dalam hati
orang yang dinasihati.
Beliau menulis surat kepada salah seorang gubernurnya:
"Amma ba'du (Adapun setelah itu), sesungguhnya aku mengingatkanmu akan
suatu malam yang mengandung kegoncangan hari kiamat, yang subuhnya adalah hari
kebangkitan. Alangkah dahsyatnya malam itu dan alangkah ngerinya subuh
tersebut, dan hari itu menjadi hari yang sulit bagi orang-orang kafir."
Beliau juga menulis surat kepada gubernur yang lain:
"Aku mengingatkanmu tentang lamanya begadang penduduk neraka di dalam
neraka yang disertai kekekalan abadi. Waspadalah jangan sampai engkau
dipalingkan dari sisi Allah, sehingga itu menjadi akhir perjumpaanmu dengan-Nya
dan terputusnya harapan darimu."
Para perawi berkisah: Maka gubernur ini langsung mencopot
dirinya sendiri dari jabatannya lalu datang menemui Umar. Umar bertanya
kepadanya: "Ada apa denganmu? "
Ia menjawab: "Suratmu telah mencabut hatiku (membuatku
sangat takut), wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, aku tidak akan mau memegang
jabatan wilayah untuk selamanya."
Pada tahun 100 H, beliau menulis surat kepada para
gubernurnya yang isinya memerintahkan mereka untuk berbuat kebaikan, melarang
mereka dari keburukan, menerangkan serta menjelaskan kebenaran kepada mereka,
menasihati mereka dalam hubungan antara dirinya dengan mereka, serta
menakut-nakuti mereka dengan azab Allah dan siksaan-Nya.
Di antara apa yang beliau tulis kepada gubernur Khurasan,
Abdurrahman bin Nu'aim Al-Qushairi, adalah: "Amma ba'du, jadilah seorang
hamba Allah yang tulus demi Allah dalam mengurusi hamba-hamba-Nya, dan
janganlah celaan orang yang mencela menghalangimu di jalan Allah. Sesungguhnya
Allah lebih berhak atas dirimu daripada manusia dan hak-Nya atasmu lebih besar.
Janganlah engkau menyerahkan sedikit pun dari urusan kaum muslimin kecuali
kepada orang yang dikenal ketulusannya bagi mereka, melimpahkan kebaikan bagi
mereka, serta menunaikan amanah dalam hal yang digembalakan kepadanya. Dan
waspadalah jangan sampai kecenderunganmu condong kepada selain kebenaran;
karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah dan
janganlah engkau berpaling dari Allah, karena sesungguhnya tidak ada tempat
berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya."
Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Sahihnya: Dan Umar
menulis surat kepada Adi bin Adi:
كَتَبَ
عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عَدِيِّ بْنِ عَدِيٍّ: «إِنَّ لِلْإِيمَانِ
فَرَائِضَ وَشَرَائِعَ وَحُدُودًا وَسُنَنًا، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ
الْإِيمَانَ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الْإِيمَانَ، فَإِنْ
أَعِشْ فَسَأُبَيِّنُهَا لَكُمْ حَتَّى تَعْمَلُوا بِهَا، وَإِنْ أَمُتْ فَمَا
أَنَا عَلَى صُحْبَتِكُمْ بِحَرِيصٍ»
"Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi:
'Sesungguhnya iman itu memiliki kewajiban-kewajiban, syariat-syariat,
batasan-batasan, dan sunnah-sunnah. Barangsiapa yang menyempurnakannya, maka ia
telah menyempurnakan iman, dan barangsiapa yang tidak menyempurnakannya, maka
ia belum menyempurnakan iman. Jika aku diberi umur panjang, aku akan
menjelaskannya kepada kalian hingga kalian bisa mengamalkannya, namun jika aku
mati, maka aku tidaklah tamak untuk terus bersama kalian.'"
Bab Ketiga: Kepemimpinan Wilayah-Wilayah dan Ibadah Haji
Perubahannya terhadap para Gubernur Wilayah
Pada tahun 99 H, Umar memecat Yazid bin Al-Muhallab dari
jabatan gubernur Irak, lalu mengutus Adi bin Artha'ah Al-Fazari sebagai
gubernur Basrah.
Beliau juga mengutus Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid
bin Al-Khattab sebagai gubernur Kufah beserta wilayahnya, dan menyertakan Abu
Az-Zinad sebagai sekretaris di hadapannya.
Sedangkan untuk wilayah Khurasan, beliau menunjuk Al-Jarrah
bin Abdullah Al-Hakami ; untuk wilayah Makkah, Abdul Aziz bin Abdullah bin
Khalid bin Asid ; dan untuk wilayah Madinah, Abu Bakr bin Muhammad bin Amru bin
Hazm.
Beliau memecat Abdul Malik bin Rifa'ah dari jabatan gubernur
Mesir dan mengangkat Ayyub bin Syurahbil sebagai penggantinya.
Beliau menyerahkan urusan fatwa di Mesir kepada Ja'far bin
Rabi'ah, Yazid bin Abi Habib, dan Ubaidillah bin Abi Ja'far; merekalah
orang-orang yang memberikan fatwa kepada masyarakat.
Beliau mengangkat Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi untuk
memimpin wilayah Afrika dan negeri-negeri Magrib. Ia adalah seorang yang baik
rekam jejak kepemimpinannya, dan pada masa pemerintahannya di negeri Magrib,
banyak sekali orang dari bangsa Berber yang masuk Islam.
Pada tahun 100 H, beliau mengangkat Umar bin Hubairah untuk
memimpin wilayah Jazirah, lalu ia pun berangkat ke sana.
Pemimpin Ibadah Haji
Orang yang memimpin jalannya ibadah haji bersama masyarakat
pada tahun 99 H dan tahun 100 H adalah Abu Bakr bin Muhammad bin Amru bin Hazm,
wakil gubernur Madinah.
Tokoh-Tokoh Terkenal yang Wafat pada Masa Khilafahnya
- Abdullah
bin Muhairiz bin Junadah bin Wahb Al-Qurashi Al-Jumahi Al-Makki,
menetap di Baitul Maqdis. Beliau adalah seorang tabiin yang mulia,
meriwayatkan hadis dari suami ibunya yaitu Abu Mahzurah sang muazin,
Ubadah bin Az-Samit, dan selain mereka. Hadis darinya diriwayatkan oleh
Khalid bin Ma'dan, Makhlul, dan lainnya. Beliau telah dinyatakan tsiqah
(tepercaya) oleh lebih dari satu ulama dan dipuji oleh sekelompok imam.
Beliau adalah seorang yang banyak diam dan menjauhkan diri dari fitnah.
Beliau tidak pernah meninggalkan amar makruf nahi mungkar, dan wafat pada
tahun 99 H.
- Mahmud
bin Labid bin Uqbah Abu Nu'aim Al-Anshari Al-Asyhalih Al-Madani, lahir
pada masa hidup Nabi ﷺ
dan meriwayatkan beberapa hadis dari beliau, namun berstatus mursal.
Al-Bukhari mengatakan: Beliau berstatus sebagai sahabat Nabi, dan wafat
pada tahun 99 H.
- Nafi'
bin Jubair bin Muth'im ibn Adi bin Naufal, Al-Qurashi An-Naufali Al-Madani.
Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya, Utsman, Ali, Al-Abbas, Abu
Hurairah, Aisyah, dan selain mereka. Hadis darinya diriwayatkan oleh
sekelompok tabiin dan selainnya. Beliau adalah seorang yang tsiqah lagi
ahli ibadah yang menyukai berjalan kaki, sementara hewan tunggangannya
dituntun di bersamanya. Beliau wafat pada tahun 99 H.
- Kuraib
bin Muslim, mantan budak Ibnu Abbas. Beliau meriwayatkan hadis dari
sekelompok sahabat dan selain mereka. Beliau memiliki koleksi buku yang
banyak, dan termasuk di antara orang-orang tsiqah yang terkenal dengan
kebaikan serta agamanya. Beliau wafat pada tahun 99 H.
- Muhammad
bin Jubair bin Muth'im, termasuk di antara ulama Quraisy dan kaum
bangsawan mereka. Beliau memiliki banyak riwayat, wafat di Madinah dan
dimakamkan di Al-Baqi' pada tahun 99 H.
- Mahmud
bin Ar-Rabi' Al-Anshari, Abu Muhammad. Beliau memiliki banyak riwayat
hadis. Beliau masih mengingat semburan air yang pernah disemburkan oleh
Nabi ﷺ
ke wajahnya dari sebuah timba ketika beliau baru berusia empat tahun.
Beliau wafat di Madinah pada tahun 99 H dalam usia 93 tahun.
- Muslim
bin Yasar Abu Abdullah Al-Bashri, seorang ahli fikih lagi zahid.
Beliau memiliki banyak riwayat hadis, dan pada zamannya tidak ada seorang
pun yang diutamakan melebihi dirinya. Beliau adalah seorang ahli ibadah,
warak, zahid, dan banyak khusyuk. Beliau wafat pada tahun 99 H.
- Hanash
bin Abdullah bin Amru Ash-Shan'ani, pernah menjabat sebagai gubernur
Afrika dan negeri-negeri Magrib. Beliau memiliki banyak riwayat dari
sekelompok sahabat Nabi, dan wafat saat ikut berperang pada tahun 99 H.
- Kharijah
bin Zaid bin Adh-Dhahak Al-Anshari Al-Madani, seorang ahli fikih yang
memberikan fatwa di Madinah dan termasuk ahli fikih yang diperhitungkan.
Beliau sangat menguasai ilmu faraid (ilmu waris) dan pembagian harta
pusaka. Beliau adalah salah satu dari tujuh ahli fikih Madinah (Al-Fuqaha
Al-Sab'ah) yang poros fatwa berputar pada pendapat mereka. Beliau wafat
pada tahun 99 H.
- Salim
bin Abil Ja'd Al-Asyja'i, mantan budak mereka yang berkebangsaan
Kufah. Beliau adalah seorang tabiin yang mulia, meriwayatkan hadis dari
Tsauban, Jabir, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amru, An-Nu'man bin
Basyir, dan selain mereka. Hadis darinya diriwayatkan oleh Qatadah, Al-A'masy,
dan lainnya. Beliau adalah seorang yang tsiqah, mulia, lagi agung, dan
wafat pada tahun 100 H.
- Abu
Umamah bin Sahl bin Hunaif Al-Anshari Al-Ausi Al-Madani, lahir pada
masa hidup Nabi ﷺ,
pernah melihat beliau, dan meriwayatkan hadis dari ayahnya, Umar, Utsman,
Zaid bin Tsabit, Muawiyah, serta Ibnu Abbas. Hadis darinya diriwayatkan
oleh Az-Zuhri, Abu Hazim, dan sekelompok ulama. Az-Zuhri berkata: "Ia
termasuk tokoh terkemuka kaum Anshar, ulama mereka, dan termasuk anak-anak
dari orang yang ikut serta dalam perang Badar." Beliau wafat pada
tahun 100 H.
- Abu
Az-Zahiriyah Hudair bin Kuraib Al-Himshi, seorang tabiin yang mulia.
Beliau mendengar hadis dari Abu Umamah Shudai bin Ajlan dan Abdullah bin
Busr. Sekelompok penduduk negerinya telah meriwayatkan hadis darinya, dan
ia telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma'in serta selainnya. Beliau wafat
pada tahun 100 H.
- Abu
Thufail 'Amir bin Watsilah ibn Abdullah bin Amru Al-Laitsi Al-Kinani,
seorang sahabat Nabi, dan beliau adalah orang terakhir yang melihat Nabi ﷺ
yang wafat berdasarkan kesepakatan ulama (ijmak). Beliau meriwayatkan dari
Nabi ﷺ
bahwa beliau melihat Nabi menyentuh rukun (Hajar Aswad) dengan tongkat
berujung bengkoknya, dan beliau juga menyebutkan sifat-sifat fisik Nabi.
Muslim bin Al-Hajjaj berkata: "Dia adalah orang terakhir yang wafat
dari kalangan sahabat secara mutlak, dan wafat pada tahun 100 H."
- Abu
Utsman An-Nahdi, namanya adalah Abdurrahman bin Mall Al-Bashri. Beliau
mendapati masa Jahiliah, sempat menunaikan ibadah haji pada zaman Jahiliah
sebanyak dua kali, dan masuk Islam pada masa hidup Nabi ﷺ namun tidak
sempat melihat beliau. Beliau menyerahkan zakat pada zaman Nabi selama
tiga tahun kepada para petugas zakat Nabi ﷺ. Orang dengan
kriteria seperti ini disebut oleh para imam ahli hadis sebagai golongan Mukhadram.
Beliau wafat pada tahun 100 H.
- Abdul
Malik bin Umar bin Abdul Aziz, beliau memiliki keutamaan yang melebihi
ayahnya dalam hal ibadah dan memutuskan diri dari kesibukan manusia (fokus
beribadah). Beliau memiliki untaian kata yang indah bersama ayahnya serta
dalam memberikan nasihat kepadanya. Beliau wafat beberapa bulan sebelum
ayahnya pada akhir tahun 100 H.
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar