Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (73–86 H)

suasana tenang di dalam ruangan berarsitektur Timur Tengah kuno dengan dinding tanah liat dan pilar melengkung. Di bagian tengah, seorang ulama atau syekh tua berjanggut putih mengenakan jubah cokelat sedang duduk bersila di atas tikar anyaman, memegang pena bulu dan lembaran kertas. Di depannya, seorang pemuda yang mengenakan sorban dan pakaian tradisional dengan sopan berlutut sambil menyerahkan atau menerima selembar kertas catatan kecil. Di latar belakang, tampak beberapa pria lain yang sedang sibuk membaca teks atau menulis secara mandiri di bawah pencahayaan alami yang lembut dari jendela lengkung, menciptakan suasana belajar-mengajar yang khidmat dan tradisional.

Bab Pertama: Biografi dan Kekhalifahannya

Silsilah dan Keluarganya

Beliau adalah Abdul Malik bin Marwan bin al-Hakam bin Abi al-Aas bin Umayyah, Abu al-Walid al-Umawi, Amirul Mukminin. Ibunya adalah Aisyah binti Muawiyah bin al-Mughirah bin Abi al-Aas bin Umayyah. Beliau lahir pada tahun 26 Hijriah.

Anak-anak dan Istri-istrinya

  • Al-Walid, Sulaiman, Marwan al-Akbar (meninggal saat masih kecil), dan Aisyah: Ibu mereka adalah Walladah binti al-Abbas bin Jaz'i bin al-Harits al-Absi.
  • Yazid, Marwan al-Asghar, Muawiyah (meninggal saat masih kecil), dan Ummu Kultsum: Ibu mereka adalah Aikah binti Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan.
  • Hisyam: Ibunya adalah Aisyah binti Hisyam bin Ismail al-Makhzumi.
  • Abu Bakar (namanya adalah Bakkar): Ibunya adalah Aisyah binti Musa bin Thalhah bin Ubaidillah at-Taimi.
  • Al-Hakam (meninggal saat masih kecil): Ibunya adalah Ummu Ayyub binti Amru bin Utsman bin Affan al-Umawi.
  • Fathimah: Ibunya adalah Ummu al-Mughirah binti al-Mughirah bin Khalid bin al-Aas bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi.
  • Abdullah, Maslamah, al-Munzir, Anbasah, Muhammad, Said al-Khair, dan al-Hajjaj: Lahir dari beberapa ibu yang berbeda (selir).

Jumlah total anak-anak beliau, baik laki-laki maupun perempuan, adalah 19 orang.

Sifat-sifatnya

Beliau berwajah putih, bertubuh sedang cenderung agak pendek, tidak kurus dan tidak gemuk. Alisnya menyambung, matanya besar dan berbinar, hidungnya mancung tipis, wajahnya berseri-seri, rambut dan janggutnya memutih, serta berwajah tampan. Beliau awalnya tidak menyemir rambutnya, namun ada yang mengatakan beliau menyemirnya setelah itu. Gigi-giginya juga diikat atau dilapisi dengan emas.

Sebelum menjabat sebagai khalifah, Abdul Malik termasuk orang yang tekun beribadah, zahid, ahli fikih, selalu berada di masjid, dan rajin membaca Al-Qur'an.

Al-A'masy meriwayatkan dari Abi az-Zinad yang berkata: "Ahli fikih di Madinah itu ada empat orang: Said bin al-Musayyib, Urwah, Qabishah bin Dzu'aib, dan Abdul Malik bin Marwan; yaitu sebelum beliau masuk ke dalam urusan pemerintahan."

Beliau pernah mendengar hadis langsung dari Utsman bin Affan, dan ikut menyaksikan peristiwa pengepungan rumah Utsman bersama ayahnya saat beliau masih berusia 10 tahun. Beliau pernah diangkat menjadi pemimpin bagi penduduk Madinah oleh Muawiyah ketika berusia 16 tahun. Beliau gemar duduk berkumpul bersama para ahli fikih, ulama, ahli ibadah, dan orang-orang saleh.

Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya, Jabir, Abu Said al-Khudri, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Muawiyah, Ummu Salamah, dan Barirah (budak perempuan yang dimerdekakan oleh Aisyah). Sementara orang-masing yang meriwayatkan hadis dari beliau di antaranya adalah Khalid bin Ma'dan, Urwah, az-Zuhri, Amru bin al-Harits, Raja' bin Haiwah, dan Jarir bin Utsman.

Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dari Mush'ab bin az-Zubair bahwa Abdul Malik adalah orang pertama dalam Islam yang diberi nama "Abdul Malik".

Asy-Sya'bi berkata: "Aku tidak pernah duduk bersama siapa pun melainkan aku merasa memiliki kelebihan atasnya, kecuali saat bersama Abdul Malik bin Marwan. Tidaklah aku mengingatkan suatu hadis kepadanya melainkan ia menambahkan penjelasan kepadaku tentangnya, dan tidak pula sebuah syair melainkan ia menambahkan baitnya kepadaku."

Ibnu Katsir berkata: "Abdul Malik adalah orang yang berani dalam menumpahkan darah, dan para gubernurnya pun mengikuti jalannya, di antaranya al-Hajjaj, al-Muhallab, dan selain mereka. Beliau adalah seorang yang tegas, paham, cerdas, cerdik dalam mengatur urusan dunia, dan tidak menyerahkan urusan dunianya kepada orang lain."

Baiatnya sebagai Khalifah

Beliau dibaiat sebagai khalifah pada tahun 65 H di masa hidup ayahnya, yaitu saat masa kekhalifahan Ibnu az-Zubair. Beliau memegang wilayah Syam dan Mesir selama tujuh tahun, sementara Ibnu az-Zubair memegang wilayah sisanya. Kemudian beliau menjadi khalifah tunggal dan manusia bersatu di bawah kepemimpinannya setelah terbunuhnya Ibnu az-Zubair pada tahun 73 H.

Masa kekhalifahannya berlangsung selama 21 tahun; 9 tahun di antaranya berbagi kekuasaan dengan Ibnu az-Zubair, dan 13 tahun 3 bulan setengah dijalani secara mandiri sebagai khalifah tunggal.

Hakim (qadi) beliau adalah Abu Idris al-Khaulani, sekretarisnya adalah Rauh bin Zinba', pengawalnya (hajib) adalah Yusuf (budak yang dimerdekakannya), bendahara serta pemegang cap stempel adalah Qabishah bin Dzu'aib, dan kepala kepolisiannya adalah Abu az-Zu'a'iz'ah.

Baiat Ibnu Umar Kepadanya

Said bin Abdul Aziz berkata: Ketika Abdul Malik dibaiat sebagai khalifah setelah terbunuhnya Ibnu az-Zubair, Abdullah bin Umar bin al-Khatthab menulis surat kepadanya:

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Abdullah bin Umar kepada Abdullah, Abdul Malik Amirul Mukminin. Salam sejahtera untukmu. Sungguh aku memuji Allah kepadamu, yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Amma ba'du: Sesungguhnya engkau adalah seorang penggembala (pemimpin), dan setiap penggembala akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya (rakyatnya)."

﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا﴾

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (QS. An-Nisa: 87)

"Tidak ada seorang pun (yang lebih benar). Wassalamu alaikum."

Surat itu dikirimkan melalui Salim. Orang-orang di sekitar khalifah sempat marah karena Ibnu Umar mendahulukan namanya sendiri sebelum nama Amirul Mukminin. Namun setelah mereka memeriksa surat-surat Ibnu Umar yang dahulu dikirimkan kepada Muawiyah, ternyata polanya memang sama, sehingga mereka pun memaklumi hal tersebut.

Keutamaan dan Ucapan-ucapannya

Al-Asma'i menceritakan dari Abbad bin Salm bin Utsman bin Ziyad, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Abdul Malik bin Marwan menunggangi seekor unta muda, lalu penuntun untanya melantunkan syair:

يَا أَيُّهَا الْبَكْرُ الَّذِي أَرَاكَا عَلَيْكَ سَهْلُ الْأَرْضِ فِي مَمْشَاكَا

وَيْحَكَ هَلْ تَعْلَمُ مَنْ عَلَاكَا خَلِيفَةُ اللَّهِ الَّذِي امْتَطَاكَا

لَمْ يَحْبُ بَكْرًا مِثْلَ مَا حَبَاكَا

Wahai unta muda yang aku lihat,

Langkahmu terasa mudah di atas bumi ini.

Celaka kamu, tahukah engkau siapa yang menunggangimu?

Dialah khalifah Allah yang menunggangimu.

Belum pernah seekor unta muda mendapatkan kemuliaan seperti yang diberikan kepadamu.

Mendengar syair itu, Abdul Malik berkata: "Bagus sekali wahai fulan, aku perintahkan untuk memberimu sepuluh ribu (dirham)."

Al-Asma'i berkata: Pernah dikatakan kepada Abdul Malik, "Uban begitu cepat tumbuh padamu." Beliau menjawab, "Bagaimana tidak, sedangkan aku harus memamerkan akal pikiranku di hadapan orang banyak sekali atau dua kali setiap hari Jumat (saat berkhotbah)!"

Az-Zuhri berkata: Aku mendengar Abdul Malik berkata dalam khotbahnya: "Sesungguhnya ilmu ini akan dicabut dengan cepat. Maka barang siapa yang memiliki ilmu, tampakkanlah (ajarkanlah), tanpa berlebih-lebihan dan tidak pula abai terhadapnya."

Al-A'masy menceritakan bahwa Muhammad bin az-Zubair mengabarkan kepadanya bahwa Anas bin Malik pernah menulis surat kepada Abdul Malik untuk mengadukan sikap al-Hajjaj. Anas berkata dalam suratnya: "Seandainya ada seorang laki-laki yang melayani Nabi Isa meskipun hanya satu malam, atau pernah melihatnya lalu kaum Nasrani mengetahuinya, tentulah mereka akan memberikan kedudukan yang tinggi di antara mereka dan menghormatinya. Begitu pula jika ada seseorang yang melayani Nabi Musa atau melihatnya lalu kaum Yahudi mengetahuinya, pasti mereka akan melakukan hal yang sama. Sementara aku adalah pelayan Rasulullah dan sahabat beliau, namun al-Hajjaj telah berbuat zalim dan merugikan aku serta berbuat ini dan itu."

Perawi berkata: "Orang yang menyaksikan Abdul Malik membaca surat tersebut mengabarkan kepadaku bahwa beliau menangis, dan kemarahannya memuncak. Beliau kemudian menulis surat yang sangat keras kepada al-Hajjaj. Ketika surat itu sampai dan dibaca oleh al-Hajjaj, wajahnya langsung berubah pucat, lalu ia berkata kepada pembawa surat: 'Mari kita pergi menemui Anas untuk meminta kerelaannya.'"

Sebagian ulama menceritakan: Ada seorang laki-laki meminta kepada Abdul Malik untuk berbicara berdua saja. Beliau lalu memerintahkan orang-orang di sekitarnya untuk keluar. Ketika orang itu bersiap untuk berbicara, Abdul Malik memperingatkannya: "Jangan sekali-kali engkau memujiku, karena aku lebih tahu tentang diriku daripada engkau. Jangan membohongiku, karena tidak ada pendapat yang berharga dari seorang pembohong. Dan jangan mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang lain kepadaku. Jika engkau mau, aku bisa membatalkan pertemuan ini." Laki-laki itu berkata, "Batalkan saja." Maka beliau pun membatalkannya.

Pernah ditanyakan kepada Abdul Malik: "Laki-laki bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Orang yang merendahkan hati (tawadu) saat berada di kedudukan yang tinggi, yang zuhud ketika memiliki kemampuan, dan yang menahan diri untuk membalas padahal ia memiliki kekuatan."

Al-Madaini berkata: Abdul Malik berkata kepada guru pendidik anak-anaknya—yaitu Ismail bin Ubaidillah bin Abi al-Muhajir: "Ajarkanlah mereka kejujuran sebagaimana engkau mengajarkan mereka Al-Qur'an. Jauhkanlah mereka dari orang-orang rendahan, karena mereka adalah orang-orang yang paling buruk perangainya dan paling sedikit adabnya. Jauhkan pula mereka dari pelayan-pelayan istana, karena mereka bisa merusak mereka. Potong pendek rambut mereka agar leher mereka menjadi kokoh. Beri mereka makan daging agar mereka menjadi kuat. Ajarkan mereka syair agar mereka menjadi mulia dan pemberani. Perintahkan mereka untuk bersiwak secara melintang, dan minumlah air dengan cara diisap pelan-pelan, jangan diteguk sekaligus. Jika engkau perlu menghukum mereka untuk mendidik, maka lakukanlah secara rahasia tanpa diketahui oleh seorang pun dari para pelayan atau pengikut, agar mereka tidak menjadi remeh di mata para pelayan tersebut."

Zirr bin Hubaisy pernah menulis surat kepada Abdul Malik, dan di akhir suratnya ia menulis: "Wahai Amirul Mukminin, janganlah kesehatan tubuh yang nampak padamu membuatmu terlena dengan angan-angan panjang umur, karena engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri. Ingatlah apa yang dikatakan oleh orang-orang terdahulu:

إِذَا الرِّجَالُ وَلَدَتْ أَوْلَادَهَا وَبَلِيَتْ مَنْ كِبَرٍ أَجْسَادُهَا

وَجَعَلَتْ أَسْقَامُهَا تَعْتَادُهَا تِلْكَ زُرُوعٌ قَدْ دَنَا حَصَادُهَا

Apabila orang-orang telah melahirkan anak-anak mereka,

Dan tubuh-tubuh mereka telah rapuh dimakan usia tua.

Serta berbagai penyakit mulai sering mendatangi mereka,

Maka itulah tanaman-tanaman yang telah dekat masa panennya.

Ketika Abdul Malik membaca surat itu, beliau menangis hingga membasahi ujung pakaiannya, lalu berkata: "Zirr benar. Seandainya ia menulis kepada kami dengan kalimat yang lebih lembut dari ini, tentu itu lebih menenangkan."

Abdul Malik pernah mendengar sekelompok sahabatnya membicarakan tentang perjalanan hidup (sirah) Umar bin al-Khatthab, lalu beliau berkata: "Hentikanlah dari menyebut-nyebut Umar, karena hal itu merupakan bentuk celaan tidak langsung kepada para penguasa saat ini dan dapat merusak ketaatan rakyat."

Al-Asma'i menceritakan dari ayahnya yang berkata: Suatu hari Abdul Malik menyampaikan khotbah yang sangat menyentuh, lalu beliau menghentikannya dan menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau berdoa: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya dosa-dosaku sangatlah besar, namun sesungguhnya sedikit dari ampunan-Mu jauh lebih besar daripada dosa-dosaku. Ya Allah, maka hapuslah besarnya dosa-dosaku dengan sedikit ampunan-Mu."

Perawi berkata: Kabar itu sampai kepada Al-Hasan Al-Bashri, lalu ia pun menangis dan berkata: "Seandainya ada perkataan yang layak ditulis dengan tinta emas, tentulah perkataan ini yang akan ditulis." Hal serupa juga diriwayatkan dari banyak jalur.

Abu Mushir menceritakan: Pernah ditanyakan kepada Abdul Malik saat beliau sedang sakit yang membawa pada kematiannya, "Bagaimana keadaanmu?" Beliau menjawab: "Aku mendapati diriku sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta'ala:

﴿وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ﴾

"Dan kamu benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada pertama kali, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakang tokomu." (QS. Al-An'am: 94) hingga akhir ayat.

Said bin Abdul Aziz berkata: Ketika ajal menjemput Abdul Malik, beliau memerintahkan agar pintu-pintu istananya dibuka. Tiba-tiba beliau mendengar suara seorang tukang cuci pakaian (binatu), lalu beliau bertanya, "Suara apa itu?" Mereka menjawab, "Itu suara tukang cuci pakaian." Beliau lalu berucap, "Duhai, seandainya saja aku dahulu hanyalah seorang tukang cuci pakaian." Ketika ucapan ini sampai kepada Said bin al-Musayyib, ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah membuat mereka (para penguasa) berharap menjadi seperti kita saat mati, sedangkan kita tidak pernah berharap menjadi seperti mereka."

Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata: "Angkatlah tubuhku." Mereka pun mengangkat tubuhnya hingga beliau dapat menghirup udara segar, lalu beliau berkata: "Wahai dunia, alangkah indahnya engkau! Sesungguhnya waktu yang panjang padamu terasa singkat, dan sesuatu yang banyak padamu terasa sedikit, dan sungguh kami benar-benar telah tertipu olehmu."

Beliau wafat di Damaskus pada hari Jumat di pertengahan bulan Syawal tahun 86 Hijriah. Jenazah beliau disalatkan oleh putranya, al-Walid, selaku putra mahkota setelahnya. Usia beliau pada hari wafatnya adalah 60 tahun. Hal ini dinyatakan oleh Abu Ma'syar dan disahihkan oleh al-Waqidi. Beliau dimakamkan di dekat pintu gerbang Bab al-Jabiyah al-Saghir.

Bab Kedua

Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya

Pembangunan Kubah Batu (Dome of the Rock) di Baitul Maqdis

Penulis kitab Mir'atuz Zaman berkata: Pada tahun 66 H, Abdul Malik bin Marwan mulai membangun kubah di atas batu (shakhrah) Baitul Maqdis serta memakmurkan Masjidil Aqsa, dan pembangunannya selesai pada tahun 73 H.

Ketika Abdul Malik ingin membangunnya, ia berangkat dari Damaskus menuju Baitul Maqdis dengan membawa dana dan para pekerja. Ia menyerahkan tanggung jawab pengerjaan proyek tersebut kepada Raja' bin Haywah dan Yazid bin Salam, mantan budaknya. Ia juga mengumpulkan para pengrajin dan ahli teknik, lalu memerintahkan mereka untuk membuat miniatur kubah di halaman masjid. Bentuknya membuat Abdul Malik kagum. Ia pun memerintahkan Raja' bin Haywah dan Yazid untuk mencurahkan dana sebesar-besarnya tanpa perlu ragu-ragu. Setelah pembangunan kubah selesai, dibuatlah dua buah kain penutup untuk kubah tersebut; satu untuk musim dingin dan satu lagi untuk musim panas. Ia mengelilingi batu tersebut dengan pagar pembatas dari kayu jati yang dihiasi batu permata, dan di balik pagar tersebut digantungkan tirai-tirai dari kain sutra tebal di antara tiang-tiangnya. Bangunan ini juga diberi empat buah pintu.

Pemberontakan Amr bin Said al-Umawi di Damaskus dan Kematiannya

Pada tahun 69 H, Amr bin Said al-Umawi yang dijuluki al-Asydaq melakukan pemberontakan di Damaskus setelah Abdul Malik bin Marwan keluar dari kota tersebut. Pemberontakan ini bertujuan untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Hal ini memaksa Abdul Malik untuk segera kembali ke Damaskus saat itu juga. Ia mendapati al-Asydaq telah membentengi kota Damaskus, memasang tirai-tirai serta kain pelindung, dan berlindung di dalam sebuah benteng Romawi yang kokoh di Damaskus. Abdul Malik kemudian mengepungnya, dan Amr bin Said al-Asydaq melayaninya dalam pertempuran selama enam belas hari. Abdul Malik lalu mengirim pesan kepadanya, "Aku mengingatkanmu demi Allah dan hubungan kekerabatan agar kamu tidak merusak urusan keluargamu dan persatuan yang telah mereka capai. Sungguh, apa yang kamu lakukan ini hanya akan menjadi kekuatan bagi Ibnu az-Zubair. Kembalilah pada baiatmu, dan kamu memegang janji serta kesepakatan Allah dariku bahwa kamu akan menjadi putra mahkota setelahku." Mereka berdua pun menulis sepucuk surat perjanjian.

Amr teperdaya oleh janji tersebut lalu membuka pintu-pintu gerbang Damaskus. Kemudian keduanya berdamai untuk menghentikan peperangan dengan syarat Amr menjadi putra mahkota setelah Abdul Malik, dan di setiap wilayah gubernur Abdul Malik akan didampingi oleh gubernur dari pihak Amr.

Pada Kamis malam, Abdul Malik memasuki istana gubernur (Darul Imarah) sebagaimana biasanya. Ia mengirim utusan kepada Amr bin Said al-Asydaq dan berkata, "Kembalikanlah tunjangan masyarakat yang telah kamu ambil dari baitulmal." Namun Amr membalas pesan tersebut dengan mengatakan, "Ini bukan urusanmu, dan kota ini bukan milikmu, maka keluarlah dari sini!" Ketika hari Senin tiba, Abdul Malik mengirim utusan lagi kepada Amr bin Said dan memerintahkannya untuk datang ke kediamannya di Darul Imarah al-Khadra' (Istana Hijau). Saat utusan itu datang, Amr bin Said berkata kepadanya, "Sampaikan salam kepadanya, dan katakan bahwa aku akan mendatanginya malam ini, insya Allah."

Ketika malam tiba, Amr mengenakan baju besi di balik pakaiannya, menyandang pedangnya, lalu berangkat bersama seratus orang mantan budaknya (mawali). Di sisi lain, Abdul Malik telah memerintahkan Bani Marwan untuk berkumpul seluruhnya di tempatnya. Begitu Amr bin Said tiba di pintu gerbang, Abdul Malik memerintahkan agar ia diizinkan masuk sendiri, sedangkan orang-orang yang bersamanya ditahan dan dijaga oleh sekelompok pasukan di setiap pintu gerbang. Amr pun masuk dengan kondisi seperti itu hingga sampai ke ruangan tempat Abdul Malik berada, dan tidak ada lagi pengawal yang menyertainya kecuali seorang pelayan muda. Ia melayangkan pandangannya dan terkejut mendapati Bani Marwan tanpa terkecuali telah berkumpul di dekat Abdul Malik. Ia pun mulai merasakan gelagat buruk. Saat itu, di dekat Abdul Malik terdapat Hassan bin Malik bin Bahdal dan Qabishah bin Dzu'aib. Abdul Malik kemudian mengizinkan keduanya untuk pulang, dan setelah mereka berdua keluar, pintu-pintu langsung dikunci rapat.

Amr mendekat kepada Abdul Malik, lalu Abdul Malik menyambutnya dan mendudukkannya bersamanya di atas ranjang kerajaan, kemudian mengajaknya berbincang-bincang dalam waktu yang cukup lama.

Setelah itu, Abdul Malik berkata, "Wahai pelayan, ambil pedang itu darinya!" Amr pun berseru, "Inna lillahi wahai Amirul Mukminin!"

Abdul Malik membalasnya, "Apakah kamu berharap bisa berbincang denganku sambil menyandang pedangmu?"

Pelayan itu pun mengambil pedang dari Amr, lalu mereka kembali berbincang sejenak. Kemudian Abdul Malik berkata kepadanya, "Wahai Abu Umayyah (panggilan Amr)."

Amr menjawab, "Aku penuhi panggilanmu, wahai Amirul Mukminin."

Abdul Malik berkata, "Sesungguhnya ketika kamu mencopot kepatuhanmu dariku, aku telah bersumpah atas nama-Ku bahwa jika mataku memandangmu dalam keadaan aku menguasaimu, aku akan membelenggumu dalam sepasang pasungan besi (jami'ah)."

Orang-orang Bani Marwan berkata, "Kemudian setelah itu engkau membebaskannya kembali, wahai Amirul Mukminin." Abdul Malik menjawab, "Ya, kemudian aku akan membebaskannya. Lagipula, apa yang bisa kulakukan terhadap Abu Umayyah?"

Bani Marwan berkata, "Penuhilah sumpah Amirul Mukminin!" Amr pun menyahut, "Maka penuhilah sumpahmu, wahai Amirul Mukminin."

Abdul Malik lalu mengeluarkan pasungan besi dari bawah tempat tidurnya dan melemparkannya ke hadapan Amr, lalu berkata, "Wahai pelayan, berdiri dan pasunglah dia di dalamnya!"

Pelayan itu pun berdiri lalu memasungnya. Amr berkata, "Aku mengingatkanmu demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau mengarakku keluar dengan belenggu ini di hadapan orang banyak." Abdul Malik menjawab: "Apakah kamu masih ingin menipu, wahai Abu Umayyah, di ambang kematianmu? Demi Allah, sekali-kali tidak! Kami tidak akan mengeluarkanmu dengan belenggu ini di hadapan orang banyak, dan kami tidak akan melepaskan belenggu ini darimu kecuali nyawamu telah melayang."

Kemudian Abdul Malik menarik belenggu itu dengan sekali sentakan keras hingga mulut Amr membentur ranjang kerajaan dan mematahkan gigi serinya. Amr berkata, "Aku mengingatkanmu demi Allah, wahai Amirul Mukminin, jangan sampai patahnya tulangku ini mendorongmu untuk melakukan hal yang lebih kejam dari ini."

Abdul Malik berkata, "Demi Allah, andai aku tahu jika kamu tetap hidup kamu akan setia kepadaku dan memperbaiki hubungan dengan Quraisy, niscaya aku akan membebaskanmu. Namun, tidaklah dua orang lelaki berkumpul di suatu negeri untuk memperebutkan kekuasaan seperti yang kita alami ini, melainkan salah satunya pasti akan menyingkirkan rekannya." Setelah itu, ia memerintahkan agar Amr dibunuh.

Penguasaan Abdul Malik atas Wilayah Khorasan

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 72 H, Abdul Malik menulis surat kepada Abdullah bin Khazim, gubernur Khorasan, untuk mengajaknya berbaiat dan menjanjikan wilayah Khorasan kepadanya selama tujuh tahun. Namun, ia tidak memenuhinya. Abdul Malik kemudian mengirim surat kepada Bukair bin Wisyah, wakil Ibnu Khazim di kota Marw, dan menjanjikannya jabatan gubernur Khorasan jika ia mau menggulingkan Abdullah bin Khazim. Bukair pun menggulingkannya. Ibnu Khazim kemudian datang dan memeranginya, namun Abdullah bin Khazim justru terbunuh dalam pertempuran tersebut. Bukair mengambil kepala Ibnu Khazim lalu mengirimkannya kepada Abdul Malik bin Marwan disertai surat yang mengabarkan tentang kemenangan dan terbunuhnya Abdullah bin Khazim. Abdul Malik sangat gembira mendengar kabar tersebut, lalu ia menulis surat kepada Bukair bin Wisyah dan menetapkannya sebagai wakil gubernur di Khorasan.

Penguasaan Abdul Malik atas Kota Madinah

Pada tahun 72 H, kota Madinah berhasil direbut dari para wakil Ibnu az-Zubair. Abdul Malik bin Marwan kemudian mengangkat Thariq bin Amr sebagai gubernur di sana, yaitu orang yang sebelumnya dikirim sebagai pasukan bantuan untuk al-Hajjaj dalam menghadapi Ibnu az-Zubair.

Pembongkaran Renovasi Ibnu az-Zubair pada Ka'bah oleh al-Hajjaj

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 74 H, al-Hajjaj membongkar bangunan Ka'bah yang sebelumnya dibangun oleh Ibnu az-Zubair, dan mengembalikannya ke bentuk bangunannya yang semula.

Ibnu Katsir berkata: Al-Hajjaj tidak membongkar seluruh bangunan Ka'bah, melainkan hanya meruntuhkan dinding bagian utara (Syam) hingga mengeluarkan kembali Hijr Ismail dari bagian dalam Ka'bah, kemudian menutupnya dengan dinding baru. Ia memasukkan sisa batu-batu pembongkaran ke dalam bagian dalam Ka'bah, menutup pintu sebelah barat secara total, serta menimbun bagian bawah pintu sebelah timur sehingga letaknya menjadi tinggi menggantung seperti halnya pada masa jahiliah. Alasan Ibnu az-Zubair melakukan renovasi tersebut sebelumnya adalah berdasarkan apa yang dikabarkan oleh bibinya, Ummul Mukminin Aisyah binti as-Siddiq radhiyallahu 'anha, dari Rasulullah mengenai sabda beliau:

«لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدُهُمْ بِكُفْرٍ - وَفِي رِوَايَةٍ : بِجَاهِلِيَّةِ - لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ، وَأَدَخَلْتُ فِيهَا الْحِجْرَ، وَجَعَلْتُ لَهَا بَابًا شَرْقِيًّا، وَبَابًا غَرْبِيًّا، وَلَا لْصَقْتُهُمَا بِالْأَرْضِ، فَإِنَّ قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ، فَلَمْ يُدْخِلُوا فِيهَا الْحِجْرَ، وَلَمْ يُتَمِّمُوهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ، وَرَفَعُوا بَابَهَا لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا، وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا»

Artinya: "Seandainya kaummu bukan karena baru saja meninggalkan kekafiran —dalam riwayat lain: masa jahiliah— niscaya aku telah meruntuhkan Ka'bah, lalu memasukkan Hijr Ismail ke dalamnya, dan membuatkan dua pintu untuknya; satu pintu di sebelah timur dan satu pintu di sebelah barat, serta meratakannya dengan tanah. Sesungguhnya kaummu kekurangan dana, sehingga mereka tidak memasukkan Hijr ke dalamnya dan tidak menyempurnakannya di atas fondasi Nabi Ibrahim. Mereka sengaja meninggikan pintunya agar bisa memasukkan siapa saja yang mereka kehendaki dan melarang siapa saja yang mereka kehendaki."

Ketika Ibnu az-Zubair memiliki kekuasaan, ia pun membangunnya seperti itu. Namun ketika hadis ini baru sampai ke telinga Abdul Malik setelah peristiwa pembongkaran tersebut, ia berkata: "Kami sangat berharap seandainya kami membiarkannya saja bersama apa yang telah ia kerjakan tersebut."

Pemberontakan Penduduk Basrah terhadap al-Hajjaj

Pada tahun 75 H, orang-orang di Basrah bangkit memberontak melawan al-Hajjaj. Hal itu terjadi karena ketika ia datang berkuda dari Kufah, ia berpidato di hadapan penduduk Basrah dengan nada ancaman yang sangat keras dan intimidasi yang nyata, mirip dengan pidato yang ia sampaikan kepada penduduk Kufah. Penduduk Basrah pun ketakutan, lalu mereka keluar dari kota hingga berkumpul di jembatan Ramahurmuz di bawah pimpinan Abdullah bin al-Jarud. Al-Hajjaj kemudian keluar menghadapi mereka pada bulan Syakban tahun tersebut bersama para panglima pasukan dari dua kota militer (Kufah dan Basrah). Mereka terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit di sana, hingga al-Hajjaj berhasil mengalahkan mereka dan membunuh pemimpin mereka, Abdullah bin al-Jarud, beserta para kepala suku yang bersamanya. Al-Hajjaj kemudian memerintahkan agar kepala-kepala mereka dipenggal dan dipajang di dekat jembatan Ramahurmuz.

Reformasi Mata Uang

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 76 H, Abdul Malik bin Marwan mengukir tulisan pada dirham dan dinar, dan dialah orang pertama yang mengukirnya.

Hakim al-Mawardi berkata dalam kitab al-Ahkam as-Sulthaniyah: Terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa orang pertama yang mencetak mata uang dengan tulisan Arab dalam Islam;

Said bin al-Musayyib berpendapat: Orang pertama yang mencetak dirham yang berukir tulisan adalah Abdul Malik bin Marwan, yang mana sebelumnya mata uang dinar menggunakan dinar Romawi sedangkan dirham menggunakan dirham Persia (Kisra).

Abu az-Zinad berkata bahwa pengukiran yang dilakukan oleh Abdul Malik terjadi pada tahun 74 H. Sedangkan al-Madaini berkata pada tahun 75 H.

Mata uang tersebut kemudian mulai dicetak dan diedarkan ke berbagai wilayah pada tahun 76 H. Disebutkan bahwa pada satu sisi mata uang tersebut diukir tulisan "اللهُ أَحَدٌ" (Allah Maha Esa), dan pada sisi sebaliknya diukir tulisan "اللهُ الصَّمَدُ" (Allah tempat bergantung). Ia melanjutkan: Yahya bin al-Nu'man al-Ghifari meriwayatkan dari ayahnya, bahwa orang pertama yang mencetak dirham adalah Mush'ab bin az-Zubair atas perintah saudaranya, Abdullah bin az-Zubair, pada tahun 70 H, dengan mengikuti model cetakan Persia. Cetakan tersebut memuat tulisan "بركة" (berkah) pada satu sisi, dan "الله" (Allah) pada sisi lainnya. Kemudian al-Hajjaj mengubahnya dan menuliskan namanya sendiri pada salah satu sisinya. Setelah itu, Yusuf bin Hubairah memurnikan kualitasnya menjadi lebih baik pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik. Lalu Khalid bin Abdullah al-Qasri memurnikannya lagi menjadi lebih bagus pada masa pemerintahan Hisyam, dan setelah itu Yusuf bin Umar membuatnya jauh lebih bagus daripada cetakan mereka semua. Oleh karena itu, Khalifah al-Manshur dahulunya tidak mau menerima setoran dirham kecuali uang jenis Hubairiyah, Khalidiyah, dan Yusufiyah. Disebutkan pula bahwa masyarakat dahulu memiliki berbagai jenis mata uang, di antaranya dirham Bagli yang bernilai delapan dawaniq (satuan berat), dirham Thabari bernilai empat dawaniq, dirham Mesir bernilai tiga dawaniq, dan dirham Yaman bernilai satu daniq. Umar bin al-Khattab kemudian menggabungkan nilai berat antara dirham Bagli dan dirham Thabari, lalu mengambil nilai tengahnya untuk dijadikan sebagai standar dirham syar'i, yaitu setara dengan setengah mitsqal ditambah seperlima mitsqal. Mereka menyebutkan bahwa ukuran berat satu mitsqal tidak pernah diubah timbangannya, baik pada masa jahiliah maupun Islam. Namun, pendapat mengenai berat mitsqal yang tidak pernah berubah ini masih perlu ditinjau kembali (ada kelemahan), wallahu a'lam.

Hukuman Mati bagi Nabi Palsu

Pada tahun 79 H, Abdul Malik bin Marwan membunuh al-Harits bin Said, seorang nabi palsu lagi pendusta, mantan budak Abu al-Julas al-Abdari. Ia berasal dari daerah al-Hulah, lalu menetap di Damaskus. Di sana ia sempat tekun beribadah, menjalankan ritual agama, dan hidup zuhud. Namun kemudian ia teperdaya oleh setan sehingga berbalik arah ke belakang (murtad), melepaskan diri dari ayat-ayat Allah Ta'ala, memisahkan diri dari golongan Allah yang beruntung, serta diikuti oleh setan sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat. Setan terus mendorong punggungnya hingga ia menderita kerugian yang nyata pada agama dan dunianya, serta Allah menghinakan dan mencelakakannya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, cukuplah Allah bagi kami, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Al-Harits sang pendusta ini merupakan penduduk Damaskus dan ia kerap memperlihatkan hal-hal ajaib kepada orang-orang; ia pernah mendatangi sebuah batu marmer di dalam masjid, lalu mengetuknya dengan tangannya sehingga batu tersebut mengeluarkan suara tasbih yang sangat fasih, hingga membuat orang-orang yang hadir di sana menjadi tersesat (terkagum-kagum lalu memercayainya).

Aku (penulis) berkata: Dan sungguh aku telah mendengar guru kami, seorang ulama besar Abu al-Abbas bin Taimiyah rahimahullah berkata: "Ia dahulu biasa mengetuk batu marmer merah yang berada di dalam ruangan khusus imam (maqshurah) lalu batu tersebut bertasbih, dan ia adalah seorang zindik." Perkaranya kemudian dilaporkan kepada Abdul Malik bin Marwan, lalu ia melarikan diri ke Palestina hingga Abdul Malik memerintahkan agar ia ditangkap dan dihadapkan kepadanya. Begitu mereka membawanya sampai ke hadapan Abdul Malik, ia memerintahkan agar al-Harits disalib pada sebatang kayu. Abdul Malik lalu memerintahkan seorang lelaki untuk menikamnya dengan tombak, namun tombak tersebut justru membengkok saat mengenai salah satu tulang rusuknya. Abdul Malik bertanya kepadanya, "Celaka kamu, apakah kamu sudah membaca bismillah saat menikamnya tadi?"

Lelaki itu menjawab, "Saya lupa." Abdul Malik berkata lagi, "Celaka kamu, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) kemudian tikamlah dia!"

Penulis berkata: Ia pun menyebut nama Allah lalu menikamnya hingga tombak itu menembus tubuhnya. Sebelum menyalibnya, Abdul Malik sebenarnya telah memenjarakannya terlebih dahulu dan memerintahkan beberapa orang ulama dan ahli fikih untuk menasihatinya serta memberi tahu dia bahwa keajaiban yang ada pada dirinya itu berasal dari setan. Namun ia enggan menerima nasihat mereka, sehingga Abdul Malik menyalibnya setelah itu. Tindakan ini merupakan bagian dari kesempurnaan keadilan dan penjagaan agama.

Penyebaran Wabah Penyakit (Thain) di Wilayah Syam

Pada tahun 79 H, terjadi wabah penyakit menular yang sangat besar di wilayah Syam, hingga mereka hampir binasa karena kedahsyatan wabah tersebut. Akibatnya, tidak ada seorang pun dari penduduk Syam yang pergi berperang pada tahun itu karena kondisi mereka yang sangat lemah dan jumlah mereka yang menyusut. Melihat kondisi lemahnya pasukan dan prajurit Muslim tersebut, pasukan Romawi memanfaatkan kesempatan ini untuk bergerak maju hingga mencapai kota Antiokhia dan berhasil menimbulkan korban yang sangat besar di antara penduduknya.

Banjir Al-Juhaf di Mekah

Pada tahun 80 H, terjadi bencana banjir besar yang disebut banjir al-Juhaf di kota Mekah. Dinamakan demikian karena banjir tersebut menyapu (jahafe) segala sesuatu yang dilewatinya. Banjir ini menyeret para jemaah haji dari lembah Mekah serta unta-unta beserta muatan yang ada di atasnya. Baik laki-laki maupun perempuan terseret arus dan tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan mereka. Air banjir tersebut meluap hingga mencapai daerah al-Hajun dan menenggelamkan banyak sekali korban jiwa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa airnya naik begitu tinggi hingga hampir menutupi bangunan Ka'bah (Baitullah).

Wabah Penyakit yang Ganas (Al-Tha'un al-Jarif)

Pada tahun 80 Hijriah, terjadi wabah penyakit yang sangat ganas di Bashrah. Namun, Allah yang lebih mengetahui. Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun 69 Hijriah.

Fitnah (Pemberontakan) Ibnu al-Asy'ats

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 81 Hijriah, dan Ibnu Katsir mengikutinya dalam pendapat tersebut.

Penyebab utamanya adalah karena Al-Hajjaj membenci Ibnu al-Asy'ats, dan Ibnu al-Asy'ats memahami hal itu serta menyimpan niat buruk terhadapnya. Ketika Al-Hajjaj mengangkat Ibnu al-Asy'ats sebagai panglima pasukan, ia memerintahkannya untuk memasuki wilayah Rutbil, raja bangsa Turk. Ibnu al-Asy'ats pun berangkat hingga berhasil menguasai sebagian wilayah Turk.

Kemudian, ia berpandangan bahwa pasukannya sebaiknya mencukupkan diri dengan hasil tersebut terlebih dahulu agar posisi mereka kuat dan semakin bertenaga hingga tahun depan. Ia lalu menulis surat kepada Al-Hajjaj mengenai rencana tersebut. Namun, Al-Hajjaj membalas suratnya dengan meremehkan pendapatnya, menganggap lemah akalnya, menuduhnya penakut, serta dinilai enggan berperang. Al-Hajjaj memerintahkannya secara mutlak untuk tetap memasuki wilayah Rutbil. Surat tersebut disusul lagi dengan surat kedua, lalu surat ketiga.

Ketika surat-surat dari Al-Hajjaj yang mendesaknya untuk terus merangsek ke wilayah Rutbil datang bertubi-tubi, Ibnu al-Asy'ats mengumpulkan orang-orang yang bersamanya. Ia berdiri di hadapan mereka dan memberitahukan pandangannya semula, serta menyampaikan perintah Al-Hajjaj yang menyuruhnya untuk segera menyerang Rutbil. Mendengar hal itu, orang-orang pun tersulut emosi dan berseru, "Tidak! Sebaliknya, kita menolak perintah musuh Allah, Al-Hajjaj! Kita tidak akan mendengar dan tidak akan menaatinya!".

Orang yang pertama kali angkat bicara mengenai hal tersebut adalah Mutarrif bin 'Amir bin Wa'ilah al-Kinani, yang merupakan seorang penyair sekaligus orator. Ia menyampaikan sebuah syair perumpamaan:

"Bawalah budakmu naik ke atas kuda; jika ia binasa maka ia binasa, namun jika ia selamat maka ia milikmu."

Sesungguhnya jika kalian menang, hal itu hanya akan menambah kekuasaannya. Namun jika kalian binasa, kalian tetaplah musuh yang paling ia benci.

Kemudian ia berkata, "Turunkan (copot jabatan) musuh Allah, Al-Hajjaj, dan berikanlah baiat kepada pemimpin kalian yaitu Abdul Rahman bin al-Asy'ats! Sesungguhnya aku bersaksi di hadapan kalian bahwa akulah orang pertama yang melepaskan ketaatan kepada Al-Hajjaj." Orang-orang dari segala penjuru pun berseru, "Kami melepaskan ketaatan kepada musuh Allah!".

Mereka pun membaiatnya dan tidak menyebut-nyebut tentang pencopotan Abdul Malik bin Marwan. Setelah itu, Ibnu al-Asy'ats mengirim utusan kepada Rutbil untuk mengadakan perdamaian. Kemudian, Ibnu al-Asy'ats bergerak membawa pasukan yang bersamanya, berbalik arah dari Sijistan menuju tempat Al-Hajjaj untuk merebut wilayah Irak darinya. Baiat mereka kepada Ibnu al-Asy'ats ditegakkan di atas Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, mencopot para pemimpin kesesatan, serta memerangi orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Ketika berita tentang pencopotan dirinya sampai ke telinga Al-Hajjaj, ia segera menulis surat kepada Abdul Malik untuk memberitahukan hal tersebut, sekaligus memintanya agar mempercepat pengiriman pasukan bantuan kepadanya.

Ajakan Ibnu al-Asy'ats kepada Al-Muhallab

Ibnu al-Asy'ats menulis surat kepada Al-Muhallab bin Abi Sufrah yang isinya mengajak Al-Muhallab untuk ikut melepaskan ketaatan kepada Al-Hajjaj. Namun, Al-Muhallab justru mengirimkan surat tersebut kepada Al-Hajjaj. Al-Muhallab kemudian membalas surat Ibnu al-Asy'ats dengan berkata: "Sesungguhnya engkau, wahai Ibnu al-Asy'ats, telah menapakkan kakimu pada pijakan yang panjang (urusan yang teramat berat dan jauh konsekuensinya). Jagalah umat Muhammad! Demi Allah, demi Allah, perhatikanlah dirimu sendiri jangan sampai engkau membinasakannya! Jagalah darah kaum muslimin jangan sampai engkau menumpumpahkannya! Jagalah persatuan jangan sampai engkau memecahbelahnya! Dan jagalah baiat jangan sampai engkau melanggarnya! Jika engkau berkata, 'Aku mengkhawatirkan keselamatan diriku dari ancaman manusia,' maka Allah lebih berhak untuk engkau takuti ketimbang manusia. Janganlah engkau menghadapkan dirimu pada kemurkaan Allah dengan menumpahkan darah atau menghalalkan hal yang diharamkan. Semoga keselamatan tercurah kepadamu."

Pandangan Ibnu al-Muhallab dalam Menghadapi Ibnu al-Asy'ats

Al-Muhallab juga menulis surat kepada Al-Hajjaj yang berbunyi: "Amma ba'du. Sesungguhnya penduduk Irak telah bergerak menuju tempatmu bagaikan banjir bandang yang mengalir deras dari tempat tinggi; tidak ada sesuatu pun yang mampu membendungnya hingga ia sampai ke tempat pemberhentian akhirnya. Penduduk Irak memiliki semangat yang meluap-luap di awal keberangkatan mereka, serta kerinduan yang mendalam kepada anak-anak dan istri-istri mereka. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan mereka hingga mereka bertemu dengan keluarga mereka dan mendekap anak-anak mereka. Jika mereka sudah sampai pada kondisi itu, barulah perangi mereka. Karena sesungguhnya Allah akan menolongmu menghadapi mereka, insya Allah."

Ketika surat Al-Hajjaj sampai kepada Abdul Malik, kabar tersebut sangat mengejutkannya. Ia pun segera mempersiapkan pasukan dari Syam untuk dikirim ke Irak guna membantu Al-Hajjaj.

Al-Hajjaj bersiap-siap untuk keluar menghadapi Ibnu al-Asy'ats. Ia mengabaikan nasihat Al-Muhallab, padahal nasihat tersebut mengandung ketulusan dan kebenaran. Surat-surat dari Al-Hajjaj pun terus mengalir tanpa putus kepada Abdul Malik guna melaporkan perkembangan tentang Ibnu al-Asy'ats setiap pagi dan petang: di mana ia singgah? Dari mana ia berangkat? Dan orang-orang dari kelompok mana yang paling cepat bergabung dengannya?.

Orang-orang mulai berkumpul dan bergabung di sekitar Ibnu al-Asy'ats dari segala penjuru. Bahkan dikatakan bahwa ia bergerak bersama 33.000 pasukan berkuda dan 120.000 pasukan berjalan kaki. Sementara itu, Al-Hajjaj keluar bersama pasukan Syam dari Bashrah menuju ke arah Ibnu al-Asy'ats, lalu singgah di Tustar. Ia mengutus Muthahhir bin Hayy al-'Akki di garda depan sebagai panglima, bersama Abdullah bin Zumait sebagai panglima lainnya. Ketika mereka sampai di Sungai Dujail, ternyata garda depan pasukan Ibnu al-Asy'ats yang berkekuatan 300 pasukan berkuda di bawah pimpinan Abdullah bin Aban al-Haritsi telah berada di sana.

Kedua pasukan bertempur pada hari Idul Adha di dekat Sungai Dujail. Garda depan pasukan Al-Hajjaj berhasil dikalahkan. Pasukan Ibnu al-Asy'ats menewaskan banyak sekali tentara musuh, sekitar 1.500 orang. Mereka juga merampas apa saja yang ada di perkemahan musuh, mulai dari kuda, pakaian, hingga harta benda.

Ketika berita kekalahan pasukannya sampai kepada Al-Hajjaj, ia berseru, "Wahai manusia, kembalilah ke Bashrah, karena itu lebih meringankan bagi pasukan!". Ia pun mundur bersama orang-orang. Pasukan berkuda Ibnu al-Asy'ats terus mengejar mereka; tidaklah mereka mendapati orang yang tertinggal melainkan mereka membunuhnya, dan tidak ada yang terkejar melainkan dibinasakan. Al-Hajjaj melarikan diri tanpa memedulikan apa pun hingga sampai di Al-Zawiyah, lalu ia membangun perkemahan militer di sana. Ia terus bergumam, "Luar biasa hebatnya Al-Muhallab! Benar-benar seorang ahli perang sejati! Ia telah menunjukkan pandangan yang tepat kepada kita, namun kita tidak mau menerimanya."

Al-Hajjaj telah menginfakkan 150.000.000 dirham untuk pasukannya, dan ia membuat parit pertahanan di sekeliling pasukannya. Sementara itu, penduduk Irak telah masuk ke Bashrah, berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan mendekap anak-anak mereka. Ibnu al-Asy'ats juga memasuki Bashrah, lalu berpidato di hadapan masyarakat. Ia membaiat mereka dan mereka membaiatnya untuk mencopot Abdul Malik beserta wakilnya, Al-Hajjaj bin Yusuf. Seluruh orang yang berada di Bashrah—mulai dari para ahli fikih, ulama ahli Al-Qur'an (para qurra'), para tetua, hingga pemuda—sepakat untuk mencopot keduanya. Setelah itu, Ibnu al-Asy'ats memerintahkan untuk menggali parit di sekeliling Bashrah, dan proyek itu pun dikerjakan. Peristiwa ini terjadi pada akhir bulan Dzulhijjah tahun tersebut.

Pertempuran Al-Zawiyah antara Ibnu al-Asy'ats dan Al-Hajjaj

Pada bulan Muharram tahun 82 Hijriah, terjadilah Pertempuran Al-Zawiyah antara Ibnu al-Asy'ats dan Al-Hajjaj. Pada hari pertama, kemenangan berpihak pada penduduk Irak (pasukan Ibnu al-Asy'ats) atas penduduk Syam (pasukan Al-Hajjaj). Kemudian mereka bertempur kembali pada hari berikutnya. Sufyan bin al-Abrad—salah seorang panglima pasukan Syam—melancarkan serangan ke sayap kanan pasukan Ibnu al-Asy'ats dan berhasil memporak-porandakannya. Pada hari itu, banyak sekali korban gugur dari kalangan qurra' (ahli Al-Qur'an) yang merupakan pendukung Ibnu al-Asy'ats. Al-Hajjaj pun tersungkur bersujud kepada Allah setelah sebelumnya ia sempat bertumpu pada kedua lututnya dan menghunus sebagian pedangnya.

Ketika pendukung Ibnu al-Asy'ats melarikan diri, Al-Hajjaj kembali bersama orang-orang yang tersisa bersamanya serta penduduk Bashrah yang mengikutinya. Ia berjalan hingga memasuki Kufah. Penduduk Bashrah kemudian berpihak kepada Abdul Rahman bin Abbas bin Rabi'ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib lalu membaiatnya. Ia memerangi Al-Hajjaj selama lima malam dengan pertempuran yang sangat sengit.

Setelah itu, ia mundur dan bergabung dengan Ibnu al-Asy'ats, diikuti oleh sekelompok penduduk Bashrah. Al-Hajjaj mengangkat Ayyub bin al-Hakam bin Abi 'Aqil sebagai gubernur pengganti di Bashrah. Sementara itu, Ibnu al-Asy'ats memasuki Kufah dan dibaiat oleh penduduknya. Urusan pun menjadi semakin pelik, pengikut Ibnu al-Asy'ats bertambah banyak, situasi kian genting, persatuan benar-benar pecah, perkara menjadi teramat besar, dan keretakan wilayah semakin meluas.

Pertempuran Dairul Jamajim

Kemudian terjadilah Pertempuran Dairul Jamajim pada bulan Sya'ban tahun 82 Hijriah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Waqidi.

Kisah ini bermula ketika Ibnu al-Asy'ats menuju Kufah, penduduk kota tersebut keluar menyambutnya, mengelilinginya, dan berjalan di hadapannya. Urusan Kufah pun menjadi kokoh di bawah kendali Ibnu al-Asy'ats. Orang-orang yang datang dari Bashrah turut bergabung bersamanya, di antaranya adalah Abdul Rahman bin al-Abbas bin Rabi'ah bin Abdul Muthalib. Ibnu al-Asy'ats memerintahkan untuk menjaga pos-pos keamanan di setiap penjuru, serta membentengi wilayah perbatasan, jalur-jalur, dan jalan-jalan lintasan.

Kemudian Al-Hajjaj berkuda bersama pasukan Syam yang menyertainya dari Bashrah melalui jalur darat, hingga melewati kawasan antara Qadisiyah dan Al-'Udzaib. Ibnu al-Asy'ats mengirim Abdul Rahman bin al-Abbas untuk menghadapinya dengan membawa pasukan berkuda yang besar dari dua kota (Bashrah dan Kufah). Mereka berhasil menghalangi Al-Hajjaj untuk singgah di Qadisiyah. Al-Hajjaj pun melanjutkan perjalanan hingga singgah di Dair Qurrah. Sementara itu, Ibnu al-Asy'ats datang bersama pasukan Bashrah dan Kufah yang bersamanya hingga singgah di Dairul Jamajim. Ia membawa pasukan yang sangat banyak, di antaranya termasuk para qurra' dari kedua kota tersebut serta orang-orang saleh.

Jumlah total orang yang berkumpul bersama Ibnu al-Asy'ats adalah 100.000 pejuang dari kalangan mereka yang berhak menerima tunjangan resmi, ditambah dengan jumlah yang sama dari kalangan mawali (budak yang telah dimerdekakan/non-Arab). Di sisi lain, bantuan pasukan yang sangat banyak dari Syam berdatangan kepada Al-Hajjaj. Kedua belah pihak masing-masing menggali parit di sekeliling pasukannya agar terhindar dari sergapan musuh. Meskipun demikian, setiap hari ada saja orang yang keluar menantang satu sama lain, sehingga terjadi pertempuran yang sengit setiap harinya. Akibatnya, banyak tokoh penting dari kalangan Quraisy dan suku lainnya yang gugur. Situasi ini terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Abdul Malik Menawarkan Perdamaian kepada Ibnu al-Asy'ats

Para pembesar dari kalangan dewan penasihat berkumpul di kediaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Mereka berkata kepadanya, "Jika tuntutan penduduk Irak agar mereka rida kepadamu adalah dengan mencopot Al-Hajjaj dari jabatan mereka, maka hal itu jauh lebih ringan dan mudah daripada memerangi mereka serta menumpahkan darah mereka."

Maka, Abdul Malik mengutus saudaranya, Muhammad bin Marwan, dan putranya, Abdullah bin Abdul Malik bin Marwan, dengan membawa pasukan yang sangat besar. Ia menulis surat bersama mereka yang ditujukan kepada penduduk Irak yang isinya berbunyi: "Jika yang membuat kalian rida kepadaku adalah dicopotnya Al-Hajjaj dari jabatan kalian, maka aku akan mencopotnya. Aku juga akan tetap memberikan hak tunjangan kalian setara dengan penduduk Syam. Silakan Ibnu al-Asy'ats memilih kota mana saja yang ia sukai untuk ia pimpin sebagai gubernur selama ia dan aku masih hidup, dan kepemimpinan wilayah Irak secara umum akan diserahkan kepada Muhammad bin Marwan."

Abdullah dan Muhammad kemudian menunjukkan surat Khalifah Abdul Malik bin Marwan tersebut kepada mereka. Penduduk Irak berkata, "Kami akan mempertimbangkan urusan kami besok, dan kami akan memberikan jawaban kepada kalian besok malam." Setelah itu mereka bubar, dan seluruh panglima berkumpul di tempat Ibnu al-Asy'ats untuk merundingkan penawaran tersebut.

Namun para panglima itu berkata, "Tidak, demi Allah, kami tidak akan menerima penawaran itu! Kita memiliki jumlah pasukan dan persiapan yang lebih banyak, sedangkan kondisi mereka sedang dalam keadaan terjepit. Kita telah memegang kendali atas mereka dan mereka telah tunduk kepada kita. Demi Allah, kami tidak akan pernah menerima tawaran tersebut selamanya!"

Kemudian mereka semua sepakat untuk memperbarui sumpah pencopotan (melepaskan ketaatan kepada) Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk kedua kalinya. Maka pada saat itu, masing-masing dari kedua belah pihak maju untuk bertempur dan berperang. Mereka saling berperang setiap hari. Penduduk Irak mendapatkan pasokan makanan, pakan ternak, dan kebutuhan lainnya dari desa-desa dan wilayah-wilayah sekitarnya. Sementara itu, penduduk Syam yang bersama al-Hajjaj berada dalam kesempitan hidup dan kekurangan makanan. Perang terus berlangsung sepanjang periode ini hingga tahun tersebut berakhir, sementara mereka tetap berada dalam kondisi tersebut dan terus berperang setiap hari. Kemenangan lebih sering berpihak kepada penduduk Irak atas penduduk Syam di sebagian besar hari.

Kekalahan Ibnu al-Asy'ats dan Pelariannya

Tahun baru pun dimulai dalam keadaan orang-orang masih saling berhadapan dalam peperangan. Di sebagian besar hari, kemenangan berpihak kepada penduduk Irak atas penduduk Syam, hingga dikatakan bahwa para pengikut Ibnu al-Asy'ats berhasil mengalahkan pasukan al-Hajjaj sebanyak delapan puluh sekian kali.

Meskipun demikian, al-Hajjaj tetap teguh di posisinya, bersabar dan bertahan. Ia tidak beranjak dari tempatnya berada. Bahkan, jika ia meraih kemenangan pada suatu hari, ia akan memajukan pasukannya ke hadapan musuhnya. Ia adalah orang yang berpengalaman dalam perang. Hal itu terus menjadi kebiasaannya dan kebiasaan mereka, hingga akhirnya ia memerintahkan untuk menyerang pasukan ahli Al-Qur'an (Katibat al-Qurra'). Alasan al-Hajjaj menyerang mereka karena orang-orang menjadi pengikut mereka, dan merekalah yang membakar semangat orang-orang untuk berperang, serta menjadi panutan bagi yang lain.

Pasukan ahli Al-Qur'an itu pun bertahan menghadapi serangan pasukan al-Hajjaj. Kemudian, al-Hajjaj mengumpulkan para pemanah dari pasukannya dan menyerang bersama mereka. Serangan itu tidak berhenti sampai banyak sekali dari mereka yang terbunuh. Setelah itu, ia menyerang pasukan Ibnu al-Asy'ats, sehingga para pengikut Ibnu al-Asy'ats kalah dan melarikan diri ke segala arah. Ibnu al-Asy'ats sendiri ikut melarikan diri di depan mereka bersama sejumlah kecil pasukannya yang tersisa.

Al-Hajjaj lalu mengirimkan pasukan yang besar untuk mengejarnya di bawah pimpinan Umarah bin Tamim al-Lakhmi bersama Muhammad bin al-Hajjaj, dengan komando berada di tangan Umarah. Mereka terus memburu di belakang pasukan Ibnu al-Asy'ats untuk menangkapnya, baik dalam keadaan terbunuh maupun tertawan. Umarah terus mengejar dan melewati berbagai wilayah, kota, dan desa, sementara mereka terus membuntutinya hingga sampai ke Kirman.

Kemudian, Ibnu al-Asy'ats bersama sisa pasukannya yang melarikan diri masuk ke wilayah Rutbil, raja orang-orang Turki. Rutbil memuliakannya, menjamunya di kediamannya, memberikan jaminan keamanan, dan sangat menghormatinya. Bersama Ibnu al-Asy'ats, terdapat Abdurrahman bin Abbas bin Rabi'ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib, yang bertindak sebagai imam salat bagi orang-orang di wilayah Rutbil tersebut. Kemudian, sekelompok pasukan yang melarikan diri dari al-Hajjaj berkumpul dan menyusul di belakang Ibnu al-Asy'ats agar bisa bersamanya, di mana jumlah mereka mendekati enam puluh ribu orang. Ketika mereka sampai di Sijistan, mereka mendapati bahwa Ibnu al-Asy'ats telah masuk menemui Rutbil, lalu mereka berhasil menguasai Sijistan.

Kemudian mereka menulis surat kepada Ibnu al-Asy'ats: "Keluarlah kepada kami agar kami bisa bersamamu; kami akan membelamu melawan orang-orang yang menentangmu, dan kita akan merebut wilayah Khurasan. Sebab, di sana terdapat pasukan besar dari kalangan kita. Kita akan menetap di sana sampai Allah membinasakan al-Hajjaj atau Abdul Malik, lalu setelah itu kita akan menentukan sikap kita."

Maka Ibnu al-Asy'ats keluar menemui mereka dan berjalan bersama mereka sedikit menuju arah Khurasan. Namun, sekelompok kecil penduduk Irak memisahkan diri darinya bersama Ubaidillah bin Abdurrahman bin Samurah. Ibnu al-Asy'ats pun berdiri berkhotbah di hadapan mereka, menyebutkan pengkhianatan mereka dan keengganan mereka untuk berperang, lalu berkata: "Aku tidak butuh kalian, aku akan pergi ke sahabatku, Rutbil, dan tinggal bersamanya." Kemudian ia pergi meninggalkan mereka, dan diikuti oleh sebagian kelompok dari mereka, sedangkan mayoritas pasukan tetap tinggal.

Ketika Ibnu al-Asy'ats telah berpisah dari mereka, mereka membaiat Abdurrahman bin Abbas bin Rabi'ah al-Hasyimi dan berjalan bersamanya menuju Khurasan. Maka gubernur Khurasan, Yazid bin al-Muhallab bin Abi Sufrah, keluar menghadapi mereka untuk mencegah mereka memasuki wilayahnya. Yazid menulis surat kepada Abdurrahman bin Abbas yang isinya: "Sesungguhnya negeri ini sangat luas, pergilah ke tanah yang tidak berada di bawah kekuasaanku, karena aku tidak suka memerangimu. Jika engkau menginginkan harta, aku akan mengirimkannya kepadamu."

Abdurrahman menjawab: "Kami datang bukan untuk memerangi siapa pun. Kami datang hanya untuk beristirahat dan mengistirahatkan kuda-kuda kami, lalu kami akan pergi. Kami tidak membutuhkan apa yang engkau tawarkan." Kemudian Abdurrahman mulai menarik pajak (kharaj) dari daerah-daerah di sekitar kota-kota Khurasan.

Maka Yazid bin al-Muhallab bersama saudaranya, al-Mufadhdhal, keluar menghadapinya dengan pasukan yang besar. Ketika kedua pihak bertemu, mereka bertempur dalam waktu yang tidak lama, kemudian pasukan Abdurrahman bin Abbas kalah. Yazid membantai mereka dengan korban yang sangat besar, menawan banyak tawanan, menguasai apa yang ada di perkemahan mereka, dan mengirim para tawanan tersebut kepada al-Hajjaj.

Nasib Para Tawanan dan Orang-orang yang Kalah

Ketika para tawanan dihadapkan kepada al-Hajjaj, ia membunuh sebagian besar dari mereka dan mengampuni sebagian lainnya. Pada hari ketika al-Hajjaj mengalahkan Ibnu al-Asy'ats di Dayr al-Jamajim, penyerunya telah mengumumkan kepada orang-orang: "Barang siapa yang kembali, maka dia aman. Dan barang siapa yang menyusul Qutaibah bin Muslim di Rayy, maka dia aman." Maka banyak sekali orang yang tadinya bersama Ibnu al-Asy'ats menyusul Qutaibah, lalu al-Hajjaj memberikan jaminan keamanan kepada mereka. Sedangkan orang-orang yang tidak menyusulnya, al-Hajjaj mulai memburu mereka dan membunuh banyak sekali orang dari mereka.

Asy-Sya'bi termasuk salah satu orang yang pergi menyusul Qutaibah bin Muslim. Suatu hari al-Hajjaj menyebut namanya, lalu dikatakan kepadanya bahwa Asy-Sya'bi telah pergi kepada Qutaibah. Maka al-Hajjaj menulis surat kepada Qutaibah: "Kirimkan Asy-Sya'bi kepadaku."

Asy-Sya'bi menceritakan: "Ketika aku masuk menemui al-Hajjaj, aku memberi salam kepadanya dengan gelar keamiran (sebagai amir), kemudian aku berkata: 'Wahai Amir, sesungguhnya orang-orang telah menyuruhku untuk meminta maaf kepadamu dengan alasan yang tidak diketahui oleh Allah sebagai kebenaran. Demi Allah, aku tidak akan mengatakan di tempat ini kecuali kebenaran. Demi Allah, kami telah memberontak kepadamu, menghasut, dan mengerahkan segala kemampuan, serta tidak menahan diri. Namun Allah telah memenangkanmu atas kami dan membuatmu mengalahkan kami. Jika engkau menyiksa, itu karena dosa-dosa kami dan apa yang telah diperbuat oleh tangan kami. Namun jika engkau mengampuni kami, itu karena kemurahan hatimu, dan bagaimanapun, alasan yang kuat ada padamu untuk menghukum kami.'"

Maka al-Hajjaj berkata: "Demi Allah, wahai Sya'bi, engkau lebih aku sukai daripada orang yang masuk menemui kami sementara pedangnya masih meneteskan darah kami, kemudian dia berkata: 'Aku tidak melakukannya dan tidak menyaksikannya.' Engkau telah aman di sisi kami, wahai Sya'bi."

Al-Hajjaj kemudian berjalan menuju Kufah lalu memasukinya. Ia tidak membaiat seorang pun dari penduduknya kecuali ia berkata kepada orang tersebut: "Apakah engkau bersaksi atas dirimu sendiri bahwa engkau telah kafir?" Jika orang tersebut menjawab: "Ya," maka al-Hajjaj membaiatnya. Namun jika menolak, ia akan membunuhnya. Ia pun membunuh banyak sekali orang dari kalangan mereka yang menolak untuk bersaksi atas diri mereka sendiri dengan kekafiran.

Kemudian al-Hajjaj mulai memburu para pengikut Ibnu al-Asy'ats, lalu membunuh mereka baik berdua maupun sendiri-sendiri, hingga dikatakan bahwa ia telah membunuh di hadapannya dengan hukuman mati (shabran) sebanyak seratus tiga puluh ribu orang. Hal itu dikatakan oleh an-Nadhr bin Syumail, dari Hisyam bin Hassan. Di antara mereka terdapat Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash, serta sekelompok pemuka masyarakat, hingga yang terakhir dari mereka adalah Sa'id bin Jubair—semoga Allah merahmati mereka dan meridai mereka.

Nasib Ibnu al-Asy'ats

Pada tahun 84 H, terjadi kematian Abdul Rahman bin Muhammad bin al-Asy'ats bin Qais al-Kindi, dan ada yang mengatakan pada tahun setelahnya, wallahu a'lam (dan Allah yang lebih mengetahui).

Hal itu terjadi karena al-Hajjaj menulis surat kepada Rutbil, raja orang-orang Turki yang menjadi tempat berlindung Ibnu al-Asy'ats. Berikut adalah kutipan teks ancaman tersebut beserta terjemahannya:

وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَئِنْ لَمْ تَبْعَثْ إِلَيَّ بِابْنِ الْأَشْعَثِ لَأَبْعَثَنَّ إِلَى بِلَادِكَ أَلْفَ أَلْفِ مُقَاتِلٍ، وَلَأُخَرِّبَنَّهَا.

"Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, jika engkau tidak mengirimkan Ibnu al-Asy'ats kepadaku, aku benar-benar akan mengirimkan satu juta pejuang ke negerimu dan aku pasti akan menghancurkannya."

Ketika ancaman dari al-Hajjaj itu terbukti nyata, Rutbil meminta saran dari beberapa panglimanya, lalu panglima tersebut menyarankannya untuk menyerahkan Ibnu al-Asy'ats kepada al-Hajjaj sebelum al-Hajjaj menghancurkan negerinya dan merebut sebagian besar kota-kotanya. Maka Rutbil mengirim pesan kepada al-Hajjaj dengan mengajukan syarat agar al-Hajjaj tidak memeranginya selama sepuluh tahun, dan ia tidak perlu membayar pajak (kharaj) setiap tahunnya kecuali seratus ribu saja, lalu al-Hajjaj mengabulkan permintaan tersebut.

Kemudian Rutbil mengkhianati Ibnu al-Asy'ats. Kisah yang terkenal adalah bahwa ia menangkap Ibnu al-Asy'ats beserta tiga puluh orang kerabatnya, membelenggu mereka dengan rantai besi, lalu mengirim mereka bersama para utusan al-Hajjaj untuk diantarkan kepadanya.

Ketika mereka berada di tengah jalan di suatu tempat bernama ar-Rukhaj, Ibnu al-Asy'ats naik ke atap sebuah istana dalam keadaan dibelenggu dengan besi, dan bersamanya ada seorang penjaga yang ditugaskan mengawasinya agar ia tidak melarikan diri. Lalu ia menjatuhkan dirinya dari istana tersebut, dan penjaga yang mengawasinya ikut jatuh bersamanya, sehingga keduanya mati seketika. Sang utusan kemudian mendatangi jasad Ibnu al-Asy'ats lalu memenggal kepalanya, membunuh para pengikut Ibnu al-Asy'ats yang bersamanya, dan mengirimkan kepala-kepala mereka kepada al-Hajjaj.

Pendapat Ibnu Katsir tentang Fitnah Ibnu al-Asy'ats

Ibnu Katsir berkata: "Sungguh sangat mengherankan dari orang-orang yang membaiatnya sebagai pemimpin, padahal dia bukan dari kaum Quraisy, melainkan seorang Kindi dari Yaman. Padahal para sahabat telah sepakat pada hari Tsaqifah bahwa kepemimpinan itu tidak ada kecuali pada kaum Quraisy, dan ash-Shiddiq (Abu Bakar) berargumen di hadapan mereka dengan hadis mengenai hal tersebut, bahkan kaum Anshar meminta agar ada seorang pemimpin dari kalangan mereka bersama pemimpin dari kalangan Muhajirin, namun ash-Shiddiq menolaknya. Bagaimana mungkin mereka sengaja mendatangi seorang khalifah yang telah dibaiat untuk memegang kepemimpinan atas kaum muslimin sejak bertahun-tahun, lalu mereka menggulingkannya padahal ia adalah keturunan murni Quraisy, kemudian mereka membaiat seorang pria dari suku Kindi dengan baiat yang tidak disepakati oleh para pemegang otoritas (ahlul halli wal aqdi)?"

Berikut adalah kalimat penutup dari Ibnu Katsir beserta terjemahannya:

وَلِهَذَا لَمَّا كَانَتْ هَذِهِ زَلَّةٌ وَفَلْتَةٌ نَشَأَ بِسَبَبِهَا شَرٌّ كَثِيرٌ هَلَكَ فِيهِ خَلْقٌ كَثِيرٌ، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

"Oleh karena itu, ketika hal ini menjadi sebuah kesalahan dan kekhilafan besar, timbullah darinya keburukan yang banyak yang membinasakan banyak sekali manusia. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami pasti kembali."

Pembangunan Kota Wasit

Ibnu Jarir berkata: "Pada tahun 83 H, al-Hajjaj membangun kota Wasit. Kota tersebut dinamakan demikian karena letaknya yang berada di tengah-tengah (tawassuth) antara dua kota besar, yaitu Bashrah dan Kufah. Lokasinya telah dipilih dengan cermat, dan pembangunan di sana terus berlanjut hingga tahun 86 H. Ia mengalirkan sungai-sungai ke sana, serta memperbanyak tanaman dan pertanian di wilayah tersebut."

Baiat Abdul Malik untuk Putranya, Al-Walid

Pada tahun 85 H, Abdul Malik menunjuk putranya, al-Walid, sebagai putra mahkota, dan setelahnya adalah saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Maka baiat dilakukan untuk keduanya di Damaskus, kemudian di seluruh wilayah lainnya.

Ketika proses baiat sampai ke Madinah, Said bin al-Musayyib menolak untuk memberikan baiat kepada siapa pun selama Abdul Malik masih hidup. Maka Hisyam bin Ismail, gubernur Madinah, memerintahkan agar Said dicambuk sebanyak enam puluh kali, lalu menjebloskannya ke dalam penjara. Ia juga menulis surat kepada Abdul Malik untuk memberitahukan penolakan Said dalam masalah tersebut. Namun Abdul Malik menulis surat balasan yang isinya mengecam tindakan gubernur tersebut dan memerintahkannya untuk mengeluarkan Said, seraya berkata: "Sesungguhnya kami mengetahui bahwa Said tidak memiliki maksud untuk memecah belah ataupun menentang."

Terjadinya Wabah Penyakit (Thaun) di Sebagian Negeri

Pada tahun 86 H, terjadi wabah penyakit (thaun) di Syam, Bashrah, dan Wasit. Wabah ini disebut sebagai "Thaun al-Fatayat" (Wabah Para Pemudi); karena wabah tersebut pertama kali dimulai menyerang kaum wanita, sehingga dinamakan dengan nama tersebut.

Kaum Khawarij pada Masa Abdul Malik

Setelah Abdul Malik bin Marwan merebut Irak dari Ibnu az-Zubair, ia mengangkat saudaranya, Bisyr, sebagai gubernur Kufah, dan Khalid al-Qasri sebagai gubernur Bashrah. Kemudian Khalid mengangkat al-Muhallab bin Abi Sufrah pada tahun 72 H untuk memimpin wilayah Al-Ahwaz dan daerah sekitarnya. Khalid berterima kasih atas usahanya dalam memerangi kaum Khawarij dan memujinya dengan pujian yang banyak.

Kemudian orang-orang terlibat pertempuran sengit dengan kaum Khawarij di Al-Ahwaz di bawah pimpinan Abdul Aziz al-Qasri, namun pasukan muslim mengalami kekalahan yang sangat besar dan mereka melarikan diri tanpa memedulikan siapa pun. Abdul Malik lalu mengirim pesan kepada saudaranya, Bisyr bin Marwan, agar membantu mereka dengan empat ribu pasukan. Bisyr pun mengirimkan empat ribu pasukan yang dipimpin oleh Attab bin Warqa'. Mereka berhasil mengusir kaum Khawarij dengan pengusiran yang sejauh-jauhnya, akan tetapi pasukan tersebut mengalami keletihan dan kesulitan yang sangat besar, kuda-kuda mereka mati, dan sebagian besar dari mereka tidak kembali kepada keluarga mereka melainkan dengan berjalan kaki.

Pemberontakan Abu Fudaik di Bahrain

Ibnu Jarir berkata: "Pada tahun 72 H, terjadi pemberontakan Abu Fudaik al-Haritsi, yang berasal dari Bani Qais bin Tsa'labah. Ia berhasil menguasai Bahrain dan membunuh Najdah bin Amir al-Haruri. Maka Khalid bin Abdullah, gubernur Bashrah, mengutus saudaranya, Umayyah bin Abdullah, dengan membawa pasukan yang besar. Namun Abu Fudaik berhasil mengalahkan mereka, menawan seorang budak wanita milik Umayyah, dan mengambilnya untuk dirinya sendiri. Khalid bin Abdullah, gubernur Bashrah, kemudian menulis surat kepada Abdul Malik untuk memberitahukan apa yang terjadi. Bagi Khalid, terkumpul sekaligus peperangan melawan Abu Fudaik di Bahrain dan peperangan melawan kaum Azariqah (salah satu sekte Khawarij), pengikut Qathari bin al-Fuja'ah di Al-Ahwaz."

Penunjukan Al-Muhallab untuk Memerangi Kaum Khawarij

Pada tahun 74 H, Abdul Malik menunjuk al-Muhallab bin Abi Sufrah untuk memimpin peperangan melawan kaum Khawarij Azariqah. Al-Muhallab pun berjalan bersama penduduk Bashrah dan para komandan pasukan dari empat wilayah sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing, hingga ia singgah di Ramahurmuz. Ia tidak tinggal di sana kecuali hanya selama sepuluh hari sampai datang berita kematian Bisyr bin Marwan, bahwa ia telah wafat di Bashrah dan digantikan sementara oleh Khalid bin Abdullah.

Akibatnya, sebagian pasukan membubarkan diri dan kembali ke Bashrah. Maka dikirimlah orang-orang untuk mengejar dan mengembalikan mereka. Khalid bin Abdullah menulis surat kepada orang-orang yang melarikan diri tersebut, mengancam mereka jika tidak kembali kepada komandan mereka, serta mengancam mereka dengan kemurkaan Abdul Malik.

Namun mereka membelokkan arah perjalanan dari Bashrah dan meminta izin kepada Amr bin Huraits untuk masuk ke Kufah. Amr menulis surat balasan kepada mereka: "Sesungguhnya kalian telah meninggalkan komandan kalian, dan kalian datang dalam keadaan bermaksiat lagi menentang. Tidak ada izin bagi kalian, tidak ada pemimpin, dan tidak ada jaminan keamanan bagi kalian."

Ketika surat tersebut sampai kepada mereka, mereka kembali menuju tunggangan mereka lalu menungganginya. Kemudian mereka berjalan ke sebagian negeri dan terus bersembunyi di sana hingga al-Hajjaj datang sebagai gubernur Irak menggantikan Bisyr bin Marwan.

Melemahnya Kekuatan Kaum Khawarij

Al-Hajjaj mengirim utusan kepada al-Muhallab dan Abdurrahman bin Mikhnaf, lalu memerintahkan keduanya untuk menghadapi kaum Azariqah. Keduanya pun bangkit bersama orang-orang yang ada bersama mereka untuk menyerang kaum Khawarij Azariqah, dan berhasil mengusir mereka dari tempat-tempat mereka di Ramahurmuz dalam sebuah pertempuran yang mudah.

Kaum Khawarij melarikan diri ke tanah Kazerun di wilayah Sabur, dan pasukan muslim terus mengejar di belakang mereka. Kedua pihak bertemu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Ketika malam tiba, kaum Khawarij melakukan serangan mendadak di malam hari (bayat) terhadap al-Muhallab. Namun mereka mendapati al-Muhallab telah membentengi diri dengan parit di sekeliling perkemahannya. Maka mereka mendatangi Abdurrahman bin Mikhnaf dan mendapatinya dalam keadaan tidak bersiap-siap—padahal al-Muhallab telah memerintahkannya untuk waspada dengan membuat parit di sekelilingnya namun ia tidak melakukannya—maka mereka pun bertempur di malam hari.

Kaum Khawarij berhasil membunuh Abdurrahman bin Mikhnaf beserta sekelompok pasukannya, dan mereka mengalahkan pasukan tersebut dengan kekalahan yang sangat telak. Ketika pagi hari tiba, Al-Muhallab datang lalu menyolatkan dan memakamkannya, kemudian ia menulis surat kepada Al-Hajjaj untuk mengabarkan kematiannya. Al-Hajjaj lalu menulis surat kepada Abdul Malik untuk menyampaikan belasungkawa atas kematiannya, maka Abdul Malik pun mengumumkan berita duka tersebut kepada orang-orang di Mina, dan Al-Hajjaj mengangkat Ittab bin Warqa' sebagai pengganti posisinya.

Pemberontakan Khawarij di Bawah Pimpinan Shalih bin Musrih

Pada awal (tahun 76 H), tepatnya di permulaan bulan Safar pada malam Rabu, terjadi pertemuan antara Shalih bin Musrih—pemimpin kelompok Sufriyah—dan Shabib bin Yazid, salah seorang pemberani dari kaum Khawarij. Shalih bin Musrih lalu berdiri di hadapan mereka dan memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allah, mendorong mereka untuk berjihad, serta berpesan agar tidak memerangi siapa pun sampai mereka mengajaknya terlebih dahulu untuk bergabung bersama mereka.

Kemudian mereka mendatangi hewan-hewan tunggangan milik Muhammad bin Marwan, gubernur Al-Jazirah yang merupakan saudara dari Khalifah Abdul Malik. Mereka mengambil hewan-hewan tersebut untuk memperkuat diri, lalu menetap di wilayah Dara selama tiga belas malam. Penduduk Dara, Nashibin, dan Sinjar membentengi diri dari mereka.

Melihat hal itu, Muhammad bin Marwan selaku gubernur Al-Jazirah mengirimkan lima ratus penunggang kuda di bawah pimpinan Adi bin Adi bin Amilah, kemudian menambahnya lagi dengan lima ratus pasukan lainnya. Adi pun berjalan membawa seribu pasukan dari Harran menuju tempat kaum Khawarij, dan ia seolah-olah sedang digiring menuju kematian sambil menyaksikannya ; hal itu karena ia mengetahui betul tentang ketabahan, kekuatan, dan keberanian kaum Khawarij yang sangat luar biasa.

Ketika ia bertemu dengan kaum Khawarij, mereka mengalahkannya dengan kekalahan yang sangat buruk dan mengerikan, serta berhasil menguasai apa yang ada di dalam perkemahan militernya. Sisa-sisa pasukannya yang kocar-kacir kembali kepada Muhammad bin Marwan. Muhammad bin Marwan pun marah, lalu mengirimkan seribu lima ratus pasukan bersama Al-Harits bin Ja'wanah, dan seribu lima ratus pasukan lainnya bersama Khalid bin Juz' As-Sulami. Ia berkata kepada keduanya: "Siapa pun di antara kalian berdua yang lebih dulu sampai kepada mereka, maka dialah yang menjadi pemimpin atas semua orang."

Merekapun berjalan menuju kaum Khawarij dalam barisan tiga ribu pejuang, sementara jumlah kaum Khawarij saat itu hanya sekitar seratus sepuluh orang. Ketika mereka sampai di Amad, Shalih menghadang Khalid bin Juz' bersama separuh pasukannya, dan mengutus Shabib untuk menghadang Al-Harits bin Ja'wanah bersama sisa pasukan yang ada. Orang-orang pun berperang pada hari itu dengan peperangan yang sangat sengit hingga malam tiba. Ketika malam telah gelap, masing-masing dari kedua belah pihak menahan diri dari yang lain. Korban gugur dari kaum Khawarij sekitar tujuh puluh orang, sedangkan dari pihak pasukan Ibnu Marwan tewas sekitar tiga puluh orang, lalu kaum Khawarij melarikan diri pada malam hari.

Mereka keluar dari wilayah Al-Jazirah dan mengambil jalur menuju wilayah Mosul, lalu terus berjalan hingga melewati Ad-Daskarah. Al-Hajjaj kemudian mengirimkan tiga ribu pasukan bersama Al-Harits bin Umayrah untuk mengejar mereka. Al-Harits berjalan menuju arah mereka hingga berhasil menyusul mereka di wilayah Mosul, padahal saat itu Shalih tidak bersama siapa pun kecuali hanya sembilan puluh orang laki-laki saja.

Ia pun bertempur dengan mereka, di mana Shalih membagi pasukannya menjadi tiga kelompok (batalyon) : ia berada di satu kelompok, Shabib berada di sebelah kanannya dalam satu kelompok, dan Suwaid bin Sulaiman berada di sebelah kirinya dalam satu kelompok. Al-Harits bin Umayrah menyerang mereka bersama Abu Ar-Rawwan Asy-Syakiri di posisi sayap kanan, dan Az-Zubair bin Al-Arwah At-Tamimi di posisi sayap kiri.

Kaum Khawarij bertahan dengan sangat tangguh meskipun jumlah mereka sedikit. Namun kemudian posisi Suwaid bin Sulaiman tercerai-berang, lalu Shalih bin Musrih—pemimpin mereka—gugur terbunuh. Shabib juga terlempar dari kudanya, sehingga sisa-sisa kaum Khawarij segera mengelilinginya dan membantunya hingga mereka bisa membawanya masuk ke dalam sebuah benteng di sana.

Saat itu yang tersisa bersama mereka hanya tujuh puluh orang pria. Al-Harits bin Umayrah mengepung mereka dan memerintahkan pasukannya untuk membakar pintu benteng, lalu mereka pun melakukannya. Pasukan Al-Harits kemudian kembali ke perkemahan mereka sambil menunggu pintu tersebut habis terbakar agar dapat menangkap kaum Khawarij secara paksa.

Ketika pasukan Al-Harits sudah kembali dan beristirahat dengan tenang, tiba-tiba kaum Khawarij keluar menyerbu mereka dari pintu tersebut dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Mereka melakukan serangan mendadak pada malam hari terhadap pasukan Al-Harits bin Umayrah, sehingga berhasil membantai mereka dengan pembantaian yang besar. Pasukan Al-Harits pun melarikan diri dengan cepat menuju Al-Madain, sementara Shabib dan para pengikutnya menguasai harta benda serta logistik yang ada di perkemahan militer mereka. Pasukan Al-Harits bin Umayrah adalah pasukan pertama yang berhasil dikalahkan oleh Shabib. Adapun terbunuhnya Shalih bin Musrih terjadi pada hari Selasa, tersisa tiga belas malam dari bulan Jumadil Akhir pada tahun tersebut.

Pemberontakan Shabib bin Yazid Al-Khariji

Pada tahun (76 H), Shabib memasuki kota Kufah bersama istrinya yang bernama Ghazalah. Hal itu terjadi setelah Shabib melewati berbagai peristiwa yang sangat panjang rinciannya setelah terbunuhnya Shalih bin Musrih. Kaum Khawarij kemudian berkumpul kepadanya dan membaiatnya.

Al-Hajjaj lalu mengirimkan pasukan lain untuk menghadapinya; mereka memeranginya dan sempat mengalahkannya, namun setelah itu Shabib gantian mengalahkan mereka. Kemudian ia berjalan dan mengepung kota Al-Madain, tetapi tidak mendapatkan hasil apa pun di sana. Lalu ia pergi dan mengambil hewan-hewan tunggangan milik Al-Hajjaj dari Kalwadza, hingga akhirnya ia berhasil memasuki Kufah dan menuju istana emirat (pusat pemerintahan). Ia memukul pintu istana dengan tongkat besinya hingga bekas pukulannya membekas di pintu tersebut, sehingga setelah itu bekas tersebut dikenal orang-orang dengan sebutan: "Ini adalah bekas pukulan Shabib."

Al-Hajjaj pun berseru memanggil orang-orang: "Wahai pasukan Allah, naiklah ke tunggangan kalian dan bergembiralah!" Maka Shabib pun keluar dari Kufah. Al-Hajjaj lalu menyiapkan enam ribu pejuang untuk mengejar di belakangnya, dan mereka pun berjalan mengikutinya.

Urusan Shabib ini menjadi semakin besar dan kuat, hingga membuat Abdul Malik bin Marwan, Al-Hajjaj, serta seluruh jajaran amir (gubernur/penguasa) merasa terguncang. Abdul Malik merasa sangat ketakutan kepadanya, sehingga ia mengirimkan pasukan dari penduduk Syam untuk menghadapinya. Pasukan tersebut datang pada tahun (77 H) ketika tidak ada lagi yang tersisa bersama Shabib kecuali hanya sekelompok kecil orang saja, padahal ia telah memenuhi hati orang-orang dengan rasa takut yang luar biasa.

Sebelumnya, Al-Hajjaj telah mengerahkan para pejuang dari penduduk Kufah dan mengangkat Ittab bin Warqa' sebagai pemimpin mereka, serta memerintahkannya untuk memburu Shabib bin Yazid di mana pun ia berada. Ketika berita tentang pasukan yang dikirim oleh Al-Hajjaj sampai ke telinga Shabib, ia langsung berdiri berkhotbah di hadapan para pengikutnya; ia menasihati dan mengingatkan mereka, serta mendorong mereka untuk bersabar saat bertempur dan menghadapi musuh.

Kemudian Shabib berjalan bersama para pengikutnya menuju arah Ittab bin Warqa', lalu keduanya saling bertemu di akhir siang saat matahari terbenam. Setelah Shabib melaksanakan salat Magrib bersama para pengikutnya, ia menunggu sampai bulan terbit dan sinarnya menerangi jalan. Kemudian ia menyerbu para pembawa bendera Ittab sambil mengumandangkan: "Aku adalah Shabib Abu Al-Mudallih, tidak ada hukum kecuali milik Allah!"

Ia pun berhasil mengalahkan mereka, kemudian menyerang balik ke posisi sayap kanan dan sayap kiri hingga mencerai-berberaikan barisan keduanya. Setelah itu ia menuju ke posisi jantung pertahanan pasukan musuh, dan ia terus merangsek maju sampai akhirnya sang amir, Ittab bin Warqa', beserta Zuhrah bin Hawiyyah terbunuh. Sebagian besar pasukan berpaling melarikan diri, dan seluruh pasukan Al-Hajjaj tanpa terkecuali kalah total lalu kembali ke Kufah.

Setelah itu, Shabib menguasai harta benda dan logistik yang ada di dalam perkemahan militer tersebut, kemudian ia bergerak menuju Kufah. Al-Hajjaj pun bertekad untuk memerangi Shabib secara langsung dengan dirinya sendiri. Shabib terus berjalan hingga sampai di Ash-Sharah, lalu Al-Hajjaj keluar menghadapinya bersama orang-orang Syam dan pasukan lain yang bersamanya.

Ketika kedua belah pihak sudah saling berhadapan, Al-Hajjaj melihat ke arah Shabib yang saat itu berada di tengah enam ratus orang pengikutnya. Al-Hajjaj lalu berkhotbah di hadapan penduduk Syam dan berkata: "Wahai penduduk Syam, kalian adalah orang-orang yang mendengar dan taat, memiliki kesabaran dan keyakinan. Jangan sampai kebatilan orang-orang yang najis (kaum Khawarij) ini mengalahkan kebenaran kalian! Tundukkanlah pandangan, berlututlah pada lutut kalian, dan sambutlah mereka dengan ujung tombak kalian!" Maka mereka pun melaksanakan perintah tersebut.

Shabib pun maju setelah membagi para pengikutnya menjadi tiga kelompok. Mereka kemudian bertempur dalam beberapa gelombang pertempuran, yang dalam puncaknya menyebabkan Mushad (saudara laki-laki Shabib) beserta Ghazalah (istri Shabib) terbunuh. Setelah itu, Shabib keluar dari Kufah dan mulai berkeliaran di berbagai negeri dengan melakukan pembunuhan serta kerusakan, sementara mereka tidak mampu menangkapnya. Sesungguhnya Allah-lah yang menjatuhkan kematian takdir kepadanya tanpa ada campur tangan dari usaha mereka maupun usaha Shabib sendiri pada tahun tersebut.

Kematian Shabib

Al-Hajjaj memerintahkan Al-Hakam bin Ayyub untuk menyiapkan empat ribu pasukan guna memerangi Shabib, lalu terjadilah pertempuran di antara mereka pada hari-hari yang berbeda. Ketika malam datang dengan kegelapannya, orang-orang pun menahan diri satu sama lain, dan masing-masing dari kedua belah pihak bermalam dengan tekad bulat untuk kembali menyerang pihak lawan.

Ketika fajar menyingsing, Shabib beserta para pengikutnya menyeberangi sebuah jembatan. Di saat Shabib berada di atas punggung jembatan dengan menunggangi seekor kuda jantan miliknya dan di depannya ada seekor kuda betina, tiba-tiba kudanya melompat saat berada di atas jembatan sehingga ia terjatuh ke dalam air. Ia lalu berkata: "Agar Allah menetapkan suatu urusan yang harus terjadi."

Kemudian ia tenggelam ke dalam air, lalu sempat muncul ke permukaan sambil mengucapkan:

﴿ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾

“Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat: 12)

Setelah itu ia pun tenggelam hingga tewas.

Ketika berita kematian Shabib disampaikan kepada ibunya, sang ibu berkata: "Kalian benar. Sesungguhnya aku pernah melihat dalam mimpi ketika aku sedang mengandungnya, seolah-olah telah keluar dariku sebuah jilatan api, maka aku pun tahu bahwa tidak ada yang bisa memadamkannya kecuali air."

Ibunya adalah seorang hamba sahaya (selir) bernama Jahizah; ia adalah seorang wanita yang cantik dan termasuk wanita yang paling pemberani, yang selalu ikut bertempur bersama putranya di dalam peperangan. Hakim Ibnu Khallikan—dalam kitab Wafayat al-A'yan—menyebutkan bahwa sang ibu terbunuh dalam peperangan ini, begitu pula dengan istrinya yang bernama Ghazalah.

Istrinya tersebut merupakan seorang wanita Khawarij yang memiliki keberanian dan ketangguhan yang sangat luar biasa. Al-Hajjaj sendiri, di samping kewibawaannya yang besar, sangat takut kepadanya dengan ketakutan yang teramat sangat , sampai-sampai sebagian penyair menyindir Al-Hajjaj dalam sebuah syair:

أَسَدٌ عَلَيَّ وَفِي الْحُرُوبِ نَعَامَةٌ * فَتْخَاءُ تَنْفِرُ مِنْ صَفِيرِ الصَّافِرِ

هَلَّا بَرَزْتَ إِلَى غَزَالَةَ فِي الْوَغَى * بَلْ كَانَ قَلْبُكَ فِي جَنَاحَيْ طَائِرِ

Kau bagaikan singa di hadapanku, namun dalam peperangan kau bagaikan burung unta,

Yang terkulai lemas dan lari ketakutan hanya karena siulan orang yang bersiul.

Mengapa kau tidak keluar menghadapi Ghazalah di medan pertempuran?

Sebab nyatanya, hatimu (saat itu) terbang berada di antara dua sayap burung.

Ibnu Khallikan berkata: Shabib bin Yazid Asy-Syaibani dahulu mengklaim dirinya sebagai khalifah dan menggelari dirinya dengan sebutan Amirul Mukminin. Kalaulah bukan karena Allah Ta'ala menundukkannya dengan ketetapan yang menundukkannya berupa tenggelam, niscaya ia akan meraih kekuasaan kekhilafahan dan tidak akan ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Sesungguhnya Allah telah menundukkannya di tangan Al-Hajjaj, yaitu ketika Amirul Mukminin Abdul Malik mengirimkan pasukan militer kepadanya untuk memeranginya, sehingga ia pun melarikan diri lebih dari sekali.

Ketika kudanya melemparkannya di atas jembatan ke dalam Sungai Dujail, ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya: "Apakah kau tenggelam, wahai Amirul Mukminin?" Shabib menjawab:

﴿ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾

“Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fussilat: 12)

Laki-laki itu berkata: Kemudian jasadnya dikeluarkan dan dibawa ke hadapan Al-Hajjaj. Al-Hajjaj lalu memerintahkan agar jantungnya dikeluarkan dari dadanya, dan ternyata jantungnya keras seperti batu. Shabib adalah orang yang memiliki keberanian dan ketangkasan berkuda yang sangat besar, hingga aku tidak pernah melihat orang seperti dirinya setelah generasi para sahabat, serta seperti Al-Asytar beserta putranya, Ibrahim, dan Mush'ab bin Az-Zubair beserta saudaranya, Abdullah.

Pemberontakan Khawarij dari Kelompok Azariqah

Pada tahun (77 H), terjadi banyak sekali peperangan antara Al-Muhallab bin Abi Sufrah selaku perwakilan (gubernur) dari Al-Hajjaj, dengan kaum Khawarij dari kelompok Azariqah di bawah pimpinan Qathari bin Al-Fuja'ah. Qathari juga termasuk salah seorang penunggang kuda pemberani yang sangat terkenal dan termasyhur. Namun, para pengikutnya telah memisahkan diri darinya dan menjauh pada tahun tersebut. Adapun ia sendiri menjadi buron yang berpindah-pindah di bumi dan tidak diketahui ke mana ia pergi. Di antara mereka telah terjadi kontak senjata dan baku serang yang sangat panjang untuk dijabarkan dan ditelusuri secara mendalam, dan Ibnu Jarir telah melebih-lebihkan (menulis secara sangat detail) dalam menyebutkan kisah-kisah tersebut.

Kematian Qathari bin Al-Fuja'ah

Pada tahun (79 H), Qathari bin Al-Fuja'ah At-Tamimi—Abu Na'amah Al-Khariji—terbunuh. Ia termasuk salah seorang pemberani yang termasyhur. Dikatakan bahwa ia sempat menetap selama dua puluh tahun di mana para pengikutnya selalu mengucapkan salam kepadanya dengan gelar kekhalifahan. Ia telah melewati berbagai peristiwa besar dan peperangan sengit melawan pasukan Al-Muhallab bin Abi Sufrah yang dikirim dari pihak Al-Hajjaj maupun pihak lainnya.

Kemunculannya (Qathari) terjadi pada masa Mush'ab bin Az-Zubair. Ia berhasil menguasai banyak benteng, wilayah, dan daerah lainnya, serta pertempuran-pertempurannya sangat terkenal. Al-Hajjaj telah mengirimkan banyak pasukan untuk menghadapinya, namun ia berhasil mengalahkan semuanya.

Dikatakan bahwa pernah ada seorang laki-laki dari kaum Haruriyah (salah satu sekte Khawarij) keluar menantangnya dengan menunggangi seekor kuda yang kurus dan memegang tongkat besi di tangannya. Ketika orang itu sudah dekat, Qathari membuka penutup wajahnya. Begitu melihat wajahnya, laki-laki itu langsung berbalik melarikan diri ketakutan. Qathari pun berseru kepadanya: "Mau lari ke mana? Apakah kamu tidak malu melarikan diri padahal belum ada tusukan tombak maupun tebasan pedang?" Laki-laki itu menjawab: "Seseorang tidak perlu merasa malu untuk lari dari orang sepertimu."

Kemudian pada akhir perjalanannya, Sufyan bin Al-Abrad Al-Kalbi bergerak menuju arahnya dengan membawa sepasang pasukan, lalu mereka bertempur di Thabaristan. Di sana, kuda Qathari tersandung hingga membuatnya jatuh ke tanah. Pasukan musuh pun segera mengepung dan mengerumuninya lalu membunuhnya, kemudian mereka membawa kepalanya kepada Al-Hajjaj. Ada pula yang mengatakan bahwa orang yang membunuhnya adalah Sawdah bin Al-Hurr Ad-Darimi.

Qathari bin Al-Fuja'ah—di samping keberaniannya yang luar biasa dan ketangguhannya di medan perang—merupakan salah satu orator Arab yang sangat terkenal dengan kefasihan, keindahan tutur kata, serta syair-syairnya yang indah. Di antara syairnya yang paling bagus adalah bait-bait yang ia gubah untuk menyemangati dirinya sendiri dan orang lain, di mana siapa pun yang mendengarnya pasti akan mengambil manfaat darinya:

أَقُولُ لَهَا وَقَدْ طَارَتْ شَعَاعًا * مِنَ الْأَبْطَالِ وَيْحَكِ لَنْ تُرَاعِي

فَإِنَّكِ لَوْ سَأَلْتِ بَقَاءَ يَوْمٍ * عَلَى الْأَجَلِ الَّذِي لَكَ لَمْ تُطَاعِي

فَصَبْرًا فِي مَجَالِ الْمَوْتِ صَبْرًا * فَمَا نَيْلُ الْخُلُودِ بِمُسْتَطَاعِ

وَلَا ثَوْبُ الْحَيَاةِ بِثَوْبِ عِزٍّ * فَيُطْوَى عَنْ أَخِي الْخَنَعِ الْيَرَاعِ

سَبِيلُ الْمَوْتِ غَايَةُ كُلِّ حَيٍّ * وَدَاعِيهِ لِأَهْلِ الْأَرْضِ دَاعِي

وَمَنْ لَا يَغْتَبِطْ يَسْأَمْ وَيَهْرَمْ * وَتُسْلِمْهُ الْمَنُونُ إِلَى انْقِطَاعِ

وَمَا لِلْمَرْءِ خَيْرٌ فِي حَيَاةٍ * إِذَا مَا عُدَّ مِنْ سَقَطِ الْمَتَاعِ

Kukatakan kepada jiwaku ketika ia terbang panik karena melihat para pahlawan bertumbangan: Celakalah kamu, janganlah takut! Sebab sekiranya kamu meminta penundaan satu hari saja dari ajal yang telah ditetapkan untukmu, niscaya permintaanmu tidak akan dikabulkan. Maka bersabarlah di medan kematian, benar-benar bersabarlah! Karena meraih keabadian di dunia ini adalah hal yang mustahil. Dan pakaian kehidupan ini bukanlah pakaian kemuliaan, yang bisa dilepaskan begitu saja dari orang yang tunduk pada kehinaan. Jalan kematian adalah akhir dari setiap makhluk yang hidup, dan penyerunya bagi penduduk bumi pasti akan memanggil. Siapa yang tidak berbahagia dengan hidupnya akan merasa jenuh dan menua, lalu kematian akan mengantarkannya pada akhir segalanya. Dan tidak ada kebaikan sama sekali bagi kehidupan seseorang, jika ia hanya dianggap bagai barang rongsokan yang tidak berharga.

Syair ini disebutkan oleh penulis kitab Al-Hamasah, dan Ibnu Khallikan sangat memuji keindahannya dalam kitab sejarahnya.

Penaklukan, Pemerintahan Wilayah-Wilayah, dan Ibadah Haji

Peperangan Melawan Romawi

Pada tahun ( 73 H), Muhammad bin Marwan memimpin pasukan musim panas (Ash-Sha'ifah) lalu berhasil mengalahkan bangsa Romawi. Ada yang mengatakan bahwa pada tahun ini terjadi pertempuran antara Utsman bin Al-Walid melawan Romawi di wilayah Armenia. Saat itu ia hanya membawa empat ribu pasukan, sementara pasukan Romawi berjumlah enam puluh ribu orang, namun ia berhasil mengalahkan mereka dan membantai banyak dari mereka.

Pada tahun (75 H), Muhammad bin Marwan—saudara kandung Khalifah Abdul Malik bin Marwan sekaligus ayah dari Marwan Al-Himar—memerangi pasukan musim panas Romawi ketika mereka keluar dari daerah Mar'asy.

Pada tahun (78 H), terjadi pertempuran yang sangat besar bagi kaum muslimin di negeri Romawi, di mana mereka berhasil menaklukkan wilayah Irqiliyah. Namun ketika mereka dalam perjalanan pulang, mereka dilanda hujan yang sangat deras, salju, serta butiran es, yang menyebabkan banyak orang menjadi korban akibat cuaca ekstrem tersebut.

Pada tahun (84 H), Abdullah bin Abdul Malik bin Marwan berhasil menaklukkan wilayah Al-Mashshishah.

Pada tahun (86 H), Maslamah bin Abdul Malik memerangi negeri Romawi, ia berhasil membunuh, menawan musuh, meraup harta rampasan perang (ganimah), dan kembali dengan selamat. Ia juga berhasil menaklukkan Benteng Buwlaq dan Benteng Al-Akhram di tanah Romawi.

Penaklukan Qaliqala

Pada tahun (81 H), Ubaidillah bin Abdul Malik bin Marwan berhasil menaklukkan kota Qaliqala (yang merupakan wilayah perbatasan Armenia dan Azerbaijan), dan kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang sangat banyak dari sana.

Peperangan di Armenia

Pada tahun (84 H), Muhammad bin Marwan memerangi wilayah Armenia dan berhasil menewaskan banyak sekali penduduk dari pihak musuh.

Penaklukan Negeri Magrib (Afrika Utara)

Pada tahun ( 78 H), Abdul Malik mengangkat Musa bin Nushair sebagai gubernur untuk memimpin peperangan di seluruh negeri Magrib. Ia pun berjalan hingga sampai ke Tangier (Thanjah) dan menempatkan Thariq (bin Ziyad) di posisi pasukan garda terdepan, lalu mereka berhasil membunuh raja-raja di negeri tersebut.

Pada tahun ( 81 H), Musa bin Nushair selaku penguasa negeri Magrib memerangi negeri Al-Andalus (Spanyol). Ia berhasil menaklukkan banyak kota serta wilayah-wilayah yang makmur, dan ia masuk semakin dalam ke negeri Magrib hingga sampai ke selat yang memancar dari Samudra Atlantik.

Pada tahun (83 H), Atha' bin Rafi' memerangi Pulau Sisilia (Shaqalliyah).

Pada tahun (84 H), Musa bin Nushair menaklukkan sebagian wilayah dari negeri Magrib, di antaranya adalah wilayah Awrabah.

Peperangan Melawan Bangsa Turki

Pada tahun (79 H), Ubaidillah bin Abi Bakrah memerangi Rutbil, raja bangsa Turki, hingga ia masuk jauh ke dalam negerinya. Kemudian ia mengadakan perjanjian damai dengannya dengan imbalan sejumlah harta yang harus diserahkan Rutbil kepadanya setiap tahun.

Pada tahun (80 H), Al-Muhallab bin Abi Sufrah menyeberangi Sungai Balkh dan menetap di Kasy selama dua tahun dengan penuh kesabaran dalam menghadapi musuh-musuh dari bangsa Turki. Di sana, ia melewati berbagai peristiwa bersama mereka yang sangat panjang untuk disebutkan.

Al-Hajjaj kemudian menyiapkan pasukan besar dari Basrah, Kufah, dan kota lainnya untuk memerangi Rutbil, raja bangsa Turki. Tujuan pengiriman pasukan ini adalah untuk membalas dendam atas pembantaian yang menimpa pasukan Ubaidillah bin Abi Bakrah pada tahun sebelumnya. Al-Hajjaj menyiapkan empat puluh ribu pasukan—di mana dari masing-masing kota (Basrah dan Kufah) dikerahkan dua puluh ribu pasukan—dan ia mengangkat Abdurrahman bin Muhammad bin Al-Asy'ats sebagai panglima tertinggi atas seluruh pasukan tersebut.

Ibnu Al-Asy'ats pun berjalan membawa pasukan tersebut menuju tanah Rutbil. Ketika Rutbil mendengar kabar kedatangan Ibnu Al-Asy'ats bersama pasukannya, ia segera menulis surat kepadanya untuk meminta maaf atas apa yang menimpa kaum muslimin di negerinya pada tahun lalu. Rutbil menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak menyukai kejadian itu dan kaum muslimin-lah yang mendesaknya hingga terpaksa berperang. Ia juga meminta kepada Ibnu Al-Asy'ats untuk berdamai dan berjanji akan menyerahkan upeti (kharaj) kepada kaum muslimin.

Namun, Ibnu Al-Asy'ats menolak tawaran tersebut dan tetap bertekad bulat untuk merangsek masuk ke dalam negerinya. Rutbil pun segera mengumpulkan pasukannya dan bersiap-siap untuk menghadapinya dalam peperangan. Setiap kali Ibnu Al-Asy'ats berhasil memasuki suatu daerah atau kota, atau merebut sebuah benteng dari wilayah Rutbil, ia selalu menempatkan seorang wakil (gubernur bawahan) dari pihaknya dan meninggalkan beberapa pasukan untuk menjaganya. Ia juga menempatkan pos-pos penjagaan di setiap jengkal tanah dan tempat yang rawan atau berbahaya. Dengan strategi ini, ia berhasil menguasai banyak sekali wilayah dan kota dari negeri Rutbil, serta berhasil meraup harta yang sangat melimpah dan menawan banyak sekali penduduk. Setelah itu, ia menahan pasukannya agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam negeri Rutbil sebelum mereka benar-benar membenahi dan memperkuat kota-kota yang sudah berada di tangan mereka, serta memanfaatkan hasil panen dan logistik yang ada di sana. Rencananya, mereka baru akan bergerak maju menyerang musuh pada tahun berikutnya. Dengan begitu, mereka bisa terus menguasai wilayah demi wilayah hingga akhirnya dapat mengepung musuh di kota utama mereka—pusat penyimpanan harta, karun, dan keluarga mereka—sampai bisa menguasainya serta menghabisi para prajurit musuh. Mereka telah membulatkan tekad untuk menjalankan rencana tersebut, dan ini memang merupakan sebuah strategi yang sangat cerdas.

Ibnu Al-Asy'ats kemudian menulis surat kepada Al-Hajjaj untuk mengabarkan tentang kemenangan yang berhasil diraih serta pertolongan yang Allah berikan kepada mereka, sekaligus menyampaikan strategi yang telah ia rancang tersebut. Di saat yang sama, Ubaidillah bin Abi Bakrah meninggal dunia, maka Al-Hajjaj menulis surat balasan kepada Ibnu Al-Asy'ats untuk mengangkatnya sebagai penguasa (gubernur) wilayah Sijistan menggantikan posisi Ibnu Abi Bakrah.

Penaklukan Marw dan Khurasan

Pada tahun (86 H), Qutaibah bin Muslim selaku gubernur wilayah Marw dan Khurasan memerangi banyak wilayah di tanah Turki dan negeri orang-orang kafir lainnya. Ia berhasil menawan musuh, meraup ganamah, kembali dengan selamat, serta merebut banyak benteng, kastil, dan kerajaan.

Di antara tawanan yang berhasil ditangkap terdapat istri dari Barmak—ayah dari Khalid bin Barmak. Qutaibah kemudian menyerahkan wanita tawanan tersebut kepada saudara laki-lakinya yang bernama Abdullah bin Muslim.

Para Gubernur di Berbagai Negeri

Wilayah Basra

Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 73 H, Abdul Malik mencopot Khalid bin Abdullah dari jabatan gubernur Basra, lalu menggabungkannya ke dalam wilayah saudaranya, Bisyr bin Marwan, bersama dengan Kufah. Bisyr kemudian berangkat ke Basra dan menunjuk Amru bin Huraits sebagai wakilnya di Kufah.

Wilayah Khurasan

Pada tahun 74 H, Abdul Malik mencopot Bukair bin Wisyah At-Tamimi dari jabatan gubernur Khurasan, lalu mengangkat Umayyah bin Abdullah bin Khalid bin Asid Al-Qurasyi sebagai gantinya. Langkah ini diambil agar orang-orang bersatu mendukungnya, karena fitnah hampir saja memuncak di Khurasan setelah kematian Abdullah bin Khazim. Ketika Umayyah bin Abdullah tiba di Khurasan, ia menawarkan posisi kepala kepolisian kepada Bukair bin Wisyah, namun Bukair menolaknya dan meminta agar ia diangkat menjadi gubernur Tukharistan. Akan tetapi, orang-orang memperingatkan Umayyah bahwa Bukair bisa saja memberontak di sana, sehingga Umayyah membiarkannya tetap tinggal bersamanya.

Pada tahun 85 H, Al-Hajjaj mencopot Yazid bin Al-Muhallab dari jabatan gubernur Khurasan, lalu mengangkat saudaranya, Al-Mufaddal bin Al-Muhallab.

Wilayah Irak

Pada tahun 75 H, Abdul Malik mengangkat Al-Hajjaj bin Yusuf sebagai gubernur Irak (Basra dan Kufah) serta wilayah-wilayah besar yang mengikutinya. Hal ini dilakukan setelah wafatnya saudara Abdul Malik, Bisyr bin Marwan. Abdul Malik menilai bahwa tidak ada yang mampu mengendalikan penduduk Irak selain Al-Hajjaj, karena ketegasan, kekuatan, kekejaman, dan keberaniannya.

Abdul Malik menulis surat kepada Al-Hajjaj yang saat itu sedang berada di Madinah mengenai pengangkatannya sebagai gubernur Irak. Al-Hajjaj pun berangkat dari Madinah menuju Irak. Ketika sampai di dekat Kufah, ia mandi, mewarnai rambut/jenggotnya, mengenakan pakaian bagus, menyandang pedangnya, dan menjulurkan ujung sorbannya di antara kedua bahunya. Ia lalu berjalan hingga tiba di rumah dinas gubernur pada hari Jumat. Saat itu muazin pertama telah mengumandangkan azan, lalu Al-Hajjaj keluar menemui orang-orang tanpa mereka ketahui siapa dia.

Ia naik ke atas mimbar dan duduk di atasnya, lalu terdiam dalam waktu yang cukup lama. Orang-orang pun menatapnya dengan tajam sambil bertumpu pada lutut mereka. Mereka mulai mengambil batu-batu kerikil untuk melempari dirinya, sebagaimana mereka pernah melempari gubernur sebelum dirinya. Namun, ketika Al-Hajjaj tetap terdiam, hal itu membuat mereka heran dan penasaran untuk mendengarkan bicaranya.

Perkataan pertama yang diucapkannya adalah: "Wahai penduduk Irak! Wahai orang-orang yang gemar memecah belah, kaum munafik, dan pemilik akhlak yang buruk! Demi Allah, urusan kalian telah menyita perhatianku sebelum aku datang ke sini, dan aku selalu berdoa kepada Allah agar menguji kalian melaluiku, lalu Dia mengabulkan doaku. Ketahuilah, kemarin malam saat berjalan, cambukku yang biasa kugunakan untuk menyiksa kalian terjatuh, maka aku mengambil ini sebagai gantinya—sambil menunjuk ke arah pedangnya—". Kemudian ia berkata: "Demi Allah, aku benar-benar akan menghunuskan pedang ini di tengah-tengah kalian sebagaimana seorang wanita menyeret ujung pakaiannya, dan aku benar-benar akan melakukan ini dan itu kepada kalian!" Ketika mereka mendengar perkataannya, batu-batu kerikil itu pun mulai berjatuhan dari tangan mereka. Kemudian ia membuka penutup wajahnya dan melantunkan syair:

أَنَا ابْنُ جَلَا وَطَلَّاعُ الثَّنَايَا ... مَتَى أَضَعُ الْعِمَامَةَ تَعْرِفُونِي

Artinya: "Akulah putra dari kejelasan dan penakluk segala kesulitan, ketika aku menanggalkan sorbaku, kalian akan langsung mengenaliku."

Kemudian ia melanjutkan: "Sesungguhnya aku melihat kepala-kepala yang telah matang dan telah tiba waktu memetiknya. Sungguh aku melihat darah mengalir di antara sorban-sorban dan jenggot-jenggot." Ia juga bersyair lagi:

هَذَا أَوَانُ الشَّدِّ فَاشْتَدِّي زِيَمْ ... قَدْ لَفَهَا اللَّيْلُ بِسَوَّاقٍ حُطَمْ

لَيْسَ بِرَاعِي إِبِلِ وَلَا غَنَمْ ... وَلَا بِجَزَارٍ عَلَى ظَهْرِ وَضَمْ

قَدْ لَفَهَا اللَّيْلُ بِعَصْلَبِي ... أَرْوَعَ خَرَّاجٍ مِنَ الدَّوِّي

مُهَاجِرٍ لَيْسَ بِأَعْرَابِي

Artinya:

"Inilah saatnya untuk bertindak keras, maka bersiaplah wahai pasukan! Malam telah mengumpulkan mereka bersama penggiring yang tegas."

"Bukan seorang penggembala unta atau kambing, dan bukan pula seorang jagal di atas talenan."

"Malam telah mengumpulkan mereka bersama orang yang kuat, pemberani yang sering keluar dari padang pasir luas."

"Seorang Muhajir, bukan orang Badui pedalaman."

Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya aku, wahai penduduk Irak, bukanlah orang yang bisa dikelabui dengan kebodohan, dan aku tidak bisa ditakut-takuti dengan ancaman kosong. Sesungguhnya Amirul Mukminin, Abdul Malik bin Marwan, telah mengeluarkan isi wadah anak panahnya, lalu menguji kekerasan setiap anak panah tersebut satu demi satu, dan ia mendapati akulah anak panah yang paling pahit dan paling keras batangnya. Oleh karena itu, ia mengutusku kepada kalian. Sudah terlalu lama kalian terjerumus ke dalam lembah fitnah dan merintis jalan-jalan kesesatan. Ingatlah, demi Allah, aku benar-benar akan menguliti kalian bagai menguliti ranting kayu, aku akan mengikat kalian bagai mengikat pohon berduri, dan aku akan memukul kalian bagai memukul unta-unta asing yang tersesat. Demi Allah, aku tidak pernah berjanji kecuali pasti menepatinya, dan aku tidak merencanakan sesuatu kecuali pasti melaksanakannya..." dalam pidato panjang yang sangat fasih, tidak biasa, serta berisi ancaman yang sangat keras tanpa ada satu pun janji kebaikan di dalamnya.

Al-Hajjaj kemudian mengutus Al-Hakam bin Ayyub At-Tsaqafi sebagai wakilnya untuk memimpin Basra, dan memerintahkannya untuk bersikap keras kepada Khalid bin Abdullah. Ia juga menetapkan Syuraih sebagai hakim di Kufah. Setelah itu, Al-Hajjaj berkendara menuju Basra dan menunjuk Abu Ya'fur sebagai wakilnya di Kufah, serta menyerahkan jabatan hakim Basra kepada Zurarah bin Aufa, sebelum akhirnya ia kembali lagi ke Kufah.

Pada tahun (tidak disebutkan angkanya dalam teks asli), Al-Hajjaj telah menjadi penguasa tunggal atas wilayah Irak, Khurasan, Sijistan, dan seluruh kawasan tersebut.

Pada tahun 84 H, Al-Hajjaj mengangkat Muhammad bin Al-Qasim At-Tsaqafi sebagai penguasa wilayah Fars dan memerintahkannya untuk memerangi orang-orang Kurdi.

Wilayah Madinah

Pada tahun 74 H, Abdul Malik mencopot Thariq bin Amru dari jabatan gubernur Madinah dan menyerahkannya kepada Al-Hajjaj bin Yusuf At-Tsaqafi. Al-Hajjaj pun tiba di Madinah dan tinggal di sana selama sebulan, kemudian ia keluar untuk melaksanakan umrah, lalu kembali lagi ke Madinah pada bulan Safar dan menetap di sana selama tiga bulan. Ia juga membangun sebuah masjid di wilayah Bani Salimah, yang sampai hari ini dinisbatkan kepada namanya.

Pada tahun 75 H, Abdul Malik bin Marwan menyerahkan jabatan gubernur Madinah kepada pamannya, Yahya bin Al-Hakam bin Abi Al-Ash, dan mencopot Al-Hajjaj dari jabatan tersebut.

Pada tahun 76 H, Abdul Malik bin Marwan mengangkat Aban bin Utsman sebagai gubernur Madinah, mencopot pamannya, Yahya bin Marwan (Yahya bin Al-Hakam), serta memanggilnya untuk kembali ke Syam.

Pada tahun 578 H (kemungkinan salah cetak pada naskah asli, yang dimaksud adalah kelanjutan tahun pemerintahan), Aban bin Utsman bertindak sebagai gubernur Madinah.

Pada bulan Jumadil Akhir tahun 82 H, Abdul Malik bin Marwan mencopot Aban bin Utsman dari jabatan gubernur Madinah dan mengangkat Hisyam bin Ismail Al-Makhzumi sebagai gantinya.

Wilayah Mesir

Pada tahun 84 H, Abdul Malik mengangkat Iyad bin Ghanm At-Tujaibi sebagai gubernur Iskandariyah.

Pada tahun 85 H, Abdul Malik sempat berniat untuk mencopot saudaranya, Abdul Aziz bin Marwan, dari jabatan gubernur wilayah Mesir. Rencana ini didukung dan dianggap baik oleh Rauh bin Zinba' Al-Judzami. Alasan utama yang mendorongnya ingin melakukan pencopotan tersebut adalah karena ia ingin menyerahkan kekuasaan setelahnya secara berurutan kepada anak-anaknya, yaitu Al-Walid, kemudian Sulaiman, kemudian Yazid, lalu Hisyam. Hal ini merupakan saran dan pengaturan dari Al-Hajjaj kepada Abdul Malik. Padahal sebelumnya, ayah mereka (Marwan) telah menggariskan bahwa kekuasaan diserahkan kepada Abdul Malik, lalu setelahnya kepada Abdul Aziz. Oleh karena itu, Abdul Malik ingin menyingkirkan saudaranya dari garis kekuasaan sepenuhnya agar kekhalifahan tetap berada pada keturunan dan anak-anaknya sendiri. Namun, Abdul Aziz bin Marwan wafat di tengah-tengah terjadinya peristiwa tersebut.

Pada tahun 86 H, Abdul Malik mengukuhkan putranya, Abdullah, sebagai penguasa Mesir setelah wafatnya sang saudara, Abdul Aziz. Abdullah memasuki Mesir pada bulan Jumadil Akhir dalam usia dua puluh tujuh tahun.

Wilayah Pelaksanaan Haji

Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 74 H, Al-Hajjaj bin Yusuf memimpin pelaksanaan haji bersama orang-orang, di mana saat itu ia memegang otoritas atas wilayah Madinah, Mekah, Yaman, dan Yamamah.

Pada tahun 75 H, Abdul Malik bin Marwan memimpin langsung pelaksanaan haji bersama orang-orang.

Pada tahun 76 H, 77 H, 78 H, 80 H, dan 82 H (beberapa tahun tidak tertulis lengkap di naskah asli), orang yang memimpin haji adalah Aban bin Utsman bin Affan selaku gubernur Madinah Nabawiyah.

Pada tahun 78 H, Al-Walid bin Abdul Malik memimpin pelaksanaan haji bersama orang-orang.

Pada tahun 81 H, Sulaiman bin Abdul Malik memimpin pelaksanaan haji bersama orang-orang.

Dari tahun 83 H hingga tahun 86 H, Hisyam bin Ismail Al-Makhzumi selaku gubernur Madinah memimpin pelaksanaan haji bersama orang-orang.

Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Masa Kekhilafahannya

1. Rafi' bin Khadij bin Rafi' Al-Anshari

Beliau adalah seorang sahabat Nabi yang mulia, ikut serta dalam Perang Uhud dan perang-perang setelahnya, serta ikut dalam Perang Siffin bersama Ali. Beliau banyak mengurusi masalah pertanian dan cocok tanam. Beliau wafat ketika menginjak usia delapan puluh enam tahun, meriwayatkan tujuh puluh delapan hadis, dan wafat pada tahun 74 H.

2. Abu Sa'id Al-Khudri (Sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Anshari Al-Khazraji)

Beliau adalah seorang sahabat Nabi yang mulia dan termasuk di antara para ahli fikih dari kalangan sahabat. Perang pertama yang beliau ikuti adalah Perang Khandaq, dan beliau telah ikut serta bersama Rasulullah dalam dua belas kali peperangan. Beliau termasuk salah satu sahabat yang paling cerdas, utama, dan berilmu luas, semoga Allah meridainya, dan beliau wafat pada tahun 74 H.

3. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab Al-Qurasyi Al-Adawi (Abu Abdirrahman)

Beliau memeluk Islam sejak masa awal bersama ayahnya di Mekah, lalu berhijrah saat usianya baru sepuluh tahun. Beliau ikut serta dalam Perang Khandaq dan perang-perang setelahnya. Beliau adalah saudara kandung dari Ummul Mukminin Hafshah, di mana ibu mereka berdua adalah Zainab binti Mazh'un, saudara perempuan dari Utsman bin Mazh'un.

Abdullah bin Umar adalah seorang laki-laki yang berpostur sedang, berkulit cokelat (sawo matang), memiliki rambut lebat yang panjangnya mencapai kedua bahunya, berbadan tegap, sering mewarnai janggutnya dengan warna kuning, dan selalu merapikan kumisnya. Beliau selalu berwudu setiap kali hendak melaksanakan salat, ikut serta dalam pembebasan wilayah Mesir dan membangun rumah di sana, pernah mendatangi Basra serta ikut dalam peperangan di Persia, dan berulang kali mengunjungi kota Al-Madain. Apabila ada sesuatu dari harta bendanya yang membuatnya kagum, beliau akan segera menyedekahkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Intinya adalah beliau tidak wafat melainkan setelah memerdekakan seribu orang hamba sahaya, dan terkadang beliau bersedekah dalam satu majelis saja sebanyak tiga puluh ribu (dirham).

Muawiyah pernah mengirimkan uang sebanyak seratus ribu (dirham) kepadanya, namun belum berlalu satu tahun harta tersebut telah habis tidak tersisa sedikit pun di sisinya. Beliau selalu berkata: "Sesungguhnya aku tidak pernah meminta sesuatu kepada siapa pun, namun apa yang Allah rezekikan kepadaku maka aku tidak akan menolaknya." Selama masa fitnah (pergolakan politik), tidaklah ada seorang pemimpin pun yang datang melainkan beliau tetap salat di belakangnya dan menunaikan zakat hartanya kepadanya. Beliau adalah orang yang paling mengerti tentang manasik haji, dan menetap selama enam puluh tahun memberikan fatwa kepada orang-orang dari berbagai penjuru negeri.

Beliau meriwayatkan banyak sekali hadis dari Nabi , dengan jumlah hadis yang bersumber dari beliau mencapai dua ribu enam ratus tiga puluh hadis.

Beliau wafat di Mekah setelah orang-orang selesai menunaikan ibadah haji pada akhir tahun 74 H dalam usia delapan puluh empat tahun, dan beliau merupakan sahabat Nabi terakhir yang wafat di Mekah.

4. Ubaid bin Umair bin Qatadah Al-Laitsi (Abu Asim Al-Makki)

Beliau adalah seorang pemberi nasihat (kisah) bagi penduduk Mekah. Muslim bin Al-Hajjaj mengatakan bahwa beliau lahir pada masa hidup Nabi . Ibnu Umar dahulu sering duduk di dalam majelisnya lalu menangis, karena beliau sangat menyukai cara Ubaid dalam memberikan peringatan dan nasihat. Beliau wafat pada tahun 74 H.

5. Abu Juhaifah (Wahb bin Abdullah As-Suwa'i)

Seorang sahabat Nabi yang pernah melihat Nabi , namun usianya belum baligh ketika Nabi wafat. Meskipun demikian, beliau meriwayatkan beberapa hadis dari Nabi , dari Ali, dan dari Al-Bara' bin Azib. Banyak dari kalangan tabi'in yang meriwayatkan hadis dari beliau, dan beliau wafat pada tahun 74 H.

6. Salamah bin Al-Akwa' bin Amr bin Sinan Al-Anshari

Beliau adalah salah satu orang yang ikut serta dalam Baiat Ridwan di bawah pohon, serta termasuk salah satu penunggang kuda yang pemberani sekaligus ulama di kalangan sahabat. Beliau sering memberikan fatwa di Madinah, dan memiliki rekam jejak perjuangan yang terkenal baik pada masa hidup Nabi maupun setelahnya. Beliau wafat di Madinah pada tahun 74 H setelah melewati usia tujuh puluh tahun.

7. Malik bin Abi Amir Al-Asbahi Al-Madani

Beliau merupakan kakek dari Imam Malik bin Anas. Beliau meriwayatkan hadis dari sekelompok sahabat Nabi dan tokoh lainnya, serta dikenal sebagai orang yang utama lagi berilmu. Beliau wafat di Madinah pada tahun 74 H.

8. Abu Abdurrahman (Abdullah bin Habib As-Sulami)

Beliau adalah guru mengaji (ahli qira'ah) bagi penduduk Kufah tanpa ada perbedaan pendapat. Beliau belajar membaca Al-Qur'an langsung kepada Utsman bin Affan dan Ibnu Mas'ud, serta mendengar hadis dari sekelompok sahabat dan selainnya. Beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada orang-orang di Kufah sejak masa kekhilafahan Utsman hingga masa pemerintahan Al-Hajjaj. Di antara yang belajar membaca kepadanya adalah Asim bin Abi An-Najud serta banyak sekali murid lainnya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 74 H.

9. Bisyr bin Marwan Al-Umayyah

Beliau adalah saudara laki-laki dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan, yang diserahi jabatan untuk memimpin wilayah dua Irak (Kufah dan Basra) oleh saudaranya tersebut. Beliau adalah seorang yang toleran, sangat dermawan, dan pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang lain. Beliau wafat pada tahun 74 H.

10. Al-Irbadh bin Sariyah As-Sulami (Abu Najih)

Beliau menetap tinggal di Homs dan merupakan seorang sahabat Nabi yang mulia. Beliau memeluk Islam sejak masa awal bersama Amr bin Abasah, semoga Allah meridainya, serta termasuk penghuni Ahlu Shuffah. Beliau juga termasuk salah satu dari orang-orang yang banyak menangis yang disebutkan dalam Surah Bara'ah (At-Taubah).

Beliau adalah perawi dari hadis berikut ini:

«خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، حَتَّى قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا. قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ، عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»

"Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada kami dengan suatu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat air mata berlinang, hingga kami berkata: 'Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah wasiat kepada kami.' Beliau bersabda: 'Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang kepalanya seperti buah kismis. Berpegangteguhlah kalian kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah sunah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) itu adalah bid'ah'." (Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab Sunan, serta disahihkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya). Beliau wafat pada tahun 75 H.

11. Abu Tha'labah Al-Khusyani (Jurthum bin Nasyir)

Seorang sahabat Nabi yang mulia, ikut menyaksikan Baiat Ridwan, ikut serta dalam Perang Hunain, dan termasuk orang yang kemudian tinggal di Syam, tepatnya di wilayah Dariyyah di sebelah barat Damaskus. Beliau wafat pada tahun 75 H.

12. Al-Aswad bin Yazid An-Nakha'i

Sahabat dekat dari Ibnu Mas'ud, termasuk tokoh senior dari kalangan tabi'in dan tokoh terkemuka di antara murid-murid Ibnu Mas'ud, serta termasuk tokoh besar penduduk Kufah. Beliau tercatat telah menunaikan ibadah haji dan umrah sebanyak delapan puluh kali, dan wafat pada tahun 75 H.

13. Humran bin Aban

Mantan budak (maula) dari Utsman bin Affan. Beliau awalnya berasal dari tawanan perang Ainut Tamar yang kemudian dibeli oleh Utsman. Beliau adalah orang yang bertugas memberikan izin bagi orang-orang yang ingin menemui Utsman, dan beliau wafat pada tahun 75 H.

14. Abu Utsman An-Nahdi Al-Quda'i (Abdurrahman bin Mull)

Beliau memeluk Islam pada masa hidup Nabi , dan ikut serta dalam Perang Jalula, Qadisiyyah, Tustar, Nahawand, Azerbaijan, dan perang lainnya. Beliau adalah orang yang rajin beribadah, zuhud, lagi berilmu luas, dan wafat pada tahun 76 H di Kufah dalam usia seratus tiga puluh tahun.

15. Shilah bin Asyam Al-Adawi

Termasuk tokoh senior dari kalangan tabi'in penduduk Basra. Beliau adalah orang yang memiliki banyak keutamaan, sifat warak, rajin beribadah, serta zuhud. Nama panggilannya (kunyah) adalah Abu Ash-Shahba', dan beliau wafat pada tahun 76 H.

16. Zuhair bin Qais Al-Balawi

Beliau ikut menyaksikan pembebasan wilayah Mesir dan menetap tinggal di sana, serta memiliki status sebagai sahabat Nabi. Beliau gugur dibunuh oleh pasukan Romawi di Barqah yang termasuk bagian dari wilayah Magrib (Afrika Utara), dan wafat pada tahun 76 H.

17. Al-Mundzir bin Al-Jarud

Beliau pernah memegang jabatan mengurusi baitulmal, pernah menjadi utusan yang menghadap Muawiyah, dan wafat pada tahun 76 H.

18. Muhammad bin Musa bin Thalhah bin Ubaidillah

Saudara perempuannya merupakan istri dari Khalifah Abdul Malik, dan Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubernur Sijistan. Ketika ia sedang berjalan menuju ke sana, ada orang yang berkata kepadanya: "Sesungguhnya Shabib (seorang pemberontak Khawarij) ada di jalan yang akan kamu lewati, dan ia telah membuat banyak orang kewalahan. Beloklah arah untuk menghadapinya, barangkali kamu bisa membunuhnya, sehingga sebutan dan ketenaran atas keberhasilan itu akan melekat pada dirimu untuk selama-lamanya." Ketika ia berjalan ke sana, ia pun bertemu dengan Shabib lalu keduanya bertempur, hingga akhirnya Shabib berhasil membunuhnya pada tahun 77 H.

19. Mutharrif bin Al-Mughirah bin Syu'bah

Beliau beserta saudara-saudaranya cenderung mendukung Bani Umayyah, sehingga Al-Hajjaj mempekerjakan mereka untuk memimpin beberapa wilayah. Al-Hajjaj mengangkat Urwah untuk memimpin Kufah, Mutharrif untuk memimpin Al-Madain, dan Hamzah untuk memimpin Hamadan. Beliau wafat pada tahun 77 H.

20. Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram Abu Abdullah Al-Anshari Al-Salami

Seorang sahabat Rasulullah yang memiliki banyak riwayat hadis. Beliau ikut serta dalam Baiat Aqabah. Sebenarnya beliau ingin ikut dalam Perang Badar, namun ayahnya melarangnya karena menugaskannya untuk menjaga saudara-saudara perempuannya yang berjumlah sembilan orang. Dikatakan bahwa penglihatan beliau telah hilang sebelum wafatnya. Jabir wafat pada tahun 78 H di Madinah dalam usia sembilan puluh empat tahun, dan hadis yang bersumber dari beliau mencapai seribu lima ratus empat puluh hadis.

21. Syuraih bin Al-Harits bin Qais (Abu Umayyah Al-Kindi / Qadhi Syuraih)

Beliau adalah hakim agung (qadhi) di Kufah. Beliau memegang jabatan hakim sejak masa Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, kemudian Ali sempat mencopotnya, lalu Muawiyah mengangkatnya kembali. Setelah itu beliau terus mengabdikan diri secara mandiri dalam dunia peradilan hingga wafat di Kufah pada tahun 78 H dalam usia seratus delapan tahun.

22. Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy'ari

Beliau tinggal menetap di Palestina, dan dikatakan bahwa beliau memiliki status sebagai sahabat Nabi. Umar bin Al-Khattab pernah mengutusnya ke Syam untuk mengajarkan fikih dan memperdalam ilmu agama kepada penduduk di sana. Beliau termasuk salah satu hamba yang saleh lagi rajin beribadah, dan wafat pada tahun 78 H.

23. Junadah bin Abi Umayyah Al-Azdi

Beliau ikut menyaksikan pembebasan wilayah Mesir, pernah menjadi panglima pasukan perang laut bagi Muawiyah, serta dikenal dengan sifat keberanian dan kebaikannya. Beliau wafat di Syam pada tahun 78 H ketika usianya telah mendekati delapan puluh tahun.

24. Al-Ala' bin Ziyad Al-Bashri

Beliau termasuk orang saleh yang rajin beribadah di antara penduduk Basra, memiliki rasa takut kepada Allah yang sangat besar, sifat warak, serta mempunyai banyak rekam jejak kebaikan. Beliau wafat di Basra pada tahun 78 H.

25. Ubaidillah bin Abi Bakrah

Beliau adalah panglima pasukan militer yang merangsek masuk ke negeri Turki untuk memerangi Rutbil, raja bangsa Turki. Dalam perang tersebut, banyak sekali pasukannya yang gugur terbunuh bersama Syuraih bin Hani. Wafatnya beliau terjadi pada tahun 79 H.

26. Aslam (Mantan Budak/Maula Umar bin Al-Khattab)

Asal-usulnya merupakan tawanan dari perang Ainut Tamar yang kemudian dibeli oleh Umar di Mekah ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 11 H. Beliau wafat pada usia seratus empat belas tahun, tepatnya pada tahun 80 H.

27. Jubair bin Nufair bin Malik Al-Hadrami

Beliau memiliki status sebagai sahabat Nabi dan perawi hadis, serta termasuk salah satu ulama dari penduduk Syam. Beliau sangat terkenal dengan ibadah dan ilmunya, lalu wafat di Syam pada usia seratus dua puluh tahun pada tahun 80 H.

28. Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib

Beliau lahir di tanah Habasyah (Etiopia) dan ibunya adalah Asma binti Umais. Beliau merupakan orang dari kalangan Bani Hasyim terakhir yang pernah melihat Nabi yang wafat paling akhir. Beliau tinggal di Madinah. Tercatat bahwa Nabi pernah membaiat Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Az-Zubair ketika usia keduanya baru tujuh tahun, dan peristiwa pembaiatan anak kecil seperti ini tidak pernah terjadi pada selain mereka berdua.

Abdullah bin Ja'far termasuk salah satu orang yang paling dermawan. Beliau sering memberikan pemberian dalam jumlah yang sangat besar namun beliau sendiri menganggapnya masih sedikit, dan beliau pernah bersedekah dalam satu waktu sebanyak dua juta (dirham). Beliau wafat pada tahun 80 H.

29. Abu Idris Al-Khawlani

Namanya adalah 'A'idullah bin Abdullah, memiliki kedudukan dan banyak keutamaan. Beliau sering berkata: "Hati yang bersih di dalam pakaian yang kotor itu jauh lebih baik daripada hati yang kotor di dalam pakaian yang bersih." Beliau pernah memegang jabatan hakim di Damaskus, dan wafat pada tahun 80 H.

30. Ma'bad Al-Juhani Al-Qadari

Beliau adalah orang yang pertama kali mencetuskan dan berbicara tentang paham Qadariyah (penolakan terhadap takdir). Dikatakan bahwa beliau mengambil pemikiran tersebut dari seorang laki-laki Nasrani penduduk Irak yang bernama Sawsan. Kemudian Ghailan mengambil paham Qadariyah ini dari Ma'bad. Hasan Al-Bashri pernah memperingatkan: "Waspadalah kalian terhadap Ma'bad, karena sesungguhnya ia adalah orang yang sesat lagi menyesatkan." Dan Said bin Ufair berkata: "Abdul Malik bin Marwan menyalibnya pada tahun 80 H di Damaskus, kemudian membunuhnya pada tahun 80 H."

31. Suwaid bin Ghaflah bin Awsajah bin Amir Abu Umayyah Al-Ja'fi Al-Kufi

Beliau ikut menyaksikan Perang Yarmuk, meriwayatkan hadis dari sekelompok sahabat, termasuk golongan Mukhadram senior (orang yang hidup di zaman Jahiliyah dan masa Nabi tetapi baru memeluk Islam setelah Nabi wafat), dan beliau wafat pada tahun 81 H.

32. Abdullah bin Syaddad bin Al-Hadi

Beliau termasuk salah seorang hamba yang ahli ibadah, zuhud, lagi berilmu. Beliau memiliki banyak wasiat dan untaian kalimat yang indah. Beliau meriwayatkan beberapa hadis dari para sahabat, dan banyak dari kalangan tabi'in yang mengambil riwayat darinya. Beliau wafat pada tahun 81 H.

33. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib (Dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Hanafiyah)

Ibunya adalah seorang hamba sahaya (selir) dari tawanan Bani Hanifah yang bernama Khaulah. Muhammad lahir pada masa kekhilafahan Umar bin Al-Khattab, pernah datang berkunjung menemui Muawiyah dan Abdul Malik bin Marwan. Muhammad bin Ali termasuk salah satu tokoh terkemuka Quraisy, serta termasuk deretan orang yang terkenal pemberani lagi kuat. Beliau wafat di Madinah pada tahun 81 H dan dimakamkan di pemakaman Baqi'.

Ibnu Katsir berkata: "Orang-orang Rafidhah (Syiah) mengklaim secara dusta bahwa beliau berada di Gunung Radhwa, dalam keadaan hidup dan diberi rezeki, serta mereka terus menanti-nantikan kehadirannya." Mengenai hal tersebut, Kuthair 'Azzah menggubah syair:

أَلَا إِنَّ الْأَئِمَّةَ مِنْ قُرَيْشٍ * وُلَاةُ الْحَقِّ أَرْبَعَةٌ سَوَاءُ

عَلِيٌّ وَالثَّلَاثَةُ مِنْ بَنِيهِ * هُمُ الْأَسْبَاطُ لَيْسَ بِهِمْ خَفَاءُ

فَسِبْطٌ سِبْطُ إِيمَانٍ وَبِرٍّ * وَسِبْطٌ غَيَّبَتْهُ كَرْبُلَاءُ

وَسِبْطٌ لَا تَرَاهُ الْعَيْنُ حَتَّى * يَقُودَ الْخَيْلَ يَقْدُمُهَا لِوَاءُ

تَغَيَّبَ لَا يُرَى عَنْهُمْ زَمَانًا * بِرَضْوَى عِنْدَهُ عَسَلٌ وَمَاءُ

Ketahuilah, sesungguhnya para pemimpin itu dari kaum Quraisy, mereka adalah penegak kebenaran yang empat jumlahnya setara.

Ali dan ketiga putranya, mereka adalah para cucu keturunan Nabi yang tidak samar lagi keberadaannya.

Satu cucu adalah lambang keimanan dan kebaikan, satu cucu lainnya telah dihilangkan (gugur) di Karbala.

Dan satu cucu lagi tidak dapat dilihat oleh mata, sampai kelak ia memimpin pasukan berkuda yang barisannya dipimpin oleh panji perang.

Ia bersembunyi ghaib dan tidak terlihat oleh mereka dalam waktu yang lama, di Gunung Radhwa di sisinya tersedia madu dan air.

Sebagian kelompok Rafidhah meyakini kepemimpinannya (imamah) dan menunggu-nunggu kemunculannya di akhir zaman, sebagaimana kelompok mereka yang lain menunggu-nunggu Al-Hasan bin Muhammad Al-Askari yang menurut klaim dusta mereka akan keluar dari ruang bawah tanah (serdab) di Samarra. Ini semua termasuk bagian dari takhayul, kesesatan, dan kebohongan besar mereka.

34. Al-Muhallab bin Abi Sufrah (Abu Sa'id Al-Azdi)

Beliau merupakan salah satu tokoh mulia penduduk Basra, pemuka mereka, orang yang paling cerdik, serta paling dermawan. Beliau lahir pada tahun pembebasan kota Mekah (Fathu Makkah). Mereka dahulu tinggal di daerah antara Oman dan Bahrain, kemudian Al-Muhallab menetap di Basra. Beliau pernah memimpin perang di tanah India pada masa-masa pemerintahan Muawiyah tahun 44 H, dan memimpin wilayah Al-Jazirah untuk Ibnu Az-Zubair pada tahun 68 H.

Selanjutnya beliau diserahi tugas memimpin peperangan melawan kaum Khawarij di awal masa jabatan Al-Hajjaj, di mana dalam satu pertempuran saja beliau berhasil menewaskan empat ribu delapan ratus orang Khawarij, sehingga kedudukannya menjadi sangat agung di mata Al-Hajjaj. Beliau adalah sosok yang utama, pemberani, lagi mulia, serta memiliki untaian kata yang indah. Di antara perkataannya adalah: "Ada dua perkara pada diri seseorang yang membuatku kagum: melihat akalnya lebih luas daripada ucapannya, dan tidak melihat ucapannya melampaui batas akalnya." Al-Muhallab wafat pada tahun 82 H saat sedang memimpin pasukan perang di Marw Al-Rudh dalam usia tujuh puluh enam tahun.

35. Al-Mughirah bin Al-Muhallab bin Abi Sufrah

Beliau adalah seorang yang sangat dermawan, banyak dipuji orang, lagi pemberani. Beliau memiliki rekam jejak yang masyhur di medan perang, dan wafat pada tahun 82 H.

36. Al-Harits bin Abdullah bin Rabi'ah Al-Makhzumi (Dikenal dengan julukan Quba' )

Beliau pernah memegang jabatan sebagai amir (gubernur) wilayah Basra untuk Ibnu Az-Zubair, dan wafat pada tahun 82 H.

37. Muhammad bin Usamah bin Zaid bin Haritsah

Beliau termasuk salah satu anak sahabat Nabi yang paling utama dan paling bijaksana akhlaknya. Beliau wafat di Madinah pada tahun 82 H dan dimakamkan di Baqi'.

38. Abdullah bin Abi Thalhah bin Al-Aswad

Beliau merupakan ayah dari seorang ahli fikih bernama Ishaq. Ibunya, Ummu Sulaim, mengandung dirinya pada malam ketika putra sebelumnya meninggal dunia. Di pagi harinya, Abu Thalhah mengabarkan hal tersebut kepada Nabi , lalu Nabi bersabda:

«أَعَرَسْتُمْ؟ بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا»

"Apakah kalian semalam melakukan hubungan suami istri? Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian tersebut."

Dan ketika Abdullah lahir, Nabi mentahniknya (mengunyah kurma lalu menempelkannya ke langit-langit mulut bayi) dengan beberapa butir kurma. Beliau wafat pada tahun 82 H.

39. Abdullah bin Ka'b bin Malik

Beliau adalah orang yang menuntun ayahnya (Ka'b bin Malik) ketika sang ayah mengalami kebutaan. Beliau memiliki beberapa riwayat hadis, dan wafat di Madinah pada tahun 82 H.

40. Jamil bin Abdullah bin Ma'mar Al-Quda'i (Abu Amr, sang penyair kekasih Buthainah)

Beliau dahulu pernah melamar Buthainah namun pihak keluarga melarangnya, sehingga beliau menggubah syi'ir-syi'ir kerinduan (ghazal) tentangnya dan menjadi sangat terkenal karena wanita tersebut. Beliau merupakan salah satu tokoh perindu Arab yang paling legendaris. Tempat tinggalnya berada di Wadi Al-Qura. Beliau adalah orang yang menjaga kehormatan diri, taat beragama, seorang penyair muslim, dan termasuk penyair yang paling fasih tutur bahasanya di zaman tersebut.

Ibnu Katsir berkata: "Wafatnya beliau terjadi di Mesir pada tahun 82 H. Hal itu karena beliau datang berkunjung menemui Abdul Aziz bin Marwan, lalu Abdul Aziz memuliakannya dan bertanya tentang rasa cintanya kepada Buthainah. Jamil menjawab: 'Sangat mendalam.' Abdul Aziz kemudian meminta Jamil untuk melantunkan sebagian dari bait-bait syair dan pujiannya, maka Jamil pun melantunkannya. Abdul Aziz kemudian berjanji akan mempertemukan dirinya dengan Buthainah, namun ajal terlanjur menjemput Jamil pada tahun 82 H tersebut, semoga Allah merahmatinya, Amin."

41. Umar bin Ubaidillah bin Ma'mar bin Utsman (Abu Hafsh Al-Qurashi At-Taimi)

Beliau termasuk salah seorang pemuka yang sangat dermawan lagi mulia. Banyak wilayah berhasil ditaklukkan melalui tangannya. Beliau pernah menjadi perwakilan wilayah Basra untuk Ibnu Az-Zubair, dan berhasil menaklukkan Kabul bersama Abdullah bin Khazim. Beliau jugalah orang yang berhasil menewaskan Qathari bin Al-Fuja'ah. Beliau meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar, Jabir, dan selainnya, sementara yang mengambil riwayat darinya adalah Atha' bin Abi Rabah dan Ibnu Aun. Beliau datang sebagai utusan kepada Abdul Malik, lalu wafat akibat wabah pes (thaun) di Damaskus pada tahun 82 H. Abdul Malik menyolatkan serta ikut berjalan mengiringi jenazahnya.

42. Zirr bin Hubaisy

Beliau termasuk salah seorang murid terdekat dari sahabat Ibnu Mas'ud. Umurnya mencapai seratus dua puluh tahun (120 tahun), dan wafat pada tahun 81 H.

43. Syaqiq bin Salamah (Abu Wa'il)

Beliau sempat mendapati zaman Jahiliyah selama tujuh tahun, dan memeluk Islam pada masa hidup Nabi , lalu wafat pada tahun 82 H.

44. Ummu Ad-Darda Al-Sughra (Namanya Hujaimah, ada yang menyebut Juhaimah)

Beliau adalah seorang tabi'iyah (generasi setelah sahabat) yang ahli ibadah, berilmu luas, lagi ahli fikih. Kaum laki-laki dahulu membaca Al-Qur'an dan belajar fikih kepadanya di bagian dinding sebelah utara Masjid Jami' Damaskus. Khalifah Abdul Malik bin Marwan bahkan biasa duduk di dalam halakahnya bersama para penuntut ilmu fikih lainnya meskipun statusnya saat itu adalah seorang khalifah. Semoga Allah meridainya, beliau wafat pada tahun 82 H.

45. Abdurrahman bin Hujairah Al-Khawlani Al-Mishri

Beliau meriwayatkan hadis dari sekelompok sahabat Nabi. Penguasa Mesir, Abdul Aziz bin Marwan, telah menggabungkan tiga jabatan sekaligus untuknya, yaitu jabatan hakim (qadhi), pemberi nasihat/kisah (qashash), dan pengelola baitulmal. Gaji tahunannya mencapai seribu dinar, namun beliau tidak pernah menimbun atau menyimpan sedikit pun uang tersebut. Beliau wafat pada tahun 83 H.

46. Thariq bin Syihab bin Abdi Syams Al-Ahmasi

Beliau termasuk orang yang pernah melihat Nabi . Beliau ikut serta memimpin peperangan pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab sebanyak empat puluh sekian kali peperangan. Beliau wafat di Madinah pada tahun 83 H.

47. Ubaidillah bin Adi bin Al-Khiyar

Beliau sempat mendapati masa hidup Nabi , meriwayatkan hadis dari sekelompok sahabat, serta termasuk salah satu ahli fikih dan ulama dari kaum Quraisy. Beliau wafat pada tahun 83 H.

48. Imran bin Hittan Al-Khariji

Awal mulanya beliau termasuk golongan Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Kemudian beliau menikahi seorang wanita dari kaum Khawarij yang berwajah sangat cantik jelita karena beliau mencintainya. Imran sendiri memiliki rupa wajah yang kurang menarik (buruk rupa). Ia berniat untuk membawa istrinya tersebut agar kembali kepada ajaran Ahlu Sunnah, namun sang istri menolak, hingga akhirnya justru Imran yang berubah mengikuti mazhab Khawarij istrinya.

Beliau termasuk jajaran penyair yang sangat piawai. Beliau adalah orang yang menggubah bait syair pujian atas peristiwa pembunuhan Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam:

يَا ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا * إِلَّا لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ رِضْوَانَا

إِنِّي لَأَذْكُرُهُ يَوْمًا فَأَحْسَبُهُ * أَوْفَى الْبَرِيَّةِ عِنْدَ اللَّهِ مِيزَانَا

Wahai sebuah tebasan pedang dari orang yang bertakwa, tidaklah ia menghendaki dengannya

Melainkan agar ia mencapai keridaan dari Pemilik 'Arsy (Allah).

Sesungguhnya aku mengingatnya pada suatu hari, lalu aku mengira dia adalah

Makhluk yang paling sempurna timbangan pahalanya di sisi Allah.

Sebagian ulama menyanggah bait syair di atas (mengenai pembunuhan Ali) dengan menggubah bait syair balasan yang menggunakan rima akhir dan wazan (timpangan nada) yang persis sama:

بَلْ ضَرْبَةٌ مِنْ شَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا * إِلَّا لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ خُسْرَانَا

إِنِّي لَأَذْكُرُهُ يَوْمًا فَأَحْسَبُهُ * أَشْقَى الْبَرِيَّةِ عِنْدَ اللَّهِ مِيزَانَا

Bukan, melainkan itu adalah tebasan pedang dari orang yang celaka, tidaklah ia menghendaki dengannya

Melainkan agar ia mencapai kerugian (azab) dari Pemilik 'Arsy.

Sesungguhnya aku mengingatnya pada suatu hari, lalu aku mengira dia adalah

Makhluk yang paling celaka timbangan dosanya di sisi Allah.

Imran bin Hittan wafat pada tahun 84 H.

49. Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abi Al-Ash Al-Umayyah

Beliau lahir di Madinah, kemudian memasuki negeri Syam bersama ayahnya, Marwan. Ayahnya mengangkat beliau untuk memimpin seluruh wilayah negeri Mesir pada tahun 65 H, dan beliau terus menjadi gubernur di sana sampai wafat pada tahun 85 H. Abdul Aziz bin Marwan meriwayatkan hadis dari ayahnya, dari Abdullah bin Az-Zubair, Uqbah bin Amir, dan Abu Hurairah.

Ketika menjelang wafatnya, beliau berkata: "Demi Allah, aku sungguh berharap sekiranya aku dahulu bukanlah sesuatu yang disebut-sebut orang, dan aku berharap sekiranya aku hanyalah air yang mengalir ini, atau menjadi tumbuh-tumbuhan di tanah Hijaz." Abdul Aziz bin Marwan termasuk jajaran amir yang paling baik, sangat mulia, dermawan, lagi banyak dipuji. Beliau merupakan ayah kandung dari Khalifah yang lurus (Rasyid), Umar bin Abdul Aziz. Umar mewarisi akhlak mulia ayahnya ini, bahkan mengungggulinya dalam banyak perkara lainnya.

50. Aban bin Utsman bin Affan

Beliau adalah mantan amir Madinah, dan termasuk ke dalam sepuluh ahli fikih kota Madinah yang terkenal. Hal itu dinyatakan oleh Yahya bin Al-Qatthan, dan Muhammad bin Saad berkata: "Beliau adalah orang yang tepercaya (tsiqah), memiliki sedikit gangguan pendengaran, menderita penyakit kusta ringan yang tampak jelas, dan terserang penyakit lumpuh (stroke) sebelum wafatnya." Beliau wafat pada tahun 85 H.

51. Watsilah bin Al-Asqa'

Beliau ikut menyaksikan Perang Tabuk, kemudian ikut dalam pembebasan kota Damaskus lalu menetap di sana. Beliau merupakan sahabat Nabi terakhir yang wafat di Damaskus, yaitu pada tahun 85 H.

52. Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufrah (Shakhr bin Harb bin Umayyah)

Beliau adalah orang Quraisy yang paling berilmu dalam berbagai cabang pengetahuan. Beliau memiliki keahlian yang mendalam di bidang kedokteran, serta memiliki banyak teori dan ulasan dalam ilmu kimia. Khalid adalah seorang yang fasih, orator ulung, sekaligus seorang penyair. Beliau wafat pada tahun 85 H.

53. Abdullah bin Al-Harits bin Jaz' Az-Zubaidi

Beliau ikut menyaksikan pembebasan negeri Mesir dan tinggal menetap di sana. Beliau merupakan sahabat Nabi yang paling terakhir wafat di tanah Mesir, yaitu pada tahun 86 H, dan beliau memiliki beberapa riwayat hadis.

54. Arthah bin Zafar bin Abdullah Al-Ghatafani (Abu Al-Walid Al-Murri)

Beliau wafat pada tahun 86 H. Allah memberikan karunia umur yang sangat panjang kepadanya hingga melewati usia seratus tiga puluh tahun (130 tahun). Semasa hidupnya ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang mulia, ditaati, banyak dipuji, serta seorang penyair ulung yang berwawasan luas. Beliau pernah datang sebagai utusan kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

55. Yunus bin Atiyyah Al-Hadrami

Beliau adalah hakim agung (qadhi) negeri Mesir, sekaligus menjabat sebagai kepala kepolisian (shahibus syurthah) pada masa-masa pemerintahan Abdul Aziz bin Marwan. Beliau wafat pada tahun 86 H.

56. Mutharrif bin Abdullah bin Al-Syikhkhir

Beliau termasuk ke dalam golongan tabi'in senior, dan termasuk salah satu murid terdekat dari sahabat Imran bin Hushain, serta dikenal sebagai orang yang dikabulkan doa-doanya (mustajab ad-da'wah).

Beliau pernah berkata kepada sebagian saudaranya: "Apabila engkau memiliki suatu keperluan kepadaku, janganlah engkau langsung mengatakannya kepadaku secara lisan; karena sesungguhnya aku benci melihat rona kehinaan meminta-minta terpancar di wajahmu. Akan tetapi, tulislah keperluanmu itu di atas selembar kertas lalu serahkanlah kepadaku."

Beliau dahulu tinggal di daerah pedalaman (badui), dan selalu datang berkunjung ke kota untuk menunaikan salat Jumat sambil membawa kabar gembira. Mutharrif wafat di Basra pada tahun 86 H, dan beliau memiliki kedudukan yang sangat terhormat di mata para khalifah, raja, dan para amir.


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebagian Keutamaan dan Kabar yang Menberitakan akan Terbunuhnya Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu

Pandangan Ibnu Katsir tentang Terbunuhnya Al-Husain dan Letak Makam Al Husain

Peristiwa Karbala : Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu