Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (73–86 H)
Bab Pertama: Biografi dan Kekhalifahannya
Silsilah dan Keluarganya
Beliau adalah Abdul Malik bin Marwan bin al-Hakam bin Abi
al-Aas bin Umayyah, Abu al-Walid al-Umawi, Amirul Mukminin. Ibunya adalah
Aisyah binti Muawiyah bin al-Mughirah bin Abi al-Aas bin Umayyah. Beliau lahir
pada tahun 26 Hijriah.
Anak-anak dan Istri-istrinya
- Al-Walid,
Sulaiman, Marwan al-Akbar (meninggal saat masih kecil), dan Aisyah:
Ibu mereka adalah Walladah binti al-Abbas bin Jaz'i bin al-Harits al-Absi.
- Yazid,
Marwan al-Asghar, Muawiyah (meninggal saat masih kecil), dan Ummu
Kultsum: Ibu mereka adalah Aikah binti Yazid bin Muawiyah bin Abi
Sufyan.
- Hisyam:
Ibunya adalah Aisyah binti Hisyam bin Ismail al-Makhzumi.
- Abu
Bakar (namanya adalah Bakkar): Ibunya adalah Aisyah binti Musa bin
Thalhah bin Ubaidillah at-Taimi.
- Al-Hakam
(meninggal saat masih kecil): Ibunya adalah Ummu Ayyub binti Amru bin
Utsman bin Affan al-Umawi.
- Fathimah:
Ibunya adalah Ummu al-Mughirah binti al-Mughirah bin Khalid bin al-Aas bin
Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi.
- Abdullah,
Maslamah, al-Munzir, Anbasah, Muhammad, Said al-Khair, dan al-Hajjaj:
Lahir dari beberapa ibu yang berbeda (selir).
Jumlah total anak-anak beliau, baik laki-laki maupun
perempuan, adalah 19 orang.
Sifat-sifatnya
Beliau berwajah putih, bertubuh sedang cenderung agak
pendek, tidak kurus dan tidak gemuk. Alisnya menyambung, matanya besar dan
berbinar, hidungnya mancung tipis, wajahnya berseri-seri, rambut dan janggutnya
memutih, serta berwajah tampan. Beliau awalnya tidak menyemir rambutnya, namun
ada yang mengatakan beliau menyemirnya setelah itu. Gigi-giginya juga diikat
atau dilapisi dengan emas.
Sebelum menjabat sebagai khalifah, Abdul Malik termasuk
orang yang tekun beribadah, zahid, ahli fikih, selalu berada di masjid, dan
rajin membaca Al-Qur'an.
Al-A'masy meriwayatkan dari Abi az-Zinad yang berkata:
"Ahli fikih di Madinah itu ada empat orang: Said bin al-Musayyib, Urwah,
Qabishah bin Dzu'aib, dan Abdul Malik bin Marwan; yaitu sebelum beliau masuk ke
dalam urusan pemerintahan."
Beliau pernah mendengar hadis langsung dari Utsman bin
Affan, dan ikut menyaksikan peristiwa pengepungan rumah Utsman bersama ayahnya
saat beliau masih berusia 10 tahun. Beliau pernah diangkat menjadi pemimpin
bagi penduduk Madinah oleh Muawiyah ketika berusia 16 tahun. Beliau gemar duduk
berkumpul bersama para ahli fikih, ulama, ahli ibadah, dan orang-orang saleh.
Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya, Jabir, Abu Said
al-Khudri, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Muawiyah, Ummu Salamah, dan Barirah (budak
perempuan yang dimerdekakan oleh Aisyah). Sementara orang-masing yang
meriwayatkan hadis dari beliau di antaranya adalah Khalid bin Ma'dan, Urwah,
az-Zuhri, Amru bin al-Harits, Raja' bin Haiwah, dan Jarir bin Utsman.
Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dari Mush'ab bin az-Zubair
bahwa Abdul Malik adalah orang pertama dalam Islam yang diberi nama "Abdul
Malik".
Asy-Sya'bi berkata: "Aku tidak pernah duduk bersama
siapa pun melainkan aku merasa memiliki kelebihan atasnya, kecuali saat bersama
Abdul Malik bin Marwan. Tidaklah aku mengingatkan suatu hadis kepadanya
melainkan ia menambahkan penjelasan kepadaku tentangnya, dan tidak pula sebuah
syair melainkan ia menambahkan baitnya kepadaku."
Ibnu Katsir berkata: "Abdul Malik adalah orang yang
berani dalam menumpahkan darah, dan para gubernurnya pun mengikuti jalannya, di
antaranya al-Hajjaj, al-Muhallab, dan selain mereka. Beliau adalah seorang yang
tegas, paham, cerdas, cerdik dalam mengatur urusan dunia, dan tidak menyerahkan
urusan dunianya kepada orang lain."
Baiatnya sebagai Khalifah
Beliau dibaiat sebagai khalifah pada tahun 65 H di masa
hidup ayahnya, yaitu saat masa kekhalifahan Ibnu az-Zubair. Beliau memegang
wilayah Syam dan Mesir selama tujuh tahun, sementara Ibnu az-Zubair memegang
wilayah sisanya. Kemudian beliau menjadi khalifah tunggal dan manusia bersatu
di bawah kepemimpinannya setelah terbunuhnya Ibnu az-Zubair pada tahun 73 H.
Masa kekhalifahannya berlangsung selama 21 tahun; 9 tahun di
antaranya berbagi kekuasaan dengan Ibnu az-Zubair, dan 13 tahun 3 bulan
setengah dijalani secara mandiri sebagai khalifah tunggal.
Hakim (qadi) beliau adalah Abu Idris al-Khaulani,
sekretarisnya adalah Rauh bin Zinba', pengawalnya (hajib) adalah Yusuf (budak
yang dimerdekakannya), bendahara serta pemegang cap stempel adalah Qabishah bin
Dzu'aib, dan kepala kepolisiannya adalah Abu az-Zu'a'iz'ah.
Baiat Ibnu Umar Kepadanya
Said bin Abdul Aziz berkata: Ketika Abdul Malik dibaiat
sebagai khalifah setelah terbunuhnya Ibnu az-Zubair, Abdullah bin Umar bin
al-Khatthab menulis surat kepadanya:
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang. Dari Abdullah bin Umar kepada Abdullah, Abdul Malik Amirul
Mukminin. Salam sejahtera untukmu. Sungguh aku memuji Allah kepadamu, yang
tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Amma ba'du: Sesungguhnya
engkau adalah seorang penggembala (pemimpin), dan setiap penggembala akan
dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya (rakyatnya)."
﴿اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ
فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا﴾
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan
mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Siapakah
yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (QS. An-Nisa: 87)
"Tidak ada seorang pun (yang lebih benar). Wassalamu
alaikum."
Surat itu dikirimkan melalui Salim. Orang-orang di sekitar
khalifah sempat marah karena Ibnu Umar mendahulukan namanya sendiri sebelum
nama Amirul Mukminin. Namun setelah mereka memeriksa surat-surat Ibnu Umar yang
dahulu dikirimkan kepada Muawiyah, ternyata polanya memang sama, sehingga
mereka pun memaklumi hal tersebut.
Keutamaan dan Ucapan-ucapannya
Al-Asma'i menceritakan dari Abbad bin Salm bin Utsman bin
Ziyad, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Abdul Malik bin Marwan
menunggangi seekor unta muda, lalu penuntun untanya melantunkan syair:
يَا
أَيُّهَا الْبَكْرُ الَّذِي أَرَاكَا عَلَيْكَ سَهْلُ الْأَرْضِ فِي مَمْشَاكَا
وَيْحَكَ
هَلْ تَعْلَمُ مَنْ عَلَاكَا خَلِيفَةُ اللَّهِ الَّذِي امْتَطَاكَا
لَمْ
يَحْبُ بَكْرًا مِثْلَ مَا حَبَاكَا
Wahai unta muda yang aku lihat,
Langkahmu terasa mudah di atas bumi ini.
Celaka kamu, tahukah engkau siapa yang menunggangimu?
Dialah khalifah Allah yang menunggangimu.
Belum pernah seekor unta muda mendapatkan kemuliaan
seperti yang diberikan kepadamu.
Mendengar syair itu, Abdul Malik berkata: "Bagus sekali
wahai fulan, aku perintahkan untuk memberimu sepuluh ribu (dirham)."
Al-Asma'i berkata: Pernah dikatakan kepada Abdul Malik,
"Uban begitu cepat tumbuh padamu." Beliau menjawab, "Bagaimana
tidak, sedangkan aku harus memamerkan akal pikiranku di hadapan orang banyak
sekali atau dua kali setiap hari Jumat (saat berkhotbah)!"
Az-Zuhri berkata: Aku mendengar Abdul Malik berkata dalam
khotbahnya: "Sesungguhnya ilmu ini akan dicabut dengan cepat. Maka barang
siapa yang memiliki ilmu, tampakkanlah (ajarkanlah), tanpa berlebih-lebihan dan
tidak pula abai terhadapnya."
Al-A'masy menceritakan bahwa Muhammad bin az-Zubair
mengabarkan kepadanya bahwa Anas bin Malik pernah menulis surat kepada Abdul
Malik untuk mengadukan sikap al-Hajjaj. Anas berkata dalam suratnya:
"Seandainya ada seorang laki-laki yang melayani Nabi Isa meskipun hanya
satu malam, atau pernah melihatnya lalu kaum Nasrani mengetahuinya, tentulah
mereka akan memberikan kedudukan yang tinggi di antara mereka dan
menghormatinya. Begitu pula jika ada seseorang yang melayani Nabi Musa atau
melihatnya lalu kaum Yahudi mengetahuinya, pasti mereka akan melakukan hal yang
sama. Sementara aku adalah pelayan Rasulullah ﷺ dan sahabat beliau, namun al-Hajjaj telah
berbuat zalim dan merugikan aku serta berbuat ini dan itu."
Perawi berkata: "Orang yang menyaksikan Abdul Malik
membaca surat tersebut mengabarkan kepadaku bahwa beliau menangis, dan
kemarahannya memuncak. Beliau kemudian menulis surat yang sangat keras kepada
al-Hajjaj. Ketika surat itu sampai dan dibaca oleh al-Hajjaj, wajahnya langsung
berubah pucat, lalu ia berkata kepada pembawa surat: 'Mari kita pergi menemui
Anas untuk meminta kerelaannya.'"
Sebagian ulama menceritakan: Ada seorang laki-laki meminta
kepada Abdul Malik untuk berbicara berdua saja. Beliau lalu memerintahkan
orang-orang di sekitarnya untuk keluar. Ketika orang itu bersiap untuk
berbicara, Abdul Malik memperingatkannya: "Jangan sekali-kali engkau
memujiku, karena aku lebih tahu tentang diriku daripada engkau. Jangan
membohongiku, karena tidak ada pendapat yang berharga dari seorang pembohong.
Dan jangan mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang lain kepadaku. Jika
engkau mau, aku bisa membatalkan pertemuan ini." Laki-laki itu berkata,
"Batalkan saja." Maka beliau pun membatalkannya.
Pernah ditanyakan kepada Abdul Malik: "Laki-laki
bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Orang yang
merendahkan hati (tawadu) saat berada di kedudukan yang tinggi, yang zuhud
ketika memiliki kemampuan, dan yang menahan diri untuk membalas padahal ia
memiliki kekuatan."
Al-Madaini berkata: Abdul Malik berkata kepada guru pendidik
anak-anaknya—yaitu Ismail bin Ubaidillah bin Abi al-Muhajir: "Ajarkanlah
mereka kejujuran sebagaimana engkau mengajarkan mereka Al-Qur'an. Jauhkanlah
mereka dari orang-orang rendahan, karena mereka adalah orang-orang yang paling
buruk perangainya dan paling sedikit adabnya. Jauhkan pula mereka dari
pelayan-pelayan istana, karena mereka bisa merusak mereka. Potong pendek rambut
mereka agar leher mereka menjadi kokoh. Beri mereka makan daging agar mereka
menjadi kuat. Ajarkan mereka syair agar mereka menjadi mulia dan pemberani.
Perintahkan mereka untuk bersiwak secara melintang, dan minumlah air dengan
cara diisap pelan-pelan, jangan diteguk sekaligus. Jika engkau perlu menghukum
mereka untuk mendidik, maka lakukanlah secara rahasia tanpa diketahui oleh
seorang pun dari para pelayan atau pengikut, agar mereka tidak menjadi remeh di
mata para pelayan tersebut."
Zirr bin Hubaisy pernah menulis surat kepada Abdul Malik,
dan di akhir suratnya ia menulis: "Wahai Amirul Mukminin, janganlah
kesehatan tubuh yang nampak padamu membuatmu terlena dengan angan-angan panjang
umur, karena engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri. Ingatlah apa yang
dikatakan oleh orang-orang terdahulu:
إِذَا
الرِّجَالُ وَلَدَتْ أَوْلَادَهَا وَبَلِيَتْ مَنْ كِبَرٍ أَجْسَادُهَا
وَجَعَلَتْ
أَسْقَامُهَا تَعْتَادُهَا تِلْكَ زُرُوعٌ قَدْ دَنَا حَصَادُهَا
Apabila orang-orang telah melahirkan anak-anak mereka,
Dan tubuh-tubuh mereka telah rapuh dimakan usia tua.
Serta berbagai penyakit mulai sering mendatangi mereka,
Maka itulah tanaman-tanaman yang telah dekat masa
panennya.
Ketika Abdul Malik membaca surat itu, beliau menangis hingga
membasahi ujung pakaiannya, lalu berkata: "Zirr benar. Seandainya ia
menulis kepada kami dengan kalimat yang lebih lembut dari ini, tentu itu lebih
menenangkan."
Abdul Malik pernah mendengar sekelompok sahabatnya
membicarakan tentang perjalanan hidup (sirah) Umar bin al-Khatthab, lalu beliau
berkata: "Hentikanlah dari menyebut-nyebut Umar, karena hal itu merupakan
bentuk celaan tidak langsung kepada para penguasa saat ini dan dapat merusak
ketaatan rakyat."
Al-Asma'i menceritakan dari ayahnya yang berkata: Suatu hari
Abdul Malik menyampaikan khotbah yang sangat menyentuh, lalu beliau
menghentikannya dan menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau berdoa: "Wahai
Tuhanku, sesungguhnya dosa-dosaku sangatlah besar, namun sesungguhnya sedikit
dari ampunan-Mu jauh lebih besar daripada dosa-dosaku. Ya Allah, maka hapuslah
besarnya dosa-dosaku dengan sedikit ampunan-Mu."
Perawi berkata: Kabar itu sampai kepada Al-Hasan Al-Bashri,
lalu ia pun menangis dan berkata: "Seandainya ada perkataan yang layak
ditulis dengan tinta emas, tentulah perkataan ini yang akan ditulis." Hal
serupa juga diriwayatkan dari banyak jalur.
Abu Mushir menceritakan: Pernah ditanyakan kepada Abdul
Malik saat beliau sedang sakit yang membawa pada kematiannya, "Bagaimana
keadaanmu?" Beliau menjawab: "Aku mendapati diriku sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah Ta'ala:
﴿وَلَقَدْ
جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا
خَوَلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ﴾
"Dan kamu benar-benar datang kepada Kami
sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada pertama kali, dan apa yang
telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakang tokomu."
(QS. Al-An'am: 94) hingga akhir ayat.
Said bin Abdul Aziz berkata: Ketika ajal menjemput Abdul
Malik, beliau memerintahkan agar pintu-pintu istananya dibuka. Tiba-tiba beliau
mendengar suara seorang tukang cuci pakaian (binatu), lalu beliau bertanya,
"Suara apa itu?" Mereka menjawab, "Itu suara tukang cuci
pakaian." Beliau lalu berucap, "Duhai, seandainya saja aku dahulu
hanyalah seorang tukang cuci pakaian." Ketika ucapan ini sampai kepada
Said bin al-Musayyib, ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah
membuat mereka (para penguasa) berharap menjadi seperti kita saat mati,
sedangkan kita tidak pernah berharap menjadi seperti mereka."
Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata: "Angkatlah
tubuhku." Mereka pun mengangkat tubuhnya hingga beliau dapat menghirup
udara segar, lalu beliau berkata: "Wahai dunia, alangkah indahnya engkau!
Sesungguhnya waktu yang panjang padamu terasa singkat, dan sesuatu yang banyak
padamu terasa sedikit, dan sungguh kami benar-benar telah tertipu olehmu."
Beliau wafat di Damaskus pada hari Jumat di pertengahan
bulan Syawal tahun 86 Hijriah. Jenazah beliau disalatkan oleh putranya,
al-Walid, selaku putra mahkota setelahnya. Usia beliau pada hari wafatnya
adalah 60 tahun. Hal ini dinyatakan oleh Abu Ma'syar dan disahihkan oleh
al-Waqidi. Beliau dimakamkan di dekat pintu gerbang Bab al-Jabiyah al-Saghir.
Bab Kedua
Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya
Pembangunan Kubah Batu (Dome of the Rock) di Baitul Maqdis
Penulis kitab Mir'atuz Zaman berkata: Pada tahun 66
H, Abdul Malik bin Marwan mulai membangun kubah di atas batu (shakhrah) Baitul
Maqdis serta memakmurkan Masjidil Aqsa, dan pembangunannya selesai pada tahun
73 H.
Ketika Abdul Malik ingin membangunnya, ia berangkat dari
Damaskus menuju Baitul Maqdis dengan membawa dana dan para pekerja. Ia
menyerahkan tanggung jawab pengerjaan proyek tersebut kepada Raja' bin Haywah
dan Yazid bin Salam, mantan budaknya. Ia juga mengumpulkan para pengrajin dan
ahli teknik, lalu memerintahkan mereka untuk membuat miniatur kubah di halaman
masjid. Bentuknya membuat Abdul Malik kagum. Ia pun memerintahkan Raja' bin
Haywah dan Yazid untuk mencurahkan dana sebesar-besarnya tanpa perlu ragu-ragu.
Setelah pembangunan kubah selesai, dibuatlah dua buah kain penutup untuk kubah
tersebut; satu untuk musim dingin dan satu lagi untuk musim panas. Ia
mengelilingi batu tersebut dengan pagar pembatas dari kayu jati yang dihiasi
batu permata, dan di balik pagar tersebut digantungkan tirai-tirai dari kain
sutra tebal di antara tiang-tiangnya. Bangunan ini juga diberi empat buah
pintu.
Pemberontakan Amr bin Said al-Umawi di Damaskus dan Kematiannya
Pada tahun 69 H, Amr bin Said al-Umawi yang dijuluki
al-Asydaq melakukan pemberontakan di Damaskus setelah Abdul Malik bin Marwan
keluar dari kota tersebut. Pemberontakan ini bertujuan untuk memperluas wilayah
kekuasaannya. Hal ini memaksa Abdul Malik untuk segera kembali ke Damaskus saat
itu juga. Ia mendapati al-Asydaq telah membentengi kota Damaskus, memasang
tirai-tirai serta kain pelindung, dan berlindung di dalam sebuah benteng Romawi
yang kokoh di Damaskus. Abdul Malik kemudian mengepungnya, dan Amr bin Said
al-Asydaq melayaninya dalam pertempuran selama enam belas hari. Abdul Malik
lalu mengirim pesan kepadanya, "Aku mengingatkanmu demi Allah dan hubungan
kekerabatan agar kamu tidak merusak urusan keluargamu dan persatuan yang telah
mereka capai. Sungguh, apa yang kamu lakukan ini hanya akan menjadi kekuatan
bagi Ibnu az-Zubair. Kembalilah pada baiatmu, dan kamu memegang janji serta
kesepakatan Allah dariku bahwa kamu akan menjadi putra mahkota setelahku."
Mereka berdua pun menulis sepucuk surat perjanjian.
Amr teperdaya oleh janji tersebut lalu membuka pintu-pintu
gerbang Damaskus. Kemudian keduanya berdamai untuk menghentikan peperangan
dengan syarat Amr menjadi putra mahkota setelah Abdul Malik, dan di setiap
wilayah gubernur Abdul Malik akan didampingi oleh gubernur dari pihak Amr.
Pada Kamis malam, Abdul Malik memasuki istana gubernur
(Darul Imarah) sebagaimana biasanya. Ia mengirim utusan kepada Amr bin Said
al-Asydaq dan berkata, "Kembalikanlah tunjangan masyarakat yang telah kamu
ambil dari baitulmal." Namun Amr membalas pesan tersebut dengan
mengatakan, "Ini bukan urusanmu, dan kota ini bukan milikmu, maka
keluarlah dari sini!" Ketika hari Senin tiba, Abdul Malik mengirim utusan
lagi kepada Amr bin Said dan memerintahkannya untuk datang ke kediamannya di Darul
Imarah al-Khadra' (Istana Hijau). Saat utusan itu datang, Amr bin Said berkata
kepadanya, "Sampaikan salam kepadanya, dan katakan bahwa aku akan
mendatanginya malam ini, insya Allah."
Ketika malam tiba, Amr mengenakan baju besi di balik
pakaiannya, menyandang pedangnya, lalu berangkat bersama seratus orang mantan
budaknya (mawali). Di sisi lain, Abdul Malik telah memerintahkan Bani Marwan
untuk berkumpul seluruhnya di tempatnya. Begitu Amr bin Said tiba di pintu
gerbang, Abdul Malik memerintahkan agar ia diizinkan masuk sendiri, sedangkan
orang-orang yang bersamanya ditahan dan dijaga oleh sekelompok pasukan di
setiap pintu gerbang. Amr pun masuk dengan kondisi seperti itu hingga sampai ke
ruangan tempat Abdul Malik berada, dan tidak ada lagi pengawal yang
menyertainya kecuali seorang pelayan muda. Ia melayangkan pandangannya dan
terkejut mendapati Bani Marwan tanpa terkecuali telah berkumpul di dekat Abdul
Malik. Ia pun mulai merasakan gelagat buruk. Saat itu, di dekat Abdul Malik
terdapat Hassan bin Malik bin Bahdal dan Qabishah bin Dzu'aib. Abdul Malik
kemudian mengizinkan keduanya untuk pulang, dan setelah mereka berdua keluar,
pintu-pintu langsung dikunci rapat.
Amr mendekat kepada Abdul Malik, lalu Abdul Malik
menyambutnya dan mendudukkannya bersamanya di atas ranjang kerajaan, kemudian
mengajaknya berbincang-bincang dalam waktu yang cukup lama.
Setelah itu, Abdul Malik berkata, "Wahai pelayan, ambil
pedang itu darinya!" Amr pun berseru, "Inna lillahi wahai Amirul
Mukminin!"
Abdul Malik membalasnya, "Apakah kamu berharap bisa
berbincang denganku sambil menyandang pedangmu?"
Pelayan itu pun mengambil pedang dari Amr, lalu mereka
kembali berbincang sejenak. Kemudian Abdul Malik berkata kepadanya, "Wahai
Abu Umayyah (panggilan Amr)."
Amr menjawab, "Aku penuhi panggilanmu, wahai Amirul
Mukminin."
Abdul Malik berkata, "Sesungguhnya ketika kamu mencopot
kepatuhanmu dariku, aku telah bersumpah atas nama-Ku bahwa jika mataku
memandangmu dalam keadaan aku menguasaimu, aku akan membelenggumu dalam
sepasang pasungan besi (jami'ah)."
Orang-orang Bani Marwan berkata, "Kemudian setelah itu
engkau membebaskannya kembali, wahai Amirul Mukminin." Abdul Malik
menjawab, "Ya, kemudian aku akan membebaskannya. Lagipula, apa yang bisa
kulakukan terhadap Abu Umayyah?"
Bani Marwan berkata, "Penuhilah sumpah Amirul
Mukminin!" Amr pun menyahut, "Maka penuhilah sumpahmu, wahai Amirul
Mukminin."
Abdul Malik lalu mengeluarkan pasungan besi dari bawah
tempat tidurnya dan melemparkannya ke hadapan Amr, lalu berkata, "Wahai
pelayan, berdiri dan pasunglah dia di dalamnya!"
Pelayan itu pun berdiri lalu memasungnya. Amr berkata,
"Aku mengingatkanmu demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau
mengarakku keluar dengan belenggu ini di hadapan orang banyak." Abdul
Malik menjawab: "Apakah kamu masih ingin menipu, wahai Abu Umayyah, di
ambang kematianmu? Demi Allah, sekali-kali tidak! Kami tidak akan
mengeluarkanmu dengan belenggu ini di hadapan orang banyak, dan kami tidak akan
melepaskan belenggu ini darimu kecuali nyawamu telah melayang."
Kemudian Abdul Malik menarik belenggu itu dengan sekali
sentakan keras hingga mulut Amr membentur ranjang kerajaan dan mematahkan gigi
serinya. Amr berkata, "Aku mengingatkanmu demi Allah, wahai Amirul
Mukminin, jangan sampai patahnya tulangku ini mendorongmu untuk melakukan hal
yang lebih kejam dari ini."
Abdul Malik berkata, "Demi Allah, andai aku tahu jika
kamu tetap hidup kamu akan setia kepadaku dan memperbaiki hubungan dengan
Quraisy, niscaya aku akan membebaskanmu. Namun, tidaklah dua orang lelaki
berkumpul di suatu negeri untuk memperebutkan kekuasaan seperti yang kita alami
ini, melainkan salah satunya pasti akan menyingkirkan rekannya." Setelah
itu, ia memerintahkan agar Amr dibunuh.
Penguasaan Abdul Malik atas Wilayah Khorasan
Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 72 H, Abdul Malik menulis
surat kepada Abdullah bin Khazim, gubernur Khorasan, untuk mengajaknya berbaiat
dan menjanjikan wilayah Khorasan kepadanya selama tujuh tahun. Namun, ia tidak
memenuhinya. Abdul Malik kemudian mengirim surat kepada Bukair bin Wisyah,
wakil Ibnu Khazim di kota Marw, dan menjanjikannya jabatan gubernur Khorasan
jika ia mau menggulingkan Abdullah bin Khazim. Bukair pun menggulingkannya.
Ibnu Khazim kemudian datang dan memeranginya, namun Abdullah bin Khazim justru
terbunuh dalam pertempuran tersebut. Bukair mengambil kepala Ibnu Khazim lalu
mengirimkannya kepada Abdul Malik bin Marwan disertai surat yang mengabarkan
tentang kemenangan dan terbunuhnya Abdullah bin Khazim. Abdul Malik sangat
gembira mendengar kabar tersebut, lalu ia menulis surat kepada Bukair bin
Wisyah dan menetapkannya sebagai wakil gubernur di Khorasan.
Penguasaan Abdul Malik atas Kota Madinah
Pada tahun 72 H, kota Madinah berhasil direbut dari para
wakil Ibnu az-Zubair. Abdul Malik bin Marwan kemudian mengangkat Thariq bin Amr
sebagai gubernur di sana, yaitu orang yang sebelumnya dikirim sebagai pasukan
bantuan untuk al-Hajjaj dalam menghadapi Ibnu az-Zubair.
Pembongkaran Renovasi Ibnu az-Zubair pada Ka'bah oleh al-Hajjaj
Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 74 H, al-Hajjaj membongkar
bangunan Ka'bah yang sebelumnya dibangun oleh Ibnu az-Zubair, dan
mengembalikannya ke bentuk bangunannya yang semula.
Ibnu Katsir berkata: Al-Hajjaj tidak membongkar seluruh
bangunan Ka'bah, melainkan hanya meruntuhkan dinding bagian utara (Syam) hingga
mengeluarkan kembali Hijr Ismail dari bagian dalam Ka'bah, kemudian menutupnya
dengan dinding baru. Ia memasukkan sisa batu-batu pembongkaran ke dalam bagian
dalam Ka'bah, menutup pintu sebelah barat secara total, serta menimbun bagian
bawah pintu sebelah timur sehingga letaknya menjadi tinggi menggantung seperti
halnya pada masa jahiliah. Alasan Ibnu az-Zubair melakukan renovasi tersebut
sebelumnya adalah berdasarkan apa yang dikabarkan oleh bibinya, Ummul Mukminin
Aisyah binti as-Siddiq radhiyallahu 'anha, dari Rasulullah ﷺ
mengenai sabda beliau:
«لَوْلَا
أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدُهُمْ بِكُفْرٍ - وَفِي رِوَايَةٍ : بِجَاهِلِيَّةِ -
لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ، وَأَدَخَلْتُ فِيهَا الْحِجْرَ، وَجَعَلْتُ لَهَا بَابًا
شَرْقِيًّا، وَبَابًا غَرْبِيًّا، وَلَا لْصَقْتُهُمَا بِالْأَرْضِ، فَإِنَّ
قَوْمَكِ قَصُرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ، فَلَمْ يُدْخِلُوا فِيهَا الْحِجْرَ،
وَلَمْ يُتَمِّمُوهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ، وَرَفَعُوا بَابَهَا
لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا، وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا»
Artinya: "Seandainya kaummu bukan karena baru saja
meninggalkan kekafiran —dalam riwayat lain: masa jahiliah— niscaya aku telah
meruntuhkan Ka'bah, lalu memasukkan Hijr Ismail ke dalamnya, dan membuatkan dua
pintu untuknya; satu pintu di sebelah timur dan satu pintu di sebelah barat,
serta meratakannya dengan tanah. Sesungguhnya kaummu kekurangan dana, sehingga
mereka tidak memasukkan Hijr ke dalamnya dan tidak menyempurnakannya di atas
fondasi Nabi Ibrahim. Mereka sengaja meninggikan pintunya agar bisa memasukkan
siapa saja yang mereka kehendaki dan melarang siapa saja yang mereka
kehendaki."
Ketika Ibnu az-Zubair memiliki kekuasaan, ia pun
membangunnya seperti itu. Namun ketika hadis ini baru sampai ke telinga Abdul
Malik setelah peristiwa pembongkaran tersebut, ia berkata: "Kami sangat
berharap seandainya kami membiarkannya saja bersama apa yang telah ia kerjakan
tersebut."
Pemberontakan Penduduk Basrah terhadap al-Hajjaj
Pada tahun 75 H, orang-orang di Basrah bangkit memberontak
melawan al-Hajjaj. Hal itu terjadi karena ketika ia datang berkuda dari Kufah,
ia berpidato di hadapan penduduk Basrah dengan nada ancaman yang sangat keras
dan intimidasi yang nyata, mirip dengan pidato yang ia sampaikan kepada
penduduk Kufah. Penduduk Basrah pun ketakutan, lalu mereka keluar dari kota
hingga berkumpul di jembatan Ramahurmuz di bawah pimpinan Abdullah bin
al-Jarud. Al-Hajjaj kemudian keluar menghadapi mereka pada bulan Syakban tahun
tersebut bersama para panglima pasukan dari dua kota militer (Kufah dan
Basrah). Mereka terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit di sana, hingga
al-Hajjaj berhasil mengalahkan mereka dan membunuh pemimpin mereka, Abdullah
bin al-Jarud, beserta para kepala suku yang bersamanya. Al-Hajjaj kemudian
memerintahkan agar kepala-kepala mereka dipenggal dan dipajang di dekat
jembatan Ramahurmuz.
Reformasi Mata Uang
Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 76 H, Abdul Malik bin Marwan
mengukir tulisan pada dirham dan dinar, dan dialah orang pertama yang
mengukirnya.
Hakim al-Mawardi berkata dalam kitab al-Ahkam
as-Sulthaniyah: Terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa orang pertama
yang mencetak mata uang dengan tulisan Arab dalam Islam;
Said bin al-Musayyib berpendapat: Orang pertama yang
mencetak dirham yang berukir tulisan adalah Abdul Malik bin Marwan, yang mana
sebelumnya mata uang dinar menggunakan dinar Romawi sedangkan dirham
menggunakan dirham Persia (Kisra).
Abu az-Zinad berkata bahwa pengukiran yang dilakukan oleh
Abdul Malik terjadi pada tahun 74 H. Sedangkan al-Madaini berkata pada tahun 75
H.
Mata uang tersebut kemudian mulai dicetak dan diedarkan ke
berbagai wilayah pada tahun 76 H. Disebutkan bahwa pada satu sisi mata uang
tersebut diukir tulisan "اللهُ
أَحَدٌ" (Allah Maha Esa), dan pada sisi sebaliknya diukir tulisan
"اللهُ
الصَّمَدُ" (Allah tempat bergantung). Ia melanjutkan: Yahya bin
al-Nu'man al-Ghifari meriwayatkan dari ayahnya, bahwa orang pertama yang
mencetak dirham adalah Mush'ab bin az-Zubair atas perintah saudaranya, Abdullah
bin az-Zubair, pada tahun 70 H, dengan mengikuti model cetakan Persia. Cetakan
tersebut memuat tulisan "بركة"
(berkah) pada satu sisi, dan "الله" (Allah) pada sisi lainnya. Kemudian al-Hajjaj mengubahnya
dan menuliskan namanya sendiri pada salah satu sisinya. Setelah itu, Yusuf bin
Hubairah memurnikan kualitasnya menjadi lebih baik pada masa pemerintahan Yazid
bin Abdul Malik. Lalu Khalid bin Abdullah al-Qasri memurnikannya lagi menjadi
lebih bagus pada masa pemerintahan Hisyam, dan setelah itu Yusuf bin Umar
membuatnya jauh lebih bagus daripada cetakan mereka semua. Oleh karena itu,
Khalifah al-Manshur dahulunya tidak mau menerima setoran dirham kecuali uang
jenis Hubairiyah, Khalidiyah, dan Yusufiyah. Disebutkan pula bahwa masyarakat
dahulu memiliki berbagai jenis mata uang, di antaranya dirham Bagli yang bernilai
delapan dawaniq (satuan berat), dirham Thabari bernilai empat dawaniq, dirham
Mesir bernilai tiga dawaniq, dan dirham Yaman bernilai satu daniq. Umar bin
al-Khattab kemudian menggabungkan nilai berat antara dirham Bagli dan dirham
Thabari, lalu mengambil nilai tengahnya untuk dijadikan sebagai standar dirham
syar'i, yaitu setara dengan setengah mitsqal ditambah seperlima mitsqal. Mereka
menyebutkan bahwa ukuran berat satu mitsqal tidak pernah diubah timbangannya,
baik pada masa jahiliah maupun Islam. Namun, pendapat mengenai berat mitsqal
yang tidak pernah berubah ini masih perlu ditinjau kembali (ada kelemahan), wallahu
a'lam.
Hukuman Mati bagi Nabi Palsu
Pada tahun 79 H, Abdul Malik bin Marwan membunuh al-Harits
bin Said, seorang nabi palsu lagi pendusta, mantan budak Abu al-Julas
al-Abdari. Ia berasal dari daerah al-Hulah, lalu menetap di Damaskus. Di sana
ia sempat tekun beribadah, menjalankan ritual agama, dan hidup zuhud. Namun
kemudian ia teperdaya oleh setan sehingga berbalik arah ke belakang (murtad),
melepaskan diri dari ayat-ayat Allah Ta'ala, memisahkan diri dari golongan
Allah yang beruntung, serta diikuti oleh setan sehingga ia termasuk orang-orang
yang sesat. Setan terus mendorong punggungnya hingga ia menderita kerugian yang
nyata pada agama dan dunianya, serta Allah menghinakan dan mencelakakannya. Inna
lillahi wa inna ilaihi raji'un, cukuplah Allah bagi kami, dan tidak ada
daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Al-Harits sang pendusta ini merupakan penduduk Damaskus dan
ia kerap memperlihatkan hal-hal ajaib kepada orang-orang; ia pernah mendatangi
sebuah batu marmer di dalam masjid, lalu mengetuknya dengan tangannya sehingga
batu tersebut mengeluarkan suara tasbih yang sangat fasih, hingga membuat
orang-orang yang hadir di sana menjadi tersesat (terkagum-kagum lalu
memercayainya).
Aku (penulis) berkata: Dan sungguh aku telah mendengar guru
kami, seorang ulama besar Abu al-Abbas bin Taimiyah rahimahullah
berkata: "Ia dahulu biasa mengetuk batu marmer merah yang berada di dalam
ruangan khusus imam (maqshurah) lalu batu tersebut bertasbih, dan ia adalah
seorang zindik." Perkaranya kemudian dilaporkan kepada Abdul Malik bin
Marwan, lalu ia melarikan diri ke Palestina hingga Abdul Malik memerintahkan
agar ia ditangkap dan dihadapkan kepadanya. Begitu mereka membawanya sampai ke
hadapan Abdul Malik, ia memerintahkan agar al-Harits disalib pada sebatang
kayu. Abdul Malik lalu memerintahkan seorang lelaki untuk menikamnya dengan
tombak, namun tombak tersebut justru membengkok saat mengenai salah satu tulang
rusuknya. Abdul Malik bertanya kepadanya, "Celaka kamu, apakah kamu sudah
membaca bismillah saat menikamnya tadi?"
Lelaki itu menjawab, "Saya lupa." Abdul Malik
berkata lagi, "Celaka kamu, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah)
kemudian tikamlah dia!"
Penulis berkata: Ia pun menyebut nama Allah lalu menikamnya
hingga tombak itu menembus tubuhnya. Sebelum menyalibnya, Abdul Malik
sebenarnya telah memenjarakannya terlebih dahulu dan memerintahkan beberapa
orang ulama dan ahli fikih untuk menasihatinya serta memberi tahu dia bahwa
keajaiban yang ada pada dirinya itu berasal dari setan. Namun ia enggan
menerima nasihat mereka, sehingga Abdul Malik menyalibnya setelah itu. Tindakan
ini merupakan bagian dari kesempurnaan keadilan dan penjagaan agama.
Penyebaran Wabah Penyakit (Thain) di Wilayah Syam
Pada tahun 79 H, terjadi wabah penyakit menular yang sangat
besar di wilayah Syam, hingga mereka hampir binasa karena kedahsyatan wabah
tersebut. Akibatnya, tidak ada seorang pun dari penduduk Syam yang pergi
berperang pada tahun itu karena kondisi mereka yang sangat lemah dan jumlah
mereka yang menyusut. Melihat kondisi lemahnya pasukan dan prajurit Muslim
tersebut, pasukan Romawi memanfaatkan kesempatan ini untuk bergerak maju hingga
mencapai kota Antiokhia dan berhasil menimbulkan korban yang sangat besar di
antara penduduknya.
Banjir Al-Juhaf di Mekah
Pada tahun 80 H, terjadi bencana banjir besar yang disebut
banjir al-Juhaf di kota Mekah. Dinamakan demikian karena banjir tersebut
menyapu (jahafe) segala sesuatu yang dilewatinya. Banjir ini menyeret
para jemaah haji dari lembah Mekah serta unta-unta beserta muatan yang ada di
atasnya. Baik laki-laki maupun perempuan terseret arus dan tidak ada seorang
pun yang mampu menyelamatkan mereka. Air banjir tersebut meluap hingga mencapai
daerah al-Hajun dan menenggelamkan banyak sekali korban jiwa. Bahkan ada yang
mengatakan bahwa airnya naik begitu tinggi hingga hampir menutupi bangunan Ka'bah
(Baitullah).
Wabah Penyakit yang Ganas (Al-Tha'un al-Jarif)
Pada tahun 80 Hijriah, terjadi wabah penyakit yang sangat
ganas di Bashrah. Namun, Allah yang lebih mengetahui. Pendapat yang masyhur
menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun 69 Hijriah.
Fitnah (Pemberontakan) Ibnu al-Asy'ats
Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 81 Hijriah, dan Ibnu Katsir
mengikutinya dalam pendapat tersebut.
Penyebab utamanya adalah karena Al-Hajjaj membenci Ibnu
al-Asy'ats, dan Ibnu al-Asy'ats memahami hal itu serta menyimpan niat buruk
terhadapnya. Ketika Al-Hajjaj mengangkat Ibnu al-Asy'ats sebagai panglima
pasukan, ia memerintahkannya untuk memasuki wilayah Rutbil, raja bangsa Turk.
Ibnu al-Asy'ats pun berangkat hingga berhasil menguasai sebagian wilayah Turk.
Kemudian, ia berpandangan bahwa pasukannya sebaiknya
mencukupkan diri dengan hasil tersebut terlebih dahulu agar posisi mereka kuat
dan semakin bertenaga hingga tahun depan. Ia lalu menulis surat kepada
Al-Hajjaj mengenai rencana tersebut. Namun, Al-Hajjaj membalas suratnya dengan
meremehkan pendapatnya, menganggap lemah akalnya, menuduhnya penakut, serta
dinilai enggan berperang. Al-Hajjaj memerintahkannya secara mutlak untuk tetap
memasuki wilayah Rutbil. Surat tersebut disusul lagi dengan surat kedua, lalu
surat ketiga.
Ketika surat-surat dari Al-Hajjaj yang mendesaknya untuk
terus merangsek ke wilayah Rutbil datang bertubi-tubi, Ibnu al-Asy'ats
mengumpulkan orang-orang yang bersamanya. Ia berdiri di hadapan mereka dan
memberitahukan pandangannya semula, serta menyampaikan perintah Al-Hajjaj yang
menyuruhnya untuk segera menyerang Rutbil. Mendengar hal itu, orang-orang pun
tersulut emosi dan berseru, "Tidak! Sebaliknya, kita menolak perintah
musuh Allah, Al-Hajjaj! Kita tidak akan mendengar dan tidak akan menaatinya!".
Orang yang pertama kali angkat bicara mengenai hal tersebut
adalah Mutarrif bin 'Amir bin Wa'ilah al-Kinani, yang merupakan seorang penyair
sekaligus orator. Ia menyampaikan sebuah syair perumpamaan:
"Bawalah budakmu naik ke atas kuda; jika ia binasa maka
ia binasa, namun jika ia selamat maka ia milikmu."
Sesungguhnya jika kalian menang, hal itu hanya akan menambah
kekuasaannya. Namun jika kalian binasa, kalian tetaplah musuh yang paling ia
benci.
Kemudian ia berkata, "Turunkan (copot jabatan) musuh
Allah, Al-Hajjaj, dan berikanlah baiat kepada pemimpin kalian yaitu Abdul
Rahman bin al-Asy'ats! Sesungguhnya aku bersaksi di hadapan kalian bahwa akulah
orang pertama yang melepaskan ketaatan kepada Al-Hajjaj." Orang-orang dari
segala penjuru pun berseru, "Kami melepaskan ketaatan kepada musuh Allah!".
Mereka pun membaiatnya dan tidak menyebut-nyebut tentang
pencopotan Abdul Malik bin Marwan. Setelah itu, Ibnu al-Asy'ats mengirim utusan
kepada Rutbil untuk mengadakan perdamaian. Kemudian, Ibnu al-Asy'ats bergerak
membawa pasukan yang bersamanya, berbalik arah dari Sijistan menuju tempat
Al-Hajjaj untuk merebut wilayah Irak darinya. Baiat mereka kepada Ibnu
al-Asy'ats ditegakkan di atas Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, mencopot para
pemimpin kesesatan, serta memerangi orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan
Allah.
Ketika berita tentang pencopotan dirinya sampai ke telinga
Al-Hajjaj, ia segera menulis surat kepada Abdul Malik untuk memberitahukan hal
tersebut, sekaligus memintanya agar mempercepat pengiriman pasukan bantuan
kepadanya.
Ajakan Ibnu al-Asy'ats kepada Al-Muhallab
Ibnu al-Asy'ats menulis surat kepada Al-Muhallab bin Abi
Sufrah yang isinya mengajak Al-Muhallab untuk ikut melepaskan ketaatan kepada
Al-Hajjaj. Namun, Al-Muhallab justru mengirimkan surat tersebut kepada
Al-Hajjaj. Al-Muhallab kemudian membalas surat Ibnu al-Asy'ats dengan berkata:
"Sesungguhnya engkau, wahai Ibnu al-Asy'ats, telah menapakkan kakimu pada
pijakan yang panjang (urusan yang teramat berat dan jauh konsekuensinya).
Jagalah umat Muhammad! Demi Allah, demi Allah, perhatikanlah dirimu sendiri jangan
sampai engkau membinasakannya! Jagalah darah kaum muslimin jangan sampai engkau
menumpumpahkannya! Jagalah persatuan jangan sampai engkau memecahbelahnya! Dan
jagalah baiat jangan sampai engkau melanggarnya! Jika engkau berkata, 'Aku
mengkhawatirkan keselamatan diriku dari ancaman manusia,' maka Allah lebih
berhak untuk engkau takuti ketimbang manusia. Janganlah engkau menghadapkan
dirimu pada kemurkaan Allah dengan menumpahkan darah atau menghalalkan hal yang
diharamkan. Semoga keselamatan tercurah kepadamu."
Pandangan Ibnu al-Muhallab dalam Menghadapi Ibnu al-Asy'ats
Al-Muhallab juga menulis surat kepada Al-Hajjaj yang
berbunyi: "Amma ba'du. Sesungguhnya penduduk Irak telah bergerak menuju
tempatmu bagaikan banjir bandang yang mengalir deras dari tempat tinggi; tidak
ada sesuatu pun yang mampu membendungnya hingga ia sampai ke tempat
pemberhentian akhirnya. Penduduk Irak memiliki semangat yang meluap-luap di
awal keberangkatan mereka, serta kerinduan yang mendalam kepada anak-anak dan
istri-istri mereka. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan mereka hingga
mereka bertemu dengan keluarga mereka dan mendekap anak-anak mereka. Jika
mereka sudah sampai pada kondisi itu, barulah perangi mereka. Karena
sesungguhnya Allah akan menolongmu menghadapi mereka, insya Allah."
Ketika surat Al-Hajjaj sampai kepada Abdul Malik, kabar
tersebut sangat mengejutkannya. Ia pun segera mempersiapkan pasukan dari Syam
untuk dikirim ke Irak guna membantu Al-Hajjaj.
Al-Hajjaj bersiap-siap untuk keluar menghadapi Ibnu
al-Asy'ats. Ia mengabaikan nasihat Al-Muhallab, padahal nasihat tersebut
mengandung ketulusan dan kebenaran. Surat-surat dari Al-Hajjaj pun terus
mengalir tanpa putus kepada Abdul Malik guna melaporkan perkembangan tentang
Ibnu al-Asy'ats setiap pagi dan petang: di mana ia singgah? Dari mana ia
berangkat? Dan orang-orang dari kelompok mana yang paling cepat bergabung
dengannya?.
Orang-orang mulai berkumpul dan bergabung di sekitar Ibnu
al-Asy'ats dari segala penjuru. Bahkan dikatakan bahwa ia bergerak bersama
33.000 pasukan berkuda dan 120.000 pasukan berjalan kaki. Sementara itu,
Al-Hajjaj keluar bersama pasukan Syam dari Bashrah menuju ke arah Ibnu
al-Asy'ats, lalu singgah di Tustar. Ia mengutus Muthahhir bin Hayy al-'Akki di
garda depan sebagai panglima, bersama Abdullah bin Zumait sebagai panglima
lainnya. Ketika mereka sampai di Sungai Dujail, ternyata garda depan pasukan Ibnu
al-Asy'ats yang berkekuatan 300 pasukan berkuda di bawah pimpinan Abdullah bin
Aban al-Haritsi telah berada di sana.
Kedua pasukan bertempur pada hari Idul Adha di dekat Sungai
Dujail. Garda depan pasukan Al-Hajjaj berhasil dikalahkan. Pasukan Ibnu
al-Asy'ats menewaskan banyak sekali tentara musuh, sekitar 1.500 orang. Mereka
juga merampas apa saja yang ada di perkemahan musuh, mulai dari kuda, pakaian,
hingga harta benda.
Ketika berita kekalahan pasukannya sampai kepada Al-Hajjaj,
ia berseru, "Wahai manusia, kembalilah ke Bashrah, karena itu lebih
meringankan bagi pasukan!". Ia pun mundur bersama orang-orang. Pasukan
berkuda Ibnu al-Asy'ats terus mengejar mereka; tidaklah mereka mendapati orang
yang tertinggal melainkan mereka membunuhnya, dan tidak ada yang terkejar
melainkan dibinasakan. Al-Hajjaj melarikan diri tanpa memedulikan apa pun
hingga sampai di Al-Zawiyah, lalu ia membangun perkemahan militer di sana. Ia
terus bergumam, "Luar biasa hebatnya Al-Muhallab! Benar-benar seorang ahli
perang sejati! Ia telah menunjukkan pandangan yang tepat kepada kita, namun
kita tidak mau menerimanya."
Al-Hajjaj telah menginfakkan 150.000.000 dirham untuk
pasukannya, dan ia membuat parit pertahanan di sekeliling pasukannya. Sementara
itu, penduduk Irak telah masuk ke Bashrah, berkumpul kembali dengan keluarga
mereka, dan mendekap anak-anak mereka. Ibnu al-Asy'ats juga memasuki Bashrah,
lalu berpidato di hadapan masyarakat. Ia membaiat mereka dan mereka membaiatnya
untuk mencopot Abdul Malik beserta wakilnya, Al-Hajjaj bin Yusuf. Seluruh orang
yang berada di Bashrah—mulai dari para ahli fikih, ulama ahli Al-Qur'an (para
qurra'), para tetua, hingga pemuda—sepakat untuk mencopot keduanya. Setelah
itu, Ibnu al-Asy'ats memerintahkan untuk menggali parit di sekeliling Bashrah,
dan proyek itu pun dikerjakan. Peristiwa ini terjadi pada akhir bulan
Dzulhijjah tahun tersebut.
Pertempuran Al-Zawiyah antara Ibnu al-Asy'ats dan Al-Hajjaj
Pada bulan Muharram tahun 82 Hijriah, terjadilah Pertempuran
Al-Zawiyah antara Ibnu al-Asy'ats dan Al-Hajjaj. Pada hari pertama, kemenangan
berpihak pada penduduk Irak (pasukan Ibnu al-Asy'ats) atas penduduk Syam
(pasukan Al-Hajjaj). Kemudian mereka bertempur kembali pada hari berikutnya.
Sufyan bin al-Abrad—salah seorang panglima pasukan Syam—melancarkan serangan ke
sayap kanan pasukan Ibnu al-Asy'ats dan berhasil memporak-porandakannya. Pada
hari itu, banyak sekali korban gugur dari kalangan qurra' (ahli Al-Qur'an)
yang merupakan pendukung Ibnu al-Asy'ats. Al-Hajjaj pun tersungkur bersujud
kepada Allah setelah sebelumnya ia sempat bertumpu pada kedua lututnya dan
menghunus sebagian pedangnya.
Ketika pendukung Ibnu al-Asy'ats melarikan diri, Al-Hajjaj
kembali bersama orang-orang yang tersisa bersamanya serta penduduk Bashrah yang
mengikutinya. Ia berjalan hingga memasuki Kufah. Penduduk Bashrah kemudian
berpihak kepada Abdul Rahman bin Abbas bin Rabi'ah bin al-Harits bin Abdul
Muthalib lalu membaiatnya. Ia memerangi Al-Hajjaj selama lima malam dengan
pertempuran yang sangat sengit.
Setelah itu, ia mundur dan bergabung dengan Ibnu al-Asy'ats,
diikuti oleh sekelompok penduduk Bashrah. Al-Hajjaj mengangkat Ayyub bin
al-Hakam bin Abi 'Aqil sebagai gubernur pengganti di Bashrah. Sementara itu,
Ibnu al-Asy'ats memasuki Kufah dan dibaiat oleh penduduknya. Urusan pun menjadi
semakin pelik, pengikut Ibnu al-Asy'ats bertambah banyak, situasi kian genting,
persatuan benar-benar pecah, perkara menjadi teramat besar, dan keretakan
wilayah semakin meluas.
Pertempuran Dairul Jamajim
Kemudian terjadilah Pertempuran Dairul Jamajim pada bulan
Sya'ban tahun 82 Hijriah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Waqidi.
Kisah ini bermula ketika Ibnu al-Asy'ats menuju Kufah,
penduduk kota tersebut keluar menyambutnya, mengelilinginya, dan berjalan di
hadapannya. Urusan Kufah pun menjadi kokoh di bawah kendali Ibnu al-Asy'ats.
Orang-orang yang datang dari Bashrah turut bergabung bersamanya, di antaranya
adalah Abdul Rahman bin al-Abbas bin Rabi'ah bin Abdul Muthalib. Ibnu
al-Asy'ats memerintahkan untuk menjaga pos-pos keamanan di setiap penjuru,
serta membentengi wilayah perbatasan, jalur-jalur, dan jalan-jalan lintasan.
Kemudian Al-Hajjaj berkuda bersama pasukan Syam yang
menyertainya dari Bashrah melalui jalur darat, hingga melewati kawasan antara
Qadisiyah dan Al-'Udzaib. Ibnu al-Asy'ats mengirim Abdul Rahman bin al-Abbas
untuk menghadapinya dengan membawa pasukan berkuda yang besar dari dua kota
(Bashrah dan Kufah). Mereka berhasil menghalangi Al-Hajjaj untuk singgah di
Qadisiyah. Al-Hajjaj pun melanjutkan perjalanan hingga singgah di Dair Qurrah.
Sementara itu, Ibnu al-Asy'ats datang bersama pasukan Bashrah dan Kufah yang
bersamanya hingga singgah di Dairul Jamajim. Ia membawa pasukan yang sangat
banyak, di antaranya termasuk para qurra' dari kedua kota tersebut serta
orang-orang saleh.
Jumlah total orang yang berkumpul bersama Ibnu al-Asy'ats
adalah 100.000 pejuang dari kalangan mereka yang berhak menerima tunjangan
resmi, ditambah dengan jumlah yang sama dari kalangan mawali (budak yang telah
dimerdekakan/non-Arab). Di sisi lain, bantuan pasukan yang sangat banyak dari
Syam berdatangan kepada Al-Hajjaj. Kedua belah pihak masing-masing menggali
parit di sekeliling pasukannya agar terhindar dari sergapan musuh. Meskipun
demikian, setiap hari ada saja orang yang keluar menantang satu sama lain,
sehingga terjadi pertempuran yang sengit setiap harinya. Akibatnya, banyak
tokoh penting dari kalangan Quraisy dan suku lainnya yang gugur. Situasi ini
terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Abdul Malik Menawarkan Perdamaian kepada Ibnu al-Asy'ats
Para pembesar dari kalangan dewan penasihat berkumpul di
kediaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Mereka berkata kepadanya, "Jika
tuntutan penduduk Irak agar mereka rida kepadamu adalah dengan mencopot
Al-Hajjaj dari jabatan mereka, maka hal itu jauh lebih ringan dan mudah
daripada memerangi mereka serta menumpahkan darah mereka."
Maka, Abdul Malik mengutus saudaranya, Muhammad bin Marwan,
dan putranya, Abdullah bin Abdul Malik bin Marwan, dengan membawa pasukan yang
sangat besar. Ia menulis surat bersama mereka yang ditujukan kepada penduduk
Irak yang isinya berbunyi: "Jika yang membuat kalian rida kepadaku adalah
dicopotnya Al-Hajjaj dari jabatan kalian, maka aku akan mencopotnya. Aku juga
akan tetap memberikan hak tunjangan kalian setara dengan penduduk Syam. Silakan
Ibnu al-Asy'ats memilih kota mana saja yang ia sukai untuk ia pimpin sebagai
gubernur selama ia dan aku masih hidup, dan kepemimpinan wilayah Irak secara
umum akan diserahkan kepada Muhammad bin Marwan."
Abdullah dan Muhammad kemudian menunjukkan surat Khalifah
Abdul Malik bin Marwan tersebut kepada mereka. Penduduk Irak berkata,
"Kami akan mempertimbangkan urusan kami besok, dan kami akan memberikan
jawaban kepada kalian besok malam." Setelah itu mereka bubar, dan seluruh
panglima berkumpul di tempat Ibnu al-Asy'ats untuk merundingkan penawaran
tersebut.
Namun para panglima itu berkata, "Tidak, demi Allah,
kami tidak akan menerima penawaran itu! Kita memiliki jumlah pasukan dan
persiapan yang lebih banyak, sedangkan kondisi mereka sedang dalam keadaan
terjepit. Kita telah memegang kendali atas mereka dan mereka telah tunduk
kepada kita. Demi Allah, kami tidak akan pernah menerima tawaran tersebut
selamanya!"
Kemudian mereka semua sepakat untuk memperbarui sumpah
pencopotan (melepaskan ketaatan kepada) Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk
kedua kalinya. Maka pada saat itu, masing-masing dari kedua belah pihak maju
untuk bertempur dan berperang. Mereka saling berperang setiap hari. Penduduk
Irak mendapatkan pasokan makanan, pakan ternak, dan kebutuhan lainnya dari
desa-desa dan wilayah-wilayah sekitarnya. Sementara itu, penduduk Syam yang
bersama al-Hajjaj berada dalam kesempitan hidup dan kekurangan makanan. Perang
terus berlangsung sepanjang periode ini hingga tahun tersebut berakhir,
sementara mereka tetap berada dalam kondisi tersebut dan terus berperang setiap
hari. Kemenangan lebih sering berpihak kepada penduduk Irak atas penduduk Syam
di sebagian besar hari.
Kekalahan Ibnu al-Asy'ats dan Pelariannya
Tahun baru pun dimulai dalam keadaan orang-orang masih
saling berhadapan dalam peperangan. Di sebagian besar hari, kemenangan berpihak
kepada penduduk Irak atas penduduk Syam, hingga dikatakan bahwa para pengikut
Ibnu al-Asy'ats berhasil mengalahkan pasukan al-Hajjaj sebanyak delapan puluh
sekian kali.
Meskipun demikian, al-Hajjaj tetap teguh di posisinya,
bersabar dan bertahan. Ia tidak beranjak dari tempatnya berada. Bahkan, jika ia
meraih kemenangan pada suatu hari, ia akan memajukan pasukannya ke hadapan
musuhnya. Ia adalah orang yang berpengalaman dalam perang. Hal itu terus
menjadi kebiasaannya dan kebiasaan mereka, hingga akhirnya ia memerintahkan
untuk menyerang pasukan ahli Al-Qur'an (Katibat al-Qurra'). Alasan
al-Hajjaj menyerang mereka karena orang-orang menjadi pengikut mereka, dan
merekalah yang membakar semangat orang-orang untuk berperang, serta menjadi
panutan bagi yang lain.
Pasukan ahli Al-Qur'an itu pun bertahan menghadapi serangan
pasukan al-Hajjaj. Kemudian, al-Hajjaj mengumpulkan para pemanah dari
pasukannya dan menyerang bersama mereka. Serangan itu tidak berhenti sampai
banyak sekali dari mereka yang terbunuh. Setelah itu, ia menyerang pasukan Ibnu
al-Asy'ats, sehingga para pengikut Ibnu al-Asy'ats kalah dan melarikan diri ke
segala arah. Ibnu al-Asy'ats sendiri ikut melarikan diri di depan mereka
bersama sejumlah kecil pasukannya yang tersisa.
Al-Hajjaj lalu mengirimkan pasukan yang besar untuk
mengejarnya di bawah pimpinan Umarah bin Tamim al-Lakhmi bersama Muhammad bin
al-Hajjaj, dengan komando berada di tangan Umarah. Mereka terus memburu di
belakang pasukan Ibnu al-Asy'ats untuk menangkapnya, baik dalam keadaan
terbunuh maupun tertawan. Umarah terus mengejar dan melewati berbagai wilayah,
kota, dan desa, sementara mereka terus membuntutinya hingga sampai ke Kirman.
Kemudian, Ibnu al-Asy'ats bersama sisa pasukannya yang
melarikan diri masuk ke wilayah Rutbil, raja orang-orang Turki. Rutbil
memuliakannya, menjamunya di kediamannya, memberikan jaminan keamanan, dan
sangat menghormatinya. Bersama Ibnu al-Asy'ats, terdapat Abdurrahman bin Abbas
bin Rabi'ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib, yang bertindak sebagai imam salat
bagi orang-orang di wilayah Rutbil tersebut. Kemudian, sekelompok pasukan yang
melarikan diri dari al-Hajjaj berkumpul dan menyusul di belakang Ibnu al-Asy'ats
agar bisa bersamanya, di mana jumlah mereka mendekati enam puluh ribu orang.
Ketika mereka sampai di Sijistan, mereka mendapati bahwa Ibnu al-Asy'ats telah
masuk menemui Rutbil, lalu mereka berhasil menguasai Sijistan.
Kemudian mereka menulis surat kepada Ibnu al-Asy'ats:
"Keluarlah kepada kami agar kami bisa bersamamu; kami akan membelamu
melawan orang-orang yang menentangmu, dan kita akan merebut wilayah Khurasan.
Sebab, di sana terdapat pasukan besar dari kalangan kita. Kita akan menetap di
sana sampai Allah membinasakan al-Hajjaj atau Abdul Malik, lalu setelah itu
kita akan menentukan sikap kita."
Maka Ibnu al-Asy'ats keluar menemui mereka dan berjalan
bersama mereka sedikit menuju arah Khurasan. Namun, sekelompok kecil penduduk
Irak memisahkan diri darinya bersama Ubaidillah bin Abdurrahman bin Samurah.
Ibnu al-Asy'ats pun berdiri berkhotbah di hadapan mereka, menyebutkan
pengkhianatan mereka dan keengganan mereka untuk berperang, lalu berkata:
"Aku tidak butuh kalian, aku akan pergi ke sahabatku, Rutbil, dan tinggal
bersamanya." Kemudian ia pergi meninggalkan mereka, dan diikuti oleh sebagian
kelompok dari mereka, sedangkan mayoritas pasukan tetap tinggal.
Ketika Ibnu al-Asy'ats telah berpisah dari mereka, mereka
membaiat Abdurrahman bin Abbas bin Rabi'ah al-Hasyimi dan berjalan bersamanya
menuju Khurasan. Maka gubernur Khurasan, Yazid bin al-Muhallab bin Abi Sufrah,
keluar menghadapi mereka untuk mencegah mereka memasuki wilayahnya. Yazid
menulis surat kepada Abdurrahman bin Abbas yang isinya: "Sesungguhnya
negeri ini sangat luas, pergilah ke tanah yang tidak berada di bawah
kekuasaanku, karena aku tidak suka memerangimu. Jika engkau menginginkan harta,
aku akan mengirimkannya kepadamu."
Abdurrahman menjawab: "Kami datang bukan untuk
memerangi siapa pun. Kami datang hanya untuk beristirahat dan mengistirahatkan
kuda-kuda kami, lalu kami akan pergi. Kami tidak membutuhkan apa yang engkau
tawarkan." Kemudian Abdurrahman mulai menarik pajak (kharaj) dari
daerah-daerah di sekitar kota-kota Khurasan.
Maka Yazid bin al-Muhallab bersama saudaranya,
al-Mufadhdhal, keluar menghadapinya dengan pasukan yang besar. Ketika kedua
pihak bertemu, mereka bertempur dalam waktu yang tidak lama, kemudian pasukan
Abdurrahman bin Abbas kalah. Yazid membantai mereka dengan korban yang sangat
besar, menawan banyak tawanan, menguasai apa yang ada di perkemahan mereka, dan
mengirim para tawanan tersebut kepada al-Hajjaj.
Nasib Para Tawanan dan Orang-orang yang Kalah
Ketika para tawanan dihadapkan kepada al-Hajjaj, ia membunuh
sebagian besar dari mereka dan mengampuni sebagian lainnya. Pada hari ketika
al-Hajjaj mengalahkan Ibnu al-Asy'ats di Dayr al-Jamajim, penyerunya telah
mengumumkan kepada orang-orang: "Barang siapa yang kembali, maka dia aman.
Dan barang siapa yang menyusul Qutaibah bin Muslim di Rayy, maka dia
aman." Maka banyak sekali orang yang tadinya bersama Ibnu al-Asy'ats
menyusul Qutaibah, lalu al-Hajjaj memberikan jaminan keamanan kepada mereka.
Sedangkan orang-orang yang tidak menyusulnya, al-Hajjaj mulai memburu mereka
dan membunuh banyak sekali orang dari mereka.
Asy-Sya'bi termasuk salah satu orang yang pergi menyusul
Qutaibah bin Muslim. Suatu hari al-Hajjaj menyebut namanya, lalu dikatakan
kepadanya bahwa Asy-Sya'bi telah pergi kepada Qutaibah. Maka al-Hajjaj menulis
surat kepada Qutaibah: "Kirimkan Asy-Sya'bi kepadaku."
Asy-Sya'bi menceritakan: "Ketika aku masuk menemui
al-Hajjaj, aku memberi salam kepadanya dengan gelar keamiran (sebagai amir),
kemudian aku berkata: 'Wahai Amir, sesungguhnya orang-orang telah menyuruhku
untuk meminta maaf kepadamu dengan alasan yang tidak diketahui oleh Allah
sebagai kebenaran. Demi Allah, aku tidak akan mengatakan di tempat ini kecuali
kebenaran. Demi Allah, kami telah memberontak kepadamu, menghasut, dan
mengerahkan segala kemampuan, serta tidak menahan diri. Namun Allah telah memenangkanmu
atas kami dan membuatmu mengalahkan kami. Jika engkau menyiksa, itu karena
dosa-dosa kami dan apa yang telah diperbuat oleh tangan kami. Namun jika engkau
mengampuni kami, itu karena kemurahan hatimu, dan bagaimanapun, alasan yang
kuat ada padamu untuk menghukum kami.'"
Maka al-Hajjaj berkata: "Demi Allah, wahai Sya'bi,
engkau lebih aku sukai daripada orang yang masuk menemui kami sementara
pedangnya masih meneteskan darah kami, kemudian dia berkata: 'Aku tidak
melakukannya dan tidak menyaksikannya.' Engkau telah aman di sisi kami, wahai
Sya'bi."
Al-Hajjaj kemudian berjalan menuju Kufah lalu memasukinya.
Ia tidak membaiat seorang pun dari penduduknya kecuali ia berkata kepada orang
tersebut: "Apakah engkau bersaksi atas dirimu sendiri bahwa engkau telah
kafir?" Jika orang tersebut menjawab: "Ya," maka al-Hajjaj
membaiatnya. Namun jika menolak, ia akan membunuhnya. Ia pun membunuh banyak
sekali orang dari kalangan mereka yang menolak untuk bersaksi atas diri mereka
sendiri dengan kekafiran.
Kemudian al-Hajjaj mulai memburu para pengikut Ibnu
al-Asy'ats, lalu membunuh mereka baik berdua maupun sendiri-sendiri, hingga
dikatakan bahwa ia telah membunuh di hadapannya dengan hukuman mati (shabran)
sebanyak seratus tiga puluh ribu orang. Hal itu dikatakan oleh an-Nadhr bin
Syumail, dari Hisyam bin Hassan. Di antara mereka terdapat Muhammad bin Sa'ad
bin Abi Waqqash, serta sekelompok pemuka masyarakat, hingga yang terakhir dari
mereka adalah Sa'id bin Jubair—semoga Allah merahmati mereka dan meridai mereka.
Nasib Ibnu al-Asy'ats
Pada tahun 84 H, terjadi kematian Abdul Rahman bin Muhammad
bin al-Asy'ats bin Qais al-Kindi, dan ada yang mengatakan pada tahun
setelahnya, wallahu a'lam (dan Allah yang lebih mengetahui).
Hal itu terjadi karena al-Hajjaj menulis surat kepada
Rutbil, raja orang-orang Turki yang menjadi tempat berlindung Ibnu al-Asy'ats.
Berikut adalah kutipan teks ancaman tersebut beserta terjemahannya:
وَاللَّهِ
الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَئِنْ لَمْ تَبْعَثْ إِلَيَّ بِابْنِ الْأَشْعَثِ
لَأَبْعَثَنَّ إِلَى بِلَادِكَ أَلْفَ أَلْفِ مُقَاتِلٍ، وَلَأُخَرِّبَنَّهَا.
"Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Dia, jika engkau tidak mengirimkan Ibnu al-Asy'ats kepadaku, aku
benar-benar akan mengirimkan satu juta pejuang ke negerimu dan aku pasti akan
menghancurkannya."
Ketika ancaman dari al-Hajjaj itu terbukti nyata, Rutbil
meminta saran dari beberapa panglimanya, lalu panglima tersebut menyarankannya
untuk menyerahkan Ibnu al-Asy'ats kepada al-Hajjaj sebelum al-Hajjaj
menghancurkan negerinya dan merebut sebagian besar kota-kotanya. Maka Rutbil
mengirim pesan kepada al-Hajjaj dengan mengajukan syarat agar al-Hajjaj tidak
memeranginya selama sepuluh tahun, dan ia tidak perlu membayar pajak (kharaj)
setiap tahunnya kecuali seratus ribu saja, lalu al-Hajjaj mengabulkan permintaan
tersebut.
Kemudian Rutbil mengkhianati Ibnu al-Asy'ats. Kisah yang
terkenal adalah bahwa ia menangkap Ibnu al-Asy'ats beserta tiga puluh orang
kerabatnya, membelenggu mereka dengan rantai besi, lalu mengirim mereka bersama
para utusan al-Hajjaj untuk diantarkan kepadanya.
Ketika mereka berada di tengah jalan di suatu tempat bernama
ar-Rukhaj, Ibnu al-Asy'ats naik ke atap sebuah istana dalam keadaan dibelenggu
dengan besi, dan bersamanya ada seorang penjaga yang ditugaskan mengawasinya
agar ia tidak melarikan diri. Lalu ia menjatuhkan dirinya dari istana tersebut,
dan penjaga yang mengawasinya ikut jatuh bersamanya, sehingga keduanya mati
seketika. Sang utusan kemudian mendatangi jasad Ibnu al-Asy'ats lalu memenggal
kepalanya, membunuh para pengikut Ibnu al-Asy'ats yang bersamanya, dan
mengirimkan kepala-kepala mereka kepada al-Hajjaj.
Pendapat Ibnu Katsir tentang Fitnah Ibnu al-Asy'ats
Ibnu Katsir berkata: "Sungguh sangat mengherankan dari
orang-orang yang membaiatnya sebagai pemimpin, padahal dia bukan dari kaum
Quraisy, melainkan seorang Kindi dari Yaman. Padahal para sahabat telah sepakat
pada hari Tsaqifah bahwa kepemimpinan itu tidak ada kecuali pada kaum Quraisy,
dan ash-Shiddiq (Abu Bakar) berargumen di hadapan mereka dengan hadis mengenai
hal tersebut, bahkan kaum Anshar meminta agar ada seorang pemimpin dari
kalangan mereka bersama pemimpin dari kalangan Muhajirin, namun ash-Shiddiq
menolaknya. Bagaimana mungkin mereka sengaja mendatangi seorang khalifah yang
telah dibaiat untuk memegang kepemimpinan atas kaum muslimin sejak
bertahun-tahun, lalu mereka menggulingkannya padahal ia adalah keturunan murni
Quraisy, kemudian mereka membaiat seorang pria dari suku Kindi dengan baiat
yang tidak disepakati oleh para pemegang otoritas (ahlul halli wal aqdi)?"
Berikut adalah kalimat penutup dari Ibnu Katsir beserta
terjemahannya:
وَلِهَذَا
لَمَّا كَانَتْ هَذِهِ زَلَّةٌ وَفَلْتَةٌ نَشَأَ بِسَبَبِهَا شَرٌّ كَثِيرٌ
هَلَكَ فِيهِ خَلْقٌ كَثِيرٌ، فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
"Oleh karena itu, ketika hal ini menjadi sebuah
kesalahan dan kekhilafan besar, timbullah darinya keburukan yang banyak yang
membinasakan banyak sekali manusia. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan
kepada-Nya-lah kami pasti kembali."
Pembangunan Kota Wasit
Ibnu Jarir berkata: "Pada tahun 83 H, al-Hajjaj
membangun kota Wasit. Kota tersebut dinamakan demikian karena letaknya yang
berada di tengah-tengah (tawassuth) antara dua kota besar, yaitu Bashrah
dan Kufah. Lokasinya telah dipilih dengan cermat, dan pembangunan di sana terus
berlanjut hingga tahun 86 H. Ia mengalirkan sungai-sungai ke sana, serta
memperbanyak tanaman dan pertanian di wilayah tersebut."
Baiat Abdul Malik untuk Putranya, Al-Walid
Pada tahun 85 H, Abdul Malik menunjuk putranya, al-Walid,
sebagai putra mahkota, dan setelahnya adalah saudaranya, Sulaiman bin Abdul
Malik. Maka baiat dilakukan untuk keduanya di Damaskus, kemudian di seluruh
wilayah lainnya.
Ketika proses baiat sampai ke Madinah, Said bin al-Musayyib
menolak untuk memberikan baiat kepada siapa pun selama Abdul Malik masih hidup.
Maka Hisyam bin Ismail, gubernur Madinah, memerintahkan agar Said dicambuk
sebanyak enam puluh kali, lalu menjebloskannya ke dalam penjara. Ia juga
menulis surat kepada Abdul Malik untuk memberitahukan penolakan Said dalam
masalah tersebut. Namun Abdul Malik menulis surat balasan yang isinya mengecam
tindakan gubernur tersebut dan memerintahkannya untuk mengeluarkan Said, seraya
berkata: "Sesungguhnya kami mengetahui bahwa Said tidak memiliki maksud
untuk memecah belah ataupun menentang."
Terjadinya Wabah Penyakit (Thaun) di Sebagian Negeri
Pada tahun 86 H, terjadi wabah penyakit (thaun) di
Syam, Bashrah, dan Wasit. Wabah ini disebut sebagai "Thaun
al-Fatayat" (Wabah Para Pemudi); karena wabah tersebut pertama kali
dimulai menyerang kaum wanita, sehingga dinamakan dengan nama tersebut.
Kaum Khawarij pada Masa Abdul Malik
Setelah Abdul Malik bin Marwan merebut Irak dari Ibnu
az-Zubair, ia mengangkat saudaranya, Bisyr, sebagai gubernur Kufah, dan Khalid
al-Qasri sebagai gubernur Bashrah. Kemudian Khalid mengangkat al-Muhallab bin
Abi Sufrah pada tahun 72 H untuk memimpin wilayah Al-Ahwaz dan daerah
sekitarnya. Khalid berterima kasih atas usahanya dalam memerangi kaum Khawarij
dan memujinya dengan pujian yang banyak.
Kemudian orang-orang terlibat pertempuran sengit dengan kaum
Khawarij di Al-Ahwaz di bawah pimpinan Abdul Aziz al-Qasri, namun pasukan
muslim mengalami kekalahan yang sangat besar dan mereka melarikan diri tanpa
memedulikan siapa pun. Abdul Malik lalu mengirim pesan kepada saudaranya, Bisyr
bin Marwan, agar membantu mereka dengan empat ribu pasukan. Bisyr pun
mengirimkan empat ribu pasukan yang dipimpin oleh Attab bin Warqa'. Mereka
berhasil mengusir kaum Khawarij dengan pengusiran yang sejauh-jauhnya, akan
tetapi pasukan tersebut mengalami keletihan dan kesulitan yang sangat besar,
kuda-kuda mereka mati, dan sebagian besar dari mereka tidak kembali kepada
keluarga mereka melainkan dengan berjalan kaki.
Pemberontakan Abu Fudaik di Bahrain
Ibnu Jarir berkata: "Pada tahun 72 H, terjadi
pemberontakan Abu Fudaik al-Haritsi, yang berasal dari Bani Qais bin Tsa'labah.
Ia berhasil menguasai Bahrain dan membunuh Najdah bin Amir al-Haruri. Maka
Khalid bin Abdullah, gubernur Bashrah, mengutus saudaranya, Umayyah bin
Abdullah, dengan membawa pasukan yang besar. Namun Abu Fudaik berhasil
mengalahkan mereka, menawan seorang budak wanita milik Umayyah, dan
mengambilnya untuk dirinya sendiri. Khalid bin Abdullah, gubernur Bashrah,
kemudian menulis surat kepada Abdul Malik untuk memberitahukan apa yang
terjadi. Bagi Khalid, terkumpul sekaligus peperangan melawan Abu Fudaik di
Bahrain dan peperangan melawan kaum Azariqah (salah satu sekte Khawarij),
pengikut Qathari bin al-Fuja'ah di Al-Ahwaz."
Penunjukan Al-Muhallab untuk Memerangi Kaum Khawarij
Pada tahun 74 H, Abdul Malik menunjuk al-Muhallab bin Abi
Sufrah untuk memimpin peperangan melawan kaum Khawarij Azariqah. Al-Muhallab
pun berjalan bersama penduduk Bashrah dan para komandan pasukan dari empat
wilayah sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing, hingga ia singgah di
Ramahurmuz. Ia tidak tinggal di sana kecuali hanya selama sepuluh hari sampai
datang berita kematian Bisyr bin Marwan, bahwa ia telah wafat di Bashrah dan
digantikan sementara oleh Khalid bin Abdullah.
Akibatnya, sebagian pasukan membubarkan diri dan kembali ke
Bashrah. Maka dikirimlah orang-orang untuk mengejar dan mengembalikan mereka.
Khalid bin Abdullah menulis surat kepada orang-orang yang melarikan diri
tersebut, mengancam mereka jika tidak kembali kepada komandan mereka, serta
mengancam mereka dengan kemurkaan Abdul Malik.
Namun mereka membelokkan arah perjalanan dari Bashrah dan
meminta izin kepada Amr bin Huraits untuk masuk ke Kufah. Amr menulis surat
balasan kepada mereka: "Sesungguhnya kalian telah meninggalkan komandan
kalian, dan kalian datang dalam keadaan bermaksiat lagi menentang. Tidak ada
izin bagi kalian, tidak ada pemimpin, dan tidak ada jaminan keamanan bagi
kalian."
Ketika surat tersebut sampai kepada mereka, mereka kembali
menuju tunggangan mereka lalu menungganginya. Kemudian mereka berjalan ke
sebagian negeri dan terus bersembunyi di sana hingga al-Hajjaj datang sebagai
gubernur Irak menggantikan Bisyr bin Marwan.
Melemahnya Kekuatan Kaum Khawarij
Al-Hajjaj mengirim utusan kepada al-Muhallab dan Abdurrahman
bin Mikhnaf, lalu memerintahkan keduanya untuk menghadapi kaum Azariqah.
Keduanya pun bangkit bersama orang-orang yang ada bersama mereka untuk
menyerang kaum Khawarij Azariqah, dan berhasil mengusir mereka dari
tempat-tempat mereka di Ramahurmuz dalam sebuah pertempuran yang mudah.
Kaum Khawarij melarikan diri ke tanah Kazerun di wilayah
Sabur, dan pasukan muslim terus mengejar di belakang mereka. Kedua pihak
bertemu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Ketika malam tiba, kaum
Khawarij melakukan serangan mendadak di malam hari (bayat) terhadap
al-Muhallab. Namun mereka mendapati al-Muhallab telah membentengi diri dengan
parit di sekeliling perkemahannya. Maka mereka mendatangi Abdurrahman bin
Mikhnaf dan mendapatinya dalam keadaan tidak bersiap-siap—padahal al-Muhallab
telah memerintahkannya untuk waspada dengan membuat parit di sekelilingnya
namun ia tidak melakukannya—maka mereka pun bertempur di malam hari.
Kaum Khawarij berhasil membunuh Abdurrahman bin Mikhnaf
beserta sekelompok pasukannya, dan mereka mengalahkan pasukan tersebut dengan
kekalahan yang sangat telak. Ketika pagi hari tiba, Al-Muhallab datang lalu
menyolatkan dan memakamkannya, kemudian ia menulis surat kepada Al-Hajjaj untuk
mengabarkan kematiannya. Al-Hajjaj lalu menulis surat kepada Abdul Malik untuk
menyampaikan belasungkawa atas kematiannya, maka Abdul Malik pun mengumumkan
berita duka tersebut kepada orang-orang di Mina, dan Al-Hajjaj mengangkat Ittab
bin Warqa' sebagai pengganti posisinya.
Pemberontakan Khawarij di Bawah Pimpinan Shalih bin Musrih
Pada awal (tahun 76 H), tepatnya di permulaan bulan Safar
pada malam Rabu, terjadi pertemuan antara Shalih bin Musrih—pemimpin kelompok
Sufriyah—dan Shabib bin Yazid, salah seorang pemberani dari kaum Khawarij.
Shalih bin Musrih lalu berdiri di hadapan mereka dan memerintahkan mereka untuk
bertakwa kepada Allah, mendorong mereka untuk berjihad, serta berpesan agar
tidak memerangi siapa pun sampai mereka mengajaknya terlebih dahulu untuk
bergabung bersama mereka.
Kemudian mereka mendatangi hewan-hewan tunggangan milik
Muhammad bin Marwan, gubernur Al-Jazirah yang merupakan saudara dari Khalifah
Abdul Malik. Mereka mengambil hewan-hewan tersebut untuk memperkuat diri, lalu
menetap di wilayah Dara selama tiga belas malam. Penduduk Dara, Nashibin, dan
Sinjar membentengi diri dari mereka.
Melihat hal itu, Muhammad bin Marwan selaku gubernur
Al-Jazirah mengirimkan lima ratus penunggang kuda di bawah pimpinan Adi bin Adi
bin Amilah, kemudian menambahnya lagi dengan lima ratus pasukan lainnya. Adi
pun berjalan membawa seribu pasukan dari Harran menuju tempat kaum Khawarij,
dan ia seolah-olah sedang digiring menuju kematian sambil menyaksikannya ; hal
itu karena ia mengetahui betul tentang ketabahan, kekuatan, dan keberanian kaum
Khawarij yang sangat luar biasa.
Ketika ia bertemu dengan kaum Khawarij, mereka
mengalahkannya dengan kekalahan yang sangat buruk dan mengerikan, serta
berhasil menguasai apa yang ada di dalam perkemahan militernya. Sisa-sisa
pasukannya yang kocar-kacir kembali kepada Muhammad bin Marwan. Muhammad bin
Marwan pun marah, lalu mengirimkan seribu lima ratus pasukan bersama Al-Harits
bin Ja'wanah, dan seribu lima ratus pasukan lainnya bersama Khalid bin Juz'
As-Sulami. Ia berkata kepada keduanya: "Siapa pun di antara kalian berdua
yang lebih dulu sampai kepada mereka, maka dialah yang menjadi pemimpin atas
semua orang."
Merekapun berjalan menuju kaum Khawarij dalam barisan tiga
ribu pejuang, sementara jumlah kaum Khawarij saat itu hanya sekitar seratus
sepuluh orang. Ketika mereka sampai di Amad, Shalih menghadang Khalid bin Juz'
bersama separuh pasukannya, dan mengutus Shabib untuk menghadang Al-Harits bin
Ja'wanah bersama sisa pasukan yang ada. Orang-orang pun berperang pada hari itu
dengan peperangan yang sangat sengit hingga malam tiba. Ketika malam telah
gelap, masing-masing dari kedua belah pihak menahan diri dari yang lain. Korban
gugur dari kaum Khawarij sekitar tujuh puluh orang, sedangkan dari pihak
pasukan Ibnu Marwan tewas sekitar tiga puluh orang, lalu kaum Khawarij
melarikan diri pada malam hari.
Mereka keluar dari wilayah Al-Jazirah dan mengambil jalur
menuju wilayah Mosul, lalu terus berjalan hingga melewati Ad-Daskarah.
Al-Hajjaj kemudian mengirimkan tiga ribu pasukan bersama Al-Harits bin Umayrah
untuk mengejar mereka. Al-Harits berjalan menuju arah mereka hingga berhasil
menyusul mereka di wilayah Mosul, padahal saat itu Shalih tidak bersama siapa
pun kecuali hanya sembilan puluh orang laki-laki saja.
Ia pun bertempur dengan mereka, di mana Shalih membagi
pasukannya menjadi tiga kelompok (batalyon) : ia berada di satu kelompok,
Shabib berada di sebelah kanannya dalam satu kelompok, dan Suwaid bin Sulaiman
berada di sebelah kirinya dalam satu kelompok. Al-Harits bin Umayrah menyerang
mereka bersama Abu Ar-Rawwan Asy-Syakiri di posisi sayap kanan, dan Az-Zubair
bin Al-Arwah At-Tamimi di posisi sayap kiri.
Kaum Khawarij bertahan dengan sangat tangguh meskipun jumlah
mereka sedikit. Namun kemudian posisi Suwaid bin Sulaiman tercerai-berang, lalu
Shalih bin Musrih—pemimpin mereka—gugur terbunuh. Shabib juga terlempar dari
kudanya, sehingga sisa-sisa kaum Khawarij segera mengelilinginya dan
membantunya hingga mereka bisa membawanya masuk ke dalam sebuah benteng di
sana.
Saat itu yang tersisa bersama mereka hanya tujuh puluh orang
pria. Al-Harits bin Umayrah mengepung mereka dan memerintahkan pasukannya untuk
membakar pintu benteng, lalu mereka pun melakukannya. Pasukan Al-Harits
kemudian kembali ke perkemahan mereka sambil menunggu pintu tersebut habis
terbakar agar dapat menangkap kaum Khawarij secara paksa.
Ketika pasukan Al-Harits sudah kembali dan beristirahat
dengan tenang, tiba-tiba kaum Khawarij keluar menyerbu mereka dari pintu
tersebut dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Mereka melakukan
serangan mendadak pada malam hari terhadap pasukan Al-Harits bin Umayrah,
sehingga berhasil membantai mereka dengan pembantaian yang besar. Pasukan
Al-Harits pun melarikan diri dengan cepat menuju Al-Madain, sementara Shabib
dan para pengikutnya menguasai harta benda serta logistik yang ada di
perkemahan militer mereka. Pasukan Al-Harits bin Umayrah adalah pasukan pertama
yang berhasil dikalahkan oleh Shabib. Adapun terbunuhnya Shalih bin Musrih
terjadi pada hari Selasa, tersisa tiga belas malam dari bulan Jumadil Akhir
pada tahun tersebut.
Pemberontakan Shabib bin Yazid Al-Khariji
Pada tahun (76 H), Shabib memasuki kota Kufah bersama
istrinya yang bernama Ghazalah. Hal itu terjadi setelah Shabib melewati
berbagai peristiwa yang sangat panjang rinciannya setelah terbunuhnya Shalih
bin Musrih. Kaum Khawarij kemudian berkumpul kepadanya dan membaiatnya.
Al-Hajjaj lalu mengirimkan pasukan lain untuk menghadapinya;
mereka memeranginya dan sempat mengalahkannya, namun setelah itu Shabib gantian
mengalahkan mereka. Kemudian ia berjalan dan mengepung kota Al-Madain, tetapi
tidak mendapatkan hasil apa pun di sana. Lalu ia pergi dan mengambil
hewan-hewan tunggangan milik Al-Hajjaj dari Kalwadza, hingga akhirnya ia
berhasil memasuki Kufah dan menuju istana emirat (pusat pemerintahan). Ia
memukul pintu istana dengan tongkat besinya hingga bekas pukulannya membekas di
pintu tersebut, sehingga setelah itu bekas tersebut dikenal orang-orang dengan
sebutan: "Ini adalah bekas pukulan Shabib."
Al-Hajjaj pun berseru memanggil orang-orang: "Wahai
pasukan Allah, naiklah ke tunggangan kalian dan bergembiralah!" Maka
Shabib pun keluar dari Kufah. Al-Hajjaj lalu menyiapkan enam ribu pejuang untuk
mengejar di belakangnya, dan mereka pun berjalan mengikutinya.
Urusan Shabib ini menjadi semakin besar dan kuat, hingga
membuat Abdul Malik bin Marwan, Al-Hajjaj, serta seluruh jajaran amir
(gubernur/penguasa) merasa terguncang. Abdul Malik merasa sangat ketakutan
kepadanya, sehingga ia mengirimkan pasukan dari penduduk Syam untuk
menghadapinya. Pasukan tersebut datang pada tahun (77 H) ketika tidak ada lagi
yang tersisa bersama Shabib kecuali hanya sekelompok kecil orang saja, padahal
ia telah memenuhi hati orang-orang dengan rasa takut yang luar biasa.
Sebelumnya, Al-Hajjaj telah mengerahkan para pejuang dari
penduduk Kufah dan mengangkat Ittab bin Warqa' sebagai pemimpin mereka, serta
memerintahkannya untuk memburu Shabib bin Yazid di mana pun ia berada. Ketika
berita tentang pasukan yang dikirim oleh Al-Hajjaj sampai ke telinga Shabib, ia
langsung berdiri berkhotbah di hadapan para pengikutnya; ia menasihati dan
mengingatkan mereka, serta mendorong mereka untuk bersabar saat bertempur dan
menghadapi musuh.
Kemudian Shabib berjalan bersama para pengikutnya menuju
arah Ittab bin Warqa', lalu keduanya saling bertemu di akhir siang saat
matahari terbenam. Setelah Shabib melaksanakan salat Magrib bersama para
pengikutnya, ia menunggu sampai bulan terbit dan sinarnya menerangi jalan.
Kemudian ia menyerbu para pembawa bendera Ittab sambil mengumandangkan:
"Aku adalah Shabib Abu Al-Mudallih, tidak ada hukum kecuali milik
Allah!"
Ia pun berhasil mengalahkan mereka, kemudian menyerang balik
ke posisi sayap kanan dan sayap kiri hingga mencerai-berberaikan barisan
keduanya. Setelah itu ia menuju ke posisi jantung pertahanan pasukan musuh, dan
ia terus merangsek maju sampai akhirnya sang amir, Ittab bin Warqa', beserta
Zuhrah bin Hawiyyah terbunuh. Sebagian besar pasukan berpaling melarikan diri,
dan seluruh pasukan Al-Hajjaj tanpa terkecuali kalah total lalu kembali ke
Kufah.
Setelah itu, Shabib menguasai harta benda dan logistik yang
ada di dalam perkemahan militer tersebut, kemudian ia bergerak menuju Kufah.
Al-Hajjaj pun bertekad untuk memerangi Shabib secara langsung dengan dirinya
sendiri. Shabib terus berjalan hingga sampai di Ash-Sharah, lalu Al-Hajjaj
keluar menghadapinya bersama orang-orang Syam dan pasukan lain yang bersamanya.
Ketika kedua belah pihak sudah saling berhadapan, Al-Hajjaj
melihat ke arah Shabib yang saat itu berada di tengah enam ratus orang
pengikutnya. Al-Hajjaj lalu berkhotbah di hadapan penduduk Syam dan berkata:
"Wahai penduduk Syam, kalian adalah orang-orang yang mendengar dan taat,
memiliki kesabaran dan keyakinan. Jangan sampai kebatilan orang-orang yang
najis (kaum Khawarij) ini mengalahkan kebenaran kalian! Tundukkanlah pandangan,
berlututlah pada lutut kalian, dan sambutlah mereka dengan ujung tombak kalian!"
Maka mereka pun melaksanakan perintah tersebut.
Shabib pun maju setelah membagi para pengikutnya menjadi
tiga kelompok. Mereka kemudian bertempur dalam beberapa gelombang pertempuran,
yang dalam puncaknya menyebabkan Mushad (saudara laki-laki Shabib) beserta
Ghazalah (istri Shabib) terbunuh. Setelah itu, Shabib keluar dari Kufah dan
mulai berkeliaran di berbagai negeri dengan melakukan pembunuhan serta
kerusakan, sementara mereka tidak mampu menangkapnya. Sesungguhnya Allah-lah
yang menjatuhkan kematian takdir kepadanya tanpa ada campur tangan dari usaha
mereka maupun usaha Shabib sendiri pada tahun tersebut.
Kematian Shabib
Al-Hajjaj memerintahkan Al-Hakam bin Ayyub untuk menyiapkan
empat ribu pasukan guna memerangi Shabib, lalu terjadilah pertempuran di antara
mereka pada hari-hari yang berbeda. Ketika malam datang dengan kegelapannya,
orang-orang pun menahan diri satu sama lain, dan masing-masing dari kedua belah
pihak bermalam dengan tekad bulat untuk kembali menyerang pihak lawan.
Ketika fajar menyingsing, Shabib beserta para pengikutnya
menyeberangi sebuah jembatan. Di saat Shabib berada di atas punggung jembatan
dengan menunggangi seekor kuda jantan miliknya dan di depannya ada seekor kuda
betina, tiba-tiba kudanya melompat saat berada di atas jembatan sehingga ia
terjatuh ke dalam air. Ia lalu berkata: "Agar Allah menetapkan suatu
urusan yang harus terjadi."
Kemudian ia tenggelam ke dalam air, lalu sempat muncul ke
permukaan sambil mengucapkan:
﴿ذَلِكَ
تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Fussilat: 12)
Setelah itu ia pun tenggelam hingga tewas.
Ketika berita kematian Shabib disampaikan kepada ibunya,
sang ibu berkata: "Kalian benar. Sesungguhnya aku pernah melihat dalam
mimpi ketika aku sedang mengandungnya, seolah-olah telah keluar dariku sebuah
jilatan api, maka aku pun tahu bahwa tidak ada yang bisa memadamkannya kecuali
air."
Ibunya adalah seorang hamba sahaya (selir) bernama Jahizah;
ia adalah seorang wanita yang cantik dan termasuk wanita yang paling pemberani,
yang selalu ikut bertempur bersama putranya di dalam peperangan. Hakim Ibnu
Khallikan—dalam kitab Wafayat al-A'yan—menyebutkan bahwa sang ibu terbunuh
dalam peperangan ini, begitu pula dengan istrinya yang bernama Ghazalah.
Istrinya tersebut merupakan seorang wanita Khawarij yang
memiliki keberanian dan ketangguhan yang sangat luar biasa. Al-Hajjaj sendiri,
di samping kewibawaannya yang besar, sangat takut kepadanya dengan ketakutan
yang teramat sangat , sampai-sampai sebagian penyair menyindir Al-Hajjaj dalam
sebuah syair:
أَسَدٌ
عَلَيَّ وَفِي الْحُرُوبِ نَعَامَةٌ * فَتْخَاءُ تَنْفِرُ مِنْ صَفِيرِ الصَّافِرِ
هَلَّا
بَرَزْتَ إِلَى غَزَالَةَ فِي الْوَغَى * بَلْ كَانَ قَلْبُكَ فِي جَنَاحَيْ
طَائِرِ
Kau bagaikan singa di hadapanku, namun dalam peperangan
kau bagaikan burung unta,
Yang terkulai lemas dan lari ketakutan hanya karena
siulan orang yang bersiul.
Mengapa kau tidak keluar menghadapi Ghazalah di medan
pertempuran?
Sebab nyatanya, hatimu (saat itu) terbang berada di
antara dua sayap burung.
Ibnu Khallikan berkata: Shabib bin Yazid Asy-Syaibani dahulu
mengklaim dirinya sebagai khalifah dan menggelari dirinya dengan sebutan Amirul
Mukminin. Kalaulah bukan karena Allah Ta'ala menundukkannya dengan ketetapan
yang menundukkannya berupa tenggelam, niscaya ia akan meraih kekuasaan
kekhilafahan dan tidak akan ada seorang pun yang mampu mengalahkannya.
Sesungguhnya Allah telah menundukkannya di tangan Al-Hajjaj, yaitu ketika
Amirul Mukminin Abdul Malik mengirimkan pasukan militer kepadanya untuk memeranginya,
sehingga ia pun melarikan diri lebih dari sekali.
Ketika kudanya melemparkannya di atas jembatan ke dalam
Sungai Dujail, ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya: "Apakah kau
tenggelam, wahai Amirul Mukminin?" Shabib menjawab:
﴿ذَلِكَ
تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Fussilat: 12)
Laki-laki itu berkata: Kemudian jasadnya dikeluarkan dan
dibawa ke hadapan Al-Hajjaj. Al-Hajjaj lalu memerintahkan agar jantungnya
dikeluarkan dari dadanya, dan ternyata jantungnya keras seperti batu. Shabib
adalah orang yang memiliki keberanian dan ketangkasan berkuda yang sangat
besar, hingga aku tidak pernah melihat orang seperti dirinya setelah generasi
para sahabat, serta seperti Al-Asytar beserta putranya, Ibrahim, dan Mush'ab
bin Az-Zubair beserta saudaranya, Abdullah.
Pemberontakan Khawarij dari Kelompok Azariqah
Pada tahun (77 H), terjadi banyak sekali peperangan antara
Al-Muhallab bin Abi Sufrah selaku perwakilan (gubernur) dari Al-Hajjaj, dengan
kaum Khawarij dari kelompok Azariqah di bawah pimpinan Qathari bin Al-Fuja'ah.
Qathari juga termasuk salah seorang penunggang kuda pemberani yang sangat
terkenal dan termasyhur. Namun, para pengikutnya telah memisahkan diri darinya
dan menjauh pada tahun tersebut. Adapun ia sendiri menjadi buron yang
berpindah-pindah di bumi dan tidak diketahui ke mana ia pergi. Di antara mereka
telah terjadi kontak senjata dan baku serang yang sangat panjang untuk
dijabarkan dan ditelusuri secara mendalam, dan Ibnu Jarir telah
melebih-lebihkan (menulis secara sangat detail) dalam menyebutkan kisah-kisah
tersebut.
Kematian Qathari bin Al-Fuja'ah
Pada tahun (79 H), Qathari bin Al-Fuja'ah At-Tamimi—Abu
Na'amah Al-Khariji—terbunuh. Ia termasuk salah seorang pemberani yang
termasyhur. Dikatakan bahwa ia sempat menetap selama dua puluh tahun di mana
para pengikutnya selalu mengucapkan salam kepadanya dengan gelar kekhalifahan.
Ia telah melewati berbagai peristiwa besar dan peperangan sengit melawan
pasukan Al-Muhallab bin Abi Sufrah yang dikirim dari pihak Al-Hajjaj maupun
pihak lainnya.
Kemunculannya (Qathari) terjadi pada masa Mush'ab bin
Az-Zubair. Ia berhasil menguasai banyak benteng, wilayah, dan daerah lainnya,
serta pertempuran-pertempurannya sangat terkenal. Al-Hajjaj telah mengirimkan
banyak pasukan untuk menghadapinya, namun ia berhasil mengalahkan semuanya.
Dikatakan bahwa pernah ada seorang laki-laki dari kaum
Haruriyah (salah satu sekte Khawarij) keluar menantangnya dengan menunggangi
seekor kuda yang kurus dan memegang tongkat besi di tangannya. Ketika orang itu
sudah dekat, Qathari membuka penutup wajahnya. Begitu melihat wajahnya,
laki-laki itu langsung berbalik melarikan diri ketakutan. Qathari pun berseru
kepadanya: "Mau lari ke mana? Apakah kamu tidak malu melarikan diri
padahal belum ada tusukan tombak maupun tebasan pedang?" Laki-laki itu
menjawab: "Seseorang tidak perlu merasa malu untuk lari dari orang
sepertimu."
Kemudian pada akhir perjalanannya, Sufyan bin Al-Abrad
Al-Kalbi bergerak menuju arahnya dengan membawa sepasang pasukan, lalu mereka
bertempur di Thabaristan. Di sana, kuda Qathari tersandung hingga membuatnya
jatuh ke tanah. Pasukan musuh pun segera mengepung dan mengerumuninya lalu
membunuhnya, kemudian mereka membawa kepalanya kepada Al-Hajjaj. Ada pula yang
mengatakan bahwa orang yang membunuhnya adalah Sawdah bin Al-Hurr Ad-Darimi.
Qathari bin Al-Fuja'ah—di samping keberaniannya yang luar
biasa dan ketangguhannya di medan perang—merupakan salah satu orator Arab yang
sangat terkenal dengan kefasihan, keindahan tutur kata, serta syair-syairnya
yang indah. Di antara syairnya yang paling bagus adalah bait-bait yang ia gubah
untuk menyemangati dirinya sendiri dan orang lain, di mana siapa pun yang
mendengarnya pasti akan mengambil manfaat darinya:
أَقُولُ
لَهَا وَقَدْ طَارَتْ شَعَاعًا * مِنَ الْأَبْطَالِ وَيْحَكِ لَنْ تُرَاعِي
فَإِنَّكِ
لَوْ سَأَلْتِ بَقَاءَ يَوْمٍ * عَلَى الْأَجَلِ الَّذِي لَكَ لَمْ تُطَاعِي
فَصَبْرًا
فِي مَجَالِ الْمَوْتِ صَبْرًا * فَمَا نَيْلُ الْخُلُودِ بِمُسْتَطَاعِ
وَلَا
ثَوْبُ الْحَيَاةِ بِثَوْبِ عِزٍّ * فَيُطْوَى عَنْ أَخِي الْخَنَعِ الْيَرَاعِ
سَبِيلُ
الْمَوْتِ غَايَةُ كُلِّ حَيٍّ * وَدَاعِيهِ لِأَهْلِ الْأَرْضِ دَاعِي
وَمَنْ
لَا يَغْتَبِطْ يَسْأَمْ وَيَهْرَمْ * وَتُسْلِمْهُ الْمَنُونُ إِلَى انْقِطَاعِ
وَمَا
لِلْمَرْءِ خَيْرٌ فِي حَيَاةٍ * إِذَا مَا عُدَّ مِنْ سَقَطِ الْمَتَاعِ
Kukatakan kepada jiwaku ketika ia terbang panik karena
melihat para pahlawan bertumbangan: Celakalah kamu, janganlah takut! Sebab
sekiranya kamu meminta penundaan satu hari saja dari ajal yang telah ditetapkan
untukmu, niscaya permintaanmu tidak akan dikabulkan. Maka bersabarlah di
medan kematian, benar-benar bersabarlah! Karena meraih keabadian di dunia ini
adalah hal yang mustahil. Dan pakaian kehidupan ini bukanlah pakaian
kemuliaan, yang bisa dilepaskan begitu saja dari orang yang tunduk pada
kehinaan. Jalan kematian adalah akhir dari setiap makhluk yang hidup,
dan penyerunya bagi penduduk bumi pasti akan memanggil. Siapa yang tidak
berbahagia dengan hidupnya akan merasa jenuh dan menua, lalu kematian akan
mengantarkannya pada akhir segalanya. Dan tidak ada kebaikan sama sekali
bagi kehidupan seseorang, jika ia hanya dianggap bagai barang rongsokan yang
tidak berharga.
Syair ini disebutkan oleh penulis kitab Al-Hamasah, dan Ibnu
Khallikan sangat memuji keindahannya dalam kitab sejarahnya.
Penaklukan, Pemerintahan Wilayah-Wilayah, dan Ibadah Haji
Peperangan Melawan Romawi
Pada tahun ( 73 H), Muhammad bin Marwan memimpin pasukan
musim panas (Ash-Sha'ifah) lalu berhasil mengalahkan bangsa Romawi. Ada yang
mengatakan bahwa pada tahun ini terjadi pertempuran antara Utsman bin Al-Walid
melawan Romawi di wilayah Armenia. Saat itu ia hanya membawa empat ribu
pasukan, sementara pasukan Romawi berjumlah enam puluh ribu orang, namun ia
berhasil mengalahkan mereka dan membantai banyak dari mereka.
Pada tahun (75 H), Muhammad bin Marwan—saudara kandung
Khalifah Abdul Malik bin Marwan sekaligus ayah dari Marwan Al-Himar—memerangi
pasukan musim panas Romawi ketika mereka keluar dari daerah Mar'asy.
Pada tahun (78 H), terjadi pertempuran yang sangat besar
bagi kaum muslimin di negeri Romawi, di mana mereka berhasil menaklukkan
wilayah Irqiliyah. Namun ketika mereka dalam perjalanan pulang, mereka dilanda
hujan yang sangat deras, salju, serta butiran es, yang menyebabkan banyak orang
menjadi korban akibat cuaca ekstrem tersebut.
Pada tahun (84 H), Abdullah bin Abdul Malik bin Marwan
berhasil menaklukkan wilayah Al-Mashshishah.
Pada tahun (86 H), Maslamah bin Abdul Malik memerangi negeri
Romawi, ia berhasil membunuh, menawan musuh, meraup harta rampasan perang
(ganimah), dan kembali dengan selamat. Ia juga berhasil menaklukkan Benteng
Buwlaq dan Benteng Al-Akhram di tanah Romawi.
Penaklukan Qaliqala
Pada tahun (81 H), Ubaidillah bin Abdul Malik bin Marwan
berhasil menaklukkan kota Qaliqala (yang merupakan wilayah perbatasan Armenia
dan Azerbaijan), dan kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang
yang sangat banyak dari sana.
Peperangan di Armenia
Pada tahun (84 H), Muhammad bin Marwan memerangi wilayah
Armenia dan berhasil menewaskan banyak sekali penduduk dari pihak musuh.
Penaklukan Negeri Magrib (Afrika Utara)
Pada tahun ( 78 H), Abdul Malik mengangkat Musa bin Nushair
sebagai gubernur untuk memimpin peperangan di seluruh negeri Magrib. Ia pun
berjalan hingga sampai ke Tangier (Thanjah) dan menempatkan Thariq (bin Ziyad)
di posisi pasukan garda terdepan, lalu mereka berhasil membunuh raja-raja di
negeri tersebut.
Pada tahun ( 81 H), Musa bin Nushair selaku penguasa negeri
Magrib memerangi negeri Al-Andalus (Spanyol). Ia berhasil menaklukkan banyak
kota serta wilayah-wilayah yang makmur, dan ia masuk semakin dalam ke negeri
Magrib hingga sampai ke selat yang memancar dari Samudra Atlantik.
Pada tahun (83 H), Atha' bin Rafi' memerangi Pulau Sisilia
(Shaqalliyah).
Pada tahun (84 H), Musa bin Nushair menaklukkan sebagian
wilayah dari negeri Magrib, di antaranya adalah wilayah Awrabah.
Peperangan Melawan Bangsa Turki
Pada tahun (79 H), Ubaidillah bin Abi Bakrah memerangi
Rutbil, raja bangsa Turki, hingga ia masuk jauh ke dalam negerinya. Kemudian ia
mengadakan perjanjian damai dengannya dengan imbalan sejumlah harta yang harus
diserahkan Rutbil kepadanya setiap tahun.
Pada tahun (80 H), Al-Muhallab bin Abi Sufrah menyeberangi
Sungai Balkh dan menetap di Kasy selama dua tahun dengan penuh kesabaran dalam
menghadapi musuh-musuh dari bangsa Turki. Di sana, ia melewati berbagai
peristiwa bersama mereka yang sangat panjang untuk disebutkan.
Al-Hajjaj kemudian menyiapkan pasukan besar dari Basrah,
Kufah, dan kota lainnya untuk memerangi Rutbil, raja bangsa Turki. Tujuan
pengiriman pasukan ini adalah untuk membalas dendam atas pembantaian yang
menimpa pasukan Ubaidillah bin Abi Bakrah pada tahun sebelumnya. Al-Hajjaj
menyiapkan empat puluh ribu pasukan—di mana dari masing-masing kota (Basrah dan
Kufah) dikerahkan dua puluh ribu pasukan—dan ia mengangkat Abdurrahman bin
Muhammad bin Al-Asy'ats sebagai panglima tertinggi atas seluruh pasukan tersebut.
Ibnu Al-Asy'ats pun berjalan membawa pasukan tersebut menuju
tanah Rutbil. Ketika Rutbil mendengar kabar kedatangan Ibnu Al-Asy'ats bersama
pasukannya, ia segera menulis surat kepadanya untuk meminta maaf atas apa yang
menimpa kaum muslimin di negerinya pada tahun lalu. Rutbil menyatakan bahwa
sebenarnya ia tidak menyukai kejadian itu dan kaum muslimin-lah yang
mendesaknya hingga terpaksa berperang. Ia juga meminta kepada Ibnu Al-Asy'ats
untuk berdamai dan berjanji akan menyerahkan upeti (kharaj) kepada kaum
muslimin.
Namun, Ibnu Al-Asy'ats menolak tawaran tersebut dan tetap
bertekad bulat untuk merangsek masuk ke dalam negerinya. Rutbil pun segera
mengumpulkan pasukannya dan bersiap-siap untuk menghadapinya dalam peperangan.
Setiap kali Ibnu Al-Asy'ats berhasil memasuki suatu daerah atau kota, atau
merebut sebuah benteng dari wilayah Rutbil, ia selalu menempatkan seorang wakil
(gubernur bawahan) dari pihaknya dan meninggalkan beberapa pasukan untuk
menjaganya. Ia juga menempatkan pos-pos penjagaan di setiap jengkal tanah dan
tempat yang rawan atau berbahaya. Dengan strategi ini, ia berhasil menguasai
banyak sekali wilayah dan kota dari negeri Rutbil, serta berhasil meraup harta
yang sangat melimpah dan menawan banyak sekali penduduk. Setelah itu, ia
menahan pasukannya agar tidak masuk terlalu jauh ke dalam negeri Rutbil sebelum
mereka benar-benar membenahi dan memperkuat kota-kota yang sudah berada di
tangan mereka, serta memanfaatkan hasil panen dan logistik yang ada di sana.
Rencananya, mereka baru akan bergerak maju menyerang musuh pada tahun
berikutnya. Dengan begitu, mereka bisa terus menguasai wilayah demi wilayah
hingga akhirnya dapat mengepung musuh di kota utama mereka—pusat penyimpanan
harta, karun, dan keluarga mereka—sampai bisa menguasainya serta menghabisi
para prajurit musuh. Mereka telah membulatkan tekad untuk menjalankan rencana
tersebut, dan ini memang merupakan sebuah strategi yang sangat cerdas.
Ibnu Al-Asy'ats kemudian menulis surat kepada Al-Hajjaj
untuk mengabarkan tentang kemenangan yang berhasil diraih serta pertolongan
yang Allah berikan kepada mereka, sekaligus menyampaikan strategi yang telah ia
rancang tersebut. Di saat yang sama, Ubaidillah bin Abi Bakrah meninggal dunia,
maka Al-Hajjaj menulis surat balasan kepada Ibnu Al-Asy'ats untuk mengangkatnya
sebagai penguasa (gubernur) wilayah Sijistan menggantikan posisi Ibnu Abi
Bakrah.
Penaklukan Marw dan Khurasan
Pada tahun (86 H), Qutaibah bin Muslim selaku gubernur
wilayah Marw dan Khurasan memerangi banyak wilayah di tanah Turki dan negeri
orang-orang kafir lainnya. Ia berhasil menawan musuh, meraup ganamah, kembali
dengan selamat, serta merebut banyak benteng, kastil, dan kerajaan.
Di antara tawanan yang berhasil ditangkap terdapat istri
dari Barmak—ayah dari Khalid bin Barmak. Qutaibah kemudian menyerahkan wanita
tawanan tersebut kepada saudara laki-lakinya yang bernama Abdullah bin Muslim.
Para Gubernur di Berbagai Negeri
Wilayah Basra
Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 73 H, Abdul Malik mencopot
Khalid bin Abdullah dari jabatan gubernur Basra, lalu menggabungkannya ke dalam
wilayah saudaranya, Bisyr bin Marwan, bersama dengan Kufah. Bisyr kemudian
berangkat ke Basra dan menunjuk Amru bin Huraits sebagai wakilnya di Kufah.
Wilayah Khurasan
Pada tahun 74 H, Abdul Malik mencopot Bukair bin Wisyah
At-Tamimi dari jabatan gubernur Khurasan, lalu mengangkat Umayyah bin Abdullah
bin Khalid bin Asid Al-Qurasyi sebagai gantinya. Langkah ini diambil agar
orang-orang bersatu mendukungnya, karena fitnah hampir saja memuncak di
Khurasan setelah kematian Abdullah bin Khazim. Ketika Umayyah bin Abdullah tiba
di Khurasan, ia menawarkan posisi kepala kepolisian kepada Bukair bin Wisyah,
namun Bukair menolaknya dan meminta agar ia diangkat menjadi gubernur Tukharistan.
Akan tetapi, orang-orang memperingatkan Umayyah bahwa Bukair bisa saja
memberontak di sana, sehingga Umayyah membiarkannya tetap tinggal bersamanya.
Pada tahun 85 H, Al-Hajjaj mencopot Yazid bin Al-Muhallab
dari jabatan gubernur Khurasan, lalu mengangkat saudaranya, Al-Mufaddal bin
Al-Muhallab.
Wilayah Irak
Pada tahun 75 H, Abdul Malik mengangkat Al-Hajjaj bin Yusuf
sebagai gubernur Irak (Basra dan Kufah) serta wilayah-wilayah besar yang
mengikutinya. Hal ini dilakukan setelah wafatnya saudara Abdul Malik, Bisyr bin
Marwan. Abdul Malik menilai bahwa tidak ada yang mampu mengendalikan penduduk
Irak selain Al-Hajjaj, karena ketegasan, kekuatan, kekejaman, dan
keberaniannya.
Abdul Malik menulis surat kepada Al-Hajjaj yang saat itu
sedang berada di Madinah mengenai pengangkatannya sebagai gubernur Irak.
Al-Hajjaj pun berangkat dari Madinah menuju Irak. Ketika sampai di dekat Kufah,
ia mandi, mewarnai rambut/jenggotnya, mengenakan pakaian bagus, menyandang
pedangnya, dan menjulurkan ujung sorbannya di antara kedua bahunya. Ia lalu
berjalan hingga tiba di rumah dinas gubernur pada hari Jumat. Saat itu muazin
pertama telah mengumandangkan azan, lalu Al-Hajjaj keluar menemui orang-orang
tanpa mereka ketahui siapa dia.
Ia naik ke atas mimbar dan duduk di atasnya, lalu terdiam
dalam waktu yang cukup lama. Orang-orang pun menatapnya dengan tajam sambil
bertumpu pada lutut mereka. Mereka mulai mengambil batu-batu kerikil untuk
melempari dirinya, sebagaimana mereka pernah melempari gubernur sebelum
dirinya. Namun, ketika Al-Hajjaj tetap terdiam, hal itu membuat mereka heran
dan penasaran untuk mendengarkan bicaranya.
Perkataan pertama yang diucapkannya adalah: "Wahai
penduduk Irak! Wahai orang-orang yang gemar memecah belah, kaum munafik, dan
pemilik akhlak yang buruk! Demi Allah, urusan kalian telah menyita perhatianku
sebelum aku datang ke sini, dan aku selalu berdoa kepada Allah agar menguji
kalian melaluiku, lalu Dia mengabulkan doaku. Ketahuilah, kemarin malam saat
berjalan, cambukku yang biasa kugunakan untuk menyiksa kalian terjatuh, maka
aku mengambil ini sebagai gantinya—sambil menunjuk ke arah pedangnya—".
Kemudian ia berkata: "Demi Allah, aku benar-benar akan menghunuskan pedang
ini di tengah-tengah kalian sebagaimana seorang wanita menyeret ujung
pakaiannya, dan aku benar-benar akan melakukan ini dan itu kepada kalian!"
Ketika mereka mendengar perkataannya, batu-batu kerikil itu pun mulai
berjatuhan dari tangan mereka. Kemudian ia membuka penutup wajahnya dan
melantunkan syair:
أَنَا
ابْنُ جَلَا وَطَلَّاعُ الثَّنَايَا ... مَتَى أَضَعُ الْعِمَامَةَ تَعْرِفُونِي
Artinya: "Akulah putra dari kejelasan dan penakluk
segala kesulitan, ketika aku menanggalkan sorbaku, kalian akan langsung
mengenaliku."
Kemudian ia melanjutkan: "Sesungguhnya aku melihat
kepala-kepala yang telah matang dan telah tiba waktu memetiknya. Sungguh aku
melihat darah mengalir di antara sorban-sorban dan jenggot-jenggot." Ia
juga bersyair lagi:
هَذَا
أَوَانُ الشَّدِّ فَاشْتَدِّي زِيَمْ ... قَدْ لَفَهَا اللَّيْلُ بِسَوَّاقٍ
حُطَمْ
لَيْسَ
بِرَاعِي إِبِلِ وَلَا غَنَمْ ... وَلَا بِجَزَارٍ عَلَى ظَهْرِ وَضَمْ
قَدْ
لَفَهَا اللَّيْلُ بِعَصْلَبِي ... أَرْوَعَ خَرَّاجٍ مِنَ الدَّوِّي
مُهَاجِرٍ
لَيْسَ بِأَعْرَابِي
Artinya:
"Inilah saatnya untuk bertindak keras, maka
bersiaplah wahai pasukan! Malam telah mengumpulkan mereka bersama penggiring
yang tegas."
"Bukan seorang penggembala unta atau kambing, dan
bukan pula seorang jagal di atas talenan."
"Malam telah mengumpulkan mereka bersama orang yang
kuat, pemberani yang sering keluar dari padang pasir luas."
"Seorang Muhajir, bukan orang Badui pedalaman."
Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya aku, wahai penduduk
Irak, bukanlah orang yang bisa dikelabui dengan kebodohan, dan aku tidak bisa
ditakut-takuti dengan ancaman kosong. Sesungguhnya Amirul Mukminin, Abdul Malik
bin Marwan, telah mengeluarkan isi wadah anak panahnya, lalu menguji kekerasan
setiap anak panah tersebut satu demi satu, dan ia mendapati akulah anak panah
yang paling pahit dan paling keras batangnya. Oleh karena itu, ia mengutusku
kepada kalian. Sudah terlalu lama kalian terjerumus ke dalam lembah fitnah dan
merintis jalan-jalan kesesatan. Ingatlah, demi Allah, aku benar-benar akan
menguliti kalian bagai menguliti ranting kayu, aku akan mengikat kalian bagai
mengikat pohon berduri, dan aku akan memukul kalian bagai memukul unta-unta
asing yang tersesat. Demi Allah, aku tidak pernah berjanji kecuali pasti
menepatinya, dan aku tidak merencanakan sesuatu kecuali pasti
melaksanakannya..." dalam pidato panjang yang sangat fasih, tidak biasa,
serta berisi ancaman yang sangat keras tanpa ada satu pun janji kebaikan di
dalamnya.
Al-Hajjaj kemudian mengutus Al-Hakam bin Ayyub At-Tsaqafi
sebagai wakilnya untuk memimpin Basra, dan memerintahkannya untuk bersikap
keras kepada Khalid bin Abdullah. Ia juga menetapkan Syuraih sebagai hakim di
Kufah. Setelah itu, Al-Hajjaj berkendara menuju Basra dan menunjuk Abu Ya'fur
sebagai wakilnya di Kufah, serta menyerahkan jabatan hakim Basra kepada Zurarah
bin Aufa, sebelum akhirnya ia kembali lagi ke Kufah.
Pada tahun (tidak disebutkan angkanya dalam teks asli),
Al-Hajjaj telah menjadi penguasa tunggal atas wilayah Irak, Khurasan, Sijistan,
dan seluruh kawasan tersebut.
Pada tahun 84 H, Al-Hajjaj mengangkat Muhammad bin Al-Qasim
At-Tsaqafi sebagai penguasa wilayah Fars dan memerintahkannya untuk memerangi
orang-orang Kurdi.
Wilayah Madinah
Pada tahun 74 H, Abdul Malik mencopot Thariq bin Amru dari
jabatan gubernur Madinah dan menyerahkannya kepada Al-Hajjaj bin Yusuf
At-Tsaqafi. Al-Hajjaj pun tiba di Madinah dan tinggal di sana selama sebulan,
kemudian ia keluar untuk melaksanakan umrah, lalu kembali lagi ke Madinah pada
bulan Safar dan menetap di sana selama tiga bulan. Ia juga membangun sebuah
masjid di wilayah Bani Salimah, yang sampai hari ini dinisbatkan kepada
namanya.
Pada tahun 75 H, Abdul Malik bin Marwan menyerahkan jabatan
gubernur Madinah kepada pamannya, Yahya bin Al-Hakam bin Abi Al-Ash, dan
mencopot Al-Hajjaj dari jabatan tersebut.
Pada tahun 76 H, Abdul Malik bin Marwan mengangkat Aban bin
Utsman sebagai gubernur Madinah, mencopot pamannya, Yahya bin Marwan (Yahya bin
Al-Hakam), serta memanggilnya untuk kembali ke Syam.
Pada tahun 578 H (kemungkinan salah cetak pada naskah asli,
yang dimaksud adalah kelanjutan tahun pemerintahan), Aban bin Utsman bertindak
sebagai gubernur Madinah.
Pada bulan Jumadil Akhir tahun 82 H, Abdul Malik bin Marwan
mencopot Aban bin Utsman dari jabatan gubernur Madinah dan mengangkat Hisyam
bin Ismail Al-Makhzumi sebagai gantinya.
Wilayah Mesir
Pada tahun 84 H, Abdul Malik mengangkat Iyad bin Ghanm
At-Tujaibi sebagai gubernur Iskandariyah.
Pada tahun 85 H, Abdul Malik sempat berniat untuk mencopot
saudaranya, Abdul Aziz bin Marwan, dari jabatan gubernur wilayah Mesir. Rencana
ini didukung dan dianggap baik oleh Rauh bin Zinba' Al-Judzami. Alasan utama
yang mendorongnya ingin melakukan pencopotan tersebut adalah karena ia ingin
menyerahkan kekuasaan setelahnya secara berurutan kepada anak-anaknya, yaitu
Al-Walid, kemudian Sulaiman, kemudian Yazid, lalu Hisyam. Hal ini merupakan
saran dan pengaturan dari Al-Hajjaj kepada Abdul Malik. Padahal sebelumnya,
ayah mereka (Marwan) telah menggariskan bahwa kekuasaan diserahkan kepada Abdul
Malik, lalu setelahnya kepada Abdul Aziz. Oleh karena itu, Abdul Malik ingin
menyingkirkan saudaranya dari garis kekuasaan sepenuhnya agar kekhalifahan
tetap berada pada keturunan dan anak-anaknya sendiri. Namun, Abdul Aziz bin
Marwan wafat di tengah-tengah terjadinya peristiwa tersebut.
Pada tahun 86 H, Abdul Malik mengukuhkan putranya, Abdullah,
sebagai penguasa Mesir setelah wafatnya sang saudara, Abdul Aziz. Abdullah
memasuki Mesir pada bulan Jumadil Akhir dalam usia dua puluh tujuh tahun.
Wilayah Pelaksanaan Haji
Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 74 H, Al-Hajjaj bin Yusuf
memimpin pelaksanaan haji bersama orang-orang, di mana saat itu ia memegang
otoritas atas wilayah Madinah, Mekah, Yaman, dan Yamamah.
Pada tahun 75 H, Abdul Malik bin Marwan memimpin langsung
pelaksanaan haji bersama orang-orang.
Pada tahun 76 H, 77 H, 78 H, 80 H, dan 82 H (beberapa tahun
tidak tertulis lengkap di naskah asli), orang yang memimpin haji adalah Aban
bin Utsman bin Affan selaku gubernur Madinah Nabawiyah.
Pada tahun 78 H, Al-Walid bin Abdul Malik memimpin
pelaksanaan haji bersama orang-orang.
Pada tahun 81 H, Sulaiman bin Abdul Malik memimpin
pelaksanaan haji bersama orang-orang.
Dari tahun 83 H hingga tahun 86 H, Hisyam bin Ismail
Al-Makhzumi selaku gubernur Madinah memimpin pelaksanaan haji bersama
orang-orang.
Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Masa Kekhilafahannya
1. Rafi' bin Khadij bin Rafi' Al-Anshari
Beliau adalah seorang sahabat Nabi yang mulia, ikut serta
dalam Perang Uhud dan perang-perang setelahnya, serta ikut dalam Perang Siffin
bersama Ali. Beliau banyak mengurusi masalah pertanian dan cocok tanam. Beliau
wafat ketika menginjak usia delapan puluh enam tahun, meriwayatkan tujuh puluh
delapan hadis, dan wafat pada tahun 74 H.
2. Abu Sa'id Al-Khudri (Sa'ad bin Malik bin Sinan
Al-Anshari Al-Khazraji)
Beliau adalah seorang sahabat Nabi yang mulia dan termasuk
di antara para ahli fikih dari kalangan sahabat. Perang pertama yang beliau
ikuti adalah Perang Khandaq, dan beliau telah ikut serta bersama Rasulullah ﷺ
dalam dua belas kali peperangan. Beliau termasuk salah satu sahabat yang paling
cerdas, utama, dan berilmu luas, semoga Allah meridainya, dan beliau wafat pada
tahun 74 H.
3. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab Al-Qurasyi Al-Adawi
(Abu Abdirrahman)
Beliau memeluk Islam sejak masa awal bersama ayahnya di
Mekah, lalu berhijrah saat usianya baru sepuluh tahun. Beliau ikut serta dalam
Perang Khandaq dan perang-perang setelahnya. Beliau adalah saudara kandung dari
Ummul Mukminin Hafshah, di mana ibu mereka berdua adalah Zainab binti Mazh'un,
saudara perempuan dari Utsman bin Mazh'un.
Abdullah bin Umar adalah seorang laki-laki yang berpostur
sedang, berkulit cokelat (sawo matang), memiliki rambut lebat yang panjangnya
mencapai kedua bahunya, berbadan tegap, sering mewarnai janggutnya dengan warna
kuning, dan selalu merapikan kumisnya. Beliau selalu berwudu setiap kali hendak
melaksanakan salat, ikut serta dalam pembebasan wilayah Mesir dan membangun
rumah di sana, pernah mendatangi Basra serta ikut dalam peperangan di Persia,
dan berulang kali mengunjungi kota Al-Madain. Apabila ada sesuatu dari harta
bendanya yang membuatnya kagum, beliau akan segera menyedekahkannya untuk
mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Intinya adalah beliau tidak wafat melainkan setelah
memerdekakan seribu orang hamba sahaya, dan terkadang beliau bersedekah dalam
satu majelis saja sebanyak tiga puluh ribu (dirham).
Muawiyah pernah mengirimkan uang sebanyak seratus ribu
(dirham) kepadanya, namun belum berlalu satu tahun harta tersebut telah habis
tidak tersisa sedikit pun di sisinya. Beliau selalu berkata: "Sesungguhnya
aku tidak pernah meminta sesuatu kepada siapa pun, namun apa yang Allah
rezekikan kepadaku maka aku tidak akan menolaknya." Selama masa fitnah
(pergolakan politik), tidaklah ada seorang pemimpin pun yang datang melainkan
beliau tetap salat di belakangnya dan menunaikan zakat hartanya kepadanya.
Beliau adalah orang yang paling mengerti tentang manasik haji, dan menetap
selama enam puluh tahun memberikan fatwa kepada orang-orang dari berbagai
penjuru negeri.
Beliau meriwayatkan banyak sekali hadis dari Nabi ﷺ,
dengan jumlah hadis yang bersumber dari beliau mencapai dua ribu enam ratus
tiga puluh hadis.
Beliau wafat di Mekah setelah orang-orang selesai menunaikan
ibadah haji pada akhir tahun 74 H dalam usia delapan puluh empat tahun, dan
beliau merupakan sahabat Nabi terakhir yang wafat di Mekah.
4. Ubaid bin Umair bin Qatadah Al-Laitsi (Abu Asim
Al-Makki)
Beliau adalah seorang pemberi nasihat (kisah) bagi penduduk
Mekah. Muslim bin Al-Hajjaj mengatakan bahwa beliau lahir pada masa hidup Nabi ﷺ.
Ibnu Umar dahulu sering duduk di dalam majelisnya lalu menangis, karena beliau
sangat menyukai cara Ubaid dalam memberikan peringatan dan nasihat. Beliau
wafat pada tahun 74 H.
5. Abu Juhaifah (Wahb bin Abdullah As-Suwa'i)
Seorang sahabat Nabi yang pernah melihat Nabi ﷺ,
namun usianya belum baligh ketika Nabi wafat. Meskipun demikian, beliau
meriwayatkan beberapa hadis dari Nabi ﷺ, dari Ali, dan dari Al-Bara' bin Azib. Banyak
dari kalangan tabi'in yang meriwayatkan hadis dari beliau, dan beliau wafat
pada tahun 74 H.
6. Salamah bin Al-Akwa' bin Amr bin Sinan Al-Anshari
Beliau adalah salah satu orang yang ikut serta dalam Baiat
Ridwan di bawah pohon, serta termasuk salah satu penunggang kuda yang pemberani
sekaligus ulama di kalangan sahabat. Beliau sering memberikan fatwa di Madinah,
dan memiliki rekam jejak perjuangan yang terkenal baik pada masa hidup Nabi ﷺ
maupun setelahnya. Beliau wafat di Madinah pada tahun 74 H setelah melewati
usia tujuh puluh tahun.
7. Malik bin Abi Amir Al-Asbahi Al-Madani
Beliau merupakan kakek dari Imam Malik bin Anas. Beliau
meriwayatkan hadis dari sekelompok sahabat Nabi dan tokoh lainnya, serta
dikenal sebagai orang yang utama lagi berilmu. Beliau wafat di Madinah pada
tahun 74 H.
8. Abu Abdurrahman (Abdullah bin Habib As-Sulami)
Beliau adalah guru mengaji (ahli qira'ah) bagi penduduk
Kufah tanpa ada perbedaan pendapat. Beliau belajar membaca Al-Qur'an langsung
kepada Utsman bin Affan dan Ibnu Mas'ud, serta mendengar hadis dari sekelompok
sahabat dan selainnya. Beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada orang-orang di Kufah
sejak masa kekhilafahan Utsman hingga masa pemerintahan Al-Hajjaj. Di antara
yang belajar membaca kepadanya adalah Asim bin Abi An-Najud serta banyak sekali
murid lainnya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 74 H.
9. Bisyr bin Marwan Al-Umayyah
Beliau adalah saudara laki-laki dari Khalifah Abdul Malik
bin Marwan, yang diserahi jabatan untuk memimpin wilayah dua Irak (Kufah dan
Basra) oleh saudaranya tersebut. Beliau adalah seorang yang toleran, sangat
dermawan, dan pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang lain. Beliau
wafat pada tahun 74 H.
10. Al-Irbadh bin Sariyah As-Sulami (Abu Najih)
Beliau menetap tinggal di Homs dan merupakan seorang sahabat
Nabi yang mulia. Beliau memeluk Islam sejak masa awal bersama Amr bin Abasah,
semoga Allah meridainya, serta termasuk penghuni Ahlu Shuffah. Beliau juga
termasuk salah satu dari orang-orang yang banyak menangis yang disebutkan dalam
Surah Bara'ah (At-Taubah).
Beliau adalah perawi dari hadis berikut ini:
«خَطَبَنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةً وَجِلَتْ مِنْهَا
الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، حَتَّى قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا. قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى
اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ
حَبَشِيٌّ، كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ، عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي،
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِدِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ»
"Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat kepada kami dengan suatu nasihat yang
menggetarkan hati dan membuat air mata berlinang, hingga kami berkata: 'Wahai
Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka
berilah wasiat kepada kami.' Beliau bersabda: 'Aku wasiatkan kepada kalian
untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin)
meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang kepalanya
seperti buah kismis. Berpegangteguhlah kalian kepada sunahku dan sunah para
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah sunah itu dengan
gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang
diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) itu adalah
bid'ah'." (Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab Sunan,
serta disahihkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya). Beliau wafat pada tahun 75 H.
11. Abu Tha'labah Al-Khusyani (Jurthum bin Nasyir)
Seorang sahabat Nabi yang mulia, ikut menyaksikan Baiat
Ridwan, ikut serta dalam Perang Hunain, dan termasuk orang yang kemudian
tinggal di Syam, tepatnya di wilayah Dariyyah di sebelah barat Damaskus. Beliau
wafat pada tahun 75 H.
12. Al-Aswad bin Yazid An-Nakha'i
Sahabat dekat dari Ibnu Mas'ud, termasuk tokoh senior dari
kalangan tabi'in dan tokoh terkemuka di antara murid-murid Ibnu Mas'ud, serta
termasuk tokoh besar penduduk Kufah. Beliau tercatat telah menunaikan ibadah
haji dan umrah sebanyak delapan puluh kali, dan wafat pada tahun 75 H.
13. Humran bin Aban
Mantan budak (maula) dari Utsman bin Affan. Beliau awalnya
berasal dari tawanan perang Ainut Tamar yang kemudian dibeli oleh Utsman.
Beliau adalah orang yang bertugas memberikan izin bagi orang-orang yang ingin
menemui Utsman, dan beliau wafat pada tahun 75 H.
14. Abu Utsman An-Nahdi Al-Quda'i (Abdurrahman bin Mull)
Beliau memeluk Islam pada masa hidup Nabi ﷺ, dan ikut serta dalam
Perang Jalula, Qadisiyyah, Tustar, Nahawand, Azerbaijan, dan perang lainnya.
Beliau adalah orang yang rajin beribadah, zuhud, lagi berilmu luas, dan wafat
pada tahun 76 H di Kufah dalam usia seratus tiga puluh tahun.
15. Shilah bin Asyam Al-Adawi
Termasuk tokoh senior dari kalangan tabi'in penduduk Basra.
Beliau adalah orang yang memiliki banyak keutamaan, sifat warak, rajin
beribadah, serta zuhud. Nama panggilannya (kunyah) adalah Abu Ash-Shahba', dan
beliau wafat pada tahun 76 H.
16. Zuhair bin Qais Al-Balawi
Beliau ikut menyaksikan pembebasan wilayah Mesir dan menetap
tinggal di sana, serta memiliki status sebagai sahabat Nabi. Beliau gugur
dibunuh oleh pasukan Romawi di Barqah yang termasuk bagian dari wilayah Magrib
(Afrika Utara), dan wafat pada tahun 76 H.
17. Al-Mundzir bin Al-Jarud
Beliau pernah memegang jabatan mengurusi baitulmal, pernah
menjadi utusan yang menghadap Muawiyah, dan wafat pada tahun 76 H.
18. Muhammad bin Musa bin Thalhah bin Ubaidillah
Saudara perempuannya merupakan istri dari Khalifah Abdul
Malik, dan Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubernur Sijistan. Ketika ia
sedang berjalan menuju ke sana, ada orang yang berkata kepadanya:
"Sesungguhnya Shabib (seorang pemberontak Khawarij) ada di jalan yang akan
kamu lewati, dan ia telah membuat banyak orang kewalahan. Beloklah arah untuk
menghadapinya, barangkali kamu bisa membunuhnya, sehingga sebutan dan ketenaran
atas keberhasilan itu akan melekat pada dirimu untuk selama-lamanya."
Ketika ia berjalan ke sana, ia pun bertemu dengan Shabib lalu keduanya
bertempur, hingga akhirnya Shabib berhasil membunuhnya pada tahun 77 H.
19. Mutharrif bin Al-Mughirah bin Syu'bah
Beliau beserta saudara-saudaranya cenderung mendukung Bani
Umayyah, sehingga Al-Hajjaj mempekerjakan mereka untuk memimpin beberapa
wilayah. Al-Hajjaj mengangkat Urwah untuk memimpin Kufah, Mutharrif untuk
memimpin Al-Madain, dan Hamzah untuk memimpin Hamadan. Beliau wafat pada tahun
77 H.
20. Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram Abu Abdullah
Al-Anshari Al-Salami
Seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki banyak riwayat hadis. Beliau
ikut serta dalam Baiat Aqabah. Sebenarnya beliau ingin ikut dalam Perang Badar,
namun ayahnya melarangnya karena menugaskannya untuk menjaga saudara-saudara
perempuannya yang berjumlah sembilan orang. Dikatakan bahwa penglihatan beliau
telah hilang sebelum wafatnya. Jabir wafat pada tahun 78 H di Madinah dalam
usia sembilan puluh empat tahun, dan hadis yang bersumber dari beliau mencapai
seribu lima ratus empat puluh hadis.
21. Syuraih bin Al-Harits bin Qais (Abu Umayyah Al-Kindi
/ Qadhi Syuraih)
Beliau adalah hakim agung (qadhi) di Kufah. Beliau memegang
jabatan hakim sejak masa Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi
Thalib, kemudian Ali sempat mencopotnya, lalu Muawiyah mengangkatnya kembali. Setelah
itu beliau terus mengabdikan diri secara mandiri dalam dunia peradilan hingga
wafat di Kufah pada tahun 78 H dalam usia seratus delapan tahun.
22. Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy'ari
Beliau tinggal menetap di Palestina, dan dikatakan bahwa
beliau memiliki status sebagai sahabat Nabi. Umar bin Al-Khattab pernah
mengutusnya ke Syam untuk mengajarkan fikih dan memperdalam ilmu agama kepada
penduduk di sana. Beliau termasuk salah satu hamba yang saleh lagi rajin
beribadah, dan wafat pada tahun 78 H.
23. Junadah bin Abi Umayyah Al-Azdi
Beliau ikut menyaksikan pembebasan wilayah Mesir, pernah
menjadi panglima pasukan perang laut bagi Muawiyah, serta dikenal dengan sifat
keberanian dan kebaikannya. Beliau wafat di Syam pada tahun 78 H ketika usianya
telah mendekati delapan puluh tahun.
24. Al-Ala' bin Ziyad Al-Bashri
Beliau termasuk orang saleh yang rajin beribadah di antara
penduduk Basra, memiliki rasa takut kepada Allah yang sangat besar, sifat
warak, serta mempunyai banyak rekam jejak kebaikan. Beliau wafat di Basra pada
tahun 78 H.
25. Ubaidillah bin Abi Bakrah
Beliau adalah panglima pasukan militer yang merangsek masuk
ke negeri Turki untuk memerangi Rutbil, raja bangsa Turki. Dalam perang
tersebut, banyak sekali pasukannya yang gugur terbunuh bersama Syuraih bin
Hani. Wafatnya beliau terjadi pada tahun 79 H.
26. Aslam (Mantan Budak/Maula Umar bin Al-Khattab)
Asal-usulnya merupakan tawanan dari perang Ainut Tamar yang
kemudian dibeli oleh Umar di Mekah ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun
11 H. Beliau wafat pada usia seratus empat belas tahun, tepatnya pada tahun 80
H.
27. Jubair bin Nufair bin Malik Al-Hadrami
Beliau memiliki status sebagai sahabat Nabi dan perawi
hadis, serta termasuk salah satu ulama dari penduduk Syam. Beliau sangat
terkenal dengan ibadah dan ilmunya, lalu wafat di Syam pada usia seratus dua
puluh tahun pada tahun 80 H.
28. Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib
Beliau lahir di tanah Habasyah (Etiopia) dan ibunya adalah
Asma binti Umais. Beliau merupakan orang dari kalangan Bani Hasyim terakhir
yang pernah melihat Nabi ﷺ
yang wafat paling akhir. Beliau tinggal di Madinah. Tercatat bahwa Nabi ﷺ
pernah membaiat Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Az-Zubair ketika usia
keduanya baru tujuh tahun, dan peristiwa pembaiatan anak kecil seperti ini
tidak pernah terjadi pada selain mereka berdua.
Abdullah bin Ja'far termasuk salah satu orang yang paling
dermawan. Beliau sering memberikan pemberian dalam jumlah yang sangat besar
namun beliau sendiri menganggapnya masih sedikit, dan beliau pernah bersedekah
dalam satu waktu sebanyak dua juta (dirham). Beliau wafat pada tahun 80 H.
29. Abu Idris Al-Khawlani
Namanya adalah 'A'idullah bin Abdullah, memiliki kedudukan
dan banyak keutamaan. Beliau sering berkata: "Hati yang bersih di dalam
pakaian yang kotor itu jauh lebih baik daripada hati yang kotor di dalam
pakaian yang bersih." Beliau pernah memegang jabatan hakim di Damaskus,
dan wafat pada tahun 80 H.
30. Ma'bad Al-Juhani Al-Qadari
Beliau adalah orang yang pertama kali mencetuskan dan
berbicara tentang paham Qadariyah (penolakan terhadap takdir). Dikatakan bahwa
beliau mengambil pemikiran tersebut dari seorang laki-laki Nasrani penduduk
Irak yang bernama Sawsan. Kemudian Ghailan mengambil paham Qadariyah ini dari
Ma'bad. Hasan Al-Bashri pernah memperingatkan: "Waspadalah kalian terhadap
Ma'bad, karena sesungguhnya ia adalah orang yang sesat lagi menyesatkan." Dan
Said bin Ufair berkata: "Abdul Malik bin Marwan menyalibnya pada tahun 80
H di Damaskus, kemudian membunuhnya pada tahun 80 H."
31. Suwaid bin Ghaflah bin Awsajah bin Amir Abu Umayyah
Al-Ja'fi Al-Kufi
Beliau ikut menyaksikan Perang Yarmuk, meriwayatkan hadis
dari sekelompok sahabat, termasuk golongan Mukhadram senior (orang yang
hidup di zaman Jahiliyah dan masa Nabi tetapi baru memeluk Islam setelah Nabi
wafat), dan beliau wafat pada tahun 81 H.
32. Abdullah bin Syaddad bin Al-Hadi
Beliau termasuk salah seorang hamba yang ahli ibadah, zuhud,
lagi berilmu. Beliau memiliki banyak wasiat dan untaian kalimat yang indah.
Beliau meriwayatkan beberapa hadis dari para sahabat, dan banyak dari kalangan
tabi'in yang mengambil riwayat darinya. Beliau wafat pada tahun 81 H.
33. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib (Dikenal dengan
sebutan Ibnu Al-Hanafiyah)
Ibunya adalah seorang hamba sahaya (selir) dari tawanan Bani
Hanifah yang bernama Khaulah. Muhammad lahir pada masa kekhilafahan Umar bin
Al-Khattab, pernah datang berkunjung menemui Muawiyah dan Abdul Malik bin
Marwan. Muhammad bin Ali termasuk salah satu tokoh terkemuka Quraisy, serta
termasuk deretan orang yang terkenal pemberani lagi kuat. Beliau wafat di
Madinah pada tahun 81 H dan dimakamkan di pemakaman Baqi'.
Ibnu Katsir berkata: "Orang-orang Rafidhah (Syiah)
mengklaim secara dusta bahwa beliau berada di Gunung Radhwa, dalam keadaan
hidup dan diberi rezeki, serta mereka terus menanti-nantikan
kehadirannya." Mengenai hal tersebut, Kuthair 'Azzah menggubah syair:
أَلَا
إِنَّ الْأَئِمَّةَ مِنْ قُرَيْشٍ * وُلَاةُ الْحَقِّ أَرْبَعَةٌ سَوَاءُ
عَلِيٌّ
وَالثَّلَاثَةُ مِنْ بَنِيهِ * هُمُ الْأَسْبَاطُ لَيْسَ بِهِمْ خَفَاءُ
فَسِبْطٌ
سِبْطُ إِيمَانٍ وَبِرٍّ * وَسِبْطٌ غَيَّبَتْهُ كَرْبُلَاءُ
وَسِبْطٌ
لَا تَرَاهُ الْعَيْنُ حَتَّى * يَقُودَ الْخَيْلَ يَقْدُمُهَا لِوَاءُ
تَغَيَّبَ
لَا يُرَى عَنْهُمْ زَمَانًا * بِرَضْوَى عِنْدَهُ عَسَلٌ وَمَاءُ
Ketahuilah, sesungguhnya para pemimpin itu dari kaum
Quraisy, mereka adalah penegak kebenaran yang empat jumlahnya setara.
Ali dan ketiga putranya, mereka adalah para cucu
keturunan Nabi yang tidak samar lagi keberadaannya.
Satu cucu adalah lambang keimanan dan kebaikan, satu cucu
lainnya telah dihilangkan (gugur) di Karbala.
Dan satu cucu lagi tidak dapat dilihat oleh mata, sampai
kelak ia memimpin pasukan berkuda yang barisannya dipimpin oleh panji perang.
Ia bersembunyi ghaib dan tidak terlihat oleh mereka dalam
waktu yang lama, di Gunung Radhwa di sisinya tersedia madu dan air.
Sebagian kelompok Rafidhah meyakini kepemimpinannya (imamah)
dan menunggu-nunggu kemunculannya di akhir zaman, sebagaimana kelompok mereka
yang lain menunggu-nunggu Al-Hasan bin Muhammad Al-Askari yang menurut klaim
dusta mereka akan keluar dari ruang bawah tanah (serdab) di Samarra. Ini semua
termasuk bagian dari takhayul, kesesatan, dan kebohongan besar mereka.
34. Al-Muhallab bin Abi Sufrah (Abu Sa'id Al-Azdi)
Beliau merupakan salah satu tokoh mulia penduduk Basra,
pemuka mereka, orang yang paling cerdik, serta paling dermawan. Beliau lahir
pada tahun pembebasan kota Mekah (Fathu Makkah). Mereka dahulu tinggal di
daerah antara Oman dan Bahrain, kemudian Al-Muhallab menetap di Basra. Beliau
pernah memimpin perang di tanah India pada masa-masa pemerintahan Muawiyah
tahun 44 H, dan memimpin wilayah Al-Jazirah untuk Ibnu Az-Zubair pada tahun 68
H.
Selanjutnya beliau diserahi tugas memimpin peperangan
melawan kaum Khawarij di awal masa jabatan Al-Hajjaj, di mana dalam satu
pertempuran saja beliau berhasil menewaskan empat ribu delapan ratus orang
Khawarij, sehingga kedudukannya menjadi sangat agung di mata Al-Hajjaj. Beliau
adalah sosok yang utama, pemberani, lagi mulia, serta memiliki untaian kata
yang indah. Di antara perkataannya adalah: "Ada dua perkara pada diri
seseorang yang membuatku kagum: melihat akalnya lebih luas daripada ucapannya,
dan tidak melihat ucapannya melampaui batas akalnya." Al-Muhallab
wafat pada tahun 82 H saat sedang memimpin pasukan perang di Marw Al-Rudh dalam
usia tujuh puluh enam tahun.
35. Al-Mughirah bin Al-Muhallab bin Abi Sufrah
Beliau adalah seorang yang sangat dermawan, banyak dipuji
orang, lagi pemberani. Beliau memiliki rekam jejak yang masyhur di medan
perang, dan wafat pada tahun 82 H.
36. Al-Harits bin Abdullah bin Rabi'ah Al-Makhzumi
(Dikenal dengan julukan Quba' )
Beliau pernah memegang jabatan sebagai amir (gubernur)
wilayah Basra untuk Ibnu Az-Zubair, dan wafat pada tahun 82 H.
37. Muhammad bin Usamah bin Zaid bin Haritsah
Beliau termasuk salah satu anak sahabat Nabi yang paling
utama dan paling bijaksana akhlaknya. Beliau wafat di Madinah pada tahun 82 H
dan dimakamkan di Baqi'.
38. Abdullah bin Abi Thalhah bin Al-Aswad
Beliau merupakan ayah dari seorang ahli fikih bernama Ishaq.
Ibunya, Ummu Sulaim, mengandung dirinya pada malam ketika putra sebelumnya
meninggal dunia. Di pagi harinya, Abu Thalhah mengabarkan hal tersebut kepada
Nabi ﷺ,
lalu Nabi bersabda:
«أَعَرَسْتُمْ؟
بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا»
"Apakah kalian semalam melakukan hubungan suami
istri? Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian tersebut."
Dan ketika Abdullah lahir, Nabi mentahniknya (mengunyah
kurma lalu menempelkannya ke langit-langit mulut bayi) dengan beberapa butir
kurma. Beliau wafat pada tahun 82 H.
39. Abdullah bin Ka'b bin Malik
Beliau adalah orang yang menuntun ayahnya (Ka'b bin Malik)
ketika sang ayah mengalami kebutaan. Beliau memiliki beberapa riwayat hadis,
dan wafat di Madinah pada tahun 82 H.
40. Jamil bin Abdullah bin Ma'mar Al-Quda'i (Abu Amr,
sang penyair kekasih Buthainah)
Beliau dahulu pernah melamar Buthainah namun pihak keluarga
melarangnya, sehingga beliau menggubah syi'ir-syi'ir kerinduan (ghazal)
tentangnya dan menjadi sangat terkenal karena wanita tersebut. Beliau merupakan
salah satu tokoh perindu Arab yang paling legendaris. Tempat tinggalnya berada
di Wadi Al-Qura. Beliau adalah orang yang menjaga kehormatan diri, taat
beragama, seorang penyair muslim, dan termasuk penyair yang paling fasih tutur
bahasanya di zaman tersebut.
Ibnu Katsir berkata: "Wafatnya beliau terjadi di Mesir
pada tahun 82 H. Hal itu karena beliau datang berkunjung menemui Abdul Aziz bin
Marwan, lalu Abdul Aziz memuliakannya dan bertanya tentang rasa cintanya kepada
Buthainah. Jamil menjawab: 'Sangat mendalam.' Abdul Aziz kemudian meminta Jamil
untuk melantunkan sebagian dari bait-bait syair dan pujiannya, maka Jamil pun
melantunkannya. Abdul Aziz kemudian berjanji akan mempertemukan dirinya dengan
Buthainah, namun ajal terlanjur menjemput Jamil pada tahun 82 H tersebut,
semoga Allah merahmatinya, Amin."
41. Umar bin Ubaidillah bin Ma'mar bin Utsman (Abu Hafsh
Al-Qurashi At-Taimi)
Beliau termasuk salah seorang pemuka yang sangat dermawan
lagi mulia. Banyak wilayah berhasil ditaklukkan melalui tangannya. Beliau
pernah menjadi perwakilan wilayah Basra untuk Ibnu Az-Zubair, dan berhasil
menaklukkan Kabul bersama Abdullah bin Khazim. Beliau jugalah orang yang
berhasil menewaskan Qathari bin Al-Fuja'ah. Beliau meriwayatkan hadis dari Ibnu
Umar, Jabir, dan selainnya, sementara yang mengambil riwayat darinya adalah
Atha' bin Abi Rabah dan Ibnu Aun. Beliau datang sebagai utusan kepada Abdul Malik,
lalu wafat akibat wabah pes (thaun) di Damaskus pada tahun 82 H. Abdul Malik
menyolatkan serta ikut berjalan mengiringi jenazahnya.
42. Zirr bin Hubaisy
Beliau termasuk salah seorang murid terdekat dari sahabat
Ibnu Mas'ud. Umurnya mencapai seratus dua puluh tahun (120 tahun), dan wafat
pada tahun 81 H.
43. Syaqiq bin Salamah (Abu Wa'il)
Beliau sempat mendapati zaman Jahiliyah selama tujuh tahun,
dan memeluk Islam pada masa hidup Nabi ﷺ, lalu wafat pada tahun 82 H.
44. Ummu Ad-Darda Al-Sughra (Namanya Hujaimah, ada yang
menyebut Juhaimah)
Beliau adalah seorang tabi'iyah (generasi setelah sahabat)
yang ahli ibadah, berilmu luas, lagi ahli fikih. Kaum laki-laki dahulu membaca
Al-Qur'an dan belajar fikih kepadanya di bagian dinding sebelah utara Masjid
Jami' Damaskus. Khalifah Abdul Malik bin Marwan bahkan biasa duduk di dalam
halakahnya bersama para penuntut ilmu fikih lainnya meskipun statusnya saat itu
adalah seorang khalifah. Semoga Allah meridainya, beliau wafat pada tahun 82 H.
45. Abdurrahman bin Hujairah Al-Khawlani Al-Mishri
Beliau meriwayatkan hadis dari sekelompok sahabat Nabi.
Penguasa Mesir, Abdul Aziz bin Marwan, telah menggabungkan tiga jabatan
sekaligus untuknya, yaitu jabatan hakim (qadhi), pemberi nasihat/kisah
(qashash), dan pengelola baitulmal. Gaji tahunannya mencapai seribu dinar,
namun beliau tidak pernah menimbun atau menyimpan sedikit pun uang tersebut.
Beliau wafat pada tahun 83 H.
46. Thariq bin Syihab bin Abdi Syams Al-Ahmasi
Beliau termasuk orang yang pernah melihat Nabi ﷺ.
Beliau ikut serta memimpin peperangan pada masa kekhilafahan Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab sebanyak empat puluh sekian kali
peperangan. Beliau wafat di Madinah pada tahun 83 H.
47. Ubaidillah bin Adi bin Al-Khiyar
Beliau sempat mendapati masa hidup Nabi ﷺ, meriwayatkan hadis
dari sekelompok sahabat, serta termasuk salah satu ahli fikih dan ulama dari
kaum Quraisy. Beliau wafat pada tahun 83 H.
48. Imran bin Hittan Al-Khariji
Awal mulanya beliau termasuk golongan Ahlu Sunnah wal
Jama'ah. Kemudian beliau menikahi seorang wanita dari kaum Khawarij yang
berwajah sangat cantik jelita karena beliau mencintainya. Imran sendiri
memiliki rupa wajah yang kurang menarik (buruk rupa). Ia berniat untuk membawa
istrinya tersebut agar kembali kepada ajaran Ahlu Sunnah, namun sang istri
menolak, hingga akhirnya justru Imran yang berubah mengikuti mazhab Khawarij
istrinya.
Beliau termasuk jajaran penyair yang sangat piawai. Beliau
adalah orang yang menggubah bait syair pujian atas peristiwa pembunuhan Ali bin
Abi Thalib oleh Ibnu Muljam:
يَا
ضَرْبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا * إِلَّا لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ
رِضْوَانَا
إِنِّي
لَأَذْكُرُهُ يَوْمًا فَأَحْسَبُهُ * أَوْفَى الْبَرِيَّةِ عِنْدَ اللَّهِ
مِيزَانَا
Wahai sebuah tebasan pedang dari orang yang bertakwa,
tidaklah ia menghendaki dengannya
Melainkan agar ia mencapai keridaan dari Pemilik 'Arsy
(Allah).
Sesungguhnya aku mengingatnya pada suatu hari, lalu aku
mengira dia adalah
Makhluk yang paling sempurna timbangan pahalanya di sisi
Allah.
Sebagian ulama menyanggah bait syair di atas (mengenai
pembunuhan Ali) dengan menggubah bait syair balasan yang menggunakan rima akhir
dan wazan (timpangan nada) yang persis sama:
بَلْ
ضَرْبَةٌ مِنْ شَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا * إِلَّا لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ
خُسْرَانَا
إِنِّي
لَأَذْكُرُهُ يَوْمًا فَأَحْسَبُهُ * أَشْقَى الْبَرِيَّةِ عِنْدَ اللَّهِ
مِيزَانَا
Bukan, melainkan itu adalah tebasan pedang dari orang
yang celaka, tidaklah ia menghendaki dengannya
Melainkan agar ia mencapai kerugian (azab) dari Pemilik
'Arsy.
Sesungguhnya aku mengingatnya pada suatu hari, lalu aku
mengira dia adalah
Makhluk yang paling celaka timbangan dosanya di sisi
Allah.
Imran bin Hittan wafat pada tahun 84 H.
49. Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abi Al-Ash
Al-Umayyah
Beliau lahir di Madinah, kemudian memasuki negeri Syam
bersama ayahnya, Marwan. Ayahnya mengangkat beliau untuk memimpin seluruh
wilayah negeri Mesir pada tahun 65 H, dan beliau terus menjadi gubernur di sana
sampai wafat pada tahun 85 H. Abdul Aziz bin Marwan meriwayatkan hadis dari
ayahnya, dari Abdullah bin Az-Zubair, Uqbah bin Amir, dan Abu Hurairah.
Ketika menjelang wafatnya, beliau berkata: "Demi
Allah, aku sungguh berharap sekiranya aku dahulu bukanlah sesuatu yang
disebut-sebut orang, dan aku berharap sekiranya aku hanyalah air yang mengalir
ini, atau menjadi tumbuh-tumbuhan di tanah Hijaz." Abdul Aziz bin
Marwan termasuk jajaran amir yang paling baik, sangat mulia, dermawan, lagi
banyak dipuji. Beliau merupakan ayah kandung dari Khalifah yang lurus (Rasyid),
Umar bin Abdul Aziz. Umar mewarisi akhlak mulia ayahnya ini, bahkan
mengungggulinya dalam banyak perkara lainnya.
50. Aban bin Utsman bin Affan
Beliau adalah mantan amir Madinah, dan termasuk ke dalam
sepuluh ahli fikih kota Madinah yang terkenal. Hal itu dinyatakan oleh Yahya
bin Al-Qatthan, dan Muhammad bin Saad berkata: "Beliau adalah orang
yang tepercaya (tsiqah), memiliki sedikit gangguan pendengaran, menderita
penyakit kusta ringan yang tampak jelas, dan terserang penyakit lumpuh (stroke)
sebelum wafatnya." Beliau wafat pada tahun 85 H.
51. Watsilah bin Al-Asqa'
Beliau ikut menyaksikan Perang Tabuk, kemudian ikut dalam
pembebasan kota Damaskus lalu menetap di sana. Beliau merupakan sahabat Nabi
terakhir yang wafat di Damaskus, yaitu pada tahun 85 H.
52. Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufrah (Shakhr
bin Harb bin Umayyah)
Beliau adalah orang Quraisy yang paling berilmu dalam
berbagai cabang pengetahuan. Beliau memiliki keahlian yang mendalam di bidang
kedokteran, serta memiliki banyak teori dan ulasan dalam ilmu kimia. Khalid
adalah seorang yang fasih, orator ulung, sekaligus seorang penyair. Beliau
wafat pada tahun 85 H.
53. Abdullah bin Al-Harits bin Jaz' Az-Zubaidi
Beliau ikut menyaksikan pembebasan negeri Mesir dan tinggal
menetap di sana. Beliau merupakan sahabat Nabi yang paling terakhir wafat di
tanah Mesir, yaitu pada tahun 86 H, dan beliau memiliki beberapa riwayat hadis.
54. Arthah bin Zafar bin Abdullah Al-Ghatafani (Abu
Al-Walid Al-Murri)
Beliau wafat pada tahun 86 H. Allah memberikan karunia umur
yang sangat panjang kepadanya hingga melewati usia seratus tiga puluh tahun
(130 tahun). Semasa hidupnya ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang mulia,
ditaati, banyak dipuji, serta seorang penyair ulung yang berwawasan luas.
Beliau pernah datang sebagai utusan kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
55. Yunus bin Atiyyah Al-Hadrami
Beliau adalah hakim agung (qadhi) negeri Mesir, sekaligus
menjabat sebagai kepala kepolisian (shahibus syurthah) pada masa-masa
pemerintahan Abdul Aziz bin Marwan. Beliau wafat pada tahun 86 H.
56. Mutharrif bin Abdullah bin Al-Syikhkhir
Beliau termasuk ke dalam golongan tabi'in senior, dan
termasuk salah satu murid terdekat dari sahabat Imran bin Hushain, serta
dikenal sebagai orang yang dikabulkan doa-doanya (mustajab ad-da'wah).
Beliau pernah berkata kepada sebagian saudaranya: "Apabila
engkau memiliki suatu keperluan kepadaku, janganlah engkau langsung
mengatakannya kepadaku secara lisan; karena sesungguhnya aku benci melihat rona
kehinaan meminta-minta terpancar di wajahmu. Akan tetapi, tulislah keperluanmu
itu di atas selembar kertas lalu serahkanlah kepadaku."
Beliau dahulu tinggal di daerah pedalaman (badui), dan
selalu datang berkunjung ke kota untuk menunaikan salat Jumat sambil membawa
kabar gembira. Mutharrif wafat di Basra pada tahun 86 H, dan beliau memiliki
kedudukan yang sangat terhormat di mata para khalifah, raja, dan para amir.
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar