Kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik (96 - 99 H)

Ilustrasi suasana pengepungan Konstantinopel pada tahun 98 Hijriah. Seorang panglima digambarkan dari belakang mengamati kota berbenteng besar di tepi laut, sementara ribuan prajurit berkemah dengan persediaan logistik yang tersusun rapi. Armada kapal memenuhi perairan di depan tembok kota, menggambarkan operasi gabungan melalui jalur darat dan laut.

Bab Pertama: Biografi dan Kekhalifahannya

Silsilah dan Keluarganya

Beliau adalah Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan bin al-Hakam bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams al-Qurasyi al-Umawi, Abu Ayyub. Ibunya adalah seorang Ummu Walid (budak wanita yang melahirkan anak tuannya) bernama Walladah binti al-Abbas bin Huzn al-Absi.

Beliau lahir di Madinah dan tumbuh besar di Syam di bawah asuhan ayahnya. Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya, dari kakeknya, dari Aisyah Ummul Mukminin mengenai kisah al-Ifki (berita bohong).

Tambahan:

Ibnu Katsir tidak menyebutkan anak-anak Sulaiman bin Abdul Malik, namun Mush'ab az-Zubairi menyebutkannya dalam kitab Nasab Quraisy sebanyak dua belas anak laki-laki, yaitu:

  • Ayyub: Beliau dicalonkan oleh ayahnya sebagai putra mahkota, namun meninggal dunia pada masa hidup ayahnya. Ibunya adalah Ummu Aban binti Aban bin al-Hakam bin Abi al-Ash.
  • Yazid, Al-Qasim, dan Said (yang meninggal saat kecil): Ibu mereka adalah Ummu Yazid binti Abdullah bin Yazid bin Muawiyah.
  • Yahya dan Ubaidillah: Ibu mereka adalah Aisyah binti Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan.
  • Abdul Wahid: Beliau pernah menjadi gubernur Madinah dan Makkah untuk Marwan bin Muhammad.
  • Al-Harits, Amr, Umar, Abdurrahman, dan Daud: Mereka lahir dari ibu yang berbeda-beda (ummahatul aulad).

Al-Hafiz Ibnu Asakir mengatakan: Beliau membangun sebuah rumah besar di Damaskus di dekat Bab ash-Shaghir, tepatnya di lokasi jalan yang dikenal dengan nama Jalan Muhriz. Beliau menjadikannya sebagai istana pemerintahan (Darul Imarah) dan membangun sebuah kubah kuning di dalamnya, meniru Kubah Hijau yang dibangun oleh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu.

Sifat-Sifatnya

Beliau bertubuh tinggi, rupawan, berkulit putih, ramping, berwajah tampan, dan kedua alisnya menyambung. Beliau adalah seorang yang fasih, baligh (retorikanya baik), fasih berbahasa Arab, memiliki pemahaman agama yang baik, mencintai kebaikan serta kebenaran beserta para penganutnya, mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah, serta menampakkan syiar-syiar Islam, rahimahullah.

Para sejarawan menyebutkan bahwa Sulaiman memiliki porsi makan yang besar (lahap). Mereka menukil kisah-kisah yang aneh mengenai hal tersebut, namun di dalamnya terdapat unsur berlebih-lebihan.

Keutamaan-Keutamaannya

Beliau adalah sosok yang fasih, mengutamakan keadilan, dan menyukai perang di jalan Allah (ghazwu). Beliau telah mengirimkan pasukan untuk mengepung Konstantinopel hingga akhirnya penduduk di sana menyepakati perdamaian dengan syarat membangun sebuah masjid jami di kota tersebut.

Ketika ayahnya wafat pada tahun 86 H dan kekhalifahan beralih kepada saudaranya, al-Walid, beliau berkedudukan di sisi saudaranya layaknya seorang menteri dan penasihat. Beliau pulalah yang mendorong pembangunan Masjid Jami Damaskus (Masjid Umayyah).

Pada masa pemerintahannya, pembangunan Masjid Umayyah rampung dan area makshura (ruang khusus khalifah) diperbarui. Beliau mengangkat sepupunya, Umar bin Abdul Aziz, sebagai penasihat sekaligus menterinya, dan berkata kepadanya: "Kami telah diserahi urusan kekuasaan ini seperti yang engkau lihat, sedangkan kami tidak memiliki pengetahuan tentang cara mengaturnya. Maka, apa saja yang engkau lihat demi kemaslahatan masyarakat umum, perintahkanlah agar hal itu ditulis (diberlakukan)."

Di antara kebijakan tersebut adalah memecat para gubernur bawahan al-Hajjaj, mengeluarkan orang-orang dari penjara, membebaskan para tawanan, memberikan santunan di Irak, dan mengembalikan waktu salat ke waktu awalnya yang utama, di samping perkara-perkara baik lainnya yang beliau dengar dari Umar bin Abdul Aziz, rahimahumallah.

Muhammad bin Sirin berkata: "Semoga Allah merahmati Sulaiman bin Abdul Malik. Beliau membuka kekhalifahannya dengan kebaikan dan menutupnya dengan kebaikan; beliau membukanya dengan menghidupkan kembali salat pada waktu-waktu utamanya, dan menutupnya dengan mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah penggantinya."

Pada suatu malam, Sulaiman mendengar suara nyanyian di dalam perkemahan pasukannya. Beliau terus menyelidikinya hingga orang-orang yang bernyanyi itu dihadapkan kepadanya, lalu beliau memerintahkan agar mereka dikebiri.

Dikatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz kemudian berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tindakan itu adalah mutslah (penyiksaan yang merusak anggota tubuh)," maka beliau pun membatalkan perintah tersebut dan membiarkan mereka.

Al-Haitsam bin Adi menukil dari asy-Sya'bi yang berkata: Sulaiman bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji. Ketika melihat kerumunan manusia pada musim haji, beliau berkata kepada Umar bin Abdul Aziz: "Tidakkah engkau melihat kerumunan makhluk ini, yang jumlahnya tidak ada yang mampu menghitungnya selain Allah, dan tidak ada yang mampu melapangkan rezeki mereka selain Dia?" Umar menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, mereka adalah rakyatmu pada hari ini, namun besok di akhirat mereka akan menjadi penuntutmu." Maka Sulaiman menangis dengan sangat tersedu-sedu, lalu berkata: "Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan."

Beliau pernah bersumpah tidak akan meninggalkan Dabiq sampai datang kabar gembira mengenai penaklukan Konstantinopel kepadanya atau beliau mati sebelum hal itu terjadi. Ternyata beliau wafat sebelum penaklukan itu, rahimahullah, dan semoga Allah memuliakan tempat rujukan kembalinya.

Ibnu Katsir berkata: Beliau —rahimahullah— telah mewajibkan atas dirinya sendiri ketika keluar dari Damaskus menuju Marj Dabiq untuk tidak kembali ke Damaskus sampai kota tersebut (Konstantinopel) ditaklukkan atau beliau wafat. Karena beliau wafat di sana, maka dengan niat tersebut beliau mendapatkan pahala ribath (berjaga-jaga) di jalan Allah. Atas izin Allah, beliau termasuk orang yang pahalanya terus mengalir sampai hari kiamat, rahimahullah.

Wafatnya

Muhammad bin Ishaq berkata: Wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik terjadi di Dabiq yang termasuk wilayah Qinnasrin, pada hari Jumat saat berlalu sepuluh malam dari bulan Safar tahun (99 H).

Begitu pula yang dinyatakan oleh mayoritas ulama (jumhur) mengenai tanggal wafatnya, dalam usia 45 tahun, dan ada yang mengatakan 43 tahun. Masa kekhalifahannya berlangsung selama dua tahun delapan bulan.

Al-Dzahabi berkata: Sulaiman bin Abdul Malik termasuk jajaran khalifah yang terbaik. Beliau menyebarkan panji jihad dan mempersiapkan seratus ribu pasukan baik lewat darat maupun laut. Mereka mengepung Konstantinopel dan pertempuran serta pengepungan berlangsung sengit selama lebih dari satu tahun, hingga penduduknya berdamai dengan syarat membangun masjid di sana.

Al-Asma'i meriwayatkan bahwa ukiran pada cincin stempel beliau berbunyi: "Aku beriman kepada Allah dengan penuh keikhlasan."

Kekhalifahannya

Baiatnya

Beliau dibaiat sebagai khalifah setelah wafatnya sang saudara, al-Walid, pada hari Sabtu pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun 96 H. Beliau adalah putra mahkota setelah saudaranya berdasarkan wasiat dari ayah mereka, Abdul Malik.

Sebelum wafatnya, al-Walid sebenarnya sempat bertekad untuk mencopot saudaranya, Sulaiman, dari posisi putra mahkota dan mengalihkannya kepada anaknya sendiri, yaitu Abdul Aziz bin al-Walid. Al-Hajjaj, Qutaibah bin Muslim, serta sekelompok penduduk Syam menuruti rencana tersebut, namun rencana itu tidak sempat terlaksana secara teratur hingga akhirnya al-Walid wafat.

Ketika saudaranya, al-Walid, wafat, Sulaiman sedang berada di Ramlah dan berniat untuk menetap di Yerusalem (Al-Quds). Delegasi-delegasi pun datang menemuinya di Baitul Maqdis, namun mereka tidak melihat adanya penyambutan resmi di sana. Beliau biasanya duduk di sebuah kubah di pelataran masjid yang berada di sebelah utara batu suci (shakhrah), sementara tokoh-tokoh terkemuka duduk di atas kursi-kursi, lalu harta benda dibagikan di antara mereka. Setelah itu, beliau memutuskan untuk pergi ke Damaskus dan memasukinya.

Khotbahnya saat Menjabat Kekhalifahan

Ucapan pertama yang disampaikan oleh Sulaiman bin Abdul Malik saat menjabat sebagai khalifah adalah perkataannya:

"Segala puji bagi Allah yang berbuat apa saja yang Dia kehendaki, meninggikan siapa saja yang Dia kehendaki, merendahkan siapa saja yang Dia kehendaki, memberi kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan menahan pemberian dari siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya dunia adalah negeri yang penuh tipu daya, tempat kebatilan, dan perhiasan yang fana. Dunia membuat orang yang menangis tertawa, membuat orang yang tertawa menangis, menakuti orang yang merasa aman, dan memberi rasa aman kepada orang yang ketakutan. Dunia memiskinkan orang yang membelinya dan melelahkan orang yang fakir di dalamnya, condong berpaling, lagi mempermainkan penghuninya. Wahai hamba-hamba Allah, jadikankanlah Kitabullah sebagai panutan, rida lah dengannya sebagai pemutus perkara, dan jadikanlah ia sebagai pemimpin kalian. Karena sesungguhnya Al-Qur'an menghapus kitab-kitab sebelumnya dan tidak akan pernah dihapus oleh kitab apa pun setelahnya. Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, bahwa Al-Qur'an ini menyingkap tipu daya setan dan kedengkiannya, sebagaimana cahaya pagi menyingkap kegelapan malam ketika ia mulai berlalu..."

Pengangkatan Ayyub sebagai Putra Mahkota

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 98 H, Sulaiman bin Abdul Malik mengambil sumpah setia (baiat) untuk anaknya, Ayyub, agar menjadi khalifah setelahnya. Beliau mengalihkan hak putra mahkota dari saudaranya, Yazid, kepada anaknya, Ayyub, dan bersiap menghadapi segala kemungkinan dari saudaranya. Namun, Ayyub wafat pada masa hidup ayahnya.

Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai Putra Mahkota

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Raja' bin Haiwah—seorang menteri yang jujur bagi Bani Umayyah—yang berkata: Sulaiman bin Abdul Malik meminta pendapatku ketika beliau tengah sakit untuk mengangkat salah seorang anaknya yang masih kecil dan belum baligh.

Aku berkata: "Sesungguhnya di antara hal yang menjaga seorang khalifah di dalam kuburnya adalah mengangkat orang yang saleh untuk memimpin kaum muslimin setelahnya."

Kemudian beliau meminta pendapatku tentang pengangkatan anaknya yang lain, Daud. Aku berkata kepadanya: "Dia sedang tidak ada di sisimu, ia berada di Konstantinopel, dan engkau tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah wafat?"

Sulaiman bertanya: "Lalu menurutmu siapa?"

Aku menjawab: "Bagaimana pendapatmu sendiri, wahai Amirul Mukminin?"

Beliau berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Abdul Aziz?"

Aku menjawab: "Demi Allah, aku mengenalnya sebagai orang yang baik, utama, lagi muslim."

Beliau berkata: "Demi Allah, dia memang seperti itu, namun aku khawatir saudara-saudaraku tidak akan rida dengan hal tersebut."

Maka Raja' menyarankan agar beliau menjadikan Yazid bin Abdul Malik sebagai putra mahkota setelah Umar bin Abdul Aziz, guna meredakan penolakan dari Bani Marwan. Lalu Sulaiman menulis surat wasiat berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، هَذَا كِتَابٌ مِنْ عَبْدِ اللهِ سُلَيْمَانَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ لِعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، إِنِّي قَدْ وَلَّيْتُكَ الْخِلَافَةَ مِنْ بَعْدِي، وَمِنْ بَعْدِهِ يَزِيدَ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ، فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا ، وَاتَّقُوا اللهَ وَلَا تَخْتَلِفُوا فَيُطْمَعَ فِيكُمْ .

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat dari hamba Allah, Sulaiman Amirul Mukminin, untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya aku telah menyerahkan kekhalifahan setelahku kepadamu, dan setelahmu kepada Yazid bin Abdul Malik. Maka dengarkanlah kepadanya dan taatilah, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kalian berselisih yang membuat musuh-musuh mengincar kalian.

Beliau lalu memerintahkan kepala pengawal (shahibus syurthah) untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarganya, kemudian mengambil baiat mereka atas nama siapa pun yang tertulis di dalam surat مختوم (tertutup) tersebut, dan mereka pun membaiatnya. Sungguh, alangkah baiknya apa yang telah beliau lakukan itu.

Bab Kedua: Peristiwa dan Penaklukan di Masa Pemerintahannya

Terbunuhnya Qutaibah bin Muslim

Qutaibah bin Muslim menjabat sebagai gubernur Khurasan pada masa kekhalifahan al-Walid bin Abdul Malik. Ketika kabar mengenai pengangkatan Sulaiman sebagai khalifah sampai kepadanya, ia merasa takut akan keselamatan dirinya. Hal ini dikarenakan sebelumnya ia bekerja sama dengan al-Walid dan al-Hajjaj bin Yusuf untuk mencopot Sulaiman dari posisi putra mahkota, meskipun rencana tersebut akhirnya gagal.

Oleh karena itu, Qutaibah mengirimkan surat pertama yang isinya menyatakan belasungkawa atas wafatnya saudara khalifah sekaligus ucapan selamat atas pengangkatannya sebagai khalifah. Di dalam surat tersebut, ia mengungkit pengabdiannya, penaklukan-penaklukan wilayah, kota, serta daerah besar yang berhasil diraih melalui tangannya. Ia juga menyatakan akan tetap taat dan setia sebagaimana loyalitasnya kepada al-Walid sebelumnya, dengan syarat ia tidak dicopot dari jabatan gubernur Khurasan.

Kemudian, ia menulis surat kedua yang menceritakan tentang pertempuran, penaklukan, serta kewibawaannya di mata para raja dan bangsa non-Arab. Ia juga bersumpah di dalamnya bahwa jika khalifah mencopotnya dan menunjuk Yazid sebagai pengganti, maka ia benar-benar akan memakzulkan Sulaiman dari kursi kekhalifahan.

Selanjutnya, ia menulis surat ketiga yang secara terang-terangan menyatakan pemakzulan Sulaiman sepenuhnya. Qutaibah mengirimkan ketiga surat tersebut melalui seorang kurir pos dan berpesan kepadanya: "Serahkan surat pertama kepadanya. Jika ia membacanya lalu menyerahkannya kepada Yazid bin al-Muhallab, maka berikan surat kedua. Jika ia membaca surat kedua dan menyerahkannya kepada Yazid, maka berikan surat ketiga."

Ketika Sulaiman membaca surat pertama, ia menyerahkannya kepada Yazid, lalu Yazid membacanya. Kurir tersebut kemudian menyodorkan surat kedua, dan setelah membacanya, Sulaiman kembali menyerahkannya kepada Yazid. Kurir pun menyodorkan surat ketiga, dan setelah membacanya, ternyata surat itu berisi pernyataan tegas tentang pencopotan dan pemakzulannya. Seketika wajah Sulaiman berubah. Ia lalu menyegel surat itu dan memeganginya sendiri tanpa menyerahkannya kepada Yazid, kemudian memerintahkan agar kurir pos tersebut diistirahatkan di rumah singgah tamu.

Pada waktu malam, khalifah memanggil kurir tersebut kembali, lalu memberinya emas beserta sepucuk surat keputusan yang menetapkan bahwa Qutaibah tetap dipertahankan sebagai gubernur Khurasan. Bersamaan dengan itu, Sulaiman juga mengirimkan kurir lain dari pihaknya untuk mengukuhkan jabatan tersebut. Namun, ketika kedua kurir itu tiba di wilayah Khurasan, mereka mendengar kabar bahwa Qutaibah telah telanjur mengumumkan pemakzulan terhadap khalifah. Kurir Sulaiman pun menyerahkan surat ketetapan yang dibawanya kepada kurir Qutaibah, lalu tak lama kemudian mereka berdua mendengar kabar tentang tewasnya Qutaibah sebelum kurir Sulaiman sempat kembali.

Penyebab dari peristiwa tersebut adalah karena Qutaibah mengumpulkan pasukan serta bala tentara, lalu membulatkan tekad untuk memakzulkan Sulaiman dan melepaskan diri dari ketaatan kepadanya. Di hadapan pasukannya, ia mengungkit-ungkit jasa, penaklukan, keadilan, serta besarnya tunjangan harta yang pernah ia berikan kepada mereka. Namun setelah ia selesai berpidato, tidak ada seorang pun dari pasukan yang menyambut atau mendukung seruannya.

Melihat reaksi tersebut, Qutaibah mulai mencela, mencaci, dan merendahkan mereka suku demi suku serta kelompok demi kelompok. Hal ini memicu kemarahan pasukan sehingga mereka berbalik membencinya, mencerai-beraikan diri, sepakat untuk menentangnya, dan berusaha untuk membunuhnya. Orang yang memimpin gerakan perlawanan ini adalah seorang pria bernama Waki' bin Hassan bin Abi Sud al-Yarbu'i al-Tamimi. Ia mengumpulkan massa yang sangat banyak lalu menyerang Qutaibah hingga akhirnya berhasil membunuhnya pada bulan Zulhijah tahun 96 H. Bersamanya, terbunuh pula sebelas orang yang terdiri dari saudara-saudara serta keponakan-keponakannya.

Ibnu Katsir berkata: "Qutaibah bin Muslim al-Bahili termasuk jajaran pemimpin yang utama dan terbaik. Beliau adalah salah satu panglima besar yang mulia, pemberani, ahli perang, memiliki rekam jejak penaklukan yang gemilang, serta pemikiran yang terpuji. Melalui tangannya, Allah telah memberi petunjuk kepada begitu banyak manusia yang jumlahnya tidak ada yang tahu pasti kecuali Allah, sehingga mereka memeluk Islam dan tunduk kepada Allah 'Azza wa Jalla. Beliau juga telah menaklukkan banyak wilayah luas, daerah-daerah besar, serta kota-kota yang agung. Allah Subhanahu wa Ta'ala tentu tidak akan menyia-nyiakan usahanya dan tidak akan mengecewakan keletihan serta jihadnya."

"Akan tetapi, beliau melakukan satu kesalahan fatal yang menjadi penyebab kematiannya, dan melakukan suatu tindakan yang menjatuhkan harga dirinya sendiri. Beliau melepaskan diri dari ketaatan sehingga maut mendahuluinya, dan beliau memisahkan diri dari jemaah (kaum muslimin) sehingga meninggal dalam kondisi mati jahiliah. Namun, beliau memiliki amalan-amalan saleh terdahulu yang dengannya semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menghapus kesalahan-kesalahannya. Semoga Allah memaafkannya, mengampuninya, serta menerima segala kepayahan yang telah beliau rasakan saat menghadapi musuh-musuh Islam."

Penaklukan-Penaklukan

Jihad Melawan Bangsa Romawi

Pada tahun 97 H, Sulaiman bin Abdul Malik mempersiapkan pasukan dalam skala besar untuk menuju Konstantinopel. Beliau menunjuk putranya, Daud, sebagai panglima pasukan musim panas (ash-Sha'ifah), yang kemudian berhasil menaklukkan benteng al-Mar'ah. Sementara itu, Maslamah bin Abdul Malik melakukan serangan ke wilayah al-Wadhahiyyah dan berhasil merebut bentengnya. Maslamah juga menyerang wilayah Barjamah dan berhasil menaklukkan banyak benteng di tanah Romawi.

Upaya Penaklukan Konstantinopel

Setelah Sulaiman bin Abdul Malik memegang kekhalifahan, beliau memerintahkan penyerangan Konstantinopel pada tahun 97 H. Beliau mengirimkan sekitar 120.000 prajurit tempur melalui jalur darat yang berasal dari penduduk Syam, Jazirah, dan Mosul. Sementara melalui jalur laut, beliau mengirimkan 1.000 kapal dari penduduk Mesir dan Afrika di bawah komando Umar bin Hubairah.

Kemudian pada tahun 98 H, beliau memperkuat armada dengan mengutus saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, untuk memimpin pengepungan Konstantinopel. Maslamah berangkat didampingi oleh putra khalifah, Daud bin Sulaiman bin Abdul Malik, beserta sekelompok anggota keluarga kerajaan. Seluruh strategi ini dijalankan berdasarkan saran dan arahan dari Musa bin Nushair yang berada di belakang pasukan penyerang tersebut.

Maslamah pun bergerak ke sana membawa pasukan yang sangat besar, yang kemudian bergabung dengan pasukan yang sudah ada di lokasi. Sebelumnya, Maslamah telah memerintahkan setiap prajurit untuk membawa persediaan makanan sebanyak dua mud di atas punggung kuda masing-masing. Ketika mereka sampai di Konstantinopel, seluruh persediaan makanan itu dikumpulkan hingga tumpukannya menyerupai gunung-gunung.

Maslamah lalu berkata kepada pasukannya: "Biarkan persediaan makanan ini tetap utuh, dan makanlah dari apa yang kalian temukan di wilayah mereka. Bercocok tanamlah di lahan-lahan pertanian yang ada lalu manfaatkan hasilnya, dan bangunlah rumah-rumah dari kayu untuk kalian. Sesungguhnya kita tidak akan mundur dari kota ini sampai kita berhasil menaklukkannya, insya Allah."

Di tengah pengepungan, seorang pria Nasrani bernama Ilyun (Leo) mendekati Maslamah. Ia membuat perjanjian rahasia dengan Maslamah agar dibantu merebut takhta kerajaan Romawi. Pada awalnya, Ilyun memperlihatkan sikap setia dan membantu pasukan muslim. Kebetulan saat itu raja Konstantinopel wafat, sehingga Ilyun masuk ke dalam kota membawa surat pesan dari Maslamah. Namun, setelah berada di dalam, penduduk Romawi justru berkata kepada Ilyun: "Palingkanlah pasukan muslim itu dari kami, maka kami akan mengangkatmu menjadi raja kami."

Mendengar hal itu, Ilyun kembali menemui Maslamah dan mulai menjalankan siasat tipu daya serta kelicikan. Ia terus memperdaya hingga akhirnya—semoga Allah memburukkan rupanya—ia berhasil membakar seluruh cadangan makanan milik kaum muslimin. Siasat itu dilakukannya dengan berkata kepada Maslamah: "Selama penduduk kota melihat tumpukan makanan ini ada di tanganmu, mereka akan mengira bahwa engkau hanya ingin memperlama jalannya pertempuran. Jika engkau membakarnya, mereka akan melihat kesungguhan tekadmu dan mereka akan segera menyerahkan kota ini kepadamu dengan cepat."

Maslamah mempercayainya lalu memerintahkan agar makanan tersebut dibakar. Setelah itu, Ilyun segera melarikan diri menggunakan kapal pada malam hari sembari menjarah harta benda milik pasukan muslim yang bisa ia bawa. Keesokan harinya, ia sudah berada di dalam kota dan berbalik memerangi kaum muslimin. Ia menampakkan permusuhan yang nyata, memperkuat pertahanan kota, dan seluruh bangsa Romawi bersatu di bawah komandonya. Akibatnya, kondisi pasukan muslim menjadi sangat terjepit dan menderita kelaparan yang luar biasa, hingga mereka terpaksa memakan segala hal yang bisa ditemukan kecuali tanah.

Kondisi berat ini terus mereka alami hingga datangnya kabar mengenai wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dan diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah pengganti. Pasukan muslim akhirnya ditarik mundur untuk kembali ke Syam atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz setelah mereka melalui kepayahan dan ujian yang sangat berat. Kendati demikian, Maslamah tidak bersedia mundur sebelum ia berhasil membangun sebuah masjid yang kokoh, kuat, berpelataran luas, dan menjulang tinggi ke angkasa di dalam kota Konstantinopel.

Penaklukan Dehistan dan Jurjan

Pada tahun 98 H, Yazid bin Al-Muhallab menyerang Dehistan yang termasuk bagian dari wilayah Cina. Ia mengepungnya dan bertempur di sana dengan sengit sampai akhirnya berhasil menguasainya. Ia menghukum mati 4.000 orang Turki yang ada di sana setelah mereka tertawan, serta merampas harta benda, perabotan, dan perlengkapan dalam jumlah yang sangat banyak, bernilai tinggi, dan indah, hingga tidak dapat terhitung atau digambarkan.

Setelah itu, ia bergerak menuju Jurjan. Penguasa Jurjan meminta bantuan kepada bangsa Dailam, yang kemudian datang untuk menolongnya. Yazid bin Al-Muhallab pun bertempur melawan mereka. Dalam pertempuran itu, Muhammad bin Abdul Rahman bin Abi Sabrah Al-Ju'fi—seorang penunggang kuda yang sangat berani dan luar biasa—menyerang raja Dailam lalu membunuhnya, hingga Allah Azza wa Jalla membuat pasukan musuh kocar-kacir.

Kemudian Yazid bin Al-Muhallab membulatkan tekad untuk mengepung kota Jurjan. Ia terus mempersempit ruang gerak penguasanya sampai sang penguasa bersedia berdamai dengan membayar denda sebesar 700.000 dirham, 400.000 dinar, 200.000 helai pakaian, 400 ekor keledai yang sarat muatan tanaman za'faran, serta 400 orang tawanan pria yang di atas kepala setiap prianya terdapat perisai, dan di atas perisai itu ada selendang (thailasan), cawan perak, serta selembar kain sutra.

Kota Jurjan ini sebenarnya dahulu pernah ditaklukan secara damai oleh Said bin Al-Ash agar mereka membayar pajak kharaj setiap tahunnya. Namun, mereka terus mengurangi jumlah pembayarannya setiap tahun, hingga akhirnya menolak sama sekali dan membelot. Oleh karena itu, Yazid bin Al-Muhallab memerangi mereka kembali dan mengembalikan status perdamaian kota tersebut seperti pada zaman Said bin Al-Ash. Yazid bin Al-Muhallab pun memperoleh harta yang sangat melimpah dari kota Jurjan ini.

Ibnu Jarir berkata: "Dikatakan bahwa Yazid bin Al-Muhallab memimpin 120.000 pasukan dalam perang Jurjan, 60.000 di antaranya merupakan pasukan dari Syam. Dengan ditaklukannya Jurjan, wilayah-wilayah tersebut menjadi aman dan jalur-jalur perjalanan dapat dilewati, padahal sebelumnya jalur tersebut sangat menakutkan."

Perjanjian Damai dengan Penduduk Tabaristan

Yezid bin Al-Muhallab bertekad untuk melanjutkan perjalanan menuju Tabaristan. Ia mengirimkan pasukan garis depan terlebih dahulu yang berisi 4.000 orang dari kalangan tokoh pilihan. Ketika kedua pihak bertemu, terjadilah pertempuran yang sangat sengit, hingga 4.000 orang dari kaum muslimin gugur dalam pertempuran tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).

Meskipun demikian, Yazid tetap teguh pada keputusannya untuk menguasai wilayah tersebut bagaimanapun caranya. Ia terus menekan hingga penguasa wilayah tersebut, yaitu Al-Ishbahbad, mengajak berdamai dengan menyerahkan harta yang banyak, yaitu sebesar 700.000 setiap tahunnya, di samping barang-barang berharga serta budak sahaya.

Bab Ketiga: Wilayah Kekuasaan dan Ibadah Haji

Wilayah Kekuasaan (Gubernur-Gubernur Daerah)

Wilayah Madinah

Pada bulan Ramadan tahun 96 H, Khalifah Sulaiman mencopot Utsman bin Hayyan dari jabatan gubernur Madinah, lalu mengangkat Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm sebagai penggantinya, yang mana beliau merupakan salah seorang ulama.

Wilayah Makkah

Pada tahun 96 H, yang menjabat sebagai gubernur Makkah adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Khalid bin Asid.

Wilayah Irak

Pada tahun 96 H, yang menjabat sebagai gubernur Irak adalah Yazid bin al-Muhallab.

Wilayah Khurasan

Pada tahun 96 H, yang menjabat sebagai gubernur Khurasan adalah Waki' bin Abi Sud.

Kemudian pada tahun 97 H, Sulaiman menyerahkan kepemimpinan wilayah Khurasan kepada Yazid bin al-Muhallab, sebagai tambahan dari wilayah Irak yang sudah berada di bawah kekuasaannya, serta mencopot Waki' bin Sud dari jabatan tersebut.

Pelaksanaan Ibadah Haji

Pada tahun 96 H, orang-orang dipimpin ibadah hajinya oleh Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, yang merupakan gubernur Madinah.

Pada tahun 97 H, orang-orang dipimpin ibadah hajinya oleh Amirul Mukminin sendiri, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik.

Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Masa Kekhalifahannya

1. Al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Beliau adalah Abu Muhammad al-Qurasyi al-Hasyimi, ibunya bernama Khaulah binti Manzhur al-Fazari. Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya, dari istrinya yang bernama Fatimah binti al-Husain, dan hadis dari beliau diriwayatkan oleh anaknya, Abdullah, serta sekelompok ulama lainnya.

Beliau pernah datang menemui Khalifah Abdul Malik bin Marwan, lalu khalifah memuliakannya, membelanya dari tindakan al-Hajjaj, serta menetapkannya seorang diri untuk mengurusi pengelolaan harta sedekah (wakaf) Ali bin Abi Thalib.

Al-Hafiz Ibnu Asakir telah menulis biografi beliau dengan sangat baik dan menyebutkan riwayat-riwayat tentang beliau yang menunjukkan kepemimpinan, keluasan ilmu, serta keteguhannya di atas sunnah, rahimahullah. Beliau wafat di Madinah pada tahun 97 H.

2. Musa bin Nushair

Beliau adalah Abu Abdirrahman al-Lakhmi, mantan budak (maula) mereka, dan ada pula yang mengatakan bahwa beliau adalah mantan budak Bani Umayyah.

Beliau adalah orang yang menaklukkan wilayah Maroko (Maghrib) dan berhasil memperoleh harta rampasan perang darinya dalam jumlah sangat banyak yang tidak terhitung dan tidak dapat dilukiskan. Beliau memiliki rekam jejak sejarah yang sangat masyhur dan luar biasa di sana.

Beliau meriwayatkan hadis dari Tamim ad-Dari, sedangkan yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah anaknya, Abdul Aziz, serta Yazid bin Masruq al-Yahshubi.

Beliau pernah memimpin pasukan perang laut untuk Muawiyah, lalu menyerang Siprus dan membangun benteng-benteng di sana, seperti Benteng al-Maghushah, Benteng Yanis, serta benteng-benteng lainnya yang beliau dirikan di Siprus. Saat itu beliau bertindak sebagai perwakilan Muawiyah di wilayah tersebut.

Beliau juga menghadiri peristiwa perang Marj Rahith bersama adh-Dhahhak bin Qais. Ketika adh-Dhahhak terbunuh, Musa bin Nushair meminta perlindungan kepada Abdul Aziz bin Marwan. Kemudian ketika Marwan bin al-Hakam menguasai wilayah Mesir, Musa ikut bersamanya, lalu Marwan meninggalkannya di sisi anaknya, Abdul Aziz. Selanjutnya, ketika Abdul Malik bin Marwan menguasai wilayah Irak, ia menjadikan Musa sebagai menteri/penasihat di sisi saudaranya, Bisyr bin Marwan.

Musa bin Nushair ini adalah sosok yang memiliki pandangan tajam, ahli strategi, tegas, serta berpengalaman luas dalam dunia peperangan.

Kemudian Musa bin Nushair diangkat menjadi gubernur wilayah Afrika pada tahun 79 H, lalu beliau berhasil menaklukkan banyak daerah. Penduduk Maghrib memeluk Islam lewat tangan beliau, dan beliau menyebarkan ajaran agama serta Al-Qur'an di kalangan mereka. Apabila beliau berjalan ke suatu tempat, harta benda terpaksa diangkut dengan menggunakan kereta roda karena saking banyaknya, hingga hewan-hewan ternak pun tidak sanggup memikulnya.

Beliau juga menaklukkan wilayah Andalusia, yang merupakan negeri penuh dengan kota, desa, dan kawasan subur. Beliau menawan sangat banyak orang dari sana dan dari wilayah lainnya, serta memperoleh harta rampasan yang melimpah.

Ibnu Katsir berkata: "Musa bin Nushair melakukan penaklukan di wilayah Barat (Maghrib), sedangkan Qutaibah bin Muslim melakukan penaklukan di wilayah Timur (Masyriq). Semoga Allah membalas mereka berdua dengan kebaikan, karena masing-masing dari keduanya telah menaklukkan banyak sekali wilayah dan negara. Namun, Musa bin Nushair mendapatkan beberapa keutamaan yang tidak didapatkan oleh Qutaibah...".

Telah terjadi berbagai peristiwa menakjubkan bagi beliau dalam penaklukan negeri Andalusia. Beliau pernah berkata: "Seandainya orang-orang menaatiku, niscaya aku akan memimpin mereka hingga aku menaklukkan kota Roma bersama mereka, yaitu kota terbesar di negeri orang-orang Franka, kemudian Allah pasti akan menaklukkannya melalui tanganku, insya Allah Ta'ala.".

Beliau kemudian dicopot dari jabatannya lalu kembali ke Damaskus, dan terus menetap di sana hingga al-Walid bin Abdul Malik wafat dan digantikan oleh Sulaiman. Sulaiman sempat murka kepada Musa, lalu menahannya dan menuntut harta dalam jumlah yang sangat besar darinya. Musa terus berada di bawah pengawasan Sulaiman hingga Sulaiman melaksanakan ibadah haji pada tahun 97 H, dan membawanya serta, lalu beliau wafat di Wadi al-Qura dalam usia mendekati delapan puluh tahun.

3. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah

Beliau adalah Abu Abdullah al-Hudzali al-Madani, seorang imam, ahli fikih, mufti kota Madinah, orang alimnya, serta salah satu dari tujuh ahli fikih Madinah yang terkenal (al-Fuqaha as-Sab'ah). Kakeknya yang bernama Utbah adalah saudara kandung dari sahabat Abdullah bin Mas'ud.

Imam az-Zuhri berkata: "Ubaidillah bin Abdullah adalah laksana lautan di antara lautan ilmu.". Beliau adalah guru yang mendidik dan membimbing Umar bin Abdul Aziz, serta memiliki banyak riwayat hadis dari sejumlah jemaah sahabat Nabi. Beliau wafat pada tahun 98 H.

4. Abdurrahman bin al-Aswad bin Yazid bin Qais an-Nakha'i

Beliau adalah seorang ahli fikih, seorang imam putra dari seorang imam. Ketika ajal menjemput Abdurrahman, beliau menangis. Saat ditanyakan kepadanya mengenai alasannya menangis, beliau menjawab: "Aku menangis karena sedih akan berpisah dengan ibadah salat dan puasa.". Beliau terus-menerus membaca Al-Qur'an hingga akhirnya wafat.

Imam asy-Sya'bi berkata: "Ada satu keluarga yang diciptakan untuk menjadi penghuni surga, yaitu: Alqamah, Al-Aswad, dan Abdurrahman.". Beliau wafat pada tahun 98 H.

5. Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyyah

Beliau adalah seorang imam, Abu Hasyim al-Alawi al-Madani. Beliau meriwayatkan hadis tentang pengharaman nikah mut'ah dari ayahnya, dan hadis dari beliau diriwayatkan oleh az-Zuhri serta Amr bin Dinar.

Mush'ab az-Zubairi berkata: "Abu Hasyim adalah pemimpin kaum Syiah, lalu beliau berwasiat kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas (tokoh Abbasiyah), serta menyerahkan buku-buku catatan miliknya kepadanya. Beliau wafat di sisi Muhammad bin Ali tersebut dan keturunannya terputus. Ibunya adalah seorang Ummu Walid (budak wanita yang melahirkan anak tuannya), dan beliau wafat pada tahun 98 H.


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintahan Abdullah Bin Az-Zubair R.A : Wilayah Kekuasaan Negeri-Negeri dan Urusan Haji

Hubungan Penduduk Hijaz dengan Yazid

Peristiwa Karbala : Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu