Peristiwa Karbala : Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu
Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu
Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam berkata: Menceritakan kepadaku
Hajjaj bin Muhammad, dari Abu Ma'syar, dari sebagian gurunya, dia berkata:
Al-Husain berkata ketika mereka singgah di Karbala: "Apa nama tanah
ini?"
Mereka menjawab: "Karbala."
Beliau berkata: "Kerb (penderitaan) dan bala'
(bencana)."
Dan Ubaidullah bin Ziyad mengutus Umar bin Sa'd untuk
memerangi mereka, lalu Al-Husain berkata: "Wahai Umar, pilihlah dariku
satu dari tiga perkara:
- Bisa
jadi engkau membiarkanku kembali ke tempat asalku datang.
- Jika
engkau menolak ini, maka berangkatkanlah aku kepada Yazid, agar aku
meletakkan tanganku di atas tangannya, lalu dia memutuskan apa yang dia
pandang baik.
- Dan
jika engkau menolak ini, maka berangkatkanlah aku ke perbatasan Turki agar
aku memerangi mereka sampai aku mati."
Maka Umar mengirim pesan kepada Ibnu Ziyad mengenai hal itu,
lalu Ibnu Ziyad sempat berniat untuk memberangkatkannya kepada Yazid. Namun,
Syamir bin Dzil Jausyan berkata: "Tidak, kecuali jika dia tunduk pada
keputusanmu."
Maka Ibnu Ziyad mengirimkan keputusan itu kepada Al-Husain,
lalu Al-Husain berkata: "Demi Allah, aku tidak akan melakukannya."
Dan Umar menunda-nunda untuk memeranginya, maka Ibnu Ziyad mengutus Syamir bin
Dzil Jausyan kepadanya dan berkata: "Jika Umar maju dan bertempur, maka
biarkanlah. Jika tidak, bunuhlah dia dan engkaulah yang memimpin
menggantikannya."
Dan bersama Umar ada sekitar tiga puluh orang dari penduduk
Kufah, lalu mereka berkata kepada pasukan musuh: "Putra dari putri
Rasulullah ﷺ
menawarkan kepada kalian tiga perkara, namun kalian tidak menerima satu pun
darinya?!"
Maka mereka pun beralih memihak Al-Husain dan ikut bertempur
bersamanya.
Dan ketika Syamir bin Dzil Jausyan datang menemui Umar bin
Sa'd dengan membawa surat dari Ubaidullah bin Ziyad, Umar berkata kepadanya:
"Semoga Allah menjauhkan rumahmu dan memburukkan apa yang engkau bawa!
Demi Allah, sesungguhnya aku menduga engkaulah yang telah memalingkannya dari
menerima tiga perkara yang diminta oleh Al-Husain."
Syamir berkata kepadanya: "Maka beri tahu aku, apa yang
akan engkau lakukan?"
"Apakah engkau akan memerangi mereka, atau engkau akan
membiarkanku bersama mereka?" Umar menjawab: "Tidak, tidak ada
kehormatan bagimu, akulah yang akan memimpin urusan itu."
Dan Umar menjadikannya sebagai pemimpin pasukan pejalan kaki
(infanteri), lalu mereka bergerak maju menuju Al-Husain dan pasukannya pada
sore hari Kamis, tanggal sembilan Muharram. Kemudian Syamir bin Dzil Jausyan
berdiri dan berkata: "Di mana anak-anak saudara perempuan kami?"
Maka berdirilah Al-Abbas, Abdullah, Ja'far, dan
Utsman—putra-putra Ali bin Abi Thalib—menemuinya, lalu Syamir berkata:
"Kalian aman."
Mereka menjawab: "Jika engkau memberikan keamanan
kepada kami dan juga kepada putra Rasulullah (Al-Husain), kami terima. Jika
tidak, kami tidak membutuhkan jaminan keamananmu."
Perawi berkata: Kemudian Umar bin Sa'd berseru kepada
pasukannya: "Wahai pasukan berkuda Allah, naiklah berkuda dan
bergembiralah!" Maka mereka pun berkuda lalu bergerak maju menyerbu ke
arah mereka setelah shalat Asar pada hari itu. Sementara itu, Al-Husain sedang
duduk di depan kemahnya sambil memeluk pedangnya dengan melipat kaki. Beliau
merasa mengantuk hingga kepalanya terkantuk-kantuk. Saudara perempuannya,
Zainab, mendengar suara kegaduhan lalu mendekatinya dan membangunkan beliau.
Beliau menegakkan kepalanya seperti semula dan berkata: "Sesungguhnya aku
melihat Rasulullah ﷺ
dalam mimpi, dan beliau bersabda kepadaku:
«إِنَّكَ
تَرُوحُ إِلَيْنَا»
Artinya: "Sesungguhnya engkau akan segera berpulang
kepada kami."
Saudara laki-lakinya, Al-Abbas bin Ali, berkata kepadanya:
"Wahai saudaraku, musuh telah datang kepadamu." Beliau berkata:
"Pergilah kepada mereka, lalu tanyakanlah apa maksud kedatangan
mereka."
Maka Al-Abbas pergi menemui mereka bersama sekitar dua puluh
penunggang kuda, lalu bertanya: "Ada apa dengan kalian?" Mereka
menjawab: "Telah datang perintah amir (gubernur); Baik kalian tunduk pada
keputusannya, atau kami akan memerangi kalian." Al-Abbas berkata:
"Tetaplah di tempat kalian sampai aku pergi menemui Abu Abdillah untuk
memberitahunya."
Kemudian Al-Abbas bin Ali kembali dari tempat Al-Husain
menuju mereka dan berkata: "Abu Abdillah berkata kepada kalian: Kembalilah
dan mundurlah pada sore hari ini, agar kami dapat mendirikan shalat untuk Tuhan
kami malam ini, berdoa, dan memohon ampunan-Nya. Sungguh, Allah telah
mengetahui dariku bahwa aku sangat mencintai shalat untuk-Nya, membaca
Kitab-Nya, memohon ampunan (beristighfar), serta berdoa."
Dan Al-Husain memberikan wasiat kepada keluarganya pada
malam itu, lalu menyampaikan khotbah di hadapan para sahabatnya di awal malam,
dan berkata kepada mereka: "Barang siapa yang ingin kembali kepada
keluarganya pada malam ini, maka aku telah mengizinkannya, karena sesungguhnya
kaum itu hanyalah menginginkan diriku."
Maka saudara-saudaranya, anak-anaknya, serta
keponakan-keponakannya berkata kepada beliau: "Tidak ada arti hidup bagi
kami setelah kepergianmu."
Dan sekelompok sahabatnya berbicara dengan ungkapan yang
senada satu sama lain, mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak akan
berpisah darimu, dan jiwa kami adalah tebusan bagimu. Kami akan melindungimu
dengan leher, dahi, tangan, dan tubuh kami. Jika kami terbunuh, berarti kami
telah memenuhi janji setia dan menunaikan kewajiban yang ada pada kami."
Dan Al-Husain bersama para sahabatnya menghabiskan sepanjang malam dengan
mendirikan shalat, memohon ampunan, berdoa, dan merendahkan diri kepada Allah,
sementara kuda-kuda penjaga musuh terus berpatroli mengitari mereka dari belakang.
Ketika Umar bin Sa'd selesai melaksanakan shalat Subuh
bersama pasukannya pada hari Asyura, dia bersiap untuk bertempur, dan Al-Husain
pun melaksanakan shalat Subuh bersama para sahabatnya. Kemudian Al-Husain mulai
mengingatkan orang-orang tentang keutamaan, nasab, keluhuran kedudukan, serta
kemuliaannya, dan berkata: "Periksalah kembali diri kalian! Apakah pantas
bagi kalian memerangi orang sepertiku, padahal aku adalah putra dari putri Nabi
kalian?" Namun mereka diam tidak mengajaknya berbicara.
Perawi berkata: Lalu beliau berseru: "Wahai Syabats bin
Rib'i, wahai Hajjar bin Abjar, wahai Qais bin Al-Asy'ats, wahai Zaid bin
Al-Harits! Bukankah kalian telah menulis surat kepadaku yang isinya:
'Buah-buahan telah matang dan tanah telah menghijau, maka datanglah kepada
kami, karena sesungguhnya engkau akan datang menemui pasukan yang telah
dipersiapkan untukmu'?"
Mereka menjawab: "Kami tidak pernah melakukannya."
Beliau berkata: "Subhanallah! Demi Allah, sungguh kalian telah
melakukannya." Lalu mereka mulai bergerak maju mendekati beliau. Sementara
itu, ada sekelompok orang sekitar tiga puluh penunggang kuda dari pasukan musuh
yang membelot dan bergabung ke dalam pasukan Al-Husain. Umar bin Sa'd berkata
kepada pelayannya: "Wahai Dzuwaid, dekatkan benderamu!"
Maka Dzuwaid mendekatkannya, kemudian Umar menyingsingkan
lengan bajunya lalu melepaskan sebatang anak panah, dan berkata:
"Saksikanlah bahwa akulah orang pertama yang memanah kaum itu!"
Perawi berkata: Maka orang-orang pun saling melepaskan anak
panah, dan pertempuran tanding satu lawan satu (mubarahzah) banyak
terjadi pada hari itu di antara kedua belah pihak, dan kemenangan dalam
duel-duel tersebut berpihak kepada para sahabat Al-Husain; Hal itu karena
ketangguhan keberanian mereka dan karena mereka siap mati demi membela
Al-Husain, di mana tidak ada pelindung bagi mereka selain pedang-pedang mereka.
Maka sebagian komandan menyarankan kepada Umar bin Sa'd untuk menghentikan duel
satu lawan satu. Lalu Amr bin Al-Hajjaj selaku komandan sayap kanan melakukan
serangan, diikuti oleh Syamir bin Dzil Jausyan dengan pasukan sayap kiri, dan
mereka bergerak menuju Al-Husain. Namun, para penunggang kuda dari sahabat
Al-Husain melindunginya dengan pembelaan yang luar biasa serta bertempur demi
membelanya dengan kegigihan yang mendalam. Orang pertama dari keturunan Abu
Thalib yang gugur pada hari itu adalah Ali Al-Akbar putra Al-Husain bin Ali.
Para perawi berkata: Al-Husain sempat bertahan dalam waktu
yang cukup lama di siang hari itu, di mana tidak ada seorang laki-laki pun yang
mendekatinya melainkan ia akan mundur kembali darinya; Karena tidak ada seorang
pun yang suka memikul dosa atas pembunuhan beliau, hingga akhirnya datanglah
seorang laki-laki dari Bani Bada' yang dipanggil Malik bin An-Nusair.
Lalu ia menebas kepala Al-Husain dengan pedang hingga
melukainya. Kemudian Syamir datang bersama sekelompok orang pemberani hingga
mereka mengepung Al-Husain yang saat itu berada di dekat kemahnya, dan tidak
ada seorang pun yang tersisa bersamanya untuk menghalangi antara mereka dengan
beliau. Maka pasukan itu menyerbu Al-Husain dari segala penjuru, lalu datanglah
Sinan bin Anas bin Amr An-Nakha'i mendekatinya dan menikamnya dengan tombak
hingga beliau terjatuh, kemudian Sinan turun lalu menyembelih dan memenggal
kepala beliau. Setelah itu, ia menyerahkan kepala beliau kepada Khawali bin
Yazid. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah Syamir bin Dzil
Jausyan.
Dan sebanyak tujuh puluh dua orang dari sahabat Al-Husain
gugur terbunuh.
Mengenai peristiwa ini, terdapat riwayat hadits/atsar
berikut:
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ : حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ ، ثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدِ، عَنْ
أَنَسٍ قَالَ: أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ،
فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ، فَجَعَلَ يَنْكُتُ عَلَيْهِ، وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا،
فَقَالَ أَنَسٌ : إِنَّهُ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللهِ ، وَكَانَ
مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ.
Artinya: Imam Ahmad berkata: Menceritakan kepada kami
Husain, menceritakan kepada kami Jarir, dari Muhammad, dari Anas, ia berkata:
Kepala Al-Husain dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad, lalu diletakkan di
dalam sebuah wadah besar (baskom), kemudian Ibnu Ziyad mulai mengetuk-ngetuk
kepala tersebut (dengan tongkat) sambil berkomentar tentang ketampanannya. Anas
lalu berkata: "Sesungguhnya beliau adalah orang yang paling mirip dengan
Rasulullah di antara mereka, dan rambutnya diwarnai dengan wasmah (sejenis
tanaman pewarna rambut)."
Dan Al-Bukhari meriwayatkannya pula dalam kitab Al-Manaqib.
Dan para ulama berbeda pendapat setelah peristiwa ini
mengenai kepala tersebut, apakah Ibnu Ziyad mengirimkannya dari Kufah kepada
Yazid di Syam ataukah tidak? Ada dua pendapat mengenai hal ini, dan pendapat
pertama adalah yang lebih mendekati kebenaran, serta telah ada banyak riwayat
(atsar) yang menjelaskan hal tersebut. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih
mengetahui).
Adapun sisa dari keluarga, para wanita, dan sanak
saudaranya, Umar bin Sa'd menugaskan orang untuk menjaga dan melindungi mereka.
Mereka menaikkan keluarga tersebut ke atas tunggangan di dalam sekedup (tenda
di atas unta), kemudian mereka membawa mereka berjalan dari Karbala hingga
memasuki Kufah. Ubaidullah bin Ziyad memuliakan mereka serta mencurahkan
nafkah, pakaian, dan pemberian kepada mereka. Kemudian Ubaidullah
memberangkatkan mereka menuju Syam bersama Syamir bin Dzil Jausyan, dan bersama
mereka pula Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin). Ketika mereka masuk menemui
Yazid bin Muawiyah, Yazid berkata kepada Ali bin Al-Husain: "Wahai Ali,
ayahmulah yang telah memutuskan tali silaturahmi denganku, mengabaikan hakku,
dan merebut kekuasaanku, maka Allah melakukan apa yang telah engkau lihat
terhadapnya." Maka Ali menjawab dengan membacakan ayat Al-Qur'an:
﴿مَا
أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ
مِّن قَبْلِ أَن تَبْرَأَهَا﴾ [الحديد: ٢٢]
Artinya: "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang
menimpa dirimu sendiri semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh)
sebelum Kami mewujudkannya." [Al-Hadid: 22].
Kemudian Yazid menempatkan para wanita tersebut bersama
dengan keluarganya di istana kekhalifahan (Darul Khilafah), lalu para wanita
dari keluarga Muawiyah menyambut mereka seraya menangis dan meratapi kematian
Al-Husain. Setelah itu, Yazid memerintahkan Al-Nu'man bin Basyir untuk mengutus
seorang pria yang tepercaya bersama sepasukan pria dan kuda guna mendampingi
mereka menuju Madinah, dan Ali bin Al-Husain ikut bersama mereka.
Dan ketika Yazid mengucapkan selamat tinggal kepada mereka,
dia berkata kepada Ali bin Al-Husain: "Semoga Allah memburukkan Ibnu
Marjanah! Ketahuilah, demi Allah, seandainya aku sendiri yang menghadapinya
(Al-Husain), tidaklah ia meminta satu perkara pun dariku melainkan pasti akan
aku berikan kepadanya, dan aku pasti akan menolak kematian darinya dengan
segala kemampuan yang kumiliki, meskipun harus mengorbankan sebagian anakku
sendiri. Akan tetapi, Allah telah menetapkan apa yang telah engkau lihat."
Kemudian Yazid mempersiapkan perbekalan untuknya, memberinya
harta yang banyak, dan berkata kepadanya: "Suratilah aku tentang setiap
kebutuhan yang engkau miliki." Ia juga memberi mereka pakaian serta
memberikan pesan khusus mengenai mereka kepada utusan yang mengawal tersebut.
Ibnu Katsir berkata: "Dan hal ini membantah perkataan
kaum Rafidhah yang mengklaim bahwa mereka (keluarga Al-Husain) diangkut di atas
punggung-punggung unta sebagai tawanan dalam keadaan telanjang."
"Bahkan dusta pula orang yang mengklaim di antara
mereka bahwa unta Bakhati (unta berpunuk dua) tumbuh punuknya sejak hari itu
demi menutupi aurat para wanita tersebut."
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar