Peristiwa Karbala : Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu

Sebuah foto sinematik berformat panorama 16:9 yang memperlihatkan suasana malam hari di perkemahan gurun pasir tradisional abad ke-7. Di bawah langit malam yang gelap bertabur ribuan bintang, galaksi bima sakti, dan bulan sabit, sekelompok pria berjubah dan bersorban tradisional Arab sedang khusyuk beribadah. Sebagian pria tampak bersujud di atas hamparan pasir, sementara sebagian lainnya duduk bersimpuh melingkar sambil menengadahkan tangan berdoa dengan khidmat. Cahaya hangat bersumber dari api unggun kecil di tengah-tengah mereka, menciptakan bayangan lembut di sekitar tenda-tenda kain hitam besar dan beberapa ekor unta yang sedang beristirahat di latar belakang

Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu

Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam berkata: Menceritakan kepadaku Hajjaj bin Muhammad, dari Abu Ma'syar, dari sebagian gurunya, dia berkata: Al-Husain berkata ketika mereka singgah di Karbala: "Apa nama tanah ini?"

Mereka menjawab: "Karbala."

Beliau berkata: "Kerb (penderitaan) dan bala' (bencana)."

Dan Ubaidullah bin Ziyad mengutus Umar bin Sa'd untuk memerangi mereka, lalu Al-Husain berkata: "Wahai Umar, pilihlah dariku satu dari tiga perkara:

  • Bisa jadi engkau membiarkanku kembali ke tempat asalku datang.
  • Jika engkau menolak ini, maka berangkatkanlah aku kepada Yazid, agar aku meletakkan tanganku di atas tangannya, lalu dia memutuskan apa yang dia pandang baik.
  • Dan jika engkau menolak ini, maka berangkatkanlah aku ke perbatasan Turki agar aku memerangi mereka sampai aku mati."

Maka Umar mengirim pesan kepada Ibnu Ziyad mengenai hal itu, lalu Ibnu Ziyad sempat berniat untuk memberangkatkannya kepada Yazid. Namun, Syamir bin Dzil Jausyan berkata: "Tidak, kecuali jika dia tunduk pada keputusanmu."

Maka Ibnu Ziyad mengirimkan keputusan itu kepada Al-Husain, lalu Al-Husain berkata: "Demi Allah, aku tidak akan melakukannya." Dan Umar menunda-nunda untuk memeranginya, maka Ibnu Ziyad mengutus Syamir bin Dzil Jausyan kepadanya dan berkata: "Jika Umar maju dan bertempur, maka biarkanlah. Jika tidak, bunuhlah dia dan engkaulah yang memimpin menggantikannya."

Dan bersama Umar ada sekitar tiga puluh orang dari penduduk Kufah, lalu mereka berkata kepada pasukan musuh: "Putra dari putri Rasulullah menawarkan kepada kalian tiga perkara, namun kalian tidak menerima satu pun darinya?!"

Maka mereka pun beralih memihak Al-Husain dan ikut bertempur bersamanya.

Dan ketika Syamir bin Dzil Jausyan datang menemui Umar bin Sa'd dengan membawa surat dari Ubaidullah bin Ziyad, Umar berkata kepadanya: "Semoga Allah menjauhkan rumahmu dan memburukkan apa yang engkau bawa! Demi Allah, sesungguhnya aku menduga engkaulah yang telah memalingkannya dari menerima tiga perkara yang diminta oleh Al-Husain."

Syamir berkata kepadanya: "Maka beri tahu aku, apa yang akan engkau lakukan?"

"Apakah engkau akan memerangi mereka, atau engkau akan membiarkanku bersama mereka?" Umar menjawab: "Tidak, tidak ada kehormatan bagimu, akulah yang akan memimpin urusan itu."

Dan Umar menjadikannya sebagai pemimpin pasukan pejalan kaki (infanteri), lalu mereka bergerak maju menuju Al-Husain dan pasukannya pada sore hari Kamis, tanggal sembilan Muharram. Kemudian Syamir bin Dzil Jausyan berdiri dan berkata: "Di mana anak-anak saudara perempuan kami?"

Maka berdirilah Al-Abbas, Abdullah, Ja'far, dan Utsman—putra-putra Ali bin Abi Thalib—menemuinya, lalu Syamir berkata: "Kalian aman."

Mereka menjawab: "Jika engkau memberikan keamanan kepada kami dan juga kepada putra Rasulullah (Al-Husain), kami terima. Jika tidak, kami tidak membutuhkan jaminan keamananmu."

Perawi berkata: Kemudian Umar bin Sa'd berseru kepada pasukannya: "Wahai pasukan berkuda Allah, naiklah berkuda dan bergembiralah!" Maka mereka pun berkuda lalu bergerak maju menyerbu ke arah mereka setelah shalat Asar pada hari itu. Sementara itu, Al-Husain sedang duduk di depan kemahnya sambil memeluk pedangnya dengan melipat kaki. Beliau merasa mengantuk hingga kepalanya terkantuk-kantuk. Saudara perempuannya, Zainab, mendengar suara kegaduhan lalu mendekatinya dan membangunkan beliau. Beliau menegakkan kepalanya seperti semula dan berkata: "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam mimpi, dan beliau bersabda kepadaku:

«إِنَّكَ تَرُوحُ إِلَيْنَا»

Artinya: "Sesungguhnya engkau akan segera berpulang kepada kami."

Saudara laki-lakinya, Al-Abbas bin Ali, berkata kepadanya: "Wahai saudaraku, musuh telah datang kepadamu." Beliau berkata: "Pergilah kepada mereka, lalu tanyakanlah apa maksud kedatangan mereka."

Maka Al-Abbas pergi menemui mereka bersama sekitar dua puluh penunggang kuda, lalu bertanya: "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab: "Telah datang perintah amir (gubernur); Baik kalian tunduk pada keputusannya, atau kami akan memerangi kalian." Al-Abbas berkata: "Tetaplah di tempat kalian sampai aku pergi menemui Abu Abdillah untuk memberitahunya."

Kemudian Al-Abbas bin Ali kembali dari tempat Al-Husain menuju mereka dan berkata: "Abu Abdillah berkata kepada kalian: Kembalilah dan mundurlah pada sore hari ini, agar kami dapat mendirikan shalat untuk Tuhan kami malam ini, berdoa, dan memohon ampunan-Nya. Sungguh, Allah telah mengetahui dariku bahwa aku sangat mencintai shalat untuk-Nya, membaca Kitab-Nya, memohon ampunan (beristighfar), serta berdoa."

Dan Al-Husain memberikan wasiat kepada keluarganya pada malam itu, lalu menyampaikan khotbah di hadapan para sahabatnya di awal malam, dan berkata kepada mereka: "Barang siapa yang ingin kembali kepada keluarganya pada malam ini, maka aku telah mengizinkannya, karena sesungguhnya kaum itu hanyalah menginginkan diriku."

Maka saudara-saudaranya, anak-anaknya, serta keponakan-keponakannya berkata kepada beliau: "Tidak ada arti hidup bagi kami setelah kepergianmu."

Dan sekelompok sahabatnya berbicara dengan ungkapan yang senada satu sama lain, mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak akan berpisah darimu, dan jiwa kami adalah tebusan bagimu. Kami akan melindungimu dengan leher, dahi, tangan, dan tubuh kami. Jika kami terbunuh, berarti kami telah memenuhi janji setia dan menunaikan kewajiban yang ada pada kami." Dan Al-Husain bersama para sahabatnya menghabiskan sepanjang malam dengan mendirikan shalat, memohon ampunan, berdoa, dan merendahkan diri kepada Allah, sementara kuda-kuda penjaga musuh terus berpatroli mengitari mereka dari belakang.

Ketika Umar bin Sa'd selesai melaksanakan shalat Subuh bersama pasukannya pada hari Asyura, dia bersiap untuk bertempur, dan Al-Husain pun melaksanakan shalat Subuh bersama para sahabatnya. Kemudian Al-Husain mulai mengingatkan orang-orang tentang keutamaan, nasab, keluhuran kedudukan, serta kemuliaannya, dan berkata: "Periksalah kembali diri kalian! Apakah pantas bagi kalian memerangi orang sepertiku, padahal aku adalah putra dari putri Nabi kalian?" Namun mereka diam tidak mengajaknya berbicara.

Perawi berkata: Lalu beliau berseru: "Wahai Syabats bin Rib'i, wahai Hajjar bin Abjar, wahai Qais bin Al-Asy'ats, wahai Zaid bin Al-Harits! Bukankah kalian telah menulis surat kepadaku yang isinya: 'Buah-buahan telah matang dan tanah telah menghijau, maka datanglah kepada kami, karena sesungguhnya engkau akan datang menemui pasukan yang telah dipersiapkan untukmu'?"

Mereka menjawab: "Kami tidak pernah melakukannya." Beliau berkata: "Subhanallah! Demi Allah, sungguh kalian telah melakukannya." Lalu mereka mulai bergerak maju mendekati beliau. Sementara itu, ada sekelompok orang sekitar tiga puluh penunggang kuda dari pasukan musuh yang membelot dan bergabung ke dalam pasukan Al-Husain. Umar bin Sa'd berkata kepada pelayannya: "Wahai Dzuwaid, dekatkan benderamu!"

Maka Dzuwaid mendekatkannya, kemudian Umar menyingsingkan lengan bajunya lalu melepaskan sebatang anak panah, dan berkata: "Saksikanlah bahwa akulah orang pertama yang memanah kaum itu!"

Perawi berkata: Maka orang-orang pun saling melepaskan anak panah, dan pertempuran tanding satu lawan satu (mubarahzah) banyak terjadi pada hari itu di antara kedua belah pihak, dan kemenangan dalam duel-duel tersebut berpihak kepada para sahabat Al-Husain; Hal itu karena ketangguhan keberanian mereka dan karena mereka siap mati demi membela Al-Husain, di mana tidak ada pelindung bagi mereka selain pedang-pedang mereka. Maka sebagian komandan menyarankan kepada Umar bin Sa'd untuk menghentikan duel satu lawan satu. Lalu Amr bin Al-Hajjaj selaku komandan sayap kanan melakukan serangan, diikuti oleh Syamir bin Dzil Jausyan dengan pasukan sayap kiri, dan mereka bergerak menuju Al-Husain. Namun, para penunggang kuda dari sahabat Al-Husain melindunginya dengan pembelaan yang luar biasa serta bertempur demi membelanya dengan kegigihan yang mendalam. Orang pertama dari keturunan Abu Thalib yang gugur pada hari itu adalah Ali Al-Akbar putra Al-Husain bin Ali.

Para perawi berkata: Al-Husain sempat bertahan dalam waktu yang cukup lama di siang hari itu, di mana tidak ada seorang laki-laki pun yang mendekatinya melainkan ia akan mundur kembali darinya; Karena tidak ada seorang pun yang suka memikul dosa atas pembunuhan beliau, hingga akhirnya datanglah seorang laki-laki dari Bani Bada' yang dipanggil Malik bin An-Nusair.

Lalu ia menebas kepala Al-Husain dengan pedang hingga melukainya. Kemudian Syamir datang bersama sekelompok orang pemberani hingga mereka mengepung Al-Husain yang saat itu berada di dekat kemahnya, dan tidak ada seorang pun yang tersisa bersamanya untuk menghalangi antara mereka dengan beliau. Maka pasukan itu menyerbu Al-Husain dari segala penjuru, lalu datanglah Sinan bin Anas bin Amr An-Nakha'i mendekatinya dan menikamnya dengan tombak hingga beliau terjatuh, kemudian Sinan turun lalu menyembelih dan memenggal kepala beliau. Setelah itu, ia menyerahkan kepala beliau kepada Khawali bin Yazid. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah Syamir bin Dzil Jausyan.

Dan sebanyak tujuh puluh dua orang dari sahabat Al-Husain gugur terbunuh.

Mengenai peristiwa ini, terdapat riwayat hadits/atsar berikut:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ : حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ ، ثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ، فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ، فَجَعَلَ يَنْكُتُ عَلَيْهِ، وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا، فَقَالَ أَنَسٌ : إِنَّهُ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللهِ ، وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ.

Artinya: Imam Ahmad berkata: Menceritakan kepada kami Husain, menceritakan kepada kami Jarir, dari Muhammad, dari Anas, ia berkata: Kepala Al-Husain dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad, lalu diletakkan di dalam sebuah wadah besar (baskom), kemudian Ibnu Ziyad mulai mengetuk-ngetuk kepala tersebut (dengan tongkat) sambil berkomentar tentang ketampanannya. Anas lalu berkata: "Sesungguhnya beliau adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah di antara mereka, dan rambutnya diwarnai dengan wasmah (sejenis tanaman pewarna rambut)."

Dan Al-Bukhari meriwayatkannya pula dalam kitab Al-Manaqib.

Dan para ulama berbeda pendapat setelah peristiwa ini mengenai kepala tersebut, apakah Ibnu Ziyad mengirimkannya dari Kufah kepada Yazid di Syam ataukah tidak? Ada dua pendapat mengenai hal ini, dan pendapat pertama adalah yang lebih mendekati kebenaran, serta telah ada banyak riwayat (atsar) yang menjelaskan hal tersebut. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).

Adapun sisa dari keluarga, para wanita, dan sanak saudaranya, Umar bin Sa'd menugaskan orang untuk menjaga dan melindungi mereka. Mereka menaikkan keluarga tersebut ke atas tunggangan di dalam sekedup (tenda di atas unta), kemudian mereka membawa mereka berjalan dari Karbala hingga memasuki Kufah. Ubaidullah bin Ziyad memuliakan mereka serta mencurahkan nafkah, pakaian, dan pemberian kepada mereka. Kemudian Ubaidullah memberangkatkan mereka menuju Syam bersama Syamir bin Dzil Jausyan, dan bersama mereka pula Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin). Ketika mereka masuk menemui Yazid bin Muawiyah, Yazid berkata kepada Ali bin Al-Husain: "Wahai Ali, ayahmulah yang telah memutuskan tali silaturahmi denganku, mengabaikan hakku, dan merebut kekuasaanku, maka Allah melakukan apa yang telah engkau lihat terhadapnya." Maka Ali menjawab dengan membacakan ayat Al-Qur'an:

﴿مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن تَبْرَأَهَا﴾ [الحديد: ٢٢]

Artinya: "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya." [Al-Hadid: 22].

Kemudian Yazid menempatkan para wanita tersebut bersama dengan keluarganya di istana kekhalifahan (Darul Khilafah), lalu para wanita dari keluarga Muawiyah menyambut mereka seraya menangis dan meratapi kematian Al-Husain. Setelah itu, Yazid memerintahkan Al-Nu'man bin Basyir untuk mengutus seorang pria yang tepercaya bersama sepasukan pria dan kuda guna mendampingi mereka menuju Madinah, dan Ali bin Al-Husain ikut bersama mereka.

Dan ketika Yazid mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, dia berkata kepada Ali bin Al-Husain: "Semoga Allah memburukkan Ibnu Marjanah! Ketahuilah, demi Allah, seandainya aku sendiri yang menghadapinya (Al-Husain), tidaklah ia meminta satu perkara pun dariku melainkan pasti akan aku berikan kepadanya, dan aku pasti akan menolak kematian darinya dengan segala kemampuan yang kumiliki, meskipun harus mengorbankan sebagian anakku sendiri. Akan tetapi, Allah telah menetapkan apa yang telah engkau lihat."

Kemudian Yazid mempersiapkan perbekalan untuknya, memberinya harta yang banyak, dan berkata kepadanya: "Suratilah aku tentang setiap kebutuhan yang engkau miliki." Ia juga memberi mereka pakaian serta memberikan pesan khusus mengenai mereka kepada utusan yang mengawal tersebut.

Ibnu Katsir berkata: "Dan hal ini membantah perkataan kaum Rafidhah yang mengklaim bahwa mereka (keluarga Al-Husain) diangkut di atas punggung-punggung unta sebagai tawanan dalam keadaan telanjang."

"Bahkan dusta pula orang yang mengklaim di antara mereka bahwa unta Bakhati (unta berpunuk dua) tumbuh punuknya sejak hari itu demi menutupi aurat para wanita tersebut."


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan : Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan (60 - 64 H) : Biografi dan Kekhalifahannya