Kekhalifahan Ibrahim bin al-Walid bin Abdul Malik (Dzulhijjah 126 H hingga Shafar 127 H)
Biografi Singkat
Nasabnya
Ibrahim bin al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin al-Hakam
bin Abi al-'Ash bin Umayyah, Abu Ishaq al-Qurasyi al-Umawi. Ibunya adalah
seorang ummu walad (hamba sahaya wanita yang melahirkan anak tuannya)
berkebangsaan Kurdi bernama Lubabah, dan ia adalah saudara seibu dari Marwan
bin Muhammad.
Ciri Fisiknya
Ia berperawakan tinggi, berbadan tegap, berkulit putih
tampan dengan rona kemerahan, berambut atau berjanggut pirang, berjanggut tipis
pada bagian depan, serta berbulu tipis di kedua pipinya.
Pembaiatannya
Khalifah Yazid bin al-Walid mengambil baiat dari para
pangeran/pembesar dan lainnya untuk putra mahkota setelahnya, yaitu saudaranya,
Ibrahim bin al-Walid bin Abdul Malik. Kemudian setelah Ibrahim, hak putra
mahkota diserahkan kepada Abdul Aziz bin al-Hajjaj bin Abdul Malik bin Marwan.
Hal ini dilakukan saat Yazid sedang sakit yang berujung pada wafatnya, pada
bulan Dzulhijjah tahun 126 H.
Langkah ini didorong oleh sekelompok pangeran, tokoh
terkemuka, dan para menteri. Pembaiatannya pun disetujui oleh seluruh penduduk
Syam, kecuali penduduk Hims yang menolak membaiatnya. Begitu pula dengan Marwan
bin Muhammad, gubernur wilayah Azerbaijan dan Armenia.
Ibrahim memangku jabatan khalifah selama tujuh puluh malam,
kemudian ia menurunkan/memakzulkan dirinya sendiri ketika Marwan bin Muhammad
memasuki Kota Damaskus.
Penghentian/Pencopotan Khalifah Ibrahim bin al-Walid
Ketika kabar kematian Khalifah Yazid bin al-Walid sampai
kepada Marwan bin Muhammad pada bulan Dzulhijjah tahun 126 H, ia bergerak
membawa penduduk al-Jazirah hingga sampai di Qinnasrin. Ia mengepung
penduduknya sampai mereka tunduk patuh kepadanya. Kemudian ia bergerak menuju
Hims. Saat itu, Hims sedang dikepung oleh Abdul Aziz bin al-Hajjaj bin Abdul
Malik bin Marwan atas perintah Amirul Mukminin Ibrahim bin al-Walid agar mereka
mau membaiat Ibrahim, namun penduduk Hims tetap gigih menolak. Ketika Abdul
Aziz bin al-Hajjaj mendengar bahwa Marwan bin Muhammad sudah dekat, ia pun
pergi meninggalkan Hims.
Marwan tiba di Hims, lalu penduduknya membaiatnya dan
berjalan bersamanya menuju Damaskus. Mereka didampingi oleh pasukan al-Jazirah
dan pasukan Qinnasrin. Marwan bergerak menuju Damaskus membawa 80.000 prajurit.
Di sisi lain, Ibrahim bin al-Walid mengutus Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik
dengan membawa 120.000 prajurit.
Kedua pasukan bertemu di 'Ain al-Jarr di wilayah al-Biqa'.
Marwan menyeru mereka untuk menghentikan peperangan dan membebaskan kedua putra
al-Walid bin Yazid—yaitu al-Hakam dan Utsman—yang sebelumnya telah ditetapkan
sebagai putra mahkota, namun dipenjarakan oleh Yazid di Damaskus. Namun, pihak
lawan menolak tawaran tersebut, sehingga terjadilah pertempuran dahsyat dari
waktu dhuha hingga waktu asar. Kekalahan menimpa pasukan Sulaiman bin Hisyam;
banyak dari mereka yang tewas, mendekati 17.000 orang, sejumlah itu pula yang
ditawan, dan markas pasukan mereka dijarah.
Adapun Sulaiman bin Hisyam beserta sisa pasukannya melarikan
diri ke Damaskus. Mereka memberitahukan peristiwa yang terjadi kepada Amirul
Mukminin Ibrahim bin al-Walid. Pada saat itu, para pemimpin pasukan berkumpul
dan bersepakat untuk membunuh kedua putra al-Walid, yaitu al-Hakam dan Utsman.
Mereka khawatir jika keduanya memegang kekhalifahan, mereka akan membinasakan
orang-orang yang memusuhi mereka dan yang telah membunuh ayah mereka. Maka
mereka mengutus Yazid bin Khalid al-Qasri, lalu ia pergi ke penjara dan memukul
kepala keduanya hingga tewas dengan tiang/gada besi. Ia juga membunuh Yusuf bin
Umar atS-Thaqafi yang dipenjara bersama mereka berdua.
Ketika Marwan bin Muhammad mendekati Damaskus pada bulan
Shafar tahun 127 H, Ibrahim bin al-Walid melarikan diri. Sementara itu,
Sulaiman bin Hisyam pergi ke baitulmal, membukanya, dan membagikan seluruh
isinya kepada para pengikut dan pasukan yang mengikutinya.
Para bekas hamba sahaya (mawali) al-Walid bin Yazid
memberontak dan mendatangi kediaman putra mahkota Abdul Aziz bin al-Hajjaj bin
Abdul Malik. Mereka membunuhnya di dalam rumahnya dan merampas harta benda di
dalamnya pada bulan Shafar. Mereka juga membongkar makam Yazid bin al-Walid lalu
menyalib jenazahnya di Pintu Gerbang al-Jabiyah.
Wafatnya
Khalifah Ibrahim bin al-Walid bersembunyi ketika Marwan
memasuki Damaskus pada bulan Shafar tahun 127 H. Setelah kedudukan Marwan kuat,
ia memberikan jaminan keamanan kepada Ibrahim dan Sulaiman bin Hisyam. Ibrahim
tetap hidup hingga akhirnya tewas dalam Pertempuran az-Zab pada tahun 132 H.
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar