Kekhalifahan Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik (125 – 126 H)

Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian era Umayyah, duduk di dalam halaman istana yang hangat, menatap ke atas dengan kedua telapak tangan terbuka, menunjukkan kepasrahan dan doa di depan sebuah gulungan perkamen yang terbuka.

Biografinya

Nasab dan Keluarganya

Ia adalah Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam, Abu Al-Abbas Al-Umawi Ad-Dimasyqi (orang Umayyah dari Damaskus).

Ia dibaiat sebagai khalifah setelah pamannya, Hisham. Ibunya adalah Ummu Al-Hajjaj binti Muhammad bin Yusuf Ats-Thaqafi. Ia lahir pada tahun 90 Hijriah.

Anak-anaknya antara lain:

  • Utsman bin Al-Walid (yang disembelih di dalam penjara), ibunya adalah Atikah binti Muhammad bin Utsman bin Muhammad bin Utsman bin Muhammad bin Abi Sufyan bin Harb.
  • Yazid bin Al-Walid bin Al-Walid.
  • Al-Hakam (yang disembelih di dalam penjara).
  • Al-Abbas, dan darinya Al-Walid mengambil gelar kunyah (Abu Al-Abbas).
  • Fihr.
  • Lu'ay.
  • Al-'Ashi.
  • Musa.
  • Qushay.
  • Wasith.
  • Zhu'abah.
  • Fatah.
  • Ummu Al-Hajjaj.

(Semua anak tersebut berasal dari ibu-ibu yang berbeda-beda).

  • Sa'id bin Al-Walid, ibunya adalah Ummu Abdul Malik binti Sa'id bin Khalid bin 'Amr bin Utsman bin Affan.

Pembaiatannya dan Masa Kepemimpinannya

Ayahnya, Yazid bin Abdul Malik, sebelumnya telah mencalonkannya sebagai putra mahkota bersama Hisham bin Abdul Malik.

Ketika Hisham memegang kekuasaan, ia memperlakukan keponakannya, Al-Walid, dengan baik. Namun, kemudian tampak jelas kebiasaan Al-Walid minum minuman keras, bergaul dengan teman-teman yang buruk, dan menghadiri majelis-majelis kelalaian (hura-hura). Hisham ingin menghentikan hal tersebut darinya, maka ia menunjuk Al-Walid sebagai pimpinan rombongan haji pada tahun 116 H. Akan tetapi, Al-Walid tidak kunjung sadar. Ia malah membawa alat-alat kelalaian, hal-hal yang diharamkan, dan teman-teman yang buruk ke dalam perjalanan haji tersebut.

Bahkan disebutkan bahwa ia membuat kubah/tenda berukuran sebesar Ka'bah, dan berniat untuk mendirikan kubah tersebut di atas atap Ka'bah agar ia dan teman-temannya bisa duduk di sana.

Namun, ketika tiba di Mekkah, ia merasa takut untuk melaksanakan niatnya duduk di atas Ka'bah karena khawatir akan penolakan dan kemarahan orang-orang.

Hisham telah berusaha memperbaikinya dan melarangnya berulang kali, tetapi Al-Walid tidak kunjung berhenti dan terus melanjutkan perilakunya yang buruk serta perbuatan jeleknya. Maka pamannya (Hisham) bertekad untuk mencopotnya dari status calon khalifah—seandainya saja hal itu benar-benar dilakukan—dan hendak menunjuk Maslamah bin Hisham setelahnya. Sejumlah panglima, paman-pamannya dari pihak ibu, penduduk Madinah, dan yang lainnya menyetujui hal itu. Seandainya saja rencana itu berhasil, namun proses pencopotannya tidak berjalan dengan lancar.

Hisham berulang kali menasihatinya hingga pada suatu hari Hisham berkata kepada Al-Walid: "Celaka kamu! Demi Allah, aku tidak tahu apakah kamu masih beragama Islam atau tidak. Sebab tidak ada satu pun kemungkaran melainkan kamu melakukannya tanpa rasa malu dan tanpa tersembunyi."

Akibat hal tersebut, terjadilah keretakan dan hubungan yang sangat dingin antara Hisham dan Al-Walid bin Yazid. Hisham bersikap memusuhinya dan bertekad mencopotnya, sehingga Al-Walid melarikan diri ke padang pasir. Ia terus berada di sana hingga Hisham meninggal dunia, sementara Al-Walid masih berada di padang pasir.

Ketika Hisham meninggal, orang-orang mendatangi Al-Walid yang berada di padang pasir dan mengucapkan salam kepadanya sebagai khalifah. Ia terkejut dan berkata: "Celaka kalian! Apakah Hisham telah meninggal?" Mereka menjawab: "Ya." Ia bertanya: "Siapa yang mengutus kalian?" Mereka menjawab: "Salim bin Abdul Rahman, kepala dewan surat-menyurat." Mereka memberikan surat kepadanya lalu ia membacanya. Kemudian ia menanyakan keadaan masyarakat dan bagaimana pamannya, Hisham, meninggal, lalu mereka memberitahukannya. Saat itu juga, ia menulis perintah untuk mengamankan seluruh harta dan kekayaan Hisham di Rushafah.

Al-Walid lalu berangkat menuju Damaskus dan tiba di sana pada hari Sabtu, tanggal sembilan Rabiul Akhir, kemudian manusia membaiatnya.

Umurnya pada saat itu adalah 34 tahun. Ia melantik para pejabat, menerima pembaiatan dari berbagai pelosok negeri, dan menerima delegasi-delegasi. Marwan bin Muhammad—yang saat itu menjabat sebagai gubernur Armenia dan Azerbaijan—mengirim surat kepadanya untuk mengucapkan selamat atas khilafah yang dikaruniakan Allah kepadanya atas hamba-hamba-Nya dan kekuasaan di negerinya. Marwan juga menyebutkan bahwa ia telah memperbarui baiat untuk Al-Walid di wilayahnya, dan bahwasanya mereka merasa gembira serta bersuka cita atas hal tersebut.

Penunjukan Putra Mahkota bagi Kedua Anaknya

Setelah pembaiatan Al-Walid sempurna, ia menetapkan pembaiatan putra mahkota untuk kedua anaknya, yaitu Al-Hakam, kemudian Utsman. Ia mengirimkan dokumen baiat tersebut kepada Yusuf bin 'Umar, gubernur Irak dan Khurasan. Yusuf lalu mengirimkannya kepada wakilnya di Khurasan, Nasr bin Sayyar Al-Kinani. Nasr kemudian menyampaikan khotbah yang sangat agung, fasih, dan panjang terkait hal itu, yang diriwayatkan secara utuh oleh Ibn Jarir. Kerajaan dan wilayah di timur maupun barat menjadi tunduk kepada Al-Walid, dan pembaiatan untuk kedua anaknya setelahnya diambil dari seluruh penjuru negeri.

Sikap dan Perilakunya di Awal Kepemimpinan

Pada awal pemerintahannya, Al-Walid menjalankan kepemimpinan dengan baik. Ia memerintahkan agar para penderita penyakit kronis, penderita kusta, dan orang-orang buta masing-masing diberi seorang pelayan. Ia mengeluarkan wewangian dan hadiah-hadiah dari baitulmal untuk keluarga-keluarga kaum muslimin, serta menaikkan gaji/tunjangan masyarakat, khususnya penduduk Syam dan para utusan/delegasi. Ia adalah seorang yang dermawan, dipuji, serta penyair yang ulung; ia tidak pernah diminta sesuatu pun lalu menjawab "tidak".

Pengosongan Penduduk Siprus

Pada tahun 125 H, Al-Walid bin Yazid mengirimkan pasukan ke penduduk Siprus bersama saudaranya, Al-Ghamr bin Yazid. Al-Walid berkata: "Beri mereka pilihan, barangsiapa yang ingin pindah ke Syam, dan barangsiapa yang ingin pindah ke Romawi". Maka di antara mereka ada yang memilih bertetangga dengan kaum muslimin di Syam, dan ada pula yang berpindah ke negeri Romawi.

Kepemimpinan Pelaksanaan Haji

Yusuf bin Muhammad Al-Thaqafi, gubernur Makkah, Madinah, dan Thaif, memimpin pelaksanaan haji bagi masyarakat pada tahun 125 H.

Penyebab Pemberontakan Terhadapnya dan Runtuhnya Kekuasaannya

Al-Hafizh Ibn Kathir menyebutkan beberapa riwayat dan hadis yang menggambarkan Al-Walid beserta kefasikannya, namun riwayat-riwayat tersebut tidak sahih.

Ibn Kathir berkata: "Orang ini terang-terangan melakukan perbuatan keji, terus-menerus melakukannya, melanggar hal-hal yang diharamkan Allah Azza wa Jalla, dan tidak segan dari kemaksiatan. Bahkan sebagian orang menuduhnya telah menjadi zindik (keluar dari ajaran agama) dan lepas dari agama. Wallahu a'lam (Allah yang lebih mengetahui). Namun yang tampak adalah bahwa dia merupakan seorang maksiat, penyair, suka bersenang-senang, serta mengonsumsi/melakukan kemaksiatan tanpa rasa takut atau malu kepada siapa pun, baik sebelum menjabat sebagai khalifah maupun sesudahnya".

Al-Zubair bin Bakkar berkata: Mus'ab bin Abdillah menceritakan kepada kami, dia berkata: "Aku mendengar ayahku berkata: Aku pernah berada di dekat Al-Mahdi, lalu disebutkanlah nama Al-Walid bin Yazid. Seorang pria di majelis itu berkata: 'Dia dulu seorang zindik'. Maka Al-Mahdi merespons: 'Kekhalifahan dari Allah terlalu mulia untuk Dia berikan kepada seorang zindik'".

Sikap Buruknya Terhadap Sepupunya

Ibn Jarir meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Al-Walid bin Yazid memukul sepupunya, Sulaiman bin Hisham, sebanyak seratus kali cambukan, mencukur rambut dan janggutnya, serta mengasingkannya ke Amman dan menahannya di sana. Sulaiman terus dipenjara di sana sampai Al-Walid terbunuh.

Dia juga mengambil seorang budak wanita milik keluarga sepupunya, Al-Walid bin Abd al-Malik. Umar bin Al-Walid bicara kepadanya mengenai budak tersebut, lalu Al-Walid menjawab: "Aku tidak akan mengembalikannya". Umar berkata: "Jika demikian, akan makin banyak ringkikan kuda perang di sekitar pasukanmu".

Dia juga menahan Yazid bin Hisham yang dijuluki Al-Afqam.

Dia memintakan baiat (Janji setia) untuk kedua anaknya, Al-Hakam dan Utsman, padahal keduanya belum balig. Hal tersebut sangat memberatkan masyarakat. Mereka memberinya nasihat namun dia tidak menerima nasihat, dan mereka melarangnya namun dia tidak berhenti maupun menerima.

Al-Mada'ini berkata dalam riwayatnya: "Hal itu terasa berat bagi masyarakat. Keluarga Hisham dan keluarga Al-Walid menuduhnya telah kafir dan menggauli ibu dari anak-anak ayahnya (bekas selir ayahnya)".

Pemberontakan Terhadap Al-Walid

Orang yang paling keras ucapannya terhadap Al-Walid adalah Yazid bin Al-Walid bin Abd al-Malik. Masyarakat pun lebih condong kepada perkataannya, karena Yazid menampilkan sikap ibadah dan ketundukan/kerendahan hati, serta sering berkata: "Kita tidak boleh ridha dengan kepemimpinan Al-Walid".

Yazid termasuk pemuka Bani Umayyah dan dikenal memiliki kebaikan, agama, serta sifat wara' (berhati-hati dari dosa). Maka masyarakat membaiatnya atas dasar hal tersebut. Saudaranya, Al-Abbas bin Al-Walid, sempat melarangnya namun dia tidak menerima. Al-Abbas berkata: "Demi Allah, seandainya aku tidak mengkhawatirkan keselamatanmu dari Al-Walid, niscaya aku sudah merantaumu dan mengirimmu kepadanya". Kebetulan, orang-orang keluar dari Damaskus karena adanya wabah penyakit yang terjadi di sana, dan di antara orang yang keluar adalah Amirul Mukminin Al-Walid bin Yazid.

Ketika urusan Yazid bin Al-Walid sudah makin kuat dan orang-orang telah membaiatnya, dia menuju ke Damaskus dan memasukinya saat Al-Walid tidak ada di sana. Mayoritas penduduknya membaiat Yazid. Yazid lalu mengutus saudaranya, Abdul Aziz bin Al-Walid bin Abd al-Malik, untuk mengejar Al-Walid bin Yazid agar membawanya.

Sebagian pelayan (mawali) Al-Walid menunggangi kuda pacu yang cepat, lalu memacunya hingga sampai ke tempat tuannya pada malam hari dalam keadaan kuda tersebut mati kelelahan. Pelayan itu memberitahukan kabar tersebut, namun Al-Walid tidak mempercayainya. Kemudian kabar beruntun terus bermunculan. Sebagian sahabatnya memberi saran agar dia berpindah dari tempat tinggalnya itu ke Hims karena tempat itu bentengnya kuat. Al-Abrasyi Sa'id bin Al-Walid Al-Kalbi berkata: "Singgahlah di tempat kaumku di Tadmur". Namun Al-Walid menolak menerima saran-saran tersebut.

Sebagian besar pangeran/pemimpin Bani Umayyah berkumpul untuk memerangi Al-Walid bin Yazid. Ketika masyarakat melihat berkumpulnya para pangeran tersebut, mereka melarikan diri dari Al-Walid dan bergabung dengan pangeran-pangeran itu. Al-Walid tinggal dalam keadaan terhina dan hanya tersisa sedikit orang bersamanya. Dia berlindung di dalam benteng, lalu mereka datang mengepungnya dari segala penjuru. Al-Walid mendekati pintu benteng dan berseru:

"Hendaknya seorang pria mulia berbicara denganku". Maka Yazid bin 'Anbasah Al-Saksaki berbicara kepadanya. Al-Walid berkata: "Bukankah aku telah membebaskan beban kalian? Bukankah aku telah memberi bantuan kepada orang-orang miskin di antara kalian? Bukankah aku telah melayani orang-orang yang sakit/cacat di antara kalian?"

Yazid berkata kepadanya: "Kami membencimu hanya karena engkau melanggar hal-hal yang diharamkan, meminum khamar, menikahi bekas selir-selir ayahmu, dan meremehkan perintah Allah Azza wa Jalla". Al-Walid berkata: "Cukup wahai saudaraku dari Al-Sakasik". Lalu dia kembali ke dalam rumah, duduk dan meletakkan mushaf Al-Qur'an di depannya. Dia membukanya dan mulai membacanya seraya berkata: "Hari ini seperti harinya Utsman".

Al-Walid pasrah. Orang-orang tersebut memanjat tembok menyerbunya, dan orang pertama yang turun mendekatinya adalah Yazid bin 'Anbasah. Yazid maju mendekatinya sedangkan di samping Al-Walid ada pedang. Yazid berkata: "Jauhkan pedang itu darimu". Al-Walid menjawab: "Jika aku ingin bertempur dengannya, tentu keadaannya tidak akan seperti ini".

Yazid memegang tangannya dengan maksud menahannya sampai dikirim ke Yazid bin Al-Walid. Namun sepuluh orang pangeran mendahuluinya; mereka langsung mendatangi Al-Walid dan memukul kepala serta wajahnya dengan pedang hingga mereka membunuhnya. Peristiwa itu terjadi pada hari Kamis, tersisa dua malam dari bulan Jumadil Akhir tahun 126 H. Masa kekhalifahannya berlangsung selama: satu tahun, tiga bulan, dan sembilan belas hari.

Merekapun mengutus utusan kepada Yazid bin Al-Walid bin Abd al-Malik untuk menyampaikan kabar gembira atas terbunuhnya Al-Walid bin Yazid bin Abd al-Malik, serta mengucapkan salam kepadanya sebagai khalifah. Yazid memberi hadiah sepuluh ribu (dirham) kepada setiap orang dari mereka.

Rauh bin Muqbil berkata kepadanya: "Bergembiralah wahai Amirul Mukminin atas terbunuhnya Al-Walid yang fasik". Maka Yazid bersujud syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Pasukan-pasukan pun kembali tunduk kepada Yazid. Orang pertama yang memegang tangannya untuk memberikan baiat adalah Yazid bin 'Anbasah Al-Saksaki. Yazid (sang khalifah baru) menarik tangannya sebentar dari pegangannya lalu berdoa: "Ya Allah, jika hal ini merupakan keridhaan bagi-Mu, maka bantulah aku melaksanakannya".

Tokoh-Tokoh Terkenal yang Wafat pada Masanya

1.      Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib Al-Quraysyi Al-Hasyimi

Beliau adalah ayah dari Ash-Saffah dan Al-Mansyur. Dahulu, Abdullah bin Muhammad bin Al-Hanafiyyah (Abu Hasyim) telah berwasiat kepadanya untuk memegang urusan (kepemimpinan) setelahnya. Beliau memiliki pengetahuan tentang kabar-kabar (masa depan), lalu menyampaikan kabar gembira kepadanya bahwa khilafah kelak akan berada pada keturunannya. Maka beliau mulai menyeru untuk dirinya pada tahun 87 H. Urusannya terus berkembang hingga beliau wafat pada tahun 125 H dalam usia 63 tahun. Beliau mewasiatkan urusan kepemimpinan setelahnya kepada anaknya, Ibrahim. Namun, urusan tersebut baru benar-benar mantap untuk anaknya yang bernama Ash-Saffah, yang kemudian merebut kekuasaan dari Bani Umayyah pada tahun 132 H.

2.      Yahya bin Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib

Beliau bersembunyi ketika ayahnya, Zaid, terbunuh pada tahun 121 H di Khurasan, yaitu di tempat Al-Harisy bin Amr bin Dawud di Balkh, hingga Hisham bin Abdul Malik meninggal. Saat itu, Yusuf bin Umar berkirim surat kepada Nasr bin Sayyar untuk memberitahukan tentang keberadaan Yahya bin Zaid. Maka Nasr bin Sayyar berkirim surat kepada wakil gubernur Balkh, Uqail bin Ma'qil Al-Ijli, untuk mencari Yahya, hingga akhirnya beliau berhasil ditangkap dan dipenjarakan.

Lalu Al-Walid berkirim surat kepada Nasr bin Sayyar yang memerintahkannya untuk membebaskan Yahya dari penjara dan mengirimkannya beserta para pengikutnya, serta memfasilitasi perjalanan mereka. Maka Nasr membebaskan mereka, lalu mereka berjalan menuju Damaskus. Namun ketika mereka sampai di tengah jalan, Nasr menduga akan ada pengkhianatan dari Yahya, sehingga ia mengutus pasukan sebanyak 10.000 orang. Pasukan tersebut berhasil dikalahkan oleh Yahya bin Zaid. Kemudian datang pasukan lain, lalu mereka membunuh Yahya, memotong kepalanya, dan membunuh seluruh pengikutnya, semoga Allah meratai mereka dengan rahmat-Nya.


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Hisham bin Abdul Malik bin Marwan (105–125 H)

Kekhalifahan Yazid bin Abdul Malik bin Marwan (101 – 105 H)

Para Raja Ma'in yang Terlupakan: Perdebatan Panjang Para Ahli