Sebagian Keutamaan dan Kabar yang Menberitakan akan Terbunuhnya Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu

Sebuah gambar sinematik berformat panorama 16:9 dengan gaya lukisan sejarah yang memperlihatkan ruangan luas berarsitektur Islam kuno dari batu dan kayu. Di dalam ruangan, duduk bersimpuh dua pria Muslim paruh baya dan tua di atas permadani Persia yang detail. Di sebelah kanan, sosok Umar bin Al-Khattab digambarkan sebagai pria tua berjanggut putih panjang dengan sorban dan jubah gelap sedang menunduk khusyuk. Di latar belakang, seorang utusan dari Yaman yang mengenakan pakaian tradisional Arab sedang berdiri sambil memegang beberapa lapis pakaian kain indah yang dilipat rapi. Melalui sebuah jendela lengkung besar di tengah ruangan, terlihat pemandangan luar berupa pemukiman kota Madinah kuno di bawah pancaran cahaya sore hari yang hangat dan damai.

Penjelasan Mengenai Sebagian Keutamaan Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadis Syu'bah dan Mahdi bin Maimun, dari Muhammad bin Abi Ya'qub, "Aku mendengar Ibnu Abi Nu'm berkata: Aku mendengar Abdullah bin Umar ditanya oleh seorang laki-laki dari penduduk Irak tentang hukum orang yang sedang berihram membunuh lalat. Maka beliau menjawab, 'Penduduk Irak bertanya tentang hukum membunuh lalat, padahal mereka telah membunuh anak dari putri Rasulullah !' Padahal Rasulullah telah bersabda:

«هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا» Artinya: "Keduanya adalah kesayanganku (wewangianku) di dunia."

Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abu Ahmad, menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Al-Jahhaf, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي» Artinya: "Barangsiapa mencintai keduanya, maka dia telah mencintaiku. Dan barangsiapa membenci keduanya, maka dia telah membenciku." Yang dimaksud oleh beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain.

Dan At-Tirmidzi berkata: menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Fudhail bin Marzuq, dari Adi bin Tsabit, dari Al-Bara', bahwasanya Rasulullah melihat Al-Hasan dan Al-Husain lalu beliau bersabda:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا» Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya." Kemudian beliau (At-Tirmidzi) berkata: Hadis ini hasan shahih.

Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Zaid bin Al-Hubab, dari Al-Husain bin Waqid, serta para penyusun kitab Sunan yang empat dari hadis Al-Husain bin Waqid, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah pernah berkhutbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Al-Hasan dan Al-Husain dengan mengenakan dua kemeja merah, keduanya berjalan sambil tersandung-sandung. Maka Rasulullah turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan meletakkan mereka di hadapannya, kemudian beliau bersabda:

«صَدَقَ اللهُ: ﴿أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾ فَنَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنَ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا» Artinya: "Mahabenar Allah (dengan firman-Nya): {Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan} (QS. At-Taghabun: 15). Aku melihat kedua anak kecil ini berjalan sambil tersandung-sandung, aku tidak sabar hingga aku memutus pembicaraanku dan mengangkat keduanya.'" (Ini adalah lafaz At-Tirmidzi).

Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, menceritakan kepada kami Sufyan, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Ibnu Abi Nu'm, dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ» Artinya: "Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin pemuda ahli surga." Dan At-Tirmidzi meriwayatkannya pula dari hadis Sufyan Ats-Tsauri dan selainnya, dari Yazid bin Abi Ziyad, dan beliau berkata: hadis ini hasan shahih.

Dan telah tetap (diriwayatkan) bahwasanya Umar bin Al-Khattab mencintai keduanya, memuliakan keduanya, menggendong keduanya, dan memberi mereka bagian di Diwan (kas negara) sebagaimana beliau memberi bagian kepada ayah mereka. Suatu ketika didatangkan pakaian-pakaian indah dari Yaman, lalu beliau membagikannya kepada anak-anak para sahabat, namun beliau tidak memberikan sesuatu pun dari pakaian tersebut kepada mereka berdua, dan beliau berkata: "Tidak ada di antara pakaian ini yang layak untuk mereka berdua." Kemudian beliau mengirim utusan kepada gubernur Yaman, lalu memesankan dua set pakaian khusus yang sesuai untuk mereka berdua.

Dan Muhammad bin Sa'd berkata: mengabarkan kepada kami Ya'la bin Ubaid, menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Al-Walid Al-Wasshafi, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: "Al-Husain bin Ali telah menunaikan ibadah haji sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki, sementara unta-unta tunggangannya dituntun di hadapannya."

Ibnu Katsir berkata: "Dan yang benar adalah bahwa hal itu sebenarnya dilakukan oleh saudaranya, yaitu Al-Hasan, sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-Bukhari. Dan Al-Asma'i mengisahkan dari Ibnu Awn, bahwasanya Al-Hasan pernah menulis surat kepada Al-Husain yang isinya mengkritik tindakannya memberikan harta kepada para penyair, lalu Al-Husain menjawab: 'Sesungguhnya sebaik-baik harta adalah harta yang dapat menjaga kehormatan.'"

Kabar-Kabar yang Memberitakan tentang Terbunuhnya Al-Husain bin Ali Radhiyallahu 'Anhu

Al-Hafiz Ibnu Katsir menyebutkan sejumlah riwayat dan atsar yang memberitakan tentang terbunuhnya Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu , kemudian beliau memberikan komentar di akhir riwayat-riwayat tersebut.

Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abdus Shamad bin Hassan, menceritakan kepada kami Umarah —yaitu Ibnu Zazan—, dari Tsabit, dari Anas, ia berkata: "Malaikat penjaga hujan meminta izin untuk mendatangi Nabi , maka beliau pun mengizinkannya. Beliau bersabda kepada Ummu Salamah:

«احْفَظِي عَلَيْنَا الْبَابَ لَا يَدْخُلُ أَحَدٌ» Artinya: "Jagalah pintu untuk kami agar jangan ada seorang pun yang masuk."

Lalu Al-Husain bin Ali datang dan melompat hingga masuk (ke dalam kamar), kemudian ia mulai memanjat ke atas bahu Nabi , maka malaikat itu bertanya kepada beliau: "Apakah engkau mencintainya?" Nabi menjawab:

«نَعَمْ» Artinya: "Ya."

Malaikat itu berkata: "Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya, dan jika engkau mau, aku akan memperlihatkan kepadamu tempat ia akan dibunuh." Anas berkata: "Malaikat itu menepukkan tangannya, lalu memperlihatkan kepada beliau tanah yang berwarna merah. Kemudian Ummu Salamah mengambil tanah tersebut dan membungkusnya di ujung pakaiannya." Anas berkata: "Maka kami sering mendengar kabar bahwa ia akan dibunuh di Karbala."

Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Waki', menceritakan kepadaku Abdullah bin Said, dari ayahnya, dari Aisyah atau Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah bersabda kepada salah seorang dari keduanya:

«لَقَدْ دَخَلَ عَلِيَّ الْبَيْتَ مَلَكُ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيَّ قَبْلَهَا، فَقَالَ لِي : إِنَّ ابْنَكَ هَذَا حُسَيْنٌ مَقْتُولٌ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ الْأَرْضَ الَّتِي يُقْتَلُ بِهَا» Artinya: "Sungguh, sesosok malaikat yang belum pernah masuk menemuiku sebelum ini telah masuk menemuiku di dalam rumah, lalu berkata kepadaku: 'Sesungguhnya anakmu ini, yaitu Husain, akan dibunuh, dan jika engkau mau, akan aku tunjukkan kepadamu tanah tempat ia dibunuh.'"

Beliau bersabda: «فَأَخْرَجَ تُرْبَةً حَمْرَاءَ» Artinya: "Maka malaikat itu mengeluarkan tanah yang berwarna merah." Dan hadis ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ummu Salamah.

Ibnu Katsir berkata: "Dan sungguh, kaum Syiah telah berlebih-lebihan dalam menyikapi hari Asyura, sehingga mereka membuat banyak hadis palsu dan kedustaan yang keji; di antaranya klaim bahwa matahari mengalami gerhana pada hari itu hingga bintang-bintang bermunculan, tidak ada batu yang diangkat pada hari itu melainkan di bawahnya ditemukan darah, penjuru langit memerah, matahari terbit dengan sinarnya yang seolah-olah darah, langit menjadi seperti gumpalan darah, bintang-bintang saling bertabrakan satu sama lain, langit menurunkan hujan darah berwarna merah, dan bahwa warna merah di langit itu belum pernah ada sebelum hari tersebut. Dan Ibnu Lahiah meriwayatkan dari Abu Qabil Al-Mu'afiri, bahwa matahari mengalami gerhana pada hari itu sampai bintang-bintang terlihat pada waktu zuhur. Serta klaim bahwa kepala Al-Husain ketika dibawa masuk ke dalam istana gubernur, dinding-dindingnya mulai mengalirkan darah, dan bumi menjadi gelap gulita selama tiga hari."

"Serta tidaklah kuma-kuma (za'faran) maupun tanaman wars yang dibawa bersamanya pada hari itu disentuh, melainkan orang yang menyentuhnya akan terbakar. Dan tidak ada satu pun batu dari batu-batu Baitul Maqdis yang diangkat, melainkan tampak di bawahnya darah segar. Dan unta-unta yang mereka jarah dari unta-unta milik Al-Husain, ketika mereka memasaknya, dagingnya berubah menjadi sepahit jadam. Serta kedustaan-kedustaan dan hadis-hadis palsu lainnya yang tidak ada satu pun yang sahih."

Adapun apa yang diriwayatkan mengenai petaka dan fitnah yang menimpa orang-orang yang membunuhnya, maka kebanyakan darinya adalah benar (sahih). Karena hampir tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat di dunia melainkan ditimpa penyakit, dan kebanyakan dari mereka ditimpa kegilaan.

Ibnu Katsir berkata: "Kaum Syiah dan Rafidhah memiliki banyak kedustaan dan riwayat-riwayat batil mengenai gambaran kematian Al-Husain radhiyallahu 'anhu. Apa yang telah kami sebutkan di sini sebenarnya sudah mencukupi, meskipun dalam sebagian perkara yang kami bawakan masih perlu ditinjau ulang. Seandainya bukan karena Ibnu Jarir dan para imam hafiz lainnya menyebutkannya, niscaya aku tidak akan membawakannya. Kebanyakan riwayat tersebut bersumber dari riwayat Abu Mikhnaf Lut bin Yahya, dan dia adalah seorang Syiah serta lemah (dhaif) dalam periwayatan hadis menurut para imam. Akan tetapi, dia adalah seorang ahli sejarah yang hafiz (banyak mengahafal riwayat), dia memiliki informasi mengenai hal-hal ini yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan karena itulah banyak penulis setelahnya bersandar kepadanya. Dan Allah yang lebih mengetahui."

"Kaum Rafidhah telah berlebih-lebihan pada masa Dinasti Buwaihi di sekitar tahun empat ratusan Hijriah dan sekitarnya. Genderang (tabuhan) dipukul di Baghdad dan kota-kota lainnya pada hari Asyura, debu dan jerami ditaburkan di jalan-jalan serta pasar-pasar, kain-kain kabung digantungkan di toko-toko, dan orang-orang menampakkan kesedihan serta tangisan. Banyak dari mereka yang tidak meminum air pada malam itu untuk menyamai keadaan Al-Husain, karena beliau terbunuh dalam keadaan haus (menurut klaim mereka). Kemudian kaum wanita keluar dengan membuka wajah mereka, meratap, memukul wajah dan dada mereka, berjalan tanpa alas kaki di pasar-pasar, serta bid'ah-bid'ah buruk lainnya, hawa nafsu yang mengerikan, dan pelanggaran kehormatan yang diada-adakan. Mereka hanyalah bermaksud dengan tindakan tersebut dan yang sejenisnya untuk menjelek-jelekkan Daulah Bani Umayyah; karena beliau terbunuh pada masa kedinasan mereka."

"Dan kaum Nawashib dari penduduk Syam melakukan tindakan yang sebaliknya untuk menentang kaum Rafidhah dan Syiah pada hari Asyura. Pada hari Asyura tersebut, mereka memasak biji-bijian, mandi, memakai wewangian, mengenakan pakaian termegah mereka, dan menjadikan hari itu sebagai hari raya, mereka membuat berbagai jenis makanan di dalamnya, serta menampakkan kegembiraan dan suka cita; mereka bermaksud dengan hal itu untuk menentang dan menyelisihi kaum Rafidhah."


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan : Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya

Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan (60 - 64 H) : Biografi dan Kekhalifahannya