Sebagian Keutamaan dan Kabar yang Menberitakan akan Terbunuhnya Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu
Penjelasan Mengenai Sebagian Keutamaan Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu
Al-Bukhari meriwayatkan dari hadis Syu'bah dan Mahdi bin
Maimun, dari Muhammad bin Abi Ya'qub, "Aku mendengar Ibnu Abi Nu'm
berkata: Aku mendengar Abdullah bin Umar ditanya oleh seorang laki-laki dari
penduduk Irak tentang hukum orang yang sedang berihram membunuh lalat. Maka
beliau menjawab, 'Penduduk Irak bertanya tentang hukum membunuh lalat, padahal
mereka telah membunuh anak dari putri Rasulullah ﷺ!' Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:
«هُمَا
رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا» Artinya: "Keduanya adalah
kesayanganku (wewangianku) di dunia."
Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abu Ahmad,
menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Al-Jahhaf, dari Abu Hazim, dari Abu
Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ
أَبْغَضَنِي» Artinya: "Barangsiapa mencintai keduanya, maka dia
telah mencintaiku. Dan barangsiapa membenci keduanya, maka dia telah
membenciku." Yang dimaksud oleh beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain.
Dan At-Tirmidzi berkata: menceritakan kepada kami Mahmud bin
Ghailan, menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Fudhail bin Marzuq, dari Adi
bin Tsabit, dari Al-Bara', bahwasanya Rasulullah ﷺ melihat Al-Hasan dan Al-Husain lalu beliau
bersabda:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا» Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya
aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya." Kemudian beliau
(At-Tirmidzi) berkata: Hadis ini hasan shahih.
Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Zaid bin Al-Hubab,
dari Al-Husain bin Waqid, serta para penyusun kitab Sunan yang empat dari hadis
Al-Husain bin Waqid, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
pernah berkhutbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Al-Hasan dan Al-Husain
dengan mengenakan dua kemeja merah, keduanya berjalan sambil
tersandung-sandung. Maka Rasulullah ﷺ turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan meletakkan
mereka di hadapannya, kemudian beliau bersabda:
«صَدَقَ
اللهُ: ﴿أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾ فَنَظَرْتُ إِلَى
هَذَيْنَ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى
قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا» Artinya: "Mahabenar Allah (dengan
firman-Nya): {Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan} (QS.
At-Taghabun: 15). Aku melihat kedua anak kecil ini berjalan sambil
tersandung-sandung, aku tidak sabar hingga aku memutus pembicaraanku dan
mengangkat keduanya.'" (Ini adalah lafaz At-Tirmidzi).
Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abu Nu'aim,
menceritakan kepada kami Sufyan, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Ibnu Abi Nu'm,
dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْحَسَنُ
وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ» Artinya: "Al-Hasan
dan Al-Husain adalah dua pemimpin pemuda ahli surga." Dan At-Tirmidzi
meriwayatkannya pula dari hadis Sufyan Ats-Tsauri dan selainnya, dari Yazid bin
Abi Ziyad, dan beliau berkata: hadis ini hasan shahih.
Dan telah tetap (diriwayatkan) bahwasanya Umar bin
Al-Khattab mencintai keduanya, memuliakan keduanya, menggendong keduanya, dan
memberi mereka bagian di Diwan (kas negara) sebagaimana beliau memberi bagian
kepada ayah mereka. Suatu ketika didatangkan pakaian-pakaian indah dari Yaman,
lalu beliau membagikannya kepada anak-anak para sahabat, namun beliau tidak
memberikan sesuatu pun dari pakaian tersebut kepada mereka berdua, dan beliau
berkata: "Tidak ada di antara pakaian ini yang layak untuk mereka berdua."
Kemudian beliau mengirim utusan kepada gubernur Yaman, lalu memesankan dua set
pakaian khusus yang sesuai untuk mereka berdua.
Dan Muhammad bin Sa'd berkata: mengabarkan kepada kami Ya'la
bin Ubaid, menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Al-Walid Al-Wasshafi, dari
Abdullah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: "Al-Husain bin Ali telah
menunaikan ibadah haji sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki,
sementara unta-unta tunggangannya dituntun di hadapannya."
Ibnu Katsir berkata: "Dan yang benar adalah bahwa hal
itu sebenarnya dilakukan oleh saudaranya, yaitu Al-Hasan, sebagaimana yang
dikisahkan oleh Al-Bukhari. Dan Al-Asma'i mengisahkan dari Ibnu Awn, bahwasanya
Al-Hasan pernah menulis surat kepada Al-Husain yang isinya mengkritik
tindakannya memberikan harta kepada para penyair, lalu Al-Husain menjawab:
'Sesungguhnya sebaik-baik harta adalah harta yang dapat menjaga
kehormatan.'"
Kabar-Kabar yang Memberitakan tentang Terbunuhnya
Al-Husain bin Ali Radhiyallahu 'Anhu
Al-Hafiz Ibnu Katsir menyebutkan sejumlah riwayat dan atsar
yang memberitakan tentang terbunuhnya Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu , kemudian
beliau memberikan komentar di akhir riwayat-riwayat tersebut.
Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Abdus Shamad
bin Hassan, menceritakan kepada kami Umarah —yaitu Ibnu Zazan—, dari Tsabit,
dari Anas, ia berkata: "Malaikat penjaga hujan meminta izin untuk
mendatangi Nabi ﷺ,
maka beliau pun mengizinkannya. Beliau bersabda kepada Ummu Salamah:
«احْفَظِي
عَلَيْنَا الْبَابَ لَا يَدْخُلُ أَحَدٌ» Artinya: "Jagalah
pintu untuk kami agar jangan ada seorang pun yang masuk."
Lalu Al-Husain bin Ali datang dan melompat hingga masuk (ke
dalam kamar), kemudian ia mulai memanjat ke atas bahu Nabi ﷺ, maka malaikat itu
bertanya kepada beliau: "Apakah engkau mencintainya?" Nabi ﷺ
menjawab:
«نَعَمْ»
Artinya: "Ya."
Malaikat itu berkata: "Sesungguhnya umatmu akan
membunuhnya, dan jika engkau mau, aku akan memperlihatkan kepadamu tempat ia
akan dibunuh." Anas berkata: "Malaikat itu menepukkan tangannya, lalu
memperlihatkan kepada beliau tanah yang berwarna merah. Kemudian Ummu Salamah
mengambil tanah tersebut dan membungkusnya di ujung pakaiannya." Anas
berkata: "Maka kami sering mendengar kabar bahwa ia akan dibunuh di
Karbala."
Dan Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Waki',
menceritakan kepadaku Abdullah bin Said, dari ayahnya, dari Aisyah atau Ummu
Salamah, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda kepada salah seorang dari keduanya:
«لَقَدْ
دَخَلَ عَلِيَّ الْبَيْتَ مَلَكُ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيَّ قَبْلَهَا، فَقَالَ لِي :
إِنَّ ابْنَكَ هَذَا حُسَيْنٌ مَقْتُولٌ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ الْأَرْضَ
الَّتِي يُقْتَلُ بِهَا» Artinya: "Sungguh, sesosok
malaikat yang belum pernah masuk menemuiku sebelum ini telah masuk menemuiku di
dalam rumah, lalu berkata kepadaku: 'Sesungguhnya anakmu ini, yaitu Husain,
akan dibunuh, dan jika engkau mau, akan aku tunjukkan kepadamu tanah tempat ia
dibunuh.'"
Beliau bersabda: «فَأَخْرَجَ تُرْبَةً حَمْرَاءَ» Artinya: "Maka
malaikat itu mengeluarkan tanah yang berwarna merah." Dan hadis ini
telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ummu Salamah.
Ibnu Katsir berkata: "Dan sungguh, kaum Syiah telah
berlebih-lebihan dalam menyikapi hari Asyura, sehingga mereka membuat banyak
hadis palsu dan kedustaan yang keji; di antaranya klaim bahwa matahari
mengalami gerhana pada hari itu hingga bintang-bintang bermunculan, tidak ada
batu yang diangkat pada hari itu melainkan di bawahnya ditemukan darah, penjuru
langit memerah, matahari terbit dengan sinarnya yang seolah-olah darah, langit
menjadi seperti gumpalan darah, bintang-bintang saling bertabrakan satu sama
lain, langit menurunkan hujan darah berwarna merah, dan bahwa warna merah di
langit itu belum pernah ada sebelum hari tersebut. Dan Ibnu Lahiah meriwayatkan
dari Abu Qabil Al-Mu'afiri, bahwa matahari mengalami gerhana pada hari itu
sampai bintang-bintang terlihat pada waktu zuhur. Serta klaim bahwa kepala
Al-Husain ketika dibawa masuk ke dalam istana gubernur, dinding-dindingnya mulai
mengalirkan darah, dan bumi menjadi gelap gulita selama tiga hari."
"Serta tidaklah kuma-kuma (za'faran) maupun tanaman
wars yang dibawa bersamanya pada hari itu disentuh, melainkan orang yang
menyentuhnya akan terbakar. Dan tidak ada satu pun batu dari batu-batu Baitul
Maqdis yang diangkat, melainkan tampak di bawahnya darah segar. Dan unta-unta
yang mereka jarah dari unta-unta milik Al-Husain, ketika mereka memasaknya,
dagingnya berubah menjadi sepahit jadam. Serta kedustaan-kedustaan dan
hadis-hadis palsu lainnya yang tidak ada satu pun yang sahih."
Adapun apa yang diriwayatkan mengenai petaka dan fitnah yang
menimpa orang-orang yang membunuhnya, maka kebanyakan darinya adalah benar
(sahih). Karena hampir tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat di dunia
melainkan ditimpa penyakit, dan kebanyakan dari mereka ditimpa kegilaan.
Ibnu Katsir berkata: "Kaum Syiah dan Rafidhah memiliki
banyak kedustaan dan riwayat-riwayat batil mengenai gambaran kematian Al-Husain
radhiyallahu 'anhu. Apa yang telah kami sebutkan di sini sebenarnya sudah
mencukupi, meskipun dalam sebagian perkara yang kami bawakan masih perlu
ditinjau ulang. Seandainya bukan karena Ibnu Jarir dan para imam hafiz lainnya
menyebutkannya, niscaya aku tidak akan membawakannya. Kebanyakan riwayat
tersebut bersumber dari riwayat Abu Mikhnaf Lut bin Yahya, dan dia adalah seorang
Syiah serta lemah (dhaif) dalam periwayatan hadis menurut para imam. Akan
tetapi, dia adalah seorang ahli sejarah yang hafiz (banyak mengahafal riwayat),
dia memiliki informasi mengenai hal-hal ini yang tidak dimiliki oleh orang
lain, dan karena itulah banyak penulis setelahnya bersandar kepadanya. Dan
Allah yang lebih mengetahui."
"Kaum Rafidhah telah berlebih-lebihan pada masa Dinasti
Buwaihi di sekitar tahun empat ratusan Hijriah dan sekitarnya. Genderang
(tabuhan) dipukul di Baghdad dan kota-kota lainnya pada hari Asyura, debu dan
jerami ditaburkan di jalan-jalan serta pasar-pasar, kain-kain kabung
digantungkan di toko-toko, dan orang-orang menampakkan kesedihan serta
tangisan. Banyak dari mereka yang tidak meminum air pada malam itu untuk
menyamai keadaan Al-Husain, karena beliau terbunuh dalam keadaan haus (menurut
klaim mereka). Kemudian kaum wanita keluar dengan membuka wajah mereka,
meratap, memukul wajah dan dada mereka, berjalan tanpa alas kaki di
pasar-pasar, serta bid'ah-bid'ah buruk lainnya, hawa nafsu yang mengerikan, dan
pelanggaran kehormatan yang diada-adakan. Mereka hanyalah bermaksud dengan
tindakan tersebut dan yang sejenisnya untuk menjelek-jelekkan Daulah Bani
Umayyah; karena beliau terbunuh pada masa kedinasan mereka."
"Dan kaum Nawashib dari penduduk Syam melakukan
tindakan yang sebaliknya untuk menentang kaum Rafidhah dan Syiah pada hari
Asyura. Pada hari Asyura tersebut, mereka memasak biji-bijian, mandi, memakai
wewangian, mengenakan pakaian termegah mereka, dan menjadikan hari itu sebagai
hari raya, mereka membuat berbagai jenis makanan di dalamnya, serta menampakkan
kegembiraan dan suka cita; mereka bermaksud dengan hal itu untuk menentang dan
menyelisihi kaum Rafidhah."
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar