Sebab Terbunuhnya Utsman; Apa Sebab Beliau Radhiyallahu 'Anhu Dibunuh?
Lampiran Pertama
Dari Kitab Asy-Syari'ah karya Imam Abu Bakar Al-Ajurri
(Wafat: 360 H)
Sebab Terbunuhnya Utsman; Apa Sebab Beliau Radhiyallahu
'Anhu Dibunuh?
Muhammad bin al-Husain Rahimahullah berkata:
Jika ada yang bertanya: "Anda telah menyebutkan riwayat
dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau menyebutkan tentang
fitnah yang akan terjadi setelah wafatnya, kemudian beliau bersabda tentang
Utsman:
"Ikutilah orang ini (Utsman) dan para sahabatnya,
karena sesungguhnya mereka pada hari itu berada di atas petunjuk."
Maka kabarkanlah kepada kami, siapakah para sahabatnya yang
dimaksud?"
Maka dijawab: Sahabat-sahabatnya adalah para sahabat
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang telah dipersaksikan masuk
surga, yang sifat-sifat mereka telah disebutkan dalam Taurat dan Injil. Mereka
adalah orang-orang yang jika dicintai akan mendatangkan kebahagiaan, dan jika
dibenci akan mendatangkan kesengsaraan.
Jika dia bertanya lagi: "Sebutkanlah siapa saja
mereka?"
Maka dijawab: Mereka adalah Ali bin Abi Thalib,
Thalhah, Az-Zubair, Sa'ad, dan Sa'id Radhiyallahu 'Anhum. Seluruh
sahabat pada masa mereka Radhiyallahu 'Anhum semuanya berada di atas
petunjuk, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam. Mereka semua mengingkari pembunuhan Utsman, menganggap besar
(sangat mengecam) peristiwa yang menimpa Utsman Radhiyallahu 'Anhu, dan
mereka bersaksi bahwa para pembunuhnya akan masuk neraka.
Jika dia bertanya lagi: "Lalu siapakah yang
membunuhnya?"
Maka dijawab: Mereka adalah kelompok-kelompok orang
yang telah Allah Azza wa Jalla celakakan dengan sebab membunuh Utsman.
Hal itu mereka lakukan karena rasa benci, dengki, dan melampaui batas. Mereka
menginginkan fitnah serta ingin menimbulkan permusuhan di antara umat Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam, karena kesengsaraan yang telah ditetapkan atas mereka di
dunia, dan azab bagi mereka di akhirat jauh lebih besar.
Jika dia bertanya: "Dari mana asal mula mereka
berkumpul untuk membunuhnya?"
Maka dijawab: Awal mula dan pangkal perkara tersebut
adalah dari seorang Yahudi yang dipanggil dengan sebutan "Ibnu
as-Sauda", yang dikenal sebagai Abdullah bin Saba'—semoga laknat Allah
menimpanya. Ia berpura-pura masuk Islam lalu tinggal di Madinah. Rasa dengki
mendorongnya untuk memusuhi Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, para
sahabat beliau, dan Islam.
Ia menyusup ke tengah-tengah kaum muslimin sebagaimana
menyusupnya raja Yahudi yang bernama Paulus bin Syaul (Paulus dari Tarsus) ke
tengah-tengah umat Nasrani, hingga ia berhasil menyesatkan mereka, memecah
belah mereka menjadi golongan-golongan, dan menjadikan mereka berpartai-partai.
Setelah malapetaka dan kekufuran itu mengakar kuat pada mereka, Paulus
meninggalkan mereka, dan kisahnya sangat panjang, lalu setelah itu mereka
kembali kepada agama Yahudi.
Begitulah Abdullah bin Saba' menampilkan diri sebagai orang
Islam. Ia menampakkan gerakan amar makruf nahi mungkar, lalu berhasil
mendapatkan pengikut di berbagai negeri. Kemudian ia mulai menampakkan celaan
kepada para gubernur/pemimpin, lalu menampakkan celaan kepada Utsman Radhiyallahu
'Anhu, kemudian mencela Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu 'Anhuma. Setelah
itu ia menampakkan diri seolah-olah menjadi pengikut setia (loyal) kepada Ali Radhiyallahu
'Anhu. Padahal, Allah Yang Maha Pemurah telah melindungi Ali bin Abi
Thalib, anak-anaknya, serta keturunannya Radhiyallahu 'Anhum dari
mazhab/paham Ibnu Saba' dan para pengikutnya (kaum Sabaiyyah).
Ketika fitnah dan kesesatan ini telah mengakar kuat pada
Ibnu Saba' dan para pengikutnya, ia pergi ke Kufah dan mendapatkan pengikut di
sana. Kemudian ia datang ke Basrah dan mendapatkan pengikut di sana. Lalu ia
datang ke Mesir dan mendapatkan pengikut di sana, yang mana mereka semua adalah
orang-orang sesat. Selanjutnya mereka saling berjanji menentukan waktu dan
saling bersurat-suratan untuk berkumpul di suatu tempat. Kemudian mereka semua
bergerak menuju Madinah untuk membuat fitnah (kekacauan) di Madinah beserta
penduduknya, dan mereka pun benar-benar melakukannya. Mereka berjalan ke
Madinah lalu membunuh Utsman Radhiyallahu 'Anhu. Padahal, penduduk
Madinah sama sekali tidak mengetahui rencana tersebut sampai mereka tiba-tiba
datang.
Jika ada yang bertanya: "Mengapa para sahabat
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak berperang membela
Utsman?"
Maka dijawab: Sesungguhnya Utsman Radhiyallahu
'Anhu beserta para sahabatnya tidak mengetahui rencana tersebut sampai
perkara itu mengejutkan mereka secara tiba-tiba. Di Madinah saat itu juga tidak
ada pasukan militer yang memang disiapkan untuk perang. Ketika perkara itu
terjadi secara tiba-tiba, para sahabat Radhiyallahu 'Anhum telah
bersungguh-sungguh berupaya untuk menolong dan membelanya, namun mereka tidak
memiliki kekuatan yang cukup untuk membendungnya.
Para sahabat telah menawarkan diri mereka untuk membela
Utsman meskipun nyawa mereka harus melayang, namun Utsman menolak tawaran
tersebut. Utsman berkata kepada mereka: "Kalian bebas dari baiatku, dan
aku merasa keberatan atas pertolongan kalian. Sesungguhnya aku berharap bisa
bertemu Allah 'Azza wa Jalla dalam keadaan selamat lagi dizalimi."
Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Az-Zubair Radhiyallahu
'Anhum, serta banyak sahabat lainnya telah berbicara kepada kaum perusuh
tersebut dengan perkataan yang sangat keras dan tegas. Ketika kaum perusuh itu
merasakan bahwa para sahabat Rasulullah menentang keras tindakan mereka,
mulailah setiap kelompok dari perusuh tersebut berpura-pura menampakkan bahwa
mereka setia dan tunduk kepada para sahabat.
Satu kelompok dari mereka menetap di pintu rumah Ali bin Abi
Thalib Radhiyallahu 'Anhu dan mengeklaim bahwa mereka
mengikutinya—padahal Allah Azza wa Jalla telah membersihkan Ali dari
mereka—serta mereka menghalangi Ali untuk keluar. Kelompok lain menetap di
pintu rumah Thalhah dan mengeklaim bahwa mereka mengikutinya—padahal Allah Azza
wa Jalla telah membersihkannya dari mereka. Dan kelompok lainnya lagi
menetap di pintu rumah Az-Zubair dan mengeklaim bahwa mereka
mengikutinya—padahal Allah Azza wa Jalla telah membersihkannya dari
mereka.
Tujuan mereka melakukan itu hanyalah untuk menyibukkan para
sahabat agar tidak bisa menolong Utsman Radhiyallahu 'Anhu, serta untuk
mengelabui penduduk Madinah atas urusan mereka. Hal ini terjadi demi
berjalannya takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla bahwa
Utsman akan terbunuh dalam keadaan dizalimi. Maka datanglah kepada para sahabat
suatu perkara yang berada di luar kemampuan mereka. Meskipun demikian, mereka
telah menawarkan diri kepada Utsman Radhiyallahu 'Anhu agar mengizinkan
mereka untuk membelanya—walaupun jumlah mereka sedikit. Namun Utsman tetap
menolaknya, sekiranya Utsman mengizinkan, niscaya mereka pasti akan berperang
membelanya.
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, ia berkata:
"Sungguh, di dalam rumah (Utsman) saat itu terdapat sekelompok kaum
Muhajirin, Anshar, beserta anak-anak mereka. Di antara mereka adalah Abdullah
bin Umar, Al-Hasan, Al-Husain, Abdullah bin Az-Zubair, dan Muhammad bin
Thalhah. Yang mana satu orang dari mereka itu lebih baik daripada begini dan
begitu. Mereka berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, biarkanlah urusan antara kami
dan kaum perusuh ini (biarkan kami memerangi mereka).'
Namun Utsman berkata: 'Aku meminta dengan sangat kepada
setiap orang dari kalian, yang mana aku memiliki hak atasnya, agar ia tidak
menumpahkan seketes darah pun demi membelaku. Dan aku melarang setiap orang
dari kalian (untuk berperang), cukuplah bagiku hari ini dirinya menahan
diri.'"
Jika ada yang bertanya: "Bukankah mereka telah
mengetahui bahwa Utsman dizalimi, dan Utsman sudah di ambang pembunuhan? Maka
sudah seharusnya bagi mereka untuk tetap berperang membelanya, meskipun Utsman
telah melarangnya."
Maka dijawab: Perkataanmu ini tidak baik, karena kamu
berbicara tanpa pemahaman dan pembeda (keliru).
Jika dia bertanya: "Mengapa demikian?"
Maka dijawab: Karena para sahabat tersebut adalah
orang-orang yang taat (kepada pemimpin). Allah Ta'ala telah memberikan mereka
taufik kepada kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Mereka telah
melakukan apa yang wajib bagi mereka berupa pengingkaran dengan hati dan lisan
mereka, serta telah menawarkan diri mereka untuk menolong Utsman sesuai batas
kemampuan mereka. Ketika Utsman Radhiyallahu 'Anhu melarang mereka untuk
menolongnya dengan perang, mereka mengetahui bahwa kewajiban mereka adalah
mendengar dan taat kepadanya, dan jika mereka menyelisihinya (melanggar
perintahnya), maka hal itu tidak diperbolehkan bagi mereka. Kebenaran di mata
para sahabat adalah apa yang dipandang baik oleh Utsman Radhiyallahu 'Anhu.
Jika dia bertanya: "Lalu mengapa Utsman melarang mereka
untuk menolongnya padahal ia berada dalam posisi dizalimi? Dan ia juga tahu
bahwa peperangan mereka membelanya adalah bentuk mengingkari kemungkaran serta
menegakkan kebenaran?"
Maka dijawab: Pertanyaanmu ini juga timbul dari
kelalaianmu.
Jika dia bertanya: "Bagaimana bisa?"
Maka dijawab: Larangan Utsman kepada mereka untuk
menolongnya mengandung beberapa alasan, yang mana semuanya adalah alasan yang
terpuji:
- Alasan
pertama: Karena pengetahuan Utsman bahwa dirinya pasti akan terbunuh
dalam keadaan dizalimi tanpa ada keraguan di dalamnya. Hal itu karena Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberitahunya dengan bersabda:
"Sesungguhnya engkau akan dibunuh dalam keadaan dizalimi, maka
bersabarlah." Lalu Utsman menjawab: "Aku akan
bersabar." Ketika kaum perusuh itu telah mengepungnya, Utsman
tahu bahwa dirinya akan dibunuh, dan apa yang disabdakan Nabi Shallallahu
'Alaihi wa Sallam kepadanya adalah benar dan pasti terjadi. Kemudian
Utsman tahu bahwa ia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk bersabar,
maka ia pun bersabar sebagaimana yang ia janjikan. Di sisi Utsman, orang
yang menuntut pembelaan untuk dirinya dan berperang mempertahankannya,
maka ia bukanlah orang yang bersabar, padahal ia telah berjanji untuk
bersabar. Ini adalah satu alasan.
- Alasan
kedua: Yaitu bahwa Utsman telah mengetahui jumlah para sahabat Radhiyallahu
'Anhum sedikit, sedangkan jumlah orang-orang yang ingin membunuhnya
sangat banyak. Sekiranya ia mengizinkan mereka untuk berperang, ia tidak
merasa aman jika para sahabat nabi-Nya akan binasa karena membelanya. Maka
Utsman melindungi mereka dengan mengorbankan dirinya sendiri, sebagai
bentuk rasa kasih sayang dan kepeduliannya kepada mereka. Karena Utsman
adalah seorang pemimpin (penggembala), dan seorang pemimpin wajib
melindungi rakyatnya (gembalaannya) dengan segala kemampuan yang ada. Di
samping itu, karena ia tahu bahwa dirinya pasti akan dibunuh, maka ia
menjaga keselamatan para sahabat dengan mengorbankan jiwanya. Ini adalah
alasan kedua.
Bab: Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu
- Alasan
ketiga: Yaitu ketika Utsman mengetahui bahwa peristiwa ini adalah
fitnah. Dan fitnah itu apabila pedang telah terhunus di dalamnya, maka
tidak aman dari terbunuhnya orang-orang yang tidak bersalah. Oleh karena
itu, Utsman tidak memilih bagi para sahabatnya untuk menghunuskan pedang
di dalam lingkaran fitnah. Ini juga merupakan bentuk kasih sayang Utsman
kepada mereka. Ya, karena di dalam fitnah tersebut harta benda bisa lenyap
dan kehormatan bisa ternodai, maka Utsman menjaga mereka dari semua
kerugian itu.
- Alasan
keempat: Mengandung kemungkinan bahwa Utsman bersabar dari menuntut
pembelaan agar para sahabat Radhiyallahu 'Anhum menjadi saksi atas
orang yang menzaliminya, yang menyelisih perintahnya, serta yang
menumpahkan darahnya tanpa hak. Karena orang-orang mukmin adalah
saksi-saksi Allah Azza wa Jalla di muka bumi-Nya. Di samping itu,
Utsman tidak ingin ada darah seorang muslim pun yang tumpah karena sebab
dirinya, dan ia tidak ingin menggantikan posisi Nabi Shallallahu
'Alaihi wa Sallam pada umatnya dengan cara menumpahkan darah seorang
muslim. Demikianlah yang dikatakan oleh Utsman Radhiyallahu 'Anhu.
Maka dengan tindakan ini, Utsman Radhiyallahu 'Anhu
adalah orang yang mendapatkan taufik, memiliki uzur (alasan yang dibenarkan),
dan berada di atas petunjuk. Begitu pula para sahabat Radhiyallahu 'Anhum
berada dalam posisi memiliki uzur, sedangkan celakalah orang yang telah
membunuhnya.
Apendiks (Lampiran) Kedua:
Dari tesis Magister yang diajukan ke Universitas Islam
Madinah, Jurusan Sejarah dan Sirah Nabawiyah, oleh peneliti Muhammad bin
Abdullah al-Ghabban Berjudul: Fitnah Maqtal Utsman Radhiyallahu 'Anhu
(Fitnah Pembunuhan Utsman Semoga Allah Meridhainya)
Sesungguhnya hasil-hasil terpenting yang tampak bagi saya
melalui penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Pertama:
Telah shahih dari Rasulullah ﷺ pemberitahuan
beliau tentang akan terjadinya fitnah (kekacauan) yang menyebabkan
terbunuhnya Utsman radhiyallahu 'anhu. Beliau juga menyeru manusia
untuk bersama Utsman ketika fitnah itu berkobar, telah menentukan waktu
terjadinya, serta menegaskan bahwa Utsman dan para sahabatnya berada di
atas kebenaran dan petunjuk dalam peristiwa tersebut.
- Kedua:
Beliau ﷺ
mengisyaratkan betapa besarnya fitnah ini, hingga beliau menyandingkannya
dengan wafatnya beliau sendiri dan dengan fitnah Dajjal. Beliau
menyampaikan bahwa barangsiapa yang selamat dari fitnah ini maka ia
benar-benar selamat, dan bahwa Utsman radhiyallahu 'anhu akan mati
syahid di dalamnya dalam keadaan benar dan sabar menghadapi pembunuhan.
Beliau memberikan kabar gembira bahwa Utsman wafat sebagai syahid yang
akan berpindah setelah kesyahidannya ini menuju surga yang kekal, insya
Allah.
- Ketiga:
Beliau ﷺ
telah mengabarkan kepada Utsman radhiyallahu 'anhu tentang
terjadinya fitnah ini, dan bahwa kelak akan ada yang menuntutnya untuk
menanggalkan jabatan khilafah (pemimpin), lalu beliau ﷺ memerintahkannya
agar tidak melakukannya (jangan mundur).
- Keempat:
Nabi ﷺ
menjelaskan besarnya fitnah ini dan bahwa barangsiapa yang selamat darinya
maka ia benar-benar selamat. Hal itu mencakup orang yang hidup sezaman
dengannya maupun yang tidak sezaman. Adapun keselamatan bagi orang yang
tidak sezaman dengannya adalah dengan cara meninggalkan (tidak
ikut-ikutan) membicarakannya secara batil.
- Kelima:
Apa yang dinukil oleh berbagai sumber sejarah mengenai celaan-celaan yang
ditujukan kepada Utsman radhiyallahu 'anhu, terbagi menjadi tiga:
ada yang shahih bersumber dari orang-orang yang memberontak kepadanya, ada
yang tidak shahih, dan ada pula yang populer namun saya tidak menemukan
sanad (jalur periwayatan) baginya. Celaan dalam ketiga kategori tersebut,
pada hakikatnya: adakalanya merupakan kemuliaan bagi beliau, adakalanya
kedustaan yang diada-adakan atas nama beliau, atau merupakan ijtihad
beliau yang mendatangkan pahala.
- Keenam:
Tokoh Ibnu Saba' adalah tokoh yang nyata (riil). Keberadaannya ditunjukkan
oleh riwayat-riwayat yang shahih. Pembuktian keberadaannya tidak hanya
menyendiri pada riwayat Saif bin Umar at-Tamimi saja, melainkan juga
diriwayatkan oleh selainnya dengan sanad-sanad yang shahih maupun yang
dhaif (lemah).
- Ketujuh:
Wajib berhati-hati ketika berbicara tentang sikap dan posisi Utsman radhiyallahu
'anhu dalam fitnah tersebut. Sebab, Nabi ﷺ telah
membimbingnya untuk mengambil sikap-sikap tertentu saat fitnah terjadi,
yang mana informasi tersebut tidak sampai kepada kita kecuali hanya
sedikit saja.
- Kedelapan:
Akidah ulama Salaf terhadap para sahabat Nabi adalah: tidak ikut campur
atau memperdebatkan perselisihan yang terjadi di antara mereka, kecuali
ketika muncul ahli bid'ah yang mencela mereka dengan kebatilan. Maka pada
saat itulah, wajib membela para sahabat dengan kebenaran dan keadilan.
- Kesembilan:
Sesungguhnya Allah tidak meridhai seorang pun dari makhluk-Nya melainkan
Dia Yang Mahasuci mengetahui bahwa orang tersebut akan wafat dalam kondisi
meraih ridha-Nya. Karena para sahabat telah diridhai oleh Allah (radhiyallahu
'anhum), maka akhir hayat (khotimah) mereka pastilah berada di atas
kebaikan, dan inilah yang nyata terjadi.
- Kesepuluh:
Utsman radhiyallahu 'anhu telah mengerahkan segala kemampuannya
demi memadamkan fitnah sejak kedatangan orang-orang dari berbagai wilayah
(para pemberontak), hingga momen dibukanya pintu rumah, masuknya si
pembunuh, dan terjadinya pembunuhan terhadap beliau.
- Kesebelas:
Para sahabat radhiyallahu 'anhum telah mengerahkan seluruh
kemampuan mereka untuk membela Utsman pada hari pengepungan rumah (Yaum
ad-Dar). Namun, Utsman melarang mereka, bahkan sangat keras dalam
melarang mereka, sehingga beliau menghalangi keinginan mereka untuk
membelanya. Karena beliau adalah pemimpin mereka dan mereka wajib
menaatinya, para sahabat pun melaksanakan perintahnya dan tidak memerangi
para pemberontak tersebut setelah mereka putus asa untuk mendapatkan izin
bela diri dari Utsman.
- Kedua
belas: Di antara alasan-alasan mengapa Utsman menolak peperangan
adalah sebagai berikut:
- (A): Pengetahuan beliau bahwa fitnah ini akan berakhir dengan
kematiannya berdasarkan kabar dari Nabi ﷺ
kepadanya tentang hal itu.
- (B): Ketidakinginan beliau untuk menjadi pengganti (khalifah)
Rasulullah ﷺ yang pertama
kali menumpahkan darah di tengah umatnya.
- (C): Dugaan beliau bahwa para pemberontak tidak menginginkan nyawa
orang lain selain dirinya, sehingga beliau tidak suka jika kaum mukminin
menjadi korban, dan beliau memilih untuk melindungi mereka dengan
mengorbankan dirinya sendiri.
- (D): Mengamalkan nasihat dari Abdullah bin Salam radhiyallahu
'anhu kepadanya agar menahan diri dari peperangan.
- Ketiga
belas: Tidak terjadi pertempuran yang sengit pada hari pengepungan
rumah (Yaum ad-Dar), melainkan hanya terjadi bentrokan ringan yang
mengakibatkan terlukanya Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma,
hingga ia harus dievakuasi dari rumah tersebut akibat luka tersebut.
- Keempat
belas: Utsman radhiyallahu 'anhu bermimpi pada hari terakhir
dalam hidupnya melihat Nabi ﷺ bersama Abu
Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Beliau ﷺ bersabda
kepadanya: "Wahai Utsman, berbukalah di tempat kami."
Maka pada pagi harinya ia dalam keadaan berpuasa. Beliau menyuruh keluar
orang-orang yang berada di dalam rumah yang awalnya ingin membelanya,
kemudian beliau meletakkan mushaf Al-Qur'an di hadapannya, memerintahkan
agar pintu dibuka, dan mulai membaca Al-Qur'an. Lalu masuklah seorang
laki-laki berkulit hitam dari penduduk Mesir yang dijuluki
"Jabalah" karena hitam kulitnya, dan saya tidak menolak
kemungkinan bahwa orang tersebut adalah Abdullah bin Saba' si orang
Yahudi.
- Kelima
belas: Tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat Nabi radhiyallahu
'anhum yang ikut serta dalam menghasut massa untuk melawan Utsman,
apalagi sampai membunuhnya; dan semua riwayat yang menyebutkan
keterlibatan mereka adalah riwayat yang lemah sanadnya.
- Keenam
belas: Riwayat-riwayat dari Muhammad bin Umar al-Waqidi mengenai
fitnah pembunuhan Utsman radhiyallahu 'anhu mengandung banyak
penyusupan (kepalsuan) dan menyelisihi riwayat-riwayat yang shahih dalam
banyak fakta. Riwayat tersebut menampilkan gambaran yang rusak tentang
fitnah ini, memunculkan sikap-sikap yang tidak benar dari para sahabat,
serta memperlihatkan indikasi paham Syiah.
- Ketujuh
belas: Riwayat-riwayat Saif bin Umar at-Tamimi mengenai fitnah
pembunuhan Utsman radhiyallahu 'anhu merupakan kumpulan riwayat
bersanad yang mana Saif sering menghapus sanad-sanadnya, lalu
meriwayatkannya dari jalur beberapa gurunya yang kadang-kadang mencapai
empat orang guru. Riwayat-riwayat Saif ini tidak lepas dari celaan
terhadap sebagian sahabat serta menuduh mereka dengan hal-hal yang
sebenarnya mereka bersih darinya, namun terkadang riwayatnya berimbang
sehingga memunculkan gambaran yang benar mengenai sikap para sahabat.
Sumber Kisah:
Komentar
Posting Komentar