Para Raja Ma'in yang Terlupakan: Perdebatan Panjang Para Ahli
Di Mana Letak Raja-Raja Terakhir?
Teks-teks prasasti yang ditemukan di reruntuhan kota kuno
Ma'in terus mengungkap nama-nama raja yang pernah berkuasa. Namun, semakin
banyak nama yang ditemukan, semakin rumit pula upaya para sejarawan untuk
menyusun urutan yang benar. Setiap ahli memiliki versinya sendiri—dan perbedaan
di antara mereka bisa mencapai ratusan tahun!
Mari kita ikuti jejak para raja terakhir Ma'in dan bagaimana
para peneliti modern berusaha (dan sering gagal) menyepakati siapa yang
berkuasa kapan.
Waqah'il Nabath: Raja dari Prasasti di Tanah Midian
Salah satu prasasti penting, Rep. Epig. 3707,
menyebut nama Raja Waqah'il Nabath. Prasasti ini ditemukan di Al-Khuraibah (atau
"Khribat Ma'in"), sebuah situs di tanah Midian —
wilayah utara Hijaz yang menjadi tempat pemukiman koloni Ma'in di utara.
Prasasti ini ditulis pada masa seorang pejabat tinggi bernama Hana'
Faman (Hanī Fāmān) yang menjadi "kabir" (gubernur) di
wilayah tersebut.
Raja Waqah'il Nabath ini adalah putra dari Raja
Alif' Bashar dan saudara dari Raja Hafn Rayam. Jadi, ia
berasal dari dinasti yang sama dengan raja-raja sebelumnya.
Albright menempatkan keluarga raja yang diawali
oleh Yitha' il Shadiq (yang ayahnya tidak diketahui) sebagai
dinasti terakhir Ma'in. Menurut Albright, urutan dinasti terakhir ini adalah:
- Yitha'il
Shadiq (~150 SM) — ia adalah vasal (bawahan) dari Raja Shahr
Yajil Yahkib dari Qataban.
- Waqah'il
Yitha' (putranya)
- Alif'
Bashar
- Hafn
Rayam
- Waqah'il
Nabath
Dalam pandangan ini, Ma'in pada akhirnya tunduk kepada
kerajaan Qataban yang lebih kuat di selatan.
Celah 20 Tahun: Ketika Sejarah Menghilang
Philby (penjelajah Inggris) dalam kronologinya
yang jauh lebih tua (sekitar 1000 SM) mengakui adanya celah kosong 20
tahun setelah pemerintahan Hafn Rayam dan Waqah'il Nabath. Ia
memperkirakan celah ini terjadi antara tahun 770–750 SM. Tidak ada satu pun
nama raja yang diketahui untuk periode ini — mungkin masa kekacauan atau
transisi.
Setelah celah itu, Philby memulai dinasti keempat Ma'in.
Dinasti ini diawali oleh Abi Yada' Rayam, kemudian putranya:
- Khal
Karib Shadiq (Khalkarib Ṣadiq)
- Dua
putranya: Hafn Yitha' (yang mewarisi tahta) dan Aws (mungkin
ikut serta dalam pemerintahan)
Prasasti Raja Khal Karib Shadiq dan Kuil Rasyaf
Nama Raja Khal Karib Shadiq muncul dalam
prasasti Glaser 1153 = Halévy 243. Prasasti ini mencatat
persembahan nazar dari sekelompok orang kepada dewa 'Athtar Dzu Qabdh di
kuilnya yang bernama "Rasyaf" (atau Rṣaf, Rṣafhum),
yang terletak di luar tembok kota Qarnu, sekitar 750 meter dari
pusat kota.
Kuil ini terkenal di kalangan Ma'in. Prasasti itu menyebut
beberapa nama orang yang mempersembahkan nazar:
- Masyak
bin Hawah (dari klan Khidman/Khadman, suku Zaltan)
- Aus
bin Basal (dari klan Wukail/Dzu Kull)
- Mata'an
bin Hammad (dari klan Wukail)
- Basal
bin Lihyan (dari klan Wukail)
- Tsubay
bin Abanas (dari suku Ma'harim)
- Mudzakir
bin 'Ammas (dari suku Haridh)
- Dan
dua orang lainnya
Prasasti itu juga menyebut seorang pejabat bernama Masyak (dari
klan Khidman) yang menjadi "kabir" (gubernur) yang
mengurus mereka.
Menurut Von Wissmann, Raja Khal Karib Shadiq-lah
yang membangun kuil Rasyaf ini.
Raja Khal Karib Shadiq dalam Prasasti Lain
Nama raja yang sama juga muncul dalam prasasti Halévy
241–242. Prasasti ini menceritakan tentang seseorang yang memperbaiki
sumurnya yang bernama "Tsamar" (Tsimār) di dekat
kota Ma'in. Ia memperdalam sumur, membangun dindingnya, memperkuat menara yang
menjaganya, dan memagar ladang-ladangnya. Sebagai ungkapan syukur, ia menyebut
nama dewa-dewa Ma'in: 'Athtar Dzu Qabdh, Wadd, Nikrah,
dan 'Athtar Dzu Yahriq, serta nama Raja Khal Karib Shadiq dan
seluruh rakyat Ma'in.
Prasasti ini menunjukkan betapa pentingnya air dan sumur
bagi kehidupan di tanah kering Yaman — dan bagaimana raja serta para dewa
selalu dikaitkan dengan keberhasilan proyek irigasi.
Albright Berubah Pikiran: Revisi Kronologi
Dalam makalahnya tahun 1950, Albright mengakui
bahwa ada setidaknya lima raja Ma'in yang tidak dapat ia
tempatkan dengan pasti dalam urutan. Mereka adalah:
- Abi
Yada' Rayam
- Khal
Karib Shadiq (putranya)
- Hafn
Yitha' (putranya)
- Yitha'
il Rayam
- Tubba'
Karib (putranya)
Pada tahun 1950, ia menempatkan mereka di akhir periode
Ma'in. Namun hanya tiga tahun kemudian (1953), ia merevisi total urutannya!
Dalam publikasi baru, ia menempatkan Yitha' il Rayam dan Tubba'
Karib pada kelompok pertama raja-raja Ma'in (sekitar
300 SM), dan Khal Karib Shadiq (putra Abi Yada' Rayam) pada
kelompok yang sama, sekitar 250 SM.
Albright tidak pernah mengklaim bahwa kronologinya final. Ia
sadar bahwa penemuan baru di masa depan akan memaksa revisi lebih lanjut.
Philby vs Albright: Perbedaan 700 Tahun!
Perbedaan paling mencolok antara Philby dan Albright
terletak pada angka tahun. Mari kita bandingkan:
Raja Yitha'il Rayam (salah satu raja terakhir
Ma'in):
- Philby:
sekitar 670 SM
- Albright:
sekitar 300 SM (untuk raja lain dalam posisi yang mirip)
Raja Tubba' Karib (putranya):
- Philby: 650–630
SM
- Albright:
setelah 300 SM (tidak ada tahun pasti)
Raja Alif' Waqah (raja awal menurut Philby, raja
akhir menurut Albright):
- Philby:
sekitar 1120 SM
- Albright:
sekitar 250 SM
Perbedaan lebih dari 800 tahun untuk raja
yang sama! Ini menunjukkan bahwa kronologi Arab Selatan masih sangat
spekulatif.
Upaya Huart: Tujuh Kelompok Raja
Sarjana Prancis Clement Huart menyusun
raja-raja Ma'in ke dalam tujuh kelompok (dinasti). Meskipun
tidak memberikan angka tahun, urutannya memberikan gambaran tentang suksesi
yang mungkin:
Kelompok 1 (tertua?):
- Yitha'il
Shadiq
- Waqah'il
Yitha'
- Alif'
Yashar
- Hafn
Rayam
Kelompok 2:
- Alif'
Yitha'
- Abi
Yada' Yitha'
- Waqah'il
Rayam
- Hafn
Shadiq
- Alif'
Yafish
Kelompok 3:
- Alif'
Waqah
- Waqah'il
Shadiq
- Abi
Karib Yitha'
- 'Am
Yitha' Nabath
Kelompok 4:
- Alif'
Rayam
- Hawfa'that
Kelompok 5:
- Abi
Yada' (tanpa gelar lengkap)
- Khal
Karib Shadiq
- Hafn
Yitha'
Kelompok 6:
- Yitha'il
Rayam
- Tubba'
Karib
Kelompok 7 (paling muda?):
- Abi
Yada' (yang lain)
- Hafnam
(Hafn?)
Perhatikan bahwa beberapa nama muncul di lebih dari satu
kelompok dalam skema Huart — ini menunjukkan ketidakpastian.
Makna di Balik Nama-Nama Raja
Nama-nama raja Ma'in bukan sekadar label. Mereka mengandung
makna spiritual dan aspirasi:
|
Gelar |
Arti |
|
Yitha' |
penyelamat, pembebas |
|
Shadiq |
jujur, adil, benar |
|
Rayam / Riyam |
tinggi, mulia |
|
Nabath |
pemimpin, komandan (atau mungkin "Nabath"
sebagai nama suku) |
|
Yafish |
periang, sombong (positif?), mulia |
|
Yashar |
lurus, benar |
|
Dharah |
terang, bercahaya |
|
Watar |
tinggi, menjulang |
|
Bayyin |
jelas, nyata |
Gelar-gelar ini mirip dengan yang ditemukan pada prasasti
Saba', Qataban, dan Hadhramaut. Mereka juga mirip dengan gelar kaisar Romawi
dan raja-raja Persia — dan kemudian diadopsi oleh para khalifah Abbasiyah
(meskipun khalifah Rasyidin dan Umayyah menghindari gelar megah semacam itu).
Pengaruh budaya Persia dan Yunani mungkin masuk melalui para mawali (klien
non-Arab) di istana Abbasiyah.
Dua Raja yang Terlewat: Alif' Yitha' dan Abi Yada'
Satu prasasti (Halévy 208) dari kota Ma'in menyebut dua nama
raja: Alif' Yitha' dan Abi Yada'. Keduanya tidak
diberi gelar "raja" secara langsung dalam teks, tetapi disebut dalam
konteks "raja-raja Ma'in" pada kalimat berikutnya. Ini menunjukkan
bahwa kedua orang ini adalah raja — tetapi para peneliti sebelumnya tidak
memasukkan mereka dalam daftar mana pun! Entah mereka terlewat, atau
prasasti itu tidak dianggap cukup jelas.
Kisah ini menunjukkan betapa banyaknya nama raja Ma'in yang
mungkin masih belum teridentifikasi, tersembunyi dalam prasasti yang belum
diterjemahkan atau situs yang belum digali.
Kesimpulan: Pekerjaan Rumah yang Masih Raksasa
Apa yang dapat kita simpulkan dari kebingungan yang tampak
ini?
- Kita
masih sangat awal dalam memahami kronologi Ma'in. Para ahli yang
paling terkemuka sekalipun berbeda pendapat hingga 800 tahun.
- Prasasti
tidak memberi kita angka tahun. Tidak ada prasasti Ma'in yang
menyebut tahun pemerintahan raja dalam sistem penanggalan yang diketahui
(seperti tahun Seleucid atau Ptolemeus). Tanpa titik acuan eksternal,
kronologi bersifat spekulatif.
- Kita
membutuhkan lebih banyak penggalian. Situs-situs seperti Qarnu,
Yathill, Nashq, dan Al-Khuraibah masih mengandung ribuan prasasti yang
belum ditemukan. Penggalian sistematis dengan metode modern dapat mengubah
pemahaman kita.
- Metode
ilmiah baru — seperti radiocarbon dating dan paleografi
komparatif — suatu hari nanti dapat membantu menyelesaikan
perbedaan pendapat ini.
- Yang
terpenting, kita tahu bahwa Ma'in ada. Mereka memiliki raja,
kuil, sumur, benteng, koloni dagang, dan sistem administrasi yang rumit.
Mereka adalah peradaban yang nyata dan penting, meskipun kronologinya
masih menjadi misteri.
Semoga suatu hari nanti, para arkeolog akan menggali lebih
dalam dan menemukan "prasasti Rosetta" versi Ma'in — sebuah teks yang
menyebut raja Ma'in bersama dengan raja Mesir, Persia, atau Yunani yang tanggal
pemerintahannya diketahui. Pada saat itu, kita akan memiliki dasar yang kokoh
untuk menyusun urutan para raja yang telah lama terlupakan ini.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar