Perlawanan Ratu Arab dan Raja Kedar terhadap Kekaisaran Asyur

Lukisan pemandangan benteng kuno Dumat al-Jandal (Adumatu) di utara Arab Saudi. Benteng batu besar berdiri kokoh di atas bukit, dikelilingi oasis dengan pohon kurma dan air jernih. Di halaman depan benteng, seorang ratu Arab berpakaian anggun berwarna merah tua dan ungu (menggambarkan Ratu Telhunu) berdiri dengan tenang ditemani dua dayang. Di depannya, seorang utusan berpakaian Mesopotamia (Asyur) menunduk hormat sambil membawa sebuah peti kecil (simbol upeti atau pesan diplomatik). Di latar belakang, langit jingga senja dan bukit pasir keemasan.

Ketika Gurun Melawan Mesopotamia

Kisah ini bermula dari kekacauan yang terjadi di selatan Mesopotamia. Pada sekitar tahun 689 SM, Raja Sanherib dari Asyur berhasil memadamkan pemberontakan Babilonia. Setelah menghancurkan kota Babilon, ia mengarahkan pasukannya ke barat, ke tanah Syam (Suriah dan Palestina). Di sana, bangsa Amon, Moab, Edom, Arab, dan Ibrani telah bersekutu untuk melepaskan diri dari cengkeraman Asyur.

Sanherib maju dengan cepat. Pasukannya merebut kota-kota Fenisia dan Palestina, hingga mencapai Askelon. Di sebuah tempat bernama Eltekeh (Altakeh), pasukan Asyur bertempur melawan koalisi Arab dan Mesir. Kemenangan ada di pihak Asyur. Kota Timnah dan Ekron pun jatuh ke tangan mereka.


Ratu Telhunu: Perlawanan dari Oase Dumat al-Jandal

Di tengah padang pasir yang gersang, berdiri sebuah benteng alami bernama Adumatu — yang kita kenal sekarang sebagai Dumat al-Jandal (di utara Arab Saudi). Benteng ini adalah benteng terakhir perlawanan orang-orang Arab.

Sanherib melancarkan serangan terhadap Ratu Telhunu, penguasa Arab (Aribi), dan Raja Haza-ili (Khaza-il), penguasa suku Qidri (Kedar). Pasukan Asyur mengepung Adumatu, merebutnya, dan menawan berhala-berhala suku tersebut. Sang ratu dan putri mahkota bernama Tabua dibawa ke ibu kota Asyur, Niniwe.

Namun Raja Haza-ili berhasil meloloskan diri ke padang pasir — wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh tentara Asyur. Ia bersembunyi di sana selama sisa hidup Sanherib.

Herodotus, sejarawan Yunani, kemudian mencatat bahwa Sanherib dijuluki "Raja Arab dan Asyur". Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Arab yang ditaklukkannya, meskipun hanya untuk sementara.


Esarhaddon: Diplomasi dan Tipu Daya

Setelah Sanherib wafat, putranya Esarhaddon naik takhta (680–669 SM). Ia mewarisi masalah yang rumit dengan suku-suku Arab.

Esarhaddon menunjukkan strategi yang berbeda. Ia mengembalikan berhala-berhala yang ditawan kepada Haza-ili — setelah sebelumnya "memperbaikinya" dan menuliskan di atasnya bahwa Dewa Asyur lebih unggul dari dewa-dewa Arab. Ini adalah cara halus untuk menunjukkan dominasi.

Ia juga berniat menobatkan Tabua — putri yang tumbuh besar di istana Asyur — sebagai ratu boneka atas Arab. Namun rencana ini gagal, karena kebencian antara Arab dan Asyur sudah terlalu dalam.

Sementara itu, Haza-ili diakui sebagai raja Kedar dengan kewajiban membayar upeti: 65 ekor unta setiap tahun. Ketika Haza-ili meninggal pada 675 SM, putranya Uaite' (Yathi') menggantikannya. Upeti dinaikkan menjadi: 1.000 mina emas, 1.000 batu mulia, 50 unta, dan wewangian. Uaite' menerima dengan berat hati.


Pemberontakan Uaite' dan Kekalahan Pertama

Uaite' ternyata tidak disukai rakyatnya sendiri. Seorang pemimpin bernama Uabu (Wahb) memimpin pemberontakan untuk menggulingkannya. Asyur mengirim pasukan, menangkap Uabu, dan membawanya ke Niniwe.

Namun Uaite' sendiri kemudian memberontak terhadap Asyur. Ia dan pengikutnya menyerang perbatasan kekaisaran. Asyur melancarkan serangan balik, merebut lagi berhala-berhala Arab, dan memporak-porandakan perkemahan mereka. Uaite' melarikan diri sendirian ke padang pasir.


Ekspedisi ke Bazu dan Hazu: Delapan Raja Tumbang

Pada tahun 676 SM, Esarhaddon melancarkan kampanye besar ke wilayah Bazu dan Hazu — dua wilayah yang diyakini terletak di Arab utara atau di dataran tinggi Nejd. Dalam ekspedisi ini, ia menewaskan delapan raja dan seorang ratu. Sebutan nama mereka terdengar asli sebagai nama-nama Arab kuno:

  • Raja Kisau (Qays?) dari negeri Khaldili
  • Raja Akbaru (Akbar?) dari suku Ilpiyati
  • Raja Mansaku dari suku Majal'ani
  • Ratu Yafa' (Yafa?) dari suku Dihrani
  • Raja Khabisu dari suku Qadab
  • Raja Nikharu (Nakhr?) dari suku Ja'bani
  • Ratu Ba'ilu (Ba'ilah?) dari suku Ikhilu
  • Raja Khabanamru dari suku Buda'

Satu orang selamat: Raja Layli (Laili) dari suku Yadi'. Ia kemudian datang ke Niniwe memohon ampun, mengakui kekuasaan Asyur, dan diizinkan kembali berkuasa.


Buz dan Hazu dalam Alkitab

Para peneliti menghubungkan Bazu dalam prasasti Asyur dengan Buz yang disebut dalam Kitab Yeremia pasal 25. Di sana, Allah berfirman:

"...dan semua raja tanah Arab, dan semua raja orang asing yang tinggal di padang gurun."

Nama Buz muncul setelah Dedan dan Taima. Ini menunjukkan bahwa Buz terletak di dekat oasis-oasis utara Arab. Ayub memiliki seorang sahabat bernama Elihu dari Buz. Ayub sendiri adalah orang Arab dari tanah Us (Uz). Ini menambah bukti bahwa cerita Ayub terjadi di lingkungan bangsa Arab.


Asyurbanipal: Akhir Tragis Penguasa Arab

Setelah Esarhaddon, tahta diwarisi oleh Asyurbanipal (668–627 SM). Saudaranya, Syamas-Syum-Ukin, memberontak. Uaite' memilih bergabung dengan pemberontak — sebuah kesalahan fatal.

Asyurbanipal mengirim tentara. Uaite' kalah total. Istri dan keluarganya ditawan. Ia sendiri melarikan diri ke padang pasir dan berlindung pada Raja Natnu dari suku Nabayot (Nebayoth, keturunan Ismail).

Sementara itu, seorang penguasa Kedar bernama Ammulati (Amuladi) diserang oleh raja Moab. Ia tertawan bersama dengan Adiya (Adiyah), istri Uaite'. Mereka dikirim ke Niniwe sebagai tawanan perang.

Untuk menyenangkan Asyur, raja Natnu akhirnya menangkap Uaite' dan menyerahkannya kepada Asyurbanipal. Hukuman yang diterima Uaite' mengerikan: ia dimasukkan ke dalam kandang anjing bersama serigala dan anjing, ditempatkan di gerbang kota Niniwe untuk dijadikan tontonan publik. Nasib tragis ini diabadikan dalam prasasti dan relief istana Asyur.


Penderitaan di Padang Pasir

Asyurbanipal merekam kondisi mengerikan yang dialami oleh orang-orang Arab selama pengejaran:

"Di tengah panas dan gerah padang pasir, di mana burung-burung di langit tidak terlihat dan di mana keledai liar maupun kijang tidak terlihat..."

Ia juga menulis dengan kejam:

"Kelaparan menekan mereka. Untuk mempertahankan hidup, mereka memakan daging anak-anak mereka sendiri... Orang-orang Arab saling bertanya: 'Mengapa bencana ini melanda tanah Arab?' Jawabannya: 'Itulah akibat bagi mereka yang melanggar sumpah dan perjanjian yang kita buat dengan Asyur.'"

Tindakan brutal Asyur tidak serta-merta mengakhiri perlawanan. Ketika Asyurbanipal sibuk berperang melawan Elam (sekitar 640 SM), suku-suku Arab kembali memberontak di bawah pimpinan Abiyathi' (Abiyathi') dan Uaite' kedua (putra Bir Dadda). Mereka bersekutu dengan suku Nabayot dan Qedar. Sekali lagi, Asyur mengirim pasukan dan menghancurkan mereka.

Abiyathi' ditawan. Uaite' II melarikan diri ke gurun, tetapi penyakit dan kematian yang melanda pengikutnya memaksanya menyerah. Ia dibawa ke Niniwe, disiksa, dan kemudian diampuni — tetapi tidak diizinkan kembali ke padang pasir. Ia mungkin meninggal di pembuangan.


Refleksi: Pelajaran dari Konflik Kuno

Kisah panjang perjuangan bangsa Arab melawan Asyur ini adalah catatan keberanian, pengkhianatan, diplomasi, dan kekejaman. Ratu-ratu Arab seperti Telhunu dan para raja seperti Haza-ili dan Uaite' berusaha mempertahankan kemerdekaan suku-suku mereka dari mesin perang terkuat di zamannya.

Meskipun akhirnya mereka kalah, semangat perlawanan tidak pernah padam. Ketika Asyurbanipal menyatakan bahwa orang-orang Arab hancur, kenyataannya mereka masih tetap ada — sementara Niniwe telah lama runtuh menjadi debu.

Ini adalah salah satu hikmah dari sejarah: yang benar-benar kuat bukanlah pedang dan istana, melainkan ketahanan budaya dan tekad untuk tetap berdiri di tanah sendiri.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain