Perang Siffin dan Nahrawan

Ilustrasi sinematik sejarah Islam abad ke-7 yang menggambarkan suasana tahkim setelah Perang Shiffin di dalam tenda besar di gurun. Dua kelompok utusan kaum muslimin duduk berhadapan dengan tenang dalam suasana musyawarah yang serius. Di tengah ruangan terdapat mushaf Al-Qur’an, gulungan tulisan, dan lampu minyak bercahaya hangat. Di luar tenda tampak pasukan dan unta menunggu dengan damai di bawah cahaya matahari gurun, menciptakan suasana penuh kehati-hatian, kebijaksanaan, dan harapan akan persatuan umat Islam.

Perang Siffin

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ismail bin Ulayyah, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, bahwa ia berkata: "Ketika fitnah (konflik) itu bergejolak, jumlah sahabat Rasulullah mencapai puluhan ribu orang, namun yang ikut serta di dalamnya tidak sampai seratus orang, bahkan jumlah mereka tidak mencapai tiga puluh orang."

Imam Ahmad juga berkata: Umayyah bin Khalid menceritakan kepada kami, ia berkata kepada Syu'bah: Sesungguhnya Abu Syaibah meriwayatkan dari Al-Hakam, dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: "Ada tujuh puluh orang ahli Badar (sahabat yang ikut Perang Badar) yang menyaksikan Perang Siffin." Syu'bah lalu berkata: "Abu Syaibah berdusta. Demi Allah, kami telah mendiskusikan hal itu dengan Al-Hakam, dan kami tidak menemukan ahli Badar yang ikut serta dalam Perang Siffin selain Khuzaimah bin Tsabit."

Ibnu Baththah meriwayatkan dengan sanadnya dari Bukair Al-Asyajj, bahwasanya ia berkata: "Ketahuilah bahwa orang-orang dari ahli Badar tetap tinggal di rumah mereka setelah terbunuhnya Utsman, dan mereka tidak keluar rumah lagi kecuali menuju kuburan mereka (hingga wafat)."

Surat-menyurat antara Ali dan Muawiyah Radhiyallahu 'Anhuma:

Ketika Ali Radhiyallahu 'Anhu hendak mengirim utusan kepada Muawiyah Radhiyallahu 'Anhu untuk mengajaknya berbaiat, Jarir bin Abdullah berkata: "Wahai Amirul Mukminin, biarkan aku yang pergi menemuinya. Sesungguhnya antara aku dan dia ada hubungan yang baik, sehingga aku bisa mengambil baiat darinya untukmu."

Al-Asytar lalu berkata: "Jangan utus dia, wahai Amirul Mukminin! Karena aku khawatir kecenderungannya akan berpihak kepada Muawiyah." Namun Ali berkata: "Biarkan dia."

Ali kemudian mengutus Jarir dan menitipkan selembar surat untuk Muawiyah. Surat tersebut berisi pemberitahuan mengenai kesepakatan kaum Muhajirin dan Ansar dalam membaiat dirinya. Surat itu juga mengabarkan tentang apa yang terjadi pada Perang Jamal, serta mengajaknya untuk ikut bergabung dalam kesepakatan yang telah diambil oleh masyarakat banyak.

Ketika Jarir bin Abdullah sampai dan menyerahkan surat tersebut kepada Muawiyah, Muawiyah segera memanggil Amru bin Ash dan para pemimpin penduduk Syam untuk meminta pendapat mereka. Namun, mereka menolak untuk berbaiat sebelum para pembunuh Utsman dihukum mati, atau para pembunuh tersebut diserahkan kepada mereka. Jika Ali tidak memenuhinya, mereka akan memeranginya dan tidak akan berbaiat sampai mereka berhasil menumpas para pembunuh itu hingga tuntas. Jarir pun kembali kepada Ali dan mengabarkan apa yang mereka katakan.

Keberangkatan Ali Menuju Siffin

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib keluar dari Kufah dengan tekad bulat untuk memasuki wilayah Syam. Beliau kemudian mendirikan markas pasukan di An-Nukhailah dan menunjuk Abu Mas'ud Uqbah bin Amru Al-Badri Al-Anshari sebagai wakilnya di Kufah. Sebelumnya, sekelompok orang menyarankan agar beliau tetap tinggal di Kufah dan cukup mengirimkan pasukan saja, sedangkan kelompok lain menyarankan agar beliau memimpin langsung pasukan tersebut secara langsung.

Kabar bahwa Ali memimpin langsung pasukannya sampai ke telinga Muawiyah. Muawiyah pun meminta saran kepada Amru bin Ash, yang kemudian berkata: "Engkau juga harus memimpin langsung pasukanmu."

Amru bin Ash kemudian berpidato di hadapan masyarakat dan berkata: "Sesungguhnya para tokoh terpandang dari penduduk Kufah dan Basrah telah gugur pada Perang Jamal. Kini, tidak ada yang tersisa bersama Ali kecuali sekelompok kecil orang yang terlibat dalam pembunuhan Amirul Mukminin Utsman bin Affan. Maka demi Allah, jagalah hak kalian jangan sampai sia-sia, dan tuntutlah darah Utsman selaku khalifah pilihan Allah, jangan dibiarkan tumpah begitu saja."

Muawiyah kemudian menulis surat kepada pasukan militer Syam, dan mereka pun berkumpul. Panji-panji dan bendera perang mulai diserahkan kepada para komandan. Penduduk Syam bersiap siaga, lalu mereka bergerak menuju ke arah Sungai Eufrat dari sisi Siffin. Di sisi lain, Ali Radhiyallahu 'Anhu juga bergerak bersama pasukannya dari An-Nukhailah menuju tanah Syam.

Ali telah mengirim pasukan pelopor di depannya yang dipimpin oleh Ziyad bin An-Nadhr Al-Haritsi berkekuatan delapan ribu personel, bersama Syuraih bin Hani yang membawa empat ribu personel. Mereka menempuh jalur yang berbeda dengan jalur utama yang dilewati Ali. Ketika Ali tiba, beliau menyeberangi Sungai Tigris melalui jembatan Manbij.

Kedua pasukan pelopor tersebut terus bergerak maju hingga mendengar kabar bahwa Muawiyah telah berangkat bersama penduduk Syam untuk menghadang Amirul Mukminin Ali. Mereka sempat berniat menghadapi pasukan Muawiyah, namun mereka khawatir karena jumlah mereka yang terlalu sedikit jika dibandingkan dengan pasukan lawan. Akhirnya, mereka mengubah rute perjalanan menuju penyeberangan 'Anat, tetapi penduduk 'Anat menghalangi mereka. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan menyeberang melalui Hit, lalu berhasil menyusul Ali yang ternyata sudah mendahului mereka.

Ali bertanya: "Mengapa pasukan peloporku justru datang dari belakangku?" Mereka pun menjelaskan peristiwa yang mereka alami, dan Ali memaklumi alasan mereka. Setelah menyeberangi Sungai Eufrat, Ali kembali menempatkan mereka di barisan terdepan untuk menghadapi Muawiyah.

Pasukan pelopor Irak ini kemudian berhadapan dengan Abu Al-A'war Amru bin Sufyan As-Sulami yang memimpin barisan terdepan penduduk Syam. Kedua pihak saling berhadapan tanpa bertempur. Ziyad bin An-Nadhr, selaku komandan pasukan pelopor Irak, mengajak pasukan Syam untuk berbaiat, namun mereka tidak memberikan jawaban apa pun. Ziyad lalu menulis surat kepada Ali untuk melaporkan hal tersebut.

Mendapat laporan itu, Ali mengutus Malik Al-Asytar An-Nakha'i sebagai panglima tertinggi untuk pasukan pelopor tersebut, dengan posisi Ziyad di sayap kanan dan Syuraih di sayap kiri. Ali berpesan kepada Al-Asytar agar tidak memulai pertempuran sampai pihak lawan yang memulainya terlebih dahulu. Beliau memerintahkan agar Al-Asytar terus mengajak mereka berbaiat berulang kali. Jika mereka tetap menolak, jangan diperangi sampai mereka yang menyerang duluan. Ali juga berpesan: "Jangan mendekat seperti orang yang memicu perang, dan jangan menjauh seperti orang yang ketakutan; melainkan bersabarlah menghadapi mereka sampai aku datang kepadamu, karena aku sedang bergerak cepat di belakangmu, insya Allah."

Ali mengirimkan surat pengangkatan komandan tersebut bersama Al-Harits bin Jumhan Al-Ju'fi. Ketika Al-Asytar tiba di garis depan, ia melaksanakan seluruh perintah Ali. Ia bersama pasukannya saling berhadapan dengan pasukan pelopor Muawiyah yang dipimpin oleh Abu Al-A'war As-Sulami. Mereka terus bertahan di posisi masing-masing sepanjang hari itu. Namun, ketika sore menjelang, Abu Al-A'war melancarkan serangan kepada mereka. Pasukan Irak berhasil menahan serangan tersebut dan kedua kubu sempat bertempur selama beberapa saat, hingga akhirnya penduduk Syam menarik diri ketika malam tiba.

Keesokan harinya, kedua pasukan kembali berhadapan dan saling menahan diri. Al-Asytar kemudian memimpin serangan, dan dalam pertempuran itu, Abdullah bin Al-Mundzir At-Tanukhi—salah satu ksatria andalan penduduk Syam—gugur setelah dibunuh oleh seorang prajurit Irak bernama Dzabyan bin Umarah At-Tamimi.

Melihat hal itu, Abu Al-A'war bersama pasukannya langsung membalas dengan menyerang dan merangsek maju ke arah mereka. Al-Asytar sempat menantang Abu Al-A'war untuk berduel satu lawan satu, namun Abu Al-A'war tidak meladeni tantangan tersebut—tampaknya ia menilai Al-Asytar bukan tandingan yang sepadan untuknya, wallahu a'lam. Kedua belah pihak akhirnya menghentikan pertempuran seiring datangnya malam di hari kedua.

Pada pagi hari ketiga, Ali Radhiyallahu 'Anhu tiba bersama rombongan besar pasukannya, dan begitu pula Muawiyah Radhiyallahu 'Anhu yang datang membawa seluruh kekuatan tentaranya. Kedua kubu besar ini pun saling berhadapan di suatu tempat bernama Siffin, yang terletak di dekat Sungai Eufrat di bagian timur wilayah Syam. Peristiwa ini terjadi pada awal bulan Zulhijah tahun 36 Hijriah.

Ali Radhiyallahu 'Anhu kemudian mencari tempat yang cocok untuk mendirikan perkemahan pasukannya. Namun, pasukan Muawiyah telah tiba lebih awal dan menguasai area jalur menuju sumber air di lokasi yang paling landai dan luas. Ketika barisan depan pasukan Irak datang untuk mengambil air, penduduk Syam menghalangi mereka, sehingga pecahlah pertempuran kecil akibat perebutan air tersebut, di mana masing-masing kelompok mendapat bantuan dari pasukan intinya. Akan tetapi, setelah itu mereka sepakat untuk berbagi akses air, hingga akhirnya mereka bersama-sama mengantre di sumber air tersebut tanpa ada yang saling berbicara ataupun saling mengganggu satu sama lain.

Selama dua hari, Ali tidak mengirimkan surat kepada Muawiyah, begitu pula sebaliknya. Setelah itu, Ali mengutus sebuah delegasi untuk menemui Muawiyah, namun tidak tercapai kesepakatan di antara keduanya. Muawiyah tetap teguh pada pendiriannya untuk menuntut keadilan atas darah Utsman yang terbunuh secara zalim. Akibat kebuntuan ini, peperangan pun berkecamuk di antara mereka.

Setiap harinya, Ali menunjuk komandan yang berbeda untuk memimpin jalannya pertempuran hari itu, dan begitu pula Muawiyah yang selalu mengutus komandan baru setiap harinya. Terkadang, pertempuran sengit bahkan terjadi dua kali dalam sehari. Kondisi ini berlangsung sepanjang bulan Zulhijah. Ketika bulan Zulhijah berakhir dan memasuki bulan Muharam tahun 37 Hijriah, kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata, dengan harapan semoga Allah memperbaiki hubungan di antara mereka dan menjaga agar darah kaum muslimin tidak tumpah lebih banyak lagi.

Selama masa gencatan senjata tersebut, para utusan terus silih berganti datang menyampaikan pesan antara Ali dan Muawiyah, sementara pasukan kedua belah pihak menahan diri dari peperangan. Namun, hingga bulan Muharam pada tahun tersebut berakhir, perdamaian yang diharapkan tetap tidak tercapai.

Melihat situasi ini, Ali bin Abi Thalib memerintahkan Martsad bin Al-Harits Al-Jusyami untuk berseru kepada penduduk Syam tepat pada saat matahari terbenam: "Ketahuilah, sesungguhnya Amirul Mukminin berkata kepada kalian: 'Aku telah memberikan waktu luang bagi kalian agar kalian kembali kepada kebenaran, dan aku telah menyampaikan hujah kepada kalian namun kalian tidak menyambutnya. Sungguh, aku telah memberikan peringatan yang jelas kepada kalian dan aku menyatakan pembatalan perjanjian ini secara terang-terangan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.'"

Penduduk Syam yang mendengar seruan tersebut langsung panik dan segera melapor kepada para pemimpin mereka. Mendengar hal itu, Muawiyah dan Amru bin Ash segera bangkit merapikan barisan pasukan, baik di posisi sayap kanan maupun sayap kiri. Di sisi lain, Ali juga sibuk menyusun formasi pasukannya sepanjang malam itu. Beliau menunjuk Malik Al-Asytar An-Nakha'i memimpin pasukan berkuda Kufah, Ammar bin Yasir memimpin pasukan pejalan kaki Kufah, Sahl bin Hunaif memimpin pasukan berkuda Basrah, Qais bin Sa'ad dan Hasyim bin Utbah memimpin pasukan pejalan kaki Basrah, serta Mis'ar bin Fadaki At-Tamimi memimpin kelompok para penghafal Al-Qur'an (Al-Qurra').

Ali memberikan instruksi tegas kepada pasukannya agar jangan sekali-kali memulai pertempuran sebelum pihak lawan yang menyerang dan berbuat melampaui batas. Beliau juga berpesan agar tidak menghabisi musuh yang terluka, tidak mengejar musuh yang lari kabur, tidak menyingkap pakaian wanita, serta tidak menghina mereka meskipun mereka mencaci-maki para pemimpin maupun orang-orang saleh dari pihak kita.

Keesokan paginya, Muawiyah muncul bersama pasukannya dengan menempatkan Ibnu Dzi Al-Kala' Al-Himyari di sayap kanan, Habib bin Maslamah Al-Fihri di sayap kiri, Abu Al-A'war As-Sulami di barisan pelopor depan, Amru bin Ash memimpin pasukan berkuda Damaskus, dan Adh-Dhahhak bin Qais memimpin pasukan pejalan kaki mereka.

Jabir al-Ju'fi meriwayatkan dari Abu Ja'far al-Baqir, Zaid bin al-Hasan, dan selain mereka, mereka berkata: Ali berangkat menuju Syam bersama 150.000 penduduk Irak, sementara Mu'awiyah datang menyongsong dengan jumlah yang serupa dari penduduk Syam.

Sedangkan yang lain mengatakan: Ali datang membawa 100.000 orang atau lebih, sementara Mu'awiyah datang membawa 130.000 orang.

Sekelompok penduduk Syam telah saling berjanji untuk tidak melarikan diri, lalu mereka mengikat diri mereka dengan sorban. Mereka terbagi menjadi 5 barisan dan didampingi 6 barisan lainnya. Begitu pula dengan penduduk Irak, mereka juga berjumlah 11 barisan. Kedua belah pihak saling berhadapan dalam posisi ini pada hari pertama bulan Safar tahun 37 Hijriah, yang bertepatan dengan hari Rabu. Panglima perang di pihak penduduk Irak saat itu adalah al-Asytar an-Nakha'i, sedangkan panglima perang di pihak penduduk Syam adalah Habib bin Maslamah. Mereka bertempur dengan sengit pada hari itu, kemudian masing-masing menarik diri di akhir hari setelah saling memberikan perlawanan yang seimbang dan setara dalam pertempuran.

Keesokan harinya—hari Kamis—panglima perang penduduk Irak adalah Hasyim bin Utbah, sedangkan panglima perang penduduk Syam hari itu adalah Abu al-A'war as-Sulami. Mereka kembali bertempur dengan sengit; pasukan berkuda menyerang pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki menyerang pasukan pejalan kaki. Di akhir hari mereka mundur, di mana masing-masing pihak menunjukkan kesabaran dan keteguhan menghadapi yang lain, dan kekuatan mereka berimbang.

Pada hari ketiga—yaitu hari Jumat—Ammar bin Yasir keluar dari kubu penduduk Irak, dan Amru bin al-Aas keluar menghadapinya dari kubu penduduk Syam. Orang-orang pun bertempur dengan sangat sengit. Ammar menyerang Amru bin al-Aas hingga berhasil mendesaknya dari posisinya. Di sisi lain, Ziyad bin an-Nadhr al-Haritsi terlibat duel satu lawan satu dengan seorang pria. Ketika keduanya saling berhadapan, mereka baru menyadari bahwa mereka adalah saudara seibu. Akhirnya, masing-masing kembali ke pasukannya dan meninggalkan lawannya. Pertempuran terus berlanjut dalam kondisi seperti ini selama tujuh hari. Orang-orang baru mundur pada sore hari, di mana setiap pihak bertahan menghadapi lawannya, dan tidak ada satu pihak pun yang mengalahkan pihak lain selama hari-hari tersebut.

Terbunuhnya Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu:

Ammar berada di pihak Ali radhiyallahu 'anhu, lalu ia gugur dalam pertempuran ini karena dibunuh oleh penduduk Syam. Dengan peristiwa tersebut, tampak jelas dan terbukti kebenaran dari apa yang dikabarkan oleh Rasulullah bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang (kelompok yang berbuat zalim/melampaui batas). Peristiwa ini juga memperjelas bahwa Ali berada di pihak yang benar, sedangkan Mu'awiyah telah membangkang terhadapnya, dan hal ini termasuk di antara tanda-tanda kenabian.

Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Amru bin Murrah, aku mendengar Abdullah bin Salamah berkata: Aku melihat Ammar pada hari perang Siffin, beliau adalah seorang syekh yang sudah tua, berkulit sawo matang, dan bertubuh tinggi. Beliau memegang tombak pendek dengan tangannya yang gemetar, lalu berkata:

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah bertempur di bawah panji ini bersama Rasulullah sebanyak tiga kali, dan ini adalah yang keempat kalinya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya mereka memukul kita hingga mendesak kita ke bukit-bukit Hajar, aku akan tetap tahu bahwa para pendamai kita berada di atas kebenaran, dan mereka berada di atas kesesatan."

Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah dan Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu'bah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Qatadah menyampaikan dari Abu Nadhlah, Hajjaj berkata: Aku mendengar Abu Nadhlah, dari Qais bin Abbad, ia berkata: Aku bertanya kepada Ammar bin Yasir: "Bagaimana pendapatmu tentang peperangan kalian ini, apakah ini merupakan ijtihad (pendapat) yang kalian putuskan sendiri—di mana pendapat itu bisa salah atau benar—atau adakah suatu janji/wasiat khusus yang disampaikan oleh Rasulullah kepada kalian?"

Maka Ammar menjawab: "Rasulullah tidak pernah menjanjikan (menyampaikan) sesuatu kepada kami yang tidak beliau sampaikan kepada seluruh manusia." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Syu'bah.

Ahmad berkata: Waki' menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Abu al-Bakhtari, ia berkata: Ammar berkata pada hari perang Siffin: "Bawakan aku seteguk susu, karena Rasulullah telah bersabda:

«آخِرُ شَرْبَةٍ تَشْرَبُهَا مِنَ الدُّنْيَا شَرْبَةُ لَبَنٍ»

Artinya: "Minuman terakhir yang engkau minum di dunia adalah seteguk susu."

Imam Ahmad berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Habib, dari Abu al-Bakhtari, bahwa Ammar dibawakan seteguk susu, lalu beliau tersenyum dan berkata: Rasulullah telah bersabda kepadaku:

«إِنَّ آخِرَ شَرَابٍ أَشْرَبُهُ لَبَنٌ حِينَ أَمُوتُ»

Artinya: "Sesungguhnya minuman terakhir yang aku minum saat aku mati adalah susu."

Ibrahim bin al-Husain bin Dizil berkata: Yahya menceritakan kepada kami, Nasr menceritakan kepada kami, Amru bin Syamir menceritakan kepada kami, dari Jabir al-Ju'fi, ia berkata: Aku mendengar asy-Sya'bi menceritakan dari al-Ahnaf bin Qais, ia berkata: Kemudian Ammar bin Yasir menyerang mereka, lalu Ibnu Jaun al-Kauni dan Abu al-Ghadiyah al-Fazari menyerangnya. Adapun Abu al-Ghadiyah menikamnya, sedangkan Ibnu Jaun memenggal kepalanya.

Ibrahim bin al-Husain berkata: Yahya menceritakan kepada kami, Isa bin Umar menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami, al-Awwam bin Hausyab menceritakan kepada kami, dari al-Aswad bin Mas'ud, dari Hanzhalah bin Khuwailid, ia berkata: Ketika aku sedang berada di dekat Mu'awiyah, tiba-tiba datang dua orang pria yang sedang berselisih tentang siapa yang membunuh Ammar. Maka Abdullah bin Amru berkata kepada keduanya: "Hendaknya masing-masing dari kalian berlapang dada kepada saudaranya mengenai pembunuhan Ammar, karena aku mendengar Rasulullah bersabda:

«تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»

Artinya: "Dia (Ammar) akan dibunuh oleh kelompok pembangkang."

Lalu Mu'awiyah berkata kepada Amru (bin al-Aas): "Mengapa engkau tidak menghentikan orang gilamu ini dari kita?!" Kemudian Mu'awiyah menoleh kepada Abdullah dan bertanya: "Lalu mengapa engkau ikut berperang bersama kami?" Abdullah menjawab: "Sesungguhnya Rasulullah memerintahkanku untuk menaati ayahku selama ia masih hidup, oleh karena itu aku ikut bersama kalian, namun aku tidak ikut bertempur."

Ibnu Dizil berkata: Yahya menceritakan kepada kami, Nasr menceritakan kepada kami, Hafsh bin Imran al-Burjami menceritakan kepadaku, Nafi' bin Umar al-Jumahi menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Amru berkata kepada ayahnya: "Seandainya bukan karena Rasulullah memerintahkanku untuk menaatimu, niscaya aku tidak akan berjalan bersamamu dalam perjalanan ini. Apakah engkau tidak mendengar Rasulullah  bersabda kepada Ammar bin Yasir:

«تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»

Artinya: "Engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang."

Ia berkata: Dan Yahya menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Ziyad menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami dari Mujalid, dari asy-Sya'bi, ia berkata: Pembunuh Ammar datang meminta izin untuk menemui Mu'awiyah, yang saat itu di dekatnya ada Amru. Amru lalu berkata: "Izinkan dia masuk dan berilah kabar gembira kepadanya dengan neraka." Maka pria itu berkata: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Amru?" Mu'awiyah menjawab: "Dia benar, sesungguhnya yang membunuhnya hanyalah orang-orang yang membawanya (ke medan perang)."

Imam Ahmad berkata: Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami, al-A'masy menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Ziyad, dari Abdullah bin al-Harits, ia berkata: "Sungguh, aku sedang berjalan bersama Mu'awiyah saat kepulangannya dari Siffin, posisi posisiku berada di antara dia dan Amru bin al-Aas." Lalu Abdullah bin Amru berkata: "Wahai ayahku, apakah engkau tidak mendengar Rasulullah bersabda kepada Ammar:

«وَيْحَكَ يَا ابْنَ سُمَيَّةَ تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»

Artinya: "Celakalah engkau wahai putra Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang."

Ia berkata: Maka Amru berkata kepada Mu'awiyah: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan anak ini?" Mu'awiyah pun menjawab: "Dia selalu saja membawa perkara demi perkara kepada kita. Apakah kita yang membunuhnya? Sesungguhnya yang membunuhnya hanyalah orang-orang yang membawanya ke sini."

Kemudian Ahmad meriwayatkannya dari Abu Nu'aim, dari Sufyan ats-Tsauri, dari al-A'masy dengan redaksi yang serupa. Ahmad bersendiri dalam meriwayatkan konteks ini dari jalur ini.

Takwil (penafsiran) yang ditempuh oleh Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu ini adalah takwil yang jauh (lemah). Lagipula, Abdullah bin Amru tidak sendirian dalam meriwayatkan hadits ini, melainkan telah diriwayatkan pula dari jalur-jalur yang lain.

Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Khalid, dari Ikrimah, dari

Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda kepada Ammar:

«تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»

Artinya: "Engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang."

Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari hadits Abdul Aziz bin al-Mukhtar dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafi, dari Khalid al-Haddza', dari Ikrimah, dari Abu Sa'id dalam kisah pembangunan masjid, bahwa Rasulullah bersabda kepada Ammar:

«يَا وَيْحَ عَمَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ»

Artinya: "Wahai, kasihan Ammar, dia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka."

Perawi berkata: Ammar mengucapkan:

«أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ»

Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah."

Dan dalam sebagian salinan kitab al-Bukhari terdapat redaksi: "Wahai, kasihan Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok pembangkang; dia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka."

Ahmad berkata: Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami dari Amru bin Dinar, dari Hisyam, dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda kepada Ammar:

«تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»

Artinya: "Engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang."

Muslim juga meriwayatkan dari hadits Abu Sa'id, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang lebih baik dariku—yaitu Abu Qatadah— Bahwa Rasulullah bersabda kepada Ammar: «تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ» "Kamu akan dibunuh oleh kelompok pemberontak."

Dan diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Ibnu Ulayyah, dari Ibnu Aun, dari Al-Hasan, dari ibunya, dari Ummu Salamah, dengan periwayatan yang sama. Dan dalam sebuah riwayat: "Dan pembunuhnya berada di neraka."

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Hakim dan selainnya, dari Al-Asham, dari Abu Bakar Muhammad bin Ishaq Ash-Shan'ani, dari Abul Jawab, dari Ammar bin Zuraiq, dari Ammar Ad-Duhni, dari Salim bin Abil Ja'd, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Ammar: «إِذَا اخْتَلَفَ النَّاسُ كَانَ ابْنُ سُمَيَّةَ مَعَ الْحَقِّ» "Jika manusia berselisih, maka anak Sumayyah (Ammar) berada bersama kebenaran."

Ahmad berkata: Ibnu Abi Adi menceritakan kepada kami, dari Dawud, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah memerintahkan kami untuk membangun masjid, lalu kami memindahkan batu bata satu demi satu, sedangkan Ammar memindahkan dua batu bata sekaligus, hingga kepalanya dipenuhi debu. Abu Said berkata: Teman-temanku menceritakan kepadaku—dan aku tidak mendengarnya langsung dari Rasulullah —bahwa beliau mengusap kepala Ammar dan bersabda: «وَيْحَكَ يَا ابْنَ سُمَيَّةَ تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ» "Kasihan dirimu, wahai anak Sumayyah, kamu akan dibunuh oleh kelompok pemberontak." Hadis ini diriwayatkan sendiri oleh Ahmad.

Adapun tambahan yang dimasukkan oleh sebagian perawi dalam hadis ini setelah perkataan "Al-Baghiyah" (pemberontak), yaitu: (Semoga Allah tidak memberikan syafaatku kepadanya pada hari kiamat), merupakan kebohongan dan dusta atas nama Rasulullah . Sebab, telah sahih hadis-hadis dari beliau yang menyebut kedua kelompok tersebut sebagai muslim, sebagaimana akan kami sampaikan nanti insya Allah.

Ibnu Jarir berkata: Ketika Ammar terbunuh, Ali melakukan serangan dan orang-orang pun ikut menyerang bersamanya seperti satu orang yang padu. Maka tidak tersisa barisan bagi penduduk Syam melainkan hancur, dan mereka membunuh setiap orang yang mereka temui.

Kemudian Ali memajukan putranya, Muhammad, bersama sekelompok besar orang, lalu mereka berperang dengan sengit. Setelah itu, Ali menyusul di belakangnya bersama kelompok yang lain, lalu ia memimpin serangan bersama mereka. Di tempat ini gugurlah banyak sekali korban dari kedua belah pihak yang jumlahnya tidak ada yang tahu kecuali Allah. Tangan, pergelangan tangan, dan kepala-kepala berterbangan dari pundaknya—semoga Allah merahmati mereka. Kemudian waktu salat Magrib pun tiba, dan orang-orang tidak salat kecuali dengan isyarat hingga waktu salat Isya, dan pertempuran terus berlanjut sepanjang malam ini.

Lebih dari seorang ulama sejarah menyebutkan bahwa mereka saling berperang menggunakan tombak sampai patah, dengan panah sampai habis, dan dengan pedang sampai hancur. Kemudian mereka saling bertempur dengan tangan kosong dan saling melempar batu. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita kembali.

Abdul Rahman bin Ziyad bin An'am berkata—ketika menceritakan tentang pasukan Shiffin: Mereka adalah orang-orang Arab yang saling mengenal satu sama lain sejak zaman Jahiliyah, lalu mereka bertemu dalam Islam. Mereka saling bersabar dan merasa malu untuk melarikan diri (dari medan perang). Ketika mereka sedang melakukan gencatan senjata, sebagian dari pasukan ini masuk ke perkemahan pasukan sana, dan sebagian dari pasukan sana masuk ke perkemahan pasukan ini, untuk mengeluarkan jenazah korban mereka yang gugur lalu memakamkannya.

Asy-Sya'bi berkata: Mereka adalah penduduk surga, sebagian dari mereka bertemu dengan sebagian yang lain, dan tidak ada seorang pun yang melarikan diri dari yang lain.

Pengiriman Mushaf oleh Penduduk Syam dan Seruan untuk Menjadikannya sebagai Penengah:

Imam Ahmad berkata: Ya'la bin Ubaid menceritakan kepada kami, dari Abdul Aziz bin Siyah, dari Habib bin Abi Thabit, ia berkata: Aku mendatangi Abu Wa'il di masjid kaumnya untuk bertanya kepadanya tentang orang-orang yang diperangi oleh Ali di Nahrawan; atas dasar apa mereka menerima seruannya, mengapa mereka memisahkannya, dan atas dasar apa ia menghalalkan untuk memerangi mereka? Lalu ia menjawab: Kami dahulu berada di Shiffin, ketika pembunuhan sudah semakin parah menimpa penduduk Syam, mereka berlindung di sebuah bukit. Lalu Amr bin Al-Aas berkata kepada Muawiyah: "Kirimkanlah mushaf Al-Qur'an kepada Ali dan ajaklah dia kepada Kitabullah, karena dia tidak akan menolaknya." Maka seorang pria datang membawa mushaf tersebut dan berkata: "Di antara kami dan kalian adalah Kitabullah.

﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ وَهُم مُّعْرِضُونَ﴾ "Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada Kitab Allah untuk memutuskan perkara di antara mereka, kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak."* (QS. Ali 'Imran: 23)

Maka Ali berkata: "Benar, akulah yang paling berhak untuk itu, di antara kami dan kalian adalah Kitabullah." Abu Wa'il berkata: Lalu orang-orang Khawarij—yang pada waktu itu kami sebut mereka sebagai Al-Qurra' (para ahli baca Al-Qur'an)—datang menemui Ali dengan pedang yang tersampir di pundak mereka, lalu mereka berkata: "Wahai Amirul Mukminin, apa lagi yang engkau tunggu dari orang-orang yang ada di atas bukit itu? Mengapa kita tidak datangi saja mereka dengan pedang-pedang kita sampai Allah memutuskan perkara di antara kita dan mereka?" Maka Sahl bin Hunaif angkat bicara dan berkata: "Wahai manusia, curigailah pendapat diri kalian sendiri! Sungguh aku telah melihat diri kami pada hari Hudaibiyah—yaitu hari perdamaian antara Rasulullah dan orang-orang musyrik—seandainya kami melihat ada jalan untuk berperang, tentulah kami akan berperang." Lalu Umar datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kebatilan?" Dan ia menyebutkan kelanjutan hadis tersebut sampai selesai, yaitu kisah Hudaibiyah.

Ketika penduduk Syam menyeru untuk menjadikan Kitabullah sebagai penengah, penduduk Irak berkata: "Kami menerima Kitabullah dan kami kembali kepadanya."

Di antara tokoh penduduk Syam yang menyerukan perdamaian adalah Abdullah bin Amr bin Al-Aas. Ia berdiri di hadapan penduduk Irak dan mengajak mereka untuk melakukan gencatan senjata, menahan diri, menghentikan peperangan, serta mematuhi apa yang ada di dalam Al-Qur'an. Hal itu dilakukan atas perintah dari Muawiyah—semoga Allah meridai keduanya. Dan di antara orang yang menyarankan Ali untuk menerima dan menyetujui hal tersebut adalah Al-Asy'ats bin Qais Al-Kindi—semoga Allah meridainya.

Kebanyakan orang dari penduduk Irak dan seluruh penduduk Syam sangat menginginkan perdamaian dan gencatan senjata untuk sementara waktu, dengan harapan tercapai suatu kesepakatan yang dapat mencegah pertumpahan darah sesama muslim. Sebab, orang-orang sudah sangat kelelahan dan banyak yang gugur dalam peperangan ini, terutama pada tiga hari terakhir yang puncaknya terjadi pada malam Jumat, yang dinamakan Lailatul Harir (malam keluhan/gemuruh).

Setiap dari kedua pasukan tersebut memiliki keberanian dan ketabahan yang tidak ada tandingannya di dunia. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang melarikan diri dari yang lain, melainkan mereka tetap bertahan hingga gugurlah banyak sekali korban dari kedua belah pihak.

Semua ini adalah ringkasan dari perkataan Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Al-Muntazham.

Al-Baihaqi telah meriwayatkan dari jalur Yaqub bin Sufyan, dari Abul Yaman, dari Shafwan bin Amr, ia berkata: Penduduk Syam berjumlah enam puluh ribu orang, lalu gugur dari mereka dua puluh ribu orang. Sedangkan penduduk Irak berjumlah seratus dua puluh ribu orang, lalu gugur dari mereka empat puluh ribu orang.

Al-Baihaqi mengaitkan peristiwa ini dengan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya dari jalur Abdul Razzaq, dari Ma'mar, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dari hadis Syuaib, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, serta dari hadis Syuaib, dari Abuz Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ وَدَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ» "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga dua kelompok besar saling berperang, yang di antara keduanya terjadi pertempuran yang besar, sedangkan seruan (tuntutan) keduanya adalah sama."

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Ibnu Mahdi dan Ishaq, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Manshur, dari Rib'i bin Hirasy, dari Al-Bara bin Najiyah Al-Kahili, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: Rasulullah bersabda: «إِنَّ رَحَى الْإِسْلَامِ سَتَدُورُ بِخَمْسٍ وَثَلَاثِينَ أَوْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ، فَإِنْ يَهْلِكُوا فَسَبِيلُ مَنْ هَلَكَ، وَإِنْ يَقُمْ لَهُمْ دِينُهُمْ يَقُمْ لَهُمْ سَبْعِينَ عَامًا» "Sesungguhnya roda Islam akan berputar pada tahun ketiga puluh lima atau tiga puluh enam. Jika mereka binasa, maka itu adalah jalannya orang-orang yang binasa. Dan jika agama mereka tegak bagi mereka, maka ia akan tegak selama tujuh puluh tahun." Umar bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah dari masa yang telah lalu atau dari masa yang tersisa?" Beliau menjawab: "Bahkan dari masa yang tersisa."

Kesepakatan Mengenai Arbitrase (Tahkim)

Kemudian kedua belah pihak saling berunding setelah adanya surat-menyurat dan peninjauan kembali mengenai tahkim (arbitrase), yaitu agar masing-masing dari kedua pemimpin—Ali dan Muawiyah—mengutus seorang pria dari pihaknya, kemudian kedua utusan tersebut menyepakati apa yang mendatangkan kemaslahatan bagi umat Islam. Maka Muawiyah mewakilkan Amr bin Al-Aas, sedangkan Ali ingin mewakilkan Abdullah bin Abbas, namun para ahli Al-Qur'an (Al-Qurra') melarangnya dan berkata: "Kami tidak rida kecuali kepada Abu Musa Al-Asy'ari."

Lalu mereka menulis sebuah surat perjanjian di antara mereka yang bunyinya sebagai berikut: "Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah apa yang disepakati oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Ali memutuskan atas penduduk Irak dan orang-orang yang bersama mereka dari kalangan pengikut mereka dan kaum muslimin, dan Muawiyah memutuskan atas penduduk Syam dan orang-orang yang bersama mereka dari kalangan orang-orang mukmin dan kaum muslimin; bahwa kami tunduk kepada hukum Allah dan Kitab-Nya, kami menghidupkan apa yang dihidupkan oleh Allah, dan kami mematikan apa yang dimatikan oleh Allah. Maka apa saja yang ditemukan oleh kedua penengah ini—yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amr bin Al-Aas—di dalam Kitab Allah, maka mereka mengamalkannya. Dan apa yang tidak mereka temukan di dalam Kitab Allah, maka (mereka merujuk kepada) sunah yang adil, yang menyatukan dan tidak mencerai-beraikan."

Kemudian kedua penengah mengambil janji dan ikrar yang teguh dari Ali, Muawiyah, dan kedua pasukan bahwa keduanya aman atas diri dan keluarga mereka, dan umat menjadi penolong bagi keduanya atas apa yang mereka putuskan dan sepakati. Dan atas orang-orang mukmin serta kaum muslimin dari kedua belah pihak terdapat janji Allah dan ikrar-Nya bahwa mereka terikat dengan apa yang ada di dalam lembaran sahifah ini. Dan batas waktu—yakni waktu pelaksanaan—keputusan ditunda hingga bulan Ramadan. Namun jika keduanya ingin mengakhirkannya (menundanya lagi), keduanya boleh menundanya berdasarkan keridaan dari keduanya. Perjanjian ini ditulis pada hari Rabu, ketika dua belas hari telah berlalu dari bulan Safar tahun tiga puluh tujuh (Hijriah) bahwa Ali dan Muawiyah harus bertemu di tempat dua utusan hakim di Daumatul Jandal pada bulan Ramadan, dan masing-masing utusan hakim didampingi oleh empat ratus orang sahabatnya. Jika mereka tidak bisa berkumpul karena hal itu, maka mereka harus berkumpul pada tahun berikutnya di Adzruh. Perjanjian tertulis tersebut disaksikan oleh sepuluh orang dari pasukan Ali dan sepuluh orang dari pasukan Muawiyah.

Pertemuan Dua Utusan Hakim رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما di Daumatul Jandal

Dua utusan hakim tersebut berkumpul pada bulan Ramadan sebagaimana yang telah mereka sepakati bersama saat penulisan piagam tahkim (perundingan) di Shiffin. Hal itu terjadi karena ketika bulan Ramadan tiba, Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ mengutus empat ratus penunggang kuda bersama Syuraih bin Hani. Bersama mereka ikut pula Abu Musa, dan Abdullah bin Abbas yang diserahi tugas memimpin shalat. Di pihak lain, Muawiyah mengutus Amru bin Al-Ash bersama empat ratus penunggang kuda dari penduduk Syam, yang di antaranya terdapat Abdullah bin Amru.

Mereka bertemu di Daumatul Jandal, sebuah tempat yang berada di tengah-tengah jarak antara Kufah dan Syam, di mana jarak dari masing-masing kedua negeri tersebut adalah sembilan tahapan perjalanan. Pertemuan ini juga disaksikan oleh sejumlah tokoh masyarakat, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Al-Zubair, Al-Mughirah bin Syu'bah, Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam Al-Makhzumi, Abdurrahman bin Abdi Yaghuts Al-Zuhri, dan Abi Jahm bin Hudzaifah. Sebagian orang mengira bahwa Sa'ad bin Abi Waqqas juga menyaksikan pertemuan mereka, namun yang lain mengingkari kehadirannya.

Imam Ahmad mengatakan: Abu Bakar Al-Hanafi Abdul Kabir bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami, Bukair bin Mismar menceritakan kepada kami, dari Amir bin Sa'ad, bahwa saudaranya yang bernama Umar pergi menemui Sa'ad yang sedang berada di antara kambing-kambing gembalaannya di luar kota Madinah. Ketika Sa'ad melihatnya, ia berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari keburukan penunggang ini." Ketika Umar sampai kepadanya, ia berkata: "Wahai ayahku, apakah ayah rida menjadi orang Arab badui di antara kambing-kambing gembalaanmu, sementara orang-orang sedang memperebutkan kekuasaan di Madinah?" Maka Sa'ad memukul dada Umar seraya berkata: "Diamlah! Karena sesendunya aku mendengar Rasulullah bersabda:

Artinya: "Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya (jiwanya), dan tersembunyi (tidak populer)."

Demikianlah hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya.

Ahmad juga mengatakan: Abdul Malik bin Amru menceritakan kepada kami, Katsir bin Zaid Al-Aslami menceritakan kepada kami, dari Al-Muthallib, dari Umar bin Sa'ad, dari ayahnya, bahwa putranya yang bernama Amir datang kepadanya lalu berkata: "Wahai ayahku, orang-orang saling berperang demi dunia sedangkan ayah berada di sini?" Maka Sa'ad menjawab: "Wahai anakku, apakah dalam situasi fitnah (kekacauan) ini kamu menyuruhku untuk menjadi pemimpin? Tidak, demi Allah, sampai aku diberi sebuah pedang yang jika aku pukulkan kepada seorang mukmin maka pedang itu tumpul (tidak melukai), dan jika aku pukulkan kepada seorang kafir maka pedang itu membunuhnya. Aku mendengar Rasulullah bersabda:

Artinya: "Sesungguhnya Allah mencintai orang yang kaya (jiwanya), tersembunyi (tidak populer), dan bertakwa."

Redaksi teks ini seolah-olah kebalikan dari yang pertama. Tampaknya Umar bin Sa'ad meminta bantuan saudaranya, Amir, untuk membujuk ayah mereka agar mau menghadiri urusan tahkim tersebut, dengan harapan orang-orang akan beralih dari Muawiyah dan Ali lalu mengangkat Sa'ad sebagai pemimpin. Namun, Sa'ad menolak hal itu dengan penolakan yang sangat keras. Ia merasa cukup dan puas dengan kondisinya saat itu yang berkecukupan namun tidak populer. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah bersabda: "Sungguh beruntung orang yang berserah diri (masuk Islam), dianugerahi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan-Nya." Sementara itu, Umar bin Sa'ad ini adalah orang yang mencintai dunia dan kekuasaan. Sifat tersebut terus menjadi kebiasaannya hingga akhirnya dialah yang menjadi panglima pasukan yang membunuh Husain bin Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. Seandainya ia merasa puas dengan kehidupan yang dijalani ayahnya, tentu peristiwa (pembunuhan) itu tidak akan pernah terjadi.

Intinya adalah bahwa Sa'ad tidak menghadiri urusan tahkim tersebut, tidak menginginkannya, dan tidak pula berniat untuk itu. Orang-orang yang menghadirinya hanyalah mereka yang telah kami sebutkan di atas.

Ketika dua utusan hakim tersebut berkumpul, keduanya saling berunding demi kemaslahatan umat Islam, dengan pengetahuan dan pandangan yang mendalam dalam menimbang berbagai urusan. Kemudian keduanya sepakat untuk memberhentikan Ali dan Muawiyah, lalu menyerahkan urusan tersebut kepada musyawarah di antara kaum muslimin agar mereka dapat menyepakati siapa yang paling layak bagi mereka, baik dari kedua tokoh tersebut maupun dari orang lain. Abu Musa sempat mengusulkan untuk mengangkat Abdullah bin Umar bin Al-Khattab. Lalu Amru berkata kepadanya: "Angkatlah putraku, Abdullah, karena ia mendekati Abdullah bin Umar dalam hal ilmu, amal, dan zuhud." Namun Abu Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah melibatkan putramu ke dalam fitnah bersama dirimu, meskipun di samping itu dia sebenarnya adalah orang yang jujur."

Keluarnya Kaum Khawarij

Orang-orang pun berpisah dan membubarkan diri dari Shiffin menuju tempat masing-masing. Muawiyah pergi ke Damaskus bersama para pengikutnya, sedangkan Ali kembali ke Kufah. Ketika Ali memasuki kota Kufah, ia mendengar seorang laki-laki berkata: "Ali telah pergi dan kembali tanpa membawa hasil apa-apa." Maka Ali berkata: "Orang-orang yang kita tinggalkan (maksudnya penduduk Syam) itu lebih baik daripada mereka ini." Kemudian Ali terus berjalan sambil berzikir mengingat Allah hingga masuk ke dalam istana pemerintahan di Kufah.

Ketika Ali sudah dekat untuk memasuki Kufah, sekitar dua belas ribu orang dari pasukannya memisahkan diri. Mereka itulah kaum Khawarij. Mereka menolak untuk tinggal bersama Ali di negerinya, lalu berhenti di suatu tempat yang bernama Harura'. Mereka mengingkari beberapa hal yang menurut klaim mereka telah dilanggar oleh Ali. Maka Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ mengutus Abdullah bin Abbas untuk mendatangi dan berdialog dengan mereka. Hasilnya, sebagian besar dari mereka kembali (insaf), namun sisanya tetap bertahan pada pendiriannya.

Kaum Khawarij inilah yang dimaksud dalam hadits yang telah disepakati kesahihannya (muttafaq 'alaih), bahwa Rasulullah bersabda: "Akan ada sekelompok orang yang keluar (dari agama/persatuan) di saat terjadi perpecahan di antara manusia." Dalam riwayat lain disebutkan: "di antara kaum muslimin." Dan dalam riwayat lain lagi disebutkan: "dari umatku, mereka akan diperangi oleh kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kelompok yang bertikai."

Hadits ini memiliki jalur periwayatan yang banyak dan redaksi yang beragam.

Hadits ini merupakan salah satu bukti tanda kenabian, karena peristiwa tersebut terjadi persis seperti apa yang dikabarkan oleh Rasulullah . Di dalam hadits ini terdapat ketetapan hukum tentang keislaman kedua belah pihak, yaitu penduduk Syam dan penduduk Irak. Hal ini berbeda dengan apa yang diklaim oleh kelompok Rafidhah—orang-orang yang bodoh dan zalim—yang mengafirkan penduduk Syam. Hadits ini juga menunjukkan bahwa para pengikut Ali merupakan kelompok yang paling dekat kepada kebenaran di antara kedua belah pihak. Ini adalah mazhab Ahlussunnah wal Jama'ah, yaitu bahwa Ali adalah pihak yang benar, meskipun Muawiyah juga seorang yang berijtihad dalam peperangan melawan Ali dan ia keliru. Muawiyah mendapatkan pahala (atas ijtihadnya) insya Allah, namun Ali adalah imam yang berada di pihak yang benar insya Allah Ta'ala, sehingga ia mendapatkan dua pahala. Hal ini sebagaimana yang telah tsabit (tetap) dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Amru bin Al-Ash, bahwa Rasulullah bersabda: "Apabila seorang hakim berijtihad lalu ijtihadnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia berijtihad lalu ijtihadnya keliru, maka ia mendapatkan satu pahala."

Dikatakan pula: Sesungguhnya Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ sendiri yang mendatangi mereka lalu mendebat apa yang mereka benci darinya, hingga akhirnya ia berhasil menyadarkan mereka kembali dari pemikiran tersebut, lalu mereka masuk bersama Ali ke Kufah. Namun kemudian mereka kembali melanggar apa yang telah mereka janjikan kepadanya. Mereka saling mengadakan kesepakatan dan janji setia di antara sesama mereka untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar—menurut klaim mereka—serta memimpin manusia dalam urusan tersebut. Mereka pun memisahkan diri sekali lagi menuju suatu tempat yang bernama Nahrawan, dan di tempat itulah Ali memerangi mereka.

Imam Ahmad berkata: Ishaq bin Isa Al-Thabba' menceritakan kepada kami, Yahya bin Sulaim menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abdullah bin Iyadh bin Amru Al-Qari, ia berkata: Abdullah bin Syaddad datang lalu menemui Aisyah saat kami sedang berada di sisinya. Kepulangannya dari Irak bertepatan dengan malam-malam terbunuhnya Ali. Aisyah berkata kepadanya: "Wahai Abdullah bin Syaddad, apakah kamu akan berkata jujur kepadaku mengenai apa yang akan kutanyakan kepadamu? Ceritakanlah kepadaku tentang orang-orang yang diperangi oleh Ali itu." Abdullah bin Syaddad menjawab: "Mengapa aku tidak berkata jujur kepadamu." Aisyah berkata: "Maka ceritakanlah kepadaku kisah mereka."

Abdullah bin Syaddad berkisah: Sesungguhnya ketika Ali saling mengirim surat dengan Muawiyah dan dua utusan hakim telah mengambil keputusan, keluarlah delapan ribu orang ahli baca Al-Qur'an (Qurra') menentang Ali. Mereka kemudian singgah di suatu daerah bernama Harura' di pinggiran kota Kufah. Mereka mencela Ali seraya berkata: "Kamu telah menanggalkan pakaian yang telah dipakaikan Allah kepadamu, dan menghapus nama yang telah diberikan Allah kepadamu, kemudian kamu pergi dan berhukum pada keputusan manusia dalam urusan agama Allah, padahal tidak ada hukum kecuali milik Allah."

Ketika kabar tentang celaan mereka dan alasan mereka memisahkan diri sampai kepada Ali, ia memerintahkan seorang muazin untuk menyerukan agar tidak ada seorang pun yang masuk menemui Amirul Mukminin kecuali orang yang menghafal Al-Qur'an. Setelah rumah tersebut dipenuhi oleh para pembaca Al-Qur'an, Ali meminta dibawakan sebuah mushaf induk yang besar. Ali meletakkannya di hadapannya, lalu ia mulai memukul mushaf tersebut dengan tangannya seraya berkata: "Wahai mushaf, berbicaralah kepada manusia!" Orang-orang pun berseru kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, apa yang engkau tanyakan kepadanya? Mushaf itu hanyalah tinta di atas kertas, sedangkan kamilah yang berbicara berdasarkan apa yang kami riwayatkan darinya, lalu apa yang engkau inginkan?"

Ali menjawab: "Teman-teman kalian yang telah memisahkan diri itu, antara aku dan mereka ada Kitabullah. Allah berfirman dalam kitab-Nya mengenai urusan seorang wanita dan seorang pria:

Artinya: 'Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang utusan hakim dari keluarga laki-laki dan seorang utusan hakim dari keluarga perempuan. Jika kedua orang utusan hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu.' (QS. An-Nisa: 35)

Umat Muhammad tentu jauh lebih besar urusan darah dan kehormatannya daripada urusan satu wanita dan satu pria. Mereka juga membenciku karena aku menulis surat kepada Muawiyah dengan kalimat: 'Ditulis oleh Ali bin Abi Thalib'. Padahal, Suhail bin Amru pernah datang kepada kita saat kita sedang bersama Rasulullah di Hudaibiyah ketika beliau berdamai dengan kaumnya, kaum Quraisy. Rasulullah menulis: 'Bismillahirrahmanirrahim', lalu Suhail berkata: 'Jangan menulis Bismillahirrahmanirrahim.' Rasulullah bertanya: 'Lalu bagaimana harus menulisnya?' Suhail menjawab: 'Tulislah: Bismika Allahumma (Dengan nama-Mu ya Allah).' Kemudian Rasulullah bersabda: 'Maka tulislah: Muhammad Rasulullah', namun Suhail berkata: 'Seandainya aku tahu bahwa engkau adalah utusan Allah, niscaya aku tidak akan menentangmu.' Akhirnya ditulis: 'Inilah apa yang disepakati damai oleh Muhammad bin Abdullah dengan kaum Quraisy.' Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya:

Artinya: 'Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.' (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka Ali mengutus Abdullah bin Abbas kepada mereka. Aku pun pergi bersamanya hingga ketika kami sampai di tengah-tengah perkemahan mereka, berdiri Ibnu Al-Kawwa' lalu berkhotbah di hadapan orang banyak, katanya: "Wahai para penghafal Al-Qur'an, ini adalah Abdullah bin Abbas. Barangsiapa yang belum mengenalnya, maka aku mengenalnya berdasarkan Kitabullah dengan pengenalan yang disebutkan tentangnya dan kaumnya:

Artinya: 'Bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.' (QS. Az-Zukhruf: 58)

Oleh karena itu, kembalikanlah ia kepada sahabatnya (Ali) dan janganlah kalian mendebat Kitabullah bersamanya." Sebagian dari mereka berkata: "Demi Allah, kita benar-benar akan mendebatnya. Jika ia membawa kebenaran yang kita ketahui, kita akan mengikutinya; dan jika ia membawa kebatilan, kita pasti akan mematahkan argumennya dengan kebatilannya sendiri."

Maka mereka mendebat Abdullah mengenai Kitabullah selama tiga hari. Akhirnya, empat ribu orang dari mereka kembali dalam keadaan bertobat, termasuk di antaranya Ibnu Al-Kawwa', hingga Ibnu Abbas membawa mereka masuk menemui Ali di Kufah. Kemudian Ali mengirim pesan kepada sisa dari mereka, katanya: "Telah terjadi urusan antara kami dan urusan manusia sebagaimana yang telah kalian lihat. Maka tinggallah kalian di mana saja kalian suka sampai umat Muhammad bersatu kembali. Perjanjian antara kami dan kalian adalah kalian tidak boleh menumpahkan darah yang diharamkan, tidak merampok di jalanan, dan tidak menzalimi ahli dzimmah (non-muslim yang dilindungi). Karena jika kalian melakukannya, maka kami menyatakan perang kepada kalian secara terbuka."

Aisyah bertanya kepada Abdullah bin Syaddad: "Wahai Ibnu Syaddad, apakah Ali memerangi mereka?" Ia menjawab: "Demi Allah, Ali tidak memerangi mereka sampai mereka benar-benar merampok di jalanan, menumpahkan darah, dan menghalalkan darah ahli dzimmah." Aisyah berkata: "Demi Allah?" Ia menjawab: "Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, sungguh peristiwa itu benar-benar terjadi."

Aisyah bertanya lagi: "Lalu apa perihal berita yang sampai kepadaku dari penduduk Irak yang sering mereka perbincangkan, mereka menyebut tentang Dzu Al-Tsadyi (orang yang memiliki payudara) atau Dzu Al-Tsadya?" Ia menjawab: "Aku benar-benar telah melihatnya sendiri. Aku berdiri bersama Ali di antara jasad orang-orang yang tewas, lalu Ali memanggil orang-orang seraya berkata: 'Apakah kalian mengenali orang ini?' Maka banyak sekali orang yang datang dan berkata: 'Aku pernah melihatnya sedang shalat di masjid Bani Fulan, dan aku pernah melihatnya shalat di masjid Bani Fulan.' Mereka tidak memberikan bukti pengenal yang pasti selain hal itu."

Aisyah bertanya: "Lalu apa perkataan Ali ketika berdiri di dekat jasadnya sebagaimana yang diklaim oleh penduduk Irak?" Ia menjawab: "Aku mendengarnya berkata: 'Maha Benar Allah dan Rasul-Nya'." Aisyah bertanya lagi: "Apakah kamu mendengar beliau mengatakan selain itu?" Ia menjawab: "Ya Allah, tidak." Aisyah pun berkata: "Benar, Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah merahmati Ali, sesungguhnya di antara kebiasaan bicaranya adalah apabila ia melihat sesuatu yang menakjubkan baginya, ia pasti berkata: 'Maha Benar Allah dan Rasul-Nya'. Namun penduduk Irak pergi lalu berdusta atas namanya dan menambah-nambahkan cerita dalam hadits tersebut."

Hadits ini diriwayatkan secara tunggal oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, dan dipilih oleh Al-Dhiya'.

Dalam konteks redaksi ini menunjukkan bahwa jumlah mereka (kaum Khawarij) pada awalnya adalah delapan ribu orang. Namun boleh jadi ada orang-orang lain di luar mereka yang sepaham dengan mazhab mereka ikut bergabung, hingga jumlah mereka mencapai dua belas ribu atau enam belas ribu orang.

Ketika Ibnu Abbas berdialog dengan mereka, empat ribu orang di antara mereka kembali bertobat, sedangkan sisanya tetap bertahan pada pendirian mereka semula.

Dan Ya'qub telah meriwayatkannya dari Sufyan, dari Musa bin Mas'ud, dari Ikrimah bin Ammar, dari Simak Abu Zumail, dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkan kisah tersebut. Di dalamnya disebutkan bahwa mereka (orang-orang Khawarij) mencela Ali karena ia menerima keputusan manusia (tahkim), menghapus namanya dari gelar amir (pemimpin), dan berperang pada Perang Jamal dengan membunuh jiwa yang diharamkan namun tidak membagikan harta rampasan perang maupun tawanan wanita.

Maka Ali menjawab dua poin pertama dengan jawaban yang telah lalu, dan menjawab poin ketiga dengan berkata: "Di antara tawanan tersebut terdapat Ummul Mu'minin (Aisyah). Jika kalian menganggap ia bukan ibu kalian, maka kalian telah kafir. Dan jika kalian menghalalkan untuk menawan ibu kalian sendiri, kalian pun telah kafir."

Hadits-Hadits yang Berkaitan dengan Khawarij

Al-Hafiz Ibnu Katsir sangat menaruh perhatian untuk menyebutkan hadits-hadits marfu' (yang bersambung) kepada Rasulullah mengenai perkara orang-orang Khawarij dan sifat-sifat mereka. Beliau meriwayatkannya dari tiga belas orang sahabat dan memulainya dengan hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata: "Dan telah kami kemukakan hadits Ali beserta jalur-jalurnya, karena ia adalah salah satu dari empat Khalifah, salah satu dari sepuluh orang yang dipersaksikan masuk surga, salah satu anggota musyawarah (syura), dan tokoh utama dalam kisah ini." Kemudian beliau menyampaikan hadits tersebut dari empat belas perawi yang menerimanya dari Ali radhiyallahu 'anhu, yaitu:

  1. Zaid bin Wahb Al-Juhani: Haditsnya dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya nomor (156, 1066), Ahmad dalam Al-Musnad (1/91), dan Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor (4768).
  2. Suwaid bin Ghafalad Al-Ju'fi: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/111), dan hadits ini terdapat dalam Shahihain (Shahih Al-Bukhari nomor: 5057, 6930 dan Shahih Muslim nomor: 66, 15410).
  3. Thariq bin Ziyad Al-Kufi: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/107-147).
  4. Abdullah bin Syaddad Al-Laitsi: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/86). Ibnu Katsir berkata: "Ahmad meriwayatkannya secara sendiri (tafarrud) dan sanadnya shahih." Hadits ini juga dipilih oleh Ad-Diya' dalam kitab Al-Mukhtarah yang berisi hadits-hadits shahih.
  5. Ubaidillah bin Abi Rafi' Al-Madani: Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya nomor (157, 1066).
  1. Ubaidah bin Amru As-Salmani: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad dari beberapa jalur dari Muhammad bin Sirin, dari Ubaidah, dari Ali (1/83, 95, 144, 155), dan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya nomor (155, 1066). Kemudian Ibnu Katsir berkata setelah membawakan riwayat Muslim: "Dan telah kami sebutkan dari jalur yang banyak yang memberikan keyakinan pasti (qath'i) bagi banyak ulama dari Muhammad bin Sirin, di mana ia telah bersumpah bahwa ia mendengarnya dari Ubaidah, dan Ubaidah bersumpah bahwa ia mendengarnya dari Ali, dan Ali bersumpah bahwa ia mendengarnya dari Rasulullah ." Sungguh Ali telah berkata: "Sekiranya aku jatuh dari langit ke bumi, itu lebih aku sukai daripada aku berdusta atas nama Rasulullah ."
  2. Kulaib bin Syihab Al-Jarmi: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/160) dari dua jalur. Kemudian Ibnu Katsir berkata: "Dan sanadnya baik (jayyid), namun mereka (para pemilik kitab induk hadits) tidak mengeluarkannya."
  3. Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah As-Suwa'i: Dikeluarkan oleh Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (1/199).
  4. Abu Katsir Maula Al-Anshar: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/88).
  5. Abu Maryam At-Tsaqafi Al-Mada'ini (namanya adalah Qais): Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/151) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor (4770).
  6. Abu Musa: Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah (6/433).
  7. Abu Al-Mu'min Al-Wabili Al-Kufi: Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya, dan ia berkata: "Kami tidak mengetahui Abu Al-Mu'min meriwayatkan hadits dari Ali selain hadits ini."
  8. Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah Al-Asadi: Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya, dan ia berkata: "Kami tidak mengetahui Habib bin Tsabit meriwayatkan dari Syaqiq, dari Ali, kecuali hadits ini."
  9. Abu Al-Wadhi' Abbad bin Nasib: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/139, 140, 141) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya nomor (4769).

Berikut ini adalah teks riwayat Zaid bin Wahb Al-Juhani dari Ali yang bersumber dari Shahih Muslim.

Muslim bin Al-Hajjaj berkata dalam kitab Shahih-nya: Telah menceritakan kepada kami Abdi bin Humaid, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq bin Hammam, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abi Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Salamah bin Kuhail, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Wahb Al-Juhani, bahwa ia dahulu berada di dalam pasukan yang bersama Ali radhiyallahu 'anhu yang berjalan menuju orang-orang Khawarij. Maka Ali radhiyallahu 'anhu berkata:

"Wahai manusia, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda:

«يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِم *بِشَيْءٍ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسَبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ، لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَوْ يَعْلَمُ الْجَيْشُ الَّذِينَ يُصِيبُونَهُمْ مَا قُضِيَ لَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِمْ لَاتَّكَلُوا عَلَى الْعَمَلِ، وَآيَةُ ذَلِكَ أَنَّ فِيهِمْ رَجُلًا لَهُ عَضُدٌ لَيْسَ لَهُ ذِرَاعٌ، عَلَى رَأْسِ عَضُدِهِ مِثْلُ حَلَمَةِ الثَّدْيِ، عَلَيْهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ

'Akan keluar suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur'an, di mana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan bacaan mereka, shalat kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur'an dan menyangka bahwa Al-Qur'an itu membela mereka, padahal Al-Qur'an itu menjadi hujah yang menghukum mereka. Shalat mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari hewan buruannya. Seandainya pasukan yang memerangi mereka mengetahui apa yang telah ditetapkan (berupa pahala) untuk mereka melalui lisan Nabi mereka, niscaya mereka akan bergantung pada amal itu saja. Dan tanda (bukti) dari hal itu adalah bahwa di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki pangkal lengan namun tidak memiliki lengan bawah, di ujung pangkal lengannya ada seperti puting susu yang di atasnya terdapat beberapa helai rambut putih.' "

Apakah kalian akan pergi menuju Mu'awiyah dan penduduk Syam, lalu meninggalkan orang-orang ini mendatangi keturunan dan harta benda kalian?! Demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap mereka itu adalah kaum yang dimaksud ini. Karena mereka telah menumpahkan darah yang diharamkan dan menyerang hewan ternak gembalaan manusia, maka berjalanlah kalian dengan menyebut nama Allah.

Salamah berkata: Zaid bin Wahb menjelaskan kepadaku tempat persinggahan demi tempat persinggahan, hingga ia berkata: Kami melewati sebuah jembatan. Ketika kami saling berhadapan, pemimpin orang-orang Khawarij pada hari itu adalah Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi. Ia berkata kepada mereka: "Lemparkan tombak-tombak kalian dan hunuslah pedang-pedang kalian dari sarungnya, karena aku khawatir mereka akan meminta sumpah kepada kalian sebagaimana mereka meminta sumpah kepada kalian pada hari Harura." Maka mereka pun kembali dan melemparkan tombak-tombak mereka dari kejauhan lalu menghunus pedang. Namun orang-orang (pasukan Ali) menusuk mereka dengan tombak hingga mereka saling bertumpukan karena tewas. Dan tidak ada yang menjadi korban dari pihak manusia (pasukan Ali) pada hari itu kecuali hanya dua orang saja. Lalu Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Carilah di antara mereka jenazah si tangan cacat (Al-Mukhaddaj)!"

Maka mereka pun mencarinya namun tidak menemukannya. Lalu Ali radhiyallahu 'anhu sendiri berdiri hingga mendatangi sekumpulan jenazah yang saling bertumpukan satu sama lain. Beliau berkata: "Singkirkan mereka!" Maka mereka pun menemukan jenazah itu di bagian yang dekat dengan tanah. Ali lalu bertakbir dan berkata: "Maha benar Allah, dan Rasul-Nya telah menyampaikan."

Zaid berkata: Maka Ubaidah As-Salmani berdiri menghampirinya dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, apakah engkau benar-benar mendengar hadits ini dari Rasulullah ?" Ali menjawab: "Ya, demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia." Ubaidah meminta Ali bersumpah sebanyak tiga kali, dan Ali pun bersumpah kepadanya.

Kemudian Ibnu Katsir berkata: "Dan yang dimaksud adalah bahwa jalur-jalur periwayatan dari Ali ini berstatus mutawatir, karena telah diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak dari kelompok orang yang berbeda-beda, yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta. Maka dari itu, asal kisah ini terjaga (sahih), meskipun terjadi perbedaan dalam sebagian lafal di antara para perawi. Akan tetapi, makna dan inti kisahnya yang telah disepakati oleh berbagai riwayat adalah sahih tanpa ada keraguan di dalamnya, bersumber dari Ali bahwa ia meriwayatkannya dari Rasulullah yang mengabarkan kepadanya tentang sifat orang-orang Khawarij serta sifat Dzu Ats-Tsadiyyah (si pemilik puting susu) yang menjadi tanda atas mereka."

Kemudian beliau berkata: "Dan hadits mengenai Khawarij ini juga diriwayatkan oleh sekelompok sahabat selain Ali bin Abi Thalib , di antaranya adalah:"

  1. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu: Haditsnya dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/404), At-Tirmidzi dalam Sunan-nya nomor (2188), dan Ibnu Majah nomor (168). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani sebagaimana terdapat dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi nomor (1779). Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«يَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، أَحْدَاثٌ، أَوْ قَالَ: حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ النَّاسِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ، لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَمَنْ أَدْرَكَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ، فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا عِنْدَ اللَّهِ لِمَنْ قَتَلَهُمْ»

'Akan keluar suatu kaum di akhir zaman yang bodoh akalnya dan berusia muda. Mereka mengucapkan perkataan yang terbaik di antara perkataan manusia. Mereka membaca Al-Qur'an dengan lisan mereka, namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari hewan buruannya. Maka barangsiapa yang mendapati mereka, hendaklah ia memerangi (membunuh) mereka, karena sesungguhnya dalam memerangi mereka terdapat pahala yang besar di sisi Allah bagi siapa saja yang membunuh mereka.' " Ini adalah lafal riwayat Ahmad dalam Al-Musnad.

Ibnu Katsir berkata setelah membawakan hadits Ibnu Mas'ud: "Dan Ibnu Mas'ud wafat sebelum kemunculan Khawarij sekitar lima tahun, maka hadits beliau dalam perkara ini merupakan salah satu penguat yang paling kuat."

  1. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: Haditsnya dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (3/189, 224), Abu Dawud dalam Sunan-nya dari dua jalur nomor (4765, 4766), dan Ibnu Majah nomor (175).
  2. Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu: Haditsnya dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad dari tiga jalur (3/354, 355), Muslim dalam Shahih-nya nomor (1063), dan An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra nomor (8087, 8088).
  3. Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu: Haditsnya dikeluarkan oleh Ya'qub bin Sufyan dalam Al-Ma'rifah wa At-Tarikh (3/406), dan dari jalurnya dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah (6/433), sebagaimana dikeluarkan juga oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/179).
  4. Abu Sa'id Al-Khudri (Sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Anshari) radhiyallahu 'anhu: Beliau memiliki banyak jalur periwayatan yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (3/15, 33, 34, 48, 56, 52, 68, 60, 72, 73, 82), demikian pula dalam Al-Bukhari nomor (4351, 5058, 7562), dan dalam Muslim nomor (144, 147, 1064, 148).
  5. Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu: Haditsnya dikeluarkan oleh Al-Haitsam bin Adi sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir (10/622).
  6. Sahl bin Hunaif Al-Anshari radhiyallahu 'anhu: Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (3/486), dan hadits ini terdapat dalam Shahihain (Shahih Al-Bukhari nomor: 6934, dan Shahih Muslim nomor: 1068, 160, 159).
  7. Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma: Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya nomor (171), dan telah dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani sebagaimana terdapat dalam Shahih Sunan Ibnu Majah nomor (141).
  • Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radiyallahu 'anhuma, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (2/84). 10- Abdullah bin Amr bin Al-Aas radiyallahu 'anhuma, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (2/198, 199). 11- Abu Dzar Al-Ghifari radiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya (158; 1067). 12- Rafi' bin Amr Al-Ghifari radiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Muslim bersama dengan hadis Abu Dzar yang disebutkan sebelumnya.

Perang Nahrawan

Abu Mikhnaf meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abi Hurrah, bahwa ketika Ali mengutus Abu Musa untuk melaksanakan keputusan arbitrase (pemerintahan), orang-orang Khawarij berkumpul di rumah Abdullah bin Wahb Al-Rasibi. Abdullah kemudian menyampaikan khotbah yang sangat menyentuh kepada mereka. Beliau mengajak mereka untuk menjauhi kehidupan dunia (zuhud), menanamkan rasa cinta pada akhirat dan surga, serta mendorong mereka untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Selanjutnya, Abdullah berkata: "Keluarlah bersama kami dari desa yang penduduknya zalim ini menuju pinggiran daerah subur (al-sawad) ini, menuju sebagian wilayah pegunungan atau sebagian kota-kota ini, untuk menolak hukum-hukum yang tidak adil ini."

Kemudian Hurqush bin Zuhair berdiri dan berkata: "Sesungguhnya kesenangan di dunia ini sangat sedikit, dan perpisahan dengannya sudah sangat dekat. Jangan sampai perhiasan dan keindahannya membuat kalian tergiur untuk tetap tinggal di sini, dan jangan sampai memalingkan kalian dari mencari kebenaran serta menolak kezaliman, karena:

﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ﴾ (Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.) [Al-Nahl]".

Lalu Sinan bin Hamzah Al-Asadi berkata: "Wahai kaumku, pendapat yang benar adalah apa yang kalian lihat, dan kebenaran adalah apa yang kalian sebutkan. Oleh karena itu, angkatlah seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, karena kalian harus memiliki sandaran, tiang penguat, dan panji pengikat tempat kalian berkumpul dan kembali."

Mereka pun mengutus utusan kepada Zaid bin Hushain Al-Tha'i, yang merupakan salah satu tokoh mereka, untuk menawarkan posisi pemimpin, namun ia menolak. Mereka menawarkannya kepada Hurqush bin Zuhair, ia pun menolak. Mereka menawarkannya kepada Hamzah bin Sinan, ia menolak. Mereka menawarkannya kepada Shuraih bin Awfa Al-Absi, ia juga menolak. Akhirnya, mereka menawarkannya kepada Abdullah bin Wahb Al-Rasibi, dan ia menerimanya sambil berkata: "Demi Allah, aku tidak menerimanya karena cinta pada dunia, dan aku tidak akan meninggalkannya karena takut mati."

Mereka juga berkumpul di rumah Zaid bin Hushain Al-Tha'i Al-Sanbasi. Zaid berkhotbah kepada mereka, mendorong mereka untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar, serta membacakan beberapa ayat Al-Qur'an, di antaranya firman Allah Ta'ala:

﴿ يَدَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَأَحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ﴾ (Wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah [penguasa] di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.) [Shad: 26]

Dan firman-Nya: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّه] فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ (Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.) [Al-Ma'idah]

Serta ayat setelahnya: ﴿ الظَّالِمُونَ ﴾ (orang-orang yang zalim), dan ﴿ الْفَاسِقُونَ ﴾ (orang-orang yang fasik) [Al-Ma'idah].

Kemudian Zaid berkata: "Aku bersaksi atas orang-orang yang sejalan dengan dakwah kita dan dari kalangan ahli kiblat kita (sesama Muslim) bahwa mereka telah mengikuti hawa nafsu, mencampakkan hukum Al-Kitab (Al-Qur'an), serta berbuat zalim dalam ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu, berjihad melawan mereka adalah kewajiban bagi orang-orang mukmin."

Lalu ia menghasut orang-orang tersebut untuk keluar menyerang masyarakat luas, dan berkata dalam ucapannya: "Pukullah wajah dan dahi mereka dengan pedang sampai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ditaati. Jika kalian menang dan Allah ditaati sebagaimana yang kalian inginkan, maka Allah akan memberikan pahala bagi orang-orang yang taat dan melaksanakan perintah-Nya. Namun jika kalian terbunuh, adakah hal yang lebih utama daripada kesabaran, tempat kembali kepada Allah, keridaan-Nya, dan surga-Nya?"

Ibnu Katsir berkata: "Kelompok manusia jenis ini adalah salah satu bentuk manusia yang paling aneh. Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya dalam berbagai jenis sesuai kehendak-Nya, dan ketetapan-Nya telah mendahului hal itu. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh sebagian ulama salaf (terdahulu) tentang kaum Khawarij: 'Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:

﴿ قُلْ هَلْ تُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَلًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِنَايَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ، فَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا ﴾ (Katakanlah [Muhammad], "Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?" [Yaitu] orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan [tidak percaya] pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sialah amal perbuatan mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap [amal] mereka pada hari Kiamat.) [Al-Kahfi]'".

Intinya, orang-orang yang bodoh, sesat, dan celaka dalam ucapan serta perbuatan ini telah sepakat untuk memisahkan diri dari tengah-tengah kaum Muslimin. Mereka bersepakat untuk berjalan menuju kota Al-Madain untuk menguasai dan membentengi diri di sana. Kemudian mereka berencana mengirim utusan kepada saudara-saudara dan rekan-rekan mereka yang sepaham dari penduduk Basrah dan wilayah lainnya agar menyusul mereka ke sana, sehingga mereka bisa berkumpul di kota tersebut.

Namun, Zaid bin Hushain Al-Tha'i berkata kepada mereka: "Kalian tidak akan mampu menguasai Al-Madain, karena di sana ada pasukan besar yang tidak sanggup kalian hadapi, dan mereka pasti akan menghalangi kalian. Akan tetapi, buatlah janji dengan saudara-saudara kalian di jembatan Sungai Jukha. Jangan keluar dari Kufah secara berkelompok, melainkan keluarlah secara sembunyi-sembunyi satu per satu agar kedatangan kalian tidak disadari."

Lalu mereka menulis surat edaran umum kepada orang-orang yang sepaham dan sehaluan dengan mereka dari penduduk Basrah dan daerah lainnya. Mereka mengirimkan surat itu agar orang-orang tersebut menemui mereka di dekat sungai, sehingga mereka bisa bersatu melawan masyarakat luas. Setelah itu, mereka keluar menyelinap satu per satu secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang tahu lalu mencegah mereka keluar. Mereka pergi meninggalkan ayah, ibu, paman, dan bibi mereka, serta memutus hubungan dengan

seluruh kerabat. Karena kebodohan serta minimnya ilmu dan akal, mereka meyakini bahwa tindakan ini diridai oleh Tuhan bumi dan langit, padahal mereka tidak menyadari bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar yang membinasakan serta kesalahan yang sangat fatal. Perbuatan tersebut hanyalah sesuatu yang dihias-hiasi agar terlihat indah oleh iblis dan hawa nafsu mereka yang selalu menyuruh kepada keburukan.

Sebagian orang tua, kerabat, dan saudara sempat menyusul anak-anak mereka, lalu membawa mereka pulang dan menegurnya. Di antara anak-anak itu ada yang kembali istikamah (berada di jalan yang benar), namun ada juga yang kembali melarikan diri setelah itu dan bergabung dengan Khawarij. Akhirnya, mereka semua berkumpul di Nahrawan dan menjadi kelompok yang kuat, berpengaruh, serta memiliki pasukan yang mandiri. Mereka memiliki keberanian, keteguhan, dan kesabaran, karena mereka yakin bahwa dengan tindakan tersebut mereka sedang mendekatkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla. Mereka adalah kaum yang sangat tangguh dalam berperang, dan tidak ada seorang pun yang berani meremehkan kekuatan mereka.

Ketika Ali sedang bersiap-siap untuk memerangi penduduk Syam, tiba-tiba sampai berita kepadanya bahwa orang-orang Khawarij telah membuat kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah, merampok di jalanan, dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan. Di antara orang yang mereka bunuh adalah Abdullah bin Khabbab, seorang sahabat Rasulullah . Mereka menawannya bersama istrinya yang sedang hamil tua.

Mereka bertanya kepadanya: "Siapa kamu?" Ia menjawab: "Aku adalah Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah , dan kalian telah membuatku ketakutan." Mereka berkata: "Jangan takut, sampaikanlah kepada kami apa yang telah kamu dengar dari ayahmu!" Maka Abdullah berkata: "Aku mendengar ayahku berkata: 'Aku mendengar Rasulullah bersabda:

"ستكون فتنة القاعد فيها خير من القائم والقائم خير من الماشي والماشي خير من الساعي"" (Akan terjadi fitnah [kekacauan], di mana orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari cepat [berusaha aktif].)"

Mereka kemudian menuntun tangannya. Ketika Abdullah sedang berjalan bersama mereka, salah seorang dari kaum Khawarij melihat seekor babi milik seorang penduduk kafir dzimmi (non-Muslim yang dilindungi). Orang Khawarij itu memukul babi tersebut dengan pedangnya hingga kulitnya terkelupas. Melihat hal itu, temannya yang lain menegur: "Mengapa kamu lakukan ini, padahal babi ini milik seorang dzimmi?" Maka orang yang memukul babi itu segera pergi menemui pemilik babi untuk meminta maaf dan menyelesaikannya secara baik-baik.

Di saat yang lain, ketika Abdullah sedang bersama mereka, sebutir kurma jatuh dari pohonnya, lalu salah seorang dari mereka mengambil dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Temannya yang lain langsung menegur: "Tanpa izin dan tanpa membayar?!" Maka orang tersebut langsung memuntahkan kembali kurma itu dari mulutnya.

Namun anehnya, meskipun mereka tampak sangat menjaga hal-hal kecil tersebut, mereka justru membawa Abdullah bin Khabbab lalu menyembelihnya! Mereka juga mendatangi istrinya, lalu sang istri memohon: "Sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang sedang hamil, tidakkah kalian takut kepada Allah 'Azza wa Jalla?!" Namun mereka tetap menyembelihnya dan membelah perutnya hingga bayinya keluar.

Ketika berita tentang kekejaman perbuatan Khawarij ini sampai kepada masyarakat, orang-orang menjadi sangat ketakutan. Mereka khawatir jika mereka pergi ke Syam untuk berperang, orang-orang Khawarij ini akan menyerang anak cucu serta rumah-rumah mereka dan mengulangi kekejaman yang sama. Karena mengkhawatirkan bahaya laten ini, mereka menyarankan kepada Ali agar memulai tindakan dengan menumpas kelompok Khawarij terlebih dahulu. Setelah selesai menangani mereka, barulah pasukan bisa bergerak menuju Syam dalam keadaan tenang dan aman dari kejahatan Khawarij.

Maka disepakatilah pendapat ini, dan keputusan tersebut membawa kebaikan yang sangat besar bagi mereka maupun bagi penduduk Syam. Sebab, seandainya kelompok Khawarij ini bertambah kuat, mereka pasti akan merusak seluruh negeri Irak dan Syam, serta tidak akan menyisakan bayi, anak-anak, laki-laki, maupun perempuan. Hal ini karena menurut keyakinan mereka, seluruh masyarakat telah rusak, dan tidak ada cara untuk memperbaikinya kecuali dengan membunuh semuanya.

Ali lalu mengutus Al-Harits bin Murrah Al-Abdi kepada mereka dan berpesan: "Selidikilah berita tentang mereka untukku, cari tahu urusan mereka, lalu tulislah laporannya kepadaku dengan sejelas-jelasnya." Namun, ketika Al-Harits sampai di hadapan mereka, mereka langsung membunuhnya tanpa memberi kesempatan penjelasan. Ketika berita pembunuhan itu sampai kepada Ali, beliau langsung memimpin pasukan menuju mereka dan menunda keberangkatan ke Syam.

Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan peristiwa-peristiwa ini terjadi pada tahun 37 Hijriah dengan menukil dari Abu Mikhnaf dan mengikuti pendapat Imam Al-Thabari. Akan tetapi, dinukil pula dari Ibnu Jarir bahwa ia berkata: "Mayoritas ahli sejarah menyatakan bahwa peristiwa setelah itu terjadi pada tahun 38 Hijriah," dan ia mensahihkannya. Ibnu Katsir kemudian berkomentar (10/647): "Dan pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran, sebagaimana yang akan kami ingatkan pada tahun berikutnya, insya Allah Ta'ala."

Ibnu Katsir melanjutkan: Ali menempuh jalur ke arah Anbar, dan mengutus Qais bin Saad mendahuluinya. Ali memerintahkannya untuk mendatangi kota Al-Madain dan menemui wakil gubernurnya, yaitu Saad bin Mas'ud Al-Thaqafi bersama dengan pasukan Al-Madain. Maka berkumpullah orang-orang di sana bersama Ali radiyallahu 'anhu.

Ali kemudian mengirim pesan kepada kaum Khawarij: "Serahkanlah kepada kami orang-orang di antara kalian yang telah membunuh saudara-saudara kami agar kami bisa menjatuhkan qishash (hukuman setimpal) kepada mereka. Setelah itu, kami akan membiarkan kalian dan kami akan pergi meninggalkan kalian menuju Syam. Semoga setelah itu Allah melunakkan hati kalian dan mengembalikan kalian kepada kebaikan yang lebih baik daripada kondisi kalian sekarang."

Namun kaum Khawarij justru membalas pesan tersebut dengan mengatakan: "Kami semua telah membunuh saudara-saudara kalian, dan kami menghalalkan darah mereka serta darah kalian!"

Mendengar hal itu, Qais bin Saad bin Ubadah maju mendekati mereka. Ia menasihati mereka tentang besarnya dosa dan malapetaka besar dari apa yang akan mereka lakukan, namun nasihat itu sama sekali tidak berguna bagi mereka. Abu Ayyub Al-Anshari juga melakukan hal yang sama; ia menegur keras dan mengecam mereka, tetapi kecaman itu tidak mempan bagi mereka.

Selanjutnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sendiri maju menemui mereka. Beliau memberikan nasihat, menakut-nakuti mereka dengan azab Allah, memperingatkan, mengancam, dan menjanjikan hukuman kepada mereka. Namun, mereka tidak memberikan jawaban apa pun kecuali saling bergegas dan berseru di antara sesama mereka: "Jangan ajak mereka bicara dan jangan berbicara dengan mereka! Bersiaplah untuk menghadap Tuhan 'Azza wa Jalla! Mari bergegas, mari bergegas menuju surga!"

Mereka pun maju membentuk barisan untuk bertempur dan bersiap menghadapi pertarungan. Mereka menempatkan Zaid bin Hushain Al-Tha'i Al-Sanbasi di posisi sayap kanan, Shuraih bin Awfa di sayap kiri, Hamzah bin Sinan memimpin pasukan berkuda (kavaleri),

dan Hurqush bin Zuhair Al-Sa'di memimpin pasukan pejalan kaki (infanteri). Mereka berdiri tegak siap bertempur melawan Ali dan para sahabatnya.

Di pihak lain, Ali menempatkan Hujr bin Adi di posisi sayap kanan, Shabats bin Rib'i atau Ma'qil bin Qais Al-Riyahi di sayap kiri, Abu Ayyub Al-Anshari memimpin pasukan berkuda, Abu Qatadah Al-Anshari memimpin pasukan pejalan kaki, serta Qais bin Saad bin Ubadah memimpin penduduk Madinah yang berjumlah 700 orang.

Ali Mengangkat Panji Jaminan Keamanan untuk Khawarij

Ali memerintahkan Abu Ayyub Al-Anshari untuk mengangkat panji (bendera) jaminan keamanan bagi kaum Khawarij, dan menyerukan kepada mereka: "Barangsiapa yang datang mendekat ke panji ini maka dia aman, dan barangsiapa yang kembali pulang ke Kufah atau Al-Madain maka dia juga aman. Sesungguhnya kami tidak butuh menumpahkan darah kalian, kecuali darah orang-orang yang telah membunuh saudara-saudara kami."

Mendengar seruan tersebut, banyak kelompok dari mereka yang akhirnya memutuskan mundur. Dari total sekitar 4.000 orang, tidak tersisa bersama Abdullah bin Wahb Al-Rasibi kecuali hanya 1.000 orang atau bahkan kurang dari itu.

Terjadinya Pertempuran

Sisa pasukan Khawarij itu pun merangsek maju menyerang Ali. Ali segera memajukan pasukan berkuda di depan, diikuti oleh pasukan pemanah di barisan depan, serta menata pasukan pejalan kaki di belakang pasukan berkuda. Ali berpesan kepada para sahabatnya: "Tahan diri kalian dari menyerang sampai mereka yang memulai menyerang kalian."

Pasukan Khawarij maju mendekat sambil meneriakkan yel-yel: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah! Mari bergegas, mari bergegas menuju surga!" Mereka lalu menyerbu pasukan berkuda yang ditempatkan Ali di barisan depan, hingga berhasil mencerai-beraikan mereka. Sebagian pasukan berkuda terdesak ke sayap kanan dan sebagian lagi ke sayap kiri.

Melihat hal itu, pasukan pemanah langsung menyambut serbuan Khawarij dengan hujan anak panah yang membidik wajah-wajah mereka. Pasukan berkuda dari sayap kanan dan kiri pun berbalik mengepung mereka, disusul oleh pasukan pejalan kaki yang merangsek maju membawa tombak dan pedang. Mereka berhasil menundukkan kaum Khawarij hingga berjatuhan tewas di bawah terkaman kaki-kaki kuda.

Para pemimpin Khawarij pun tewas terbunuh, di antaranya: Abdullah bin Wahb, Hurqush bin Zuhair, Shuraih bin Awfa, dan Abdullah bin Syajarah Al-Sulami. Sementara itu, dari pihak sahabat Ali, tidak ada yang gugur kecuali hanya tujuh orang saja.

Setelah pertempuran usai, Ali berjalan di antara jasad-jasad kaum Khawarij yang tewas seraya berkata: "Celakalah kalian! Sungguh telah mencelakakan kalian orang yang telah memperdaya kalian." Para sahabat bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang telah memperdaya mereka?" Ali menjawab: "Setan dan hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan. Hawa nafsu telah memperdaya mereka dengan angan-angan kosong, menghiasi kemaksiatan agar terlihat indah bagi mereka, dan membisikkan bahwa mereka pasti akan menang."

Kemudian Ali memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka di antara mereka, yang ternyata berjumlah 400 orang. Beliau menyerahkan mereka kepada suku-suku mereka masing-masing agar dirawat medis, serta membagikan sisa senjata dan harta benda milik mereka yang ditemukan di medan laga.

Al-Haitsam bin Adi berkata: "Sesungguhnya Ali tidak membagi seperlima (khumus) dari harta rampasan yang diperoleh dari kaum Khawarij pada hari (pertempuran) Nahrawan, melainkan beliau mengembalikan semuanya kepada keluarga mereka, hingga yang terakhir dikembalikan adalah sebuah kuali besar yang dibawa (ke hadapan beliau)."

Al-Haitsam bin Adi berkata: Ismail bin Abi Khalid menceritakan kepada kami dari Hakim bin Jabir, ia berkata: Ali pernah ditanya tentang penduduk Nahrawan (kaum Khawarij), "Apakah mereka itu orang-orang musyrik?" Beliau menjawab, "Dari kemusyrikanlah mereka melarikan diri." Lalu ditanya lagi, "Apakah mereka orang-orang munafik?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu tidak mengingat Allah kecuali sedikit." Lalu ditanya lagi, "Lalu siapakah mereka itu wahai Amirul Mukminin?" Beliau menjawab: "Mereka adalah saudara-saudara kita yang berbuat zalim (memberontak) kepada kita, maka kita memerangi mereka karena kezaliman mereka kepada kita."

Kondisi Kaum Khawarij Setelah Pertempuran Nahrawan

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Al-Haitsam bin Adi menuturkan: Setelah Ali radhiyallahu 'anhu membunuh kaum Khawarij, keluar seorang lelaki dari penduduk Basrah dari Bani Najiyah yang bernama Al-Harits bin Rasyid, dan ia diikuti oleh sebagian kaumnya dari Bani Najiyah serta yang lainnya. Mereka memisahkan diri ke suatu wilayah. Maka Ali mengutus Ma'qil bin Qais Ar-Riyahi dengan membawa pasukan yang besar untuk menghadapi mereka, lalu beliau berhasil menumpas mereka dengan telak.

Al-Haitsam berkata seperti yang terdapat dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah: Kemudian muncul lagi lelaki lain dari penduduk Basrah lalu ia terbunuh. Sebelum terbunuh, ia memerintahkan para pengikutnya untuk mengangkat Al-Asyras bin Auf Asy-Syaibani sebagai pemimpin mereka, namun ia dan para pengikutnya pun akhirnya terbunuh. Kemudian muncul lagi Al-Asyhab bin Bisyr Al-Bajali, lalu seorang Arab dari penduduk Kufah, dan ia pun terbunuh bersama para pengikutnya. Selanjutnya muncul pula Said bin Qufl At-Taimi (dari Taim Tsa'labah) yang juga termasuk penduduk Kufah, lalu ia terbunuh di jembatan Darzijan di dekat Madain.

Asy-Sya'bi berkata: "Ketika Ali telah menumpas penduduk Nahrawan, banyak orang yang menentangnya dan wilayah-wilayah kekuasaannya mulai bergejolak. Bani Najiyah menentangnya, penduduk daerah pegunungan ikut memberontak, dan para pembayar pajak (kharaj) pun berambisi untuk mengalahkan beliau. Mereka bahkan mengusir gubernur yang diangkat Ali untuk wilayah Persia, yaitu Sahl bin Hunaif. Atas kondisi ini, Ibnu Abbas menyarankan kepada Ali agar mengangkat Ziyad bin Abih sebagai gubernur Persia. Ali pun mengangkatnya, lalu Ziyad berangkat ke sana pada tahun 39 Hijriah dengan membawa pasukan yang besar. Ia berhasil menundukkan mereka hingga mereka kembali membayar pajak dan patuh."

Perselisihan Atas Kekuasaan di Mesir

Pada masa pemerintahan Utsman, yang memegang jabatan gubernur Mesir adalah Abdullah bin Saad bin Abi Sarh. Ketika kelompok-kelompok pemberontak dari Mesir bergerak menuju Utsman untuk membunuhnya, orang yang memobilisasi mereka—bersama Abdullah bin Saba' yang dikenal sebagai Ibnu As-Sauda'—adalah Muhammad bin Abi Hudzaifah bin Utbah. Dahulu, ketika ayah Muhammad terbunuh di Yamamah, sang ayah berwasiat kepada Utsman agar merawatnya. Utsman pun menanggung hidupnya, membesarkannya di dalam asuhan dan rumahnya, serta memperlakukannya dengan sangat baik. Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang tekun beribadah dan zuhud. Ia pernah meminta kepada Utsman agar diberi suatu jabatan pemerintahan, namun Utsman berkata kepadanya, "Jika kamu sudah layak untuk posisi itu, aku pasti akan mengangkatmu." Hal itu membuat Muhammad memendam kekecewaan dalam hatinya kepada Utsman. Ia lalu meminta izin kepada Utsman untuk pergi berperang, dan Utsman pun mengizinkannya. Ia kemudian pergi ke wilayah Mesir dan ikut serta bersama gubernurnya, Abdullah bin Saad bin Abi Sarh, dalam perang Dzatis Sawari. Di sana, ia mulai mencela Utsman radhiyallahu 'anhu, dan tindakan ini dibantu oleh Muhammad bin Abi Bakar As-Siddiq. Ibnu Abi Sarh kemudian menulis surat kepada Utsman untuk mengadukan perilaku keduanya, namun Utsman sama sekali tidak mempermasalahkan mereka.

Tindakan tersebut terus dilakukan oleh Muhammad bin Abi Hudzaifah hingga ia berhasil mengerahkan orang-orang itu untuk menyerang Utsman. Ketika berita sampai kepadanya bahwa mereka telah mengepung Utsman, Muhammad bin Abi Hudzaifah merebut kekuasaan di wilayah Mesir, mengusir Ibnu Abi Sarh dari sana, dan mengimami salat masyarakat di tempat tersebut. Saat Ibnu Abi Sarh berada di tengah perjalanan, datanglah kabar mengenai terbunuhnya Utsman, maka ia mengucapkan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali."

Ibnu Abi Sarh juga mendengar kabar bahwa Ali telah mengutus Qais bin Saad bin Ubadah untuk memimpin Mesir. Mendengar hal itu, ia merasa puas karena Muhammad bin Abi Hudzaifah gagal menikmati kekuasaannya di tanah Mesir yang bahkan belum genap setahun. Abdullah bin Saad bin Abi Sarh kemudian melanjutkan perjalanan ke Syam dan menceritakan kepada Muawiyah tentang apa yang terjadi padanya di Mesir serta bagaimana Muhammad bin Abi Hudzaifah telah menguasai wilayah tersebut. Maka Muawiyah mengutus Amru bin Al-Ash untuk mengusir Muhammad dari Mesir, karena ia termasuk salah satu penolong terbesar dalam pembunuhan Utsman, padahal Utsman telah membesarkan, menanggung hidup, dan berbuat sangat baik kepadanya. Amru sempat mencoba memasuki Mesir namun pada awalnya tidak berhasil. Ia terus memperdayanya dengan berbagai taktik hingga akhirnya Muhammad bin Abi Hudzaifah keluar menuju Al-Arisy. Amru bin Al-Ash kemudian menyusulnya dan memasang manjanik (alat pelempar batu) di sana, hingga akhirnya Muhammad menyerah bersama tiga puluh orang pengikutnya lalu mereka semua dibunuh. Hal ini disebutkan oleh Muhammad bin Jarir.

Pada tahun 36 Hijriah, Ali bin Abi Thalib menyerahkan kepemimpinan wilayah Mesir kepada Qais bin Saad bin Ubadah Al-Anshari. Qais berangkat ke sana dan memasukinya bersama tujuh orang pengikutnya. Beliau naik ke atas mimbar lalu membacakan surat dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengenai pengangkatannya sebagai gubernur Mesir. Setelah itu, Qais bin Saad berdiri menyampaikan khotbah di hadapan masyarakat dan mengajak mereka untuk berbaiat kepada Ali. Masyarakat pun berdiri dan memberikan baiat kepadanya, sehingga ketaatan seluruh negeri Mesir menjadi tegak untuk Ali, kecuali sebuah desa yang bernama Kharbita. Di desa tersebut terdapat orang-orang yang menganggap pembunuhan Utsman sebagai perkara yang sangat besar (kejam). Mereka merupakan para tokoh dan pemuka masyarakat yang berjumlah sekitar sepuluh ribu orang—di antaranya adalah Busr bin Abi Artha'ah, Maslamah bin Mukhallad, Muawiyah bin Hudaij, serta sejumlah tokoh besar lainnya—dan mereka dipimpin oleh seorang lelaki bernama Yazid bin Al-Harits Al-Mudliji. Mereka kemudian mengirim utusan kepada Qais bin Saad untuk mengadakan perjanjian damai (gencatan senjata).

Kemudian Muawiyah bin Abi Sufyan—setelah urusan seluruh wilayah Syam mantap berada di bawah kendalinya—menulis surat kepada Qais bin Saad yang isinya mengajak Qais untuk bersama-sama menuntut balas atas darah Utsman, serta menjadi pendukung baginya dalam misi yang sedang ia jalankan tersebut.

Ketika surat itu sampai kepadanya—dan Qais adalah seorang lelaki yang sangat bijaksana sekaligus penuh perhitungan—ia tidak menentang Muawiyah namun tidak pula menyetujuinya. Sebaliknya, ia mengirim balasan dengan bahasa yang halus untuk melunakkan keadaan. Hal itu dilakukannya karena posisinya yang jauh dari Ali dan dekat dengan negeri Syam, ditambah lagi dengan banyaknya pasukan yang bersama Muawiyah. Maka Qais memilih untuk bersikap damai dan membiarkannya. Muawiyah kemudian menulis surat lagi kepadanya: "Sesungguhnya sikapmu yang mengulur-ulur waktu dan memperdayaku ini tidak akan mempan lagi. Aku harus tahu secara pasti apakah kamu berpihak damai denganku ataukah menjadi musuhku." Muawiyah sendiri adalah seorang yang sangat cerdik dan tegas. Ketika Muawiyah mendesaknya, Qais akhirnya menulis surat balasan: "Sesungguhnya aku bersama Ali, karena dia lebih berhak atas urusan kekhalifahan ini daripada kamu." Begitu surat itu sampai kepada Muawiyah, ia pun berputus asa untuk bisa menarik Qais ke pihaknya. Setelah itu, sebagian penduduk Syam menyebarkan rumor bahwa Qais sebenarnya bersurat-suratan dengan mereka secara rahasia dan membantu mereka untuk melawan penduduk Irak.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa sebuah surat sampai kepada Ali yang mengabarkan bahwa Qais telah berbaiat kepada Muawiyah. Ketika surat itu sampai kepada Ali, beliau ingin menguji Qais dan memastikan kebenaran berita tersebut. Maka beliau menulis surat kepada Qais agar memerangi penduduk Kharbita yang enggan memberikan baiat. Namun Qais membalas surat tersebut dengan mengajukan alasan bahwa jumlah mereka sangat banyak dan mereka adalah para tokoh masyarakat. Qais juga menyatakan dalam suratnya: "Jika engkau memerintahkanku melakukan hal ini hanya untuk mengujiku karena engkau meragukan ketaatanku, maka utuslah orang lain selain diriku untuk memegang jabatanmu di Mesir ini." Maka Ali mengutus Al-Asytar An-Nakha'i. Al-Asytar pun berangkat ke sana, namun ketika sampai di daerah Al-Qulzum, ia meminum minuman yang dicampur madu yang ternyata menjadi penyebab kematiannya (karena diracun). Ketika kabar itu sampai ke penduduk Syam, mereka berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki pasukan yang berupa madu." Saat kabar kematian Al-Asytar sampai kepada Ali, beliau mengutus Muhammad bin Abi Bakar untuk memimpin Mesir. Qais kemudian pindah ke Madinah, lalu ia bersama Sahl bin Hunaif berkuda menemui Ali. Qais bin Saad menyampaikan permohonan maaf serta penjelasannya kepada Ali, dan Ali pun menerima alasannya, bahkan Qais setelah itu ikut menyaksikan perang Shiffin bersama beliau.

Muhammad bin Abi Bakar terus menjalankan roda pemerintahan dengan tenang di tanah Mesir, hingga terjadinya peristiwa perang Shiffin dan kesepakatan untuk melakukan tahkim (arbitrase). Pada saat itulah, sebagian penduduk Mesir mulai berambisi untuk menjatuhkan Muhammad bin Abi Bakar. Mereka berani menentangnya dan menampakkan permusuhan secara terang-terangan. Ketika Ali selesai dari urusan Shiffin dan mendengar kabar bahwa penduduk Mesir telah meremehkan Muhammad bin Abi Bakar—yang saat itu masih

untuk mengembalikan Qais bin Saad ke sana. Sebelumnya, Ali telah mengangkat Qais sebagai kepala pengawalnya (syurthah), namun pengutusannya kembali ke Mesir tidak sempat terlaksana karena situasi di Mesir dan Irak berkembang dengan sangat cepat. Di sisi lain, Muawiyah telah menjanjikan jabatan gubernur Mesir kepada Amru bin Al-Ash apabila ia berhasil menaklukkannya. Muawiyah kemudian menulis surat kepada Maslamah bin Mukhallad Al-Anshari dan Muawiyah bin Hudaij As-Saukuni—keduanya adalah pemimpin pendukung Utsman di tanah Mesir—untuk mengabarkan bahwa pasukan akan segera datang kepada mereka dalam waktu dekat. Ketika surat itu sampai kepada Maslamah dan Muawiyah bin Hudaij, keduanya merasa sangat gembira, lalu membalas surat tersebut dengan penuh suka cita serta menyatakan kesiapan untuk membantu dan mendukung Muawiyah serta pasukan yang diutusnya. Menyikapi hal tersebut, Muawiyah segera mempersiapkan Amru bin Al-Ash dengan membawa enam ribu pasukan. Muawiyah ikut keluar bersamanya untuk melepas keberangkatannya sembari berwasiat agar ia bertakwa kepada Allah, bersikap lemah lembut, tidak tergesa-gesa, tenang, memerangi orang yang melawan, memaafkan orang yang mundur dari peperangan, serta mengajak masyarakat kepada perdamaian dan persatuan. Beliau juga berpesan: "Jika kamu telah menang, maka jadikanlah kaum Anshar sebagai orang yang paling utama di sisimu."

Amru pun berangkat. Begitu memasuki wilayah Mesir, para pendukung Utsman berkumpul kepadanya lalu ia memimpin mereka. Amru kemudian menulis surat kepada Muhammad bin Abi Bakar yang isinya: "Amma ba'du. Selamatkanlah dirimu dariku, karena aku tidak suka menumpahkan darahmu. Sesungguhnya orang-orang di negeri ini telah berkumpul untuk menentangmu, menolak urusanmu, dan menyesal telah mengikutimu. Mereka pasti akan menyerahkanmu jika keadaan sudah sangat genting. Oleh karena itu, keluarlah dari Mesir, sesungguhnya aku termasuk orang yang memberikan nasihat baik kepadamu. Wassalam."

Muhammad bin Abi Bakar lalu menulis surat kepada Ali untuk mengabarkan kedatangan Amru ke Mesir bersama pasukan dari pihak Muawiyah, yang isinya: "Jika engkau masih memerlukan tanah Mesir ini, maka kirimkanlah bantuan harta dan pasukan kepadaku. Wassalam." Maka Ali menulis surat balasan yang memerintahkannya untuk bersabar dan terus berjihad melawan musuh, serta mengabarkan bahwa beliau akan segera mengirimkan pasukan, harta, dan bala bantuan kepadanya.

Muhammad bin Abi Bakar kemudian berdiri di hadapan masyarakat untuk menyampaikan khotbah, menyemangati mereka untuk berjihad, serta mengajak mereka menghadapi pasukan Syam yang datang menyerbu mereka. Amru bin Ash bergerak menuju Mesir bersama pasukannya serta orang-orang Mesir yang bergabung bersamanya, yang seluruhnya berjumlah sekitar 16.000 personel. Sementara itu, Muhammad bin Abi Bakar berkuda bersama sekitar 2.000 pasukan berkuda yang mengajukan diri bersamanya dari penduduk Mesir. Ia mengutus Kinanah bin Bisyr di garis depan pasukannya. Kinanah tidak bertemu dengan seorang pun dari penduduk Syam (pasukan Mu'awiyah) melainkan ia memerangi mereka.

Amru bin Ash kemudian mengutus Mu'awiyah bin Hudaij untuk menghadapi Kinanah, lalu Mu'awiyah datang mengepungnya dari arah belakang. Pasukan Syam maju hingga mengepung Kinanah dari segala penjuru. Kinanah pun turun dari kudanya seolah-olah ia sedang berkata:

﴿وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا﴾

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali 'Imran: 145)

Ia kemudian bertempur hingga gugur, lalu pasukan yang menyertai Muhammad bin Abi Bakar kocar-kacir meninggalkannya. Muhammad bin Abi Bakar kembali dengan berjalan kaki, lalu ia melihat sebuah bangunan runtuh (puing-puing) dan berlindung di dalamnya.

Amru bin Ash berhasil memasuki Fusthat (ibu kota) Mesir, sedangkan Mu'awiyah bin Hudaij pergi mencari Muhammad bin Abi Bakar. Di tengah jalan, Mu'awiyah berpapasan dengan para pekerja ladang non-Arab dan bertanya kepada mereka, "Apakah ada seseorang yang mencurigakan melintas di dekat kalian?" Mereka menjawab, "Tidak." Namun salah seorang dari mereka berkata, "Aku melihat seorang pria duduk di dalam bangunan runtuh itu." Mu'awiyah berkata, "Demi Tuhan Pemilik Ka'bah, dialah orangnya!" Muhammad bin Abi Bakar pun ditangkap, dibawa, lalu dieksekusi mati. Ketika kabar tersebut sampai kepada Aisyah (saudara perempuannya), ia sangat terpukul dan sedih yang mendalam, lalu ia merawat seluruh keluarga Muhammad bin Abi Bakar, termasuk putranya yang bernama Al-Qasim.

Abu Mikhnaf meriwayatkan dengan sanadnya: Ketika kabar kematian Muhammad bin Abi Bakar dan kondisi yang terjadi sampai kepada Ali bin Abi Thalib, serta kenyataan bahwa Amru bin Ash telah menguasai Mesir dan masyarakat telah bersatu mendukung Amru dan Mu'awiyah, Ali segera berdiri di hadapan masyarakat untuk berkhotbah. Beliau membakar semangat mereka untuk berjihad, bersabar, dan bergerak menghadapi musuh-musuh mereka dari penduduk Syam dan Mesir. Beliau menjanjikan tempat berkumpul di Al-Jar'ah yang terletak di antara Kufah dan Al-Hirah.

Keesokan harinya, Ali keluar berjalan kaki menuju tempat tersebut hingga singgah di sana, namun tidak ada seorang pun dari penduduk Kufah yang keluar menyusulnya. Ketika waktu sore tiba, Ali mengundang para tokoh pemuka mereka. Mereka masuk menemui Ali yang sedang dalam keadaan sedih dan gundah, lalu Ali menegur mereka. Malik bin Ka'ab Al-Hamdani kemudian bangkit lalu menyeru masyarakat untuk mematuhi perintah Ali serta mendengar dan taat kepadanya. Akhirnya, ada 2.000 orang yang mengajukan diri, dan Ali menunjuk Malik bin Ka'ab sebagai pemimpin mereka. Malik berjalan bersama mereka selama lima hari.

Setelah itu, datanglah sekelompok orang yang sebelumnya bersama Muhammad bin Abi Bakar di Mesir menemui Ali. Mereka menceritakan kronologi kejadiannya, bagaimana Muhammad bin Abi Bakar terbunuh, dan bagaimana kedudukan Amru bin Ash telah kukuh di sana. Mendengar hal itu, Ali mengirim utusan kepada Malik bin Ka'ab untuk memerintahkannya putar balik di tengah jalan, karena Ali mengkhawatirkan keselamatan mereka dari serangan penduduk Syam sebelum mereka sempat mencapai Mesir.

Kondisi Ali Bersama Penduduk Irak

Kondisi penduduk Irak terus-menerus menyelisihi Ali, baik terhadap apa yang beliau perintahkan maupun apa yang beliau larang. Mereka menentangnya, mengkritik keputusan-keputusannya, menolak ucapan-ucapannya, dan merusak kesepakatan yang dibuatnya. Hal ini disebabkan karena kebodohan mereka, kurangnya akal sehat, sikap kasar, watak yang keras, serta kefasikan yang ada pada mayoritas dari mereka.

Ali kemudian menulis surat kepada Ibnu Abbas—yang saat itu menjadi gubernurnya di Bashrah—untuk mengadukan sikap pembangkangan masyarakat yang beliau hadapi. Ali menulis: "Aku telah mengajak mereka untuk menolong saudara-saudara mereka; namun di antara mereka ada yang datang dengan terpaksa, dan ada pula yang membuat alasan dusta. Aku memohon kepada Allah agar memberikan jalan keluar dan kelapangan bagiku dari mereka, serta segera mengistirahahatkanku dari mereka. Kalaulah bukan karena mati syahid yang sedang aku kejar, tentu aku tidak sudi tinggal bersama mereka meski hanya satu hari saja. Semoga Allah menetapkan ketakwaan dan petunjuk-Nya bagi kami dan kalian, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, wassalam."

Ibnu Abbas membalas surat tersebut untuk menghibur Ali atas sikap masyarakat dan menyampaikan duka cita atas kematian Muhammad bin Abi Bakar. Ia juga mendorong Ali untuk tetap bersikap lembut kepada masyarakat dan bersabar menghadapi orang-orang yang berbuat buruk di antara mereka, karena pahala dari Allah itu lebih baik dan lebih kekal. Ibnu Abbas berkata kepadanya: "Terkadang masyarakat itu awalnya merasa berat (malas), namun kemudian mereka bisa menjadi bersemangat kembali, maka bersikap lembutlah kepada mereka, wahai Amirul Mukminin." Setelah itu, Ibnu Abbas berkuda dari Bashrah menuju tempat Ali di Kufah, dan menunjuk Ziyad sebagai pengganti sementara untuk memimpin Bashrah.

Upaya Mu'awiyah Merebut Bashrah

Pada tahun ini (38 H), Mu'awiyah bin Abi Sufyan mengutus Abdullah bin Amr Al-Hadrami kepada penduduk Bashrah untuk mengajak mereka mendukungnya. Ketika tiba di Bashrah, ia singgah di tempat Bani Tamim dan mereka melindunginya. Ziyad (gubernur sementara) segera bergerak menghadapinya, dan Ali bin Abi Thalib mengutus A'yan bin Dhabi'ah bersama sekelompok pasukan untuk membantu. Bentrokan pun pecah di antara kedua pihak hingga A'yan bin Dhabi'ah, pemimpin pasukan yang diutus Ali, terbunuh.

Ziyad selaku wakil Ibnu Abbas kemudian menulis surat kepada Ali untuk mengabarkan pembangkangan yang terjadi di Bashrah setelah kepergian Ibnu Abbas dari sana. Menanggapi hal itu, Ali mengutus Jariyah bin Qudamah At-Tamimi bersama 50 orang pria menuju kaumnya sendiri, yaitu Bani Tamim, dengan membawa sepucuk surat untuk mereka. Hasilnya, mayoritas dari mereka akhirnya berbalik meninggalkan Ibnu Al-Hadrami.

Upaya Merebut Hijaz dan Yaman

Ibnu Jarir berkata: Di antara peristiwa besar yang terjadi pada tahun ini (40 H) adalah keputusan Mu'awiyah mengutus Busr bin Abi Artha'ah bersama 3.000 pasukan tempur menuju Hijaz. Busr berhasil memasuki Madinah, lalu Makkah, kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju Yaman. Saat itu Yaman dipimpin oleh Ubaidillah bin Abbas, namun ia melarikan diri ke Kufah untuk menyusul Ali, dan menunjuk Abdullah bin Abdil Madan Al-Haritsi sebagai penggantinya di Yaman.

Ketika Busr memasuki Yaman, ia membunuh Abdullah bin Abdil Madan beserta putranya. Busr juga menemukan rombongan keluarga Ubaidillah bin Abbas yang di dalamnya terdapat dua putranya yang masih kecil, lalu Busr membunuh kedua anak kecil tersebut. Dikatakan pula bahwa dalam perjalanannya ini, Busr telah membunuh banyak sekali orang dari kalangan pengikut (syiah) Ali.

Kabar/peristiwa ini sangat populer di kalangan sejarawan perang dan biografi, namun menurut pandanganku pribadi, keesahan kisah ini perlu diteliti kembali (ada keraguan).

Gencatan Senjata Antara Ali dan Mu'awiyah

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 40 H, terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Ali dan Mu'awiyah setelah melalui proses surat-menyurat yang sangat panjang untuk diceritakan. Kesepakatan tersebut berisi penghentian perang di antara kedua belah pihak, dengan ketentuan wilayah Irak menjadi kekuasaan Ali, sedangkan wilayah Syam menjadi kekuasaan Mu'awiyah. Tidak boleh ada salah satu pihak yang mengganggu wilayah pihak lainnya, baik dengan mengirim pasukan, melakukan serangan mendadak, maupun melakukan invasi militer.

Kepemimpinan Haji dan Wilayah-Wilayah Penting:

Pada tahun 36 H, Abdullah bin Abbas memimpin pelaksanaan haji masyarakat atas perintah langsung dari Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Jarir berkata: Pada tahun 37 H, pelaksanaan haji dipimpin oleh Ubaidillah bin Abbas, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Ali untuk wilayah Yaman dan sekitarnya. Sementara jabatan gubernur Makkah dipegang oleh Qutsam bin Abbas, gubernur Madinah oleh Tammam bin Abbas (ada yang menyebut Sahl bin Hunaif), gubernur Bashrah oleh Abdullah bin Abbas dengan qadhi (hakim)-nya Abu Al-Aswad

Al-Du'ali, sedangkan Mesir dipimpin oleh Muhammad bin Abi Bakar As-Siddiq. Di sisi lain, Amirul Mukminin Ali menetap di Kufah, sementara Mu'awiyah bin Abi Sufyan berada di Syam dan menguasai penuh wilayah tersebut.

Ibnu Jarir dan sejarawan lainnya berkata: Pada tahun 38 H, pelaksanaan haji masyarakat dipimpin oleh Qutsam bin Abbas, gubernur Ali untuk wilayah Makkah. Saudaranya, Ubaidillah bin Abbas, menjadi gubernur Yaman; saudaranya yang lain, Abdullah bin Abbas, menjadi gubernur Bashrah; dan saudara mereka, Tammam bin Abbas, menjabat sebagai gubernur Madinah. Sementara wilayah Khurasan dipimpin oleh Khalid bin Qurrah Al-Yarbui' (ada yang menyebut Ibnu Abza). Adapun wilayah Mesir telah sepenuhnya jatuh ke tangan Mu'awiyah, lalu ia mengangkat Amru bin Ash sebagai gubernurnya. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).

Al-Waqidi berkata: Pada tahun 39 H, Ali bin Abi Thalib mengutus Ubaidillah bin Abbas untuk memimpin musim haji, sedangkan Mu'awiyah mengutus Yazid bin Syajarah Az-Zahawi untuk memimpin haji bagi masyarakat. Ketika keduanya bertemu di Makkah, terjadi perselisihan karena masing-masing enggan mengalah kepada pihak lainnya. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk menunjuk Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah Al-Hajabi. Syaibah pun memimpin pelaksanaan haji masyarakat serta mengimami shalat mereka selama hari-hari musim haji tersebut.

Abu Al-Hasan Al-Madaini berkata: Abdullah bin Abbas tidak pernah menghadiri musim haji pada masa kepemimpinan Ali hingga Ali wafat terbunuh. Orang yang sebenarnya berselisih dengan Yazid bin Syajarah adalah Qutsam bin Abbas, hingga akhirnya mereka berdua sepakat menunjuk Syaibah bin Utsman.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran