Penjelajahan di Negeri Asing (Ajam)
Penjelajahan di Negeri Asing (Ajam)
Fase Kelima Penaklukan di Wilayah Timur
Setelah kemenangan kaum muslimin dalam Peristiwa Nahawand,
kekuatan bangsa Persia tidak lagi bangkit. Kaum muslimin pun mulai menjelajahi
negeri-negeri asing setelah Umar bin Khattab memberikan izin kepada mereka.
Setelah peristiwa Nahawand, kaum muslimin menaklukkan Kota Jay, yaitu Kota
Ashbahan, setelah melalui pertempuran yang sengit dan proses yang panjang.
Penduduk kota tersebut akhirnya berdamai dengan kaum muslimin, dan Abdullah bin
Abdullah menuliskan surat jaminan keamanan serta perjanjian damai untuk mereka.
Sementara itu, ada tiga puluh orang dari mereka yang
melarikan diri ke Kirman dan menolak untuk berdamai dengan kaum muslimin. Pada
tahun 21 Hijriah, Abu Musa menaklukkan Qum dan Qasyan, sedangkan Suhail bin Adi
menaklukkan Kota Kirman.
Penaklukan Hamadzan Kedua Kali, Tahun 22 Hijriah:
Telah disebutkan sebelumnya bahwa setelah kaum muslimin
menyelesaikan urusan di Nahawand, mereka menaklukkan Hulwan dan Hamadzan.
Namun, penduduk Hamadzan kemudian melanggar perjanjian damai yang telah mereka
sepakati bersama Al-Qa'qa' bin Amr. Mengetahui hal itu, Umar menulis surat
kepada Nu'aim bin Muqarrin agar bergerak menuju Hamadzan. Nu'aim pun berjalan
hingga singgah di Tsaniyyatul Asal, lalu melanjutkan perjalanan dan singgah di
Hamadzan, menguasai wilayah-wilayahnya, serta mengepung kota tersebut.
Penduduknya kemudian meminta perdamaian, lalu Nu'aim menerima perdamaian itu
dan memasuki kota.
Ketika Nu'aim berada di sana bersama dua belas ribu pasukan
muslim, bangsa Dailam, penduduk Ray, dan penduduk Azerbaijan saling berkirim
surat. Mereka berkumpul dalam jumlah yang sangat besar untuk memerangi Nu'aim
bin Muqarrin. Nu'aim pun keluar menghadapi mereka bersama pasukan muslim yang
bersamanya hingga kedua pihak bertemu di suatu tempat yang disebut Waj Ar-Rud.
Mereka bertempur dengan sengit, dan pertempuran itu menjadi peristiwa besar
yang setara dengan peristiwa Nahawand serta tidak kalah hebat darinya.
Kaum muslimin berhasil membunuh musuh dalam jumlah yang
sangat banyak hingga tidak terhitung. Raja Dailam pun tewas, barisan mereka
kocar-kacir, dan mereka semua melarikan diri. Nu'aim bin Muqarrin menjadi orang
muslim pertama yang memerangi bangsa Dailam. Sebelumnya, Nu'aim telah menulis
surat kepada Umar untuk mengabarkan tentang berkumpulnya pasukan musuh
tersebut, yang sempat membuat Umar merasa cemas dan berduka. Namun, tiba-kira
kurir pembawa kabar gembira (kemenangan) datang menemui Umar. Umar pun memuji
dan menyanjung Allah, lalu memerintahkan agar isi surat tersebut dibacakan
kepada orang-orang. Semua orang merasa gembira dan memuji Allah Azza wa Jalla.
Penaklukan Ray, Tahun 22 Hijriah:
Nu'aim bin Muqarrin menunjuk Yazid bin Qais Al-Hamadani
sebagai wakilnya di Hamadzan. Ia sendiri bergerak memimpin pasukan hingga tiba
di Ray. Di sana, ia berhadapan dengan kumpulan besar orang-orang musyrik. Mereka
bertempur di kaki gunung Ray dengan sangat gigih. Namun, pasukan musuh akhirnya
kalah dan melarikan diri. Nu'aim bin Muqarrin menimpakan pembantaian yang besar
kepada mereka, sampai-sampai jumlah korban tewas dihitung menggunakan batang
alang-alang.
Kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang
yang sangat banyak, mendekati jumlah harta rampasan yang diperoleh kaum
muslimin saat menaklukkan Madain. Nu'aim kemudian mengadakan perdamaian dengan
Abul Farkhan yang bergelar Az-Zainabi atas wilayah Ray, dan menuliskan surat
jaminan keamanan untuknya. Setelah itu, Nu'aim menulis surat kepada Umar untuk
mengabarkan tentang kemenangan tersebut serta mengirimkan bagian seperlima
harta rampasan perang (al-akhmas). Segala puji dan karunia hanya milik Allah.
Penaklukan Qumis, Jurjan, dan Thabaristan, Tahun 22 Hijriah:
Ketika pembawa kabar gembira mengenai penaklukan Ray dan
pengiriman bagian seperlima harta rampasannya tiba, Umar menulis surat kepada
Nu'aim bin Muqarrin agar mengutus saudaranya, Suwaid bin Muqarrin, menuju
Qumis.
Suwaid pun berangkat ke sana, dan tidak ada satu pun
kekuatan yang menghalanginya hingga ia berhasil menguasai wilayah tersebut
secara damai. Ia mendirikan perkemahan pasukan di sana dan menuliskan surat
jaminan keamanan serta perjanjian damai untuk penduduknya.
Saat Suwaid berkemah di Qumis, utusan dari berbagai negeri
datang menemuinya, di antaranya dari Jurjan, Thabaristan, dan wilayah lainnya.
Mereka meminta perdamaian dengan syarat membayar jizyah. Suwaid pun menerima
perdamaian dari semuanya dan menuliskan surat jaminan keamanan serta perjanjian
damai untuk penduduk di setiap negeri tersebut. Sementara itu, Al-Madaini
meriwayatkan bahwa Jurjan baru ditaklukan pada tahun 30 Hijriah pada masa
pemerintahan Utsman. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Penaklukan Azerbaijan, Tahun 23 Hijriah:
Al-Waqidi dan Abu Ma'syar sepakat bahwa Azerbaijan
ditaklukkan pada tahun 22 Hijriah, yang kemudian diikuti oleh Ibnu Jarir dan
sejarawan lainnya.
Ketika Nu'aim bin Muqarrin berhasil menaklukkan Hamadzan
untuk kedua kalinya lalu menaklukkan Ray, ia mengutus Bukair bin Abdullah dari
Hamadzan untuk memimpin pasukan barisan depan menuju Azerbaijan. Langkah ini
kemudian diperkuat dengan mengirimkan Simak bin Kharasyah—bukan Abu Dujanah—di
belakangnya, berdasarkan perintah dari Umar bin Khattab.
Sebelum Simak tiba, Bukair dan pasukannya telah bertemu
dengan Asfandyadh bin Al-Farrukhzad. Mereka bertempur, lalu Allah mengalahkan
orang-orang musyrik dan Bukair berhasil menawan Asfandyadh. Asfandyadh kemudian
bertanya kepada Bukair, "Apakah perdamaian yang lebih kamu sukai ataukah
peperangan?" Bukair menjawab, "Tentu saja perdamaian."
Asfandyadh berkata, "Kalau begitu, tahanlah aku di
sisimu." Bukair menahannya, lalu mulailah ia menaklukkan wilayah
Azerbaijan kota demi kota. Di sisi lain, Utbah bin Farqad bergerak berhadapan
dengannya di wilayah Azerbaijan bagian luar untuk menaklukkannya kota demi kota
pula.
Kemudian datanglah surat dari Umar yang memerintahkan agar
Bukair maju menuju Al-Bab, dan menempatkan Simak di posisinya sebagai wakil
bagi Utbah bin Farqad. Umar juga menyatukan seluruh wilayah Azerbaijan di bawah
kepemimpinan Utbah bin Farqad. Bukair lalu menyerahkan tawanan bernama
Asfandyadh kepada Utbah. Sebelumnya, Bahram bin Al-Farrukhzad sempat menghadang
Utbah bin Farqad, tetapi Utbah berhasil mengalahkannya hingga Bahram melarikan
diri. Ketika kabar tersebut sampai kepada Asfandyadh, ia berkata, "Sekarang
perdamaian telah sempurna dan perang telah padam."
Ia pun sepakat untuk berdamai sehingga Azerbaijan kembali
dalam kondisi damai. Utbah dan Bukair menulis surat kepada Umar mengenai hal
tersebut dan mengirimkan bagian seperlima harta rampasan perang kepadanya.
Ketika kepemimpinan atas wilayah Azerbaijan sepenuhnya diserahkan kepada Utbah,
ia menuliskan surat jaminan keamanan dan perjanjian damai untuk penduduknya.
Penaklukan Al-Bab, Tahun 22 Hijriah:
Ibnu Jarir mengatakan: Saif mengklaim bahwa pada tahun ini
(tahun 22 Hijriah), Umar bin Khattab menulis surat perintah kepemimpinan
ekspedisi perang ini kepada Suraqah bin Amr yang bergelar Dzu An-Nur. Suraqah
pun berangkat sesuai perintah Umar dengan pasukannya yang siaga. Ketika pasukan
barisan depan yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Rabi'ah tiba di hadapan raja
yang berkuasa di Al-Bab, yaitu Syahrbaraz raja Armenia—dia berasal dari garis
keturunan raja yang dahulu pernah membantai Bani Israil dan menginvasi Syam di
masa lampau—Syahrbaraz menulis surat kepada Abdurrahman untuk meminta jaminan
keamanan. Abdurrahman bin Rabi'ah memberikan jaminan tersebut, lalu sang raja
datang menemuinya dan menyampaikan kecenderungannya serta ketulusannya untuk
mendukung kaum muslimin.
Abdurrahman berkata kepadanya, "Di atasku masih ada
seorang pemimpin, maka pergilah menemuinya." Syahrbaraz lalu diutus
menemui Suraqah bin Amr selaku panglima tertinggi pasukan. Ia meminta jaminan
keamanan kepada Suraqah, lalu Suraqah menulis surat kepada Umar. Umar
menyetujui jaminan keamanan yang diberikan dan menganggapnya baik, sehingga
Suraqah menuliskan surat perjanjian resmi untuknya. Setelah itu, Suraqah
mengutus Bukair bin Abdullah Al-Laitsi, Habib bin Maslamah, Hudzaifah bin Asid,
dan Salman bin Rabi'ah ke penduduk pegunungan yang mengelilingi Armenia,
seperti pegunungan Al-Lan, Tiflis, dan Muqan. Bukair berhasil menaklukkan Muqan
dan menuliskan surat jaminan keamanan untuk mereka. Di tengah peristiwa
tersebut, panglima kaum muslimin di sana, Suraqah bin Amr, wafat. Ia digantikan
oleh Abdurrahman bin Rabi'ah. Ketika kabar tersebut sampai kepada Umar, ia
menetapkan posisi Abdurrahman dan memerintahkannya untuk memerangi bangsa
Turki.
Peperangan Pertama Melawan Bangsa Turki:
Ketika surat Umar tiba kepada Abdurrahman bin Rabi'ah yang
memerintahkannya untuk memerangi bangsa Turki, ia segera bergerak hingga
melewati Al-Bab menuju arah yang diperintahkan. Syahrbaraz bertanya kepadanya,
"Ke mana kamu hendak pergi?"
Abdurrahman menjawab, "Aku menginginkan Balanjar,
kerajaan bangsa Turki." Syahrbaraz berkata kepadanya, "Sesungguhnya
kami sudah merasa cukup tenang dengan kesepakatan damai bersama mereka selama
kami berada di balik Al-Bab ini."
Abdurrahman berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah
telah mengutus seorang Rasul kepada kami, dan Dia telah berjanji kepada kami
melalui lisan Rasul-Nya tentang pertolongan dan kemenangan, dan kami akan
senantiasa ditolong."
Ia pun memerangi bangsa Turki, menjelajahi negeri Balanjar
sejauh dua ratus farsakh, dan melakukan peperangan berulang kali.
Kemudian ia terlibat dalam pertempuran-pertempuran yang
dahsyat pada masa pemerintahan Utsman—semoga Allah meridhainya. Peristiwa ini
menjadi pembenaran bagi hadits yang tsabit (shahih) dalam kitab Shahih dari Abu
Hurairah dan Amr bin Taghlib, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لا
تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا عِرَاضَ الْوُجُوهِ، ذُلْفَ
الأُنُوفِ، حُمْرَ الْوُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ»
وفي رواية: «يَنْتَعِلُونَ الشَّعَرَ»
"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian
memerangi suatu kaum yang berwajah lebar, berhidung pesek, berkulit merah,
seolah-olah wajah mereka seperti perisai yang dilapisi kulit." Dan
dalam riwayat lain disebutkan: "Mereka memakai sandal dari bulu."
Peperangan Khurasan, Tahun 22 Hijriah:
Sebelumnya Al-Ahnaf bin Qais telah memberikan saran kepada
Umar agar kaum muslimin memperluas penaklukan di negeri asing (Ajam) dan
mempersempit ruang gerak Kisra serta Yazdajird. Sebab, Yazdajird-lah yang
selalu memprovokasi bangsa Persia dan pasukannya untuk memerangi kaum muslimin.
Umar bin Khattab pun memberikan izin untuk melaksanakan saran tersebut, lalu ia
memerintahkan Al-Ahnaf dan menugaskannya untuk menginvasi negeri Khurasan.
Al-Ahnaf segera bergerak membawa pasukan yang sangat besar menuju Khurasan
dengan tujuan memerangi Yazdajird. Begitu memasuki Khurasan, ia menaklukkan
wilayah Harah secara paksa (anwatan) dan menunjuk Shuhar bin Fulan Al-Abdi
sebagai pemimpin di sana. Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju Marwu
Asy-Syahijan yang di dalamnya terdapat Yazdajird. Al-Ahnaf juga mengutus
Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir ke Naisabur, dan Al-Harits bin Hassan
ke Sarakhs.
Ketika Al-Ahnaf sudah dekat dengan Marwu Asy-Syahijan,
Yazdajird keluar melarikan diri dari sana menuju Marwu Ar-Rud. Al-Ahnaf pun
berhasil menguasai Marwu Asy-Syahijan dan menempatinya.
Saat singgah di Marwu Ar-Rud, Yazdajird menulis surat kepada
Khaqan (raja bangsa Turki) untuk meminta bantuan pasukan, dan juga menulis
surat kepada raja Shughd untuk meminta bantuan. Al-Ahnaf bin Qais kemudian
menyusulnya ke Marwu Ar-Rud setelah menunjuk Haritsah bin An-Nu'man sebagai
pemimpin pengganti di Marwu Asy-Syahijan. Sementara itu, pasukan bantuan dari
penduduk Kufah datang memperkuat Al-Ahnaf bersama empat orang panglima. Ketika
kabar ini sampai ke telinga Yazdajird, ia berpindah menuju Balkh. Al-Ahnaf
mengejarnya dan mereka bertemu di Balkh, lalu Allah Azza wa Jalla mengalahkan
Yazdajird. Yazdajird beserta sisa-sisa pasukannya melarikan diri menyeberangi
Sungai Jaihun. Dengan demikian, kekuasaan atas negeri Khurasan menjadi kokoh
dan stabil di bawah kendali Al-Ahnaf bin Qais. Ia menunjuk seorang gubernur di
setiap kota, lalu Al-Ahnaf kembali dan menetap di Marwu Ar-Rud. Ia menulis
surat kepada Umar untuk melaporkan seluruh wilayah Khurasan yang telah Allah
menangkan secara sempurna melalui tangannya.
Umar kemudian membalas surat Al-Ahnaf dan melarangnya untuk
menyeberang ke wilayah di balik sungai (Transoxiana). Umar berkata:
"Jagalah wilayah negeri Khurasan yang ada di tanganmu saat ini."
Ketika dua orang utusan Yazdajird tiba menemui raja bangsa
Turki dan raja Shughd yang dimintai bantuan, awalnya kedua raja tersebut tidak
terlalu memedulikan urusannya. Namun, begitu Yazdajird menyeberangi sungai dan
memasuki wilayah mereka, berdasarkan hukum adat para raja, mereka pun terdorong
untuk membantunya. Maka Khaqan Agung (raja bangsa Turki) bergerak bersamanya,
dan Yazdajird kembali membawa pasukan yang sangat besar, di antaranya termasuk
Khaqan raja Tatar. Ia tiba di Balkh lalu merebutnya kembali, sehingga para
gubernur yang ditunjuk Al-Ahnaf melarikan diri menemui Al-Ahnaf di Marwu
Ar-Rud. Orang-orang musyrik itu pun keluar dari Balkh hingga mendatangi dan
mengepung Al-Ahnaf di Marwu Ar-Rud. Al-Ahnaf lalu bersiap menghadapi mereka
bersama pasukan yang bersamanya dari penduduk Bashrah dan Kufah, yang
seluruhnya berjumlah dua puluh ribu orang.
Saat itu, Al-Ahnaf mendengar seseorang berkata kepada yang
lain: "Jika panglima kita memiliki kecerdasan strategi, tentulah dia akan
bertahan di kaki gunung ini dengan menjadikannya berada di belakang punggung
pasukan, serta memanfaatkan sungai ini sebagai parit di sekelilingnya, sehingga
musuh tidak akan bisa menyerang kecuali dari satu arah saja.". Ketika pagi
hari tiba, Al-Ahnaf langsung memerintahkan kaum muslimin untuk mengambil posisi
di tempat tersebut, dan keputusan itu menjadi tanda petunjuk serta kemenangan.
Pasukan Turki dan Persia datang dalam jumlah besar yang
sangat mengerikan dan menggentarkan. Al-Ahnaf lalu berdiri menyampaikan khotbah
di hadapan orang-orang, ia berkata: "Sesungguhnya jumlah kalian sedikit
sedangkan musuh kalian banyak, maka janganlah hal itu membuat kalian gentar.
﴿
كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ
مَعَ الصَّبِرِينَ ﴾
'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta
orang-orang yang sabar.' (QS. Al-Baqarah: 249)".
Pasukan Turki biasa bertempur di siang hari, dan Al-Ahnaf
tidak mengetahui ke mana mereka pergi pada malam harinya. Suatu malam, ia
bergerak bersama pasukan mata-mata dari sahabatnya menuju perkemahan Khaqan.
Ketika mendekati waktu subuh, seorang penunggang kuda dari bangsa Turki keluar
sebagai pengintai dengan mengenakan kalung leher sambil memukul drumnya. Ia
maju mendekati Al-Ahnaf, lalu keduanya saling bertukar tusukan tombak. Al-Ahnaf
berhasil menusuk dan membunuhnya sembari mendendangkan syair:
إِنَّ
عَلَى كُلِّ رَئِيسٍ حَقًّا ... أَنْ يَخْضِبَ الصَّعْدَةَ أَوْ تَنْدَقَّا
إِنَّ
لَهَا شَيْخًا بِهَا مُلَقَّى ... سَيْفُ أَبِي حَفْصٍ الَّذِي تَبَقَّى
Sesungguhnya bagi setiap pemimpin ada kewajiban... untuk
membasahi tombak dengan darah atau tombak itu patah.
Sesungguhnya tombak ini memiliki seorang guru yang ahli,
pedang milik Abu Hafs (Umar) yang akan tetap abadi.
Al-Ahnaf kemudian mengambil kalung milik orang Turki itu
lalu berdiri di posisinya. Tidak lama kemudian, keluar orang kedua yang juga
mengenakan kalung leher dan membawa drum. Orang itu mulai memukul drumnya, lalu
Al-Ahnaf maju menghadapinya dan membunuhnya juga, kemudian mengambil kalungnya
serta berdiri di posisinya. Lalu keluar orang ketiga, Al-Ahnaf pun membunuhnya
dan mengambil kalungnya. Setelah itu, Al-Ahnaf bergegas kembali ke pasukannya
tanpa diketahui sama sekali oleh seorang pun dari bangsa Turki.
Sudah menjadi tradisi bangsa Turki bahwa mereka tidak akan
keluar bertempur sebelum tiga orang tetua mereka maju ke depan; yang pertama
memukul drumnya, lalu yang kedua, kemudian yang ketiga. Ketika pasukan Turki
keluar, mereka mendapati para penunggang kuda pengintai mereka telah tewas
terbunuh. Raja Khaqan merasa bernasib sial dan menganggap itu pertanda buruk. Ia
berkata kepada pasukannya: "Telah lama kita tinggal di sini, dan
orang-orang kita telah tertimpa musibah di tempat yang kita belum pernah
mengalami hal serupa sebelumnya. Tidak ada kebaikan bagi kita dalam memerangi
kaum ini, maka kembalilah bersama kami.". Mereka pun akhirnya pulang
kembali ke negeri mereka.
Kaum muslimin berkata kepada Al-Ahnaf: "Bagaimana
pendapatmu jika kita mengejar mereka?". Al-Ahnaf menjawab: "Tetaplah
di tempat kalian dan biarkan mereka.". Keputusan Al-Ahnaf ini sangat
tepat, karena telah disebutkan dalam sebuah hadits:
«اتْرُكُوا
التُّرْكَ مَا تَرَكُوكُمْ»
"Biarkanlah bangsa Turki selama mereka membiarkan
kalian."
Allah berfirman:
﴿
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى
اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا ﴾
'Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan
mereka penuh kejengkelan, karena mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun.
Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari pertempuran. Dan adalah Allah
Maha Kuat lagi Maha Perkasa.' (QS. Al-Ahzab: 25)".
Kisra (Yazdajird) kembali dalam keadaan merugi dan tidak
berhasil meluapkan kemarahannya, tidak mendapatkan kebaikan apa pun, serta
tidak memperoleh kemenangan seperti yang digemborkannya. Sebaliknya,
orang-orang yang ia harapkan bantuannya justru meninggalkannya, menjauh
darinya, dan berlepas diri darinya di saat ia sangat membutuhkannya. Ia pun
terombang-ambing, tidak termasuk ke dalam golongan ini dan tidak pula ke dalam
golongan itu.
Allah berfirman:
﴿
وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا ﴾
'Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya kamu
tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.' (QS. An-Nisa:
88)".
Ia merasa kebingungan dengan urusannya, apa yang harus ia
perbuat dan ke mana ia harus pergi?. Kemudian ia mengirim utusan kepada raja
China untuk meminta pertolongan dan bantuan pasukan. Raja China pun mulai
bertanya kepada utusan tersebut mengenai sifat-sifat kaum (muslimin) yang telah
menaklukkan berbagai negeri dan mengalahkan para raja. Utusan itu menjelaskan
tentang sifat mereka, bagaimana mereka menunggangi kuda dan unta, apa yang mereka
lakukan, serta bagaimana mereka beribadah (shalat).
Maka raja China menulis surat balasan untuk dibawa kepada
Yazdajird: "Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk mengirimkan
pasukan kepadamu yang ujung depannya ada di Marwu dan ujung belakangnya ada di
China karena ketidaktahuanku atas apa yang menjadi kewajibanku. Akan tetapi,
kaum yang digambarkan oleh utusanmu ini, andai mereka menghendaki untuk
meruntuhkan gunung, tentulah mereka dapat meruntuhkannya. Dan andai aku datang
untuk menolongmu, niscaya mereka akan mengusirku selama mereka masih memegang
teguh sifat-sifat seperti yang digambarkan utusanmu. Oleh karena itu,
berdamailah dengan mereka dan terimalah perdamaian itu.".
Maka Kisra beserta keluarga Kisra menetap di beberapa negeri
dalam keadaan terhina, dan kondisi tersebut terus dialaminya hingga ia tewas
terbunuh setelah dua tahun dari masa kekhalifahan Utsman.
Khotbah Umar Ketika Surat Kemenangan Tiba
Ketika Al-Ahnaf mengirimkan surat kabar kemenangan beserta
harta rampasan perang yang Allah karuniakan kepada mereka dari harta bangsa
Turki dan pasukan yang bersama mereka, serta mengabarkan bahwa mereka telah
menimpakan kekalahan besar pada musuh hingga Allah memukul mundur musuh dengan
kejengkelan tanpa mendapatkan keuntungan apa pun, Umar segera berdiri di atas
mimbar. Surat tersebut dibacakan di hadapannya, kemudian Umar berkata:
"Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan
membawa petunjuk, dan menjanjikan bagi para pengikutnya balasan yang segera (di
dunia) maupun yang tertunda (di akhirat) berupa kebaikan dunia dan akhirat.
Allah berfirman:
﴿
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى
الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا ﴾
'Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan
agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah
sebagai saksi.' (QS. Al-Fath: 28)".
Maka segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya
dan menolong pasukan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah telah menghancurkan kerajaan
Majusi dan mencerai-beraikan persatuan mereka, sehingga mereka tidak lagi
menguasai sejengkal pun dari negeri mereka yang dapat membahayakan seorang
muslim. Ketahuilah bahwa Allah telah mewariskan kepada kalian tanah mereka,
negeri mereka, harta mereka, dan anak-anak mereka untuk melihat bagaimana
kalian berbuat. Maka tegakkanlah urusan-Nya dengan penuh rasa takut, niscaya Dia
akan memenuhi janji-Nya kepada kalian dan memberikan apa yang dijanjikan-Nya.
Janganlah kalian mengubah diri kalian sehingga Allah akan menggantikan kalian
dengan kaum yang lain, karena sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan umat ini
kecuali dari arah (perbuatan) kalian sendiri.".
Penaklukan Istakhr, Tahun 23 Hijriah:
Kaum muslimin menaklukkan Istakhr untuk kedua kalinya pada
tahun 23 Hijriah. Sebelumnya, penduduk kota tersebut sempat melanggar
perjanjian damai setelah sebelumnya ditaklukkan oleh pasukan Al-Ala' bin
Al-Hadhrami ketika ia menyeberangi laut dari wilayah Bahrain. Saat itu, pasukan
muslim bertemu dengan bangsa Persia di suatu tempat yang disebut Thawus,
kemudian Al-Hirbidz mengadakan perdamaian dengannya dengan syarat membayar
jizyah dan memberikan jaminan perlindungan (dzimmah) kepada mereka.
Namun, Syahrak kemudian membatalkan perjanjian dan melanggar
jaminan perlindungan tersebut. Bangsa Persia pun kembali bangkit dan melanggar
perjanjian. Menanggapi hal itu, Utsman bin Abil Ash (gubernur Bahrain) mengutus
anak laki-lakinya dan saudaranya yang bernama Al-Hakam. Mereka bertempur
melawan bangsa Persia, lalu Allah mengalahkan pasukan orang-orang musyrik, dan
Al-Hakam bin Abil Ash berhasil membunuh Syahrak.
Penaklukan Fasa dan Darabjird, Tahun 23 Hijriah:
Saif menyebutkan dari para gurunya bahwa Sariyah bin Zanim
bergerak menuju Fasa dan Darabjird, lalu berkumpullah pasukan yang sangat besar
dari bangsa Persia dan Kurdi untuk menghadapinya. Kaum muslimin pun menghadapi
situasi yang sangat genting. Pada malam itu, Umar (di Madinah) melihat dalam
tidurnya medan pertempuran mereka, jumlah musuh, serta posisi mereka yang
berada di sebuah padang pasir. Umar juga melihat bahwa di sana terdapat sebuah
gunung yang jika mereka menjadikannya sebagai sandaran punggung, mereka tidak
akan bisa diserang kecuali dari satu arah.
Keesokan harinya, Umar menyerukan shalat berjamaah. Ketika
tiba waktu yang ia perkirakan sebagai saat berkumpulnya pasukan, Umar keluar
menemui orang-orang lalu naik ke atas mimbar. Ia berkhotbah di hadapan manusia
dan mengabarkan tentang situasi yang ia lihat, kemudian ia berseru: "Wahai
Sariyah! Gunung, gunung!".
Umar kemudian menghadap ke arah orang-orang dan berkata:
"Sesungguhnya Allah memiliki pasukan-pasukan, dan barangkali sebagian
pasukan-Nya menyampaikan seruan itu kepada mereka.".
Perawi berkata: "Pasukan muslim pun melaksanakan apa
yang diserukan Umar, sehingga Allah menolong mereka dalam mengalahkan musuh,
dan mereka berhasil menaklukkan negeri tersebut.".
Abdullah bin Wahab meriwayatkan dari Yahya bin Ayyub, dari
Ibnu Ajlan, dari Nafi', dari Ibnu Umar, bahwa Umar mengutus suatu pasukan dan
mengangkat seorang pria bernama Sariyah sebagai pemimpin mereka. Ibnu Umar
berkata: "Ketika Umar sedang berkhotbah, tiba-kira ia berseru: 'Wahai
Sariyah, gunung! Wahai Sariyah, gunung!' sebanyak tiga kali. Kemudian utusan
dari pasukan tersebut datang, lalu Umar bertanya kepadanya. Utusan itu
menceritakan: 'Wahai Amirul Mukminin, awalnya kami terdesak, namun ketika kami
dalam kondisi demikian, tiba-kira kami mendengar suara penyeru: 'Wahai Sariyah,
gunung!' sebanyak tiga kali, maka kami pun menyandarkan punggung kami ke
gunung, lalu Allah mengalahkan mereka.' ".
Perawi melanjutkan: "Lalu dikatakan kepada Umar,
'Sesungguhnya engkau dahulu meneriakkan seruan tersebut.' ". Ibnu Katsir
mengatakan: "Sanad riwayat ini jayyid lagi hasan.".
Penaklukan Kirman dan Sijistan, Tahun 22 Hijriah:
Ibnu Jarir menyebutkan dari jalur Saif, dari para gurunya,
mengenai penaklukan Kirman pada tahun ini di bawah pimpinan Suhail bin Adi,
yang diperkuat oleh bantuan pasukan dari Abdullah bin Abdullah bin Utban. Ada
pula yang berpendapat bahwa penaklukan tersebut berhasil dilakukan di bawah
pimpinan Abdullah bin Budail bin Warqa Al-Khuza'i.
Beliau juga menyebutkan penaklukan Sijistan di bawah
pimpinan Ashim bin Amr setelah melalui pertempuran yang sengit. Wilayah
perbatasan Sijistan ini sangat luas dan kota-kotanya saling berjauhan,
membentang antara wilayah Sind hingga Sungai Balkh. Di wilayah perbatasan dan
celah-celah tersebut, kaum muslimin dulunya bertempur melawan penduduk Qandahar
dan bangsa Turki.
Penaklukan Makran, Tahun 23 Hijriah:
Ibnu Jarir juga menyebutkan penaklukan Makran pada tahun
ke-23 Hijriah di bawah pimpinan Al-Hakam bin Amr, yang diperkuat oleh Syihab
bin Al-Mukhariq bin Syihab. Langkah ini kemudian disusul oleh bergabungnya
Suhail bin Adi dan Abdullah bin Abdullah bin Utban. Mereka bertempur melawan
raja Sind hingga akhirnya Allah mengalahkan sekumpulan pasukan Sind tersebut.
Kaum muslimin pun berhasil memperoleh harta rampasan perang yang sangat banyak
dari mereka.
Al-Hakam bin Amr menulis surat mengenai kemenangan ini dan
mengirimkan bagian seperlima harta rampasannya bersama Shahar Al-Abdi. Ketika
Shahar tiba menemui Umar, Umar bertanya kepadanya mengenai kondisi wilayah
Makran. Shahar menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, tanahnya yang datar
berupa gunung, airnya sangat sedikit, kurmanya berkualitas buruk, musuhnya
adalah pahlawan yang tangguh, kebaikannya sedikit, keburukannya berlangsung
lama, jumlah harta yang banyak di sana terasa sedikit, jumlah yang sedikit akan
hilang sia-sia, dan wilayah yang ada di baliknya jauh lebih buruk lagi.".
Umar bertanya: "Apakah engkau sedang bersyair atau
sedang mengabarkan yang sebenarnya?". Shahar menjawab: "Tidak,
melainkan aku sedang mengabarkan yang sebenarnya.". Maka Umar segera
menulis surat kepada Al-Hakam bin Amr yang memerintahkan agar pasukan tidak
melewati wilayah Makran, dan hendaknya mereka mencukupkan diri pada wilayah
sebelum sungai tersebut.
Peperangan Melawan Suku Kurdi:
Ibnu Jarir menyebutkan dengan sanadnya dari Saif, dari para
gurunya: Bahwa sekelompok orang dari suku Kurdi yang bergabung dengan sebagian
bangsa Persia berkumpul untuk bertempur. Abu Musa menemui mereka di suatu
tempat di wilayah Bairud yang dekat dengan Sungai Tiri.
Setelah itu, Abu Musa bergerak meninggalkan mereka menuju
Ashbahan setelah menyerahkan urusan peperangan melawan mereka kepada Ar-Rabi'
bin Ziyad—yaitu setelah gugurnya saudaranya yang bernama Al-Muhajir bin Ziyad.
Ar-Rabi' pun mengambil alih komando perang dengan penuh semangat dan ketegasan
menghadapi mereka. Maka Allah mengalahkan musuh tersebut, dan bagi Allah segala
puji serta karunia, sebagaimana hal itu merupakan ketetapan-Nya yang terus
berjalan dan sunnah-Nya yang teguh bagi hamba-hamba-Nya yang beriman serta
golongan-Nya yang beruntung dari kalangan para pengikut Pemimpin para Rasul ﷺ.
Setelah itu, harta rampasan perang dibagi menjadi seperlima (khumus), lalu
kabar kemenangan beserta bagian seperlima harta tersebut dikirimkan kepada Umar
bin Khattab—semoga Allah meridhainya.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar