Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Ilustrasi sinematik realistis suasana musyawarah pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu di dalam Masjid Nabawi abad ke-7 di Madinah. Para sahabat duduk melingkar dengan penuh adab dan ketenangan di bawah cahaya hangat matahari sore. Abdul Rahman bin Auf tampak berdiri menyampaikan hasil syura, sementara Utsman bin Affan duduk dengan rendah hati mengenakan pakaian putih dan sorban elegan. Interior masjid dihiasi pilar kayu kurma, lampu minyak, dan karpet Arab sederhana, menciptakan atmosfer spiritual, persatuan umat, dan kebijaksanaan Islam.

Bab Kedua: Pengangkatannya sebagai Khalifah

Kisah Syura dan Kesepakatan untuk Membaiat Utsman

Umar radhiyallahu 'anhu telah menjadikan urusan kekhalifahan setelahnya sebagai urusan syura (musyawarah) di antara enam orang. Mereka adalah: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdul Rahman bin Auf radhiyallahu 'anhum.

Beliau merasa keberatan untuk menetapkan kekhalifahan kepada salah satu dari mereka secara langsung. Beliau berkata: "Aku tidak mau menanggung urusan kalian, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Dia akan menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang terbaik di antara mereka, sebagaimana Dia telah menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang terbaik di antara kalian setelah Nabi kalian."

Di antara kesempurnaan sikap wara' (kehati-hatian) beliau, beliau tidak memasukkan Said bin Zaid bin Amr bin Nufail ke dalam anggota syura karena ia adalah sepupunya. Umar khawatir orang-orang akan mempertimbangkannya lalu mengangkatnya sebagai khalifah hanya karena hubungan kekerabatan tersebut. Oleh karena itu, beliau meninggalkannya—padahal ia termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dipersaksikan masuk surga. Bahkan, dalam riwayat Al-Madaini dari guru-gurunya disebutkan bahwa Umar mengecualikannya di antara mereka dan berkata: "Aku tidak memasukkannya ke dalam bagian mereka."

Umar berkata kepada anggota syura: "Abdullah—yaitu putranya—boleh menghadiri pertemuan kalian, namun ia tidak memiliki hak sedikit pun dalam urusan kekhalifahan." Maksudnya, ia menghadiri syura hanya untuk memberikan nasihat, tetapi tidak boleh dipilih menjadi pemimpin.

Beliau juga berwasiat agar Suhaib bin Sinan Ar-Rumi memimpin salat berjamaah bagi masyarakat selama tiga hari hingga musyawarah selesai, dan agar anggota syura berkumpul sampai urusan ini diputuskan dengan matang.

Maka mereka berkumpul di dalam sebuah rumah untuk bermusyawarah mengenai urusan mereka. Kemudian, urusan tersebut mengerucut setelah tiga orang di antara mereka menyerahkan haknya kepada tiga orang yang lain. Az-Zubair menyerahkan hak kepemimpinannya kepada Ali, Sa'ad menyerahkan haknya kepada Abdul Rahman bin Auf, dan Thalhah menyerahkan haknya kepada Utsman radhiyallahu 'anhu.

Lalu Abdul Rahman berkata kepada Ali dan Utsman: "Siapa di antara kalian berdua yang bersedia mengundurkan diri dari urusan ini, maka kita akan menyerahkan urusan keputusan kepadanya. Allah dan Islam menjadi saksi baginya untuk benar-benar memilih orang yang paling utama di antara dua orang yang tersisa ." Kedua syekh tersebut (Ali dan Utsman) terdiam. Maka Abdul Rahman berkata: "Sesungguhnya aku melepaskan hakku dari urusan ini, dan Allah serta Islam menjadi saksi bagiku bahwa aku akan bersungguh-sungguh untuk memilih orang yang paling utama di antara kalian berdua."

Keduanya menjawab: "Ya!" Kemudian Abdul Rahman berbicara kepada masing-masing dari keduanya mengenai keutamaan yang mereka miliki, lalu mengambil janji dan sumpah setia: jika ia mengangkatnya maka ia harus berlaku adil, dan jika orang lain yang diangkat menjadi pemimpin atasnya maka ia harus mendengar dan patuh. Masing-masing dari keduanya menjawab: "Ya!"

Setelah itu mereka pun berpisah. Abdul Rahman pun berusaha keras mengurus hal tersebut selama tiga hari tiga malam. Beliau tidak memejamkan matanya untuk tidur melainkan hanya sedikit saja, waktunya dihabiskan untuk salat, berdoa, beristikharah, dan bertanya kepada orang-orang yang memiliki pandangan bijak tentang mereka berdua. Hasilnya, beliau tidak menemukan seorang pun yang menganggap ada orang lain yang setara dengan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.

Ketika tiba malam yang paginya merupakan hari keempat sejak wafatnya Umar bin Khattab, beliau mendatangi rumah anak saudarinya, Al-Miswar bin Makhramah, lalu berkata: "Apakah kamu sedang tidur, wahai Miswar?"

"Demi Allah, aku tidak memejamkan mataku untuk tidur lama sejak tiga hari ini. Pergilah dan panggillah Ali serta Utsman kepadaku!" Al-Miswar berkata: Aku bertanya, "Kepada siapa aku harus memulai terlebih dahulu?"

Abdul Rahman menjawab: "Kepada siapa saja yang kamu kehendaki." Al-Miswar berkata: Maka aku pergi menemui Ali dan berkata, "Penuhilah panggilan pamanku." Ali bertanya, "Apakah ia memerintahkanmu untuk memanggil seseorang bersamaku?"

Aku menjawab: "Ya!" Ali bertanya lagi: "Siapa?" Aku menjawab: "Utsman bin Affan." Ali bertanya: "Kepada siapa di antara kami ia menyuruhmu memulai?"

Aku menjawab: "Ia tidak memerintahkan hal itu kepadaku, melainkan berkata 'panggillah siapa saja yang kamu kehendaki terlebih dahulu', maka aku datang kepadamu." Al-Miswar melanjutkan: Maka Ali keluar bersamaku. Ketika kami melewati rumah Utsman bin Affan, Ali duduk menunggu hingga aku masuk dan mendapati Utsman sedang melakukan salat Witir menjelang fajar. Utsman pun menanyakan hal yang sama persis seperti yang ditanyakan oleh Ali. Kemudian ia keluar, lalu aku masuk bersama keduanya menemui pamanku yang sedang berdiri mengerjakan salat.

Ketika selesai salat, Abdul Rahman menghadap kepada Ali dan Utsman, lalu berkata: "Sesungguhnya aku telah bertanya kepada masyarakat mengenai kalian berdua, dan aku tidak mendapati seorang pun yang menganggap ada orang lain yang setara dengan kalian berdua ." Kemudian beliau mengambil janji kembali dari masing-masing keduanya: jika ia memimpin maka ia harus berlaku adil, dan jika orang lain yang memimpin atasnya maka ia harus mendengar dan patuh.

Setelah itu, beliau keluar bersama keduanya menuju masjid. Saat itu Abdul Rahman telah mengenakan sorban yang dahulu dipakaikan oleh Rasulullah kepadanya, serta menyandang sebilah pedang. Beliau mengutus orang untuk memanggil para pemuka masyarakat dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta diserukan kepada masyarakat umum: "Ash-Shalatu Jami'ah" (Mari salat berjamaah). Maka masjid pun penuh sesak hingga dipadati oleh manusia, dan saf-saf menjadi sangat rapat sampai-sampai tidak tersisa tempat duduk bagi Utsman melainkan di bagian paling belakang dari barisan manusia—dan beliau adalah seorang pria yang sangat pemalu radhiyallahu 'anhu.

Kemudian Abdul Rahman bin Auf naik ke atas mimbar Rasulullah , lalu berdiri dalam waktu yang lama dan memanjatkan doa yang panjang yang tidak terdengar oleh orang-orang. Setelah itu beliau berbicara dan berkata: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah bertanya kepada kalian baik secara rahasia maupun terang-terangan mengenai harapan kalian, dan aku tidak mendapati kalian menyetarakan siapa pun dengan salah satu dari kedua pria ini: adakalanya Ali, atau adakalanya Utsman. Maka mendekatlah kepadaku, wahai Ali!" Maka Ali pun berdiri mendekatinya lalu berdiri di bawah mimbar.

Maka Abdul Rahman memegang tangan Ali dan berkata: "Apakah engkau mau membaiatku di atas Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya, serta perbuatan Abu Bakar dan Umar?"

Ali menjawab: "Ya Allah tidak, tetapi di atas batas kemampuanku dan kekuatanku untuk menjalankan hal itu." Al-Miswar berkata: Maka Abdul Rahman melepaskan tangannya dan berkata: "Mendekatlah kepadaku, wahai Utsman!" Lalu beliau memegang tangan Utsman dan berkata: "Apakah engkau mau membaiatku di atas Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya, serta perbuatan Abu Bakar dan Umar?"

Utsman menjawab: "Ya Allah, benar." Al-Miswar berkata: Maka Abdul Rahman mengangkat kepalanya ke arah atap masjid, sementara tangannya masih berada di tangan Utsman, lalu berkata: "Ya Allah, dengarlah dan saksikanlah! Ya Allah, dengarlah dan saksikanlah! Ya Allah, dengarlah dan saksikanlah! Ya Allah, sesungguhnya aku telah melepaskan apa yang ada di leherku dari urusan ini (tanggung jawab memilih) dan meletakkannya di leher Utsman."

Al-Miswar berkata: Maka manusia saling berdesakan untuk membaiat Utsman hingga mereka mengerumuninya di bawah mimbar. Beliau melanjutkan: Lalu Abdul Rahman duduk di tempat duduk Nabi , dan mendudukkan Utsman di bawahnya pada anak tangga yang kedua, kemudian orang-orang datang kepadanya untuk membaiatnya. Dan Ali bin Abi Thalib membaiatnya pertama kali, namun ada pula yang mengatakan ia yang terakhir membaiat.

Adapun apa yang disebutkan oleh banyak sejarawan seperti Ibnu Jarir dan selainnya, dari jalur periwayatan orang-orang yang tidak dikenal, yang menyatakan bahwa Ali berkata kepada Abdul Rahman: "Engkau telah memperdayaku, dan engkau mengangkatnya hanyalah karena ia adalah iparmu agar ia bermusyawarah denganmu setiap hari dalam urusannya," serta bahwa Ali sempat ragu-ragu—yakni dalam berbaiat—hingga Abdul Rahman membacakan ayat:

﴿فَمَن نَّكَتَ فَإِنَّمَا يَنكُتُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيْهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

"Maka barangsiapa yang melanggar janji niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath: 10)

Serta berita-berita lain yang menyelisihi apa yang telah tsabit (tetap sahih) dalam kitab-kitab Shahih, maka berita-berita tersebut tertolak atas orang yang mengatakannya dan yang menukilnya.

Praduga yang selayaknya ditujukan kepada para sahabat adalah kebalikan dari apa yang diwahamkan (dikhayalkan) oleh banyak kaum Rafidhah dan para pendongeng bodoh yang tidak memiliki pembeda di sisi mereka antara berita yang sahih dan yang dhaif (lemah), antara yang lurus dan yang cacat, serta antara yang batil dan yang teguh.

Tambahan Mengenai Berita Baiat Utsman dari Shahih Al-Bukhari

Mereka—yakni para sahabat—berkata kepada Umar bin Khattab: "Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, angkatlah seorang khalifah!"

Umar berkata: "Aku tidak mendapati orang yang paling berhak atas urusan kekhalifahan ini melainkan kelompok orang ini—atau beberapa orang ini—yang saat Rasulullah wafat, beliau dalam keadaan rida kepada mereka." Maka beliau menyebutkan nama Ali, Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa'ad, dan Abdul Rahman. Beliau berkata: "Abdullah bin Umar akan menghadiri musyawarah kalian, tetapi ia tidak memiliki hak sedikit pun dalam urusan kekhalifahan ini"—sebagai bentuk penghibur baginya. "Jika jabatan kekhalifahan itu jatuh kepada Sa'ad, maka dialah orangnya. Namun jika tidak, maka siapa pun di antara kalian yang diangkat menjadi pemimpin, hendaklah meminta bantuan kepadanya—karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya dari jabatannya dahulu karena kelemahan atau pengkhianatan."

Umar berkata pula: "Aku berwasiat kepada khalifah setelahku agar memperhatikan hak-hak kaum Muhajirin yang pertama, hendaknya ia mengetahui hak mereka dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada kaum Ansar, yaitu orang-orang yang telah menempati negeri Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), hendaknya ia menerima orang yang berbuat baik dari kalangan mereka dan memaafkan orang yang berbuat salah dari kalangan mereka.

Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada penduduk kota-kota besar di wilayah Islam, karena mereka adalah benteng Islam, para pengumpul harta, dan yang membuat jengkel musuh. Hendaknya tidak diambil dari mereka melainkan harta yang lebih dari kebutuhan mereka berdasarkan keridaan mereka.

Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui, karena mereka adalah asal-usul bangsa Arab dan materi pokok Islam. Hendaknya diambil dari kelebihan harta milik mereka yang kaya, lalu dikembalikan kepada orang-orang miskin di antara mereka. Dan aku berwasiat kepadanya demi jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya agar ia memenuhi janji mereka, berperang di belakang mereka untuk melindungi mereka, serta tidak membebani mereka melainkan sesuai dengan batas kemampuan mereka."

Maka ketika Umar telah wafat, kami keluar membawa jenazahnya lalu kami berjalan kaki. Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada Aisyah dan berkata: "Umar bin Khattab meminta izin." Aisyah menjawab: "Masukkanlah ia." Maka jenazahnya dimasukkan lalu dimakamkan di sana bersama kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar).

Ketika selesai dari pemakamannya, kelompok orang tersebut berkumpul. Abdul Rahman berkata: "Serahkanlah urusan keputusan kalian kepada tiga orang di antara kalian."

Maka Az-Zubair berkata: "Aku telah menyerahkan urusanku kepada Ali." Thalhah berkata: "Aku telah menyerahkan urusanku kepada Utsman." Dan Sa'ad berkata: "Aku telah menyerahkan urusanku kepada Abdul Rahman bin Auf."

Lalu Abdul Rahman berkata: "Siapa di antara kalian berdua (Ali dan Utsman) yang bersedia mengundurkan diri dari urusan ini, maka kita akan menyerahkan urusan kepadanya. Allah dan Islam menjadi saksi baginya untuk benar-benar menilai siapa yang paling utama menurut dirinya sendiri?" Kedua syekh tersebut terdiam.

Abdul Rahman berkata lagi: "Apakah kalian bersedia menyerahkan urusan keputusan itu kepadaku, dan Allah menjadi saksiku bahwa aku tidak akan lalai untuk memilih orang yang paling utama di antara kalian?"

Keduanya menjawab: "Ya." Maka Abdul Rahman memegang tangan salah satu dari keduanya lalu berkata: "Engkau memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah dan keutamaan yang terdahulu dalam Islam sebagaimana yang telah engkau ketahui. Maka Allah menjadi saksimu, jika aku mengangkatmu sebagai pemimpin, engkau benar-benar harus berlaku adil, dan jika aku mengangkat Utsman sebagai pemimpin atasmu, engkau benar-benar harus mendengar dan patuh."

Kemudian beliau menyendiri bersama yang lainnya (Utsman) lalu mengatakan hal yang serupa seperti itu. Ketika beliau telah mengambil perjanjian kuat tersebut, beliau berkata: "Angkatlah tanganmu, wahai Utsman!" Maka Abdul Rahman membaiatnya, lalu Ali pun ikut membaiatnya, kemudian orang-orang yang berada di dalam rumah masuk dan ikut membaiatnya.

Tanggal Pembaiatannya

Para ulama ahli sejarah telah berbeda pendapat mengenai hari pelaksanaan baiat bagi Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Al-Waqidi meriwayatkan dari guru-gurunya bahwa beliau dibaiat pada hari Senin ketika tersisa satu malam dari bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah, dan beliau menyambut masa kekhalifahannya pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah. Pendapat ini dinilai sangat gharib (asing).

Al-Waqidi juga telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: "Utsman bin Affan dibaiat setelah berlalunya sepuluh hari dari bulan Muharam, yaitu tiga malam setelah terbunuhnya Umar." Pendapat ini jauh lebih gharib lagi daripada pendapat yang sebelumnya.

Sementara Saif bin Umar meriwayatkan dari Umar bin Syabbah, dari Amir Asy-Sya'bi, bahwasanya ia berkata: "Anggota syura telah bersepakat atas kekhalifahan Utsman setelah berlalunya tiga hari dari bulan Muharam tahun 24 Hijriah. Saat itu telah masuk waktu Ashar dan muazin dari Suhaib telah mengumandangkan azan. Orang-orang berkumpul di antara azan dan ikamah, lalu Utsman keluar dan memimpin mereka melaksanakan salat Ashar."

Beliau menambahkan tunjangan bagi masyarakat—yakni dalam pemberian hak-hak mereka—sebesar seratus bagian, dan para utusan dari berbagai kota besar pun berdatangan menemui beliau, dan beliaulah orang pertama yang melakukan hal tersebut.

Ibnu Katsir berkata: "Secara lahiriah, apa yang kami sebutkan dari rangkaian proses baiatnya menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum waktu zuhur. Tampaknya baiat baru benar-benar selesai setelah zuhur. Pada hari itu, Shuhaib memimpin salat zuhur di Masjid Nabawi. Sementara itu, salat pertama yang dipimpin oleh Khalifah Amirul Mukminin Utsman bin Affan bersama kaum muslimin adalah salat asar, sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Sya'bi dan ulama lainnya."

Khotbah Utsman saat Dibaiat

Khotbah pertama yang beliau sampaikan di hadapan kaum muslimin adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Saif bin Umar, dari Badr bin Utsman, dari pamannya, ia berkata: "Ketika para anggota syura membaiat Utsman, beliau keluar dalam keadaan yang sangat sedih, lalu mendatangi mimbar Nabi $\rho$ (Muhammad) dan berkhotbah di hadapan manusia. Beliau memuji Allah, menyanjung-Nya, mengucapkan selawat kepada Nabi, lalu berkata:

'Sesudah itu, sesungguhnya kalian berada di tempat persinggahan yang akan ditinggalkan, dan berada pada sisa umur kalian. Maka segeralah menjemput ajal kalian dengan kebaikan terbaik yang mampu kalian lakukan. Sungguh, waktu ajal bisa mendatangi kalian di pagi atau sore hari. Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini diliputi oleh tipuan. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan pula setan yang pandai menipu memperdayakan kalian tentang Allah.

Ambillah pelajaran dari orang-orang terdahulu, kemudian bersungguh-sungguhlah dan jangan lalai, karena ajal tidak akan pernah lalai dari kalian. Di manakah orang-orang yang mendewakan dunia beserta saudara-saudaranya, yang mengolahnya, memakmurkannya, dan menikmatinya dalam waktu yang lama? Bukankah dunia telah mencampakkan mereka?!'

'Lemparkanlah dunia ini ke tempat di mana Allah telah melemparkannya, dan carilah akhirat. Sebab, Allah telah membuat perumpamaan untuk dunia dengan sesuatu yang lebih baik.' Allah Ta'ala berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَا أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا * الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Artinya: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahfi: 45-46)

Perawi berkata: "Setelah itu orang-orang pun maju untuk membaiat beliau."

Ibnu Katsir berkata: "Khotbah ini disampaikan entah setelah salat asar pada hari itu, atau sebelum waktu zuhur ketika Abdurrahman bin Auf sedang duduk di atas mimbar, dan pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran."

Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).

Dahulu Abu Bakar jika berkhotbah, beliau berdiri di anak tangga yang berada di bawah anak tangga tempat Rasulullah $\rho$ biasa berdiri. Ketika Umar memegang pemerintahan, beliau turun satu anak tangga lagi di bawah anak tangga Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma. Namun, ketika Utsman memegang pemerintahan, beliau berkata: "Sesungguhnya jika begini terus, jaraknya akan semakin panjang." Maka beliau pun naik ke anak tangga tempat Rasulullah $\rho$ dahulu biasa berkhotbah.

Peringatan:

Mengenai cerita yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa ketika Utsman menyampaikan khotbah pertamanya beliau merasa gugup (kelu lidah) sehingga tidak tahu harus berkata apa, sampai-sampai beliau mengucapkan: "Wahai manusia, sesungguhnya permulaan dari sebuah kendaraan (tugas baru) itu sulit, dan jika aku panjang umur, insya Allah khotbah-khotbah berikutnya akan tersampaikan sebagaimana mestinya."

Kisah tersebut adalah sesuatu yang disebutkan oleh penulis kitab Al-'Iqd dan penulis lainnya yang sering menyebutkan kisah-kisah unik yang menarik. Akan tetapi, aku tidak melihat kisah ini memiliki jalur periwayatan (sanad) yang bisa membuat hati ini tenang untuk menerimanya.

Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).

Surat-Surat Beliau kepada Penduduk Wilayah Setelah Dibaiat:

Utsman bin Affan menulis surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah, para panglima perang, para imam salat, para bendahara baitulmal, serta masyarakat umum. Di dalam surat tersebut, beliau memerintahkan mereka untuk berbuat makruf (kebaikan) dan melarang dari perbuatan mungkar. Beliau juga mendorong mereka untuk senantiasa taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, serta mengajak mereka untuk selalu mengikuti sunah (ittiba') dan meninggalkan perkara baru yang diada-adakan dalam agama (bid'ah).


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur Tahap Ketiga

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain