Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah
Bab Kedua: Pengangkatannya sebagai Khalifah
Kisah Syura dan Kesepakatan untuk Membaiat Utsman
Umar radhiyallahu 'anhu telah menjadikan urusan kekhalifahan
setelahnya sebagai urusan syura (musyawarah) di antara enam orang. Mereka
adalah: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair
bin Al-Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdul Rahman bin Auf radhiyallahu
'anhum.
Beliau merasa keberatan untuk menetapkan kekhalifahan kepada
salah satu dari mereka secara langsung. Beliau berkata: "Aku tidak mau
menanggung urusan kalian, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Jika Allah
menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Dia akan menyatukan kalian di bawah
kepemimpinan orang terbaik di antara mereka, sebagaimana Dia telah menyatukan
kalian di bawah kepemimpinan orang terbaik di antara kalian setelah Nabi
kalian."
Di antara kesempurnaan sikap wara' (kehati-hatian) beliau,
beliau tidak memasukkan Said bin Zaid bin Amr bin Nufail ke dalam anggota syura
karena ia adalah sepupunya. Umar khawatir orang-orang akan mempertimbangkannya
lalu mengangkatnya sebagai khalifah hanya karena hubungan kekerabatan tersebut.
Oleh karena itu, beliau meninggalkannya—padahal ia termasuk salah satu dari
sepuluh sahabat yang dipersaksikan masuk surga. Bahkan, dalam riwayat
Al-Madaini dari guru-gurunya disebutkan bahwa Umar mengecualikannya di antara
mereka dan berkata: "Aku tidak memasukkannya ke dalam bagian mereka."
Umar berkata kepada anggota syura: "Abdullah—yaitu
putranya—boleh menghadiri pertemuan kalian, namun ia tidak memiliki hak sedikit
pun dalam urusan kekhalifahan." Maksudnya, ia menghadiri syura hanya untuk
memberikan nasihat, tetapi tidak boleh dipilih menjadi pemimpin.
Beliau juga berwasiat agar Suhaib bin Sinan Ar-Rumi memimpin
salat berjamaah bagi masyarakat selama tiga hari hingga musyawarah selesai, dan
agar anggota syura berkumpul sampai urusan ini diputuskan dengan matang.
Maka mereka berkumpul di dalam sebuah rumah untuk
bermusyawarah mengenai urusan mereka. Kemudian, urusan tersebut mengerucut
setelah tiga orang di antara mereka menyerahkan haknya kepada tiga orang yang
lain. Az-Zubair menyerahkan hak kepemimpinannya kepada Ali, Sa'ad menyerahkan
haknya kepada Abdul Rahman bin Auf, dan Thalhah menyerahkan haknya kepada
Utsman radhiyallahu 'anhu.
Lalu Abdul Rahman berkata kepada Ali dan Utsman: "Siapa
di antara kalian berdua yang bersedia mengundurkan diri dari urusan ini, maka
kita akan menyerahkan urusan keputusan kepadanya. Allah dan Islam menjadi saksi
baginya untuk benar-benar memilih orang yang paling utama di antara dua orang
yang tersisa ." Kedua syekh tersebut (Ali dan Utsman) terdiam. Maka Abdul
Rahman berkata: "Sesungguhnya aku melepaskan hakku dari urusan ini, dan
Allah serta Islam menjadi saksi bagiku bahwa aku akan bersungguh-sungguh untuk
memilih orang yang paling utama di antara kalian berdua."
Keduanya menjawab: "Ya!" Kemudian Abdul Rahman
berbicara kepada masing-masing dari keduanya mengenai keutamaan yang mereka
miliki, lalu mengambil janji dan sumpah setia: jika ia mengangkatnya maka ia
harus berlaku adil, dan jika orang lain yang diangkat menjadi pemimpin atasnya
maka ia harus mendengar dan patuh. Masing-masing dari keduanya menjawab:
"Ya!"
Setelah itu mereka pun berpisah. Abdul Rahman pun berusaha
keras mengurus hal tersebut selama tiga hari tiga malam. Beliau tidak
memejamkan matanya untuk tidur melainkan hanya sedikit saja, waktunya
dihabiskan untuk salat, berdoa, beristikharah, dan bertanya kepada orang-orang
yang memiliki pandangan bijak tentang mereka berdua. Hasilnya, beliau tidak
menemukan seorang pun yang menganggap ada orang lain yang setara dengan Utsman
bin Affan radhiyallahu 'anhu.
Ketika tiba malam yang paginya merupakan hari keempat sejak
wafatnya Umar bin Khattab, beliau mendatangi rumah anak saudarinya, Al-Miswar
bin Makhramah, lalu berkata: "Apakah kamu sedang tidur, wahai
Miswar?"
"Demi Allah, aku tidak memejamkan mataku untuk tidur
lama sejak tiga hari ini. Pergilah dan panggillah Ali serta Utsman
kepadaku!" Al-Miswar berkata: Aku bertanya, "Kepada siapa aku harus
memulai terlebih dahulu?"
Abdul Rahman menjawab: "Kepada siapa saja yang kamu
kehendaki." Al-Miswar berkata: Maka aku pergi menemui Ali dan berkata,
"Penuhilah panggilan pamanku." Ali bertanya, "Apakah ia
memerintahkanmu untuk memanggil seseorang bersamaku?"
Aku menjawab: "Ya!" Ali bertanya lagi:
"Siapa?" Aku menjawab: "Utsman bin Affan." Ali bertanya:
"Kepada siapa di antara kami ia menyuruhmu memulai?"
Aku menjawab: "Ia tidak memerintahkan hal itu kepadaku,
melainkan berkata 'panggillah siapa saja yang kamu kehendaki terlebih dahulu',
maka aku datang kepadamu." Al-Miswar melanjutkan: Maka Ali keluar
bersamaku. Ketika kami melewati rumah Utsman bin Affan, Ali duduk menunggu
hingga aku masuk dan mendapati Utsman sedang melakukan salat Witir menjelang
fajar. Utsman pun menanyakan hal yang sama persis seperti yang ditanyakan oleh
Ali. Kemudian ia keluar, lalu aku masuk bersama keduanya menemui pamanku yang
sedang berdiri mengerjakan salat.
Ketika selesai salat, Abdul Rahman menghadap kepada Ali dan
Utsman, lalu berkata: "Sesungguhnya aku telah bertanya kepada masyarakat
mengenai kalian berdua, dan aku tidak mendapati seorang pun yang menganggap ada
orang lain yang setara dengan kalian berdua ." Kemudian beliau mengambil
janji kembali dari masing-masing keduanya: jika ia memimpin maka ia harus
berlaku adil, dan jika orang lain yang memimpin atasnya maka ia harus mendengar
dan patuh.
Setelah itu, beliau keluar bersama keduanya menuju masjid.
Saat itu Abdul Rahman telah mengenakan sorban yang dahulu dipakaikan oleh
Rasulullah ﷺ
kepadanya, serta menyandang sebilah pedang. Beliau mengutus orang untuk
memanggil para pemuka masyarakat dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta
diserukan kepada masyarakat umum: "Ash-Shalatu Jami'ah" (Mari
salat berjamaah). Maka masjid pun penuh sesak hingga dipadati oleh manusia, dan
saf-saf menjadi sangat rapat sampai-sampai tidak tersisa tempat duduk bagi
Utsman melainkan di bagian paling belakang dari barisan manusia—dan beliau
adalah seorang pria yang sangat pemalu radhiyallahu 'anhu.
Kemudian Abdul Rahman bin Auf naik ke atas mimbar Rasulullah
ﷺ,
lalu berdiri dalam waktu yang lama dan memanjatkan doa yang panjang yang tidak
terdengar oleh orang-orang. Setelah itu beliau berbicara dan berkata:
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah bertanya kepada kalian
baik secara rahasia maupun terang-terangan mengenai harapan kalian, dan aku
tidak mendapati kalian menyetarakan siapa pun dengan salah satu dari kedua pria
ini: adakalanya Ali, atau adakalanya Utsman. Maka mendekatlah kepadaku, wahai
Ali!" Maka Ali pun berdiri mendekatinya lalu berdiri di bawah mimbar.
Maka Abdul Rahman memegang tangan Ali dan berkata:
"Apakah engkau mau membaiatku di atas Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya, serta
perbuatan Abu Bakar dan Umar?"
Ali menjawab: "Ya Allah tidak, tetapi di atas batas
kemampuanku dan kekuatanku untuk menjalankan hal itu." Al-Miswar berkata:
Maka Abdul Rahman melepaskan tangannya dan berkata: "Mendekatlah kepadaku,
wahai Utsman!" Lalu beliau memegang tangan Utsman dan berkata:
"Apakah engkau mau membaiatku di atas Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya, serta
perbuatan Abu Bakar dan Umar?"
Utsman menjawab: "Ya Allah, benar." Al-Miswar
berkata: Maka Abdul Rahman mengangkat kepalanya ke arah atap masjid, sementara
tangannya masih berada di tangan Utsman, lalu berkata: "Ya Allah,
dengarlah dan saksikanlah! Ya Allah, dengarlah dan saksikanlah! Ya Allah,
dengarlah dan saksikanlah! Ya Allah, sesungguhnya aku telah melepaskan apa yang
ada di leherku dari urusan ini (tanggung jawab memilih) dan meletakkannya di
leher Utsman."
Al-Miswar berkata: Maka manusia saling berdesakan untuk
membaiat Utsman hingga mereka mengerumuninya di bawah mimbar. Beliau
melanjutkan: Lalu Abdul Rahman duduk di tempat duduk Nabi ﷺ, dan mendudukkan
Utsman di bawahnya pada anak tangga yang kedua, kemudian orang-orang datang
kepadanya untuk membaiatnya. Dan Ali bin Abi Thalib membaiatnya pertama kali,
namun ada pula yang mengatakan ia yang terakhir membaiat.
Adapun apa yang disebutkan oleh banyak sejarawan seperti
Ibnu Jarir dan selainnya, dari jalur periwayatan orang-orang yang tidak
dikenal, yang menyatakan bahwa Ali berkata kepada Abdul Rahman: "Engkau
telah memperdayaku, dan engkau mengangkatnya hanyalah karena ia adalah iparmu
agar ia bermusyawarah denganmu setiap hari dalam urusannya," serta bahwa
Ali sempat ragu-ragu—yakni dalam berbaiat—hingga Abdul Rahman membacakan ayat:
﴿فَمَن
نَّكَتَ فَإِنَّمَا يَنكُتُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ
عَلَيْهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
"Maka barangsiapa yang melanggar janji niscaya
akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa
menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang
besar." (QS. Al-Fath: 10)
Serta berita-berita lain yang menyelisihi apa yang telah
tsabit (tetap sahih) dalam kitab-kitab Shahih, maka berita-berita tersebut
tertolak atas orang yang mengatakannya dan yang menukilnya.
Praduga yang selayaknya ditujukan kepada para sahabat adalah
kebalikan dari apa yang diwahamkan (dikhayalkan) oleh banyak kaum Rafidhah dan
para pendongeng bodoh yang tidak memiliki pembeda di sisi mereka antara berita
yang sahih dan yang dhaif (lemah), antara yang lurus dan yang cacat, serta
antara yang batil dan yang teguh.
Tambahan Mengenai Berita Baiat Utsman dari Shahih Al-Bukhari
Mereka—yakni para sahabat—berkata kepada Umar bin Khattab:
"Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, angkatlah seorang khalifah!"
Umar berkata: "Aku tidak mendapati orang yang paling
berhak atas urusan kekhalifahan ini melainkan kelompok orang ini—atau beberapa
orang ini—yang saat Rasulullah ﷺ wafat, beliau dalam keadaan rida kepada mereka." Maka
beliau menyebutkan nama Ali, Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa'ad, dan Abdul
Rahman. Beliau berkata: "Abdullah bin Umar akan menghadiri musyawarah
kalian, tetapi ia tidak memiliki hak sedikit pun dalam urusan kekhalifahan
ini"—sebagai bentuk penghibur baginya. "Jika jabatan kekhalifahan itu
jatuh kepada Sa'ad, maka dialah orangnya. Namun jika tidak, maka siapa pun di
antara kalian yang diangkat menjadi pemimpin, hendaklah meminta bantuan
kepadanya—karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya dari jabatannya dahulu
karena kelemahan atau pengkhianatan."
Umar berkata pula: "Aku berwasiat kepada khalifah
setelahku agar memperhatikan hak-hak kaum Muhajirin yang pertama, hendaknya ia
mengetahui hak mereka dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat
kepadanya agar berbuat baik kepada kaum Ansar, yaitu orang-orang yang telah
menempati negeri Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum
Muhajirin), hendaknya ia menerima orang yang berbuat baik dari kalangan mereka
dan memaafkan orang yang berbuat salah dari kalangan mereka.
Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada penduduk
kota-kota besar di wilayah Islam, karena mereka adalah benteng Islam, para
pengumpul harta, dan yang membuat jengkel musuh. Hendaknya tidak diambil dari
mereka melainkan harta yang lebih dari kebutuhan mereka berdasarkan keridaan
mereka.
Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada orang-orang
Arab Badui, karena mereka adalah asal-usul bangsa Arab dan materi pokok Islam. Hendaknya
diambil dari kelebihan harta milik mereka yang kaya, lalu dikembalikan kepada
orang-orang miskin di antara mereka. Dan aku berwasiat kepadanya demi jaminan
Allah dan jaminan Rasul-Nya agar ia memenuhi janji mereka, berperang di
belakang mereka untuk melindungi mereka, serta tidak membebani mereka melainkan
sesuai dengan batas kemampuan mereka."
Maka ketika Umar telah wafat, kami keluar membawa jenazahnya
lalu kami berjalan kaki. Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada Aisyah dan
berkata: "Umar bin Khattab meminta izin." Aisyah menjawab:
"Masukkanlah ia." Maka jenazahnya dimasukkan lalu dimakamkan di sana
bersama kedua sahabatnya (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar).
Ketika selesai dari pemakamannya, kelompok orang tersebut
berkumpul. Abdul Rahman berkata: "Serahkanlah urusan keputusan kalian
kepada tiga orang di antara kalian."
Maka Az-Zubair berkata: "Aku telah menyerahkan urusanku
kepada Ali." Thalhah berkata: "Aku telah menyerahkan urusanku kepada
Utsman." Dan Sa'ad berkata: "Aku telah menyerahkan urusanku kepada
Abdul Rahman bin Auf."
Lalu Abdul Rahman berkata: "Siapa di antara kalian
berdua (Ali dan Utsman) yang bersedia mengundurkan diri dari urusan ini, maka
kita akan menyerahkan urusan kepadanya. Allah dan Islam menjadi saksi baginya
untuk benar-benar menilai siapa yang paling utama menurut dirinya
sendiri?" Kedua syekh tersebut terdiam.
Abdul Rahman berkata lagi: "Apakah kalian bersedia
menyerahkan urusan keputusan itu kepadaku, dan Allah menjadi saksiku bahwa aku
tidak akan lalai untuk memilih orang yang paling utama di antara kalian?"
Keduanya menjawab: "Ya." Maka Abdul Rahman
memegang tangan salah satu dari keduanya lalu berkata: "Engkau memiliki
hubungan kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ dan keutamaan yang terdahulu dalam Islam
sebagaimana yang telah engkau ketahui. Maka Allah menjadi saksimu, jika aku
mengangkatmu sebagai pemimpin, engkau benar-benar harus berlaku adil, dan jika
aku mengangkat Utsman sebagai pemimpin atasmu, engkau benar-benar harus
mendengar dan patuh."
Kemudian beliau menyendiri bersama yang lainnya (Utsman)
lalu mengatakan hal yang serupa seperti itu. Ketika beliau telah mengambil
perjanjian kuat tersebut, beliau berkata: "Angkatlah tanganmu, wahai
Utsman!" Maka Abdul Rahman membaiatnya, lalu Ali pun ikut membaiatnya,
kemudian orang-orang yang berada di dalam rumah masuk dan ikut membaiatnya.
Tanggal Pembaiatannya
Para ulama ahli sejarah telah berbeda pendapat mengenai hari
pelaksanaan baiat bagi Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Al-Waqidi
meriwayatkan dari guru-gurunya bahwa beliau dibaiat pada hari Senin ketika
tersisa satu malam dari bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah, dan beliau menyambut
masa kekhalifahannya pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah. Pendapat ini dinilai
sangat gharib (asing).
Al-Waqidi juga telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari
Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata: "Utsman bin Affan dibaiat setelah
berlalunya sepuluh hari dari bulan Muharam, yaitu tiga malam setelah
terbunuhnya Umar." Pendapat ini jauh lebih gharib lagi daripada pendapat
yang sebelumnya.
Sementara Saif bin Umar meriwayatkan dari Umar bin Syabbah,
dari Amir Asy-Sya'bi, bahwasanya ia berkata: "Anggota syura telah
bersepakat atas kekhalifahan Utsman setelah berlalunya tiga hari dari bulan
Muharam tahun 24 Hijriah. Saat itu telah masuk waktu Ashar dan muazin dari
Suhaib telah mengumandangkan azan. Orang-orang berkumpul di antara azan dan
ikamah, lalu Utsman keluar dan memimpin mereka melaksanakan salat Ashar."
Beliau menambahkan tunjangan bagi masyarakat—yakni dalam
pemberian hak-hak mereka—sebesar seratus bagian, dan para utusan dari berbagai
kota besar pun berdatangan menemui beliau, dan beliaulah orang pertama yang
melakukan hal tersebut.
Ibnu Katsir berkata: "Secara lahiriah, apa yang kami
sebutkan dari rangkaian proses baiatnya menunjukkan bahwa peristiwa tersebut
terjadi sebelum waktu zuhur. Tampaknya baiat baru benar-benar selesai setelah
zuhur. Pada hari itu, Shuhaib memimpin salat zuhur di Masjid Nabawi. Sementara
itu, salat pertama yang dipimpin oleh Khalifah Amirul Mukminin Utsman bin Affan
bersama kaum muslimin adalah salat asar, sebagaimana yang disebutkan oleh
Asy-Sya'bi dan ulama lainnya."
Khotbah Utsman saat Dibaiat
Khotbah pertama yang beliau sampaikan di hadapan kaum
muslimin adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Saif bin Umar, dari Badr bin
Utsman, dari pamannya, ia berkata: "Ketika para anggota syura membaiat
Utsman, beliau keluar dalam keadaan yang sangat sedih, lalu mendatangi mimbar
Nabi $\rho$ (Muhammad) dan berkhotbah di hadapan manusia. Beliau memuji Allah,
menyanjung-Nya, mengucapkan selawat kepada Nabi, lalu berkata:
'Sesudah itu, sesungguhnya kalian berada di tempat
persinggahan yang akan ditinggalkan, dan berada pada sisa umur kalian. Maka
segeralah menjemput ajal kalian dengan kebaikan terbaik yang mampu kalian
lakukan. Sungguh, waktu ajal bisa mendatangi kalian di pagi atau sore hari.
Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini diliputi oleh tipuan. Maka janganlah
sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan pula setan yang
pandai menipu memperdayakan kalian tentang Allah.
Ambillah pelajaran dari orang-orang terdahulu, kemudian
bersungguh-sungguhlah dan jangan lalai, karena ajal tidak akan pernah lalai
dari kalian. Di manakah orang-orang yang mendewakan dunia beserta
saudara-saudaranya, yang mengolahnya, memakmurkannya, dan menikmatinya dalam
waktu yang lama? Bukankah dunia telah mencampakkan mereka?!'
'Lemparkanlah dunia ini ke tempat di mana Allah telah
melemparkannya, dan carilah akhirat. Sebab, Allah telah membuat perumpamaan
untuk dunia dengan sesuatu yang lebih baik.' Allah Ta'ala berfirman:
وَاضْرِبْ
لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَا أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ
فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا * الْمَالُ وَالْبَنُونَ
زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ
رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Artinya: "Dan berilah perumpamaan kepada
mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air (hujan) yang Kami turunkan dari
langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian
tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan
kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."
(QS. Al-Kahfi: 45-46)
Perawi berkata: "Setelah itu orang-orang pun maju untuk
membaiat beliau."
Ibnu Katsir berkata: "Khotbah ini disampaikan entah
setelah salat asar pada hari itu, atau sebelum waktu zuhur ketika Abdurrahman
bin Auf sedang duduk di atas mimbar, dan pendapat inilah yang lebih mendekati
kebenaran."
Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).
Dahulu Abu Bakar jika berkhotbah, beliau berdiri di anak
tangga yang berada di bawah anak tangga tempat Rasulullah $\rho$ biasa berdiri.
Ketika Umar memegang pemerintahan, beliau turun satu anak tangga lagi di bawah
anak tangga Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma. Namun, ketika Utsman
memegang pemerintahan, beliau berkata: "Sesungguhnya jika begini terus,
jaraknya akan semakin panjang." Maka beliau pun naik ke anak tangga tempat
Rasulullah $\rho$ dahulu biasa berkhotbah.
Peringatan:
Mengenai cerita yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa
ketika Utsman menyampaikan khotbah pertamanya beliau merasa gugup (kelu lidah)
sehingga tidak tahu harus berkata apa, sampai-sampai beliau mengucapkan: "Wahai
manusia, sesungguhnya permulaan dari sebuah kendaraan (tugas baru) itu sulit,
dan jika aku panjang umur, insya Allah khotbah-khotbah berikutnya akan
tersampaikan sebagaimana mestinya."
Kisah tersebut adalah sesuatu yang disebutkan oleh penulis
kitab Al-'Iqd dan penulis lainnya yang sering menyebutkan kisah-kisah
unik yang menarik. Akan tetapi, aku tidak melihat kisah ini memiliki jalur
periwayatan (sanad) yang bisa membuat hati ini tenang untuk menerimanya.
Wallahu a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).
Surat-Surat Beliau kepada Penduduk Wilayah Setelah Dibaiat:
Utsman bin Affan menulis surat kepada para gubernurnya di
berbagai wilayah, para panglima perang, para imam salat, para bendahara
baitulmal, serta masyarakat umum. Di dalam surat tersebut, beliau memerintahkan
mereka untuk berbuat makruf (kebaikan) dan melarang dari perbuatan mungkar.
Beliau juga mendorong mereka untuk senantiasa taat kepada Allah dan taat kepada
Rasul-Nya, serta mengajak mereka untuk selalu mengikuti sunah (ittiba') dan
meninggalkan perkara baru yang diada-adakan dalam agama (bid'ah).
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar