Penaklukan-Penaklukan di Zaman Kekhalifahan Ustman bin Affan R.A
Pertama: Penaklukan-Penaklukan di Wilayah Timur
Ekspedisi Militer ke Azerbaijan dan Armenia
Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 24 Hijriah, Al-Walid bin
Uqbah memimpin peperangan ke Azerbaijan dan Armenia ketika penduduk di sana
menolak membayar apa yang sebelumnya telah mereka sepakati dalam perjanjian
damai dengan kaum muslimin pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Ini adalah
riwayat dari Abu Mikhnaf.
Sedangkan dalam riwayat selainnya disebutkan bahwa peristiwa
tersebut terjadi pada tahun 26 Hijriah. Al-Walid bin Uqbah bergerak membawa
pasukan Kufah menuju Azerbaijan dan Armenia ketika mereka melanggar perjanjian.
Pasukan muslimin berhasil menguasai wilayah mereka, mendapatkan rampasan perang
(ganimah), menawan musuh, serta memperoleh harta yang sangat banyak.
Ketika penduduk setempat menyadari ambang kehancuran mereka,
akhirnya mereka mengajak berdamai sebagaimana isi perjanjian damai yang pernah
mereka sepakati bersama Hudzaifah bin Al-Yaman pada tahun 22 Hijriah, yaitu
membayar delapan ratus ribu dirham setiap tahunnya. Al-Walid menerima
pembayaran jizyah untuk tahun tersebut, kemudian kembali ke Kufah dalam keadaan
selamat dan membawa banyak rampasan perang.
Penaklukan Kota Rayy untuk Kedua Kalinya pada Tahun 24 Hijriah
Pada tahun ini, Abu Musa Al-Asy'ari berhasil menaklukkan
kembali kota Rayy setelah penduduknya melanggar perjanjian damai yang
sebelumnya telah mereka sepakati bersama Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu
'anhu.
Penaklukan Istakhr untuk Kedua Kalinya pada Tahun 27 Hijriah
Al-Waqidi mengatakan: Pada tahun ini, wilayah Istakhr
berhasil ditaklukkan untuk kedua kalinya di bawah komando Utsman bin Abi
Al-Ash.
Penaklukan Tabaristan pada Tahun 30 Hijriah
Pada tahun ini, Said bin al-Ash berhasil menaklukkan
Tabaristan menurut pendapat Al-Waqidi, Abu Ma'syar, dan Al-Madaini. Al-Madaini
mengatakan bahwa Said bin al-Ash adalah orang pertama yang memimpin peperangan
ke sana.
Sementara itu, Saif mengklaim bahwa penduduk setempat
sebenarnya telah membuat perjanjian damai dengan Suwaid bin Muqarrin sebelum
masa itu, dengan kesepakatan bahwa kaum muslimin tidak akan menyerang mereka
imbalan sejumlah harta yang diserahkan oleh penguasa mereka (Ishbahbadh), dan
Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Al-Madaini menceritakan: Said bin al-Ash berangkat memimpin
pasukan yang di dalamnya turut serta Al-Hasan, Al-Husain, empat orang sahabat
yang bernama Abdullah (Al-Abadilah Al-Arba'ah), Hudzaifah bin Al-Yaman, serta
sejumlah besar sahabat Nabi lainnya. Beliau berjalan melewati berbagai negeri
yang bersedia berdamai dengan menyerahkan harta yang banyak, hingga akhirnya
beliau tiba di sebuah negeri di kawasan Jurjan.
Penduduk di sana memberikan perlawanan sengit hingga pasukan
muslimin harus melaksanakan shalat Khauf (shalat dalam kondisi takut/perang).
Said kemudian bertanya kepada Hudzaifah: "Bagaimana cara Rasulullah ﷺ
melaksanakan shalat Khauf?". Hudzaifah pun memberitahukannya, dan Said
memimpin shalat persis seperti yang dijelaskan. Setelah itu, penduduk benteng
tersebut meminta jaminan keamanan. Said memberikan jaminan dengan syarat
"tidak akan membunuh satu orang lelaki pun di antara mereka". Namun
setelah benteng dibuka, pasukan muslimin mengeksekusi mereka semua dan hanya
menyisakan satu orang lelaki saja, lalu menguasai seluruh harta yang ada di
dalam benteng tersebut.
Terbunuhnya Kisra Yazdajird, Raja Persia, pada Tahun 31 Hijriah
Ibnu Ishaq mengatakan: Yazdajird melarikan diri dari Kirman
bersama sekelompok kecil pengikutnya menuju Marwa. Ia meminta bantuan harta
kepada sebagian penduduk di sana, namun mereka menolaknya karena
mengkhawatirkan keselamatan diri mereka sendiri. Penduduk tersebut kemudian
mengirim utusan kepada bangsa Turki untuk menghasut mereka agar menyerang
Yazdajird. Bangsa Turki pun datang dan menghabisi para pengikutnya, sementara
Yazdajird berhasil lolos hingga tiba di rumah seorang lelaki pemahat batu gilingan
di tepi sungai Al-Murghab. Ia menumpang bermalam di sana, namun ketika ia
tertidur, pemilik rumah tersebut membunuhnya.
Al-Madaini mengatakan: Ketika Yazdajird melarikan diri
setelah pengikutnya terbunuh, ia berjalan kaki dalam keadaan masih mengenakan
mahkota, sabuk kebesaran, dan pedangnya. Ia sampai di rumah lelaki pemahat batu
gilingan tersebut dan duduk di dekatnya. Si pemilik rumah memanfaatkan
kelengahannya, lalu membunuhnya dan merampas barang-barang berharga yang
dipakainya. Ketika bangsa Turki datang mencarinya, mereka mendapati Yazdajird
telah tewas dan hartanya telah diambil. Mereka pun mengeksekusi lelaki tersebut
beserta seluruh anggota keluarganya, mengambil harta bawaan Kisra, lalu
memasukkan jasad Kisra ke dalam sebuah peti mati untuk dibawa ke Istakhr.
Masa kekuasaan Yazdajird berlangsung selama dua puluh tahun;
empat tahun di antaranya dijalani dalam kedamaian, sedangkan sisa tahun lainnya
dihabiskan dengan berpindah-pindah tempat pelarian dari satu negeri ke negeri
lain karena takut kepada Islam dan pemeluknya. Ia merupakan raja terakhir dari
dinasti Persia di dunia secara mutlak.
Rasulullah ﷺ
pernah bersabda:
"Apabila Kaisar (Raja Romawi) telah hancur, maka
tidak ada Kaisar lagi setelahnya. Dan apabila Kisra (Raja Persia) telah hancur,
maka tidak ada Kisra lagi setelahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, sungguh simpanan kekayaan mereka berdua benar-benar akan
dinafkahkan di jalan Allah."
Terdapat ketetapan di dalam hadits shahih bahwa ketika surat
dari Nabi ﷺ
tiba, Kisra merobek-robek surat tersebut. Maka Nabi ﷺ mendoakan keburukan untuknya agar
kerajaannya dirobek-robek hingga hancur sehancur-hancurnya, dan perkara
tersebut benar-benar terjadi nyata.
Penaklukan-Penaklukan Ibnu Amir pada Tahun 31 Hijriah
Pada tahun ini, Abdullah bin Amir berhasil melakukan banyak
penaklukan di wilayah-wilayah yang penduduknya sempat membatalkan perjanjian
damai mereka. Di antara wilayah tersebut ada yang ditaklukkan secara paksa
(anwatan) dan ada pula yang ditaklukkan melalui jalur damai (shulhan).
Di antara daftar kota yang memilih berdamai adalah: Marwa,
dengan kesepakatan membayar dua juta dua ratus ribu (ada yang menyebutkan enam
juta dua ratus ribu) dirham, kota Thus, Abar syahar, Biyward, serta Nasa.
Beliau terus bergerak maju hingga berhasil mencapai wilayah Sarakhs.
Peperangan di Al-Bab dan Balanjar pada Tahun 32 Hijriah
Pada tahun ini, Said bin al-Ash menugaskan Salman bin
Rabi'ah Al-Bahili untuk memimpin sepasukan tentara dan memerintahkannya untuk
menyerang wilayah Al-Bab. Beliau juga menulis surat kepada Abdurrahman bin
Rabi'ah—wakil pertahanan di kawasan tersebut—untuk membantunya.
Salman bergerak hingga mencapai wilayah Balanjar, lalu
mereka mengepung kota tersebut serta memasang manjanik (alat pelempar batu
besar) dan arradah (alat pelempar batu ukuran lebih kecil). Kemudian, penduduk
Balanjar keluar menyerang dengan dibantu oleh bangsa Turki, sehingga terjadilah
pertempuran yang sangat sengit.
Awalnya, bangsa Turki sangat segan dan takut bertempur
melawan kaum muslimin karena mereka mengira bahwa pasukan muslimin tidak bisa
mati. Namun pada hari itu, kedua belah pihak saling berhadapan dalam
pertempuran hebat. Abdurrahman bin Rabi'ah—yang bergelar Dzu An-Nur—gugur dalam
pertempuran tersebut, dan pasukan muslimin mengalami kekalahan hingga terpecah
menjadi dua kelompok. Satu kelompok mundur ke arah negeri Khazar, sedangkan
kelompok lainnya mengambil jalur ke arah wilayah Jilan dan Jurjan; di dalam
kelompok ini terdapat Abu Hurairah dan Salman Al-Farisi.
Bangsa Turki mengambil jasad Abdurrahman bin Rabi'ah—yang
merupakan salah seorang pemuka dan pahlawan pemberani kaum muslimin—lalu
memakamkannya di tempat mereka, bahkan mereka meminta hujan di sisi makamnya
sampai hari ini. Ketika Abdurrahman bin Rabi'ah gugur, Said bin al-Ash
mengangkat saudaranya, Salman bin Rabi'ah, untuk memimpin front pertahanan
tersebut.
Utsman juga mengirimkan bantuan pasukan dari penduduk Syam
yang dipimpin oleh Habib bin Maslamah. Namun, Habib dan Salman kemudian
berselisih mengenai siapa yang paling berhak memegang komando tertinggi hingga
terjadi perdebatan. Peristiwa ini menjadi awal mula perselisihan pertama yang
terjadi antara penduduk Kufah (pasukan Irak) dan penduduk Syam.
Penaklukan-Penaklukan Ibnu Amir pada Tahun 32 Hijriah
Pada tahun ini, Ibnu Amir berhasil menaklukkan wilayah Marwa
Ar-Rudz, Ath-Thaliqan, Al-Fariyab, Al-Juzajan, dan Thukharistan.
Mengenai Marwa Ar-Rudz, Ibnu Amir mengutus Al-Ahnaf bin Qais
ke sana untuk mengepungnya. Penduduknya keluar menemui Al-Ahnaf untuk
bertempur, namun Al-Ahnaf berhasil memukul mundur mereka hingga memaksa mereka
berlindung di balik benteng mereka. Akhirnya, mereka mengajak berdamai dengan
menyerahkan harta yang banyak serta bersedia ditarik pajak kharaj atas tanah
rakyat. Perjanjian tersebut mengecualikan tanah yang dahulu diberikan oleh
Kisra kepada ayah dari Al-Marzuban (penguasa Marwa). Al-Ahnaf menyepakati
perdamaian tersebut dan menuliskan surat perjanjian damai untuk mereka.
Setelah itu, Al-Ahnaf mengutus Al-Aqra' bin Habis ke wilayah
Al-Juzajan, dan beliau berhasil menaklukkannya setelah melalui pertempuran
sengit yang menggugurkan banyak pahlawan pemberani kaum muslimin. Setelah kaum
muslimin diberikan kemenangan, Abu Katsir An-Nahsyali menggubah sebuah syair
yang panjang mengenai peristiwa tersebut, di antaranya berbunyi:
Semoga siraman awan hujan tercurah deras saat ia datang
mendatangi tempat-tempat gugurnya para pemuda di Juzajan
Hingga ke dua istana dari wilayah Khuth, di mana Al-Aqra'
(bersama pasukannya) telah membinasakan musuh-musuh di sana
Kemudian Al-Ahnaf bergerak dari Marwa Ar-Rudz menuju Balkh,
lalu mengepung penduduknya sampai mereka bersedia berdamai dengan membayar
empat ratus ribu dirham. Beliau menunjuk anak pamannya, Asaid bin
Al-Mutasyamis, untuk mengurus penagihan harta tersebut.
Setelah itu, beliau bersiap melanjutkan perjalanan untuk
berjihad, namun musim dingin tiba secara mendadak. Beliau pun bertanya kepada
para sahabatnya: "Apa yang kalian inginkan?". Mereka menjawab dengan
mengutip perkataan Amr bin Ma'di Karib:
"Jika engkau tidak sanggup melakukan sesuatu, maka
tinggalkanlah ia dan beralihlah kepada perkara yang sanggup engkau
lakukan."
Mendengar hal itu, Al-Ahnaf memerintahkan pasukan untuk
kembali ke Balkh dan menetap di sana selama musim dingin, kemudian barulah
beliau kembali menemui Ibnu Amir di Naisabur.
Kekalahan Qarin di Khorasan
Ketika Ibnu Amir kembali dari medan perang, ia menunjuk Qais
bin al-Haitsam sebagai wakilnya untuk memimpin wilayah Khorasan. Tiba-tiba,
seorang panglima bernama Qarin datang menyerang membawa pasukan gabungan bangsa
Turki sebanyak empat puluh ribu personel.
Serangan tersebut dihadapi oleh Abdullah bin Khazim
as-Sulami yang hanya membawa empat ribu pasukan muslim. Beliau membagi
pasukannya dengan membentuk pasukan barisan depan (pionir) sebanyak enam ratus
personel, lalu memerintahkan setiap orang di barisan depan tersebut untuk
memasang obor api di ujung tombak mereka.
Pasukan muslimin kemudian bergerak mendekati musuh di tengah
malam dan melakukan serangan fajar (serbuan mendadak). Pasukan musuh terkejut
dan langsung bangkit melawan. Ketika perhatian pasukan musuh tersita dan sibuk
bertempur melawan pasukan barisan depan yang membawa obor tersebut, Abdullah
bin Khazim beserta sisa pasukan muslim lainnya datang mengepung mereka dari
berbagai arah.
Akibatnya, pasukan musyrik kocar-kacir melarikan diri, dan
pasukan muslim mengejar mereka seraya menumbangkan siapa saja yang bisa
dijangkau. Qarin tewas terbunuh di antara korban lainnya. Kaum muslimin
berhasil menawan banyak musuh serta memperoleh harta rampasan yang sangat
melimpah.
Setelah itu, Abdullah bin Khazim mengirimkan surat kabar
kemenangan ini kepada Ibnu Amir. Ibnu Amir merasa puas atas kinerjanya dan
meresmikan posisinya sebagai gubernur Khorasan. Sebelumnya, Abdullah sempat
menggunakan siasat cerdik untuk menggeser gubernur terdahulu, Qais bin
al-Haitsam, agar keluar dari Khorasan, lalu ia sendiri yang memegang kendali
perang melawan Qarin. Ketika ia berhasil mengalahkan Qarin dan menguasai markas
militernya, Ibnu Amir meridhai tindakannya dan menetapkannya sebagai pemimpin
wilayah Khorasan.
Kedua: Penaklukan-Penaklukan di Wilayah Barat
Penaklukan Afrika pada Tahun 27 Hijriah
Pada tahun ini, wilayah Afrika berhasil ditaklukkan di bawah
komando Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh. Kisahnya, Utsman bin Affan
memerintahkannya untuk menyerang Afrika. Jika mereka berhasil menaklukkannya,
maka Abdullah akan mendapatkan seperlima dari bagian seperlima harta rampasan
perang (khumus al-khumus) sebagai hadiah tambahan atas jasanya.
Abdullah bin Sa'ad kemudian bergerak membawa pasukannya dari
Mesir hingga berhasil menembus wilayah Afrika (kawasan Tunisia dan sekitarnya
saat ini). Di sana, ia menghadapi penguasa setempat bernama Jurjir (Gregorius)
yang memimpin pasukan Romawi dan Berber dalam jumlah yang sangat besar,
mencapai seratus dua puluh ribu personel (ada yang menyebutkan dua ratus ribu
personel).
Pasukan musuh mengepung kaum muslimin dari segala penjuru,
sehingga kondisi pertempuran menjadi sangat genting bagi pasukan Islam.
Mengetahui situasi sulit tersebut, Utsman bin Affan mengirimkan pasukan bantuan
dari Madinah yang dipimpin oleh Abdullah bin az-Zubair.
Ketika Abdullah bin az-Zubair tiba di lokasi, beliau melihat
bahwa Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh jarang keluar dari tenda komandonya
karena merasa sangat tertekan dengan jumlah pasukan musuh yang begitu besar.
Ibnu az-Zubair kemudian menyarankan sebuah strategi: "Sesungguhnya jumlah
pasukan mereka sangat besar, sedangkan pasukan kita sedikit. Cara terbaik
adalah kita memilih sekelompok prajurit pilihan dari pasukan kita untuk
bersiap-siap di dalam tenda, sementara sisa pasukan muslim lainnya tetap
bertempur melawan musuh seperti biasa dari pagi hingga siang hari. Ketika waktu
Zuhur tiba dan kedua belah pihak sudah merasa lelah serta mulai mundur ke
perkemahan masing-masing, barulah pasukan pilihan yang masih segar di dalam
tenda tadi keluar menyerbu langsung ke arah markas komando Jurjir secara
mendadak. Dengan begitu, kita bisa menghabisinya dan memecah konsentrasi
pasukannya."
Abdullah bin Sa'ad menyetujui strategi tersebut. Keesokan
harinya, rencana itu dijalankan dengan matang. Ketika pasukan musuh sudah mulai
kelelahan di siang hari dan bersiap untuk beristirahat, pasukan pilihan muslim
keluar menyerbu dengan cepat. Abdullah bin az-Zubair berhasil menerobos barisan
pengawal dan membunuh Jurjir secara langsung, serta menawan anak perempuannya.
Seketika itu juga pasukan musuh panik, moral bertempur
mereka runtuh, dan mereka melarikan diri bercerai-berai. Pasukan muslim
mengejar mereka, menumbangkan banyak korban, menawan yang tersisa, serta
berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang luar biasa banyak, hingga jatah
bagian untuk setiap prajurit berkuda mencapai tiga ribu dinar, sedangkan untuk
prajurit pejalan kaki mendapat seribu dinar.
Penaklukan Jazirah Siprus pada Tahun 28 Hijriah
Pada tahun ini, wilayah Siprus berhasil ditaklukkan.
Penaklukan ini dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sufyan yang bergerak berlayar
membawa armada pasukan muslim dalam jumlah yang besar.
Turut serta dalam pasukan tersebut sahabat senior Ubadah bin
az-Shamit beserta istrinya, Ummu Haram binti Milhan. Ummu Haram adalah wanita
yang dahulu Rasulullah ﷺ
pernah tidur siang di rumahnya, lalu beliau terbangun dalam keadaan tersenyum.
Ummu Haram bertanya: "Apa yang membuatmu tersenyum, wahai
Rasulullah?". Beliau menjawab: "Akan ada sekelompok orang dari
umatku yang diperlihatkan kepadaku, mereka mengarungi tengah lautan ini
bagaikan raja-raja di atas singgasana." Ummu Haram berkata:
"Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari
mereka!". Rasulullah menjawab: "Engkau termasuk bagian dari
mereka." Kemudian beliau tidur lagi dan terbangun kembali dalam
keadaan tersenyum, lalu menyampaikan hal serupa. Ummu Haram kembali meminta
didoakan, namun Rasulullah bersabda: "Engkau termasuk kelompok yang
pertama." Dan benar saja, beliau ikut dalam ekspedisi militer pertama
ini dan wafat di sana.
Intinya, Muawiyah mengarungi lautan menggunakan kapal-kapal
perang menuju pulau yang dikenal sebagai Siprus bersama pasukan muslim yang
besar. Hal ini dilakukan atas izin dan perintah dari Utsman bin Affan setelah
Muawiyah terus-menerus memohon kepadanya. Sebelumnya, Muawiyah sudah pernah
meminta izin serupa kepada Umar bin Khattab, namun Umar menolak keras karena
tidak ingin mempertaruhkan nyawa kaum muslimin di atas lautan luas yang
ombaknya bisa menenggelamkan mereka semua. Ketika Utsman menjabat dan Muawiyah
terus mendesaknya, barulah Utsman mengizinkannya.
Muawiyah berlayar dengan kapalnya hingga tiba di Siprus, dan
di sana ia bertemu dengan pasukan Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh yang datang
membantu dari arah lautan yang lain. Kedua pasukan muslim bersatu menghadapi
penduduk Siprus, menumbangkan banyak pasukan mereka, menawan banyak tawanan,
serta memperoleh harta ghanimah yang sangat banyak dan berharga.
Ketika para tawanan tersebut dikumpulkan, sahabat Abu
ad-Darda terlihat menangis. Melihat hal itu, Jubair bin Nufair bertanya
kepadanya: "Mengapa Anda menangis pada hari di mana Allah telah memuliakan
Islam dan pemeluknya?".
Abu ad-Darda menjawab: "Celaka engkau! Sungguh, betapa
hinanya makhluk di hadapan Allah jika mereka telah meninggalkan perintah-Nya.
Dahulu mereka ini adalah umat yang kuat, jaya, dan memiliki kekuasaan, namun
ketika mereka mengabaikan perintah Allah, keadaan mereka pun menjadi
mengenaskan seperti yang engkau lihat sekarang."
Kemudian dia mengadakan perdamaian dengan mereka dengan
membayar tujuh ribu dinar setiap tahunnya, dan melakukan gencatan senjata
dengan mereka. Ketika mereka hendak keluar dari daerah tersebut, sebuah bagal
(keledai blasteran) didekatkan kepada Ummu Haram untuk dia kendarai. Namun, dia
terjatuh dari hewan tersebut hingga lehernya patah, lalu meninggal dunia dan
dimakamkan di sana.
Perang Dzatush Shawari Tahun 31 Hijriah
Pada tahun ini terjadi Perang Shawari di laut menurut apa
yang disebutkan oleh Al-Waqidi. Sementara Abu Ma'syar berkata: Perang Shawari
terjadi pada tahun 34 Hijriah.
Ringkasan dari peristiwa tersebut berdasarkan apa yang
disebutkan oleh Al-Waqidi, Saif, dan selain keduanya adalah: Ketika Abdullah
bin Sa'ad bin Abi Sarh berhasil mengalahkan orang-orang Franka dan Berber di
wilayah Afrika dan Andalusia, bangsa Romawi merasa panas hati. Mereka pun
berkumpul di bawah kepemimpinan Konstans II (Konstantinus putra Heraklius),
lalu bergerak menuju kaum muslimin dengan membawa pasukan besar yang belum
pernah terlihat tandingan sejenisnya sejak tegaknya Islam. Mereka berangkat dengan
membawa lima ratus kapal perang dan mengincar Abdullah bin Abi Sarh beserta
para sahabatnya dari kalangan kaum muslimin yang berada di wilayah Magrib
(Afrika Utara).
Ketika kedua pasukan saling melihat, pasukan Romawi bermalam
sambil membunyikan lonceng dan menyilangkan tanda salib, sedangkan kaum
muslimin bermalam sambil membaca Al-Qur'an dan mendirikan salat. Ketika pagi
hari tiba, Abdullah bin Sa'ad mengatur barisan para sahabatnya di atas
kapal-kapal perang, serta memerintahkan mereka untuk berzikir kepada Allah dan
membaca Al-Qur'an.
Sebagian orang yang hadir dalam peristiwa itu menceritakan:
Mereka (pasukan Romawi) mendatangi kami dengan membawa armada kapal yang sangat
banyak, yang belum pernah terlihat hal serupa sebelumnya. Maka kami berkata
kepada mereka, "Jika kalian mau, mari kita keluar ke daratan, lalu siapa
saja di antara kita yang ajalnya lebih cepat maka dialah yang mati."
Namun, mereka berteriak serentak dengan satu suara dan berkata, "Air! Air!
(tetap di laut)."
Saksi mata itu melanjutkan: Maka kami pun mendekati mereka
dan mengikat kapal-kapal kami dengan kapal-kapal mereka, kemudian kami saling
menebas dengan pedang. Para prajurit saling melompat menyerang satu sama lain
menggunakan pedang dan belati. Ombak pun menghantam bagian depan kapal-kapal
tersebut hingga mendorongnya ke tepi pantai. Ombak tersebut juga menghempaskan
jasad para prajurit ke pesisir hingga menumpuk seperti gunung yang besar, dan
warna darah mengalahkan warna air laut. Kaum muslimin pada hari itu menunjukkan
kesabaran (keteguhan dalam bertempur) luar biasa yang belum pernah disaksikan
tandingannya sama sekali. Banyak manusia dari pihak muslimin yang gugur,
sedangkan dari pihak Romawi yang tewas berlipat-lipat jumlahnya. Setelah itu,
Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin, sehingga Konstans II
beserta pasukannya melarikan diri.
Padahal jumlah mereka sudah menjadi sangat sedikit. Konstans
II sendiri mengalami luka-luka yang parah, dan dia tinggal selama beberapa
waktu untuk mengobati luka-lukanya tersebut. Sementara itu, Abdullah bin Sa'ad
menetap di Dzatush Shawari selama beberapa hari, kemudian dia pulang dalam
keadaan dikuatkan, menang, dan membawa kejayaan.
Perang Melawan Bangsa Romawi Tahun 32 Hijriah
Pada tahun ini, Muawiyah bin Abi Sufyan berperang melawan
bangsa Romawi hingga mencapai selat—yaitu Selat Konstantinopel—. Ikut serta
bersamanya sang istri, Atikah, dan ada yang menyebut namanya Fakhtah binti
Qarazhah bin Abd Amr bin Naufal bin Abd Manaf. Demikianlah yang dinyatakan oleh
Abu Ma'syar dan Al-Waqidi.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar