Penaklukan Mesir

Ilustrasi historis realistis berlatar Mesir abad ke-7 M yang menampilkan gubernur Muslim Amr bin al-Ash berdiri tenang di tepi Sungai Nil yang mengering saat senja. Ia mengenakan jubah Arab sederhana dan sorban, sambil memegang selembar surat dari Khalifah Umar bin Khattab yang hendak dilemparkan ke sungai. Di latar belakang tampak Benteng Babilon kuno, pepohonan palem, serta beberapa penduduk Mesir yang menyaksikan dengan penuh harap.

Tanggal Penaklukan:

Muhammad bin Ishaq dan Al-Waqidi menyatakan bahwa Mesir dan Iskandariyah ditaklukkan pada tahun 20 Hijriah. Abu Ma'syar berpendapat Mesir takluk tahun 20 H, sedangkan Iskandariyah tahun 25 H. Sementara itu, Saif berpendapat penaklukan keduanya terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 16 H. Ibnu al-Atsir mendukung pendapat Saif karena adanya kisah pengiriman bantuan pangan oleh Amr bin al-Ash dari Mesir ke Madinah pada Tahun Paceklik (Am al-Ramadah).

Penaklukan Babilon:

Setelah Umar r.a. dan kaum Muslimin menyelesaikan penaklukan Syam, beliau mengutus Amr bin al-Ash ke Mesir. Menurut Saif, Amr diutus setelah penaklukan Baitul Maqdis, kemudian disusul oleh pasukan bantuan yang dipimpin oleh Zubair bin Awwam bersama para sahabat lainnya. Mereka bertemu di pintu masuk Mesir (Benteng Babilon). Di sana, mereka dihadang oleh pemuka agama Mesir, Abu Maryam dan Abu Maryam, yang diutus oleh Muqauqis (penguasa Iskandariyah) untuk mempertahankan negeri mereka.

Amr bin al-Ash meminta kedua pemuka tersebut keluar untuk berunding. Amr menyampaikan pesan dari Nabi bahwa kaum Muslimin harus berbuat baik kepada penduduk Mesir karena adanya hubungan kekerabatan dan tanggung jawab (melalui Siti Hajar dan Mariyah al-Qibthiyah). Amr menawarkan mereka masuk Islam atau membayar jizyah. Para pendeta tersebut meminta waktu untuk berpikir, namun pasukan Romawi menyerang kaum Muslimin secara mendadak. Akhirnya pertempuran pecah dan kaum Muslimin berhasil mengalahkan mereka. Amr terus maju hingga mengepung benteng Babilon.

Zubair bin Awwam berhasil memanjat benteng tersebut dengan tangga dan bertakbir, diikuti oleh pasukan lainnya. Penduduk benteng yang ketakutan akhirnya meminta damai dan setuju untuk membayar jizyah.

Penaklukan Iskandariyah:

Amr bin al-Ash kemudian bergerak menuju Iskandariyah dan mengepungnya. Umar bin Khattab sempat merasa penaklukan Mesir berjalan lambat, lalu ia menulis surat teguran kepada Amr agar pasukan benar-benar ikhlas dan berjihad dengan sungguh-sungguh. Setelah menerima surat itu, kaum Muslimin menyerang dengan semangat baru hingga akhirnya Iskandariyah berhasil ditaklukkan.

Kisah Sungai Nil di Mesir

Diriwayatkan dari Qais bin al-Hajjaj, ketika Mesir ditaklukkan, penduduknya mendatangi Amr bin al-Ash pada bulan Baunah (salah satu bulan dalam kalender Qibti). Mereka berkata: "Wahai Gubernur, Sungai Nil kami ini memiliki tradisi yang jika tidak dilakukan, airnya tidak akan mengalir." Amr bertanya: "Apa itu?" Mereka menjawab: "Pada malam ke-12 bulan ini, kami mengambil seorang gadis perawan, kami minta izin orang tuanya, lalu kami hiasi dengan perhiasan dan pakaian terindah, kemudian kami lemparkan gadis itu ke Sungai Nil."

Amr bin al-Ash menjawab: "Hal seperti ini tidak boleh ada dalam Islam. Islam menghapus tradisi buruk sebelumnya." Akibatnya, selama tiga bulan (Baunah, Abib, dan Masra), air Sungai Nil tidak mengalir sama sekali hingga penduduk berniat untuk pindah. Amr kemudian melaporkan hal ini kepada Khalifah Umar bin Khattab.

Umar membalas surat tersebut: "Engkau benar dengan tindakanmu itu. Bersama surat ini aku kirimkan selembar kertas, lemparkanlah kertas itu ke dalam Sungai Nil." Ketika surat sampai, Amr mengambil kertas tersebut yang berisi tulisan:

من عبدالله عمر أمير المؤمنين إلى نيل أهل مصر، أما بعد، فإن كنت إنما تجري بأمر الله الواحد القهار، وهو الذي يجريك، فنسأل الله تعالى أن يجريك

Artinya: "Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, untuk Sungai Nil penduduk Mesir. Amma ba'du: Jika engkau mengalir karena kemauanmu sendiri, maka janganlah mengalir. Namun jika engkau mengalir karena perintah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, dan Dialah yang mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah Ta'ala agar mengalirkanmu."

Amr melemparkan kertas tersebut ke Sungai Nil. Keesokan harinya, pada hari Sabtu pagi, Allah telah mengalirkan Sungai Nil setinggi enam belas hasta hanya dalam satu malam. Sejak saat itu, tradisi pengorbanan gadis tersebut pun berakhir di Mesir.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain