Penaklukan Mesir
Tanggal Penaklukan:
Muhammad bin Ishaq dan Al-Waqidi menyatakan bahwa Mesir dan
Iskandariyah ditaklukkan pada tahun 20 Hijriah. Abu Ma'syar berpendapat Mesir
takluk tahun 20 H, sedangkan Iskandariyah tahun 25 H. Sementara itu, Saif
berpendapat penaklukan keduanya terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 16 H. Ibnu
al-Atsir mendukung pendapat Saif karena adanya kisah pengiriman bantuan pangan
oleh Amr bin al-Ash dari Mesir ke Madinah pada Tahun Paceklik (Am al-Ramadah).
Penaklukan Babilon:
Setelah Umar r.a. dan kaum Muslimin menyelesaikan penaklukan
Syam, beliau mengutus Amr bin al-Ash ke Mesir. Menurut Saif, Amr diutus setelah
penaklukan Baitul Maqdis, kemudian disusul oleh pasukan bantuan yang dipimpin
oleh Zubair bin Awwam bersama para sahabat lainnya. Mereka bertemu di pintu
masuk Mesir (Benteng Babilon). Di sana, mereka dihadang oleh pemuka agama
Mesir, Abu Maryam dan Abu Maryam, yang diutus oleh Muqauqis (penguasa
Iskandariyah) untuk mempertahankan negeri mereka.
Amr bin al-Ash meminta kedua pemuka tersebut keluar untuk
berunding. Amr menyampaikan pesan dari Nabi ﷺ bahwa kaum Muslimin harus berbuat baik
kepada penduduk Mesir karena adanya hubungan kekerabatan dan tanggung jawab
(melalui Siti Hajar dan Mariyah al-Qibthiyah). Amr menawarkan mereka masuk
Islam atau membayar jizyah. Para pendeta tersebut meminta waktu untuk berpikir,
namun pasukan Romawi menyerang kaum Muslimin secara mendadak. Akhirnya
pertempuran pecah dan kaum Muslimin berhasil mengalahkan mereka. Amr terus maju
hingga mengepung benteng Babilon.
Zubair bin Awwam berhasil memanjat benteng tersebut dengan
tangga dan bertakbir, diikuti oleh pasukan lainnya. Penduduk benteng yang
ketakutan akhirnya meminta damai dan setuju untuk membayar jizyah.
Penaklukan Iskandariyah:
Amr bin al-Ash kemudian bergerak menuju Iskandariyah dan
mengepungnya. Umar bin Khattab sempat merasa penaklukan Mesir berjalan lambat,
lalu ia menulis surat teguran kepada Amr agar pasukan benar-benar ikhlas dan
berjihad dengan sungguh-sungguh. Setelah menerima surat itu, kaum Muslimin
menyerang dengan semangat baru hingga akhirnya Iskandariyah berhasil
ditaklukkan.
Kisah Sungai Nil di Mesir
Diriwayatkan dari Qais bin al-Hajjaj, ketika Mesir
ditaklukkan, penduduknya mendatangi Amr bin al-Ash pada bulan Baunah (salah
satu bulan dalam kalender Qibti). Mereka berkata: "Wahai Gubernur, Sungai
Nil kami ini memiliki tradisi yang jika tidak dilakukan, airnya tidak akan
mengalir." Amr bertanya: "Apa itu?" Mereka menjawab: "Pada
malam ke-12 bulan ini, kami mengambil seorang gadis perawan, kami minta izin
orang tuanya, lalu kami hiasi dengan perhiasan dan pakaian terindah, kemudian
kami lemparkan gadis itu ke Sungai Nil."
Amr bin al-Ash menjawab: "Hal seperti ini tidak boleh
ada dalam Islam. Islam menghapus tradisi buruk sebelumnya." Akibatnya,
selama tiga bulan (Baunah, Abib, dan Masra), air Sungai Nil tidak mengalir sama
sekali hingga penduduk berniat untuk pindah. Amr kemudian melaporkan hal ini
kepada Khalifah Umar bin Khattab.
Umar membalas surat tersebut: "Engkau benar dengan
tindakanmu itu. Bersama surat ini aku kirimkan selembar kertas, lemparkanlah
kertas itu ke dalam Sungai Nil." Ketika surat sampai, Amr mengambil kertas
tersebut yang berisi tulisan:
من
عبدالله عمر أمير المؤمنين إلى نيل أهل مصر، أما بعد، فإن كنت إنما تجري بأمر الله
الواحد القهار، وهو الذي يجريك، فنسأل الله تعالى أن يجريك
Artinya: "Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin,
untuk Sungai Nil penduduk Mesir. Amma ba'du: Jika engkau mengalir karena
kemauanmu sendiri, maka janganlah mengalir. Namun jika engkau mengalir karena
perintah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, dan Dialah yang
mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah Ta'ala agar mengalirkanmu."
Amr melemparkan kertas tersebut ke Sungai Nil. Keesokan
harinya, pada hari Sabtu pagi, Allah telah mengalirkan Sungai Nil setinggi enam
belas hasta hanya dalam satu malam. Sejak saat itu, tradisi pengorbanan gadis
tersebut pun berakhir di Mesir.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar