Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur Tahap Ketiga

Ilustrasi sinematik realistis ultra detail yang menggambarkan suasana musyawarah para panglima Muslim pada masa penaklukan Persia abad ke-7 M di era Khalifah Umar bin Khattab. Tampak Umar bin Khattab bersama para sahabat dan panglima seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Al-Qa’qa’ bin Amr, Hudzaifah bin al-Yaman, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dan An-Nu’man bin Muqarrin sedang berdiskusi strategi di dalam tenda komando sederhana yang diterangi lampu minyak. Latar menampilkan kota-kota Persia kuno seperti Nahawand, Isfahan, dan Hamadzan dengan arsitektur Sasaniyah megah, pegunungan berkabut, pasar kuno, pasukan berkuda menyeberangi sungai, serta rombongan unta membawa logistik di padang Irak dan Persia. Suasana penuh ketenangan, disiplin, persaudaraan, dan kepemimpinan yang bijaksana

Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur

Tahap Ketiga:

Tahap ini dimulai dengan diangkatnya Sa'ad bin Abi Waqqas sebagai panglima jihad di Irak pada tahun 14 Hijriah.

Pengangkatan Sa'ad bin Abi Waqqas sebagai Panglima di Irak:

Tahun ke-14 Hijriah dimulai ketika Khalifah Umar bin Khattab gencar mendorong dan memotivasi masyarakat untuk berjihad melawan penduduk Irak. Hal itu dilakukan setelah beliau menerima kabar tentang gugurnya Abu Ubaid pada Perang Jembatan (Jisr), serta kembali bersatunya bangsa Persia di bawah kepemimpinan Yazdajird yang mereka angkat dari garis keturunan raja.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu berangkat bersama pasukan dari Madinah pada hari pertama bulan Muharram tahun 14 Hijriah ini, lalu berhenti di sebuah sumber air yang bernama Shirar. Beliau mendirikan markas pasukan di sana dengan niat untuk memimpin langsung perang ke Irak. Umar menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai wakil sementara yang memegang kendali di Madinah, serta membawa serta Utsman bin Affan beserta para pemuka sahabat Nabi.

Setelah itu, beliau mengadakan majelis musyawarah bersama para sahabat mengenai niat yang telah direncanakannya tersebut, dan dikumandangkanlah seruan "Ash-Shalatu Jami'ah". Umar juga mengirim pesan kepada Ali, maka Ali pun datang dari Madinah. Ketika Umar meminta saran mereka, seluruh sahabat menyetujui rencananya untuk pergi langsung ke Irak, kecuali Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf berkata kepada Umar, "Sesungguhnya aku khawatir jika Anda sampai terkalahkan, hal itu akan melemahkan posisi kaum muslimin di seluruh penjuru bumi. Menurut pendapatku, sebaiknya Anda mengutus seorang pria saja, sementara Anda sendiri kembali ke Madinah ." Mendengar hal itu, Umar dan orang-orang yang hadir akhirnya membenarkan dan menyetujui pendapat Ibnu Auf tersebut.

Umar lalu bertanya, "Kalau begitu, menurutmu siapa orang yang sebaiknya kita utus ke Irak? " Abdurrahman bin Auf menjawab, "Aku telah menemukannya." Umar bertanya, "Siapa dia? " Abdurrahman bin Auf menjawab, "Sang singa di sarangnya, yaitu Sa'ad bin Malik Az-Zuhri (Sa'ad bin Abi Waqqas)."

Umar pun memuji pendapat tersebut, lalu mengirim pesan kepada Sa'ad dan menetapkannya sebagai panglima untuk urusan di Irak.

Wasiat-Wasiat Umar kepada Sa'ad:

Umar kemudian memberikan wasiat kepadanya dengan berkata:

"Wahai Sa'ad, Sa'ad bin Wuhaib! Jangan sampai engkau terperdaya oleh urusan Allah hanya karena ada yang mengatakan bahwa engkau adalah paman dari Rasulullah dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak menghapus keburukan dengan keburukan, melainkan Dia menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya tidak ada hubungan nasab (kekerabatan) antara Allah dengan siapa pun kecuali dengan ketaatan kepada-Nya. Maka seluruh manusia, baik yang terpandang maupun yang jelata, kedudukannya adalah sama di mata Allah; Allah adalah Tuhan mereka dan mereka adalah hamba-hamba-Nya. Mereka saling mengungguli atas dasar keselamatan (afiat) dan meraih apa yang ada di sisi Allah dengan ketaatan. Perhatikanlah perkara yang engkau lihat dijalani oleh Rasulullah sejak beliau diutus hingga beliau berpisah dengan kita, lalu pegang teguhlah perkara tersebut karena itulah kebenaran. Inilah nasihatku kepadamu."

Ketika Sa'ad hendak berpisah untuk berangkat, Umar kembali berpesan kepadanya:

"Sesungguhnya engkau akan menghadapi perkara yang berat, maka bersabarlah, benar-benar bersabarlah atas apa yang menimpamu atau yang terjadi padamu, niscaya rasa takut kepada Allah akan berkumpul pada dirimu. Ketahuilah bahwa rasa takut kepada Allah itu terkumpul dalam dua hal: dalam menaati-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Sesungguhnya orang yang menaati-Nya hanyalah mereka yang membenci dunia dan mencintai akhirat. Dan orang yang bermaksiat kepada-Nya hanyalah mereka yang mencintai dunia dan membenci akhirat.

Bagi hati itu ada hakikat-hakikat yang diciptakan oleh Allah, di antaranya ada yang bersifat rahasia (batin) dan ada yang bersifat tampak (lahir). Adapun hal yang tampak adalah ketika orang yang memujinya dan orang yang mencelanya dalam hal kebenaran kedudukannya sama saja bagi dirinya. Sedangkan hal yang rahasia dapat diketahui dari munculnya hikmah dari hatinya melalui lisannya, serta dengan adanya rasa cinta dari manusia. Maka janganlah engkau enggan untuk membuat dirimu dicintai oleh manusia, karena para nabi pun dahulu meminta agar dicintai oleh mereka. Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia akan membuatnya dicintai; dan jika Dia membenci seorang hamba, Dia akan membuatnya dibenci. Oleh karena itu, ukurlah kedudukanmu di sisi Allah dengan kedudukanmu di mata manusia."

Sa'ad kemudian berangkat menuju Irak memimpin 4.000 pasukan; 3.000 di antaranya merupakan penduduk Yaman, dan 1.000 orang sisanya dari masyarakat umum. Ada pula yang menyebutkan jumlahnya 6.000 pasukan. Umar mengantarkan keberangkatan mereka dari wilayah Shirar hingga sampai ke Al-A'wash.

Khotbah Umar:

Umar berdiri menyampaikan khotbah di hadapan orang-orang di tempat tersebut, beliau berkata:

"Sesungguhnya Allah hanyalah membuat perumpamaan untuk kalian dan menguraikan firman-Nya agar hati menjadi hidup karenanya. Sebab, hati itu sejatinya mati di dalam dada sampai Allah menghidupkannya. Siapa yang mengetahui sesuatu, hendaklah ia mengambil manfaat darinya. Sesungguhnya keadilan itu memiliki tanda-tanda dan kabar gembira. Adapun tanda-tandanya adalah adanya rasa malu, kedermawanan, ketenangan, dan kelembutan. Sedangkan kabar gembiranya adalah rahmat.

Allah telah membuatkan pintu bagi setiap perkara, dan memudahkan kunci untuk setiap pintu tersebut. Pintu keadilan adalah mengambil pelajaran (itibar), dan kuncinya adalah Zuhud. Mengambil pelajaran adalah dengan mengingat kematian dan bersiap-siap dengan mendahulukan amal saleh. Sedangkan zuhud adalah mengambil hak dari siapa pun yang wajib menunaikan hak tersebut, menyerahkan hak kepada setiap orang yang memilikinya, serta merasa cukup dengan apa yang sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena jika apa yang sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja tidak membuatnya cukup, niscaya tidak akan ada sesuatu pun yang bisa membuatnya kaya.

Sesungguhnya aku berada di antara kalian dan Allah, dan tidak ada seorang pun antara aku dan Dia. Allah telah mewajibkan kepadaku untuk mencegah doa (keluhan) agar tidak tertuju kepada-Nya, maka sampaikanlah keluhan-keluhan kalian kepada kami. Siapa saja yang tidak mampu menyampaikannya langsung, maka sampaikanlah kepada orang yang bisa menyampaikannya kepada kami, niscaya kami akan mengambilkan haknya tanpa ditunda-tunda."

Tibanya Sa'ad di Irak dan Wafatnya Al-Mutsanna:

Sa'ad kemudian melanjutkan perjalanan menuju Irak. Ketika beliau sampai di wilayah Zarud, dan jarak antara dirinya untuk bertemu dengan Al-Mutsanna bin Haritsah tinggal sedikit lagi—di mana masing-masing dari keduanya sudah sangat rindu untuk bertemu dengan sahabatnya—tiba-tiba luka Al-Mutsanna yang didapatnya pada Perang Jembatan (Jisr) kembali kambuh. Al-Mutsanna pun wafat, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya. Beliau menunjuk Basyir bin Al-Khashashiyyah sebagai penggantinya untuk memimpin pasukan.

Ketika kabar wafatnya Al-Mutsanna sampai kepada Sa'ad, beliau mendoakan rahmat untuknya, dan di kemudian hari Sa'ad menikahi mantan istri Al-Mutsanna yang bernama Salma.

Ketika Sa'ad tiba di lokasi penampungan pasukan, kepemimpinan dan komando tertinggi seluruh pasukan beralih ke tangannya. Tidak ada seorang pun panglima dari pemuka Arab di Irak melainkan posisinya berada di bawah komando Sa'ad. Umar juga terus mengirimkan pasukan bantuan tambahan kepadanya, hingga pada hari pertempuran Al-Qadisiyyah berkumpullah 30.000 pasukan bersama Sa'ad, bahkan ada yang menyebutkan jumlahnya mencapai 36.000 pasukan.

Umar berkata, "Demi Allah, aku benar-benar akan menghantam raja-raja bangsa asing (Persia) dengan raja-raja bangsa Arab."

Pengaturan Pasukan:

Umar menulis surat kepada Sa'ad yang memerintahkannya agar mengangkat panglima untuk memimpin detasemen-detasemen pasukan, serta mengangkat seorang pengawas ('arif) untuk memimpin setiap sepuluh orang personel.

Sa'ad pun menunjuk para panglima untuk memimpin kabilah-kabilah. Beliau juga mengangkat para pemimpin untuk pasukan pengintai (mata-mata), pasukan garda depan, pasukan sayap kanan dan kiri, pasukan garda belakang, pasukan pejalan kaki (infanteri), serta pasukan berkuda (kavaleri), sebagaimana yang diperintahkan oleh Amirul Mukminin.

Surat-Menyurat antara Umar dan Sa'ad:

Umar mengirimkan suratnya kepada Sa'ad yang isinya memerintahkan agar segera bergerak menuju Al-Qadisiyyah—di mana Al-Qadisiyyah merupakan pintu masuk ke negeri Persia pada masa Jahiliyah. Umar meminta agar posisi pasukan berada di antara wilayah berbatu (padang pasir) dan wilayah tanah subur (pemukiman), serta menguasai jalur-jalur jalan dan akses menuju Persia. Beliau juga meminta Sa'ad untuk mendahului mereka dengan serangan dan tekanan yang kuat.

Umar berpesan: "Jangan sekali-kali engkau merasa gentar oleh banyaknya jumlah personil dan perlengkapan senjata mereka, karena mereka adalah kaum yang penuh tipu daya dan muslihat. Jika kalian mampu bersabar, berbuat baik, dan meluruskan niat, aku berharap kalian akan dimenangkan atas mereka, dan setelah itu kekuatan mereka tidak akan pernah bisa bersatu lagi untuk selamanya, kecuali jika mereka berkumpul dalam kondisi hati yang tidak menyatu. Namun jika terjadi kondisi yang sebaliknya (terdesak), maka kembalilah ke wilayah belakang kalian hingga mencapai daerah berbatu, karena di sana kalian lebih menguasai medan dan mereka akan menjadi lebih penakut serta lebih buta terhadap medannya, sampai Allah mendatangkan kemenangan atas mereka dan mengembalikan keunggulan bagi kalian."

Umar juga memerintahkan Sa'ad untuk selalu mengevaluasi dirinya sendiri, memberikan nasihat kepada pasukannya, serta memerintahkan mereka untuk meluruskan niat, menanamkan rasa takut kepada Allah, dan bersabar. Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah sesuai dengan kadar niatnya, dan pahala diberikan sesuai dengan kadar keikhlasannya. Beliau berpesan, "Mohonlah keselamatan (afiat) kepada Allah, dan perbanyaklah mengucapkan: Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung)."

Ketika Sa'ad tiba di wilayah Al-'Udzaib, pasukan muslimin berhadapan dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Syirzadz bin Azadzbih. Kaum muslimin berhasil merebut sebagian harta rampasan yang dibawa oleh mereka, dan rampasan tersebut mendatangkan manfaat serta kegembiraan yang sangat besar bagi kaum muslimin. Pasukan merasa optimis dan gembira atas hal tersebut. Sa'ad lalu membagi harta tersebut menjadi lima bagian (khumus) untuk negara, dan membagikan empat perlima bagian sisanya kepada pasukan. Sa'ad juga mengkhususkan satu detasemen pasukan untuk berjaga melindungi para wanita yang ikut bersama mereka, dan kepemimpinan detasemen ini diserahkan kepada Ghalib bin Abdullah Al-Laitsi.

Persiapan Menjelang Perang Al-Qadisiyyah:

Sa'ad kemudian berjalan hingga turun di Al-Qadisiyyah, lalu menyebarkan detasemen-detasemen pasukannya. Beliau menetap di sana selama satu bulan tanpa melihat satu pun perwakilan dari pasukan Persia, maka beliau menulis surat melaporkan hal itu kepada Umar. Sementara itu, detasemen-detasemen muslimin terus membawa logistik makanan dari berbagai tempat, sehingga rakyat Persia di pinggiran wilayah mereka mulai menjerit dan mengeluh kepada Yazdajird akibat apa yang mereka rasakan dari pergerakan kaum muslimin.

Rakyat Persia berkata, "Jika kalian tidak menolong kami, kami pasti akan menyerahkan apa yang ada di tangan kami dan menyerahkan benteng-benteng ini kepada mereka."

Akhirnya, tercapailah kesepakatan di antara para pembesar Persia untuk mengutus Rustam menghadapi kaum muslimin. Yazdajird kemudian memanggil Rustam dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan. Sebenarnya Rustam sempat meminta agar dibebaskan dari tugas tersebut dan berkata, "Ini bukanlah strategi yang baik dalam peperangan. Sesungguhnya mengirimkan pasukan demi pasukan (secara bertahap) jauh lebih berat bagi bangsa Arab daripada jika kita langsung mengerahkan pasukan besar sekaligus lalu mereka berhasil mengalahkannya dalam satu kali waktu ." Namun, sang raja menolak usulan tersebut dan tetap mengharuskan Rustam yang berangkat. Rustam pun akhirnya bersiap-siap untuk pergi.

Di sisi lain, Sa'ad telah mengutus pengintai ke wilayah Al-Hirah dan Shaluba, lalu datanglah informasi kepadanya bahwa raja telah menunjuk Rustam bin Al-Farrukhzad Al-Armani untuk memegang kendali peperangan dan memerintahkannya mendirikan markas pasukan. Sa'ad segera menulis surat melaporkan kabar tersebut kepada Umar.

Umar lalu membalas suratnya dengan berpesan: "Jangan sampai engkau merasa sedih atau cemas oleh kabar yang sampai kepadamu tentang mereka, ataupun oleh taktik yang akan mereka bawa kepadamu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Utuslah kepada Rustam beberapa orang pria dari kalangan orang-orang yang memiliki pandangan tajam, berakal cerdas, dan tangguh untuk mendakwahinya (menyerunya kepada Islam), karena sesungguhnya Allah akan menjadikan seruan mereka sebagai penyebab kelemahan bagi musuh dan kemenangan bagi kalian. Dan tulislah surat laporan kepadaku setiap hari."

Ketika Rustam semakin dekat bersama bala tentaranya dan mendirikan markas di Sabath, Sa'ad menulis surat kepada Umar: "Sesungguhnya Rustam telah berkemah di Sabath, ia telah menyiapkan pasukan berkuda serta gajah-gajah, dan bergerak maju ke arah kami dengan perlengkapan tersebut. Tidak ada perkara yang lebih penting bagiku dan lebih sering kuingat selain mempertahankan kondisi yang Anda sukai, yaitu untuk selalu memohon pertolongan dan bertawakal kepada Allah."

Rustam mulai mengatur formasi pasukannya. Beliau menempatkan Jalinus di barisan garda depan yang berkekuatan 40.000 personel. Di posisi sayap kanan ditempatkan Al-Hamuzan dengan 30.000 personel, di sayap kiri ditempatkan Mihran bin Bahram dengan 30.000 personel, dan di barisan garda belakang ditempatkan Al-Bairuzan dengan 20.000 personel. Dengan demikian, jumlah keseluruhan bala tentara Persia saat itu adalah 120.000 personel.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: keberadaan Rustam didukung oleh 120.000 personel, yang diikuti oleh 80.000 personel berikutnya, serta membawa serta 33 ekor gajah.

Pengutusan Para Utusan kepada Rustam dan Seruan kepada Islam:

Sa'ad mengutus sekelompok pemuka kaum muslimin, di antaranya: An-Nu'man bin Muqarrin, Furat bin Hayyan, Hanzhalah bin Ar-Rabi' At-Tamimi, 'Utarid bin Hajib, Al-Asy'ats bin Qais, Al-Mughirah bin Syu'bah, dan 'Amr bin Ma'di Karib, untuk menyeru Rustam kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Rustam bertanya kepada mereka, "Apa yang membuat kalian datang ke sini?"

Mereka menjawab, "Kami datang untuk menjemput janji Allah kepada kami, yaitu merebut negeri kalian, menawan para wanita dan anak-anak kalian, serta mengambil harta benda kalian. Kami sangat meyakini hal tersebut."

Ketika pasukan Rustam sudah semakin dekat dengan posisi Sa'ad, Sa'ad ingin mengetahui informasi mereka secara jelas dan pasti. Beliau lalu mengirim sebuah detasemen pasukan khusus untuk membawa pulang seorang pria Persia. Di dalam detasemen tersebut terdapat Thulaihah Al-Asadi, orang yang dahulunya pernah mengaku sebagai nabi namun kemudian telah bertobat.

Setelah Sa'ad melepas detasemen tersebut, Thulaihah bergerak menyusup menerobos kepungan bala tentara dan barisan musuh, melewati ribuan pasukan, serta berhasil membunuh sekelompok pahlawan berkuda Persia hingga akhirnya menawan salah seorang dari mereka dan membawanya pulang dalam kondisi tidak berdaya sama sekali. Sa'ad kemudian bertanya kepada tawanan tersebut tentang kondisi pasukannya. Tawanan itu justru sibuk menceritakan dan menggambarkan kehebatan serta keberanian Thulaihah.

Sa'ad berkata, "Tinggalkan cerita tentang ini, beri tahu kami tentang Rustam!"

Tawanan itu menjawab, "Ia membawa 120.000 pasukan, dan diikuti oleh pasukan lain yang jumlahnya sama besar." Setelah itu, pria Persia tersebut langsung masuk Islam seketika itu juga, semoga Allah merahmatinya.

Pengutusan Al-Mughirah bin Syu'bah:

Ketika kedua kubu pasukan sudah saling berhadapan, Rustam mengirim pesan kepada Sa'ad agar mengutus seorang pria yang berakal cerdas dan berilmu untuk menjawab hal-hal yang akan ditanyakannya. Sa'ad pun mengutus Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu kepadanya.

Ketika Al-Mughirah tiba di hadapannya, Rustam mulai berbicara kepadanya dengan berkata, "Sesungguhnya kalian adalah tetangga kami. Dahulu kami selalu berbuat baik kepada kalian dan menahan diri agar tidak mengganggu kalian. Maka kembalilah ke negeri kalian, dan kami tidak akan melarang aktivitas perdagangan kalian untuk masuk ke negeri kami."

Al-Mughirah menjawab, "Sesungguhnya tujuan kami bukanlah mencari dunia, melainkan fokus dan tujuan kami adalah akhirat. Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul yang bersabda kepadanya:

'Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kelompok ini atas siapa saja yang tidak beragama dengan agamaku, maka Aku akan membalas mereka melalui perantara kelompok ini, dan Aku akan memberikan kemenangan bagi mereka selama mereka mengakui agama tersebut.'

Agama ini adalah agama yang hak (benar). Tidak ada seorang pun yang membencinya melainkan ia akan hina, dan tidak ada yang berpegang teguh kepadanya melainkan ia akan mulia."

Rustam bertanya, "Apakah agama itu?"

Al-Mughirah menjawab, "Adapun tiang utamanya yang membuat segala perkara tidak akan menjadi baik tanpanya adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta mengakui segala apa yang datang dari sisi Allah."

Rustam berkata, "Alangkah indahnya hal ini! Lalu apa lagi?"

Al-Mughirah menjawab, "Mengeluarkan hamba dari penyembahan kepada sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah."

Rustam berkata, "Ini juga bagus! Lalu apa lagi?"

Al-Mughirah menjawab, "Manusia adalah anak cucu Adam, maka mereka semuanya adalah bersaudara dari satu bapak dan satu ibu."

Rustam berkata, "Ini juga bagus." Kemudian Rustam bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika kami masuk ke dalam agama kalian, apakah kalian akan mundur dari negeri kami?"

Al-Mughirah menjawab, "Ya, demi Allah! Kemudian kami tidak akan mendekati negeri kalian kecuali untuk urusan perdagangan atau ada keperluan lain."

Setelah Al-Mughirah keluar dari hadapannya, Rustam mendiskusikan urusan Islam ini dengan para pemimpin kaumnya, namun mereka bersikap sombong dan enggan untuk masuk ke dalamnya.

Pengutusan Rib'i bin 'Amir:

Sa'ad kemudian mengutus utusan lain atas permintaan Rustam, yaitu Rib'i bin 'Amir. Rib'i masuk menemui Rustam di mana mereka telah menghias majelis pertemuannya dengan bantal-bantal bersulam emas, hamparan karpet sutra, serta memamerkan batu yakut, mutiara yang mahal, dan hiasan-hiasan yang megah. Rustam mengenakan mahkotanya dan duduk di atas ranjang emas.

Sementara itu, Rib'i masuk dengan mengenakan pakaian yang tebal dan sederhana, membawa pedang, perisai, dan menunggangi kuda yang pendek. Beliau terus menungganginya hingga menginjak ujung hamparan karpet permadani tersebut. Beliau lalu turun dan mengikat kudanya di salah satu bantal hiasan tersebut, kemudian melangkah maju dengan tetap menyandang senjata, baju besi, dan helm pelindung di kepalanya.

Orang-orang berkata kepadanya, "Lepaskan senjatamu!" Rib'i menjawab, "Sesungguhnya aku tidak datang dengan kemauanku sendiri kepada kalian, melainkan aku datang karena kalian yang mengundangku. Jika kalian membiarkanku seperti ini (aku akan masuk), jika tidak maka aku akan pulang."

Rustam berkata, "Izinkan dia masuk." Mereka lalu bertanya kepadanya, "Apa yang membuat kalian datang ke sini?"

Rib'i menjawab, "Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan kepada sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam. Maka Allah mengutus kami dengan agama-Nya kepada makhluk-Nya untuk menyeru mereka kepada-Nya. Siapa yang menerima hal itu, kami akan menerima darinya dan kami akan pulang meninggalkannya. Namun siapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya sampai kami mencapai apa yang dijanjikan oleh Allah."

Rustam bertanya, "Apa yang dijanjikan oleh Allah?" Rib'i menjawab, "Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang yang enggan, dan kemenangan bagi yang tersisa hidup."

Rustam berkata, "Aku telah mendengar perkataan kalian, maka apakah kalian berkenan menunda perkara ini sampai kami mempertimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?"

Rib'i menjawab, "Ya! Berapa lama waktu yang kalian inginkan? Satu atau dua hari?" Rustam menjawab, "Tidak, melainkan sampai kami menyurati orang-orang yang memiliki pandangan di antara kami dan para pemimpin kaum kami."

Rib'i berkata, "Rasulullah tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menunda pertemuan dengan musuh saat berhadapan lebih dari tiga hari. Maka pertimbangkanlah urusanmu dan urusan mereka, lalu pilihlah satu dari tiga pilihan setelah tenggat waktu tersebut."

Rustam bertanya, "Apakah engkau pemimpin mereka?" Rib'i menjawab, "Bukan, akan tetapi kaum muslimin itu bagaikan tubuh yang satu; orang yang paling bawah di antara mereka dapat memberikan jaminan keamanan yang mengikat bagi orang yang paling atas."

Setelah itu, Rustam berkumpul dengan para pemimpin kaumnya dan berkata, "Pernahkah kalian melihat perkataan yang lebih mulia dan lebih berbobot daripada perkataan pria ini?"

Mereka menjawab, "Perlindungan Allah bagi kita agar engkau tidak condong kepada sesuatu dari hal ini, lalu engkau meninggalkan agamamu demi anjing ini! Tidakkah engkau melihat pakaiannya?"

Rustam berkata, "Celaka kalian! Jangan melihat pakaiannya, akan tetapi lihatlah pada pandangan pemikiran, perkataan, dan sikap hidupnya. Sesungguhnya bangsa Arab itu memandang remeh urusan pakaian dan makanan, namun mereka menjaga harga diri dan kehormatan mereka."

Pengutusan Hudzaifah bin Mihshan:

Kemudian pada hari ketiga, bangsa Persia kembali meminta dikirimkan seorang pria. Maka diutuslah Hudzaifah bin Mihshan kepada mereka, dan beliau menyampaikan perkataan yang senada dengan apa yang diucapkan oleh Rib'i.

Pengutusan Delegasi untuk Menemui Kisra (Yazdajird) dan Menyerunya kepada Islam:

Sebelum terjadinya pertempuran, Sa'ad telah mengutus sekelompok sahabatnya menemui Kisra untuk menyerunya kepada Allah. Mereka meminta izin untuk menghadap Kisra, lalu diizinkan. Penduduk negeri pun keluar untuk melihat penampilan mereka; dengan kain selendang yang tersampir di pundak, cambuk di tangan, alas kaki di kaki mereka, serta kuda-kuda mereka yang terlihat kurus sedang menghentakkan kakinya ke tanah. Penduduk negeri sangat keheranan melihat bagaimana orang-orang dengan kondisi seperti ini mampu menaklukkan bala tentara mereka padahal jumlah personel dan perlengkapan senjatanya sangat banyak.

Ketika mereka diizinkan masuk menghadap Raja Yazdajird, sang raja mempersilakan mereka duduk di hadapannya—ia adalah seorang raja yang sombong dan kurang beretika. Kemudian ia mulai bertanya tentang pakaian-pakaian mereka ini apa namanya; ia bertanya tentang selendang (ardiyah), alas kaki (ni'al), dan cambuk (siyath). Setiap kali mereka menjawab nama dari benda-benda tersebut, sang raja selalu mencocok-cocokkannya dengan ramalan nasib buruk (tathayyur), namun Allah justru membalikkan nasib buruk tersebut ke atas kepalanya sendiri.

Kemudian ia berkata kepada mereka, "Apa yang membuat kalian mendatangi negeri ini? Apakah kalian mengira bahwa karena kami sedang sibuk dengan urusan internal kami sendiri, kalian menjadi berani melawan kami?"

An-Nu'man bin Muqarrin berkata kepadanya, "Sesungguhnya Allah telah merahmati kami, maka Dia mengutus kepada kami seorang Rasul yang menunjukkan kepada kami kebaikan dan memerintahkannya kepada kami, serta mengenalkan kami pada keburukan dan melarang kami darinya. Beliau menjanjikan kepada kami kebaikan dunia dan akhirat atas jawaban kami dalam menyambut seruannya. Tidaklah beliau menyeru suatu kabilah melainkan kabilah tersebut terpecah menjadi dua kelompok: kelompok yang mendekat kepadanya, dan kelompok yang menjauh darinya. Dan tidak ada yang masuk ke dalam agamanya melainkan orang-orang pilihan.

Beliau menetap dalam kondisi seperti itu selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian beliau diperintahkan untuk bergerak menghadapi bangsa Arab yang menyelisihinya dan memulai dari mereka. Beliau pun melakukannya, hingga mereka semua masuk ke dalam agamanya melalui dua cara: ada yang terpaksa lalu akhirnya merasa bersyukur, dan ada yang sukarela lalu ketaatannya semakin bertambah.

Maka kami semua akhirnya mengetahui keutamaan dari apa yang beliau bawa dibandingkan dengan kondisi kami sebelumnya yang penuh permusuhan dan kesempitan. Beliau memerintahkan kami untuk memulai dari bangsa-bangsa yang berada di dekat kami untuk menyeru mereka kepada keadilan.

Oeh karena itu, kami menyeru kalian kepada agama kami, yaitu agama Islam yang menganggap baik segala yang baik dan menganggap buruk segala yang buruk. Jika kalian menolak, maka ada perkara buruk yang posisinya lebih ringan daripada perkara buruk lainnya, yaitu membayar Jizyah. Jika kalian tetap menolak, maka pilihannya adalah perang (munajazah).

Namun jika kalian menyambut agama kami, kami akan meninggalkan Kitabullah di tengah-tengah kalian dan menegakkan kalian di atasnya agar kalian berhukum dengan hukum-hukumnya, setelah itu kami akan pulang meninggalkan kalian, urusan kalian, dan negeri kalian. Jika kalian melindungi diri dari kami dengan membayar Jizyah, kami akan menerimanya dan kami akan melindungi kalian, jika tidak maka kami akan memerangi kalian."

Mendengar hal itu, Yazdajird berbicara dan berkata, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada suatu umat di bumi yang lebih sengsara, lebih sedikit jumlahnya, dan lebih buruk hubungan internalnya daripada kalian. Dahulu kami cukup menyerahkan urusan kalian kepada desa-desa di pinggiran wilayah kami untuk mengatasi kalian. Pasukan Persia tidak perlu turun memerangi kalian, dan kalian pun tidak akan pernah bermimpi untuk bisa tegak menghadapi mereka.

Jika jumlah kalian sekarang sudah menjadi banyak, jangan sampai hal itu memperdaya kalian. Dan jika kesulitan hidup yang memaksa kalian datang ke sini, kami akan menetapkan bagi kalian jatah makanan sampai tanah kalian menjadi subur kembali, kami akan menghormati para pemimpin kalian, memberikan pakaian kepada kalian, dan mengangkat seorang raja atas kalian yang akan bersikap lembut kepada kalian."

Maka orang-orang pun terdiam. Kemudian Al-Mughirah bin Zurarah bin An-Nabbash Al-Asadi menjawab dan memberikan penjelasan yang membungkamnya, serta mengajaknya untuk membayar jizyah (pajak perlindungan) dalam keadaan tunduk jika ia tidak mau masuk Islam.

Memulai Pertempuran

Peristiwa Perang Qadisiyyah adalah pertempuran yang sangat besar. Tidak ada pertempuran di Irak yang lebih menakjubkan daripada perang ini. Ketika kedua pasukan sudah saling berhadapan, Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu sedang menderita penyakit urat saraf (skiatika) dan bisul di sekujur tubuhnya. Akibatnya, beliau tidak mampu menunggangi kuda. Beliau hanya berada di dalam istana, bersandar pada dadanya di atas bantal sambil memantau pasukan dan mengatur strategi perang. Saad menyerahkan komando pertempuran kepada Khalid bin Urfuthah, menunjuk Jarir bin Abdullah Al-Bajali di posisi sayap kanan, dan Qais bin Maksyuh di posisi sayap kiri. Qais dan Al-Mughirah bin Syu'bah sendiri datang menemui Saad sebagai pasukan bantuan dari Abu Ubaidah di Syam setelah mereka berdua ikut serta dalam Perang Yarmuk.

Saad memimpin orang-orang melaksanakan salat Zuhur, kemudian berkhotbah untuk menasihati dan menyemangati mereka. Beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

﴿وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ﴾

"Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (Kami tulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh." (QS. Al-Anbiya: 105)

Para qari (pembaca Al-Qur'an) juga membacakan ayat-ayat serta surah-surah tentang jihad. Setelah itu, Saad mengumandangkan takbir sebanyak empat kali. Begitu takbir keempat selesai, pasukan Muslim langsung maju menyerang dan bertempur dengan sengit hingga malam tiba, lalu kedua belah pihak menahan diri untuk beristirahat. Banyak sekali korban yang gugur dari kedua belah pihak.

Keesokan harinya, mereka kembali ke posisi masing-masing dan bertempur sepanjang hari hingga sebagian besar malam. Pada hari berikutnya lagi, mereka memulai pagi seperti sore sebelumnya, bertempur terus hingga malam tiba. Malam ini disebut dengan Lailatun Harir (Malam Erangan). Ketika memasuki hari keempat, pertempuran terjadi dengan sangat dahsyat. Pasukan Muslim menghadapi kesulitan besar dari gajah-gajah perang musuh karena kuda-kuda Arab milik kaum Muslimin ketakutan dan lari menjauh dari gajah-gajah tersebut. Namun, para sahabat berhasil membinasakan gajah-gajah itu beserta para penunggangnya, bahkan mereka membutakan mata gajah-gajah tersebut. Sejumlah pahlawan pemberani menunjukkan kegagahannya pada hari-hari ini, seperti Tulaihah Al-Asadi, Amr bin Ma'di Karib, Al-Qa'qa' bin Amr, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, Dirar bin Al-Khattab, Khalid bin Urfuthah, dan orang-orang yang mengikutinya.

Ketika waktu matahari tergelincir (zawal) pada hari keempat ini—yang kemudian disebut sebagai Hari Qadisiyyah , dan itu adalah hari Senin di bulan Muharram tahun 14 Hijriah menurut riwayat Saif bin Umar At-Tamimi —bertiuplah angin yang sangat kencang. Angin tersebut menerbangkan tenda-tenda bangsa Persia dari tempatnya dan mengempaskan takhta Rustam yang sengaja didirikan untuknya. Rustam pun bergegas menunggangi bagalnya untuk melarikan diri, namun kaum Muslimin berhasil mengejarnya dan membunuhnya. Mereka juga berhasil membunuh Al-Jalinus, pemimpin pasukan pelopor Persia.

Pasukan Persia pun kocar-kacir dan mengalami kekalahan total. Kaum Muslimin terus mengejar di belakang mereka dan berhasil menewaskan 30.000 tentara musuh, setelah sebelumnya 10.000 tentara musuh telah tewas di dalam pertempuran. Sementara itu, dari pihak kaum Muslimin, korban yang gugur pada hari itu dan hari-hari sebelumnya berjumlah 2.500 orang, semoga Allah merahmati mereka semua. Kaum Muslimin terus mengejar sisa-sisa pasukan yang kalah hingga mereka berhasil memasuki kota kediaman raja, yaitu Al-Madain, yang di dalamnya terdapat Istana Kisra.

Orang yang berhasil membunuh Rustam adalah Hilal bin Ullafah At-Taimi, sedangkan yang membunuh Al-Jalinus adalah Zuhrah bin Hawiyyah As-Sa'di.

Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu sendiri tidak terjun langsung ke medan pertempuran karena luka-luka dan penyakit urat saraf yang dideritanya. Namun karena keberaniannya, beliau tetap duduk memantau di bagian atas istana. Seandainya pasukan Muslim waktu itu melarikan diri, niscaya pasukan Persia akan dengan sangat mudah menangkapnya langsung dengan tangan tanpa ada perlawanan.

Di dekatnya ada istrinya yang bernama Salma binti Hafsah, yang sebelum menikah dengan Saad merupakan istri dari Al-Muthanna bin Harithah. Ketika sebagian pasukan berkuda Muslim sempat terpukul mundur pada hari itu, Salma merasa panik dan berseru: "Aduhai Muthanna! Tapi tidak ada lagi lelaki seperti Muthanna bagiku hari ini!" Mendengar hal itu, Saad menjadi marah lalu menampar wajahnya. Salma pun berkata: "Apakah karena cemburu atau karena pengecut?" Maksudnya, Salma mencela Saad karena suaminya itu hanya duduk di dalam istana pada hari pertempuran. Tindakan Salma ini merupakan bentuk keras kepala, padahal dialah orang yang paling tahu tentang alasan dan penyakit yang diderita Saad yang menghalanginya untuk ikut bertempur.

Keberanian Abu Mahjan

Abu Mahjan ditahan di dalam istana karena dihukum akibat meminum khamar, dan beliau sudah dihukum cambuk berkali-kali karena hal itu. Saad memerintahkan agar ia dibelenggu dan dikurung di dalam istana. Ketika melihat pasukan berkuda sedang bertempur di sekitar istana, semangat kepahlawanannya bergejolak. Beliau adalah salah satu pahlawan yang sangat pemberani. Abu Mahjan lalu melantunkan syair:

كَفَى حُزْنًا أَنْ تَدْحَمَ الْخَيْلُ بِالْقَنَا *** وَأُتْرَكَ مَشْدُودًا عَلَيَّ وَثَاقِيَا

إِذَا قُمْتُ عَنَّانِي الْحَدِيدُ وَأُغْلِقَتْ *** مَصَارِيعُ مِنْ دُونِي تَصُمُّ الْمُنَادِيَا

وَقَدْ كُنْتُ ذَا مَالٍ كَثِيرٍ وَإِخْوَةٍ *** وَقَدْ تَرَكُونِي مُفْرَدًا لَا أَخَا لِيَا

Cukuplah menjadi kesedihan saat kuda-kuda saling menerjang dengan tombak,

Sementara aku ditinggalkan di sini dalam keadaan terikat belenggu.

Setiap kali aku mencoba bangkit, besi-besi ini menahanku,

Dan pintu-pintu di depanku tertutup rapat hingga menutup suara orang yang memanggil.

Padahal dulunya aku adalah seorang yang kaya raya dan memiliki banyak saudara,

Namun kini mereka meninggalkanku sebatang kara, tanpa ada seorang saudara pun bagiku.

Kemudian ia memohon kepada Zabra, ibu dari anak Saad (budak perempuan Saad), agar sudi melepaskannya dan meminjamkan kuda milik Saad kepadanya. Abu Mahjan bersumpah kepadanya bahwa ia pasti akan kembali pada sore hari untuk memasukkan kembali kakinya ke dalam belenggu. Zabra pun melepaskannya. Abu Mahjan segera menunggangi kuda milik Saad lalu keluar ke medan laga dan bertempur dengan sangat hebat.

Dari atas istana, Saad terus memperhatikan kudanya. Beliau mengenali kudanya namun tidak mengenali penunggangnya. Gerakannya sangat mirip dengan Abu Mahjan, tetapi Saad ragu karena beliau mengira Abu Mahjan masih terikat kuat di dalam istana. Ketika sore hari tiba, Abu Mahjan kembali dan memasukkan lagi kakinya ke dalam belenggu semula. Saat Saad turun ke bawah, beliau mendapati kudanya dalam keadaan penuh keringat.

Saad bertanya: "Ada apa dengan kuda ini?" Orang-orang pun menceritakan kepadanya tentang kisah kepahlawanan Abu Mahjan. Maka Saad pun rida kepadanya dan melepaskan belenggunya radhiyallahu 'anhuma.

Surat Saad kepada Umar Mengabarkan Kemenangan

Saad menulis surat kepada Umar bin Al-Khattab untuk mengabarkan tentang kemenangan ini, jumlah orang musyrik yang tewas, serta jumlah kaum Muslimin yang gugur. Surat tersebut dikirimkan melalui perantara Saad bin Milah Al-Fazari, yang isinya sebagai berikut:

"Amma ba'du. Sesungguhnya Allah telah memenangkan kita atas bangsa Persia dan memberikan kita apa yang ada pada mereka. Allah memberlakukan kepada mereka ketetapan yang sama seperti orang-orang terdahulu yang seagama dengan mereka, setelah melalui pertempuran yang panjang dan guncangan yang dahsyat. Mereka menghadapi kaum Muslimin dengan jumlah pasukan yang belum pernah dilihat tandingannya oleh siapa pun. Namun, hal itu sama sekali tidak berguna bagi mereka di hadapan Allah. Sebaliknya, Allah merampas kekuatan itu dari mereka dan memindahkannya kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin terus mengejar mereka di sepanjang sungai, di tepi-tepi rawa, dan di jalan-jalan pegunungan. Di antara kaum Muslimin yang gugur adalah Saad bin Ubaid Al-Qari, si Fulan, si Fulan, serta beberapa pria Muslim lainnya yang tidak kami ketahui, namun Allah Maha Mengetahui mereka.

Di waktu malam, suara mereka mendengung lantang dengan bacaan Al-Qur'an bagaikan dengungan lebah, dan di siang hari mereka adalah singa-singa yang tidak dapat diserupakan dengan singa mana pun. Orang-orang terdahulu tidak memiliki kelebihan atas mereka yang tersisa saat ini, kecuali karena keutamaan mati syahid yang memang belum digariskan bagi mereka yang masih hidup."

Dikatakan bahwa Umar membacakan surat kabar gembira ini kepada orang-orang di atas mimbar.

Kemudian Umar berkata kepada orang-orang: "Sesungguhnya aku sangat berharap tidak melihat ada satu pun kebutuhan kecuali aku telah memenuhinya, selama kemampuan kita masih mencukupi satu sama lain. Namun jika kita sudah tidak mampu, kita akan saling berbagi dalam kehidupan kita hingga kita semua setara dalam kecukupan yang sederhana. Demi Allah, aku ingin kalian mengetahui isi hatiku terhadap kalian sebagaimana yang kurasakan. Dan aku tidak akan menunjukkannya kepada kalian kecuali melalui perbuatan. Demi Allah, aku ini bukanlah seorang raja yang ingin memperbudak kalian, melainkan aku adalah seorang hamba Allah yang dititipi amanah. Jika aku menolak amanah itu, mengembalikannya kepada kalian, dan mengikuti kalian hingga kalian kenyang di rumah-rumah kalian serta terpuaskan minumnya, maka aku telah berbahagia. Namun, jika aku memikul amanah itu dan membawanya hingga ke rumahku sendiri, niscaya aku akan sengsara; aku hanya akan merasakan kesenangan yang sedikit namun menderita kesedihan yang panjang. Sehingga aku tetap berada dalam kondisi tidak dimaafkan dan tidak bisa mengembalikan amanah ini kecuali jika aku meminta kelonggaran."

Saif meriwayatkan dari para gurunya: "Bangsa Arab mulai dari kawasan Al-Udhaib hingga Aden Abyan, dan dari Al-Ubullah hingga Iliya (Baitul Maqdis), semuanya sedang menanti-nanti hasil dari Perang Qadisiyyah ini. Mereka meyakini bahwa tegak atau runtuhnya kerajaan mereka bergantung pada hasil perang ini. Bahkan penduduk dari setiap negeri telah mengirimkan utusan khusus untuk menyelidiki dan membawa kabar tentang perang mereka."

Padahal sebelumnya, seluruh wilayah Irak yang dahulu pernah dibebaskan oleh Khalid bin Walid telah melanggar perjanjian damai, jaminan keamanan, dan kesepakatan yang pernah mereka berikan kepada Khalid, kecuali penduduk Baniqya, Barusma, dan penduduk Ullais Al-Akhirah. Namun, setelah terjadinya pertempuran (Qadisiyyah) ini, seluruh wilayah tersebut kembali tunduk ke dalam pangkuan Islam.

Pengutusan Utbah bin Ghazwan ke Basrah

Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 14 Hijriah, Umar bin al-Khattab mengutus Utbah bin Ghazwan ke Basrah. Umar memerintahkannya untuk menempati wilayah tersebut bersama kaum Muslimin yang bersamanya, serta memutus jalur bantuan pasukan Persia bagi mereka yang berada di Al-Madain dan sekitarnya.

Ibnu Jarir juga menyebutkan: Saif berpendapat bahwa Basrah baru dibangun menjadi kota pada bulan Rabiul awal tahun 16 Hijriah. Utbah bin Ghazwan baru berangkat ke Basrah dari Al-Madain setelah Saad merampungkan urusan di Jalula dan Tikrit. Saad mengutus Utbah ke sana berdasarkan perintah dari Umar radhiyallahu 'anhum.

Utbah berangkat bersama orang-orang dari kalangan Arab Badui hingga jumlah pasukannya genap 500 orang, lalu mereka menetap di sana. Pada masa itu, Basrah dijuluki sebagai "Tanah India" yang memiliki banyak batu putih yang kasar. Utbah mulai mencarikan tempat tinggal untuk pasukannya sampai mereka tiba di dekat jembatan kecil. Karena di sana terdapat banyak rumput gelagah dan alang-alang yang tumbuh, mereka pun akhirnya berkemah di tempat itu.

Mendengar hal tersebut, penguasa wilayah Eufrat (Al-Furat) maju menghadapi mereka bersama 4.000 pasukan berkuda elite Persia (Asawirah). Utbah menghadang mereka setelah matahari tergelincir (zawal). Beliau memerintahkan pasukannya untuk menyerang, hingga mereka berhasil menewaskan seluruh pasukan Persia tanpa ada yang tersisa, serta berhasil menawan penguasa wilayah Eufrat tersebut.

Setelah itu, Utbah berdiri menyampaikan khotbah di hadapan orang-orang. Di antara isi khotbahnya adalah:

إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ آذَنَتْ بِصُرْمٍ، وَوَلَّتْ حَذَّاءَ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهَا إِلَّا صُبَابَةُ الْإِنَاءِ، وَإِنَّكُمْ مُنْتَقِلُونَ مِنْهَا إِلَى دَارِ الْقَرَارِ، فَانْتَقِلُوا بِخَيْرِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ، فَقَدْ ذُكِرَ لِي لَوْ أَنَّ صَخْرَةً أُلْقِيَتْ مِنْ شَفِيرِ جَهَنَّمَ هَوَتْ سَبْعِينَ خَرِيفًا وَلَتَمْلَأُنَّهُ، أَوَعَجِبْتُمْ؟ وَلَقَدْ ذُكِرَ لِي أَنَّ مَا بَيْنَ مِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ عَامًا، وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَيْهِ يَوْمٌ وَهُوَ كَظِيظٌ مِنَ الزِّحَامِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي وَأَنَا سَابِعُ سَبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَنَا طَعَامٌ إِلَّا وَرَقُ السَّمُرِ، حَتَّى تَقَرَّحَتْ أَشْدَاقُنَا، وَالْتَقَطْتُ بُرْدَةً فَشَقَقْتُهَا بَيْنِي وَبَيْنِ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ، فَمَا مِنَّا مِنْ أُولَئِكَ السَّبْعَةِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا هُوَ أَمِيرٌ عَلَى مِصْرٍ مِنَ الْأَمْصَارِ، وَسَتُجَرِّبُونَ النَّاسَ بَعْدَنَا.

"Sesungguhnya dunia ini telah mengumumkan kepunahannya dan akan pergi berlalu dengan cepat. Tidak ada yang tersisa darinya melainkan seperti sisa air di dalam bejana. Sesungguhnya kalian akan berpindah dari dunia ini menuju negeri yang kekal (akhirat), maka berpindahlah dengan membawa kebaikan terbaik yang kalian miliki. Pernah disampaikan kepadaku bahwa seandainya sebuah batu besar dilemparkan dari pinggiran neraka Jahanam, batu itu akan jatuh meluncur ke bawah selama tujuh puluh tahun, dan neraka itu benar-benar akan penuh. Apakah kalian merasa heran? Sungguh, telah disampaikan pula kepadaku bahwa jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga adalah sejauh perjalanan empat puluh tahun, dan benar-benar akan datang suatu hari di mana pintu itu akan penuh sesak oleh rombongan orang yang mengantre. Aku masih ingat ketika diriku menjadi orang ketujuh dari tujuh orang yang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami tidak memiliki makanan apa pun kecuali daun pohon Samur (sejenis pohon berduri) hingga sudut-sudut mulut kami luka-luka. Aku pernah mendapatkan selembar kain usang lalu aku membelahnya menjadi dua untuk kubagi bersama Saad bin Malik. Namun hari ini, tidak ada seorang pun dari kami yang bertujuh itu melainkan telah menjadi gubernur di salah satu kota dari kota-kota besar. Dan kalian akan menguji watak manusia setelah zaman kami nanti."

Hadits dengan redaksi yang mirip seperti ini terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

Ali bin Muhammad al-Madaini meriwayatkan: Sesungguhnya Umar menulis surat kepada Utbah bin Ghazwan saat mengutusnya ke Basrah, yang isinya:

"Wahai Utbah, sesungguhnya aku telah mengangkatmu untuk memimpin Tanah India (Basrah), dan wilayah itu adalah pusat musuh. Aku berharap semoga Allah melindungi dan mencukupimu dari musuh-musuh di sekitarnya serta menolongmu atas mereka. Aku juga telah menulis surat kepada Al-Ala bin al-Hadrami agar ia mengirimkan bantuan pasukan kepadamu yang dipimpin oleh Arfajah bin Harthamah.

Jika ia telah datang menemuimu, maka mintalah saran kepadanya dan dekatkanlah ia denganmu. Serulah manusia kepada jalan Allah. Barang siapa yang memenuhi seruanmu, maka terimalah ia. Namun barang siapa yang menolak, maka mintalah jizyah (pajak perlindungan) dalam keadaan mereka tunduk dan hina. Jika mereka masih menolak, maka gunakanlah pedang tanpa ada keraguan. Bertakwalah kepada Allah atas urusan rakyat yang kupercayakan kepadamu. Jagalah dirimu jangan sampai jiwamu membujukmu kepada sifat sombong, karena hal itu dapat merusak urusan akhiratmu.

Kamu telah mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga kamu menjadi mulia setelah sebelumnya hina, dan menjadi kuat setelah sebelumnya lemah. Sampai akhirnya kini kamu menjadi seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan dan penguasa yang ditaati; kamu berbicara maka suaramu didengar, dan kamu memerintah maka perintahmu dipatuhi. Alangkah indahnya nikmat tersebut, asalkan nikmat itu tidak membuatmu melampaui batas kedudukanmu dan tidak membuatmu bersikap angker kepada orang-orang yang berada di bawahmu. Waspadalah terhadap ujian kenikmatan sebagaimana kamu waspada terhadap perbuatan maksiat. Sebab, di antara keduanya, kenikmatan itulah yang paling aku takuti atasmu karena ia bisa menyeret dan mengelabumu secara perlahan (istidraj), hingga membuatmu jatuh tergelincir ke dalam neraka Jahanam. Aku memohon perlindungan kepada Allah untuk diriku dan dirimu dari hal tersebut. Sesungguhnya manusia bersegera menuju jalan Allah sampai ketika dunia dibentangkan di hadapan mereka, mereka pun menginginkan dunia itu. Oleh karena itu, inginkanlah apa yang ada di sisi Allah dan janganlah kamu menginginkan dunia, serta takutlah kamu terhadap tempat-tempat kebinasaan orang-orang yang zalim."

Utbah berhasil membebaskan wilayah Al-Ubullah pada bulan Rajab atau Syakban di tahun 14 Hijriah.

Ketika Utbah bin Ghazwan wafat pada tahun tersebut, Umar mengangkat Al-Mughirah bin Syu'bah untuk memimpin Basrah selama dua tahun. Setelah itu, Umar mencopotnya dan mengangkat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu sebagai pemimpinnya.

Persiapan untuk Membebaskan Al-Madain

Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 15 Hijriah, terjadi banyak pertempuran antara kaum Muslimin melawan bangsa Persia menurut pendapat Saif bin Umar.

Umar bin al-Khattab telah mengirim surat kepada Saad bin Abi Waqqas yang memerintahkannya untuk bergerak menuju Al-Madain. Umar juga memerintahkan agar para wanita dan anak-anak ditinggalkan di wilayah Al-Atiq dengan dikawal oleh pasukan berkuda yang besar dan kuat.

Setelah Saad merampungkan urusan di Qadisiyyah, beliau menunjuk Zuhrah bin Hawiyyah untuk memimpin pasukan pelopor. Beliau kemudian mengutus para panglima perang lainnya satu demi satu, baru setelah itu beliau sendiri bergerak memimpin seluruh pasukan. Saad menunjuk Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqas sebagai wakilnya untuk menggantikan posisi Khalid bin Urfuthah, sedangkan Khalid diposisikan untuk memimpin pasukan barisan belakang. Mereka bergerak dengan membawa pasukan berkuda yang sangat besar serta persenjataan yang banyak. Peristiwa itu terjadi pada beberapa hari yang tersisa di bulan Syawal tahun tersebut. Mereka sempat singgah di Kufah, lalu Zuhrah bergerak mendahului mereka menuju Al-Madain. Di tengah perjalanan, Zuhrah dihadang oleh Bushbuhra yang memimpin pasukan Persia, namun Zuhrah berhasil mengalahkan mereka.

Pertempuran Babel

Zuhrah bin Hawiyyah mengirim utusan kepada Saad untuk mengabarkan bahwa sisa-sisa pasukan Persia yang kalah telah berkumpul di Babel. Saad segera bergerak membawa seluruh pasukan menuju Babel. Di Babel, Saad berhadapan langsung dengan Al-Fairuzan. Saad berhasil mengalahkan mereka dengan sangat cepat, secepat seseorang melipat selendangnya. Pasukan Persia yang kalah itu terpecah menjadi dua kelompok: satu kelompok melarikan diri ke Al-Madain, sedangkan kelompok lainnya lari menuju Nahawand. Setelah kemenangan tersebut, Saad menetap di Babel selama beberapa hari.

Pertempuran Kutha

Saad kembali bergerak memimpin pasukannya menuju Al-Madain. Di sebuah tempat yang bernama Kutha, mereka dihadang oleh sekumpulan pasukan Persia lainnya. Pertempuran sengit pun berkecamuk di sana. Dalam suasana itu, terjadi duel satu lawan satu melawan panglima perang Persia yang bernama Syahriyar.

Seorang prajurit Muslim maju menantangnya; ia bernama Nail al-A'raji Abu Nubatah, salah seorang pahlawan pemberani dari Bani Tamim. Keduanya bertarung sengit saling menyerang menggunakan tombak selama beberapa saat, lalu mereka melempar tombaknya. Mereka kemudian menghunus pedang masing-masing dan saling menyabetkan pedang tersebut. Tak lama kemudian, keduanya saling piting hingga terjatuh dari kuda mereka ke tanah.

Syahriyar berhasil menindih dada Abu Nubatah lalu mengeluarkan belati untuk menyembelihnya. Namun, jari tangan Syahriyar tidak sengaja masuk ke dalam mulut Abu Nubatah. Abu Nubatah langsung menggigit jari tersebut dengan sangat keras hingga konsentrasi Syahriyar buyar. Abu Nubatah kemudian merebut belati tersebut lalu menyembelih Syahriyar dengan belatinya sendiri. Ia pun mengambil kuda, gelang emas, serta harta rampasan milik Syahriyar. Melihat panglimanya tewas, pasukan Persia kocar-kacir dan mengalami kekalahan.

Setelah kejadian itu, Saad meminta dengan sangat agar Nail selalu mengenakan gelang emas dan persenjataan milik Syahriyar, serta menunggangi kudanya setiap kali perang berkecamuk, dan Nail pun menuruti hal tersebut. Para sejarawan mengatakan bahwa Nail adalah orang pertama yang memakai gelang emas (dari harta rampasan perang) di Irak.

Peristiwa Bahurasir Tahun 16 H

Tahun keenam belas hijriah dimulai ketika Sa'ad bin Abi Waqqas telah berkemah di pemukiman kota Bahurasir. Kota ini merupakan salah satu dari dua kota Kisra (Persia) yang terletak di sisi barat Sungai Tigris. Sa'ad tiba di kota tersebut pada bulan Zulhijah tahun lima belas hijriah, dan awal tahun keenam belas ini bermula saat ia masih menetap di sana.

Penduduk Bahurasir memberikan perlawanan yang sangat sengit kepada Sa'ad. Sebelumnya, Sa'ad telah mengutus Salman al-Farisi untuk menyeru mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla, membayar jizyah, atau berperang. Namun, mereka menolak dan memilih untuk berperang serta memberontak. Mereka juga memasang ketapel besar (manjanik) dan tank-tank kayu (dabbabah). Melihat hal itu, Sa'ad memerintahkan pembuatan ketapel besar. Maka dibuatlah dua puluh ketapel besar yang kemudian dipasang untuk mengepung Bahurasir.

Pengepungan pun semakin ketat. Penduduk Bahurasir sering keluar untuk bertempur dengan sengit dan bersumpah tidak akan pernah melarikan diri. Namun, Allah membuktikan bahwa sumpah mereka dusta dan mengalahkan mereka melalui pasukan Zuhrah bin Hawiyah, bahkan setelah Zuhrah terkena sambaran anak panah. Setelah terluka pun, Zuhrah tetap berhasil membunuh banyak orang Persia. Pasukan Persia akhirnya melarikan diri di hadapannya dan berlindung di dalam kota mereka.

Di dalam kota, mereka dikepung dengan sangat rapat hingga persediaan makanan habis dan mereka terpaksa memakan anjing serta kucing. Akhirnya, mereka memutuskan pindah dari kota tersebut menuju Al-Madain. Sa'ad kemudian memerintahkan kaum muslimin untuk bergerak dari sana menuju Al-Madain. Mereka menyeberang menggunakan kapal-kapal karena kedua kota tersebut dipisahkan oleh Sungai Tigris dan jaraknya sangat dekat.

Ketika kaum muslimin memasuki Bahurasir, tampaklah oleh mereka Istana Putih Al-Madain. Istana tersebut merupakan istana raja yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah bahwa Allah akan menaklukkannya untuk umat beliau. Orang pertama dari kaum muslimin yang melihatnya adalah Dirar bin al-Khattab. Ia langsung berseru: "Allahu Akbar! Itu Istana Putih Kisra! Ini adalah apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita!". Orang-orang pun melihat ke arah istana tersebut dan terus mengumandangkan takbir secara bersahut-sautan hingga waktu subuh.

Mengenai hal ini, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis:

لَتَفْتَحَنَّ عِصَابَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ كَنْزَ آلِ كِسْرَى الَّذِي فِي الْأَبْيَضِ

"Sungguh, sekelompok dari kaum muslimin atau kaum mukminin akan menaklukkan tempat penyimpanan harta keluarga Kisra yang berada di Istana Putih."

Penaklukan Al-Madain Tahun 16 H

Ketika Sa'ad berhasil menguasai Bahurasir dan menetap di sana pada bulan Safar tahun 16 H, ia tidak menemukan seorang pun di dalamnya. Ia juga tidak menemukan harta benda apa pun yang bisa dijadikan sebagai ganimah (harta rampasan perang). Ternyata, penduduknya telah pindah seluruhnya ke Al-Madain dengan menaiki kapal-kapal yang kemudian mereka bawa dan kumpulkan di sisi mereka.

Sa'ad sama sekali tidak menemukan satu pun kapal tersisa dan mustahil baginya untuk mendapatkan kapal dalam kondisi seperti itu. Pada saat yang sama, air Sungai Tigris sedang meluap drastis, warnanya berubah menjadi hitam, dan permukaannya dipenuhi buih karena saking banyaknya volume air. Sa'ad juga menerima kabar bahwa Raja Kisra, Yazdajird, berencana membawa pergi seluruh harta dan perlengkapan dari Al-Madain menuju Hulwan. Informan itu berkata kepada Sa'ad: "Jika engkau tidak menyusulnya sebelum tiga hari, engkau akan kehilangan kesempatan dan urusan ini akan terlepas dari tanganmu.".

Penyeberangan Kaum Muslimin Menembus Sungai Tigris Tanpa Kapal

Sa'ad berpidato di hadapan kaum muslimin di tepi Sungai Tigris. Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia berkata: "Sesungguhnya musuh kalian telah membentengi diri dari kalian dengan lautan (sungai besar) ini, sehingga kalian tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Sebaliknya, mereka bisa menjangkau kalian kapan pun mereka mau dengan menyerang menggunakan kapal-kapal mereka. Sementara itu, di belakang kalian tidak ada sesuatu pun yang kalian takuti akan menyerang kalian. Aku berpendapat bahwa kalian harus bersegera menyambut jihad melawan musuh dengan niat kalian, sebelum dunia mengepung kalian. Ketahuilah, sesungguhnya aku telah bertekad untuk menyeberangi lautan ini menuju mereka.".

Mendengar hal itu, seluruh pasukan serentak menjawab: "Semoga Allah menetapkan bagi kami dan bagimu keputusan yang penuh petunjuk, maka laksanakanlah!".

Penyeberangan Pasukan Penantang Bahaya (Katibat al-Ahwal)

Sa'ad menyeru orang-orang untuk mulai menyeberang. Ia berkata: "Siapa yang mau memulai untuk mengamankan jalur penyeberangan di seberang sana bagi kita, agar orang-orang bisa menyusul dan menyeberang dengan aman?". Maka bertindaklah Ashim bin Amr bersama sekitar enam ratus orang pemberani. Sa'ad menunjuk Ashim bin Amr sebagai pemimpin mereka, lalu mereka berdiri di tepi Sungai Tigris. Ashim berkata: "Siapa yang mau maju bersamaku agar kita menjadi orang pertama yang masuk ke dalam lautan ini sebelum pasukan lain, demi mengamankan jalur di seberang sana?".

Maka majulah enam puluh orang pemberani pilihan. Di seberang sungai, pasukan non-Arab (Persia) sudah berdiri berbaris rapi. Ketika orang-orang sempat ragu untuk mengarungi Sungai Tigris, seorang pria muslim maju dan berkata: "Apakah kalian takut dengan tetesan air ini?".

Kemudian ia membaca firman Allah Ta'ala:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya." (QS. Ali 'Imran: 145).

Pria itu langsung memacu kudanya masuk ke dalam air, dan orang-orang pun ikut menceburkan diri mengikutinya. Enam puluh orang tadi terbagi menjadi dua kelompok: kelompok penunggang kuda jantan dan kelompok penunggang kuda betina.

Ketika orang-orang Persia melihat mereka mengapung dan berjalan di atas permukaan air, mereka berteriak: "Dewana, dewana!" yang artinya: orang-orang gila (atau dalam riwayat lain berarti: Setan-setan telah datang!).

Mereka lalu berkata: "Demi Allah, kalian bukan sedang memerangi manusia, melainkan sedang memerangi jin!".

Pihak Persia kemudian mengirim pasukan berkuda mereka ke dalam air untuk menghadang barisan depan kaum muslimin agar tidak bisa keluar dari sungai. Melihat hal itu, Ashim bin Amr memerintahkan pasukannya: "Arahkan tombak-tombak kalian dan incarlah mata mereka!". Kaum muslimin pun melakukannya hingga berhasil membutakan mata kuda-kuda pasukan Persia. Kuda-kuda tersebut berbalik liar melarikan diri di depan kaum muslimin tanpa bisa dikendalikan oleh penunggangnya hingga keluar dari air.

Ashim dan pasukannya terus mengejar dan mendesak mereka hingga berhasil mengusir mereka, lalu bertahan di tepi Sungai Tigris. Sisa dari enam ratus anggota pasukan Ashim kemudian menyusul masuk ke Sungai Tigris, mengarunginya hingga bertemu dengan rekan-rekan mereka, lalu bahu-membahu bertempur sampai berhasil membersihkan seluruh pasukan Persia dari tepi sungai tersebut. Pasukan khusus ini dinamakan Pasukan Penantang Bahaya (Katibat al-Ahwal), dengan Ashim bin Amr sebagai panglimanya.

Penyeberangan Sisa Pasukan

Setelah melihat tepi seberang sungai telah diamankan oleh pasukan berkuda muslim yang berhasil menyeberang terlebih dahulu, Sa'ad bin Abi Waqqas turun ke Sungai Tigris bersama sisa pasukan lainnya. Sa'ad memerintahkan kaum muslimin ketika memasuki air untuk mengucapkan:

نَسْتَعِينُ بِاللَّهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

"Kami memohon pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahagung.".

Sa'ad kemudian memacu kudanya masuk ke dalam air, diikuti oleh seluruh pasukan tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Mereka berjalan di atas air seolah-olah sedang berjalan di atas permukaan tanah. Pasukan memenuhi ruang di antara kedua sisi sungai hingga permukaan air tidak terlihat lagi akibat padatnya pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki.

Orang-orang bahkan saling mengobrol di atas air sebagaimana mereka mengobrol saat berada di daratan. Hal itu terjadi karena besarnya rasa tenang, aman, serta keyakinan mereka yang penuh terhadap perintah Allah, janji-Nya, pertolongan-Nya, dan dukungan-Nya. Apalagi panglima mereka, Sa'ad bin Abi Waqqas, adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Rasulullah wafat dalam keadaan rida kepadanya dan pernah mendoakannya dengan doa: "Ya Allah, kabulkanlah doanya, dan tepatkanlah bidikan panahnya.".

Dapat dipastikan bahwa pada hari itu Sa'ad mendoakan keselamatan dan kemenangan bagi pasukannya. Ketika ia mengerahkan mereka ke dalam sungai besar ini, Allah membimbing dan menyelamatkan mereka. Tidak ada satu pun prajurit muslim yang hilang, dan tidak ada satu pun barang bawaan mereka yang lenyap, kecuali sebuah cangkir kayu milik seorang pria bernama Malik bin Amir. Cangkir tersebut memiliki tali pengikat yang sudah usang sehingga terlepas dan terbawa ombak. Pemiliknya kemudian berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan aku satu-satunya orang di antara mereka yang kehilangan barang bawaannya.".

Tiba-tiba ombak mengembalikan cangkir tersebut ke tepi seberang sungai pada sebuah gundukan tanah yang tinggi, sehingga ia bisa mengambilnya kembali. Bahkan, sebagian kuda berjalan di air yang kedalamannya tidak mencapai sabuk perutnya.

Hari itu adalah hari yang sangat agung, peristiwa yang dahsyat, urusan yang besar, serta mukjizat luar biasa bagi Rasulullah yang Allah wujudkan nyata untuk para sahabatnya. Peristiwa luar biasa seperti ini belum pernah terlihat di negeri tersebut maupun di belahan bumi mana pun, kecuali pada peristiwa Al-Ala bin al-Hadrami. Namun, peristiwa kali ini jauh lebih agung dan besar karena jumlah pasukan ini berkali-kali lipat lebih banyak.

Orang yang berjalan beriringan bersama Sa'ad bin Abi Waqqas di dalam air adalah Salman al-Farisi. Sa'ad terus-menerus mengucapkan: "Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Demi Allah, Allah pasti akan menolong kekasih-Nya, memenangkan agama-Nya, dan menghancurkan musuh-Nya, selama di dalam pasukan ini tidak ada kezaliman atau dosa-dosa yang mengalahkan kebaikan.".

Salman lalu menimpali perkataannya: "Sesungguhnya Islam itu masih baru (murni). Demi Allah, lautan telah ditundukkan untuk mereka sebagaimana daratan telah ditundukkan untuk mereka. Demi Dzat yang jiwa Salman berada di tangan-Nya, mereka pasti akan keluar dari sungai ini secara berbondong-bondong sebagaimana mereka memasukinya secara berbondong-bondong.". Akhirnya mereka semua berhasil keluar dari sungai tepat seperti yang dikatakan oleh Salman; tidak ada seorang pun yang tenggelam dan mereka tidak kehilangan barang apa pun.

Abu Bujaid Nafi' bin al-Aswad berkata mengenai peristiwa tersebut dalam sebuah syair:

Terjemahan:

“Dan kami mengharapkan pasukan berkuda menyerbu Al-Madain, di mana lautan pasukan mereka tampak luas membentang seperti daratannya. Maka kami pun menguras habis pembendaharaan milik sang Raja Kisra, pada hari ketika mereka berpaling melarikan diri dan orang yang lolos dari cengkeraman kami lari dalam keadaan terengah-engah menelan ludahnya karena ketakutan.”

Masuknya Umat Islam ke Al-Madain dan Larinya Bangsa Persia

Ketika pasukan muslimin telah tegak berdiri di atas bumi, kuda-kuda mulai keluar sambil mengibaskan surainya dan meringking. Mereka memburu orang-orang asing (bangsa Persia) itu hingga berhasil memasuki kota Al-Madain. Di sana, mereka tidak menemukan seorang pun.

Ternyata, Kisra telah membawa serta keluarga, harta benda, perlengkapan, dan kekayaan yang mampu ia bawa. Mereka meninggalkan apa yang tidak mampu mereka bawa, seperti hewan ternak, pakaian, perabot, barang-barang berharga, dan minyak-minyak wangi yang tidak diketahui nilainya. Di dalam perbendaharaan Kisra sendiri awalnya terdapat uang senilai tiga ribu juta juta juta dinar (tiga triliun dinar). Mereka membawa apa yang mereka sanggup dan meninggalkan sisanya yang tidak mampu terbawa, yaitu sekitar setengah dari jumlah tersebut atau mendekatinya.

Pasukan yang pertama kali memasuki kota Al-Madain adalah Satuan Pasukan Harta (Katibat al-Amwal), kemudian disusul oleh Satuan Pasukan Bisu (Al-Katibat al-Kharsa'). Mereka menyusuri jalan-jalan kota tanpa menemui seorang pun dan tanpa rasa takut, kecuali terhadap Istana Putih (Al-Qasr al-Abyad) yang di dalamnya masih terdapat pasukan yang bertahan dan berkubu.

Ketika Sa'ad datang bersama rombongan pasukan besar, ia menyeru para penghuni Istana Putih selama tiga hari berturut-turut melalui lisan Salman al-Farisi. Pada hari ketiga, mereka akhirnya turun menyerahkan diri. Sa'ad kemudian memasuki dan menempatinya, serta menjadikan ruangan beranda besar (Iwan) sebagai tempat salat (mushala). Saat memasukinya, ia membaca firman Allah Ta'ala:

Terjemahan:

“Betapa banyak kebun-kebun dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan, juga tanam-tanaman serta tempat-tempat kediaman yang indah, dan kesenangan-kesenangan yang dahulu mereka nikmati di sana. Demikianlah, dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (QS. Ad-Dukhan: 25-28)

Kemudian Sa'ad maju ke bagian depan ruangan lalu melaksanakan salat delapan rakaat yang disebut sebagai Salat Kemenangan (Salat al-Fath). Disebutkan dalam riwayat Saif bahwa ia melaksanakannya hanya dengan satu kali salam.

Salat Jumat dilaksanakan di dalam ruangan Iwan tersebut pada bulan Safar tahun ini, dan itu menjadi salat jumat pertama yang didirikan di tanah Irak karena Sa'ad berniat untuk menetap di sana.

Sa'ad kemudian mengirim utusan untuk menjemput para keluarga, lalu menempatkan mereka di rumah-rumah kota Al-Madain dan menjadikannya sebagai tempat tinggal, sampai mereka berhasil menaklukkan Jalula, Tikrit, dan Mosul. Setelah itu, barulah mereka berpindah ke kota Kufah.

Sa'ad juga mengirim pasukan-pasukan khusus untuk mengejar Kisra Yazdajird. Mereka berhasil menyusul sebagian dari rombongan Kisra, lalu membunuh dan mencerai-beraikan mereka, serta merampas harta benda yang sangat banyak. Sebagian besar barang yang berhasil direbut kembali adalah pakaian-pakaian kebesaran Kisra, mahkota, dan perhiasannya.

Pengumpulan Ganimah (Harta Rampasan Perang)

Sa'ad mulai mengumpulkan harta benda, kekayaan, dan barang-barang berharga yang ada di sana, yang jumlahnya sangat banyak, luar biasa, dan tidak dapat dinilai atau digambarkan saking melimpah serta besarnya.

Diriwayatkan kepada kami bahwa di sana terdapat patung-patung dari gips. Sa'ad melihat ke arah salah satu patung, dan ternyata jari patung tersebut menunjuk ke suatu tempat. Sa'ad berkata, "Patung ini tidak dibuat menunjuk seperti ini secara sia-sia." Mereka pun menggali area yang searah dengan lurusnya jari patung tersebut, dan di hadapannya mereka menemukan sebuah harta karun yang sangat besar dari simpanan para raja Kisra terdahulu. Dari sana, mereka mengeluarkan harta benda yang melimpah, kekayaan yang mengagumkan, serta barang-barang berharga yang mewah. Kaum muslimin berhasil menguasai seluruh isi tempat tersebut, yang mana belum pernah ada seorang pun di dunia ini yang melihat pemandangan lebih menakjubkan daripada itu.

Deskripsi Mahkota Kisra

Di antara harta rampasan tersebut terdapat mahkota Kisra yang bertabur permata-permata mulia yang menyilaukan mata. Ditemukan pula ikat pinggangnya, pedangnya, gelangnya, baju jubahnya (qaba'), serta karpet permadani yang ada di ruangan Iwan-nya. Karpet tersebut berbentuk persegi empat dengan ukuran enam puluh hasta di setiap sisinya. Karpet itu ditenun dengan emas, mutiara, dan batu-batu permata yang mahal. Di atas karpet tersebut digambarkan seluruh wilayah kekuasaan Kisra; lengkap dengan sungai-sungainya, benteng-bentengnya, provinsi-provinsinya, tempat penyimpanan hartanya, serta gambaran tanaman dan pepohonan yang ada di negerinya.

Apabila Kisra duduk di atas kursi kerajaannya, ia akan masuk ke bawah mahkotanya. Mahkota tersebut dalam posisi tergantung menggunakan rantai-rantai emas karena ia tidak akan sanggup menahan beban mahkota di atas kepalanya saking beratnya.

Ia datang lalu duduk di bawahnya, kemudian memasukkan kepalanya ke dalam mahkota tersebut sementara rantai-rantai emas itulah yang menopang bebannya. Mahkota itu menutupinya saat ia pakai. Ketika tirai pembatas disingkap, para pangeran dan pembesar langsung tersungkur bersujud kepadanya. Saat itu ia mengenakan ikat pinggang, sepasang gelang, pedang, dan jubah yang bertabur permata. Ia kemudian memperhatikan wilayah negerinya satu demi satu, lalu bertanya tentang wilayah tersebut beserta para wakilnya yang ada di sana, serta apakah ada peristiwa baru yang terjadi?

Para pejabat yang ada di hadapannya pun melaporkan hal tersebut kepadanya. Setelah itu ia beralih ke wilayah berikutnya, dan begitulah seterusnya hingga ia selesai menanyakan perihal keadaan negerinya di setiap waktu tanpa melalaikan urusan kerajaan. Mereka sengaja meletakkan karpet permadani ini di hadapannya sebagai pengingat baginya mengenai urusan wilayah-wilayah kekuasaannya. Hal tersebut merupakan sebuah tata kelola politik yang baik dari mereka.

Namun, ketika takdir Allah telah datang, kekuasaan tangan-tangan tersebut lenyap dari kerajaan serta tanah-tanah itu. Kaum muslimin menerima dan mengambil alih kekuasaan dari tangan mereka secara paksa, mematahkan kekuatan mereka, dan mengambilnya atas perintah Allah dalam keadaan bersih dan melimpah. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah.

Sa'ad bin Abi Waqqas menunjuk 'Amr bin Abi 'Amr al-Muzani untuk mengurusi barang rampasan perang (al-aqbyad). Barang pertama yang berhasil dikumpulkan adalah apa yang berada di Istana Putih, tempat tinggal Kisra, seluruh rumah di Al-Madain, serta apa yang ada di dalam ruangan Iwan sebagaimana yang telah kami sebutkan. Ditambah lagi dengan barang-barang yang dibawa oleh pasukan khusus yang menyertai Zuhrah bin Hawiyyah.

Di antara barang yang dibawa kembali oleh Zuhrah adalah seekor bagal (peranakan kuda dan keledai) yang berhasil ia kejar dan rebut dari tangan bangsa Persia. Saat itu, bangsa Persia mengelilingi bagal tersebut dengan pedang-pedang mereka, namun Zuhrah berhasil menyelamatkannya dari mereka. Zuhrah berkata, "Pasti ada sesuatu yang penting pada bagal ini." Maka ia menyerahkannya ke tempat pengumpulan harta rampasan. Ternyata di atas bagal itu terdapat dua buah keranjang besar yang berisi pakaian-pakaian Kisra, perhiasannya, serta pakaian yang biasa ia kenakan saat berada di atas singgasana.

Ada pula bagal lain yang membawa mahkotanya di dalam dua keranjang besar, yang berhasil direbut di tengah jalan oleh pasukan khusus. Di antara yang dibawa kembali oleh pasukan khusus tersebut adalah harta benda yang sangat banyak, yang di dalamnya terdapat sebagian besar perabot rumah tangga Kisra, perlengkapan, serta barang-barang berharga yang sengaja mereka bawa lari. Namun, kaum muslimin berhasil menyusul dan merebutnya dari mereka. Bangsa Persia tidak mampu membawa karpet permadani tersebut karena terlalu berat bagi mereka, dan mereka juga tidak mampu membawa seluruh harta karena jumlahnya yang sangat banyak. Kaum muslimin bahkan mendatangi beberapa rumah dan menemukan sebuah ruangan yang penuh hingga ke langit-langitnya oleh bejana-bejana dari emas dan perak. Mereka juga menemukan kapur barus dalam jumlah yang sangat banyak, hingga sebagian dari mereka mengira bahwa itu adalah garam.

Bahkan sebagian dari mereka ada yang mencampurkannya ke dalam adonan roti, lalu merasakan rasanya pahit, hingga akhirnya mereka menyadari apa sebenarnya benda tersebut. Dari harta rampasan perang (fai') ini, terkumpullah jumlah harta yang luar biasa banyaknya.

Sa'ad mulai membaginya dan memerintahkan Salman al-Farisi untuk membagi empat perlima bagian di antara para pejuang yang berhak menerima ganimah. Setiap prajurit penunggang kuda mendapatkan bagian sebesar dua belas ribu dinar, dan pada saat itu seluruh pasukan yang ada adalah pasukan berkuda, yang mana sebagian dari mereka membawa hewan tunggangan cadangan.

Pengiriman Seperlima Bagian dan Sebagian Barang Berharga kepada Umar

Sa'ad meminta kerelaan dari kaum muslimin untuk mengambil empat perlima bagian dari karpet permadani serta pakaian Kisra agar bisa dikirimkan kepada Umar dan kaum muslimin di Madinah, supaya mereka dapat melihat dan merasa takjub dengannya. Kaum muslimin pun menyetujuinya dengan lapang dada dan mengizinkannya. Maka Sa'ad mengirimkan barang tersebut kepada Umar bersama dengan bagian seperlima (al-khumus) melalui perantara Basyir bin al-Khashashiyyah. Sementara orang yang membawa kabar gembira mengenai kemenangan sebelum itu adalah Khunais bin Fulan al-Asadi.

Diriwayatkan kepada kami bahwa ketika Umar melihat barang-barang tersebut, ia berkata, "Sesungguhnya kaum yang menunaikan (amanah) ini benar-benar orang-orang yang terpercaya." Maka Ali bin Abi Thalib berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau telah menjaga kehormatan dan menahan diri (dari harta), maka rakyatmu pun ikut menjaga kehormatan mereka. Seandainya engkau mengumbar nafsumu, niscaya mereka pun akan ikut mengumbarnya."

Kemudian Umar membagikan barang tersebut kepada kaum muslimin, dan Ali mendapatkan sepotong bagian dari karpet permadani itu yang kemudian ia jual seharga dua puluh ribu dinar.

Saif bin Umar menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab memakaikan pakaian Kisra pada sebuah kayu dan menegakkannya di hadapannya, agar beliau bisa melihat keindahan yang menakjubkan pada hiasan ini, sekaligus melihat kilauan perhiasan dunia yang fana.

Diriwayatkan pula kepada kami bahwa Umar memakaikan sepasang gelang Kisra kepada Suraqah bin Malik bin Ju'syam, pemimpin Bani Mudlij radhiyallahu 'anhu.

Al-Hafiz Abu Bakar al-Baihaqi menyebutkan dalam kitab Dala'il an-Nubuwwah: Bahwa Umar bin Al-Khattab dibawakan jubah berbulu milik Kisra, lalu diletakkan di hadapannya. Di antara orang-orang yang hadir saat itu terdapat Suraqah bin Malik bin Ju'syam. Perawi berkata: Maka Umar melemparkan kepadanya sepasang gelang Kisra bin Hurmuz dan memakaikannya di kedua tangan Suraqah hingga mencapai kedua pundaknya. Ketika Umar melihat sepasang gelang itu berada di kedua tangan Suraqah, beliau berkata:

Terjemahan:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan sepasang gelang Kisra bin Hurmuz berada di kedua tangan Suraqah bin Malik bin Ju'syam, seorang Arab Badui dari keturunan Bani Mudlij.”

Kemudian beliau menyebutkan kelanjutan hadis tersebut. Demikianlah Al-Baihaqi meriwayatkannya.

Kemudian diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi'i bahwa beliau berkata: "Umar memakaikan kedua gelang tersebut kepada Suraqah tidak lain karena Rasulullah pernah bersabda kepada Suraqah—sambil melihat ke arah kedua lengan Suraqah—: 'Seakan-akan aku melihatmu telah dipakaikan sepasang gelang Kisra.'" Asy-Syafi'i melanjutkan: "Umar berkata kepada Suraqah saat memakaikannya sepasang gelang Kisra: 'Ucapkanlah Allahu Akbar!'" Suraqah pun mengucapkan: "Allahu Akbar." Kemudian Umar berkata lagi: "Ucapkanlah:

Terjemahan:

“Segala puji bagi Allah yang telah merampas kedua gelang ini dari Kisra bin Hurmuz, lalu memakaikannya kepada Suraqah bin Malik, seorang Arab Badui dari keturunan Bani Mudlij.”

Setelah itu Umar berkata: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menahan harta ini dari Rasul dan Nabi-Mu, padahal ia adalah orang yang lebih Engkau cintai dan lebih Engkau muliakan daripada diriku. Engkau juga telah menahannya dari Abu Bakar, padahal ia adalah orang yang lebih Engkau cintai dan lebih Engkau muliakan daripada diriku. Namun, Engkau justru memberikannya kepadaku, maka aku berlindung kepada-Mu agar pemberian ini bukan merupakan cara-Mu untuk menghukumku secara perlahan (makar)."

Kemudian beliau menangis hingga orang-orang yang berada di sekitarnya merasa iba kepadanya. Lalu beliau berkata kepada Abdurrahman bin Auf: "Aku bersumpah atas nama Allah kepadamu, agar engkau menjualnya lalu membagikannya sebelum waktu sore tiba."

Peristiwa Perang Jalula Tahun 16 H

Ketika Kisra Yazdajird bin Syahriyar berjalan melarikan diri dari kota Al-Madain menuju Hulwan, di tengah perjalanan ia mulai mengumpulkan orang-orang, para penolong, serta pasukan tentara dari kota-kota yang ada di sekitarnya. Maka berkumpullah sejumlah besar orang dari bangsa Persia. Ia menyerahkan komando pasukan kepada Mihran, sementara Kisra sendiri melanjutkan perjalanan ke Hulwan. Pasukan yang berhasil ia kumpulkan tersebut ditempatkan di antara dirinya dan pasukan muslimin di daerah Jalula.

Sa'ad kemudian menulis surat kepada Umar untuk mengabarkan perihal kondisi tersebut. Umar membalas suratnya dengan memerintahkan agar Sa'ad tetap menetap di Al-Madain, dan mengutus keponakannya, yaitu Hasyim bin Utbah, sebagai panglima tertinggi bagi pasukan yang akan dikirim untuk menghadapi pasukan Kisra. Umar juga menetapkan bahwa posisi komandan pasukan garis depan dipegang oleh Al-Qa'qa' bin Amr, pasukan sayap kanan dipimpin oleh Si'r bin Malik, pasukan sayap kiri dipimpin oleh saudaranya yaitu Amr bin Malik, dan pasukan penjaga garis belakang dipimpin oleh Amr bin Murrah al-Juhani.

Sa'ad melaksanakan perintah tersebut dan mengirimkan pasukan yang sangat besar bersama keponakannya, berjumlah sekitar dua belas ribu personel yang terdiri dari para tokoh muslimin, pemuka kaum Muhajirin dan Ansar, serta para pemimpin bangsa Arab. Peristiwa itu terjadi pada bulan Safar tahun 16 Hijriah. Mereka berjalan hingga sampai ke tempat orang-orang Majusi (Persia), yang saat itu posisi mereka di Jalula telah membuat parit pertahanan di sekeliling mereka. Hasyim bin Utbah pun mengepung mereka.

Orang-orang Persia tersebut selalu keluar dari wilayah pertahanan mereka untuk bertempur di setiap waktu, mereka menunjukkan pertempuran hebat yang belum pernah terdengar tandingannya. Kisra terus mengirimkan pasukan bantuan kepada mereka, begitu pula dengan Sa'ad yang terus mengirimkan bantuan kepada keponakannya dari waktu ke waktu. Pertempuran pun semakin memuncak, duel satu lawan satu semakin sengit, dan api peperangan berkobar dengan hebatnya. Hasyim berdiri di tengah-tengah pasukannya lalu berkhotbah berkali-kali untuk membakar semangat mereka agar terus bertempur dan bertawakal kepada Allah.

Al-Qa'qa' melancarkan serangan yang sangat kuat bersama sekelompok pasukan berkuda, para pahlawan, dan pemberani, hingga ia berhasil mencapai pintu parit pertahanan musuh. Malam pun tiba dengan kegelapannya, sementara para pahlawan lainnya bersama pasukan yang menyertai mereka terus bergerak di tengah kepungan orang-orang. Mereka mulai mengambil posisi bertahan dan mundur perlahan karena malam telah larut. Di antara para pahlawan yang menonjol pada hari itu adalah Thulaihah al-Asadi, 'Amr bin Ma'di Karib az-Zubaidi, Qais bin Maksyuh, dan Hujr bin 'Adi.

Mereka semua belum mengetahui apa yang telah diperbuat oleh Al-Qa'qa' di dalam kegelapan malam itu dan tidak menyadarinya, sampai terdengar suara berseru yang memanggil: "Wahai kaum muslimin, ini panglima kalian telah berada di depan pintu parit pertahanan mereka!"

Ketika orang-orang Majusi mendengar seruan tersebut, mereka langsung kocar-kacir melarikan diri. Kaum muslimin pun merangsek maju menuju ke arah Al-Qa'qa' bin 'Amr, dan ternyata ia memang telah berada di pintu parit pertahanan serta berhasil menguasainya atas mereka. Pasukan Persia melarikan diri ke segala penjuru, sementara kaum muslimin mengejar dan menangkap mereka dari setiap arah serta mengintai mereka di setiap tempat pengintaian. Pasukan musuh yang tewas di tempat pertempuran tersebut mencapai seratus ribu jiwa, hingga mereka menutupi permukaan bumi dengan jasad-jasad yang bergelimpangan. Oleh karena itulah, tempat tersebut dinamakan Jalula (yang berarti tertutupi).

Dari pertempuran ini, kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan, pakaian, emas, dan perak yang jumlahnya hampir mendekati apa yang mereka dapatkan di kota Al-Madain sebelumnya.

Berikut adalah terjemahan lengkap dari teks dokumen yang baru Anda unggah ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dipahami, dengan mempertahankan struktur judul dan subjudul asli tanpa menyertakan catatan kaki. Di dalam dokumen ini tidak terdapat ayat Al-Qur'an, hadis nabi, maupun syair berharakat.

Penaklukan Hulwan

Ketika pertempuran (Jalula) telah usai, Hasyim bin Utbah tetap tinggal di Jalula. Sementara itu, Al-Qa'qa' bin Amr bergerak maju menuju Hulwan atas perintah Umar, guna menjadi pelindung bagi kaum muslimin di sana serta menjaga pergerakan Kisra. Al-Qa'qa' terus berjalan hingga ia berhasil menyusul Mihran ar-Razi lalu membunuhnya, sedangkan Al-Fairuzan melarikan diri darinya.

Ketika Al-Fairuzan sampai ke hadapan Kisra dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang terjadi dalam Perang Jalula, nasib buruk yang menimpa bangsa Persia setelahnya, bagaimana seratus ribu pasukan mereka tewas, serta terbunuhnya Mihran yang berhasil disusul, maka Kisra pun lari ketakutan dari Hulwan menuju daerah Al-Ray. Sebelum pergi, Kisra mengangkat seorang gubernur untuk memimpin Hulwan yang bernama Khusrausynum.

Al-Qa'qa' bin Amr kemudian bergerak maju menghadapinya, dan Khusrausynum keluar menyambutnya di suatu tempat di luar kota Hulwan. Mereka terlibat pertempuran yang sangat sengit di sana, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan serta pertolongan bagi kaum muslimin, sementara Khusrausynum menderita kekalahan. Al-Qa'qa' segera memburu sisa pasukan menuju Hulwan, lalu berhasil menguasai dan memasukinya bersama kaum muslimin.

Di kota tersebut, kaum muslimin mendapatkan banyak harta rampasan serta tawanan perang, lalu menetap di sana. Mereka juga menerapkan jizyah (pajak perlindungan) bagi penduduk di distrik-distrik dan wilayah-wilayah sekitarnya, setelah sebelumnya mereka diseru untuk masuk Islam namun menolaknya dan lebih memilih membayar jizyah. Al-Qa'qa' terus menetap di Hulwan sampai Sa'ad berpindah dari Al-Madain menuju Kufah.

Penaklukan Tikrit

Ketika Sa'ad berhasil menaklukkan Al-Madain, sampai kabar kepadanya bahwa penduduk Mosul telah berkumpul di Tikrit di bawah komando seorang laki-laki kafir yang bernama Al-Anthaq. Sa'ad segera menulis surat kepada Umar untuk mengabarkan perihal pergerakan penduduk Mosul tersebut. Umar lalu memerintahkannya untuk menyiapkan sepasukan tentara guna memerangi mereka.

Umar menunjuk Abdullah bin al-Mu'tam sebagai panglima tertinggi pasukan tersebut. Beliau juga menetapkan Rib'i bin al-Afkal al-'Anazi sebagai komandan pasukan garis depan, Al-Harits bin Hassan adz-Dzuhli di sayap kanan, Furat bin Hayyan al-'Ijli di sayap kiri, Hani' bin Qais di posisi penjaga garis belakang, dan 'Arfajah bin Hartsamah sebagai komandan pasukan berkuda.

Abdullah bin al-Mu'tam kemudian berangkat dari Al-Madain memimpin lima ribu prajurit. Ia menempuh perjalanan selama empat malam hingga akhirnya tiba dan mengepung Al-Anthaq di Tikrit. Di kota tersebut, telah berkumpul sekumpulan pasukan dari bangsa Romawi, kaum Syaharajah, serta orang-orang Kristen Arab dari suku Iyad, Taghlib, dan An-Namir. Mereka semua berkubu di dalam Tikrit, lalu Abdullah bin al-Mu'tam mengepung mereka selama empat puluh hari.

Selama masa pengepungan tersebut, musuh keluar menyerang pasukan muslimin sebanyak empat belas kali. Namun, tidak ada satu pun serangan melainkan kaum muslimin berhasil memenangkannya dan memporak-porandakan barisan mereka. Akibatnya, posisi musuh semakin melemah, hingga bangsa Romawi memutuskan untuk melarikan diri menggunakan kapal-kapal dengan membawa harta benda mereka.

Melihat situasi itu, Abdullah bin al-Mu'tam mengirim utusan secara rahasia kepada orang-orang Arab Kristen yang berada di dalam kota, mengajak mereka untuk bergabung dengannya dalam membantu mengalahkan penduduk kota tersebut. Para utusan kembali membawa jawaban bahwa mereka menyetujui ajakan tersebut. Abdullah lalu mengirim pesan lagi kepada mereka: "Jika kalian memang jujur dengan ucapan kalian, maka bersaksilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta akuilah apa yang datang dari sisi Allah."

Para utusan kembali lagi kepadanya dan mengabarkan bahwa orang-orang Arab Kristen tersebut telah masuk Islam. Maka Abdullah mengirim perintah kepada mereka: "Jika kalian jujur, apabila nanti malam kami mengumandangkan takbir dan menyerbu kota ini, maka tahanlah pintu-pintu kapal dari mereka, cegah mereka agar tidak bisa menaikinya, dan bunuhlah siapa saja dari mereka yang mampu kalian bunuh."

Ketika malam tiba, Abdullah beserta para sahabatnya maju dan mengumandangkan takbir dengan satu suara yang menggelegar, lalu menyerbu kota. Orang-orang Arab Kristen ikut mengumandangkan takbir dari sudut kota yang lain, sehingga membuat penduduk kota menjadi panik dan bingung. Penduduk kota pun berlarian keluar menuju pintu-pintu gerbang yang mengarah ke Sungai Tigris. Di sana, mereka langsung disambut oleh suku Iyad, An-Namir, dan Taghlib, yang langsung membantai mereka dengan dahsyat. Sementara itu, Abdullah bin al-Mu'tam datang bersama pasukannya dari pintu-pintu gerbang yang lain, sehingga berhasil memenangkan pertempuran atas mereka secara mutlak.

Penaklukan Mosul

Sebelumnya, Umar telah berpesan di dalam suratnya, bahwa jika mereka berhasil menang atas Tikrit, maka mereka harus segera mengutus Rib'i bin al-Afkal menuju Mosul dengan cepat. Maka Rib'i pun segera berangkat ke sana dengan membawa pasukan khusus yang besar serta sekelompok pahlawan pemberani. Ia berhasil mengejutkan penduduk Mosul sebelum berita kekalahan Tikrit sampai ke telinga mereka.

Tidak sempat terjadi pertempuran, melainkan Rib'i langsung mengepung mereka hingga akhirnya penduduk Mosul setuju untuk berdamai. Maka ditetapkanlah jizyah atas mereka dalam keadaan tunduk.

Setelah itu, harta benda yang didapatkan dari Tikrit mulai dibagikan, di mana bagian untuk seorang prajurit berkuda mencapai tiga ribu dirham, sedangkan bagian untuk prajurit pejalan kaki mendapatkan seribu dirham.

Mereka kemudian mengirimkan bagian seperlima (al-khumus) bersama Furat bin Hayyan, dan mengirimkan kabar gembira mengenai penaklukan ini bersama Al-Harits bin Hassan. Selanjutnya, kepemimpinan urusan militer di Mosul diserahkan kepada Rib'i bin al-Afkal, sedangkan urusan penarikan pajak kharaj di wilayah tersebut diserahkan kepada 'Arfajah bin Hartsamah.

Penaklukan Qarqisiya dan Hit pada Tahun 16 H

Ibnu Jarir dan ulama lainnya mengatakan: Penduduk Al-Jazirah (Mesopotamia) sebelumnya telah mengirimkan bantuan pasukan kepada penduduk Himsh untuk memerangi Abu Ubaidah dan Khalid—yaitu ketika Kaisar Heraklius berada di Qinnasrin. Kemudian penduduk Al-Jazirah tersebut berkumpul di kota Hit.

Mendengar hal itu, Sa'ad menulis surat kepada Umar, lalu Umar membalas suratnya dengan memerintahkan agar Sa'ad mengirimkan sepasukan tentara untuk menghadapi mereka, dengan menunjuk Amr bin Malik bin Utbah bin Naufal bin Abdi Manaf sebagai panglima pasukannya.

Amr bin Malik kemudian berjalan bersama pasukan muslimin menuju Hit. Sesampainya di sana, ia mendapati musuh telah membuat parit pertahanan di sekeliling mereka. Amr mengepung mereka dalam kurun waktu tertentu namun belum berhasil menundukkannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk berangkat bersama sebagian pasukannya menuju Qarqisiya dan mengambil alih kepemimpinan pengepungan Hit kepada Al-Harits bin Yazid.

Amr bin Malik pun berjalan ke Qarqisiya lalu berhasil menaklukkannya secara paksa. Setelah itu, ia menulis surat kepada wakilnya (Al-Harits) di Hit: "Jika mereka tidak mau berdamai, maka galilah parit baru dari balik parit pertahanan mereka, dan buatkan pintu-pintu gerbang di sisinya." Ketika berita penaklukan Qarqisiya dan instruksi tersebut sampai kepada penduduk Hit, mereka pun akhirnya menyerah dan memilih untuk berdamai.

Penaklukan Ahwaz, Manadzir, dan Nahr Tairi

Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 17 Hijriah, atau ada yang mengatakan pada tahun 16 Hijriah, Al-Hurmuzan berhasil menguasai kembali beberapa wilayah seperti Ahwaz, Manadzir, dan Nahr Tairi—di mana ia merupakan salah satu orang yang melarikan diri dari bangsa Persia saat Perang Qadisiyah.

Melihat hal tersebut, Utbah bin Ghazwan menyiapkan sepasukan tentara dari Basrah untuk memeranginya, serta meminta bantuan pasukan kepada Sa'ad bin Abi Waqqas. Sa'ad pun mengirimkan bantuan pasukan di bawah komando Nu'aim bin Mas'ud dan Nu'aim bin Muqarrin. Allah kemudian memberikan kemenangan kepada mereka atas Al-Hurmuzan, sehingga kaum muslimin berhasil merebut wilayah yang membentang antara Sungai Tigris hingga Sungai Dujail, serta mengambil harta rampasan yang melimpah dari pasukan musuh.

Setelah kekalahan itu, Al-Hurmuzan melunakkan sikapnya dan meminta perdamaian atas wilayah kekuasaannya yang tersisa. Pasukan muslimin meminta pertimbangan dari Utbah bin Ghazwan, dan Utbah menyetujui perdamaian tersebut. Utbah kemudian mengirimkan bagian seperlima (al-khumus) dan kabar gembira mengenai penaklukan ini kepada Umar. Ia juga mengutus delegasi yang di antaranya terdapat Al-Ahnaf bin Qais, yang membuat Umar sangat kagum dan mendapatkan kedudukan mulia di sisi beliau. Umar lalu menulis surat kepada Utbah yang isinya berwasiat tentang Al-Ahnaf serta memerintahkan Utbah agar selalu meminta masukan dan bantuan pemikirannya.

Namun di kemudian hari, Al-Hurmuzan melanggar perjanjian damai tersebut karena terperdaya oleh dirinya sendiri dan setan telah memperindah perbuatan buruknya itu, ditambah ia mendapatkan bantuan dari sekelompok suku Kurdi. Kaum muslimin pun kembali keluar menghadapinya dan berhasil mengalahkannya, membunuh pasukannya dalam jumlah yang sangat besar, serta merebut wilayah dan kota-kota yang berada di tangannya hingga memaksa Al-Hurmuzan mundur dan berkubu di dalam kota Tustar. Setelah itu, kaum muslimin mengirimkan surat untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Umar.

Perdamaian Tustar, Ramhurmuz, dan Jundi Sabur

Ibnu Jarir mengatakan: Peristiwa ini terjadi pada tahun 17 Hijriah menurut pendapat dan riwayat Saif. Sedangkan ulama lainnya mengatakan terjadi pada tahun 16 Hijriah.

Kronologinya adalah ketika Hurqush bin Zuhair berhasil menguasai pasar Ahwaz, Al-Hurmuzan melarikan diri darinya. Hurqush kemudian mengutus Juz' bin Mu'awiyah untuk mengejarnya hingga Al-Hurmuzan terdesak dan berkubu di Ramhurmuz, sehingga membuat Juz' tidak dapat menangkapnya.

Meskipun begitu, Juz' berhasil menguasai wilayah-wilayah yang ditinggalkan oleh Al-Hurmuzan. Ia menerapkan jizyah bagi penduduknya, memakmurkan daerah yang berpenghuni, serta menggali saluran-saluran air menuju lahan-lahan yang rusak dan mati, hingga wilayah tersebut menjadi sangat makmur dan subur. Ketika Al-Hurmuzan menyadari bahwa wilayah kekuasaannya semakin mempersempit posisinya karena berbatasan langsung dengan kaum muslimin, ia pun meminta berdamai kepada Juz' bin Mu'awiyah.

Utbah bin Ghazwan lalu menulis surat kepada Umar mengenai permohonan tersebut, dan datanglah surat balasan dari Umar yang menyetujui perdamaian atas wilayah Ramhurmuz, Tustar, Jundi Sabur, serta kota-kota lain yang bersamanya. Maka perdamaian pun resmi disepakati sebagaimana yang diperintahkan oleh Umar radhiyallahu 'anhu.

Serangan ke Tanah Persia dari Arah Bahrain

Al-Ala' bin al-Hadrami menjabat sebagai gubernur di Bahrain pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika Umar memegang kekhalifahan, beliau sempat mencopotnya dan menyerahkan wilayah itu kepada Qudamah bin Mazh'un, sebelum akhirnya mengembalikan jabatan Al-Ala' bin al-Hadrami kembali ke sana.

Ketika Sa'ad berhasil memenangkan Perang Qadisiyah, mengusir Kisra dari istananya, serta menguasai wilayah yang berbatasan dengan As-Savad, Al-Ala' ingin melakukan sebuah aksi penaklukan di wilayah Persia yang setara dengan apa yang telah diraih oleh Sa'ad. Ia pun menyeru masyarakatnya untuk berperang melawan bangsa Persia, dan seruan tersebut disambut baik oleh penduduk daerahnya.

Al-Ala' membagi pasukannya menjadi tiga divisi: divisi pertama dipimpin oleh Al-Jarud bin al-Mu'alla, divisi kedua dipimpin oleh As-Sawar bin Hamam, dan divisi ketiga dipimpin oleh Khulaid bin Al-Mundzir bin Sawi, di mana Khulaid bertindak sebagai panglima tertinggi dari seluruh pasukan tersebut.

Al-Ala' kemudian memberangkatkan mereka melalui jalur laut menuju Persia tanpa mengantongi izin dari Umar. Padahal, Umar sangat tidak menyukai hal tersebut karena Rasulullah dan Abu Bakar tidak pernah sekali pun memberangkatkan pasukan muslimin untuk berperang melalui jalur laut.

Pasukan tersebut menyeberangi laut dari Bahrain menuju Persia hingga mendarat di dekat Istakhr. Namun, pasukan Persia berhasil bergerak memotong jalur di antara pasukan muslimin dengan kapal-kapal mereka. Khulaid bin Al-Mundzir pun berdiri di hadapan pasukannya dan berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya kaum itu dengan tindakan mereka ini hanya ingin memerangi kalian, dan kalian pun datang memang untuk memerangi mereka. Maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka, karena sesungguhnya bumi dan kapal-kapal ini adalah milik bagi siapa saja yang menang, dan mintalah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

Mendengar ucapan tersebut, pasukan muslimin menyetujuinya, lalu mereka melaksanakan salat Zuhur. Setelah itu, mereka bangkit menerjang musuh dan terlibat pertempuran yang sangat sengit di sebuah tempat yang disebut Thawus. Khulaid memerintahkan pasukan muslimin untuk turun dari tunggangan mereka dan bertempur dengan berjalan kaki. Mereka bertempur dengan penuh kesabaran hingga akhirnya meraih kemenangan, serta berhasil membantai pasukan Persia dalam jumlah besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Setelah kemenangan itu, mereka bermaksud menuju ke Basrah, namun kapal-kapal mereka ternyata telah tenggelam sehingga mereka tidak memiliki jalan lagi untuk pulang melalui jalur laut. Di sisi lain, mereka mendapati Syahrak bersama penduduk Istakhr telah memblokade jalan-jalan yang akan dilalui kaum muslimin. Pasukan muslimin pun membuat perkemahan benteng untuk bertahan dari kepungan musuh.

Ketika berita tentang apa yang diperbuat oleh Al-Ala' bin al-Hadrami sampai kepada Umar, beliau sangat marah kepadanya. Umar langsung memecat dan mengancamnya. Umar lalu menulis surat kepada Utbah bin Ghazwan: "Sesungguhnya Al-Ala' bin al-Hadrami telah berangkat membawa pasukan lalu menjebak mereka di hadapan penduduk Persia dalam keadaan bermaksiat kepadaku. Aku khawatir mereka tidak akan mendapat pertolongan, dikalahkan, atau tertawan. Maka serulah masyarakat untuk menyelamatkan mereka, dan gabungkan mereka ke dalam pasukanmu sebelum mereka habis dibantai."

Utbah segera menyeru kaum muslimin dan membacakan surat Umar tersebut kepada mereka. Maka berkumpullah dua belas ribu prajurit yang dipimpin oleh Abu Sabrah bin Abi Ruhm. Mereka berangkat menunggangi bagal sambil menuntun kuda-kuda mereka dengan cepat menyusuri garis pantai menuju tempat yang bernama Thawus. Di sana, mereka mendapati Khulaid bin Al-Mundzir beserta pasukannya telah terkepung oleh musuh dari segala penjuru, dan tidak ada pilihan lain bagi mereka selain terus bertempur.

Pasukan bantuan muslimin datang tepat di saat mereka berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan pertolongan. Mereka langsung menerjang barisan kaum musyrikin, dan Abu Sabrah berhasil memporak-porandakan barisan mereka dengan kehancuran yang besar, membunuh musuh dalam jumlah yang sangat banyak, merampas harta benda yang melimpah, serta menyelamatkan Khulaid dan pasukannya dari cengkeraman musuh. Setelah itu, mereka semua kembali pulang menuju tempat Utbah bin Ghazwan di Basrah.

Ketika Utbah telah menyelesaikan seluruh penaklukan di wilayah tersebut, ia meminta izin kepada Umar untuk melaksanakan ibadah haji, dan Umar mengizinkannya. Utbah berangkat haji dan menunjuk Abu Sabrah bin Abi Ruhm sebagai penggantinya di Basrah.

Utbah kemudian bertemu dengan Umar pada musim haji dan meminta agar beliau memberhentikannya dari jabatan gubernur, namun Umar menolaknya dan bersumpah agar Utbah tetap kembali ke tempat tugasnya. Utbah pun berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla (agar diwafatkan), lalu ia pun wafat di Batni Nakhlah ketika dalam perjalanan pulang dari ibadah haji. Wafatnya Utbah membuat Umar sangat sedih, dan beliau memuji kebaikannya. Setelah itu, Umar menyerahkan kepemimpinan Basrah kepada Al-Mughirah bin Syu'bah untuk memimpin di sisa tahun tersebut serta tahun berikutnya, di mana pada masa kepemimpinannya tidak terjadi peristiwa besar dan tugasnya berjalan dengan aman dan selamat.

Penaklukan Ramhurmuz Setelah Pelanggaran Perjanjian Damai pada Tahun 17 H

Ibnu Jarir mengatakan: Penaklukan Ramhurmuz, Sus, dan Tustar, serta urusan mengenai Al-Hurmuzan terjadi pada tahun ini (17 H) menurut riwayat Saif bin Umar.

Penyebab dari pertempuran ini adalah karena Yazdajird menulis surat kepada penduduk Ahwaz dan Persia. Mereka pun bergerak, saling berjanji, dan mengikat sumpah setia untuk memerangi kaum muslimin serta menjadikan Basrah sebagai target serangan mereka.

Kabar tersebut sampai ke telinga Umar, maka beliau segera menulis surat kepada Sa'ad yang saat itu berada di Kufah agar mengirimkan sepasukan tentara yang besar ke wilayah Ahwaz bersama Nu'man bin Muqarrin dengan cepat, guna berjaga di hadapan Al-Hurmuzan. Umar juga menyebutkan nama beberapa pahlawan pemberani untuk bergabung di dalam pasukan ini, di antaranya: Jarir bin Abdullah al-Bajali, Jarir bin Abdullah al-Himyari, Suwaid bin Muqarrin, dan Abdullah bin Dzi as-Sahmain.

Umar juga menulis surat kepada Abu Musa yang berada di Basrah agar mengirimkan sepasukan tentara yang besar ke Ahwaz di bawah komando Sahl bin Adi, dengan menyertakan Al-Bara' bin Malik, Ashim bin Amr, Majza'ah bin Tsaur, Ka'ab bin Sur, 'Arfajah bin Hartsamah, Hudzaifah bin Mihshan, Abdurrahman bin Sahl, dan Al-Hushain bin Ma'bad. Umar menetapkan bahwa komando tertinggi atas seluruh gabungan pasukan Kufah dan Basrah serta pasukan bantuan yang datang diserahkan kepada Abu Sabrah bin Abi Ruhm.

Nu'man bin Muqarrin segera bergerak memimpin pasukan Kufah mendahului pasukan Basrah hingga tiba di Ramhurmuz. Di kota tersebut, Al-Hurmuzan telah bersiap bersama pasukannya setelah ia melanggar perjanjian damai yang disepakati sebelumnya dengan kaum muslimin. Maka Al-Hurmuzan segera menyerangnya dengan harapan dapat mengalahkannya sebelum kedatangan teman-temannya dari penduduk Basrah—ia sangat berharap akan dibantu oleh penduduk Persia. Lalu An-Nu'man bin Muqarrin bertemu dengannya dan mereka terlibat pertempuran yang sengit. Akhirnya Al-Hurmuzan kalah dan melarikan diri ke Tustar, serta meninggalkan Ramahurmuz. An-Nu'man pun menguasai kota itu secara paksa dan mengambil seluruh harta, perbekalan, serta senjata yang ada di dalamnya.

Penaklukan Tustar Secara Paksa pada Tahun 17 H

Ketika berita tentang apa yang dilakukan oleh penduduk Kufah terhadap Al-Hurmuzan sampai kepada penduduk Basrah, serta kabar bahwa ia telah melarikan diri dan berlindung di Tustar, mereka segera bergerak ke sana. Penduduk Kufah pun menyusul mereka hingga bersama-sama mengepung kota tersebut. Seluruh pasukan dipimpin oleh Abu Sabrah. Mereka mendapati bahwa Al-Hurmuzan telah mengumpulkan pasukan yang sangat besar di kota itu. Mereka kemudian menulis surat kepada Umar untuk mengabarkan situasi tersebut dan meminta bantuan pasukan.

Umar lalu menulis surat kepada Abu Musa agar bergerak menemui mereka—saat itu Abu Musa adalah gubernur penduduk Basrah. Abu Musa pun berangkat menemui mereka, sementara Abu Sabrah tetap memegang komando tertinggi atas seluruh pasukan Kufah dan Basrah. Mereka mengepung kota tersebut selama sebulan dan terjadi saling bunuh yang banyak di antara kedua belah pihak. Pada hari itu, Al-Bara bin Malik (saudara kandung Anas bin Malik) berhasil membunuh seratus orang musuh dalam duel satu lawan satu, di luar dari musuh-musuh yang ia bunuh dalam pertempuran biasa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ka'b bin Sur, Majza'ah bin Thaur, dan para pejuang Basrah lainnya. Begitu pula dengan penduduk Kufah, sekelompok dari mereka ada yang membunuh seratus orang dalam duel satu lawan satu, seperti Habib bin Qurrah, Rib'i bin 'Amir, dan 'Amir bin Abdul Aswad.

Mereka saling menyerang selama berhari-hari. Hingga pada penyerangan yang terakhir, kaum muslimin berkata kepada Al-Bara bin Malik—yang doanya terkenal selalu dikabulkan—: "Wahai Bara, bersumpahlah demi Tuhanmu agar Dia mengalahkan mereka untuk kita!".

Al-Bara berdoa: "Ya Allah, kalahkanlah mereka untuk kami, dan syahidkanlah aku!". Perawi berkata: Maka kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka hingga mendesak mereka masuk ke parit-parit pertahanan dan merebutnya. Orang-orang musyrik itu pun melarikan diri ke dalam kota dan berlindung di sana, hingga kota itu menjadi terasa sempit.

Kemudian, seorang pria dari penduduk kota itu meminta jaminan keamanan kepada Abu Musa, dan Abu Musa pun memberikannya. Pria itu lalu mengutus seseorang untuk menunjukkan kepada kaum muslimin jalan masuk ke kota, yaitu dari saluran tempat masuknya air. Para pemimpin pasukan menyerukan kepada orang-orang untuk melewati jalan itu, maka majulah para pemberani dan pahlawan. Mereka datang dan menyusup menemui para penjaga pintu gerbang melalui saluran air tersebut. Lalu mereka melumpuhkannya dan membuka pintu-pintu gerbang. Kaum muslimin pun bertakbir dan langsung memasuki kota tersebut. Peristiwa itu terjadi pada waktu fajar, sehingga mereka tidak sempat melaksanakan salat subuh pada hari itu kecuali setelah matahari terbit. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas bin Malik, beliau berkata:

شَهِدْتُ فَتْحَ تُسْتَرَ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، فَاشْتَغَلَ النَّاسُ بِالْفَتْحِ فَمَا صَلَّوْا الصُّبْحَ إِلَّا بَعْدَ ارْتِفَاعِ النَّهَارِ، فَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِتِلْكَ الصَّلَاةِ حُمْرَ النَّعَمِ.

"Aku menghadiri penaklukan Tustar pada saat salat fajar. Orang-orang sibuk dengan penaklukan tersebut sehingga mereka tidak melaksanakan salat subuh kecuali setelah hari mulai siang (matahari meninggi). Sungguh, aku tidak ingin menukar salat tersebut dengan unta-unta merah (harta yang paling berharga)."

Penawanan Al-Hurmuzan dan Pengirimannya ke Madinah

Ketika kota berhasil dikuasai, Al-Hurmuzan melarikan diri ke benteng. Sekelompok pahlawan mengejarnya dan mengepungnya di salah satu sudut benteng. Pilihan yang tersisa hanyalah kematiannya atau kematian mereka. Setelah Al-Bara bin Malik dan Majza'ah bin Thaur—semoga Allah merahmati keduanya—gugur, Al-Hurmuzan berkata kepada kaum muslimin: "Aku memiliki kantong panah yang berisi seratus anak panah. Tidak ada seorang pun dari kalian yang maju mendekatiku melainkan akan kupanah hingga tewas, dan tidak ada satu pun anak panahku yang meleset melainkan pasti mengenai salah seorang dari kalian. Lalu apa gunanya bagi kalian menawanku setelah aku membunuh seratus orang dari kalian?".

Mereka bertanya: "Lalu apa yang kamu inginkan?". Ia menjawab: "Kalian berikan aku jaminan keamanan sampai aku menyerahkan tanganku kepada kalian, lalu kalian membawaku menemui Umar bin Al-Khattab agar ia memutuskan perkara tentangku sesuai kehendak dan keputusannya.".

Mereka pun menyetujui permintaannya. Maka Al-Hurmuzan melemparkan busur serta anak panahnya, lalu mereka menawannya dan mengikatnya dengan kuat. Kaum muslimin kemudian mengambil seluruh harta benda dan perbekalan yang ada di kota itu, lalu membagi empat perlimanya. Setiap prajurit berkuda mendapatkan tiga ribu dirham, sedangkan setiap prajurit pejalan kaki mendapatkan seribu dirham.

Setelah itu, Abu Sabrah mengirimkan sepertiga harta (seperlima bagian baitul mal) dan membawa Al-Hurmuzan bersama rombongan utusan yang di antaranya terdapat Anas bin Malik dan Al-Ahnaf bin Qais. Ketika mereka sudah dekat dengan Madinah, mereka mendandani Al-Hurmuzan dengan pakaian kebesarannya yang biasa ia pakai, berupa kain sutra brokat (dibaj) dan emas yang dihiasi dengan permata yakut serta mutiara. Mereka memasuki Madinah dalam kondisi seperti itu lalu langsung menuju ke rumah Amirul Mukminin. Mereka bertanya tentang Umar, lalu orang-orang menjawab: "Beliau sedang pergi ke masjid.".

Mereka pun mendatangi masjid, ternyata Umar sedang tidur dengan berbantalkan jubahnya. Tidak ada orang lain di dalam masjid itu, sementara tongkat kecilnya (al-durrah) tergantung di tangannya. Al-Hurmuzan bertanya: "Di mana Umar?".

Orang-orang menjawab: "Itu dia.". Orang-orang mulai merendahkan suara mereka agar tidak membangunkan Umar. Sementara itu, Al-Hurmuzan berkata: "Lalu di mana para pengawalnya? Di mana penjaganya?". Orang-orang menjawab: "Ia tidak memiliki pengawal maupun penjaga.". Al-Hurmuzan berkata: "Kalau begitu, ia seharusnya seorang nabi.". Orang-orang menyahut: "Bukan, tetapi ia mengamalkan amalan para nabi.". Orang-orang semakin banyak berdatangan hingga Umar terbangun karena suara bising tersebut, lalu ia langsung duduk tegak. Umar memandang ke arah Al-Hurmuzan lalu bertanya: "Al-Hurmuzan?".

Mereka menjawab: "Benar.". Umar memperhatikan Al-Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya, lalu berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari api neraka dan aku memohon pertolongan kepada Allah.". Kemudian ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghinakan orang ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai sekalian kaum muslimin, berpegang teguhlah pada agama ini, dan ambillah petunjuk dari petunjuk Nabi kalian. Jangan sampai dunia memperdayai kalian, karena dunia itu sangat penipu.".

Rombongan utusan berkata kepada Umar: "Ini adalah raja Ahwaz, ajaklah ia bicara.". Umar menjawab: "Tidak, sampai tidak ada sepotong pun perhiasan yang tersisa di tubuhnya.". Mereka pun melaksanakan perintah itu dan memakaikannya pakaian yang kasar/tebal. Umar berkata: "Wahai Hurmuzan, bagaimana pendapatmu tentang akibat buruk dari pengkhianatan dan akibat dari ketetapan Allah?".

Al-Hurmuzan menjawab: "Wahai Umar, di masa jahiliyah, Allah membiarkan urusan antara kami dan kalian. Maka kami bisa mengalahkan kalian karena saat itu Allah tidak bersama kami maupun bersama kalian. Namun, ketika Allah berada bersama kalian, kalian pun mengalahkan kami.".

Umar berkata: "Sesungguhnya kalian bisa mengalahkan kami di masa jahiliyah karena persatuan kalian dan perpecahan kami.". Kemudian Umar bertanya lagi: "Apa alasanmu dan apa hujjahmu atas tindakanmu yang berkali-kali merusak perjanjian damai?".

Al-Hurmuzan berkata: "Aku takut kamu akan membunuhku sebelum aku sempat mengabarkannya kepadamu.". Umar menjawab: "Jangan takut akan hal itu.". Al-Hurmuzan lalu meminta minum, lalu dibawakanlah air dalam wadah/cawan yang kasar. Ia berkata: "Kalau pun aku mati karena kehausan, aku tidak akan sanggup minum dari wadah seperti ini.". Maka dibawakanlah wadah lain yang ia sukai. Ketika ia mengambil wadah itu, tangannya mulai gemetar, lalu ia berkata: "Aku takut dibunuh saat sedang minum.".

Umar berkata: "Tidak apa-apa bagimu sampai kamu meminumnya.". Maka Al-Hurmuzan langsung menumpahkan air tersebut. Umar berkata: "Berikan air lagi kepadanya, jangan kumpulkan padanya hukuman mati dan rasa haus.". Al-Hurmuzan berkata: "Aku tidak butuh air itu, sesungguhnya aku hanya ingin mencari jaminan keamanan dengan cara tersebut.". Umar berkata kepadanya: "Aku akan tetap membunuhmu!". Al-Hurmuzan membalas: "Bukankah kamu tadi sudah memberiku jaminan keamanan?".

Umar berkata: "Kamu bohong!". Anas langsung menyahut: "Ia benar, wahai Amirul Mukminin.". Umar berkata: "Celaka kamu wahai Anas! Apakah aku memberikan jaminan keamanan kepada orang yang telah membunuh Majza'ah dan Al-Bara?. Kamu harus membawakanku jalan keluar (alasan hukum), jika tidak, aku akan menghukummu!". Anas berkata: "Anda tadi telah berkata kepadanya 'Tidak apa-apa bagimu sampai kamu menceritakannya kepadaku', dan Anda juga berkata 'Tidak apa-apa bagimu sampai kamu meminumnya'.". Orang-orang yang ada di sekitar Umar pun mengatakan hal yang sama.

Umar lalu menghadap ke arah Al-Hurmuzan dan berkata: "Kamu telah mengelabuiku! Demi Allah, aku tidak mau dikelabui kecuali jika kamu masuk Islam.". Maka Al-Hurmuzan pun masuk Islam. Umar kemudian menetapkan santunan untuknya sebesar dua ribu dirham dan menempatkannya tinggal di Madinah.

Ibnu Katsir berkata: Keislaman Al-Hurmuzan berjalan dengan baik, dan ia selalu menyertai Umar hingga Umar terbunuh. Setelah itu, sebagian orang menuduhnya telah bersekongkol dengan Abu Lu'lu'ah dan Jufainah , sehingga Ubaidillah bin Umar (putra Umar) membunuh Al-Hurmuzan dan Jufainah.

Telah diriwayatkan kepada kita bahwa ketika Ubaidillah menebaskan pedang kepadanya, Al-Hurmuzan mengucapkan: "Laa ilaha illallah" (Tidak ada tuhan selain Allah). Adapun Jufainah, ia tewas tersungkur pada wajahnya.

Kondisi Kisra dan Sebagian Sahabatnya

Sementara itu, Yazdajird (Raja Persia) berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain, hingga akhirnya ia menetap di Ashbahan. Sebelumnya, ia telah mengutus sekelompok orang terpandang dari sahabatnya yang berjumlah sekitar tiga ratus orang pembesar dipimpin oleh seorang pria bernama Siyahi. Mereka terus melarikan diri dari kaum muslimin dari satu negeri ke negeri lain hingga kaum muslimin berhasil menaklukkan Tustar dan Istakhr.

Siyahi berkata kepada para sahabatnya: "Sesungguhnya orang-orang itu (kaum muslimin), setelah sebelumnya berada dalam kesulitan dan kehinaan, kini telah menguasai tempat-tempat para raja terdahulu. Tidaklah mereka menghadapi suatu pasukan melainkan mereka pasti menghancurkannya. Demi Allah, hal ini bukanlah terjadi karena kebatilan.". Di dalam hatinya mulai tumbuh rasa kagum dan keagungan terhadap Islam.

Para sahabatnya berkata: "Kami ikut apa katamu.". Maka mereka mengirim utusan kepada Abu Musa Al-Asy'ari untuk menyatakan keislaman mereka. Abu Musa lalu menulis surat kepada Umar mengenai hal tersebut. Umar memerintahkannya untuk menetapkan santunan bagi masing-masing dari mereka sebesar dua ribu-dua ribu dirham. Sedangkan untuk enam orang pembesar di antara mereka, ditetapkan sebesar dua ribu lima ratus dirham.

Keislaman mereka pun berjalan dengan sangat baik. Mereka memberikan kontribusi dan dampak yang besar dalam memerangi kaumnya sendiri. Pernah suatu ketika mereka mengepung sebuah benteng, namun benteng itu sulit ditembus. Salah seorang dari mereka berinisiatif melemparkan dirinya pada malam hari di depan pintu gerbang benteng dan melumuri pakaiannya dengan darah. Ketika penjaga benteng melihatnya, mereka mengira bahwa ia adalah bagian dari pasukan mereka sendiri, lalu mereka membuka pintu gerbang benteng untuk menyelamatkannya. Orang tersebut langsung bangkit menyerang penjaga pintu gerbang dan membunuhnya. Teman-temannya yang lain segera datang lalu membuka benteng tersebut, dan mereka berhasil menewaskan orang-orang Majusi yang berada di dalamnya.

Peristiwa Nahawand dan Penaklukannya Tahun 21 H:

Fase keempat dari penaklukan di wilayah Timur dimulai dengan Pertempuran Nahawand. Ini adalah peristiwa yang sangat besar, memiliki kedudukan yang tinggi, dan membawa kabar yang menakjubkan. Kaum muslimin biasa menyebutnya dengan istilah Fathul Futuh (Penaklukan dari Segala Penaklukan).

Ibnu Ishaq dan Al-Waqidi mengatakan: "Peristiwa Nahawand terjadi pada tahun dua puluh satu Hijriah."

Sementara Saif mengatakan: "Peristiwa itu terjadi pada tahun tujuh belas Hijriah." Ada pula yang berpendapat: "Pada tahun sembilan belas Hijriah."

Abu Ja'far bin Jarir (At-Thabari) telah memaparkan kisah pertempuran ini di bagian tahun dua puluh satu Hijriah, sehingga kami mengikutinya dalam hal itu. Kami mengumpulkan riwayat para imam tersebut mengenai masalah ini ke dalam satu rangkaian pemaparan, hingga kisah dari sebagian mereka jalin-menjalin dengan sebagian yang lain.

Penyebab Pertempuran

Faktor yang memicu meletusnya pertempuran ini adalah ketika kaum muslimin berhasil menaklukkan wilayah Ahwaz dan menguasai Istakhr—yang merupakan pusat kerajaan kuno mereka. Hal ini membakar amarah bangsa Persia, lalu Yazdajird mengobarkan semangat mereka. Saat itu, Yazdajird terus terpukul mundur dari satu kota ke kota lain hingga tiba di Isfahan dalam kondisi terasing dan terusir.

Yazdajird kemudian menyurati wilayah Nahawand dan daerah pegunungan serta kota-kota di sekitarnya. Mereka pun berkumpul dari segala penjuru yang jauh di bumi Nahawand, hingga jumlah pasukan mereka mencapai 150.000 (seratus lima puluh ribu) personel tempur. Pasukan tersebut dipimpin oleh Al-Fairuzan—atau ada yang menyebutnya Bundar.

Mereka saling membakar semangat satu sama lain dan berkata: "Sesungguhnya Muhammad yang datang kepada bangsa Arab tidak pernah mengusik negeri kita, begitu pula Abu Bakar yang memimpin setelahnya."

"Namun, Umar bin Khattab ini, ketika kekuasaannya semakin lama, dia telah merusak kehormatan kita, merebut negeri-negeri kita, dan hal itu belum membuatnya puas hingga dia memerangi kita di pusat tanah air kita sendiri, serta merebut ibu kota kerajaan. Dia tidak akan pernah berhenti sampai berhasil mengusir kalian dari negeri kalian. Oleh karena itu, berjanji dan bersepakatlah kalian untuk menuju Bashrah dan Kufah, kemudian menyibukkan Umar agar tidak mengurusi urusan di luar wilayahnya." Mereka pun saling menguatkan tekad satu sama lain dan menulis surat perjanjian tentang komitmen tersebut.

Maka Sa'ad menulis surat mengenai hal itu kepada Umar. Kemudian, Sa'ad menjelaskan secara langsung kepada Umar pada hari kedatangannya di Madinah mengenai persekongkolan mereka, dan bahwa mereka telah berkumpul sebanyak 150.000 orang.

Persiapan Kaum Muslimin

Datang pula surat dari Abdullah bin Abdullah bin Utban dari Kufah kepada Umar yang dibawa oleh Quraib bin Zhafar Al-Abdi. Surat tersebut mengabarkan bahwa musuh telah berkumpul dan mereka sangat geram serta saling membakar semangat untuk melawan Islam. "Wahai Amirul Mukminin, tindakan yang paling maslahat adalah kita mendatangi mereka terlebih dahulu, sehingga kita bisa segera mengatasi apa yang mereka rencanakan dan tekadkan untuk berjalan menuju negeri kita."

Umar bertanya kepada pembawa surat tersebut: "Siapa namamu?" Ia menjawab: "Quraib." Umar bertanya lagi: "Anak siapa?" Ia menjawab: "Anak Zhafar."

Maka Umar merasa optimis (mengambil tanda baik) dari nama tersebut dan berkata: "Zhafar Quraib (Kemenangan sudah dekat), insya Allah." Kemudian Umar memerintahkan agar diserukan kalimat "Ash-Shalatu Jami'ah" (panggilan untuk berkumpul). Orang-orang pun berkumpul, dan orang pertama yang memasuki masjid untuk seruan tersebut adalah Sa'ad bin Abi Waqqash. Umar kembali merasa optimis dengan kehadiran Sa'ad.

Umar lalu naik ke atas mimbar setelah orang-orang berkumpul, kemudian berpidato: "Sesungguhnya hari ini adalah hari yang akan menentukan hari-hari setelahnya. Ketahuilah, aku telah memantapkan tekad pada suatu urusan, maka dengarkanlah, jawablah, persingkatlah pendapat kalian, dan janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang. Aku berpendapat untuk berjalan langsung memimpin orang-orang yang bersamaku hingga aku menempati posisi di tengah-tengah antara dua kota besar ini (Kufah dan Bashrah). Aku akan mengerahkan massa, kemudian aku menjadi pasukan bantuan bagi mereka sampai Allah memberikan kemenangan kepada mereka."

Maka berdirilah Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, dan Abdul Rahman bin Auf di antara para tokoh yang memiliki pemikiran matang. Masing-masing dari mereka berbicara sendiri-sendiri dengan penyampaian yang sangat baik dan tepat. Pendapat mereka sepakat agar Umar tidak perlu berangkat meninggalkan Madinah, melainkan cukup mengirimkan pasukan-pasukan bantuan, serta membimbing mereka dengan pemikiran dan doanya. Di antara perkataan Ali radhiyallahu 'anhu adalah:

"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya urusan (agama) ini, kemenangan maupun kekalahannya tidak ditentukan oleh jumlah yang banyak atau sedikit. Ini adalah agama-Nya yang telah Dia menangkan, dan pasukan-Nya yang telah Dia muliakan serta Dia bantu dengan para malaikat hingga mencapai apa yang telah dicapainya. Kita berada di atas janji Allah, dan Allah pasti menepati janji-Nya serta memenangkan pasukan-Nya. Posisi Anda di tengah-tengah mereka, wahai Amirul Mukminin, bagaikan benang pada untaian ronce manik-manik; ia mengumpulkan dan menahannya. Jika benang itu putus, maka bercerai-berailah apa yang ada di dalamnya dan hilang, serta tidak akan pernah bisa terkumpul utuh kembali selamanya. Bangsa Arab hari ini, meskipun jumlahnya sedikit, mereka menjadi banyak dan mulia dengan Islam. Oleh karena itu, tetaplah di tempat Anda dan surati penduduk Kufah, karena mereka adalah tokoh-tokoh Arab dan para pemimpin mereka. Hendaknya dua pertiga dari mereka berangkat bertempur dan sepertiganya tetap tinggal. Surati juga penduduk Bashrah agar mereka turut mengirimkan bantuan pasukan kepada mereka."

Umar merasa kagum dengan pendapat Ali dan merasa gembira karenanya. Umar sendiri apabila meminta musyawarah kepada seseorang, ia tidak akan memutuskan suatu urusan sebelum meminta pertimbangan dari Al-Abbas. Maka ketika pendapat para sahabat di bidang ini membuatnya kagum, Umar menyampaikannya kepada Al-Abbas. Al-Abbas berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tenanglah, sesungguhnya berkumpulnya bangsa Persia ini tidak lain hanyalah demi bencana yang akan menimpa mereka sendiri."

Kemudian Umar berkata: "Berikan saran kepadaku, siapa orang yang harus aku serahi komando perang ini, dan hendaknya ia adalah orang Irak."

Orang-orang menjawab: "Anda lebih tahu tentang pasukan Anda, wahai Amirul Mukminin."

Umar berkata: "Demi Allah, aku benar-benar akan mengangkat seorang pria yang akan menjadi ujung tombak pertama ketika bertemu musuh besok pagi."

Mereka bertanya: "Siapa dia, wahai Amirul Mukminin?"

Umar menjawab: "An-Nu'man bin Muqarrin." Mereka pun berkata: "Dia adalah orang yang tepat untuk tugas itu."

Sebelumnya, An-Nu'man memang pernah menyurati Umar ketika ia berada di Kaskar, meminta agar Umar membebastugaskannya dari jabatan administratif di sana dan mengalihkannya untuk memimpin pertempuran melawan penduduk Nahawand. Oleh karena itulah, Umar mengabulkan permintaannya. Kemudian Umar menyurati Hudzaifah agar bergerak dari Kufah membawa pasukan dari sana, dan menyurati Abu Musa agar bergerak membawa pasukan dari Bashrah.

Pengangkatan An-Nu'man sebagai Panglima Pasukan

Umar menyurati An-Nu'man—yang saat itu berada di Bashrah—agar bergerak bersama pasukan yang ada di sana menuju Nahawand. Apabila semua pasukan telah berkumpul, maka setiap panglima memimpin pasukannya masing-masing, namun panglima tertinggi bagi seluruh pasukan adalah An-Nu'man bin Muqarrin. Jika ia gugur, maka panglimanya adalah Hudzaifah bin al-Yaman. Jika ia gugur, maka Jarir bin Abdullah. Jika ia gugur, maka Qais bin Maksyuh. Jika Qais gugur, maka si Fulan lalu si Fulan, hingga Umar menghitung tujuh orang yang salah satunya adalah Al-Mughirah bin Syu'bah. Ada pula yang berpendapat bahwa nama-nama setelahnya tidak disebutkan secara spesifik, wallahu a'lam (dan Allah yang lebih mengetahui).

Adapun teks suratnya adalah sebagai berikut:

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada An-Nu'man bin Muqarrin. Salam keselamatan atasmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia di hadapanmu. Amma ba'du: Sesungguhnya telah sampai kabar kepadaku bahwa sekumpulan besar bangsa ajam (non-Arab) telah berkumpul untuk menghadapi kalian di kota Nahawand. Maka apabila suratku ini telah sampai kepadamu, bergeraklah dengan perintah Allah, dengan pertolongan Allah, dan dengan kemenangan dari Allah, bersama kaum muslimin yang bersamamu. Janganlah engkau membawa mereka ke medan yang menyulitkan sehingga engkau menyengsarakan mereka, jangan pula engkau menahan hak mereka sehingga engkau membuat mereka kufur (mengingkari nikmat), dan jangan memasukkan mereka ke dalam hutan belantara yang lebat. Karena sesungguhnya satu orang dari kaum muslimin lebih aku cintai daripada seratus ribu dinar. Berjalanlah terus ke arah tujuanmu itu hingga engkau tiba di Mah, karena sesungguhnya aku telah menyurati penduduk Kufah untuk menemuimu di sana. Apabila pasukanmu telah berkumpul bersamamu, maka bergeraklah menuju Al-Fairuzan dan orang-orang ajam dari penduduk Persia serta selain mereka yang berkumpul bersamanya. Mintalah pertolongan kepada Allah, dan perbanyaklah membaca kalimat 'La haula wa la quwwata illa billah' (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah)."

Umar juga menyurati wakil penguasa Kufah—yaitu Abdullah bin Abdullah bin Utban—agar mempersiapkan pasukan dan mengirim mereka ke Nahawand, serta menetapkan Hudzaifah bin al-Yaman sebagai komandan mereka hingga mereka sampai kepada An-Nu'man bin Muqarrin. Umar menugaskan As-Sa'ib bin Al-Aqra' untuk mengurus pembagian harta rampasan perang (ghanimah).

Maka Hudzaifah pun bergerak membawa pasukan yang sangat besar menuju An-Nu'man bin Muqarrin agar mereka dapat bertemu di kota Sah. Turut bergerak bersama Hudzaifah sejumlah besar para pemimpin Irak. Umar juga telah menyiagakan pasukan yang cukup di setiap wilayah untuk mengamankannya, menempatkan penjaga di setiap penjuru, dan mereka melakukan tindakan pencegahan serta kewaspadaan yang sangat besar.

Kemudian mereka sampai ke tempat An-Nu'man bin Muqarrin di lokasi yang telah dijanjikan. Hudzaifah bin al-Yaman menyerahkan surat Umar kepada An-Nu'man yang berisi perintah tentang apa saja yang harus dijadikan pegangan dalam pertempuran ini. Maka genaplah jumlah pasukan muslimin sebanyak tiga puluh ribu personel tempur berdasarkan riwayat Saif dari As-Sya'bi. Di antara mereka terdapat banyak sekali pemuka sahabat dan para pemimpin bangsa Arab, seperti: Abdullah bin Umar, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, Hudzaifah bin al-Yaman, Al-Mughirah bin Syu'bah, Amr bin Ma'di Karib Az-Zubaidi, Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi, dan Qais bin Maksyuh Al-Muradi. Pasukan tersebut kemudian bergerak menuju Nahawand.

Pengiriman Pasukan Pengintai oleh An-Nu'man

An-Nu'man bin Muqarrin mengirim tiga orang pasukan pengintai di depannya, yaitu: Thulaihah, Amr bin Ma'di Karib Az-Zubaidi, dan Amr bin Abi Salamah, untuk menyelidiki berita tentang musuh dan bagaimana kondisi mereka.

Pasukan pengintai tersebut berjalan selama sehari semalam, lalu Amr bin Abi Salamah kembali. Ketika ditanyakan kepadanya: "Apa yang membuatmu kembali?"

Ia menjawab: "Aku berada di bumi ajam (Persia); bumi yang bisa membunuh orang yang tidak mengenalnya, dan juga bisa membunuh orang yang mengetahuinya."

Kemudian setelah itu Amr bin Ma'di Karib menyusul kembali dan berkata: "Kami tidak melihat seorang pun, dan aku khawatir jalan kita akan diputus (dikepung)."

Sedangkan Thulaihah terus merangsek maju dan tidak mempedulikan kembalinya kedua temannya tersebut. Ia berjalan setelah itu sekitar belasan farsakh hingga sampai di Nahawand. Ia menyusup ke tengah-tengah bangsa ajam dan berhasil mengetahui informasi yang ia inginkan mengenai mereka. Kemudian ia kembali kepada An-Nu'man dan mengabarkan hal tersebut kepadanya, serta meyakinkan bahwa antara dirinya dan Nahawand tidak ada sesuatu hal (rintangan musuh) yang dikhawatirkannya.

Pergerakan Pasukan Islam Menuju Nahawand:

An-Nu'man berjalan bersama pasukannya yang telah diatur formasinya. Ia menempatkan Nu'aim bin Muqarrin di barisan depan (garda depan), Hudzaifah bin al-Yaman dan Suwaid bin Muqarrin di kedua sisi sayap pasukan, Al-Qa'qa' bin 'Amru memimpin pasukan berkuda (kavaleri), dan Mujasyi' bin Mas'ud di barisan belakang. Mereka terus berjalan hingga berhadapan dengan bangsa Persia yang dipimpin oleh Al-Fairuzan, dengan membawa kekuatan pasukan sebanyak 150.000 orang.

Ketika kedua pasukan saling melihat, An-Nu'man bertakbir dan kaum muslimin pun ikut bertakbir sebanyak tiga kali. Pekikan takbir itu menggetarkan dan menimbulkan rasa takut yang sangat hebat di hati orang-orang asing (Persia) tersebut. Kemudian An-Nu'man memerintahkan pasukannya untuk menurunkan barang bawaan dalam posisi tetap siaga. Orang-orang pun menurunkan barang bawaan mereka, meninggalkan hewan tunggangan, serta mendirikan tenda dan kubah-kubah mereka. Sebuah tenda besar juga didirikan untuk An-Nu'man.

An-Nu'man kemudian memerintahkan untuk memulai pertempuran, dan hari itu adalah hari Rabu. Mereka saling berperang pada hari itu dan hari berikutnya secara bergantian (saling serang). Ketika hari Jumat tiba, pasukan Persia berlindung di dalam benteng mereka, dan kaum muslimin pun mengepung mereka dalam waktu yang cukup lama sesuai kehendak Allah. Orang-orang Persia itu bisa keluar dan kembali masuk ke dalam benteng sesuka hati mereka.

Al-Mughirah Diutus Menemui Panglima Persia:

Panglima Persia mengirim utusan untuk meminta seorang lelaki dari kaum muslimin agar berbicara dengannya. Maka pergilah Al-Mughirah bin Syu'bah menemuinya. Al-Mughirah menceritakan betapa megahnya pakaian dan tempat duduk panglima tersebut, serta bagaimana sang panglima berbicara kepadanya dengan nada menghina dan merendahkan bangsa Arab. Sang panglima menyebut bahwa bangsa Arab adalah orang-orang yang paling lama kelaparan, serta memiliki rumah dan kedudukan yang paling rendah.

Al-Mughirah berkata: "Aku lalu bersyahadat, memuji Allah, dan berkata: 'Kami memang pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk dari apa yang kamu sebutkan, sampai akhirnya Allah mengutus Rasul-Nya. Beliau menjanjikan kemenangan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat. Sejak Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami, kami senantiasa merasakan kemenangan dari Tuhan kami. Sungguh, kami telah mendatangi kalian di negeri kalian ini, dan kami tidak akan pernah kembali lagi ke kesengsaraan itu selamanya, sampai kami merebut negeri serta apa yang ada di tangan kalian, atau kami mati terbunuh di tanah kalian.'"

Mendengar hal itu, panglima Persia berkata: "Demi Allah, si mata satu ini (Al-Mughirah) benar-benar jujur menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya kepada kalian."

An-Nu'man Bermusyawarah dengan Para Ahli Strategi di Pasukannya:

Ketika kondisi pengepungan ini terasa terlalu lama bagi kaum muslimin, An-Nu'man bin Muqarrin mengumpulkan para ahli strategi dan tokoh yang memiliki pemikiran matang dari pasukannya. Mereka bermusyawarah mengenai situasi tersebut dan mencari cara agar mereka bisa berhadapan langsung dengan kaum musyrik di satu lapangan terbuka.

Amru bin Abi Salamah berbicara pertama kali—dia adalah orang yang paling tua di antara yang hadir di sana—ia berkata: "Membiarkan mereka tetap berada dalam kondisi seperti itu (bertahan di benteng) sebenarnya lebih merugikan mereka daripada apa yang kita tuntut dari mereka, dan hal itu justru lebih menjaga keselamatan kaum muslimin." Namun, semua orang menyanggah pendapatnya dan berkata: "Sesungguhnya kita berada dalam keyakinan penuh akan kemenangan agama kita dan pembuktian janji Allah kepada kita."

Kemudian Amru bin Ma'di Karib berbicara dan berkata: "Hadapi dan seranglah mereka dengan jumlah pasukan yang banyak, dan jangan takut pada mereka." Semua orang kembali menyanggah pendapatnya dan berkata: "Tindakan itu sama saja seperti membenturkan diri kita ke dinding, sedangkan dinding-dinding benteng itu adalah penolong mereka untuk melawan kita."

Lalu Thulaihah Al-Asadi berbicara dan berkata: "Pendapat kedua orang tadi kurang tepat. Menurutku, sebaiknya kita mengirim satu pasukan kecil untuk mengepung mereka, memancing mereka bertempur, dan menyulut kemarahan mereka. Jika mereka keluar mengejar pasukan kecil kita, maka pasukan tersebut harus berpura-pura lari mundur ke arah kita. Ketika mereka terus memburu dan mendekati posisi kita, kita semua harus menampakkan diri seolah-olah sedang melarikan diri (kalah). Dengan begitu, mereka tidak akan ragu lagi bahwa kita kalah, sehingga mereka akan keluar dari benteng mereka tanpa ada yang tersisa. Begitu mereka semua sudah keluar sepenuhnya, kita berbalik menyerang mereka dan bertempur dengan pedang sampai Allah memberikan keputusan di antara kita."

Orang-orang pun menganggap baik strategi ini.

An-Nu'man kemudian memerintahkan Al-Qa'qa' bin 'Amru, pemimpin pasukan berkuda (kavaleri khusus), untuk pergi ke arah kota (benteng), mengepung mereka, lalu berpura-pura lari di hadapan mereka jika mereka keluar menyerang. Al-Qa'qa' pun melaksanakan perintah tersebut. Ketika pasukan Persia keluar dari benteng, Al-Qa'qa' bersama pasukannya mundur perlahan, lalu mundur lagi. Pasukan Persia menganggap hal itu sebagai kesempatan emas, sehingga terjadilah apa yang diperkirakan oleh Thulaihah. Mereka saling berseru: "Ayo kejar, ayo kejar!" Mereka pun keluar seluruhnya, dan tidak ada lagi yang tersisa di dalam kota dari kalangan prajurit kecuali para penjaga pintu benteng, hingga akhirnya mereka sampai ke posisi pasukan Islam.

Saat itu An-Nu'man bin Muqarrin sudah berada dalam posisi pasukannya yang siap siaga. Peristiwa itu terjadi di awal siang hari Jumat. Orang-orang sudah tidak sabar dan mendesak untuk segera menyerang mereka, namun An-Nu'man melarangnya. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak bertempur sampai matahari tergelincir (masuk waktu Zuhur), angin bertiup, dan pertolongan Allah turun sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah . Orang-orang terus mendesak An-Nu'man untuk segera melakukan serangan, namun beliau tetap menolaknya.

Beliau adalah seorang lelaki yang kokoh dan teguh pendiriannya. Ketika waktu tergelincirnya matahari (Zuhur) tiba, beliau mengimami kaum muslimin untuk salat, kemudian menunggangi kuda miliknya yang berwarna hitam kemerahan dan bertubuh pendek mendekati tanah. Beliau mulai mendatangi setiap bendera pasukan, memberikan semangat kepada mereka untuk bersabar, dan memerintahkan mereka untuk teguh berdiri.

Beliau menyampaikan instruksi kepada kaum muslimin: bahwa beliau akan mengumandangkan takbir yang pertama agar orang-orang bersiap-siap untuk menyerang, kemudian takbir yang kedua sehingga tidak ada lagi persiapan yang tersisa (semua siap tempur), lalu takbir yang ketiga yang menandai dimulainya serangan yang sesungguhnya secara serentak.

Setelah itu, beliau kembali ke posisinya. Pasukan Persia telah mengatur formasi yang sangat besar dan berbaris dalam jumlah serta perlengkapan luar biasa yang belum pernah terlihat tandingannya. Banyak di antara mereka yang saling mengikatkan diri satu sama lain, dan mereka menebarkan ranjau besi di belakang punggung mereka agar mereka tidak bisa melarikan diri, mundur, ataupun berbalik arah.

Berkecamuknya Pertempuran:

Kemudian An-Nu'man bin Muqarrin Radhiyallahu 'Anhu mengumandangkan takbir yang pertama dan mengayunkan bendera, maka orang-orang pun bersiap-siap untuk menyerang. Lalu beliau bertakbir yang kedua dan mengayunkan bendera, maka mereka pun semakin bersiap. Kemudian beliau bertakbir yang ketiga, lalu beliau menyerbu dan orang-orang pun ikut menyerbu ke arah kaum musyrik. Bendera An-Nu'man bergerak menukik ke arah pasukan Persia bagaikan burung elang yang menyambar mangsanya, hingga mereka saling berhadapan dan beradu pedang.

Mereka bertempur dengan sengit, sebuah pertempuran yang belum pernah ada tandingannya dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, dan para pendengar pun belum pernah mendengar pertempuran sedahsyat itu. Korban yang tewas dari kalangan musyrik sejak matahari tergelincir hingga kegelapan malam malam tiba begitu banyak, sampai-sampai permukaan tanah tertutup oleh darah, hingga hewan-hewan tunggangan pun tergelincir di dalamnya.

Bahkan dikatakan bahwa kuda sang panglima, An-Nu'man bin Muqarrin, tergelincir di genangan darah tersebut hingga beliau terjatuh, lalu sebuah anak panah mengenai pinggangnya dan menewaskannya. Tidak ada seorang pun yang menyadari kematian beliau kecuali saudaranya sendiri, Suwaid—ada pula yang mengatakan Nu'aim. Saudaranya itu segera menutupinya dengan kain pakaiannya dan merahasiakan kematiannya. Ia lalu menyerahkan bendera komando kepada Hudzaifah bin al-Yaman. Hudzaifah kemudian menempatkan Nu'aim di posisi An-Nu'man dan memerintahkan untuk tetap merahasiakan kematian sang panglima agar barisan tidak pecah dan orang-orang tidak menjadi gentar/kalah.

Ketika malam sudah gelap gulita, pasukan musyrik kocar-kacir melarikan diri dan dikejar oleh kaum muslimin. Orang-orang kafir sebelumnya telah mengikat 30.000 orang dari mereka dengan rantai dan menggali parit di sekitar mereka. Ketika mereka kalah dan mundur, mereka justru terperosok ke dalam parit tersebut dan saling jatuh berjatuhan ke dalam lembah-lembah di negeri mereka sendiri. Akibatnya, banyak sekali dari mereka yang tewas, jumlahnya sekitar 100.000 orang atau lebih, di luar mereka yang tewas dalam pertempuran langsung. Tidak ada yang selamat dari mereka kecuali sisa-sisa pasukan yang kocar-kacir.

Kondisi Umar Saat Pertempuran Berlangsung

Adapun Amirul Mukminin, Umar, beliau senantiasa berdoa kepada Allah siang dan malam untuk keselamatan mereka. Doa beliau dipenuhi rasa cemas yang mendalam layaknya ibu hamil tua yang menanti kelahiran, serta ketundukan penuh seperti orang yang berada dalam kesulitan yang teramat sangat. Beliau merasa kabar dari mereka datang terlambat.

Ketika seorang lelaki dari kaum muslimin sedang berada di luar kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang penunggang kuda. Lelaki itu bertanya kepadanya: "Dari mana kamu datang?"

Penunggang kuda itu menjawab: "Dari Nahawand."

Lelaki itu bertanya lagi: "Apa yang terjadi dengan orang-orang di sana?"

Ia menjawab: "Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka, sang panglima gugur, dan kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah) yang sangat banyak."

Lelaki itu pun kembali ke Madinah dan mengabarkan kepada orang-orang, hingga berita tersebut tersebar luas dan sampai kepada Amirul Mukminin. Umar kemudian memanggil lelaki itu dan menanyakan siapa yang telah memberikan kabar kepadanya, ia menjawab: "Seorang penunggang kuda."

Umar lalu berkata: "Sesungguhnya dia tidak datang menemuiku, makhluk itu tidak lain adalah seorang lelaki dari golongan jin dan dialah pembawa pesan mereka."

Kedatangan Berita Kemenangan

Hudzaifah mengirimkan kabar kemenangan tersebut melalui Tharif bin Sahm. Kemudian Tharif datang membawa berita kemenangan. Umar bertanya kepadanya tentang siapa saja dari kaum muslimin yang gugur, namun Tharif tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang hal itu, sampai akhirnya As-Sa'ib bin Al-Aqra' datang membawa bagian seperlima harta rampasan (al-akhmas) dan menjelaskan perkara tersebut dengan sejelas-jelasnya.

Ketika Umar dikabari tentang gugurnya An-Nu'man, beliau menangis lalu bertanya kepada As-Sa'ib tentang siapa saja yang gugur dari kaum muslimin. As-Sa'ib menjawab: "Fulan, fulan, dan fulan dari kalangan tokoh-tokoh terkemuka dan bangsawan kaum muslimin." Kemudian ia berkata lagi: "Dan orang-orang lain dari kalangan masyarakat biasa yang tidak dikenal oleh Amirul Mukminin."

Mendengar hal itu, Umar menangis seketika sambil berkata: "Apa ruginya bagi mereka jika Amirul Mukminin tidak mengenalnya? Akan tetapi Allah mengenal mereka, dan Dia telah memuliakan mereka dengan mati syahid. Apalah arti pengenalan Umar bagi mereka." Kemudian beliau memerintahkan untuk membagikan bagian seperlima harta rampasan tersebut sebagaimana biasanya.

Ibnu Asakir berkata: Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Warraq menyebutkan bahwa Thulaihah gugur sebagai syahid di Nahawand pada tahun 21 Hijriah bersama An-Nu'man bin Muqarrin dan Amru bin Ma'di Karib Az-Zubaidi.

Saif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi, ia berkata: Ketika para tawanan perang dari Nahawand dibawa ke Madinah, Abu Lu'lu'ah Fairuz—budak milik Al-Mughirah bin Syu'bah—setiap kali bertemu dengan anak kecil dari tawanan tersebut, ia mengusap kepalanya sambil menangis dan berkata: "Umar telah memakan hatiku (membuatku sangat menderita)." Asal-usul Abu Lu'lu'ah sendiri memang dari Nahawand.

Penaklukan Hamadzan Tahun (21 H)

Al-Fairuzan sebelumnya telah terdesak di Nahawand, namun ia berhasil lolos dan melarikan diri. Nu'aim bin Muqarrin kemudian mengejarnya, dan ia menempatkan Al-Qa'qa' di barisan depannya. Al-Fairuzan menuju ke arah Hamadzan, lalu Al-Qa'qa' berhasil menyusul dan mendapatinya di jalan pintas (bukit) Hamadzan.

Pada saat yang sama, datanglah banyak bagal (peranakan kuda dan keledai) serta keledai yang sedang mengangkut madu. Akibatnya, Al-Fairuzan tidak mampu mendaki bukit tersebut karena terhalang oleh kawanan hewan itu—dan hal itu memang sudah menjadi waktu ajal dan kebinasaannya. Ia pun turun dari tunggangannya lalu memanjat gunung. Al-Qa'qa' terus mengejarnya hingga berhasil membunuhnya. Kaum muslimin pada hari itu berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki pasukan-pasukan yang terbuat dari madu."

Kemudian mereka mengambil madu tersebut beserta muatan lain yang bercampur dengannya sebagai rampaian perang, dan jalan pintas (bukit) tersebut dinamai dengan Tsaniyyatul 'Asal (Bukit Madu).

Setelah itu, Al-Qa'qa' mengejar sisa-sisa pasukan musuh yang melarikan diri ke Hamadzan. Beliau mengepung mereka dan menguasai daerah di sekitarnya. Akhirnya penguasa kota tersebut—Khusrau Syunum—turun dan mengajak berdamai atas kota tersebut.

Kemudian Al-Qa'qa' kembali bergabung dengan Hudzaifah dan kaum muslimin yang bersamanya, di mana mereka telah memasuki kota Nahawand dengan cara penaklukan paksa (perang) setelah pertempuran tersebut selesai.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain