Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur Tahap Ketiga
Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur
Tahap Ketiga:
Tahap ini dimulai dengan diangkatnya Sa'ad bin Abi Waqqas
sebagai panglima jihad di Irak pada tahun 14 Hijriah.
Pengangkatan Sa'ad bin Abi Waqqas sebagai Panglima di Irak:
Tahun ke-14 Hijriah dimulai ketika Khalifah Umar bin Khattab
gencar mendorong dan memotivasi masyarakat untuk berjihad melawan penduduk
Irak. Hal itu dilakukan setelah beliau menerima kabar tentang gugurnya Abu
Ubaid pada Perang Jembatan (Jisr), serta kembali bersatunya bangsa Persia di
bawah kepemimpinan Yazdajird yang mereka angkat dari garis keturunan raja.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu
berangkat bersama pasukan dari Madinah pada hari pertama bulan Muharram tahun
14 Hijriah ini, lalu berhenti di sebuah sumber air yang bernama Shirar. Beliau
mendirikan markas pasukan di sana dengan niat untuk memimpin langsung perang ke
Irak. Umar menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai wakil sementara yang memegang
kendali di Madinah, serta membawa serta Utsman bin Affan beserta para pemuka
sahabat Nabi.
Setelah itu, beliau mengadakan majelis musyawarah bersama
para sahabat mengenai niat yang telah direncanakannya tersebut, dan
dikumandangkanlah seruan "Ash-Shalatu Jami'ah". Umar juga
mengirim pesan kepada Ali, maka Ali pun datang dari Madinah. Ketika Umar
meminta saran mereka, seluruh sahabat menyetujui rencananya untuk pergi
langsung ke Irak, kecuali Abdurrahman bin Auf.
Abdurrahman bin Auf berkata kepada Umar, "Sesungguhnya
aku khawatir jika Anda sampai terkalahkan, hal itu akan melemahkan posisi kaum
muslimin di seluruh penjuru bumi. Menurut pendapatku, sebaiknya Anda mengutus
seorang pria saja, sementara Anda sendiri kembali ke Madinah ." Mendengar
hal itu, Umar dan orang-orang yang hadir akhirnya membenarkan dan menyetujui
pendapat Ibnu Auf tersebut.
Umar lalu bertanya, "Kalau begitu, menurutmu siapa
orang yang sebaiknya kita utus ke Irak? " Abdurrahman bin Auf menjawab,
"Aku telah menemukannya." Umar bertanya, "Siapa dia? "
Abdurrahman bin Auf menjawab, "Sang singa di sarangnya, yaitu Sa'ad bin
Malik Az-Zuhri (Sa'ad bin Abi Waqqas)."
Umar pun memuji pendapat tersebut, lalu mengirim pesan
kepada Sa'ad dan menetapkannya sebagai panglima untuk urusan di Irak.
Wasiat-Wasiat Umar kepada Sa'ad:
Umar kemudian memberikan wasiat kepadanya dengan berkata:
"Wahai Sa'ad, Sa'ad bin Wuhaib! Jangan sampai engkau
terperdaya oleh urusan Allah hanya karena ada yang mengatakan bahwa engkau
adalah paman dari Rasulullah ﷺ
dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak menghapus keburukan dengan
keburukan, melainkan Dia menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya
tidak ada hubungan nasab (kekerabatan) antara Allah dengan siapa pun kecuali
dengan ketaatan kepada-Nya. Maka seluruh manusia, baik yang terpandang maupun
yang jelata, kedudukannya adalah sama di mata Allah; Allah adalah Tuhan mereka
dan mereka adalah hamba-hamba-Nya. Mereka saling mengungguli atas dasar
keselamatan (afiat) dan meraih apa yang ada di sisi Allah dengan ketaatan.
Perhatikanlah perkara yang engkau lihat dijalani oleh Rasulullah ﷺ
sejak beliau diutus hingga beliau berpisah dengan kita, lalu pegang teguhlah
perkara tersebut karena itulah kebenaran. Inilah nasihatku kepadamu."
Ketika Sa'ad hendak berpisah untuk berangkat, Umar kembali
berpesan kepadanya:
"Sesungguhnya engkau akan menghadapi perkara yang
berat, maka bersabarlah, benar-benar bersabarlah atas apa yang menimpamu atau
yang terjadi padamu, niscaya rasa takut kepada Allah akan berkumpul pada
dirimu. Ketahuilah bahwa rasa takut kepada Allah itu terkumpul dalam dua hal:
dalam menaati-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Sesungguhnya orang yang
menaati-Nya hanyalah mereka yang membenci dunia dan mencintai akhirat. Dan
orang yang bermaksiat kepada-Nya hanyalah mereka yang mencintai dunia dan membenci
akhirat.
Bagi hati itu ada hakikat-hakikat yang diciptakan oleh
Allah, di antaranya ada yang bersifat rahasia (batin) dan ada yang bersifat
tampak (lahir). Adapun hal yang tampak adalah ketika orang yang memujinya dan
orang yang mencelanya dalam hal kebenaran kedudukannya sama saja bagi dirinya.
Sedangkan hal yang rahasia dapat diketahui dari munculnya hikmah dari hatinya
melalui lisannya, serta dengan adanya rasa cinta dari manusia. Maka janganlah
engkau enggan untuk membuat dirimu dicintai oleh manusia, karena para nabi pun
dahulu meminta agar dicintai oleh mereka. Sesungguhnya Allah jika mencintai
seorang hamba, Dia akan membuatnya dicintai; dan jika Dia membenci seorang
hamba, Dia akan membuatnya dibenci. Oleh karena itu, ukurlah kedudukanmu di
sisi Allah dengan kedudukanmu di mata manusia."
Sa'ad kemudian berangkat menuju Irak memimpin 4.000 pasukan;
3.000 di antaranya merupakan penduduk Yaman, dan 1.000 orang sisanya dari
masyarakat umum. Ada pula yang menyebutkan jumlahnya 6.000 pasukan. Umar
mengantarkan keberangkatan mereka dari wilayah Shirar hingga sampai ke
Al-A'wash.
Khotbah Umar:
Umar berdiri menyampaikan khotbah di hadapan orang-orang di
tempat tersebut, beliau berkata:
"Sesungguhnya Allah hanyalah membuat perumpamaan untuk
kalian dan menguraikan firman-Nya agar hati menjadi hidup karenanya. Sebab,
hati itu sejatinya mati di dalam dada sampai Allah menghidupkannya. Siapa yang
mengetahui sesuatu, hendaklah ia mengambil manfaat darinya. Sesungguhnya
keadilan itu memiliki tanda-tanda dan kabar gembira. Adapun tanda-tandanya
adalah adanya rasa malu, kedermawanan, ketenangan, dan kelembutan. Sedangkan
kabar gembiranya adalah rahmat.
Allah telah membuatkan pintu bagi setiap perkara, dan
memudahkan kunci untuk setiap pintu tersebut. Pintu keadilan adalah mengambil
pelajaran (itibar), dan kuncinya adalah Zuhud. Mengambil pelajaran
adalah dengan mengingat kematian dan bersiap-siap dengan mendahulukan amal
saleh. Sedangkan zuhud adalah mengambil hak dari siapa pun yang wajib
menunaikan hak tersebut, menyerahkan hak kepada setiap orang yang memilikinya,
serta merasa cukup dengan apa yang sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena
jika apa yang sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja tidak membuatnya cukup,
niscaya tidak akan ada sesuatu pun yang bisa membuatnya kaya.
Sesungguhnya aku berada di antara kalian dan Allah, dan
tidak ada seorang pun antara aku dan Dia. Allah telah mewajibkan kepadaku untuk
mencegah doa (keluhan) agar tidak tertuju kepada-Nya, maka sampaikanlah
keluhan-keluhan kalian kepada kami. Siapa saja yang tidak mampu menyampaikannya
langsung, maka sampaikanlah kepada orang yang bisa menyampaikannya kepada kami,
niscaya kami akan mengambilkan haknya tanpa ditunda-tunda."
Tibanya Sa'ad di Irak dan Wafatnya Al-Mutsanna:
Sa'ad kemudian melanjutkan perjalanan menuju Irak. Ketika
beliau sampai di wilayah Zarud, dan jarak antara dirinya untuk bertemu dengan
Al-Mutsanna bin Haritsah tinggal sedikit lagi—di mana masing-masing dari
keduanya sudah sangat rindu untuk bertemu dengan sahabatnya—tiba-tiba luka
Al-Mutsanna yang didapatnya pada Perang Jembatan (Jisr) kembali kambuh.
Al-Mutsanna pun wafat, semoga Allah merahmatinya dan meridhainya. Beliau
menunjuk Basyir bin Al-Khashashiyyah sebagai penggantinya untuk memimpin pasukan.
Ketika kabar wafatnya Al-Mutsanna sampai kepada Sa'ad,
beliau mendoakan rahmat untuknya, dan di kemudian hari Sa'ad menikahi mantan
istri Al-Mutsanna yang bernama Salma.
Ketika Sa'ad tiba di lokasi penampungan pasukan,
kepemimpinan dan komando tertinggi seluruh pasukan beralih ke tangannya. Tidak
ada seorang pun panglima dari pemuka Arab di Irak melainkan posisinya berada di
bawah komando Sa'ad. Umar juga terus mengirimkan pasukan bantuan tambahan
kepadanya, hingga pada hari pertempuran Al-Qadisiyyah berkumpullah 30.000
pasukan bersama Sa'ad, bahkan ada yang menyebutkan jumlahnya mencapai 36.000
pasukan.
Umar berkata, "Demi Allah, aku benar-benar akan
menghantam raja-raja bangsa asing (Persia) dengan raja-raja bangsa Arab."
Pengaturan Pasukan:
Umar menulis surat kepada Sa'ad yang memerintahkannya agar
mengangkat panglima untuk memimpin detasemen-detasemen pasukan, serta
mengangkat seorang pengawas ('arif) untuk memimpin setiap sepuluh orang
personel.
Sa'ad pun menunjuk para panglima untuk memimpin
kabilah-kabilah. Beliau juga mengangkat para pemimpin untuk pasukan pengintai
(mata-mata), pasukan garda depan, pasukan sayap kanan dan kiri, pasukan garda
belakang, pasukan pejalan kaki (infanteri), serta pasukan berkuda (kavaleri),
sebagaimana yang diperintahkan oleh Amirul Mukminin.
Surat-Menyurat antara Umar dan Sa'ad:
Umar mengirimkan suratnya kepada Sa'ad yang isinya
memerintahkan agar segera bergerak menuju Al-Qadisiyyah—di mana Al-Qadisiyyah
merupakan pintu masuk ke negeri Persia pada masa Jahiliyah. Umar meminta agar
posisi pasukan berada di antara wilayah berbatu (padang pasir) dan wilayah
tanah subur (pemukiman), serta menguasai jalur-jalur jalan dan akses menuju
Persia. Beliau juga meminta Sa'ad untuk mendahului mereka dengan serangan dan
tekanan yang kuat.
Umar berpesan: "Jangan sekali-kali engkau merasa gentar
oleh banyaknya jumlah personil dan perlengkapan senjata mereka, karena mereka
adalah kaum yang penuh tipu daya dan muslihat. Jika kalian mampu bersabar,
berbuat baik, dan meluruskan niat, aku berharap kalian akan dimenangkan atas
mereka, dan setelah itu kekuatan mereka tidak akan pernah bisa bersatu lagi
untuk selamanya, kecuali jika mereka berkumpul dalam kondisi hati yang tidak
menyatu. Namun jika terjadi kondisi yang sebaliknya (terdesak), maka kembalilah
ke wilayah belakang kalian hingga mencapai daerah berbatu, karena di sana
kalian lebih menguasai medan dan mereka akan menjadi lebih penakut serta lebih
buta terhadap medannya, sampai Allah mendatangkan kemenangan atas mereka dan
mengembalikan keunggulan bagi kalian."
Umar juga memerintahkan Sa'ad untuk selalu mengevaluasi
dirinya sendiri, memberikan nasihat kepada pasukannya, serta memerintahkan
mereka untuk meluruskan niat, menanamkan rasa takut kepada Allah, dan bersabar.
Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah sesuai dengan kadar niatnya, dan
pahala diberikan sesuai dengan kadar keikhlasannya. Beliau berpesan,
"Mohonlah keselamatan (afiat) kepada Allah, dan perbanyaklah mengucapkan: Laa
haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim (Tidak ada daya dan upaya
kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung)."
Ketika Sa'ad tiba di wilayah Al-'Udzaib, pasukan muslimin
berhadapan dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Syirzadz bin Azadzbih. Kaum
muslimin berhasil merebut sebagian harta rampasan yang dibawa oleh mereka, dan
rampasan tersebut mendatangkan manfaat serta kegembiraan yang sangat besar bagi
kaum muslimin. Pasukan merasa optimis dan gembira atas hal tersebut. Sa'ad lalu
membagi harta tersebut menjadi lima bagian (khumus) untuk negara, dan
membagikan empat perlima bagian sisanya kepada pasukan. Sa'ad juga
mengkhususkan satu detasemen pasukan untuk berjaga melindungi para wanita yang
ikut bersama mereka, dan kepemimpinan detasemen ini diserahkan kepada Ghalib
bin Abdullah Al-Laitsi.
Persiapan Menjelang Perang Al-Qadisiyyah:
Sa'ad kemudian berjalan hingga turun di Al-Qadisiyyah, lalu
menyebarkan detasemen-detasemen pasukannya. Beliau menetap di sana selama satu
bulan tanpa melihat satu pun perwakilan dari pasukan Persia, maka beliau
menulis surat melaporkan hal itu kepada Umar. Sementara itu,
detasemen-detasemen muslimin terus membawa logistik makanan dari berbagai
tempat, sehingga rakyat Persia di pinggiran wilayah mereka mulai menjerit dan
mengeluh kepada Yazdajird akibat apa yang mereka rasakan dari pergerakan kaum
muslimin.
Rakyat Persia berkata, "Jika kalian tidak menolong
kami, kami pasti akan menyerahkan apa yang ada di tangan kami dan menyerahkan
benteng-benteng ini kepada mereka."
Akhirnya, tercapailah kesepakatan di antara para pembesar
Persia untuk mengutus Rustam menghadapi kaum muslimin. Yazdajird kemudian
memanggil Rustam dan mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan.
Sebenarnya Rustam sempat meminta agar dibebaskan dari tugas tersebut dan
berkata, "Ini bukanlah strategi yang baik dalam peperangan. Sesungguhnya
mengirimkan pasukan demi pasukan (secara bertahap) jauh lebih berat bagi bangsa
Arab daripada jika kita langsung mengerahkan pasukan besar sekaligus lalu mereka
berhasil mengalahkannya dalam satu kali waktu ." Namun, sang raja menolak
usulan tersebut dan tetap mengharuskan Rustam yang berangkat. Rustam pun
akhirnya bersiap-siap untuk pergi.
Di sisi lain, Sa'ad telah mengutus pengintai ke wilayah
Al-Hirah dan Shaluba, lalu datanglah informasi kepadanya bahwa raja telah
menunjuk Rustam bin Al-Farrukhzad Al-Armani untuk memegang kendali peperangan
dan memerintahkannya mendirikan markas pasukan. Sa'ad segera menulis surat
melaporkan kabar tersebut kepada Umar.
Umar lalu membalas suratnya dengan berpesan: "Jangan
sampai engkau merasa sedih atau cemas oleh kabar yang sampai kepadamu tentang
mereka, ataupun oleh taktik yang akan mereka bawa kepadamu. Mintalah
pertolongan kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Utuslah kepada Rustam
beberapa orang pria dari kalangan orang-orang yang memiliki pandangan tajam,
berakal cerdas, dan tangguh untuk mendakwahinya (menyerunya kepada Islam),
karena sesungguhnya Allah akan menjadikan seruan mereka sebagai penyebab kelemahan
bagi musuh dan kemenangan bagi kalian. Dan tulislah surat laporan kepadaku
setiap hari."
Ketika Rustam semakin dekat bersama bala tentaranya dan
mendirikan markas di Sabath, Sa'ad menulis surat kepada Umar:
"Sesungguhnya Rustam telah berkemah di Sabath, ia telah menyiapkan pasukan
berkuda serta gajah-gajah, dan bergerak maju ke arah kami dengan perlengkapan
tersebut. Tidak ada perkara yang lebih penting bagiku dan lebih sering kuingat
selain mempertahankan kondisi yang Anda sukai, yaitu untuk selalu memohon
pertolongan dan bertawakal kepada Allah."
Rustam mulai mengatur formasi pasukannya. Beliau menempatkan
Jalinus di barisan garda depan yang berkekuatan 40.000 personel. Di posisi
sayap kanan ditempatkan Al-Hamuzan dengan 30.000 personel, di sayap kiri
ditempatkan Mihran bin Bahram dengan 30.000 personel, dan di barisan garda
belakang ditempatkan Al-Bairuzan dengan 20.000 personel. Dengan demikian,
jumlah keseluruhan bala tentara Persia saat itu adalah 120.000 personel.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: keberadaan Rustam didukung
oleh 120.000 personel, yang diikuti oleh 80.000 personel berikutnya, serta
membawa serta 33 ekor gajah.
Pengutusan Para Utusan kepada Rustam dan Seruan kepada Islam:
Sa'ad mengutus sekelompok pemuka kaum muslimin, di
antaranya: An-Nu'man bin Muqarrin, Furat bin Hayyan, Hanzhalah bin Ar-Rabi'
At-Tamimi, 'Utarid bin Hajib, Al-Asy'ats bin Qais, Al-Mughirah bin Syu'bah, dan
'Amr bin Ma'di Karib, untuk menyeru Rustam kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Rustam bertanya kepada mereka, "Apa yang membuat kalian
datang ke sini?"
Mereka menjawab, "Kami datang untuk menjemput janji
Allah kepada kami, yaitu merebut negeri kalian, menawan para wanita dan
anak-anak kalian, serta mengambil harta benda kalian. Kami sangat meyakini hal
tersebut."
Ketika pasukan Rustam sudah semakin dekat dengan posisi
Sa'ad, Sa'ad ingin mengetahui informasi mereka secara jelas dan pasti. Beliau
lalu mengirim sebuah detasemen pasukan khusus untuk membawa pulang seorang pria
Persia. Di dalam detasemen tersebut terdapat Thulaihah Al-Asadi, orang yang
dahulunya pernah mengaku sebagai nabi namun kemudian telah bertobat.
Setelah Sa'ad melepas detasemen tersebut, Thulaihah bergerak
menyusup menerobos kepungan bala tentara dan barisan musuh, melewati ribuan
pasukan, serta berhasil membunuh sekelompok pahlawan berkuda Persia hingga
akhirnya menawan salah seorang dari mereka dan membawanya pulang dalam kondisi
tidak berdaya sama sekali. Sa'ad kemudian bertanya kepada tawanan tersebut
tentang kondisi pasukannya. Tawanan itu justru sibuk menceritakan dan
menggambarkan kehebatan serta keberanian Thulaihah.
Sa'ad berkata, "Tinggalkan cerita tentang ini, beri
tahu kami tentang Rustam!"
Tawanan itu menjawab, "Ia membawa 120.000 pasukan, dan
diikuti oleh pasukan lain yang jumlahnya sama besar." Setelah itu, pria
Persia tersebut langsung masuk Islam seketika itu juga, semoga Allah
merahmatinya.
Pengutusan Al-Mughirah bin Syu'bah:
Ketika kedua kubu pasukan sudah saling berhadapan, Rustam
mengirim pesan kepada Sa'ad agar mengutus seorang pria yang berakal cerdas dan
berilmu untuk menjawab hal-hal yang akan ditanyakannya. Sa'ad pun mengutus
Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu kepadanya.
Ketika Al-Mughirah tiba di hadapannya, Rustam mulai
berbicara kepadanya dengan berkata, "Sesungguhnya kalian adalah tetangga
kami. Dahulu kami selalu berbuat baik kepada kalian dan menahan diri agar tidak
mengganggu kalian. Maka kembalilah ke negeri kalian, dan kami tidak akan
melarang aktivitas perdagangan kalian untuk masuk ke negeri kami."
Al-Mughirah menjawab, "Sesungguhnya tujuan kami
bukanlah mencari dunia, melainkan fokus dan tujuan kami adalah akhirat. Allah
telah mengutus kepada kami seorang Rasul yang bersabda kepadanya:
'Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kelompok ini
atas siapa saja yang tidak beragama dengan agamaku, maka Aku akan membalas
mereka melalui perantara kelompok ini, dan Aku akan memberikan kemenangan bagi
mereka selama mereka mengakui agama tersebut.'
Agama ini adalah agama yang hak (benar). Tidak ada seorang
pun yang membencinya melainkan ia akan hina, dan tidak ada yang berpegang teguh
kepadanya melainkan ia akan mulia."
Rustam bertanya, "Apakah agama itu?"
Al-Mughirah menjawab, "Adapun tiang utamanya yang
membuat segala perkara tidak akan menjadi baik tanpanya adalah kesaksian bahwa
tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah
utusan Allah, serta mengakui segala apa yang datang dari sisi Allah."
Rustam berkata, "Alangkah indahnya hal ini! Lalu apa
lagi?"
Al-Mughirah menjawab, "Mengeluarkan hamba dari
penyembahan kepada sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah."
Rustam berkata, "Ini juga bagus! Lalu apa lagi?"
Al-Mughirah menjawab, "Manusia adalah anak cucu Adam,
maka mereka semuanya adalah bersaudara dari satu bapak dan satu ibu."
Rustam berkata, "Ini juga bagus." Kemudian Rustam
bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika kami masuk ke dalam agama kalian,
apakah kalian akan mundur dari negeri kami?"
Al-Mughirah menjawab, "Ya, demi Allah! Kemudian kami
tidak akan mendekati negeri kalian kecuali untuk urusan perdagangan atau ada
keperluan lain."
Setelah Al-Mughirah keluar dari hadapannya, Rustam
mendiskusikan urusan Islam ini dengan para pemimpin kaumnya, namun mereka
bersikap sombong dan enggan untuk masuk ke dalamnya.
Pengutusan Rib'i bin 'Amir:
Sa'ad kemudian mengutus utusan lain atas permintaan Rustam,
yaitu Rib'i bin 'Amir. Rib'i masuk menemui Rustam di mana mereka telah menghias
majelis pertemuannya dengan bantal-bantal bersulam emas, hamparan karpet sutra,
serta memamerkan batu yakut, mutiara yang mahal, dan hiasan-hiasan yang megah.
Rustam mengenakan mahkotanya dan duduk di atas ranjang emas.
Sementara itu, Rib'i masuk dengan mengenakan pakaian yang
tebal dan sederhana, membawa pedang, perisai, dan menunggangi kuda yang pendek.
Beliau terus menungganginya hingga menginjak ujung hamparan karpet permadani
tersebut. Beliau lalu turun dan mengikat kudanya di salah satu bantal hiasan
tersebut, kemudian melangkah maju dengan tetap menyandang senjata, baju besi,
dan helm pelindung di kepalanya.
Orang-orang berkata kepadanya, "Lepaskan
senjatamu!" Rib'i menjawab, "Sesungguhnya aku tidak datang dengan
kemauanku sendiri kepada kalian, melainkan aku datang karena kalian yang
mengundangku. Jika kalian membiarkanku seperti ini (aku akan masuk), jika tidak
maka aku akan pulang."
Rustam berkata, "Izinkan dia masuk." Mereka lalu
bertanya kepadanya, "Apa yang membuat kalian datang ke sini?"
Rib'i menjawab, "Allah telah mengutus kami untuk
mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan kepada sesama hamba
menuju penyembahan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan
dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam. Maka Allah mengutus kami
dengan agama-Nya kepada makhluk-Nya untuk menyeru mereka kepada-Nya. Siapa yang
menerima hal itu, kami akan menerima darinya dan kami akan pulang
meninggalkannya. Namun siapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya
sampai kami mencapai apa yang dijanjikan oleh Allah."
Rustam bertanya, "Apa yang dijanjikan oleh Allah?"
Rib'i menjawab, "Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang
yang enggan, dan kemenangan bagi yang tersisa hidup."
Rustam berkata, "Aku telah mendengar perkataan kalian,
maka apakah kalian berkenan menunda perkara ini sampai kami mempertimbangkannya
dan kalian pun mempertimbangkannya?"
Rib'i menjawab, "Ya! Berapa lama waktu yang kalian
inginkan? Satu atau dua hari?" Rustam menjawab, "Tidak, melainkan
sampai kami menyurati orang-orang yang memiliki pandangan di antara kami dan
para pemimpin kaum kami."
Rib'i berkata, "Rasulullah tidak pernah mengajarkan
kepada kami untuk menunda pertemuan dengan musuh saat berhadapan lebih dari
tiga hari. Maka pertimbangkanlah urusanmu dan urusan mereka, lalu pilihlah satu
dari tiga pilihan setelah tenggat waktu tersebut."
Rustam bertanya, "Apakah engkau pemimpin mereka?"
Rib'i menjawab, "Bukan, akan tetapi kaum muslimin itu bagaikan tubuh yang
satu; orang yang paling bawah di antara mereka dapat memberikan jaminan
keamanan yang mengikat bagi orang yang paling atas."
Setelah itu, Rustam berkumpul dengan para pemimpin kaumnya
dan berkata, "Pernahkah kalian melihat perkataan yang lebih mulia dan
lebih berbobot daripada perkataan pria ini?"
Mereka menjawab, "Perlindungan Allah bagi kita agar
engkau tidak condong kepada sesuatu dari hal ini, lalu engkau meninggalkan
agamamu demi anjing ini! Tidakkah engkau melihat pakaiannya?"
Rustam berkata, "Celaka kalian! Jangan melihat
pakaiannya, akan tetapi lihatlah pada pandangan pemikiran, perkataan, dan sikap
hidupnya. Sesungguhnya bangsa Arab itu memandang remeh urusan pakaian dan
makanan, namun mereka menjaga harga diri dan kehormatan mereka."
Pengutusan Hudzaifah bin Mihshan:
Kemudian pada hari ketiga, bangsa Persia kembali meminta
dikirimkan seorang pria. Maka diutuslah Hudzaifah bin Mihshan kepada mereka,
dan beliau menyampaikan perkataan yang senada dengan apa yang diucapkan oleh
Rib'i.
Pengutusan Delegasi untuk Menemui Kisra (Yazdajird) dan Menyerunya kepada Islam:
Sebelum terjadinya pertempuran, Sa'ad telah mengutus
sekelompok sahabatnya menemui Kisra untuk menyerunya kepada Allah. Mereka
meminta izin untuk menghadap Kisra, lalu diizinkan. Penduduk negeri pun keluar
untuk melihat penampilan mereka; dengan kain selendang yang tersampir di
pundak, cambuk di tangan, alas kaki di kaki mereka, serta kuda-kuda mereka yang
terlihat kurus sedang menghentakkan kakinya ke tanah. Penduduk negeri sangat
keheranan melihat bagaimana orang-orang dengan kondisi seperti ini mampu menaklukkan
bala tentara mereka padahal jumlah personel dan perlengkapan senjatanya sangat
banyak.
Ketika mereka diizinkan masuk menghadap Raja Yazdajird, sang
raja mempersilakan mereka duduk di hadapannya—ia adalah seorang raja yang
sombong dan kurang beretika. Kemudian ia mulai bertanya tentang pakaian-pakaian
mereka ini apa namanya; ia bertanya tentang selendang (ardiyah), alas
kaki (ni'al), dan cambuk (siyath). Setiap kali mereka menjawab
nama dari benda-benda tersebut, sang raja selalu mencocok-cocokkannya dengan
ramalan nasib buruk (tathayyur), namun Allah justru membalikkan nasib buruk
tersebut ke atas kepalanya sendiri.
Kemudian ia berkata kepada mereka, "Apa yang membuat
kalian mendatangi negeri ini? Apakah kalian mengira bahwa karena kami sedang
sibuk dengan urusan internal kami sendiri, kalian menjadi berani melawan
kami?"
An-Nu'man bin Muqarrin berkata kepadanya, "Sesungguhnya
Allah telah merahmati kami, maka Dia mengutus kepada kami seorang Rasul yang
menunjukkan kepada kami kebaikan dan memerintahkannya kepada kami, serta
mengenalkan kami pada keburukan dan melarang kami darinya. Beliau menjanjikan
kepada kami kebaikan dunia dan akhirat atas jawaban kami dalam menyambut
seruannya. Tidaklah beliau menyeru suatu kabilah melainkan kabilah tersebut
terpecah menjadi dua kelompok: kelompok yang mendekat kepadanya, dan kelompok yang
menjauh darinya. Dan tidak ada yang masuk ke dalam agamanya melainkan
orang-orang pilihan.
Beliau menetap dalam kondisi seperti itu selama waktu yang
Allah kehendaki. Kemudian beliau diperintahkan untuk bergerak menghadapi bangsa
Arab yang menyelisihinya dan memulai dari mereka. Beliau pun melakukannya,
hingga mereka semua masuk ke dalam agamanya melalui dua cara: ada yang terpaksa
lalu akhirnya merasa bersyukur, dan ada yang sukarela lalu ketaatannya semakin
bertambah.
Maka kami semua akhirnya mengetahui keutamaan dari apa yang
beliau bawa dibandingkan dengan kondisi kami sebelumnya yang penuh permusuhan
dan kesempitan. Beliau memerintahkan kami untuk memulai dari bangsa-bangsa yang
berada di dekat kami untuk menyeru mereka kepada keadilan.
Oeh karena itu, kami menyeru kalian kepada agama kami, yaitu
agama Islam yang menganggap baik segala yang baik dan menganggap buruk segala
yang buruk. Jika kalian menolak, maka ada perkara buruk yang posisinya lebih
ringan daripada perkara buruk lainnya, yaitu membayar Jizyah. Jika kalian tetap
menolak, maka pilihannya adalah perang (munajazah).
Namun jika kalian menyambut agama kami, kami akan
meninggalkan Kitabullah di tengah-tengah kalian dan menegakkan kalian di
atasnya agar kalian berhukum dengan hukum-hukumnya, setelah itu kami akan
pulang meninggalkan kalian, urusan kalian, dan negeri kalian. Jika kalian
melindungi diri dari kami dengan membayar Jizyah, kami akan menerimanya dan
kami akan melindungi kalian, jika tidak maka kami akan memerangi kalian."
Mendengar hal itu, Yazdajird berbicara dan berkata,
"Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada suatu umat di bumi yang lebih
sengsara, lebih sedikit jumlahnya, dan lebih buruk hubungan internalnya
daripada kalian. Dahulu kami cukup menyerahkan urusan kalian kepada desa-desa
di pinggiran wilayah kami untuk mengatasi kalian. Pasukan Persia tidak perlu
turun memerangi kalian, dan kalian pun tidak akan pernah bermimpi untuk bisa
tegak menghadapi mereka.
Jika jumlah kalian sekarang sudah menjadi banyak, jangan
sampai hal itu memperdaya kalian. Dan jika kesulitan hidup yang memaksa kalian
datang ke sini, kami akan menetapkan bagi kalian jatah makanan sampai tanah
kalian menjadi subur kembali, kami akan menghormati para pemimpin kalian,
memberikan pakaian kepada kalian, dan mengangkat seorang raja atas kalian yang
akan bersikap lembut kepada kalian."
Maka orang-orang pun terdiam. Kemudian Al-Mughirah bin
Zurarah bin An-Nabbash Al-Asadi menjawab dan memberikan penjelasan yang
membungkamnya, serta mengajaknya untuk membayar jizyah (pajak perlindungan)
dalam keadaan tunduk jika ia tidak mau masuk Islam.
Memulai Pertempuran
Peristiwa Perang Qadisiyyah adalah pertempuran yang sangat
besar. Tidak ada pertempuran di Irak yang lebih menakjubkan daripada perang
ini. Ketika kedua pasukan sudah saling berhadapan, Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu
'anhu sedang menderita penyakit urat saraf (skiatika) dan bisul di sekujur
tubuhnya. Akibatnya, beliau tidak mampu menunggangi kuda. Beliau hanya berada
di dalam istana, bersandar pada dadanya di atas bantal sambil memantau pasukan
dan mengatur strategi perang. Saad menyerahkan komando pertempuran kepada
Khalid bin Urfuthah, menunjuk Jarir bin Abdullah Al-Bajali di posisi sayap
kanan, dan Qais bin Maksyuh di posisi sayap kiri. Qais dan Al-Mughirah bin
Syu'bah sendiri datang menemui Saad sebagai pasukan bantuan dari Abu Ubaidah di
Syam setelah mereka berdua ikut serta dalam Perang Yarmuk.
Saad memimpin orang-orang melaksanakan salat Zuhur, kemudian
berkhotbah untuk menasihati dan menyemangati mereka. Beliau membacakan firman
Allah Ta'ala:
﴿وَلَقَدْ
كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا
عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ﴾
"Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur
setelah (Kami tulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan
diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh." (QS. Al-Anbiya: 105)
Para qari (pembaca Al-Qur'an) juga membacakan ayat-ayat
serta surah-surah tentang jihad. Setelah itu, Saad mengumandangkan takbir
sebanyak empat kali. Begitu takbir keempat selesai, pasukan Muslim langsung
maju menyerang dan bertempur dengan sengit hingga malam tiba, lalu kedua belah
pihak menahan diri untuk beristirahat. Banyak sekali korban yang gugur dari
kedua belah pihak.
Keesokan harinya, mereka kembali ke posisi masing-masing dan
bertempur sepanjang hari hingga sebagian besar malam. Pada hari berikutnya
lagi, mereka memulai pagi seperti sore sebelumnya, bertempur terus hingga malam
tiba. Malam ini disebut dengan Lailatun Harir (Malam Erangan). Ketika
memasuki hari keempat, pertempuran terjadi dengan sangat dahsyat. Pasukan
Muslim menghadapi kesulitan besar dari gajah-gajah perang musuh karena
kuda-kuda Arab milik kaum Muslimin ketakutan dan lari menjauh dari gajah-gajah
tersebut. Namun, para sahabat berhasil membinasakan gajah-gajah itu beserta
para penunggangnya, bahkan mereka membutakan mata gajah-gajah tersebut.
Sejumlah pahlawan pemberani menunjukkan kegagahannya pada hari-hari ini,
seperti Tulaihah Al-Asadi, Amr bin Ma'di Karib, Al-Qa'qa' bin Amr, Jarir bin
Abdullah Al-Bajali, Dirar bin Al-Khattab, Khalid bin Urfuthah, dan orang-orang
yang mengikutinya.
Ketika waktu matahari tergelincir (zawal) pada hari keempat
ini—yang kemudian disebut sebagai Hari Qadisiyyah , dan itu adalah hari Senin
di bulan Muharram tahun 14 Hijriah menurut riwayat Saif bin Umar At-Tamimi
—bertiuplah angin yang sangat kencang. Angin tersebut menerbangkan tenda-tenda
bangsa Persia dari tempatnya dan mengempaskan takhta Rustam yang sengaja
didirikan untuknya. Rustam pun bergegas menunggangi bagalnya untuk melarikan
diri, namun kaum Muslimin berhasil mengejarnya dan membunuhnya. Mereka juga
berhasil membunuh Al-Jalinus, pemimpin pasukan pelopor Persia.
Pasukan Persia pun kocar-kacir dan mengalami kekalahan
total. Kaum Muslimin terus mengejar di belakang mereka dan berhasil menewaskan
30.000 tentara musuh, setelah sebelumnya 10.000 tentara musuh telah tewas di
dalam pertempuran. Sementara itu, dari pihak kaum Muslimin, korban yang gugur
pada hari itu dan hari-hari sebelumnya berjumlah 2.500 orang, semoga Allah
merahmati mereka semua. Kaum Muslimin terus mengejar sisa-sisa pasukan yang
kalah hingga mereka berhasil memasuki kota kediaman raja, yaitu Al-Madain, yang
di dalamnya terdapat Istana Kisra.
Orang yang berhasil membunuh Rustam adalah Hilal bin Ullafah
At-Taimi, sedangkan yang membunuh Al-Jalinus adalah Zuhrah bin Hawiyyah
As-Sa'di.
Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu sendiri tidak
terjun langsung ke medan pertempuran karena luka-luka dan penyakit urat saraf
yang dideritanya. Namun karena keberaniannya, beliau tetap duduk memantau di
bagian atas istana. Seandainya pasukan Muslim waktu itu melarikan diri, niscaya
pasukan Persia akan dengan sangat mudah menangkapnya langsung dengan tangan
tanpa ada perlawanan.
Di dekatnya ada istrinya yang bernama Salma binti Hafsah,
yang sebelum menikah dengan Saad merupakan istri dari Al-Muthanna bin Harithah.
Ketika sebagian pasukan berkuda Muslim sempat terpukul mundur pada hari itu,
Salma merasa panik dan berseru: "Aduhai Muthanna! Tapi tidak ada lagi
lelaki seperti Muthanna bagiku hari ini!" Mendengar hal itu, Saad menjadi
marah lalu menampar wajahnya. Salma pun berkata: "Apakah karena cemburu
atau karena pengecut?" Maksudnya, Salma mencela Saad karena suaminya itu
hanya duduk di dalam istana pada hari pertempuran. Tindakan Salma ini merupakan
bentuk keras kepala, padahal dialah orang yang paling tahu tentang alasan dan
penyakit yang diderita Saad yang menghalanginya untuk ikut bertempur.
Keberanian Abu Mahjan
Abu Mahjan ditahan di dalam istana karena dihukum akibat
meminum khamar, dan beliau sudah dihukum cambuk berkali-kali karena hal itu.
Saad memerintahkan agar ia dibelenggu dan dikurung di dalam istana. Ketika
melihat pasukan berkuda sedang bertempur di sekitar istana, semangat
kepahlawanannya bergejolak. Beliau adalah salah satu pahlawan yang sangat
pemberani. Abu Mahjan lalu melantunkan syair:
كَفَى
حُزْنًا أَنْ تَدْحَمَ الْخَيْلُ بِالْقَنَا *** وَأُتْرَكَ مَشْدُودًا عَلَيَّ
وَثَاقِيَا
إِذَا
قُمْتُ عَنَّانِي الْحَدِيدُ وَأُغْلِقَتْ *** مَصَارِيعُ مِنْ دُونِي تَصُمُّ
الْمُنَادِيَا
وَقَدْ
كُنْتُ ذَا مَالٍ كَثِيرٍ وَإِخْوَةٍ *** وَقَدْ تَرَكُونِي مُفْرَدًا لَا أَخَا
لِيَا
Cukuplah menjadi kesedihan saat kuda-kuda saling
menerjang dengan tombak,
Sementara aku ditinggalkan di sini dalam keadaan terikat
belenggu.
Setiap kali aku mencoba bangkit, besi-besi ini menahanku,
Dan pintu-pintu di depanku tertutup rapat hingga menutup
suara orang yang memanggil.
Padahal dulunya aku adalah seorang yang kaya raya dan
memiliki banyak saudara,
Namun kini mereka meninggalkanku sebatang kara, tanpa ada
seorang saudara pun bagiku.
Kemudian ia memohon kepada Zabra, ibu dari anak Saad (budak
perempuan Saad), agar sudi melepaskannya dan meminjamkan kuda milik Saad
kepadanya. Abu Mahjan bersumpah kepadanya bahwa ia pasti akan kembali pada sore
hari untuk memasukkan kembali kakinya ke dalam belenggu. Zabra pun
melepaskannya. Abu Mahjan segera menunggangi kuda milik Saad lalu keluar ke
medan laga dan bertempur dengan sangat hebat.
Dari atas istana, Saad terus memperhatikan kudanya. Beliau
mengenali kudanya namun tidak mengenali penunggangnya. Gerakannya sangat mirip
dengan Abu Mahjan, tetapi Saad ragu karena beliau mengira Abu Mahjan masih
terikat kuat di dalam istana. Ketika sore hari tiba, Abu Mahjan kembali dan
memasukkan lagi kakinya ke dalam belenggu semula. Saat Saad turun ke bawah,
beliau mendapati kudanya dalam keadaan penuh keringat.
Saad bertanya: "Ada apa dengan kuda ini?"
Orang-orang pun menceritakan kepadanya tentang kisah kepahlawanan Abu Mahjan.
Maka Saad pun rida kepadanya dan melepaskan belenggunya radhiyallahu 'anhuma.
Surat Saad kepada Umar Mengabarkan Kemenangan
Saad menulis surat kepada Umar bin Al-Khattab untuk
mengabarkan tentang kemenangan ini, jumlah orang musyrik yang tewas, serta
jumlah kaum Muslimin yang gugur. Surat tersebut dikirimkan melalui perantara
Saad bin Milah Al-Fazari, yang isinya sebagai berikut:
"Amma ba'du. Sesungguhnya Allah telah memenangkan kita
atas bangsa Persia dan memberikan kita apa yang ada pada mereka. Allah
memberlakukan kepada mereka ketetapan yang sama seperti orang-orang terdahulu
yang seagama dengan mereka, setelah melalui pertempuran yang panjang dan
guncangan yang dahsyat. Mereka menghadapi kaum Muslimin dengan jumlah pasukan
yang belum pernah dilihat tandingannya oleh siapa pun. Namun, hal itu sama
sekali tidak berguna bagi mereka di hadapan Allah. Sebaliknya, Allah merampas
kekuatan itu dari mereka dan memindahkannya kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin
terus mengejar mereka di sepanjang sungai, di tepi-tepi rawa, dan di
jalan-jalan pegunungan. Di antara kaum Muslimin yang gugur adalah Saad bin
Ubaid Al-Qari, si Fulan, si Fulan, serta beberapa pria Muslim lainnya yang
tidak kami ketahui, namun Allah Maha Mengetahui mereka.
Di waktu malam, suara mereka mendengung lantang dengan
bacaan Al-Qur'an bagaikan dengungan lebah, dan di siang hari mereka adalah
singa-singa yang tidak dapat diserupakan dengan singa mana pun. Orang-orang
terdahulu tidak memiliki kelebihan atas mereka yang tersisa saat ini, kecuali
karena keutamaan mati syahid yang memang belum digariskan bagi mereka yang
masih hidup."
Dikatakan bahwa Umar membacakan surat kabar gembira ini
kepada orang-orang di atas mimbar.
Kemudian Umar berkata kepada orang-orang: "Sesungguhnya
aku sangat berharap tidak melihat ada satu pun kebutuhan kecuali aku telah
memenuhinya, selama kemampuan kita masih mencukupi satu sama lain. Namun jika
kita sudah tidak mampu, kita akan saling berbagi dalam kehidupan kita hingga
kita semua setara dalam kecukupan yang sederhana. Demi Allah, aku ingin kalian
mengetahui isi hatiku terhadap kalian sebagaimana yang kurasakan. Dan aku tidak
akan menunjukkannya kepada kalian kecuali melalui perbuatan. Demi Allah, aku
ini bukanlah seorang raja yang ingin memperbudak kalian, melainkan aku adalah
seorang hamba Allah yang dititipi amanah. Jika aku menolak amanah itu,
mengembalikannya kepada kalian, dan mengikuti kalian hingga kalian kenyang di
rumah-rumah kalian serta terpuaskan minumnya, maka aku telah berbahagia. Namun,
jika aku memikul amanah itu dan membawanya hingga ke rumahku sendiri, niscaya
aku akan sengsara; aku hanya akan merasakan kesenangan yang sedikit namun
menderita kesedihan yang panjang. Sehingga aku tetap berada dalam kondisi tidak
dimaafkan dan tidak bisa mengembalikan amanah ini kecuali jika aku meminta
kelonggaran."
Saif meriwayatkan dari para gurunya: "Bangsa Arab mulai
dari kawasan Al-Udhaib hingga Aden Abyan, dan dari Al-Ubullah hingga Iliya
(Baitul Maqdis), semuanya sedang menanti-nanti hasil dari Perang Qadisiyyah
ini. Mereka meyakini bahwa tegak atau runtuhnya kerajaan mereka bergantung pada
hasil perang ini. Bahkan penduduk dari setiap negeri telah mengirimkan utusan
khusus untuk menyelidiki dan membawa kabar tentang perang mereka."
Padahal sebelumnya, seluruh wilayah Irak yang dahulu pernah
dibebaskan oleh Khalid bin Walid telah melanggar perjanjian damai, jaminan
keamanan, dan kesepakatan yang pernah mereka berikan kepada Khalid, kecuali
penduduk Baniqya, Barusma, dan penduduk Ullais Al-Akhirah. Namun, setelah
terjadinya pertempuran (Qadisiyyah) ini, seluruh wilayah tersebut kembali
tunduk ke dalam pangkuan Islam.
Pengutusan Utbah bin Ghazwan ke Basrah
Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 14 Hijriah, Umar bin
al-Khattab mengutus Utbah bin Ghazwan ke Basrah. Umar memerintahkannya untuk
menempati wilayah tersebut bersama kaum Muslimin yang bersamanya, serta memutus
jalur bantuan pasukan Persia bagi mereka yang berada di Al-Madain dan
sekitarnya.
Ibnu Jarir juga menyebutkan: Saif berpendapat bahwa Basrah
baru dibangun menjadi kota pada bulan Rabiul awal tahun 16 Hijriah. Utbah bin
Ghazwan baru berangkat ke Basrah dari Al-Madain setelah Saad merampungkan
urusan di Jalula dan Tikrit. Saad mengutus Utbah ke sana berdasarkan perintah
dari Umar radhiyallahu 'anhum.
Utbah berangkat bersama orang-orang dari kalangan Arab Badui
hingga jumlah pasukannya genap 500 orang, lalu mereka menetap di sana. Pada
masa itu, Basrah dijuluki sebagai "Tanah India" yang memiliki banyak
batu putih yang kasar. Utbah mulai mencarikan tempat tinggal untuk pasukannya
sampai mereka tiba di dekat jembatan kecil. Karena di sana terdapat banyak
rumput gelagah dan alang-alang yang tumbuh, mereka pun akhirnya berkemah di
tempat itu.
Mendengar hal tersebut, penguasa wilayah Eufrat (Al-Furat)
maju menghadapi mereka bersama 4.000 pasukan berkuda elite Persia (Asawirah).
Utbah menghadang mereka setelah matahari tergelincir (zawal). Beliau
memerintahkan pasukannya untuk menyerang, hingga mereka berhasil menewaskan
seluruh pasukan Persia tanpa ada yang tersisa, serta berhasil menawan penguasa
wilayah Eufrat tersebut.
Setelah itu, Utbah berdiri menyampaikan khotbah di hadapan
orang-orang. Di antara isi khotbahnya adalah:
إِنَّ
الدُّنْيَا قَدْ آذَنَتْ بِصُرْمٍ، وَوَلَّتْ حَذَّاءَ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهَا
إِلَّا صُبَابَةُ الْإِنَاءِ، وَإِنَّكُمْ مُنْتَقِلُونَ
مِنْهَا إِلَى دَارِ الْقَرَارِ، فَانْتَقِلُوا بِخَيْرِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ،
فَقَدْ ذُكِرَ لِي لَوْ أَنَّ صَخْرَةً أُلْقِيَتْ مِنْ شَفِيرِ جَهَنَّمَ هَوَتْ
سَبْعِينَ خَرِيفًا وَلَتَمْلَأُنَّهُ، أَوَعَجِبْتُمْ؟ وَلَقَدْ ذُكِرَ لِي أَنَّ
مَا بَيْنَ مِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ
عَامًا، وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَيْهِ يَوْمٌ وَهُوَ كَظِيظٌ مِنَ الزِّحَامِ،
وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي وَأَنَا سَابِعُ سَبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَنَا طَعَامٌ إِلَّا وَرَقُ السَّمُرِ، حَتَّى
تَقَرَّحَتْ أَشْدَاقُنَا، وَالْتَقَطْتُ بُرْدَةً فَشَقَقْتُهَا بَيْنِي وَبَيْنِ
سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ، فَمَا مِنَّا مِنْ أُولَئِكَ السَّبْعَةِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا
هُوَ أَمِيرٌ عَلَى مِصْرٍ مِنَ الْأَمْصَارِ، وَسَتُجَرِّبُونَ النَّاسَ
بَعْدَنَا.
"Sesungguhnya dunia ini telah mengumumkan kepunahannya
dan akan pergi berlalu dengan cepat. Tidak ada yang tersisa darinya melainkan
seperti sisa air di dalam bejana. Sesungguhnya kalian akan berpindah dari dunia
ini menuju negeri yang kekal (akhirat), maka berpindahlah dengan membawa
kebaikan terbaik yang kalian miliki. Pernah disampaikan kepadaku bahwa
seandainya sebuah batu besar dilemparkan dari pinggiran neraka Jahanam, batu
itu akan jatuh meluncur ke bawah selama tujuh puluh tahun, dan neraka itu benar-benar
akan penuh. Apakah kalian merasa heran? Sungguh, telah disampaikan pula
kepadaku bahwa jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga adalah sejauh
perjalanan empat puluh tahun, dan benar-benar akan datang suatu hari di mana
pintu itu akan penuh sesak oleh rombongan orang yang mengantre. Aku masih ingat
ketika diriku menjadi orang ketujuh dari tujuh orang yang bersama Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, kami tidak memiliki makanan apa pun kecuali daun
pohon Samur (sejenis pohon berduri) hingga sudut-sudut mulut kami luka-luka.
Aku pernah mendapatkan selembar kain usang lalu aku membelahnya menjadi dua
untuk kubagi bersama Saad bin Malik. Namun hari ini, tidak ada seorang pun dari
kami yang bertujuh itu melainkan telah menjadi gubernur di salah satu kota dari
kota-kota besar. Dan kalian akan menguji watak manusia setelah zaman kami
nanti."
Hadits dengan redaksi yang mirip seperti ini terdapat dalam
kitab Shahih Muslim.
Ali bin Muhammad al-Madaini meriwayatkan: Sesungguhnya Umar
menulis surat kepada Utbah bin Ghazwan saat mengutusnya ke Basrah, yang isinya:
"Wahai Utbah, sesungguhnya aku telah mengangkatmu untuk
memimpin Tanah India (Basrah), dan wilayah itu adalah pusat musuh. Aku berharap
semoga Allah melindungi dan mencukupimu dari musuh-musuh di sekitarnya serta
menolongmu atas mereka. Aku juga telah menulis surat kepada Al-Ala bin
al-Hadrami agar ia mengirimkan bantuan pasukan kepadamu yang dipimpin oleh
Arfajah bin Harthamah.
Jika ia telah datang menemuimu, maka mintalah saran
kepadanya dan dekatkanlah ia denganmu. Serulah manusia kepada jalan Allah.
Barang siapa yang memenuhi seruanmu, maka terimalah ia. Namun barang siapa yang
menolak, maka mintalah jizyah (pajak perlindungan) dalam keadaan mereka tunduk
dan hina. Jika mereka masih menolak, maka gunakanlah pedang tanpa ada keraguan.
Bertakwalah kepada Allah atas urusan rakyat yang kupercayakan kepadamu. Jagalah
dirimu jangan sampai jiwamu membujukmu kepada sifat sombong, karena hal itu
dapat merusak urusan akhiratmu.
Kamu telah mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, sehingga kamu menjadi mulia setelah sebelumnya hina, dan menjadi
kuat setelah sebelumnya lemah. Sampai akhirnya kini kamu menjadi seorang
pemimpin yang memiliki kekuasaan dan penguasa yang ditaati; kamu berbicara maka
suaramu didengar, dan kamu memerintah maka perintahmu dipatuhi. Alangkah
indahnya nikmat tersebut, asalkan nikmat itu tidak membuatmu melampaui batas
kedudukanmu dan tidak membuatmu bersikap angker kepada orang-orang yang berada di
bawahmu. Waspadalah terhadap ujian kenikmatan sebagaimana kamu waspada terhadap
perbuatan maksiat. Sebab, di antara keduanya, kenikmatan itulah yang paling aku
takuti atasmu karena ia bisa menyeret dan mengelabumu secara perlahan
(istidraj), hingga membuatmu jatuh tergelincir ke dalam neraka Jahanam. Aku
memohon perlindungan kepada Allah untuk diriku dan dirimu dari hal tersebut.
Sesungguhnya manusia bersegera menuju jalan Allah sampai ketika dunia
dibentangkan di hadapan mereka, mereka pun menginginkan dunia itu. Oleh karena
itu, inginkanlah apa yang ada di sisi Allah dan janganlah kamu menginginkan
dunia, serta takutlah kamu terhadap tempat-tempat kebinasaan orang-orang yang
zalim."
Utbah berhasil membebaskan wilayah Al-Ubullah pada bulan
Rajab atau Syakban di tahun 14 Hijriah.
Ketika Utbah bin Ghazwan wafat pada tahun tersebut, Umar
mengangkat Al-Mughirah bin Syu'bah untuk memimpin Basrah selama dua tahun.
Setelah itu, Umar mencopotnya dan mengangkat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu
'anhu sebagai pemimpinnya.
Persiapan untuk Membebaskan Al-Madain
Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 15 Hijriah, terjadi banyak
pertempuran antara kaum Muslimin melawan bangsa Persia menurut pendapat Saif
bin Umar.
Umar bin al-Khattab telah mengirim surat kepada Saad bin Abi
Waqqas yang memerintahkannya untuk bergerak menuju Al-Madain. Umar juga
memerintahkan agar para wanita dan anak-anak ditinggalkan di wilayah Al-Atiq
dengan dikawal oleh pasukan berkuda yang besar dan kuat.
Setelah Saad merampungkan urusan di Qadisiyyah, beliau
menunjuk Zuhrah bin Hawiyyah untuk memimpin pasukan pelopor. Beliau kemudian
mengutus para panglima perang lainnya satu demi satu, baru setelah itu beliau
sendiri bergerak memimpin seluruh pasukan. Saad menunjuk Hasyim bin Utbah bin
Abi Waqqas sebagai wakilnya untuk menggantikan posisi Khalid bin Urfuthah,
sedangkan Khalid diposisikan untuk memimpin pasukan barisan belakang. Mereka
bergerak dengan membawa pasukan berkuda yang sangat besar serta persenjataan
yang banyak. Peristiwa itu terjadi pada beberapa hari yang tersisa di bulan
Syawal tahun tersebut. Mereka sempat singgah di Kufah, lalu Zuhrah bergerak
mendahului mereka menuju Al-Madain. Di tengah perjalanan, Zuhrah dihadang oleh
Bushbuhra yang memimpin pasukan Persia, namun Zuhrah berhasil mengalahkan
mereka.
Pertempuran Babel
Zuhrah bin Hawiyyah mengirim utusan kepada Saad untuk
mengabarkan bahwa sisa-sisa pasukan Persia yang kalah telah berkumpul di Babel.
Saad segera bergerak membawa seluruh pasukan menuju Babel. Di Babel, Saad
berhadapan langsung dengan Al-Fairuzan. Saad berhasil mengalahkan mereka dengan
sangat cepat, secepat seseorang melipat selendangnya. Pasukan Persia yang kalah
itu terpecah menjadi dua kelompok: satu kelompok melarikan diri ke Al-Madain,
sedangkan kelompok lainnya lari menuju Nahawand. Setelah kemenangan tersebut,
Saad menetap di Babel selama beberapa hari.
Pertempuran Kutha
Saad kembali bergerak memimpin pasukannya menuju Al-Madain.
Di sebuah tempat yang bernama Kutha, mereka dihadang oleh sekumpulan pasukan
Persia lainnya. Pertempuran sengit pun berkecamuk di sana. Dalam suasana itu,
terjadi duel satu lawan satu melawan panglima perang Persia yang bernama
Syahriyar.
Seorang prajurit Muslim maju menantangnya; ia bernama Nail
al-A'raji Abu Nubatah, salah seorang pahlawan pemberani dari Bani Tamim.
Keduanya bertarung sengit saling menyerang menggunakan tombak selama beberapa
saat, lalu mereka melempar tombaknya. Mereka kemudian menghunus pedang
masing-masing dan saling menyabetkan pedang tersebut. Tak lama kemudian,
keduanya saling piting hingga terjatuh dari kuda mereka ke tanah.
Syahriyar berhasil menindih dada Abu Nubatah lalu
mengeluarkan belati untuk menyembelihnya. Namun, jari tangan Syahriyar tidak
sengaja masuk ke dalam mulut Abu Nubatah. Abu Nubatah langsung menggigit jari
tersebut dengan sangat keras hingga konsentrasi Syahriyar buyar. Abu Nubatah
kemudian merebut belati tersebut lalu menyembelih Syahriyar dengan belatinya
sendiri. Ia pun mengambil kuda, gelang emas, serta harta rampasan milik
Syahriyar. Melihat panglimanya tewas, pasukan Persia kocar-kacir dan mengalami
kekalahan.
Setelah kejadian itu, Saad meminta dengan sangat agar Nail
selalu mengenakan gelang emas dan persenjataan milik Syahriyar, serta
menunggangi kudanya setiap kali perang berkecamuk, dan Nail pun menuruti hal
tersebut. Para sejarawan mengatakan bahwa Nail adalah orang pertama yang
memakai gelang emas (dari harta rampasan perang) di Irak.
Peristiwa Bahurasir Tahun 16 H
Tahun keenam belas hijriah dimulai ketika Sa'ad bin Abi
Waqqas telah berkemah di pemukiman kota Bahurasir. Kota ini merupakan salah
satu dari dua kota Kisra (Persia) yang terletak di sisi barat Sungai Tigris.
Sa'ad tiba di kota tersebut pada bulan Zulhijah tahun lima belas hijriah, dan
awal tahun keenam belas ini bermula saat ia masih menetap di sana.
Penduduk Bahurasir memberikan perlawanan yang sangat sengit
kepada Sa'ad. Sebelumnya, Sa'ad telah mengutus Salman al-Farisi untuk menyeru
mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla, membayar jizyah, atau berperang. Namun,
mereka menolak dan memilih untuk berperang serta memberontak. Mereka juga
memasang ketapel besar (manjanik) dan tank-tank kayu (dabbabah).
Melihat hal itu, Sa'ad memerintahkan pembuatan ketapel besar. Maka dibuatlah
dua puluh ketapel besar yang kemudian dipasang untuk mengepung Bahurasir.
Pengepungan pun semakin ketat. Penduduk Bahurasir sering
keluar untuk bertempur dengan sengit dan bersumpah tidak akan pernah melarikan
diri. Namun, Allah membuktikan bahwa sumpah mereka dusta dan mengalahkan mereka
melalui pasukan Zuhrah bin Hawiyah, bahkan setelah Zuhrah terkena sambaran anak
panah. Setelah terluka pun, Zuhrah tetap berhasil membunuh banyak orang Persia.
Pasukan Persia akhirnya melarikan diri di hadapannya dan berlindung di dalam
kota mereka.
Di dalam kota, mereka dikepung dengan sangat rapat hingga
persediaan makanan habis dan mereka terpaksa memakan anjing serta kucing.
Akhirnya, mereka memutuskan pindah dari kota tersebut menuju Al-Madain. Sa'ad
kemudian memerintahkan kaum muslimin untuk bergerak dari sana menuju Al-Madain.
Mereka menyeberang menggunakan kapal-kapal karena kedua kota tersebut
dipisahkan oleh Sungai Tigris dan jaraknya sangat dekat.
Ketika kaum muslimin memasuki Bahurasir, tampaklah oleh
mereka Istana Putih Al-Madain. Istana tersebut merupakan istana raja yang
pernah dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ bahwa Allah akan menaklukkannya untuk umat beliau. Orang
pertama dari kaum muslimin yang melihatnya adalah Dirar bin al-Khattab. Ia
langsung berseru: "Allahu Akbar! Itu Istana Putih Kisra! Ini adalah apa
yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita!". Orang-orang pun melihat
ke arah istana tersebut dan terus mengumandangkan takbir secara bersahut-sautan
hingga waktu subuh.
Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis:
لَتَفْتَحَنَّ
عِصَابَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَوْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ كَنْزَ آلِ كِسْرَى
الَّذِي فِي الْأَبْيَضِ
"Sungguh, sekelompok dari kaum muslimin atau kaum
mukminin akan menaklukkan tempat penyimpanan harta keluarga Kisra yang berada
di Istana Putih."
Penaklukan Al-Madain Tahun 16 H
Ketika Sa'ad berhasil menguasai Bahurasir dan menetap di
sana pada bulan Safar tahun 16 H, ia tidak menemukan seorang pun di dalamnya.
Ia juga tidak menemukan harta benda apa pun yang bisa dijadikan sebagai ganimah
(harta rampasan perang). Ternyata, penduduknya telah pindah seluruhnya ke
Al-Madain dengan menaiki kapal-kapal yang kemudian mereka bawa dan kumpulkan di
sisi mereka.
Sa'ad sama sekali tidak menemukan satu pun kapal tersisa dan
mustahil baginya untuk mendapatkan kapal dalam kondisi seperti itu. Pada saat
yang sama, air Sungai Tigris sedang meluap drastis, warnanya berubah menjadi
hitam, dan permukaannya dipenuhi buih karena saking banyaknya volume air. Sa'ad
juga menerima kabar bahwa Raja Kisra, Yazdajird, berencana membawa pergi
seluruh harta dan perlengkapan dari Al-Madain menuju Hulwan. Informan itu
berkata kepada Sa'ad: "Jika engkau tidak menyusulnya sebelum tiga hari,
engkau akan kehilangan kesempatan dan urusan ini akan terlepas dari
tanganmu.".
Penyeberangan Kaum Muslimin Menembus Sungai Tigris Tanpa
Kapal
Sa'ad berpidato di hadapan kaum muslimin di tepi Sungai
Tigris. Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia berkata: "Sesungguhnya
musuh kalian telah membentengi diri dari kalian dengan lautan (sungai besar)
ini, sehingga kalian tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Sebaliknya,
mereka bisa menjangkau kalian kapan pun mereka mau dengan menyerang menggunakan
kapal-kapal mereka. Sementara itu, di belakang kalian tidak ada sesuatu pun
yang kalian takuti akan menyerang kalian. Aku berpendapat bahwa kalian harus
bersegera menyambut jihad melawan musuh dengan niat kalian, sebelum dunia
mengepung kalian. Ketahuilah, sesungguhnya aku telah bertekad untuk
menyeberangi lautan ini menuju mereka.".
Mendengar hal itu, seluruh pasukan serentak menjawab:
"Semoga Allah menetapkan bagi kami dan bagimu keputusan yang penuh
petunjuk, maka laksanakanlah!".
Penyeberangan Pasukan Penantang Bahaya (Katibat
al-Ahwal)
Sa'ad menyeru orang-orang untuk mulai menyeberang. Ia
berkata: "Siapa yang mau memulai untuk mengamankan jalur penyeberangan di
seberang sana bagi kita, agar orang-orang bisa menyusul dan menyeberang dengan
aman?". Maka bertindaklah Ashim bin Amr bersama sekitar enam ratus orang
pemberani. Sa'ad menunjuk Ashim bin Amr sebagai pemimpin mereka, lalu mereka
berdiri di tepi Sungai Tigris. Ashim berkata: "Siapa yang mau maju
bersamaku agar kita menjadi orang pertama yang masuk ke dalam lautan ini
sebelum pasukan lain, demi mengamankan jalur di seberang sana?".
Maka majulah enam puluh orang pemberani pilihan. Di seberang
sungai, pasukan non-Arab (Persia) sudah berdiri berbaris rapi. Ketika
orang-orang sempat ragu untuk mengarungi Sungai Tigris, seorang pria muslim
maju dan berkata: "Apakah kalian takut dengan tetesan air ini?".
Kemudian ia membaca firman Allah Ta'ala:
وَمَا
كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan
dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."
(QS. Ali 'Imran: 145).
Pria itu langsung memacu kudanya masuk ke dalam air, dan
orang-orang pun ikut menceburkan diri mengikutinya. Enam puluh orang tadi
terbagi menjadi dua kelompok: kelompok penunggang kuda jantan dan kelompok
penunggang kuda betina.
Ketika orang-orang Persia melihat mereka mengapung dan
berjalan di atas permukaan air, mereka berteriak: "Dewana,
dewana!" yang artinya: orang-orang gila (atau dalam riwayat lain
berarti: Setan-setan telah datang!).
Mereka lalu berkata: "Demi Allah, kalian bukan sedang
memerangi manusia, melainkan sedang memerangi jin!".
Pihak Persia kemudian mengirim pasukan berkuda mereka ke
dalam air untuk menghadang barisan depan kaum muslimin agar tidak bisa keluar
dari sungai. Melihat hal itu, Ashim bin Amr memerintahkan pasukannya:
"Arahkan tombak-tombak kalian dan incarlah mata mereka!". Kaum
muslimin pun melakukannya hingga berhasil membutakan mata kuda-kuda pasukan
Persia. Kuda-kuda tersebut berbalik liar melarikan diri di depan kaum muslimin
tanpa bisa dikendalikan oleh penunggangnya hingga keluar dari air.
Ashim dan pasukannya terus mengejar dan mendesak mereka
hingga berhasil mengusir mereka, lalu bertahan di tepi Sungai Tigris. Sisa dari
enam ratus anggota pasukan Ashim kemudian menyusul masuk ke Sungai Tigris,
mengarunginya hingga bertemu dengan rekan-rekan mereka, lalu bahu-membahu
bertempur sampai berhasil membersihkan seluruh pasukan Persia dari tepi sungai
tersebut. Pasukan khusus ini dinamakan Pasukan Penantang Bahaya (Katibat
al-Ahwal), dengan Ashim bin Amr sebagai panglimanya.
Penyeberangan Sisa Pasukan
Setelah melihat tepi seberang sungai telah diamankan oleh
pasukan berkuda muslim yang berhasil menyeberang terlebih dahulu, Sa'ad bin Abi
Waqqas turun ke Sungai Tigris bersama sisa pasukan lainnya. Sa'ad memerintahkan
kaum muslimin ketika memasuki air untuk mengucapkan:
نَسْتَعِينُ
بِاللَّهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
"Kami memohon pertolongan kepada Allah dan
bertawakal kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik
pelindung. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang
Mahatinggi lagi Mahagung.".
Sa'ad kemudian memacu kudanya masuk ke dalam air, diikuti
oleh seluruh pasukan tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Mereka berjalan di
atas air seolah-olah sedang berjalan di atas permukaan tanah. Pasukan memenuhi
ruang di antara kedua sisi sungai hingga permukaan air tidak terlihat lagi
akibat padatnya pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki.
Orang-orang bahkan saling mengobrol di atas air sebagaimana
mereka mengobrol saat berada di daratan. Hal itu terjadi karena besarnya rasa
tenang, aman, serta keyakinan mereka yang penuh terhadap perintah Allah,
janji-Nya, pertolongan-Nya, dan dukungan-Nya. Apalagi panglima mereka, Sa'ad
bin Abi Waqqas, adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk
surga. Rasulullah ﷺ
wafat dalam keadaan rida kepadanya dan pernah mendoakannya dengan doa: "Ya
Allah, kabulkanlah doanya, dan tepatkanlah bidikan panahnya.".
Dapat dipastikan bahwa pada hari itu Sa'ad mendoakan
keselamatan dan kemenangan bagi pasukannya. Ketika ia mengerahkan mereka ke
dalam sungai besar ini, Allah membimbing dan menyelamatkan mereka. Tidak ada
satu pun prajurit muslim yang hilang, dan tidak ada satu pun barang bawaan
mereka yang lenyap, kecuali sebuah cangkir kayu milik seorang pria bernama
Malik bin Amir. Cangkir tersebut memiliki tali pengikat yang sudah usang
sehingga terlepas dan terbawa ombak. Pemiliknya kemudian berdoa kepada Allah 'Azza
wa Jalla: "Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan aku satu-satunya orang di
antara mereka yang kehilangan barang bawaannya.".
Tiba-tiba ombak mengembalikan cangkir tersebut ke tepi
seberang sungai pada sebuah gundukan tanah yang tinggi, sehingga ia bisa
mengambilnya kembali. Bahkan, sebagian kuda berjalan di air yang kedalamannya
tidak mencapai sabuk perutnya.
Hari itu adalah hari yang sangat agung, peristiwa yang
dahsyat, urusan yang besar, serta mukjizat luar biasa bagi Rasulullah ﷺ
yang Allah wujudkan nyata untuk para sahabatnya. Peristiwa luar biasa seperti
ini belum pernah terlihat di negeri tersebut maupun di belahan bumi mana pun,
kecuali pada peristiwa Al-Ala bin al-Hadrami. Namun, peristiwa kali ini jauh
lebih agung dan besar karena jumlah pasukan ini berkali-kali lipat lebih
banyak.
Orang yang berjalan beriringan bersama Sa'ad bin Abi Waqqas
di dalam air adalah Salman al-Farisi. Sa'ad terus-menerus mengucapkan:
"Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Demi
Allah, Allah pasti akan menolong kekasih-Nya, memenangkan agama-Nya, dan
menghancurkan musuh-Nya, selama di dalam pasukan ini tidak ada kezaliman atau
dosa-dosa yang mengalahkan kebaikan.".
Salman lalu menimpali perkataannya: "Sesungguhnya Islam
itu masih baru (murni). Demi Allah, lautan telah ditundukkan untuk mereka
sebagaimana daratan telah ditundukkan untuk mereka. Demi Dzat yang jiwa Salman
berada di tangan-Nya, mereka pasti akan keluar dari sungai ini secara
berbondong-bondong sebagaimana mereka memasukinya secara
berbondong-bondong.". Akhirnya mereka semua berhasil keluar dari sungai
tepat seperti yang dikatakan oleh Salman; tidak ada seorang pun yang tenggelam
dan mereka tidak kehilangan barang apa pun.
Abu Bujaid Nafi' bin al-Aswad berkata mengenai peristiwa
tersebut dalam sebuah syair:
Terjemahan:
“Dan kami mengharapkan pasukan berkuda menyerbu
Al-Madain, di mana lautan pasukan mereka tampak luas membentang seperti
daratannya. Maka kami pun menguras habis pembendaharaan milik sang Raja Kisra,
pada hari ketika mereka berpaling melarikan diri dan orang yang lolos dari
cengkeraman kami lari dalam keadaan terengah-engah menelan ludahnya karena
ketakutan.”
Masuknya Umat Islam ke Al-Madain dan Larinya Bangsa Persia
Ketika pasukan muslimin telah tegak berdiri di atas bumi,
kuda-kuda mulai keluar sambil mengibaskan surainya dan meringking. Mereka
memburu orang-orang asing (bangsa Persia) itu hingga berhasil memasuki kota
Al-Madain. Di sana, mereka tidak menemukan seorang pun.
Ternyata, Kisra telah membawa serta keluarga, harta benda,
perlengkapan, dan kekayaan yang mampu ia bawa. Mereka meninggalkan apa yang
tidak mampu mereka bawa, seperti hewan ternak, pakaian, perabot, barang-barang
berharga, dan minyak-minyak wangi yang tidak diketahui nilainya. Di dalam
perbendaharaan Kisra sendiri awalnya terdapat uang senilai tiga ribu juta juta
juta dinar (tiga triliun dinar). Mereka membawa apa yang mereka sanggup dan
meninggalkan sisanya yang tidak mampu terbawa, yaitu sekitar setengah dari
jumlah tersebut atau mendekatinya.
Pasukan yang pertama kali memasuki kota Al-Madain adalah
Satuan Pasukan Harta (Katibat al-Amwal), kemudian disusul oleh Satuan Pasukan
Bisu (Al-Katibat al-Kharsa'). Mereka menyusuri jalan-jalan kota tanpa menemui
seorang pun dan tanpa rasa takut, kecuali terhadap Istana Putih (Al-Qasr
al-Abyad) yang di dalamnya masih terdapat pasukan yang bertahan dan berkubu.
Ketika Sa'ad datang bersama rombongan pasukan besar, ia
menyeru para penghuni Istana Putih selama tiga hari berturut-turut melalui
lisan Salman al-Farisi. Pada hari ketiga, mereka akhirnya turun menyerahkan
diri. Sa'ad kemudian memasuki dan menempatinya, serta menjadikan ruangan
beranda besar (Iwan) sebagai tempat salat (mushala). Saat memasukinya,
ia membaca firman Allah Ta'ala:
Terjemahan:
“Betapa banyak kebun-kebun dan mata air-mata air yang
mereka tinggalkan, juga tanam-tanaman serta tempat-tempat kediaman yang indah,
dan kesenangan-kesenangan yang dahulu mereka nikmati di sana. Demikianlah, dan
Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (QS. Ad-Dukhan: 25-28)
Kemudian Sa'ad maju ke bagian depan ruangan lalu
melaksanakan salat delapan rakaat yang disebut sebagai Salat Kemenangan (Salat
al-Fath). Disebutkan dalam riwayat Saif bahwa ia melaksanakannya hanya
dengan satu kali salam.
Salat Jumat dilaksanakan di dalam ruangan Iwan
tersebut pada bulan Safar tahun ini, dan itu menjadi salat jumat pertama yang
didirikan di tanah Irak karena Sa'ad berniat untuk menetap di sana.
Sa'ad kemudian mengirim utusan untuk menjemput para
keluarga, lalu menempatkan mereka di rumah-rumah kota Al-Madain dan
menjadikannya sebagai tempat tinggal, sampai mereka berhasil menaklukkan
Jalula, Tikrit, dan Mosul. Setelah itu, barulah mereka berpindah ke kota Kufah.
Sa'ad juga mengirim pasukan-pasukan khusus untuk mengejar
Kisra Yazdajird. Mereka berhasil menyusul sebagian dari rombongan Kisra, lalu
membunuh dan mencerai-beraikan mereka, serta merampas harta benda yang sangat
banyak. Sebagian besar barang yang berhasil direbut kembali adalah
pakaian-pakaian kebesaran Kisra, mahkota, dan perhiasannya.
Pengumpulan Ganimah (Harta Rampasan Perang)
Sa'ad mulai mengumpulkan harta benda, kekayaan, dan
barang-barang berharga yang ada di sana, yang jumlahnya sangat banyak, luar
biasa, dan tidak dapat dinilai atau digambarkan saking melimpah serta besarnya.
Diriwayatkan kepada kami bahwa di sana terdapat
patung-patung dari gips. Sa'ad melihat ke arah salah satu patung, dan ternyata
jari patung tersebut menunjuk ke suatu tempat. Sa'ad berkata, "Patung ini
tidak dibuat menunjuk seperti ini secara sia-sia." Mereka pun menggali
area yang searah dengan lurusnya jari patung tersebut, dan di hadapannya mereka
menemukan sebuah harta karun yang sangat besar dari simpanan para raja Kisra
terdahulu. Dari sana, mereka mengeluarkan harta benda yang melimpah, kekayaan
yang mengagumkan, serta barang-barang berharga yang mewah. Kaum muslimin
berhasil menguasai seluruh isi tempat tersebut, yang mana belum pernah ada
seorang pun di dunia ini yang melihat pemandangan lebih menakjubkan daripada
itu.
Deskripsi Mahkota Kisra
Di antara harta rampasan tersebut terdapat mahkota Kisra
yang bertabur permata-permata mulia yang menyilaukan mata. Ditemukan pula ikat
pinggangnya, pedangnya, gelangnya, baju jubahnya (qaba'), serta karpet
permadani yang ada di ruangan Iwan-nya. Karpet tersebut berbentuk
persegi empat dengan ukuran enam puluh hasta di setiap sisinya. Karpet itu
ditenun dengan emas, mutiara, dan batu-batu permata yang mahal. Di atas karpet
tersebut digambarkan seluruh wilayah kekuasaan Kisra; lengkap dengan
sungai-sungainya, benteng-bentengnya, provinsi-provinsinya, tempat penyimpanan
hartanya, serta gambaran tanaman dan pepohonan yang ada di negerinya.
Apabila Kisra duduk di atas kursi kerajaannya, ia akan masuk
ke bawah mahkotanya. Mahkota tersebut dalam posisi tergantung menggunakan
rantai-rantai emas karena ia tidak akan sanggup menahan beban mahkota di atas
kepalanya saking beratnya.
Ia datang lalu duduk di bawahnya, kemudian memasukkan
kepalanya ke dalam mahkota tersebut sementara rantai-rantai emas itulah yang
menopang bebannya. Mahkota itu menutupinya saat ia pakai. Ketika tirai pembatas
disingkap, para pangeran dan pembesar langsung tersungkur bersujud kepadanya.
Saat itu ia mengenakan ikat pinggang, sepasang gelang, pedang, dan jubah yang
bertabur permata. Ia kemudian memperhatikan wilayah negerinya satu demi satu,
lalu bertanya tentang wilayah tersebut beserta para wakilnya yang ada di sana,
serta apakah ada peristiwa baru yang terjadi?
Para pejabat yang ada di hadapannya pun melaporkan hal
tersebut kepadanya. Setelah itu ia beralih ke wilayah berikutnya, dan begitulah
seterusnya hingga ia selesai menanyakan perihal keadaan negerinya di setiap
waktu tanpa melalaikan urusan kerajaan. Mereka sengaja meletakkan karpet
permadani ini di hadapannya sebagai pengingat baginya mengenai urusan
wilayah-wilayah kekuasaannya. Hal tersebut merupakan sebuah tata kelola politik
yang baik dari mereka.
Namun, ketika takdir Allah telah datang, kekuasaan
tangan-tangan tersebut lenyap dari kerajaan serta tanah-tanah itu. Kaum
muslimin menerima dan mengambil alih kekuasaan dari tangan mereka secara paksa,
mematahkan kekuatan mereka, dan mengambilnya atas perintah Allah dalam keadaan
bersih dan melimpah. Segala puji dan sanjungan hanya milik Allah.
Sa'ad bin Abi Waqqas menunjuk 'Amr bin Abi 'Amr al-Muzani
untuk mengurusi barang rampasan perang (al-aqbyad). Barang pertama yang
berhasil dikumpulkan adalah apa yang berada di Istana Putih, tempat tinggal
Kisra, seluruh rumah di Al-Madain, serta apa yang ada di dalam ruangan Iwan
sebagaimana yang telah kami sebutkan. Ditambah lagi dengan barang-barang yang
dibawa oleh pasukan khusus yang menyertai Zuhrah bin Hawiyyah.
Di antara barang yang dibawa kembali oleh Zuhrah adalah
seekor bagal (peranakan kuda dan keledai) yang berhasil ia kejar dan rebut dari
tangan bangsa Persia. Saat itu, bangsa Persia mengelilingi bagal tersebut
dengan pedang-pedang mereka, namun Zuhrah berhasil menyelamatkannya dari
mereka. Zuhrah berkata, "Pasti ada sesuatu yang penting pada bagal
ini." Maka ia menyerahkannya ke tempat pengumpulan harta rampasan.
Ternyata di atas bagal itu terdapat dua buah keranjang besar yang berisi
pakaian-pakaian Kisra, perhiasannya, serta pakaian yang biasa ia kenakan saat
berada di atas singgasana.
Ada pula bagal lain yang membawa mahkotanya di dalam dua
keranjang besar, yang berhasil direbut di tengah jalan oleh pasukan khusus. Di
antara yang dibawa kembali oleh pasukan khusus tersebut adalah harta benda yang
sangat banyak, yang di dalamnya terdapat sebagian besar perabot rumah tangga
Kisra, perlengkapan, serta barang-barang berharga yang sengaja mereka bawa
lari. Namun, kaum muslimin berhasil menyusul dan merebutnya dari mereka. Bangsa
Persia tidak mampu membawa karpet permadani tersebut karena terlalu berat bagi
mereka, dan mereka juga tidak mampu membawa seluruh harta karena jumlahnya yang
sangat banyak. Kaum muslimin bahkan mendatangi beberapa rumah dan menemukan
sebuah ruangan yang penuh hingga ke langit-langitnya oleh bejana-bejana dari
emas dan perak. Mereka juga menemukan kapur barus dalam jumlah yang sangat
banyak, hingga sebagian dari mereka mengira bahwa itu adalah garam.
Bahkan sebagian dari mereka ada yang mencampurkannya ke
dalam adonan roti, lalu merasakan rasanya pahit, hingga akhirnya mereka
menyadari apa sebenarnya benda tersebut. Dari harta rampasan perang (fai')
ini, terkumpullah jumlah harta yang luar biasa banyaknya.
Sa'ad mulai membaginya dan memerintahkan Salman al-Farisi
untuk membagi empat perlima bagian di antara para pejuang yang berhak menerima
ganimah. Setiap prajurit penunggang kuda mendapatkan bagian sebesar dua belas
ribu dinar, dan pada saat itu seluruh pasukan yang ada adalah pasukan berkuda,
yang mana sebagian dari mereka membawa hewan tunggangan cadangan.
Pengiriman Seperlima Bagian dan Sebagian Barang Berharga
kepada Umar
Sa'ad meminta kerelaan dari kaum muslimin untuk mengambil
empat perlima bagian dari karpet permadani serta pakaian Kisra agar bisa
dikirimkan kepada Umar dan kaum muslimin di Madinah, supaya mereka dapat
melihat dan merasa takjub dengannya. Kaum muslimin pun menyetujuinya dengan
lapang dada dan mengizinkannya. Maka Sa'ad mengirimkan barang tersebut kepada
Umar bersama dengan bagian seperlima (al-khumus) melalui perantara
Basyir bin al-Khashashiyyah. Sementara orang yang membawa kabar gembira
mengenai kemenangan sebelum itu adalah Khunais bin Fulan al-Asadi.
Diriwayatkan kepada kami bahwa ketika Umar melihat
barang-barang tersebut, ia berkata, "Sesungguhnya kaum yang menunaikan
(amanah) ini benar-benar orang-orang yang terpercaya." Maka Ali bin Abi
Thalib berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau telah menjaga kehormatan
dan menahan diri (dari harta), maka rakyatmu pun ikut menjaga kehormatan
mereka. Seandainya engkau mengumbar nafsumu, niscaya mereka pun akan ikut
mengumbarnya."
Kemudian Umar membagikan barang tersebut kepada kaum
muslimin, dan Ali mendapatkan sepotong bagian dari karpet permadani itu yang
kemudian ia jual seharga dua puluh ribu dinar.
Saif bin Umar menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab
memakaikan pakaian Kisra pada sebuah kayu dan menegakkannya di hadapannya, agar
beliau bisa melihat keindahan yang menakjubkan pada hiasan ini, sekaligus
melihat kilauan perhiasan dunia yang fana.
Diriwayatkan pula kepada kami bahwa Umar memakaikan sepasang
gelang Kisra kepada Suraqah bin Malik bin Ju'syam, pemimpin Bani Mudlij radhiyallahu
'anhu.
Al-Hafiz Abu Bakar al-Baihaqi menyebutkan dalam kitab Dala'il
an-Nubuwwah: Bahwa Umar bin Al-Khattab dibawakan jubah berbulu milik Kisra,
lalu diletakkan di hadapannya. Di antara orang-orang yang hadir saat itu
terdapat Suraqah bin Malik bin Ju'syam. Perawi berkata: Maka Umar melemparkan
kepadanya sepasang gelang Kisra bin Hurmuz dan memakaikannya di kedua tangan
Suraqah hingga mencapai kedua pundaknya. Ketika Umar melihat sepasang gelang
itu berada di kedua tangan Suraqah, beliau berkata:
Terjemahan:
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan sepasang
gelang Kisra bin Hurmuz berada di kedua tangan Suraqah bin Malik bin Ju'syam,
seorang Arab Badui dari keturunan Bani Mudlij.”
Kemudian beliau menyebutkan kelanjutan hadis tersebut.
Demikianlah Al-Baihaqi meriwayatkannya.
Kemudian diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi'i bahwa beliau
berkata: "Umar memakaikan kedua gelang tersebut kepada Suraqah tidak lain
karena Rasulullah ﷺ
pernah bersabda kepada Suraqah—sambil melihat ke arah kedua lengan Suraqah—: 'Seakan-akan
aku melihatmu telah dipakaikan sepasang gelang Kisra.'" Asy-Syafi'i
melanjutkan: "Umar berkata kepada Suraqah saat memakaikannya sepasang
gelang Kisra: 'Ucapkanlah Allahu Akbar!'" Suraqah pun mengucapkan:
"Allahu Akbar." Kemudian Umar berkata lagi: "Ucapkanlah:
Terjemahan:
“Segala puji bagi Allah yang telah merampas kedua gelang
ini dari Kisra bin Hurmuz, lalu memakaikannya kepada Suraqah bin Malik, seorang
Arab Badui dari keturunan Bani Mudlij.”
Setelah itu Umar berkata: "Ya Allah, sesungguhnya
Engkau telah menahan harta ini dari Rasul dan Nabi-Mu, padahal ia adalah orang
yang lebih Engkau cintai dan lebih Engkau muliakan daripada diriku. Engkau juga
telah menahannya dari Abu Bakar, padahal ia adalah orang yang lebih Engkau
cintai dan lebih Engkau muliakan daripada diriku. Namun, Engkau justru
memberikannya kepadaku, maka aku berlindung kepada-Mu agar pemberian ini bukan
merupakan cara-Mu untuk menghukumku secara perlahan (makar)."
Kemudian beliau menangis hingga orang-orang yang berada di
sekitarnya merasa iba kepadanya. Lalu beliau berkata kepada Abdurrahman bin
Auf: "Aku bersumpah atas nama Allah kepadamu, agar engkau menjualnya lalu
membagikannya sebelum waktu sore tiba."
Peristiwa Perang Jalula Tahun 16 H
Ketika Kisra Yazdajird bin Syahriyar berjalan melarikan diri
dari kota Al-Madain menuju Hulwan, di tengah perjalanan ia mulai mengumpulkan
orang-orang, para penolong, serta pasukan tentara dari kota-kota yang ada di
sekitarnya. Maka berkumpullah sejumlah besar orang dari bangsa Persia. Ia
menyerahkan komando pasukan kepada Mihran, sementara Kisra sendiri melanjutkan
perjalanan ke Hulwan. Pasukan yang berhasil ia kumpulkan tersebut ditempatkan
di antara dirinya dan pasukan muslimin di daerah Jalula.
Sa'ad kemudian menulis surat kepada Umar untuk mengabarkan
perihal kondisi tersebut. Umar membalas suratnya dengan memerintahkan agar
Sa'ad tetap menetap di Al-Madain, dan mengutus keponakannya, yaitu Hasyim bin
Utbah, sebagai panglima tertinggi bagi pasukan yang akan dikirim untuk
menghadapi pasukan Kisra. Umar juga menetapkan bahwa posisi komandan pasukan
garis depan dipegang oleh Al-Qa'qa' bin Amr, pasukan sayap kanan dipimpin oleh
Si'r bin Malik, pasukan sayap kiri dipimpin oleh saudaranya yaitu Amr bin
Malik, dan pasukan penjaga garis belakang dipimpin oleh Amr bin Murrah
al-Juhani.
Sa'ad melaksanakan perintah tersebut dan mengirimkan pasukan
yang sangat besar bersama keponakannya, berjumlah sekitar dua belas ribu
personel yang terdiri dari para tokoh muslimin, pemuka kaum Muhajirin dan
Ansar, serta para pemimpin bangsa Arab. Peristiwa itu terjadi pada bulan Safar
tahun 16 Hijriah. Mereka berjalan hingga sampai ke tempat orang-orang Majusi
(Persia), yang saat itu posisi mereka di Jalula telah membuat parit pertahanan
di sekeliling mereka. Hasyim bin Utbah pun mengepung mereka.
Orang-orang Persia tersebut selalu keluar dari wilayah
pertahanan mereka untuk bertempur di setiap waktu, mereka menunjukkan
pertempuran hebat yang belum pernah terdengar tandingannya. Kisra terus
mengirimkan pasukan bantuan kepada mereka, begitu pula dengan Sa'ad yang terus
mengirimkan bantuan kepada keponakannya dari waktu ke waktu. Pertempuran pun
semakin memuncak, duel satu lawan satu semakin sengit, dan api peperangan
berkobar dengan hebatnya. Hasyim berdiri di tengah-tengah pasukannya lalu
berkhotbah berkali-kali untuk membakar semangat mereka agar terus bertempur dan
bertawakal kepada Allah.
Al-Qa'qa' melancarkan serangan yang sangat kuat bersama
sekelompok pasukan berkuda, para pahlawan, dan pemberani, hingga ia berhasil
mencapai pintu parit pertahanan musuh. Malam pun tiba dengan kegelapannya,
sementara para pahlawan lainnya bersama pasukan yang menyertai mereka terus
bergerak di tengah kepungan orang-orang. Mereka mulai mengambil posisi bertahan
dan mundur perlahan karena malam telah larut. Di antara para pahlawan yang
menonjol pada hari itu adalah Thulaihah al-Asadi, 'Amr bin Ma'di Karib az-Zubaidi,
Qais bin Maksyuh, dan Hujr bin 'Adi.
Mereka semua belum mengetahui apa yang telah diperbuat oleh
Al-Qa'qa' di dalam kegelapan malam itu dan tidak menyadarinya, sampai terdengar
suara berseru yang memanggil: "Wahai kaum muslimin, ini panglima kalian
telah berada di depan pintu parit pertahanan mereka!"
Ketika orang-orang Majusi mendengar seruan tersebut, mereka
langsung kocar-kacir melarikan diri. Kaum muslimin pun merangsek maju menuju ke
arah Al-Qa'qa' bin 'Amr, dan ternyata ia memang telah berada di pintu parit
pertahanan serta berhasil menguasainya atas mereka. Pasukan Persia melarikan
diri ke segala penjuru, sementara kaum muslimin mengejar dan menangkap mereka
dari setiap arah serta mengintai mereka di setiap tempat pengintaian. Pasukan
musuh yang tewas di tempat pertempuran tersebut mencapai seratus ribu jiwa,
hingga mereka menutupi permukaan bumi dengan jasad-jasad yang bergelimpangan.
Oleh karena itulah, tempat tersebut dinamakan Jalula (yang berarti tertutupi).
Dari pertempuran ini, kaum muslimin berhasil mendapatkan
harta rampasan, pakaian, emas, dan perak yang jumlahnya hampir mendekati apa
yang mereka dapatkan di kota Al-Madain sebelumnya.
Berikut adalah terjemahan lengkap dari teks dokumen yang
baru Anda unggah ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah dipahami,
dengan mempertahankan struktur judul dan subjudul asli tanpa menyertakan
catatan kaki. Di dalam dokumen ini tidak terdapat ayat Al-Qur'an, hadis nabi,
maupun syair berharakat.
Penaklukan Hulwan
Ketika pertempuran (Jalula) telah usai, Hasyim bin Utbah
tetap tinggal di Jalula. Sementara itu, Al-Qa'qa' bin Amr bergerak maju menuju
Hulwan atas perintah Umar, guna menjadi pelindung bagi kaum muslimin di sana
serta menjaga pergerakan Kisra. Al-Qa'qa' terus berjalan hingga ia berhasil
menyusul Mihran ar-Razi lalu membunuhnya, sedangkan Al-Fairuzan melarikan diri
darinya.
Ketika Al-Fairuzan sampai ke hadapan Kisra dan mengabarkan
kepadanya tentang apa yang terjadi dalam Perang Jalula, nasib buruk yang
menimpa bangsa Persia setelahnya, bagaimana seratus ribu pasukan mereka tewas,
serta terbunuhnya Mihran yang berhasil disusul, maka Kisra pun lari ketakutan
dari Hulwan menuju daerah Al-Ray. Sebelum pergi, Kisra mengangkat seorang
gubernur untuk memimpin Hulwan yang bernama Khusrausynum.
Al-Qa'qa' bin Amr kemudian bergerak maju menghadapinya, dan
Khusrausynum keluar menyambutnya di suatu tempat di luar kota Hulwan. Mereka
terlibat pertempuran yang sangat sengit di sana, hingga akhirnya Allah
memberikan kemenangan serta pertolongan bagi kaum muslimin, sementara
Khusrausynum menderita kekalahan. Al-Qa'qa' segera memburu sisa pasukan menuju
Hulwan, lalu berhasil menguasai dan memasukinya bersama kaum muslimin.
Di kota tersebut, kaum muslimin mendapatkan banyak harta
rampasan serta tawanan perang, lalu menetap di sana. Mereka juga menerapkan
jizyah (pajak perlindungan) bagi penduduk di distrik-distrik dan
wilayah-wilayah sekitarnya, setelah sebelumnya mereka diseru untuk masuk Islam
namun menolaknya dan lebih memilih membayar jizyah. Al-Qa'qa' terus menetap di
Hulwan sampai Sa'ad berpindah dari Al-Madain menuju Kufah.
Penaklukan Tikrit
Ketika Sa'ad berhasil menaklukkan Al-Madain, sampai kabar
kepadanya bahwa penduduk Mosul telah berkumpul di Tikrit di bawah komando
seorang laki-laki kafir yang bernama Al-Anthaq. Sa'ad segera menulis surat
kepada Umar untuk mengabarkan perihal pergerakan penduduk Mosul tersebut. Umar
lalu memerintahkannya untuk menyiapkan sepasukan tentara guna memerangi mereka.
Umar menunjuk Abdullah bin al-Mu'tam sebagai panglima
tertinggi pasukan tersebut. Beliau juga menetapkan Rib'i bin al-Afkal al-'Anazi
sebagai komandan pasukan garis depan, Al-Harits bin Hassan adz-Dzuhli di sayap
kanan, Furat bin Hayyan al-'Ijli di sayap kiri, Hani' bin Qais di posisi
penjaga garis belakang, dan 'Arfajah bin Hartsamah sebagai komandan pasukan
berkuda.
Abdullah bin al-Mu'tam kemudian berangkat dari Al-Madain
memimpin lima ribu prajurit. Ia menempuh perjalanan selama empat malam hingga
akhirnya tiba dan mengepung Al-Anthaq di Tikrit. Di kota tersebut, telah
berkumpul sekumpulan pasukan dari bangsa Romawi, kaum Syaharajah, serta
orang-orang Kristen Arab dari suku Iyad, Taghlib, dan An-Namir. Mereka semua
berkubu di dalam Tikrit, lalu Abdullah bin al-Mu'tam mengepung mereka selama
empat puluh hari.
Selama masa pengepungan tersebut, musuh keluar menyerang
pasukan muslimin sebanyak empat belas kali. Namun, tidak ada satu pun serangan
melainkan kaum muslimin berhasil memenangkannya dan memporak-porandakan barisan
mereka. Akibatnya, posisi musuh semakin melemah, hingga bangsa Romawi
memutuskan untuk melarikan diri menggunakan kapal-kapal dengan membawa harta
benda mereka.
Melihat situasi itu, Abdullah bin al-Mu'tam mengirim utusan
secara rahasia kepada orang-orang Arab Kristen yang berada di dalam kota,
mengajak mereka untuk bergabung dengannya dalam membantu mengalahkan penduduk
kota tersebut. Para utusan kembali membawa jawaban bahwa mereka menyetujui
ajakan tersebut. Abdullah lalu mengirim pesan lagi kepada mereka: "Jika
kalian memang jujur dengan ucapan kalian, maka bersaksilah bahwa tidak ada
tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,
serta akuilah apa yang datang dari sisi Allah."
Para utusan kembali lagi kepadanya dan mengabarkan bahwa
orang-orang Arab Kristen tersebut telah masuk Islam. Maka Abdullah mengirim
perintah kepada mereka: "Jika kalian jujur, apabila nanti malam kami
mengumandangkan takbir dan menyerbu kota ini, maka tahanlah pintu-pintu kapal
dari mereka, cegah mereka agar tidak bisa menaikinya, dan bunuhlah siapa saja
dari mereka yang mampu kalian bunuh."
Ketika malam tiba, Abdullah beserta para sahabatnya maju dan
mengumandangkan takbir dengan satu suara yang menggelegar, lalu menyerbu kota.
Orang-orang Arab Kristen ikut mengumandangkan takbir dari sudut kota yang lain,
sehingga membuat penduduk kota menjadi panik dan bingung. Penduduk kota pun
berlarian keluar menuju pintu-pintu gerbang yang mengarah ke Sungai Tigris. Di
sana, mereka langsung disambut oleh suku Iyad, An-Namir, dan Taghlib, yang
langsung membantai mereka dengan dahsyat. Sementara itu, Abdullah bin al-Mu'tam
datang bersama pasukannya dari pintu-pintu gerbang yang lain, sehingga berhasil
memenangkan pertempuran atas mereka secara mutlak.
Penaklukan Mosul
Sebelumnya, Umar telah berpesan di dalam suratnya, bahwa
jika mereka berhasil menang atas Tikrit, maka mereka harus segera mengutus
Rib'i bin al-Afkal menuju Mosul dengan cepat. Maka Rib'i pun segera berangkat
ke sana dengan membawa pasukan khusus yang besar serta sekelompok pahlawan
pemberani. Ia berhasil mengejutkan penduduk Mosul sebelum berita kekalahan
Tikrit sampai ke telinga mereka.
Tidak sempat terjadi pertempuran, melainkan Rib'i langsung
mengepung mereka hingga akhirnya penduduk Mosul setuju untuk berdamai. Maka
ditetapkanlah jizyah atas mereka dalam keadaan tunduk.
Setelah itu, harta benda yang didapatkan dari Tikrit mulai
dibagikan, di mana bagian untuk seorang prajurit berkuda mencapai tiga ribu
dirham, sedangkan bagian untuk prajurit pejalan kaki mendapatkan seribu dirham.
Mereka kemudian mengirimkan bagian seperlima (al-khumus)
bersama Furat bin Hayyan, dan mengirimkan kabar gembira mengenai penaklukan ini
bersama Al-Harits bin Hassan. Selanjutnya, kepemimpinan urusan militer di Mosul
diserahkan kepada Rib'i bin al-Afkal, sedangkan urusan penarikan pajak kharaj
di wilayah tersebut diserahkan kepada 'Arfajah bin Hartsamah.
Penaklukan Qarqisiya dan Hit pada Tahun 16 H
Ibnu Jarir dan ulama lainnya mengatakan: Penduduk Al-Jazirah
(Mesopotamia) sebelumnya telah mengirimkan bantuan pasukan kepada penduduk
Himsh untuk memerangi Abu Ubaidah dan Khalid—yaitu ketika Kaisar Heraklius
berada di Qinnasrin. Kemudian penduduk Al-Jazirah tersebut berkumpul di kota
Hit.
Mendengar hal itu, Sa'ad menulis surat kepada Umar, lalu
Umar membalas suratnya dengan memerintahkan agar Sa'ad mengirimkan sepasukan
tentara untuk menghadapi mereka, dengan menunjuk Amr bin Malik bin Utbah bin
Naufal bin Abdi Manaf sebagai panglima pasukannya.
Amr bin Malik kemudian berjalan bersama pasukan muslimin
menuju Hit. Sesampainya di sana, ia mendapati musuh telah membuat parit
pertahanan di sekeliling mereka. Amr mengepung mereka dalam kurun waktu
tertentu namun belum berhasil menundukkannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk
berangkat bersama sebagian pasukannya menuju Qarqisiya dan mengambil alih
kepemimpinan pengepungan Hit kepada Al-Harits bin Yazid.
Amr bin Malik pun berjalan ke Qarqisiya lalu berhasil
menaklukkannya secara paksa. Setelah itu, ia menulis surat kepada wakilnya
(Al-Harits) di Hit: "Jika mereka tidak mau berdamai, maka galilah parit
baru dari balik parit pertahanan mereka, dan buatkan pintu-pintu gerbang di
sisinya." Ketika berita penaklukan Qarqisiya dan instruksi tersebut sampai
kepada penduduk Hit, mereka pun akhirnya menyerah dan memilih untuk berdamai.
Penaklukan Ahwaz, Manadzir, dan Nahr Tairi
Ibnu Jarir mengatakan: Pada tahun 17 Hijriah, atau ada yang
mengatakan pada tahun 16 Hijriah, Al-Hurmuzan berhasil menguasai kembali
beberapa wilayah seperti Ahwaz, Manadzir, dan Nahr Tairi—di mana ia merupakan
salah satu orang yang melarikan diri dari bangsa Persia saat Perang Qadisiyah.
Melihat hal tersebut, Utbah bin Ghazwan menyiapkan sepasukan
tentara dari Basrah untuk memeranginya, serta meminta bantuan pasukan kepada
Sa'ad bin Abi Waqqas. Sa'ad pun mengirimkan bantuan pasukan di bawah komando
Nu'aim bin Mas'ud dan Nu'aim bin Muqarrin. Allah kemudian memberikan kemenangan
kepada mereka atas Al-Hurmuzan, sehingga kaum muslimin berhasil merebut wilayah
yang membentang antara Sungai Tigris hingga Sungai Dujail, serta mengambil
harta rampasan yang melimpah dari pasukan musuh.
Setelah kekalahan itu, Al-Hurmuzan melunakkan sikapnya dan
meminta perdamaian atas wilayah kekuasaannya yang tersisa. Pasukan muslimin
meminta pertimbangan dari Utbah bin Ghazwan, dan Utbah menyetujui perdamaian
tersebut. Utbah kemudian mengirimkan bagian seperlima (al-khumus) dan
kabar gembira mengenai penaklukan ini kepada Umar. Ia juga mengutus delegasi
yang di antaranya terdapat Al-Ahnaf bin Qais, yang membuat Umar sangat kagum
dan mendapatkan kedudukan mulia di sisi beliau. Umar lalu menulis surat kepada
Utbah yang isinya berwasiat tentang Al-Ahnaf serta memerintahkan Utbah agar
selalu meminta masukan dan bantuan pemikirannya.
Namun di kemudian hari, Al-Hurmuzan melanggar perjanjian
damai tersebut karena terperdaya oleh dirinya sendiri dan setan telah
memperindah perbuatan buruknya itu, ditambah ia mendapatkan bantuan dari
sekelompok suku Kurdi. Kaum muslimin pun kembali keluar menghadapinya dan
berhasil mengalahkannya, membunuh pasukannya dalam jumlah yang sangat besar,
serta merebut wilayah dan kota-kota yang berada di tangannya hingga memaksa
Al-Hurmuzan mundur dan berkubu di dalam kota Tustar. Setelah itu, kaum muslimin
mengirimkan surat untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Umar.
Perdamaian Tustar, Ramhurmuz, dan Jundi Sabur
Ibnu Jarir mengatakan: Peristiwa ini terjadi pada tahun 17
Hijriah menurut pendapat dan riwayat Saif. Sedangkan ulama lainnya mengatakan
terjadi pada tahun 16 Hijriah.
Kronologinya adalah ketika Hurqush bin Zuhair berhasil
menguasai pasar Ahwaz, Al-Hurmuzan melarikan diri darinya. Hurqush kemudian
mengutus Juz' bin Mu'awiyah untuk mengejarnya hingga Al-Hurmuzan terdesak dan
berkubu di Ramhurmuz, sehingga membuat Juz' tidak dapat menangkapnya.
Meskipun begitu, Juz' berhasil menguasai wilayah-wilayah
yang ditinggalkan oleh Al-Hurmuzan. Ia menerapkan jizyah bagi penduduknya,
memakmurkan daerah yang berpenghuni, serta menggali saluran-saluran air menuju
lahan-lahan yang rusak dan mati, hingga wilayah tersebut menjadi sangat makmur
dan subur. Ketika Al-Hurmuzan menyadari bahwa wilayah kekuasaannya semakin
mempersempit posisinya karena berbatasan langsung dengan kaum muslimin, ia pun
meminta berdamai kepada Juz' bin Mu'awiyah.
Utbah bin Ghazwan lalu menulis surat kepada Umar mengenai
permohonan tersebut, dan datanglah surat balasan dari Umar yang menyetujui
perdamaian atas wilayah Ramhurmuz, Tustar, Jundi Sabur, serta kota-kota lain
yang bersamanya. Maka perdamaian pun resmi disepakati sebagaimana yang
diperintahkan oleh Umar radhiyallahu 'anhu.
Serangan ke Tanah Persia dari Arah Bahrain
Al-Ala' bin al-Hadrami menjabat sebagai gubernur di Bahrain
pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika Umar memegang kekhalifahan,
beliau sempat mencopotnya dan menyerahkan wilayah itu kepada Qudamah bin
Mazh'un, sebelum akhirnya mengembalikan jabatan Al-Ala' bin al-Hadrami kembali
ke sana.
Ketika Sa'ad berhasil memenangkan Perang Qadisiyah, mengusir
Kisra dari istananya, serta menguasai wilayah yang berbatasan dengan As-Savad,
Al-Ala' ingin melakukan sebuah aksi penaklukan di wilayah Persia yang setara
dengan apa yang telah diraih oleh Sa'ad. Ia pun menyeru masyarakatnya untuk
berperang melawan bangsa Persia, dan seruan tersebut disambut baik oleh
penduduk daerahnya.
Al-Ala' membagi pasukannya menjadi tiga divisi: divisi
pertama dipimpin oleh Al-Jarud bin al-Mu'alla, divisi kedua dipimpin oleh
As-Sawar bin Hamam, dan divisi ketiga dipimpin oleh Khulaid bin Al-Mundzir bin
Sawi, di mana Khulaid bertindak sebagai panglima tertinggi dari seluruh pasukan
tersebut.
Al-Ala' kemudian memberangkatkan mereka melalui jalur laut
menuju Persia tanpa mengantongi izin dari Umar. Padahal, Umar sangat tidak
menyukai hal tersebut karena Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar tidak pernah sekali pun
memberangkatkan pasukan muslimin untuk berperang melalui jalur laut.
Pasukan tersebut menyeberangi laut dari Bahrain menuju
Persia hingga mendarat di dekat Istakhr. Namun, pasukan Persia berhasil
bergerak memotong jalur di antara pasukan muslimin dengan kapal-kapal mereka.
Khulaid bin Al-Mundzir pun berdiri di hadapan pasukannya dan berkata:
"Wahai manusia, sesungguhnya kaum itu dengan tindakan mereka ini hanya
ingin memerangi kalian, dan kalian pun datang memang untuk memerangi mereka.
Maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka, karena
sesungguhnya bumi dan kapal-kapal ini adalah milik bagi siapa saja yang menang,
dan mintalah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
Mendengar ucapan tersebut, pasukan muslimin menyetujuinya,
lalu mereka melaksanakan salat Zuhur. Setelah itu, mereka bangkit menerjang
musuh dan terlibat pertempuran yang sangat sengit di sebuah tempat yang disebut
Thawus. Khulaid memerintahkan pasukan muslimin untuk turun dari tunggangan
mereka dan bertempur dengan berjalan kaki. Mereka bertempur dengan penuh
kesabaran hingga akhirnya meraih kemenangan, serta berhasil membantai pasukan
Persia dalam jumlah besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Setelah kemenangan itu, mereka bermaksud menuju ke Basrah,
namun kapal-kapal mereka ternyata telah tenggelam sehingga mereka tidak
memiliki jalan lagi untuk pulang melalui jalur laut. Di sisi lain, mereka
mendapati Syahrak bersama penduduk Istakhr telah memblokade jalan-jalan yang
akan dilalui kaum muslimin. Pasukan muslimin pun membuat perkemahan benteng
untuk bertahan dari kepungan musuh.
Ketika berita tentang apa yang diperbuat oleh Al-Ala' bin
al-Hadrami sampai kepada Umar, beliau sangat marah kepadanya. Umar langsung
memecat dan mengancamnya. Umar lalu menulis surat kepada Utbah bin Ghazwan:
"Sesungguhnya Al-Ala' bin al-Hadrami telah berangkat membawa pasukan lalu
menjebak mereka di hadapan penduduk Persia dalam keadaan bermaksiat kepadaku.
Aku khawatir mereka tidak akan mendapat pertolongan, dikalahkan, atau tertawan.
Maka serulah masyarakat untuk menyelamatkan mereka, dan gabungkan mereka ke
dalam pasukanmu sebelum mereka habis dibantai."
Utbah segera menyeru kaum muslimin dan membacakan surat Umar
tersebut kepada mereka. Maka berkumpullah dua belas ribu prajurit yang dipimpin
oleh Abu Sabrah bin Abi Ruhm. Mereka berangkat menunggangi bagal sambil
menuntun kuda-kuda mereka dengan cepat menyusuri garis pantai menuju tempat
yang bernama Thawus. Di sana, mereka mendapati Khulaid bin Al-Mundzir beserta
pasukannya telah terkepung oleh musuh dari segala penjuru, dan tidak ada
pilihan lain bagi mereka selain terus bertempur.
Pasukan bantuan muslimin datang tepat di saat mereka berada
dalam kondisi yang sangat membutuhkan pertolongan. Mereka langsung menerjang
barisan kaum musyrikin, dan Abu Sabrah berhasil memporak-porandakan barisan
mereka dengan kehancuran yang besar, membunuh musuh dalam jumlah yang sangat
banyak, merampas harta benda yang melimpah, serta menyelamatkan Khulaid dan
pasukannya dari cengkeraman musuh. Setelah itu, mereka semua kembali pulang
menuju tempat Utbah bin Ghazwan di Basrah.
Ketika Utbah telah menyelesaikan seluruh penaklukan di
wilayah tersebut, ia meminta izin kepada Umar untuk melaksanakan ibadah haji,
dan Umar mengizinkannya. Utbah berangkat haji dan menunjuk Abu Sabrah bin Abi
Ruhm sebagai penggantinya di Basrah.
Utbah kemudian bertemu dengan Umar pada musim haji dan
meminta agar beliau memberhentikannya dari jabatan gubernur, namun Umar
menolaknya dan bersumpah agar Utbah tetap kembali ke tempat tugasnya. Utbah pun
berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla (agar diwafatkan), lalu ia pun wafat di
Batni Nakhlah ketika dalam perjalanan pulang dari ibadah haji. Wafatnya Utbah
membuat Umar sangat sedih, dan beliau memuji kebaikannya. Setelah itu, Umar
menyerahkan kepemimpinan Basrah kepada Al-Mughirah bin Syu'bah untuk memimpin
di sisa tahun tersebut serta tahun berikutnya, di mana pada masa
kepemimpinannya tidak terjadi peristiwa besar dan tugasnya berjalan dengan aman
dan selamat.
Penaklukan Ramhurmuz Setelah Pelanggaran Perjanjian Damai pada Tahun 17 H
Ibnu Jarir mengatakan: Penaklukan Ramhurmuz, Sus, dan
Tustar, serta urusan mengenai Al-Hurmuzan terjadi pada tahun ini (17 H) menurut
riwayat Saif bin Umar.
Penyebab dari pertempuran ini adalah karena Yazdajird
menulis surat kepada penduduk Ahwaz dan Persia. Mereka pun bergerak, saling
berjanji, dan mengikat sumpah setia untuk memerangi kaum muslimin serta
menjadikan Basrah sebagai target serangan mereka.
Kabar tersebut sampai ke telinga Umar, maka beliau segera
menulis surat kepada Sa'ad yang saat itu berada di Kufah agar mengirimkan
sepasukan tentara yang besar ke wilayah Ahwaz bersama Nu'man bin Muqarrin
dengan cepat, guna berjaga di hadapan Al-Hurmuzan. Umar juga menyebutkan nama
beberapa pahlawan pemberani untuk bergabung di dalam pasukan ini, di antaranya:
Jarir bin Abdullah al-Bajali, Jarir bin Abdullah al-Himyari, Suwaid bin
Muqarrin, dan Abdullah bin Dzi as-Sahmain.
Umar juga menulis surat kepada Abu Musa yang berada di
Basrah agar mengirimkan sepasukan tentara yang besar ke Ahwaz di bawah komando
Sahl bin Adi, dengan menyertakan Al-Bara' bin Malik, Ashim bin Amr, Majza'ah
bin Tsaur, Ka'ab bin Sur, 'Arfajah bin Hartsamah, Hudzaifah bin Mihshan,
Abdurrahman bin Sahl, dan Al-Hushain bin Ma'bad. Umar menetapkan bahwa komando
tertinggi atas seluruh gabungan pasukan Kufah dan Basrah serta pasukan bantuan
yang datang diserahkan kepada Abu Sabrah bin Abi Ruhm.
Nu'man bin Muqarrin segera bergerak memimpin pasukan Kufah
mendahului pasukan Basrah hingga tiba di Ramhurmuz. Di kota tersebut,
Al-Hurmuzan telah bersiap bersama pasukannya setelah ia melanggar perjanjian
damai yang disepakati sebelumnya dengan kaum muslimin. Maka Al-Hurmuzan segera
menyerangnya dengan harapan dapat mengalahkannya sebelum kedatangan
teman-temannya dari penduduk Basrah—ia sangat berharap akan dibantu oleh
penduduk Persia. Lalu An-Nu'man bin Muqarrin bertemu dengannya dan mereka terlibat
pertempuran yang sengit. Akhirnya Al-Hurmuzan kalah dan melarikan diri ke
Tustar, serta meninggalkan Ramahurmuz. An-Nu'man pun menguasai kota itu secara
paksa dan mengambil seluruh harta, perbekalan, serta senjata yang ada di
dalamnya.
Penaklukan Tustar Secara Paksa pada Tahun 17 H
Ketika berita tentang apa yang dilakukan oleh penduduk Kufah
terhadap Al-Hurmuzan sampai kepada penduduk Basrah, serta kabar bahwa ia telah
melarikan diri dan berlindung di Tustar, mereka segera bergerak ke sana.
Penduduk Kufah pun menyusul mereka hingga bersama-sama mengepung kota tersebut.
Seluruh pasukan dipimpin oleh Abu Sabrah. Mereka mendapati bahwa Al-Hurmuzan
telah mengumpulkan pasukan yang sangat besar di kota itu. Mereka kemudian
menulis surat kepada Umar untuk mengabarkan situasi tersebut dan meminta
bantuan pasukan.
Umar lalu menulis surat kepada Abu Musa agar bergerak
menemui mereka—saat itu Abu Musa adalah gubernur penduduk Basrah. Abu Musa pun
berangkat menemui mereka, sementara Abu Sabrah tetap memegang komando tertinggi
atas seluruh pasukan Kufah dan Basrah. Mereka mengepung kota tersebut selama
sebulan dan terjadi saling bunuh yang banyak di antara kedua belah pihak. Pada
hari itu, Al-Bara bin Malik (saudara kandung Anas bin Malik) berhasil membunuh
seratus orang musuh dalam duel satu lawan satu, di luar dari musuh-musuh yang
ia bunuh dalam pertempuran biasa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ka'b bin
Sur, Majza'ah bin Thaur, dan para pejuang Basrah lainnya. Begitu pula dengan
penduduk Kufah, sekelompok dari mereka ada yang membunuh seratus orang dalam
duel satu lawan satu, seperti Habib bin Qurrah, Rib'i bin 'Amir, dan 'Amir bin
Abdul Aswad.
Mereka saling menyerang selama berhari-hari. Hingga pada
penyerangan yang terakhir, kaum muslimin berkata kepada Al-Bara bin Malik—yang
doanya terkenal selalu dikabulkan—: "Wahai Bara, bersumpahlah demi Tuhanmu
agar Dia mengalahkan mereka untuk kita!".
Al-Bara berdoa: "Ya Allah, kalahkanlah mereka untuk
kami, dan syahidkanlah aku!". Perawi berkata: Maka kaum muslimin berhasil
mengalahkan mereka hingga mendesak mereka masuk ke parit-parit pertahanan dan
merebutnya. Orang-orang musyrik itu pun melarikan diri ke dalam kota dan
berlindung di sana, hingga kota itu menjadi terasa sempit.
Kemudian, seorang pria dari penduduk kota itu meminta
jaminan keamanan kepada Abu Musa, dan Abu Musa pun memberikannya. Pria itu lalu
mengutus seseorang untuk menunjukkan kepada kaum muslimin jalan masuk ke kota,
yaitu dari saluran tempat masuknya air. Para pemimpin pasukan menyerukan kepada
orang-orang untuk melewati jalan itu, maka majulah para pemberani dan pahlawan.
Mereka datang dan menyusup menemui para penjaga pintu gerbang melalui saluran
air tersebut. Lalu mereka melumpuhkannya dan membuka pintu-pintu gerbang. Kaum
muslimin pun bertakbir dan langsung memasuki kota tersebut. Peristiwa itu
terjadi pada waktu fajar, sehingga mereka tidak sempat melaksanakan salat subuh
pada hari itu kecuali setelah matahari terbit. Sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dari Anas bin Malik, beliau berkata:
شَهِدْتُ
فَتْحَ تُسْتَرَ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، فَاشْتَغَلَ النَّاسُ بِالْفَتْحِ
فَمَا صَلَّوْا الصُّبْحَ إِلَّا بَعْدَ ارْتِفَاعِ النَّهَارِ، فَمَا أُحِبُّ
أَنَّ لِي بِتِلْكَ الصَّلَاةِ حُمْرَ النَّعَمِ.
"Aku menghadiri penaklukan Tustar pada saat salat
fajar. Orang-orang sibuk dengan penaklukan tersebut sehingga mereka tidak
melaksanakan salat subuh kecuali setelah hari mulai siang (matahari meninggi).
Sungguh, aku tidak ingin menukar salat tersebut dengan unta-unta merah (harta
yang paling berharga)."
Penawanan Al-Hurmuzan dan Pengirimannya ke Madinah
Ketika kota berhasil dikuasai, Al-Hurmuzan melarikan diri ke
benteng. Sekelompok pahlawan mengejarnya dan mengepungnya di salah satu sudut
benteng. Pilihan yang tersisa hanyalah kematiannya atau kematian mereka.
Setelah Al-Bara bin Malik dan Majza'ah bin Thaur—semoga Allah merahmati
keduanya—gugur, Al-Hurmuzan berkata kepada kaum muslimin: "Aku memiliki
kantong panah yang berisi seratus anak panah. Tidak ada seorang pun dari kalian
yang maju mendekatiku melainkan akan kupanah hingga tewas, dan tidak ada satu
pun anak panahku yang meleset melainkan pasti mengenai salah seorang dari
kalian. Lalu apa gunanya bagi kalian menawanku setelah aku membunuh seratus
orang dari kalian?".
Mereka bertanya: "Lalu apa yang kamu inginkan?".
Ia menjawab: "Kalian berikan aku jaminan keamanan sampai aku menyerahkan
tanganku kepada kalian, lalu kalian membawaku menemui Umar bin Al-Khattab agar
ia memutuskan perkara tentangku sesuai kehendak dan keputusannya.".
Mereka pun menyetujui permintaannya. Maka Al-Hurmuzan
melemparkan busur serta anak panahnya, lalu mereka menawannya dan mengikatnya
dengan kuat. Kaum muslimin kemudian mengambil seluruh harta benda dan
perbekalan yang ada di kota itu, lalu membagi empat perlimanya. Setiap prajurit
berkuda mendapatkan tiga ribu dirham, sedangkan setiap prajurit pejalan kaki
mendapatkan seribu dirham.
Setelah itu, Abu Sabrah mengirimkan sepertiga harta
(seperlima bagian baitul mal) dan membawa Al-Hurmuzan bersama rombongan utusan
yang di antaranya terdapat Anas bin Malik dan Al-Ahnaf bin Qais. Ketika mereka
sudah dekat dengan Madinah, mereka mendandani Al-Hurmuzan dengan pakaian
kebesarannya yang biasa ia pakai, berupa kain sutra brokat (dibaj) dan emas
yang dihiasi dengan permata yakut serta mutiara. Mereka memasuki Madinah dalam
kondisi seperti itu lalu langsung menuju ke rumah Amirul Mukminin. Mereka bertanya
tentang Umar, lalu orang-orang menjawab: "Beliau sedang pergi ke
masjid.".
Mereka pun mendatangi masjid, ternyata Umar sedang tidur
dengan berbantalkan jubahnya. Tidak ada orang lain di dalam masjid itu,
sementara tongkat kecilnya (al-durrah) tergantung di tangannya. Al-Hurmuzan
bertanya: "Di mana Umar?".
Orang-orang menjawab: "Itu dia.". Orang-orang
mulai merendahkan suara mereka agar tidak membangunkan Umar. Sementara itu,
Al-Hurmuzan berkata: "Lalu di mana para pengawalnya? Di mana penjaganya?".
Orang-orang menjawab: "Ia tidak memiliki pengawal maupun penjaga.".
Al-Hurmuzan berkata: "Kalau begitu, ia seharusnya seorang nabi.".
Orang-orang menyahut: "Bukan, tetapi ia mengamalkan amalan para
nabi.". Orang-orang semakin banyak berdatangan hingga Umar terbangun
karena suara bising tersebut, lalu ia langsung duduk tegak. Umar memandang ke
arah Al-Hurmuzan lalu bertanya: "Al-Hurmuzan?".
Mereka menjawab: "Benar.". Umar memperhatikan
Al-Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya, lalu berkata: "Aku berlindung
kepada Allah dari api neraka dan aku memohon pertolongan kepada Allah.".
Kemudian ia berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghinakan orang
ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai sekalian kaum muslimin, berpegang
teguhlah pada agama ini, dan ambillah petunjuk dari petunjuk Nabi kalian.
Jangan sampai dunia memperdayai kalian, karena dunia itu sangat penipu.".
Rombongan utusan berkata kepada Umar: "Ini adalah raja
Ahwaz, ajaklah ia bicara.". Umar menjawab: "Tidak, sampai tidak ada
sepotong pun perhiasan yang tersisa di tubuhnya.". Mereka pun melaksanakan
perintah itu dan memakaikannya pakaian yang kasar/tebal. Umar berkata:
"Wahai Hurmuzan, bagaimana pendapatmu tentang akibat buruk dari
pengkhianatan dan akibat dari ketetapan Allah?".
Al-Hurmuzan menjawab: "Wahai Umar, di masa jahiliyah,
Allah membiarkan urusan antara kami dan kalian. Maka kami bisa mengalahkan
kalian karena saat itu Allah tidak bersama kami maupun bersama kalian. Namun,
ketika Allah berada bersama kalian, kalian pun mengalahkan kami.".
Umar berkata: "Sesungguhnya kalian bisa mengalahkan
kami di masa jahiliyah karena persatuan kalian dan perpecahan kami.".
Kemudian Umar bertanya lagi: "Apa alasanmu dan apa hujjahmu atas
tindakanmu yang berkali-kali merusak perjanjian damai?".
Al-Hurmuzan berkata: "Aku takut kamu akan membunuhku
sebelum aku sempat mengabarkannya kepadamu.". Umar menjawab: "Jangan
takut akan hal itu.". Al-Hurmuzan lalu meminta minum, lalu dibawakanlah
air dalam wadah/cawan yang kasar. Ia berkata: "Kalau pun aku mati karena
kehausan, aku tidak akan sanggup minum dari wadah seperti ini.". Maka
dibawakanlah wadah lain yang ia sukai. Ketika ia mengambil wadah itu, tangannya
mulai gemetar, lalu ia berkata: "Aku takut dibunuh saat sedang
minum.".
Umar berkata: "Tidak apa-apa bagimu sampai kamu
meminumnya.". Maka Al-Hurmuzan langsung menumpahkan air tersebut. Umar
berkata: "Berikan air lagi kepadanya, jangan kumpulkan padanya hukuman
mati dan rasa haus.". Al-Hurmuzan berkata: "Aku tidak butuh air itu,
sesungguhnya aku hanya ingin mencari jaminan keamanan dengan cara
tersebut.". Umar berkata kepadanya: "Aku akan tetap
membunuhmu!". Al-Hurmuzan membalas: "Bukankah kamu tadi sudah
memberiku jaminan keamanan?".
Umar berkata: "Kamu bohong!". Anas langsung
menyahut: "Ia benar, wahai Amirul Mukminin.". Umar berkata:
"Celaka kamu wahai Anas! Apakah aku memberikan jaminan keamanan kepada
orang yang telah membunuh Majza'ah dan Al-Bara?. Kamu harus membawakanku jalan
keluar (alasan hukum), jika tidak, aku akan menghukummu!". Anas berkata:
"Anda tadi telah berkata kepadanya 'Tidak apa-apa bagimu sampai kamu
menceritakannya kepadaku', dan Anda juga berkata 'Tidak apa-apa bagimu sampai
kamu meminumnya'.". Orang-orang yang ada di sekitar Umar pun mengatakan
hal yang sama.
Umar lalu menghadap ke arah Al-Hurmuzan dan berkata:
"Kamu telah mengelabuiku! Demi Allah, aku tidak mau dikelabui kecuali jika
kamu masuk Islam.". Maka Al-Hurmuzan pun masuk Islam. Umar kemudian
menetapkan santunan untuknya sebesar dua ribu dirham dan menempatkannya tinggal
di Madinah.
Ibnu Katsir berkata: Keislaman Al-Hurmuzan berjalan dengan
baik, dan ia selalu menyertai Umar hingga Umar terbunuh. Setelah itu, sebagian
orang menuduhnya telah bersekongkol dengan Abu Lu'lu'ah dan Jufainah , sehingga
Ubaidillah bin Umar (putra Umar) membunuh Al-Hurmuzan dan Jufainah.
Telah diriwayatkan kepada kita bahwa ketika Ubaidillah
menebaskan pedang kepadanya, Al-Hurmuzan mengucapkan: "Laa ilaha
illallah" (Tidak ada tuhan selain Allah). Adapun Jufainah, ia tewas
tersungkur pada wajahnya.
Kondisi Kisra dan Sebagian Sahabatnya
Sementara itu, Yazdajird (Raja Persia) berpindah-pindah dari
satu negeri ke negeri lain, hingga akhirnya ia menetap di Ashbahan. Sebelumnya,
ia telah mengutus sekelompok orang terpandang dari sahabatnya yang berjumlah
sekitar tiga ratus orang pembesar dipimpin oleh seorang pria bernama Siyahi.
Mereka terus melarikan diri dari kaum muslimin dari satu negeri ke negeri lain
hingga kaum muslimin berhasil menaklukkan Tustar dan Istakhr.
Siyahi berkata kepada para sahabatnya: "Sesungguhnya
orang-orang itu (kaum muslimin), setelah sebelumnya berada dalam kesulitan dan
kehinaan, kini telah menguasai tempat-tempat para raja terdahulu. Tidaklah
mereka menghadapi suatu pasukan melainkan mereka pasti menghancurkannya. Demi
Allah, hal ini bukanlah terjadi karena kebatilan.". Di dalam hatinya mulai
tumbuh rasa kagum dan keagungan terhadap Islam.
Para sahabatnya berkata: "Kami ikut apa katamu.".
Maka mereka mengirim utusan kepada Abu Musa Al-Asy'ari untuk menyatakan
keislaman mereka. Abu Musa lalu menulis surat kepada Umar mengenai hal
tersebut. Umar memerintahkannya untuk menetapkan santunan bagi masing-masing
dari mereka sebesar dua ribu-dua ribu dirham. Sedangkan untuk enam orang
pembesar di antara mereka, ditetapkan sebesar dua ribu lima ratus dirham.
Keislaman mereka pun berjalan dengan sangat baik. Mereka
memberikan kontribusi dan dampak yang besar dalam memerangi kaumnya sendiri.
Pernah suatu ketika mereka mengepung sebuah benteng, namun benteng itu sulit
ditembus. Salah seorang dari mereka berinisiatif melemparkan dirinya pada malam
hari di depan pintu gerbang benteng dan melumuri pakaiannya dengan darah.
Ketika penjaga benteng melihatnya, mereka mengira bahwa ia adalah bagian dari
pasukan mereka sendiri, lalu mereka membuka pintu gerbang benteng untuk
menyelamatkannya. Orang tersebut langsung bangkit menyerang penjaga pintu
gerbang dan membunuhnya. Teman-temannya yang lain segera datang lalu membuka
benteng tersebut, dan mereka berhasil menewaskan orang-orang Majusi yang berada
di dalamnya.
Peristiwa Nahawand dan Penaklukannya Tahun 21 H:
Fase keempat dari penaklukan di wilayah Timur dimulai dengan
Pertempuran Nahawand. Ini adalah peristiwa yang sangat besar, memiliki
kedudukan yang tinggi, dan membawa kabar yang menakjubkan. Kaum muslimin biasa
menyebutnya dengan istilah Fathul Futuh (Penaklukan dari Segala
Penaklukan).
Ibnu Ishaq dan Al-Waqidi mengatakan: "Peristiwa
Nahawand terjadi pada tahun dua puluh satu Hijriah."
Sementara Saif mengatakan: "Peristiwa itu terjadi pada
tahun tujuh belas Hijriah." Ada pula yang berpendapat: "Pada tahun
sembilan belas Hijriah."
Abu Ja'far bin Jarir (At-Thabari) telah memaparkan kisah
pertempuran ini di bagian tahun dua puluh satu Hijriah, sehingga kami
mengikutinya dalam hal itu. Kami mengumpulkan riwayat para imam tersebut
mengenai masalah ini ke dalam satu rangkaian pemaparan, hingga kisah dari
sebagian mereka jalin-menjalin dengan sebagian yang lain.
Penyebab Pertempuran
Faktor yang memicu meletusnya pertempuran ini adalah ketika
kaum muslimin berhasil menaklukkan wilayah Ahwaz dan menguasai Istakhr—yang
merupakan pusat kerajaan kuno mereka. Hal ini membakar amarah bangsa Persia,
lalu Yazdajird mengobarkan semangat mereka. Saat itu, Yazdajird terus terpukul
mundur dari satu kota ke kota lain hingga tiba di Isfahan dalam kondisi
terasing dan terusir.
Yazdajird kemudian menyurati wilayah Nahawand dan daerah
pegunungan serta kota-kota di sekitarnya. Mereka pun berkumpul dari segala
penjuru yang jauh di bumi Nahawand, hingga jumlah pasukan mereka mencapai
150.000 (seratus lima puluh ribu) personel tempur. Pasukan tersebut dipimpin
oleh Al-Fairuzan—atau ada yang menyebutnya Bundar.
Mereka saling membakar semangat satu sama lain dan berkata:
"Sesungguhnya Muhammad yang datang kepada bangsa Arab tidak pernah
mengusik negeri kita, begitu pula Abu Bakar yang memimpin setelahnya."
"Namun, Umar bin Khattab ini, ketika kekuasaannya
semakin lama, dia telah merusak kehormatan kita, merebut negeri-negeri kita,
dan hal itu belum membuatnya puas hingga dia memerangi kita di pusat tanah air
kita sendiri, serta merebut ibu kota kerajaan. Dia tidak akan pernah berhenti
sampai berhasil mengusir kalian dari negeri kalian. Oleh karena itu, berjanji
dan bersepakatlah kalian untuk menuju Bashrah dan Kufah, kemudian menyibukkan
Umar agar tidak mengurusi urusan di luar wilayahnya." Mereka pun saling menguatkan
tekad satu sama lain dan menulis surat perjanjian tentang komitmen tersebut.
Maka Sa'ad menulis surat mengenai hal itu kepada Umar.
Kemudian, Sa'ad menjelaskan secara langsung kepada Umar pada hari kedatangannya
di Madinah mengenai persekongkolan mereka, dan bahwa mereka telah berkumpul
sebanyak 150.000 orang.
Persiapan Kaum Muslimin
Datang pula surat dari Abdullah bin Abdullah bin Utban dari
Kufah kepada Umar yang dibawa oleh Quraib bin Zhafar Al-Abdi. Surat tersebut
mengabarkan bahwa musuh telah berkumpul dan mereka sangat geram serta saling
membakar semangat untuk melawan Islam. "Wahai Amirul Mukminin, tindakan
yang paling maslahat adalah kita mendatangi mereka terlebih dahulu, sehingga
kita bisa segera mengatasi apa yang mereka rencanakan dan tekadkan untuk
berjalan menuju negeri kita."
Umar bertanya kepada pembawa surat tersebut: "Siapa
namamu?" Ia menjawab: "Quraib." Umar bertanya lagi: "Anak
siapa?" Ia menjawab: "Anak Zhafar."
Maka Umar merasa optimis (mengambil tanda baik) dari nama
tersebut dan berkata: "Zhafar Quraib (Kemenangan sudah dekat),
insya Allah." Kemudian Umar memerintahkan agar diserukan kalimat "Ash-Shalatu
Jami'ah" (panggilan untuk berkumpul). Orang-orang pun berkumpul, dan
orang pertama yang memasuki masjid untuk seruan tersebut adalah Sa'ad bin Abi
Waqqash. Umar kembali merasa optimis dengan kehadiran Sa'ad.
Umar lalu naik ke atas mimbar setelah orang-orang berkumpul,
kemudian berpidato: "Sesungguhnya hari ini adalah hari yang akan
menentukan hari-hari setelahnya. Ketahuilah, aku telah memantapkan tekad pada
suatu urusan, maka dengarkanlah, jawablah, persingkatlah pendapat kalian, dan
janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan
kalian hilang. Aku berpendapat untuk berjalan langsung memimpin orang-orang
yang bersamaku hingga aku menempati posisi di tengah-tengah antara dua kota
besar ini (Kufah dan Bashrah). Aku akan mengerahkan massa, kemudian aku menjadi
pasukan bantuan bagi mereka sampai Allah memberikan kemenangan kepada
mereka."
Maka berdirilah Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, dan Abdul
Rahman bin Auf di antara para tokoh yang memiliki pemikiran matang.
Masing-masing dari mereka berbicara sendiri-sendiri dengan penyampaian yang
sangat baik dan tepat. Pendapat mereka sepakat agar Umar tidak perlu berangkat
meninggalkan Madinah, melainkan cukup mengirimkan pasukan-pasukan bantuan,
serta membimbing mereka dengan pemikiran dan doanya. Di antara perkataan Ali radhiyallahu
'anhu adalah:
"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya urusan (agama)
ini, kemenangan maupun kekalahannya tidak ditentukan oleh jumlah yang banyak
atau sedikit. Ini adalah agama-Nya yang telah Dia menangkan, dan pasukan-Nya
yang telah Dia muliakan serta Dia bantu dengan para malaikat hingga mencapai
apa yang telah dicapainya. Kita berada di atas janji Allah, dan Allah pasti
menepati janji-Nya serta memenangkan pasukan-Nya. Posisi Anda di tengah-tengah
mereka, wahai Amirul Mukminin, bagaikan benang pada untaian ronce manik-manik;
ia mengumpulkan dan menahannya. Jika benang itu putus, maka bercerai-berailah
apa yang ada di dalamnya dan hilang, serta tidak akan pernah bisa terkumpul
utuh kembali selamanya. Bangsa Arab hari ini, meskipun jumlahnya sedikit,
mereka menjadi banyak dan mulia dengan Islam. Oleh karena itu, tetaplah di
tempat Anda dan surati penduduk Kufah, karena mereka adalah tokoh-tokoh Arab
dan para pemimpin mereka. Hendaknya dua pertiga dari mereka berangkat bertempur
dan sepertiganya tetap tinggal. Surati juga penduduk Bashrah agar mereka turut
mengirimkan bantuan pasukan kepada mereka."
Umar merasa kagum dengan pendapat Ali dan merasa gembira
karenanya. Umar sendiri apabila meminta musyawarah kepada seseorang, ia tidak
akan memutuskan suatu urusan sebelum meminta pertimbangan dari Al-Abbas. Maka
ketika pendapat para sahabat di bidang ini membuatnya kagum, Umar
menyampaikannya kepada Al-Abbas. Al-Abbas berkata: "Wahai Amirul Mukminin,
tenanglah, sesungguhnya berkumpulnya bangsa Persia ini tidak lain hanyalah demi
bencana yang akan menimpa mereka sendiri."
Kemudian Umar berkata: "Berikan saran kepadaku, siapa
orang yang harus aku serahi komando perang ini, dan hendaknya ia adalah orang
Irak."
Orang-orang menjawab: "Anda lebih tahu tentang pasukan
Anda, wahai Amirul Mukminin."
Umar berkata: "Demi Allah, aku benar-benar akan
mengangkat seorang pria yang akan menjadi ujung tombak pertama ketika bertemu
musuh besok pagi."
Mereka bertanya: "Siapa dia, wahai Amirul
Mukminin?"
Umar menjawab: "An-Nu'man bin Muqarrin." Mereka
pun berkata: "Dia adalah orang yang tepat untuk tugas itu."
Sebelumnya, An-Nu'man memang pernah menyurati Umar ketika ia
berada di Kaskar, meminta agar Umar membebastugaskannya dari jabatan
administratif di sana dan mengalihkannya untuk memimpin pertempuran melawan
penduduk Nahawand. Oleh karena itulah, Umar mengabulkan permintaannya. Kemudian
Umar menyurati Hudzaifah agar bergerak dari Kufah membawa pasukan dari sana,
dan menyurati Abu Musa agar bergerak membawa pasukan dari Bashrah.
Pengangkatan An-Nu'man sebagai Panglima Pasukan
Umar menyurati An-Nu'man—yang saat itu berada di
Bashrah—agar bergerak bersama pasukan yang ada di sana menuju Nahawand. Apabila
semua pasukan telah berkumpul, maka setiap panglima memimpin pasukannya
masing-masing, namun panglima tertinggi bagi seluruh pasukan adalah An-Nu'man
bin Muqarrin. Jika ia gugur, maka panglimanya adalah Hudzaifah bin al-Yaman.
Jika ia gugur, maka Jarir bin Abdullah. Jika ia gugur, maka Qais bin Maksyuh.
Jika Qais gugur, maka si Fulan lalu si Fulan, hingga Umar menghitung tujuh orang
yang salah satunya adalah Al-Mughirah bin Syu'bah. Ada pula yang berpendapat
bahwa nama-nama setelahnya tidak disebutkan secara spesifik, wallahu a'lam
(dan Allah yang lebih mengetahui).
Adapun teks suratnya adalah sebagai berikut:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada An-Nu'man bin
Muqarrin. Salam keselamatan atasmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak
ada tuhan yang berhak disembah selain Dia di hadapanmu. Amma ba'du:
Sesungguhnya telah sampai kabar kepadaku bahwa sekumpulan besar bangsa ajam
(non-Arab) telah berkumpul untuk menghadapi kalian di kota Nahawand. Maka
apabila suratku ini telah sampai kepadamu, bergeraklah dengan perintah Allah,
dengan pertolongan Allah, dan dengan kemenangan dari Allah, bersama kaum
muslimin yang bersamamu. Janganlah engkau membawa mereka ke medan yang
menyulitkan sehingga engkau menyengsarakan mereka, jangan pula engkau menahan
hak mereka sehingga engkau membuat mereka kufur (mengingkari nikmat), dan
jangan memasukkan mereka ke dalam hutan belantara yang lebat. Karena
sesungguhnya satu orang dari kaum muslimin lebih aku cintai daripada seratus
ribu dinar. Berjalanlah terus ke arah tujuanmu itu hingga engkau tiba di Mah,
karena sesungguhnya aku telah menyurati penduduk Kufah untuk menemuimu di sana.
Apabila pasukanmu telah berkumpul bersamamu, maka bergeraklah menuju
Al-Fairuzan dan orang-orang ajam dari penduduk Persia serta selain mereka yang
berkumpul bersamanya. Mintalah pertolongan kepada Allah, dan perbanyaklah
membaca kalimat 'La haula wa la quwwata illa billah' (Tidak ada daya dan
upaya kecuali dengan kekuatan Allah)."
Umar juga menyurati wakil penguasa Kufah—yaitu Abdullah bin
Abdullah bin Utban—agar mempersiapkan pasukan dan mengirim mereka ke Nahawand,
serta menetapkan Hudzaifah bin al-Yaman sebagai komandan mereka hingga mereka
sampai kepada An-Nu'man bin Muqarrin. Umar menugaskan As-Sa'ib bin Al-Aqra'
untuk mengurus pembagian harta rampasan perang (ghanimah).
Maka Hudzaifah pun bergerak membawa pasukan yang sangat
besar menuju An-Nu'man bin Muqarrin agar mereka dapat bertemu di kota Sah.
Turut bergerak bersama Hudzaifah sejumlah besar para pemimpin Irak. Umar juga
telah menyiagakan pasukan yang cukup di setiap wilayah untuk mengamankannya,
menempatkan penjaga di setiap penjuru, dan mereka melakukan tindakan pencegahan
serta kewaspadaan yang sangat besar.
Kemudian mereka sampai ke tempat An-Nu'man bin Muqarrin di
lokasi yang telah dijanjikan. Hudzaifah bin al-Yaman menyerahkan surat Umar
kepada An-Nu'man yang berisi perintah tentang apa saja yang harus dijadikan
pegangan dalam pertempuran ini. Maka genaplah jumlah pasukan muslimin sebanyak
tiga puluh ribu personel tempur berdasarkan riwayat Saif dari As-Sya'bi. Di
antara mereka terdapat banyak sekali pemuka sahabat dan para pemimpin bangsa
Arab, seperti: Abdullah bin Umar, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, Hudzaifah bin
al-Yaman, Al-Mughirah bin Syu'bah, Amr bin Ma'di Karib Az-Zubaidi, Thulaihah
bin Khuwailid Al-Asadi, dan Qais bin Maksyuh Al-Muradi. Pasukan tersebut
kemudian bergerak menuju Nahawand.
Pengiriman Pasukan Pengintai oleh An-Nu'man
An-Nu'man bin Muqarrin mengirim tiga orang pasukan pengintai
di depannya, yaitu: Thulaihah, Amr bin Ma'di Karib Az-Zubaidi, dan Amr bin Abi
Salamah, untuk menyelidiki berita tentang musuh dan bagaimana kondisi mereka.
Pasukan pengintai tersebut berjalan selama sehari semalam,
lalu Amr bin Abi Salamah kembali. Ketika ditanyakan kepadanya: "Apa yang
membuatmu kembali?"
Ia menjawab: "Aku berada di bumi ajam (Persia); bumi
yang bisa membunuh orang yang tidak mengenalnya, dan juga bisa membunuh orang
yang mengetahuinya."
Kemudian setelah itu Amr bin Ma'di Karib menyusul kembali
dan berkata: "Kami tidak melihat seorang pun, dan aku khawatir jalan kita
akan diputus (dikepung)."
Sedangkan Thulaihah terus merangsek maju dan tidak
mempedulikan kembalinya kedua temannya tersebut. Ia berjalan setelah itu
sekitar belasan farsakh hingga sampai di Nahawand. Ia menyusup ke tengah-tengah
bangsa ajam dan berhasil mengetahui informasi yang ia inginkan mengenai mereka.
Kemudian ia kembali kepada An-Nu'man dan mengabarkan hal tersebut kepadanya,
serta meyakinkan bahwa antara dirinya dan Nahawand tidak ada sesuatu hal
(rintangan musuh) yang dikhawatirkannya.
Pergerakan Pasukan Islam Menuju Nahawand:
An-Nu'man berjalan bersama pasukannya yang telah diatur
formasinya. Ia menempatkan Nu'aim bin Muqarrin di barisan depan (garda depan),
Hudzaifah bin al-Yaman dan Suwaid bin Muqarrin di kedua sisi sayap pasukan,
Al-Qa'qa' bin 'Amru memimpin pasukan berkuda (kavaleri), dan Mujasyi' bin
Mas'ud di barisan belakang. Mereka terus berjalan hingga berhadapan dengan
bangsa Persia yang dipimpin oleh Al-Fairuzan, dengan membawa kekuatan pasukan
sebanyak 150.000 orang.
Ketika kedua pasukan saling melihat, An-Nu'man bertakbir dan
kaum muslimin pun ikut bertakbir sebanyak tiga kali. Pekikan takbir itu
menggetarkan dan menimbulkan rasa takut yang sangat hebat di hati orang-orang
asing (Persia) tersebut. Kemudian An-Nu'man memerintahkan pasukannya untuk
menurunkan barang bawaan dalam posisi tetap siaga. Orang-orang pun menurunkan
barang bawaan mereka, meninggalkan hewan tunggangan, serta mendirikan tenda dan
kubah-kubah mereka. Sebuah tenda besar juga didirikan untuk An-Nu'man.
An-Nu'man kemudian memerintahkan untuk memulai pertempuran,
dan hari itu adalah hari Rabu. Mereka saling berperang pada hari itu dan hari
berikutnya secara bergantian (saling serang). Ketika hari Jumat tiba, pasukan
Persia berlindung di dalam benteng mereka, dan kaum muslimin pun mengepung
mereka dalam waktu yang cukup lama sesuai kehendak Allah. Orang-orang Persia
itu bisa keluar dan kembali masuk ke dalam benteng sesuka hati mereka.
Al-Mughirah Diutus Menemui Panglima Persia:
Panglima Persia mengirim utusan untuk meminta seorang lelaki
dari kaum muslimin agar berbicara dengannya. Maka pergilah Al-Mughirah bin
Syu'bah menemuinya. Al-Mughirah menceritakan betapa megahnya pakaian dan tempat
duduk panglima tersebut, serta bagaimana sang panglima berbicara kepadanya
dengan nada menghina dan merendahkan bangsa Arab. Sang panglima menyebut bahwa
bangsa Arab adalah orang-orang yang paling lama kelaparan, serta memiliki rumah
dan kedudukan yang paling rendah.
Al-Mughirah berkata: "Aku lalu bersyahadat, memuji
Allah, dan berkata: 'Kami memang pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk
dari apa yang kamu sebutkan, sampai akhirnya Allah mengutus Rasul-Nya. Beliau
menjanjikan kemenangan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat. Sejak
Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami, kami senantiasa merasakan kemenangan dari
Tuhan kami. Sungguh, kami telah mendatangi kalian di negeri kalian ini, dan
kami tidak akan pernah kembali lagi ke kesengsaraan itu selamanya, sampai kami
merebut negeri serta apa yang ada di tangan kalian, atau kami mati terbunuh di
tanah kalian.'"
Mendengar hal itu, panglima Persia berkata: "Demi
Allah, si mata satu ini (Al-Mughirah) benar-benar jujur menyampaikan apa yang
ada di dalam hatinya kepada kalian."
An-Nu'man Bermusyawarah dengan Para Ahli Strategi di
Pasukannya:
Ketika kondisi pengepungan ini terasa terlalu lama bagi kaum
muslimin, An-Nu'man bin Muqarrin mengumpulkan para ahli strategi dan tokoh yang
memiliki pemikiran matang dari pasukannya. Mereka bermusyawarah mengenai
situasi tersebut dan mencari cara agar mereka bisa berhadapan langsung dengan
kaum musyrik di satu lapangan terbuka.
Amru bin Abi Salamah berbicara pertama kali—dia adalah orang
yang paling tua di antara yang hadir di sana—ia berkata: "Membiarkan
mereka tetap berada dalam kondisi seperti itu (bertahan di benteng) sebenarnya
lebih merugikan mereka daripada apa yang kita tuntut dari mereka, dan hal itu
justru lebih menjaga keselamatan kaum muslimin." Namun, semua orang
menyanggah pendapatnya dan berkata: "Sesungguhnya kita berada dalam
keyakinan penuh akan kemenangan agama kita dan pembuktian janji Allah kepada
kita."
Kemudian Amru bin Ma'di Karib berbicara dan berkata:
"Hadapi dan seranglah mereka dengan jumlah pasukan yang banyak, dan jangan
takut pada mereka." Semua orang kembali menyanggah pendapatnya dan
berkata: "Tindakan itu sama saja seperti membenturkan diri kita ke
dinding, sedangkan dinding-dinding benteng itu adalah penolong mereka untuk
melawan kita."
Lalu Thulaihah Al-Asadi berbicara dan berkata:
"Pendapat kedua orang tadi kurang tepat. Menurutku, sebaiknya kita
mengirim satu pasukan kecil untuk mengepung mereka, memancing mereka bertempur,
dan menyulut kemarahan mereka. Jika mereka keluar mengejar pasukan kecil kita,
maka pasukan tersebut harus berpura-pura lari mundur ke arah kita. Ketika
mereka terus memburu dan mendekati posisi kita, kita semua harus menampakkan
diri seolah-olah sedang melarikan diri (kalah). Dengan begitu, mereka tidak akan
ragu lagi bahwa kita kalah, sehingga mereka akan keluar dari benteng mereka
tanpa ada yang tersisa. Begitu mereka semua sudah keluar sepenuhnya, kita
berbalik menyerang mereka dan bertempur dengan pedang sampai Allah memberikan
keputusan di antara kita."
Orang-orang pun menganggap baik strategi ini.
An-Nu'man kemudian memerintahkan Al-Qa'qa' bin 'Amru,
pemimpin pasukan berkuda (kavaleri khusus), untuk pergi ke arah kota (benteng),
mengepung mereka, lalu berpura-pura lari di hadapan mereka jika mereka keluar
menyerang. Al-Qa'qa' pun melaksanakan perintah tersebut. Ketika pasukan Persia
keluar dari benteng, Al-Qa'qa' bersama pasukannya mundur perlahan, lalu mundur
lagi. Pasukan Persia menganggap hal itu sebagai kesempatan emas, sehingga
terjadilah apa yang diperkirakan oleh Thulaihah. Mereka saling berseru:
"Ayo kejar, ayo kejar!" Mereka pun keluar seluruhnya, dan tidak ada
lagi yang tersisa di dalam kota dari kalangan prajurit kecuali para penjaga
pintu benteng, hingga akhirnya mereka sampai ke posisi pasukan Islam.
Saat itu An-Nu'man bin Muqarrin sudah berada dalam posisi
pasukannya yang siap siaga. Peristiwa itu terjadi di awal siang hari Jumat.
Orang-orang sudah tidak sabar dan mendesak untuk segera menyerang mereka, namun
An-Nu'man melarangnya. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak bertempur sampai
matahari tergelincir (masuk waktu Zuhur), angin bertiup, dan pertolongan Allah
turun sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang terus
mendesak An-Nu'man untuk segera melakukan serangan, namun beliau tetap
menolaknya.
Beliau adalah seorang lelaki yang kokoh dan teguh
pendiriannya. Ketika waktu tergelincirnya matahari (Zuhur) tiba, beliau
mengimami kaum muslimin untuk salat, kemudian menunggangi kuda miliknya yang
berwarna hitam kemerahan dan bertubuh pendek mendekati tanah. Beliau mulai
mendatangi setiap bendera pasukan, memberikan semangat kepada mereka untuk
bersabar, dan memerintahkan mereka untuk teguh berdiri.
Beliau menyampaikan instruksi kepada kaum muslimin: bahwa
beliau akan mengumandangkan takbir yang pertama agar orang-orang bersiap-siap
untuk menyerang, kemudian takbir yang kedua sehingga tidak ada lagi persiapan
yang tersisa (semua siap tempur), lalu takbir yang ketiga yang menandai
dimulainya serangan yang sesungguhnya secara serentak.
Setelah itu, beliau kembali ke posisinya. Pasukan Persia
telah mengatur formasi yang sangat besar dan berbaris dalam jumlah serta
perlengkapan luar biasa yang belum pernah terlihat tandingannya. Banyak di
antara mereka yang saling mengikatkan diri satu sama lain, dan mereka
menebarkan ranjau besi di belakang punggung mereka agar mereka tidak bisa
melarikan diri, mundur, ataupun berbalik arah.
Berkecamuknya Pertempuran:
Kemudian An-Nu'man bin Muqarrin Radhiyallahu 'Anhu
mengumandangkan takbir yang pertama dan mengayunkan bendera, maka orang-orang
pun bersiap-siap untuk menyerang. Lalu beliau bertakbir yang kedua dan
mengayunkan bendera, maka mereka pun semakin bersiap. Kemudian beliau bertakbir
yang ketiga, lalu beliau menyerbu dan orang-orang pun ikut menyerbu ke arah
kaum musyrik. Bendera An-Nu'man bergerak menukik ke arah pasukan Persia
bagaikan burung elang yang menyambar mangsanya, hingga mereka saling berhadapan
dan beradu pedang.
Mereka bertempur dengan sengit, sebuah pertempuran yang
belum pernah ada tandingannya dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, dan para
pendengar pun belum pernah mendengar pertempuran sedahsyat itu. Korban yang
tewas dari kalangan musyrik sejak matahari tergelincir hingga kegelapan malam
malam tiba begitu banyak, sampai-sampai permukaan tanah tertutup oleh darah,
hingga hewan-hewan tunggangan pun tergelincir di dalamnya.
Bahkan dikatakan bahwa kuda sang panglima, An-Nu'man bin
Muqarrin, tergelincir di genangan darah tersebut hingga beliau terjatuh, lalu
sebuah anak panah mengenai pinggangnya dan menewaskannya. Tidak ada seorang pun
yang menyadari kematian beliau kecuali saudaranya sendiri, Suwaid—ada pula yang
mengatakan Nu'aim. Saudaranya itu segera menutupinya dengan kain pakaiannya dan
merahasiakan kematiannya. Ia lalu menyerahkan bendera komando kepada Hudzaifah
bin al-Yaman. Hudzaifah kemudian menempatkan Nu'aim di posisi An-Nu'man dan
memerintahkan untuk tetap merahasiakan kematian sang panglima agar barisan
tidak pecah dan orang-orang tidak menjadi gentar/kalah.
Ketika malam sudah gelap gulita, pasukan musyrik kocar-kacir
melarikan diri dan dikejar oleh kaum muslimin. Orang-orang kafir sebelumnya
telah mengikat 30.000 orang dari mereka dengan rantai dan menggali parit di
sekitar mereka. Ketika mereka kalah dan mundur, mereka justru terperosok ke
dalam parit tersebut dan saling jatuh berjatuhan ke dalam lembah-lembah di
negeri mereka sendiri. Akibatnya, banyak sekali dari mereka yang tewas,
jumlahnya sekitar 100.000 orang atau lebih, di luar mereka yang tewas dalam pertempuran
langsung. Tidak ada yang selamat dari mereka kecuali sisa-sisa pasukan yang
kocar-kacir.
Kondisi Umar Saat Pertempuran Berlangsung
Adapun Amirul Mukminin, Umar, beliau senantiasa berdoa
kepada Allah siang dan malam untuk keselamatan mereka. Doa beliau dipenuhi rasa
cemas yang mendalam layaknya ibu hamil tua yang menanti kelahiran, serta
ketundukan penuh seperti orang yang berada dalam kesulitan yang teramat sangat.
Beliau merasa kabar dari mereka datang terlambat.
Ketika seorang lelaki dari kaum muslimin sedang berada di
luar kota Madinah, tiba-tiba ia melihat seorang penunggang kuda. Lelaki itu
bertanya kepadanya: "Dari mana kamu datang?"
Penunggang kuda itu menjawab: "Dari Nahawand."
Lelaki itu bertanya lagi: "Apa yang terjadi dengan
orang-orang di sana?"
Ia menjawab: "Allah telah memberikan kemenangan kepada
mereka, sang panglima gugur, dan kaum muslimin mendapatkan harta rampasan
perang (ghanimah) yang sangat banyak."
Lelaki itu pun kembali ke Madinah dan mengabarkan kepada
orang-orang, hingga berita tersebut tersebar luas dan sampai kepada Amirul
Mukminin. Umar kemudian memanggil lelaki itu dan menanyakan siapa yang telah
memberikan kabar kepadanya, ia menjawab: "Seorang penunggang kuda."
Umar lalu berkata: "Sesungguhnya dia tidak datang
menemuiku, makhluk itu tidak lain adalah seorang lelaki dari golongan jin dan
dialah pembawa pesan mereka."
Kedatangan Berita Kemenangan
Hudzaifah mengirimkan kabar kemenangan tersebut melalui
Tharif bin Sahm. Kemudian Tharif datang membawa berita kemenangan. Umar
bertanya kepadanya tentang siapa saja dari kaum muslimin yang gugur, namun
Tharif tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang hal itu, sampai akhirnya
As-Sa'ib bin Al-Aqra' datang membawa bagian seperlima harta rampasan
(al-akhmas) dan menjelaskan perkara tersebut dengan sejelas-jelasnya.
Ketika Umar dikabari tentang gugurnya An-Nu'man, beliau
menangis lalu bertanya kepada As-Sa'ib tentang siapa saja yang gugur dari kaum
muslimin. As-Sa'ib menjawab: "Fulan, fulan, dan fulan dari kalangan
tokoh-tokoh terkemuka dan bangsawan kaum muslimin." Kemudian ia berkata
lagi: "Dan orang-orang lain dari kalangan masyarakat biasa yang tidak
dikenal oleh Amirul Mukminin."
Mendengar hal itu, Umar menangis seketika sambil berkata:
"Apa ruginya bagi mereka jika Amirul Mukminin tidak mengenalnya? Akan
tetapi Allah mengenal mereka, dan Dia telah memuliakan mereka dengan mati
syahid. Apalah arti pengenalan Umar bagi mereka." Kemudian beliau
memerintahkan untuk membagikan bagian seperlima harta rampasan tersebut
sebagaimana biasanya.
Ibnu Asakir berkata: Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad
Al-Warraq menyebutkan bahwa Thulaihah gugur sebagai syahid di Nahawand pada
tahun 21 Hijriah bersama An-Nu'man bin Muqarrin dan Amru bin Ma'di Karib
Az-Zubaidi.
Saif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi, ia berkata: Ketika para
tawanan perang dari Nahawand dibawa ke Madinah, Abu Lu'lu'ah Fairuz—budak milik
Al-Mughirah bin Syu'bah—setiap kali bertemu dengan anak kecil dari tawanan
tersebut, ia mengusap kepalanya sambil menangis dan berkata: "Umar telah
memakan hatiku (membuatku sangat menderita)." Asal-usul Abu Lu'lu'ah
sendiri memang dari Nahawand.
Penaklukan Hamadzan Tahun (21 H)
Al-Fairuzan sebelumnya telah terdesak di Nahawand, namun ia
berhasil lolos dan melarikan diri. Nu'aim bin Muqarrin kemudian mengejarnya,
dan ia menempatkan Al-Qa'qa' di barisan depannya. Al-Fairuzan menuju ke arah
Hamadzan, lalu Al-Qa'qa' berhasil menyusul dan mendapatinya di jalan pintas
(bukit) Hamadzan.
Pada saat yang sama, datanglah banyak bagal (peranakan kuda
dan keledai) serta keledai yang sedang mengangkut madu. Akibatnya, Al-Fairuzan
tidak mampu mendaki bukit tersebut karena terhalang oleh kawanan hewan itu—dan
hal itu memang sudah menjadi waktu ajal dan kebinasaannya. Ia pun turun dari
tunggangannya lalu memanjat gunung. Al-Qa'qa' terus mengejarnya hingga berhasil
membunuhnya. Kaum muslimin pada hari itu berkata: "Sesungguhnya Allah
memiliki pasukan-pasukan yang terbuat dari madu."
Kemudian mereka mengambil madu tersebut beserta muatan lain
yang bercampur dengannya sebagai rampaian perang, dan jalan pintas (bukit)
tersebut dinamai dengan Tsaniyyatul 'Asal (Bukit Madu).
Setelah itu, Al-Qa'qa' mengejar sisa-sisa pasukan musuh yang
melarikan diri ke Hamadzan. Beliau mengepung mereka dan menguasai daerah di
sekitarnya. Akhirnya penguasa kota tersebut—Khusrau Syunum—turun dan mengajak
berdamai atas kota tersebut.
Kemudian Al-Qa'qa' kembali bergabung dengan Hudzaifah dan
kaum muslimin yang bersamanya, di mana mereka telah memasuki kota Nahawand
dengan cara penaklukan paksa (perang) setelah pertempuran tersebut selesai.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar