Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur Tahap Kedua

Ilustrasi sinematik realistis ultra detail yang menggambarkan suasana ekspedisi kaum Muslimin di wilayah Irak dan Persia abad ke-7 M pada masa Khilafah Rasyidin. Tampak para panglima Muslim seperti Al-Mutsanna bin Haritsah, Abu Ubaid Ats-Tsaqafi, dan Jarir bin Abdullah Al-Bajali sedang bermusyawarah di dekat perkemahan pasukan di tepi Sungai Eufrat. Latar menampilkan padang gurun Irak, tenda-tenda Arab sederhana, unta dan kuda perang, benteng Persia kuno, serta kota-kota Sasaniyah di bawah cahaya senja keemasan. Para tokoh mengenakan pakaian Arab klasik dengan wajah samar atau membelakangi kamera.

Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur

Tahap Kedua:

Penaklukan di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu di Irak yang dipimpin oleh Khalid bin Walid merupakan tahap pertama dari penaklukan Islam yang bergerak menuju wilayah Timur pada masa Khilafah Ar-Rasyidin. Pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, rencana penaklukan tersebut disempurnakan menjadi empat tahap, dan berikut ini adalah salah satunya:

Pengangkatan Abu Ubaid Ats-Tsaqafi sebagai Panglima Perang di Irak:

Ketika Ash-Shiddiq wafat dan dimakamkan pada malam Selasa tanggal dua puluh dua Jumadil Akhir tahun 13 Hijriah, pagi harinya Umar langsung mengumpulkan masyarakat. Beliau mendorong dan memotivasi mereka untuk memerangi penduduk Irak, serta membuat mereka menyukai pahala dari jihad tersebut. Namun, tidak ada seorang pun yang bangkit berdiri, karena orang-orang enggan memerangi bangsa Persia disebabkan oleh kekuatan, dominasi, dan sengitnya cara berperang mereka.

Kemudian pada hari kedua dan ketiga, Umar kembali mengumpulkan mereka, namun tetap tidak ada seorang pun yang bangkit. Lalu Al-Mutsanna bin Haritsah angkat bicara dan menyampaikan perkataan yang sangat baik. Beliau mengabarkan tentang wilayah-wilayah luas di Irak yang telah Allah ta'ala menangkan melalui tangan Khalid bin Walid, serta mengabarkan tentang banyaknya harta, kepemilikan, barang-barang, dan logistik yang ada di sana. Meski demikian, tetap tidak ada yang bangkit pada hari ketiga tersebut.

Ketika memasuki hari keempat, orang pertama dari kaum muslimin yang bersedia maju adalah Abu Ubaid bin Mas'ud Ats-Tsaqafi, yang kemudian diikuti oleh orang-orang lainnya secara berturut-turut dalam menyambut seruan tersebut. Umar lalu memerintahkan sekelompok penduduk Madinah untuk mendaftarkan diri dan mengangkat Abu Ubaid sebagai panglima bagi semuanya, padahal ia bukan seorang sahabat Nabi.

Lalu ada yang bertanya kepada Umar, "Mengapa Anda tidak mengangkat seorang pria dari kalangan sahabat Nabi sebagai pemimpin mereka?"

Umar menjawab, "Aku hanya mengangkat orang yang pertama kali menyambut seruan. Sesungguhnya kalian mendahului orang-orang karena telah menolong agama ini, dan orang inilah (Abu Ubaid) yang menyambut seruan sebelum kalian."

Setelah itu, Umar memanggil Abu Ubaid dan memberikan wasiat khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah, berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, serta memerintahkannya untuk selalu bermusyawarah dengan para sahabat Rasulullah dan bermusyawarah dengan Sulait bin Qais, karena ia adalah seorang pria yang sudah berpengalaman langsung dalam peperangan.

Kaum muslimin kemudian berangkat menuju tanah Irak dengan berkekuatan 7.000 orang pria. Umar juga menulis surat kepada Abu Ubaidah agar mengirimkan pasukan yang berada di Irak—yaitu mereka yang sebelumnya datang bersama Khalid ke Irak. Abu Ubaidah lalu menyiapkan 10.000 pasukan di bawah pimpinan Hasyim bin Utbah. Selain itu, Umar mengutus Jarir bin Abdullah Al-Bajali memimpin 4.000 pasukan menuju Irak hingga tiba di Kufah.

Ketika pasukan muslimin tiba di Irak, mereka mendapati bangsa Persia sedang mengalami kekacauan dalam kerajaan mereka. Keputusan terakhir yang disepakati oleh bangsa Persia adalah mengangkat Buran binti Kisra sebagai ratu mereka, setelah mereka membunuh ratu sebelumnya yang bernama Azarmidukht. Buran kemudian menyerahkan urusan pemerintahan selama sepuluh tahun kepada Rustam bin Farrukhzad dengan syarat Rustam yang memegang kendali urusan peperangan, dan setelah itu takhta kerajaan harus kembali kepada keluarga Kisra. Rustam pun menerima syarat tersebut.

Rustam ini adalah seorang peramal yang sangat memahami ilmu perbintangan dengan baik. Lalu ada yang bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu mau menerima tugas ini?" Maksud pertanyaan itu adalah mereka tahu bahwa Rustam sebenarnya sadar perkara ini tidak akan berhasil dimenangkannya.

Rustam menjawab, "Ketamakan dan kecintaan terhadap kehormatan."

Peristiwa Namariq Tahun 13 Hijriah:

Rustam mengutus seorang panglima bernama Jaban. Pasukan sayap kanan dan kirinya dipimpin oleh dua orang, yang satu bernama Jasynas dan yang lainnya bernama Mardan Syah. Mereka akhirnya bertemu dengan pasukan Abu Ubaid di suatu tempat bernama An-Namariq—yang terletak di antara Al-Hirah dan Al-Qadisiyyah.

Dalam pertempuran ini, pasukan berkuda muslimin dipimpin oleh Al-Mutsanna bin Haritsah, sayap kanan dipimpin oleh Walq bin Jaidarah, dan sayap kiri dipimpin oleh Amr bin Al-Haitsam As-Sulami. Mereka bertempur di sana dengan sangat sengit. Akhirnya, Allah mengalahkan bangsa Persia. Jaban dan Mardan Syah pun berhasil ditawan.

Adapun Mardan Syah, ia langsung dibunuh oleh orang yang menawannya. Sementara Jaban, ia berhasil mengelabui orang yang menawannya hingga akhirnya dilepaskan. Namun, kaum muslimin berhasil menangkapnya kembali dan menolak untuk melepaskannya. Mereka berkata, "Orang ini adalah panglimanya!" Mereka lalu membawanya ke hadapan Abu Ubaid dan berkata, "Bunuhlah dia, karena dia adalah panglimanya."

Namun Abu Ubaid berkata, "Meskipun dia panglimanya, aku tidak akan membunuhnya, karena seorang pria dari kaum muslimin telah memberikan jaminan keamanan kepadanya."

Peristiwa Jembatan Abu Ubaid (Perang Jisr)

Ketika Jalinus kembali dalam keadaan melarikan diri akibat kekalahan yang dideritanya dari kaum muslimin, bangsa Persia saling mencela di antara mereka sendiri. Mereka kemudian berkumpul menemui Rustam, lalu Rustam mengirimkan pasukan yang sangat besar di bawah pimpinan Dzul Hijab Bahman Jaduwih. Rustam juga menyerahkan bendera Kisra yang disebut Dirafsy Kabyan (Bendera Agung). Bangsa Persia selalu menganggap bendera ini membawa keberuntungan. Bendera tersebut terbuat dari kulit harimau, dengan lebar delapan hasta dan panjang dua belas hasta.

Pasukan Persia akhirnya tiba di hadapan kaum muslimin dan di antara kedua pasukan tersebut dipisahkan oleh sebuah sungai yang memiliki jembatan. Pasukan Persia mengirim pesan: "Apakah kalian yang menyeberang kepada kami, atau kami yang menyeberang kepada kalian?"

Kaum muslimin berkata kepada panglima mereka, Abu Ubaid, "Perintahkanlah mereka agar menyeberang ke tempat kita." Namun Abu Ubaid berkata, "Mereka tidak boleh lebih berani menghadapi kematian daripada kita!"

Abu Ubaid kemudian memutuskan untuk menyeberang ke arah mereka. Pasukan muslimin akhirnya berkumpul di tempat yang sempit di sana dan bertempur dengan sangat sengit, sebuah pertempuran hebat yang belum pernah ada tandingannya. Jumlah kaum muslimin saat itu sekitar 10.000 orang. Bangsa Persia datang dengan membawa banyak gajah yang dipasangi lonceng-lonceng besar untuk menakut-nakuti kuda-kuda kaum muslimin.

Akibatnya, setiap kali pasukan muslimin menyerang bangsa Persia, kuda-kuda mereka langsung lari ketakutan karena melihat gajah dan mendengar suara lonceng-lonceng yang terpasang padanya. Hanya sedikit sekali kuda yang bisa bertahan setelah dipaksa. Ketika kaum muslimin hendak menyerang pun, kuda-kuda mereka tidak mau maju mendekati gajah. Di saat yang sama, bangsa Persia menghujani mereka dengan anak panah, sehingga gugurlah banyak sekali korban dari pihak muslimin. Meski demikian, kaum muslimin berhasil membunuh sekitar 6.000 pasukan Persia.

Abu Ubaid kemudian memerintahkan kaum muslimin untuk membunuh gajah-gajah tersebut terlebih dahulu. Mereka pun mengepung gajah-gajah itu dan membantainya hingga habis tak tersisa. Sebelumnya, bangsa Persia memajukan seekor gajah putih yang sangat besar di barisan depan mereka. Abu Ubaid segera maju mendekati gajah tersebut lalu menebasnya dengan pedang hingga memotong belalainya. Gajah itu mengamuk, mengeluarkan lengkingan yang mengerikan, lalu menyerang dan menginjak-injak Abu Ubaid dengan kakinya hingga beliau gugur.

Setelah itu, komando pasukan diambil alih oleh pengganti Abu Ubaid, yaitu orang yang telah diwasiatkan untuk menjadi panglima jika beliau gugur. Namun pengganti ini pun gugur, lalu digantikan oleh orang berikutnya, dan berikutnya lagi, hingga gugurlah tujuh orang dari kabilah Tsaqif yang telah ditunjuk secara berurutan oleh Abu Ubaid satu demi satu.

Akhirnya, kepemimpinan pasukan beralih ke tangan Al-Mutsanna bin Haritsah berdasarkan isi wasiat tersebut. Ketika kaum muslimin melihat situasi tersebut, mental mereka menjadi lemah. Padahal, andai saja mereka mau bersabar sebentar lagi, kemenangan sudah berada di depan mata. Namun, kekuatan mereka melemah, kejayaan mereka hilang, dan mereka pun berbalik melarikan diri.

Pasukan Persia terus memburu di belakang mereka dan membunuh banyak sekali korban. Kekalahan pasukan muslimin menjadi sangat terbuka dan situasinya menjadi sangat genting. Ketika orang-orang tiba di jembatan, sebagian dari mereka berhasil menyeberang, namun kemudian jembatan tersebut terputus. Akibatnya, bangsa Persia dengan leluasa menghabisi pasukan yang masih tertinggal di belakang jembatan.

Pasukan Persia membunuh kaum muslimin yang tertinggal, dan sekitar 4.000 orang tenggelam di sungai Eufrat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Al-Mutsanna dan Penyelamatan Situasi:

Al-Mutsanna segera bergerak dan berdiri di pangkal jembatan tempat mereka datang tadi. Ketika pasukan kocar-kacir melarikan diri, sebagian dari mereka mulai melemparkan diri ke sungai Eufrat hingga tenggelam. Al-Mutsanna pun berseru dengan lantang, "Wahai manusia, tenanglah! Sesungguhnya aku berdiri di ujung jembatan ini dan tidak akan melewatinya sampai tidak ada seorang pun dari kalian yang tersisa di sini!"

Setelah seluruh pasukan berhasil menyeberang ke sisi sebelah, Al-Mutsanna berjalan bersama mereka dan berhenti di tempat persinggahan pertama. Beliau bersama para pemberani dari kaum muslimin berjaga untuk melindungi pasukan, padahal sebagian besar dari mereka berada dalam kondisi terluka parah dan babak belur. Di antara pasukan ada yang pergi menyelamatkan diri ke padang pasir hingga tidak diketahui ke mana arahnya, dan ada pula yang kembali ke Kota Madinah dalam keadaan syok ketakutan.

Berita kekalahan ini dibawa oleh Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Mazini kepada Umar bin Khattab. Saat itu Umar sedang berada di atas mimbar, lalu beliau bertanya kepada Abdullah, "Ada berita apa di belakangmu, wahai Abdullah bin Zaid?"

Abdullah menjawab, "Telah datang kepadamu berita yang meyakinkan, wahai Amirul Mukminin." Kemudian ia naik mendekati Umar dan menyampaikan berita duka tersebut secara berbisik. (Ada pula yang meriwayatkan bahwa orang yang pertama kali datang membawa berita tersebut adalah Abdullah bin Yazid bin Al-Hushain Al-Khathmi, wallahu a'lam / dan Allah lebih mengetahui).

Peristiwa Al-Buwaib Tahun 13 Hijriah:

Ketika para panglima Persia mendengar berita tentang kekalahan kaum muslimin pada Perang Jembatan (Jisr) dan juga mendengar tentang banyaknya pasukan yang berhasil dikumpulkan kembali oleh Al-Mutsanna, mereka segera mengirimkan pasukan lain di bawah pimpinan seorang pria bernama Mihran. Kedua belah pasukan akhirnya saling berhadapan di suatu tempat bernama Al-Buwaib—yang letaknya dekat dengan lokasi kota Kufah hari ini—dan di antara kedua pasukan tersebut dipisahkan oleh sungai Eufrat.

Pasukan Persia berkata, "Apakah kalian yang menyeberang kepada kami, atau kami yang menyeberang kepada kalian?" Kaum muslimin menjawab, "Sebaliknya, kalianlah yang menyeberang kepada kami."

Pasukan Persia pun menyeberangi sungai menuju tempat kaum muslimin, lalu kedua pasukan tersebut saling berhadapan siap bertempur. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan pada tahun ke-13 Hijriah. Al-Mutsanna mewajibkan seluruh pasukan muslimin untuk membatalkan puasa mereka, maka mereka pun berbuka tanpa terkecuali agar kondisi fisik mereka menjadi lebih kuat. Beliau lalu merapikan barisan pasukan, kemudian berjalan memeriksa setiap bendera dari para panglima kabilah sambil memberikan nasihat serta membakar semangat mereka untuk berjihad, bersabar, dan tetap tenang. Di antara pasukan tersebut terdapat Jarir bin Abdullah Al-Bajali yang memimpin kabilah Bajilah, serta sejumlah pemuka kaum muslimin lainnya.

Al-Mutsanna berkata kepada mereka, "Aku akan mengumandangkan takbir sebanyak tiga kali, maka bersiap-siaplah kalian. Dan apabila aku mengumandangkan takbir yang keempat, maka seranglah!"

Pasukan menyambut perintah tersebut dengan penuh kepatuhan, ketaatan, dan penerimaan. Namun, baru saja Al-Mutsanna mengumandangkan takbir yang pertama, pasukan Persia langsung mendahului menyerang mereka hingga kedua pasukan bercampur baur dan bertempur dengan sangat sengit.

Al-Mutsanna melihat ada celah longgar di sebagian barisan pasukannya, maka beliau mengutus seorang pria dan berpesan, "Panglima menyampaikan salam kepada kalian dan berkata: Janganlah kalian membuat kaum muslimin menanggung malu pada hari ini!"

Pasukan di barisan tersebut menjawab, "Baik," lalu mereka segera merapatkan kembali barisannya. Ketika Al-Mutsanna melihat hal itu, beliau merasa kagum dan tersenyum, lalu kembali mengirim utusan untuk berkata kepada mereka, "Wahai sekalian kaum muslimin, tunjukkanlah kebiasaan kalian (dalam berjuang)! Tolonglah Allah, niscaya Dia akan menolong kalian."

Al-Mutsanna dan kaum muslimin terus berdoa memohon kemenangan dan pertolongan kepada Allah. Ketika durasi pertempuran berlangsung sangat lama, Al-Mutsanna mengumpulkan sekelompok sahabatnya yang pemberani untuk melindungi bagian belakangnya, lalu ia menerobos melakukan serangan ke arah Mihran (panglima Persia). Serangan itu berhasil mendesak Mihran dari posisinya hingga terdesak ke sayap kanan pasukan. Kemudian Al-Mundzir bin Hassan bin Dhirar Adh-Dhabbi menyerangnya dan berhasil menikamnya, lalu Jarir bin Abdullah Al-Bajali datang memenggal kepala Mihran. Mereka berdua sempat berselisih mengenai siapa yang berhak atas harta rampasan (pakaian dan senjata) milik Mihran; akhirnya Jarir mengambil senjatanya, sedangkan Al-Mundzir mengambil ikat pinggangnya.

Pasukan Majusi (Persia) pun melarikan diri kocar-kacir, sementara kaum muslimin terus mengejar dan membantai mereka dari arah belakang. Al-Mutsanna bin Haritsah segera memacu kudanya mendahului mereka menuju jembatan, lalu berdiri di sana untuk menghalangi pasukan Persia yang hendak menyeberang agar kaum muslimin dapat melumpuhkan mereka sepenuhnya.

Kaum muslimin terus mengejar di belakang mereka di sepanjang sisa hari itu hingga waktu malam. Dikatakan bahwa jumlah pasukan Persia yang tewas terbunuh dan tenggelam pada hari itu mencapai hampir 100.000 orang. Kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan yang sangat melimpah serta bahan makanan yang sangat banyak, lalu mereka mengirimkan kabar gembira dan seperlima bagian dari harta rampasan perang (khumus) kepada Umar radhiyallahu 'anhu.

Meskipun demikian, banyak juga dari kalangan pemuka kaum muslimin yang gugur sebagai syuhada pada hari tersebut. Akibat peristiwa ini, harga diri bangsa Persia menjadi runtuh dan jatuh, sehingga para sahabat nabi memiliki kesempatan penuh untuk melancarkan serangan-serangan di negeri mereka, yaitu di wilayah antara sungai Eufrat dan sungai Tigris, dan berhasil membawa pulang harta rampasan perang yang sangat besar hingga tidak dapat dihitung jumlahnya.

Setelah Perang Al-Buwaib, terjadilah berbagai peristiwa yang akan memakan waktu lama jika disebutkan semuanya. Peristiwa (Perang Al-Buwaib) di Irak ini kedudukannya sama seperti Perang Yarmuk di Syam.

Kisah Bersatunya Bangsa Persia di Bawah Kepemimpinan Yazdajird

Dahulu, Syiri bin Kisra Abarwiz pernah mengumpulkan seluruh keluarga Kisra di Istana Putih dan memerintahkan untuk membunuh semua keturunan laki-laki mereka yang berjumlah 15 orang. Namun, ibunya Yazdajird menyembunyikan putranya tersebut dan membuat kesepakatan dengan paman-paman dari pihak ibunya. Mereka pun datang, mengambil anak itu secara sembunyi-sembunyi dari ibunya, lalu membawanya pergi ke negeri mereka.

Ketika terjadi peristiwa besar pada Perang Al-Buwaib yang menewaskan banyak pasukan Persia sebagaimana yang telah kami sebutkan, serta keberhasilan kaum muslimin mendesak mereka, mengalahkan mereka, dan merebut negeri, wilayah, serta daerah-daerah mereka, bangsa Persia pun berkumpul mengadakan pertemuan. Mereka menghadirkan dua panglima besar mereka, yaitu Rustam dan Al-Fairuzan. Bangsa Persia saling meluapkan kekesalan, saling menasihati, dan berkata kepada kedua panglima tersebut: "Jika kalian berdua tidak memimpin peperangan ini dengan sungguh-sungguh sebagaimana mestinya, kami pasti akan membunuh kalian berdua agar hati kami puas!"

Setelah itu, mereka bersepakat untuk mengirim utusan guna melacak keberadaan para wanita keturunan Kisra dari segala pelosok dan penjuru tempat. Siapa saja di antara wanita tersebut yang memiliki anak laki-laki keturunan Kisra, maka anak itu akan mereka angkat menjadi raja. Akhirnya, mereka ditunjukkan kepada keberadaan ibunya Yazdajird. Mereka segera menjemput sang ibu beserta putranya, lalu mengangkat putra tersebut sebagai raja mereka di saat ia baru berusia dua puluh satu tahun. Yazdajird merupakan keturunan dari Syahriyar bin Kisra.

Dengan demikian, mereka mencopot ratu Buran dari takhta, dan kendali seluruh kerajaan pun menjadi stabil di bawah kepemimpinan Yazdajird. Bangsa Persia bersatu mendukungnya, merasa sangat gembira dengan kehadirannya, serta berdiri di hadapannya memberikan dukungan dan pembelaan yang paling maksimal. Urusan pemerintahan Yazdajird pun menjadi semakin kuat di tengah-tengah mereka dan wibawa serta kekuatan mereka pulih kembali berkat dirinya.

Setelah itu, mereka mengirim utusan ke berbagai wilayah dan pelosok desa untuk menyatakan lepas kendali (membangkang) dari kepatuhan kepada para sahabat Nabi, serta membatalkan perjanjian damai dan jaminan keamanan yang telah disepakati. Para sahabat kemudian mengirim surat kepada Umar untuk melaporkan kabar tersebut.

Umar lalu memerintahkan para sahabat untuk keluar dari tengah-tengah pemukiman bangsa Persia dan bersiap siaga di pinggiran-pinggiran wilayah sekitar mereka yang dekat dengan sumber air. Beliau juga memerintahkan agar setiap kabilah saling memantau kabilah lainnya, sehingga jika terjadi suatu peristiwa darurat pada satu kabilah, situasinya tidak tersembunyi dan segera diketahui oleh kabilah tetangganya. Peristiwa penataan posisi pasukan ini terjadi pada bulan Zulkaidah tahun 13 Hijriah.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain