Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur Tahap Kedua
Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur
Tahap Kedua:
Penaklukan di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu
'anhu di Irak yang dipimpin oleh Khalid bin Walid merupakan tahap pertama
dari penaklukan Islam yang bergerak menuju wilayah Timur pada masa Khilafah
Ar-Rasyidin. Pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, rencana
penaklukan tersebut disempurnakan menjadi empat tahap, dan berikut ini adalah
salah satunya:
Pengangkatan Abu Ubaid Ats-Tsaqafi sebagai Panglima Perang di Irak:
Ketika Ash-Shiddiq wafat dan dimakamkan pada malam Selasa
tanggal dua puluh dua Jumadil Akhir tahun 13 Hijriah, pagi harinya Umar
langsung mengumpulkan masyarakat. Beliau mendorong dan memotivasi mereka untuk
memerangi penduduk Irak, serta membuat mereka menyukai pahala dari jihad
tersebut. Namun, tidak ada seorang pun yang bangkit berdiri, karena orang-orang
enggan memerangi bangsa Persia disebabkan oleh kekuatan, dominasi, dan
sengitnya cara berperang mereka.
Kemudian pada hari kedua dan ketiga, Umar kembali
mengumpulkan mereka, namun tetap tidak ada seorang pun yang bangkit. Lalu
Al-Mutsanna bin Haritsah angkat bicara dan menyampaikan perkataan yang sangat
baik. Beliau mengabarkan tentang wilayah-wilayah luas di Irak yang telah Allah
ta'ala menangkan melalui tangan Khalid bin Walid, serta mengabarkan tentang
banyaknya harta, kepemilikan, barang-barang, dan logistik yang ada di sana.
Meski demikian, tetap tidak ada yang bangkit pada hari ketiga tersebut.
Ketika memasuki hari keempat, orang pertama dari kaum
muslimin yang bersedia maju adalah Abu Ubaid bin Mas'ud Ats-Tsaqafi, yang
kemudian diikuti oleh orang-orang lainnya secara berturut-turut dalam menyambut
seruan tersebut. Umar lalu memerintahkan sekelompok penduduk Madinah untuk
mendaftarkan diri dan mengangkat Abu Ubaid sebagai panglima bagi semuanya,
padahal ia bukan seorang sahabat Nabi.
Lalu ada yang bertanya kepada Umar, "Mengapa Anda tidak
mengangkat seorang pria dari kalangan sahabat Nabi sebagai pemimpin
mereka?"
Umar menjawab, "Aku hanya mengangkat orang yang pertama
kali menyambut seruan. Sesungguhnya kalian mendahului orang-orang karena telah
menolong agama ini, dan orang inilah (Abu Ubaid) yang menyambut seruan sebelum
kalian."
Setelah itu, Umar memanggil Abu Ubaid dan memberikan wasiat
khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah, berbuat baik kepada kaum muslimin
yang bersamanya, serta memerintahkannya untuk selalu bermusyawarah dengan para
sahabat Rasulullah ﷺ
dan bermusyawarah dengan Sulait bin Qais, karena ia adalah seorang pria yang
sudah berpengalaman langsung dalam peperangan.
Kaum muslimin kemudian berangkat menuju tanah Irak dengan
berkekuatan 7.000 orang pria. Umar juga menulis surat kepada Abu Ubaidah agar
mengirimkan pasukan yang berada di Irak—yaitu mereka yang sebelumnya datang
bersama Khalid ke Irak. Abu Ubaidah lalu menyiapkan 10.000 pasukan di bawah
pimpinan Hasyim bin Utbah. Selain itu, Umar mengutus Jarir bin Abdullah
Al-Bajali memimpin 4.000 pasukan menuju Irak hingga tiba di Kufah.
Ketika pasukan muslimin tiba di Irak, mereka mendapati
bangsa Persia sedang mengalami kekacauan dalam kerajaan mereka. Keputusan
terakhir yang disepakati oleh bangsa Persia adalah mengangkat Buran binti Kisra
sebagai ratu mereka, setelah mereka membunuh ratu sebelumnya yang bernama
Azarmidukht. Buran kemudian menyerahkan urusan pemerintahan selama sepuluh
tahun kepada Rustam bin Farrukhzad dengan syarat Rustam yang memegang kendali
urusan peperangan, dan setelah itu takhta kerajaan harus kembali kepada keluarga
Kisra. Rustam pun menerima syarat tersebut.
Rustam ini adalah seorang peramal yang sangat memahami ilmu
perbintangan dengan baik. Lalu ada yang bertanya kepadanya, "Apa yang
membuatmu mau menerima tugas ini?" Maksud pertanyaan itu adalah mereka
tahu bahwa Rustam sebenarnya sadar perkara ini tidak akan berhasil
dimenangkannya.
Rustam menjawab, "Ketamakan dan kecintaan terhadap
kehormatan."
Peristiwa Namariq Tahun 13 Hijriah:
Rustam mengutus seorang panglima bernama Jaban. Pasukan
sayap kanan dan kirinya dipimpin oleh dua orang, yang satu bernama Jasynas dan
yang lainnya bernama Mardan Syah. Mereka akhirnya bertemu dengan pasukan Abu
Ubaid di suatu tempat bernama An-Namariq—yang terletak di antara Al-Hirah dan
Al-Qadisiyyah.
Dalam pertempuran ini, pasukan berkuda muslimin dipimpin
oleh Al-Mutsanna bin Haritsah, sayap kanan dipimpin oleh Walq bin Jaidarah, dan
sayap kiri dipimpin oleh Amr bin Al-Haitsam As-Sulami. Mereka bertempur di sana
dengan sangat sengit. Akhirnya, Allah mengalahkan bangsa Persia. Jaban dan
Mardan Syah pun berhasil ditawan.
Adapun Mardan Syah, ia langsung dibunuh oleh orang yang
menawannya. Sementara Jaban, ia berhasil mengelabui orang yang menawannya
hingga akhirnya dilepaskan. Namun, kaum muslimin berhasil menangkapnya kembali
dan menolak untuk melepaskannya. Mereka berkata, "Orang ini adalah
panglimanya!" Mereka lalu membawanya ke hadapan Abu Ubaid dan berkata,
"Bunuhlah dia, karena dia adalah panglimanya."
Namun Abu Ubaid berkata, "Meskipun dia panglimanya, aku
tidak akan membunuhnya, karena seorang pria dari kaum muslimin telah memberikan
jaminan keamanan kepadanya."
Peristiwa Jembatan Abu Ubaid (Perang Jisr)
Ketika Jalinus kembali dalam keadaan melarikan diri akibat
kekalahan yang dideritanya dari kaum muslimin, bangsa Persia saling mencela di
antara mereka sendiri. Mereka kemudian berkumpul menemui Rustam, lalu Rustam
mengirimkan pasukan yang sangat besar di bawah pimpinan Dzul Hijab Bahman
Jaduwih. Rustam juga menyerahkan bendera Kisra yang disebut Dirafsy Kabyan
(Bendera Agung). Bangsa Persia selalu menganggap bendera ini membawa
keberuntungan. Bendera tersebut terbuat dari kulit harimau, dengan lebar
delapan hasta dan panjang dua belas hasta.
Pasukan Persia akhirnya tiba di hadapan kaum muslimin dan di
antara kedua pasukan tersebut dipisahkan oleh sebuah sungai yang memiliki
jembatan. Pasukan Persia mengirim pesan: "Apakah kalian yang menyeberang
kepada kami, atau kami yang menyeberang kepada kalian?"
Kaum muslimin berkata kepada panglima mereka, Abu Ubaid,
"Perintahkanlah mereka agar menyeberang ke tempat kita." Namun Abu
Ubaid berkata, "Mereka tidak boleh lebih berani menghadapi kematian
daripada kita!"
Abu Ubaid kemudian memutuskan untuk menyeberang ke arah
mereka. Pasukan muslimin akhirnya berkumpul di tempat yang sempit di sana dan
bertempur dengan sangat sengit, sebuah pertempuran hebat yang belum pernah ada
tandingannya. Jumlah kaum muslimin saat itu sekitar 10.000 orang. Bangsa Persia
datang dengan membawa banyak gajah yang dipasangi lonceng-lonceng besar untuk
menakut-nakuti kuda-kuda kaum muslimin.
Akibatnya, setiap kali pasukan muslimin menyerang bangsa
Persia, kuda-kuda mereka langsung lari ketakutan karena melihat gajah dan
mendengar suara lonceng-lonceng yang terpasang padanya. Hanya sedikit sekali
kuda yang bisa bertahan setelah dipaksa. Ketika kaum muslimin hendak menyerang
pun, kuda-kuda mereka tidak mau maju mendekati gajah. Di saat yang sama, bangsa
Persia menghujani mereka dengan anak panah, sehingga gugurlah banyak sekali
korban dari pihak muslimin. Meski demikian, kaum muslimin berhasil membunuh
sekitar 6.000 pasukan Persia.
Abu Ubaid kemudian memerintahkan kaum muslimin untuk
membunuh gajah-gajah tersebut terlebih dahulu. Mereka pun mengepung gajah-gajah
itu dan membantainya hingga habis tak tersisa. Sebelumnya, bangsa Persia
memajukan seekor gajah putih yang sangat besar di barisan depan mereka. Abu
Ubaid segera maju mendekati gajah tersebut lalu menebasnya dengan pedang hingga
memotong belalainya. Gajah itu mengamuk, mengeluarkan lengkingan yang
mengerikan, lalu menyerang dan menginjak-injak Abu Ubaid dengan kakinya hingga
beliau gugur.
Setelah itu, komando pasukan diambil alih oleh pengganti Abu
Ubaid, yaitu orang yang telah diwasiatkan untuk menjadi panglima jika beliau
gugur. Namun pengganti ini pun gugur, lalu digantikan oleh orang berikutnya,
dan berikutnya lagi, hingga gugurlah tujuh orang dari kabilah Tsaqif yang telah
ditunjuk secara berurutan oleh Abu Ubaid satu demi satu.
Akhirnya, kepemimpinan pasukan beralih ke tangan Al-Mutsanna
bin Haritsah berdasarkan isi wasiat tersebut. Ketika kaum muslimin melihat
situasi tersebut, mental mereka menjadi lemah. Padahal, andai saja mereka mau
bersabar sebentar lagi, kemenangan sudah berada di depan mata. Namun, kekuatan
mereka melemah, kejayaan mereka hilang, dan mereka pun berbalik melarikan diri.
Pasukan Persia terus memburu di belakang mereka dan membunuh
banyak sekali korban. Kekalahan pasukan muslimin menjadi sangat terbuka dan
situasinya menjadi sangat genting. Ketika orang-orang tiba di jembatan,
sebagian dari mereka berhasil menyeberang, namun kemudian jembatan tersebut
terputus. Akibatnya, bangsa Persia dengan leluasa menghabisi pasukan yang masih
tertinggal di belakang jembatan.
Pasukan Persia membunuh kaum muslimin yang tertinggal, dan
sekitar 4.000 orang tenggelam di sungai Eufrat. Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami
kembali).
Al-Mutsanna dan Penyelamatan Situasi:
Al-Mutsanna segera bergerak dan berdiri di pangkal jembatan
tempat mereka datang tadi. Ketika pasukan kocar-kacir melarikan diri, sebagian
dari mereka mulai melemparkan diri ke sungai Eufrat hingga tenggelam.
Al-Mutsanna pun berseru dengan lantang, "Wahai manusia, tenanglah!
Sesungguhnya aku berdiri di ujung jembatan ini dan tidak akan melewatinya
sampai tidak ada seorang pun dari kalian yang tersisa di sini!"
Setelah seluruh pasukan berhasil menyeberang ke sisi
sebelah, Al-Mutsanna berjalan bersama mereka dan berhenti di tempat
persinggahan pertama. Beliau bersama para pemberani dari kaum muslimin berjaga
untuk melindungi pasukan, padahal sebagian besar dari mereka berada dalam
kondisi terluka parah dan babak belur. Di antara pasukan ada yang pergi
menyelamatkan diri ke padang pasir hingga tidak diketahui ke mana arahnya, dan
ada pula yang kembali ke Kota Madinah dalam keadaan syok ketakutan.
Berita kekalahan ini dibawa oleh Abdullah bin Zaid bin
'Ashim Al-Mazini kepada Umar bin Khattab. Saat itu Umar sedang berada di atas
mimbar, lalu beliau bertanya kepada Abdullah, "Ada berita apa di
belakangmu, wahai Abdullah bin Zaid?"
Abdullah menjawab, "Telah datang kepadamu berita yang
meyakinkan, wahai Amirul Mukminin." Kemudian ia naik mendekati Umar dan
menyampaikan berita duka tersebut secara berbisik. (Ada pula yang meriwayatkan
bahwa orang yang pertama kali datang membawa berita tersebut adalah Abdullah
bin Yazid bin Al-Hushain Al-Khathmi, wallahu a'lam / dan Allah lebih
mengetahui).
Peristiwa Al-Buwaib Tahun 13 Hijriah:
Ketika para panglima Persia mendengar berita tentang
kekalahan kaum muslimin pada Perang Jembatan (Jisr) dan juga mendengar tentang
banyaknya pasukan yang berhasil dikumpulkan kembali oleh Al-Mutsanna, mereka
segera mengirimkan pasukan lain di bawah pimpinan seorang pria bernama Mihran.
Kedua belah pasukan akhirnya saling berhadapan di suatu tempat bernama
Al-Buwaib—yang letaknya dekat dengan lokasi kota Kufah hari ini—dan di antara
kedua pasukan tersebut dipisahkan oleh sungai Eufrat.
Pasukan Persia berkata, "Apakah kalian yang menyeberang
kepada kami, atau kami yang menyeberang kepada kalian?" Kaum muslimin
menjawab, "Sebaliknya, kalianlah yang menyeberang kepada kami."
Pasukan Persia pun menyeberangi sungai menuju tempat kaum
muslimin, lalu kedua pasukan tersebut saling berhadapan siap bertempur.
Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan pada tahun ke-13 Hijriah. Al-Mutsanna
mewajibkan seluruh pasukan muslimin untuk membatalkan puasa mereka, maka mereka
pun berbuka tanpa terkecuali agar kondisi fisik mereka menjadi lebih kuat.
Beliau lalu merapikan barisan pasukan, kemudian berjalan memeriksa setiap
bendera dari para panglima kabilah sambil memberikan nasihat serta membakar
semangat mereka untuk berjihad, bersabar, dan tetap tenang. Di antara pasukan
tersebut terdapat Jarir bin Abdullah Al-Bajali yang memimpin kabilah Bajilah,
serta sejumlah pemuka kaum muslimin lainnya.
Al-Mutsanna berkata kepada mereka, "Aku akan
mengumandangkan takbir sebanyak tiga kali, maka bersiap-siaplah kalian. Dan
apabila aku mengumandangkan takbir yang keempat, maka seranglah!"
Pasukan menyambut perintah tersebut dengan penuh kepatuhan,
ketaatan, dan penerimaan. Namun, baru saja Al-Mutsanna mengumandangkan takbir
yang pertama, pasukan Persia langsung mendahului menyerang mereka hingga kedua
pasukan bercampur baur dan bertempur dengan sangat sengit.
Al-Mutsanna melihat ada celah longgar di sebagian barisan
pasukannya, maka beliau mengutus seorang pria dan berpesan, "Panglima
menyampaikan salam kepada kalian dan berkata: Janganlah kalian membuat kaum
muslimin menanggung malu pada hari ini!"
Pasukan di barisan tersebut menjawab, "Baik," lalu
mereka segera merapatkan kembali barisannya. Ketika Al-Mutsanna melihat hal
itu, beliau merasa kagum dan tersenyum, lalu kembali mengirim utusan untuk
berkata kepada mereka, "Wahai sekalian kaum muslimin, tunjukkanlah
kebiasaan kalian (dalam berjuang)! Tolonglah Allah, niscaya Dia akan menolong
kalian."
Al-Mutsanna dan kaum muslimin terus berdoa memohon
kemenangan dan pertolongan kepada Allah. Ketika durasi pertempuran berlangsung
sangat lama, Al-Mutsanna mengumpulkan sekelompok sahabatnya yang pemberani
untuk melindungi bagian belakangnya, lalu ia menerobos melakukan serangan ke
arah Mihran (panglima Persia). Serangan itu berhasil mendesak Mihran dari
posisinya hingga terdesak ke sayap kanan pasukan. Kemudian Al-Mundzir bin
Hassan bin Dhirar Adh-Dhabbi menyerangnya dan berhasil menikamnya, lalu Jarir bin
Abdullah Al-Bajali datang memenggal kepala Mihran. Mereka berdua sempat
berselisih mengenai siapa yang berhak atas harta rampasan (pakaian dan senjata)
milik Mihran; akhirnya Jarir mengambil senjatanya, sedangkan Al-Mundzir
mengambil ikat pinggangnya.
Pasukan Majusi (Persia) pun melarikan diri kocar-kacir,
sementara kaum muslimin terus mengejar dan membantai mereka dari arah belakang.
Al-Mutsanna bin Haritsah segera memacu kudanya mendahului mereka menuju
jembatan, lalu berdiri di sana untuk menghalangi pasukan Persia yang hendak
menyeberang agar kaum muslimin dapat melumpuhkan mereka sepenuhnya.
Kaum muslimin terus mengejar di belakang mereka di sepanjang
sisa hari itu hingga waktu malam. Dikatakan bahwa jumlah pasukan Persia yang
tewas terbunuh dan tenggelam pada hari itu mencapai hampir 100.000 orang. Kaum
muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan yang sangat melimpah serta bahan
makanan yang sangat banyak, lalu mereka mengirimkan kabar gembira dan seperlima
bagian dari harta rampasan perang (khumus) kepada Umar radhiyallahu
'anhu.
Meskipun demikian, banyak juga dari kalangan pemuka kaum
muslimin yang gugur sebagai syuhada pada hari tersebut. Akibat peristiwa ini,
harga diri bangsa Persia menjadi runtuh dan jatuh, sehingga para sahabat nabi
memiliki kesempatan penuh untuk melancarkan serangan-serangan di negeri mereka,
yaitu di wilayah antara sungai Eufrat dan sungai Tigris, dan berhasil membawa
pulang harta rampasan perang yang sangat besar hingga tidak dapat dihitung
jumlahnya.
Setelah Perang Al-Buwaib, terjadilah berbagai peristiwa yang
akan memakan waktu lama jika disebutkan semuanya. Peristiwa (Perang Al-Buwaib)
di Irak ini kedudukannya sama seperti Perang Yarmuk di Syam.
Kisah Bersatunya Bangsa Persia di Bawah Kepemimpinan Yazdajird
Dahulu, Syiri bin Kisra Abarwiz pernah mengumpulkan seluruh
keluarga Kisra di Istana Putih dan memerintahkan untuk membunuh semua keturunan
laki-laki mereka yang berjumlah 15 orang. Namun, ibunya Yazdajird
menyembunyikan putranya tersebut dan membuat kesepakatan dengan paman-paman
dari pihak ibunya. Mereka pun datang, mengambil anak itu secara
sembunyi-sembunyi dari ibunya, lalu membawanya pergi ke negeri mereka.
Ketika terjadi peristiwa besar pada Perang Al-Buwaib yang
menewaskan banyak pasukan Persia sebagaimana yang telah kami sebutkan, serta
keberhasilan kaum muslimin mendesak mereka, mengalahkan mereka, dan merebut
negeri, wilayah, serta daerah-daerah mereka, bangsa Persia pun berkumpul
mengadakan pertemuan. Mereka menghadirkan dua panglima besar mereka, yaitu
Rustam dan Al-Fairuzan. Bangsa Persia saling meluapkan kekesalan, saling
menasihati, dan berkata kepada kedua panglima tersebut: "Jika kalian berdua
tidak memimpin peperangan ini dengan sungguh-sungguh sebagaimana mestinya, kami
pasti akan membunuh kalian berdua agar hati kami puas!"
Setelah itu, mereka bersepakat untuk mengirim utusan guna
melacak keberadaan para wanita keturunan Kisra dari segala pelosok dan penjuru
tempat. Siapa saja di antara wanita tersebut yang memiliki anak laki-laki
keturunan Kisra, maka anak itu akan mereka angkat menjadi raja. Akhirnya,
mereka ditunjukkan kepada keberadaan ibunya Yazdajird. Mereka segera menjemput
sang ibu beserta putranya, lalu mengangkat putra tersebut sebagai raja mereka
di saat ia baru berusia dua puluh satu tahun. Yazdajird merupakan keturunan
dari Syahriyar bin Kisra.
Dengan demikian, mereka mencopot ratu Buran dari takhta, dan
kendali seluruh kerajaan pun menjadi stabil di bawah kepemimpinan Yazdajird.
Bangsa Persia bersatu mendukungnya, merasa sangat gembira dengan kehadirannya,
serta berdiri di hadapannya memberikan dukungan dan pembelaan yang paling
maksimal. Urusan pemerintahan Yazdajird pun menjadi semakin kuat di
tengah-tengah mereka dan wibawa serta kekuatan mereka pulih kembali berkat
dirinya.
Setelah itu, mereka mengirim utusan ke berbagai wilayah dan
pelosok desa untuk menyatakan lepas kendali (membangkang) dari kepatuhan kepada
para sahabat Nabi, serta membatalkan perjanjian damai dan jaminan keamanan yang
telah disepakati. Para sahabat kemudian mengirim surat kepada Umar untuk
melaporkan kabar tersebut.
Umar lalu memerintahkan para sahabat untuk keluar dari
tengah-tengah pemukiman bangsa Persia dan bersiap siaga di pinggiran-pinggiran
wilayah sekitar mereka yang dekat dengan sumber air. Beliau juga memerintahkan
agar setiap kabilah saling memantau kabilah lainnya, sehingga jika terjadi
suatu peristiwa darurat pada satu kabilah, situasinya tidak tersembunyi dan
segera diketahui oleh kabilah tetangganya. Peristiwa penataan posisi pasukan
ini terjadi pada bulan Zulkaidah tahun 13 Hijriah.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar