Para Raja Ma'in: Perdebatan Panjang di Balik Takhta yang Hilang
Siapa yang Berkuasa di Negeri Para Saudagar?
Jika kita berdiri di tengah reruntuhan kota Qarnu,
ibu kota Kerajaan Ma'in, sulit membayangkan siapa saja yang pernah duduk di
singgasananya. Para arkeolog dan sejarawan modern telah menemukan nama-nama
raja Ma'in dari prasasti kuno. Namun, menyusun urutan dan masa
pemerintahan mereka ternyata menjadi teka-teki yang memecahkan kepala.
Mengapa begitu sulit? Pertama, para ahli tidak sepakat kapan
kerajaan ini berdiri dan runtuh — perbedaan pendapat mencapai ribuan
tahun! Kedua, prasasti Ma'in jarang menyebutkan tanggal. Ketiga,
prasasti-prasasti itu kebanyakan berbicara tentang urusan pribadi, bukan
politik atau suksesi kerajaan.
Akibatnya, setiap peneliti membuat daftar raja versinya
sendiri. Mari kita lihat upaya mereka yang menarik — sekaligus membingungkan.
Upaya Pertama: Menyusun Daftar Raja
Hommel (sarjana Jerman) mengidentifikasi tiga
lapis raja, masing-masing terdiri dari empat raja, ditambah satu lapis dengan
dua raja. Total menurut sistem Hommel: 14 raja.
Clement Huart (sarjana Prancis) lebih ambisius.
Ia membagi raja-raja Ma'in menjadi tujuh lapis:
- Lapis
1: 4 raja
- Lapis
2: 5 raja
- Lapis
3: 4 raja
- Lapis
4: 2 raja
- Lapis
5: 3 raja
- Lapis
6: 2 raja
- Lapis
7: 2 raja
Total: 22 raja.
Müller menemukan 26 raja —
empat lebih banyak dari daftar Huart. Otto Weber dan Mordtmann juga
membuat pengelompokan sendiri. Sementara Philby, penjelajah
Inggris, menyusun 22 raja dalam lima dinasti. Ia
menempatkan raja pertama, Alif' Waqah, memerintah sekitar 1120 SM,
dan raja terakhir, Tubba' Karib, sekitar 650–630 SM.
Hommel berpendapat bahwa dinasti yang diawali
Alif' Waqah adalah yang paling tua. Namun Mordtmann dan Huart menganggap
dinasti yang diawali Yitha' il Shadiq lebih tua. Winnett berpendapat
dinasti yang diawali Abi Yada' Yitha' lebih tua dari kedua
dinasti tersebut.
Masalahnya, belum tentu dinasti-dinasti ini adalah
yang pertama. Bisa jadi ada raja-raja lain yang memerintah selama
berabad-abad sebelum mereka — namanya belum kita temukan.
Raja Pertama Menurut Albright: Koneksi Hadhramaut
William F. Albright, arkeolog Amerika terkemuka,
memiliki teori berbeda. Ia berpendapat bahwa Kerajaan Ma'in didirikan
oleh raja-raja Hadhramaut sekitar tahun 400 SM (atau
sedikit sesudahnya). Raja pertama Ma'in menurutnya adalah Yitha' Yitha' (Alif'
Yitha'), putra Raja Shadiq'il dari Hadhramaut.
Albright mencatat bahwa dari tahun 350 SM hingga 100
SM, tidak ditemukan prasasti Saba' di wilayah Ma'in. Ini
menunjukkan bahwa selama periode itu, Ma'in berada di bawah kekuasaan
Hadhramaut atau merdeka, bukan dikuasai Saba'.
Dengan kata lain, menurut Albright, sejarah politik
Ma'in dimulai sekitar 400 SM — sangat berbeda dengan perkiraan Philby
yang menempatkannya pada 1120 SM (perbedaan hampir 700 tahun!).
Raja-Raja yang Kita Kenal dari Prasasti
Meskipun sulit menyusun urutan, prasasti telah mengungkap
beberapa nama raja Ma'in lengkap dengan gelar dan peristiwa penting.
1. Alif' Waqah: Raja dari Kota Al-Sawda'
Nama raja ini muncul dalam prasasti yang ditemukan di Al-Sawda' (kota
kuno Nashq). Prasasti itu menceritakan bahwa Raja Alif' Waqah (raja
Ma'in) dan seluruh rakyat Ma'in mempersembahkan kurban dan hadiah ke kuil
dewa 'Am di Ra'b (Rā'ib). Seorang pendeta
(al-Rasyw) menerima persembahan itu atas nama kuil. Kita tidak tahu persis apa
latar belakang ritual ini — mungkin untuk merayakan kemenangan, panen, atau
membangun kembali kuil.
2. Waqah'il Shadiq: Putra Penerus
Putra Alif' Waqah, bernama Waqah'il Shadiq (atau
Waqah'il Ṣiddīq), disebut dalam prasasti dari kota Yathill (Barqish).
Prasasti itu dicatat pada saat pembangunan sebuah bangunan di masa
pemerintahannya. Nama raja dan putranya disebutkan untuk mengukuhkan tanggal
pembangunan—seperti "pada zaman raja X".
Nama Waqah'il Shadiq juga muncul di Qarnu (ibukota),
kemungkinan terkait dengan proyek pembangunan lainnya.
3. Abkarib Yitha': Pemimpin Koloni Utara
Raja Abkarib Yitha' (atau Abkarib Yitha')
disebut dalam prasasti yang ditemukan di Al-'Ula (Dedan), kota
oasis di utara Hijaz yang menjadi koloni dagang Ma'in. Prasasti itu ditulis
oleh seorang pria dari klan Gharyat (atau Ghariyah) yang
membeli sebuah properti. Ia mempersembahkan kurban kepada dewa Nikrah dan
dewa-dewi Ma'in lainnya untuk memohon perlindungan atas hartanya. Ia juga
mengutuk siapa pun yang merusak prasasti itu.
Dalam prasasti itu, nama Abkarib Yitha' disebut
sebagai raja Ma'in, diikuti oleh nama Waqah'il Shadiq (ayahnya?).
Penulis artikel (Jawad 'Ali) berpendapat bahwa frasa di antara kedua nama itu
seharusnya dibaca "ibn" (anak), bukan "wa"
(dan). Jadi yang benar: Abkarib Yitha', raja Ma'in, putra Waqah'il
Shadiq. Ini masuk akal — biasanya kita menyebut raja dulu, lalu ayahnya.
4. 'Am Yitha' Nabath: Penguasa Yathill
Nama raja 'Am Yitha' Nabath (atau
'Ammyitha' Nabath) muncul dalam prasasti dari Yathill (Barqish).
Ia adalah putra Abkarib Yitha' (yang di atas). Prasasti ini
berkaitan dengan penetapan tanah suci untuk dewi 'Athtar Shariqan (Athtar
yang Timur) di Yathill, yang dijadikan wakaf (tanah yang tidak boleh dijual,
semacam tanah suci).
Albright menempatkan 'Am Yitha' Nabath sekitar 300
SM (dalam kelompok pertama raja-rajanya), sementara putranya Abkarib
(yang lebih muda?) ia tempatkan di akhir abad ke-2 SM. Perbedaan ini
menunjukkan betapa fleksibelnya penafsiran para ahli.
5. Abi Yada' Yitha': Pembangun Kota Qarnu
Raja Abi Yada' Yitha' (atau Abiyada'
Yitha') adalah salah satu penguasa Ma'in yang paling banyak meninggalkan jejak.
Sebuah prasasti panjang (Halévy 192 + Glaser 1150) dari kota Qarnu menceritakan
proyek besar:
Seorang pejabat bernama 'Alman bin 'Amkarib dari
klan Dzu Hadzar (Āl Hadzar), seorang pemimpin dan sahabat
raja, bersama putra-putranya (Yausa'il, Yadzkur'il, Sa'd'il, Wahb'il, Yasma'il)
memperbaiki parit-parit kota, merenovasi tembok-tembok, dan membangun
lingkungan baru di kota Qarnu.
Mereka melakukan semua itu sebagai bentuk pengabdian kepada
dewa-dewa Ma'in: 'Athtar Dzu Qabdh, Wadd, dan Nikrah,
serta untuk menyenangkan hati raja.
Proyek ini dilakukan di lingkungan kota bernama "Ramasy" ,
dan meluas hingga ke daerah "Syaluwat" . Setelah
selesai, mereka menyembelih hewan kurban untuk para dewa. Prasasti ini adalah
contoh sempurna dari dokumen pembangunan kota kuno.
6. Abi Yada' Yitha' dan Hubungan dengan Hadhramaut
Prasasti penting lain (Halévy 193) juga menyebut Abi Yada'
Yitha'. Ia menceritakan hubungan politik antara Ma'in dan Hadhramaut. Seorang
raja Hadhramaut bernama Ma'dikarib (dari keluarga yang sama
dengan raja Ma'in) mendedikasikan benteng "Kharif" untuk
dewa 'Athtar Dzu Qabdh. Benteng itu dibangun oleh Shahr
'Illan bin Shadiq'il, raja Hadhramaut, dan kemudian diserahkan kepadanya
sebagai hadiah untuk keponakannya, Abi Yada' Yitha', raja Ma'in.
Ini membuktikan bahwa keluarga kerajaan Ma'in dan Hadhramaut
memiliki hubungan darah yang erat — dan saling mendukung.
7. Abi Yada' Yitha' dan Perang Utara-Selatan
Prasasti yang paling dramatis adalah Glaser 1115 =
Halévy 535 (juga dari masa Abi Yada' Yitha'). Prasasti ini berbicara
tentang perang antara "Dzu Yaminat" (Selatan) dan "Dzu
Syamat" (Utara).
Siapa yang dimaksud dengan Utara dan Selatan? Winckler berpendapat
bahwa "Selatan" adalah Kerajaan Ma'in, sementara "Utara"
merujuk pada kerajaan "Aribi" (Arab badui) yang
wilayahnya mencapai Damaskus.
Prasasti itu ditulis sebagai ucapan syukur karena sebuah
kafilah besar selamat dari serangan di jalan antara Ma'in (atau Ma'un / Māwān)
dan Rakmat. Para pejabat yang menulis prasasti bernama 'Am
Shadiq (atau 'Am Yishdiq) dan Sa'd bin Walak — dua
orang berpangkat tinggi yang mengelola wilayah "Mushri" dan "Ma'in
Mishran" (koloni Ma'in di Mesir?).
Mereka bersyukur kepada para dewa karena melindungi kafilah
tersebut. Mereka juga menyebut bahwa perang pecah di tengah-tengah
"Mushri" , melibatkan "Madhay" (Media/Persia?)
dan "Mushri" (Mesir?). Untungnya, harta benda orang
Ma'in di wilayah itu tetap selamat.
Kafilah itu akhirnya tiba dengan selamat di perbatasan kota
Qarnu. Sebagai ungkapan syukur, mereka mempercantik kuil Tan'im (mungkin
di dekat kota suci).
Dalam doa penutup, mereka memohon perlindungan dewa-dewa
Ma'in: 'Athtar Shariqan (Athtar Timur), 'Athtar Dzu
Qabdh, Wadd, Nikrah, 'Athtar Dzu Yahriq,
dan Dzat Nasyaq (dewi?), serta semua dewa Ma'in dan Yathill.
Mereka juga menyebut raja mereka Abi Yada' Yitha' dan
pangeran Ma'dikarib bin Alif' Yitha' (keponakannya), dan
seluruh rakyat Ma'in dan Yathill.
Prasasti ini adalah dokumen luar biasa tentang perdagangan
jarak jauh, bahaya perjalanan, diplomasi, dan kepercayaan religius Kerajaan
Ma'in.
Perbedaan Kronologi yang Mencengangkan
Untuk menunjukkan betapa sengitnya perdebatan para ahli,
mari bandingkan perkiraan masa pemerintahan beberapa raja menurut Albright dan Philby:
|
Raja |
Perkiraan Albright |
Perkiraan Philby |
|
'Am Yitha' Nabath |
~300 SM |
~1040 SM |
|
Abi Yada' Yitha' |
~343 SM |
~935 SM |
|
Alif' Yitha' (anak Shadiq'il) |
~400 SM (raja pertama) |
~1000 SM (bukan raja pertama) |
Perbedaan 700 tahun! Tidak heran jika diskusi
tentang kronologi Ma'in bisa berlangsung tanpa akhir.
Kesimpulan: Masih Banyak Pekerjaan Rumah
Apa yang dapat kita simpulkan dari perdebatan panjang ini?
- Kita
belum memiliki daftar raja Ma'in yang pasti. Perbedaan pendapat
para ahli sangat besar, dan tidak ada konsensus di depan mata.
- Prasasti
masih menjadi sumber utama, tetapi sayangnya mayoritas prasasti tidak
bertarikh dan tidak memberi petunjuk tentang suksesi.
- Penggalian
arkeologi yang sistematis dan mendalam sangat diperlukan.
Prasasti yang ditemukan selama ini kebanyakan dari permukaan tanah. Masih
ribuan prasasti yang terkubur di bawah reruntuhan kota-kota Ma'in — di
Al-Jawf, di Dedan, di Mesir, dan di tempat lain.
- Analisis
modern seperti radiocarbon dating dan paleografi
komparatif dapat membantu menjembatani perbedaan pendapat. Namun, tanpa
prasasti yang menyebut peristiwa sinkron dengan kerajaan lain (Mesir,
Yunani, atau Asyur), sulit untuk memastikan.
- Yang
terpenting, Kerajaan Ma'in adalah peradaban yang nyata dan besar —
bukan legenda. Mereka memiliki raja, kuil, tentara, sistem irigasi, koloni
dagang, dan hubungan internasional. Mereka layak mendapatkan tempat yang
lebih dikenal dalam sejarah Arab kuno.
Mudah-mudahan suatu hari nanti, para arkeolog akan menggali
lebih dalam dan menemukan "perpustakaan" prasasti Ma'in yang akan
menjawab semua pertanyaan kita. Sampai saat itu tiba, kita hanya bisa bersabar
dan menghargai kerja keras para sarjana yang telah berusaha merangkai teka-teki
ini.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar