Para Raja Ma'in: Perdebatan Panjang di Balik Takhta yang Hilang

Lukisan pemandangan di kota kuno Qarnu (ibukota Kerajaan Ma'in), Yaman. Di latar depan, seorang juru tulis berjubah putih sedang menulis prasasti pada lempengan batu dengan aksara Musnad (Arab Selatan kuno). Di belakangnya, terlihat sebuah prasasti batu besar yang sudah dipahat, berisi teks panjang yang memuji Raja Abi Yada' Yitha'. Di kejauhan, tembok kota dan gerbang megah dengan menara pengawas. Para pekerja sedang memperbaiki saluran air dan parit kota. Pohon palem dan langit biru cerah.

Siapa yang Berkuasa di Negeri Para Saudagar?

Jika kita berdiri di tengah reruntuhan kota Qarnu, ibu kota Kerajaan Ma'in, sulit membayangkan siapa saja yang pernah duduk di singgasananya. Para arkeolog dan sejarawan modern telah menemukan nama-nama raja Ma'in dari prasasti kuno. Namun, menyusun urutan dan masa pemerintahan mereka ternyata menjadi teka-teki yang memecahkan kepala.

Mengapa begitu sulit? Pertama, para ahli tidak sepakat kapan kerajaan ini berdiri dan runtuh — perbedaan pendapat mencapai ribuan tahun! Kedua, prasasti Ma'in jarang menyebutkan tanggal. Ketiga, prasasti-prasasti itu kebanyakan berbicara tentang urusan pribadi, bukan politik atau suksesi kerajaan.

Akibatnya, setiap peneliti membuat daftar raja versinya sendiri. Mari kita lihat upaya mereka yang menarik — sekaligus membingungkan.


Upaya Pertama: Menyusun Daftar Raja

Hommel (sarjana Jerman) mengidentifikasi tiga lapis raja, masing-masing terdiri dari empat raja, ditambah satu lapis dengan dua raja. Total menurut sistem Hommel: 14 raja.

Clement Huart (sarjana Prancis) lebih ambisius. Ia membagi raja-raja Ma'in menjadi tujuh lapis:

  • Lapis 1: 4 raja
  • Lapis 2: 5 raja
  • Lapis 3: 4 raja
  • Lapis 4: 2 raja
  • Lapis 5: 3 raja
  • Lapis 6: 2 raja
  • Lapis 7: 2 raja

Total: 22 raja.

Müller menemukan 26 raja — empat lebih banyak dari daftar Huart. Otto Weber dan Mordtmann juga membuat pengelompokan sendiri. Sementara Philby, penjelajah Inggris, menyusun 22 raja dalam lima dinasti. Ia menempatkan raja pertama, Alif' Waqah, memerintah sekitar 1120 SM, dan raja terakhir, Tubba' Karib, sekitar 650–630 SM.

Hommel berpendapat bahwa dinasti yang diawali Alif' Waqah adalah yang paling tua. Namun Mordtmann dan Huart menganggap dinasti yang diawali Yitha' il Shadiq lebih tua. Winnett berpendapat dinasti yang diawali Abi Yada' Yitha' lebih tua dari kedua dinasti tersebut.

Masalahnya, belum tentu dinasti-dinasti ini adalah yang pertama. Bisa jadi ada raja-raja lain yang memerintah selama berabad-abad sebelum mereka — namanya belum kita temukan.


Raja Pertama Menurut Albright: Koneksi Hadhramaut

William F. Albright, arkeolog Amerika terkemuka, memiliki teori berbeda. Ia berpendapat bahwa Kerajaan Ma'in didirikan oleh raja-raja Hadhramaut sekitar tahun 400 SM (atau sedikit sesudahnya). Raja pertama Ma'in menurutnya adalah Yitha' Yitha' (Alif' Yitha'), putra Raja Shadiq'il dari Hadhramaut.

Albright mencatat bahwa dari tahun 350 SM hingga 100 SM, tidak ditemukan prasasti Saba' di wilayah Ma'in. Ini menunjukkan bahwa selama periode itu, Ma'in berada di bawah kekuasaan Hadhramaut atau merdeka, bukan dikuasai Saba'.

Dengan kata lain, menurut Albright, sejarah politik Ma'in dimulai sekitar 400 SM — sangat berbeda dengan perkiraan Philby yang menempatkannya pada 1120 SM (perbedaan hampir 700 tahun!).


Raja-Raja yang Kita Kenal dari Prasasti

Meskipun sulit menyusun urutan, prasasti telah mengungkap beberapa nama raja Ma'in lengkap dengan gelar dan peristiwa penting.

1. Alif' Waqah: Raja dari Kota Al-Sawda'

Nama raja ini muncul dalam prasasti yang ditemukan di Al-Sawda' (kota kuno Nashq). Prasasti itu menceritakan bahwa Raja Alif' Waqah (raja Ma'in) dan seluruh rakyat Ma'in mempersembahkan kurban dan hadiah ke kuil dewa 'Am di Ra'b (Rā'ib). Seorang pendeta (al-Rasyw) menerima persembahan itu atas nama kuil. Kita tidak tahu persis apa latar belakang ritual ini — mungkin untuk merayakan kemenangan, panen, atau membangun kembali kuil.

2. Waqah'il Shadiq: Putra Penerus

Putra Alif' Waqah, bernama Waqah'il Shadiq (atau Waqah'il Ṣiddīq), disebut dalam prasasti dari kota Yathill (Barqish). Prasasti itu dicatat pada saat pembangunan sebuah bangunan di masa pemerintahannya. Nama raja dan putranya disebutkan untuk mengukuhkan tanggal pembangunan—seperti "pada zaman raja X".

Nama Waqah'il Shadiq juga muncul di Qarnu (ibukota), kemungkinan terkait dengan proyek pembangunan lainnya.

3. Abkarib Yitha': Pemimpin Koloni Utara

Raja Abkarib Yitha' (atau Abkarib Yitha') disebut dalam prasasti yang ditemukan di Al-'Ula (Dedan), kota oasis di utara Hijaz yang menjadi koloni dagang Ma'in. Prasasti itu ditulis oleh seorang pria dari klan Gharyat (atau Ghariyah) yang membeli sebuah properti. Ia mempersembahkan kurban kepada dewa Nikrah dan dewa-dewi Ma'in lainnya untuk memohon perlindungan atas hartanya. Ia juga mengutuk siapa pun yang merusak prasasti itu.

Dalam prasasti itu, nama Abkarib Yitha' disebut sebagai raja Ma'in, diikuti oleh nama Waqah'il Shadiq (ayahnya?). Penulis artikel (Jawad 'Ali) berpendapat bahwa frasa di antara kedua nama itu seharusnya dibaca "ibn" (anak), bukan "wa" (dan). Jadi yang benar: Abkarib Yitha', raja Ma'in, putra Waqah'il Shadiq. Ini masuk akal — biasanya kita menyebut raja dulu, lalu ayahnya.

4. 'Am Yitha' Nabath: Penguasa Yathill

Nama raja 'Am Yitha' Nabath (atau 'Ammyitha' Nabath) muncul dalam prasasti dari Yathill (Barqish). Ia adalah putra Abkarib Yitha' (yang di atas). Prasasti ini berkaitan dengan penetapan tanah suci untuk dewi 'Athtar Shariqan (Athtar yang Timur) di Yathill, yang dijadikan wakaf (tanah yang tidak boleh dijual, semacam tanah suci).

Albright menempatkan 'Am Yitha' Nabath sekitar 300 SM (dalam kelompok pertama raja-rajanya), sementara putranya Abkarib (yang lebih muda?) ia tempatkan di akhir abad ke-2 SM. Perbedaan ini menunjukkan betapa fleksibelnya penafsiran para ahli.

5. Abi Yada' Yitha': Pembangun Kota Qarnu

Raja Abi Yada' Yitha' (atau Abiyada' Yitha') adalah salah satu penguasa Ma'in yang paling banyak meninggalkan jejak. Sebuah prasasti panjang (Halévy 192 + Glaser 1150) dari kota Qarnu menceritakan proyek besar:

Seorang pejabat bernama 'Alman bin 'Amkarib dari klan Dzu Hadzar (Āl Hadzar), seorang pemimpin dan sahabat raja, bersama putra-putranya (Yausa'il, Yadzkur'il, Sa'd'il, Wahb'il, Yasma'il) memperbaiki parit-parit kota, merenovasi tembok-tembok, dan membangun lingkungan baru di kota Qarnu.

Mereka melakukan semua itu sebagai bentuk pengabdian kepada dewa-dewa Ma'in: 'Athtar Dzu QabdhWadd, dan Nikrah, serta untuk menyenangkan hati raja.

Proyek ini dilakukan di lingkungan kota bernama "Ramasy" , dan meluas hingga ke daerah "Syaluwat" . Setelah selesai, mereka menyembelih hewan kurban untuk para dewa. Prasasti ini adalah contoh sempurna dari dokumen pembangunan kota kuno.

6. Abi Yada' Yitha' dan Hubungan dengan Hadhramaut

Prasasti penting lain (Halévy 193) juga menyebut Abi Yada' Yitha'. Ia menceritakan hubungan politik antara Ma'in dan Hadhramaut. Seorang raja Hadhramaut bernama Ma'dikarib (dari keluarga yang sama dengan raja Ma'in) mendedikasikan benteng "Kharif" untuk dewa 'Athtar Dzu Qabdh. Benteng itu dibangun oleh Shahr 'Illan bin Shadiq'il, raja Hadhramaut, dan kemudian diserahkan kepadanya sebagai hadiah untuk keponakannya, Abi Yada' Yitha', raja Ma'in.

Ini membuktikan bahwa keluarga kerajaan Ma'in dan Hadhramaut memiliki hubungan darah yang erat — dan saling mendukung.

7. Abi Yada' Yitha' dan Perang Utara-Selatan

Prasasti yang paling dramatis adalah Glaser 1115 = Halévy 535 (juga dari masa Abi Yada' Yitha'). Prasasti ini berbicara tentang perang antara "Dzu Yaminat" (Selatan) dan "Dzu Syamat" (Utara).

Siapa yang dimaksud dengan Utara dan Selatan? Winckler berpendapat bahwa "Selatan" adalah Kerajaan Ma'in, sementara "Utara" merujuk pada kerajaan "Aribi" (Arab badui) yang wilayahnya mencapai Damaskus.

Prasasti itu ditulis sebagai ucapan syukur karena sebuah kafilah besar selamat dari serangan di jalan antara Ma'in (atau Ma'un / Māwān) dan Rakmat. Para pejabat yang menulis prasasti bernama 'Am Shadiq (atau 'Am Yishdiq) dan Sa'd bin Walak — dua orang berpangkat tinggi yang mengelola wilayah "Mushri" dan "Ma'in Mishran" (koloni Ma'in di Mesir?).

Mereka bersyukur kepada para dewa karena melindungi kafilah tersebut. Mereka juga menyebut bahwa perang pecah di tengah-tengah "Mushri" , melibatkan "Madhay" (Media/Persia?) dan "Mushri" (Mesir?). Untungnya, harta benda orang Ma'in di wilayah itu tetap selamat.

Kafilah itu akhirnya tiba dengan selamat di perbatasan kota Qarnu. Sebagai ungkapan syukur, mereka mempercantik kuil Tan'im (mungkin di dekat kota suci).

Dalam doa penutup, mereka memohon perlindungan dewa-dewa Ma'in: 'Athtar Shariqan (Athtar Timur), 'Athtar Dzu QabdhWaddNikrah'Athtar Dzu Yahriq, dan Dzat Nasyaq (dewi?), serta semua dewa Ma'in dan Yathill. Mereka juga menyebut raja mereka Abi Yada' Yitha' dan pangeran Ma'dikarib bin Alif' Yitha' (keponakannya), dan seluruh rakyat Ma'in dan Yathill.

Prasasti ini adalah dokumen luar biasa tentang perdagangan jarak jauh, bahaya perjalanan, diplomasi, dan kepercayaan religius Kerajaan Ma'in.


Perbedaan Kronologi yang Mencengangkan

Untuk menunjukkan betapa sengitnya perdebatan para ahli, mari bandingkan perkiraan masa pemerintahan beberapa raja menurut Albright dan Philby:

Raja

Perkiraan Albright

Perkiraan Philby

'Am Yitha' Nabath

~300 SM

~1040 SM

Abi Yada' Yitha'

~343 SM

~935 SM

Alif' Yitha' (anak Shadiq'il)

~400 SM (raja pertama)

~1000 SM (bukan raja pertama)

Perbedaan 700 tahun! Tidak heran jika diskusi tentang kronologi Ma'in bisa berlangsung tanpa akhir.


Kesimpulan: Masih Banyak Pekerjaan Rumah

Apa yang dapat kita simpulkan dari perdebatan panjang ini?

  1. Kita belum memiliki daftar raja Ma'in yang pasti. Perbedaan pendapat para ahli sangat besar, dan tidak ada konsensus di depan mata.
  2. Prasasti masih menjadi sumber utama, tetapi sayangnya mayoritas prasasti tidak bertarikh dan tidak memberi petunjuk tentang suksesi.
  3. Penggalian arkeologi yang sistematis dan mendalam sangat diperlukan. Prasasti yang ditemukan selama ini kebanyakan dari permukaan tanah. Masih ribuan prasasti yang terkubur di bawah reruntuhan kota-kota Ma'in — di Al-Jawf, di Dedan, di Mesir, dan di tempat lain.
  4. Analisis modern seperti radiocarbon dating dan paleografi komparatif dapat membantu menjembatani perbedaan pendapat. Namun, tanpa prasasti yang menyebut peristiwa sinkron dengan kerajaan lain (Mesir, Yunani, atau Asyur), sulit untuk memastikan.
  5. Yang terpenting, Kerajaan Ma'in adalah peradaban yang nyata dan besar — bukan legenda. Mereka memiliki raja, kuil, tentara, sistem irigasi, koloni dagang, dan hubungan internasional. Mereka layak mendapatkan tempat yang lebih dikenal dalam sejarah Arab kuno.

Mudah-mudahan suatu hari nanti, para arkeolog akan menggali lebih dalam dan menemukan "perpustakaan" prasasti Ma'in yang akan menjawab semua pertanyaan kita. Sampai saat itu tiba, kita hanya bisa bersabar dan menghargai kerja keras para sarjana yang telah berusaha merangkai teka-teki ini.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran