Nasihat Para Sahabat Kepada Al-Husain bin Ali Radhiyallahu 'Anhu Agar Tidak Keluar Menuju Irak

Foto bergaya sinematik memperlihatkan suasana musyawarah di sebuah gurun pasir yang luas pada abad ke-7. Di bagian tengah, tampak seorang pria berwibawa mengenakan jubah hijau tua (tsaub) dan sorban senada yang menutupi wajahnya, berdiri menghadap sekelompok pria dan wanita yang duduk melingkar di atas permadani tipis. Di latar belakang, terlihat sebagian pengikut dan kafilah dengan unta serta keledai beban mulai berjalan menjauh, mencerai-berai ke berbagai arah melintasi perbukitan pasir gersang di bawah terik matahari. Adegan ini memvisualisasikan momen emosional ketika Al-Husain menyampaikan bahwa para pendukung di Irak telah membelot, dan memberikan kebebasan bagi siapa saja yang ingin kembali pulang demi keselamatan mereka.

Ketika orang-orang mulai merasakan tanda-tanda keberangkatan beliau, mereka merasa khawatir atas keselamatan beliau dan memperingatkannya. Orang-orang yang berpandangan lurus serta mencintai beliau memberikan saran agar beliau tidak keluar menuju Irak. Mereka meminta beliau untuk tetap tinggal di Makkah, serta mengingatkan beliau tentang apa yang telah menimpa ayah dan saudaranya (Al-Hasan) bersama penduduk Irak dahulu.

Nasihat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu

Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Al-Husain bin Ali meminta masukan dariku untuk keluar (ke Irak), maka aku katakan kepadanya: 'Sekiranya hal itu tidak membuat orang-orang meremehkanku dan meremehkanmu, tentu aku akan mencengkeramkan tanganku pada rambut kepalamu (untuk menahanmu).' Namun, tanggapan yang beliau berikan kepadaku adalah dengan berkata: 'Sungguh, aku lebih memilih terbunuh di tempat ini dan itu daripada aku menghalalkan kehormatan kota ini (Makkah).'" Ibnu Abbas melanjutkan: "Kata-kata itulah yang membuat jiwaku merelakan keberangkatannya."

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas mendatangi Al-Husain seraya berkata: "Wahai sepupuku, sesungguhnya aku berusaha membuat diriku sabar namun aku tidak mampu. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu dalam urusan ini hingga engkau binasa. Sesungguhnya penduduk Irak adalah kaum yang suka berkhianat, maka janganlah engkau mendekati mereka. Tetaplah tinggal di negeri ini (Makkah), karena engkau adalah pemimpin penduduk Hijaz. Jika penduduk Irak benar-benar menginginkanmu sebagaimana yang mereka klaim, maka tulislah surat kepada mereka agar mereka mengusir musuh mereka terlebih dahulu, baru setelah itu engkau datang menemui mereka. Namun, jika engkau tetap bersikeras untuk keluar, maka berangkatlah menuju Yaman, karena di sana terdapat benteng-benteng dan celah-celah gunung yang aman, wilayahnya luas, dan ayahmu dahulu memiliki basis pendukung di sana. Di sana engkau bisa mengucilkan diri dari manusia, lalu engkau bisa mengirimkan surat dan mengutus para dai ke berbagai tempat. Dengan begitu, aku berharap apa yang engkau inginkan dapat terwujud dalam kondisi yang aman."

Al-Husain lalu menjawab: "Wahai sepupuku, demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah seorang pemberi nasihat yang tulus lagi penuh kasih sayang. Akan tetapi, aku telah membulatkan tekad untuk berangkat."

Ibnu Abbas kemudian berkata: "Jika engkau memang harus pergi, maka janganlah engkau membawa serta wanita dan anak-anak kecilmu. Demi Allah, aku khawatir engkau akan terbunuh sementara mereka menyaksikanmu, sebagaimana Utsman terbunuh sementara istri dan anak-anaknya menyaksikannya."

Nasihat Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu

Asy-Sya'bi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar saat itu berada di Madinah ketika sampai kabar kepadanya bahwa Al-Husain telah berangkat menuju Irak. Maka ia segera mengejar beliau hingga berhasil menyusulnya di tempat pemberhentian yang berjarak sejauh tiga malam perjalanan.

Ibnu Umar bertanya: "Ke mana engkau hendak pergi?"

Al-Husain menjawab: "Ke Irak." Beliau lalu mengeluarkan lembaran-lembaran surat seraya berkata: "Ini adalah surat-surat dan baiat mereka kepadaku."

Ibnu Umar berkata: "Janganlah engkau mendatangi mereka."

Namun Al-Husain menolak.

Ibnu Umar kemudian berkata: "Sesungguhnya aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadis: Jibril pernah datang menemui Nabi lalu memberikan pilihan kepada beliau antara dunia atau akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak menghendaki dunia. Dan sesungguhnya engkau adalah bagian dari daging Rasulullah . Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalian (Ahlul Bait) yang akan menguasai urusan dunia ini, dan tidaklah Allah memalingkan dunia itu dari kalian melainkan karena itu adalah hal terbaik bagi kalian."

Namun, Al-Husain tetap menolak untuk kembali. Maka Ibnu Umar merangkul beliau, menangis, dan berkata: "Aku menitipkanmu kepada Allah dari kematian akibat pembunuhan."

Nasihat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu

Abu Said Al-Khudri berkata: "Al-Husain telah mengalahkanku (tetap bersikeras) untuk keluar. Sungguh, aku telah berkata kepadanya: 'Bertakwalah kepada Allah di dalam dirimu, dan tetaplah tinggal di rumahmu, serta janganlah engkau keluar melawan pemimpinmu!'"

Nasihat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'Anhu

Jabir bin Abdullah berkata: "Aku berbicara kepada Al-Husain seraya berkata: 'Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah engkau membenturkan manusia antara sebagian dengan sebagian yang lain! Demi Allah, apa yang kalian jalani (dalam perdamaian) di masa Muawiyah adalah jalan yang lebih lurus dan terbimbing. Maka tetaplah di tempatmu!' Namun beliau menolak, hingga aku pun menangis."

Nasihat Al-Miswar bin Makhramah Radhiyallahu 'Anhu

Al-Miswar bin Makhramah menulis surat kepada Al-Husain: "Janganlah engkau sampai teperdaya oleh surat-surat penduduk Irak!"

Nasihat Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu 'Anhu

Abdullah bin Az-Zubair berkata kepada Al-Husain: "Ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan mendatangi suatu kaum yang telah membunuh ayahmu dan menikam saudaramu?!"

Sikap Al-Farazdaq Saat Bertemu Al-Husain

Al-Farazdaq—sang penyair—bertemu dengan Al-Husain di tengah perjalanan. Al-Husain bertanya kepadanya tentang kondisi orang-orang yang ditinggalkannya di belakangnya (di Irak). Maka Al-Farazdaq menjawab dengan sebuah ungkapan yang sangat masyhur: "Hati orang-orang itu bersamamu, namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah, sedangkan ketentuan itu turun dari langit dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki."

Al-Husain menjawab: "Engkau benar. Jika ketentuan itu turun membawa apa yang kita sukai, maka kita memuji Allah atas nikmat-nikmat-Nya, dan Dialah tempat meminta pertolongan untuk menunaikan syukur. Namun, jika takdir menghalangi apa yang kita harapkan, maka tidaklah melampaui batas orang yang niatnya adalah kebenaran dan ketakwaan menjadi isi hatinya."

Setiap kali Al-Husain melewati tempat sumber air milik orang-orang Arab, mereka selalu mengikuti dan menyertai beliau.

Beliau sempat berpapasan dengan seorang pria dari kabilah Bani Asad, lalu bertanya kepadanya tentang kabar orang-orang. Pria itu menjawab: "Demi Allah, tidaklah aku keluar dari Kufah melainkan setelah Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah terbunuh, dan aku melihat jasad keduanya diseret pada kaki mereka di pasar." Maka Al-Husain mulai mengucapkan kalimat istirja' berulang-ulang: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali).

Melihat hal itu, kami (orang-orang yang menyertai) berkata kepada beliau: "Demi Allah, demi Allah, jagalah dirimu!"

Namun Al-Husain menjawab: "Tidak ada kebaikan lagi dalam hidup setelah kematian mereka berdua."

Maka kami pun berkata: "Semoga Allah memilihkan yang terbaik bagimu."

Maka Al-Husain berkata: "Para pengikut kita telah meninggalkan kita. Oleh karena itu, siapa pun di antara kalian yang ingin kembali, silakan kembali tanpa ada rasa keberatan, dan tidak ada beban tanggung jawab (perjanjian) lagi dari kami atas dirinya." Perawi berkata: "Maka orang-orang pun mulai memisahkan diri darinya dan bercerai-berai ke kanan dan ke kiri (bagaikan kisah tercerai-berainya kaum Saba), hingga akhirnya yang tersisa hanyalah para sahabatnya yang ikut bersama beliau sejak dari Makkah." Al-Husain melakukan hal tersebut tidak lain karena beliau menyadari bahwa orang-orang Arab Badui yang mengikuti beliau selama di perjalanan, mereka ikut hanya karena mengira beliau akan mendatangi suatu negeri yang penduduknya telah tunduk dan siap patuh kepada beliau. Oleh karena itu, beliau tidak suka jika mereka tetap berjalan bersamanya tanpa mengetahui kondisi nyata yang akan mereka hadapi. Beliau sangat tahu bahwa jika beliau menjelaskan perkara yang sebenarnya secara jujur, maka tidak akan ada yang sudi menemani beliau kecuali orang-orang yang memang rida dan setia untuk sehidup semati bersama beliau.


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Biografi dan Kekhalifahan Beliau

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu