Nasihat Para Sahabat Kepada Al-Husain bin Ali Radhiyallahu 'Anhu Agar Tidak Keluar Menuju Irak
Ketika orang-orang mulai merasakan tanda-tanda keberangkatan beliau, mereka merasa khawatir atas keselamatan beliau dan memperingatkannya. Orang-orang yang berpandangan lurus serta mencintai beliau memberikan saran agar beliau tidak keluar menuju Irak. Mereka meminta beliau untuk tetap tinggal di Makkah, serta mengingatkan beliau tentang apa yang telah menimpa ayah dan saudaranya (Al-Hasan) bersama penduduk Irak dahulu.
Nasihat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu
Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah,
dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Al-Husain bin Ali meminta
masukan dariku untuk keluar (ke Irak), maka aku katakan kepadanya: 'Sekiranya
hal itu tidak membuat orang-orang meremehkanku dan meremehkanmu, tentu aku akan
mencengkeramkan tanganku pada rambut kepalamu (untuk menahanmu).' Namun,
tanggapan yang beliau berikan kepadaku adalah dengan berkata: 'Sungguh, aku
lebih memilih terbunuh di tempat ini dan itu daripada aku menghalalkan kehormatan
kota ini (Makkah).'" Ibnu Abbas melanjutkan: "Kata-kata itulah yang
membuat jiwaku merelakan keberangkatannya."
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas mendatangi
Al-Husain seraya berkata: "Wahai sepupuku, sesungguhnya aku berusaha
membuat diriku sabar namun aku tidak mampu. Aku sangat mengkhawatirkan
keselamatanmu dalam urusan ini hingga engkau binasa. Sesungguhnya penduduk Irak
adalah kaum yang suka berkhianat, maka janganlah engkau mendekati mereka.
Tetaplah tinggal di negeri ini (Makkah), karena engkau adalah pemimpin penduduk
Hijaz. Jika penduduk Irak benar-benar menginginkanmu sebagaimana yang mereka
klaim, maka tulislah surat kepada mereka agar mereka mengusir musuh mereka
terlebih dahulu, baru setelah itu engkau datang menemui mereka. Namun, jika
engkau tetap bersikeras untuk keluar, maka berangkatlah menuju Yaman, karena di
sana terdapat benteng-benteng dan celah-celah gunung yang aman, wilayahnya
luas, dan ayahmu dahulu memiliki basis pendukung di sana. Di sana engkau bisa
mengucilkan diri dari manusia, lalu engkau bisa mengirimkan surat dan mengutus
para dai ke berbagai tempat. Dengan begitu, aku berharap apa yang engkau
inginkan dapat terwujud dalam kondisi yang aman."
Al-Husain lalu menjawab: "Wahai sepupuku, demi Allah,
sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah seorang pemberi nasihat yang tulus
lagi penuh kasih sayang. Akan tetapi, aku telah membulatkan tekad untuk
berangkat."
Ibnu Abbas kemudian berkata: "Jika engkau memang harus
pergi, maka janganlah engkau membawa serta wanita dan anak-anak kecilmu. Demi
Allah, aku khawatir engkau akan terbunuh sementara mereka menyaksikanmu,
sebagaimana Utsman terbunuh sementara istri dan anak-anaknya
menyaksikannya."
Nasihat Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu
Asy-Sya'bi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar saat itu berada di
Madinah ketika sampai kabar kepadanya bahwa Al-Husain telah berangkat menuju
Irak. Maka ia segera mengejar beliau hingga berhasil menyusulnya di tempat
pemberhentian yang berjarak sejauh tiga malam perjalanan.
Ibnu Umar bertanya: "Ke mana engkau hendak pergi?"
Al-Husain menjawab: "Ke Irak." Beliau lalu
mengeluarkan lembaran-lembaran surat seraya berkata: "Ini adalah
surat-surat dan baiat mereka kepadaku."
Ibnu Umar berkata: "Janganlah engkau mendatangi
mereka."
Namun Al-Husain menolak.
Ibnu Umar kemudian berkata: "Sesungguhnya aku akan
menyampaikan kepadamu sebuah hadis: Jibril pernah datang menemui Nabi ﷺ
lalu memberikan pilihan kepada beliau antara dunia atau akhirat, maka beliau
memilih akhirat dan tidak menghendaki dunia. Dan sesungguhnya engkau adalah
bagian dari daging Rasulullah ﷺ.
Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalian (Ahlul Bait) yang akan menguasai
urusan dunia ini, dan tidaklah Allah memalingkan dunia itu dari kalian
melainkan karena itu adalah hal terbaik bagi kalian."
Namun, Al-Husain tetap menolak untuk kembali. Maka Ibnu Umar
merangkul beliau, menangis, dan berkata: "Aku menitipkanmu kepada Allah
dari kematian akibat pembunuhan."
Nasihat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu
Abu Said Al-Khudri berkata: "Al-Husain telah
mengalahkanku (tetap bersikeras) untuk keluar. Sungguh, aku telah berkata
kepadanya: 'Bertakwalah kepada Allah di dalam dirimu, dan tetaplah tinggal di
rumahmu, serta janganlah engkau keluar melawan pemimpinmu!'"
Nasihat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'Anhu
Jabir bin Abdullah berkata: "Aku berbicara kepada
Al-Husain seraya berkata: 'Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah engkau
membenturkan manusia antara sebagian dengan sebagian yang lain! Demi Allah, apa
yang kalian jalani (dalam perdamaian) di masa Muawiyah adalah jalan yang lebih
lurus dan terbimbing. Maka tetaplah di tempatmu!' Namun beliau menolak, hingga
aku pun menangis."
Nasihat Al-Miswar bin Makhramah Radhiyallahu 'Anhu
Al-Miswar bin Makhramah menulis surat kepada Al-Husain:
"Janganlah engkau sampai teperdaya oleh surat-surat penduduk Irak!"
Nasihat Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu 'Anhu
Abdullah bin Az-Zubair berkata kepada Al-Husain: "Ke
mana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan mendatangi suatu kaum yang telah
membunuh ayahmu dan menikam saudaramu?!"
Sikap Al-Farazdaq Saat Bertemu Al-Husain
Al-Farazdaq—sang penyair—bertemu dengan Al-Husain di tengah
perjalanan. Al-Husain bertanya kepadanya tentang kondisi orang-orang yang
ditinggalkannya di belakangnya (di Irak). Maka Al-Farazdaq menjawab dengan
sebuah ungkapan yang sangat masyhur: "Hati orang-orang itu bersamamu,
namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah, sedangkan ketentuan itu turun
dari langit dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki."
Al-Husain menjawab: "Engkau benar. Jika ketentuan itu
turun membawa apa yang kita sukai, maka kita memuji Allah atas
nikmat-nikmat-Nya, dan Dialah tempat meminta pertolongan untuk menunaikan
syukur. Namun, jika takdir menghalangi apa yang kita harapkan, maka tidaklah
melampaui batas orang yang niatnya adalah kebenaran dan ketakwaan menjadi isi
hatinya."
Setiap kali Al-Husain melewati tempat sumber air milik
orang-orang Arab, mereka selalu mengikuti dan menyertai beliau.
Beliau sempat berpapasan dengan seorang pria dari kabilah
Bani Asad, lalu bertanya kepadanya tentang kabar orang-orang. Pria itu
menjawab: "Demi Allah, tidaklah aku keluar dari Kufah melainkan setelah
Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah terbunuh, dan aku melihat jasad keduanya
diseret pada kaki mereka di pasar." Maka Al-Husain mulai mengucapkan
kalimat istirja' berulang-ulang: "Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un" (Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya
kita akan kembali).
Melihat hal itu, kami (orang-orang yang menyertai) berkata
kepada beliau: "Demi Allah, demi Allah, jagalah dirimu!"
Namun Al-Husain menjawab: "Tidak ada kebaikan lagi
dalam hidup setelah kematian mereka berdua."
Maka kami pun berkata: "Semoga Allah memilihkan yang
terbaik bagimu."
Maka Al-Husain berkata: "Para pengikut kita telah
meninggalkan kita. Oleh karena itu, siapa pun di antara kalian yang ingin
kembali, silakan kembali tanpa ada rasa keberatan, dan tidak ada beban tanggung
jawab (perjanjian) lagi dari kami atas dirinya." Perawi berkata: "Maka
orang-orang pun mulai memisahkan diri darinya dan bercerai-berai ke kanan dan
ke kiri (bagaikan kisah tercerai-berainya kaum Saba), hingga akhirnya yang
tersisa hanyalah para sahabatnya yang ikut bersama beliau sejak dari
Makkah." Al-Husain melakukan hal tersebut tidak lain karena beliau
menyadari bahwa orang-orang Arab Badui yang mengikuti beliau selama di
perjalanan, mereka ikut hanya karena mengira beliau akan mendatangi suatu
negeri yang penduduknya telah tunduk dan siap patuh kepada beliau. Oleh karena
itu, beliau tidak suka jika mereka tetap berjalan bersamanya tanpa mengetahui
kondisi nyata yang akan mereka hadapi. Beliau sangat tahu bahwa jika beliau
menjelaskan perkara yang sebenarnya secara jujur, maka tidak akan ada yang sudi
menemani beliau kecuali orang-orang yang memang rida dan setia untuk sehidup
semati bersama beliau.
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar