Nabonidus di Hijaz: Ketika Raja Babilonia Menjadi Penghuni Oase
Sepuluh Tahun di Tengah Padang Pasir
Bagaimana rasanya jika seorang raja besar meninggalkan
istananya yang megah, lalu memilih tinggal di tengah gurun selama sepuluh
tahun? Itulah yang dilakukan Raja Nabonidus dari Babilonia.
Selama satu dasawarsa, ia berkelana di wilayah Hijaz yang
baru ditaklukkannya — sebuah wilayah membentang sepanjang 250 mil dari
Taima di utara hingga Yatsrib (Madinah) di selatan, dan selebar 100 mil.
Ia mengunjungi penduduk setempat, tinggal di antara suku-suku Arab, berbaur
dengan mereka, lalu kembali ke Taima, ibu kota barunya, untuk
mengurus pemerintahan.
Yang menarik, selama tinggal di antara orang Arab,
Nabonidus mengadopsi sebagian kebiasaan dan istilah mereka.
Prasasti yang ditemukan di Harran bahkan memuat kata-kata serapan dari bahasa
Arab — bukti nyata akulturasi budaya.
Pemukim Baru dari Babilonia: Cikal Bakal Komunitas Yahudi
di Hijaz?
Nabonidus tidak datang sendirian. Ia membawa serta banyak
orang dari Irak (Babilonia) dan menempatkan mereka sebagai pemukim di
kota-kota Hijaz yang telah ditaklukkannya: Taima, Dedan, Fadak, Khaibar, Yadi',
dan Yatsrib. Ia secara teratur mengunjungi mereka dari Taima untuk memeriksa
keadaan dan melindungi mereka dari serangan suku-suku badui yang tidak tunduk.
Di antara para pemukim itu terdapat orang-orang
Yahudi — baik dari Babilonia maupun dari Palestina. Beberapa ahli
bahkan berpendapat bahwa komunitas Yahudi sudah ada di Hijaz sebelum kedatangan
Nabonidus, mungkin sejak masa pembuangan setelah kehancuran Bait Suci pertama.
Namun, Nabonidus-lah yang secara sistematis mendirikan koloni-koloni Yahudi di
wilayah ini.
Raja Babilonia itu menerapkan kebijakan tanah: ia merampas
properti dari pemilik Arab setempat dan memberikannya kepada para
pendatang baru. Ia juga menempatkan pasukan di setiap lokasi untuk melindungi
mereka dari serangan badui.
Namun, rencananya gagal total. Ketika ancaman Persia di
bawah Koresh (Cyrus) semakin dekat ke Babilon, Nabonidus terpaksa
kembali ke ibu kotanya sekitar tahun 540 SM. Proyek aneksasi permanen
Hijaz ke Babilonia pun mati. Akan tetapi, sebagian besar pemukim baru
tetap tinggal — terutama orang-orang Yahudi, yang seiring waktu
berkembang menjadi koloni-koloni kuat di Khaibar, Fadak, dan akhirnya Yatsrib (Madinah),
tempat mereka masih ada hingga masa Nabi Muhammad ﷺ.
Jejak Arkeologis: Naskah Gulungan Laut Mati dan Prasasti
dari 'Ana
Penemuan Naskah Gulungan Laut Mati (Qumran) —
yang terjadi sekitar waktu yang sama dengan penemuan prasasti Harran — mungkin
menyimpan informasi berharga yang dapat menjelaskan alasan Nabonidus membawa
orang Yahudi bersamanya ke Hijaz. Sayangnya, penelitian lebih lanjut masih
diperlukan.
Kita juga memiliki prasasti dari kota 'Ana (di
perbatasan Irak-Suriah) yang membuktikan adanya hubungan dagang antara
Babilonia dan Arabia. Prasasti itu juga menunjukkan pengaruh budaya
Babilonia dalam kehidupan orang Arab.
Akan tetapi, tentang hubungan antara Babilonia dan
penduduk Teluk Persia (Bahrain, dll.), kita hampir tidak tahu
apa-apa. Satu-satunya informasi: Babilonia telah menganeksasi Dilmun
(Bahrain) tak lama setelah 600 SM dan menunjuk seorang gubernur
Babilonia di sana.
Persia Achaemenid: Ketika Badui Menjadi Sekutu, Bukan
Budak
Sekarang kita beralih ke babak baru: masa Kekaisaran
Persia Achaemenid (550–330 SM) yang didirikan oleh Koresh
Agung (Cyrus).
Penulis mengakui bahwa pengetahuan kita tentang hubungan
Arab dengan Persia Achaemenid dan Parthia sangat sedikit. Namun,
beberapa informasi berharga dapat dikumpulkan dari sejarawan Yunani Herodotus (abad
ke-5 SM) dan Xenophon.
Ekspansi Arab di Bawah Naungan Persia
Pada masa Achaemenid, suku-suku Arab terus bergerak
ke utara dan barat tanpa perlawanan berarti dari Persia. Mereka
memasuki Irak, memperluas wilayah pemukiman mereka di Suriah, dan
menembus Semenanjung Sinai hingga tepi Sungai Nil. Wilayah Mesir
timur pun disebut "Arabia" karena dominasi Arab di sana.
Mengapa Persia membiarkan ini? Karena orang Arab tidak
mengancam kekuasaan mereka. Sebaliknya, Arab menjadi tameng alami di
perbatasan gurun.
Peran Krusial Arab dalam Penaklukan Persia atas Mesir
(525 SM)
Kisah paling dramatis terjadi ketika Raja Kambyzes
(Cambyses) II — putra Koresh— bersiap menyerbu Mesir pada 525
SM. Tantangan terbesar bukanlah tentara Firaun, melainkan padang
pasir yang sangat luas antara Palestina dan Mesir. Pasukan besar butuh
air, dan di gurun, air sangat langka.
Seorang pembelot Yunani bernama Phanes —
yang membelot dari Firaun Amasis ke Kambyzes — memberi saran cerdas: "Mintalah
bantuan orang Arab!"
Kambyzes mengirim utusan kepada Raja Arab (sayangnya
Herodotus tidak menyebut namanya; mungkin seorang raja Nabatean atau pemimpin
suku besar di Sinai). Raja Arab itu setuju membantu. Mereka menyiapkan kantong-kulit
besar berisi air, memuatnya ke punggung unta, dan mengirimkannya ke tentara
Persia.
Berkat bantuan Arab, Kambyzes berhasil menyeberangi gurun
dan menaklukkan Mesir. Tanpa mereka, mustahil.
Herodotus memuji orang Arab: "Orang-orang Arab
tidak pernah tunduk sebagai budak kepada Persia. Mereka adalah sekutu dan
sahabat." Sungguh pujian yang luar biasa dari seorang Yunani yang
biasa meremehkan "barbar"!
Sungai Corys: Fakta atau Legenda?
Herodotus juga menceritakan kisah aneh. Ia menyebut bahwa di
tanah Arab ada sungai besar bernama Corys yang mengalir ke
Laut Merah. Ia mengklaim bahwa raja Arab membuat pipa dari kulit sapi
dan hewan lain sepanjang 12 hari perjalanan untuk mengalirkan air dari
sungai itu ke reservoir di padang pasir!
Para ahli modern sepakat bahwa ini legenda belaka.
Tidak ada sungai besar di Hijaz. Yang mungkin terjadi: orang Arab menyimpan air
hujan di reservoir batu (hawd, cistern) yang ditutup rapat,
sehingga hanya pemiliknya yang tahu. Mereka memberi air ke tentara Persia dari
reservoir-reservoir itu. Namun, penjelajah Yunani yang mendengar cerita ini
mengubahnya menjadi cerita fantastis tentang sungai dan pipa kulit.
Batas Wilayah Arab di Palestina
Herodotus memberikan informasi geografis berharga. Ia
menyatakan bahwa wilayah antara Fenisia (Lebanon) dan
kota Kadytis dikuasai oleh "orang Suriah
Palestina" . Namun, wilayah antara Kadytis dan Jenysus (diidentifikasi
sebagai Khan Yunus di Gaza selatan) dikuasai oleh "raja-raja
Arab" .
Para ahli berbeda pendapat: Kadytis adalah Yerusalem atau Gaza.
Apapun itu, jelas bahwa pada zaman Kambyzes (abad ke-6 SM), orang Arab sudah
menguasai Gaza selatan dan Semenanjung Sinai hingga perbatasan Mesir. Gaza
sendiri adalah kota Arab sepenuhnya, diperintah oleh raja-raja
Arab (mungkin dari dinasti Lihyan atau Nabatean). Kota ini menjadi pelabuhan
dagang penting, tempat para pedagang dari Yaman dan Teluk (Gerrha) datang
membawa rempah, dupa, dan emas, lalu kembali membawa hasil bumi Mediterania.
Terusan Firaun: Mengubah Jalur Perdagangan Dunia
Raja Darius Agung (Darius I, 522–486 SM) melanjutkan
proyek ambisius yang telah dimulai oleh Firaun Necho II (610–595
SM) dan mungkin Rameses II lebih awal: menggali
terusan yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah. Dengan terusan
ini, kapal bisa berlayar langsung dari Mediterania ke Laut Merah dan Samudra
Hindia, tanpa perlu melewati gurun.
Herodotus mencatat bahwa Necho mengirim ekspedisi
Fenisia yang berlayar mengelilingi Afrika — sebuah prestasi luar
biasa. Darius menyelesaikan terusan itu dan dengan bangga
memproklamirkan: "Aku memerintahkan pembangunan terusan ini dari
Sungai Nil yang mengalir di Mesir hingga ke Laut yang mengalir dari Persia.
Terusan itu digali sesuai perintahku, dan kapal-kapal berlayar dari Mesir ke
Persia melalui terusan ini."
Efeknya terhadap perdagangan Arab sangat besar. Sebelumnya,
pedagang Arab menguasai jalur darat rempah dari Yaman ke Gaza. Sekarang, kapal
Persia bisa membawa rempah langsung dari India ke Mesir melalui Laut Merah dan
terusan. Ini memotong keuntungan pedagang Arab dan memberi tekanan ekonomi
besar pada kerajaan-kerajaan Arab utara.
Arab dalam Prasasti dan Daftar Upeti Persia
Dalam prasasti Behistun yang monumental,
Darius mencantumkan "Arabaya" (Arabia) sebagai salah
satu provinsi kekaisarannya. Namun, para ahli meyakini bahwa
"Arabaya" di sini bukan seluruh Jazirah Arab, melainkan padang
pasir Suriah (Badiyat asy-Syam) yang didominasi oleh suku-suku Arab
nomaden.
Herodotus juga menyebut bahwa Arab membayar upeti
tahunan berupa wewangian (kemenyan, mur, dupa) — bukan emas atau
perak, karena itu yang paling berharga dari tanah Arab. Upeti ini kemungkinan
dibayar oleh pedagang Arab yang berdagang di Gaza atau oleh suku-suku di Sinai,
sebagai "biaya lisensi" untuk berdagang di wilayah Persia.
Penting dicatat: Meskipun tercatat sebagai
"provinsi", Herodotus dengan tegas menyatakan bahwa orang
Arab tidak pernah diperbudak. Mereka adalah sekutu (symmachoi) ,
bukan budak (douloi). Ini keistimewaan yang tidak diberikan kepada bangsa lain.
Serdadu Arab dalam Pasukan Persia: Pemanah Unta dari
Gurun
Kontribusi Arab tidak hanya logistik, tetapi juga militer.
Xenophon mencatat bahwa pasukan Koresh Agung dalam penaklukan Babilonia (539
SM) sudah diperkuat oleh pemanah unta Arab.
Herodotus menggambarkan prajurit Arab:
- Mereka
mengenakan pakaian panjang disebut "zeira" ,
diikat dengan sabuk.
- Mereka
membawa busur panjang yang digantung di bahu kanan atau
di punggung saat tidak digunakan.
- Kata
"zeira" kemungkinan adalah bentuk Yunani dari "sira'" atau "sira'" —
sejenis pakaian bergaris dari Yaman, terbuat dari katun atau sutra
campuran. Pakaian bergaris masih populer di Timur Tengah hingga kini.
Arab juga menyediakan pasukan unta (hajjanah) untuk
berperang di padang pasir. Biasanya mereka ditempatkan di barisan
belakang pasukan berkuda, karena kuda takut pada bau unta. Jika unta
ditempatkan di depan, kuda akan panik.
Pasukan unta Arab tetap digunakan oleh berbagai kekaisaran
hingga abad ke-20 untuk melindungi perbatasan gurun.
Raja Xerxes I (485–465 SM), yang menyerbu
Yunani, juga memasukkan kontingen Arab dalam pasukannya yang
besar — baik pemanah maupun pasukan unta.
Catatan Akhir: Warisan yang Terlupakan
Kisah Nabonidus di Hijaz dan peran Arab di bawah Persia
Achaemenid menunjukkan betapa terhubungnya Jazirah Arab dengan peradaban besar
dunia kuno. Jauh dari stereotip "gurun yang terisolasi", orang Arab
adalah:
- Penerima (pemukim
Babilonia dibawa ke Hijaz)
- Pemberi (bantuan
air ke Kambyzes)
- Pedagang (rempah
dari Yaman ke Gaza)
- Prajurit (pemanah
unta dalam pasukan Persia)
- Sekutu (bukan
budak, dihormati oleh Persia)
Mereka juga menjadi jembatan budaya: kata-kata
Arab masuk ke dalam prasasti Babilonia, teknologi Persia mempengaruhi kerajinan
Arab, dan orang Yahudi dari Babilonia menetap di Hijaz — membawa tradisi yang
kemudian berinteraksi dengan munculnya Islam.
Sejarah ini mengajarkan kita bahwa hubungan antarbangsa
sudah berlangsung ribuan tahun sebelum era modern. Gurun bukanlah penghalang,
melainkan koridor peradaban.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar