Nabonidus di Hijaz: Ketika Raja Babilonia Menjadi Penghuni Oase

Lukisan pemandangan oasis Taima di utara Arab Saudi sekitar tahun 540 SM. Di tengah gurun pasir keemasan, terdapat sebuah kota kecil dengan tembok batu, pohon kurma, dan mata air jernih. Di halaman istana bergaya Babilonia (dinding bata biru dengan relief singa bersayap), seorang raja berjubah panjang Babilonia dan mahkota tinggi (Nabonidus) sedang duduk di singgasana. Di hadapannya, beberapa pemuka Arab berjubah putih dan sorban duduk bersila di atas karpun merah, sambil berdiskusi dengan tenang. Di latar depan, seekor unta beristirahat di dekat sumur batu, dan beberapa kendi tanah liat berjejer rapi. Seorang juru tulis sedang mencatat sesuatu di lempengan tanah liat. Suasana diplomatik dan damai, penuh kemegahan kuno.

Sepuluh Tahun di Tengah Padang Pasir

Bagaimana rasanya jika seorang raja besar meninggalkan istananya yang megah, lalu memilih tinggal di tengah gurun selama sepuluh tahun? Itulah yang dilakukan Raja Nabonidus dari Babilonia.

Selama satu dasawarsa, ia berkelana di wilayah Hijaz yang baru ditaklukkannya — sebuah wilayah membentang sepanjang 250 mil dari Taima di utara hingga Yatsrib (Madinah) di selatan, dan selebar 100 mil. Ia mengunjungi penduduk setempat, tinggal di antara suku-suku Arab, berbaur dengan mereka, lalu kembali ke Taima, ibu kota barunya, untuk mengurus pemerintahan.

Yang menarik, selama tinggal di antara orang Arab, Nabonidus mengadopsi sebagian kebiasaan dan istilah mereka. Prasasti yang ditemukan di Harran bahkan memuat kata-kata serapan dari bahasa Arab — bukti nyata akulturasi budaya.


Pemukim Baru dari Babilonia: Cikal Bakal Komunitas Yahudi di Hijaz?

Nabonidus tidak datang sendirian. Ia membawa serta banyak orang dari Irak (Babilonia) dan menempatkan mereka sebagai pemukim di kota-kota Hijaz yang telah ditaklukkannya: Taima, Dedan, Fadak, Khaibar, Yadi', dan Yatsrib. Ia secara teratur mengunjungi mereka dari Taima untuk memeriksa keadaan dan melindungi mereka dari serangan suku-suku badui yang tidak tunduk.

Di antara para pemukim itu terdapat orang-orang Yahudi — baik dari Babilonia maupun dari Palestina. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa komunitas Yahudi sudah ada di Hijaz sebelum kedatangan Nabonidus, mungkin sejak masa pembuangan setelah kehancuran Bait Suci pertama. Namun, Nabonidus-lah yang secara sistematis mendirikan koloni-koloni Yahudi di wilayah ini.

Raja Babilonia itu menerapkan kebijakan tanah: ia merampas properti dari pemilik Arab setempat dan memberikannya kepada para pendatang baru. Ia juga menempatkan pasukan di setiap lokasi untuk melindungi mereka dari serangan badui.

Namun, rencananya gagal total. Ketika ancaman Persia di bawah Koresh (Cyrus) semakin dekat ke Babilon, Nabonidus terpaksa kembali ke ibu kotanya sekitar tahun 540 SM. Proyek aneksasi permanen Hijaz ke Babilonia pun mati. Akan tetapi, sebagian besar pemukim baru tetap tinggal — terutama orang-orang Yahudi, yang seiring waktu berkembang menjadi koloni-koloni kuat di Khaibar, Fadak, dan akhirnya Yatsrib (Madinah), tempat mereka masih ada hingga masa Nabi Muhammad .


Jejak Arkeologis: Naskah Gulungan Laut Mati dan Prasasti dari 'Ana

Penemuan Naskah Gulungan Laut Mati (Qumran) — yang terjadi sekitar waktu yang sama dengan penemuan prasasti Harran — mungkin menyimpan informasi berharga yang dapat menjelaskan alasan Nabonidus membawa orang Yahudi bersamanya ke Hijaz. Sayangnya, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Kita juga memiliki prasasti dari kota 'Ana (di perbatasan Irak-Suriah) yang membuktikan adanya hubungan dagang antara Babilonia dan Arabia. Prasasti itu juga menunjukkan pengaruh budaya Babilonia dalam kehidupan orang Arab.

Akan tetapi, tentang hubungan antara Babilonia dan penduduk Teluk Persia (Bahrain, dll.), kita hampir tidak tahu apa-apa. Satu-satunya informasi: Babilonia telah menganeksasi Dilmun (Bahrain) tak lama setelah 600 SM dan menunjuk seorang gubernur Babilonia di sana.


Persia Achaemenid: Ketika Badui Menjadi Sekutu, Bukan Budak

Sekarang kita beralih ke babak baru: masa Kekaisaran Persia Achaemenid (550–330 SM) yang didirikan oleh Koresh Agung (Cyrus).

Penulis mengakui bahwa pengetahuan kita tentang hubungan Arab dengan Persia Achaemenid dan Parthia sangat sedikit. Namun, beberapa informasi berharga dapat dikumpulkan dari sejarawan Yunani Herodotus (abad ke-5 SM) dan Xenophon.

Ekspansi Arab di Bawah Naungan Persia

Pada masa Achaemenid, suku-suku Arab terus bergerak ke utara dan barat tanpa perlawanan berarti dari Persia. Mereka memasuki Irak, memperluas wilayah pemukiman mereka di Suriah, dan menembus Semenanjung Sinai hingga tepi Sungai Nil. Wilayah Mesir timur pun disebut "Arabia" karena dominasi Arab di sana.

Mengapa Persia membiarkan ini? Karena orang Arab tidak mengancam kekuasaan mereka. Sebaliknya, Arab menjadi tameng alami di perbatasan gurun.


Peran Krusial Arab dalam Penaklukan Persia atas Mesir (525 SM)

Kisah paling dramatis terjadi ketika Raja Kambyzes (Cambyses) II — putra Koresh— bersiap menyerbu Mesir pada 525 SM. Tantangan terbesar bukanlah tentara Firaun, melainkan padang pasir yang sangat luas antara Palestina dan Mesir. Pasukan besar butuh air, dan di gurun, air sangat langka.

Seorang pembelot Yunani bernama Phanes — yang membelot dari Firaun Amasis ke Kambyzes — memberi saran cerdas: "Mintalah bantuan orang Arab!"

Kambyzes mengirim utusan kepada Raja Arab (sayangnya Herodotus tidak menyebut namanya; mungkin seorang raja Nabatean atau pemimpin suku besar di Sinai). Raja Arab itu setuju membantu. Mereka menyiapkan kantong-kulit besar berisi air, memuatnya ke punggung unta, dan mengirimkannya ke tentara Persia.

Berkat bantuan Arab, Kambyzes berhasil menyeberangi gurun dan menaklukkan Mesir. Tanpa mereka, mustahil.

Herodotus memuji orang Arab: "Orang-orang Arab tidak pernah tunduk sebagai budak kepada Persia. Mereka adalah sekutu dan sahabat." Sungguh pujian yang luar biasa dari seorang Yunani yang biasa meremehkan "barbar"!


Sungai Corys: Fakta atau Legenda?

Herodotus juga menceritakan kisah aneh. Ia menyebut bahwa di tanah Arab ada sungai besar bernama Corys yang mengalir ke Laut Merah. Ia mengklaim bahwa raja Arab membuat pipa dari kulit sapi dan hewan lain sepanjang 12 hari perjalanan untuk mengalirkan air dari sungai itu ke reservoir di padang pasir!

Para ahli modern sepakat bahwa ini legenda belaka. Tidak ada sungai besar di Hijaz. Yang mungkin terjadi: orang Arab menyimpan air hujan di reservoir batu (hawd, cistern) yang ditutup rapat, sehingga hanya pemiliknya yang tahu. Mereka memberi air ke tentara Persia dari reservoir-reservoir itu. Namun, penjelajah Yunani yang mendengar cerita ini mengubahnya menjadi cerita fantastis tentang sungai dan pipa kulit.


Batas Wilayah Arab di Palestina

Herodotus memberikan informasi geografis berharga. Ia menyatakan bahwa wilayah antara Fenisia (Lebanon) dan kota Kadytis dikuasai oleh "orang Suriah Palestina" . Namun, wilayah antara Kadytis dan Jenysus (diidentifikasi sebagai Khan Yunus di Gaza selatan) dikuasai oleh "raja-raja Arab" .

Para ahli berbeda pendapat: Kadytis adalah Yerusalem atau Gaza. Apapun itu, jelas bahwa pada zaman Kambyzes (abad ke-6 SM), orang Arab sudah menguasai Gaza selatan dan Semenanjung Sinai hingga perbatasan Mesir. Gaza sendiri adalah kota Arab sepenuhnya, diperintah oleh raja-raja Arab (mungkin dari dinasti Lihyan atau Nabatean). Kota ini menjadi pelabuhan dagang penting, tempat para pedagang dari Yaman dan Teluk (Gerrha) datang membawa rempah, dupa, dan emas, lalu kembali membawa hasil bumi Mediterania.


Terusan Firaun: Mengubah Jalur Perdagangan Dunia

Raja Darius Agung (Darius I, 522–486 SM) melanjutkan proyek ambisius yang telah dimulai oleh Firaun Necho II (610–595 SM) dan mungkin Rameses II lebih awal: menggali terusan yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah. Dengan terusan ini, kapal bisa berlayar langsung dari Mediterania ke Laut Merah dan Samudra Hindia, tanpa perlu melewati gurun.

Herodotus mencatat bahwa Necho mengirim ekspedisi Fenisia yang berlayar mengelilingi Afrika — sebuah prestasi luar biasa. Darius menyelesaikan terusan itu dan dengan bangga memproklamirkan: "Aku memerintahkan pembangunan terusan ini dari Sungai Nil yang mengalir di Mesir hingga ke Laut yang mengalir dari Persia. Terusan itu digali sesuai perintahku, dan kapal-kapal berlayar dari Mesir ke Persia melalui terusan ini."

Efeknya terhadap perdagangan Arab sangat besar. Sebelumnya, pedagang Arab menguasai jalur darat rempah dari Yaman ke Gaza. Sekarang, kapal Persia bisa membawa rempah langsung dari India ke Mesir melalui Laut Merah dan terusan. Ini memotong keuntungan pedagang Arab dan memberi tekanan ekonomi besar pada kerajaan-kerajaan Arab utara.


Arab dalam Prasasti dan Daftar Upeti Persia

Dalam prasasti Behistun yang monumental, Darius mencantumkan "Arabaya" (Arabia) sebagai salah satu provinsi kekaisarannya. Namun, para ahli meyakini bahwa "Arabaya" di sini bukan seluruh Jazirah Arab, melainkan padang pasir Suriah (Badiyat asy-Syam) yang didominasi oleh suku-suku Arab nomaden.

Herodotus juga menyebut bahwa Arab membayar upeti tahunan berupa wewangian (kemenyan, mur, dupa) — bukan emas atau perak, karena itu yang paling berharga dari tanah Arab. Upeti ini kemungkinan dibayar oleh pedagang Arab yang berdagang di Gaza atau oleh suku-suku di Sinai, sebagai "biaya lisensi" untuk berdagang di wilayah Persia.

Penting dicatat: Meskipun tercatat sebagai "provinsi", Herodotus dengan tegas menyatakan bahwa orang Arab tidak pernah diperbudak. Mereka adalah sekutu (symmachoi) , bukan budak (douloi). Ini keistimewaan yang tidak diberikan kepada bangsa lain.


Serdadu Arab dalam Pasukan Persia: Pemanah Unta dari Gurun

Kontribusi Arab tidak hanya logistik, tetapi juga militer. Xenophon mencatat bahwa pasukan Koresh Agung dalam penaklukan Babilonia (539 SM) sudah diperkuat oleh pemanah unta Arab.

Herodotus menggambarkan prajurit Arab:

  • Mereka mengenakan pakaian panjang disebut "zeira" , diikat dengan sabuk.
  • Mereka membawa busur panjang yang digantung di bahu kanan atau di punggung saat tidak digunakan.
  • Kata "zeira" kemungkinan adalah bentuk Yunani dari "sira'" atau "sira'" — sejenis pakaian bergaris dari Yaman, terbuat dari katun atau sutra campuran. Pakaian bergaris masih populer di Timur Tengah hingga kini.

Arab juga menyediakan pasukan unta (hajjanah) untuk berperang di padang pasir. Biasanya mereka ditempatkan di barisan belakang pasukan berkuda, karena kuda takut pada bau unta. Jika unta ditempatkan di depan, kuda akan panik.

Pasukan unta Arab tetap digunakan oleh berbagai kekaisaran hingga abad ke-20 untuk melindungi perbatasan gurun.

Raja Xerxes I (485–465 SM), yang menyerbu Yunani, juga memasukkan kontingen Arab dalam pasukannya yang besar — baik pemanah maupun pasukan unta.


Catatan Akhir: Warisan yang Terlupakan

Kisah Nabonidus di Hijaz dan peran Arab di bawah Persia Achaemenid menunjukkan betapa terhubungnya Jazirah Arab dengan peradaban besar dunia kuno. Jauh dari stereotip "gurun yang terisolasi", orang Arab adalah:

  • Penerima (pemukim Babilonia dibawa ke Hijaz)
  • Pemberi (bantuan air ke Kambyzes)
  • Pedagang (rempah dari Yaman ke Gaza)
  • Prajurit (pemanah unta dalam pasukan Persia)
  • Sekutu (bukan budak, dihormati oleh Persia)

Mereka juga menjadi jembatan budaya: kata-kata Arab masuk ke dalam prasasti Babilonia, teknologi Persia mempengaruhi kerajinan Arab, dan orang Yahudi dari Babilonia menetap di Hijaz — membawa tradisi yang kemudian berinteraksi dengan munculnya Islam.

Sejarah ini mengajarkan kita bahwa hubungan antarbangsa sudah berlangsung ribuan tahun sebelum era modern. Gurun bukanlah penghalang, melainkan koridor peradaban.


Sumber :

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain

Penaklukan Baitul Maqdis

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah