Kisah Para Penguasa Yunani di Laut Merah: Ketika Pedagang Arab Bersaing dengan Armada Ptolemeus
Ketika Laut Menjadi Ladang Pertempuran Ekonomi
Pada abad ke-2 SM, dinasti Ptolemeus di Mesir sedang dalam
masa kejayaan. Ptolemeus VIII Euergetes II (memerintah 146–117
SM) memusatkan perhatiannya pada Laut Merah, Samudra Hindia, dan India. Ia
membangun armada laut yang kuat, dan yang lebih penting, ia menciptakan pasukan
keamanan laut khusus untuk melindungi kapal-kapal dagang dari serangan
bajak laut. Ini bisa dibilang "polisi maritim" pertama yang tercatat
dalam sejarah kawasan ini.
Eudoxus: Perintis Jalan Laut ke India
Seorang kapten ulung dari kota Kyzikus (di pesisir Laut
Marmara) bernama Eudoxus berhasil mencapai India dan menjalin
hubungan dagang langsung antara Mesir dan anak benua itu. Ia mempelajari
rahasia pelayaran, angin musim, dan tempat-tempat persinggahan yang aman.
Pengetahuannya kemudian mengilhami seorang nakhoda lain
bernama Hippalus untuk memanfaatkan angina monsoon secara
sistematis. Penemuan "rute Hippalus" ini menjadi revolusi dalam
pelayaran Samudra Hindia. Berkat ekspedisi Eudoxus dan Hippalus, kapal-kapal
Ptolemeus bisa berlayar langsung dari Mesir ke India tanpa menyusuri pantai
secara perlahan.
Dampak bagi Pedagang Arab: Dari Laut ke Darat
Masuknya kapal-kapal Yunani ke Laut Merah membawa
konsekuensi besar bagi para pedagang Arab. Sebelumnya, komoditas dari India,
Afrika, dan Yaman diangkut dengan karavan unta melalui wilayah Nabatean di
utara Hijaz. Para pedagang Nabatean mendapat keuntungan besar sebagai
perantara.
Ketika kapal Ptolemeus mulai berlayar langsung ke
pelabuhan-pelabuhan Arab, situasi berubah drastis. Kapal-kapal ini membeli
barang langsung dari sumbernya, menjual barang bawaan mereka sendiri, dan
menghilangkan peran perantara. Pedagang Arab kehilangan pendapatan dari laut.
Mereka terpaksa mengandalkan jalur darat saja—yang tentu lebih lambat dan
mahal.
Namun, menariknya, orang-orang Arab di barat Jazirah
(Hijaz) tidak begitu tertarik pada pelayaran laut. Bahkan ada
pepatah yang dinisbahkan kepada Ahiqar (seorang bijak dari
Mesopotamia): "Jangan ajak orang Arab ke laut, dan jangan ajak
penduduk Sidon ke padang pasir." Ini menunjukkan bahwa masyarakat
Arab barat lebih nyaman di darat, sementara pelayaran dikuasai oleh orang
Yunani, Fenisia (dari Sidon), dan kemudian Romawi.
Pelabuhan-Pelabuhan Penting di Era Ptolemeus
Untuk memperkuat kendali mereka atas perdagangan Laut Merah,
Ptolemeus dan penerusnya mengandalkan beberapa pelabuhan kunci:
1. Aila (Aqaba)
Pelabuhan ini di ujung utara Teluk Aqaba berada di bawah
kekuasaan Ptolemeus. Dari sini, barang didistribusikan ke Palestina dan Suriah.
2. Leuke Kome (Kota Putih)
Salah satu pelabuhan Nabatean yang paling penting di pesisir
Hijaz. Namanya berarti "Kota Putih" dalam bahasa Yunani. Di sinilah
kapal-kapal dari Mesir singgah untuk berdagang dengan Nabatean. Karavan
besar—sebesar pasukan militer—mengangkut barang antara Petra (ibukota
Nabatean) dan Leuke Kome.
Para ahli masih berbeda pendapat di mana tepatnya lokasi
Leuke Kome. Ada yang menyebut Al-Haura (dekat Yanbu), ada
yang Al-Muwaylih (dekat perbatasan Yordania-Saudi), atau Aynunah (dekat
Duba). Yang pasti, pelabuhan ini sangat ramai hingga abad ke-1 M, sebelum mulai
pudar perannya ketika Romawi menguasai Mesir dan mengubah rute pelayaran.
3. Muza (Mukha / Mocha)
Kota ini terletak di pesisir selatan Yaman. Muza sudah
menjadi pelabuhan penting sejak sekitar 300–250 SM. Dalam Periplus
Maris Erythraei (buku panduan pelayaran abad ke-1 M), Muza disebut
tunduk pada raja Khariba'il (Charibael) dari kerajaan Saba'
dan Himyar. Pelabuhan ini juga menguasai wilayah seberang laut di Afrika
(Azania).
4. Eudaemon (Aden)
Aden—yang berarti "surga"—dikenal oleh para pelaut
Yunani dan Romawi sebagai salah satu pelabuhan terbaik di selatan Arab.
Kapal-kapal dari India dan Afrika singgah di sini untuk beristirahat, mengisi
air dan perbekalan, sebelum melanjutkan perjalanan ke utara. Aden menjaga pintu
gerbang Bab al-Mandab, sehingga secara strategis sangat penting.
5. Arethusa, Larissa, dan Chalkis
Penulis klasik menyebut adanya kota-kota atau koloni Yunani
dengan nama-nama ini di pesisir selatan Arab, dekat Aden. Kemungkinan besar
koloni-koloni ini didirikan pada masa Ptolemeus, tetapi setelah kekuasaan
Yunani runtuh, koloni-koloni itu tidak bertahan lama dan dihancurkan oleh
suku-suku Arab setempat.
6. Ampelone
Koloni lain yang didirikan oleh orang-orang dari Miletos (kota
Yunani di Asia Kecil) pada masa Ptolemeus II Philadelphus. Koloni ini berfungsi
sebagai pangkalan untuk kapal-kapal Yunani yang berlayar ke selatan.
Prasasti Arab di Mesir: Bukti Perdagangan Langsung
Penemuan arkeologis yang paling menarik dari periode ini
adalah prasasti Arab Selatan (Musnad) yang ditemukan di Mesir,
di jalan antara Qena dan Qusayr, serta di wilayah Edfu. Prasasti ini ditulis
pada tahun ke-22 pemerintahan seorang raja Ptolemeus—mungkin Ptolemeus II, III,
atau VIII, tetapi para ahli memperkirakan tidak lebih awal dari 261 SM.
Isi prasasti itu menceritakan tentang seorang pria
bernama Zayd'il bin Zayd (atau Zayd il bin Zayd), dari
klan Dhiran. Ia adalah seorang pendeta di sebuah kuil Mesir—sebuah
fakta luar biasa karena menunjukkan bahwa orang asing dapat menjadi imam di
kuil Mesir pada periode ini, asalkan mereka berguna.
Apa yang dilakukan Zayd'il? Ia bertugas mendatangkan kemenyan
(mur) dan alang-alang wangi (calamus) untuk kuil-kuil Mesir.
Barang-barang ini berasal dari Arab Selatan dan Afrika. Prasasti tersebut
mencatat bahwa pada bulan Hathor (Oktober-November), Zayd'il
mengalami kerugian besar—mungkin kapalnya tenggelam atau kafilahnya dirampok.
Kuil-kuil Mesir kemudian membantunya dengan memberinya kain lenan
(byssus) yang ia jual di luar negeri, dan keuntungannya digunakan
untuk membeli wewangian yang menjadi hutangnya. Pada bulan Kiyahk (Desember-Januari),
ia melunasi semua hutangnya.
Prasasti ini adalah bukti langka tentang hubungan
dagang langsung antara Arab dan Mesir pada abad ke-3 SM. Seorang Arab
tidak hanya menjadi pedagang tetapi juga pendeta—integrasi budaya yang nyata.
Pulau Failaka: Ikaros di Teluk Persia
Di sisi lain Semenanjung Arab, di Teluk Persia, para
arkeolog telah menggali Pulau Failaka (Kuwait). Pulau ini oleh
orang Yunani disebut Ikaros karena bentuknya mirip dengan
pulau Ikaros di Laut Aegea. Di sini ditemukan kuil Yunani, Akropolis,
dan tembok benteng.
Yang lebih penting, ditemukan koin-koin Yunani,
termasuk:
- Koin
dari masa Seleukos I (sekitar 310–300 SM) dengan nama
Alexander Agung
- Koin
dari masa Antiokhus III (memerintah 223–187 SM)
Penemuan ini membuktikan bahwa orang Yunani (baik di bawah
Seleukia maupun mungkin Ptolemeus) menguasai pulau ini dan menggunakannya
sebagai pangkalan militer untuk mengawasi pelayaran di Teluk
Persia. Dari sini, mereka dapat mengendalikan perdagangan, melindungi kapal
dari bajak laut, dan mengawasi muara sungai Tigris dan Efrat.
Pulau ini juga menjadi tempat tinggal bagi para tentara dan
pedagang Yunani, beberapa di antaranya mungkin menetap dan berbaur dengan
penduduk setempat.
Perubahan Kekuasaan: Yunani Pergi, Romawi Datang, Arab
Bertahan
Pada akhirnya, kekuasaan Ptolemeus di Laut Merah runtuh
ketika Romawi menaklukkan Mesir pada 30 SM. Romawi mewarisi
armada dan jalur perdagangan yang dibangun Yunani. Namun, di Teluk Persia,
kekuasaan Yunani (Seleukia) lebih dulu runtuh karena tekanan dari Parthia (Persia)
dan pemberontakan lokal.
Kesimpulannya: Selama sekitar dua abad (abad ke-3 hingga
ke-1 SM), orang Yunani pernah menjadi kekuatan maritim dominan di Laut Merah
dan Teluk Persia. Mereka membangun pelabuhan, melindungi kapal, dan membuka
rute langsung ke India. Pedagang Arab terdesak ke jalur darat, tetapi tidak
pernah tersingkir sepenuhnya. Sebaliknya, beberapa orang Arab—seperti
Zayd'il—berhasil memanfaatkan situasi dan bahkan menjadi penghubung antara
budaya Yunani-Mesir dan Arab.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar