Ketika Romawi Merebut Aden: Cerita tentang Pelabuhan yang Diperebutkan
Pendudukan Aden: Balas Dendam Romawi setelah Kegagalan
Setelah ekspedisi Aelius Gallus ke Yaman berakhir dengan
kegagalan (sekitar 25 SM), Romawi tidak menyerah. Mereka mengubah strategi.
Jika tidak bisa menaklukkan Arabia dari darat, mengapa tidak merebut
pelabuhan-pelabuhan strategis dari laut?
Salah satu target utama mereka adalah Aden —
kota pelabuhan yang terletak di ujung selatan Jazirah Arab, menjaga pintu
gerbang Bab al-Mandab. Para peneliti modern meyakini bahwa Romawi berhasil
menguasai Aden sekitar tahun 24 M, tidak lama setelah kampanye
Gallus yang gagal.
Mengapa Aden begitu penting? Karena letaknya yang strategis.
Kapal-kapal dari Mesir, India, dan Afrika singgah di sini untuk beristirahat,
mengisi air, dan berdagang. Aden adalah pusat transit rempah-rempah, kemenyan,
dan mutiara. Dengan menguasai Aden, Romawi dapat mengendalikan jalur
perdagangan Laut Merah dan Samudra Hindia.
Kapan Tepatnya Aden Jatuh? Perbedaan Pendapat Para
Sejarawan
Sejarawan tidak sepakat kapan tepatnya Aden jatuh ke tangan
Romawi. Beberapa teori:
- Mommsen berpendapat
bahwa peristiwa itu terjadi pada masa Caius Caesar (cucu
Augustus), ketika armada Romawi di Laut Merah merebut sebagian kecil tanah
Arab — kemungkinan Aden.
- Sejarawan
lain menyebut masa Kaisar Claudius (41–54 M) atau Nero (54–68
M).
- Ada
yang berpendapat bahwa "Kaisar" yang dimaksud dalam sumber kuno
bukanlah kaisar Romawi, melainkan pangeran lokal! Nama "Kaisar"
mungkin adalah bentuk rusak dari "Elisar" atau "Ilasar" ,
yaitu "al-Asy'ar" — sebuah suku atau kerajaan
di sekitar Aden. Jika ini benar, maka yang menghancurkan Aden bukanlah
Romawi, melainkan suku Arab itu sendiri dalam konflik internal.
Namun, pendapat yang paling umum diterima adalah bahwa Romawi
memang berhasil menguasai Aden pada abad pertama Masehi, menjadikannya
pangkalan militer dan komersial.
Aden sebagai Pangkalan Romawi: Kapal, Tentara, dan
Penampungan Air
Setelah menguasai Aden, Romawi melakukan beberapa hal
penting:
- Membangun
garnisun (pos militer) untuk melindungi kepentingan mereka.
- Menempatkan
kapal-kapal bersenjata yang membawa pemanah untuk melawan bajak
laut yang mengganggu perdagangan.
- Memanfaatkan
sistem penampungan air raksasa (cistern) di daerah Kawah (Crater)
yang sudah ada sejak sebelum Masehi. Tangki ini mampu menampung
sekitar 20 juta galon air hujan — cukup untuk memasok
kebutuhan seluruh kota dan armada kapal.
Aden pun berkembang menjadi pelabuhan tersibuk di kawasan
itu. Penulis Periplus Maris Erythraei (abad ke-1 M) menyebut
Aden sebagai "Eudaimon Arabia" (Arabia yang Makmur)
— tempat di mana kapal-kapal dari Mesir dan India bertukar muatan. Di sini,
rempah-rempah dari Selatan diangkut ke Utara, dan barang-barang Mediterania
dibawa ke Timur.
Kota-Kota Yunani yang Hancur di Sekitar Aden
Pliny the Elder menyebut bahwa di dekat Aden terdapat
kota-kota bernama Arethusa, Larissa, dan Chalcis —
nama-nama yang sangat Yunani. Ini adalah koloni-koloni yang didirikan oleh
dinasti Ptolemeus dari Mesir (Yunani) pada abad ke-3 hingga ke-2 SM. Mereka
membangun kota-kota ini untuk melindungi perdagangan mereka dan mengendalikan
pantai Arab.
Namun, pada masa Romawi (atau sedikit sebelumnya), kota-kota
ini telah hancur — kemungkinan akibat perang antara suku-suku
Arab setempat dan penguasa Yunani, atau karena Romawi sendiri yang
menghancurkannya untuk digantikan dengan sistem mereka.
Pelabuhan Qana: Gerbang Rempah Hadhramaut
Selain Aden, ada pelabuhan penting lain yang dikunjungi
kapal-kapal Romawi: Qana (disebut juga Cane, Kana). Pelabuhan
ini terletak di pantai selatan Yaman, di wilayah kerajaan Hadhramaut yang
kaya akan kemenyan dan mur.
Penulis Periplus mencatat bahwa:
- Qana
berada di bawah kekuasaan Raja Eleazus (mungkin al-'Aziz
atau al-'Izz), penguasa Hadhramaut yang beribu kota di Shabwah.
- Kemenyan
diangkut dari tempat asalnya (di pegunungan) ke Qana menggunakan rakit
yang terbuat dari kulit kambing yang ditiup — rakit terapung yang
membawa kantong-kantong kulit berisi udara, diikat ke balok kayu. Ini
adalah metode transportasi sungai yang unik.
- Dari
Qana, rempah-rempah dikirim ke India, Teluk Persia, dan pantai Afrika.
Qana tetap menjadi pelabuhan penting hingga abad ke-6 M,
ketika krisis iklim dan politik melemahkan Hadhramaut.
Trajan dan Provinsi Arabia (106 M): Jalan Raya dari Laut
Merah ke Damaskus
Lompatan besar berikutnya terjadi pada masa Kaisar Trajan (98–117
M). Setelah menaklukkan Kerajaan Nabatean pada tahun 106 M, ia mendirikan Provincia
Arabia (Provinsi Arabia), yang mencakup wilayah Petra, Bostra (Busra),
dan sebagian gurun Suriah.
Trajan membangun jalan raya militer dari Aila (Aqaba)
di Laut Merah, melewati Petra, menuju Bostra (di selatan
Damaskus), lalu ke Damaskus sendiri. Jalan ini memungkinkan pasukan Romawi
bergerak cepat dan mengendalikan karavan dagang. Bekas jalan tersebut masih
bisa dilihat hingga kini, dengan stasiun-stasiun di Umm al-Jimal (Kampung
Unta) dan Khirbet Samra — situs arkeologi yang menunjukkan
percampuran budaya Nabatean, Romawi, dan Bizantium.
Trajan juga memperbaiki kanal kuno antara Sungai Nil dan
Laut Merah, serta memperkuat armada Romawi dengan kapal-kapal baru yang lebih
besar. Tujuannya: memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Konon, suatu ketika Trajan sampai di kota Charax (di
ujung utara Teluk Persia). Di sana ia melihat sebuah kapal sedang bersiap
berlayar ke India. Sang kaisar yang sudah lanjut usia menghela nafas,
"Andai aku seusia Alexander..." Ia iri kepada Alexander Agung yang
mencapai India di usia muda.
Orang Arab dalam Catatan Romawi: Dari Sekutu hingga
Pembelot
Kontrol Romawi atas Arabia tidak berjalan mulus. Suku-suku
Arab acap kali memberontak atau membelot ke Persia.
Pangeran Ma'nu yang Membangkang
Di dekat kota Edessa (Turki tenggara), ada
seorang pemimpin Arab bernama Ma'nu (Ma'an). Ketika Kaisar
Trajan memintanya datang untuk berbicara, Ma'nu menolak karena takut ditangkap.
Ia melarikan diri ke pedalaman. Romawi lalu merebut kota Singara (Sinjar,
Irak utara) yang berada di bawah kekuasaannya.
Pengeboman Arabia Eudaimon oleh Septimius Severus
Kaisar Septimius Severus (193–211 M), yang
berasal dari keluarga Romawi-Afrika, melancarkan kampanye militer besar melawan
Parthia (Persia) pada tahun 197–199 M. Putranya, Caracalla,
memimpin ekspedisi ke "Arabia Eudaimon" (Arabia
Selatan). Sejarawan tidak tahu persis seberapa jauh mereka maju — mungkin
sampai ke daerah Tsamud atau bahkan lebih selatan.
Namun, sumber-sumber Yunani menyebut bahwa orang Arab Skenitai (suku
yang tinggal di kemah) menderita kerugian besar akibat ekspedisi ini.
Kaisar Arab di Tahta Romawi
Fakta menarik: Beberapa kaisar Romawi berasal dari keluarga
Arab! Mereka memiliki nama-nama yang menunjukkan asal-usul Arab:
- Julia
Domna (istri Septimius Severus) — dari keluarga imam dewa
matahari di Emesa (Homs). Putrinya, Julia Maesa, adalah nenek
dari...
- Elagabalus (218–222
M) — kaisar gila yang memaksakan pemujaan dewa matahari Elagabal (ba'al)
ke seluruh Romawi.
- Severus
Alexander (222–235 M) — sepupu Elagabalus, lebih moderat.
- Philippus
the Arab (244–249 M) — bernama asli Marcus Julius
Philippus, berasal dari kota Shahba di wilayah Hauran. Ia menjadi
kaisar yang cukup sukses dan berusaha mencapai India, tetapi gagal karena
perang melawan Persia.
Jadi, pada abad ke-3 M, seorang Arab asli bisa duduk di
singgasana Romawi!
Ketika Orang Arab Melarikan Diri dari Wajib Militer
Romawi
Romawi merekrut orang Arab untuk menjaga perbatasan gurun
yang panjang. Banyak dari mereka adalah tentara bayaran atau wajib
militer paksa. Tidak heran jika banyak yang mencoba melarikan diri.
Buktinya ada dalam prasasti Safaitic (tulisan
Arab Utara kuno) yang ditemukan di gurun Suriah dan Yordania. Beberapa contoh:
- "Lari
dari Romawi" — seorang pria bernama Hannin bin
Hannin bin Ayas menulis bahwa ia kabur dari "Numarat
as-Sulthan" (Kemah Kecil Penguasa). Ia menganggap tahun
kaburnya begitu penting sehingga dijadikan patokan penanggalan. Ia
membangun makam untuk saudarinya dan bersyukur selamat.
- "Selamat
dari Romawi" — seorang lain menulis kalimat pendek: "wa
naja min ar-Rum" (dan ia selamat dari Romawi), lalu menyebutkan ia
kembali ke keluarganya dan menggembalakan kambing.
- "Mengelabui
Romawi" — seorang bernama Suwad bin Yaslam menulis:
"wa kharash ar-Rum" (ia mengelabui Romawi). Artinya, ia berhasil
lolos dari kejaran atau pengawasan mereka.
- "Melarikan
diri dari penjara" — Tim'il menulis:
"wa nafar min ar-Rum" (ia kabur dari Romawi). Mungkin ia
sebelumnya ditangkap, dipenjarakan, lalu melarikan diri.
Para pelarian ini biasanya kembali ke tengah keluarganya di
padang pasir, tempat yang aman dari kejaran tentara Romawi yang tidak bisa
beroperasi jauh di gurun.
Kesimpulan: Dari Invasi ke Adaptasi
Apa yang bisa kita pelajari dari sejarah panjang interaksi
Romawi-Arab ini?
- Invasi
langsung gagal. Ekspedisi Aelius Gallus tidak mencapai tujuannya.
Romawi tidak pernah bisa menaklukkan seluruh jazirah dengan kekuatan
darat.
- Mereka
belajar untuk menguasai laut. Pendudukan Aden dan Qana, penguatan
armada, serta perbaikan kanal adalah langkah cerdas untuk memotong rantai
perdagangan Arab.
- Mereka
merekrut orang Arab sebagai sekutu dan tentara. Romawi sadar
bahwa mereka tidak bisa mengendalikan gurun tanpa bantuan penduduk lokal.
- Namun,
banyak orang Arab yang membelot. Prasasti Safaitic membuktikan
bahwa tidak semua orang Arab senang menjadi bagian dari mesin perang
Romawi. Mereka lebih memilih kebebasan di gurun daripada disiplin barak.
- Romawi
juga menjadi "terarabkan" — melalui kaisar-kaisar asal
Arab seperti Philippus, dan melalui penyebaran budaya timur ke Barat.
Dengan berakhirnya Kekaisaran Romawi Barat (476 M), Romawi
Timur (Bizantium) mewarisi konflik dan kerja sama dengan suku-suku Arab.
Perjuangan menguasai jalur rempah, melawan Persia, dan mempertahankan
perbatasan terus berlanjut hingga munculnya Islam pada abad ke-7 M.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar