Kerajaan Ma'in: Peradaban Arab Kuno yang Hampir Terlupakan
Dari Mana Kita Tahu tentang Ma'in?
Pernahkah Anda mendengar tentang Kerajaan Ma'in?
Jika belum, itu wajar. Selama berabad-abad, nama kerajaan ini hanya dikenal
oleh para penggiat prasasti kuno. Tidak ada satu pun sejarawan Muslim klasik
yang menulis tentang mereka. Padahal, Ma'in adalah salah satu kerajaan
Arab tertua yang pernah tercatat dalam sejarah!
Pengetahuan kita tentang Ma'in berasal dari tiga sumber
utama:
- Prasasti
Musnad — aksara Arab Selatan kuno yang dipahat di batu.
- Penulis
Yunani-Romawi klasik seperti Strabo, Diodorus Siculus, Pliny, dan
Ptolemy.
- Penemuan
arkeolog modern oleh para petualang Eropa yang menjelajahi Yaman
pada abad ke-19 dan ke-20.
Yang paling menarik, prasasti Ma'in ditemukan tidak hanya di
Yaman, tetapi juga di Dedan (Al-Ula, Arab Saudi), di Mesir (Giza),
dan bahkan di pulau Delos (Yunani)! Ini membuktikan bahwa para
saudagar Ma'in adalah pedagang internasional yang tangguh.
Di Mana Letak Kerajaan Ma'in?
Kerajaan Ma'in terletak di daerah Al-Jawf —
sebuah lembah subur di utara Yaman, antara kota Najran dan Hadhramaut. Al-Jawf
dikelilingi pegunungan dari tiga sisi, memiliki sumber air dari Wadi Al-Khard,
serta tanah yang subur karena irigasi dan curah hujan. Ketinggiannya sekitar
1.100 meter di atas permukaan laut.
Wilayah ini penuh dengan ratusan situs arkeologi.
Kota-kota penting Ma'in antara lain:
- Qarnu (Karna)
— ibu kota
- Yathill (Yatsil)
— kota suci
- Nashq (Nasca)
- Barqash (Barraqish)
- Kamna (Kamna)
Seorang pelopor penjelajah Eropa, Carsten Niebuhr,
pernah mengunjungi Al-Jawf pada abad ke-18 dan menggambarkan keindahannya.
Namun, penelitian sistematis baru dimulai pada abad ke-19 oleh orang-orang
seperti Joseph Halévy, Eduard Glaser, Euting,
dan Jaussen.
Ibu Kota yang Hilang
Para penulis klasik menyebut ibu kota Ma'in dengan
nama Carna atau Karna. Dalam prasasti Musnad, nama
itu ditulis Qarnu (atau Qarnā). Lokasinya yang tepat masih
diperdebatkan, tetapi kemungkinan besar berada di dekat kota modern Ma'in yang
masih menyandang nama kerajaan tersebut.
Di samping Qarnu, kota Yathill (sekarang
Barqash) juga sangat penting—mungkin sebagai pusat keagamaan, karena banyak
ditemukan prasasti persembahan kepada dewa-dewa Ma'in.
Siapa yang Menulis tentang Ma'in di Zaman Kuno?
Penulis Yunani pertama yang menyebut Ma'in adalah Diodorus
Siculus (abad ke-1 SM). Ia mencatat bahwa orang Ma'in
(disebutnya Minaioi) adalah saudagar kaya yang menguasai jalur
rempah.
Strabo (juga abad ke-1 SM), mengutip dari Eratosthenes (abad
ke-3 SM), menjelaskan posisi geografis Ma'in: di utara Saba', di barat laut
Qataban, dan di barat Hadhramaut. Ia menyebut kota besar mereka bernama Carna.
Theophrastus (murid Aristoteles) menyebut
wilayah Mamali — yang diduga kuat adalah bentuk rusak dari
"Ma'in".
Pliny the Elder (abad ke-1 M) menyebut Ma'in
berbatasan dengan wilayah Hadhramaut.
Ptolemy (abad ke-2 M) adalah penulis klasik
terakhir yang menyebut Ma'in sebagai "bangsa yang besar". Setelah
itu, nama Ma'in tenggelam dalam kabut sejarah selama hampir 1.700 tahun, hingga
para orientalis Eropa "menemukannya kembali" pada abad ke-19.
Penemuan Kembali Prasasti Ma'in
Pada tahun 1870-an, seorang sarjana Yahudi Prancis
bernama Joseph Halévy menyamar sebagai seorang Yahudi Yaman
dan menyusup ke daerah terlarang Al-Jawf. Ia berhasil mengumpulkan
sekitar 700 prasasti — sebagian besar pendek, tetapi ada 50–60
prasasti yang panjang dan penting. Prasasti-prasasti itu kemudian diberi
kode Halévy 187–266 dari Ma'in, dan Halévy 424–578 dari
Yathill.
Setelah Halévy, datanglah Eduard Glaser dari
Austria (seorang petualang dan ahli epigrafi yang juga menyamar sebagai
Muslim), Euting dari Jerman, dan Jaussen &
Savignac dari Prancis. Mereka menyalin ratusan prasasti lainnya.
Sayangnya, hingga awal abad ke-21, masih banyak prasasti
Ma'in yang belum diterbitkan!
Pada pertengahan abad ke-20, peneliti Mesir mulai
tertarik. Muhammad Taufiq (dari Universitas Fuad I, kini
Universitas Kairo) mengunjungi Al-Jawf dua kali (1944–1945) dan mengambil foto.
Lalu Dr. Ahmad Fakhry (Kurator Museum Mesir) menyusul pada Mei
1947. Namun, penelitian arkeologi skala besar masih sangat terbatas karena
situasi politik Yaman.
Perdebatan Panjang: Kapan Kerajaan Ma'in Berdiri dan
Runtuh?
Inilah masalah paling kontroversial dalam studi Ma'in. Para
ahli sangat berbeda pendapat tentang usia kerajaan ini. Mari
kita lihat spektrum pendapat:
Pendapat "Kuno" (Glaser dan pengikutnya)
Eduard Glaser berpendapat bahwa aksara Musnad
yang digunakan Ma'in berasal dari milenium kedua atau ketiga SM.
Artinya, Kerajaan Ma'in sudah ada sejak 3000–2000 SM — jauh sebelum bangsa
Ibrani! Glaser bahkan menempatkan awal kerajaan sekitar 1500 SM dan
keruntuhannya sekitar 630 SM.
Hommel mendukung Glaser, memperkirakan 1500–1200
SM sebagai awal, dan berakhir sekitar 700 SM.
Philby (penjelajah Inggris) menetapkan awal
pemerintahan raja pertama Ma'in pada 1120 SM, dan raja terakhir yang diketahui
pada 630 SM.
Pendapat "Muda" (Halévy, Müller, Mordtmann,
Meyer, Sprenger, Lidzbarski, dan mayoritas sarjana modern)
Kelompok ini menolak kekunoan yang berlebihan. Argumen
mereka:
- Aksara
tidak mungkin setua itu — aksara Fenisia baru muncul sekitar 1000
SM, dan Musnad kemungkinan diturunkan dari Fenisia (atau sebaliknya). Jadi
tidak mungkin Musnad sudah ada pada 3000 SM.
- Tidak
ada bukti arkeologis yang mendukung penanggalan setua itu.
- Nama
Ma'in tidak disebut dalam kitab-kitab klasik sebelum abad ke-4 atau ke-3
SM — jika mereka sudah ada sejak 1500 SM, pasti akan disebut
lebih awal.
Winnett berpendapat bahwa Ma'in tidak mungkin
lebih tua dari 500 SM. Ia menunjuk pada Saba' dan Dedan yang
disebut dalam Alkitab (Kitab Kejadian) sebagai kerajaan yang lebih tua dari
Ma'in. Ia memperkirakan keruntuhan Ma'in antara 24 SM dan 50 M.
O'Leary menyatakan bahwa semua prasasti Musnad
(Ma'in maupun Saba') tidak ada yang lebih tua dari 700 SM, karena
aksara ini diturunkan dari aksara Fenisia yang muncul sekitar abad ke-8 SM.
Mlaker (1943) menetapkan awal Ma'in pada 725
SM dan keruntuhan pada abad ke-3 SM.
Albright membagi raja-raja Ma'in menjadi tiga
kelompok. Ia menempatkan raja pertama (Yatha' Yitha', putra raja Hadhramaut
Shadiq'il) sekitar 400 SM, dan kerajaan berakhir antara 50–25
SM (atau sekitar 100 SM dalam tulisannya yang lain). Ia mengakui bahwa
kronologi ini masih bisa berubah.
Pendapat "Sangat Muda" (Pirenne dan lainnya)
Sebagian kecil sarjana, seperti Pirenne,
berpendapat bahwa Ma'in masih bertahan hingga setelah Masehi —
mungkin hingga abad ke-1 atau ke-2 M. Buktinya: Ptolemy (abad ke-2 M) masih
menyebut Ma'in sebagai "bangsa yang besar", dan prasasti Ma'in
ditemukan di Giza, Mesir, yang berasal dari abad ke-3 atau ke-2 SM, tetapi bisa
juga lebih muda.
Jadi, kapan sebenarnya Ma'in berdiri dan runtuh? Jawabannya: kita
belum tahu pasti. Diperlukan penggalian arkeologi yang sistematis dan
mendalam, serta analisis laboratorium (misalnya radiocarbon dating)
untuk memastikannya.
Kesan dari Para Penulis Klasik: Ma'in adalah Bangsa Besar
Meskipun para ilmuwan modern bertengkar soal angka tahun,
yang jelas Ma'in adalah kerajaan yang makmur dan disegani. Ptolemy menyebut
mereka sebagai "bangsa yang besar" (ethnos mega). Strabo mencatat
bahwa mereka adalah salah satu dari empat bangsa besar di Arabia Selatan
(bersama Saba', Qataban, dan Hadhramaut). Mereka menguasai jalur perdagangan
kemenyan dan rempah.
Prasasti-prasasti menunjukkan bahwa mereka memiliki sistem
pemerintahan yang terstruktur, dengan gelar "Mukarrib" (imam-raja)
yang kemudian berubah menjadi "Malik" (raja). Mereka
menyembah dewa-dewa seperti Wadd dan Athtar.
Mereka juga mendirikan koloni dagang di Dedan (Al-Ula)
di utara Hijaz, yang menjadi pusat transit antara Yaman dan Suriah. Prasasti
Ma'in di Dedan membuktikan keberadaan komunitas saudagar Ma'in di sana.
Jejak Ma'in sampai ke Mesir dan Yunani
Prasasti Ma'in di Mesir: Di Giza (kira-kira tahun
300–200 SM), ditemukan prasasti yang menyebut seorang saudagar Ma'in
bernama Zayd'il bin Zayd yang menjadi imam di kuil Mesir dan
bertugas memasok kemenyan. Ini membuktikan hubungan dagang langsung antara
Ma'in dan Mesir Ptolemeus.
Prasasti Ma'in di Delos: Di pulau Delos (pusat
perdagangan Yunani di Laut Aegea), ditemukan prasasti Ma'in dari abad ke-2 SM.
Ini menunjukkan betapa jauhnya jangkauan para saudagar Ma'in — mereka berdagang
hingga ke Yunani!
Kesimpulan: Masih Banyak Misteri yang Menanti
Kerajaan Ma'in adalah peradaban Arab yang luar biasa:
- Salah
satu yang tertua (mungkin setua 1300 SM, mungkin lebih muda 500
SM — masih diperdebatkan)
- Menguasai
jalur rempah dan mendirikan koloni dagang di seluruh Timur Dekat
- Meninggalkan
ribuan prasasti yang masih menunggu untuk dipelajari lebih lanjut
- Berinteraksi
dengan Mesir, Yunani, dan Romawi
Namun, karena perang saudara dan isolasi Yaman, penggalian
arkeologi skala besar belum pernah dilakukan. Al-Jawf masih menyembunyikan
ribuan prasasti di bawah reruntuhan kota-kota kuno.
Suatu hari nanti, ketika Yaman aman, para arkeolog akan
menggali lebih dalam — dan mungkin menemukan jawaban tentang kapan tepatnya
Ma'in berdiri, siapa rajanya, dan bagaimana akhirnya kerajaan ini runtuh.
Misteri yang menanti untuk dipecahkan.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar