Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan : Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya

Foto bergaya sinematik berlatar kota kuno Kufah di abad ke-7 saat waktu senja berwajah keemasan. Fokus utama diambil dari sudut pandang belakang seorang pria berkuda yang mengenakan jubah dan sorban hitam pekat yang menutupi wajahnya, menggambarkan penyamaran Ubaidillah bin Ziyad. Di depannya, sekelompok pasukan berkuda dengan pakaian pelindung baja rajut (chainmail) dan helm logam berjalan perlahan menyusuri jalanan tanah yang berdebu di antara bangunan-bangunan tinggi dari tanah liat. Beberapa penduduk setempat berdiri di pinggir jalan dan menyaksikan kedatangan rombongan tersebut dengan raut wajah penuh kewaspadaan, menciptakan atmosfer sejarah yang tegang dan penuh antisipasi politik.

Undangan Penduduk Irak Kepada Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhum, dan Terbunuhnya Beliau

Ketika Al-Hasan wafat, Al-Husain selalu datang menemui Muawiyah setiap tahun. Muawiyah pun selalu memberi beliau hadiah dan memuliakannya. Beliau juga termasuk bagian dari pasukan yang memerangi Konstantinopel bersama Yazid bin Muawiyah pada tahun 51 Hijriah.

Ketika sumpah setia (baiat) diambil untuk Yazid di masa hidup Muawiyah, Al-Husain termasuk salah satu orang yang menolak untuk membaiatnya. Begitu Muawiyah wafat pada tahun 60 Hijriah dan pembaiatan Yazid diresmikan, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas pun menyatakan baiat mereka. Namun, Al-Husain dan Ibnu Az-Zubair tetap teguh untuk menolak. Keduanya keluar dari Madinah, mengamankan diri ke Makkah, dan menetap di sana. Orang-orang pun berdatangan dan berkumpul di sekitar Al-Husain untuk menemui beliau. Setelah itu, banyak sekali surat-surat dari wilayah Irak yang berdatangan kepada beliau, mengundang beliau untuk datang ke tempat mereka.

Di antara isi surat tersebut berbunyi: "Amma ba'du; sesungguhnya halaman rumah telah menghijau, buah-buahan telah ranum, maka jika engkau berkenan, datanglah kepada pasukanmu yang telah siap sedia, dan semoga keselamatan tercurah kepadamu."

Seluruh utusan pun berkumpul membawa surat-surat mereka di hadapan Al-Husain. Mereka terus mendesak dan meminta beliau segera datang untuk mereka baiat sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah. Mereka juga membicarakan tentang pemerintahan Yazid, serta menyatakan bahwa mereka belum membaiat siapa pun hingga saat ini dan sedang menanti kedatangan Al-Husain agar dapat mengangkat beliau sebagai pemimpin.

Al-Husain Mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah

Al-Husain mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil bin Abi Thalib, ke Irak untuk menyelidiki kebenaran dari urusan ini. Ketika Muslim memasuki kota Kufah, ia menetap di rumah seorang pria bernama Muslim bin Ausajah Al-Asadi. Begitu penduduk Kufah mendengar kedatangannya, mereka datang menemui Muslim dan membaiatnya atas kepemimpinan Al-Husain. Mereka bersumpah akan membelanya dengan jiwa dan harta mereka sendiri. Jumlah penduduk setempat yang berkumpul menyatakan baiat mulanya mencapai 12.000 orang, lalu bertambah banyak hingga mencapai 18.000 orang. Maka Muslim pun menulis surat kepada Al-Husain agar beliau segera datang menemui mereka karena urusan baiat dan segala perkara telah dipersiapkan.

Kabar tentang gerakan mereka akhirnya tersebar luas hingga sampai ke telinga gubernur Kufah saat itu, An-Nu'man bin Basyir. Namun, An-Nu'man memilih untuk mengabaikan hal itu dan tidak memedulikannya. Meski demikian, ia berkhotbah di hadapan masyarakat, melarang mereka dari perselisihan dan fitnah, serta memerintahkan mereka untuk menjaga persatuan dan sunnah. An-Nu'man berkata: "Aku tidak akan memerangi orang yang tidak memerangiku, dan aku tidak akan menghukum kalian hanya berdasarkan kecurigaan. Namun demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, jika kalian memisahkan diri dari pemimpin kalian dan membatalkan baiatnya, aku pasti akan memerangi kalian selama gagang pedangku masih berada di genggaman tanganku."

Mendengar itu, berdirilah seorang pria bernama Abdullah bin Muslim bin Said Al-Hadrami, lalu berkata kepada An-Nu'man: "Sesungguhnya urusan ini tidak akan beres kecuali dengan tindakan tegas (kekerasan), dan jalan yang engkau tempuh ini, wahai gubernur, adalah jalan orang-orang yang lemah." An-Nu'man pun menjawab: "Lebih baik aku menjadi orang yang lemah dalam ketaatan kepada Allah, daripada menjadi orang yang kuat namun dalam bermaksiat kepada Allah." Setelah itu ia pun turun dari mimbar.

Pencopotan An-Nu'man dan Pengangkatan Ibnu Ziyad di Kufah

Abdullah bin Muslim Al-Hadrami menulis surat kepada Yazid untuk memberitahukan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kufah. Maka Yazid mengirimkan keputusan untuk mencopot An-Nu'man dari jabatannya di Kufah, lalu menggabungkan wilayah Kufah dan Basrah di bawah kepemimpinan Ubaidillah bin Ziyad.

Yazid kemudian menulis surat kepada Ibnu Ziyad: "Jika engkau telah sampai di Kufah, carilah Muslim bin Aqil. Jika engkau berhasil menangkapnya, bunuhlah ia atau asingkan ia." Ibnu Ziyad pun berangkat dari Basrah menuju Kufah. Ketika memasukinya, ia menutup wajahnya (menyamar) dengan sorban hitam. Setiap kali melewati sekumpulan orang, ia mengucapkan: "Salamun 'alaikum" (Semoga keselamatan tercurah kepada kalian). Orang-orang pun menjawab: "Wa 'alaikumus salam, selamat datang wahai putra Rasulullah." Mereka mengira bahwa ia adalah Al-Husain karena mereka memang tengah menanti kedatangan beliau. Namun ketika mereka sadar bahwa pria itu adalah Ubaidillah bin Ziyad, mereka langsung dirundung kesedihan dan duka yang mendalam. Ubaidillah pun memastikan kebenaran berita tersebut, lalu menempati istana gubernur di Kufah.

Ia memerintahkan seorang penyeru untuk mengumumkan salat berjamaah. Setelah orang-orang berkumpul, ia keluar menemui mereka. Ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: "Amma ba'du; sesungguhnya Amirul Mukminin—semoga Allah memperbaikinya—telah menyerahkan kepemimpinan atas kota, wilayah perbatasan, dan harta kalian kepadaku. Beliau memerintahkanku untuk berlaku adil kepada orang yang dizalimi di antara kalian, memberi kepada yang membutuhkan, berbuat baik kepada yang mendengar lagi taat, serta bertindak keras kepada orang yang meragukan lagi bermaksiat. Aku akan mematuhi perintahnya dan melaksanakan janjinya kepada kalian." Setelah itu ia turun dan memerintahkan para kepala suku ('urafa) untuk mencatat siapa saja di wilayah mereka yang termasuk golongan Haruriyah (Khawarij) serta orang-orang yang penuh keraguan, penentang, dan pembangkang. Ia menegaskan: "Kepala suku mana pun yang tidak melaporkan hal itu kepada kami, maka ia akan disalib, diasingkan, dan namanya dicoret dari daftar tunjangan dewan."

Ubaidillah bin Ziyad Berdaya Upaya Menyingkap Urusan Muslim

Setelah kedudukannya kokoh, Ubaidillah bin Ziyad mengutus seorang budaknya yang bernama Ma'qil dengan membawa uang sebesar 3.000 dirham. Ma'qil menyamar sebagai orang asing yang datang dari wilayah Homs. Ia terus bersikap lembut dan mencari petunjuk tentang rumah yang digunakan orang-orang untuk membaiat Muslim bin Aqil, hingga akhirnya ia berhasil memasukinya, yaitu rumah Hani bin Urwah. Ia pun ikut menyatakan baiat, lalu mereka membawanya masuk menemui Muslim bin Aqil. Ma'qil terus mendampingi mereka selama beberapa hari hingga berhasil mengetahui kejelasan urusan mereka. Atas perintah Muslim bin Aqil, uang tersebut diserahkan kepada Abu Tsumamah Ash-Sha'idi—ia adalah orang yang bertugas menerima aliran dana yang masuk dan membelikan senjata, serta termasuk salah seorang penunggang kuda Arab yang tangguh. Budak tersebut kemudian kembali dan memberi tahu Ubaidillah tentang lokasi rumah beserta pemiliknya.

Hani sendiri adalah salah satu pemimpin besar setempat, namun ia tidak pernah lagi datang memberi salam kepada Ubaidillah semenjak ia tiba di Kufah dengan alasan sedang sakit. Ubaidillah mengingat hal itu lalu bertanya: "Mengapa Hani tidak datang menemuiku bersama para pemimpin lainnya?" Mereka menjawab: "Wahai gubernur, sesungguhnya ia sedang mengeluh sakit." Ubaidillah berkata: "Telah sampai kabar kepadaku bahwa ia sebenarnya duduk-duduk di depan pintu rumahnya."

Para pemimpin Kufah kemudian mendatangi Hani bin Urwah. Mereka terus membujuknya hingga akhirnya berhasil membawanya masuk menemui Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah lalu menoleh kepada Hakim Syuraih sambil menyitir sebuah bait puisi:

أُرِيدُ حَيَاتَهُ وَيُرِيدُ قَتْلِي عَذِيرُكَ مِنْ خَلِيلِكَ مِنْ مُرَادِ

Aku menginginkan kehidupannya, namun ia menginginkan kematianku.

Siapakah yang bisa memaklumi tindakan sahabatmu dari kabilah Murad ini?

Ketika Hani mengucapkan salam kepada Ubaidillah, Ubaidillah langsung bertanya: "Wahai Hani, di mana Muslim bin Aqil?" Hani menjawab: "Aku tidak tahu." Maka berdirilah budak yang dahulu menyamar masuk ke rumah Hani sebagai orang asing dari Homs, lalu Ubaidillah bertanya: "Apakah engkau mengenali orang ini?" Hani menjawab: "Ya." Begitu melihat budak itu, Hani langsung terdiam dan merasa tidak berdaya. Ia pun berkata: "Semoga Allah memperbaiki urusan gubernur, demi Allah aku tidak pernah mengundangnya ke rumahku, tetapi dialah yang datang dan bersandar kepadaku." Ubaidillah berkata: "Bawa dia kepadaku!" Hani menjawab: "Demi Allah, sekiranya ia berada di bawah kedua telapak kakiku, aku tidak akan mengangkat kakiku darinya." Ubaidillah berkata: "Dekatkan dia kepadaku!" Setelah didekatkan, Ubaidillah memukul wajah Hani dengan tombak kecil hingga melukai pelipisnya, mematahkan hidungnya, dan Hani sempat berusaha merebut pedang seorang pengawal untuk menghunus nya, namun aksinya digagalkan.

Ubaidillah berkata: "Sungguh Allah telah menghalalkan darahmu bagiku karena engkau seorang Haruri (pemberontak)!" Kemudian ia memerintahkan agar Hani ditahan di salah satu sudut rumah.

Muslim bin Aqil Mengumumkan Perlawanan

Ketika Muslim bin Aqil mendengar apa yang menimpa Hani bin Urwah, ia segera menunggangi kudanya dan menyerukan semboyan perang: "Ya Manshur, amit!" (Wahai orang yang mendapat pertolongan, matikanlah musuh!)

Maka berkumpullah 4.000 orang penduduk Kufah di sekelilingnya. Bersamanya ada Al-Mukhtar bin Abi Ubaid yang membawa bendera hijau, serta Abdullah bin Al-Harits bin Naufal yang membawa bendera merah. Muslim mengatur barisan pasukannya menjadi sayap kanan dan sayap kiri, sementara ia sendiri berjalan di barisan tengah menuju tempat Ubaidillah. Saat itu, Ubaidillah sedang berkhotbah di hadapan masyarakat mengenai urusan Hani dan memperingatkan mereka dari perselisihan, sedangkan orang-orang terpandang serta para pemimpin mereka berada di bawah minbar. Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba para penjaga datang dan berteriak: "Muslim bin Aqil telah datang!" Ubaidillah bergegas masuk ke dalam istana bersama orang-orang yang bersamanya, lalu mereka mengunci rapat pintu gerbang istana.

Begitu Muslim sampai di depan pintu istana, ia menghentikan pasukannya di sana. Para pemimpin kabilah yang berada di dalam istana bersama Ubaidillah kemudian menjenguk dari atas dinding istana. Mereka memberi isyarat kepada kaumnya masing-masing yang ikut bersama Muslim agar segera membubarkan diri. Mereka membujuk, menjanjikan imbalan, sekaligus mengancam mereka.

Ubaidillah juga menyuruh beberapa pemimpin keluar dan memerintahkan mereka untuk berkeliling di kota Kufah guna menggembosi dukungan masyarakat dari Muslim bin Aqil. Mereka pun melaksanakan tugas itu. Akibatnya, ada seorang ibu yang mendatangi anak atau saudaranya lalu berkata: "Pulanglah, orang lain sudah cukup untuk mewakilimu." Ada pula seorang pria yang berkata kepada anak atau saudaranya: "Seolah-olah besok pasukan Syam telah datang, lalu apa yang bisa engkau lakukan menghadapi mereka?" Akibatnya, orang-orang mulai saling meninggalkan, mengendurkan dukungan, mencerai-berai, dan memisahkan diri dari Muslim bin Aqil hingga akhirnya ia tertinggal seorang diri. Tidak ada lagi orang yang menunjukkannya jalan ataupun mengorbankan jiwa bersamanya. Akhirnya, ia mengamankan diri ke rumah seorang wanita bernama Thaw'ah. Namun, anak wanita tersebut takut akan hukuman akibat hal ini. Begitu pagi menjelang, anak itu pergi menemui Abdurrahman bin Muhammad bin Al-Asy'ats dan membisikkan kepadanya bahwa Muslim bin Aqil berada di rumah mereka. Abdurrahman segera menghampiri ayahnya yang saat itu sedang berada di dekat Ibnu Ziyad dan membisikkan kabar tersebut. Ibnu Ziyad bertanya: "Apa yang ia bisikkan kepadamu?" Sang ayah menjawab: "Ia memberi tahu bahwa Muslim berada di salah satu rumah kami." Ibnu Ziyad pun menyodok pinggangnya dengan tongkat sambil berkata: "Berdirilah, dan bawa dia kepadaku sekarang juga!"

Ibnu Ziyad mengutus kepala pasukannya bersama Abdurrahman dan Muhammad bin Al-Asy'ats dengan membawa 70 atau 80 penunggang kuda. Muslim tidak menyadari kehadiran mereka sampai rumah tempatnya bernaung telah dikepung rapat. Ia pun keluar melawan mereka, lalu Abdurrahman menawarkan jaminan keamanan kepadanya sehingga Muslim menyerahkan dirinya. Mereka membawa seekor bagal lalu menaikkan Muslim di atasnya dan merampas pedangnya, sehingga ia tidak lagi memiliki kuasa sedikit pun atas dirinya. Ketika Muslim bin Aqil sampai di pintu istana, ia dihadapkan kepada Ibnu Ziyad. Begitu ia diberhentikan di hadapannya, Ibnu Ziyad menghampirinya dan berkata: "Wahai putra Aqil, engkau mendatangi orang-orang yang urusannya telah rapi dan suaranya telah bulat, dengan tujuan untuk mencerai-berai mereka, memecah belah suara mereka, dan mengadu domba sebagian mereka dengan sebagian yang lain?!" Muslim menjawab: "Sama sekali tidak, bukan untuk itu aku datang. Akan tetapi, penduduk kota ini menyatakan bahwa ayahmu telah membunuh orang-orang terbaik mereka, menumpahkan darah mereka, dan memperlakukan mereka layaknya perbuatan Kisra dan Kaisar. Maka kami datang kepada mereka untuk menegakkan keadilan dan mengajak kepada hukum Kitabullah."

Wasiat Muslim bin Aqil

Ketika Ibnu Ziyad berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku akan membunuhmu." Muslim berkata: "Kalau begitu, biarkan aku berwasiat kepada sebagian kaumku." Ibnu Ziyad menjawab: "Berwasiatlah."

Muslim melihat ke arah orang-orang yang duduk di sana, dan di antara mereka terdapat Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash. Muslim berkata: "Wahai Umar, sesungguhnya antara aku dan engkau ada hubungan kekerabatan, dan aku memiliki keperluan kepadamu yang bersifat rahasia." Umar sempat enggan berdiri bersamanya hingga Ibnu Ziyad memberikan izin. Umar pun berdiri dan menjauh sedikit dari Ibnu Ziyad, lalu Muslim berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku memiliki utang di Kufah sebesar tujuh ratus dirham, maka tolong lunasilah utang itu untukku. Mintalah jasadku dari Ibnu Ziyad lalu makamkanlah, dan kirimkanlah utusan kepada Al-Husain karena aku telah menulis surat kepadanya untuk memberi tahu bahwa orang-orang bersamanya, dan aku yakin saat ini beliau sedang dalam perjalanan kemari." Umar kemudian berdiri dan menyampaikan apa yang dikatakan Muslim kepada Ibnu Ziyad, dan Ibnu Ziyad pun menyetujui seluruh permohonan tersebut.

Eksekusi Muslim bin Aqil

Ibnu Ziyad memerintahkan eksekusi Muslim bin Aqil. Ia dibawa naik ke bagian paling atas istana, sementara ia terus bertakbir, beristighfar, bersalawat kepada para malaikat Allah, dan berdoa: "Ya Allah, hakimilah antara kami dan kaum yang telah menipu kami lalu meninggalkan kami." Kemudian seorang pria bernama Bukair bin Humran menebas lehernya. Setelah itu, ia menjatuhkan kepalanya ke bawah istana, lalu menyusulkan jasadnya ke bawah.

Selanjutnya, Ibnu Ziyad memerintahkan eksekusi Hani bin Urwah Al-Madzhiji. Leher Hani pun ditebas di pasar domba, dan jasadnya disalib di sebuah tempat di Kufah bernama Al-Kunasah. Mengenai peristiwa tersebut, salah seorang penyair menggubah sebuah qasidah, yang konon digubah oleh Al-Farazdaq:

فَإِنْ كُنْتِ لَا تَدْرِينَ مَا الْمَوْتُ فَانْظُرِي إِلَى هَانِي فِي السُّوقِ وَابْنِ عَقِيلِ

أَصَابَهُمَا أَمْرُ الْإِمَامِ فَأَصْبَحَا أَحَادِيثَ مَنْ يَسْعَى بِكُلِّ سَبِيلِ

إِلَى بَطَلٍ قَدْ هَشَّمَ السَّيْفُ وَجْهَهُ وَآخَرُ يَهْوَى فِي طَمَارِ قَتِيلِ

تَرَيْ جَسَدًا قَدْ غَيَّرَ الْمَوْتُ لَوْنَهُ وَنَضَحَ دَمٍ قَدْ سَالَ كُلَّ مَسِيلِ

Jika engkau tidak tahu apa itu kematian, maka lihatlah

Kepada Hani di pasar dan juga putra Aqil.

Keduanya ditimpa oleh ketetapan pemimpin, sehingga keduanya

Menjadi buah bibir bagi setiap orang yang melintas di jalanan.

Melihat seorang pahlawan yang wajahnya telah dihancurkan oleh pedang,

Dan yang lain jatuh terhempas dari ketinggian sebagai korban yang terbunuh.

Engkau akan melihat jasad yang warnanya telah diubah oleh kematian,

Serta pancaran darah yang telah mengalir di setiap jalurnya.

Tekad Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu untuk Berangkat ke Irak:

Ketika surat-surat dari penduduk Irak berdatangan secara beruntun kepada Al-Husain dan utusan saling bertukar di antara mereka, serta datangnya surat dari Muslim bin Aqil yang memintanya datang membawa serta keluarganya, di tengah masa tersebut terjadilah peristiwa terbunuhnya Muslim bin Aqil, sedangkan Al-Husain sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Sebaliknya, beliau telah membulatkan tekad untuk berjalan dan datang menemui mereka. Keberangkatan beliau dari Makkah bertepatan pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), yaitu tepat satu hari sebelum terbunuhnya Muslim bin Aqil—karena Muslim terbunuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).


Sumber Kisah:

Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Peristiwa-Peristiwa di Masa Pemerintahannya

Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A :Biografi dan Kekhalifahan Beliau

Kekhalifahan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma