Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan : Peristiwa-Peristiwa pada Masa Pemerintahannya
Undangan Penduduk Irak Kepada Al-Husain bin Ali bin Abi
Thalib Radhiyallahu 'Anhum, dan Terbunuhnya Beliau
Ketika Al-Hasan wafat, Al-Husain selalu datang menemui
Muawiyah setiap tahun. Muawiyah pun selalu memberi beliau hadiah dan
memuliakannya. Beliau juga termasuk bagian dari pasukan yang memerangi
Konstantinopel bersama Yazid bin Muawiyah pada tahun 51 Hijriah.
Ketika sumpah setia (baiat) diambil untuk Yazid di masa
hidup Muawiyah, Al-Husain termasuk salah satu orang yang menolak untuk
membaiatnya. Begitu Muawiyah wafat pada tahun 60 Hijriah dan pembaiatan Yazid
diresmikan, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas pun menyatakan baiat mereka. Namun,
Al-Husain dan Ibnu Az-Zubair tetap teguh untuk menolak. Keduanya keluar dari
Madinah, mengamankan diri ke Makkah, dan menetap di sana. Orang-orang pun
berdatangan dan berkumpul di sekitar Al-Husain untuk menemui beliau. Setelah itu,
banyak sekali surat-surat dari wilayah Irak yang berdatangan kepada beliau,
mengundang beliau untuk datang ke tempat mereka.
Di antara isi surat tersebut berbunyi: "Amma ba'du;
sesungguhnya halaman rumah telah menghijau, buah-buahan telah ranum, maka jika
engkau berkenan, datanglah kepada pasukanmu yang telah siap sedia, dan semoga
keselamatan tercurah kepadamu."
Seluruh utusan pun berkumpul membawa surat-surat mereka di
hadapan Al-Husain. Mereka terus mendesak dan meminta beliau segera datang untuk
mereka baiat sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah. Mereka juga membicarakan
tentang pemerintahan Yazid, serta menyatakan bahwa mereka belum membaiat siapa
pun hingga saat ini dan sedang menanti kedatangan Al-Husain agar dapat
mengangkat beliau sebagai pemimpin.
Al-Husain Mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah
Al-Husain mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil bin Abi
Thalib, ke Irak untuk menyelidiki kebenaran dari urusan ini. Ketika Muslim
memasuki kota Kufah, ia menetap di rumah seorang pria bernama Muslim bin
Ausajah Al-Asadi. Begitu penduduk Kufah mendengar kedatangannya, mereka datang
menemui Muslim dan membaiatnya atas kepemimpinan Al-Husain. Mereka bersumpah
akan membelanya dengan jiwa dan harta mereka sendiri. Jumlah penduduk setempat
yang berkumpul menyatakan baiat mulanya mencapai 12.000 orang, lalu bertambah
banyak hingga mencapai 18.000 orang. Maka Muslim pun menulis surat kepada
Al-Husain agar beliau segera datang menemui mereka karena urusan baiat dan
segala perkara telah dipersiapkan.
Kabar tentang gerakan mereka akhirnya tersebar luas hingga
sampai ke telinga gubernur Kufah saat itu, An-Nu'man bin Basyir. Namun,
An-Nu'man memilih untuk mengabaikan hal itu dan tidak memedulikannya. Meski
demikian, ia berkhotbah di hadapan masyarakat, melarang mereka dari
perselisihan dan fitnah, serta memerintahkan mereka untuk menjaga persatuan dan
sunnah. An-Nu'man berkata: "Aku tidak akan memerangi orang yang tidak
memerangiku, dan aku tidak akan menghukum kalian hanya berdasarkan kecurigaan.
Namun demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, jika kalian memisahkan diri dari
pemimpin kalian dan membatalkan baiatnya, aku pasti akan memerangi kalian
selama gagang pedangku masih berada di genggaman tanganku."
Mendengar itu, berdirilah seorang pria bernama Abdullah bin
Muslim bin Said Al-Hadrami, lalu berkata kepada An-Nu'man: "Sesungguhnya
urusan ini tidak akan beres kecuali dengan tindakan tegas (kekerasan), dan
jalan yang engkau tempuh ini, wahai gubernur, adalah jalan orang-orang yang
lemah." An-Nu'man pun menjawab: "Lebih baik aku menjadi orang
yang lemah dalam ketaatan kepada Allah, daripada menjadi orang yang kuat namun
dalam bermaksiat kepada Allah." Setelah itu ia pun turun dari mimbar.
Pencopotan An-Nu'man dan Pengangkatan Ibnu Ziyad di Kufah
Abdullah bin Muslim Al-Hadrami menulis surat kepada Yazid
untuk memberitahukan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kufah. Maka Yazid
mengirimkan keputusan untuk mencopot An-Nu'man dari jabatannya di Kufah, lalu
menggabungkan wilayah Kufah dan Basrah di bawah kepemimpinan Ubaidillah bin
Ziyad.
Yazid kemudian menulis surat kepada Ibnu Ziyad: "Jika
engkau telah sampai di Kufah, carilah Muslim bin Aqil. Jika engkau berhasil
menangkapnya, bunuhlah ia atau asingkan ia." Ibnu Ziyad pun berangkat
dari Basrah menuju Kufah. Ketika memasukinya, ia menutup wajahnya (menyamar)
dengan sorban hitam. Setiap kali melewati sekumpulan orang, ia mengucapkan: "Salamun
'alaikum" (Semoga keselamatan tercurah kepada kalian). Orang-orang pun
menjawab: "Wa 'alaikumus salam, selamat datang wahai putra
Rasulullah." Mereka mengira bahwa ia adalah Al-Husain karena mereka
memang tengah menanti kedatangan beliau. Namun ketika mereka sadar bahwa pria
itu adalah Ubaidillah bin Ziyad, mereka langsung dirundung kesedihan dan duka
yang mendalam. Ubaidillah pun memastikan kebenaran berita tersebut, lalu
menempati istana gubernur di Kufah.
Ia memerintahkan seorang penyeru untuk mengumumkan salat
berjamaah. Setelah orang-orang berkumpul, ia keluar menemui mereka. Ia memuji
Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: "Amma ba'du; sesungguhnya
Amirul Mukminin—semoga Allah memperbaikinya—telah menyerahkan kepemimpinan atas
kota, wilayah perbatasan, dan harta kalian kepadaku. Beliau memerintahkanku
untuk berlaku adil kepada orang yang dizalimi di antara kalian, memberi kepada
yang membutuhkan, berbuat baik kepada yang mendengar lagi taat, serta bertindak
keras kepada orang yang meragukan lagi bermaksiat. Aku akan mematuhi
perintahnya dan melaksanakan janjinya kepada kalian." Setelah itu ia turun
dan memerintahkan para kepala suku ('urafa) untuk mencatat siapa saja di
wilayah mereka yang termasuk golongan Haruriyah (Khawarij) serta orang-orang
yang penuh keraguan, penentang, dan pembangkang. Ia menegaskan: "Kepala
suku mana pun yang tidak melaporkan hal itu kepada kami, maka ia akan disalib,
diasingkan, dan namanya dicoret dari daftar tunjangan dewan."
Ubaidillah bin Ziyad Berdaya Upaya Menyingkap Urusan Muslim
Setelah kedudukannya kokoh, Ubaidillah bin Ziyad mengutus
seorang budaknya yang bernama Ma'qil dengan membawa uang sebesar 3.000 dirham.
Ma'qil menyamar sebagai orang asing yang datang dari wilayah Homs. Ia terus
bersikap lembut dan mencari petunjuk tentang rumah yang digunakan orang-orang
untuk membaiat Muslim bin Aqil, hingga akhirnya ia berhasil memasukinya, yaitu
rumah Hani bin Urwah. Ia pun ikut menyatakan baiat, lalu mereka membawanya
masuk menemui Muslim bin Aqil. Ma'qil terus mendampingi mereka selama beberapa
hari hingga berhasil mengetahui kejelasan urusan mereka. Atas perintah Muslim
bin Aqil, uang tersebut diserahkan kepada Abu Tsumamah Ash-Sha'idi—ia adalah
orang yang bertugas menerima aliran dana yang masuk dan membelikan senjata,
serta termasuk salah seorang penunggang kuda Arab yang tangguh. Budak tersebut
kemudian kembali dan memberi tahu Ubaidillah tentang lokasi rumah beserta
pemiliknya.
Hani sendiri adalah salah satu pemimpin besar setempat,
namun ia tidak pernah lagi datang memberi salam kepada Ubaidillah semenjak ia
tiba di Kufah dengan alasan sedang sakit. Ubaidillah mengingat hal itu lalu
bertanya: "Mengapa Hani tidak datang menemuiku bersama para pemimpin
lainnya?" Mereka menjawab: "Wahai gubernur, sesungguhnya ia
sedang mengeluh sakit." Ubaidillah berkata: "Telah sampai
kabar kepadaku bahwa ia sebenarnya duduk-duduk di depan pintu rumahnya."
Para pemimpin Kufah kemudian mendatangi Hani bin Urwah.
Mereka terus membujuknya hingga akhirnya berhasil membawanya masuk menemui
Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah lalu menoleh kepada Hakim Syuraih sambil
menyitir sebuah bait puisi:
أُرِيدُ
حَيَاتَهُ وَيُرِيدُ قَتْلِي عَذِيرُكَ مِنْ خَلِيلِكَ مِنْ مُرَادِ
Aku menginginkan kehidupannya, namun ia menginginkan
kematianku.
Siapakah yang bisa memaklumi tindakan sahabatmu dari
kabilah Murad ini?
Ketika Hani mengucapkan salam kepada Ubaidillah, Ubaidillah
langsung bertanya: "Wahai Hani, di mana Muslim bin Aqil?" Hani
menjawab: "Aku tidak tahu." Maka berdirilah budak yang dahulu
menyamar masuk ke rumah Hani sebagai orang asing dari Homs, lalu Ubaidillah
bertanya: "Apakah engkau mengenali orang ini?" Hani menjawab: "Ya."
Begitu melihat budak itu, Hani langsung terdiam dan merasa tidak berdaya. Ia
pun berkata: "Semoga Allah memperbaiki urusan gubernur, demi Allah aku
tidak pernah mengundangnya ke rumahku, tetapi dialah yang datang dan bersandar
kepadaku." Ubaidillah berkata: "Bawa dia kepadaku!"
Hani menjawab: "Demi Allah, sekiranya ia berada di bawah kedua telapak
kakiku, aku tidak akan mengangkat kakiku darinya." Ubaidillah berkata:
"Dekatkan dia kepadaku!" Setelah didekatkan, Ubaidillah
memukul wajah Hani dengan tombak kecil hingga melukai pelipisnya, mematahkan
hidungnya, dan Hani sempat berusaha merebut pedang seorang pengawal untuk
menghunus nya, namun aksinya digagalkan.
Ubaidillah berkata: "Sungguh Allah telah
menghalalkan darahmu bagiku karena engkau seorang Haruri (pemberontak)!"
Kemudian ia memerintahkan agar Hani ditahan di salah satu sudut rumah.
Muslim bin Aqil Mengumumkan Perlawanan
Ketika Muslim bin Aqil mendengar apa yang menimpa Hani bin
Urwah, ia segera menunggangi kudanya dan menyerukan semboyan perang: "Ya
Manshur, amit!" (Wahai orang yang mendapat pertolongan, matikanlah musuh!)
Maka berkumpullah 4.000 orang penduduk Kufah di
sekelilingnya. Bersamanya ada Al-Mukhtar bin Abi Ubaid yang membawa bendera
hijau, serta Abdullah bin Al-Harits bin Naufal yang membawa bendera merah.
Muslim mengatur barisan pasukannya menjadi sayap kanan dan sayap kiri,
sementara ia sendiri berjalan di barisan tengah menuju tempat Ubaidillah. Saat
itu, Ubaidillah sedang berkhotbah di hadapan masyarakat mengenai urusan Hani
dan memperingatkan mereka dari perselisihan, sedangkan orang-orang terpandang
serta para pemimpin mereka berada di bawah minbar. Di tengah situasi tersebut,
tiba-tiba para penjaga datang dan berteriak: "Muslim bin Aqil telah
datang!" Ubaidillah bergegas masuk ke dalam istana bersama orang-orang
yang bersamanya, lalu mereka mengunci rapat pintu gerbang istana.
Begitu Muslim sampai di depan pintu istana, ia menghentikan
pasukannya di sana. Para pemimpin kabilah yang berada di dalam istana bersama
Ubaidillah kemudian menjenguk dari atas dinding istana. Mereka memberi isyarat
kepada kaumnya masing-masing yang ikut bersama Muslim agar segera membubarkan
diri. Mereka membujuk, menjanjikan imbalan, sekaligus mengancam mereka.
Ubaidillah juga menyuruh beberapa pemimpin keluar dan
memerintahkan mereka untuk berkeliling di kota Kufah guna menggembosi dukungan
masyarakat dari Muslim bin Aqil. Mereka pun melaksanakan tugas itu. Akibatnya,
ada seorang ibu yang mendatangi anak atau saudaranya lalu berkata: "Pulanglah,
orang lain sudah cukup untuk mewakilimu." Ada pula seorang pria yang
berkata kepada anak atau saudaranya: "Seolah-olah besok pasukan Syam
telah datang, lalu apa yang bisa engkau lakukan menghadapi mereka?"
Akibatnya, orang-orang mulai saling meninggalkan, mengendurkan dukungan,
mencerai-berai, dan memisahkan diri dari Muslim bin Aqil hingga akhirnya ia
tertinggal seorang diri. Tidak ada lagi orang yang menunjukkannya jalan ataupun
mengorbankan jiwa bersamanya. Akhirnya, ia mengamankan diri ke rumah seorang
wanita bernama Thaw'ah. Namun, anak wanita tersebut takut akan hukuman akibat
hal ini. Begitu pagi menjelang, anak itu pergi menemui Abdurrahman bin Muhammad
bin Al-Asy'ats dan membisikkan kepadanya bahwa Muslim bin Aqil berada di rumah
mereka. Abdurrahman segera menghampiri ayahnya yang saat itu sedang berada di
dekat Ibnu Ziyad dan membisikkan kabar tersebut. Ibnu Ziyad bertanya: "Apa
yang ia bisikkan kepadamu?" Sang ayah menjawab: "Ia memberi
tahu bahwa Muslim berada di salah satu rumah kami." Ibnu Ziyad pun
menyodok pinggangnya dengan tongkat sambil berkata: "Berdirilah, dan
bawa dia kepadaku sekarang juga!"
Ibnu Ziyad mengutus kepala pasukannya bersama Abdurrahman
dan Muhammad bin Al-Asy'ats dengan membawa 70 atau 80 penunggang kuda. Muslim
tidak menyadari kehadiran mereka sampai rumah tempatnya bernaung telah dikepung
rapat. Ia pun keluar melawan mereka, lalu Abdurrahman menawarkan jaminan
keamanan kepadanya sehingga Muslim menyerahkan dirinya. Mereka membawa seekor
bagal lalu menaikkan Muslim di atasnya dan merampas pedangnya, sehingga ia
tidak lagi memiliki kuasa sedikit pun atas dirinya. Ketika Muslim bin Aqil
sampai di pintu istana, ia dihadapkan kepada Ibnu Ziyad. Begitu ia
diberhentikan di hadapannya, Ibnu Ziyad menghampirinya dan berkata: "Wahai
putra Aqil, engkau mendatangi orang-orang yang urusannya telah rapi dan
suaranya telah bulat, dengan tujuan untuk mencerai-berai mereka, memecah belah
suara mereka, dan mengadu domba sebagian mereka dengan sebagian yang
lain?!" Muslim menjawab: "Sama sekali tidak, bukan untuk itu
aku datang. Akan tetapi, penduduk kota ini menyatakan bahwa ayahmu telah
membunuh orang-orang terbaik mereka, menumpahkan darah mereka, dan
memperlakukan mereka layaknya perbuatan Kisra dan Kaisar. Maka kami datang
kepada mereka untuk menegakkan keadilan dan mengajak kepada hukum
Kitabullah."
Wasiat Muslim bin Aqil
Ketika Ibnu Ziyad berkata kepadanya: "Sesungguhnya
aku akan membunuhmu." Muslim berkata: "Kalau begitu, biarkan
aku berwasiat kepada sebagian kaumku." Ibnu Ziyad menjawab: "Berwasiatlah."
Muslim melihat ke arah orang-orang yang duduk di sana, dan
di antara mereka terdapat Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash. Muslim berkata: "Wahai
Umar, sesungguhnya antara aku dan engkau ada hubungan kekerabatan, dan aku
memiliki keperluan kepadamu yang bersifat rahasia." Umar sempat enggan
berdiri bersamanya hingga Ibnu Ziyad memberikan izin. Umar pun berdiri dan
menjauh sedikit dari Ibnu Ziyad, lalu Muslim berkata kepadanya:
"Sesungguhnya aku memiliki utang di Kufah sebesar tujuh ratus dirham, maka
tolong lunasilah utang itu untukku. Mintalah jasadku dari Ibnu Ziyad lalu
makamkanlah, dan kirimkanlah utusan kepada Al-Husain karena aku telah menulis
surat kepadanya untuk memberi tahu bahwa orang-orang bersamanya, dan aku yakin
saat ini beliau sedang dalam perjalanan kemari." Umar kemudian berdiri dan
menyampaikan apa yang dikatakan Muslim kepada Ibnu Ziyad, dan Ibnu Ziyad pun
menyetujui seluruh permohonan tersebut.
Eksekusi Muslim bin Aqil
Ibnu Ziyad memerintahkan eksekusi Muslim bin Aqil. Ia dibawa
naik ke bagian paling atas istana, sementara ia terus bertakbir, beristighfar,
bersalawat kepada para malaikat Allah, dan berdoa: "Ya Allah, hakimilah
antara kami dan kaum yang telah menipu kami lalu meninggalkan kami."
Kemudian seorang pria bernama Bukair bin Humran menebas lehernya. Setelah itu,
ia menjatuhkan kepalanya ke bawah istana, lalu menyusulkan jasadnya ke bawah.
Selanjutnya, Ibnu Ziyad memerintahkan eksekusi Hani bin
Urwah Al-Madzhiji. Leher Hani pun ditebas di pasar domba, dan jasadnya disalib
di sebuah tempat di Kufah bernama Al-Kunasah. Mengenai peristiwa tersebut,
salah seorang penyair menggubah sebuah qasidah, yang konon digubah oleh
Al-Farazdaq:
فَإِنْ
كُنْتِ لَا تَدْرِينَ مَا الْمَوْتُ فَانْظُرِي إِلَى هَانِي فِي السُّوقِ وَابْنِ
عَقِيلِ
أَصَابَهُمَا
أَمْرُ الْإِمَامِ فَأَصْبَحَا أَحَادِيثَ مَنْ يَسْعَى بِكُلِّ سَبِيلِ
إِلَى
بَطَلٍ قَدْ هَشَّمَ السَّيْفُ وَجْهَهُ وَآخَرُ يَهْوَى فِي طَمَارِ قَتِيلِ
تَرَيْ
جَسَدًا قَدْ غَيَّرَ الْمَوْتُ لَوْنَهُ وَنَضَحَ دَمٍ قَدْ سَالَ كُلَّ مَسِيلِ
Jika engkau tidak tahu apa itu kematian, maka lihatlah
Kepada Hani di pasar dan juga putra Aqil.
Keduanya ditimpa oleh ketetapan pemimpin, sehingga
keduanya
Menjadi buah bibir bagi setiap orang yang melintas di
jalanan.
Melihat seorang pahlawan yang wajahnya telah dihancurkan
oleh pedang,
Dan yang lain jatuh terhempas dari ketinggian sebagai
korban yang terbunuh.
Engkau akan melihat jasad yang warnanya telah diubah oleh
kematian,
Serta pancaran darah yang telah mengalir di setiap
jalurnya.
Tekad Al-Husain Radhiyallahu 'Anhu untuk Berangkat ke Irak:
Ketika surat-surat dari penduduk Irak berdatangan secara
beruntun kepada Al-Husain dan utusan saling bertukar di antara mereka, serta
datangnya surat dari Muslim bin Aqil yang memintanya datang membawa serta
keluarganya, di tengah masa tersebut terjadilah peristiwa terbunuhnya Muslim
bin Aqil, sedangkan Al-Husain sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
Sebaliknya, beliau telah membulatkan tekad untuk berjalan dan datang menemui
mereka. Keberangkatan beliau dari Makkah bertepatan pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah),
yaitu tepat satu hari sebelum terbunuhnya Muslim bin Aqil—karena Muslim
terbunuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar