Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan (60 - 64 H) : Biografi dan Kekhalifahannya
Nasab dan Keluarganya
Dia adalah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan Sakhr bin Harb
bin Umayyah bin Abdi Syams, Abu Khalid Al-Umawi. Ibunya bernama Maysun binti
Bahdal Al-Kalbi. Ayahnya telah menceraikan ibunya saat ibunya sedang mengandung
dirinya. Ia lahir pada tahun 25 Hijriah.
Ia meriwayatkan dari ayahnya, Muawiyah, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda: «مَنْ
يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ» "Barangsiapa
yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam
urusan agama."
Ia juga meriwayatkan hadis lain tentang wudu. Orang-orang
yang meriwayatkan hadis darinya adalah putranya sendiri yaitu Khalid, serta
Abdul Malik bin Marwan. Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi memasukkannya ke dalam kelompok
tingkatan (generasi) yang mengiringi para sahabat (tabi'in), dan ia berkata:
"Ia memiliki beberapa riwayat hadis."
Yazid memiliki beberapa orang anak, di antaranya:
- Muawiyah
bin Yazid, bergelar Abu Laila, dialah yang memegang jabatan
kekhalifahan setelah ayahnya.
- Khalid
bin Yazid, bergelar Abu Hasyim, ia disibukkan dengan ilmu kimia.
- Abu
Sufyan. Ibu dari anak-anak tersebut bernama Ummu Hasyim binti Abi
Hasyim bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdi Syams.
- Abdullah
bin Yazid, yang dijuluki Al-Aswar, ia termasuk salah satu pemanah Arab
yang paling ulung; ibunya bernama Ummu Kultsum binti Abdullah bin Amir.
- Abdullah
Al-Asghar, Abu Bakar, Utbah, Abdurrahman, Ar-Rabi', dan Muhammad, yang
lahir dari beberapa ibu yang berbeda (ummahatul aulad).
Sifat-Sifatnya:
Ia adalah seorang yang berisi (gemuk), bertubuh besar,
berambut lebat, tampan, tinggi, berkepala besar, jari-jarinya tebal dan
berkerut, serta memiliki bekas cacar pada wajahnya.
Diriwayatkan dari Atha' bin As-Sa'ib dan selainnya, ia
berkata: Muawiyah pernah marah kepada putranya, Yazid, lalu menjauhinya. Maka
Al-Ahnaf bin Qais berkata kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, anak-anak
kita adalah buah hati kita dan sandaran punggung kita. Kita bagi mereka laksana
langit yang menaungi dan bumi yang dihamparkan. Jika mereka marah, buatlah
mereka rida; jika mereka meminta, berilah mereka; dan janganlah engkau menjadi
beban berat bagi mereka sehingga mereka bosan dengan hidupmu dan mengharapkan
kematianmu."
Muawiyah lalu berkata: "Luar biasa engkau, wahai Abu
Bahr! Wahai pelayan, pergilah kepada Yazid, sampaikan salamku kepadanya, dan
katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin telah memerintahkan untuk memberinya
seratus ribu dirham dan seratus helai pakaian." Yazid bertanya: "Siapa
yang sedang bersama Amirul Mukminin?" Pelayan menjawab: "Al-Ahnaf."
Yazid berkata: "Tentu saja, aku harus membaginya dengan dia."
Maka Yazid mengirimkan lima puluh ribu dirham dan lima puluh helai pakaian
kepada Al-Ahnaf.
Yazid adalah orang pertama yang memimpin pasukan perang ke
kota Konstantinopel pada tahun 49 Hijriah menurut pendapat Ya'qub bin Sufyan.
Sedangkan Khalifah bin Khayyat mengatakan kejadian tersebut pada tahun 50
Hijriah. Kemudian ia memimpin manusia melaksanakan ibadah haji pada tahun
tersebut setelah kepulangannya dari negeri Romawi. Telah murni dalam kitab
Shahih bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda: «أَوَّلُ
جَيْشٍ يَغْزُو مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ» "Pasukan
pertama yang memerangi kota Kaisar (Konstantinopel) diampuni dosa-dosa
mereka."
Ibnu Katsir berkata: "Itu adalah pasukan kedua yang
dilihat oleh Rasulullah ﷺ
di dalam tidurnya saat berada di rumah Ummu Haram binti Milhan, mereka bagaikan
raja-raja di atas singgasana. Ummu Haram berkata: 'Berdoalah kepada Allah agar
menjadikan aku bagian dari mereka.' Rasulullah bersabda: 'Engkau termasuk
kelompok yang pertama,' yaitu pasukan pertama yang dilihat oleh Rasulullah ﷺ
bagaikan raja-raja di atas singgasana yang mengarungi lautan. Pemimpin pasukan
pertama tersebut adalah ayahnya, Muawiyah, ketika menyerang Siprus lalu
menaklukkannya pada tahun 27 Hijriah di masa Utsman bin Affan. Ummu Haram ikut
bersama mereka lalu meninggal di Siprus. Kemudian pemimpin pasukan kedua adalah
putranya, Yazid bin Muawiyah, dan Ummu Haram tidak sempat mendapati pasukan
Yazid ini. Hal tersebut termasuk salah satu bukti terbesar kenabian."
Wasiat Muawiyah Radhiyallahu 'Anhu kepada Putranya, Yazid:
Al-Waqidi berkata: Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Sabrah
menceritakan kepadaku, dari Marwan bin Abi Said bin Al-Mu'alla, ia berkata:
Muawiyah berkata kepada Yazid ketika memberinya wasiat: "Wahai Yazid,
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya aku telah merintis urusan (kekuasaan)
ini untukmu, dan engkau telah diserahi urusan tersebut. Jika hal itu membawa
kebaikan, maka akulah orang yang paling bahagia karenanya. Namun jika
sebaliknya, maka engkaulah yang akan celaka karenanya. Bersikap lembutlah kepada
manusia, dan abaikanlah perkataan menyakitkan yang sampai kepadamu agar hidupmu
terasa nyaman dan rakyatmu menjadi baik bagimu. Hindarilah perdebatan sengit
dan meluapkan amarah, karena hal itu bisa membinasakan dirimu dan rakyatmu.
Hindarilah sikap kasar kepada orang-orang terhormat; janganlah merendahkan
mereka atau meremehkan hak mereka, karena mereka akan merendahkanmu, meremehkan
hakmu, dan mencelamu.
Jika engkau menginginkan suatu perkara, maka panggillah
orang-orang yang sudah berumur, berpengalaman, dan berstatus orang baik dari
kalangan tetua serta orang-orang yang bertakwa. Bermusyawarahlah dengan mereka
dan jangan menyelisihi mereka. Hindarilah sikap otoriter dengan pendapatmu
sendiri, karena pemikiran yang benar itu tidak hanya ada dalam satu dada saja.
Benarkanlah orang yang memberi saran kepadamu jika ia membimbingmu kepada hal
yang engkau ketahui (kebenarannya), dan rahasiakanlah hal itu dari istri-istri
serta pelayan-pelayanmu. Perbaikilah dirimu sendiri, niscaya manusia akan
menjadi baik kepadamu.
Dirikanlah salat secara berjamaah, karena jika engkau
melakukannya, manusia akan mengakui hakmu. Kenalilah kehormatan penduduk
Madinah dan Makkah, karena mereka adalah asal-usulmu dan kaum kerabatmu.
Jagalah pula kehormatan penduduk Syam, karena mereka adalah para penolongmu,
pelindungmu, dan pasukanmu yang engkau gunakan untuk menyerang. Tulislah surat
kepada penduduk negeri-negeri besar yang berisi janji kebaikan dari dirimu
kepada mereka, karena hal itu akan membangkitkan harapan mereka. Jika datang kepadamu
utusan dari seluruh wilayah, maka berbuat baiklah dan muliakanlah mereka,
karena mereka adalah perwakilan bagi orang-orang di belakang mereka."
Ibnu Katsir berkata: "Yazid memiliki sifat-sifat
terpuji seperti kedermawanan, kesantunan (hilm), kefasihan bicara, kepiawaian
berpuisi, keberanian, dan pandangan yang baik dalam mengelola pemerintahan. Ia
juga seorang yang tampan dan menyenangkan dalam pergaulan. Namun demikian, ia
juga memiliki kecenderungan terhadap syahwat, serta meremehkan dan melalaikan
salat pada sebagian besar waktunya."
Pandangan Ibnu Katsir tentang Riwayat-Riwayat Terkait Kepemimpinan Yazid:
Imam Ahmad berkata: Abu Abdurrahman menceritakan kepada
kami, Haywah menceritakan kepada kami, Basyir bin Abi Amr Al-Khaulani
menceritakan kepadaku bahwa Al-Walid bin Qais menceritakan kepadanya bahwa ia
mendengar Abu Sa'id Al-Khudri berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda: «يَكُونُ
خَلْفٌ مِنْ بَعْدِ سِتِّينَ سَنَةً أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا
الشَّهَوَاتِ، فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيَّا، ثُمَّ يَكُونُ خَلْفٌ يَقْرَءُونَ
الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ» "Akan ada
generasi pengganti setelah tahun enam puluh yang menyia-nyiakan salat dan
memperturutkan syahwat, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (atau lembah
Ghayya di neraka). Kemudian akan ada generasi pengganti berikutnya yang membaca
Al-Qur'an, namun bacaan tersebut tidak melewati kerongkongan mereka."
Al-Hafiz Abu Ya'la berkata: Zuhair bin Harb menceritakan
kepada kami, Al-Fadhl bin Dukain menceritakan kepada kami, Kamil Abu Al-Ala
menceritakan kepada kami: Aku mendengar Abu Shalih, aku mendengar Abu Hurairah
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: «تَعَوَّذُوا
بِاللَّهِ مِنْ سَنَةِ سَبْعِينَ، وَمِنْ إِمَارَةِ الصَّبْيَانِ»
"Berlindunglah kalian kepada Allah dari tahun tujuh puluh dan dari
kepemimpinan anak-anak kecil."
Ibnu Asakir telah menyebutkan hadis-hadis yang mencela Yazid
bin Muawiyah, namun semuanya adalah hadis palsu (maudhu') dan tidak ada
satu pun yang sahih. Riwayat yang paling mendingan adalah apa yang telah kami
sebutkan di atas, meskipun sanad-sanadnya lemah dan sebagiannya terputus. Wallahu
a'lam (Dan Allah lebih mengetahui).
Ibnu Katsir berkata: "Yazid bin Muawiyah, hal yang
paling banyak dicela dari perbuatannya adalah meminum khamr dan melakukan
sebagian kekejian. Adapun mengenai pembunuhan Al-Husain, sesungguhnya
Yazid—sebagaimana yang dikatakan oleh kakeknya, Abu Sufyan pada perang
Uhud—tidak memerintahkan hal tersebut, namun hal itu juga tidak membuatnya
bersedih. Ketika penduduk Madinah keluar dari ketaatan kepadanya dan
mencopotnya (membatalkan baiat), lalu mengangkat Ibnu Muthi' dan Ibnu Hanzhalah
sebagai pemimpin mereka, mereka tidak menyebutkan tentang dirinya—padahal
mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya—kecuali apa
yang mereka sebutkan tentang kebiasaannya meminum khamr dan melakukan sebagian
kekotoran.
Mereka tidak menuduhnya melakukan kezindikan (keluar dari
Islam) sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian kaum Rafidhah kepadanya.
Melainkan, ia adalah seorang yang fasik, dan seorang yang fasik tidak boleh
dicopot kekuasaannya karena hal itu dapat memicu fitnah dan terjadinya
kekacauan (al-harj), sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Al-Harrah.
Sesungguhnya Yazid telah mengirim pasukan kepada mereka untuk mengembalikan
mereka ke dalam ketaatan dan memberi mereka waktu tangguh selama tiga hari.
Ketika mereka tidak mau kembali, ia pun memerangi mereka. Tindakan ini
sebenarnya sudah cukup, akan tetapi ia telah melampaui batas dalam
memerintahkan panglima perangnya untuk menghalalkan kota Madinah selama tiga
hari, hingga akibat hal tersebut terjadilah kesalahan yang sangat besar dan
kerusakan yang sangat luas."
Dan sungguh Abdullah bin Umar bin Al-Khattab beserta
rombongan dari Ahlul Bait Nabi termasuk orang-orang yang tidak membatalkan
perjanjian (baiat), dan tidak membaiat seorang pun setelah baiatnya kepada
Yazid.
Wafatnya:
Yazid wafat di Huwarin, salah satu desa di Damaskus, pada
tanggal 14 Rabiul Awwal tahun 64 Hijriah. Jenazahnya dibawa ke Damaskus,
disalatkan oleh putranya, Muawiyah bin Yazid, dan dimakamkan di pemakaman Babus
Shaghir.
Abdurrahman bin Abi Madzkur berkata: Sebagian ahli ilmu
menceritakan kepadaku, ia berkata: Perkataan terakhir yang diucapkan oleh Yazid
bin Muawiyah adalah: "Ya Allah, janganlah Engkau menghukumku atas apa
yang tidak aku sukai dan tidak aku inginkan, dan hakimilah antara aku dan
Ubaidillah bin Ziyad." Ukiran pada cincin stempelnya berbunyi: Amantu
billahil 'Azhim (Aku beriman kepada Allah Yang Maha Agung).
Pembaiatannya:
Ia dibaiat sebagai khalifah setelah ayahnya pada bulan Rajab
tahun 60 Hijriah. Pada hari ia dibaiat, ia berusia 34 tahun. Ia menetapkan para
gubernur (wakil) ayahnya di berbagai wilayah dan tidak memecat seorang pun dari
mereka; hal ini menunjukkan kecerdasannya.
Permintaannya untuk Dibaiat oleh Penduduk Madinah
Yazid menulis surat kepada gubernur Madinah, Al-Walid bin
Utbah: "Bismillahirrahmanirrahim. Dari Yazid Amirul Mukminin kepada
Al-Walid bin Utbah. Amma ba'du: Sesungguhnya Muawiyah adalah salah seorang
hamba dari hamba-hamba Allah. Allah telah memuliakannya, menjadikannya
khalifah, memberinya kekuasaan, dan mengukuhkannya. Ia telah hidup sesuai
ketentuan dan wafat sesuai ajalnya. Semoga Allah merahmatinya, ia telah hidup
dengan terpuji dan wafat sebagai orang yang berbakti lagi bertakwa.
Wassalam."
Kemudian Yazid memerintahkannya untuk mengambil baiat dari
Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Az-Zubair. Al-Walid lalu
mengirim utusan kepada Marwan, membacakan surat tersebut kepadanya, dan meminta
sarannya mengenai urusan orang-orang ini. Marwan berkata: "Aku
berpendapat sebaiknya engkau memanggil mereka untuk berbaiat sebelum mereka
mengetahui kematian Muawiyah." Maka saat itu juga Al-Walid mengutus
Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan kepada Al-Husain dan Ibnu Az-Zubair yang
saat itu sedang berada di masjid. Utusan itu berkata kepada keduanya: "Penuhilah
panggilan Amir." Keduanya menjawab: "Pergilah dulu sekarang,
kami akan menyusul."
Kemudian Husain berdiri dan membawa serta para mantan
budaknya (mawali), lalu mendatangi pintu kediaman Amir. Ia meminta izin
masuk, lalu diizinkan, sementara Marwan berada di sisi Amir. Al-Walid bin Utbah
menyerahkan surat tersebut kepadanya dan mengabarkan kematian Muawiyah. Husain
pun mengucapkan kalimat istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un)
dan berkata: "Semoga Allah merahmati Muawiyah, dan semoga Allah
mengagungkan pahalamu." Kemudian Amir mengajaknya untuk berbaiat, lalu
Al-Husain berkata kepadanya: "Orang sepertiku tidak layak membaiat
secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, apabila orang-orang telah berkumpul,
panggillah kami bersama mereka, sehingga menjadi satu urusan yang
terbuka." Al-Walid—yang menyukai kedamaian dan keselamatan—berkata
kepadanya: "Kalau begitu silakan kembali dengan menyebut nama Allah,
sampai engkau mendatangi kami bersama orang banyak."
Adapun Ibnu Az-Zubair, ia tidak mendatangi Amir, kemudian
keduanya sepakat untuk pergi ke Makkah. Sementara itu, Ibnu Umar tidak sedang
berada di Madinah; ia dan Ibnu Abbas berada di Makkah. Al-Husain dan Ibnu
Az-Zubair bertemu dengan keduanya saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang
dari Makkah. Keduanya bertanya: "Ada kabar apa di belakang
kalian?" Keduanya menjawab: "Kematian Muawiyah dan baiat untuk
Yazid." Ibnu Umar berkata kepada keduanya: "Bertakwalah kepada
Allah, dan janganlah kalian memecah belah persatuan kaum muslimin."
Ibnu Umar dan Ibnu Abbas pun tiba di Madinah. Ketika
keputusan baiat telah datang dari kota-kota besar (al-amsyar), keduanya
ikut berbaiat bersama masyarakat. Adapun Al-Husain dan Ibnu Az-Zubair, keduanya
tiba di Makkah dan mendapati gubernur Makkah, Amr bin Said bin Al-Ash, di sana.
Mereka berdua merasa khawatir terhadapnya dan berkata: "Sesungguhnya
kami datang untuk berlindung di Rumah (Baitullah) ini."
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar