Kekhalifahan Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu (23 - 35 H)
Bab Pertama: Biografi Beliau
Nasab dan Kedudukannya:
Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah
bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Kunyah beliau adalah Abu Amr dan Abu Abdullah.
Beliau berasal dari suku Quraisy keturunan Umayyah, seorang Amirul Mukminin
(pemimpin orang-orang beriman), Dzu Al-Nurain (pemilik dua cahaya),
orang yang melakukan dua kali hijrah, dan suami dari dua putri Rasulullah.
Ibunya bernama Arwa binti Kuriz bin Rabi'ah bin Habib bin
Abdi Syams. Sementara nenek dari pihak ibunya bernama Ummu Hakim, yang dikenal
sebagai Al-Baidha binti Abdul Muthalib, bibi kandung Rasulullah SAW.
Beliau merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang
dijamin masuk surga, salah satu dari enam anggota dewan syura, dan salah satu
dari tiga orang yang akhirnya disaring dari enam anggota tersebut untuk
memegang kekhalifahan. Pada akhirnya, kepemimpinan mutlak diserahkan kepada
beliau berdasarkan kesepakatan (ijmak) kaum Muhajirin dan Anshar radhiyallahu
'anhum. Beliau menjadi Khalifah Rasyidin yang ketiga, serta termasuk imam
yang mendapat petunjuk, yang kita diperintahkan untuk mengikuti dan meneladani
mereka.
Ciri Fisik dan Akhlaknya:
Utsman radhiyallahu 'anhu adalah seorang pria
berwajah tampan, berkulit halus, berjenggot lebat, berpostur tubuh sedang,
memiliki tulang persendian yang besar, dan berpundak lebar. Rambut kepalanya
lebat, susunan giginya rapi dan indah, serta warna kulitnya agak kecokelatan.
Ada pula yang menyebutkan bahwa di wajah beliau terdapat sedikit bekas penyakit
cacar.
Beliau radhiyallahu 'anhu memiliki akhlak yang sangat
mulia, sangat pemalu, dan luar biasa dermawan. Beliau sering kali mengutamakan
pemberian kepada keluarga dan kerabatnya demi mendekatkan hati mereka
menggunakan harta dunia yang fana. Harapannya, hal itu dapat membuat mereka
lebih mencintai hal-hal yang kekal daripada yang akan sirna.
Cara ini sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi SAW yang
memberi kepada sebagian kelompok dan tidak memberi kepada yang lain. Beliau
memberi kepada suatu kaum karena khawatir Allah akan menjerumuskan mereka ke
dalam neraka, sementara menyerahkan kaum lainnya pada petunjuk dan keimanan
yang telah Allah tanamkan di dalam hati mereka. Akibat sifat Utsman yang suka
memberi ini, ada sebagian orang yang mencelanya, mirip seperti sikap kaum
Khawarij yang dahulu mencela Rasulullah SAW dalam hal pembagian harta rampasan
perang pada Perang Hunain.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Athath bin Farrukh, mantan
budak orang-orang Quraisy, bahwa Utsman pernah membeli sebidang tanah dari
seorang pria. Namun, pria tersebut lambat menemui Utsman untuk menyelesaikan
transaksi. Ketika bertemu, Utsman bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk
mengambil uangmu?"
Pria itu menjawab, "Anda telah merugikan saya (membeli
terlalu murah). Setiap kali saya bertemu orang, mereka selalu menyalahkan
saya."
Utsman bertanya, "Apakah hal itu yang
menghalangimu?"
Pria itu menjawab, "Ya."
Utsman lalu berkata, "Kalau begitu, silakan pilih
antara tanahmu kembali atau uangmu." Kemudian Utsman berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
أدخل
الله الجنة رجلاً كان سهلاً مشترياً وبائعاً وقاضياً ومقتضياً
"Semoga Allah memasukkan ke dalam surga, seorang
pria yang memudahkan ketika membeli, memudahkan ketika menjual, memudahkan
ketika memutuskan hukum, dan memudahkan ketika menuntut hak."
Ibnu Jarir juga meriwayatkan bahwa Talhah pernah bertemu
Utsman yang sedang berjalan menuju masjid. Talhah berkata kepada beliau,
"Uang 50.000 (dirham) milikmu yang ada padaku sudah siap, utuslah
seseorang untuk mengambilnya." Utsman menjawab, "Uang itu telah kami
hadiahkan kepadamu karena kemuliaan akhlakmu."
Al-Asma'i menceritakan: Ibnu Amir mengangkat Qathan bin Auf
Al-Hilali sebagai gubernur di wilayah Kerman. Suatu ketika, datanglah pasukan
muslim sebanyak 4.000 personel. Namun, sebuah lembah yang dialiri air deras
(banjir) menghalangi jalan mereka. Qathan khawatir mereka akan kehilangan
momentum, lalu ia berseru, "Siapa saja yang berhasil menyeberangi lembah
ini, maka ia mendapatkan 1.000 dirham."
Pasukan pun memberanikan diri menyeberang dengan taruhan
nyawa. Setiap kali ada seorang prajurit yang berhasil menyeberang, Qathan
berkata, "Berikan hadiahnya," hingga akhirnya mereka semua berhasil
menyeberang dan Qathan menghabiskan total 4.000.000 dirham. Ibnu Amir (sang
gubernur pusat) menolak untuk memasukkan pengeluaran itu ke dalam anggaran
negara. Masalah ini kemudian dilaporkan secara tertulis kepada Utsman bin
Affan. Utsman lalu membalas surat tersebut dengan keputusan: "Masukkan
pengeluaran itu ke dalam anggarannya, karena sesungguhnya ia melakukan hal itu
untuk membantu kaum muslimin di jalan Allah." Maka sejak hari itu,
pemberian hadiah dari pemerintah disebut dengan istilah "Ijazah
Al-Wadi" (penghargaan penyeberangan lembah).
Keislaman dan Jihadnya:
Utsman radhiyallahu 'anhu masuk Islam sejak masa awal
(termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam) melalui perantara Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Beliau adalah orang pertama yang berhijrah ke Habasyah (Etiopia)
bersama istrinya, Ruqayyah, putri Rasulullah SAW. Setelah itu beliau kembali ke
Makkah, lalu berhijrah ke Madinah.
Ketika Perang Badar terjadi, beliau sibuk merawat putri
Rasulullah SAW (Ruqayyah yang sedang sakit), sehingga beliau harus tetap
tinggal di Madinah. Walau demikian, Rasulullah SAW tetap memberikan bagian
harta rampasan perang dan pahala perang kepadanya, sehingga beliau tetap
dihitung sebagai orang yang ikut serta dalam Perang Badar.
Setelah istrinya (Ruqayyah) wafat, Rasulullah SAW menikahkan
beliau dengan adiknya, yaitu Ummu Kultsum, yang kemudian wafat juga saat
menjadi istri beliau. Utsman ikut serta dalam Perang Uhud, Perang Khandaq, dan
Perjanjian Hudaibiyah. Pada saat Hudaibiyah, Rasulullah SAW mewakili baiat
untuk Utsman menggunakan salah satu tangan beliau sendiri. Beliau juga ikut
serta dalam Perang Khaibar, Umrah Qadha, Pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah),
Perang Hawazin, Perang Thaif, dan Perang Tabuk. Pada Perang Tabuk, beliau
menyumbang dan mempersiapkan Pasukan Kesulitan (Jaisyul Usrah) dengan
membawa 300 unta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya.
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah bahwa pada hari
itu (Perang Tabuk), Utsman datang membawa 1.000 dinar emas lalu menuangkannya
ke dalam pangkuan Rasulullah SAW. Melihat hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda
sebanyak dua kali:
ما ضر
عثمان ما فعل بعد هذا اليوم
"Tidak ada yang dapat membahayakan (dosa) Utsman
setelah hari ini, atas apa pun yang ia lakukan."
Beliau melaksanakan Haji Wada' bersama Rasulullah SAW, dan
ketika Rasulullah wafat, beliau dalam keadaan rida kepadanya. Beliau juga
mendampingi Abu Bakar dengan pendampingan yang sangat baik, dan Abu Bakar wafat
dalam keadaan rida kepadanya. Beliau kemudian mendampingi Umar dengan
pendampingan yang sangat baik, dan Umar pun wafat dalam keadaan rida kepadanya.
Umar secara tegas memasukkan namanya ke dalam enam anggota dewan syura, dan
beliau adalah yang terbaik di antara mereka.
Beliau memegang kekhalifahan setelah wafatnya Umar. Di bawah
kepemimpinannya, Allah membuka banyak sekali wilayah dan kota-kota besar. Wilayah
kekuasaan Islam semakin luas, negara yang dibawa oleh Nabi Muhammad semakin
membentang, dan dakwah Rasulullah sampai ke ujung timur dan barat bumi. Di masa
inilah tampak jelas bagi manusia kebenaran firman Allah Swt.:
﴿وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
وَلَيُمَكِنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم
مِّنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمَنَا﴾
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di
antara kamu yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar akan mengubah
(keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa."
(QS. An-Nur: 55)
Dan firman Allah Ta'ala:
﴿هُوَ
الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى
الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ﴾
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala
agama-agama meskipun orang-orang musyrik membencinya." (QS. Ash-Saff:
9)
Serta sabda Rasulullah SAW:
إذا
هلك قيصر فلا قيصر بعده، وإذا هلك كسرى فلا كسرى بعده والذي نفسي بيده لتنفقن
كنوزهما في سبيل الله
"Jika Kaisar telah binasa maka tidak ada Kaisar
setelahnya, dan jika Kisra telah binasa maka tidak ada Kisra setelahnya. Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh simpanan kekayaan keduanya
benar-benar akan dinafkahkan di jalan Allah."
Semua nubuwat ini benar-benar terwujud nyata, terbukti, dan
kukuh terjadi pada masa kekhalifahan Utsman radhiyallahu 'anhu.
Keutamaan-Keutamaan Utsman Radhiyallahu 'Anhu:
Kabar Gembira Mengenai Surga untuk Beliau
- Nabi
SAW bersabda:
من
يحفر بئر رومة فله الجنة
"Barang siapa yang menggali sumur Rumis, maka
baginya surga." Lalu Utsman pun menggalinya.
- Beliau
SAW juga bersabda:
من جهز
جيش العسرة فله الجنة
"Barang siapa yang mempersiapkan perbekalan Pasukan
Kesulitan (Jaisyul Usrah), maka baginya surga." Lalu Utsman pun
mempersiapkannya.
- Diriwayatkan
dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi SAW memasuki sebuah
kebun dan memerintahkanku untuk menjaga pintu kebun tersebut. Kemudian
datanglah seorang pria meminta izin untuk masuk. Beliau bersabda:
ائذن
له وبشره بالجنة
"Izinkan dia masuk dan berilah kabar gembira
kepadanya dengan surga." Ternyata orang itu adalah Abu Bakar.
Kemudian datang pria lain meminta izin. Beliau bersabda:
ائذن
له وبشره بالجنة
"Izinkan dia masuk dan berilah kabar gembira
kepadanya dengan surga." Ternyata orang itu adalah Umar.
Kemudian datang pria lain lagi meminta izin. Beliau SAW
terdiam sejenak lalu bersabda:
ائذن
له وبشره بالجنة على بلوى ستصيبه
"Izinkan dia masuk dan berilah kabar gembira
kepadanya dengan surga atas musibah/ujian yang akan menimpanya."
Ternyata orang itu adalah Utsman bin Affan.
Utsman Termasuk Orang yang Memenuhi Seruan Allah dan
Rasul-Nya serta Melakukan Dua Kali Hijrah
Diriwayatkan dari Ibnu Shihab, dari Urwah, bahwa Ubaidillah
bin Adi bin al-Khiyar mengabarkan kepadanya bahwa Al-Miswar bin Makhramah dan
Abdurrahman bin al-Aswad bin Abdi Yaghuts berkata: "Apa yang menghalangimu
untuk berbicara kepada Utsman mengenai saudaranya, Al-Walid? Karena orang-orang
telah banyak membicarakannya."
Maka aku sengaja menemui Utsman hingga beliau keluar untuk
melaksanakan salat. Aku berkata, "Sesungguhnya aku memiliki keperluan
kepadamu, berupa sebuah nasihat untukmu."
Beliau berkata, "Aku berlindung kepada Allah
darimu." Maka aku pun berbalik lalu kembali kepada mereka berdua.
Tiba-tiba datanglah utusan Utsman memanggilku.
Ketika aku menemuinya, beliau bertanya, "Apa
nasihatmu?"
Aku menjawab, "Sesungguhnya Allah Swt. telah mengutus
Muhammad dengan membawa kebenaran dan menurunkan Al-Kitab kepadanya. Dan engkau
termasuk orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, engkau telah melakukan
dua kali hijrah, mendampingi Rasulullah SAW, serta melihat tuntunannya.
Sementara itu, orang-orang kini telah banyak membicarakan perihal
Al-Walid."
Utsman bertanya, "Apakah engkau pernah menjumpai
Rasulullah SAW?"
Aku menjawab, "Tidak, akan tetapi ilmu beliau telah
sampai kepadaku secara murni, sebagaimana murninya seorang gadis pingitan di
dalam tirainya."
Utsman berkata, "Amma ba'du. Sesungguhnya Allah telah
mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran, maka aku termasuk orang yang
memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Aku beriman kepada apa yang beliau bawa
dan aku telah melakukan dua kali hijrah—sebagaimana yang engkau katakan. Aku
pun mendampingi Rasulullah SAW serta membaiat beliau. Demi Allah, aku tidak
pernah mendurhakai beliau dan tidak pula mengkhianati beliau hingga Allah
mewafatkannya. Kemudian demikian pula kepemimpinan Abu Bakar, lalu kepemimpinan
Umar. Setelah itu aku diangkat menjadi khalifah. Bukankah aku memiliki hak yang
sama seperti hak yang mereka miliki?"
Aku menjawab, "Benar."
Beliau berkata, "Lalu apa perkataan-perkataan yang
sampai kepadaku dari kalian ini? Adapun mengenai apa yang engkau sebutkan
tentang perkara Al-Walid, maka kita akan menegakkan kebenaran padanya, insya
Allah ." Kemudian Utsman memanggil Ali dan memerintahkannya untuk
mencambuk Al-Walid, maka Ali pun mencambuknya sebanyak delapan puluh kali.
Kabar Gembira Mengenai Kesyahidan Beliau
Diriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas radhiyallahu 'anhu
berkata: "Nabi SAW mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan
Utsman. Tiba-tiba gunung tersebut bergetar. Maka beliau bersabda (seraya
memukulnya dengan kaki beliau):
اسكن
أحد فليس عليك إلا نبي وصديق وشهيدان
"Tenanglah wahai Uhud! Karena tidak ada di atasmu
melainkan seorang Nabi, seorang Shiddiq (orang yang sangat membenarkan), dan
dua orang syahid."
Urutan Keutamaan Beliau
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia
berkata: "Pada zaman Nabi SAW, kami tidak menyetarakan seorang pun dengan
Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. Setelah itu kami membiarkan para
sahabat Nabi SAW lainnya tanpa membeda-bedakan keutamaan di antara
mereka."
Kesaksian Ibnu Umar tentang Keutamaan Utsman dan Pembelaannya terhadap Beliau:
Diriwayatkan dari Utsman bin Wahb, ia berkata: Datanglah
seorang pria dari penduduk Mesir untuk menunaikan ibadah haji di Baitullah. Ia
melihat sekelompok orang sedang duduk-duduk, lalu bertanya, "Siapakah
mereka itu?"
Orang-orang menjawab, "Mereka adalah kaum
Quraisy." Ia bertanya lagi, "Siapakah orang yang paling tua (guru) di
antara mereka?" Mereka menjawab, "Abdullah bin Umar."
Pria itu berkata, "Wahai Ibnu Umar, sesungguhnya aku
ingin menanyakan sesuatu kepadamu, maka ceritakanlah kepadaku: Apakah engkau
tahu bahwa Utsman melarikan diri pada hari Perang Uhud?"
Ibnu Umar menjawab, "Ya."
Pria itu bertanya lagi, "Apakah engkau tahu bahwa
beliau absen dari Perang Badar dan tidak ikut menyaksikannya?" Ibnu Umar
menjawab, "Ya."
Pria itu bertanya lagi, "Apakah engkau tahu bahwa
beliau absen dari Baiat Ridwan dan tidak ikut menghadirinya?" Ibnu Umar
menjawab, "Ya." Pria itu pun berseru, "Allahu Akbar!"
Ibnu Umar berkata, "Kemarilah, aku akan jelaskan
kepadamu. Adapun mengenai larinya beliau pada hari Perang Uhud, maka aku
bersaksi bahwa Allah telah memaafkannya dan mengampuninya.
Adapun mengenai absennya beliau dari Perang Badar, hal itu
karena istri beliau (yaitu putri Rasulullah SAW) sedang sakit parah. Maka
Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
إن لك
أجر رجل ممن شهد بدراً وسهمه
"Sesungguhnya bagimu pahala seperti pahala orang
yang hadir dalam Perang Badar dan engkau tetap mendapatkan bagian harta
rampasannya."
Adapun mengenai absennya beliau dari Baiat Ridwan, andaikata
ada orang yang lebih terpandang dan berpengaruh di kota Makkah daripada Utsman,
niscaya Rasulullah akan mengutus orang tersebut sebagai gantinya. Namun
Rasulullah SAW tetap mengutus Utsman, dan peristiwa Baiat Ridwan itu terjadi
setelah Utsman berangkat ke Makkah. Maka Rasulullah SAW mengisyaratkan dengan
tangan kanan beliau seraya bersabda: 'Ini adalah tangan Utsman.' Lalu beliau
menepukkannya pada tangan beliau yang lain dan bersabda: 'Ini baiat untuk
Utsman'."
Kemudian Ibnu Umar berkata kepada pria tersebut,
"Bawalah penjelasan ini bersamamu sekarang."
Sifat Malu Utsman:
Diriwayatkan dari Yahya bin Said bin al-Ash bahwa Said bin
al-Ash mengabarkan kepadanya bahwa Aisyah—istri Nabi SAW—dan Utsman
menceritakan kepadanya : Bahwa Abu Bakar pernah meminta izin untuk menemui Nabi
SAW ketika beliau sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan memakai
pakaian luar milik Aisyah. Beliau pun mengizinkannya masuk dalam kondisi
seperti itu, lalu Abu Bakar menyampaikan keperluannya kemudian pergi. Setelah
itu, Umar meminta izin untuk masuk, dan beliau pun mengizinkannya dalam kondisi
yang sama, lalu Umar menyampaikan keperluannya kemudian pergi.
Utsman menceritakan: "Kemudian aku meminta izin kepada
beliau, lalu beliau langsung duduk dan berkata kepada Aisyah:
اجمعي
عليك ثيابك
"Rapikanlah pakaianmu."
Maka aku pun menyampaikan keperluanku kepada beliau kemudian
pergi. Setelah itu Aisyah bertanya, 'Wahai Rasulullah! Mengapa aku tidak
melihatmu bersiap-siap (merapikan diri) untuk Abu Bakar dan Umar sebagaimana
engkau bersiap-siap untuk Utsman?'
Maka Rasulullah SAW bersabda:
إن
عثمان رجل حيي، وإني خشيت إن أذنت له على تلك الحالة لا يبلغ إلى حاجته
"Sesungguhnya Utsman adalah seorang pria yang sangat
pemalu. Aku khawatir jika aku mengizinkannya masuk dalam kondisi seperti tadi,
ia menjadi sungkan dan tidak jadi menyampaikan keperluannya."
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW
bersabda kepada Aisyah:
ألا
أستحي ممن تستحي منه الملائكة
"Bagaimana mungkin aku tidak merasa malu kepada
seseorang yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?"
Diriwayatkan dari Anas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda:
أرحم
أمتي أبو بكر، وأشدها في دين الله عمر، وأشدها حياءً عثمان، وأعلمها بالحلال
والحرام معاذ بن جبل، وأقرؤها لكتاب الله أبي، وأعلمها بالفرائض زيد بن ثابت، ولكل
أمة أمين وأمين هذه الأمة أبو عبيدة بن الجراح
"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang
paling tegas dalam menjalankan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu
adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu'adz bin
Jabal, yang paling mahir membaca Kitabullah adalah Ubay, yang paling menguasai
ilmu waris (faraidh) adalah Zaid bin Tsabit. Dan ketahuilah, setiap umat
memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah
bin al-Jarrah."
Kedudukan Utsman di Tengah Umat
Diriwayatkan dari Umar, ia berkata: Rasulullah SAW keluar
menemui kami pada suatu pagi setelah matahari terbit, lalu beliau bersabda:
رأيت
قبل الفجر كأني أعطيت المقاليد والموازين، فأما المقاليد فهذه المفاتيح، وأما
الموازين فهي التي يوزن بها، فوضعت في كفة ووضعت أمتي في كفة فوزنت بهم فرجحت، ثم
جيء بأبي بكر فوزن، فوزن بهم، ثم جيء بعمر فوزن، فوزن بهم، ثم جيء بعثمان فوزن
فوزن بهم، ثم رفعت
"Aku bermimpi sebelum fajar seakan-akan aku
diberikan kunci-kunci kekuasaan (al-maqalid) dan timbangan-timbangan
(al-mawazin). Adapun al-maqalid adalah kunci-kunci ini, sedangkan al-mawazin
adalah alat yang digunakan untuk menimbang. Lalu aku diletakkan di satu daun
timbangan dan umatku diletakkan di daun timbangan yang lain, maka aku ditimbang
dengan mereka dan timbanganku lebih berat. Kemudian didatangkan Abu Bakar lalu
ia ditimbang, dan timbangannya seberat mereka. Kemudian didatangkan Umar lalu
ia ditimbang, dan timbangannya seberat mereka. Kemudian didatangkan Utsman lalu
ia ditimbang, dan timbangannya seberat mereka. Setelah itu timbangan tersebut
diangkat."
Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
إني
رأيت أني وضعت في كفة وأمتي في كفة فعدلتها، ثم وضع أبو بكر في كفة وأمتي في كفة
فعدلها، ثم وضع عمر في كفة وأمتي في كفة فعدلها، ثم وضع عثمان في كفة وأمتي في كفة
فعدلها
"Sesungguhnya aku bermimpi melihat diriku diletakkan
di satu daun timbangan dan umatku di daun timbangan yang lain, maka aku
menyeimbangi mereka. Kemudian Abu Bakar diletakkan di satu daun timbangan dan
umatku di daun timbangan yang lain, maka ia menyeimbangi mereka. Kemudian Umar
diletakkan di satu daun timbangan dan umatku di daun timbangan yang lain, maka
ia menyeimbangi mereka. Kemudian Utsman diletakkan di satu daun timbangan dan
umatku di daun timbangan yang lain, maka ia menyeimbangi mereka."
Wasiat Nabi kepada Utsman untuk Bersabar dan Tidak Memenuhi Tuntutan Menurunkan Jabatannya:
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia
berkata: Rasulullah SAW pernah mengutus seseorang untuk memanggil Utsman bin
Affan, lalu Rasulullah SAW menyambutnya dengan hangat. Ketika kami melihat
kehangatan Rasulullah SAW kepada Utsman, sebagian kami saling berbisik kepada
yang lain. Di antara kalimat terakhir yang beliau ucapkan kepada Utsman adalah
beliau menepuk pundaknya seraya bersabda:
يا
عثمان إن الله عسى أن يلبسك قميصاً فإن أرادك المنافقون على خلعه فلا تخلعه حتى
تلقاني
"Wahai Utsman, sesungguhnya Allah mungkin akan
memakaikan sebuah pakaian (jabatan khalifah) kepadamu. Jika orang-orang munafik
menginginkanmu untuk melepaskannya, maka jangan sekali-kali engkau
melepaskannya sampai engkau menemuiku (wafat)." Beliau mengucapkannya
tiga kali.
Dalam riwayat lain dari Abu Sahilah, dari Utsman,
sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
إن
رسول الله ﷺ عهد إلي عهداً فأنا صابر نفسي عليه
"Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memberikan suatu
wasiat (janji) kepadaku, maka aku akan menyabarkan diriku di atas wasiat
tersebut."
Dan Faraj bin Fadhalah meriwayatkannya dari Muhammad bin
Al-Walid Az-Zubaidi, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, lalu ia
menyebutkannya.
Daraquthni berkata: "Hadis ini hanya diriwayatkan
sendiri (tafarrud) oleh Al-Faraj bin Fadhalah."
Kesaksian Aisyah untuk Utsman Radhiyallahu 'Anhu
Imam Ahmad berkata: Abdussamad menceritakan kepada kami,
Fatimah binti Abdul Rahman menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibuku
menceritakan kepadaku bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah. Saat itu pamannya
mengutusnya dan berkata, "Salah seorang anakmu menyampaikan salam kepadamu
dan bertanya kepadamu tentang Utsman, karena orang-orang telah
mencelanya."
Aisyah menjawab: "Semoga Allah melaknat orang yang
melaknatnya. Demi Allah, sungguh ia pernah duduk di dekat Rasulullah ﷺ,
sedangkan Rasulullah ﷺ
bersandar pada punggungku, dan Jibril sedang mewahyukan Al-Qur'an kepada
beliau. Beliau ﷺ
bersabda kepada Utsman: 'Tulis wahai Utsaim (panggilan kesayangan untuk
Utsman).' Tidaklah Allah menempatkannya pada kedudukan tersebut melainkan
karena ia adalah orang yang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya."
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Yunus, dari Umar
bin Ibrahim Al-Yashkuri, dari ibunya, dari neneknya, bahwa ia bertanya kepada
Aisyah di dekat Ka'bah tentang Utsman, lalu ia menyebutkan riwayat yang serupa.
Kabar dari Nabi tentang Terjadinya Fitnah Tempat Terbunuhnya Utsman dan Bahwa Ia Berada di Atas Kebenaran
Imam Ahmad berkata: Aswad bin Amir menceritakan kepada kami,
Sinan bin Harun menceritakan kepada kami, Kulaib bin Wa'il menceritakan kepada
kami, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ menceritakan tentang sebuah fitnah
(kekacauan), lalu beliau bersabda:
«يُقْتَلُ
فِيهَا هَذَا الْمُقَنَّعُ يَوْمَئِذٍ مَظْلُومًا»
"Akan dibunuh dalam fitnah tersebut orang yang
memakai penutup kepala ini, yang pada hari itu ia berada dalam keadaan
dizalimi."
Lalu aku melihat orang tersebut, ternyata ia adalah Utsman
bin Affan.
Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibrahim
bin Sa'ad, dari Shadhan, dan ia berkata: "Hadis ini hasan gharib dari
jalur sanad Ibnu Umar ini."
Imam Ahmad berkata: Affan menceritakan kepada kami, Wuhaib
menceritakan kepada kami, Musa bin Uqbah menceritakan kepada kami, kakekku dari
pihak ibuku—Abu Habibah—menceritakan kepadaku bahwa ia pernah masuk ke dalam
rumah saat Utsman sedang dikepung di dalamnya. Ia mendengar Abu Hurairah
meminta izin kepada Utsman untuk berbicara, lalu Utsman mengizinkannya. Abu
Hurairah pun berdiri, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata:
"Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّكُمْ
تَلْقَوْنَ بَعْدِي فِتْنَةً وَاخْتِلَاقًا — أَوْ قَالَ اخْتِلَافًا وَفِتْنَةً»
"Sesudahku nanti, kalian akan menemui fitnah dan
kebohongan—atau beliau bersabda: perselisihan dan fitnah."
Lalu seseorang bertanya kepada beliau, "Lalu siapakah
yang harus kami ikuti (agar selamat), wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda:
«عَلَيْكُمْ
بِالأَمِينِ وَأَصْحَابِهِ»
"Hendaklah kalian bersama al-Amin (orang yang
tepercaya) ini dan para sahabatnya." Seraya beliau memberikan isyarat
kepada Utsman dengan ucapan tersebut.
Ibnu Katsir berkata: "Ahmad meriwayatkannya secara
sendirian, dan sanadnya jayyid (baik) lagi hasan. Mereka tidak mengeluarkannya
dari jalur sanad ini."
Imam Ahmad berkata: Abu Usamah Hammad bin Usamah
menceritakan kepada kami, Kahmas bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, dari
Abdullah bin Syaqiq, Harami bin Al-Harits dan Usamah bin Khuraim menceritakan
kepadaku—saat keduanya sedang pergi berperang, dan masing-masing menceritakan
hadis ini kepadaku tanpa menyadari bahwa temannya juga telah menceritakannya
kepadaku—dari Murrah Al-Bahzi, ia berkata: Ketika kami sedang bersama
Rasulullah ﷺ
di salah satu jalan di kota Madinah, beliau bersabda: "Bagaimana tindakan
kalian jika terjadi fitnah yang bergejolak di berbagai belahan bumi bagaikan
tanduk-tanduk sapi?"
Mereka bertanya, "Apa yang harus kami lakukan, wahai
Rasulullah?" Beliau bersabda: "Hendaklah kalian mengikuti orang ini
dan para sahabatnya—atau ikutilah orang ini dan para sahabatnya."
Murrah berkata: "Maka aku pun bergegas hingga merasa
lelah, lalu aku mendapati orang tersebut dan bertanya: 'Orang ini, wahai
Rasulullah?'"
Beliau menjawab: "Orang ini." Ternyata orang
tersebut adalah Utsman bin Affan, lalu beliau bersabda: "Orang ini dan
para sahabatnya," kemudian ia menyebutkan kelanjutan hadisnya.
At-Tirmidzi berkata dalam kitab Jami'-nya: Muhammad bin
Basysyar menceritakan kepada kami, Abdul Wahab Al-Thaqafi menceritakan kepada
kami, Ayyub menceritakan kepada kami, dari Abi Qilabah, dari Abu Al-Asy'ats
Al-Shan'ani, bahwasanya ada para orator yang berdiri menyampaikan khotbah di
Syam, dan di antara mereka terdapat para sahabat Nabi ﷺ. Lalu orang yang terakhir berdiri di
antara mereka adalah seorang pria yang dipanggil Murrah bin Ka'ab, ia berkata:
"Kalaulah bukan karena sebuah hadis yang aku dengar langsung dari
Rasulullah ﷺ,
niscaya aku tidak akan berbicara." Ia lalu menyebutkan tentang
fitnah-fitnah dan menggambarkan kedekatan waktunya. Kemudian lewatlah seorang
pria yang menutup kepalanya dengan pakaian.
Pria itu berkata: "Pria ini pada hari terjadinya fitnah
berada di atas petunjuk." Lalu aku berdiri menuju pria tersebut, dan
ternyata ia adalah Utsman bin Affan. Murrah berkata: "Maka aku
menghadapkan wajahnya ke arah beliau (Rasulullah) lalu aku bertanya: 'Orang
ini?' Beliau menjawab: 'Ya'." Kemudian At-Tirmidzi berkata: "Hadis
ini hasan shahih."
Kesungguhannya dalam Beribadah
Telah diriwayatkan dari berbagai jalur bahwa beliau pernah
mengerjakan salat dengan mengkhatamkan seluruh Al-Qur'an yang agung hanya dalam
satu rakaat di dekat Hajar Aswad pada hari-hari ibadah haji. Hal ini telah
menjadi kebiasaan beliau radhiyallahu 'anhu.
Oleh karena itu, diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya ia
berkata mengenai firman Allah Ta'ala:
﴿أَمَّنْ
هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو
رَحْمَةَ رَبِّهِ﴾
"Aparakah kamu hai orang musyrik yang beruntung)
ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?"
(QS. Az-Zumar: 9)
Ibnu Umar berkata: "Orang yang dimaksud adalah Utsman
bin Affan."
Ibnu Abbas berkata mengenai firman Allah Ta'ala:
﴿هَلْ
يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾
"...apakah orang itu sama dengan orang yang menyuruh
berbuat adil, dan ia berada di atas jalan yang lurus?" (QS. An-Nahl:
76)
Ibnu Abbas berkata: "Orang tersebut adalah
Utsman."
Hassan radhiyallahu 'anhu berkata dalam syairnya:
ضَحَّوْا
بِأَشْمَطَ عُنْوَانُ السُّجُودِ بِهِ ... يُقَطِّعُ اللَّيْلَ تَسْبِيحًا
وَقُرْآنَا
Mereka menyembelih (membunuh) seorang pria tua yang
beruban, yang dahinya menampakkan tanda bekas sujud,
Ia menghabiskan waktu malamnya dengan memotong gulita
melalui tasbih dan bacaan Al-Qur'an.
Penyebutan Istri-istri, Anak Laki-laki, dan Anak Perempuannya
- Beliau
menikahi Ruqayyah, putri Rasulullah ﷺ, lalu lahirlah
Abdullah darinya, yang dengannya beliau diberi kunyah (panggilan Abu
Abdullah).
- Kemudian
ketika Ruqayyah wafat, beliau menikahi saudarinya, Ummu Kultsum, yang
kemudian wafat pula.
- Beliau
menikahi Fakhitah binti Ghazwan bin Jabir, lalu lahirlah Abdullah
al-Asghar (Abdullah yang kecil) darinya.
- Beliau
menikahi Ummu Amr binti Jundub bin Amr Al-Azdiyyah, lalu melahirkan Amr
(yang dengannya beliau juga diberi kunyah), Khalid, Aban, Umar, dan
Maryam.
- Beliau
menikahi Fatimah binti Al-Walid bin Abdi Syams bin Al-Mughirah
Al-Makhzumiyyah, lalu melahirkan Walid, Said, dan Ummu Utsman.
- Beliau
menikahi Ummu Al-Banin binti Uyainah bin Hishn Al-Fazariyyah, lalu
melahirkan Abdul Malik, dan ada yang mengatakan: juga Utbah.
- Beliau
menikahi Ramlah binti Syaibah bin Rabi'ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf
bin Qushay, lalu melahirkan Aisyah, Ummu Aban, dan Ummu Amr, putri-putri
Utsman.
- Beliau
menikahi Nailah binti Al-Farafisah bin Al-Ahwash bin Amr bin Tsa'labah bin
Al-Harits bin Hishn bin Dlamdlam bin Adi bin Janab bin Kalb, lalu
melahirkan Maryam, dan ada yang mengatakan: juga Anbasah.
Beliau radhiyallahu 'anhu terbunuh dalam keadaan memiliki
empat orang istri di sisinya, yaitu: Nailah, Ramlah, Ummu Al-Banin, dan
Fakhitah.
Ada pula yang mengatakan bahwa beliau telah menceraikan Ummu
Al-Banin saat beliau sedang dikepung.
Wasiatnya
Hisyam bin Urwah berkata dari ayahnya: "Sesungguhnya
Utsman radhiyallahu 'anhu memberikan wasiatnya kepada Az-Zubair."
Al-Asma'i berkata, dari Al-Ala bin Al-Fadhl, dari ayahnya,
ia berkata: Ketika Utsman terbunuh, orang-orang memeriksa lemari-lemari
penyimpanannya dan menemukan sebuah kotak yang terkunci. Mereka membukanya,
lalu menemukan selembar kertas yang tertulis di dalamnya:
"Ini adalah wasiat Utsman. Bismillahirrahmanirrahim
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Utsman bin
Affan bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata,
tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Serta bersaksi bahwa surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, dan bahwa
Allah akan membangkitkan siapa pun yang ada di dalam kubur pada hari yang tidak
ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Di
atas kesaksian inilah ia hidup, di atasnya ia mati, dan di atasnya pula ia akan
dibangkitkan, insya Allah Ta'ala."
Masa Kekhalifahan dan Usianya
Masa kekhalifahannya berlangsung selama dua belas tahun
kurang dua belas hari. Hal itu dikarenakan beliau dibaiat pada awal bulan
Muharam tahun 24 Hijriah, dan terbunuh pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35
Hijriah.
Adapun mengenai usianya, sungguh telah melewati delapan
puluh dua tahun. Shalih bin Kaisan berkata: "Beliau wafat dalam usia
delapan puluh dua tahun lebih beberapa bulan." Ada yang mengatakan:
"Delapan puluh empat tahun." Sedangkan Qatadah berkata: "Beliau
wafat dalam usia delapan puluh delapan tahun atau sembilan puluh tahun."
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar