Kekhalifahan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma
Baiatnya sebagai Khalifah
Ketika Ibnu Muljam memukul (menusuk) Ali radhiyallahu
'anhu, orang-orang berkata kepadanya, "Pilihlah pengganti (khalifah),
wahai Amirul Mukminin." Beliau menjawab, "Tidak, tetapi aku akan
meninggalkan kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ meninggalkan kalian (yaitu tanpa menunjuk
pengganti). Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, Dia akan menyatukan
kalian di bawah kepemimpinan orang terbaik di antara kalian, sebagaimana Dia
telah menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang terbaik di antara kalian
setelah wafatnya Rasulullah ﷺ."
Ketika Ali wafat, disalatkan oleh putranya, Al-Hasan—karena
ia adalah putra tertua—radhiyallahu 'anhum, lalu dimakamkan. Orang
pertama yang maju menemui Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhu adalah
Qais bin Sa'ad bin Ubadah. Ia berkata, "Bentangkan tanganmu, aku akan
membaiatmu berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya."
Al-Hasan terdiam, lalu Qais membaiatnya, kemudian orang-orang setelahnya ikut
membaiatnya. Peristiwa wafatnya Ali tersebut terjadi pada bulan Ramadan tahun
40 Hijriah.
Sebelumnya, Qais bin Sa'ad memimpin wilayah Azerbaijan di
bawah komando Ali dengan membawahi 40.000 pasukan tempur yang telah dibaiat
untuk setia sampai mati. Ketika Ali wafat, Qais bin Sa'ad mendesak Al-Hasan
untuk segera berangkat memerangi penduduk Syam. Namun, Al-Hasan justru
memberhentikan Qais dari kepemimpinan di Azerbaijan dan mengangkat Ubaidillah
bin Abbas sebagai gantinya. Sebenarnya Al-Hasan tidak berniat untuk memerangi
siapapun, namun orang-orang mendesak dan mendominasi pendapatnya. Akhirnya mereka
berkumpul dalam jumlah yang sangat besar, yang belum pernah terdengar persatuan
sebesar itu sebelumnya. Al-Hasan bin Ali kemudian menunjuk Qais bin Sa'ad bin
Ubadah untuk memimpin pasukan baris depan (pasukan pelopor) yang berjumlah
12.000 personel di hadapannya. Al-Hasan sendiri bergerak bersama pasukan besar
di belakangnya menuju negeri Syam untuk menghadapi Mu'awiyah dan penduduk Syam.
Ketika melewati daerah Al-Madain, Al-Hasan singgah di sana
dan mengutus pasukan baris depan untuk maju terlebih dahulu. Saat beliau berada
di barak militer di pinggiran Al-Madain, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak
di tengah kerumunan massa, "Ketahuilah bahwa Qais bin Sa'ad bin Ubadah
telah terbunuh!" Mendengar hal itu, massa menjadi panik dan rusuh hingga
mereka saling menjarah satu sama lain. Bahkan mereka menjarah tenda besar milik
Al-Hasan dan merampas permadani yang sedang beliau duduki. Tidak hanya itu,
sebagian orang bahkan menusuk beliau saat beliau sedang menunggangi
kendaraannya, sebuah tusukan yang melukainya namun tidak sampai mematikan.
Kejadian ini membuat Al-Hasan sangat membenci tabiat mereka. Beliau kemudian
berkendara memasuki Istana Putih di Al-Madain dan menetap di sana dalam kondisi
terluka. Saat itu, gubernur pilihan beliau untuk Al-Madain adalah Sa'ad bin
Mas'ud al-Tsaqafi, saudara laki-laki Abu Ubaid (panglima dalam Perang Al-Jisr).
Ketika Al-Hasan telah beristirahat di dalam istana, Al-Mukhtar bin Abi Ubaid
berkata kepada pamannya, Sa'ad bin Mas'ud, "Apakah kamu mau mendapatkan
kehormatan dan kekayaan?" Pamannya bertanya, "Apa itu?"
Al-Mukhtar menjawab, "Tangkaplah Al-Hasan bin Ali, ikat dia, lalu kirimkan
kepada Mu'awiyah." Pamannya langsung membentak, "Semoga Allah
memburukkanmu dan memburukkan apa yang kamu bawa! Apakah aku harus mengkhianati
putra dari putri Rasulullah?!"
Perdamaian antara Al-Hasan dan Mu'awiyah
Ketika Al-Hasan bin Ali melihat pasukannya terpecah belah
dan tidak setia, beliau merasa jengkel kepada mereka. Pada saat itulah beliau
menulis surat kepada Mu'awiyah—yang saat itu telah bergerak bersama penduduk
Syam dan singgah di Maskin—untuk merundingkan perdamaian di antara keduanya.
Mu'awiyah lalu mengutus Abdullah bin Amir dan Abdul Rahman bin Samurah untuk
menemui Al-Hasan di Kufah. Kedua utusan tersebut menawarkan harta yang melimpah
sesuai keinginan Al-Hasan. Al-Hasan pun memberikan syarat agar ia mendapatkan
uang sebesar 5.000.000 dirham dari baitulmal Kufah, pajak (kharaj) dari wilayah
Darabjird diperuntukkan baginya, dan Ali tidak boleh dicaci maki selama
Al-Hasan mendengarnya. Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, beliau akan
menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah demi menjaga tumpahnya darah di antara
sesama kaum muslimin. Mereka akhirnya sepakat atas perdamaian tersebut, dan
kepemimpinan umat Islam bersatu di bawah Mu'awiyah. Sebenarnya Al-Husain sempat
mencela keputusan kakaknya, Al-Hasan, mengenai perdamaian ini, namun Al-Hasan
tidak menerima celaan tersebut, dan kebenaran memang berada di pihak Al-Hasan radhiyallahu
'anhu.
Kemudian Al-Hasan bin Ali mengirim surat kepada panglima
pasukan baris depan, Qais bin Sa'ad, agar ia mendengar dan taat kepada
Mu'awiyah. Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa pembaiatan Al-Hasan kepada
Mu'awiyah terjadi pada tahun 40 Hijriah, sehingga tahun tersebut dinamakan 'Amul
Jama'ah (Tahun Persatuan) karena bersatunya suara umat kepada Mu'awiyah.
Namun, pendapat yang masyhur di kalangan Ibnu Jarir dan para ulama sejarah
lainnya menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada awal tahun 41 Hijriah.
Ibnu Katsir berkata: "Al-Hasan adalah pemimpin kaum
muslimin, salah satu ulama dari kalangan sahabat, orang yang paling santun, dan
ahli dalam memberikan pandangan. Bukti bahwa beliau merupakan salah satu dari
Khulafaur Rasyidin adalah hadis yang telah kami cantumkan dalam kitab Dala'il
al-Nubuwwah melalui berbagai jalur dari Safinah, mantan budak Rasulullah ﷺ,
bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«الخلافة
بعدي ثلاثون سنة، ثم تكون ملكاً»
"Kekhalifahan setelahku berlangsung selama tiga
puluh tahun, kemudian setelah itu akan menjadi kerajaan."
Masa tiga puluh tahun tersebut genap dengan masa
kekhalifahan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhu, karena beliau
menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah pada bulan Rabiul Awal tahun 41 Hijriah,
yang mana waktu tersebut tepat menggenapi tiga puluh tahun sejak wafatnya
Rasulullah ﷺ;
sebab beliau ﷺ
wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Ini merupakan salah satu bukti
terbesar dari tanda-tanda kenabian. Rasulullah ﷺ telah memuji tindakan Al-Hasan ini, yaitu
keputusannya untuk meninggalkan dunia yang fana, kecintaannya pada akhirat yang
kekal, serta usahanya dalam melindungi darah umat ini. Beliau rela turun dari
takhta kekhalifahan dan menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah agar umat Islam
bersatu di bawah kepemimpinan satu amir (pemimpin). Hal ini sebagaimana
tercantum dalam hadis Abu Bakrah al-Tsaqafi, bahwa Rasulullah ﷺ pernah naik ke atas
mimbar suatu hari, sementara Al-Hasan bin Ali duduk di sampingnya. Beliau ﷺ
memandang ke arah orang-orang sesekali dan memandang ke arah Al-Hasan di kali
lain, lalu bersabda:
«أيها
الناس إن ابني هذا سيد، وسيصلح الله به بين فئتين عظيمتين من المسلمين»
"Wahai manusia, sesungguhnya putraku ini adalah
seorang pemimpin (sayyid), dan semoga Allah akan mendamaikan melaluinya dua
kelompok besar dari kaum muslimin."
Ketika penduduk Irak membaiat Al-Hasan, beliau memberikan
syarat kepada mereka: "Kalian harus mendengar, taat, dan berdamai dengan
siapa saja yang aku ajak berdamai, serta memerangi siapa saja yang aku
perangi." Hal ini membuat penduduk Irak ragu dan berkata, "Orang ini
bukan pemimpin yang cocok untuk kita." Tidak lama setelah itu, mereka
justru menusuk dan melukainya. Tindakan itu membuat Al-Hasan semakin benci dan
merasa terancam oleh mereka. Pada saat itulah beliau menyadari perpecahan dan
perselisihan mereka terhadapnya, sehingga beliau menulis surat kepada Mu'awiyah
untuk menawarkan perdamaian dan saling berkorespondensi guna menyepakati
poin-poin yang mereka pilih bersama.
Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam Kitab al-Shulh,
telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, menceritakan kepada kami
Sufyan, dari Abi Musa, ia berkata: Aku mendengar Al-Hasan berkata: Demi Allah,
Al-Hasan bin Ali menghadapi Mu'awiyah bin Abi Sufyan dengan membawa
pasukan-pasukan besar laksana gunung-gunung. Amr bin al-Aas lalu berkata,
"Sungguh aku melihat pasukan yang tidak akan mundur sampai mereka
menghabisi tandingan mereka." Mu'awiyah—yang demi Allah merupakan orang
yang lebih baik di antara kedua pria tersebut (Amr dan Mu'awiyah)—berkata,
"Wahai Amr, jika pasukan ini membunuh pasukan itu, dan pasukan itu
membunuh pasukan ini, lalu siapa lagi yang akan membantuku mengurusi urusan
masyarakat? Siapa lagi yang akan mengurusi urusan anak-anak terlantar mereka?
Siapa lagi yang akan mengurusi janda-janda mereka?" Maka Mu'awiyah
mengutus dua orang pria dari suku Quraisy dari bani Abdu Syams, yaitu Abdul
Rahman bin Samurah dan Abdullah bin Amir. Mu'awiyah berpesan, "Pergilah
kalian berdua menemui pria ini (Al-Hasan), tawarkanlah perdamaian kepadanya,
bicaralah dan mintalah kepadanya." Keduanya pun pergi menemui Al-Hasan,
masuk ke ruangannya, lalu berbicara dan meminta kesediaannya untuk berdamai.
Al-Hasan bin Ali berkata kepada keduanya, "Kami adalah
Bani Abdul Muthalib, kami telah mendapatkan bagian dari harta ini, sementara
umat ini telah hidup dalam pertumpahan darah mereka." Kedua utusan itu
berkata, "Sesungguhnya Mu'awiyah menawarkan kepadamu begini dan begitu,
serta meminta dan memohon kepadamu." Al-Hasan bertanya, "Lalu siapa
yang menjamin hal itu untukku?" Keduanya menjawab, "Kami berdua yang
menjadi jaminannya untukmu." Tidaklah Al-Hasan meminta sesuatu melainkan
keduanya selalu menjawab, "Kami yang menjaminnya untukmu." Akhirnya
Al-Hasan pun menerima perdamaian tersebut.
Al-Hasan al-Bashri berkata: Dan sungguh aku mendengar Abu
Bakrah berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ berada di atas mimbar sedangkan Al-Hasan
bin Ali berada di sampingnya, beliau memandang ke arah orang-orang sesekali dan
memandang ke arah Al-Hasan di kali lain, sambil bersabda:
«إن
ابني هذا سيد، ولعل الله أن يصلح به بين فئتين عظيمتين من المسلمين»
"Sesungguhnya putraku ini adalah seorang pemimpin,
dan mudah-mudahan Allah akan mendamaikan melaluinya dua kelompok besar dari
kaum muslimin."
Al-Bukhari mengatakan: Ali bin al-Madini berkata kepadaku:
"Telah sah bagi kami bahwa Al-Hasan al-Bashri mendengar langsung hadis ini
dari Abu Bakrah."
Aku (Ibnu Katsir) berkata: Hadis ini telah diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam Kitab al-Fitan dari Ali bin Abdullah (yaitu Ibnu
al-Madini), dan dalam bab Fadha'il al-Hasan (Keutamaan Al-Hasan) dari
Shadaqah bin al-Fadhl, ketiganya dari Sufyan. Imam Ahmad juga meriwayatkannya
dari Sufyan (yaitu Ibnu Uyainah), dari Israil bin Musa al-Bashri dengan sanad
tersebut. Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam bab Dala'il al-Nubuwwah
dari Abdullah bin Muhammad (yaitu Ibnu Abi Syaibah) dan Yahya bin Adam,
keduanya dari Husain bin Ali al-Ju'fi, dari Israil, dari Al-Hasan (yaitu
Al-Bashri) dengan sanad tersebut. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Ahmad, Abu
Dawud, dan An-Nasa'i dari hadis Hammad bin Zaid, dari Ali bin Zaid, dari
Al-Hasan al-Bashri dengan sanad tersebut.
Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Mada'ini mengatakan bahwa
penyerahan kekuasaan oleh Al-Hasan kepada Mu'awiyah terjadi pada tanggal 5
Rabiul Awal tahun 41 Hijriah, sedangkan yang lain mengatakan pada bulan Rabiul
Akhir.
Ketika Mu'awiyah telah menerima penyerahan wilayah dan
memasuki Kufah lalu berkhotbah di sana, seluruh wilayah dan pelosok negeri
bersatu mendukungnya. Pada tahun itulah baiat kepada Mu'awiyah disepakati
secara ijmak dan konsensus. Setelah itu, Al-Hasan bin Ali bertolak bersama
saudaranya Al-Husain, saudara-saudara mereka yang lain, serta sepupu mereka
Abdullah bin Ja'far dari tanah Irak menuju tanah Madinah Nabawiyyah—semoga
selawat dan salam terbaik tercurah kepada penghuninya. Dalam keputusan tersebut,
Al-Hasan berada di posisi yang benar, berbakti, mendapat petunjuk, dan terpuji.
Beliau sama sekali tidak merasakan ganjalan, keraguan, ataupun penyesalan di
dalam hatinya, melainkan beliau rida dan menyambut baik hal tersebut, meskipun
keputusan ini sempat membuat kecewa sebagian kerabat, keluarga, dan
pengikutnya, terutama setelah berlalunya waktu yang lama, bahkan terus
berlanjut hingga hari kita sekarang ini. Sikap yang benar dalam masalah ini
adalah mengikuti sunnah dan memuji beliau atas keputusannya yang berhasil
mencegah pertumpahan darah umat, sebagaimana Rasulullah ﷺ telah memuji tindakan
beliau tersebut dalam hadis sahih yang telah disebutkan sebelumnya,
walhamdulillah wal minnah (segala puji dan karunia hanya milik Allah).
Biografi Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu
Beliau adalah Abu Muhammad, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib
bin Abdul Muthalib bin Hasyim al-Qurasyi al-Hasyimi. Beliau merupakan cucu
Rasulullah ﷺ
dari putri beliau, Fatimah al-Zahra, sekaligus kesayangan beliau, dan manusia
yang paling mirip wajahnya dengan Rasulullah ﷺ. Beliau dilahirkan pada pertengahan bulan
Ramadan tahun 3 Hijriah. Rasulullah ﷺ mentahniknya dengan air ludah beliau yang mulia dan menamainya
Hasan. Beliau merupakan putra tertua dari kedua orang tuanya. Rasulullah ﷺ
sangat mencintainya dengan kecintaan yang mendalam, terkadang beliau mengulum
lidahnya sewaktu masih kecil, memeluk, dan mengajaknya bercanda. Pernah juga
ketika Rasulullah ﷺ
sedang sujud dalam salat, Al-Hasan datang dan naik ke atas punggung beliau,
lalu beliau membiarkannya dan memperlama sujudnya demi Al-Hasan. Terkadang
beliau juga membawanya naik ke atas mimbar.
Telah tsabit (sahih) dalam hadis bahwa ketika beliau ﷺ
sedang berkhotbah, beliau melihat Al-Hasan dan Al-Husain berjalan mendekat,
lalu beliau turun menghampiri keduanya, memeluknya, dan membawa keduanya naik
bersama beliau ke atas mimbar, kemudian beliau membaca ayat:
{أَنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan." (QS. Al-Anfal: 28)
Beliau lalu bersabda, "Aku melihat kedua anak ini
berjalan dan terjatuh, sehingga aku tidak tahan untuk tidak turun menghampiri
keduanya." Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya anak-anak
itu bagian dari kebahagiaan yang diberikan Allah, namun mereka juga bisa
membuat kalian menjadi kikir dan penakut."
Telah tsabit juga dalam Shahih al-Bukhari bahwa Abu
Bakar pernah mengimami mereka salat Ashar—beberapa malam setelah wafatnya
Rasulullah ﷺ—kemudian
ia keluar bersama Ali sambil berjalan kaki. Abu Bakar melihat Al-Hasan sedang
bermain bersama anak-anak kecil, lalu ia menggendongnya di atas pundaknya
sambil melantunkan syair:
بِأَبِي
شِبْهُ النَّبِيْ *** لَيْسَ شَبِيْهًا بِعَلِيْ
Demi ayahku, dia sangat mirip dengan Nabi Dia
tidak mirip dengan Ali
Perawi menyebutkan bahwa Ali pun tertawa mendengar syair
tersebut.
Dari Abu Juhaifah, ia berkata: "Aku melihat Nabi ﷺ
dan Al-Hasan bin Ali sangat mirip dengan beliau." Hadis ini diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Imam Ahmad mengatakan, menceritakan kepada kami Abu Dawud
al-Thayalisi, menceritakan kepada kami Zam'ah, dari Ibnu Abi Mulaikah, ia
berkata: Fatimah pernah menimang-nimang (melambungkan) Al-Hasan bin Ali sambil
bersenandung:
يَا
بِأَبِي شِبْهُ النَّبِيْ *** لَيْسَ شَبِيْهًا بِعَلِيْ
Duhai demi ayahku, dia sangat mirip dengan Nabi Dia
tidak mirip dengan Ali
Abdul Razzaq dan ulama lainnya meriwayatkan dari Ma'mar,
dari Al-Zuhri, dari Anas, ia berkata: "Al-Hasan bin Ali adalah orang yang
paling mirip wajahnya dengan Rasulullah ﷺ di antara mereka."
Imam Ahmad mengatakan, menceritakan kepada kami Hajjaj,
menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Hani', dari Ali, ia
berkata: "Al-Hasan paling mirip dengan Rasulullah ﷺ pada bagian dari dada
hingga ke kepala, sedangkan Al-Husain paling mirip dengan Rasulullah ﷺ
pada bagian bawah dari itu."
Abu Dawud al-Thayalisi mengatakan, menceritakan kepada kami
Qais, dari Abu Ishaq, dari Hani' bin Hani', dari Ali, ia berkata:
"Al-Hasan bin Ali adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ
dari wajahnya hingga ke pusarnya, sedangkan Al-Husain adalah orang yang paling
mirip dengan beliau pada bagian bawah dari itu." Diriwayatkan juga dari
Ibnu Abbas dan Ibnu al-Zubair bahwa Al-Hasan bin Ali sangat mirip dengan Nabi ﷺ.
Di antara Keutamaan-keutamaannya:
Dari Al-Bara' bin 'Azib, ia berkata: Aku melihat Nabi ﷺ
sementara Al-Hasan bin Ali berada di atas pundak beliau, dan beliau ﷺ
bersabda:
«اللهم
إني أحبه فأحبه»
"Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka
cintailah dia." (Hadis ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari
hadis Syu'bah).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
keluar menuju pasar Bani Qainuqa' sambil bersandar pada tanganku, beliau
berkeliling di sana kemudian kembali dan duduk bersila di masjid, lalu
bersabda, "Di mana si kecil? Panggilkan si kecil kemari!" Lalu
Al-Hasan datang sambil berlari kencang hingga melompat ke pangkuan beliau,
kemudian beliau memasukkan mulut beliau ke mulut Al-Hasan (menciumnya) lalu
bersabda:
«اللهم
إني أحبه فأحبه، وأحب من يحبه»
"Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka
cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya." (Beliau
mengucapkannya tiga kali). Abu Hurairah berkata, "Tidaklah aku melihat
Al-Hasan melainkan air mataku pasti berlinang—atau ia berkata: mataku menangis,
atau aku menangis." Hadis ini sesuai syarat Imam Muslim, namun mereka
tidak mengeluarkannya.
Terdapat pula riwayat dari hadis Ali, Abu Sa'id, Buraidah,
dan Hudzaifah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«الحسن
والحسين سيدا شباب أهل الجنة وأبوهما خير منهما»
"Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin para
pemuda penghuni surga, dan ayah mereka berdua lebih baik daripada mereka
berdua."
Dalam hadis Abdullah bin Syaddad, dari ayahnya, disebutkan
bahwa Rasulullah ﷺ
pernah mengimami mereka dalam salah satu salat malam (Isya atau Magrib), lalu
beliau sujud dengan sujud yang sangat lama. Ketika selesai salat, orang-orang
bertanya kepada beliau mengenai hal itu, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya
anakku ini—yaitu Al-Hasan—menjadikan aku sebagai tunggangannya, dan aku tidak
suka menyegerakannya sampai ia menyelesaikan kemauannya."
Imam Ahmad mengatakan: Menceritakan kepada kami Hasyim bin
al-Qasim, dari Jarir, dari Abdul Rahman bin Abi Auf al-Jurasyi, dari Mu'awiyah,
ia berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ mengulum lidahnya—atau ia berkata: bibirnya—yaitu Al-Hasan bin
Ali. Dan sesungguhnya tidak akan diazab lidah atau dua bibir yang pernah
dikulum oleh Rasulullah ﷺ.
Hadis ini hanya diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Ahmad.
Penghormatan Para Khalifah dan Sahabat Kepadanya:
Abu Bakar al-Siddiq sangat mengagungkan, menghormati,
memuliakan, mencintai, dan rela berkorban demi Al-Hasan, begitu pula dengan
Umar bin al-Khattab. Al-Waqidi meriwayatkan dari Musa bin Muhammad bin Ibrahim
bin al-Harits al-Taimi, dari ayahnya, bahwa Umar ketika membuat sistem
administrasi keuangan negara (diwan), ia menetapkan tunjangan untuk Al-Hasan
dan Al-Husain setara dengan para peserta Perang Badar, yaitu sebesar lima ribu
dirham.
Demikian pula Utsman bin Affan sangat memuliakan dan
mencintai Al-Hasan dan Al-Husain. Bahkan pada hari pengepungan rumah Utsman (Yaum
al-Dar)—saat Utsman bin Affan dikepung di rumahnya—Al-Hasan bin Ali berada
di sisinya sambil menyandang pedang untuk membela dan melindungi Utsman. Namun,
Utsman mengkhawatirkan keselamatan Al-Hasan, sehingga ia bersumpah memintanya
agar kembali ke rumahnya demi menenangkan hati Ali sekaligus karena
mengkhawatirkan keselamatan Al-Hasan radhiyallahu 'anhum.
Ibnu Abbas juga pernah memegangkan tali kendali tunggangan
untuk Al-Hasan dan Al-Husain ketika keduanya hendak naik berkendara, dan ia
memandang tindakan khidmat ini sebagai salah satu bentuk nikmat Allah atas
dirinya. Apabila keduanya sedang melakukan tawaf di Baitullah, orang-orang
hampir saja mengerumuni dan mengimpit mereka berdua karena saking padatnya
jemaah yang berdesakan di dekat mereka 'alaihimas salam, semoga Allah
meridai dan meridai keduanya.
Mu'awiyah juga sangat memuliakan dan mengagungkannya, serta
selalu mengirimkan hadiah tahunan kepadanya sebesar seratus ribu dirham. Bahkan
ketika Al-Hasan datang berkunjung menemuinya, Mu'awiyah memberinya hadiah
sebesar empat ratus ribu dirham.
Sementara itu, Ibnu al-Zubair pernah berkata: "Demi
Allah, kaum wanita tidak akan pernah lagi melahirkan sosok yang sebanding
dengan Al-Hasan bin Ali."
Ibadah dan Kedermawanannya:
Ibnu Sa'ad meriwayatkan, ia berkata: "Al-Hasan apabila
selesai melaksanakan salat subuh di Masjid Rasulullah ﷺ, beliau tetap duduk di tempat salatnya
untuk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit. Kemudian orang-orang dari
kalangan pemuka masyarakat duduk berkumpul di dekatnya dan berbincang-bincang
bersamanya. Setelah itu, beliau bangkit untuk menemui para Ummahatul Mukminin
(istri-istri Nabi) guna mengucapkan salam kepada mereka, dan adakalanya mereka
memberikan hadiah kepadanya, lalu beliau pulang ke rumahnya."
Beliau juga membagi dua hartanya bersama Allah (untuk
disedekahkan) sebanyak tiga kali, menyedekahkan seluruh hartanya sebanyak dua
kali, dan menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki sebanyak dua puluh lima
kali, padahal hewan-hewan tunggangan dituntun di hadapannya. Hal itu
diriwayatkan oleh Al-Baihaki, dan Al-Bukhari juga menyebutkan dalam kitab
Shahihnya bahwa beliau berhaji dengan berjalan kaki.
Beliau memiliki sifat dermawan yang sangat luar biasa.
Muhammad bin Sirin berkata: "Seringkali Al-Hasan bin Ali memberi hadiah
kepada satu orang saja sebesar seratus ribu."
Para ulama menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang sering
menikah, dan beliau tidak pernah berpisah dengan empat wanita merdeka (selalu
memiliki empat istri sah), serta beliau adalah orang yang sering menceraikan
lalu menikah lagi.
Ali (ayahnya) pernah berkata kepada penduduk Kufah:
"Janganlah kalian menikahkan putri kalian dengannya, karena dia adalah
seorang yang sering menceraikan istri." Namun mereka menjawab: "Demi
Allah, wahai Amirul Mukminin, seandainya dia meminang putri kami setiap hari,
niscaya akan kami nikahkan dengan siapa saja yang dia kehendaki, karena kami
ingin menjalin kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ."
Mereka juga menceritakan bahwa Al-Hasan pernah tidur bersama
istrinya, Khaulah binti Manzhur Al-Fazari—ada yang mengatakan Hindun binti
Suhail—di atas atap rumah yang tidak memiliki dinding pembatas. Sang istri
kemudian berinisiatif mengikat kaki Al-Hasan dengan kain kerudungnya yang
disambungkan ke gelang kakinya sendiri. Ketika Al-Hasan terbangun, beliau
bertanya kepadanya: "Apa ini?" Istrinya menjawab: "Aku khawatir
engkau terbangun dalam keadaan mengantuk lalu terjatuh, sehingga aku menjadi
wanita paling pembawa sial bagi bangsa Arab." Al-Hasan pun kagum dengan
tindakan istrinya tersebut, dan beliau terus bersamanya selama tujuh hari
setelah kejadian itu.
Abu Ja'far Al-Baqir berkata: "Seorang pria datang
menemui Al-Husain bin Ali untuk meminta bantuan menyelesaikan suatu keperluan,
namun ia mendapati Al-Husain sedang beriktikaf, sehingga Al-Husain meminta maaf
kepadanya. Pria itu kemudian pergi menemui Al-Hasan dan meminta bantuannya,
lalu Al-Hasan pun menyelesaikan keperluannya dan berkata: 'Memenuhi keperluan
seorang saudaraku seagama demi Allah lebih aku sukai daripada iktikaf selama
satu bulan.'"
Di Antara Perkataan dan Sikapnya:
Imam Ahmad berkata: Muttalib bin Ziyad Abu Muhammad
menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aban menceritakan kepada kami, ia
berkata: Al-Hasan bin Ali berkata kepada anak-anaknya dan anak-anak saudaranya:
«تَعَلَّمُوا
فَإِنَّكُمْ صِغَارُ قَوْمٍ الْيَوْمَ، وَتَكُونُونَ كِبَارَهُمْ غَدًا، فَمَنْ
لَمْ يَحْفَظْ مِنْكُمْ فَلْيَكْتُبْ» "Belajarlah kalian, karena
sesungguhnya kalian sekarang adalah anak-anak kecil suatu kaum, dan kelak esok
hari kalian akan menjadi orang-orang besarnya. Maka barang siapa di antara
kalian yang tidak sanggup menghafal, hendaklah ia menulis." (Diriwayatkan
oleh Al-Baihaki).
Muhammad bin Sa'ad menceritakan kepada kami, Al-Hasan bin
Musa dan Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, mereka berdua berkata:
Zuhair bin Muawiyah menceritakan kepada kami, Abu Ishaq menceritakan kepada
kami, dari Amru bin Al-Asham, ia berkata: Aku berkata kepada Al-Hasan bin Ali:
"Sesungguhnya kaum Syiah ini mengklaim bahwa Ali akan dibangkitkan (hidup
kembali ke dunia) sebelum hari kiamat."
Beliau menjawab: "Mereka berdusta! Demi Allah, mereka
itu bukanlah pengikut Syiah (yang sebenarnya). Seandainya kami tahu bahwa
beliau akan dibangkitkan kembali, niscaya kami tidak akan menikahkan
janda-jandanya dan tidak akan membagi harta warisannya."
Shalih bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku berkata:
"Sembilan puluh ribu orang membaiat Al-Hasan, namun beliau memilih zuhud
terhadap jabatan kekhalifahan dan mengadakan perdamaian dengan Muawiyah,
sehingga selama masa kepemimpinannya tidak ada setetes darah pun yang
tumpah."
Muhammad bin Sa'ad menceritakan kepada kami: Abu Dawud
At-Tayalisi menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari
Yazid bin Khumair, ia berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Jubair bin Nufair
Al-Hadhrami menceritakan dari ayahnya, ia berkata: Aku berkata kepada Al-Hasan
bin Ali: "Sesungguhnya orang-orang mengklaim bahwa engkau menginginkan
jabatan kekhalifahan."
Beliau menjawab: "Dahulu urusan hidup mati bangsa Arab
berada di tanganku; mereka akan berdamai dengan orang yang aku ajak berdamai
dan memerangi orang yang aku perangi. Namun aku meninggalkan jabatan itu
semata-mata demi mencari rida Allah, lalu apakah sekarang aku harus merebutnya
kembali dengan bantuan orang-orang bodoh (lemah) dari penduduk Hijaz?!"
Wafatnya :
Sufyan bin Uyainah menceritakan dari Raqabah bin Mashqalah,
ia berkata: Ketika Al-Hasan bin Ali menjelang wafatnya, beliau berkata:
"Bawalah aku keluar ke halaman rumah agar aku dapat memandang tanda-tanda
kekuasaan langit." Maka mereka pun mengeluarkan tempat tidurnya, lalu
beliau mengangkat kepalanya, memandang ke langit dan berdoa: "Ya Allah,
sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku kepada-Mu, karena sesungguhnya ia adalah
jiwa yang paling berharga bagiku." Perawi berkata: Maka di antara bentuk
kebaikan yang Allah berikan kepadanya adalah Allah menerima penyerahan jiwanya
di sisi-Nya.
Al-Waqidi berkata: Ibrahim bin Al-Fadhl menceritakan kepada
kami, dari Abu Atiq, ia berkata: Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami
menghadiri pemakaman Al-Hasan bin Ali pada hari wafatnya, dan hampir saja
terjadi fitnah (keributan besar) antara Al-Husain bin Ali dengan Marwan bin
Al-Hakam. Hal itu karena Al-Hasan telah berwasiat kepada saudaranya agar ia
dimakamkan bersama Rasulullah ﷺ,
di mana beliau sebelumnya telah meminta izin kepada Aisyah mengenai hal
tersebut dan Aisyah telah mengizinkannya.
Namun ketika Al-Hasan wafat, Al-Husain memakai senjata dan
Bani Umayyah pun mempersenjatai diri mereka seraya berkata: "Kami tidak
akan membiarkannya dimakamkan bersama Rasulullah ﷺ. Apakah Utsman dimakamkan di Baqi
sedangkan Al-Hasan bin Ali dimakamkan di dalam kamar Nabi?" Ketika
orang-orang khawatir akan terjadinya pertumpahan darah, Saad bin Abi Waqqas,
Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Umar menyarankan kepada Al-Husain agar tidak
berperang. Al-Husain pun mematuhinya, lalu memakamkan saudaranya di pemakaman
Baqi di dekat kuburan ibunya (semoga Allah meridainya).
Sufyan bin Uyainah menceritakan dari Salim bin Abi Hafshah,
dari Abu Hazim, ia berkata: Aku melihat Al-Husain bin Ali pada hari itu
mempersilakan Said bin Al-Ash (Gubernur Madinah saat itu) untuk maju memimpin
salat jenazah Al-Hasan, seraya berkata: "Seandainya hal ini bukan
merupakan sunah (tuntunan Nabi), niscaya aku tidak akan mempersilakanmu
maju."
Muhammad bin Ishaq menceritakan, Musawir (mantan budak Bani
Saad bin Bakr) menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku melihat Abu Hurairah
berdiri di Masjid Rasulullah ﷺ
pada hari wafatnya Al-Hasan bin Ali, seraya berseru dengan suara yang paling
lantang: "Wahai sekalian manusia! Hari ini telah wafat orang yang sangat
dicintai oleh Rasulullah ﷺ,
maka menangislah kalian!"
Masyarakat berkumpul sangat banyak untuk mengantarkan
jenazahnya, hingga area pemakaman Baqi tidak mampu menampung seorang pun lagi
karena saking padatnya. Beliau ditangisi oleh kaum laki-laki, perempuan, hingga
anak-anak.
Ibnu Ulayyah menceritakan dari Ja'far bin Muhammad, dari
ayahnya, ia berkata: Al-Hasan wafat pada usia empat puluh tujuh tahun. Demikian
pula yang dinyatakan oleh lebih dari satu orang ulama, dan pendapat inilah yang
paling sahih.
Adapun pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa beliau wafat
pada tahun 49 Hijriah, sedangkan yang lain berpendapat bahwa beliau wafat pada
tahun 50 Hijriah.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar